MENU

Ads

Jumat, 27 Februari 2026

Pelangi di Langit Singasari 090

Kuda Sempana dan Empu Sada itu pun berpaling kepadanya. Hampir bersamaan mereka berkata, “Apakah cara itu?”

“Kita biarkan Mahisa Agni membuat bendungan itu sampai saat hampir selesai. Nah, ketika mereka merasa bahwa mereka pasti akan menikmati hasil usahanya itu, maka bendungan itu kita pecahkan. Kita hanyutkan Mahisa Agni di dalam arusnya yang keras.”

Kuda Sempana mengerutkan keningnya. Kemudian jawabnya, “Terlampau lama. Berapa bulan lagi hal itu terjadi?”

“Tetapi peristiwa itu akan menyenangkan sekali. Bukan saja Mahisa Agni, alangkah kecewanya orang-orang Panawijen yang lain. Kalau bendungan itu kau rusakkan sekarang, maka kerugian mereka tidak seberapa banyaknya. Dalam pada itu, guru masih mempunyai kesempatan untuk bertemu dengan paman Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.”

Kuda Sempana terdiam sesaat. Tetapi katanya kemudian, “Aku sependapat, tetapi kita tidak perlu menunggu bendungan itu selesai. Aku tidak ingin pembalasan ini datang terlampau lama.”

Empu Sada pun mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Pendapat muridnya yang seorang itu memang menyenangkan sekali. Sebagai suatu cara untuk melepaskan sakit hati, maka cara itu pasti akan mencapai maksudnya. Bahkan Empu Sada itu menyambung,

“Pendapat itu baik sekali. Kalau Mahisa Agni dapat ditangkap, maka jangan tergesa-gesa dimasukkan ke dalam arus air. Berilah kesempatan kepadanya melihat bendungan yang telah dikerjakannya itu pecah. Beri kesempatan ia menjadi kecewa. Sangat kecewa. Biarlah ia melihat parit-parit yang sudah digalinya menjadi kering kembali. Dengan demikian ia dapat membayangkan, penduduk Panawijen segera akan ditimpa bencana. Bahkan seandainya Mahisa Agni tidak dibunuh sekalipun, maka siksaan yang akan dialaminya akan jauh lebih sakit dari pada sakit hatimu Kuda Sempana.”

“Tidak guru,“ sahut Kuda Sempana tiba, “tidak ada sakit hati yang melampaui sakit hatiku.”

“Ya, ya,“ jawab Empu Sada cepat-cepat, “aku tahu. Maksudku, pembalasan itu akan cukup memadai dengan perbuatannya.”

Kuda Sempana terdiam sejenak. Kini mereka sudah tidak melihat lagi iringan yang mengantarkan Ken Dedes kembali ke Tumapel.

“Sekarang bagaimana?” bertanya orang yang menyebut dirinya Bahu Reksa Kali Elo.

“Sudah tentu kita tidak akan dapat pulang ke rumah, ke padepokanku. Kalau sakit hati Witantra belum sembuh benar, ia pasti akan datang mencoba menangkapku,“ berkata Empu Sada, “tetapi aku kira anak itu tidak akan membuat sesuatu kerusakan. Biar sajalah para cantrik menerima kedatangannya. Kini kita akan pergi ke Kemundungan, memberitihukan kepada setiap murid-murid yang ada, supaya mereka menghindari benturan-benturan dengan orang-orang Witantra. Lebih baik mereka menyingkir untuk sementara.”

Orang yang menyebut dirinya Bahu Reksa Kali Elo itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Beberapa orang itu memang harus disingkirkan pula. Tetapi dengan demikian, mereka harus membuat tempat penampungan bagi mereka. Namun saudara-saudara seperguruan yang lain pasti akan bersedia membantu mereka.

“Setelah itu,“ berkata Empu Sada seterusnya, “kita mencari Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Mungkin kita akan dapat menemaninya di Sempadan. Setidak-tidaknya salah seorang dari mereka.”

“Apakah kita tidak melihat bendungan itu guru? Supaya kita dapat menentukan kapan kita akan datang kembali?” bertanya Kuda Sempana.

“Kau terlalu bernafsu Kuda Sempana,“ sahut gurunya, “kita harus berlomba dengan Witantra. Kita harus lebih dahulu sampai di Kemundungan. Biarlah mereka yang membuat bendungan itu sekarang tidak terganggu, supaya mereka tidak menyiapkan dirinya menghadapi kehadiran kita kelak. Tidak sampai sebulan kita akan kembali membawa orang-orang yang cukup banyak untuk menghancurkan bendungan dan apabila perlu, serta mereka yang mengadakan perlawanan. Adalah lebih baik kalau Empu Gandring sudah meninggalkan tempat itu dan Empu Purwa tidak lagi berkeliaran. Apalagi Panji yang kurus itu.”

Kuda Sempana kali ini terpaksa menurut kehendak gurunya. Mereka kemudian meninggalkan telatah Panawijen tanpa berbuat sesuatu untuk dengan tergesa-gesa pergi ke Kemundungan. Namun di sepanjang jalan, kepala Kuda Sempana selalu dipenuhi oleh gambaran-gambaran tentang pembalasan sakit hati yang akan dilakukan. Namun bagaimanapun juga, gambaran tentang Ken Dedes tidak juga dapat lenyap dari kepalanya.

Sementara itu iringan yang membawa Ken Dedes semakin lama menjadi semakin jauh meninggalkan Panawijen. Terasa matahari di langit semakin panas menyengat kulit mereka. Seperti pada saat mereka berangkat, maka mereka memilih jalan di sepanjang hutan daripada menyeberang padang rumput Karautan untuk menghindari panas yang tak tertahankan dipadang itu. Lebih-lebih bagi seorang gadis seperti Ken Dedes.

Apabila mereka berkuda cepat-cepat, maka masih juga terasa silirnya angin karena kecepatan perjalanannya. Tetapi berjalan kaki dipadang itu, adalah pekerjaan yang tidak menyenangkan. Berdasarkan pengalaman mereka, pada saat mereka berangkat, maka dalam perjalanan kembali itu mereka selalu diliputi oleh kewaspadaan yang setinggi-tingginya. Bahaya setiap saat dapat mengancam, bahkan mungkin menjadi lebih berat daripada saat mereka berangkat.

Tetapi seandainya mereka tahu, bahwa dalam saat yang bersamaan Kuda Sempana dan gurunya sedang berjalan menuju ke Kemundungan, maka mereka pasti tidak akan setegang itu. Bahkan mungkin mereka sempat berkelakar di sepanjang jalan. Namun kali ini perjalanan itu seolah-olah diselubungi oleh kecemasan dan kekhawatiran sehingga hampir tidak terdengar suara mereka bercakap-cakap. Kecuali sekali dua kali terdengar suara tawa Kebo Ijo yang berjalan agak di muka tandu.



Tidak seperti pada saat mereka berangkat, maka dalam perjalanan kembali ini, mereka tidak memerlukan bermalam di perjalanan. Seakan-akan mereka demikian ingin melihat kota Tumapel kembali. Meskipun hari telah malam, namun mereka meneruskan perjalanan. Mereka tidak takut kalau mereka akan jatuh terjerumus karena kaki-kaki mereka terantuk batang-batang yang roboh atau tersangkut sulur-sulur pepohonan, sebab ketika itu, mereka telah meninggalkan hutan di sepanjang tepi padang Karautan yang panas.

Kehadiran mereka di kota, hampir di tengah malam buta, mengejutkan para peronda. Tetapi Witantra yang berjalan di muka, selalu mencoba mencegah mereka membuat keributan.

“Jangan ribut. Biarlah mereka yang tidur tidak terganggu. Mereka tidak perlu melihat iring-iringan ini, sebab mereka telah melihat pada saat kami berangkat,“ berkata Witantra kepada para peronda.

Meskipun demikian, ada juga diantara mereka yang sempat membangunkan anak isterinya, dan membawa mereka ke tepi jalan raya untuk menyambut iringan bakal permaisuri. Bahkan iring-iringan itu tampak lebih megah lagi dibawah cahaya beberapa buah obor yang menyala berkobar-kobar.

Tetapi para prajurit Tumapel yang lelah itu sama sekali tidak lagi sempat memperhatikan orang-orang yang berdiri di pinggir jalan. terkantuk-kantuk mereka berjalan dengan langkah yang panjang-panjang supaya mereka segera dapat beristirahat.

Di dalam tandu, Ken Dedes sekali-sekali tersandar dengan mata terpejam. Kadang-kadang ia kehilangan kesadaran karena kantuknya yang mencengkam. Tetapi apabila tandunya tergoyang karena para pemanggulnya bergantian, Ken Dedes itu kembali mencoba membelalakkan matanya. Terasa pula bahwa badannya menjadi semakin penat.

“Hem,“ desahnya di dalam hati, “apalagi mereka yang berjalan kaki. Lebih-lebih yang harus memanggul tandu ini.”

Di belakang ada pula prajurit yang berjalan tersuruk-suruk. Hampir tidak lagi ia kuat menarik kakinya. Tombaknya terayun-ayun bukan karena lawan berdiri dihadapannya. Tetapi tangannya telah terlampau letih memegang senjata itu. keringat di telapak tangannya telah membuat landean tombaknya menjadi licin. Ternyata bahwa rasa kantuk mereka jauh lebih mengganggu dari perasaan lelah, meskipun keduanya saling mempengaruhi. Mereka menjadi sangat kantuk karena lelah.

Ketika iring-iringan itu kemudian memasuki alun-alun, dan kemudian terpaksa berhenti di muka regol untuk menanti sejenak para penjaga membuka palang pintu yang besar, maka beberapa orang diantara mereka dengan serta menjatuhkan dirinya duduk bersandar pada dinding halaman istana.

“He,“ terdengar suara Kebo Ijo perlahan-lahan, “apakah kalian tidak lagi mampu berdiri?”

Seorang prajurit yang bertubuh tinggi, berdada bidang dan berkumis tebal menjawab, “Lebih baik aku pergi bertempur malam ini, daripada disiksa oleh perasaan lelah dan kantuk.”

Kebo Ijo tertawa. Katanya, “Kalau kau bertempur saat ini, maka perutmu pasti akan segera berlubang karena kau tidak lagi dapat melihat ujung senjata lawanmu.”

Prajurit yang berkumis itu tidak menjawab. Bahkan dipejamkannya matanya sambil menguap. Katanya, “Hem, alangkah segarnya duduk sambil terkantuk-kantuk dibawah pohon beringin setelah hampir sehari penuh berjalan menyusur daerah yang kering kerontang.”

“Apakah kau mimpi?” bertanya Kebo Ijo, “bukankah kita baru saja meninggalkan daerah yang hijau segar. Bukankah Panawijen daerah yang paling subur dari pada daerah Tumapel?”

“Hu,“ prajurit itu mencibirkan bibirnya. Tetapi matanya masih terpejam, “daerah itu adalah daerah mati. Aku heran, kenapa di daerah itu masih juga ada penghuninya?”

Mahisa Agni yang mendengar percakapan itu mengerutkan keningnya. Ketika ia berpaling dilihatnya Kebo Ijo memandanginya pula sambil tersenyum. Bahkan kemudian ia berkata kepada prajurit yang terkantuk-kantuk itu,

“Kini baru dibuat sebuah bendungan untuk mengairi padukuhan itu supaya menjadi bertambah subur.”

“Alangkah bodohnya,“ sahut prajurit itu antara sadar dan tiada, “lebih baik menjadi pekatik di kota dari pada membuat bendungan.”

Terdengar Kebo Ijo tertawa terbahak-bahak sambil memandangi wajah Mahisa Agni yang berkerut-kerut, sehingga beberapa orang berpaling ke arahnya. Witantra yang berdiri di muka regol. untuk menunggu para penjaga membuka palang pintu pun berpaling pula.

Namun tiba-tiba suara tertawa Kebo Ijo itu terputus. Semula memang ada maksud Mahisa Agni untuk menjawab kata-kata itu, sebab ia merasa benar bahwa kelakar itu sengaja dilontarkan oleh Kebo Ijo untuk menyindirnya. Tetapi ia menjadi ragu-ragu. Karena itu, maka Mahisa Agni itu pun menggigit bibirnya, seolah-olah ia ingin menahan agar mulutnya tidak melontarkan kata-kata.

Tetapi yang terdengar kemudian adalah suara halus dari dalam tandu, “Kau benar Kebo Ijo. Karena itu aku pun mengungsi ke kota.”

Bukan saja Kebo Ijo. Bahkan prajurit yang terkantuk-kantuk itu pun tersentak seperti disengat lebah. Sejenak ia mencoba menyadari apa yang terjadi. Tetapi ketika ia yakin bahwa kata-katanya telah terdorong terlampau jauh, dan bahwa yang didengarnya adalah suara puteri calon permaisuri itu, maka dengan serta merta ia meloncat. Tandu itu memang tidak terlampau jauh daripadanya. Dengan tubuh gemetar ia duduk bersimpuh di tanah sambil berkata,

“Ampun tuan puteri. Bukan maksud hamba mengatakan demikian, tetapi hamba seakan-akan terbius oleh pertanyaan-pertanyaan Kebo Ijo, sehingga jawaban hamba pun tidak lagi dapat hamba kendalikan.”

Ken Dedes tidak menjawab. Bahkan memandang wajah prajurit itu pun tidak. Dengan jarinya ia menunjuk gerbang yang telah terbuka sambil berkata kepada para pengusung tandunya,

“gerbang telah terbuka. Marilah.”

Tandu itu pun kemudian bergerak. Beberapa orang prajurit yang semula sama sekali tidak memperhatikan percakapan itu, percakapan antara Kebo Ijo dan prajurit berkumis itu pun terpaksa bertanya-tanya, apakah yang sudah dikatakannya. Tetapi para pengusung dan satu dua orang prajurit yang mendengarnya berkata di dalam hatinya,

“Salahmu, mulutmu terlampau lancang.”

Tetapi Ken Dedes tidak meletakkan kesalahan pada prajurit itu. Prajurit itu hanya sekedar ingin melepaskan perasaannya yang diganggu oleh lelah dan kantuk. Tetapi kejengkelannya ditumpahkannya kepada Kebo Ijo. Sejak di Panawijen sikap anak muda itu tidak menyenangkan hatinya. Tetapi ia tahu bahwa Kebo Ijo adalah orang terdekat dari Witantra di samping Mahendra yang sampai saat ini tidak juga mau menjadi seorang prajurit.

Ketika tandu itu kemudian berjalan, Witantra, Mahendra dan para perwira berdiri tegak di sisi pintu gerbang itu. Ketika tandu itu telah melampauinya, maka barulah mereka melangkah memasuki halaman. Namun sekali-sekali Witantra memalingkan wajahnya mencari Kebo Ijo. Ia ingin tahu, apa saja yang dipercakapkannya dengan prajurit yang duduk bersimpuh di samping tandu Ken Dedes.

Kesan Ken Dedes dan Mahisa Agni atas Kebo Ijo menjadi semakin kurang sedap. Anak itu benar-benar anak yang bengal dan bahkan kurang dapat mengendalikan dan mengetrapkan diri dalam suatu keadaan tertentu.

Tunggul Ametung yang telah tidur nyenyak di dalam biliknya terkejut ketika ia mendengar suara ribut diluar. Ia mendengar beberapa orang berjalan hilir mudik. Ia mendengar langkah mendekati pintu biliknya, tetapi kemudian berhenti dan kembali langkah itu menjauh.

“Bagaimana?” terdengar seseorang berbisik.

“Aku kira Akuwu tidak perlu dibangunkan,“ sahut yang lain.

“Apa begitu?” berkata suara yang pertama.

“Bukankah tidak ada soal yang perlu diselesaikan malam ini,“ terdengar suara kedua. “sebenarnya aku takut membangunkan Akuwu.”

Suara-suara itu pun kemudian terdiam. Namun kedua orang itu seakan-akan terlonjak ketika tiba-tiba saja mereka melihat Akuwu Tunggul Ametung sudah berdiri di muka pintu biliknya.

“Apakah yang kalian lakukan disini?” bertanya Akuwu Tunggul Ametung itu.

Kedua prajurit itu dengan serta-merta menjatuhkan dirinya dan seorang pelayan istana hampir terperosok di tangga ketika dengan tergesa-gesa ia bersimpuh.

“Ampun tuanku,“ sahut pelayan juru panebah itu, “hamba takut membangunkan tuanku ketika kedua prajurit ini memintanya.”

Dipandanginya wajah kedua prajurit yang tunduk itu. Yang seorang dari mereka adalah Sidatta.

“Apa perlunya kau menghadap malam-malam Sidatta?”

“Ampun tuanku,“ sahut Sidatta sambil membungkuk dalam-dalam, “hamba ingin menyampaikan berita kehadiran kembali tuan puteri Ken Dedes setelah tuan puteri mengunjungi Panawijen.”

“He,“ wajah Tunggul Ametung yang gelap itu tiba-tiba menjadi cerah, “Ken Dedes datang kembali?”

“Hamba tuanku.”

“Bagus,“ berkata Tunggul Ametung itu, “suruh ia menghadap.”

“Baik tuanku,“ jawab Sidatta, “tetapi tuan puteri lelah sekali. Sekarang tuan puteri sedang membersihkan diri di pakiwan dilayani oleh beberapa emban.”

Tunggul Ametung mengangguk-anggukkan kepalanya, katanya kemudian, “Baik, baik. Biarlah ia beristirahat. Besok pagi-pagi kalian harus menghadap bersama-sama. Apakah kalian datang bersama Mahisa Agni?”

“Hamba tuanku,“ jawab Sidatta.

“Baik. Baik,“ Tunggul Ametung itu mengangguk-angguk pula, “sekarang kalian boleh beristirahat. Ken Dedes boleh beristirahat pula. Besok pagi-pagi kalian harus datang menghadap. Tempatkan Mahisa Agni sebaik-baiknya. Biarkanlah tempat yang pantas. Ia adalah kakang Ken Dedes itu.”

“Hamba tuanku,“ sahut Sidatta.

Setelah mengangguk dalam-dalam, Sidatta itu pun kemudian mengundurkan dirinya membawa pesan Akuwu Tunggul Ametung kepada Ken Dedes, Mahisa Agni dan para prajurit. Mereka diperkenankan beristirahat, sedang para perwira besok pagi-pagi harus menghadap Akuwu Tunggul Ametung bersama dengan Ken Dedes. Sepeninggal Sidatta kembali Tunggul Ametung membaringkan dirinya. Tetapi kini matanya sudah tidak dapat dipejamkannya lagi. Terasa malam terlampau lamban baginya seakan-akan waktu berhenti beredar.

Namun akhirnya Akuwu Tunggul Ametung itu pun mendengar ayam jantan berkokok untuk ketiga kalinya. Perlahan-lahan ia bangkit dari pembaringannya, menggeliat dan kemudian melangkah keluar dari biliknya. Ia masih melihat pelita yang menyala di segala penjuru istananya. Ia masih melihat seorang pelayan duduk terkantuk-kantuk di tangga serambi belakang.

“He, siapa yang duduk di situ?” panggil Akuwu Tunggul Ametung.

Pelayan itu berjingkat. Dan dengan tergesa-gesa ia menyuruk merangkak-rangkak mendekati Akuwu Tunggul Ametung.

“Aku akan mandi,“ berkata Tunggul Ametung itu.

Pelayan itu heran. Hari masih terlampau pagi. Tetapi ia tidak berani bertanya. Terdengar jawabnya, “Hamba tuanku. Akan hamba sediakan untuk keperluan itu.”

Ketika kembali pelayan itu berjalan jongkok meninggalkan Akuwu Tunggul Ametung, terdengar Tunggul Ametung membentaknya, “Cepat, jangan bekerja seperti siput sakit-sakitan.”

Orang itu pun kemudian mempercepat geraknya, kemudian meloncat turun ke halaman dan berlari-lari kebelakang mengambil air hangat. Tetapi air itu baru saja diletakkan diatas api.

Ketika matahari muncul dari balik punggung-punggung bukit, maka para perwira telah siap di paseban dalam. Sebentar kemudian Ken Dedes pun telah hadir pula. Mereka menundukkan kepala-kepala mereka ketika Akuwu memasuki ruangan itu. Ternyata Akuwu Tunggul Ametung hampir tidak sabar untuk berbicara tentang dirinya sendiri ketika dilihatnya Mahisa Agni pun berada di dalam ruangan itu. Hampir tak ada yang dipersoalkannya dengan para perwira. Akuwu hanya bertanya tentang keselamatan mereka, perjalanan mereka dan sekedar berterima kasih. Kemudian katanya,

“Kalian pasti sangat lelah. Karena itu kalian tidak perlu terlampau lama duduk disini. Kalian aku perbolehkan segera meninggalkan tempat ini untuk beristirahat.”

Witantra menganggukkan kepalanya dalam-dalam. Sambil tersenyum ia berkata, “Terima kasih tuanku. Lain kali hamba akan menyampaikan ceritera tentang perjalanan ini lebih banyak lagi.”

“Baik. Baik,“ berkata Tunggul Ametung, “sampaikan lain kali.”

Witantra yang melihat kegembiraan yang membayang di wajah Akuwu Tunggul Ametung tidak sampai hati untuk mengganggunya dengan laporan-laporan yang dapat menggelisahkannya tentang Empu Sada dan Kuda Sempana. Karena itu disimpannya laporan itu untuk disampaikannya pada kesempatan yang lain. Sepeninggal mereka, maka kini Akuwu tinggal duduk bersama Ken Dedes, Mahisa Agni dan beberapa emban. Diantaranya adalah emban tua pemomong Ken Dedes yang dibawanya dari Panawijen.

Namun, menghadapi persoalan yang selama ini tersimpan di dalam dirinya, Akuwu Tunggul Ametung merasa canggung. Ia tidak tahu bagaimana ia harus memulainya. Sejenak mereka yang berada di dalam ruangan itu saling berdiam diri, sehingga ruangan itu menjadi sepi. Hanya tarikan nafas merekalah yang terdengar berkejar-kejaran. Sekali-sekali Akuwu mengedarkan pandangan matanya berkeliling. Dilihatnya Ken Dedes duduk bersimpuh sambil menekurkan kepalanya, emban tua di belakang dan kemudian Mahisa Agni dengan Wajah temungkul.

Tunggul Ametung itu menarik nafas dalam-dalam. Semua kemarahan kejengkelan dan hukuman yang pernah diberikannya kepada Mahisa Agni kini telah dilupakannya sama sekali. Yang berjejal-jejal di dalam dadanya kini adalah persoalannya sendiri. Akuwu Tunggul Ametung itu ingin mendapat kesan, setidak-tidaknya untuk meringankan perasaan sendiri, bahwa ia telah mengambil Ken Dedes menurut adat yang seharusnya. Meminang kepada keluarganya untuk mengambil anak gadisnya. Dan mendengar keluarganya atau salah seorang daripadanya dengan ikhlas memberikannya.

Tetapi bukan saja Akuwu Tunggul Ametung yang menjadi gelisah. Ken Dedes pun sebenarnya sejak menghadap selalu diliputi oleh kegelisahan pula. Ia ragu-ragu akan kakaknya. Apakah nanti yang akan dikatakan oleh Mahisa Agni? Apakah kakak angkatnya itu akan menjawab pertanyaan dan pernyataan Akuwu Tunggul Ametung seperti yang diharapkannya. Sekali-sekali Ken Dedes mencoba memandang wajah Mahisa Agni dengan sudut matanya. Namun ia sama sekali tidak mendapat kesan apapun dari wajah yang tertunduk itu.

Dalam pada itu Tunggul Ametung yang perkasa, Raja wali dalam setiap peperangan, yang selama ini selalu menuruti perasaan sendiri yang kadang-kadang meledak-ledak, tiba-tiba merasa bahwa seolah-olah mulutnya menjadi terbungkam. Namun setelah berjuang beberapa lama, setelah tubuhnya basah oleh keringat dingin yang mengalir dari segenap lubang kulitnya, barulah Akuwu yang perkasa itu berkata,

“Mahisa Agni. Apakah kau sudah tahu, apakah sebabnya aku memanggilmu?”

Jantung Mahisa Agni berdesir. Apakah yang harus dikatakannya? Kalau Akuwu itu akan melamar Ken Dedes, maka ialah yang harus datang kepadanya, bukan memanggilnya. Tetapi ketika ia sudah berhadapan dengan Tunggul Ametung di muka Ken Dedes itu sendiri, ia tidak sampai hati untuk mengatakannya. Ia tahu, hati Ken Dedes pasti akan hancur. Karena itu maka ia menjawab,

“Hamba tuanku. Hamba dapat mengira-ngirakan, apakah sebabnya maka tuanku memanggil hamba menghadap.”

“Bagus,“ sahut Tunggul Ametung, “nah, sekarang katakan, apakah keperluan itu?”

Kening Mahisa Agni menjadi berkerut-kerut. Ken Dedes pun terkejut mendengar kata-kata Tunggul Ametung itu. Bahkan kegelisahannya pun menjadi semakin mencengkam hatinya. Ketika sesaat Mahisa Agni belum menjawab, maka Akuwu itu pun berkata pula,

“Bukankah kau sudah tahu, apa sebabnya aku memanggilmu?”

Kini Mahisa Agni lah yang menarik nafas. Sambil membungkukkan kepalanya dalam-dalam ia menjawab, “Ampun tuanku. Hamba hanya dapat mengira-ngirakan. Tetapi kepastian dari persoalan ini ada pada tuanku. Karena itu, maka hamba tiada berani mendahului titah tuanku.”

Ken Dedes pun menarik nafas pula mendengar jawaban Mahisa Agni. Ternyata sampai sekian Mahisa Agni telah menunjukkan sikap dan kata-kata yang baik. Meskipun demikian, kegelisahan gadis itu masih saja mencengkamnya. Sejenak kembali mereka berdiam diri. Ken Dedes sekali masih berusaha untuk mendapat kesan dari wajah kakaknya, namun Mahisa Agni kini menjadi semakin tertunduk.

Pertanyaan Akuwu Tunggul Ametung itu benar-benar tidak menyenangkan Mahisa Agni. Ia merasa bahwa dalam hubungan ini ia sama sekali berada dalam keadaan yang sulit. Sulit karena perasaan sendiri yang bergolak, sulit karena kedudukan yang tidak seimbang dari pihak-pihak keduanya, sulit karena sikap Akuwu itu. Bahkan seandainya Ken Dedes itu adiknya sendiri, yang tanpa membekali persoalan-persoalan di dalam hatinya pun, ia merasa kecewa mendengar pertanyaan Tunggul Ametung itu. Seolah-olah menurut tanggapan Mahisa Agni, ia harus datang menawarkan gadis itu kepada Akuwu Tunggul Ametung.

Namun ketika kemudian sekilas Mahisa Agni melihat Tunggul Ametung itu mengusap keringat di wajahnya, serta duduknya yang tidak tenang, timbullah dugaannya yang lain. Mungkin Akuwu Tunggul Ametung menyimpan sesuatu di dalam hatinya sebelum ia dengan berterus terang ingin menyampaikan maksudnya.

Tetapi Akuwu itu tidak segera berkata apapun. Ketika ia mendengar jawaban Mahisa Agni, maka keringatnya menjadi semakin deras mengucur. Sebenarnya Akuwu Tunggul Ametung itu tidak menyimpan apapun di dalam dadanya. Bahkan ia ingin segera sampai kepada persoalan dirinya sendiri. Tetapi ia kurang mampu untuk mengatakannya. Ia mengharap Mahisa Agni dapat membuka jalan dari pembicaraan itu. Tetapi ketika Mahisa mengembalikan persoalannya kepadanya, maka ia menjadi semakin gelisah.

Karena kesenyapan dan kegelisahan yang menyelubungi ruangan itu, maka suasana pun menjadi tegang. Akuwu Tunggul Ametung masih belum menemukan cara untuk menyatakan maksudnya, sedang Mahisa Agni menjadi jemu untuk duduk menunggu dalam ketegangan. Baginya apapun yang akan dihadapinya, lebih baik segera didengarnya. Apakah Akuwu lebih dahulu akan memarahinya karena sikapnya di saat-saat lampau, atau bahkan akan menghukumnya. Namun baginya, duduk berdiam diri sambil menundukkan wajahnya terlampau lama adalah menjemukan sekali. Lebih baik baginya duduk diterik panas matahari yang membakar punggungnya dipadang Karautan.

Ken Dedes dan emban pemomongnya yang duduk di belakang, merasakan pula ketegangan itu. Mereka melihat dengan hati yang berdebar-debar kegelisahan yang semakin mencemaskan pada Akuwu Tunggul Ametung dan pada Mahisa Agni. kegelisahan itu telah menambah-nambah pula kecemasan dan kegelisahan Ken Dedes sendiri. Serasa tangannya ingin mendorong Akuwu untuk segera mengatakan maksudnya sebelum ketegangan itu meledak tanpa terkendali.

Koleksi : Ki Ismoyo
Retype : Ki Raharga
Proofing : Ki Raharga
Recheck/Editing: Ki Sunda






OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar