PdLS-19
AKUWU YANG GELISAH ITU PUN sebenarnya ingin pula lekas-lekas dapat mengatakan persoalannya. Tetapi kata-kata itu seakan-akan tersangkut di kerongkongannya. Sedang Mahisa Agni telah bertekad untuk tidak akan mengatakan lebih dahulu apakah sebabnya ia menghadap. Kalau Akuwu itu sekali lagi bertanya maka ia sudah menyediakan jawabnya, bahwa ia hanyalah sekedar dipanggil.
Namun akhirnya Akuwu Tunggul Ametung itu pun menyadari bahwa lambat atau cepat ia harus mengatakannya. Ia menyesal bahwa ia tidak memanggil beberapa orang tua untuk menghadap dan dapat menyampaikan maksudnya tanpa kesulitan apa-apa. Tetapi semalam pikirannya tak sempat meloncat sampai sejauh itu. Ia demikian tergesa-gesa dan berdebar-debar. Lambat laun maka Akuwu Tunggul Ametung itu mampu menguasai perasaannya. Lambat laun hatinya menjadi tenang. Sehingga akhirnya, meskipun tidak teratur dan hampir tak terdengar ia berkata,
“Agni. Aku kira kau sudah tahu maksudku, kenapa aku berkeras memanggilmu. Kalau aku bukan Akuwu Agni, mungkin aku tidak berkeberatan untuk datang kepadamu sebagai lazimnya laki-laki menginginkan seorang isteri. Sayang aku adalah seorang Akuwu yang terikat oleh ketentuan-ketentuan yang tak kalah erat seperti ikatan adat itu sendiri.”
Tunggul Ametung berhenti sejenak untuk menelan ludahnya. Terasa kerongkongannya menjadi kering. Dan tiba-tiba Akuwu Tunggul Ametung menjadi haus sekali. Namun ia kemudian berkata pula,
“Sekarang kau sudah datang memenuhi panggilanku meskipun harus dilakukan berulang kali. Tetapi tak apalah. Yang penting kau dapat mendengar dari mulutku, bahwa aku ingin mengambil Ken Dedes, adikmu untuk menjadi permaisuriku.”
Mahisa Agni mendengar kata demi kata yang diucapkan oleh Akuwu Tunggul Ametung itu seperti ia mendengarkan keputusan hukuman gantung untuk dirinya. Betapa ia berusaha menekan perasaannya, bahkan betapa ia berjuang untuk menindasnya, namun detak jantungnya menjadi semakin keras. Tak dapat lagi ia kini memungkiri perasaannya itu. Ia harus melepaskan dan menyerahkan kepada orang lain, apa yang diinginkannya untuk dirinya sendiri. Sesaat Mahisa Agni duduk mematung. Kepalanya dalam-dalam terhunjam seakan-akan ingin dilihatnya pusar bumi. Nafasnya menjadi semakin cepat mengalir seperti saling berebutan ingin meloncat keluar dari rongga dadanya yang panas.
Akuwu Tunggul Ametung, Ken Dedes dan pemomongnya melihat perubahan yang terjadi dalam diri Mahisa Agni itu. Tetapi tanggapan mereka berbeda-beda. Tunggul Ametung sudah merasa melepaskan semua yang menyumbat dadanya dengan cara yang dianggapnya sebaik-baiknya. Karena itu ia mengharap bahwa gejolak di dalam dada Mahisa Agni adalah gejolak perasaan seorang kakak yang berbahagia karena adiknya menemukan kebahagiaannya. Meskipun Tunggul Ametung menduga pula bahwa pasti ada sesuatu perasaan yang masih belum dapat diatasi oleh Mahisa Agni. Pasti ada sesuatu yang kurang menyenangkan kakak gadis itu, ternyata dengan beberapa kali ia menolak panggilannya. Tetapi kini Tunggul Ametung itu merasa telah menyampaikan dengan sebaik yang dapat dilakukannya.
“Mudah-mudahan perasaan anak muda itu sedang berkisar ke arah yang aku harapkan,“ desis Akuwu Tunggul Ametung di dalam hatinya. “Namun kadang-kadang timbul pula sifat-sifatnya yang sekeras batu,” katanya di dalam hati itu pula, “Supaya aku tidak perlu mempergunakan kekuasaanku atasnya.”
Sedang Ken Dedes sendiri terkejut mendengar kata-kata Akuwu yang sama sekali tidak diduganya. Ternyata Akuwu yang terlalu menuruti perasaan sendiri itu, mampu menguasai diri sehingga kali ini ia telah bersedia merendahkan dirinya dalam batas kemungkinan yang dapat dilakukan. Karena itu, ketika Ken Dedes mendengar cara Akuwu Tunggul Ametung menyampaikan maksudnya, meskipun katanya tidak tersusun sebaik-baiknya, namun isi dari kata-kata itu telah membuatnya terharu.
Tetapi dalam pada itu, kegelisahannya tiba-tiba memuncak ketika ia melihat bagaimana Mahisa Agni sama sekali masih belum menjawab permintaan Akuwu Tunggul Ametung itu. Ia melihat Mahisa Agni menundukkan kepalanya dalam-dalam, tetapi beberapa kali Mahisa Agni menggeser diri seolah-olah ia duduk diatas bara api. Yang mula-mula terungkat di dalam perasaan Ken Dedes adalah kejengkelannya kepada kakaknya itu. Ia menganggap bahwa Mahisa Agni masih belum dapat melepaskan harga dirinya yang berlebih-lebihan. Sikap Akuwu yang lunak dan merendahkan diri itu, pasti dianggapnya suatu kekalahan dari Akuwu Tunggul Ametung yang akan mendorong Mahisa Agni untuk menjadi lebih membanggakan diri. Mahisa Agni pasti menganggap bahwa akhirnya Akuwu itu harus datang untuk menyembahnya memohon agar ia diperkenankan memperisteri adiknya.
“Tidak,“ berkata Ken Dedes di dalam hatinya, “sekarang aku telah melihat sendiri, betapa kakang Mahisa Agni mempunyai sikap yang tidak aku sukai. Ia sama sekali tidak mencerminkan watak ayah yang juga menjadi gurunya. Kakang Mahisa Agni ternyata terlalu sombong, terlalu menilai dirinya terlampau tinggi dan berharga, seolah-olah ia benar-benar berhak menerima penghormatan yang berlebih-lebihan karena aku, karena Akuwu akan mengambil aku tidak segera menyadari dirinya, maka aku akan mengatakan kepada Akuwu Tunggul Ametung bahwa kakang Mahisa Agni, kakak angkatku itu sama sekali bukan orang yang cukup penting untuk menentukan sikap. Bahkan apabila ia menjadi terlampau sombong, biarlah ia diabaikan saja. Tidak dengan Mahisa Agni semuanya akan dapat berlangsung.
Tetapi Mahisa Agni masih juga belum menjawab. Ia harus mengulangi keadaannya yang pedih seperti pada saat ia harus menyampaikan persoalan yang serupa kepada Wiraprana. Namun karena kini ia harus berhadapan dengan orang yang tidak seimbang dalam segenap seginya, terasa dirinya menjadi semakin kecil dan tidak berarti apa-apa. Ruang paseban dalam yang sepi menjadi bertambah sepi. Mahisa Agni masih belum mengucapkan sepatah katapun. Bahkan keringat dingin mengalir memenuhi tubuhnya.
Dalam pada itu, emban tua, pemomong Ken Dedes itu pun menjadi semakin gelisah pula. Hanya perempuan tua itulah yang dapat meraba perasaan Mahisa Agni mendekati kebenaran. Ia melihat betapa hati anak itu tergores kembali pada lukanya yang lama. Luka yang sudah hampir tidak terasa pedihnya, kini tiba-tiba luka itu kembali menyakitinya. Tetapi emban tua itu tidak dapat melihat segalanya akan berkembang semakin buruk. Ia tidak ingin melihat semuanya akan menjadi korban keadaan yang sama-sama tidak dikehendaki. Karena itu, maka tiba-tiba terdengar emban itu berdesah. Bukan saja berdesah, tetapi perempuan tua itu tidak dapat menahan perasaannya pula, sehingga tiba-tiba ia menangis terisak-isak.
Tangis itu mengejutkan semua orang yang berada di dalam ruangan itu. Dengan serta-merta semuanya berpaling ke arah perempuan tua yang kini menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
“Bibi,“ terdengar Ken Dedes bertanya dalam kecemasan, “kenapa kau menangis bibi?”
Perempuan itu mencoba mengusap air matanya dan menahan isaknya. Ketika ia mengangkat wajahnya dilihatnya Ken Dedes berkisar mendekatinya, sedang Mahisa Agni memandanginya dengan penuh kecemasan pula. Tetapi kemudian mereka melihat perempuan tua itu menggelengkan kepalanya. Dicobanya untuk tersenyum dan menjawab,
“Hamba tidak apa-apa tuan puteri.”
“Tetapi kenapa kau menangis?”
“Hamba menangis karena kebahagiaan yang mendesak di dalam hati hamba,“ sahut perempuan tua itu.
Ken Dedes mengerutkan keningnya. Mahisa Agni pun memandanginya dengan pertanyaan yang bergolak di dalam rongga dadanya. Sedang Akuwu Tunggul Ametung duduk di tempatnya seperti patung.
“Hamba tidak dapat menahan rasa haru,“ berkata perempuan tua itu pula, “hamba melihat bahwa kedua momonganku disini berada dalam keadaan yang tak pernah dapat dibayangkan sebelumnya. Tuan puteri akan menjadi seorang permaisuri, sedang angger Mahisa Agni akan menemukan dirinya sebagai seorang saudara tua yang melepas adiknya dalam kebahagiaan. Bukankah dengan demikian angger Mahisa Agni sendiri akan menemukan kebahagiaan itu pula, ia akan melihat salah seorang dari tunas di dalam keluarganya, mekar berkembang dalam taman yang indah. Dijagai oleh seorang juru taman yang perkasa dan bijaksana.“ emban tua itu berhenti sejenak. Raut mukanya yang berkeriput itu masih dibasahi oleh air matanya yang menetes satu-satu.
Ken Dedes tidak menyahut. Ia tertunduk pula dengan rasa haru yang mendalam. Namun perasaan kecewanya terhadap Mahisa Agni masih saja selalu mengganggunya. Namun kata-kata emban tua itu bagi Mahisa Agni terasa seolah-olah sebuah sentuhan yang tajam pada luka di hatinya. Karena itu, maka terasa dadanya menjadi nyeri bukan buatan. Ia tahu benar maksud kata-kata perempuan tua itu. Perempuan tua yang tidak lain adalah ibunya. Ibunya yang pasti akan berkata kepadanya,
“Agni, berbuatlah sebaiknya. Jangan kau ingat kepentingan yang mencengkam dirimu sendiri.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Pengorbanan yang diberikannya terasa terlampau berat. Tetapi ia tidak dapat berbuat lain. Apalagi setelah ia mendengar ibunya mengucapkan kata-katanya yang diketahuinya benar, bahwa kata-kata itu diucapkan kepadanya sebagai suatu permintaan untuk melepaskan Ken Dedes dengan dada yang lapang. Tetapi dadanya tidak selapang seperti yang dikehendakinya.
Namun demikian, dalam keheningan yang semakin mencengkam, Mahisa Agni bergeser setapak. Sekali ia menelan ludahnya, kemudian dengan tangannya ia mengusap lehernya yang seolah-olah tersumbat. Perlahan-lahan terdengar suaranya parau dalam nada yang rendah,
“Akuwu,“ katanya, “tiada yang dapat hamba sampaikan, kecuali perasaan bahagia yang setinggi-tingginya, bahwa Akuwu telah berkenan memungut adik hamba yang hina, anak padesan yang tidak berharga, untuk tinggal di dalam istana. Bahkan bukan sebagai hamba sahaya, tetapi untuk menjadi seorang permaisuri,“ kata Mahisa Agni terputus oleh gejolak di dalam dadanya. Dicobanya untuk menekan perasaannya sedalam-dalamnya. Baru sesaat kemudian ia mampu meneruskan, “Karenanya maka tiada lain yang dapat hamba lakukan, kecuali menyerahkannya dengan kedua belah tangan.”
Bukan main pengaruh kata-kata yang meluncur dari mulutnya itu. Pengaruh atas orang-orang yang mendengarnya. Ken Dedes hampir tidak percaya atas pendengarannya. Namun ketika disadarinya bahwa Mahisa Agni benar-benar telah menyerahkannya kepada Akuwu Tunggul Ametung, maka meledaklah kegembiraan dan harunya, sehingga tiba-tiba ia menangis terisak-isak, seperti embannya yang menangis pula.
Namun apa yang bergolak di dalam hati emban itu adalah sangat berbeda dengan kelegaan dan keharuan yang bergolak di dalam hati Ken Dedes. Keharuan di dalam hati emban tua itu terdorong oleh keikhlasan Mahisa Agni mengucapkan kata-katanya yang diketahuinya dengan pasti, bahwa setiap kata yang diucapkan oleh Mahisa Agni itu sama tajamnya seperti ujung-ujung tombak yang menusuk menghunjam ke jantung sendiri. Tetapi Mahisa Agni telah mengucapkannya.
Dalam pada itu, Akuwu Tunggul Ametung pun menjadi bergembira sekali. Meskipun dengan cara apapun ia pasti akan dapat memiliki Ken Dedes, namun cara yang dipakainya kini adalah cara yang sebaik-baiknya. Cara yang masih dapat menolong namanya dari berbagai sebutan yang kurang menyenangkan. Demikian gembiranya maka Akuwu itu pun dengan serta merta berkata,
“Bagus. Aku sangat berterima kasih padamu, Agni. Sebagai tanda terima kasihku, maka aku akan menyediakan jabatan yang pantas untukmu di dalam istanaku. Aku telah melihat bagaimana kau mampu bertempur melawan Ken Arok. Karena itu aku dapat memberimu jabatan yang sesuai dengan kemampuanmu itu.”
Ken Dedes yang bergembira itu menjadi semakin bergembira. Dengan demikian, maka Mahisa Agni akan mendapat kesempatan pula untuk kenikmatan hidup yang baik di dalam istana. Apalagi dengan demikian, anak muda itu tidak terpisah dari padanya seperti pada masa kanak-kanak mereka.
“Agni,“ berkata Akuwu Tunggul Ametung kemudian, “Aku dapat menjadikan kau seorang prajurit. Kau tinggal melatih diri dalam beberapa segi, terutama dalam hal tata tertib dan ketentuan-ketentuan yang harus ditaati oleh setiap prajurit. Kau akan dapat menjadi seorang prajurit pengawal istana yang baik di dalam lingkungan pimpinan Witantra. Kau akan mendapat tugas khusus dari padanya, sebagai pimpinan pengawal permaisuri. Bukankah jabatan itu akan menyenangkan kau dan adikmu?”
Kegembiraan di hati Ken Dedes kini telah memuncak. Dengan serta merta ia menjawab, “Terima kasih Tuanku Akuwu Tunggul Ametung. Dengan demikian maka kakak hamba akan selalu berada didekat hamba seperti pada masa-masa yang lampau, pada masa kami tinggal bersama-sama di padepokan.”
Tetapi kegembiraan mereka itu pun kemudian terganggu ketika mereka melihat wajah Mahisa Agni yang masih saja tertunduk dalam-dalam. Tawaran Akuwu Tunggul Ametung itu menyentuh juga jantung Mahisa Agni. Namun secepat itu pula tumbuhlah berbagai pertimbangan yang memberati hatinya. Di dalam lingkungan prajurit pengawal itu ada seorang anak muda yang sama sekali tidak menyenangkan baginya. Anak muda itu bernama Kebo Ijo yang justru adalah adik seperguruan Witantra. Kecuali daripada itu ia masih mempunyai kewajiban yang tidak akan dapat ditinggalkan. Ia tidak tahu, berapa hari, berapa minggu bahkan berapa bulan bendungannya akan selesai. Ia tidak dapat mengingkari tanggung jawabnya hanya karena ia telah mendapat kedudukan yang baik.
“Aku harus selalu berada diantara mereka,“ berkata Mahisa Agni di dalam hatinya, “kedudukan ini harus tidak menggeser tanggung jawabku.”
Namun jauh di dalam lubuk hatinya, tersembunyi alasan yang jauh lebih tajam dari segala alasan itu. Mahisa Agni tidak akan dapat tinggal di dalam istana itu, melihat setiap hari Ken Dedes yang menjadi seorang permaisuri. Ia tidak yakin, apakah hatinya akan dapat dikendalikannya? Meskipun ia selalu memaksa dirinya memberi kesempatan kepada gadis itu untuk menemukan kebahagiaan lahir dan batin, namun sebagai manusia maka Mahisa Agni menyadari dirinya, bahwa suatu ketika ia akan dapat menjadi khilaf dan berbuat kesalahan. Itulah sebabnya maka ia harus mempertimbangkan tawaran Akuwu Tunggul Ametung itu masak-masak.
Karena Mahisa Agni tidak segera menjawab, maka terdengar Akuwu Tunggul Ametung bertanya, “Bagaimana Agni? Apakah kau tidak bergembira mendengar kesempatan yang aku berikan kepadamu?”
Perlahan-lahan Mahisa Agni mengangkat wajahnya. Tanpa disengaja ia berpaling, dipandanginya wajah emban tua yang duduk di belakang. Kemudian pandangannya itu berkesan kepada Ken Dedes yang wajahnya seolah-olah kini tersaput oleh keragu-raguan atas sikapnya.
Tetapi wajah Ken Dedes itu bahkan telah meyakinkan bahwa ia tidak akan dapat tinggal di istana bersama-sama dengan Ken Dedes yang akan menjadi permaisuri Akuwu Tunggul Ametung, Karena itu, maka dengan nada datar Mahisa Agni menjawab,
“Tuanku. Anugerah Tuanku Akuwu Tunggul Ametung yang tidak hamba sangka-sangka itu benar-benar telah menggetarkan hati hamba. Hamba menjadi sangat bergembira dan berterima kasih karenanya. Tetapi Tuanku, mungkin Tuanku Akuwu Tunggul Ametung telah mengetahuinya, bahwa kini hamba sedang disibukkan oleh suatu tugas yang tidak dapat hamba tinggalkan.”
Akuwu Tunggul Ametung mengerutkan keningnya. Terasa bahwa ia menjadi kecewa karenanya. Akuwu itu mengharap bahwa Mahisa Agni akan terkejut dan dengan gemetar menyatakan kegembiraan hatinya. Ia mengharap Mahisa Agni dengan serta merta akan menerima jabatan yang diberikannya itu. Bahkan Mahisa Agni akan mengucapkan beribu-ribu terima kasih yang tidak henti-hentinya. Sebagai seorang anak padesan, maka kedudukan yang sedemikian baiknya itu pasti akan membuatnya berangan-angan. Tetapi Mahisa Agni tidak berbuat demikian. Mahisa Agni itu mendengar segala katanya itu dengan hati yang dingin dan dengan wajah yang tidak berkesan apapun meskipun mulutnya mengucap terima kasih dan bergembira karenanya.
Apalagi kemudian, jawab anak muda itu menjadikan dada Akuwu Tunggul Ametung berdebar-debar. Anugerah pangkat itu masih juga diperbandingkan dengan kuwajiban yang lain. Yang tidak kalah kecewa daripada Akuwu Tunggul Ametung adalah Ken Dedes. Segera ia mengetahui maksud Mahisa Agni tentang kuwajiban yang dikatakannya itu. Sehingga hampir tanpa disadarinya gadis itu berkata mendahului Akuwu Tunggul Ametung,
“Kakang, agaknya akan selalu terikat dengan pekerjaan itu. Bukankah tugas yang kau maksud adalah bendungan itu. Setiap kali kau menyebutnya. Setiap kali kau mengatakan, bahwa kau terikat pada bendungan itu. Sekarang, pada saat kakang menerima anugerah yang tidak disangka-sangka dari Akuwu Tunggul Ametung, kakang telah memperbandingkannya pula dengan pekerjaan kakang untuk bendungan itu pula. Kakang, sebenarnya alasan-alasan yang pernah kakang katakan itu sangat menjemukan.“
Ken Dedes itu pun tiba-tiba terdiam ketika ia melihat Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam sambil mengusap lehernya yang menjadi panas. Bahkan Ken Dedes itu pun kemudan merasa bahwa ia telah terdorong terlampau jauh oleh kekecewaan yang bergelora di dalam dadanya.
Namun Mahisa Agni tidak segera menjawab. Ia masih menunggu apakah masih ada lagi kata-kata yang akan diucapkan oleh Ken Dedes. Tetapi Ken Dedes itu pun kemudian menundukkan wajahnya pula sambil bergumam lirih,
“Maafkan hamba Tuanku Akuwu.”
Akuwu Tunggul Ametung itu mengerutkan keningnya. Betapa ia menjadi kecewa namun ia masih bertanya, “Benarkah yang kau maksud dengan tugas yang tak dapat kau tinggalkan itu adalah bendungan itu?”
Mendengar pertanyaan Akuwu Tunggul Ametung itu hati Mahisa Agni menjadi ragu-ragu. Tetapi ia tidak ingin mengingkari tugas yang telah dibebankannya sendiri diatas pundaknya. Sehingga karena itu maka kemudian ia menjawab lirih sambil menundukkan wajahnya,
“Ya Tuanku. Tugas hamba adalah menyelesaikan bendungan itu.”
Akuwu Tunggul Ametung menarik nafas dalam-dalam. Terdengar kemudian ia bertanya kembali, “Apakah pamrihmu Agni, bahwa kau lebih mementingkan bendungan itu daripada jabatan yang aku berikan?”
Kini Mahisa Agni tidak dapat mengelak lagi. Ia harus mengatakan menurut kata hatinya. Ia akan membuka dadanya tanpa selembar aling-aling. Sambil menengadahkan wajahnya Mahisa Agni itu pun kemudian menjawab,
“Tuanku. Seperti yang hamba katakan, hamba menjadi sangat bergembira dan berterima kasih atas anugerah jabatan yang tiada hamba sangka-sangka. Tetapi Tuanku, hamba mohon maaf yang sebesar-besarnya, bahwa hamba pada saat ini belum dapat menerima anugerah itu, sebab hamba masih terikat oleh tanggung jawab atas bendungan itu. Dengan jabatan yang Tuanku anugerahkan itu, mungkin hamba akan dapat hidup senang tanpa memikirkan lagi kesulitan seperti yang sedang dialami oleh rakyat Panawijen. Hamba tidak lagi harus menunggu air di selokan dan hamba tidak lagi harus berprihatin apabila sawah-sawah menjadi kering.
Tetapi Tuanku, maafkan hamba, bahwa hati hamba tidak sampai untuk melakukannya. Sejak kecil hamba hidup dalam satu lingkungan suka dan duka bersama-sama rakyat Panawijen. Itulah sebabnya hamba masih mohon waktu untuk menerima anugerah Tuanku. Hamba ingin berada diantara rakyat Panawijen yang kini sedang menderita kekeringan. Hamba ingin ikut merasakan, betapa kami harus memeras keringat kami untuk masa depan pedukuhan kami. Apabila semua telah selesai, apabila rakyat Panawijen telah hidup dalam keadaan yang baik, maka hamba akan menghadap Tuanku kembali. Jangankah sebuah jabatan yang tidak hamba impikan itu, bahkan menjadi juru taman atau juru pekatik pun akan hamba lakukan.”
Yang mendengar kata-kata Mahisa Agni itu pun tertegun diam. Kata-kata itu benar-benar telah menyentuh hati mereka. Akuwu pun sejenak tidak dapat mengucapkan sepatah katapun. Dipandanginya wajah Mahisa Agni yang memancarkan kebulatan tekadnya, bahwa ia telah menyerahkan seluruh dirinya kepada pekerjaan yang berat itu.
Namun Ken Dedes, yang betapa ia sendiri merasa dihadapkan pada sebuah cermin, tetapi ia merasa cemas, bahwa Akuwu Tunggul Ametung tidak akan senang mendengar jawaban Mahisa Agni itu. Meskipun kini Ken Dedes tidak lagi dapat berteriak memaki-maki Mahisa Agni, tetapi justru ia mencemaskan nasib Mahisa Agni, apabila Akuwu Tunggul Ametung merasa terhina karenanya.
Tetapi Akuwu Tunggui Ametung dapat mengerti pendirian Mahisa Agni, ternyata dengan jawabannya, “Mahisa Agni. Aku berbangga. Aku berbangga mendengar pendirianmu. Satu dari seratus pasti akan menerima anugerah itu tanpa memikirkan orang lain. Tetapi kau berpendapat lain. Kau masih mementingkan kepentingan bersama dari kepentinganmu itu adalah suatu sikap yang jarang terjadi pada saat ini. Pada saat setiap orang menginginkan gelar duniawi. Karena itu Mahisa Agni, aku mengucapkan selamat atas pendirianmu itu, mudah-mudahan bendunganmu akan segera dapat kau selesaikan.”
Jawaban Akuwu itu pun sama sekali tidak disangka oleh Mahisa Agni dan oleh Ken Dedes pula. Karena itu, sambil membungkukkan kepalanya dalam-dalam Mahisa Agni menyahut,
“Tiada anugerah yang lebih membahagiakan hamba tuanku, selain pengertian Tuanku tentang diri hamba.”
“Mudah-mudahan pendirianmu itu akan tetap teguh sehingga orang-orang Panawijen yang lain pun akan berpendirian seteguh pendirianmu. Kemakmuran Panawijen adalah sebagian dari kemakmuran Tumapel.”
Betapa besar hati Mahisa Agni menerima pujian itu. Bukan karena ia mendapat penghargaan, tetapi bahwa Akuwu Tunggul Ametung dapat mengerti sepenuhnya tentang dirinya. Bahkan dengan hati yang berdebar-debar ia mendengar Akuwu Tunggul Ametung berkata,
“Mahisa Agni. Sepeninggalmu aku akan memerintahkan beberapa orang untuk menyusulmu. Aku akan mengirimkan sekelompok prajurit. Aku akan menyuruh seorang pelayan dalam yang mempunyai kelebihan dari kawan-kawannya menyusulmu. Orang itu adalah Ken Arok. Ia akan membawa duapuluh lima pedati yang ditarik oleh duapuluh lima pasang kerbau, alat-alat lain yang kau perlukan, duapuluh waluku dengan duapuluh pasang lembu untuk melunakkan tanah yang akan digali menjadi parit-parit dan keperluan-keperluan yang dapat aku berikan.”
Dada Mahisa Agni terasa hampir meledak mendengar janji itu. Meledak karena kegembiraan yang mendesak. Dengan serta-merta ia membungkuk lebih dalam lagi sambil menjawab dengan suara parau,
“Tuanku, betapa besar terima kasih yang hamba sampaikan. Hamba tidak tahu, bagaimana hamba akan mengatakannya.“
Mahisa Agni terdiam sesaat untuk menelan ludahnya. Terasa tenggorokannya menjadi seolah-olah tersumbat. Namun dipaksanya juga ia berkata, “Hamba beserta seluruh rakyat Panawijen akan menanti kedatangan anugerah dan kemurahan Tuanku itu dengan sepenuh hati.”
Kini Mahisa Agni merasa, bahwa pengorbanannya tidak lagi sia-sia. Ia telah meremas jantungnya sendiri pada saat ia menyerahkan Ken Dedes itu kepada Akuwu karena persoalan-persoalan yang berlaga di dalam dadanya. Namun tanpa diharapkannya, ia mendapatkan sesuatu yang sangat berharga tidak saja bagi dirinya sendiri, tetapi bagi seluruh rakyat Panawijen. Duapuluh lima pedati yang ditarik oleh duapuluh lima pasang kerbau. Duapuluh waluku dengan dua puluh pasang lembu. Bukan main. Seluruh Panawijen tidak memiliki perlengkapan sebanyak itu. Ia hanya mampu mengumpulkan empat pedati untuk mengangkut batu-batu dan keperluan-keperluan lain di samping dua belas waluku. Namun kini ia akan mendapat tambahan duapuluh lima pedati kerbau dan duapuluh waluku.
Justru karena itulah maka Mahisa Agni kemudian menjadi tergesa-gesa untuk kembali. Ia ingin segera menyampaikan kabar yang menggembirakan itu kepada kawan-kawannya. Dengan wajah yang berseri karena kegembiraan Mahisa Agni berkata,
“Tuanku, biarlah hamba mohon ijin untuk kembali ke Panawijen. Anugerah tuanku itu pasti akan menambah gairah bagi rakyat. Mudah-mudahan bendungan itu akan lekas selesai.”
“Jangan sekarang,“ jawab Akuwu, “kau harus tinggal di dalam istana ini sedikitnya sepekan. Aku ingin menjamumu supaya kau mendapat kesan yang menyenangkan selama kau berada di dalam istanaku.”
“Terima kasih tuanku, terima kasih,“ sahut Mahisa Agni.
Anak muda itu telah melupakan kepedihan luka di hati sendiri. Yang menguasai jantungnya kini hanyalah pedati, alat-alat dan apapun yang akan sangat berguna bagi bendungannya,
“Hamba ingin lekas berada diantara rakyat Panawijen kembali.”
Tunggul Ametung tertawa. Katanya, “Bagus. Tetapi aku tidak memberimu ijin sekarang. Tinggallah di dalam istanaku sehari dua hari kalau kau tidak mau tinggal selama sepekan.”
Mahisa Agni akhirnya tidak dapat menolak permintaan Akuwu Tunggul Ametung. Betapa ia ingin segera pulang kembali, namun ia memenuhi juga permintaan itu untuk tinggal dua hari di istana Tumapel.
Namun betapa makanan yang lezat-lezat ditelannya, tetapi ia lebih senang segera berada diantara kawan-kawannya. Meskipun demikian, ia tidak mau mengecewakan Akuwu dan Ken Dedes. Dimakannya setiap hidangan yang diberikan kepadanya dengan wajah yang terang, meskipun sekali-sekali terasa juga seolah-olah jantungnya tertusuk duri. Tetapi dalam waktu yang pendek itu, ia tahu benar, betapa Akuwu Tunggul Ametung menghargai Ken Dedes benar-benar sebagai seorang gadis yang pantas untuk menjadi permaisurinya. Karena itu, maka ia mengharap bahwa Ken Dedes akan benar-benar menemukan kebahagiaan di hari-hari depannya.
Namun akhirnya Mahisa Agni mohon diri pula kepada Akuwu Tanggul Ametung. Waktu yang hanya dua hari itu terasa sudah terlampau lama. Bendungan yang ditinggalkannya seakan-akan selalu memanggil-manggilnya untuk segera kembali ke Padang Karautan yang panas terik di siang hari dan dingin yang menggigit tulang belulang dimalam hari. Tetapi ia lebih senang tinggal dipadang itu dari pada di dalam istana.
“Aku kira kau telah memilih jalan yang benar, Agni,“ bisik emban tua kepada anak muda itu, ketika Agni akan meninggalkan istana Tumapel.
“Aku mohon restu ibu, mudah-mudahan aku dapat berhasil membangun padukuhan yang tidak kalah suburnya dengan Panawijen,“ sahut Mahisa Agni.
“Kalau kau bekerja dengan sungguh-sungguh ngger, serta tanpa kendat mohon tuntunan kepada Yang Maha Agung, maka pekerjaanmu pasti akan direstui-Nya.”
Pesan itu merupakan bekal yang tidak kalah pentingnya dengan dua puluh lima pedati dan duapuluh waluku. Dengan sungguh-sungguh Mahisa Agni akan mencoba memenuhinya. Sebab segala sesuatu, usaha yang dilakukan oleh manusia, maka akhirnya Yang Maha Agung lah yang akan menentukan. Namun Yang Maha Agung akan mendengarkan, menyaksikan dan memenuhi permohonan manusia yang dengan sungguh-sungguh berjalan sepanjang jalan yang dikehendaki-Nya.
Demikianlah maka akhirnya Mahisa Agni meninggalkan istana Tumapel. Ken Dedes kini tidak lagi kecewa terhadapnya, bahkan terasa kebanggaan menjalari dadanya pula. Setidak-tidaknya satu dari keluarganya telah ikut membina padukuhan baru yang akan dapat menampung seluruh penghidupan dan kehidupan Panawijen yang kini telah menjadi kering.
Mahisa Agni sendiri tidak menyadari, bahwa ia telah memacu kudanya terlampau cepat. Ia merasa begitu tergesa-gesa, seolah-olah hari-harinya yang akan datang akan menjadi terlampau pendek.
“Aku akan singgah ke Panawijen dahulu,“ katanya di dalam hati, “mungkin ada beberapa hal yang perlu aku pesankan kepada para cantrik di padepokan atau kepada orang-orang tua yang menunggui desa. Mungkin pedati-pedati dari Tumapel akan lebih dahulu singgah di Panawijen, sebab aku lupa berpesan, supaya pedati-pedati itu langsung saja dikirim ke Padang Karautan.”
Namun akhirnya Akuwu Tunggul Ametung itu pun menyadari bahwa lambat atau cepat ia harus mengatakannya. Ia menyesal bahwa ia tidak memanggil beberapa orang tua untuk menghadap dan dapat menyampaikan maksudnya tanpa kesulitan apa-apa. Tetapi semalam pikirannya tak sempat meloncat sampai sejauh itu. Ia demikian tergesa-gesa dan berdebar-debar. Lambat laun maka Akuwu Tunggul Ametung itu mampu menguasai perasaannya. Lambat laun hatinya menjadi tenang. Sehingga akhirnya, meskipun tidak teratur dan hampir tak terdengar ia berkata,
“Agni. Aku kira kau sudah tahu maksudku, kenapa aku berkeras memanggilmu. Kalau aku bukan Akuwu Agni, mungkin aku tidak berkeberatan untuk datang kepadamu sebagai lazimnya laki-laki menginginkan seorang isteri. Sayang aku adalah seorang Akuwu yang terikat oleh ketentuan-ketentuan yang tak kalah erat seperti ikatan adat itu sendiri.”
Tunggul Ametung berhenti sejenak untuk menelan ludahnya. Terasa kerongkongannya menjadi kering. Dan tiba-tiba Akuwu Tunggul Ametung menjadi haus sekali. Namun ia kemudian berkata pula,
“Sekarang kau sudah datang memenuhi panggilanku meskipun harus dilakukan berulang kali. Tetapi tak apalah. Yang penting kau dapat mendengar dari mulutku, bahwa aku ingin mengambil Ken Dedes, adikmu untuk menjadi permaisuriku.”
Mahisa Agni mendengar kata demi kata yang diucapkan oleh Akuwu Tunggul Ametung itu seperti ia mendengarkan keputusan hukuman gantung untuk dirinya. Betapa ia berusaha menekan perasaannya, bahkan betapa ia berjuang untuk menindasnya, namun detak jantungnya menjadi semakin keras. Tak dapat lagi ia kini memungkiri perasaannya itu. Ia harus melepaskan dan menyerahkan kepada orang lain, apa yang diinginkannya untuk dirinya sendiri. Sesaat Mahisa Agni duduk mematung. Kepalanya dalam-dalam terhunjam seakan-akan ingin dilihatnya pusar bumi. Nafasnya menjadi semakin cepat mengalir seperti saling berebutan ingin meloncat keluar dari rongga dadanya yang panas.
Akuwu Tunggul Ametung, Ken Dedes dan pemomongnya melihat perubahan yang terjadi dalam diri Mahisa Agni itu. Tetapi tanggapan mereka berbeda-beda. Tunggul Ametung sudah merasa melepaskan semua yang menyumbat dadanya dengan cara yang dianggapnya sebaik-baiknya. Karena itu ia mengharap bahwa gejolak di dalam dada Mahisa Agni adalah gejolak perasaan seorang kakak yang berbahagia karena adiknya menemukan kebahagiaannya. Meskipun Tunggul Ametung menduga pula bahwa pasti ada sesuatu perasaan yang masih belum dapat diatasi oleh Mahisa Agni. Pasti ada sesuatu yang kurang menyenangkan kakak gadis itu, ternyata dengan beberapa kali ia menolak panggilannya. Tetapi kini Tunggul Ametung itu merasa telah menyampaikan dengan sebaik yang dapat dilakukannya.
“Mudah-mudahan perasaan anak muda itu sedang berkisar ke arah yang aku harapkan,“ desis Akuwu Tunggul Ametung di dalam hatinya. “Namun kadang-kadang timbul pula sifat-sifatnya yang sekeras batu,” katanya di dalam hati itu pula, “Supaya aku tidak perlu mempergunakan kekuasaanku atasnya.”
Sedang Ken Dedes sendiri terkejut mendengar kata-kata Akuwu yang sama sekali tidak diduganya. Ternyata Akuwu yang terlalu menuruti perasaan sendiri itu, mampu menguasai diri sehingga kali ini ia telah bersedia merendahkan dirinya dalam batas kemungkinan yang dapat dilakukan. Karena itu, ketika Ken Dedes mendengar cara Akuwu Tunggul Ametung menyampaikan maksudnya, meskipun katanya tidak tersusun sebaik-baiknya, namun isi dari kata-kata itu telah membuatnya terharu.
Tetapi dalam pada itu, kegelisahannya tiba-tiba memuncak ketika ia melihat bagaimana Mahisa Agni sama sekali masih belum menjawab permintaan Akuwu Tunggul Ametung itu. Ia melihat Mahisa Agni menundukkan kepalanya dalam-dalam, tetapi beberapa kali Mahisa Agni menggeser diri seolah-olah ia duduk diatas bara api. Yang mula-mula terungkat di dalam perasaan Ken Dedes adalah kejengkelannya kepada kakaknya itu. Ia menganggap bahwa Mahisa Agni masih belum dapat melepaskan harga dirinya yang berlebih-lebihan. Sikap Akuwu yang lunak dan merendahkan diri itu, pasti dianggapnya suatu kekalahan dari Akuwu Tunggul Ametung yang akan mendorong Mahisa Agni untuk menjadi lebih membanggakan diri. Mahisa Agni pasti menganggap bahwa akhirnya Akuwu itu harus datang untuk menyembahnya memohon agar ia diperkenankan memperisteri adiknya.
“Tidak,“ berkata Ken Dedes di dalam hatinya, “sekarang aku telah melihat sendiri, betapa kakang Mahisa Agni mempunyai sikap yang tidak aku sukai. Ia sama sekali tidak mencerminkan watak ayah yang juga menjadi gurunya. Kakang Mahisa Agni ternyata terlalu sombong, terlalu menilai dirinya terlampau tinggi dan berharga, seolah-olah ia benar-benar berhak menerima penghormatan yang berlebih-lebihan karena aku, karena Akuwu akan mengambil aku tidak segera menyadari dirinya, maka aku akan mengatakan kepada Akuwu Tunggul Ametung bahwa kakang Mahisa Agni, kakak angkatku itu sama sekali bukan orang yang cukup penting untuk menentukan sikap. Bahkan apabila ia menjadi terlampau sombong, biarlah ia diabaikan saja. Tidak dengan Mahisa Agni semuanya akan dapat berlangsung.
Tetapi Mahisa Agni masih juga belum menjawab. Ia harus mengulangi keadaannya yang pedih seperti pada saat ia harus menyampaikan persoalan yang serupa kepada Wiraprana. Namun karena kini ia harus berhadapan dengan orang yang tidak seimbang dalam segenap seginya, terasa dirinya menjadi semakin kecil dan tidak berarti apa-apa. Ruang paseban dalam yang sepi menjadi bertambah sepi. Mahisa Agni masih belum mengucapkan sepatah katapun. Bahkan keringat dingin mengalir memenuhi tubuhnya.
Dalam pada itu, emban tua, pemomong Ken Dedes itu pun menjadi semakin gelisah pula. Hanya perempuan tua itulah yang dapat meraba perasaan Mahisa Agni mendekati kebenaran. Ia melihat betapa hati anak itu tergores kembali pada lukanya yang lama. Luka yang sudah hampir tidak terasa pedihnya, kini tiba-tiba luka itu kembali menyakitinya. Tetapi emban tua itu tidak dapat melihat segalanya akan berkembang semakin buruk. Ia tidak ingin melihat semuanya akan menjadi korban keadaan yang sama-sama tidak dikehendaki. Karena itu, maka tiba-tiba terdengar emban itu berdesah. Bukan saja berdesah, tetapi perempuan tua itu tidak dapat menahan perasaannya pula, sehingga tiba-tiba ia menangis terisak-isak.
Tangis itu mengejutkan semua orang yang berada di dalam ruangan itu. Dengan serta-merta semuanya berpaling ke arah perempuan tua yang kini menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
“Bibi,“ terdengar Ken Dedes bertanya dalam kecemasan, “kenapa kau menangis bibi?”
Perempuan itu mencoba mengusap air matanya dan menahan isaknya. Ketika ia mengangkat wajahnya dilihatnya Ken Dedes berkisar mendekatinya, sedang Mahisa Agni memandanginya dengan penuh kecemasan pula. Tetapi kemudian mereka melihat perempuan tua itu menggelengkan kepalanya. Dicobanya untuk tersenyum dan menjawab,
“Hamba tidak apa-apa tuan puteri.”
“Tetapi kenapa kau menangis?”
“Hamba menangis karena kebahagiaan yang mendesak di dalam hati hamba,“ sahut perempuan tua itu.
Ken Dedes mengerutkan keningnya. Mahisa Agni pun memandanginya dengan pertanyaan yang bergolak di dalam rongga dadanya. Sedang Akuwu Tunggul Ametung duduk di tempatnya seperti patung.
“Hamba tidak dapat menahan rasa haru,“ berkata perempuan tua itu pula, “hamba melihat bahwa kedua momonganku disini berada dalam keadaan yang tak pernah dapat dibayangkan sebelumnya. Tuan puteri akan menjadi seorang permaisuri, sedang angger Mahisa Agni akan menemukan dirinya sebagai seorang saudara tua yang melepas adiknya dalam kebahagiaan. Bukankah dengan demikian angger Mahisa Agni sendiri akan menemukan kebahagiaan itu pula, ia akan melihat salah seorang dari tunas di dalam keluarganya, mekar berkembang dalam taman yang indah. Dijagai oleh seorang juru taman yang perkasa dan bijaksana.“ emban tua itu berhenti sejenak. Raut mukanya yang berkeriput itu masih dibasahi oleh air matanya yang menetes satu-satu.
Ken Dedes tidak menyahut. Ia tertunduk pula dengan rasa haru yang mendalam. Namun perasaan kecewanya terhadap Mahisa Agni masih saja selalu mengganggunya. Namun kata-kata emban tua itu bagi Mahisa Agni terasa seolah-olah sebuah sentuhan yang tajam pada luka di hatinya. Karena itu, maka terasa dadanya menjadi nyeri bukan buatan. Ia tahu benar maksud kata-kata perempuan tua itu. Perempuan tua yang tidak lain adalah ibunya. Ibunya yang pasti akan berkata kepadanya,
“Agni, berbuatlah sebaiknya. Jangan kau ingat kepentingan yang mencengkam dirimu sendiri.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Pengorbanan yang diberikannya terasa terlampau berat. Tetapi ia tidak dapat berbuat lain. Apalagi setelah ia mendengar ibunya mengucapkan kata-katanya yang diketahuinya benar, bahwa kata-kata itu diucapkan kepadanya sebagai suatu permintaan untuk melepaskan Ken Dedes dengan dada yang lapang. Tetapi dadanya tidak selapang seperti yang dikehendakinya.
Namun demikian, dalam keheningan yang semakin mencengkam, Mahisa Agni bergeser setapak. Sekali ia menelan ludahnya, kemudian dengan tangannya ia mengusap lehernya yang seolah-olah tersumbat. Perlahan-lahan terdengar suaranya parau dalam nada yang rendah,
“Akuwu,“ katanya, “tiada yang dapat hamba sampaikan, kecuali perasaan bahagia yang setinggi-tingginya, bahwa Akuwu telah berkenan memungut adik hamba yang hina, anak padesan yang tidak berharga, untuk tinggal di dalam istana. Bahkan bukan sebagai hamba sahaya, tetapi untuk menjadi seorang permaisuri,“ kata Mahisa Agni terputus oleh gejolak di dalam dadanya. Dicobanya untuk menekan perasaannya sedalam-dalamnya. Baru sesaat kemudian ia mampu meneruskan, “Karenanya maka tiada lain yang dapat hamba lakukan, kecuali menyerahkannya dengan kedua belah tangan.”
Bukan main pengaruh kata-kata yang meluncur dari mulutnya itu. Pengaruh atas orang-orang yang mendengarnya. Ken Dedes hampir tidak percaya atas pendengarannya. Namun ketika disadarinya bahwa Mahisa Agni benar-benar telah menyerahkannya kepada Akuwu Tunggul Ametung, maka meledaklah kegembiraan dan harunya, sehingga tiba-tiba ia menangis terisak-isak, seperti embannya yang menangis pula.
Namun apa yang bergolak di dalam hati emban itu adalah sangat berbeda dengan kelegaan dan keharuan yang bergolak di dalam hati Ken Dedes. Keharuan di dalam hati emban tua itu terdorong oleh keikhlasan Mahisa Agni mengucapkan kata-katanya yang diketahuinya dengan pasti, bahwa setiap kata yang diucapkan oleh Mahisa Agni itu sama tajamnya seperti ujung-ujung tombak yang menusuk menghunjam ke jantung sendiri. Tetapi Mahisa Agni telah mengucapkannya.
Dalam pada itu, Akuwu Tunggul Ametung pun menjadi bergembira sekali. Meskipun dengan cara apapun ia pasti akan dapat memiliki Ken Dedes, namun cara yang dipakainya kini adalah cara yang sebaik-baiknya. Cara yang masih dapat menolong namanya dari berbagai sebutan yang kurang menyenangkan. Demikian gembiranya maka Akuwu itu pun dengan serta merta berkata,
“Bagus. Aku sangat berterima kasih padamu, Agni. Sebagai tanda terima kasihku, maka aku akan menyediakan jabatan yang pantas untukmu di dalam istanaku. Aku telah melihat bagaimana kau mampu bertempur melawan Ken Arok. Karena itu aku dapat memberimu jabatan yang sesuai dengan kemampuanmu itu.”
Ken Dedes yang bergembira itu menjadi semakin bergembira. Dengan demikian, maka Mahisa Agni akan mendapat kesempatan pula untuk kenikmatan hidup yang baik di dalam istana. Apalagi dengan demikian, anak muda itu tidak terpisah dari padanya seperti pada masa kanak-kanak mereka.
“Agni,“ berkata Akuwu Tunggul Ametung kemudian, “Aku dapat menjadikan kau seorang prajurit. Kau tinggal melatih diri dalam beberapa segi, terutama dalam hal tata tertib dan ketentuan-ketentuan yang harus ditaati oleh setiap prajurit. Kau akan dapat menjadi seorang prajurit pengawal istana yang baik di dalam lingkungan pimpinan Witantra. Kau akan mendapat tugas khusus dari padanya, sebagai pimpinan pengawal permaisuri. Bukankah jabatan itu akan menyenangkan kau dan adikmu?”
Kegembiraan di hati Ken Dedes kini telah memuncak. Dengan serta merta ia menjawab, “Terima kasih Tuanku Akuwu Tunggul Ametung. Dengan demikian maka kakak hamba akan selalu berada didekat hamba seperti pada masa-masa yang lampau, pada masa kami tinggal bersama-sama di padepokan.”
Tetapi kegembiraan mereka itu pun kemudian terganggu ketika mereka melihat wajah Mahisa Agni yang masih saja tertunduk dalam-dalam. Tawaran Akuwu Tunggul Ametung itu menyentuh juga jantung Mahisa Agni. Namun secepat itu pula tumbuhlah berbagai pertimbangan yang memberati hatinya. Di dalam lingkungan prajurit pengawal itu ada seorang anak muda yang sama sekali tidak menyenangkan baginya. Anak muda itu bernama Kebo Ijo yang justru adalah adik seperguruan Witantra. Kecuali daripada itu ia masih mempunyai kewajiban yang tidak akan dapat ditinggalkan. Ia tidak tahu, berapa hari, berapa minggu bahkan berapa bulan bendungannya akan selesai. Ia tidak dapat mengingkari tanggung jawabnya hanya karena ia telah mendapat kedudukan yang baik.
“Aku harus selalu berada diantara mereka,“ berkata Mahisa Agni di dalam hatinya, “kedudukan ini harus tidak menggeser tanggung jawabku.”
Namun jauh di dalam lubuk hatinya, tersembunyi alasan yang jauh lebih tajam dari segala alasan itu. Mahisa Agni tidak akan dapat tinggal di dalam istana itu, melihat setiap hari Ken Dedes yang menjadi seorang permaisuri. Ia tidak yakin, apakah hatinya akan dapat dikendalikannya? Meskipun ia selalu memaksa dirinya memberi kesempatan kepada gadis itu untuk menemukan kebahagiaan lahir dan batin, namun sebagai manusia maka Mahisa Agni menyadari dirinya, bahwa suatu ketika ia akan dapat menjadi khilaf dan berbuat kesalahan. Itulah sebabnya maka ia harus mempertimbangkan tawaran Akuwu Tunggul Ametung itu masak-masak.
Karena Mahisa Agni tidak segera menjawab, maka terdengar Akuwu Tunggul Ametung bertanya, “Bagaimana Agni? Apakah kau tidak bergembira mendengar kesempatan yang aku berikan kepadamu?”
Perlahan-lahan Mahisa Agni mengangkat wajahnya. Tanpa disengaja ia berpaling, dipandanginya wajah emban tua yang duduk di belakang. Kemudian pandangannya itu berkesan kepada Ken Dedes yang wajahnya seolah-olah kini tersaput oleh keragu-raguan atas sikapnya.
Tetapi wajah Ken Dedes itu bahkan telah meyakinkan bahwa ia tidak akan dapat tinggal di istana bersama-sama dengan Ken Dedes yang akan menjadi permaisuri Akuwu Tunggul Ametung, Karena itu, maka dengan nada datar Mahisa Agni menjawab,
“Tuanku. Anugerah Tuanku Akuwu Tunggul Ametung yang tidak hamba sangka-sangka itu benar-benar telah menggetarkan hati hamba. Hamba menjadi sangat bergembira dan berterima kasih karenanya. Tetapi Tuanku, mungkin Tuanku Akuwu Tunggul Ametung telah mengetahuinya, bahwa kini hamba sedang disibukkan oleh suatu tugas yang tidak dapat hamba tinggalkan.”
Akuwu Tunggul Ametung mengerutkan keningnya. Terasa bahwa ia menjadi kecewa karenanya. Akuwu itu mengharap bahwa Mahisa Agni akan terkejut dan dengan gemetar menyatakan kegembiraan hatinya. Ia mengharap Mahisa Agni dengan serta merta akan menerima jabatan yang diberikannya itu. Bahkan Mahisa Agni akan mengucapkan beribu-ribu terima kasih yang tidak henti-hentinya. Sebagai seorang anak padesan, maka kedudukan yang sedemikian baiknya itu pasti akan membuatnya berangan-angan. Tetapi Mahisa Agni tidak berbuat demikian. Mahisa Agni itu mendengar segala katanya itu dengan hati yang dingin dan dengan wajah yang tidak berkesan apapun meskipun mulutnya mengucap terima kasih dan bergembira karenanya.
Apalagi kemudian, jawab anak muda itu menjadikan dada Akuwu Tunggul Ametung berdebar-debar. Anugerah pangkat itu masih juga diperbandingkan dengan kuwajiban yang lain. Yang tidak kalah kecewa daripada Akuwu Tunggul Ametung adalah Ken Dedes. Segera ia mengetahui maksud Mahisa Agni tentang kuwajiban yang dikatakannya itu. Sehingga hampir tanpa disadarinya gadis itu berkata mendahului Akuwu Tunggul Ametung,
“Kakang, agaknya akan selalu terikat dengan pekerjaan itu. Bukankah tugas yang kau maksud adalah bendungan itu. Setiap kali kau menyebutnya. Setiap kali kau mengatakan, bahwa kau terikat pada bendungan itu. Sekarang, pada saat kakang menerima anugerah yang tidak disangka-sangka dari Akuwu Tunggul Ametung, kakang telah memperbandingkannya pula dengan pekerjaan kakang untuk bendungan itu pula. Kakang, sebenarnya alasan-alasan yang pernah kakang katakan itu sangat menjemukan.“
Ken Dedes itu pun tiba-tiba terdiam ketika ia melihat Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam sambil mengusap lehernya yang menjadi panas. Bahkan Ken Dedes itu pun kemudan merasa bahwa ia telah terdorong terlampau jauh oleh kekecewaan yang bergelora di dalam dadanya.
Namun Mahisa Agni tidak segera menjawab. Ia masih menunggu apakah masih ada lagi kata-kata yang akan diucapkan oleh Ken Dedes. Tetapi Ken Dedes itu pun kemudian menundukkan wajahnya pula sambil bergumam lirih,
“Maafkan hamba Tuanku Akuwu.”
Akuwu Tunggul Ametung itu mengerutkan keningnya. Betapa ia menjadi kecewa namun ia masih bertanya, “Benarkah yang kau maksud dengan tugas yang tak dapat kau tinggalkan itu adalah bendungan itu?”
Mendengar pertanyaan Akuwu Tunggul Ametung itu hati Mahisa Agni menjadi ragu-ragu. Tetapi ia tidak ingin mengingkari tugas yang telah dibebankannya sendiri diatas pundaknya. Sehingga karena itu maka kemudian ia menjawab lirih sambil menundukkan wajahnya,
“Ya Tuanku. Tugas hamba adalah menyelesaikan bendungan itu.”
Akuwu Tunggul Ametung menarik nafas dalam-dalam. Terdengar kemudian ia bertanya kembali, “Apakah pamrihmu Agni, bahwa kau lebih mementingkan bendungan itu daripada jabatan yang aku berikan?”
Kini Mahisa Agni tidak dapat mengelak lagi. Ia harus mengatakan menurut kata hatinya. Ia akan membuka dadanya tanpa selembar aling-aling. Sambil menengadahkan wajahnya Mahisa Agni itu pun kemudian menjawab,
“Tuanku. Seperti yang hamba katakan, hamba menjadi sangat bergembira dan berterima kasih atas anugerah jabatan yang tiada hamba sangka-sangka. Tetapi Tuanku, hamba mohon maaf yang sebesar-besarnya, bahwa hamba pada saat ini belum dapat menerima anugerah itu, sebab hamba masih terikat oleh tanggung jawab atas bendungan itu. Dengan jabatan yang Tuanku anugerahkan itu, mungkin hamba akan dapat hidup senang tanpa memikirkan lagi kesulitan seperti yang sedang dialami oleh rakyat Panawijen. Hamba tidak lagi harus menunggu air di selokan dan hamba tidak lagi harus berprihatin apabila sawah-sawah menjadi kering.
Tetapi Tuanku, maafkan hamba, bahwa hati hamba tidak sampai untuk melakukannya. Sejak kecil hamba hidup dalam satu lingkungan suka dan duka bersama-sama rakyat Panawijen. Itulah sebabnya hamba masih mohon waktu untuk menerima anugerah Tuanku. Hamba ingin berada diantara rakyat Panawijen yang kini sedang menderita kekeringan. Hamba ingin ikut merasakan, betapa kami harus memeras keringat kami untuk masa depan pedukuhan kami. Apabila semua telah selesai, apabila rakyat Panawijen telah hidup dalam keadaan yang baik, maka hamba akan menghadap Tuanku kembali. Jangankah sebuah jabatan yang tidak hamba impikan itu, bahkan menjadi juru taman atau juru pekatik pun akan hamba lakukan.”
Yang mendengar kata-kata Mahisa Agni itu pun tertegun diam. Kata-kata itu benar-benar telah menyentuh hati mereka. Akuwu pun sejenak tidak dapat mengucapkan sepatah katapun. Dipandanginya wajah Mahisa Agni yang memancarkan kebulatan tekadnya, bahwa ia telah menyerahkan seluruh dirinya kepada pekerjaan yang berat itu.
Namun Ken Dedes, yang betapa ia sendiri merasa dihadapkan pada sebuah cermin, tetapi ia merasa cemas, bahwa Akuwu Tunggul Ametung tidak akan senang mendengar jawaban Mahisa Agni itu. Meskipun kini Ken Dedes tidak lagi dapat berteriak memaki-maki Mahisa Agni, tetapi justru ia mencemaskan nasib Mahisa Agni, apabila Akuwu Tunggul Ametung merasa terhina karenanya.
Tetapi Akuwu Tunggui Ametung dapat mengerti pendirian Mahisa Agni, ternyata dengan jawabannya, “Mahisa Agni. Aku berbangga. Aku berbangga mendengar pendirianmu. Satu dari seratus pasti akan menerima anugerah itu tanpa memikirkan orang lain. Tetapi kau berpendapat lain. Kau masih mementingkan kepentingan bersama dari kepentinganmu itu adalah suatu sikap yang jarang terjadi pada saat ini. Pada saat setiap orang menginginkan gelar duniawi. Karena itu Mahisa Agni, aku mengucapkan selamat atas pendirianmu itu, mudah-mudahan bendunganmu akan segera dapat kau selesaikan.”
Jawaban Akuwu itu pun sama sekali tidak disangka oleh Mahisa Agni dan oleh Ken Dedes pula. Karena itu, sambil membungkukkan kepalanya dalam-dalam Mahisa Agni menyahut,
“Tiada anugerah yang lebih membahagiakan hamba tuanku, selain pengertian Tuanku tentang diri hamba.”
“Mudah-mudahan pendirianmu itu akan tetap teguh sehingga orang-orang Panawijen yang lain pun akan berpendirian seteguh pendirianmu. Kemakmuran Panawijen adalah sebagian dari kemakmuran Tumapel.”
Betapa besar hati Mahisa Agni menerima pujian itu. Bukan karena ia mendapat penghargaan, tetapi bahwa Akuwu Tunggul Ametung dapat mengerti sepenuhnya tentang dirinya. Bahkan dengan hati yang berdebar-debar ia mendengar Akuwu Tunggul Ametung berkata,
“Mahisa Agni. Sepeninggalmu aku akan memerintahkan beberapa orang untuk menyusulmu. Aku akan mengirimkan sekelompok prajurit. Aku akan menyuruh seorang pelayan dalam yang mempunyai kelebihan dari kawan-kawannya menyusulmu. Orang itu adalah Ken Arok. Ia akan membawa duapuluh lima pedati yang ditarik oleh duapuluh lima pasang kerbau, alat-alat lain yang kau perlukan, duapuluh waluku dengan duapuluh pasang lembu untuk melunakkan tanah yang akan digali menjadi parit-parit dan keperluan-keperluan yang dapat aku berikan.”
Dada Mahisa Agni terasa hampir meledak mendengar janji itu. Meledak karena kegembiraan yang mendesak. Dengan serta-merta ia membungkuk lebih dalam lagi sambil menjawab dengan suara parau,
“Tuanku, betapa besar terima kasih yang hamba sampaikan. Hamba tidak tahu, bagaimana hamba akan mengatakannya.“
Mahisa Agni terdiam sesaat untuk menelan ludahnya. Terasa tenggorokannya menjadi seolah-olah tersumbat. Namun dipaksanya juga ia berkata, “Hamba beserta seluruh rakyat Panawijen akan menanti kedatangan anugerah dan kemurahan Tuanku itu dengan sepenuh hati.”
Kini Mahisa Agni merasa, bahwa pengorbanannya tidak lagi sia-sia. Ia telah meremas jantungnya sendiri pada saat ia menyerahkan Ken Dedes itu kepada Akuwu karena persoalan-persoalan yang berlaga di dalam dadanya. Namun tanpa diharapkannya, ia mendapatkan sesuatu yang sangat berharga tidak saja bagi dirinya sendiri, tetapi bagi seluruh rakyat Panawijen. Duapuluh lima pedati yang ditarik oleh duapuluh lima pasang kerbau. Duapuluh waluku dengan dua puluh pasang lembu. Bukan main. Seluruh Panawijen tidak memiliki perlengkapan sebanyak itu. Ia hanya mampu mengumpulkan empat pedati untuk mengangkut batu-batu dan keperluan-keperluan lain di samping dua belas waluku. Namun kini ia akan mendapat tambahan duapuluh lima pedati kerbau dan duapuluh waluku.
Justru karena itulah maka Mahisa Agni kemudian menjadi tergesa-gesa untuk kembali. Ia ingin segera menyampaikan kabar yang menggembirakan itu kepada kawan-kawannya. Dengan wajah yang berseri karena kegembiraan Mahisa Agni berkata,
“Tuanku, biarlah hamba mohon ijin untuk kembali ke Panawijen. Anugerah tuanku itu pasti akan menambah gairah bagi rakyat. Mudah-mudahan bendungan itu akan lekas selesai.”
“Jangan sekarang,“ jawab Akuwu, “kau harus tinggal di dalam istana ini sedikitnya sepekan. Aku ingin menjamumu supaya kau mendapat kesan yang menyenangkan selama kau berada di dalam istanaku.”
“Terima kasih tuanku, terima kasih,“ sahut Mahisa Agni.
Anak muda itu telah melupakan kepedihan luka di hati sendiri. Yang menguasai jantungnya kini hanyalah pedati, alat-alat dan apapun yang akan sangat berguna bagi bendungannya,
“Hamba ingin lekas berada diantara rakyat Panawijen kembali.”
Tunggul Ametung tertawa. Katanya, “Bagus. Tetapi aku tidak memberimu ijin sekarang. Tinggallah di dalam istanaku sehari dua hari kalau kau tidak mau tinggal selama sepekan.”
Mahisa Agni akhirnya tidak dapat menolak permintaan Akuwu Tunggul Ametung. Betapa ia ingin segera pulang kembali, namun ia memenuhi juga permintaan itu untuk tinggal dua hari di istana Tumapel.
Namun betapa makanan yang lezat-lezat ditelannya, tetapi ia lebih senang segera berada diantara kawan-kawannya. Meskipun demikian, ia tidak mau mengecewakan Akuwu dan Ken Dedes. Dimakannya setiap hidangan yang diberikan kepadanya dengan wajah yang terang, meskipun sekali-sekali terasa juga seolah-olah jantungnya tertusuk duri. Tetapi dalam waktu yang pendek itu, ia tahu benar, betapa Akuwu Tunggul Ametung menghargai Ken Dedes benar-benar sebagai seorang gadis yang pantas untuk menjadi permaisurinya. Karena itu, maka ia mengharap bahwa Ken Dedes akan benar-benar menemukan kebahagiaan di hari-hari depannya.
Namun akhirnya Mahisa Agni mohon diri pula kepada Akuwu Tanggul Ametung. Waktu yang hanya dua hari itu terasa sudah terlampau lama. Bendungan yang ditinggalkannya seakan-akan selalu memanggil-manggilnya untuk segera kembali ke Padang Karautan yang panas terik di siang hari dan dingin yang menggigit tulang belulang dimalam hari. Tetapi ia lebih senang tinggal dipadang itu dari pada di dalam istana.
“Aku kira kau telah memilih jalan yang benar, Agni,“ bisik emban tua kepada anak muda itu, ketika Agni akan meninggalkan istana Tumapel.
“Aku mohon restu ibu, mudah-mudahan aku dapat berhasil membangun padukuhan yang tidak kalah suburnya dengan Panawijen,“ sahut Mahisa Agni.
“Kalau kau bekerja dengan sungguh-sungguh ngger, serta tanpa kendat mohon tuntunan kepada Yang Maha Agung, maka pekerjaanmu pasti akan direstui-Nya.”
Pesan itu merupakan bekal yang tidak kalah pentingnya dengan dua puluh lima pedati dan duapuluh waluku. Dengan sungguh-sungguh Mahisa Agni akan mencoba memenuhinya. Sebab segala sesuatu, usaha yang dilakukan oleh manusia, maka akhirnya Yang Maha Agung lah yang akan menentukan. Namun Yang Maha Agung akan mendengarkan, menyaksikan dan memenuhi permohonan manusia yang dengan sungguh-sungguh berjalan sepanjang jalan yang dikehendaki-Nya.
Demikianlah maka akhirnya Mahisa Agni meninggalkan istana Tumapel. Ken Dedes kini tidak lagi kecewa terhadapnya, bahkan terasa kebanggaan menjalari dadanya pula. Setidak-tidaknya satu dari keluarganya telah ikut membina padukuhan baru yang akan dapat menampung seluruh penghidupan dan kehidupan Panawijen yang kini telah menjadi kering.
Mahisa Agni sendiri tidak menyadari, bahwa ia telah memacu kudanya terlampau cepat. Ia merasa begitu tergesa-gesa, seolah-olah hari-harinya yang akan datang akan menjadi terlampau pendek.
“Aku akan singgah ke Panawijen dahulu,“ katanya di dalam hati, “mungkin ada beberapa hal yang perlu aku pesankan kepada para cantrik di padepokan atau kepada orang-orang tua yang menunggui desa. Mungkin pedati-pedati dari Tumapel akan lebih dahulu singgah di Panawijen, sebab aku lupa berpesan, supaya pedati-pedati itu langsung saja dikirim ke Padang Karautan.”
OBJEK WISATA MANCA NEGARA



































Tidak ada komentar:
Posting Komentar