Dalam pada itu, di bagian lain dari ujung wilayah pemerintahan Akuwu Tunggul Ametung, Empu Sada dan kedua muridnya berjalan tergesa-gesa ke Kemundungan. Mereka telah berpesan agar beberapa orang murid-muridnya dan murid-murid orang yang menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo menyingkir sejenak dari padepokan Empu Sada, sebab mungkin Witantra akan berbuat sesuatu atas mereka dengan sepasukan prajurit dalam jumlah yang besar. Mereka harus bersembunyi di tempat-tempat yang tidak begitu dikenal untuk sementara.
Sementara itu Empu Sada dan kedua muridnya langsung mencari Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Bagi Kuda Sempana perjalanan itu seakan-akan terasa terlampau lama.
“Apakah kita masih harus bermalam lagi guru?” bertanya Kuda Sempana.
“Tidak,“ sahut gurunya, “kita cukup bermalam di perjalanan satu malam. Hari ini kita akan sampai meskipun menjelang senja.”
Kuda Sempana tidak bertanya lagi. Mereka berjalan semakin cepat, seolah-olah mereka takut terlambat. Di sepanjang jalan, kadang-kadang Empu Sada sempat juga bertanya-tanya di dalam hatinya, apakah yang telah mendorongnya berjalan demikian jauhnya mencari orang-orang yang hampir tak dapat diajak bergaul menurut adab yang berlaku?
”Hem,“ desisnya. Ia mulai ragu-ragu sendiri, “apakah aku akan dapat mempergunakannya? Mereka berdua adalah orang-orang yang liar, sebenarnya liar. Mudah-mudahan aku akan mampu mengendalikannya.”
Tetapi orang tua itu tidak mengatakannya kepada muridnya. Meskipun Kuda Sempana kadang-kadang melihat keragu-raguan itu, namun ternyata gurunya masih juga melangkahkan kakinya menuju ke desa Kemundungan. Tongkatnya yang panjang di tanah yang berdebu.
Bagi Kuda Sempana meragukan gurunya itu telah benar-benar mengecewakan. Ia tahu benar sifat gurunya. Gurunya hanya mau berbuat sesuatu apabila ada pamrih yang dapat memberinya keuntungan. Karena itu, maka berkali-kali ia menjanjikan kepada gurunya, bahwa apabila ada keuntungan yang akan didapatnya berupa benda-benda maka ia sama sekali tidak menginginkannya.
“Apakah yang akan aku dapatkan dari bendungan itu apabila kita kelak akan merusak bendungan dan membunuh Mahisa Agni?” suatu kali Empu Sada bertanya.
Kuda Sempana tidak dapat menjawab. Memang ia tidak melihat keuntungan yang berwujud benda-benda berharga dari perbuatan itu. Perbuatan itu hanyalah sekedar pelepasan dendam yang membara di dada Kuda Sempana.
“Kuda Sempana,“ berkata gurunya, “kali ini kau jangan menilai tenagaku dengan upah yang dapat kau berikan. Kalau kau ingin berbuat demikian, maka harta seluruh istana Tunggul Ametung di Tumapel tidak cukup bernilai dibandingkan dengan apa yang telah dan akan lakukan untukmu. Tetapi aku benar-benar terdorong oleh suatu rasa bertanggung jawab dari seorang guru terhadap muridnya. Aku malu melihat sikap Panji Bojong Santi yang selalu melindungi murid-muridnya apabila benar-benar dihadapkan pada suatu bahaya.”
“Terima kasih guru,“ sahut Kuda Sempana dalam nada yang datar. Tetapi hatinya berkata, “Omong kosong. Aku kenal kau sejak lama. Betapa kau dicengkam oleh ketamakanmu atas harta dan benda.”
Bahu Reksa Kali Elo yang ikut dalam perjalanan itu, hampir tidak ikut serta dalam setiap pembicaraan. Namun semakin lama ia pun menjadi semakin jemu atas sikap Kuda Sempana. Semakin lama, setelah ditimbangnya, maka ia tidak akan mendapat apapun dari perbuatan-perbuatannya yang berbahaya itu. Ketika ia bersama Kuda Sempana mencoba menculik Ken Dedes dari tengah-tengah hutan, maka ia masih mengharap, mungkin calon permaisuri Akuwu Tunggul Ametung itu membawa perhiasan yang sangat berharga, yang dapat menebus lelah dan bahaya yang telah dilakukannya.
Tetapi kini harapan itu hampir tidak dilihatnya. Meskipun demikian, ia masih juga berjalan mengikuti gurunya. Siapa tahu, bahwa suatu ketika ia melihat persoalan yang dapat memberinya banyak keuntungan. Mungkin ia akan mendapat lubang-lubang yang dapat membuka hubungan lain yang justru lebih baik, hubungan perdagangan dengan orang-orang yang ditemuinya.
Perjalanan itu pun semakin lama menjadi semakin mendekati padukuhan Kemundungan. Perjalanan itu kini menembus hutan-hutan perdu yang tipis. Kemudian mereka sampai pada tanah berbatu-batu yang gundul. di sana sini tampak tanah yang berwarna coklat keputih-putihan. Disebelah bukit-bukit gundul itulah terletak desa terpencil yang bernama Kemundungan. Desa yang jauh lebih kecil dan terpencil dari padukuhan Panawijen. Tak banyak yang dapat diketahui orang tentang desa terpencil itu.
Melihat daerah yang gundul tandus dan pohon-pohon cemara yang kurus menjulang tinggi, hati Kuda Sempana menjadi berdebar. Belum pernah ia melihat daerah yang segersang itu. Ia pernah melihat daerah Panawijen yang kering. Tetapi tidak segarang alam yang dihadapinya. Tanah yang berbatu-batu, berwarna coklat keputihan.
Empu Sada yang berjalan di paling depan, berpaling sambil berkata, “Inilah pedukuhan kecil itu Kuda Sempana.”
“Pegunungan batu guru.”
Empu Sada tersenyum, “Ya,“ jawabnya, “pegunungan yang keras ini agaknya telah membantu membuat Kebo Sindet dan Wong Sarimpat memiliki kelakuannya sekarang.”
“Apakah mereka tinggal di daerah ini sejak kecilnya?” tanya orang yang menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo.
“Aku tidak tahu,“ sahut Empu Sada, “tetapi disini dahulu tinggal seorang sakti. Orang itu adalah guru Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.”
“Siapakah orang sakti itu?”
“Aku baru melihatnya dua kali. Orang itu adalah kawan guruku. Tetapi mereka mempunyai sifat yang jauh berbeda.”
“Apakah perbedaan itu?”
Empu Sada menelan ludahnya. Ia tidak dapat mengatakannya, sebab selama ini sikap dan kelakuannya sendiri tidak dapat dibanggakannya seperti ia ingin membanggakan gurunya. Karena itu maka orang tua itu pun terdiam.
“Bagaimana guru,“ desak Kuda Sempana.
“Aku tidak tahu,“ jawab Empu Sada akhirnya, “aku tidak tahu perbedaan diantara keduanya. Tetapi yang aku dengar, orang sakti yang tinggal di dalam goa didekat Kemundungan itu adalah seorang bangsawan dari Daha. tetapi bangsawan itu merasa dirinya terhina dan terbuang dari lingkungannya karena kesalahan yang tak dapat diampuni lagi. Beruntunglah Bangsawan itu tidak mendapat hukuman sapu sampai mati seperti yang berlaku bagi kesalahan serupa.”
“Apakah kesalahan itu?”
Empu Sada terdiam sejenak. Namun kemudian ia berkata pula, “Aku tidak tahu pasti. Menurut guruku, bangsawan itu telah melanggar hubungan kekeluargaan.”
Kuda Sempana mengerutkan keningnya, katanya, “Kesalahan yang dicari-cari.“
Empu Sada memandang wajah muridnya itu. Wajah yang merah hitam dibakar oleh sinar matahari seperti wajahnya sendiri. Tetapi Empu Sada tidak menyahut. Seperti Kuda Sempana sendiri yang saat ini sedang mencoba melanggar hubungan kekeluargaan meskipun sedang dijalin. Justru keluarga Akuwu Tunggul Ametung. Karena itu, maka adalah wajar bahwa Kuda Sempana tidak senang mendengar jenis kesalahan itu.
Kini sejenak mereka berdiam diri. Dihadapan mereka tampak segerombol pepohonan yang hijau. Itulah desa Kemundungan. Setapak-setapak mereka berjalan maju menyusuri jalan sempit di lambung bukit-bukit gundul. Sekali-sekali kaki-kaki mereka menginjak ujung-ujung batu yang runcing dan sekali-sekali duri-duri liar yang tumbuh di sisi-sisi jalan.
Tiba-tiba Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Desisnya, “Jangan terkejut apabila kau nanti melihat keanehan-keanehan kedua orang itu.”
“Macam apakah keanehan itu guru?” bertanya Kuda Sempana.
“Sifat dan wataknya yang dapat kau lihat pada gerak-gerik mereka.”
Cundaka yang menyebut dirinya Bahu Reksa Kali Elo menjadi semakin bimbang. Tanpa disangka-sangka ia berkata, “Apakah kita tidak dapat berbuat lain tanpa mereka?”
Kuda Sempana mengerutkan keningnya. Dipandanginya wajah saudara seperguruannya itu dengan tajamnya, “kenapa?” desisnya.
“Apakah kita tidak berusaha mencari jalan lain?” katanya pula.
“Kau melemahkan hatiku,“ sahut Kuda Sempana cepat-cepat, “tak ada jalan lain. Yang kita hadapi adalah Empu Purwa, Panji Bojong Santi dan tukang keris yang gila itu. Apakah guru sendiri bersama kita mampu menghadapinya, seperti yang pernah terjadi di hutan dekat padang Karautan itu?”
Cundaka tidak menjawab. Ia tahu benar betapa keras hati saudara seperguruannya. Tetapi gurunyalah yang berkata, “Aku melihat jalan lain Kuda Sempana.”
“Apa itu guru?”
“Kita tidak ingin membunuh Mahisa Agni atau mengambil Ken Dedes.”
“Tidak,“ teriak Kuda Sempana, “itu harus terjadi. Dendam telah membakar jantungku. Sedangkan tidak ada orang lain yang akan dapat membantu aku selain guru dan kedua orang itu.”
Empu Sada menarik nafas panjang. Ia sudah terlanjur terlibat sehingga sulit baginya untuk melepaskan dirinya. Kuda Sempana adalah muridnya yang telah cukup lama berada di dalam asuhannya. Bagaimanapun juga terasa adanya suatu ikatan diantara mereka yang memaksa Empu Sada kali ini mencoba memenuhi permintaan muridnya itu.
“Aku kenal keduanya,“ gumamnya seperti kepada diri sendiri, “mudah-mudahan aku dapat mengendalikannya.”
Belum lagi Empu Sada mengatupkan mulutnya, mereka dikejutkan oleh suara lecutan yang keras, disusul oleh sebuah teriakan nyaring, “He, siapa itu?”
Sekali lagi Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Katanya sambil menggerakkan dagunya menunjuk ke sebuah ngarai yang agak dalam. “Itu adalah salah seorang dari mereka. Agaknya mereka tidak sedang mengembara.”
“Siapakah ia,“ bertanya Cundaka yang menyebut dirinya Bahu Reksa Kali Elo.
“Menilik bentuk tubuhnya yang pendek, ia adalah saudara yang muda, Wong Sarimpat,“ jawab gurunya.
Karena Empu Sada belum menjawab maka kembali terdengar teriakan dari bawah kaki mereka, “He siapa kalian? Kalau kalian tidak menjawab, aku dapat membunuh kalian dari sini.”
Sambutan itu telah membuat dada Cundaka berdesir. Sambil mengerutkan keningnya ia berdesis, “Sambutan yang kasar.”
Empu Sada tersenyum, “Itulah mereka,“ katanya sambil mengangkat tongkat panjangnya.
Tiba-tiba meledaklah tawa yang riuh dari bawah tebing itu. Orang yang bertubuh pendek namun berdada lebar itu kemudian berlari-lari ke arah seekor kuda yang sedang makan rumput. Dengan gerak yang sangat lincah ia dengan serta-merta meloncat keatas punggung kuda tanpa pelana itu. Dengan satu sentakan pada kendalinya, maka kuda itu pun berlari kencang sekali.
Mereka bertiga berdiri terpaku melihat ketangkasan Wong Sarimpat bermain-main dengan kuda. Meskipun kuda itu sama sekali tidak berpelana, namun Wong Sarimpat sama sekali tidak mendapat kesulitan apapun ketika kuda itu berpacu mendaki tebing menyongsong mereka.
Empu Sada mengangguk-anggukan kepalanya sambil bergumam, “Mereka berdua adalah orang-orang yang cekatan. Aku belum pernah melihat orang mampu menunggang kuda seperti mereka berdua.”
Cundaka dan Kuda Sempana mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Namun wajah mereka mengungkapkan perasaan yang berbeda yang merayap di dalam dada masing-masing. Orang yang menamakan dirinya Bahu Reksa Kali Elo itu sama sekali tidak senang melihat sambutan yang kasar dan sombong itu, namun Kuda Sempana menjadi kagum karenanya. Ia mengharap bahwa orang itu benar-benar akan dapat membantu melepaskan sakit hatinya, membunuh Mahisa Agni dan menggagalkan usahanya dan membuat bendungan. Bahkan kalau mungkin mendapatkan Ken Dedes. Menculiknya dari istana Tumapel.
Kuda yang ditunggangi oleh Wong Sarimpat itu seperti merayap tebing bukit gundul itu. Melingkar-lingkar menyusur dalam yang sempit berbatu-batu. Namun Wong Sarimpat memacu kudanya seperti dikejar setan.
“Mendebarkan,“ gumam Kuda Sempana, “orang itu benar-benar cakap menunggang kuda. Kalau tidak, maka ia pasti sudah terpelanting masuk jurang.” Empu Sada tidak menjawab. Tetapi ia mengangguk.
Jarak itu sebenarnya tidak terlampau jauh, tetapi kuda itu tidak dapat langsung meloncat mencapai mereka. Kuda itu harus melingkari beberapa puntuk. Menghilang kemudian muncul kembali. Namun di sepanjang perjalanan itu Wong Sarimpat telah berteriak keras-keras,
“He, Empu yang bertongkat panjang, apa kerjamu di situ?”
Empu Sada tidak menjawab. Dibiarkannya Wong Sarimpat berteriak-teriak sendiri. Akhirnya kuda itu muncul dari balik seonggok batu pada dihadapan mereka. Seorang yang berwajah keras sekeras batu-batu padas di bukit gundul, berbulu lebat dan berkumis melintang duduk diatas punggungnya sambil bertanya,
“Apakah kau sekarang bisu?”
Cundaka, yang menamakan dirinya Bahu Reksa Kali Elo adalah seorang yang kasar. Tetapi ketika ia mendengar pertanyaan Wang Sarimpat terhadap gurunya, keningnya berkerut. Jantungnya serasa berdentangan karena perasaan tidak senang mendengar sambutan Wong Sarimpat yang sangat kasar. Tetapi ia menjadi heran. Gurunya sama sekali tidak marah mendengar sapa itu. Bahkan sambil tersenyum ia menjawab,
“Wong Sarimpat. Aku tidak biasa berteriak seperti monyet kepanasan.”
Sekali lagi terdengar Wong Sarimpat tertawa terbahak-bahak. Katanya, “Ha, masih juga kau bisa berbicara. Apa maumu datang kemari he?”
“Apakah aku tidak kau ajak singgah ke rumahmu?”
Wong Sarimpat membelalakkan matanya. Jawabnya, “Kau jangan menghina Empu tua. Kau tahu aku tidak mempunyai rumah.”
“Apakah yang kau maksudkan dengan rumah Wong Sarimpat?” bertanya Empu Sada, “rumah bukan berarti sebuah bangunan. Rumahmu adalah tempat kau tidur, tempat kau tinggal bersama saudaramu dan tempat kau menyembunyikan kekayaan hasil rampokanmu.”
Kali ini suara tertawa Wong Sarimpat benar-benar memenuhi lereng-lereng bukit gundul. Ia senang mendengar kata-kata Empu Sada yang berusaha menyesuaikan dirinya dengan watak orang itu. Setelah suara tertawa itu mereda maka orang itu menjawab,
“Hem, kau ingin melihat tempat aku menyimpan kekayaanku he? Kau suatu ketika akan merampok aku?”
“Tidak,“ sahut Empu Sada, “aku akan berdosa dua kali lipat. Kekayaanmu kau dapatkan dengan jalan yang tidak seharusnya. Kalau aku merampokmu, maka dosamu akan ikut serta bersama harta benda itu di samping dosaku sendiri.”
Wong Sarimpat mengerutkan keningnya. Dengan tajam dipandanginya wajah Empu Sada. Kemudian katanya, “Apakah kau tidak pernah merampok?”
“Tentu tidak,“ sahut Empu Sada, “aku mendapatkan kekayaanku dengan menjual tenaga. Terjadilah jual beli. Bukankah itu bukan suatu perampokan.”
Wong Sarimpat terdiam sejenak. Kemudian jawabnya, “Sama saja. Hampir sama,“ orang itu terdiam sejenak. Tiba-tiba ia menunjuk kepada Kuda Sempana dan Cundaka sambil bertanya, “Kenapa kau bawa tikus-tikus ini. Inikah pengikut-pengikutmu atau orang-orang yang telah membeli tenagamu itu?” Cundaka menjadi semakin tidak senang. Wajahnya menjadi berkerut merut. Namun tiba-tiba ia terkejut ketika Wong Sarimpat membentaknya, “He kenapa kau memandang aku seperti itu. Kau belum pernah mengenal Wong Sarimpat he tikus busuk?”
Bagaimanapun juga pertanyaan itu benar-benar menyakitkan hati. Orang yang menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo itu pun termasuk orang yang kasar. Hampir-hampir ia lupa dengan siapa ia berhadapan. Namun ketika mulutnya hampir menjawab sekali lagi Wong Sarimpat membentaknya,
“Jangan buka mulutmu itu. Kalau kau mencoba juga, paling sedikit empat gigimu akan terlepas.”
Sesuatu terasa menghentak dada Cundaka yang menyebut dirinya Bahu Resa Kali Elo. Perasaannya sama sekali tidak mau menerima teguran serupa itu. Tetapi ia tahu benar bahwa Wong Sarimpat adalah orang yang sejajar dengan gurunya. Karena itu bagaimanapun juga hatinya menjadi sakit, namun ia mencoba untuk menahan mulutnya.
Yang menjawab kemudian adalah Empu Sada, “Jangan terlampau kasar Wong Sarimpat. Anak-anak bisa mati ketakutan melihat tingkah lakumu.”
“Huh, hanya anak-anak cengeng seperti anak-anakmu inilah yang pasti akan mati ketakutan.”
Empu Sada tersenyum kepada kedua muridnya ia berkata, “Inilah pamanmu Wong Sarimpat. Jangan takut dan jangan sakit hati. Sudah menjadi watak dan kebiasaannya, ia berbuat demikian.”
Wong Sarimpat tiba-tiba memotong, “Tidak ini bukan sekedar watak dan sekedar kebiasaannya. Tetapi aku berkata sebenarnya. Ayo, suruh murid-muridmu membuka mulutnya sebelum aku beri kesempatan. Kau akan tahu akibatnya.”
“Mungkin akan terjadi demikian Wong Sarimpat,” sahut Empu Sada, “Tetapi kalau tidak ada Empu Sada berdiri disini.”
Tiba-tiba sekali lagi Wong Sarimpat itu tertawa terbahak-bahak. Katanya diantara suatu tertawanya, “Aku percaya. Kalau begitu aku percaya bahwa kau akan mampu mencegah yang akan aku lakukan. Tetapi aku pun jadi yakin kalau murid-muridmu ini tidak lebih dari tikus cengeng yang tidak dapat berdiri tegak tanpa gurunya.”
Cundaka telah benar-benar menjadi muak mendengar sambutan itu, namun sebelum ia menyahut, terdengar Empu Sada berkata, “Ayo, bawa aku ke sarangmu. Mungkin kau lebih senang aku menyebut sarang daripada rumah.”
“Hem,“ Wong Saripat menarik nafas, “kau akan merampok?”
“Tidak. Aku ingin bertemu kau berdua dengan kakakmu.”
“Apa keperluanmu?”
“Nanti aku katakan.”
“Katakan sekarang.”
“Tidak pantas. Sebelum aku memasuki rumahmu aku tidak akan mengatakan keperluan itu.”
“He. Apa yang tidak pantas? Aku tidak terikat pada adat atau cara apapun. Tak ada yang tidak pantas bagiku apabila aku kehendaki. Tetapi kalau kau ingin bertemu dengan kakang Kebo Sindet. Ikutilah aku.”
Tetapi Wong Sarimpat tidak menunggu jawaban Empu Sada. Dengan serta merta digerakkan kendali kudanya dan segera kuda itu pun berputar dan berlari menuruni tebing. Demikian orang itu menghilang di balik sebuah puntuk yang menjorok, maka terdengarlah Empu Sada menarik nafas dalam-dalam.
“Itu salah seorang dari mereka,“ desisnya. Kemudian dilanjutkannya, “Apakah kau masih bernafsu Kuda Sempana?”
Kuda Sempana terkejut mendengar pertanyaan gurunya. Tetapi yang lebih dahulu menjawab adalah orang yang menamakan dirinya Bahu Reksa Kali Elo, “Huh, aku menjadi muak melihatnya.”
Tetapi ternyata Kuda Sempana segera menyahut, “Aku mengaguminya. Orang yang demikian adalah orang yang berhati terbuka. Apapun yang dipikirkannya itulah yang dikatakan dan diperbuatnya. Orang yang berwatak demikian adalah sahabat yang sebaik-baiknya. Ia tidak akan berbuat curang dan menyembunyikan persoalan-persoalan yang seharusnya diketahui bersama.”
Cundaka mengerutkan keningnya. Ditatapnya wajah Kuda Sempana dengan tajamnya. Ia tidak dapat mengerti, kenapa Kuda Sempana mempunyai penilaian demikian terhadap orang yang terlampau kasar itu. Tetapi Cundaka tidak mau bertengkar dengan saudara seperguruannya. Karena itu, maka ia pun kemudian berdiam diri.
Empu Sada sendiri sama sekali tidak memihak keduanya. Dibiarkannya kedua muridnya itu mempunyai tanggapan sendiri-sendiri. Tetapi Empu Sada yang tua itu dapat mengerti sikap keduanya. Cundaka menjadi semakin tidak senang kepada Wong Sarimpat karena orang itu telah membentak-bentaknya. Sedang Kuda Sempana menganggapnya orang yang paling baik untuk seorang sahabat, karena Kuda Sempana sedang memerlukan kawan untuk memuaskan nafsu dendamnya.
Namun betapa Empu Sada hidupnya selalu dipengaruhi oleh keinginannya mendapat harta benda, bahkan sampai dilakukannya menjual tenaga mengajar puluhan murid hanya sekedar untuk mendapatkan upah tanpa tujuan apa-apa itu, kali ini merasa bahwa ia telah terdorong dalam suatu sikap yang kurang bijaksana.
Tetapi semuanya telah terlanjur. Mulutnyalah yang pernah menyebut nama Kebo Sindet dan Wong Sarimpat untuk mempengaruhi lawannya waktu itu, Empu Gandring dan kemudian diulanginya pula dihadapan Bojong Santi. Murid-muridnya itu pun mendengar nama-nama Kebo Sindet dan Wong Sarimpat dari padanya pula. Empu Sada itu berpaling ketika ia mendengar suara Kuda Sempana,
“Guru, apakah kita akan berdiri saja disini?”
“Oh,“ desis Empu Sada, “jadi kita teruskan perjalanan ke rumah Wong Sarimpat.”
“Tentu,“ sahut Kuda Sempana, “aku senang melihat dadanya yang terbuka. Mudah-mudahan kita mendapat kawan yang dapat bersama-sama menyelesaikan pekerjaan ini.”
Empu Sada tidak berkata-kata lagi. Segera ia melangkahkan kakinya meneruskan perjalanan ke rumah Wong Sarimpat. Perjalanan itu sudah tidak begitu jauh lagi. Tetapi mereka harus berjalan melingkar-lingkar di tebing pegunungan gundul. Sekali-sekali mereka harus menuruni tebing yang curam, namun sekali-sekali mereka harus berjalan sepanjang jalan yang beranak tangga.
“Apakah paman Wong Sarimpat tadi juga lewat jalan ini, guru?” bertanya Kuda Sempana.
Gurunya menganggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak berpaling. Dengan tongkatnya ia mencoba menahan tubuhnya pada sebuah tebing yang rendah.
“Bukan main, bukan main,“ gumam Kuda Sempana. Ia menjadi semakin kagum melihat jalan yang harus dilewati pula oleh Wong Sarimpat, “Alangkah tangkasnya.”
Tetapi baik gurunya, maupun Cundaka sama sekali tidak menyahut. Dengan hati-hati mereka melangkahkan kaki-kaki mereka menuruni pegunungan gundul itu. Setelah berjalan melingkar-lingkar akhirnya mereka sampai juga di kaki bukit gundul itu. Sebuah ngarai yang dikelilingi oleh bukit-bukit serupa. Di tengah-tengah ngarai itu tampak sebuah gerumbul yang kecil. Pedukuhan Kemundungan.
Tetapi Kebo Sindet dan Wong Sarimpat tidak tinggal di padukuhan itu. Mereka berada di lereng bukit gundul ini. Mereka ternyata telah membuat sebuah, gubug kecil di muka mulut sebuah goa yang cukup luas. Tak seorang pun tahu, apakah yang mereka simpan di dalam goa itu, selain mereka berdua, kakak beradik dan mereka pun seperguruan pula. Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.
Dengan ragu-ragu Empu Sada berjalan di sepanjang kaki bukit. Ia pernah mengunjungi kedua laki-laki kakak beradik ini dahulu bersama kakak seperguruannya untuk suatu keperluan. Ia kenal keduanya karena kakak seperguruannya itu pula. Tetapi kakak seperguruannya itu kini telah tidak ada lagi. Mati terbunuh. Tetapi itu adalah akibat yang sudah diketahuinya lebih dahulu. Orang yang bermain-main dengan maut, maka maut itu akan datang menghampirinya setiap saat.
Saat itu Kebo Sindet dan Wong Sarimpat telah dimintanya pula membantu mencari pembunuh kakaknya itu. Tetapi bukan main besar upah yang dimintanya. Hampir semua kekayaan kakaknya habis dijualnya untuk memenuhi permintaan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Tetapi seperti Kuda Sempana pada saat ini, maka dendamnya kepada pembunuh kakak seperguruannya itu telah menutup segala macam akal dan pikirannya. Apapun yang harus diberikannya, namun pembunuh itu harus dibunuhnya.
Ternyata usahanya saat itu berhasil. Pembunuh kakaknya adalah seorang Empu sakti yang tidak pernah menetap di suatu tempat. Ternyata keduanya bertemu pada suatu tempat yang tidak menyenangkan. Tempat yang dipenuhi oleh bau tuak dan dikelilingi oleh nafsu-nafsu lahiriah yang lain.
Dari orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu Empu Sada mendengar, bahwa keduanya bertengkar dan kemudian berkelahi hampir semalam suntuk. Namun akhirnya kakak seperguruannya itu terbunuh. Empu Sakti yang bernama Empu Galeh itu menjadi buas dan mencuci tangannya dengan darah kakak seperguruannya itu.
Tetapi ceritera ini tidak pernah diceriterakannya kepada murid-muridnya. Empu Sada menyimpan ceritera itu di dalam hatinya. Bagaimana ia bertiga dengan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat mencari Empu Galeh. Ternyata Empu Galeh itu mereka temui di tempat yang serupa. Dan perkelahian pun segera terjadi pula.
“Kami telah mengeroyoknya,“ gumam Empu Sada di dalam hati. Tiba-tiba bulu-bulunya meremang ketika teringat olehnya bagaimana Kebo Sindet mencincang Empu yang telah mati itu. “Mengerikan,” desisnya di dalam hati, “Ternyata Kebo Sindet tidak kalah buasnya dengan Empu Galeh yang sakti itu.”
Sekali-sekali Empu Sada itu berdesis. Kenangan tentang Empu Galeh selalu mengganggunya. Ia telah berjanji dengan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat, bahwa tak seorang pun boleh mengetahui rahasia itu. Murid-murid mereka pun tidak, supaya apabila ada keluarga, saudara seperguruan Empu Galeh, maka berita tentang kematiannya tidak menimbulkan persoalan yang berkepanjangan.
Mereka bertiga, Empu Sada dan kedua muridnya kini berjalan menyelusuri kaki bukit gundul itu. Ketika agak jauh dihadapan mereka tampak sebuah gubug kecil di lereng bukit gundul itu, maka berkata Empu Sada kepada kedua muridnya itu,
“Itulah rumahnya. Di dalam rumah itu terdapat sebuah mulut goa.”
Bulu-bulu kuduk Cundaka berdesir. Hampir-hampir ia memutuskan untuk kembali sebelum ia sampai ke rumah itu. perlahan-lahan ia berkata kepada gurunya, “Guru, aku kira, aku tidak lagi mempunyai banyak kepentingan. Kalau Kebo Sindet dan Wong Sarimpat bersedia membantu guru dan Kuda Sempana, maka tenagaku pasti sudah tidak berguna lagi. Karena itu, apakah aku boleh mendahului kembali ke rumahku?”
Empu Sada tiba-tiba menjadi tegang. Ditatapnya wajah muridnya itu. Dengan suara parau ia menjawab, “Jangan. Jangan pergi sebelum kau menginjakkan kakimu ke rumah itu. Dengan demikian akan dapat timbul salah sangka. Dan umurmu tidak akan mencapai fajar besok. Kau tahu, bahwa aku tidak akan dapat melindungimu. Mungkin aku mampu melawan salah seorang dari mereka tetapi yang seorang akan dengan leluasa berbuat atasmu, seperti seekor kucing terhadap seekor tikus yang malang.”
Sementara itu Empu Sada dan kedua muridnya langsung mencari Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Bagi Kuda Sempana perjalanan itu seakan-akan terasa terlampau lama.
“Apakah kita masih harus bermalam lagi guru?” bertanya Kuda Sempana.
“Tidak,“ sahut gurunya, “kita cukup bermalam di perjalanan satu malam. Hari ini kita akan sampai meskipun menjelang senja.”
Kuda Sempana tidak bertanya lagi. Mereka berjalan semakin cepat, seolah-olah mereka takut terlambat. Di sepanjang jalan, kadang-kadang Empu Sada sempat juga bertanya-tanya di dalam hatinya, apakah yang telah mendorongnya berjalan demikian jauhnya mencari orang-orang yang hampir tak dapat diajak bergaul menurut adab yang berlaku?
”Hem,“ desisnya. Ia mulai ragu-ragu sendiri, “apakah aku akan dapat mempergunakannya? Mereka berdua adalah orang-orang yang liar, sebenarnya liar. Mudah-mudahan aku akan mampu mengendalikannya.”
Tetapi orang tua itu tidak mengatakannya kepada muridnya. Meskipun Kuda Sempana kadang-kadang melihat keragu-raguan itu, namun ternyata gurunya masih juga melangkahkan kakinya menuju ke desa Kemundungan. Tongkatnya yang panjang di tanah yang berdebu.
Bagi Kuda Sempana meragukan gurunya itu telah benar-benar mengecewakan. Ia tahu benar sifat gurunya. Gurunya hanya mau berbuat sesuatu apabila ada pamrih yang dapat memberinya keuntungan. Karena itu, maka berkali-kali ia menjanjikan kepada gurunya, bahwa apabila ada keuntungan yang akan didapatnya berupa benda-benda maka ia sama sekali tidak menginginkannya.
“Apakah yang akan aku dapatkan dari bendungan itu apabila kita kelak akan merusak bendungan dan membunuh Mahisa Agni?” suatu kali Empu Sada bertanya.
Kuda Sempana tidak dapat menjawab. Memang ia tidak melihat keuntungan yang berwujud benda-benda berharga dari perbuatan itu. Perbuatan itu hanyalah sekedar pelepasan dendam yang membara di dada Kuda Sempana.
“Kuda Sempana,“ berkata gurunya, “kali ini kau jangan menilai tenagaku dengan upah yang dapat kau berikan. Kalau kau ingin berbuat demikian, maka harta seluruh istana Tunggul Ametung di Tumapel tidak cukup bernilai dibandingkan dengan apa yang telah dan akan lakukan untukmu. Tetapi aku benar-benar terdorong oleh suatu rasa bertanggung jawab dari seorang guru terhadap muridnya. Aku malu melihat sikap Panji Bojong Santi yang selalu melindungi murid-muridnya apabila benar-benar dihadapkan pada suatu bahaya.”
“Terima kasih guru,“ sahut Kuda Sempana dalam nada yang datar. Tetapi hatinya berkata, “Omong kosong. Aku kenal kau sejak lama. Betapa kau dicengkam oleh ketamakanmu atas harta dan benda.”
Bahu Reksa Kali Elo yang ikut dalam perjalanan itu, hampir tidak ikut serta dalam setiap pembicaraan. Namun semakin lama ia pun menjadi semakin jemu atas sikap Kuda Sempana. Semakin lama, setelah ditimbangnya, maka ia tidak akan mendapat apapun dari perbuatan-perbuatannya yang berbahaya itu. Ketika ia bersama Kuda Sempana mencoba menculik Ken Dedes dari tengah-tengah hutan, maka ia masih mengharap, mungkin calon permaisuri Akuwu Tunggul Ametung itu membawa perhiasan yang sangat berharga, yang dapat menebus lelah dan bahaya yang telah dilakukannya.
Tetapi kini harapan itu hampir tidak dilihatnya. Meskipun demikian, ia masih juga berjalan mengikuti gurunya. Siapa tahu, bahwa suatu ketika ia melihat persoalan yang dapat memberinya banyak keuntungan. Mungkin ia akan mendapat lubang-lubang yang dapat membuka hubungan lain yang justru lebih baik, hubungan perdagangan dengan orang-orang yang ditemuinya.
Perjalanan itu pun semakin lama menjadi semakin mendekati padukuhan Kemundungan. Perjalanan itu kini menembus hutan-hutan perdu yang tipis. Kemudian mereka sampai pada tanah berbatu-batu yang gundul. di sana sini tampak tanah yang berwarna coklat keputih-putihan. Disebelah bukit-bukit gundul itulah terletak desa terpencil yang bernama Kemundungan. Desa yang jauh lebih kecil dan terpencil dari padukuhan Panawijen. Tak banyak yang dapat diketahui orang tentang desa terpencil itu.
Melihat daerah yang gundul tandus dan pohon-pohon cemara yang kurus menjulang tinggi, hati Kuda Sempana menjadi berdebar. Belum pernah ia melihat daerah yang segersang itu. Ia pernah melihat daerah Panawijen yang kering. Tetapi tidak segarang alam yang dihadapinya. Tanah yang berbatu-batu, berwarna coklat keputihan.
Empu Sada yang berjalan di paling depan, berpaling sambil berkata, “Inilah pedukuhan kecil itu Kuda Sempana.”
“Pegunungan batu guru.”
Empu Sada tersenyum, “Ya,“ jawabnya, “pegunungan yang keras ini agaknya telah membantu membuat Kebo Sindet dan Wong Sarimpat memiliki kelakuannya sekarang.”
“Apakah mereka tinggal di daerah ini sejak kecilnya?” tanya orang yang menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo.
“Aku tidak tahu,“ sahut Empu Sada, “tetapi disini dahulu tinggal seorang sakti. Orang itu adalah guru Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.”
“Siapakah orang sakti itu?”
“Aku baru melihatnya dua kali. Orang itu adalah kawan guruku. Tetapi mereka mempunyai sifat yang jauh berbeda.”
“Apakah perbedaan itu?”
Empu Sada menelan ludahnya. Ia tidak dapat mengatakannya, sebab selama ini sikap dan kelakuannya sendiri tidak dapat dibanggakannya seperti ia ingin membanggakan gurunya. Karena itu maka orang tua itu pun terdiam.
“Bagaimana guru,“ desak Kuda Sempana.
“Aku tidak tahu,“ jawab Empu Sada akhirnya, “aku tidak tahu perbedaan diantara keduanya. Tetapi yang aku dengar, orang sakti yang tinggal di dalam goa didekat Kemundungan itu adalah seorang bangsawan dari Daha. tetapi bangsawan itu merasa dirinya terhina dan terbuang dari lingkungannya karena kesalahan yang tak dapat diampuni lagi. Beruntunglah Bangsawan itu tidak mendapat hukuman sapu sampai mati seperti yang berlaku bagi kesalahan serupa.”
“Apakah kesalahan itu?”
Empu Sada terdiam sejenak. Namun kemudian ia berkata pula, “Aku tidak tahu pasti. Menurut guruku, bangsawan itu telah melanggar hubungan kekeluargaan.”
Kuda Sempana mengerutkan keningnya, katanya, “Kesalahan yang dicari-cari.“
Empu Sada memandang wajah muridnya itu. Wajah yang merah hitam dibakar oleh sinar matahari seperti wajahnya sendiri. Tetapi Empu Sada tidak menyahut. Seperti Kuda Sempana sendiri yang saat ini sedang mencoba melanggar hubungan kekeluargaan meskipun sedang dijalin. Justru keluarga Akuwu Tunggul Ametung. Karena itu, maka adalah wajar bahwa Kuda Sempana tidak senang mendengar jenis kesalahan itu.
Kini sejenak mereka berdiam diri. Dihadapan mereka tampak segerombol pepohonan yang hijau. Itulah desa Kemundungan. Setapak-setapak mereka berjalan maju menyusuri jalan sempit di lambung bukit-bukit gundul. Sekali-sekali kaki-kaki mereka menginjak ujung-ujung batu yang runcing dan sekali-sekali duri-duri liar yang tumbuh di sisi-sisi jalan.
Tiba-tiba Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Desisnya, “Jangan terkejut apabila kau nanti melihat keanehan-keanehan kedua orang itu.”
“Macam apakah keanehan itu guru?” bertanya Kuda Sempana.
“Sifat dan wataknya yang dapat kau lihat pada gerak-gerik mereka.”
Cundaka yang menyebut dirinya Bahu Reksa Kali Elo menjadi semakin bimbang. Tanpa disangka-sangka ia berkata, “Apakah kita tidak dapat berbuat lain tanpa mereka?”
Kuda Sempana mengerutkan keningnya. Dipandanginya wajah saudara seperguruannya itu dengan tajamnya, “kenapa?” desisnya.
“Apakah kita tidak berusaha mencari jalan lain?” katanya pula.
“Kau melemahkan hatiku,“ sahut Kuda Sempana cepat-cepat, “tak ada jalan lain. Yang kita hadapi adalah Empu Purwa, Panji Bojong Santi dan tukang keris yang gila itu. Apakah guru sendiri bersama kita mampu menghadapinya, seperti yang pernah terjadi di hutan dekat padang Karautan itu?”
Cundaka tidak menjawab. Ia tahu benar betapa keras hati saudara seperguruannya. Tetapi gurunyalah yang berkata, “Aku melihat jalan lain Kuda Sempana.”
“Apa itu guru?”
“Kita tidak ingin membunuh Mahisa Agni atau mengambil Ken Dedes.”
“Tidak,“ teriak Kuda Sempana, “itu harus terjadi. Dendam telah membakar jantungku. Sedangkan tidak ada orang lain yang akan dapat membantu aku selain guru dan kedua orang itu.”
Empu Sada menarik nafas panjang. Ia sudah terlanjur terlibat sehingga sulit baginya untuk melepaskan dirinya. Kuda Sempana adalah muridnya yang telah cukup lama berada di dalam asuhannya. Bagaimanapun juga terasa adanya suatu ikatan diantara mereka yang memaksa Empu Sada kali ini mencoba memenuhi permintaan muridnya itu.
“Aku kenal keduanya,“ gumamnya seperti kepada diri sendiri, “mudah-mudahan aku dapat mengendalikannya.”
Belum lagi Empu Sada mengatupkan mulutnya, mereka dikejutkan oleh suara lecutan yang keras, disusul oleh sebuah teriakan nyaring, “He, siapa itu?”
Sekali lagi Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Katanya sambil menggerakkan dagunya menunjuk ke sebuah ngarai yang agak dalam. “Itu adalah salah seorang dari mereka. Agaknya mereka tidak sedang mengembara.”
“Siapakah ia,“ bertanya Cundaka yang menyebut dirinya Bahu Reksa Kali Elo.
“Menilik bentuk tubuhnya yang pendek, ia adalah saudara yang muda, Wong Sarimpat,“ jawab gurunya.
Karena Empu Sada belum menjawab maka kembali terdengar teriakan dari bawah kaki mereka, “He siapa kalian? Kalau kalian tidak menjawab, aku dapat membunuh kalian dari sini.”
Sambutan itu telah membuat dada Cundaka berdesir. Sambil mengerutkan keningnya ia berdesis, “Sambutan yang kasar.”
Empu Sada tersenyum, “Itulah mereka,“ katanya sambil mengangkat tongkat panjangnya.
Tiba-tiba meledaklah tawa yang riuh dari bawah tebing itu. Orang yang bertubuh pendek namun berdada lebar itu kemudian berlari-lari ke arah seekor kuda yang sedang makan rumput. Dengan gerak yang sangat lincah ia dengan serta-merta meloncat keatas punggung kuda tanpa pelana itu. Dengan satu sentakan pada kendalinya, maka kuda itu pun berlari kencang sekali.
Mereka bertiga berdiri terpaku melihat ketangkasan Wong Sarimpat bermain-main dengan kuda. Meskipun kuda itu sama sekali tidak berpelana, namun Wong Sarimpat sama sekali tidak mendapat kesulitan apapun ketika kuda itu berpacu mendaki tebing menyongsong mereka.
Empu Sada mengangguk-anggukan kepalanya sambil bergumam, “Mereka berdua adalah orang-orang yang cekatan. Aku belum pernah melihat orang mampu menunggang kuda seperti mereka berdua.”
Cundaka dan Kuda Sempana mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Namun wajah mereka mengungkapkan perasaan yang berbeda yang merayap di dalam dada masing-masing. Orang yang menamakan dirinya Bahu Reksa Kali Elo itu sama sekali tidak senang melihat sambutan yang kasar dan sombong itu, namun Kuda Sempana menjadi kagum karenanya. Ia mengharap bahwa orang itu benar-benar akan dapat membantu melepaskan sakit hatinya, membunuh Mahisa Agni dan menggagalkan usahanya dan membuat bendungan. Bahkan kalau mungkin mendapatkan Ken Dedes. Menculiknya dari istana Tumapel.
Kuda yang ditunggangi oleh Wong Sarimpat itu seperti merayap tebing bukit gundul itu. Melingkar-lingkar menyusur dalam yang sempit berbatu-batu. Namun Wong Sarimpat memacu kudanya seperti dikejar setan.
“Mendebarkan,“ gumam Kuda Sempana, “orang itu benar-benar cakap menunggang kuda. Kalau tidak, maka ia pasti sudah terpelanting masuk jurang.” Empu Sada tidak menjawab. Tetapi ia mengangguk.
Jarak itu sebenarnya tidak terlampau jauh, tetapi kuda itu tidak dapat langsung meloncat mencapai mereka. Kuda itu harus melingkari beberapa puntuk. Menghilang kemudian muncul kembali. Namun di sepanjang perjalanan itu Wong Sarimpat telah berteriak keras-keras,
“He, Empu yang bertongkat panjang, apa kerjamu di situ?”
Empu Sada tidak menjawab. Dibiarkannya Wong Sarimpat berteriak-teriak sendiri. Akhirnya kuda itu muncul dari balik seonggok batu pada dihadapan mereka. Seorang yang berwajah keras sekeras batu-batu padas di bukit gundul, berbulu lebat dan berkumis melintang duduk diatas punggungnya sambil bertanya,
“Apakah kau sekarang bisu?”
Cundaka, yang menamakan dirinya Bahu Reksa Kali Elo adalah seorang yang kasar. Tetapi ketika ia mendengar pertanyaan Wang Sarimpat terhadap gurunya, keningnya berkerut. Jantungnya serasa berdentangan karena perasaan tidak senang mendengar sambutan Wong Sarimpat yang sangat kasar. Tetapi ia menjadi heran. Gurunya sama sekali tidak marah mendengar sapa itu. Bahkan sambil tersenyum ia menjawab,
“Wong Sarimpat. Aku tidak biasa berteriak seperti monyet kepanasan.”
Sekali lagi terdengar Wong Sarimpat tertawa terbahak-bahak. Katanya, “Ha, masih juga kau bisa berbicara. Apa maumu datang kemari he?”
“Apakah aku tidak kau ajak singgah ke rumahmu?”
Wong Sarimpat membelalakkan matanya. Jawabnya, “Kau jangan menghina Empu tua. Kau tahu aku tidak mempunyai rumah.”
“Apakah yang kau maksudkan dengan rumah Wong Sarimpat?” bertanya Empu Sada, “rumah bukan berarti sebuah bangunan. Rumahmu adalah tempat kau tidur, tempat kau tinggal bersama saudaramu dan tempat kau menyembunyikan kekayaan hasil rampokanmu.”
Kali ini suara tertawa Wong Sarimpat benar-benar memenuhi lereng-lereng bukit gundul. Ia senang mendengar kata-kata Empu Sada yang berusaha menyesuaikan dirinya dengan watak orang itu. Setelah suara tertawa itu mereda maka orang itu menjawab,
“Hem, kau ingin melihat tempat aku menyimpan kekayaanku he? Kau suatu ketika akan merampok aku?”
“Tidak,“ sahut Empu Sada, “aku akan berdosa dua kali lipat. Kekayaanmu kau dapatkan dengan jalan yang tidak seharusnya. Kalau aku merampokmu, maka dosamu akan ikut serta bersama harta benda itu di samping dosaku sendiri.”
Wong Sarimpat mengerutkan keningnya. Dengan tajam dipandanginya wajah Empu Sada. Kemudian katanya, “Apakah kau tidak pernah merampok?”
“Tentu tidak,“ sahut Empu Sada, “aku mendapatkan kekayaanku dengan menjual tenaga. Terjadilah jual beli. Bukankah itu bukan suatu perampokan.”
Wong Sarimpat terdiam sejenak. Kemudian jawabnya, “Sama saja. Hampir sama,“ orang itu terdiam sejenak. Tiba-tiba ia menunjuk kepada Kuda Sempana dan Cundaka sambil bertanya, “Kenapa kau bawa tikus-tikus ini. Inikah pengikut-pengikutmu atau orang-orang yang telah membeli tenagamu itu?” Cundaka menjadi semakin tidak senang. Wajahnya menjadi berkerut merut. Namun tiba-tiba ia terkejut ketika Wong Sarimpat membentaknya, “He kenapa kau memandang aku seperti itu. Kau belum pernah mengenal Wong Sarimpat he tikus busuk?”
Bagaimanapun juga pertanyaan itu benar-benar menyakitkan hati. Orang yang menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo itu pun termasuk orang yang kasar. Hampir-hampir ia lupa dengan siapa ia berhadapan. Namun ketika mulutnya hampir menjawab sekali lagi Wong Sarimpat membentaknya,
“Jangan buka mulutmu itu. Kalau kau mencoba juga, paling sedikit empat gigimu akan terlepas.”
Sesuatu terasa menghentak dada Cundaka yang menyebut dirinya Bahu Resa Kali Elo. Perasaannya sama sekali tidak mau menerima teguran serupa itu. Tetapi ia tahu benar bahwa Wong Sarimpat adalah orang yang sejajar dengan gurunya. Karena itu bagaimanapun juga hatinya menjadi sakit, namun ia mencoba untuk menahan mulutnya.
Yang menjawab kemudian adalah Empu Sada, “Jangan terlampau kasar Wong Sarimpat. Anak-anak bisa mati ketakutan melihat tingkah lakumu.”
“Huh, hanya anak-anak cengeng seperti anak-anakmu inilah yang pasti akan mati ketakutan.”
Empu Sada tersenyum kepada kedua muridnya ia berkata, “Inilah pamanmu Wong Sarimpat. Jangan takut dan jangan sakit hati. Sudah menjadi watak dan kebiasaannya, ia berbuat demikian.”
Wong Sarimpat tiba-tiba memotong, “Tidak ini bukan sekedar watak dan sekedar kebiasaannya. Tetapi aku berkata sebenarnya. Ayo, suruh murid-muridmu membuka mulutnya sebelum aku beri kesempatan. Kau akan tahu akibatnya.”
“Mungkin akan terjadi demikian Wong Sarimpat,” sahut Empu Sada, “Tetapi kalau tidak ada Empu Sada berdiri disini.”
Tiba-tiba sekali lagi Wong Sarimpat itu tertawa terbahak-bahak. Katanya diantara suatu tertawanya, “Aku percaya. Kalau begitu aku percaya bahwa kau akan mampu mencegah yang akan aku lakukan. Tetapi aku pun jadi yakin kalau murid-muridmu ini tidak lebih dari tikus cengeng yang tidak dapat berdiri tegak tanpa gurunya.”
Cundaka telah benar-benar menjadi muak mendengar sambutan itu, namun sebelum ia menyahut, terdengar Empu Sada berkata, “Ayo, bawa aku ke sarangmu. Mungkin kau lebih senang aku menyebut sarang daripada rumah.”
“Hem,“ Wong Saripat menarik nafas, “kau akan merampok?”
“Tidak. Aku ingin bertemu kau berdua dengan kakakmu.”
“Apa keperluanmu?”
“Nanti aku katakan.”
“Katakan sekarang.”
“Tidak pantas. Sebelum aku memasuki rumahmu aku tidak akan mengatakan keperluan itu.”
“He. Apa yang tidak pantas? Aku tidak terikat pada adat atau cara apapun. Tak ada yang tidak pantas bagiku apabila aku kehendaki. Tetapi kalau kau ingin bertemu dengan kakang Kebo Sindet. Ikutilah aku.”
Tetapi Wong Sarimpat tidak menunggu jawaban Empu Sada. Dengan serta merta digerakkan kendali kudanya dan segera kuda itu pun berputar dan berlari menuruni tebing. Demikian orang itu menghilang di balik sebuah puntuk yang menjorok, maka terdengarlah Empu Sada menarik nafas dalam-dalam.
“Itu salah seorang dari mereka,“ desisnya. Kemudian dilanjutkannya, “Apakah kau masih bernafsu Kuda Sempana?”
Kuda Sempana terkejut mendengar pertanyaan gurunya. Tetapi yang lebih dahulu menjawab adalah orang yang menamakan dirinya Bahu Reksa Kali Elo, “Huh, aku menjadi muak melihatnya.”
Tetapi ternyata Kuda Sempana segera menyahut, “Aku mengaguminya. Orang yang demikian adalah orang yang berhati terbuka. Apapun yang dipikirkannya itulah yang dikatakan dan diperbuatnya. Orang yang berwatak demikian adalah sahabat yang sebaik-baiknya. Ia tidak akan berbuat curang dan menyembunyikan persoalan-persoalan yang seharusnya diketahui bersama.”
Cundaka mengerutkan keningnya. Ditatapnya wajah Kuda Sempana dengan tajamnya. Ia tidak dapat mengerti, kenapa Kuda Sempana mempunyai penilaian demikian terhadap orang yang terlampau kasar itu. Tetapi Cundaka tidak mau bertengkar dengan saudara seperguruannya. Karena itu, maka ia pun kemudian berdiam diri.
Empu Sada sendiri sama sekali tidak memihak keduanya. Dibiarkannya kedua muridnya itu mempunyai tanggapan sendiri-sendiri. Tetapi Empu Sada yang tua itu dapat mengerti sikap keduanya. Cundaka menjadi semakin tidak senang kepada Wong Sarimpat karena orang itu telah membentak-bentaknya. Sedang Kuda Sempana menganggapnya orang yang paling baik untuk seorang sahabat, karena Kuda Sempana sedang memerlukan kawan untuk memuaskan nafsu dendamnya.
Namun betapa Empu Sada hidupnya selalu dipengaruhi oleh keinginannya mendapat harta benda, bahkan sampai dilakukannya menjual tenaga mengajar puluhan murid hanya sekedar untuk mendapatkan upah tanpa tujuan apa-apa itu, kali ini merasa bahwa ia telah terdorong dalam suatu sikap yang kurang bijaksana.
Tetapi semuanya telah terlanjur. Mulutnyalah yang pernah menyebut nama Kebo Sindet dan Wong Sarimpat untuk mempengaruhi lawannya waktu itu, Empu Gandring dan kemudian diulanginya pula dihadapan Bojong Santi. Murid-muridnya itu pun mendengar nama-nama Kebo Sindet dan Wong Sarimpat dari padanya pula. Empu Sada itu berpaling ketika ia mendengar suara Kuda Sempana,
“Guru, apakah kita akan berdiri saja disini?”
“Oh,“ desis Empu Sada, “jadi kita teruskan perjalanan ke rumah Wong Sarimpat.”
“Tentu,“ sahut Kuda Sempana, “aku senang melihat dadanya yang terbuka. Mudah-mudahan kita mendapat kawan yang dapat bersama-sama menyelesaikan pekerjaan ini.”
Empu Sada tidak berkata-kata lagi. Segera ia melangkahkan kakinya meneruskan perjalanan ke rumah Wong Sarimpat. Perjalanan itu sudah tidak begitu jauh lagi. Tetapi mereka harus berjalan melingkar-lingkar di tebing pegunungan gundul. Sekali-sekali mereka harus menuruni tebing yang curam, namun sekali-sekali mereka harus berjalan sepanjang jalan yang beranak tangga.
“Apakah paman Wong Sarimpat tadi juga lewat jalan ini, guru?” bertanya Kuda Sempana.
Gurunya menganggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak berpaling. Dengan tongkatnya ia mencoba menahan tubuhnya pada sebuah tebing yang rendah.
“Bukan main, bukan main,“ gumam Kuda Sempana. Ia menjadi semakin kagum melihat jalan yang harus dilewati pula oleh Wong Sarimpat, “Alangkah tangkasnya.”
Tetapi baik gurunya, maupun Cundaka sama sekali tidak menyahut. Dengan hati-hati mereka melangkahkan kaki-kaki mereka menuruni pegunungan gundul itu. Setelah berjalan melingkar-lingkar akhirnya mereka sampai juga di kaki bukit gundul itu. Sebuah ngarai yang dikelilingi oleh bukit-bukit serupa. Di tengah-tengah ngarai itu tampak sebuah gerumbul yang kecil. Pedukuhan Kemundungan.
Tetapi Kebo Sindet dan Wong Sarimpat tidak tinggal di padukuhan itu. Mereka berada di lereng bukit gundul ini. Mereka ternyata telah membuat sebuah, gubug kecil di muka mulut sebuah goa yang cukup luas. Tak seorang pun tahu, apakah yang mereka simpan di dalam goa itu, selain mereka berdua, kakak beradik dan mereka pun seperguruan pula. Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.
Dengan ragu-ragu Empu Sada berjalan di sepanjang kaki bukit. Ia pernah mengunjungi kedua laki-laki kakak beradik ini dahulu bersama kakak seperguruannya untuk suatu keperluan. Ia kenal keduanya karena kakak seperguruannya itu pula. Tetapi kakak seperguruannya itu kini telah tidak ada lagi. Mati terbunuh. Tetapi itu adalah akibat yang sudah diketahuinya lebih dahulu. Orang yang bermain-main dengan maut, maka maut itu akan datang menghampirinya setiap saat.
Saat itu Kebo Sindet dan Wong Sarimpat telah dimintanya pula membantu mencari pembunuh kakaknya itu. Tetapi bukan main besar upah yang dimintanya. Hampir semua kekayaan kakaknya habis dijualnya untuk memenuhi permintaan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Tetapi seperti Kuda Sempana pada saat ini, maka dendamnya kepada pembunuh kakak seperguruannya itu telah menutup segala macam akal dan pikirannya. Apapun yang harus diberikannya, namun pembunuh itu harus dibunuhnya.
Ternyata usahanya saat itu berhasil. Pembunuh kakaknya adalah seorang Empu sakti yang tidak pernah menetap di suatu tempat. Ternyata keduanya bertemu pada suatu tempat yang tidak menyenangkan. Tempat yang dipenuhi oleh bau tuak dan dikelilingi oleh nafsu-nafsu lahiriah yang lain.
Dari orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu Empu Sada mendengar, bahwa keduanya bertengkar dan kemudian berkelahi hampir semalam suntuk. Namun akhirnya kakak seperguruannya itu terbunuh. Empu Sakti yang bernama Empu Galeh itu menjadi buas dan mencuci tangannya dengan darah kakak seperguruannya itu.
Tetapi ceritera ini tidak pernah diceriterakannya kepada murid-muridnya. Empu Sada menyimpan ceritera itu di dalam hatinya. Bagaimana ia bertiga dengan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat mencari Empu Galeh. Ternyata Empu Galeh itu mereka temui di tempat yang serupa. Dan perkelahian pun segera terjadi pula.
“Kami telah mengeroyoknya,“ gumam Empu Sada di dalam hati. Tiba-tiba bulu-bulunya meremang ketika teringat olehnya bagaimana Kebo Sindet mencincang Empu yang telah mati itu. “Mengerikan,” desisnya di dalam hati, “Ternyata Kebo Sindet tidak kalah buasnya dengan Empu Galeh yang sakti itu.”
Sekali-sekali Empu Sada itu berdesis. Kenangan tentang Empu Galeh selalu mengganggunya. Ia telah berjanji dengan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat, bahwa tak seorang pun boleh mengetahui rahasia itu. Murid-murid mereka pun tidak, supaya apabila ada keluarga, saudara seperguruan Empu Galeh, maka berita tentang kematiannya tidak menimbulkan persoalan yang berkepanjangan.
Mereka bertiga, Empu Sada dan kedua muridnya kini berjalan menyelusuri kaki bukit gundul itu. Ketika agak jauh dihadapan mereka tampak sebuah gubug kecil di lereng bukit gundul itu, maka berkata Empu Sada kepada kedua muridnya itu,
“Itulah rumahnya. Di dalam rumah itu terdapat sebuah mulut goa.”
Bulu-bulu kuduk Cundaka berdesir. Hampir-hampir ia memutuskan untuk kembali sebelum ia sampai ke rumah itu. perlahan-lahan ia berkata kepada gurunya, “Guru, aku kira, aku tidak lagi mempunyai banyak kepentingan. Kalau Kebo Sindet dan Wong Sarimpat bersedia membantu guru dan Kuda Sempana, maka tenagaku pasti sudah tidak berguna lagi. Karena itu, apakah aku boleh mendahului kembali ke rumahku?”
Empu Sada tiba-tiba menjadi tegang. Ditatapnya wajah muridnya itu. Dengan suara parau ia menjawab, “Jangan. Jangan pergi sebelum kau menginjakkan kakimu ke rumah itu. Dengan demikian akan dapat timbul salah sangka. Dan umurmu tidak akan mencapai fajar besok. Kau tahu, bahwa aku tidak akan dapat melindungimu. Mungkin aku mampu melawan salah seorang dari mereka tetapi yang seorang akan dengan leluasa berbuat atasmu, seperti seekor kucing terhadap seekor tikus yang malang.”
OBJEK WISATA MANCA NEGARA


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar