MENU

Ads

Jumat, 27 Februari 2026

Pelangi di Langit Singasari 087

Mahendra mengangguk-anggukkan kepalanya. Disampingnya Sidatta mendengar kata-kata Mahisa Agni itu dengan saksama. Sama sekali tak disangkanya, Bahwa di Panawijen, seorang anak padesan akan dapat berkata demikian. Alangkah bahagianya Panawijen memiliki sepasang kakak beradik Mahisa Agni dan Ken Dedes. Mahisa Agni adalah seorang anak muda yang bertekad keras, memandang setiap kesulitan sebagai tantangan yang harus diatasinya. Sedang adiknya, adalah seorang gadis yang cantik. Yang tanpa disangka-sangka, setelah mengalami kepahitan perasaan yang mencengkam jantungnya, maka ia telah dituntun memasuki bilik kanan istana Tumapel.

Demikianlah perjalanan itu menjadi semakin dekat dengan pedukuhan Panawijen. Matahari di langit kini telah melampaui puncak ketinggian. Panas yang dilontarkannya seolah-olah menghunjam di ubun-ubun. Namun semakin dekat perjalanan itu, hati Mahendra dan Sidatta menjadi semakin berdebar-debar. Apakah benar Ken Dedes akan bersikap demikian mengharukan. Bagaimanakah sakit hati Mahisa Agni, apabila sikap yang ditemui akan berbeda. Bagaimanakah kalau benar Ken Dedes itu akan menyambut dengan wajah yang merah karena marah, dengan kata-kata yang keras yang melontarkan kekecewaan hatinya. Tetapi kedua orang itu sama sekali tidak berbuat lain. Meskipun mereka tidak saling berjanji, tetapi apa yang bergolak di dalam hati mereka adalah serupa.

Agni sendiri kemudian menjadi risau pula. Tiba-tiba jantungnya segera menjadi semakin cepat berdetak. Sekali-sekali ia menarik nafas panjang untuk mencoba menenangkan gelora di dalam dadanya. Apabila dipandangnya wajah Mahendra, ia menjadi iri. Anak muda itu justru lebih dahulu dari padanya, dapat menguasai diri dan melihat kenyataan, meskipun Mahendra ini dahulu pernah menjadi hampir gila dan hampir saja membunuh Wiraprana. Pada saat itu, ia berdiri di pihak, bahkan menjadikan dirinya Wiraprana itu untuk melawan Mahendra. Tetapi di hati Mahendra itu kini seolah-olah sama sekali tidak berbekas lagi. Ia dapat melihat, mengantarkan, bahwa menerima perintah-perintah Ken Dedes dengan hati yang sama sekali tidak membayangkan apa yang pernah terjadi.

“Hem,“ Mahisa Agni menarik nafas, kemudian di dalam hatinya ia berkata, “aku berkumpul dengan gadis itu sejak kanak-kanak. Gambaran-gambaran tentang dirinya, jauh lebih dalam terpahat di dinding hatiku dari pada Mahendra.” Tetapi tiba-tiba Mahisa Agni itu mengumpat-umpat sendiri di dalam hati. Katanya, “Persetan. Aku tidak peduli lagi dengan gadis itu. Aku tidak mempunyai kepentingan sama sekali. Kalau aku kini datang kepadanya, adalah karena aku menjadi iba kepadanya. Ini adalah suatu sikap yang baik.“

Tetapi Mahisa Agni menjadi kecewa sendiri kepada angan-angannya. Seolah-olah ia adalah seorang yang sangat baik hati. Yang mementingkan kepentingan orang lain jauh lebih dahulu dari kepentingannya. Apalagi anggapan itu tumbuh di dalam angan-angannya sendiri. Untuk seterusnya, mereka bertiga seolah-olah telah kehilangan kesempatan untuk saling berbicara. Mereka masing-masing dicengkam oleh kegelisahan mereka sendiri-sendiri. Apalagi ketika kemudian tampak dikejauhan, padukuhan Panawijen yang masih cukup hijau, seperti segerombol gerumbul yang tumbuh diantara padang yang kering kerontang.

Yang terdengar kemudian adalah derap kuda-kuda mereka. Tanpa mereka kehendaki, maka kuda-kuda itu pun berjalan semakin cepat, seakan-akan terasa oleh binatang-binatang itu, bahwa perjalanan yang panas itu hampir berakhir. Ladang dan sawah-sawah telah mereka lalui. Hampir tak ada bedanya dengan padang rumput Karautan. Panas.

Namun sejenak lagi mereka telah sampai ke ujung lorong yang memasuki padukuhan Panawijen. Terasa angin yang sejuk tiba-tiba menampar wajah-wajah mereka, sehingga dengan serta merta mereka menarik nafas dalam-dalam. Lindungan dedaunan dan silirnya angin di padukuhan telah membuat kuda-kuda mereka bertambah tegar.

Tetapi hati merekalah yang kini tidak menjadi semakin sejuk. Bahkan terasa dada mereka bertambah panas oleh kegelisahan masing-masing. Sidatta dan Mahendra berdoa, mudah-mudahan Ken Dedes itu tidak terlampau mengecewakan kakaknya. Apabila demikian, maka hati Mahisa Agni yang keras itu pun akan menjadi semakin membatu.

Beberapa gadis-gadis muda dari Panawijen ketika melihat Mahisa Agni dan kedua orang kawan seperjalanan memasuki padukuhan, dengan serta merta berteriak hampir bersamaan,

“Agni, adikmu telah kembali.”

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Ia tersenyum sambil menyahut, “Ya. Aku kembali karena Ken Dedes.“ Namun jawabannya itu tidak melontar dari dasar hatinya yang tulus. Ia telah mencoba memulas perasaannya.

Mendengar jawaban itu gadis-gadis Panawijen itu pun menyahut, “Berbahagialah adikmu Agni. Aku dengar, kau akan beripar dengan Sang Akuwu Tunggul Ametung.”

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Ia mencoba tersenyum pula sambil menjawab, “Adalah karunia bagi keluarga kami.”

Gadis-gadis itu tidak lagi berteriak-teriak ketika Mahisa Agni dan kawan-kawannya menjadi semakin jauh. Yang tinggal adalah kepulan debu yang putih. Sidatta mencoba memandang wajah Mahisa Agni. Tetapi terasa olehnya, bahwa apa yang diucapkan bukanlah yang dirasakannya. Ia tersenyum, meskipun hatinya pedih. Tetapi untuk mencoba menghilangkan kejemuannya Sidatta berkata,

“Adi Mahendra, ternyata gadis-gadis Panawijen cantik-cantik. Apakah adi Mahendra tidak ingin meniru Akuwu Tunggul Ametung, mengambil satu dari mereka.”

Dada Mahendra berdesir. Tetapi segera ia menjawab, “Tentu kakang. Aku akan melamar salah seorang dari mereka. Biarlah Mahisa Agni memilih untukku. Bukan begitu Agni.”

Mahisa Agni mengangguk kaku. Ia tahu bahwa Mahendra tersentuh pula perasaannya. Namun sekali ia mengagumi kebenaran hati anak muda itu, sehingga sama sekali tak berkesan pada wajah dan sikapnya.

“Sayang, anak laki-lakiku masih terlampau kecil. Kalau aku kelak akan memilih menantu, maka aku akan selalu ingat pada gadis-gadis Panawijen,“ berkata Sidatta kemudian.

Mahendra tersenyum. Tetapi ia tidak menyahut, sehingga kembali mereka terlempar dalam kediaman. Kuda-kuda mereka kini telah menyelusur jalan Pedukuhan Panawijen. Derap kaki-kaki kuda mereka diatas tanah berbatu-batu terdengar seperti derap jantung mereka sendiri. Semakin ia mendengar semakin keras. Bahkan ketika mereka telah menjadi demikian dekatnya, derap kuda mereka telah tidak mereka dengar lagi. Mereka disibukkan oleh suara yang riuh di dalam hati masing-masing.

Ketika itu, maka para penjaga regol di halaman rumah Ken Dedes telah melihat kedatangan mereka bertiga. karena itu, maka salah seorang dari padanya segera masuk ke halaman dan melaporkannya kepada Witantra.



“Benarkah adi Sidatta?” bertanya Witantra.

“Menurut penilikan kami, sebenarnyalah demikian.”

“Berapa ekor kuda yang kau lihat?”

“Tiga.”

Witantra menganggukkan kepalanya. Kemudian kepada Ken Dedes ia berkata, “Tuan puteri, agaknya adi Mahisa Agni bersedia datang. Ternyata yang datang adalah tiga ekor kuda.”

Dada Ken Dedes berdesir. Bahkan kemudian menjadi berdebar-debar semakin lama semakin cepat. Dicobanya kemudian menenangkan hatinya dan bersikap seperti yang telah direncanakan. Kalau Mahisa Agni nanti datang, maka ia akan menyambutnya dengan sikap seorang yang cukup dewasa. Ia akan memandangi Mahisa Agni itu sesaat. Tidak perlu dengan tersenyum atau tertawa. Kemudian mempersilahkan Mahisa Agni itu duduk. Ditanyakannya bagaimana keadaannya selama ini, apakah ia selalu sehat-sehat saja.

Pertanyaan-pertanyaan itu harus pendek-pendek dan hanya beberapa masalah yang paling penting. Seterusnya ia harus bertanya kenapa bendungan itu pecah, bagaimana mereka sekarang membuat bendungan yang baru. Yang terakhir ia harus mengajak Mahisa Agni pergi ke Tumapel. Jangan ditanyakan kesediaannya, tetapi lebih condong pada suatu perintah yang harus ditaati. Perintah dari seorang Akuwu yang berkuasa di Tumapel dan sekitarnya.

Ketika Ken Dedes itu kemudian mendengar derap kuda-kuda itu, maka terasa jantungnya mengembang. Bukan oleh kebanggaan, tetapi oleh suatu perasaan yang aneh. Tiba-tiba darahnya mendidih dibakar oleh kegelisahan. Namun darah itu kemudian serasa membeku ketika ia melihat para penjaga regol menganggukkan kepalanya dalam-dalam. Tentu mereka memberikan hormat kepada perwiranya Sidatta.

Dan benarlah. Sesaat kemudian dilihatnya seekor kuda muncul dari regol itu, kemudian disusul yang lain, kuda Mahendra. Yang terakhir dengan penuh keragu-raguan adalah kuda Mahisa Agni. Mahisa Agni sendiri telah turun dari punggung kudanya. Dituntunnya kuda itu memasuki halaman. Halaman rumah yang didiaminya sejak kanak-kanak. Tetapi ketika ia melihat beberapa orang prajurit, umbul-umbul dan panji-panji, maka terasa bahwa ia telah terdampar ke suatu daerah yang asing.

Sejenak Mahisa Agni tegak seperti patung. Ketika matanya beredar di sekeliling halaman itu, maka hatinya berguncang. Rumah yang didiaminya sejak kanak-kanak, padepokan gurunya itu, seolah-olah kini telah diduduki oleh orang asing yang tak dikenalnya. Hampir saja perasaannya meledak melihat keadaan itu, seandainya matanya tidak segera terbentur pada seorang gadis yang duduk di tengah-tengah pendapa, dihadap oleh Witantra dan Kebo Ijo. Hati Mahisa Agni berdesir. Gadis itu adalah puteri Empu Purwa. Puteri satu-satunya dari pemilik padepokan ini, sehingga bagaimanapun juga, Mahisa Agni harus merasa, bahwa Ken Dedes lebih berhak atas padepokan ini dari pada dirinya.

Tetapi lebih daripada itu dadanya pun bergoncang pula. Dilihatnya Ken Dedes seolah-olah bintang yang bercahaya cemerlang di tengah-tengah langit yang gelap pekat. Seorang gadis dalam pakaian kebesaran diantara para endang yang sederhana, pendapa padepokan yang sederhana pula, di tengah-tengah halaman yang hampir menjadi kering.

Dalam goncangan-goncangan perasaan itu, Mahisa Agni berdiri tegak seperti patung. Kakinya serasa menjadi beku dan seluruh aliran darahnya seolah-olah berhenti. Ia tidak tahu apa yang harus dikerjakan. Ia sama sekali tidak menyangka, bahwa ia akan dihadapkan pada suatu kelompok orang-orang yang berada dalam sikap-sikap resmi. Ia tidak menyangka, bahwa di padepokan itu seolah-olah telah terjadi suatu sidang pasewakan.

Mahendra dan Sidatta melihat perubahan yang terjadi pada wajah Mahisa Agni. Wajah yang mula-mula menjadi tegang, namun kemudian wajah itu telah berubah menjadi beku. Namun mereka berdua pun selalu diliputi oleh kecemasan akan sikap Ken Dedes terhadap kakaknya. Apakah sikap itu akan menyayat hati Mahisa Agni, atau akan meluluhkannya? Kalau Ken Dedes bersikap keras maka Mahendra dan Sidatta yakin, bahwa Mahisa Agni tidak akan dapat ditundukkan. Tetapi kalau Ken Dedes bersikap seperti yang telah dibayangkan kepada Mahisa Agni, maka hati anak muda itu pun akan cair.

Dalam pada itu, Ken Dedes yang duduk di pendapa pun tidak kalah tegangnya ketika ia melihat Mahisa Agni berdiri mematung. Dengan sekuat tenaganya Ken Dedes mencoba mempertahankan perasaannya supaya ia dapat bersikap seperti yang dikehendakinya. Tetapi yang dilihat adalah Mahisa Agni yang telah berubah dari Mahisa Agni yang dulu Mahisa Agni itu, setelah tidak bertemu beberapa lama, menjadi demikian kurus, dan wajahnya menjadi merah kehitam-hitaman terbakar sinar matahari. Matanya menjadi cekung terlindung di bawah alisnya yang tebal.

Melihat kenyataan itu dada Ken Dedes seperti tertimpa reruntuhan Gunung Kawi. Alangkah mengharukan. Mahisa Agni yang kekar itu tiba-tiba menjadi sangat berubah. Apakah sebenarnya yang telah terjadi padanya? Mungkin Panawijen yang kering ini, mungkin kerja yang dilakukannya tanpa mengenal istirahat untuk membangun bendungan.

Dada Ken Dedes itu serasa menjadi terguncang-guncang. Sejenak ia masih mencoba untuk tetap dalam sikapnya, “Biarlah ia tahu,“ katanya di dalam hati, “bahwa ia harus melihat kenyataan. Kenyataan yang ada padaku dan kenyataan bagi dirinya sendiri. Bahwa ia tidak akan dapat mengingkari kawajibannya. Kewajiban untuk memenuhi panggilan Akuwu Tunggul Ametung sebagai penguasa tertinggi di Tumapel dan kuwajiban sebagai saudara tua.”

Tetapi dalam pada itu, tiba-tiba Ken Dedes itu merasa dirinya menjadi terlampau kecil ketika ia melihat sinar mata Mahisa Agni yang menyorotkan kebesaran pribadinya. Wibawa yang justru menyengsarakan dirinya. Bukan Mahisa Agni yang jatuh ke dalam pengaruh wibawa yang diangan-angankan. Sorot mata yang cekung itu adalah sorot mata Mahisa Agni yang dahulu juga, meskipun tubuhnya kini menjadi kurus, dan wajahnya telah menjadi hitam kemerah-merahan dibakar oleh terik matahari.

Ken Dedes itu seolah-olah melihat, betapa dirinya sendiri sedang berusaha untuk meluruskan jalan mendaki ke tingkat tertinggi bagi seorang gadis Tumapel. Permaisuri adalah kesempatan yang tidak akan ditemui oleh gadis yang lain. Tetapi apa yang dilakukannya itu adalah untuk dirinya sendiri. Tidak untuk orang lain. Sedang Mahisa Agni yang telah menjemur dirinya sendiri di padang Karautan adalah bekerja keras untuk kepentingan bersama. Kepentingan rakyat Panawijen yang mengalami kekeringan.

Terasa betapa rakyat Panawijen telah memeras keringat mereka untuk mengatasi kesulitan yang telah merasa melanda padukuhan itu. Seolah-olah terbayang betapa mereka bekerja, memecah batu, menggulung berunjung-berunjung dan kemudian bersama-sama seperti semut mengangkat berunjung-berunjung raksasa dan menjatuhkannya ke dalam air. Dalam pada itu terik matahari dengan panasnya menyengat punggung-punggung mereka yang telanjang. Sebagian yang lain telah bekerja membuat parit-parit induk, mencangkul tanah terbungkuk-bungkuk sambil bermandikan keringat.

Tiba-tiba Ken Dedes itu tersentak. Ia kini benar-benar telah dicengkam oleh suatu perasaan yang tidak dimengertinya. Ketika sekali lagi terpandang olehnya sorot mata Mahisa Agni, maka dadanya serasa telah meledak. Mahisa Agni yang kurus, yang wajahnya terbakar oleh sinar matahari namun yang sorot matanya masih setajam sorot mata yang dahulu, bahkan sorot mata itu kini menjadi semakin bercahaya, seperti cahaya yang memancar dari tekadnya yang bulat menghadapi kerja.

Ken Dedes kini telah kehilangan segala macam pertimbangan. Ken Dedes sendiri tidak tahu, kenapa tiba-tiba saja ia telah berdiri dan dengan serta-merta berlari turun ke halaman. Terdengar suaranya serak terloncat dari tenggorokannya,

“Kakang. Kakang Mahisa Agni.”

Mahisa Agni masih berdiri seperti patung. Tetapi kemudian kedua tangannya pun bergerak, ketika terasa gadis itu mendekapnya sambil menangis sejadi-jadinya.

“Kakang,“ suara Ken Dedes tenggelam dalam tangisnya.

Halaman padepokan itu kini benar-benar dicengkam oleh kesepian. Justru karena itu, maka suara tangis Ken Dedes pun terdengar semakin keras. Tangis yang seolah-olah sebuah ledakan yang dahsyat dari segenap pergolakan yang terjadi di dalam dadanya.

Mahisa Agni, yang berdiri tegak, seakan-akan terpukau oleh sebuah peristiwa yang tak dapat dimengertinya sendiri. Namun didengarnya suara tangis Ken Dedes, dan dirasakannya kehangatan air matanya menetes di tangannya. Tiba-tiba mulut Mahisa Agni itu pun bergerak, dan meluncurlah kata-katanya,

“Sudahlah Ken Dedes, jangan menangis.”

Kata-kata itu benar-benar telah memberi kesejukan pada hati Ken Dedes. Seperti kata-kata yang dahulu selalu didengarnya pada masa kanak-kanak. Kalau Ken Dedes menangis karena bermacam-macam sebab, mungkin karena kakinya terantuk batu, mungkin karena gadis itu terjatuh, mungkin karena ayahnya telah memberinya sekedar peringatan atas kenakalannya, maka selalu didengarnya apabila ia menangis kata-kata Mahisa Agni

“Sudahlah Ken Dedes, jangan menangis.“ Kini kata-kata itu didengarnya lagi.

Ken Dedes masih juga mendekap tubuh Mahisa Agni seolah-olah tidak akan dilepaskannya lagi. Bagi Ken Dedes, Mahisa Agni adalah satu-satunya keluarganya. Mahisa Agni kini bukan saja kakaknya, tetapi Mahisa Agni adalah ayahnya, bahkan Mahisa Agni adalah ibunya. Karena itu, maka kini Ken Dedes seakan-akan mendapat naungan dari terik panas yang membakar tubuhnya.

Sekali lagi Ken Dedes mendengar Mahisa Agni berkata, “Jangan menangis Ken Dedes.”

Tangis Ken Dedes itu pun kemudian mereda, perlahan-lahan tangannya terlepas, dan diusapnya air matanya. Tetapi semua rencana yang telah disusunnya telah lenyap dari kepalanya. Urut-urutan pertanyaan yang sudah dianyamnya dengan penuh pertimbangan hampir semalam suntuk, kini telah tidak diingatnya lagi. Ken Dedes sama sekali tidak mampu untuk menanyakan keselamatan Agni, kemudian keadaan padukuhan ini dan bendungan yang dibangunnya. Ken Dedes sudah tidak dapat lagi mengucapkannya, berurutan seperti yang dikehendakinya. Apalagi minta supaya Mahisa Agni pergi ke Tumapel bukan sebagai suatu permintaan, tetapi harus dinyatakannya sebagai suatu perintah.

Yang pertama-tama diucapkan oleh Ken Dedes adalah, “Kakang, kenapa kau menjadi kurus dan kulitmu menjadi merah kehitam-hitaman dibakar oleh terik matahari.”

“Aku tidak apa-apa Ken Dedes. Aku sehat.”

“Tetapi kau menjadi kurus.”

“Mungkin,“ sahut Mahisa Agni kemudian, “tetapi bukan karena suatu kesulitan. Tetapi karena kerja yang menyenangkan dipadang Karautan.”

Ken Dedes terdiam sesaat. Dipandanginya tubuh Mahisa Agni yang semakin lama tampak semakin hitam. Namun sorot matanya masih juga menyala seperti sorot mata Agni dahulu.

Para prajurit yang berdiri di sekitar halaman itu terpaku diam. Mereka menyaksikan pertemuan yang mengharukan dari dua orang kakak beradik. Perpisahan yang terjadi sebenarnya belum terlampau lama. Namun selama ini mereka telah dirisaukan oleh perasaan masing-masing, sehingga ketika mereka mendapat kesempatan untuk bertemu maka meledaklah segala yang tersimpan di dalam hati.

Sidatta dan Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Ternyata apa yang mereka katakan tentang gadis itu benar-benar terjadi. Karena itu maka Sidatta dan Mahendra mengharap, bahwa hati Mahisa Agni akan dapat dicairkan.

Sejenak kemudian Mahisa Agni telah mendapatkan kesadarannya sepenuhnya kembali. Disadarinya bahwa berpasang-pasang mata memandanginya. Karena itu maka katanya kepada Ken Dedes,

“Ken Dedes, kembalilah ke pendapa.”

Ken Dedes menganggukkan kepalanya. Tetapi para prajurit yang berdiri di sekitar pendapa, Witantra dan Kebo Ijo yang duduk di pendapa serta segala macam umbul-umbul dan panji-panji, kini telah tidak menarik lagi baginya. Ia telah kehilangan segala macam rencananya yang telah direka-rekanya tidak saja semalam suntuk, tetapi sejak ia masih berada di istana Tumapel.

Mahisa Agni pun kemudian membawa Ken Dedes naik ke pendapa. Dipersilahkannya Ken Dedes duduk di tempatnya semula, diantara para endang yang duduk dengan wajah yang aneh. Mereka menjadi bingung apa yang mesti mereka lakukan. Ketika mereka melihat Ken Dedes menangis maka apabila mereka berada dalam keadaan seperti biasa, seperti yang pernah dialaminya dahulu, maka mereka pasti sudah berlari-lari mendatangi. Menghibur dan menggandengnya masuk ke dalam biliknya. Tetapi mereka kini berada dalam keadaan yang tak mereka kenal, sehingga mereka tidak berani beranjak dari tempatnya.

Ketika Ken Dedes telah duduk kembali, maka setiap prajurit di halaman itu menarik nafas dalam-dalam. Witantra dan Kebo Ijo pun menganggukkan kepala mereka, seakan-akan mereka telah terlepas dari cengkaman keadaan yang menegangkan urat syaraf mereka.

Namun dalam pada itu, Ken Dedes menjadi seolah-olah membisu. Ditundukannya kepalanya dan sekali-sekali jari-jari tangannya mengusap air matanya yang masih menetes satu-satu. Sehingga kembali pendapa itu menjadi sunyi. Beberapa orang duduk dengan kaku, seperti tiang-tiang pendapa itu sendiri.

Witantra lah yang kemudian memecah kesunyian itu. Perlahan-lahan ia bertanya kepada Mahisa Agni, “Mahisa Agni. Bukankah kau selamat selama ini?”

Mahisa Agni berpaling. Seakan-akan ia baru bangun dari tidurnya. Tergagap ia menjawab, “Ya Witantra. Aku selamat.”

Witantra menarik nafas, katanya, “Syukurlah. Mudah-mudahan padukuhanmu tidak mengalami sesuatu.”

“Kita berharap demikian. Tetapi kau telah melihat sendiri apa yang terjadi.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Sebenarnya ia memang ingin tahu, apa yang telah terjadi di Panawijen dan dipadang Karautan. Meskipun sebagian dari pada apa yang terjadi di Panawijen dan dipadang Karautan telah diketahuinya, namun Witantra itu bertanya pula,

“Mahisa Agni. Aku hampir tidak dapat mengenal lagi daerah ini. Panawijen dengan cepatnya telah berubah.”

“Ya,“ sahut Agni dengan nada datar, “Panawijen telah berubah. Segalanya berubah.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian kembali ia bertanya, “Panawijen agaknya telah mengalami masa kering yang dahsyat, sehingga tumbuh-tumbuhan cepat kehilangan kesegarannya.”

Kembali Mahisa Agni menyahut dengan nada datar, “Ya. Panawijen telah menjadi kering sejak bendungan itu pecah.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ketika mulutnya bergerak untuk mengucapkan pertanyaan-pertanyaan berikutnya, tiba-tiba ia terkejut. Ken Dedes dengan serta-merta memotongnya,

“Cukup, cukup kakang Witantra.”

Sejenak Witantra terpaku, namun kemudian ditundukkannya kepalanya dalam-dalam sambil berkata, “Ampun tuan puteri, kalau pertanyaan-pertanyaan hamba tidak berkenan di hati.”

“Aku tidak mau mendengar, kakang,“ jawab Ken Dedes. Tetapi ia tidak dapat meneruskan kata-katanya. Terasa kerongkongannya seolah-olah tersumbat.

Kembali pendapa itu terdampar dalam suatu kesenyapan. Sekali-sekali para prajurit saling berpandangan. Namun kembali mereka menundukkan kepala-kepala mereka. Mereka dihadapan pada suatu keadaan yang sama sekali asing bagi mereka. Bagi para prajurit itu, ujung pedang dan tombak tidak akan menggelisahkan mereka seperti saat itu. Mereka dihadapkan pada suatu keadaan yang tidak dapat dimengerti.

Tetapi Witantra, Sidatta dan Mahendra mempunyai perasaan yang lebih tajam dari para prajurit itu. Mereka mengerti, bahwa Ken Dedes tiba-tiba dilanda oleh suatu ketakutan mendengar jawaban-jawaban Mahisa Agni. Mahisa Agni pada saatnya pasti akan mengatakan bahwa bendungan itu telah pecah. Dan Mahisa Agni pasti akan mengatakan, seperti berita yang telah mereka dengar, dan yang Ken Dedes telah pula mendengarnya, bahwa ayah Ken Dedes, Empu Purwa lah yang memecahkan bendungan itu, sebagai suatu kutukan atas padukuhan Panawijen. Panawijen akan menjadi kering, karena penduduknya tidak melindungi anak gadisnya yang dilarikan orang.

Kebo Ijo pun dapat merasakan ketakutan itu pula. Tetapi tanggapannya agak berbeda dengan kedua saudara seperguruannya. Bahkan seluruh isi pendapa itu terkejut ketika tiba-tiba terdengar Kebo Ijo itu tertawa tertahan-tahan, sehingga suaranya mirip dengan ringkik kuda.

“Kebo Ijo,“ bentak Witantra sambil memandangi wajah anak muda itu dengan tajamnya, “kenapa kau tertawa?”

Dengan susah payah Kebo Ijo menahan tawanya. Jawabnya, “Menurut kata orang-orang tua, kakang. Kalau pembicaraan tiba-tiba terhenti, maka pada saat itu di sekitar tempat pembicaraan itu ada setan yang sedang lewat.”

Witantra menggeram. Hampir saja tangannya bergerak menampar kening Kebo Ijo seandainya tidak segera disadarinya, bahwa dihadapannya duduk seorang gadis yang pasti akan menjadi ngeri melihat perbuatannya. Tetapi karena itu, maka terdengar Witantra itu membentak betapapun ia mencoba menahan-nahan,

“Kebo Ijo. Pergi ke halaman belakang. Kawani perwira dan prajurit yang berjaga-jaga di sana.”

Kebo Ijo pun kemudian menundukkan wajahnya. Ia menjadi takut juga kepada kakak seperguruannya. perlahan-lahan ia beringsut mundur. Akhirnya ia pun turun dari pendapa dan berjalan ke halaman belakang. Tetapi Mahisa Agni yang memandangi wajah anak muda itu masih melihat bibir Kebo Ijo tertarik ke sisi. Betapa hati Mahisa Agni menjadi panas melihatnya. Namun ia tidak berbuat sesuatu. Bahkan kembali Mahisa Agni mengagumi, betapa Witantra selalu berbuat dengan tepat, meskipun terhadap adik seperguruannya sendiri.

Ken Dedes pun menjadi tidak senang melihat tingkah laku Kebo Ijo. Namun gadis itu pun tidak mengatakan sesuatu. Bahkan kemudian kembali dadanya dilanda oleh perasaan takut dan cemas. Ia memang tidak mau mendengar lagi ceritera tentang pecahnya bendungan Panawijen. Ceritera itu merupakan sebuah ceritera yang akan dapat selalu menghantuinya. Bagaimana ayahnya menderita, sehingga kehilangan keseimbangan berpikir karena kehilangan dirinya. Namun tiba-tiba ia telah menyerahkan diri kepada orang yang melindungi melarikannya pada saat itu.

“Apakah aku telah mengkhianati ayahku pula?” tiba-tiba terdengar sebuah pertanyaan mengguntur di dalam dadanya. “Dan apakah karena hal-hal yang demikian ini pula, maka Kakang Mahisa Agni telah melepaskan aku?”

Tiba-tiba dada Ken Dedes menjadi sesak. Ia menjadi semakin ketakutan apabila tiba-tiba saja Mahisa Agni dengan kehendak sendiri, bahkan mungkin dengan sengaja akan menceriterakan segala macam peristiwa yang pernah dialami dihadapan para perwira dan prajurit Tumapel.

Karena itu, karena kegelisahan, kecemasan dan perasaan yang lain yang mendesaknya, maka Ken Dedes merasa seolah-olah dikejar-kejar oleh bayangan tentang masa-masa lampau itu, sehingga dengan serta-merta ia berkata lantang,

“Kakang Mahisa Agni. Kedatanganku ke Panawijen didorong oleh keinginanku bertemu dengan kakang Mahisa Agni. Karena itu, biarlah aku berbicara dengan kakang tanpa orang-orang lain yang mendengarkannya.”

Mahisa Agni menggigit bibirnya. Ia sendiri tidak tahu, apa yang sebaiknya dilakukan dalam keadaan serupa itu. Tetapi dengan tiba-tiba ia menjadi sangat iba kepada gadis itu. Sama sekali bukan karena pengaruh kewibawaannya, tetapi karena air mata yang telah membasahi wajah Ken Dedes. Dengan demikian maka tidak ada pilihan lain baginya dari pada memenuhi permintaan itu, seperti pada masa kanak-kanak mereka. Mahisa Agni tidak pernah menolak permintaan Ken Dedes apabila ia mampu melakukannya.

Ken Dedes tidak menunggu jawaban Mahisa Agni. Segera ia bangkit sambil berkata, “Marilah kakang.”

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Tetapi sebelum ia menjawab, Ken Dedes sudah mendahuluinya berjalan memasuki ruang dalam rumahnya. Mahisa Agni pun kemudian bangkit pula. Kepada Witantra, Mahendra dan Sidatta ia berkata,

“Baiklah aku mengikutinya. Mungkin ada persoalan-persoalan penting yang akan dikatakannya.”

“Silahkan,“ jawab mereka hampir serentak.

Mahisa Agni pun kemudian berjalan dengan langkah yang berat mengikuti Ken Dedes menghilang di balik pintu, masuk ke ruang dalam rumah gurunya. Rumah yang sudah didiaminya sejak masa kanak-kanaknya.

Sepeninggal Ken Dedes para emban pun menjadi gelisah. Mereka belum pernah melakukan upacara seperti itu. Karena itu mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan. Mereka sama sekali tidak berani beranjak dari tempatnya. Meskipun mereka menjadi penat dan jemu, namun mereka masih saja duduk di tempatnya. Apalagi mereka ketahui bahwa Witantra, Sidatta, Mahendra dan para prajurit yang lain pun sama sekali tidak berajak dari tempat mereka.




OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar