MENU

Ads

Selasa, 24 Februari 2026

Pelangi di Langit Singasari 080

Namun berkata-kata mereka menjadi kecewa. Apabila mereka menekan orang tua itu dengan segenap kemampuan mereka, tiba-tiba Empu Sada itu melenting, dan sesaat kemudian orang itu telah berada diluar lingkaran mereka. Bahkan kemudian Empu Sada lah yang mengambil sikap, menyerang ketiganya dalam gerak yang beruntun.

Tetapi betapa tekanan Empu Sada atas mereka bertiga, namun Witantra sama sekali tidak berhasrat memanggil seorang atau dua orang bawahannya. Ia yakin, bahwa di dalam semak-semak itu masih bersembunyi beberapa orang yang siap untuk bertindak. Bahkan Witantra yakin, bahwa Kuda Sempana ada diantara mereka. Apabila para pengawal lengah, Kuda Sempana sendiri akan mengambil Ken Dedes. Sikap itu adalah sikap yang dapat memberinya kepuasan, seakan-akan ia sendirilah yang berhasil menyergap rombongan bakal permaisuri itu.

Sedang apabila ada satu dua orang yang berhasil menyampaikan kejadian ini kepada Akuwu, maka Kuda Sempana sendirilah yang harus bertanggung jawab. Bagi Kuda Sempana yang telah melarikan diri dari istana itu, maka baginya hampir tak ada bedanya. Memberontak seperti keadaannya sekarang, atau memberontak karena melarikan Ken Dedes. Ia pasti telah mempunyai perhitungannya sendiri. Kemana ia harus bersembunyi.

Ternyata perhitungan Witantra itu sebagian besar adalah benar, Empu Sada sengaja memperlambat serangan-serangannya, supaya Witantra berusaha untuk memanggil orang-orangnya, atau orang-orangnyalah yang akan bertebaran mencarinya. Tetapi agaknya Kebo Ijo telah menyampaikan pesan Witantra dan para perwira berhasil membuat perhitungan pula, sehingga mereka sama sekali tidak berusaha mencari Witantra dan kedua saudara seperguruannya. Karena itu, maka segera Empu Sada membuat cara lain untuk memancing orang-orang Witantra yang hampir tidak tahu sama sekali apa yang telah terjadi selain kedua perwiranya. Empu Sada akan berusaha menekan Witantra dan kedua saudaranya justru mendekati perkemahan rombongannya.

Demikianlah maka sesaat kemudian gerak Empu Sada itu pun menjadi semakin lincah. Dengan tongkat panjangnya ia menyerang ketiga bersaudara seperguruan itu semakin sengit. Tongkat panjangnya berputar dari satu arah, seolah-olah ia sedang menggembalakan itik dan membawanya ke dalam air yang tergenang.

Apabila orang-orang di dalam rombongan itu melihat pemimpinnya bertempur, maka mau tidak mau, mereka pasti akan tergerak dengan sendirinya. Pada saat itulah Kuda Sempana dan kawan-kawannya harus bertindak. Setelah mereka berhasil membawa Ken Dedes, maka rombongan prajurit itu harus segera ditinggalkan. Apabila mungkin jangan ada korban satu pun yang jatuh. Dengan demikian, maka peristiwa itu pasti akan menggemparkan Tumapel. Peristiwa itu bagi Empu Sada dan murid-muridnya akan merupakan suatu permainan yang sangat menggembirakan.

Sebab yang akan terjadi kemudian adalah, Witantra, Mahendra, Kebo Ijo dan kawan-kawannya pasti dinyatakan bersalah, dan kemungkinan yang terbesar adalah, dihukum gantung di alun-alun. Hukuman itu pasti lebih baik daripada apabila Witantra dan kawan-kawannya mati di dalam pertempuran ini. Sebab dengan demikian, maka Witantra masih akan mendapat kehormatan, sebagai seorang yang gugur dalam melakukan tugasnya.

Tetapi Witantra yang cukup berpengalaman itu dapat menebak maksud Empu Sada, sehingga dengan demikian, ia berusaha sekuat-kuatnya, untuk menghindari tekanan Empu Sada itu. Apabila mungkin Witantra berusaha untuk mengelak dan meloncat ke arah yang lain. Tidak ke arah rombongannya.

Namun Empu Sada ternyata benar-benar sakti. Dengan berbagai macam unsur gerak dan serangan-serangan, tanpa dikehendakinya, bahkan tanpa disadarinya, Witantra semakin lama menjadi semakin dekat dengan perkemahan Ken Dedes. Bahkan Witantra itu pun terkejut bukan buatan, ketika di ujung pepohonan, sekali-sekali ia melihat sinar api yang menyentuh dedaunan. Dengan demikian, Witantra segera mengerti bahwa ia telah berada semakin dekat dengan rombongannya.

Dengan marahnya Witantra menggeram. Tetapi yang terdengar adalah suara Empu Sada, “Nah, aku sekarang mempunyai rencana yang lain. Aku tidak memancingmu menjauhi rombonganmu, supaya kawan-kawanmu mencarimu, tetapi justru aku mendekatkan kalian kepada rombongan kalian. Apabila ada diantara mereka yang mendengar suara pertempuran pasti mereka akan menjadi ribut dan mau tidak mau mereka pasti akan mencoba membantumu.”

Witantra tidak menjawab. Namun ia masih berusaha menjauhi rombongannya sebelum seorang pun dari mereka mengetahui. Tetapi alangkah marahnya perwira prajurit itu. Ternyata Empu Sada benar-benar licik. Dengan lantangnya ia berkata,

“Ha, Witantra, apakah kau masih mengharap untuk dapat hidup?”

Suara Empu Sada itu menggema seakan-akan memenuhi seluruh hutan. Sehingga dengan demikian, maka suara itu telah mengejutkan para prajurit yang berada di perkemahan. beberapa diantara mereka segera berloncatan bangun dengan menggenggam senjata mereka, sedang beberapa orang yang lain, masih mencoba mendengarkan darimana arah suara itu.

Sidatta yang telah mendengar pesan Witantra lewat Kebo Ijo, terkejut pula mendengar suara itu. Suara itu sama sekali bukan suara Witantra. Karena itu, maka ia pun berdiri pula sambil memperhatikan perkembangan keadaan dengan saksama. Demikian pula perwira yang seorang lagi. Segera ia pun berdiri pula, dan tanpa sesadarnya tangannya telah hinggap di hulu-hulu pedangnya.

Ken Dedes mendengar pula suara Empu Sada itu. Terasa dadanya bergetar. Namun kemudian dilihatnya para pengawalnya yang telah bersiap menghadapi kemungkinan. Karena itu hatinya menjadi agak tenteram. Witantra yang tahu benar maksud Empu Sada mengumpat di dalam hatinya. Apabila pancingan itu berhasil maka akan lemahlah pengawalan atas Ken Dedes, sehingga akan memberi kesempatan kepada Kuda Sempana untuk menculiknya.

Dalam pada itu sekali lagi terdengar Empu Sada berkata sambil tertawa, “Jangan lari Witantra. Disinilah gelanggang untuk mengadu tenaga. Bukan di situ.”

“Setan,“ Witantra tidak dapat lagi menahan hati. Untuk mencegah anak buahnya berlarian ke pertempuran itu segera ia pun berteriak, “Tetap di tempatmu Sidatta. Aku hanya menangkap kelinci tua. Aku tidak perlu orang-orang lain.”

Empu Sada tertawa terkekeh-kekeh. Namun tongkatnya masih saja berputar, bahkan melanda ketiga saudara seperguruan itu seperti badai. Tekanan Empu Sada benar-benar terasa sangat ketatnya, sehingga pertempuran itu pun setapak demi setapak beringsut ke tempat yang tidak dikehendaki oleh Witantra.

Betapa marahnya hati perwira tertinggi pasukan pengawal istana itu. Tetapi betapa ia telah mencurahkan segenap kemampuannya bersama kedua adik seperguruannya, namun ia sama sekali tidak berhasil mendorong Empu Sada masuk ke dalam hutan yang lebih dalam. Bahkan Empu Sada itu pun menjadi semakin cepat bergerak, seperti sebuah bayangan yang meloncat-loncat mengitari ketiga bersaudara itu.

Tetapi Witantra dan kedua saudaranya tidak berputus asa. Mereka masih tetap dalam perlawanan yang rapi. Betapa saktinya Empu Sada, tetapi melawan ketiga anak-anak muda itu, diperlukan pula hampir segenap kemampuannya. Para prajurit di perkemahan menjadi gelisah. Apalagi ketika mereka menunggu beberapa saat, Witantra masih belum muncul diantara mereka. Berbagai pertimbangan melingkar di dalam kepala Sidatta.



Apalagi ketika terdengar kembali suara tertawa Empu Sada semakin dekat. “Lihat Witantra. Betapa buruk perangaimu. Tak, seorang pun diantara anak buahmu, yang bukan seperguruan denganmu, bersedia membantumu. Betapa luka hampir memenuhi tubuhmu, namun mereka akan bergembira, apabila kau mati di hutan ini. Sidatta akan segera mendapat pengangkatan, menggantikan kedudukanmu, sedang yang lain pun akan desak mendesak setingkat keatas.”

“Jangan berputus asa,” tiba-tiba terdengar Witantra memotong, “Bertempur lah dengan senjata, jangan dengan kata. Mungkin kau kecewa setelah kau melihat cara Witantra mempertahankan dirinya. Kau semula pasti menyangka bahwa pasukan pengawal Akuwu adalah semacam pasukan kehormatan, yang hanya mampu memanggul panji-panji dan tunggul. Tetapi sekarang kau menghadapi salah seorang dari padanya dalam suatu perkelahian.”

Empu Sada menggeram. Kemarahannya semakin lama semakin menyala membakar ubun-ubunnya, “Kau jangan gila Witantra,“ katanya, “kalau aku menjadi benar-benar marah, maka kau benar-benar akan aku bunuh bertiga.”

Kini Witantra lah yang tertawa, “Kalau kau mampu membunuh kami, maka pasti sudah kau lakukan.”

Tetapi suara Witantra itu terputus, ketika tongkat Empu Sada menyambar keningnya. Untunglah bahwa ia masih sempat menghindar meskipun tergesa-gesa. Dalam keadaan itu, hampir-hampir saja ia kehilangan keseimbangannya.

Empu Sada yang sudah menjadi semakin marah, melihat kesempatan terbuka baginya. Kalau ia ingin membunuh Witantra, itulah saat yang sebaik-baiknya. Ia dapat menusuk dada Witantra dengan ujung tongkatnya yang meskipun tidak terlampau runcing. Namun kekuatannya cukup untuk melubangi dada panglima pasukan pengawal itu. Tetapi sesaat Empu Sada ragu-ragu. Ia ingin Witantra mati di tiang gantungan sebagai seorang pengkhianat yang tidak mampu melakukan tugasnya dengan baik, tidak di medan peperangan. Namun kalau kesempatan ini tidak dipergunakan, apakah akan datang kesempatan yang sama, dan apakah benar Witantra dianggap bersalah nanti oleh Akuwu. Tiba-tiba Empu Sada menggeram. Ternyata kemarahannya telah menggelapkan perhitungannya. Witantra, apakah perlu akan dibunuhnya saat itu juga.

Tetapi waktu yang sekejap itu ternyata telah menyelamatkan Witantra. Ketika Empu Sada sedang diragukan oleh perasaannya sendiri. Witantra sudah sempat memperbaiki keadaannya. Apalagi demikian Empu Sada mengambil sikap, Mahendra dan Kebo Ijo datang bersama-sama dalam sebuah serangan berpasangan yang berbahaya. Sehingga Empu Sada terpaksa meloncat menghindar. Namun demikian kakinya menjejak tanah, demikian ia melenting sambil mengayunkan tongkatnya. Sekali lagi pelipis Witantra hampir disambar oleh tongkat itu. Sekali lagi Witantra meloncat surut beberapa langkah untuk menghindari tongkat itu. Namun Empu Sada pun kemudian menyerangnya seperti banjir bandang.

Witantra menjadi kesulitan pula menghindari serangan-serangan itu. Serangan yang semakin cepat dan berbahaya. Tetapi kembali Mahendra dan Kebo Ijo mencoba memotong setiap serangan Empu Sada dengan serangan-serangan yang cukup berbahaya pula. Kedua anak muda itu bertempur seperti sepasang alap-alap di udara. Sedang Witantra itu pun kemudian memimpin kembali perlawanan atas Empu Sada sebagai seekor rajawali.

Namun yang tidak dikehendaki oleh Witantra adalah, mereka menjadi semakin dekat dengan perkemahannya. ketika sekali lagi ia terdorong surut bersama Mahendra, maka mereka ternyata telah meloncat ke dalam daerah cahaya perapian dari kawan-kawan mereka.

Para prajurit Tumapel terkejut melihat perkelahian itu. Apalagi mereka melihat Witantra dan Mahendra berada dalam bahaya. Namun mereka segera melihat, Kebo Ijo melontarkan diri seperti tatit menyambar di langit, menusuk langsung lambung Empu Sada. Meskipun serangan Kebo Ijo itu dapat dielakkan, namun saat yang pendek itu telah memberi kesempatan kepada Witantra dan Mahendra untuk memperbaiki kedudukannya.

Dalam pada itu terdengar Empu Sada tertawa kembali dengan lantangnya ia berkata, “He para prajurit Tumapel yang perkasa. Inilah pemimpin yang sedang menangkap kelinci tua itu. Lihatlah, apakah ia mampu melawan Empu Sada yang sudah tua ini. Tidak hanya seorang diri, tetapi bertiga dengan kedua saudara seperguruannya.”

Semua mata melihat perkelahian itu. Semua hati menjadi berdebar-debar pula karenanya. Ken Dedes pun kemudian dengan serta merta berdiri. dengan penuh kekhawatiran ia melihat perkelahian yang kemudian berkobar kembali dengan sengitnya. Sidatta masih berdiri terpaku di tempatnya. Sesaat ia dicengkam oleh keragu-raguan. Ingin ia meloncat membantu Witantra melawan Empu Sada, Tetapi segera teringat olehnya, Ken Dedes yang berdiri gemetar. Gadis itu harus mendapat pengawalan yang baik menurut pesan Witantra. Namun sekian lama ia menjadi semakin cemas melihat perkelahian yang berlangsung. Ia membiarkan beberapa orang prajurit mencoba membantu, Witantra.

Namun Witantra sendiri berkata, “Jangan mempersulit pekerjaan kami. Minggir, jangan dekati orang tua gila ini.”

Empu Sada tertawa, katanya, “Mari, marilah beramai-ramai menangkap kelinci.” Witantra menggeram, namun Empu Sada mendesaknya terus.

Akhirnya Sidatta tidak tahan lagi melihat pertempuran itu. Dengan lantang ia berkata kepada perwira yang seorang lagi, “Bawa beberapa orang prajurit pilihan kemari. Pagari tuan puteri dengan pedang dan tombak. Aku akan ikut serta dalam perkelahian itu.”

Perwira yang satu itu pun segera mengatur beberapa orang prajurit, berdiri rapat melingkari Ken Dedes dengan senjata telanjang di tangannya. Mereka telah bersiap menghadapi setiap kemungkinan. Beberapa orang prajurit yang lain dengan ragu-ragu berlari-lari kian kemari, mencoba membantu Witantra menghadapi Empu Sada. Tetapi apa yang mereka lakukan, hampir tak berarti sama sekali.

Setelah Sidatta melihat persiapan yang dapat dipercaya dalam pengawalan Ken Dedes, barulah ia meloncat mendekati Empu Sada. Dengan garangnya segera ia menerjunkan diri ke dalam pertempuran itu. Dengan tenaganya yang masih segar, Sidatta berusaha untuk berjuang sekuat-kuat tenaganya.

Witantra yang juga melihat cara Sidatta memagari Ken Dedes tidak menolak bantuan Sidatta itu. Bagaimanapun juga ia harus mengakui, betapa mereka bertiga mengalami banyak kesulitan untuk melawan Empu Sada. Dengan kehadiran Sidatta, maka tekanan-tekanan Empu Sada pun menjadi berkurang. Meskipun Sidatta bukan saudara seperguruan Witantra, namun karena ketrampilannya, segera ia berhasil menyesuaikan dirinya dalam pertempuran bersama itu.

Meskipun beberapa orang prajurit yang mencoba membantu mereka melawan Empu Sada hampir tak berarti, namun ternyata mereka telah mempengaruhi gerak orang tua itu, sehingga dengan geramnya ia berkata,

“Hem, apakah cucurut-cucurut ini juga ingin melawan Empu Sada. Pergilah sebelum ada diantara kalian yang mati terinjak-injak kaki.”

Tetapi para prajurit itu tidak meninggalkan perkelahian. mereka tetap berlari berputaran, mencari kesempatan. Namun kesempatan itu seakan-akan tidak pernah datang kepada mereka. Bahkan ada diantara mereka yang saling berbenturan dan saling berdesak-desakkan. Apabila salah seorang dari mereka mencoba menghindari ayunan tongkat Empu Sada maka tanpa disengaja ia telah mendorong kawannya sehingga mereka berdua jatuh berguling-guling.

Sekali Empu Sada melihat juga seluruh daerah perkemahan itu. Dilihatnya beberapa orang prajurit siap rapat mengelilingi Ken Dedes hanya di bawah pimpinan seorang perwira. Sedang yang lain, yang tidak ikut dalam perkelahian ini, mencoba menjaga setiap sudut perkemahan itu.

Tiba-tiba Empu Sada itu tersenyum. Perwira yang menjaga Ken Dedes adalah perwira bawahan Sidatta, sehingga setinggi-tinggi ilmunya, masih belum melampaui Kuda Sempana atau murid-muridnya yang lain. Karena itu Empu Sada itu menganggap bahwa waktunya telah cukup masak untuk memanggil Kuda Sempana dan kawan-kawannya untuk bertindak. Mereka akan datang dari jurusan yang berbeda. Beberapa orang murid dari murid-muridnya, diantaranya murid-murid orang yang menamakan Bahu Reksa Kali Elo, dan murid-murid dari seorang saudara seperguruannya yang lain, Sungsang.

Murid-murid itu tidak perlu bertempur mati-matian untuk membinasakan prajurit-prajurit Tumapel itu. Mereka hanya berkewajiban untuk memancing perhatian para prajurit. Apabila mereka telah terlibat dalam satu pertempuran, maka adalah kuwajiban Kuda Sempana, Cundaka dan Sungsang untuk mengambil Ken Dedes.

“Semuanya akan berjalan dengan lancar,“ berkata Empu Sada di dalam hatinya, “perhitunganku tidak terlampau jauh dari keadaan kini. Tiga orang muridku telah cukup. Aku tidak perlu memanggil mereka yang bertempat tinggal terlampau jauh. Dan murid-muridku itu telah membawa murid-muridnya cukup banyak untuk keperluan ini.”

Empu Sada itu tersenyum. Kuda Sempana akan mendapatkan Ken Dedes, sedang muridnya yang lain akan mendapatkan perhiasan gadis itu yang tidak ternilai harganya. Perhiasan yang dikenakan oleh seorang bakal permaisuri. Dalam pada itu terdengar Empu Sada itu berteriak nyaring melontarkan aba-aba untuk segera melakukan rencana mereka. Beberapa orang terkejut mendengar teriakan itu, tetapi setiap orang segera menyadari, bahwa bahaya yang lebih besar lagi segera akan menimpa rombongan itu.

Perwira yang satu, yang bertugas mengamankan Ken Dedes menangkap pula isyarat itu sebagai suatu perintah kepadanya, untuk menyiapkan diri menghadapi setiap kemungkinan. karena itu, maka segera ia meloncat semakin dekat di samping tandu Ken Dedes sambil berbisik,

“Tuan puteri, jangan cemas. Namun tuan puteri pun sebaiknya bersiap-siap di samping tandu. Mungkin tuan puteri harus segera naik dan melakukan perjalanan yang tergesa-gesa dimalam hari ini.”

Wajah Ken Dedes pun segera menjadi pucat. Peringatan itu baginya justru suatu berita, bahwa bahaya yang sebenarnya adalah cukup besar. Namun gadis itu tidak menjawab. Setapak ia beringsut mendekati tandunya, sedang para pengusung pun segera bersiap pula di sampingnya. Setiap saat para pengusung itu harus memanggul tandu Ken Dedes, mungkin dengan berlari-lari, bahkan mungkin mereka harus memegangi tandu dengan sebelah tangan, sedang tangan yang lain harus menggenggam senjata mereka.

Apa yang mereka tunggu-tunggu itu pun segera datang. Dari dalam semak-semak di sekitar mereka, segera berloncatan beberapa orang dengan pedang di tangan. Mereka berteriak-teriak dengan riuhnya seperti kanak-kanak sedang mengejar tupai. Sidatta yang sedang bertempur bersama-sama dengan Witantra dan kedua saudara seperguruannya menjadi bimbang. Apakah ia harus meninggalkan perkelahian itu, atau ia harus tetap berkelahi bersama dengan Witantra. kedua-duanya baginya sama beratnya.

Tetapi segera ia mengambil keputusan di dalam hatinya, “Aku akan melihat apa yang terjadi. Apabila prajurit Tumapel tidak berdaya menghadapi orang-orang itu, maka aku harus segera membantu mereka.”

Dalam pada itu, para pengawal segera berloncatan pula menyongsong penyerangnya. Beberapa orang benar-benar telah bersiap di sudut-sudut perkemahan, sedang yang lain masih tetap dalam lingkaran di sekitar Ken Dedes bersama seorang perwiranya.

Wajah Ken Dedes menjadi bertambah pucat melihat orang-orang yang ganas dan kasar itu menyerang para pengawalnya sambil berteriak mengerikan. Dengan pedang yang terayun-ayun di atas kepalanya, mereka benar-benar telah menggemparkan hati para prajurit Tumapel. Untunglah bahwa sebagian dari para prajurit itu pun telah cukup berpengalaman, sehingga sesaat kemudian mereka telah menemukan keseimbangan mereka kembali. Dengan demikian maka mereka kemudian dapat bertempur dalam sikap yang wajar.

Segera terjadi hiruk pikuk di perkemahan itu. Hampir di segala sudut terjadi perkelahian-perkelahian yang ribut. Orang yang menyerang perkemahan itu benar bertempur menurut kehendak mereka sendiri. Dimana pun dan dalam sikap yang bagaimana pun juga. Tetapi ketika perkelahian telah berlangsung beberapa lama segera Witantra melihat, bahwa orang-orang itu sengaja memancing perkelahian menjauhi gadis bakal permaisuri Akuwu Tumapel itu.

Witantra menjadi semakin cemas menghadapi gerombolan yang tampaknya benar-benar liar. Tetapi Witantra menyadari, bahwa sebenarnya orang-orang yang menyerang rombongannya bukanlah orang-orang yang terlampau liar, namun sengaja mereka membuat kesan, bahwa mereka adalah orang-orang yang berbuat sekehendak hati mereka tanpa ada orang lain yang dapat mencegahnya. Liar, kasar dan ganas.

Ternyata bukan saja Witantra yang menjadi cemas, tetapi juga Mahendra dan Sidatta, bahkan Kebo Ijo yang hampir tidak menaruh perhatian apa pun terhadap Ken Dedes, bahkan kadang-kadang ia menghina di dalam hatinya, namun kali ini hatinya dicengkam oleh kecemasan juga. Cemas bahwa Akuwu pasti akan menimpakan kesalahan kepada Witantra, dan cemas bahwa nilainya sebagai seorang laki-laki dan prajurit, apalagi dalam satu rombongan, benar-benar dibinasakan oleh sebuah gerombolan dari orang-orang yang tidak mempunyai kedudukan dan nama.

Perwira yang masih tetap berdiri di samping Ken Dedes menyadari pula atas apa yang sedang terjadi. Karena itu, ia sama sekali tidak bergeser dari tempatnya. Di tangan kanannya tergenggam sebuah pedang yang mengkilap, sedang di tangan kirinya sebuah pisau belati panjang. Sesuatu pasangan senjata yang selama ini diandalkannya di medan-medan perang.

Beberapa orang yang berdiri memagari Ken Dedes pun diperintahkannya untuk tetap berada di tempatnya. Selama keadaan mereka yang bertempur tidak terlampau jelek, maka setiap orang yang berjaga-jaga di sekitar Ken Dedes masih harus tetap di tempatnya.

Dalam pada itu pertempuran di sekitar tempat itu semakin lama menjadi semakin ribut. Orang-orang Empu Sada bertempur tanpa mengingat nilai-nilai yang biasanya menjadi pegangan bagi setiap orang yang merasa dirinya cukup jantan. Mereka bertempur sambil berlari-lari, berteriak-teriak dan kadang-kadang mempergunakan senjata-senjata yang kotor. Batu dan pasir.

Witantra mengumpat di dalam hatinya. Tetapi ia sama sekali tidak dapat melepaskan Empu Sada. Orang itu bertempur semakin lama justru menjadi semakin dahsyat, meskipun kini ia harus berhadapan melawan empat orang terbaik dari rombongan pengawal Ken Dedes.

Bahkan orang tua itu masih sempat tertawa dan berkata, “Nah. Apakah yang dapat kalian lakukan untuk melawan orang-orangku?”

“Orang-orang seliar Serigala,“ bentak Witantra, “mereka tidak menghormati sama sekali nilai-nilai perseorangan.”

“Apa pedulimu,” sahut Empu Sada, “tetapi sadarilah, bahwa apabila kau tidak memerintahkan menghentikan perlawanan, maka semua orang-orangmu akan tertumpas habis.”

“Persetan,“ teriak Witantra.

Empu Sada itu pun masih saja tertawa. Tiba-tiba sekali lagi ia berteriak, “Jangan terlampau lama bersembunyi. Nah, kini sudah waktunya bagi kalian untuk memetik bunga itu. Di sampingnya hanya ada seorang yang perlu kalian perhatikan, yang lain adalah semudah mematahkan ranting-ranting kering.”

Kata-kata Empu Sada itu terdengar benar-benar seperti petir menyambar di atas kepala Witantra, Mahendra, Kebo Ijo, Sidatta dan para prajurit Tumapel yang lain. Dengan demikian, segera mereka menyadari bahwa lawan mereka segera akan bertambah. Dan yang akan datang pasti bukan sekedar gerombolan liar yang hanya mampu berlari-lari dan berteriak-teriak, tetapi pasti orang-orang terpilih dari antara orang-orang Empu Sada itu.

Perwira yang berdiri di samping Ken Dedes pun menyadarinya, sehingga karena itu segera pula keluar perintahnya, “Hadapi setiap kemungkinan tanpa ada kesempatan meninggalkan tempat ini bagi kalian dan kami semuanya.”

Perintah itu tegas dan jelas bagi setiap prajurit Tumapel. Perintah itu sama bunyinya dengan, “Bertempur sampai mati.”

Setiap prajurit Tumapel mengatupkan mulutnya rapat-rapat, namun gigi mereka bergemeretak. Mereka menyadari sepenuhnya apa yang harus mereka lakukan demi tugas mereka, Ken Dedes bagi mereka hampir sama nilainya dengan Akuwu sendiri, sebab gadis itu kini dalam sikap kebesaran seorang permaisuri.

Orang-orang Empu Sada yang lain, yang mendengar perintah itu, segera bersorak semakin riuh. Mereka berteriak-teriak seperti serigala kelaparan. Namun dalam pada itu, serangan-serangan mereka pun meningkat semakin garang pula. Dari dalam semak-semak segera muncul beberapa orang berloncatan menerjunkan diri ke dalam pertempuran itu. Seperti orang-orang yang terdahulu, segera mereka pun berteriak-teriak dan memutar senjata-senjata mereka. Namun belum seorang pun dari mereka yang menyerang para prajurit Tumapel yang berdiri melingkari Ken Dedes.

Witantra dan para prajurit Tumapel yang melihat datangnya orang-orang baru itu menjadi heran. Tidak ada tanda-tanda bahwa mereka adalah orang-orang yang terpilih. Gerak, tandang serta cara mereka bertempur tak ubahnya dengan cara-cara yang dipergunakan oleh kawan-kawan mereka sebelumnya. Namun karena itu, maka Witantra dan para prajurit yang lain itu masih harus menunggu, bahwa akan datang saatnya, lawan-lawan yang lebih berat akan berdatangan.

Tetapi pertempuran itu sudah berjalan beberapa saat. Sedang keadaan medan masih belum berubah. Empu Sada masih harus menghadapi keempat lawannya yang tidak dapat dianggap seperti sedang bermain kucing-kucingan, sedang orang-orang lain masih bertempur dengan riuhnya. Namun prajurit yang bertugas khusus di sekitar Ken Dedes beserta pimpinannya, sama sekali belum tersentuh oleh lawan. Mereka masih tetap berdiri kaku tegang. Bahkan mereka hampir tidak tahan lagi menunggu terlampau lama, siapakah yang harus menjadi lawan-lawan mereka.

Dalam kegelisahan Witantra sempat memperhatikan sikap Empu Sada yang gelisah pula. Sekali-sekali orang tua itu memerlukan waktu untuk menjauhi lawannya, dan menebarkan matanya berkeliling. Kesimpulan Witantra adalah, Empu Sada masih menunggu orang-orangnya yang lain.

Sebenarnyalah bahwa Empu Sada menjadi gelisah. Seharusnya orang-orangnya yang terpenting dalam rencana ini, sudah mulai berbuat sesuatu. Mungkin mereka segera akan berhasil. Tetapi orang yang ditunggunya itu sama sekali belum menampakkan dirinya.

“Apakah perubahan kecil ini telah mempengaruhi mereka” pertanyaan itu menyentuh dinding hati Empu Sada. Tetapi kemudian dijawabnya sendiri, “perubahan itu tidak terlalu sulit. Orang-orang lain, bahkan orang-orang yang lebih bodoh dari mereka, dapat mengerti keadaan yang tidak tepat mengerti keadaan yang tidak tepat seperti rencana semula ini, dan mereka dapat segera menyesuaikan dirinya pula. Orang-orang ini dapat mengerti, bahwa aku tidak jadi membawa Witantra dan orang-orang penting lainnya meninggalkan perkemahan, justru aku membawa mereka masuk kedalamnya namun mengikat mereka dalam suatu pertempuran. Mustahil, mustahil kalau perubahan kecil ini menjadikan mereka kebingungan.”

Koleksi : Ki Ismoyo
Retype : Ki Raharga
Proofing : Ki Raharga
Recheck/Editing: Ki Sunda






OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar