MENU

Ads

Jumat, 27 Februari 2026

Pelangi di Langit Singasari 088

Ketika Mahisa Agni menutup pintu dinding yang memisahkan ruang dalam dan pendapa rumah itu, dadanya kembali bergelora. Ia tidak segera melihat Ken Dedes di ruang itu. Karena itu maka Mahisa Agni pun melangkah lagi, semakin dalam. Telah beratus, bahkan beribu kali ia menginjak lantai yang kini diinjaknya, telah beratus bahkan beribu kali ia lewat ruangan itu, dan berapa ribu kali pula ia melangkahi tlundak dinding penyekat ruang dalam, namun terasa kini semuanya itu asing baginya. Ia tidak segera menemukan Ken Dedes di dalam ruangan-ruangan itu. Kini Mahisa Agni berjalan lagi ke ruang belakang. Ruang itu pun kosong sama sekali.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ketika terpandang olehnya selintru yang menutup bilik Ken Dedes, Mahisa Agni menjadi ragu-ragu. Apakah gadis itu berada di dalam biliknya. Bilik yang telah lama ditinggalkannya. Namun Ken Dedes harus menemuinya. Mungkin gadis itu ingin mengatakan sesuatu yang penting kepadanya. Perlahan-lahan Mahisa Agni melangkah ke pintu bilik itu, perlahan-lahan tangannya berpegangan pada uger-uger pintu. Namun kembali ia menjadi ragu-ragu. Perasaan yang dahulu tidak pernah dimilikinya apabila ia ingin memasuki ruangan itu, meskipun seandainya Ken Dedes baru tidur sekalipun.

Tetapi sesuatu mendesak dadanya. Ia harus menemui gadis itu. Dengan penuh kebimbangan Mahisa Agni beringsut maju. perlahan-lahan ia menjengukkan kepalanya lewat pintu bilik yang menganga lebar. Tetapi kembali ia menarik nafas dalam-dalam. Bilik itu pun ternyata kosong.

“Dimanakah gadis itu?” desisnya.

Mahisa Agni pun melangkahkan kakinya kembali. Sekarang ia menuju ke serambi belakang. Ruang satu-satunya yang tinggal dari rumah induk itu selain tiga sentongan yang hampir tak pernah dipergunakan. Kalau di serambi itu Ken Dedes tidak ada, maka ia pasti berada di dapur atau di bilik di belakang serambi itu. Bilik itu adalah biliknya. Sekali lagi Mahisa Agni melompati tlundak pintu samping. Lewat serambi gandok Mahisa Agni berjalan kebelakang. Tiba-tiba langkahnya tertegun ketika ia melihat bahwa Ken Dedes memang berada di serambi itu. Serambi yang terbuka ke arah belakang.

“Kakang,“ desisnya ketika ia melihat Mahisa Agni.

Mahisa Agni tidak menyahut, tetapi ia berjalan mendekati gadis itu. Ketika ia duduk di tikar di depan Ken Dedes, hatinya berdesir. Di balik dinding inilah, terletak bale-bale bambu. Kalau bulan terang, maka kadang-kadang ia berbaring-baring di tempat itu sambil meniup serulingnya dahulu. Tetapi sekarang seruling itu hampir tak pernah disentuhnya.

“Kakang,“ ulang Ken Dedes ketika Mahisa Agni telah duduk, “banyak sekali yang sebenarnya ingin aku katakan, tetapi tiba-tiba semuanya itu lenyap dari kepalaku. Meskipun demikian kakang, aku mengharap kakang sudah dapat mengetahui maksud kedatanganku. Sebab sebelum aku telah datang pula bibi emban pemomongku yang bahkan telah datang bersamamu ke Tumapel. Tetapi kau tidak sempat menemui siapa pun sampai kau kembali ke Panawijen.”

Terasa kata-kata itu meluncur seperti tanpa dapat dikendalikan. Simpang siur, karena Ken Dedes telah kehilangan ketenangannya, apalagi rencana yang telah disusunnya semalam suntuk.

Mahisa Agni tidak segera menjawab. Ditunggunya Ken Dedes berkata terus, “Kakang, apakah kakang dapat memenuhi permintaan itu?”

Pertanyaan yang terlalu langsung itu sama sekali tidak disangkanya. Mahisa Agni menduga bahwa Ken Dedes akan mengucapkan berbagai alasan-alasan, baru kemudian minta kepadanya untuk pergi ke Tumapel, sehingga dugaan itu sama sekali bertentangan dengan rencana Ken Dedes sendiri. Untunglah bahwa Ken Dedes menjadi gelisah dan kehilangan ketenangannya, sehingga semua rencana itu tidak dapat dilakukan. Sebab dengan demikian, maka akibatnya pasti akan berlawanan dari yang dikehendakinya. Mahisa Agni sama sekali tidak akan dapat disilaukan oleh sikap dan keadaan Ken Dedes karena goresan-goresan yang telah membekas terlampau dalam pada dinding hatinya.

Tetapi kini Ken Dedes itu berkata terbata-bata tanpa dapat menyusun urutan yang teratur sehingga justru karena itu Mahisa Agni tidak menjadi semakin tersinggung karenanya. Meskipun demikian, permintaan itu sendiri bukanlah permintaan yang menyenangkan bagi Mahisa Agni. Permintaan itu adalah permintaan yang menjemukan.

Sesaat kemudian mereka saling berdiam diri. Serambi itu seakan-akan dicengkam oleh suasana yang terlampau sepi. Betapa degup jantung Ken Dedes menunggu Mahisa Agni mengucapkan jawaban atas permintaannya itu. Tetapi Mahisa Agni tidak segera menjawab. Bahkan kemudian anak muda itu seolah-olah membeku. Sorot matanya jauh hinggap pada dedaunan diluar yang bergerak-gerak disentuh angin. Tetapi dedaunan itu sudah tidak sesegar dahulu. Dan daun-daun yang kekuning-kuningan itu telah mengingatkan Mahisa Agni kepada gurunya, kepada bendungan yang pecah dan kepada kerja yang sedang dilakukan. Ia berpaling ketika ia mendengar Ken Dedes bertanya mendesak,

“Bagaimana kakang?” Tetapi Ken Dedes telah menjadi semakin kehilangan ketenangannya. Sekali lagi ia mendesak, “Bagaimana kakang, bukankah kau akan pergi ke Tumapel?”

Mahisa Agni merasakan kegelisahan yang melonjak-lonjak di dada Ken Dedes. Tetapi ia merasakan gejolak di dalam dadanya sendiri pula. Dalam benturan-benturan perasaan yang terjadi di dalam dirinya. Mahisa Agni menarik nafas berulang kali. Ia mencoba menenangkan hatinya dan mencoba mendapatkan kesimpulan yang sebaik-baiknya. Akhirnya Mahisa Agni itu berkata,

“Ken Dedes. Apakah sebenarnya keperluanku pergi ke Tumapel? Bukankah kita telah bertemu disini? Tak ada persoalan lagi dengan saat-saat kawinmu nanti. Kalau aku dapat kau anggap sebagai ganti ayahmu, maka aku telah merestuimu,“

Mahisa Agni berhenti sesaat. Terasa nafasnya menjadi semakin cepat mengalir seperti katanya yang mengalir semakin cepat pula, seakan-akan sengaja dikatakannya terlampau cepat agar dirinya sendiri tidak mendengarnya. Lalu dilanjutkannya,

“Yang penting bagimu, bahwa kau telah mendapat restu itu. Dengan demikian kau tidak meninggalkan adat yang lajim berlaku.”

“Tidak, tidak, kakang,“ potong Ken Dedes, “itu tidak cukup. Adat kita mengatakan, bahwa perkawinan ditentukan oleh orang-orang tua. Apalagi bagi gadis-gadis. Karena itu, biarlah kakang menghadap Akuwu Tunggul Ametung untuk menunjukkan bahwa tak ada persoalan apa-apa di dalam keluargaku. Satu-satunya orang yang ada sekarang adalah kau kakang. Kepadamu aku menangis. Tidak kepada orang lain.”

Mahisa Agni kini menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia tidak tahu perasaan apakah sebenarnya yang bergetar di dalam dirinya. Tetapi terasa keringat dinginnya mengalir di seluruh wajah kulitnya.



“Kau harus pergi kakang. Kau harus pergi.”

Ternyata Ken Dedes tidak dapat bersikap lain daripada sikapnya itu. Sikap seperti sikapnya pada masa kanak-kanak apabila ia menginginkan sesuatu dan Mahisa Agni mencoba mencegahnya. Namun apabila demikian, maka biasanya Mahisa Agni tidak akan dapat menolak lagi, meskipun seandainya ia harus memanjat sebatang pohon jambe yang tinggi sekali hanya sekedar mengambil sebutir buahnya yang berwarna jambu. Tetapi yang dihadapinya kini bukan sekedar sebutir buah jambe yang berwarna jambu. Bukan sekedar seuntai bunga manggar yang sedang mekar diatas pelepah kelapa. Yang kini harus dipetiknya untuk gadis itu adalah jantungnya sendiri.

Tetapi kembali hati Mahisa Agni luluh apabila ia melihat Ken Dedes menangis. Ia ingin memenuhi permintaan itu, tetapi ia tidak mempunyai keberanian untuk melakukannya. Sehingga dengan demikian, hati Mahisa Agni itu pun terasa seperti diremas-remas oleh suara tangis Ken Dedes.

“Ken Dedes,“ berkata Mahisa Agni kemudian, “bukankah sudah aku katakan. Kalau kau menganggap aku wakil dari bapa guru, Empu Purwa, maka aku sudah merestuimu. Apakah keuntungannya kalau aku datang ke Tumapel. Bukankah restuku akan sama saja nilainya? Kalau persoalannya adalah persoalan adat yang harus ditempuh, kenapa Akuwu Tunggul Ametung tidak memerintahkan dua atau tiga orang tua-tua untuk datang melamarmu kemari?”

Ken Dedes tersentak mendengar jawab itu, sehingga tangisnya terhenti. Dalam kata-kata itu benar-benar terasa olehnya, menurut tangkapannya, bahwa Mahisa Agni merasa dirinya terlampaui. Harga diri kakaknya itu agaknya telah melampaui segala macam pertimbangan tentang kedudukan Akuwu Tunggul Ametung, tentang kekuasaan yang ada di tangannya.

“Kakang,“ berkata Ken Dedes masih dalam isak tangisnya yang terputus, “apakah kau menyadari kata-katamu itu?”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Sambil mengangguk ia menjawab, “Ya. Aku menyadari kata-kataku.”

“Apakah kakang menyadari kedudukan dan kekuasaan Akuwu Tunggul Ametung?”

“Ya, aku menyadari,“ sahut Agni pula.

“Kenapa kakang masih menganggap bahwa Akuwu Tunggul Ametung lah yang harus datang melamar kemari? Ke padepokan terpencil yang justru berada di dalam wilayah kekuasaan Akuwu Tunggul Ametung?”

Kini dada Mahisa Agni lah yang berdesir. Ternyata maksudnya untuk membuat alasan supaya ia tidak harus datang ke Tumapel telah menimbulkan salah paham. Namun ia masih mencoba untuk memperbaikinya,

“Bukan maksudku demikian Ken Dedes. Aku hanya memperbandingkan adat yang kau sebut-sebut. Kalau disadari atas kekuasaan, kedudukan dan wewenang Akuwu Tunggul Ametung, maka aku kira aku sudah tidak diperlukan lagi. Semua keputusan dapat diambil oleh Akuwu Tunggul Ametung tanpa pertimbangan orang lain. Tanpa pertimbanganku dan bahkan seandainya kau menolak sekalipun, Akuwu akan dapat berbuat di dalam lindungan kekuasaannya. Tetapi maksudku ingin mengatakan, bahwa aku tidak sempat pergi ke Tumapel karena pekerjaanku yang terlampau banyak di padukuhan ini.”

Tetapi Mahisa Agni menjadi kecewa karena Ken Dedes justru menangkap kata-katanya semakin jauh dari maksudnya. Ken Dedes yang sejak dari Tumapel sudah dibekali dengan kekecewaan atas sikap Mahisa Agni, kini seakan-akan dengan tiba-tiba mendapatkan saluran untuk meledak. Sesaat Ken Dedes menatap wajah Mahisa Agni dengan tajam, dan sesaat kemudian terdengar ia berkata,

“Pekerjaan apakah yang telah mengikat kakang disini?”

“Bendungan itu Ken Dedes?”

“Apakah kakang tidak dapat meninggalkannya sepekan atau dua pekan?”

“Aku bertanggung jawab atas pembuatan bendungan itu di samping Ki Buyut Panawijen sendiri.”

“Jadi kau memberatkan bendungan itu?”

Mahisa Agni terdiam sejenak, seolah-olah memberi kesempatan kepada Ken Dedes untuk menumpahkan segala macam kekecewaan hatinya. Mengalir seperti saat bendungan Panawijen yang pecah karena tangan Empu Purwa,

“Kakang, jadi apakah kakang lebih menaruh perhatian atas bendungan itu dari pada perintah Akuwu Tunggul Ametung? Juga lebih mementingkan bendungan itu dari pada memenuhi panggilannya? Kakang, bendungan adalah barang mati yang tidak akan dapat menuntut apa pun kepadamu, apalagi seandainya pekerjaan itu hanya tertunda seminggu atau dua minggu. Tetapi Akuwu Tunggul Ametung adalah seorang Akuwu. Seorang yang memiliki berbagai macam perasaan. Ia dapat menjadi kecewa, marah dan bahkan dapat menentukan sikap apa pun yang dikehendakinya di seluruh daerah Tumapel. Karena itu, kakang, perhitungkanlah sebaik-baiknya. Bendungan itu, atau Akuwu Tunggul Ametung atas permintaanku.”

Mahisa Agni benar-benar tersinggung mendengar kata-kata Ken Dedes yang seperti banjir melanda dinding jantungnya. Tetapi ia masih berusaha untuk berkata setenang-tenangnya,

“Ken Dedes, ternyata kau salah mengerti tentang bendungan itu. Memang bendungan adalah benda mati, yang terdiri tidak lebih dari batu-batu, kayu dan tali-tali ijuk serta berunjung-berunjung bambu. Tetapi di balik benda-benda yang mati itu bernaung kehidupan yang besar. Kehidupan yang meliputi seluruh segi kehidupan di Panawijen. Ken Dedes, benda-benda mati itu adalah perlambang dari hidup matinya penduduk Padukuhan kita ini. Karena bersumber pada benda-benda mati itu kita akan membuat suatu kehidupan baru. Padukuhan baru. Sepekan bagi kami adalah sangat penting artinya. Kalau kami terlambat sepekan, maka keadaan kami akan menjadi terlampau parah. Juga bukan maksudku mengabaikan Akuwu Tunggul Ametung. Tetapi aku mengharap Akuwu Tunggul Ametung dapat mengerti keadaanku.”

“Kakang,“ potong Ken Dedes, “Akuwu Tunggul Ametung adalah orang yang paling berkuasa di Tumapel. Kenapa Akuwu yang harus menunggumu? Tidak kakang, kau harus mendengarkan perintah ini. Akuwu Tunggul Ametung akan dapat berbuat hal-hal diluar dugaanmu. Meskipun bendungan itu telah jadi, tetapi Akuwu akan dapat memerintahkan untuk memecahnya kembali apabila ia menjadi marah.”

“Jangankan memecah bendungan itu Ken Dedes,“ sahut Mahisa Agni yang menjadi semakin kecewa pula kepada adik angkatnya itu, “Akuwu Tumapel dapat memerintahkan membunuh kita sekalian sekaligus tanpa menunggu kita semua disini mati kelaparan. Adalah lebih baik lagi kami Ken Dedes, sebab kami tidak perlu menderita terlampau lama.”

“Kakang,“ wajah Ken Dedes menjadi merah. Kini ia tidak saja dibakar oleh kekecewaan hatinya yang memuncak, tetapi Ken Dedes itu telah dijalari oleh perasaan marah, “Kau jangan berkata demikian kakang. Kau menghina Akuwu Tunggul Ametung. Tetapi ketahuilah, bahwa Akuwu Tunggul Ametung pasti akan tahu, bahwa bendungan itu hanyalah sekedar alasanmu yang tak berarti. Apa kau sangka bahwa kau adalah seorang pahlawan besar di Panawijen yang tak ada duanya? Mungkin kau seorang yang paling pandai berkelahi di Panawijen kakang, tetapi bukan seorang yang paling mengetahui tentang bendungan. Apa kau sangka bahwa tanpa kau bendungan itu tidak akan jadi? Apakah kau sangka bahwa Ki Buyut Panawijen dan orang-orang tua disini adalah sedemikian bodohnya, sehingga hanya Mahisa Agni lah yang mampu membuat bendungan itu?”

“Ken Dedes,“ potong Mahisa Agni.

Tetapi Ken Dedes berkata terus, “Jangan ingkar. Semua itu telah diketahui.”

“Tetapi aku bertanggung jawab atas pekerjaan itu. Aku harus mengawasi dan memberikan beberapa petunjuk. Mungkin aku bukan seorang yang paling cakap untuk pekerjaan ini, dan aku memang tidak ingin menjadi seorang pahlawan bagi penduduk Panawijen, Ken Dedes. Tetapi aku tidak dapat melepaskan kepercayaan yang diberikan kepadaku. Itu bukan maksudku sendiri. Bukan kehendakku. Aku tidak pernah berteriak-teriak di perapatan dan mengatakan bahwa akulah satu-satunya orang yang pantas memimpin mereka membuat bendung itu. Tidak. Tetapi mereka percaya kepadaku. Mereka mengharap aku bertanggung jawab. Apakah aku dapat melepaskan kepercayaan ini?”

“Itu pun hanya perasaanmu sendiri kakang,“ sahut Ken Dedes, “kalau seseorang telah melakukan pekerjaan, betapapun orang lain tidak menyukainya, maka adalah segan bagi mereka untuk mengatakan langsung kepada yang berkepentingan. Itu adalah watak dari tetangga-tetangga kita disini. Kalau kau telah menjajakan tenagamu, maka tak seorang pun yang akan sampai hati mengatakan bahwa sebenarnya kau tidak diperlukan.”

“Ken Dedes,“ Mahisa Agni pun kemudian kehilangan kesabarannya. Kata-kata Ken Dedes ternyata terlampau tajam baginya, yang seolah-olah langsung menghunjam ke pusat jantungnya. Bahkan kemudian dadanya menjadi gemetar. Dan dengan suara yang gemetar pula ia berkata,

“Memang Ken Dedes. Aku telah menjajakan tenagaku. Diterima atau tidak diterima oleh penduduk Panawijen. Aku ingin menebus kesalahan yang telah terjadi, benar atau tidak benar langkah ini. Tetapi hatiku telah didesak oleh suatu keinginan untuk menebus kesalahan yang dilakukan oleh keluarga padepokan ini. Ketahuilah, bahwa yang memecah bendungan itu adalah ayahmu. Guruku. Mungkin ini telah kau dengar. Nah, apa kata rakyat Panawijen tentang Empu Purwa. Tentang penghuni padepokan yang selama ini berlindung di dalam wilayah padukuhan Panawijen? Itulah alasannya kenapa aku menjajakan tenagaku, diterima atau tidak diterima, karena kesetiaanku kepada guru dan keinginanku membersihkan sekurang-kurangnya memperkecil kesalahan guruku itu.”

Jawaban Mahisa Agni itu terdengar seperti petir yang meledak di dalam dada Ken Dedes. Betapa dahsyatnya, serasa dada itu akan menjadi pecah. Jawaban itu adalah jawaban yang telah menghempaskan Ken Dedes ke dalam suatu suasana yang menakutkan. Ia takut mendengar keterangan itu. Namun karena kemarahan yang telah mendidihkan darahnya, maka ia berusaha untuk lari dari ketakutan itu. Ia berusaha untuk tetap bertahan pada pendiriannya.

Karena itu katanya, “Aku tidak peduli siapa yang memecahkan bendungan itu. Meskipun hantu-hantu dari padang Karautan sekalipun. Tetapi kau tidak perlu merasa dirimu pemimpin yang tak dapat beranjak dari tempatmu seolah-olah kau adalah seorang yang sangat penting. Seolah-olah bendungan itu tidak akan jadi kalau tidak ada Mahisa Agni. Kakang Mahisa Agni. Jangan kau sangka bahwa aku tidak tahu, apakah alasan sebenarnya yang mencegah kau pergi ke Tumapel.”

Kini dada Mahisa Agni lah yang bergelora. Apakah benar Ken Dedes mengetahui dorongan yang paling kuat yang tersimpan di dalam dadanya, kenapa ia menjadi berkeras hati untuk selalu menghindari permintaan Akuwu Tunggul Ametung itu? Sejenak Mahisa Agni tidak menjawab. Bahkan terasa di dalam hatinya, goresan-goresan yang tajam menyentuh-nyentuhnya.

“Ya, kenapa aku tidak mau pergi ke Tumapel?“ pertanyaan itu berkejaran di dalam dirinya, “Kalau aku memenuhi permintaan ini sejak saat itu, maka aku tidak akan dikejar-kejar lagi oleh persoalan yang menjemukan ini.”

Mahisa Agni terkejut ketika ia mendengar suara Ken Dedes kembali, “Kakang, bagaimana? Kenapa kau berdiam diri? Jangan kau sangka bahwa aku tidak mengetahui alasanmu. Alasanmu yang sebenarnya kenapa kau tidak mau pergi ke Tumapel.”

Kini Mahisa Agni lah yang terdorong dalam suatu suasana yang ditakutinya. Kalau Ken Dedes itu benar mengetahui perasaannya maka alangkah malunya. Alangkah kecilnya nilai hati Mahisa Agni.

Ketika terdengar suara Ken Dedes sekali lagi berkata, “Kau ingin mendengar alasan itu kakang?”

Maka Mahisa Agni dengan serta merta memotongnya, “Tidak. Tidak. Jangan kau katakan Ken Dedes.”

“Kenapa?” desak Ken Dedes, “kenapa kau takut mendengarnya? Bukankah kau sendiri yang telah menumbuhkan alasan itu di dalam dirimu. Alasan yang sebenarnya terlampau dibuat-buat.”

“Jangan, jangan,“ potong Mahisa Agni pula.

Wajahnya yang tenang kini telah dilumuri oleh peluh dingin yang mengalir dari kening. Wajah Ken Dedes yang cantik dalam pakaian yang cemerlang itu, seolah-olah telah berubah menjadi wajah hantu yang mengerikan dari hantu padang Karautan yang pernah dikenalnya.

“Aku akan mengatakannya,” berkata Ken Dedes tegas, “aku akan mengatakannya alasan yang telah menahanmu untuk tidak pergi ke Tumapel.” Sebelum Mahisa Agni sempat memotongnya, maka Ken Dedes pun telah berkata pula, “Kakang, ternyata kau memang menilai dirimu terlampau berlebih-lebihan. Mungkin karena kau satu-satunya anak muda di Panawijen yang mampu mengalahkan Kuda Sempana.”

“Ken Dedes,“ potong Mahisa Agni.

Tetapi Ken Dedes sama sekali tidak mempedulikan. Dengan lantangnya ia berkata keras, “Dengan demikian kau merasa bahwa dirimu terlampau berharga. Mungkin kau memang sangat berharga dan dikagumi oleh anak-anak muda Panawijen, tetapi jangan menilai Tumapel yang luas ini sepicik kau menilai Panawijen kakang. Sehingga terhadap Akuwu Tumapel pun kau masih juga menganggap dirimu terlampau berharga. Aku tahu alasanmu, kenapa kau tidak mau datang ke Tumapel,“

Ken Dedes berhenti sesaat dan peluh yang menetes dari dahi Mahisa Agni menjadi semakin deras. Namun kini justru mulutnya serasa terkunci dan dibiarkannya Ken Dedes berkata terus,

“Alasan itu adalah, bahkan kau merasa tersinggung karena aku tidak minta pertimbanganmu pada saat aku menerima lamaran Akuwu Tunggul Ametung. Kau merasa bahwa sepeninggal ayah, kau berhak menentukan jalan hidupku. Kau merasa bahwa kaulah yang harus mengatakan, apakah aku dapat menerima lamaran itu atau tidak. Bahkan mungkin kau berpikir, bahwa kau boleh dan berhak menerima atau menolak lamaran itu. Nah, apa katamu kakang? Bukankah dengan demikian kau menganggap dirimu terlampau penting, tidak saja dalam persoalan bendungan itu, tetapi juga dalam persoalanku. Ayahku dahulu memberi kesempatan kepadaku untuk memilih. Sekarang ayahku tidak ada, dan kau menjadi wakilnya. Apakah kau dapat berbuat lebih keras dari ayahku terhadap aku?”

Tiba-tiba Mahisa Agni itu menarik nafas dalam-dalam. Ia kini telah mendengar apa yang dikatakan Ken Dedes alasan yang tersimpan di dalam dirinya. Dada Mahisa Agni itu bahkan kini serasa menjadi lapang. Sangat lapang setelah ia mendengar sendiri betapa Ken Dedes menilai dirinya.

“Syukurlah,“ desisnya di dalam hati. “Kalau hanya itu yang ditimpakan kepadaku,“ tiba-tiba hati Mahisa Agni pun menjadi dingin.

Ia tidak lagi dicengkam oleh kemarahan dan kecemasan. Kini yang dilihatnya duduk dihadapannya bukan lagi wajah hantu betina yang mengerikan, tetapi yang duduk dihadapannya adalah seorang gadis cantik yang sedang dicemaskan oleh keadaan dirinya sendiri, bahkan hampir dibayangi oleh perasaan putus asa. Selanjutnya Mahisa Agni kini dapat mendengarkan kata-kata Ken Dedes dengan tenang.

“Kakang,“ berkata Ken Dedes yang masih saja membanjir, “karena kekecewaanmu itu, maka kini kau menolak meneruskan persoalan yang kau anggap dirimu tidak perlu mencampuri karena sejak semula kau tidak dibawa berbincang. Karena persoalan harga dirimu yang berlebih-lebihan itu, kau telah menolak perintah Akuwu Tunggul Ametung. Kakang, apakah yang kau lakukan itu bukan suatu pemberontakan terhadap pimpinan pemerintahan, seperti yang dilakukan oleh Kuda Sempana?”

Betapapun Mahisa Agni telah berhasil menguasai perasaannya, namun ia terkejut juga mendengar tuduhan itu. Sehingga dengan serta merta ia bertanya, “Ken Dedes, kenapa kau menuduh aku sedemikian jauhnya, sehingga kau telah menganggap aku memberontak terhadap Akuwu Tunggul Ametung?”

“Bukankah yang terjadi demikian kakang?” berkata Ken Dedes dengan lantangnya, “Kau menolak mematuhi perintahnya. Perintah seorang Akuwu. Apakah itu sebenarnya, bukan suatu pemberontakan? Seperti Kuda Sempana telah menolak mematuhi perintah Akuwu Tunggul Ametung,“ Ken Dedes berhenti sejenak. Seakan-akan ia memberi kesempatan kepada Mahisa Agni untuk mencernakan kata-katanya. Sejenak kemudian ia meneruskan,

“Tetapi kakang, aku masih kecil dapat menghormati Kuda Sempana lebih dari padamu. Kuda Sempana memberontak karena ia kehilangan cita-cita. Kehilangan sesuatu yang telah diperjuangkannya dengan gigih. Tiba-tiba yang seakan-akan telah dicapainya itu telah direnggutkan oleh Akuwu Tunggul Ametung dari tangannya. Tegasnya, Kuda Sempana tidak dapat mencapai maksudnya karena Akuwu Tunggul Ametung. Maka ia pun telah meninggalkan istana dan melakukan perlawanan. Tetapi kau, apakah yang kau lakukan? Sama sekali bukan karena suatu cita-cita. Bukan karena kau kehilangan yang telah pernah kau miliki karena dirampas oleh Akuwu Tunggul Ametung. Tetapi kau memberontak hanya karena kau merasa tersinggung. Tersinggung karena kau mempunyai harga diri yang berlebih-lebihan. Nah apa katamu kakang?”

Mahisa Agni menundukkan wajahnya. Alangkah sakitnya tuduhan itu menggores dinding jantungnya, seperti tergores sembilu. Namun Mahisa Agni benar-benar telah berhasil menguasai dirinya sejak ia mendengar tuduhan Ken Dedes atas alasan yang dianggapnya bermukim di dalam dadanya. Ia menjadi tenang, ketika ia merasa bahwa Ken Dedes tidak melihat apa yang sebenarnya tersimpan rapat di dalam relung hatinya yang paling dalam.

“Kang,“ terdengar suara Ken Dedes, “katakan, katakan bahwa kau tidak memberontak hanya karena alasan yang tidak masuk akal itu?”

Mahisa Agni perlahan-lahan mengangkat wajahnya yang suram. Betapa suram wajah itu. Ia merasa bahwa Ken Dedes kini telah menganggap dirinya sama sekali tidak berharga. Jauh lebih tidak berharga dari Kuda Sempana yang dianggapnya berjuang untuk suatu cita-cita.

Namun Mahisa Agni itu pun menjawab dengan hati-hati, “Ken Dedes. Kenapa kau menganggap bahwa aku telah memberontak? Aku tidak sebodoh itu Ken Dedes. Bahkan betapa bodohnya aku, anak padesan, namun aku masih mempunyai kesadaran bahwa tanah ini adalah tanah yang memberi aku makan dan minum. Tanah ini adalah tanah dimana aku dilahirkan dan dibesarkan. Dimana aku bermain-main dan mengalami masa-masa lampauku. Dan tanah ini adalah tanah Tumapel.

Ken Dedes. Kau tahu apa yang telah dilakukan oleh ayahmu? Betapa orang tua itu menjadi kecewa dan marah karena kehilangan puteri satu-satunya. Puteri itu adalah kau Ken Dedes. Tetapi apa yang dilakukan oleh ayahmu? Ayahmu tahu benar, bahwa diantara mereka yang datang ke padepokan ini adalah Akuwu Tunggul Ametung. Ayahmu tahu benar bahwa benar-benar Tunggul Ametung telah melindungi Kuda Sempana mengambil anak satu-satunya. Anak itu adalah miliknya yang paling berharga di dunia ini.

Tetapi Ken Dedes, ayahmu itu tidak memberontak. Memberontak dalam pengertian yang sebenarnya. Memang ayahmu untuk sejenak kehilangan keseimbangan dengan memecah bendungan itu. Tetapi setelah itu ayahmu tidak berbuat apa-apa lagi. Ia lebih baik membuang dirinya dengan hati yang pedih. Kalau ia mau Ken Dedes, kalau ia ingin merebut kau kembali dengan kekerasan, maka tidak mustahil bahwa itu akan dapat dilakukan. Empu Purwa adalah seorang yang baik hati. Kawan-kawannya tersebar di seluruh Tumapel. Kawan-kawan sebayanya. Kawan-kawannya yang mampu memecah bendungan dengan tangan seperti yang dilakukan oleh ayahmu.

Tetapi Empu Purwa tidak berbuat demikian. Empu Purwa tidak memberontak, karena ia menyadari keadaannya. Menyadari akibat yang dapat terjadi. Pertumpahan darah dan penderitaan. Mungkin Empu Purwa berhasil mendapatkan anaknya kembali, tetapi ia akan mendapatkannya diatas tumpukan mayat sesama. Bukan itu saja. Kalau terjadi peperangan di Tumapel, perang saudara, maka akan hancurlah peradaban. Akan terinjak-injaklah segala macam ketentuan dan peraturan oleh kekerasan dan kekuatan.

Karena itu Empu Purwa tidak merebutmu dengan kekerasan meskipun mungkin ia mampu. Tetapi ia tidak sebodoh itu. Orang tua itu pun merasa bahwa tanah ini adalah tanah yang memberinya makan dan minun. Tanah tempat ia bernaung di bawah rimbun tetumbuhananya. Tanah tempat ia hidup dalam lingkungan yang serasi. Tanah ini adalah tanah tumpah darah yang tidak sepantasnya dihancurkannya sendiri, hanya karena kepentingan pribadi, kepentingan seorang saja dari seluruh Tumapel ini,“

Mahisa Agni berhenti sejenak untuk menelan ludahnya. Seolah-olah mulutnya telah menjadi kering. Tetapi matanya yang suram masih juga memandangi wajah Ken Dedes yang kini tunduk. Sesaat kemudian Mahisa Agni meneruskan,

“Ken Dedes. Empu Purwa adalah guruku. Guruku tidak mau melihat pertentangan terjadi diantara kita di Tumapel. Apa yang sebaiknya dilakukan oleh muridnya? Ken Dedes. Aku bukan seorang pengkhianat yang sampai hati berkhianat terhadap tanah ini. Dan aku pun telah mencoba tidak melenyapkan diri seperti Empu Purwa yang benar-benar telah kehilangan segala-galanya, karena kau hilang. Tetapi aku mencoba berbuat lain. Aku tidak akan berbuat sesuatu karena kau. Baik karena harga diriku maupun karena sebab-sebab lain.

Tetapi lebih baik bagiku untuk berbuat sesuatu yang dapat memberikan manfaat bagi rakyat Panawijen, sebagian dari tanah Tumapel. Karena itu, aku bekerja keras membuat bendungan. Tidak ada gunanya bagiku untuk berbuat sebodoh Kuda Sempana, berkhianat karena kepentingan pribadi, dan aku juga tidak ingin menghilang tanpa tujuan, sebab dengan demikian hidupku tidak akan berarti lagi meskipun umurku masih cukup muda. Tidak. Aku membuat jalan sendiri. Bekerja untuk kepentingan sesama, untuk kepentingan tanah ini. Panawijen sebagian dari Tumapel yang besar.”

Setiap kata yang diucapkan oleh Mahisa Agni serasa menyusup langsung ke pusat jantung Ken Dedes. Las-lasan. Tak ada satu pun yang terlampaui. Kata-kata yang memberinya kesadaran tentang dirinya, tentang orang yang dihadapinya dan tentang semua peristiwa yang telah terjadi. Hati Ken Dedes itu pun kemudian bergolak. Belum lagi. Sepemakan sirih hatinya digetarkan oleh kenyataan yang tampak pada diri Mahisa Agni. Meskipun Ken Dedes telah merencanakan segala sesuatu untuk menyambut kakak angkatnya, namun ketika ia melihat tubuh Mahisa Agni yang kurus dan kulitnya yang terbakar oleh terik matahari, maka air matanya telah runtuh.




OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar