Saat itu ia telah menemukan nilai yang wajar atas kerja yang dilakukan oleh Mahisa Agni itu. Tetapi karena kemudian hatinya sendiri dibakar oleh perasaannya yang meluap-luap tentang hubungannya dengan Mahisa Agni, maka seolah-olah penilaiannya yang wajar atas Mahisa Agni itu telah dilupakan.
Kini kembali ia menemukan penilaian itu. Kini kembali ia melihat apa yang dilakukan oleh Mahisa Agni, dan apa yang telah dilakukannya. Bahwa kerja Mahisa Agni mencakup suatu kebutuhan yang luas, yang akan memberi sumber bagi kehidupan rakyat Panawijen di hari kemudian, bahkan sampai pada anak cucu. Sedang yang terjadi pada dirinya adalah, perjuangan untuk diri sendiri.
Tiba-tiba wajah Ken Dedes yang tunduk menjadi semakin dalam menghunjam lantai. Dan tiba-tiba pula Mahisa Agni melihat butiran-butiran air menetes satu-satu. Karena itu Mahisa Agni berhenti berbicara. Tetesan air-mata itu telah menyentuh hatinya, dan ia menjadi iba karenanya.
“Maafkan aku kakang,“ terdengar suara Ken Dedes sangat perlahan, hampir tidak kedengaran. Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam.
“Kau mengerti Ken Dedes,“ bertanya Mahisa Agni.
Ken Dedes mengangguk perlahan-lahan ia menyahut, “Ya aku mengerti.”
“Nah, kalau begitu, bagaimana seterusnya?” bertanya Mahisa Agni.
“Kau benar kakang. Kau telah berbuat untuk orang banyak. Kau telah berjuang untuk sesama. Dalam pada itu aku sedang bekerja keras untuk diriku sendiri, untuk kepentinganku seorang,“ Ken Dedes berhenti sejenak. Kemudian kata-katanya telah mengejutkan Mahisa Agni, “Kakang, aku akan berbuat seperti kau. Tak ada gunanya aku kembali ke Tumapel. Aku akan duduk diatas singgasana permaisuri Tumapel, namun kakiku akan beralaskan kebahagiaan ayah, kau dan rakyat Panawijen.”
“Ken Dedes,“ potong Mahisa Agni. Tiba-tiba dadanya menjadi berdebar-debar.
“Aku akan kembali ke padukuhan ini. Bekerja seperti orang lain bekerja. Menderita seperti orang lain menderita.”
Mahisa Agni terbungkam untuk sesaat. Terasa dadanya menjadi bergelora. Ia tidak tahu pasti, perasaan apakah yang sedang melanda jantungnya. Sekilas terbayang gadis itu datang kembali ke padepokan ini. Seperti bunga yang layu, maka padepokan ini akan menemukan kesegarannya kembali karena hujan yang turun semalam. Hati yang kering akan kembali bersemi. Gadis itu akan dapat menumbuhkan gairah yang dahsyat menghadapi kerja. Dan hidupnya sendiri tidak akan menjadi gersang seperti sawah yang terentang di sekitar padukuhan ini. Kehadiran Ken Dedes pasti akan menjadi sumber tenaga yang tak akan kering-keringnya, seperti bendungan yang sedang dibangunnya itu.
Tetapi ketika Mahisa Agni melihat gadis itu, Ken Dedes dalam pakaian yang cemerlang, namun tetesan-tetesan air mata masih juga berjatuhan, hatinya memekik tinggi.
“Tidak,“ teriak hatinya, “tidak. Itu juga semacam kebutuhan pribadi. Aku ternyata juga mementingkan diriku sendiri dari kepentingannya.”
Mahisa Agni itu menggelengkan kepalanya. Ia tidak sampai hati membiarkan Ken Dedes melepaskan pakaian kebesaran yang telah pernah dikenakannya, hanya karena kerakusannya.
Terdengar Mahisa Agni berdesah. Namun kemudian ia berkata, “Tidak Ken Dedes. Kau jangan terlampau banyak mengorbankan dirimu, salah seorang dari kita, dari keluarga ini telah cukup. Aku telah menebus semua hutang yang telah dibuat oleh keluarga kita. Pergunakanlah kesempatanmu baik-baik. Mudah-mudahan kau tidak akan mengalami kepahitan lagi seperti masa-masa lampaumu.”
Ken Dedes mengangkat wajahnya. Matanya yang basah berkaca-kaca memandangi wajah Mahisa Agni yang merah kehitam-hitaman oleh terik matahari. Namun dari mata yang cekung itu masih terasa sinar mata yang dahulu, meskipun mata itu kini menjadi suram.
“Kakang, aku adalah sebagian dari padepokan ini.”
“Ya,“ sahut Agni, “tetapi kau berhak menentukan hari depanmu seperti ayahmu pernah mengatakan. Bukankah Empu Purwa pernah membuat sebuah permainan yang disebutnya sayembara pilih meskipun para pengikut sayembara itu tidak hadir?”
Ken Dedes menundukkan wajahnya kembali. Tetapi ia tidak dapat melupakan permintaan Akuwu Tunggul Ametung untuk bertemu dengan Mahisa Agni. Tiba-tiba Mahisa Agni menangkap kebimbangan di dalam diri Ken Dedes. Kebimbangan yang telah memeras air matanya semakin banyak mengalir. Kini kembali terjadi pergolakan d:dalam dada Mahisa Agni. Ia tidak dapat melihat kepedihan itu. Seperti pada masa kanak-kanak mereka, Mahisa Agni tidak dapat melihat dan membiarkan Ken Dedes menangis. Karena itu tiba-tiba ia berkata,
“Ken Dedes, biarlah aku besok mengantarmu ke Tumapel. Biarlah aku mematuhi perintah Akuwu Tunggul Ametung untuk kepentinganmu. Mudah-mudahan kau akan dapat menemukan kebahagiaan.”
Hati Ken Dedes tergetar mendengar kesedian Mahisa Agni itu. Tetapi tidak seperti pada saat-saat Mahisa Agni bersedia memetik sebuah jambe yang berwarna merah jambu, kali ini Ken Dedes tidak memekik kegirangan. Gadis itu tidak melonjak dan menari-nari. Bahkan Ken Dedes itu masih saja menundukkan wajahnya. Terasa betapa Mahisa Agni mencoba untuk membuatnya berbesar hati, namun terasa pula bahwa Mahisa Agni memenuhi permintaannya dengan hati yang berat. Ken Dedes kini menganggap bahwa Mahisa Agni telah bersedia melepaskan perasaan harga dirinya, karena perasaan iba dan belas kasihan.
Dalam pada itu terdengar Mahisa Agni berkata, “Sudahlah Ken Dedes. Jangan risaukan lagi semua peristiwa yang terjadi. Yang pernah terjadi biarlah terjadi. Jadikanlah semuanya sebagai pangilon dimana setiap kali kita dapat bercermin. Kemudian marilah kita memandang masa depan kita. Kau dengan masa depanmu yang cemerlang, seperti kecemerlangan pakaianmu itu, dan Panawijen akan menjadi segar dan hijau kembali, meskipun kami terpaksa bergeser beberapa tonggak dari tempat ini.”
Perlahan-lahan Ken Dedes menganggukkan kepalanya. Tetapi gadis itu belum mampu mengucapkan sepatah katapun. Yang berkata kemudian adalah Mahisa Agni pula,
“Ken Dedes, kembalilah ke pendapa. Bukankah kau tidak datang sendiri ke padepokan ini? Para prajurit pasti sudah menunggumu. Mereka pasti bertanya-tanya apa saja yang dipercakapkan oleh Ken Dedes dan Mahisa Agni selama ini.”
Ken Dedes mengusap air matanya dengan ujung kainnya Kemudian gadis itu mengangguk kecil sambil berkata, “Ya kakang.”
“Kau sekarang bukan Ken Dedes yang dahulu. Bukan lagi puteri Empu Purwa, seorang pendeta yang tinggal di padepokan kecil di Panawijen. Tetapi kau sekarang adalah seorang calon permaisuri. Kau harus bersikap lain dan bertingkah laku lain. Sebab ternyata meskipun kau telah berpakaian seindah itu, dikawal oleh sejumlah prajurit, namun kau masih saja suka menangis.”
“Ah,“ desah Ken Dedes.
Tetapi Mahisa Agni berkata terus untuk memecahkan ketegangan yang selama ini menghimpit hatinya, “Kau tidak dapat bersikap demikian terhadap Akuwu Tunggul Ametung nanti. Kau dapat menangis, merengek terhadap kakakmu, tetapi tidak terhadap suamimu. Suamimu akan bersedih melihat kau menangis. Kalau ia sedang dirisaukan oleh pekerjaannya sebagai seorang Akuwu maka mungkin sekali akalnya akan buntu. Tetapi hatinya akan segar apabila ia selalu melihat kau tertawa. Wajah yang cerah bagi seorang suami jauh lebih berharga dari apapun juga.”
“Ah,“ sekali lagi Ken Dedes berdesah.
“Sekarang kembalilah ke pendapa. Aku akan segera menyusul.”
“Apakah kau akan lari lagi kakang?” bertanya Ken Dedes tiba-tiba.
Kali ini Mahisa Agni tersenyum. Ia mencoba untuk melenyapkan segala macam perasaan yang sebenarnya masih bersilang tindih di hatinya. Katanya, “Jangan takut Ken Dedes, aku tidak akan lari kali ini. Aku hanya akan mempersiapkan hidangan yang pantas untuk tamu-tamu kita.”
“Para endang telah melakukannya dengan baik kakang.”
“Oh, baiklah,“ sahut Mahisa Agni, “tetapi pergilah dahulu ke pendapa.”
Ken Dedes tidak membantah. perlahan-lahan ia bangkit dan membenahi pakaiannya yang agak kusut. Kemudian ia pun pergi meninggalkan Mahisa Agni ke pendapa. Mahisa Agni pun kemudian berdiri pula. Sepeninggal Ken Dedes, kembali wajahnya menjadi suram. Tetapi kali ini ia tidak lagi berniat ingkar,
“Aku akan segera menyelesaikan saja persoalan ini, supaya aku tidak selalu terganggu. Pekerjaanku masih banyak dan memerlukan waktu yang cukup panjang.”
Ketika Mahisa Agni kemudian pergi ke halaman belakang untuk mencuci mukanya yang serasa menjadi panas, tiba-tiba ia mendengar suara tertawa di sudut halamannya. Ketika ia berpaling dilihatnya Kebo Ijo duduk diatas rumput-rumput kering bersama seorang perwira lainnya. Mahisa Agni menarik nafas panjang. Ternyata kemudian ia melihat beberapa orang prajurit yang lain berdiri berjaga-jaga di sudut-sudut yang lain.
“Hem,“ desahnya, “rumah ini seperti istana seorang bangsawan yang memerlukan penjagaan demikian kuatnya,“ Tetapi kemudian disadarinya, bahwa yang kini berada di dalam rumah itu, justru orang kedua sesudah Akuwu Tunggul Ametung sendiri. Seorang gadis yang bakal menjadi permaisurinya.
Sekali lagi Mahisa Agni berpaling ke arah Kebo Ijo ketika ia masih saja mendengar anak muda itu tertawa. Bahkan kemudian ia bertanya kepada Mahisa Agni, “He Mahisa Agni. Rupa-rupanya nasibmu memang terlampau baik. Untunglah bakal iparmu yang bernama Wiraprana itu mati, sehingga kau akan mendapat ipar seorang Akuwu yang bernama Tunggul Ametung.”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Ia melihat perwira yang seorang lagi itu pun memandangi wajah Kebo Ijo dengan herannya.
“Bukankah begitu Mahisa Agni?”
Betapa perasaan Mahisa Agni bergetar, namun ia menganggukkan kepalanya sambil menjawab, “Ya Kebo Ijo.” Kebo Ijo menjadi kecewa mendengar jawaban itu. Ternyata Mahisa Agni menurut tangkapannya tidak menjadi jengkel. Karena itu maka justru ia terdiam. Apalagi ketika Mahisa Agni kemudian berkata, “Kalau tidak terjadi demikian, maka kau tidak akan sudi berkunjung kemari, meskipun kali ini kau datang bukan atas kehendakmu sendiri.”
Kebo Ijo menggigit bibinya. Tetapi ia tidak menjawab. Ditatapnya saja Mahisa Agni yang pergi ke pakiwan dengan mata yang merah.
Ketika Mahisa Agni sudah tidak tampak lagi, maka Kebo Ijo itu bergumam, “Anak itu akan menjadi semakin sombong dan besar kepala apabila nanti adiknya menjadi seorang permaisuri.”
Perwira yang duduk di samping Kebo Ijo tidak menjawab. Tetapi menurut kesannya, Mahisa Agni sama sekali bukan anak muda yang sombong.
Dalam pada itu, para endang di pendapa telah hampir menjadi pingsan. Mereka duduk kaku tanpa berani menggerakkan ujung jarinya sekalipun. Mereka duduk dalam kebingungan. Hanya sekali hitam matanya saja yang bergerak-gerak. Ketika mereka melihat Ken Dedes keluar dari pendapa, maka hampir berbareng menarik nafas dalam-dalam. Tetapi kembali mereka menjadi tegang ketika mereka melihat Witantra, Sidatta dan Mahendra membungkukkan kepalanya dalam-dalam.
Ken Dedes kemudian duduk kembali di tempatnya. Meskipun ia tersenyum, namun setiap orang yang melihatnya, dapat mengetahuinya, bahwa ia baru saja menangis. “Kakang,” berkata Ken Dedes, “kakang kini dapat beristirahat. Besok kita akan kembali ke Tumapel.”
Witantra mengangguk dalam-dalam sambil menjawab, “Hamba tuan puteri. Tetapi apakah kakanda tuan puteri akan beserta kita?”
“Ya.”
Sekali lagi Witantra mengangguk. Kemudian katanya, “Kami mohon diri untuk beristirahat tuan puteri.”
“Silahkan kakang.”
Witantra, Sidatta dan Mahendra pun kemudian turun dari pendapa. Mereka berjalan perlahan-lahan ke gandok kanan, tempat yang telah disediakan untuk mereka. Sedang para prajurit yang bertugas, masih juga berdiri dengan senjata di tangan.
Kini para endang pun saling berpandangan. Para perwira itu tampaknya sama sekali tidak menjadi lelah, pening atau pun gelisah selama mereka duduk diam di pendapa. Para endang itu tidak dapat membayangkan, bahwa dalam pasewakan-pasewakan yang sebenarnya di istana Tumapel, maka para prajurit, para pimpinan pemerintahan harus duduk lebih lama lagi untuk memperbincangkan berbagai masalah yang penting. Tetapi bagi para endang itu, yang tidak pernah mengalami peristiwa-peristiwa semacam itu, merasa seolah-olah duduk diatas bara api. Kini satu-satunya harapan mereka di dalam hati adalah, meninggalkan pendapa itu secepatnya.
Ketika Ken Dedes tidak juga bangkit, maka salah seorang endang yang tidak lagi dapat menahan diri bertanya terbata-bata, “Ken Dedes, sampai kapan kita akan duduk disini? Bukankah para prajurit itu telah pergi, dan kau dapat meninggalkan tempatmu pula?”
Ken Dedes berpaling. Tiba-tiba ia tersenyum melihat wajah para endang yang tegang, “Kenapa kalian menjadi seolah-olah kebingungan?”
“Kami hampir pingsan Ken Dedes,“ sahut endang yang lain.
Ken Dedes tidak dapat menahan tawanya. Katanya, “Biasakan dirimu duduk tenang. Mungkin akan berguna bagi saat-saat mendatang.”
“Apakah kalau kau menjadi seorang permaisuri kami harus duduk sedemikian lamanya?”
“Kalau kalian berada di istana, maka kalian harus duduk bersimpuh lebih lama lagi dari pada kali ini.”
“Lebih baik aku tinggal di padepokan. Aku tidak akan terikat berbagai peraturan yang mengurangi kebebasanku,“ gerutu seorang endang yang masih sangat muda.
Ken Dedes tersenyum. Tetapi terasa sesuatu berdesir di dalam dadanya. Endang itu lebih senang tinggal di padepokan. Istana baginya adalah perlambang dari suatu lingkungan yang akan mengikatnya dengan berbagai aturan yang menjemukan.
“Marilah, kita meninggalkan pula tempat ini. Di istana, para prajurit dan para pemimpin pemerintah baru dapat meninggalkan pendapa apabila Akuwu telah masuk ke dalam istana. Tetapi aku tidak perlu berbuat demikian di istana terhadap para prajurit.”
Para endang itu pun kemudian berdiri dengan serta-merta. Mereka tidak menunggu Ken Dedes berdiri lebih dahulu. Bahkan ada diantara mereka yang dengan tanpa segan-segan berdiri dihadapan Ken Dedes sambil mengibas-ngibaskan kakinya yang semutan. Namun Ken Dedes menyadari, bahwa mereka belum mengenal tata-cara istana yang sebenarnya harus dilakukan.
Hari itu bagi Ken Dedes terasa terlampau lama. Dengan tegangnya ia menunggu matahari terbenam. Namun malam yang kemudian turun dengan malasnya terasa bertambah-tambah panjang pula. Ketika ia terbangun, maka yang terdengar adalah bunyi kentongan dara-muluk.
“Aku merasa telah terlampau lama tidur, tetapi ternyata baru tengah malam,“ desisnya. Gadis itu seolah-olah tidak sabar lagi menunggu esok. “Jangan-angan kakang Mahisa Agni malam ini mengambil keputusan lain dan pergi meninggalkan padepokan.”
Tetapi akhirnya fajar pecah di timur. Para prajurit pun segera berkemas-kemas. Pagi itu mereka akan meninggalkan Panawijen kembali ke Tumapel bersama Mahisa Agni. Orang-orang Panawijen yang meskipun hanya sejenak telah sempat bertemu dengan Ken Dedes, pagi itu berdiri di sepanjang jalan melihat iring-iringan yang mengantarkan Ken Dedes kembali ke Tumapel. Seperti pada saat datang, Ken Dedes kali ini pun mengenakan pakaian kebesarannya. Pakaian dalam warna-warna yang cemerlang, sehingga perempuan-perempuan, gadis-gadis kawannya bermain-main, memandanginya dengan mulut ternganga.
“Gadis itu benar-benar cantik,“ gumam seorang perempuan tua.
Tetapi seorang gadis yang menjadi iri berkata, “Yang cantik adalah pakaiannya, bukan orangnya.”
Iring-iringan itu pun kemudian berjalan perlahan-lahan meninggalkan Panawijen, diantar lambaian tangan orang-orang Panawijen yang menyaksikannya. Tetapi ketika iring-iringan itu telah sampai di bulak yang kering, maka tanpa mereka sadari, beberapa pasang mata yang tajam, setajam mata burung hantu mengawasi dengan penuh dendam dan benci. Tetapi orang-orang yang sambil bersembunyi-sembunyi mengintai iring-iringan itu tidak dapat berada di tempat yang terlampau dekat, sehingga mereka tidak dapat melihat dengan jelas, siapa-siapa saja yang berada di dalam iring-iringan itu.
Mereka itu adalah Empu Sada dan kedua muridnya yang terdekat, Kuda Sempana yang pernah menjadi seorang hamba istana dan orang yang menamakan dirinya Bahu Reksa Kali Elo, yang menurut pengakuannya adalah seorang pedagang keliling.
“Kita tidak dapat mengulangi kesalahan kita,“ gumam Empu Sada. Kedua muridnya mengangguk-anggukkan kepalanya. “Panji yang kurus itu pasti masih selalu mengawasi mereka,“ sambungnya. Kembali kedua muridnya menganggukkan kepalanya.
Kini untuk sejenak mereka berdiam diri. Mereka mencoba untuk mengenal orang-orang di dalam iring-iringan itu. Tetapi jarak mereka terlampau jauh. Karena itu maka mereka tidak melihat bahwa Mahisa Agni berada di dalam barisan itu.
“Guru,“ berkata Kuda Sempana kemudian, “apakah guru benar-benar ingin berhubungan dengan paman Kebo Sindet dan paman Wong Sarimpat?”
Empu Sada tidak segera menjawab. Sebenarnya ia sendiri sampai saat itu masih diliputi oleh keragu-raguan. Ia tahu benar bahwa Kebo Sindet dan Wong Sarimpat adalah orang-orang yang tidak mengenal tata tertib pergaulan. Mereka ingin berbuat apa saja yang dikehendakinya, sehingga mereka sampai saat ini menjadi orang-orang yang sama sekali tidak disukai, baik oleh rakyat Tumapel maupun oleh pimpinan pemerintahan.
“Bagaimana guru,“ desak Kuda Sempana.
Empu Sada masih memandangi iring-iringan yang meninggalkan debu yang putih mengepul ke udara.
“Kuda Sempana,“ terdengar suara Empu Sada tiba-tiba menjadi berat, “apakah kau masih inginkan gadis itu?”
Pertanyaan itu benar-benar menggetarkan dada Kuda Sempana. Terasa nada pertanyaan gurunya seolah-olah tidak lagi mengandung gairah perjuangan. Bahkan seolah-olah nada pertanyaan itu melemahkan semangatnya. Karena itu, maka Kuda Sempana ingin menunjukkan bahwa tekad di dalam dadanya telah bulat. Katanya,
“Tentu guru. Kalau aku tidak berhasil, maka sudah aku katakan, bahwa aku akan menghancurkannya. Semua orang yang menghalang-halangi kehendakku ini akan aku anggap telah berbuat salah dan harus dihancur-lumatkan.”
Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Kemudian desahnya, “Kau terlalu berkeras hati. Bukankah kau telah melihat, bahwa di sekitar Ken Dedes berdiri para prajurit pengawal istana.”
“Apakah guru dapat digetarkan hanya oleh Witantra.”
“Tak ada orang yang dapat menggetarkan hatiku Kuda Sempana,” sahut gurunya, “tetapi marilah kita perhitungkan kekuatan yang ada. Witantra tidak berdiri sendiri. Bukankah kau telah mengenal gurunya, Panji Bojong Santi? Sedang Mahisa Agni pun kini mendapat kawan baru yang katanya adalah pamannya, Empu Gandring, tukang keris itu.”
“Karena itu guru dapat berhubungan dengan Wong Sarimpat dan Kebo Sindet,“ sahut Kuda Sempana pula.
Gurunya kembali terdiam. Ia melihat kekerasan hati muridnya. Tetapi sebagai seorang yang telah berumur lanjut, maka hatinya jauh lebih mengendap dari Kuda Sempana, sehingga Empu Sada itu mampu melihat kemungkinan-kemungkinan yang dihadapinya. Katanya,
“Kuda Sempana, pekerjaan ini terlampau berat.”
“Guru, aku tidak akan menyentuh apa saja yang dimiliki oleh Ken Dedes. Perhiasan, pakaian dan kekayaannya. Aku hanya memerlukan orangnya.”
Orang yang menamakan dirinya Bahu Reksa Kali Elo itu menelan ludahnya. Kekayaan itu pasti berlimpah-limpah. Tetapi di dalam dirinya tersembunyi pula pengertian bahwa merebut Ken Dedes akan sama sulitnya dengan merebut tahta Akuwu Tunggul Ametung. Karena itu, maka ia sama sekali tidak mengemukakan lagi pendapatnya.
“Kuda Sempana,“ berkata Empu Sada, “kau tahu bahwa merebut Ken Dedes kini tidak semudah pada saat ia masih berada di Panawijen. Ia kini berada dalam istana yang mempunyai prajurit yang tidak saja cukup banyak, dan mereka adalah prajurit-prajurit yang tangguh.”
Kuda Sempana telah mengenal pula keadaan istana Tumapel dengan baik. Ia tahu benar, bahwa ia tidak akan mendapat kemungkinan untuk merebut Ken Dedes dalam keadaannya kini. Karena itu, maka sekali lagi ia berkata,
“Guru, sekali lagi aku ingin bertanya bagaimana dengan paman Kebo Sindet dan Wong Sarimpat?”
“Kau belum mengenal mereka sebaik aku mengenal Kuda Sempana. Mereka adalah orang-orang yang dapat disebut orang-orang liar. Orang-orang yang berada diluar lingkungan masyarakat yang beradab. Mereka adalah orang-orang buruan.”
Empu Sada terkejut ketika ia mendengar jawaban Kuda Sempana yang tidak disangka-sangkanya, “Kita pun orang-orang buruan guru.”
“He?”
“Kita sudah mulai. Apalagi aku. Guru pun telah melakukan perlawanan atas Witantra yang membawa kekuasaan Tunggul Ametung di hutan didekat padang Karautan.”
Wajah Empu Sada menjadi berkerut-kerut. Kata-kata Kuda Sempana itu benar. Ia telah terdorong pula ke dalam suatu keadaan yang sulit. Apabila Witantra nanti sampai di Tumapel, dan Akuwu mendengar laporannya tentang dirinya, maka Empu Sada dan murid-muridnya adalah orang-orang buruan seperti Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Sejenak Empu Sada berdiam diri. Direnungkannya dirinya dan apa saja yang telah dilakukannya. Tetapi bagaimanapun juga ia masih melihat perbedaan yang tajam antara dirinya dan kedua orang-orang liar itu. Bahkan apabila ia dapat menarik dirinya kembali, ia masih belum terjerumus terlampau jauh.
Tetapi muridnya yang bernama Kuda Sempana itu agaknya benar-benar telah berkeras hati. Ketika ia melihat gurunya ragu-ragu maka katanya, “Guru. Kita sudah terjun ke tengah-tengah sungai. Terus atau kembali, kita sudah terlanjur basah kuyup.”
Sekali lagi Empu Sada menarik nafas. Katanya masih dalam nada yang rendah, “Kuda Sempana, kau pernah menjadi seorang hamba Tunggul Ametung. Apa kau sangka kita meskipun bersama dengan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat, mampu mengalahkannya?”
“Aku sama sekali tidak ingin merebut kedudukan Tunggul Ametung, guru.”
“Menginginkan seorang permaisuri akan sama artinya dengan menginginkan kedudukannya.”
“Tidak. Kalau aku sudah mendapatkan Ken Dedes, aku akan pergi jauh sekali keluar Tumapel, bahkan mungkin keluar Kediri.”
“Alangkah bodohnya kau,“ gurunya menggerutu, “kau sendiri pernah menjadi pelayan dalam. Kau sangka bahwa merebut Ken Dedes tidak berarti perang melawan Tunggul Ametung. Meskipun kau tidak menginginkan kedudukannya, tetapi perang itu sudah terjadi.”
Kuda Sempana terdiam. Hatinya gelap telah menutup segenap kemauannya untuk berpikir. Tetapi kali ini ia mendengar kata-kata gurunya. Dan kata-kata itu mampu menyelusup ke dalam hatinya yang gelap.
Tetapi meskipun demikian ia menjawab, “Guru, bukan maksudku untuk berbuat demikian. Bagaimana kalau gadis itu diculik?”
“Pekerjaan itu pun bukan pekerjaan yang mudah Kuda Sempana.”
Kembali Kuda Sempana terdiam. Namun gejolak di dalam dadanya sama sekali tidak mereda. Ketika ia mengangkat wajahnya, ia melihat ekor dari iring-iringan itu sudah menjadi semakin jauh, dan hampir lenyap ditikungan. Yang tampak kemudian hanyalah tanaman-tanaman yang kering kekuning-kuningan.
“Persetan dengan bencana yang menimpa Panawijen,“ tiba-tiba Kuda Sempana menggeram.
Dendamnya kepada Panawijen manjadi semakin memuncak. Panawijen tempat ia dilahirkan, tempat ia dibesarkan dan tempat orang tuanya bergelut dengan hidup keluarganya, sama sekali tidak menarik perhatiannya. Bahkan baginya Panawijen adalah mereka yang telah membakarnya selama ini. Apalagi anak muda yang bernama Mahisa Agni, benar-benar telah menyalakan segala macam kebencian di dalam dadanya.
Dalam pada itu, tiba-tiba Kuda Sempana itu bergumam, “Guru, bagaimanapun juga, sebaiknya kita coba. Berhasil atau tidak berhasil, sebaiknya guru menghubungi Wong Sarimpat dan Kebo Sindet. Kalau aku tidak berhasil mendapatkan Ken Dedes, maka aku akan membuat pembalasan dengan caraku. Menghancurkan bendungan yang sedang dibangun, menangkap dan membunuh Mahisa Agni sehingga akibatnya pasti akan menyiksa perasaan Ken Dedes. Biarlah hatinya tersiksa seperti hatiku.”
Empu Sada mengangguk-anggukkan kepalanya. Kalau hanya itu yang dikehendaki dan dapat memberinya kepuasan, maka kiranya tidak terlalu sulit untuk dilakukannya. Karena itu maka jawabnya,
“Kuda Sempana, mungkin kita akan dapat berbuat demikian. Memecah rencana yang tengah dibuat oleh Mahisa Agni itu, bahkan membinasakan. Tetapi seterusnya, untuk mendapatkan Ken Dedes adalah terlampau sulit bagimu kini.”
“Mahisa Agni adalah sumber dari kegagalan itu guru.”
Empu Sada mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi sejenak kemudian ia menjadi berbimbang hati. Kalau ia melakukan perbuatan itu, apakah keuntungan yang didapatkannya, selain diburu dan di kejar-kejar oleh Akuwu Tunggul Ametung? Tetapi dalam pada itu kini menyelusup perasaan lain pula di dalam dadanya, Empu Sada itu sendiri tidak mengetahuinya, kenapa tiba-tiba ia ingin membela muridnya dengan kemauan yang berbeda dari saat-saat lampaunya. Pada masa-masa yang lampau, setiap perbuatannya pasti diperhitungkannya, upah apakah yang akan diterima dari muridnya yang dibantunya. Tetapi setelah ia melihat beberapa perguruan lain, melihat bagaimana sikap Panji Bojong Santi terhadap muridnya, maka pendirian itu tanpa dikehendakinya sendiri telah bergeser pula karena harga dirinya yang tampil ke depan. Empu Sada tidak mau perguruannya menjadi bahan ejekan dari perguruan-perguruan lain karena setiap usaha dan kemauan murid-muridnya selalu tidak pernah terpenuhi.
Tetapi Empu Sada itu terkejut ketika tiba-tiba muridnya berkata, “Kalau demikian, mengapa tidak malam ini saja kita menghancurkan rencana Mahisa Agni dan menangkapnya?”
“Sudah aku katakan,“ sahut gurunya, “di samping Mahisa Agni kini ada pamannya Empu Gandring. karena itu kita tidak boleh terlampau tergesa-gesa.”
Namun terasa Kuda Sempana tidak bersabar lagi. Tetapi ketika ia ingin menyatakan perasaannya itu, terdengar orang yang menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo berkata, “Aku mempunyai cara yang baik untuk menyiksa perasaan Mahisa Agni.”
Kini kembali ia menemukan penilaian itu. Kini kembali ia melihat apa yang dilakukan oleh Mahisa Agni, dan apa yang telah dilakukannya. Bahwa kerja Mahisa Agni mencakup suatu kebutuhan yang luas, yang akan memberi sumber bagi kehidupan rakyat Panawijen di hari kemudian, bahkan sampai pada anak cucu. Sedang yang terjadi pada dirinya adalah, perjuangan untuk diri sendiri.
Tiba-tiba wajah Ken Dedes yang tunduk menjadi semakin dalam menghunjam lantai. Dan tiba-tiba pula Mahisa Agni melihat butiran-butiran air menetes satu-satu. Karena itu Mahisa Agni berhenti berbicara. Tetesan air-mata itu telah menyentuh hatinya, dan ia menjadi iba karenanya.
“Maafkan aku kakang,“ terdengar suara Ken Dedes sangat perlahan, hampir tidak kedengaran. Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam.
“Kau mengerti Ken Dedes,“ bertanya Mahisa Agni.
Ken Dedes mengangguk perlahan-lahan ia menyahut, “Ya aku mengerti.”
“Nah, kalau begitu, bagaimana seterusnya?” bertanya Mahisa Agni.
“Kau benar kakang. Kau telah berbuat untuk orang banyak. Kau telah berjuang untuk sesama. Dalam pada itu aku sedang bekerja keras untuk diriku sendiri, untuk kepentinganku seorang,“ Ken Dedes berhenti sejenak. Kemudian kata-katanya telah mengejutkan Mahisa Agni, “Kakang, aku akan berbuat seperti kau. Tak ada gunanya aku kembali ke Tumapel. Aku akan duduk diatas singgasana permaisuri Tumapel, namun kakiku akan beralaskan kebahagiaan ayah, kau dan rakyat Panawijen.”
“Ken Dedes,“ potong Mahisa Agni. Tiba-tiba dadanya menjadi berdebar-debar.
“Aku akan kembali ke padukuhan ini. Bekerja seperti orang lain bekerja. Menderita seperti orang lain menderita.”
Mahisa Agni terbungkam untuk sesaat. Terasa dadanya menjadi bergelora. Ia tidak tahu pasti, perasaan apakah yang sedang melanda jantungnya. Sekilas terbayang gadis itu datang kembali ke padepokan ini. Seperti bunga yang layu, maka padepokan ini akan menemukan kesegarannya kembali karena hujan yang turun semalam. Hati yang kering akan kembali bersemi. Gadis itu akan dapat menumbuhkan gairah yang dahsyat menghadapi kerja. Dan hidupnya sendiri tidak akan menjadi gersang seperti sawah yang terentang di sekitar padukuhan ini. Kehadiran Ken Dedes pasti akan menjadi sumber tenaga yang tak akan kering-keringnya, seperti bendungan yang sedang dibangunnya itu.
Tetapi ketika Mahisa Agni melihat gadis itu, Ken Dedes dalam pakaian yang cemerlang, namun tetesan-tetesan air mata masih juga berjatuhan, hatinya memekik tinggi.
“Tidak,“ teriak hatinya, “tidak. Itu juga semacam kebutuhan pribadi. Aku ternyata juga mementingkan diriku sendiri dari kepentingannya.”
Mahisa Agni itu menggelengkan kepalanya. Ia tidak sampai hati membiarkan Ken Dedes melepaskan pakaian kebesaran yang telah pernah dikenakannya, hanya karena kerakusannya.
Terdengar Mahisa Agni berdesah. Namun kemudian ia berkata, “Tidak Ken Dedes. Kau jangan terlampau banyak mengorbankan dirimu, salah seorang dari kita, dari keluarga ini telah cukup. Aku telah menebus semua hutang yang telah dibuat oleh keluarga kita. Pergunakanlah kesempatanmu baik-baik. Mudah-mudahan kau tidak akan mengalami kepahitan lagi seperti masa-masa lampaumu.”
Ken Dedes mengangkat wajahnya. Matanya yang basah berkaca-kaca memandangi wajah Mahisa Agni yang merah kehitam-hitaman oleh terik matahari. Namun dari mata yang cekung itu masih terasa sinar mata yang dahulu, meskipun mata itu kini menjadi suram.
“Kakang, aku adalah sebagian dari padepokan ini.”
“Ya,“ sahut Agni, “tetapi kau berhak menentukan hari depanmu seperti ayahmu pernah mengatakan. Bukankah Empu Purwa pernah membuat sebuah permainan yang disebutnya sayembara pilih meskipun para pengikut sayembara itu tidak hadir?”
Ken Dedes menundukkan wajahnya kembali. Tetapi ia tidak dapat melupakan permintaan Akuwu Tunggul Ametung untuk bertemu dengan Mahisa Agni. Tiba-tiba Mahisa Agni menangkap kebimbangan di dalam diri Ken Dedes. Kebimbangan yang telah memeras air matanya semakin banyak mengalir. Kini kembali terjadi pergolakan d:dalam dada Mahisa Agni. Ia tidak dapat melihat kepedihan itu. Seperti pada masa kanak-kanak mereka, Mahisa Agni tidak dapat melihat dan membiarkan Ken Dedes menangis. Karena itu tiba-tiba ia berkata,
“Ken Dedes, biarlah aku besok mengantarmu ke Tumapel. Biarlah aku mematuhi perintah Akuwu Tunggul Ametung untuk kepentinganmu. Mudah-mudahan kau akan dapat menemukan kebahagiaan.”
Hati Ken Dedes tergetar mendengar kesedian Mahisa Agni itu. Tetapi tidak seperti pada saat-saat Mahisa Agni bersedia memetik sebuah jambe yang berwarna merah jambu, kali ini Ken Dedes tidak memekik kegirangan. Gadis itu tidak melonjak dan menari-nari. Bahkan Ken Dedes itu masih saja menundukkan wajahnya. Terasa betapa Mahisa Agni mencoba untuk membuatnya berbesar hati, namun terasa pula bahwa Mahisa Agni memenuhi permintaannya dengan hati yang berat. Ken Dedes kini menganggap bahwa Mahisa Agni telah bersedia melepaskan perasaan harga dirinya, karena perasaan iba dan belas kasihan.
Dalam pada itu terdengar Mahisa Agni berkata, “Sudahlah Ken Dedes. Jangan risaukan lagi semua peristiwa yang terjadi. Yang pernah terjadi biarlah terjadi. Jadikanlah semuanya sebagai pangilon dimana setiap kali kita dapat bercermin. Kemudian marilah kita memandang masa depan kita. Kau dengan masa depanmu yang cemerlang, seperti kecemerlangan pakaianmu itu, dan Panawijen akan menjadi segar dan hijau kembali, meskipun kami terpaksa bergeser beberapa tonggak dari tempat ini.”
Perlahan-lahan Ken Dedes menganggukkan kepalanya. Tetapi gadis itu belum mampu mengucapkan sepatah katapun. Yang berkata kemudian adalah Mahisa Agni pula,
“Ken Dedes, kembalilah ke pendapa. Bukankah kau tidak datang sendiri ke padepokan ini? Para prajurit pasti sudah menunggumu. Mereka pasti bertanya-tanya apa saja yang dipercakapkan oleh Ken Dedes dan Mahisa Agni selama ini.”
Ken Dedes mengusap air matanya dengan ujung kainnya Kemudian gadis itu mengangguk kecil sambil berkata, “Ya kakang.”
“Kau sekarang bukan Ken Dedes yang dahulu. Bukan lagi puteri Empu Purwa, seorang pendeta yang tinggal di padepokan kecil di Panawijen. Tetapi kau sekarang adalah seorang calon permaisuri. Kau harus bersikap lain dan bertingkah laku lain. Sebab ternyata meskipun kau telah berpakaian seindah itu, dikawal oleh sejumlah prajurit, namun kau masih saja suka menangis.”
“Ah,“ desah Ken Dedes.
Tetapi Mahisa Agni berkata terus untuk memecahkan ketegangan yang selama ini menghimpit hatinya, “Kau tidak dapat bersikap demikian terhadap Akuwu Tunggul Ametung nanti. Kau dapat menangis, merengek terhadap kakakmu, tetapi tidak terhadap suamimu. Suamimu akan bersedih melihat kau menangis. Kalau ia sedang dirisaukan oleh pekerjaannya sebagai seorang Akuwu maka mungkin sekali akalnya akan buntu. Tetapi hatinya akan segar apabila ia selalu melihat kau tertawa. Wajah yang cerah bagi seorang suami jauh lebih berharga dari apapun juga.”
“Ah,“ sekali lagi Ken Dedes berdesah.
“Sekarang kembalilah ke pendapa. Aku akan segera menyusul.”
“Apakah kau akan lari lagi kakang?” bertanya Ken Dedes tiba-tiba.
Kali ini Mahisa Agni tersenyum. Ia mencoba untuk melenyapkan segala macam perasaan yang sebenarnya masih bersilang tindih di hatinya. Katanya, “Jangan takut Ken Dedes, aku tidak akan lari kali ini. Aku hanya akan mempersiapkan hidangan yang pantas untuk tamu-tamu kita.”
“Para endang telah melakukannya dengan baik kakang.”
“Oh, baiklah,“ sahut Mahisa Agni, “tetapi pergilah dahulu ke pendapa.”
Ken Dedes tidak membantah. perlahan-lahan ia bangkit dan membenahi pakaiannya yang agak kusut. Kemudian ia pun pergi meninggalkan Mahisa Agni ke pendapa. Mahisa Agni pun kemudian berdiri pula. Sepeninggal Ken Dedes, kembali wajahnya menjadi suram. Tetapi kali ini ia tidak lagi berniat ingkar,
“Aku akan segera menyelesaikan saja persoalan ini, supaya aku tidak selalu terganggu. Pekerjaanku masih banyak dan memerlukan waktu yang cukup panjang.”
Ketika Mahisa Agni kemudian pergi ke halaman belakang untuk mencuci mukanya yang serasa menjadi panas, tiba-tiba ia mendengar suara tertawa di sudut halamannya. Ketika ia berpaling dilihatnya Kebo Ijo duduk diatas rumput-rumput kering bersama seorang perwira lainnya. Mahisa Agni menarik nafas panjang. Ternyata kemudian ia melihat beberapa orang prajurit yang lain berdiri berjaga-jaga di sudut-sudut yang lain.
“Hem,“ desahnya, “rumah ini seperti istana seorang bangsawan yang memerlukan penjagaan demikian kuatnya,“ Tetapi kemudian disadarinya, bahwa yang kini berada di dalam rumah itu, justru orang kedua sesudah Akuwu Tunggul Ametung sendiri. Seorang gadis yang bakal menjadi permaisurinya.
Sekali lagi Mahisa Agni berpaling ke arah Kebo Ijo ketika ia masih saja mendengar anak muda itu tertawa. Bahkan kemudian ia bertanya kepada Mahisa Agni, “He Mahisa Agni. Rupa-rupanya nasibmu memang terlampau baik. Untunglah bakal iparmu yang bernama Wiraprana itu mati, sehingga kau akan mendapat ipar seorang Akuwu yang bernama Tunggul Ametung.”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Ia melihat perwira yang seorang lagi itu pun memandangi wajah Kebo Ijo dengan herannya.
“Bukankah begitu Mahisa Agni?”
Betapa perasaan Mahisa Agni bergetar, namun ia menganggukkan kepalanya sambil menjawab, “Ya Kebo Ijo.” Kebo Ijo menjadi kecewa mendengar jawaban itu. Ternyata Mahisa Agni menurut tangkapannya tidak menjadi jengkel. Karena itu maka justru ia terdiam. Apalagi ketika Mahisa Agni kemudian berkata, “Kalau tidak terjadi demikian, maka kau tidak akan sudi berkunjung kemari, meskipun kali ini kau datang bukan atas kehendakmu sendiri.”
Kebo Ijo menggigit bibinya. Tetapi ia tidak menjawab. Ditatapnya saja Mahisa Agni yang pergi ke pakiwan dengan mata yang merah.
Ketika Mahisa Agni sudah tidak tampak lagi, maka Kebo Ijo itu bergumam, “Anak itu akan menjadi semakin sombong dan besar kepala apabila nanti adiknya menjadi seorang permaisuri.”
Perwira yang duduk di samping Kebo Ijo tidak menjawab. Tetapi menurut kesannya, Mahisa Agni sama sekali bukan anak muda yang sombong.
Dalam pada itu, para endang di pendapa telah hampir menjadi pingsan. Mereka duduk kaku tanpa berani menggerakkan ujung jarinya sekalipun. Mereka duduk dalam kebingungan. Hanya sekali hitam matanya saja yang bergerak-gerak. Ketika mereka melihat Ken Dedes keluar dari pendapa, maka hampir berbareng menarik nafas dalam-dalam. Tetapi kembali mereka menjadi tegang ketika mereka melihat Witantra, Sidatta dan Mahendra membungkukkan kepalanya dalam-dalam.
Ken Dedes kemudian duduk kembali di tempatnya. Meskipun ia tersenyum, namun setiap orang yang melihatnya, dapat mengetahuinya, bahwa ia baru saja menangis. “Kakang,” berkata Ken Dedes, “kakang kini dapat beristirahat. Besok kita akan kembali ke Tumapel.”
Witantra mengangguk dalam-dalam sambil menjawab, “Hamba tuan puteri. Tetapi apakah kakanda tuan puteri akan beserta kita?”
“Ya.”
Sekali lagi Witantra mengangguk. Kemudian katanya, “Kami mohon diri untuk beristirahat tuan puteri.”
“Silahkan kakang.”
Witantra, Sidatta dan Mahendra pun kemudian turun dari pendapa. Mereka berjalan perlahan-lahan ke gandok kanan, tempat yang telah disediakan untuk mereka. Sedang para prajurit yang bertugas, masih juga berdiri dengan senjata di tangan.
Kini para endang pun saling berpandangan. Para perwira itu tampaknya sama sekali tidak menjadi lelah, pening atau pun gelisah selama mereka duduk diam di pendapa. Para endang itu tidak dapat membayangkan, bahwa dalam pasewakan-pasewakan yang sebenarnya di istana Tumapel, maka para prajurit, para pimpinan pemerintahan harus duduk lebih lama lagi untuk memperbincangkan berbagai masalah yang penting. Tetapi bagi para endang itu, yang tidak pernah mengalami peristiwa-peristiwa semacam itu, merasa seolah-olah duduk diatas bara api. Kini satu-satunya harapan mereka di dalam hati adalah, meninggalkan pendapa itu secepatnya.
Ketika Ken Dedes tidak juga bangkit, maka salah seorang endang yang tidak lagi dapat menahan diri bertanya terbata-bata, “Ken Dedes, sampai kapan kita akan duduk disini? Bukankah para prajurit itu telah pergi, dan kau dapat meninggalkan tempatmu pula?”
Ken Dedes berpaling. Tiba-tiba ia tersenyum melihat wajah para endang yang tegang, “Kenapa kalian menjadi seolah-olah kebingungan?”
“Kami hampir pingsan Ken Dedes,“ sahut endang yang lain.
Ken Dedes tidak dapat menahan tawanya. Katanya, “Biasakan dirimu duduk tenang. Mungkin akan berguna bagi saat-saat mendatang.”
“Apakah kalau kau menjadi seorang permaisuri kami harus duduk sedemikian lamanya?”
“Kalau kalian berada di istana, maka kalian harus duduk bersimpuh lebih lama lagi dari pada kali ini.”
“Lebih baik aku tinggal di padepokan. Aku tidak akan terikat berbagai peraturan yang mengurangi kebebasanku,“ gerutu seorang endang yang masih sangat muda.
Ken Dedes tersenyum. Tetapi terasa sesuatu berdesir di dalam dadanya. Endang itu lebih senang tinggal di padepokan. Istana baginya adalah perlambang dari suatu lingkungan yang akan mengikatnya dengan berbagai aturan yang menjemukan.
“Marilah, kita meninggalkan pula tempat ini. Di istana, para prajurit dan para pemimpin pemerintah baru dapat meninggalkan pendapa apabila Akuwu telah masuk ke dalam istana. Tetapi aku tidak perlu berbuat demikian di istana terhadap para prajurit.”
Para endang itu pun kemudian berdiri dengan serta-merta. Mereka tidak menunggu Ken Dedes berdiri lebih dahulu. Bahkan ada diantara mereka yang dengan tanpa segan-segan berdiri dihadapan Ken Dedes sambil mengibas-ngibaskan kakinya yang semutan. Namun Ken Dedes menyadari, bahwa mereka belum mengenal tata-cara istana yang sebenarnya harus dilakukan.
Hari itu bagi Ken Dedes terasa terlampau lama. Dengan tegangnya ia menunggu matahari terbenam. Namun malam yang kemudian turun dengan malasnya terasa bertambah-tambah panjang pula. Ketika ia terbangun, maka yang terdengar adalah bunyi kentongan dara-muluk.
“Aku merasa telah terlampau lama tidur, tetapi ternyata baru tengah malam,“ desisnya. Gadis itu seolah-olah tidak sabar lagi menunggu esok. “Jangan-angan kakang Mahisa Agni malam ini mengambil keputusan lain dan pergi meninggalkan padepokan.”
Tetapi akhirnya fajar pecah di timur. Para prajurit pun segera berkemas-kemas. Pagi itu mereka akan meninggalkan Panawijen kembali ke Tumapel bersama Mahisa Agni. Orang-orang Panawijen yang meskipun hanya sejenak telah sempat bertemu dengan Ken Dedes, pagi itu berdiri di sepanjang jalan melihat iring-iringan yang mengantarkan Ken Dedes kembali ke Tumapel. Seperti pada saat datang, Ken Dedes kali ini pun mengenakan pakaian kebesarannya. Pakaian dalam warna-warna yang cemerlang, sehingga perempuan-perempuan, gadis-gadis kawannya bermain-main, memandanginya dengan mulut ternganga.
“Gadis itu benar-benar cantik,“ gumam seorang perempuan tua.
Tetapi seorang gadis yang menjadi iri berkata, “Yang cantik adalah pakaiannya, bukan orangnya.”
Iring-iringan itu pun kemudian berjalan perlahan-lahan meninggalkan Panawijen, diantar lambaian tangan orang-orang Panawijen yang menyaksikannya. Tetapi ketika iring-iringan itu telah sampai di bulak yang kering, maka tanpa mereka sadari, beberapa pasang mata yang tajam, setajam mata burung hantu mengawasi dengan penuh dendam dan benci. Tetapi orang-orang yang sambil bersembunyi-sembunyi mengintai iring-iringan itu tidak dapat berada di tempat yang terlampau dekat, sehingga mereka tidak dapat melihat dengan jelas, siapa-siapa saja yang berada di dalam iring-iringan itu.
Mereka itu adalah Empu Sada dan kedua muridnya yang terdekat, Kuda Sempana yang pernah menjadi seorang hamba istana dan orang yang menamakan dirinya Bahu Reksa Kali Elo, yang menurut pengakuannya adalah seorang pedagang keliling.
“Kita tidak dapat mengulangi kesalahan kita,“ gumam Empu Sada. Kedua muridnya mengangguk-anggukkan kepalanya. “Panji yang kurus itu pasti masih selalu mengawasi mereka,“ sambungnya. Kembali kedua muridnya menganggukkan kepalanya.
Kini untuk sejenak mereka berdiam diri. Mereka mencoba untuk mengenal orang-orang di dalam iring-iringan itu. Tetapi jarak mereka terlampau jauh. Karena itu maka mereka tidak melihat bahwa Mahisa Agni berada di dalam barisan itu.
“Guru,“ berkata Kuda Sempana kemudian, “apakah guru benar-benar ingin berhubungan dengan paman Kebo Sindet dan paman Wong Sarimpat?”
Empu Sada tidak segera menjawab. Sebenarnya ia sendiri sampai saat itu masih diliputi oleh keragu-raguan. Ia tahu benar bahwa Kebo Sindet dan Wong Sarimpat adalah orang-orang yang tidak mengenal tata tertib pergaulan. Mereka ingin berbuat apa saja yang dikehendakinya, sehingga mereka sampai saat ini menjadi orang-orang yang sama sekali tidak disukai, baik oleh rakyat Tumapel maupun oleh pimpinan pemerintahan.
“Bagaimana guru,“ desak Kuda Sempana.
Empu Sada masih memandangi iring-iringan yang meninggalkan debu yang putih mengepul ke udara.
“Kuda Sempana,“ terdengar suara Empu Sada tiba-tiba menjadi berat, “apakah kau masih inginkan gadis itu?”
Pertanyaan itu benar-benar menggetarkan dada Kuda Sempana. Terasa nada pertanyaan gurunya seolah-olah tidak lagi mengandung gairah perjuangan. Bahkan seolah-olah nada pertanyaan itu melemahkan semangatnya. Karena itu, maka Kuda Sempana ingin menunjukkan bahwa tekad di dalam dadanya telah bulat. Katanya,
“Tentu guru. Kalau aku tidak berhasil, maka sudah aku katakan, bahwa aku akan menghancurkannya. Semua orang yang menghalang-halangi kehendakku ini akan aku anggap telah berbuat salah dan harus dihancur-lumatkan.”
Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Kemudian desahnya, “Kau terlalu berkeras hati. Bukankah kau telah melihat, bahwa di sekitar Ken Dedes berdiri para prajurit pengawal istana.”
“Apakah guru dapat digetarkan hanya oleh Witantra.”
“Tak ada orang yang dapat menggetarkan hatiku Kuda Sempana,” sahut gurunya, “tetapi marilah kita perhitungkan kekuatan yang ada. Witantra tidak berdiri sendiri. Bukankah kau telah mengenal gurunya, Panji Bojong Santi? Sedang Mahisa Agni pun kini mendapat kawan baru yang katanya adalah pamannya, Empu Gandring, tukang keris itu.”
“Karena itu guru dapat berhubungan dengan Wong Sarimpat dan Kebo Sindet,“ sahut Kuda Sempana pula.
Gurunya kembali terdiam. Ia melihat kekerasan hati muridnya. Tetapi sebagai seorang yang telah berumur lanjut, maka hatinya jauh lebih mengendap dari Kuda Sempana, sehingga Empu Sada itu mampu melihat kemungkinan-kemungkinan yang dihadapinya. Katanya,
“Kuda Sempana, pekerjaan ini terlampau berat.”
“Guru, aku tidak akan menyentuh apa saja yang dimiliki oleh Ken Dedes. Perhiasan, pakaian dan kekayaannya. Aku hanya memerlukan orangnya.”
Orang yang menamakan dirinya Bahu Reksa Kali Elo itu menelan ludahnya. Kekayaan itu pasti berlimpah-limpah. Tetapi di dalam dirinya tersembunyi pula pengertian bahwa merebut Ken Dedes akan sama sulitnya dengan merebut tahta Akuwu Tunggul Ametung. Karena itu, maka ia sama sekali tidak mengemukakan lagi pendapatnya.
“Kuda Sempana,“ berkata Empu Sada, “kau tahu bahwa merebut Ken Dedes kini tidak semudah pada saat ia masih berada di Panawijen. Ia kini berada dalam istana yang mempunyai prajurit yang tidak saja cukup banyak, dan mereka adalah prajurit-prajurit yang tangguh.”
Kuda Sempana telah mengenal pula keadaan istana Tumapel dengan baik. Ia tahu benar, bahwa ia tidak akan mendapat kemungkinan untuk merebut Ken Dedes dalam keadaannya kini. Karena itu, maka sekali lagi ia berkata,
“Guru, sekali lagi aku ingin bertanya bagaimana dengan paman Kebo Sindet dan Wong Sarimpat?”
“Kau belum mengenal mereka sebaik aku mengenal Kuda Sempana. Mereka adalah orang-orang yang dapat disebut orang-orang liar. Orang-orang yang berada diluar lingkungan masyarakat yang beradab. Mereka adalah orang-orang buruan.”
Empu Sada terkejut ketika ia mendengar jawaban Kuda Sempana yang tidak disangka-sangkanya, “Kita pun orang-orang buruan guru.”
“He?”
“Kita sudah mulai. Apalagi aku. Guru pun telah melakukan perlawanan atas Witantra yang membawa kekuasaan Tunggul Ametung di hutan didekat padang Karautan.”
Wajah Empu Sada menjadi berkerut-kerut. Kata-kata Kuda Sempana itu benar. Ia telah terdorong pula ke dalam suatu keadaan yang sulit. Apabila Witantra nanti sampai di Tumapel, dan Akuwu mendengar laporannya tentang dirinya, maka Empu Sada dan murid-muridnya adalah orang-orang buruan seperti Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Sejenak Empu Sada berdiam diri. Direnungkannya dirinya dan apa saja yang telah dilakukannya. Tetapi bagaimanapun juga ia masih melihat perbedaan yang tajam antara dirinya dan kedua orang-orang liar itu. Bahkan apabila ia dapat menarik dirinya kembali, ia masih belum terjerumus terlampau jauh.
Tetapi muridnya yang bernama Kuda Sempana itu agaknya benar-benar telah berkeras hati. Ketika ia melihat gurunya ragu-ragu maka katanya, “Guru. Kita sudah terjun ke tengah-tengah sungai. Terus atau kembali, kita sudah terlanjur basah kuyup.”
Sekali lagi Empu Sada menarik nafas. Katanya masih dalam nada yang rendah, “Kuda Sempana, kau pernah menjadi seorang hamba Tunggul Ametung. Apa kau sangka kita meskipun bersama dengan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat, mampu mengalahkannya?”
“Aku sama sekali tidak ingin merebut kedudukan Tunggul Ametung, guru.”
“Menginginkan seorang permaisuri akan sama artinya dengan menginginkan kedudukannya.”
“Tidak. Kalau aku sudah mendapatkan Ken Dedes, aku akan pergi jauh sekali keluar Tumapel, bahkan mungkin keluar Kediri.”
“Alangkah bodohnya kau,“ gurunya menggerutu, “kau sendiri pernah menjadi pelayan dalam. Kau sangka bahwa merebut Ken Dedes tidak berarti perang melawan Tunggul Ametung. Meskipun kau tidak menginginkan kedudukannya, tetapi perang itu sudah terjadi.”
Kuda Sempana terdiam. Hatinya gelap telah menutup segenap kemauannya untuk berpikir. Tetapi kali ini ia mendengar kata-kata gurunya. Dan kata-kata itu mampu menyelusup ke dalam hatinya yang gelap.
Tetapi meskipun demikian ia menjawab, “Guru, bukan maksudku untuk berbuat demikian. Bagaimana kalau gadis itu diculik?”
“Pekerjaan itu pun bukan pekerjaan yang mudah Kuda Sempana.”
Kembali Kuda Sempana terdiam. Namun gejolak di dalam dadanya sama sekali tidak mereda. Ketika ia mengangkat wajahnya, ia melihat ekor dari iring-iringan itu sudah menjadi semakin jauh, dan hampir lenyap ditikungan. Yang tampak kemudian hanyalah tanaman-tanaman yang kering kekuning-kuningan.
“Persetan dengan bencana yang menimpa Panawijen,“ tiba-tiba Kuda Sempana menggeram.
Dendamnya kepada Panawijen manjadi semakin memuncak. Panawijen tempat ia dilahirkan, tempat ia dibesarkan dan tempat orang tuanya bergelut dengan hidup keluarganya, sama sekali tidak menarik perhatiannya. Bahkan baginya Panawijen adalah mereka yang telah membakarnya selama ini. Apalagi anak muda yang bernama Mahisa Agni, benar-benar telah menyalakan segala macam kebencian di dalam dadanya.
Dalam pada itu, tiba-tiba Kuda Sempana itu bergumam, “Guru, bagaimanapun juga, sebaiknya kita coba. Berhasil atau tidak berhasil, sebaiknya guru menghubungi Wong Sarimpat dan Kebo Sindet. Kalau aku tidak berhasil mendapatkan Ken Dedes, maka aku akan membuat pembalasan dengan caraku. Menghancurkan bendungan yang sedang dibangun, menangkap dan membunuh Mahisa Agni sehingga akibatnya pasti akan menyiksa perasaan Ken Dedes. Biarlah hatinya tersiksa seperti hatiku.”
Empu Sada mengangguk-anggukkan kepalanya. Kalau hanya itu yang dikehendaki dan dapat memberinya kepuasan, maka kiranya tidak terlalu sulit untuk dilakukannya. Karena itu maka jawabnya,
“Kuda Sempana, mungkin kita akan dapat berbuat demikian. Memecah rencana yang tengah dibuat oleh Mahisa Agni itu, bahkan membinasakan. Tetapi seterusnya, untuk mendapatkan Ken Dedes adalah terlampau sulit bagimu kini.”
“Mahisa Agni adalah sumber dari kegagalan itu guru.”
Empu Sada mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi sejenak kemudian ia menjadi berbimbang hati. Kalau ia melakukan perbuatan itu, apakah keuntungan yang didapatkannya, selain diburu dan di kejar-kejar oleh Akuwu Tunggul Ametung? Tetapi dalam pada itu kini menyelusup perasaan lain pula di dalam dadanya, Empu Sada itu sendiri tidak mengetahuinya, kenapa tiba-tiba ia ingin membela muridnya dengan kemauan yang berbeda dari saat-saat lampaunya. Pada masa-masa yang lampau, setiap perbuatannya pasti diperhitungkannya, upah apakah yang akan diterima dari muridnya yang dibantunya. Tetapi setelah ia melihat beberapa perguruan lain, melihat bagaimana sikap Panji Bojong Santi terhadap muridnya, maka pendirian itu tanpa dikehendakinya sendiri telah bergeser pula karena harga dirinya yang tampil ke depan. Empu Sada tidak mau perguruannya menjadi bahan ejekan dari perguruan-perguruan lain karena setiap usaha dan kemauan murid-muridnya selalu tidak pernah terpenuhi.
Tetapi Empu Sada itu terkejut ketika tiba-tiba muridnya berkata, “Kalau demikian, mengapa tidak malam ini saja kita menghancurkan rencana Mahisa Agni dan menangkapnya?”
“Sudah aku katakan,“ sahut gurunya, “di samping Mahisa Agni kini ada pamannya Empu Gandring. karena itu kita tidak boleh terlampau tergesa-gesa.”
Namun terasa Kuda Sempana tidak bersabar lagi. Tetapi ketika ia ingin menyatakan perasaannya itu, terdengar orang yang menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo berkata, “Aku mempunyai cara yang baik untuk menyiksa perasaan Mahisa Agni.”
OBJEK WISATA MANCA NEGARA


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar