PdLS-18
Mahisa Agni menundukkan wajahnya. Terasa dadanya berdesir. Ia lebih senang mendengar bahwa Ken Dedes itu mengumpat-umpat dan mengutuknya. Ia akan menghadapi dengan dada tengadah seandainya Ken Dedes itu mengirimkan beberapa orang untuk menangkap dan menghukumnya. Tetapi Ken Dedes itu menangis.
Mahendra melihat wajah Mahisa Agni tertunduk. Sekilas ia memandang wajah Sidatta yang tegang. Di dalam hati perwira itu berkata, “Anak muda yang keras hati. Tetapi hatinya adalah hati malam. Hatinya mudah sekali menjadi luluh karena haru, bukan karena cemas dan takut.”
Tetapi kini Mahendra lah yang menjadi cemas. Ia telah mengatakan sikap Ken Dedes yang belum pasti benar terjadi. Kalau kemudian kedatangan Mahisa Agni disambut dengan wajah yang merah tegang karena marah, kalau kedatangan Mahisa Agni kemudian disambut oleh sikap yang sama sekali berlawanan dengan apa yang dikatakan, maka Mahisa Agni pasti akan merasa ditipunya. Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia harus dapat mengajak Mahisa Agni ke Panawijen.
Kini sejenak mereka saling berdiam diri. Mahisa Agni sekali-sekali terdengar menarik nafas dalam-dalam. Mahendra masih saja menghadapi sisa-sisa makanannya dan sekali-sekali tangannya masih menyentuh sambal kacang. Tetapi debar di hatinya terasa menjadi semakin cepat. Dalam pada itu Sidatta merenungi perapian tidak jauh dari padanya. Apinya menjilat-jilat seperti sedang menari-nari. Dikejauhan dilihatnya beberapa anak muda terbaring diatas alas rerumputan kering. Dingin padang mulai merayap tubuhnya.
Mahisa Agni yang tertunduk itu masih juga tertunduk. Kalau benar kata Mahendra, maka anak itu akan mengalami siksaan batin meskipun ia akan menjadi seorang permaisuri. Dalam pada itu tiba-tiba diingatnya kata-kata ibunya. Kata-kata emban pemomong Ken Dedes yang sudah semakin tua. Sebenarnya hatinya sedang dibakar oleh sebuah perasaan yang mementingkan dirinya sendiri. Bukan sekedar perasaannya tersinggung karena keputusan Ken Dedes diluar persetujuannya. Tetapi jauh lebih dalam dari pada itu. Sekali lagi Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Seolah-olah udara padang rumput itu menjadi sedemikian tipisnya.
Mahendra memperhatikan perubahan-bahan yang terjadi pada Mahisa Agni dengan saksama. Tetapi ia masih belum mendapat kesimpulan apakah Mahisa Agni akan bersedia datang memenuhi undangan adiknya. Sejenak mereka masih berdiam diri. Sidatta berusaha untuk menahan diri, dan memberi kesempatan kepada Mahendra untuk membujuk Mahisa Agni.
Dalam pada itu Mahendra pun kemudian berkata, “Bagaimana Agni. Apakah kau besok pagi-pagi benar bersedia datang ke Panawijen?”
Mahendra menjadi kecewa ketika Mahisa Agni menggeleng, “Tidak Mahendra. Aku tidak sempat meninggalkan pekerjaan ini. Aku harus selalu berada diantara kawan-kawanku yang sedang membangun bendungan ini.”
Tanpa dikehendakinya sendiri Mahendra menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tidak tahu lagi, apa yang harus dikatakan untuk melunakkan hati Mahisa Agni.
Namun dalam pada itu terdengar Sidatta berkata, “Sebaiknya kau datang adi Mahisa Agni.”
Mahisa Agni memandangi wajah perwira itu. Wajahnya tenang dan dalam. Perwira itu adalah seorang perwira yang bermata cekung. Bibirnya banyak membayangkan senyum, tetapi wajah itu berkesan sebuah tekanan yang pernah membebani hidupnya. Tetapi Mahisa Agni tidak ingin menilai perwira itu, dan perwira itu pun tidak ingin berceritera tentang dirinya, tentang penderitaan hidup yang pernah dialaminya, sehingga meskipun ia masih muda, tetapi perasaannya telah cukup mengendap.
Bahkan Mahisa Agni menjadi bertanya-tanya di dalam hati. “Apakah perwira ini yang sebenarnya bertugas untuk menangkapnya?”
Mahendra pun menjadi berdebar-debar pula. Ia tidak mengharapkan bahwa karena kejengkelan, kekecewaan dan ketidak sabaran Sidatta, maka perwira itu akan dapat menimbulkan salah faham.
Tetapi Sidatta itu berkata sekali lagi, “Tuan Puteri sangat mengharap kedatanganmu.”
Dada Mahisa Agni berdesir. Sebutan untuk Ken Dedes itu benar-benar telah menggelitik telinganya. Tetapi ia tidak segera menjawab keragu-raguan dan kebimbangan yang sangat telah mengganggu perasaannya. Ada keinginannya untuk memenuhi permintaan Ken Dedes oleh dorongan berbagai perasaan. Ingatan tentang ibunya, tentang pergaulan masa kanak-kanaknya dan tentang berbagai macam kenangan masa silam. Tetapi apabila tiba-tiba ia terantuk pada dirinya sendiri, hatinya meronta,
“Persetan dengan anak itu.”
“Maaf kakang Sidatta,“ sahut Mahisa Agni, “aku tidak dapat datang.”
Sidatta mengangguk-anggukkan kepalanya. Mahendra memandanginya dengan cemas. Sudah tentu ia tidak dapat melarang Sidatta mengucapkan perasaannya. Dengan demikian ia akan menyinggung perasaan perwira.
Tetapi yang diucapkan oleh Sidatta kemudian adalah, “Sayang sekali,“ Kemudian kepada Mahendra Sidatta itu berkata, “Adi Mahendra, kalau adi Mahisa Agni tidak bersedia menemui adiknya, tuan puteri Ken Dedes, maka adalah salah kami semua para pengawal.”
Sekarang Mahendra lah yang tidak tahu maksud Sidatta mengucapkan kata-kata itu Mereka memang tidak mengadakan persetujuan apa yang harus mereka katakan, sehingga mereka telah membuat cara masing-masing untuk memancing kesediaan Mahisa Agni. Tetapi Mahendra menyadari, agaknya Sidatta pun sedang mencoba melunakkan hati Mahisa Agni.
Dengan ragu-ragu Mahendra menjawab, “Ya kakang, kamilah yang bersalah.”
Mahendra sama sekali tidak mengerti, kesalahan apa yang telah dilakukannya, namun ia merasa wajib untuk mengiakan, supaya cara Sidatta tidak terganggu. Tetapi Sidatta benar-benar menjadi kecewa. Ia ingin Mahendra bertanya, kenapa kesalahan itu diletakkan kepadanya dan kawan-kawannya supaya ia mendapat jalan untuk menjelaskan. Sebuah persoalan yang telah dikarangnya. Karena itu dengan menggigit bibirnya Sidatta menarik nafas dalam-dalam.
Melihat wajah Sidatta yang berkerut-kerut Mahendra menjadi heran. Kemudian timbullah kekhawatirannya, bahwa ia telah membuat tanggapan yang salah.
Tetapi tidak dengan sengaja, Mahisa Agni itu bertanya, “Kenapa kalian yang bersalah?”
Sekali lagi Sidatta menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Semula tuan puteri telah menyangka bahwa adi Mahisa Agni berada dipadang ini. Tuan puteri telah memerintahkan kepada kami untuk langsung datang kemari karena betapa rindunya tuan puteri kepada satu-satunya kadang yang masih ada. Tetapi kamilah yang menasehatkannya. Supaya tuan puteri datang lebih dahulu ke Panawijen. Mungkin adi masih berada di padepokan, dan kemungkinan yang lain adalah, tuan puteri akan tidak tahan panas matahari yang terik. Tetapi ketika kami sampai di padepokan adi, ternyata padepokan itu kosong. Yang ada hanyalah para cantrik dan endang.
Betapa kecewa hati tuan puteri. Yang dilakukan pertama-tama adalah menangis. Memanggil kami dan betapa tuan puteri marah kepada kami. Sebelum kami sempat duduk, aku dan adi Mahendra harus berangkat lagi menebus kesalahan kami. Tetapi kalau adi Mahisa Agni tidak bersedia datang, makan apabila kesalahan ini didengar oleh Akuwu Tunggul Ametung, maka kedudukan kami akan terancam. Lebih dari pada itu, tuan puteri akan menjadi sangat bersedih. Adalah pasti tuan puteri akan menjadi berangkat kemari betapapun alam menghalang-halanginya dengan terik matahari, haus dan mungkin gangguan-gangguan yang lain.”
Kata-kata itu serasa menusuk-nusuk ulu hati Mahisa Agni. Kalimat demi kalimat menghunjam ke dalam dadanya seperti pisau yang senyari demi senyari menembus semakin dalam. Tiba-tiba dalam kepedihan itu Mahisa Agni memotong dengan kasarnya,
“Cukup, cukup.”
Sidatta terdiam mendengar Mahisa Agni tiba-tiba membentak-bentak. Tetapi perwira itu tidak menunjukkan sikap apapun. Ia masih tetap duduk dengan tenangnya sambil memandangi nyala api yang sedang menjilat udara. Dalam pada itu, Mahendra lah yang menjadi semakin cemas. Tetapi ia menjadi agak tenang ketika ia melihat Sidatta tetap dalam sikapnya.
Sidatta yang meskipun umurnya tidak terlampau jauh terpaut dari umur Mahendra dan Mahisa Agni, namun karena pengalaman hidupnya yang luas, segera dapat merasakan, bahwa di dalam hati Mahisa Agni kini terjadi suatu pergolakan. Ia mengharap mudah-mudahan pergolakan di dalam dada Mahisa Agni itu akan mendorong Agni untuk dapat memenuhi maksud kedatangan mereka.
Kembali suasana menjadi kian sepi. Beberapa anak-anak muda Panawijen telah tertidur nyenyak. Namun beberapa yang lain mendengar lamat-lamat Mahisa Agni memotong kata-kata tamunya dengan keras. Terasa dada mereka berdesir. Tetapi mereka tidak melihat sikap-sikap yang menegangkan hati. Karena itu, maka kembali mereka menikmati masa-masa istirahat mereka.
Sidatta kini membiarkan Mahisa Agni berbicara dengan diri sendiri. Dilihatnya anak muda itu menundukkan kepalanya, namun sekali-sekali tangannya tampak memegangi keningnya yang menjadi berat dan pening.
Tiba-tiba kesepian suasana itu dipecahkan oleh kata-kata Agni. “Kau membingungkan aku kakang Sidatta.”
Sidatta berpura-pura terkejut. Dengan serta merta ia bertanya, “Kenapa?”
Kembali Mahisa Agni terdiam. Kembali wajahnya menunduk dan terdengar sekali-sekali ia berdesah. Namun kembali dengan tiba-tiba Mahisa Agni berkata sambil meremas tangannya,
“Tidak. Aku tidak akan pergi. Biar anak itu marah, mengumpat-umpat atau mengutukku sekali. Aku tidak ada sangkut paut lagi dengan Ken Dedes. Hidupku lebih penting bagi rakyat Panawijen dari pada untuknya. Seandainya ia akan datang kemari biarlah ia datang. Biarlah ia dibakar terik matahari, biar ia kalap ditelan hantu sekalipun.”
Sidatta menggelengkan kepalanya. Katanya, “Tidak adi. Tuan puteri tidak akan mengumpat-umpat, memaki atau mengutuk seandainya adi Mahisa Agni tidak mau datang ke Panawijen. Tetapi tuan puteri itu pasti hanya akan dapat menangis dan merasa dirinya tidak berharga di mata saudara tuanya. Ia tidak akan memerintahkan menangkap tuan, tetapi ia akan meratap dan merasa dirinya dikejar-kejar oleh dosa karena telah melukai hati kakaknya.”
“Oh,“ terdengar Mahisa Agni berdesah. Kini kedua tangannya memegang kepalanya erat-erat seperti ia takut kepala itu akan terlepas dari lehernya.
Kembali Sidatta membiarkan Mahisa Agni bertengkar dengan perasaan sendiri. Ia dihadapkan pada dua kemungkinan yang saling bertentangan. Dalam keraguan itu kembali terdengar suara ibunya terngiang di telinganya. Suara yang seakan-akan telah mendorong untuk pergi ke Tumapel beberapa hari yang lampau. Kini ia dihadapkan lagi pada keadaan yang serupa. Ragu-ragu.
Malam yang kelam menjadi semakin kelam. Di kejahuan terdengar burung malam melagukan lagu yang sayu. Tiba-tiba dalam keheningan itu Mahisa Agni berkata lemah,
“Baiklah aku besok akan pergi bersama kalian.”
Mahendra terkejut mendengar kesediaan yang terasa terlampau tiba-tiba itu, sehingga ia bergeser maju sambil mengulangi kata-kata Agni,
“Kau bersedia?” Mahisa Agni mengangguk.
Sidatta tersenyum. Katanya, “Tuan puteri akan sangat bergembira karena kesediaan adi Mahisa Agni.”
Mahisa Agni tidak menyahut, tetapi kembali wajahnya terhunjam ke tanah. Sedang Mahendra mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun ia merasa bersyukur karena kesediaan Mahisa Agni itu, tetapi ia menjadi iba pula. Bahkan ia kini menjadi cemas. Mereka berdua, Mahendra dan Sidatta ternyata telah mempergunakan kelemahan hati Mahisa Agni untuk memaksanya pergi ke Panawijen. Tetapi apabila kedatangan besok disambut oleh adiknya dengan sikap yang bertentangan dengan yang dikatakannya, maka dapat dibayangkan, betapa terpecah-belah hati anak muda itu.
Tetapi Mahendra tidak dapat berbuat lain, seperti juga Sidatta tidak mempunyai cara lain untuk memaksa Agni datang ke Panawijen, meskipun seperti Mahendra, Sidatta pun menjadi cemas.
Dalam pada itu terdengar Mahisa Agni berkata, “Kalian telah menyulitkan perasaanku. Tetapi biarlah aku sekali ini menuruti kehendak Ken Dedes. Mungkin pertemuan ini adalah pertemuan yang terakhir. Mungkin ia akan memberikan pesan atau mungkin ia akan memaki-maki aku. Mudah-mudahan perasaanku sendiri tidak menjadi tersiksa karenanya setelah aku melihat anak itu. Anak yang tidak tahu diri.”
Sidatta dan Mahendra tidak menyahut. Terbayang di dalam kepalanya, betapa hati Mahisa Agni telah benar-benar terluka. Luka karena tersinggung perasaan. Namun dugaan itu kurang tepat seperti apa yang sesungguhnya terjadi. Tak seorang pun selain ibu Mahisa Agni sendiri yang tahu, apakah yang sebenarnya bergolak di dalam dada Mahisa Agni.
Malam yang menjadi semakin malam telah menelan perkemahan itu. Hampir semua orang telah tertidur. Mahisa Agni pun kemudian mempersilahkan kedua tamunya beristirahat diatas sehelai tikar pandan. Ketika kemudian ia kembali ke tengah-tengah perkemahan itu dilihatnya Ki Buyut Panawijen pun telah tertidur. Tetapi ia melihat pamannya duduk memeluk lututnya, masih seperti ketika ditinggalkannya seolah-olah orang itu sama sekali tidak bergerak.
“Siapakah mereka Agni?” bertanya pamannya.
“Mereka adalah orang-orang Ken Dedes yang datang untuk memanggil aku ke Panawijen besok,“ sahut Mahisa Agni.
Pamannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia pernah mendengar persoalan antara Agni dan anak gurunya itu. Namun belum seluruhnya. Empu Gandring belum mengetahui sedalam-dalamnya persoalan yang seolah-olah selalu menghantui perasaan kemenakannya itu. Karena itu maka dengan hati-hati ia bertanya,
“Apakah kau besok akan pergi juga ke Panawijen.”
Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Jawabnya lirih, “Ya paman. Aku telah mengatakan kepada mereka bahwa aku akan datang memenuhi panggilan itu. Apakah paman tidak setuju?”
“Kenapa aku tidak setuju, Agni? Aku mengharap segala sesuatu menjadi baik. Kalau kau tidak bertemu dengan adikmu, maka kau tidak akan mendengar keterangan yang langsung diucapkan. Mungkin dengan demikian kalau telah salah paham, akan segera dapat diakhiri. Yang tidak dapat kau mengerti dapat langsung kau tanyakan kepadanya, yang tidak kau setujui kau langsung dapat menyampaikannya. Hanya persoalan menjadi baik dengan pembicaraan yang baik. Tetapi kalau salah faham itu kau simpan saja di hatimu, maka untuk seterusnya tidak akan ditemukan pengertian diantara kalian.”
Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Desisnya, “Mudah-mudahan paman. Sebenarnya aku sudah jemu mengurus soal Ken Dedes yang akan kawin dengan Tunggul Ametung. ketika mereka mulai dengan persoalan itu, mereka sama sekali tidak membawa aku dalam pembicaraan, tetapi kemudian persoalan itu selalu mengganggu aku kemana aku pergi.”
“Karena itu,“ sahut pamannya, “segera kau selesaikan soal itu. Apakah keberatannya? Untuk seterusnya kau tidak akan terganggu lagi.” Mahisa Agni terdiam. Namun debar jantungnya menjadi semakin cepat. “Beristirahatlah Agni,“ desis pamannya kemudian.
Mahisa Agni mengangguk sambil menjawab, “Ya paman.”
Perlahan-lahan anak muda itu bangkit dan berjalan ke sebuah gubug dengan atap anyaman daun kelapa. perlahan-lahan pula ia membaringkan dirinya pada sehelai tikar. Namun untuk seterusnya Mahisa Agni tidak segera dapat memejamkan matanya. Bahkan seolah-olah semua peristiwa yang pernah dialami, kembali membelit angan-angannya. Seruling, amben bambu teritisan. Kemudian tangis Ken Dedes, dan ibunya yang mencoba menghibur gadis itu, kemudian betapa dadanya serasa pecah, ketika ia mendengar Ken Dedes menyebut nama Wiraprana.
Mahisa Agni memejamkan matanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia mencoba mengusir kenangan yang pahit itu. Tetapi kenangan itu selalu datang mengganggunya. Betapa tubuhnya sehari-harian diperas oleh kerja membuat bendungan, namun Mahisa Agni sama sekali tidak dapat tidur sekejapun. Ia terkejut ketika tanpa disengaja, ia memandang langit di Timur telah dilapisi oleh warna semburat merah. Bahkan sejenak kemudian beberapa orang kawannya telah bangun dan satu dua diantaranya telah pergi ke sungai untuk mengambil air. Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ketika kemudian ia bangkit dan pergi ke tempat Sidatta dan Mahendra beristirahat, ternyata mereka pun telah bangun pula.
Pagi itu, Mahisa Agni terpaksa meninggalkan kawan-kawan mereka. Meskipun hatinya masih saja dikejar oleh keragu-raguan, namun ia tidak membatalkan niatnya untuk pergi ke Panawijen. Setelah minta diri kepada Ki Buyut dan pamannya Empu Gandring beserta kawannya, maka Mahisa Agni pun kemudian pergi ke Panawijen bersama dengan Sidatta dan Mahendra.
Di sepanjang jalan, Mahendra menceriterakannya serba sedikit apa yang dilihat dan dialaminya di perjalanan. Diceriterakannya pula, bahwa Empu Sada telah mencoba membantu muridnya merampas Ken Dedes. Untunglah bahwa gurunya, Panji Bojong Santi, dalam saat yang tepat telah menolong mereka.
“Seandainya guru tidak ada, maka Empu Sada pun tidak akan berhasil membawa tuan puteri,“ berkata Mahendra.
Mahisa Agni yang mendengarkan ceritera itu dengan getar di dadanya, menarik nafas dalam-dalam. Betapa bencinya kepada Kuda Sempana yang masih saja ingin mendapatkan gadis itu tanpa menghiraukan keadaan dan kenyataan. Tetapi Mahisa Agni tertarik pada ceritera terakhir Mahendra, sehingga ia bertanya,
“Kenapa Empu Sada tidak juga akan berhasil apabila Panji Bojong Santi tidak menolong kalian.”
“Ada orang lain yang telah siap menolong pula.”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya, “Siapa?” ia bertanya.
“Empu Purwa.”
“He,“ Mahisa Agni terkejut, tetapi kemudian katanya, “apakah kau sedang bergurau?”
Mahendra menggeleng, “Tidak. Aku tidak sedang bergurau. Empu Purwa benar-benar hadir menurut guruku.”
Mahisa Agni memandang wajah Mahendra dengan tajamnya. Namun kemudian kembali wajahnya merenungi padang yang luas terbentang dihadapannya. Kembali angan-angannya melambung pada masa-masa yang silam dan pada masa-masa yang tak pernah dialaminya. Terasa suatu dunia yang aneh melingkar-lingkar di dalam benaknya. Dunia kenyataan yang tak dapat diingkarinya, bercampur baur dengan dunia angan-angannya yang berbenturan dengan segala macam kekecewaan dan penyesalan. Tetapi Mahisa Agni tidak menumpahkannya kepada siapapun. Dunia itu tetap menjadi rahasia bagi dirinya sendiri.
Sementara itu di Panawijen, Ken Dedes menunggu Mahendra dan Sidatta dengan gelisah. Menurut perhitungan Witantra, lewat tengah hari secepat-cepatnya Mahendra baru akan datang. Dengan atau tidak dengan Mahisa Agni. Namun Ken Dedes yang hampir tidak sabar menunggu itu pun telah memerintahkan kepada Witantra untuk mengatur para prajuritnya, supaya Mahisa Agni melihat bahwa yang hadir di Panawijen kini adalah seorang bakal permaisuri. Seorang yang mempunyai kesempatan dan kemungkinan yang gemilang di hari depan.
Hampir semalam penuh Ken Dedes mereka-reka, bagaimana ia harus bersikap nanti apabila Mahisa Agni datang. Kadang-kadang kekecewaannya kepada kakak angkatnya itu sedemikian menyembul dari permukaan pertimbangannya, sehingga kadang-kadang timbullah keinginannya untuk memperlihatkan kebesarannya. Namun kadang-kadang timbul pula perasaannya yang lain. Perasaan seorang gadis yang memerlukan perlindungan dari saudara laki-lakinya.
Tetapi bagaimana pun juga, ia harus menunjukkan kepada Mahisa Agni, bahwa ia bukan seorang gadis kecil lagi. Bukan seorang gadis yang dapat merengek seperti pada saat-saat ia masih tinggal di padepokan ini. Bukan lagi Ken Dedes yang hanya pantas melayani Mahisa Agni makan di dapur, menuangkan sayur dan menyediakan gendi untuk minum. Bukan lagi anak-anak yang berlari-lari mencari Mahisa Agni, apabila dilihatnya sesuatu yang mencemaskan hatinya, berteriak-teriak hanya karena seekor kambing yang lepas dari ikatannya masuk dan mengunyah dedaunan dalam petamanannya.
“Tidak,“ katanya di dalam hati, “aku sudah dewasa. Kakang Mahisa Agni pun harus bersikap dewasa dalam persoalanku. Aku harus dapat menunjukkan kepadanya, bahwa dalam keadaan ini aku mempunyai pertimbangan yang benar. Bukan sekedar karena berputus asa. Kebesaranku akan melimpah kepada kakang Mahisa Agni dan seluruh padukuhan Panawijen.”
Ken Dedes itu pun kemudian hatinya menjadi tetap. Ia akan menyambut Mahisa Agni dalam sikap kedewasaan. Berbicara dengan sikap yang dewasa. Karena itu, ketika kemudian matahari mencapai puncak langit, maka Ken Dedes pun telah bersedia duduk di pendapa padepokannya. Ia telah memerintahkan kepada Witantra untuk menjaga regol halamannya dan beberapa petugas lain di sudut-sudut pendapa. Witantra sendiri duduk bersila di pendapa itu bersama-sama Kebo Ijo.
Namun betapa Kebo Ijo mengumpat-umpat di dalam hatinya. Katanya, “Gadis Panawijen ini terlalu banyak bertingkah. Apa pula perlunya tata cara resmi yang tidak dilakukan di istana ini. Bukankah ia belum seorang permaisuri? Hem, apalagi nanti, apabila Ken Dedes itu telah resmi menjadi seorang permaisuri. Kami setiap hari masih harus mencium telapak kakinya.”
Tetapi ketika ia melihat kakak seperguruannya duduk tepekur dengan khidmatnya, maka ia pun menundukkan kepalanya. Ken Dedes sendiri, duduk di tengah-tengah pendapa, di depan pintu masuk ke ruang dalam. Diatas sehelai tikar yang putih. Di belakangnya duduk beberapa endang yang berumur sebayanya. Para endang itu sendiri tidak tahu, kenapa ia harus duduk pula di belakang Ken Dedes. Tetapi ketika mereka melihat para prajurit yang dengan sikapnya yang garang berada di sekitar halaman dan di sekeliling pendapa, bahkan panji-panji dan umbul-umbul pun dipasang pula, mereka sama sekali tidak berani menanyakannya.
Terasa pula, bahwa Ken Dedes kini bukan lagi Ken Dedes yang dahulu. Apalagi setelah mereka mendengar bahwa Ken Dedes adalah seorang gadis yang bakal menjadi permaisuri Akuwu Tunggul Ametung. Meskipun mereka tidak dapat mengerti hubungan peristiwa yang telah terjadi atas Ken Dedes itu, namun mereka kini melihat suatu kenyataan, bahwa Ken Dedes mendapat kesempatan yang tidak pernah diimpikan. Kalau semula mereka meratap dan menangisi gadis yang dilarikan oleh Kuda Sempana, namun kini mereka melihat kebesaran gadis itu. Dan mereka pun menjadi ikut berbangga pula karenanya.
Ken Dedes yang duduk di tengah-tengah pendapa itu merasa, betapa ia sudah terlampau lama menunggu namun Mahendra masih belum juga datang. Dengan gelisahnya ia berkali-kali mengingsar tubuhnya. Sekali ke sisi kemudian kembali ke tempat semula. Pandangan matanya seolah-olah tersangkut di regol halaman. Dari sana nanti Mahendra akan datang bersama Mahendra dan Mahisa Agni.
“Bagaimana kalau kakang Mahisa Agni tidak mau datang?” desahnya di dalam hati.
Kekecewaan Ken Dedes menjadi semakin bertambah-tambah. Mahisa Agni benar-benar seorang yang tinggi hati. Seorang yang tidak mau melihat kepentingan orang lain. Seorang yang hanya dapat berpikir menurut kepentingan dan keinginan diri sendiri. Seorang yang diperbudak oleh ledakan-ledakan perasaan tanpa disertai dengan nalar dan pikiran. Semua peristiwa selalu ditanggapinya dengan hati yang gelap.
“Alangkah menjemukan,“ geramnya di dalam hatinya, “kakang Mahisa Agni benar-benar menjemukan. Sekali-sekali ia harus mendapat pelajaran bahwa sikapnya sama sekali bukan sikap yang baik. Bukan sikap yang dapat dibanggakan. Baiklah dirinya sendiri, maupun oleh keluarga di sekitarnya. Aku kira, ayah tidak pernah mengajarinya demikian.“ Kemudian perasaannya pun meledak-ledak pula. Katanya di dalam hatinya, “Ia harus datang. Ia harus datang. Ia harus bersedia pergi ke Tumapel, menemui Akuwu Tunggul Ametung. Biarlah seandainya ia tidak mau merestui perkawinanku. Tetapi ia harus belajar menghormati orang lain. Menghormati mereka yang seharusnya mendapat kehormatan yang sepantasnya. Apabila ia datang, ia harus melihat kebesaran Akuwu Tumapel. Maksud baik yang terkandung didalamnya dan kewajibannya sebagai seorang saudara tua terhadap adiknya.”
Dengan demikian sikap Ken Dedes pun menjadi semakin garang. Dipaksanya dirinya untuk dapat menunjukkan kebesaran yang diwakilinya dari istana Tumapel. Ia ingin membuat Mahisa Agni tunduk karena wibawa kebesaran Akuwu Tunggul Ametung. Baru kemudian, anak muda itu akan mudah menerima keterangannya setelah ia dicengkam oleh kewibawaan itu. Tetapi Mahisa Agni tidak juga segera datang.
Dalam pada itu, Mahendra, Sidatta dan Mahisa Agni masih berada di perjalanan. Perjalanan yang seolah-olah menyusur sepanjang tepi neraka. Betapa panasnya udara dan betapa panasnya terik matahari. Berkali-kali mereka terpaksa berhenti. Mengambil air ke sungai dan membiarkan kuda-kuda mereka minum dan sekedar beristirahat. Sejenak kemudian barulah mereka berjalan kembali.
“Alangkah beratnya pekerjaanmu Agni,“ gumam Mahendra, “membuat bendungan di bawah terik matahari yang seakan-akan membakar punggung.”
Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Pekerjaannya memang pekerjaan yang cukup berat. Apalagi bagi penduduk Panawijen yang selama ini seolah-olah dimanjakan oleh keadaan alam di sekelilingnya. Rakyat Panawijen merasa bahwa apa pun yang diletakkan di tanah, pasti akan tumbuh dan memberikan hasil bagi mereka. Makan mereka seolah-olah begitu saja meloncat dari dalam bumi tanpa banyak kesulitan. Air yang melimpah dan jenis tanah yang subur.
Tetapi kini mereka harus bekerja keras. Tidak ada pilihan lain dari pada bekerja keras. Kerja yang mula-mula terasa betapa beratnya. Namun kemudian meresap ke dalam setiap diri rakyat Panawijen, bahwa adalah menjadi kuwajiban mereka untuk mengerjakan pekerjaan itu apabila mereka tidak ingin menjadi kelaparan. Apabila mereka tidak ingin dikutuk oleh anak cucu mereka karena mereka telah menyia-nyiakan saat-saat hidup mereka yang berharga.
Karena itu apabila bendungan itu kemudian dapat berwujud, maka bendungan itu akan menjadi kebanggaan rakyat Panawijen pada masanya. Akan menjadi kenangan bagi anak cucu, bahwa pada masanya, rakyat Panawijen telah bekerja keras membuat peninggalan yang berharga bagi mereka.
“Adalah suatu kebanggaan bagimu Agni, bahwa kau mampu menggerakkan seluruh isi padukuhan Panawijen untuk melakukan pekerjaan yang pasti akan sangat bermanfaat itu,“ berkata Mahendra pula.
“Kerja itu didorong oleh suatu kesadaran, bahwa kami bersama-sama memerlukannya. Mahendra. Akan berbeda apabila pekerjaan itu hanya akan bermanfaat bagiku saja. Apabila aku dapat menggerakkan seluruh rakyat Panawijen untuk kepentinganku sendiri, barulah aku merasa bangga. Aku akan merasa, bahwa aku mempunyai pengaruh yang kuat atas mereka. Kecuali apabila aku menipu mereka. Menipu rakyat. Seolah-olah aku membawa mereka dalam satu kerja yang besar untuk kepentingan bersama, tetapi sebenarnya kerja itu hanya untuk kepentinganku atau beberapa orang yang dekat dengan aku.
Untunglah bahwa yang kini terjadi tidak demikian. Tidak kedua-duanya. Tidak untuk aku sendiri karena kekuasaan atau pengaruhku atas mereka, juga bukan suatu penipuan atas rakyat itu. Mudah-mudahan aku dan para pamong padukuhan Panawijen serta Ki Buyut akan selalu mendapat tuntunan dari Yang Maha Agung, bahwa kerja ini adalah kerja kita untuk kita. Bendungan itu kami bangun untuk kepentingan kami. Bukan kami yang dikorbankan untuk bendungan itu.”
Mahendra melihat wajah Mahisa Agni tertunduk. Sekilas ia memandang wajah Sidatta yang tegang. Di dalam hati perwira itu berkata, “Anak muda yang keras hati. Tetapi hatinya adalah hati malam. Hatinya mudah sekali menjadi luluh karena haru, bukan karena cemas dan takut.”
Tetapi kini Mahendra lah yang menjadi cemas. Ia telah mengatakan sikap Ken Dedes yang belum pasti benar terjadi. Kalau kemudian kedatangan Mahisa Agni disambut dengan wajah yang merah tegang karena marah, kalau kedatangan Mahisa Agni kemudian disambut oleh sikap yang sama sekali berlawanan dengan apa yang dikatakan, maka Mahisa Agni pasti akan merasa ditipunya. Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia harus dapat mengajak Mahisa Agni ke Panawijen.
Kini sejenak mereka saling berdiam diri. Mahisa Agni sekali-sekali terdengar menarik nafas dalam-dalam. Mahendra masih saja menghadapi sisa-sisa makanannya dan sekali-sekali tangannya masih menyentuh sambal kacang. Tetapi debar di hatinya terasa menjadi semakin cepat. Dalam pada itu Sidatta merenungi perapian tidak jauh dari padanya. Apinya menjilat-jilat seperti sedang menari-nari. Dikejauhan dilihatnya beberapa anak muda terbaring diatas alas rerumputan kering. Dingin padang mulai merayap tubuhnya.
Mahisa Agni yang tertunduk itu masih juga tertunduk. Kalau benar kata Mahendra, maka anak itu akan mengalami siksaan batin meskipun ia akan menjadi seorang permaisuri. Dalam pada itu tiba-tiba diingatnya kata-kata ibunya. Kata-kata emban pemomong Ken Dedes yang sudah semakin tua. Sebenarnya hatinya sedang dibakar oleh sebuah perasaan yang mementingkan dirinya sendiri. Bukan sekedar perasaannya tersinggung karena keputusan Ken Dedes diluar persetujuannya. Tetapi jauh lebih dalam dari pada itu. Sekali lagi Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Seolah-olah udara padang rumput itu menjadi sedemikian tipisnya.
Mahendra memperhatikan perubahan-bahan yang terjadi pada Mahisa Agni dengan saksama. Tetapi ia masih belum mendapat kesimpulan apakah Mahisa Agni akan bersedia datang memenuhi undangan adiknya. Sejenak mereka masih berdiam diri. Sidatta berusaha untuk menahan diri, dan memberi kesempatan kepada Mahendra untuk membujuk Mahisa Agni.
Dalam pada itu Mahendra pun kemudian berkata, “Bagaimana Agni. Apakah kau besok pagi-pagi benar bersedia datang ke Panawijen?”
Mahendra menjadi kecewa ketika Mahisa Agni menggeleng, “Tidak Mahendra. Aku tidak sempat meninggalkan pekerjaan ini. Aku harus selalu berada diantara kawan-kawanku yang sedang membangun bendungan ini.”
Tanpa dikehendakinya sendiri Mahendra menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tidak tahu lagi, apa yang harus dikatakan untuk melunakkan hati Mahisa Agni.
Namun dalam pada itu terdengar Sidatta berkata, “Sebaiknya kau datang adi Mahisa Agni.”
Mahisa Agni memandangi wajah perwira itu. Wajahnya tenang dan dalam. Perwira itu adalah seorang perwira yang bermata cekung. Bibirnya banyak membayangkan senyum, tetapi wajah itu berkesan sebuah tekanan yang pernah membebani hidupnya. Tetapi Mahisa Agni tidak ingin menilai perwira itu, dan perwira itu pun tidak ingin berceritera tentang dirinya, tentang penderitaan hidup yang pernah dialaminya, sehingga meskipun ia masih muda, tetapi perasaannya telah cukup mengendap.
Bahkan Mahisa Agni menjadi bertanya-tanya di dalam hati. “Apakah perwira ini yang sebenarnya bertugas untuk menangkapnya?”
Mahendra pun menjadi berdebar-debar pula. Ia tidak mengharapkan bahwa karena kejengkelan, kekecewaan dan ketidak sabaran Sidatta, maka perwira itu akan dapat menimbulkan salah faham.
Tetapi Sidatta itu berkata sekali lagi, “Tuan Puteri sangat mengharap kedatanganmu.”
Dada Mahisa Agni berdesir. Sebutan untuk Ken Dedes itu benar-benar telah menggelitik telinganya. Tetapi ia tidak segera menjawab keragu-raguan dan kebimbangan yang sangat telah mengganggu perasaannya. Ada keinginannya untuk memenuhi permintaan Ken Dedes oleh dorongan berbagai perasaan. Ingatan tentang ibunya, tentang pergaulan masa kanak-kanaknya dan tentang berbagai macam kenangan masa silam. Tetapi apabila tiba-tiba ia terantuk pada dirinya sendiri, hatinya meronta,
“Persetan dengan anak itu.”
“Maaf kakang Sidatta,“ sahut Mahisa Agni, “aku tidak dapat datang.”
Sidatta mengangguk-anggukkan kepalanya. Mahendra memandanginya dengan cemas. Sudah tentu ia tidak dapat melarang Sidatta mengucapkan perasaannya. Dengan demikian ia akan menyinggung perasaan perwira.
Tetapi yang diucapkan oleh Sidatta kemudian adalah, “Sayang sekali,“ Kemudian kepada Mahendra Sidatta itu berkata, “Adi Mahendra, kalau adi Mahisa Agni tidak bersedia menemui adiknya, tuan puteri Ken Dedes, maka adalah salah kami semua para pengawal.”
Sekarang Mahendra lah yang tidak tahu maksud Sidatta mengucapkan kata-kata itu Mereka memang tidak mengadakan persetujuan apa yang harus mereka katakan, sehingga mereka telah membuat cara masing-masing untuk memancing kesediaan Mahisa Agni. Tetapi Mahendra menyadari, agaknya Sidatta pun sedang mencoba melunakkan hati Mahisa Agni.
Dengan ragu-ragu Mahendra menjawab, “Ya kakang, kamilah yang bersalah.”
Mahendra sama sekali tidak mengerti, kesalahan apa yang telah dilakukannya, namun ia merasa wajib untuk mengiakan, supaya cara Sidatta tidak terganggu. Tetapi Sidatta benar-benar menjadi kecewa. Ia ingin Mahendra bertanya, kenapa kesalahan itu diletakkan kepadanya dan kawan-kawannya supaya ia mendapat jalan untuk menjelaskan. Sebuah persoalan yang telah dikarangnya. Karena itu dengan menggigit bibirnya Sidatta menarik nafas dalam-dalam.
Melihat wajah Sidatta yang berkerut-kerut Mahendra menjadi heran. Kemudian timbullah kekhawatirannya, bahwa ia telah membuat tanggapan yang salah.
Tetapi tidak dengan sengaja, Mahisa Agni itu bertanya, “Kenapa kalian yang bersalah?”
Sekali lagi Sidatta menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Semula tuan puteri telah menyangka bahwa adi Mahisa Agni berada dipadang ini. Tuan puteri telah memerintahkan kepada kami untuk langsung datang kemari karena betapa rindunya tuan puteri kepada satu-satunya kadang yang masih ada. Tetapi kamilah yang menasehatkannya. Supaya tuan puteri datang lebih dahulu ke Panawijen. Mungkin adi masih berada di padepokan, dan kemungkinan yang lain adalah, tuan puteri akan tidak tahan panas matahari yang terik. Tetapi ketika kami sampai di padepokan adi, ternyata padepokan itu kosong. Yang ada hanyalah para cantrik dan endang.
Betapa kecewa hati tuan puteri. Yang dilakukan pertama-tama adalah menangis. Memanggil kami dan betapa tuan puteri marah kepada kami. Sebelum kami sempat duduk, aku dan adi Mahendra harus berangkat lagi menebus kesalahan kami. Tetapi kalau adi Mahisa Agni tidak bersedia datang, makan apabila kesalahan ini didengar oleh Akuwu Tunggul Ametung, maka kedudukan kami akan terancam. Lebih dari pada itu, tuan puteri akan menjadi sangat bersedih. Adalah pasti tuan puteri akan menjadi berangkat kemari betapapun alam menghalang-halanginya dengan terik matahari, haus dan mungkin gangguan-gangguan yang lain.”
Kata-kata itu serasa menusuk-nusuk ulu hati Mahisa Agni. Kalimat demi kalimat menghunjam ke dalam dadanya seperti pisau yang senyari demi senyari menembus semakin dalam. Tiba-tiba dalam kepedihan itu Mahisa Agni memotong dengan kasarnya,
“Cukup, cukup.”
Sidatta terdiam mendengar Mahisa Agni tiba-tiba membentak-bentak. Tetapi perwira itu tidak menunjukkan sikap apapun. Ia masih tetap duduk dengan tenangnya sambil memandangi nyala api yang sedang menjilat udara. Dalam pada itu, Mahendra lah yang menjadi semakin cemas. Tetapi ia menjadi agak tenang ketika ia melihat Sidatta tetap dalam sikapnya.
Sidatta yang meskipun umurnya tidak terlampau jauh terpaut dari umur Mahendra dan Mahisa Agni, namun karena pengalaman hidupnya yang luas, segera dapat merasakan, bahwa di dalam hati Mahisa Agni kini terjadi suatu pergolakan. Ia mengharap mudah-mudahan pergolakan di dalam dada Mahisa Agni itu akan mendorong Agni untuk dapat memenuhi maksud kedatangan mereka.
Kembali suasana menjadi kian sepi. Beberapa anak-anak muda Panawijen telah tertidur nyenyak. Namun beberapa yang lain mendengar lamat-lamat Mahisa Agni memotong kata-kata tamunya dengan keras. Terasa dada mereka berdesir. Tetapi mereka tidak melihat sikap-sikap yang menegangkan hati. Karena itu, maka kembali mereka menikmati masa-masa istirahat mereka.
Sidatta kini membiarkan Mahisa Agni berbicara dengan diri sendiri. Dilihatnya anak muda itu menundukkan kepalanya, namun sekali-sekali tangannya tampak memegangi keningnya yang menjadi berat dan pening.
Tiba-tiba kesepian suasana itu dipecahkan oleh kata-kata Agni. “Kau membingungkan aku kakang Sidatta.”
Sidatta berpura-pura terkejut. Dengan serta merta ia bertanya, “Kenapa?”
Kembali Mahisa Agni terdiam. Kembali wajahnya menunduk dan terdengar sekali-sekali ia berdesah. Namun kembali dengan tiba-tiba Mahisa Agni berkata sambil meremas tangannya,
“Tidak. Aku tidak akan pergi. Biar anak itu marah, mengumpat-umpat atau mengutukku sekali. Aku tidak ada sangkut paut lagi dengan Ken Dedes. Hidupku lebih penting bagi rakyat Panawijen dari pada untuknya. Seandainya ia akan datang kemari biarlah ia datang. Biarlah ia dibakar terik matahari, biar ia kalap ditelan hantu sekalipun.”
Sidatta menggelengkan kepalanya. Katanya, “Tidak adi. Tuan puteri tidak akan mengumpat-umpat, memaki atau mengutuk seandainya adi Mahisa Agni tidak mau datang ke Panawijen. Tetapi tuan puteri itu pasti hanya akan dapat menangis dan merasa dirinya tidak berharga di mata saudara tuanya. Ia tidak akan memerintahkan menangkap tuan, tetapi ia akan meratap dan merasa dirinya dikejar-kejar oleh dosa karena telah melukai hati kakaknya.”
“Oh,“ terdengar Mahisa Agni berdesah. Kini kedua tangannya memegang kepalanya erat-erat seperti ia takut kepala itu akan terlepas dari lehernya.
Kembali Sidatta membiarkan Mahisa Agni bertengkar dengan perasaan sendiri. Ia dihadapkan pada dua kemungkinan yang saling bertentangan. Dalam keraguan itu kembali terdengar suara ibunya terngiang di telinganya. Suara yang seakan-akan telah mendorong untuk pergi ke Tumapel beberapa hari yang lampau. Kini ia dihadapkan lagi pada keadaan yang serupa. Ragu-ragu.
Malam yang kelam menjadi semakin kelam. Di kejahuan terdengar burung malam melagukan lagu yang sayu. Tiba-tiba dalam keheningan itu Mahisa Agni berkata lemah,
“Baiklah aku besok akan pergi bersama kalian.”
Mahendra terkejut mendengar kesediaan yang terasa terlampau tiba-tiba itu, sehingga ia bergeser maju sambil mengulangi kata-kata Agni,
“Kau bersedia?” Mahisa Agni mengangguk.
Sidatta tersenyum. Katanya, “Tuan puteri akan sangat bergembira karena kesediaan adi Mahisa Agni.”
Mahisa Agni tidak menyahut, tetapi kembali wajahnya terhunjam ke tanah. Sedang Mahendra mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun ia merasa bersyukur karena kesediaan Mahisa Agni itu, tetapi ia menjadi iba pula. Bahkan ia kini menjadi cemas. Mereka berdua, Mahendra dan Sidatta ternyata telah mempergunakan kelemahan hati Mahisa Agni untuk memaksanya pergi ke Panawijen. Tetapi apabila kedatangan besok disambut oleh adiknya dengan sikap yang bertentangan dengan yang dikatakannya, maka dapat dibayangkan, betapa terpecah-belah hati anak muda itu.
Tetapi Mahendra tidak dapat berbuat lain, seperti juga Sidatta tidak mempunyai cara lain untuk memaksa Agni datang ke Panawijen, meskipun seperti Mahendra, Sidatta pun menjadi cemas.
Dalam pada itu terdengar Mahisa Agni berkata, “Kalian telah menyulitkan perasaanku. Tetapi biarlah aku sekali ini menuruti kehendak Ken Dedes. Mungkin pertemuan ini adalah pertemuan yang terakhir. Mungkin ia akan memberikan pesan atau mungkin ia akan memaki-maki aku. Mudah-mudahan perasaanku sendiri tidak menjadi tersiksa karenanya setelah aku melihat anak itu. Anak yang tidak tahu diri.”
Sidatta dan Mahendra tidak menyahut. Terbayang di dalam kepalanya, betapa hati Mahisa Agni telah benar-benar terluka. Luka karena tersinggung perasaan. Namun dugaan itu kurang tepat seperti apa yang sesungguhnya terjadi. Tak seorang pun selain ibu Mahisa Agni sendiri yang tahu, apakah yang sebenarnya bergolak di dalam dada Mahisa Agni.
Malam yang menjadi semakin malam telah menelan perkemahan itu. Hampir semua orang telah tertidur. Mahisa Agni pun kemudian mempersilahkan kedua tamunya beristirahat diatas sehelai tikar pandan. Ketika kemudian ia kembali ke tengah-tengah perkemahan itu dilihatnya Ki Buyut Panawijen pun telah tertidur. Tetapi ia melihat pamannya duduk memeluk lututnya, masih seperti ketika ditinggalkannya seolah-olah orang itu sama sekali tidak bergerak.
“Siapakah mereka Agni?” bertanya pamannya.
“Mereka adalah orang-orang Ken Dedes yang datang untuk memanggil aku ke Panawijen besok,“ sahut Mahisa Agni.
Pamannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia pernah mendengar persoalan antara Agni dan anak gurunya itu. Namun belum seluruhnya. Empu Gandring belum mengetahui sedalam-dalamnya persoalan yang seolah-olah selalu menghantui perasaan kemenakannya itu. Karena itu maka dengan hati-hati ia bertanya,
“Apakah kau besok akan pergi juga ke Panawijen.”
Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Jawabnya lirih, “Ya paman. Aku telah mengatakan kepada mereka bahwa aku akan datang memenuhi panggilan itu. Apakah paman tidak setuju?”
“Kenapa aku tidak setuju, Agni? Aku mengharap segala sesuatu menjadi baik. Kalau kau tidak bertemu dengan adikmu, maka kau tidak akan mendengar keterangan yang langsung diucapkan. Mungkin dengan demikian kalau telah salah paham, akan segera dapat diakhiri. Yang tidak dapat kau mengerti dapat langsung kau tanyakan kepadanya, yang tidak kau setujui kau langsung dapat menyampaikannya. Hanya persoalan menjadi baik dengan pembicaraan yang baik. Tetapi kalau salah faham itu kau simpan saja di hatimu, maka untuk seterusnya tidak akan ditemukan pengertian diantara kalian.”
Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Desisnya, “Mudah-mudahan paman. Sebenarnya aku sudah jemu mengurus soal Ken Dedes yang akan kawin dengan Tunggul Ametung. ketika mereka mulai dengan persoalan itu, mereka sama sekali tidak membawa aku dalam pembicaraan, tetapi kemudian persoalan itu selalu mengganggu aku kemana aku pergi.”
“Karena itu,“ sahut pamannya, “segera kau selesaikan soal itu. Apakah keberatannya? Untuk seterusnya kau tidak akan terganggu lagi.” Mahisa Agni terdiam. Namun debar jantungnya menjadi semakin cepat. “Beristirahatlah Agni,“ desis pamannya kemudian.
Mahisa Agni mengangguk sambil menjawab, “Ya paman.”
Perlahan-lahan anak muda itu bangkit dan berjalan ke sebuah gubug dengan atap anyaman daun kelapa. perlahan-lahan pula ia membaringkan dirinya pada sehelai tikar. Namun untuk seterusnya Mahisa Agni tidak segera dapat memejamkan matanya. Bahkan seolah-olah semua peristiwa yang pernah dialami, kembali membelit angan-angannya. Seruling, amben bambu teritisan. Kemudian tangis Ken Dedes, dan ibunya yang mencoba menghibur gadis itu, kemudian betapa dadanya serasa pecah, ketika ia mendengar Ken Dedes menyebut nama Wiraprana.
Mahisa Agni memejamkan matanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia mencoba mengusir kenangan yang pahit itu. Tetapi kenangan itu selalu datang mengganggunya. Betapa tubuhnya sehari-harian diperas oleh kerja membuat bendungan, namun Mahisa Agni sama sekali tidak dapat tidur sekejapun. Ia terkejut ketika tanpa disengaja, ia memandang langit di Timur telah dilapisi oleh warna semburat merah. Bahkan sejenak kemudian beberapa orang kawannya telah bangun dan satu dua diantaranya telah pergi ke sungai untuk mengambil air. Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ketika kemudian ia bangkit dan pergi ke tempat Sidatta dan Mahendra beristirahat, ternyata mereka pun telah bangun pula.
Pagi itu, Mahisa Agni terpaksa meninggalkan kawan-kawan mereka. Meskipun hatinya masih saja dikejar oleh keragu-raguan, namun ia tidak membatalkan niatnya untuk pergi ke Panawijen. Setelah minta diri kepada Ki Buyut dan pamannya Empu Gandring beserta kawannya, maka Mahisa Agni pun kemudian pergi ke Panawijen bersama dengan Sidatta dan Mahendra.
Di sepanjang jalan, Mahendra menceriterakannya serba sedikit apa yang dilihat dan dialaminya di perjalanan. Diceriterakannya pula, bahwa Empu Sada telah mencoba membantu muridnya merampas Ken Dedes. Untunglah bahwa gurunya, Panji Bojong Santi, dalam saat yang tepat telah menolong mereka.
“Seandainya guru tidak ada, maka Empu Sada pun tidak akan berhasil membawa tuan puteri,“ berkata Mahendra.
Mahisa Agni yang mendengarkan ceritera itu dengan getar di dadanya, menarik nafas dalam-dalam. Betapa bencinya kepada Kuda Sempana yang masih saja ingin mendapatkan gadis itu tanpa menghiraukan keadaan dan kenyataan. Tetapi Mahisa Agni tertarik pada ceritera terakhir Mahendra, sehingga ia bertanya,
“Kenapa Empu Sada tidak juga akan berhasil apabila Panji Bojong Santi tidak menolong kalian.”
“Ada orang lain yang telah siap menolong pula.”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya, “Siapa?” ia bertanya.
“Empu Purwa.”
“He,“ Mahisa Agni terkejut, tetapi kemudian katanya, “apakah kau sedang bergurau?”
Mahendra menggeleng, “Tidak. Aku tidak sedang bergurau. Empu Purwa benar-benar hadir menurut guruku.”
Mahisa Agni memandang wajah Mahendra dengan tajamnya. Namun kemudian kembali wajahnya merenungi padang yang luas terbentang dihadapannya. Kembali angan-angannya melambung pada masa-masa yang silam dan pada masa-masa yang tak pernah dialaminya. Terasa suatu dunia yang aneh melingkar-lingkar di dalam benaknya. Dunia kenyataan yang tak dapat diingkarinya, bercampur baur dengan dunia angan-angannya yang berbenturan dengan segala macam kekecewaan dan penyesalan. Tetapi Mahisa Agni tidak menumpahkannya kepada siapapun. Dunia itu tetap menjadi rahasia bagi dirinya sendiri.
Sementara itu di Panawijen, Ken Dedes menunggu Mahendra dan Sidatta dengan gelisah. Menurut perhitungan Witantra, lewat tengah hari secepat-cepatnya Mahendra baru akan datang. Dengan atau tidak dengan Mahisa Agni. Namun Ken Dedes yang hampir tidak sabar menunggu itu pun telah memerintahkan kepada Witantra untuk mengatur para prajuritnya, supaya Mahisa Agni melihat bahwa yang hadir di Panawijen kini adalah seorang bakal permaisuri. Seorang yang mempunyai kesempatan dan kemungkinan yang gemilang di hari depan.
Hampir semalam penuh Ken Dedes mereka-reka, bagaimana ia harus bersikap nanti apabila Mahisa Agni datang. Kadang-kadang kekecewaannya kepada kakak angkatnya itu sedemikian menyembul dari permukaan pertimbangannya, sehingga kadang-kadang timbullah keinginannya untuk memperlihatkan kebesarannya. Namun kadang-kadang timbul pula perasaannya yang lain. Perasaan seorang gadis yang memerlukan perlindungan dari saudara laki-lakinya.
Tetapi bagaimana pun juga, ia harus menunjukkan kepada Mahisa Agni, bahwa ia bukan seorang gadis kecil lagi. Bukan seorang gadis yang dapat merengek seperti pada saat-saat ia masih tinggal di padepokan ini. Bukan lagi Ken Dedes yang hanya pantas melayani Mahisa Agni makan di dapur, menuangkan sayur dan menyediakan gendi untuk minum. Bukan lagi anak-anak yang berlari-lari mencari Mahisa Agni, apabila dilihatnya sesuatu yang mencemaskan hatinya, berteriak-teriak hanya karena seekor kambing yang lepas dari ikatannya masuk dan mengunyah dedaunan dalam petamanannya.
“Tidak,“ katanya di dalam hati, “aku sudah dewasa. Kakang Mahisa Agni pun harus bersikap dewasa dalam persoalanku. Aku harus dapat menunjukkan kepadanya, bahwa dalam keadaan ini aku mempunyai pertimbangan yang benar. Bukan sekedar karena berputus asa. Kebesaranku akan melimpah kepada kakang Mahisa Agni dan seluruh padukuhan Panawijen.”
Ken Dedes itu pun kemudian hatinya menjadi tetap. Ia akan menyambut Mahisa Agni dalam sikap kedewasaan. Berbicara dengan sikap yang dewasa. Karena itu, ketika kemudian matahari mencapai puncak langit, maka Ken Dedes pun telah bersedia duduk di pendapa padepokannya. Ia telah memerintahkan kepada Witantra untuk menjaga regol halamannya dan beberapa petugas lain di sudut-sudut pendapa. Witantra sendiri duduk bersila di pendapa itu bersama-sama Kebo Ijo.
Namun betapa Kebo Ijo mengumpat-umpat di dalam hatinya. Katanya, “Gadis Panawijen ini terlalu banyak bertingkah. Apa pula perlunya tata cara resmi yang tidak dilakukan di istana ini. Bukankah ia belum seorang permaisuri? Hem, apalagi nanti, apabila Ken Dedes itu telah resmi menjadi seorang permaisuri. Kami setiap hari masih harus mencium telapak kakinya.”
Tetapi ketika ia melihat kakak seperguruannya duduk tepekur dengan khidmatnya, maka ia pun menundukkan kepalanya. Ken Dedes sendiri, duduk di tengah-tengah pendapa, di depan pintu masuk ke ruang dalam. Diatas sehelai tikar yang putih. Di belakangnya duduk beberapa endang yang berumur sebayanya. Para endang itu sendiri tidak tahu, kenapa ia harus duduk pula di belakang Ken Dedes. Tetapi ketika mereka melihat para prajurit yang dengan sikapnya yang garang berada di sekitar halaman dan di sekeliling pendapa, bahkan panji-panji dan umbul-umbul pun dipasang pula, mereka sama sekali tidak berani menanyakannya.
Terasa pula, bahwa Ken Dedes kini bukan lagi Ken Dedes yang dahulu. Apalagi setelah mereka mendengar bahwa Ken Dedes adalah seorang gadis yang bakal menjadi permaisuri Akuwu Tunggul Ametung. Meskipun mereka tidak dapat mengerti hubungan peristiwa yang telah terjadi atas Ken Dedes itu, namun mereka kini melihat suatu kenyataan, bahwa Ken Dedes mendapat kesempatan yang tidak pernah diimpikan. Kalau semula mereka meratap dan menangisi gadis yang dilarikan oleh Kuda Sempana, namun kini mereka melihat kebesaran gadis itu. Dan mereka pun menjadi ikut berbangga pula karenanya.
Ken Dedes yang duduk di tengah-tengah pendapa itu merasa, betapa ia sudah terlampau lama menunggu namun Mahendra masih belum juga datang. Dengan gelisahnya ia berkali-kali mengingsar tubuhnya. Sekali ke sisi kemudian kembali ke tempat semula. Pandangan matanya seolah-olah tersangkut di regol halaman. Dari sana nanti Mahendra akan datang bersama Mahendra dan Mahisa Agni.
“Bagaimana kalau kakang Mahisa Agni tidak mau datang?” desahnya di dalam hati.
Kekecewaan Ken Dedes menjadi semakin bertambah-tambah. Mahisa Agni benar-benar seorang yang tinggi hati. Seorang yang tidak mau melihat kepentingan orang lain. Seorang yang hanya dapat berpikir menurut kepentingan dan keinginan diri sendiri. Seorang yang diperbudak oleh ledakan-ledakan perasaan tanpa disertai dengan nalar dan pikiran. Semua peristiwa selalu ditanggapinya dengan hati yang gelap.
“Alangkah menjemukan,“ geramnya di dalam hatinya, “kakang Mahisa Agni benar-benar menjemukan. Sekali-sekali ia harus mendapat pelajaran bahwa sikapnya sama sekali bukan sikap yang baik. Bukan sikap yang dapat dibanggakan. Baiklah dirinya sendiri, maupun oleh keluarga di sekitarnya. Aku kira, ayah tidak pernah mengajarinya demikian.“ Kemudian perasaannya pun meledak-ledak pula. Katanya di dalam hatinya, “Ia harus datang. Ia harus datang. Ia harus bersedia pergi ke Tumapel, menemui Akuwu Tunggul Ametung. Biarlah seandainya ia tidak mau merestui perkawinanku. Tetapi ia harus belajar menghormati orang lain. Menghormati mereka yang seharusnya mendapat kehormatan yang sepantasnya. Apabila ia datang, ia harus melihat kebesaran Akuwu Tumapel. Maksud baik yang terkandung didalamnya dan kewajibannya sebagai seorang saudara tua terhadap adiknya.”
Dengan demikian sikap Ken Dedes pun menjadi semakin garang. Dipaksanya dirinya untuk dapat menunjukkan kebesaran yang diwakilinya dari istana Tumapel. Ia ingin membuat Mahisa Agni tunduk karena wibawa kebesaran Akuwu Tunggul Ametung. Baru kemudian, anak muda itu akan mudah menerima keterangannya setelah ia dicengkam oleh kewibawaan itu. Tetapi Mahisa Agni tidak juga segera datang.
Dalam pada itu, Mahendra, Sidatta dan Mahisa Agni masih berada di perjalanan. Perjalanan yang seolah-olah menyusur sepanjang tepi neraka. Betapa panasnya udara dan betapa panasnya terik matahari. Berkali-kali mereka terpaksa berhenti. Mengambil air ke sungai dan membiarkan kuda-kuda mereka minum dan sekedar beristirahat. Sejenak kemudian barulah mereka berjalan kembali.
“Alangkah beratnya pekerjaanmu Agni,“ gumam Mahendra, “membuat bendungan di bawah terik matahari yang seakan-akan membakar punggung.”
Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Pekerjaannya memang pekerjaan yang cukup berat. Apalagi bagi penduduk Panawijen yang selama ini seolah-olah dimanjakan oleh keadaan alam di sekelilingnya. Rakyat Panawijen merasa bahwa apa pun yang diletakkan di tanah, pasti akan tumbuh dan memberikan hasil bagi mereka. Makan mereka seolah-olah begitu saja meloncat dari dalam bumi tanpa banyak kesulitan. Air yang melimpah dan jenis tanah yang subur.
Tetapi kini mereka harus bekerja keras. Tidak ada pilihan lain dari pada bekerja keras. Kerja yang mula-mula terasa betapa beratnya. Namun kemudian meresap ke dalam setiap diri rakyat Panawijen, bahwa adalah menjadi kuwajiban mereka untuk mengerjakan pekerjaan itu apabila mereka tidak ingin menjadi kelaparan. Apabila mereka tidak ingin dikutuk oleh anak cucu mereka karena mereka telah menyia-nyiakan saat-saat hidup mereka yang berharga.
Karena itu apabila bendungan itu kemudian dapat berwujud, maka bendungan itu akan menjadi kebanggaan rakyat Panawijen pada masanya. Akan menjadi kenangan bagi anak cucu, bahwa pada masanya, rakyat Panawijen telah bekerja keras membuat peninggalan yang berharga bagi mereka.
“Adalah suatu kebanggaan bagimu Agni, bahwa kau mampu menggerakkan seluruh isi padukuhan Panawijen untuk melakukan pekerjaan yang pasti akan sangat bermanfaat itu,“ berkata Mahendra pula.
“Kerja itu didorong oleh suatu kesadaran, bahwa kami bersama-sama memerlukannya. Mahendra. Akan berbeda apabila pekerjaan itu hanya akan bermanfaat bagiku saja. Apabila aku dapat menggerakkan seluruh rakyat Panawijen untuk kepentinganku sendiri, barulah aku merasa bangga. Aku akan merasa, bahwa aku mempunyai pengaruh yang kuat atas mereka. Kecuali apabila aku menipu mereka. Menipu rakyat. Seolah-olah aku membawa mereka dalam satu kerja yang besar untuk kepentingan bersama, tetapi sebenarnya kerja itu hanya untuk kepentinganku atau beberapa orang yang dekat dengan aku.
Untunglah bahwa yang kini terjadi tidak demikian. Tidak kedua-duanya. Tidak untuk aku sendiri karena kekuasaan atau pengaruhku atas mereka, juga bukan suatu penipuan atas rakyat itu. Mudah-mudahan aku dan para pamong padukuhan Panawijen serta Ki Buyut akan selalu mendapat tuntunan dari Yang Maha Agung, bahwa kerja ini adalah kerja kita untuk kita. Bendungan itu kami bangun untuk kepentingan kami. Bukan kami yang dikorbankan untuk bendungan itu.”
OBJEK WISATA MANCA NEGARA



































Tidak ada komentar:
Posting Komentar