Orang yang menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo itu menggeram. Tetapi ia tidak berkata apapun. Sekali disambarnya wajah Kuda Sempana dengan sudut matanya. Tetapi wajah itu disaput oleh harapan untuk melepaskan dendamnya. Kembali mereka berjalan perlahan-lahan menuju ke rumah gubug di lereng bukit itu.
“Dari mana mereka mendapat makan guru?” bertanya Kuda Sempana tiba-tiba.
“Desa itu telah memberinya makan. Setiap orang yang tinggal di Kemundungan adalah orang-orang yang seolah-olah terikat kaki dan tangannya. Mereka bekerja keras, namun mereka tidak dapat berbuat banyak atas hasil jerih payahnya. Hasil tanah mereka, sebagian harus mereka pergunakan untuk memberi kedua orang itu makan sekenyang-kenyang mereka.”
Kuda Sempana mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia pun kini tidak bertanya-tanya lagi. Namun dalam pada itu, timbullah berbagai pertanyaan di dalam kepala Cundaka. Ia pernah pula melakukan pemerasan, bahkan perampokan. Hampir setiap kali ia mendapat bermacam-macam barang dari murid-muridnya. Ia tahu benar, bahwa barang-barang itu adalah barang-barang yang didapatnya dengan jalan yang tidak wajar.
Tetapi sekali-sekali ia sempat menikmati hasil dari benda-benda itu. Sekali-sekali ia makan seenak-enaknya, bersuka ria dan berjalan di jalan-jalan kota dengan pakaian yang sebaiknya. Bahkan seolah-olah segala nafsunya telah dimanjakannya. Kini ia berhadapan dengan dua orang laki-laki kakak beradik yang aneh. Mereka merampok, memeras dan segala macam cara untuk mendapatkan kekayaan. Tetapi mereka hidup terpencil, di dalam gubug kecil di lereng sebuah bukit gundul. Mereka hidup seperti seorang yang semiskin-miskinnya di dunia ini. Pakaian yang kumal, badan tidak terpelihara dan rumah yang terlampau jelek.
“Untuk apakah kekayaan yang ditimbunnya itu,“ katanya di dalam hati. Tiba-tiba tanpa sesadarnya ia bertanya, “Guru, apakah kedua orang itu mempunyai anak?”
Empu Sada berpaling. Sambil mengerutkan keningnya ia menjawab, “Sepanjang yang aku ketahui, kedua orang itu sama sekali tidak pernah kawin.”
Begitu besar desakan pertanyaan di dalam dadanya, maka Cundaka itu berkata, “Hem. Untuk apakah kiranya kekayaan yang disimpannya selama ini? Tak akan ada keturunan yang akan mewarisinya.”
Empu Sada tidak menjawab, dan orang yang menyebut dirinya Bahu Reksa Kali Elo yang menganggap dirinya seorang pedagang keliling itu tidak bertanya lagi. Gubug itu kini sudah dekat dihadap mereka. Seekor kuda berdiri lepas dihadapan gubug itu. Dari dalam gubug itu pun kemudian muncul kembali Wong Sarimpat. Dengan berteriak ia berkata,
“Cepat sedikit. Kami sudah gelisah menunggumu. Apakah kau sudah kelaparan?”
Empu Sada tidak menjawab. Beberapa kerut tergores di keningnya. Namun ia harus mencoba menyesuaikan dirinya. Sebelum mereka sampai di gubug itu, maka Wong Sarimpat pun telah menghilang ke dalam rumahnya. Namun suaranya masih terdengar,
“Orang-orang malas itu tertidur di jalan kakang.”
Semakin dekat mereka ke mulut gubug yang kecil itu, maka hati mereka menjadi semakin berdebar-debar. Bukan saja Cundaka, namun juga Kuda Sempana dan bahkan Empu Sada sendiri. Ia mengharap bahwa kedua orang itu masih bersikap seperti terhadap kakak seperguruannya dulu dan seperti sikapnya pada saat mereka bersama-sama membalas dendam atas kematian kakak seperguruan Empu Sada.
Ketika mereka sampai di muka pintu, segera mereka melihat bahwa gubug itu seolah-olah kosong sama sekali. Yang ada didalamnya hanyalah sebuah amben bambu rendah. Selainnya tidak ada apa-apalagi. Diatas amben itu duduk seorang yang berwajah gelap, bertubuh kecil dan tinggi. Itulah Kebo Sindet. Kembali bulu-bulu duduk Cundaka meremang. Ketika ia menatap sorot mata orang yang bernama Kebo Sindet itu, darahnya seolah-olah jadi membeku. Berbeda dengan Wong Sarimpat, maka orang ini seolah-olah segan untuk berbicara.
“Masuklah,“ Wong Sarimpat mempersilahkan mereka. Tetapi ia masih saja duduk di amben itu pula.
Empu Sada melangkah memasuki ruangan gubug itu diikuti oleh kedua muridnya. Mereka pun kemudian duduk pula pada amben itu juga. Ketika amben itu bergerit, maka terdengar Kebo Sindet menggeram,
“Kau datang lagi kemari?”
Pertanyaan itu pun bukanlah pertanyaan yang lajim bagi dua orang yang telah lama tidak bertemu. Sekali lagi terasa di dada Cundaka yang menyebut dirinya Bahu Reksa Kali Elo, bahwa kedatangan mereka ke Kemundungan adalah suatu perbuatan yang tidak menyenangkan. Sikap kedua orang itu benar-benar membuat kepalanya pening.
Empu Sada yang mendapat pertanyaan itu menjawab, “Bukankah kau melihat bahwa aku datang lagi kemari.”
“Hem,“ Kebo Sindet menggeram. Tetapi kemudian ia terdiam untuk sesaat. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan sikap apapun. Dingin, bahkan wajah yang gelap itu seolah-olah membeku.
Ruangan itu sejenak menjadi sepi. Hanya nafas-nafas merekalah yang terdengar berkejaran lewat lubang-lubang hidung mereka. Matahari yang lesu semakin lama menjadi semakin rendah. Ruangan itu pun semakin lama menjadi semakin suram pula. Ketika sesaat kemudian matahari menyentuh punggung bukit di sebelah barat, maka cahayanya yang kemerah-merahan bertebaran diatas bukit gundul yang keputihan.
Mereka yang berada di ruangan gubug Kebo Sindet masih saja berdiam diri. Sekali-sekali terdengar amben itu bergerit. Dan Cundaka pun menjadi semakin gelisah pula karenanya. ketika tidak disengaja matanya menatap dinding gubug itu, dilihatnya sebuah pintu ereg yang tidak tertutup rapat. Dari celah-celah pintu itu ia melihat sebuah ruangan yang hitam kelam.
“Hem,“ gumamnya di dalam hati, “itulah mulut goa yang dikatakan oleh guru.”
Tiba-tiba Cundaka itu terkejut ketika ia mendengar suara Kebo Sindet datar, “Ya. Itu adalah mulut goa tempat aku menyimpan semua kekayaanku. Apakah kau mau masuk?”
Orang yang menyebut dirinya Bahu Reksa Kali Elo itu menjadi bingung, bagaimana ia harus menjawab. Dipalingkannya wajahnya memandangi wajah gurunya, seolah-olah ia ingin mendapat pertolongan untuk membebaskan dirinya dari pertanyaan yang tak dapat dijawabnya itu.
Empu Sada itu pun kemudian tersenyum. Katanya, “Hem, kau sangat baik Kebo Sindet. Tetapi biarlah lain kali saja kami melihat-lihat kekayaan yang tersimpan di dalam goa itu?”
“Lain kali kalau aku sedang pergi?”
“Tentu tidak, adalah tidak sopan untuk melihat rumah seseorang pada saat orang itu pergi.”
“Jangan berbicara tentang kesopanan. Kau juga tidak sopan dengan membunuh Empu Galeh bertiga bersama kami. Tak ada yang sopan di dalam hidup kami dan hidupmu. Nah, jangan menyangkal bahwa suatu ketika kau akan merampok aku apabila kau merasa telah mampu mengalahkan kami. Mungkin sekarang kau sedang memperhitungkan apakah kedua orang ini dapat mengalahkan salah seorang dari kami. Tetapi adalah perbuatan yang sangat gila apabila kau dapat keluar dari dalam goa itu, meskipun kami berdua tidak ada di rumah.”
“Kau terlalu berprasangka. Tetapi aku pun tidak segila yang kau sangka. Aku tidak akan percaya kalau kau menyimpan semua kekayaanmu di dalam goa itu. Goa yang hanya kau tutup dengan sebuah pintu bambu leregan. Kalau benar kekayaanmu kau simpan dalam goa itu, maka goa itu pasti sudah kau tutup dengan batu sebesar mulut goa itu sendiri.”
“Itu urusanmu. Percaya atau tidak percaya. Tetapi di dalam goa itu terdapat banyak sekali kerangka manusia yang mencoba mencari kekayaanku pada saat aku pergi. Tetapi mereka tidak pernah dapat keluar lagi.”
Tiba-tiba Empu Sada tertawa, “Kau memang pandai membual. Wajahmu yang beku itu sama sekali tidak pantas bagi seorang pembual. Apakah aku dapat mempercayainya, bahwa ada orang yang berani memasuki goa milik Kebo Sindet dan Wong Sarimpat?”
Kebo Sindet terdiam sesaat. Wajahnya masih gelap dan beku, seolah-olah tidak ada gerak apapun di dalam hatinya yang mampu menggerakkan kulit wajahnya. Tetapi wajah yang beku itu bagi Cundaka jauh lebih mengerikan dari wajah yang keras sekeras batu padas dengan kumis yang melintang dari Wong Sarimpat. Nada yang datar dari kalimat-kalimat yang meluncur dari mulut Kebo Sindet terasa lebih menyeramkan dari teriakan-teriakan yang kasar yang diucapkan oleh Wong Sarimpat.
Kini ruangan itu telah menjadi semakin gelap. Tetapi tak seorang pun dari kedua laki-laki itu yang berdiri untuk menyalakan pelita, sehingga mereka kini seolah-olah telah duduk di dalam goa.
Dalam ruang yang menjadi semakin hitam itu terdengar Kebo Sindet berkata, “Katakan apa keperluanmu.”
“Kenapa tergesa-gesa?“ bertanya Empu Sada, “aku akan bermalam disini. Besok aku akan mengatakan keperluanku. Kau tidak keberatan.”
“Terserah kepadamu,“ sahut Kebo Sindet, “tetapi jangan tidur di rumah ini.”
“Kenapa? Dan dimana aku harus tidur.”
“Terserah kepadamu.”
“Kenapa aku tidak boleh bermalam di rumah ini.”
“Kalian akan menyesal. Kadang-kadang penyakitku kambuh. Aku selalu ingin membunuh dengan mencekik leher seseorang apabila aku melihatnya tidur.”
“Gila,“ geram Empu Sada.
Wong Sarimpat pun tiba-tiba tertawa terbahak-bahak sampai amben itu berguncang. Katanya, “Kau benar-benar penakut. Di bukit gundul itu tidak ada binatang yang perlu kau takuti. Yang ada hanyalah harimau kumbang dan anjing hutan. Lebih baik bagi kalian melawan harimau kumbang dan anjing-anjing hutan itu daripada mati dicekik kakang Kebo Sindet selagi kalian tidur.”
“Kami tidak akan tidur,“ sahut Empu Sada menyentak, “kami akan duduk disini sampai pagi.”
“Kami yang akan tidur,“ berkata Wong Sarimpat.
Meskipun mereka duduk berhadapan, tetapi suaranya menggelegar seperti guntur mangsa kesanga. “Dan kau pasti akan berkata bahwa kami telah berbuat tidak sopan. Tidur dan membiarkan semuanya duduk semalam suntuk.”
Empu Sada mengerutkan keningnya. Ternyata Wong Sarimpat telah membuatnya sangat jengkel. Tetapi Empu Sada masih tetap menyadari keadaannya. Karena itu, sekali lagi ia mencoba menyesuaikan dirinya, jawabnya,
“Tak ada kesopanan di dalam hidup kita, bukankah begitu Kebo Sindet. Kalau kalian mau tidur tidurlah.”
“Itulah pula sebabnya kami tidak mempersilahkan kau tidur di gubug ini,“ sahut Wong Sarimpat pula.
Dada Empu Sada serasa menjadi sesak. Sambutan ini benar tidak diharapkannya. Dahulu ketika ia datang dengan kakak seperguruanya ia masih mendapat kesempatan tidur di dalam rumah ini. Tetapi sekarang, kedua orang itu ternyata telah menjadi bertambah liar.
Pada saat Empu Sada hampir saja membuka mulutnya, menjawab kata-kata Wong Sarimpat, terdengar Kebo Sindet mendahului, “Empu Sada, tak ada persoalan yang perlu diperbincangkan tentang itu. Aku tidak mau kau bermalam di rumah ini. Cukup. Sekarang kau mengatakan keperluanmu atau pergi dari rumah ini. Kembalilah besok atau kapan saja apabila kau sudah bersedia untuk mengucapkan kepentinganmu mencari kami berdua.”
Terdengar gigi Empu tua itu gemeretak. Tetapi ketika ia berpaling dan melihat Kuda Sempana, maka kembali ia menekan perasaannya. Ia datang ke tempat itu untuk memenuhi permintaan muridnya itu.
“Baik,“ berkata Empu Sada, “aku akan mengatakan kepentinganku datang kemari. Sesudah itu akan pergi.”
“Kalau kau mau mengatakannya, lekas katakan,“ desak Kebo Sindet. Wajahnya masih tetap membeku. Sinar matanya seakan-akan tanpa memancarkan sesuatu yang tersimpan di dalam hatinya. Beku seperti mata sesosok mayat.
Sekali Empu Sada berpaling kepada murid-muridnya. Tetapi dalam sekejap itu Empu Sada tidak berhasil melihat sorot mata mereka masing-masing. Ruangan itu menjadi semakin lama semakin gelap. Namun tak seorang pun diantara kedua laki-laki kakak beradik itu yang pergi menyalakan api. Dalam kegelapan dan dalam tatapan yang hanya sepintas itu Empu Sada tidak melihat betapa wajah orang yang menamakan dirinya Bahu Reksa Kali Elo menjadi berkerut-merut menahan dadanya yang hampir meledak. Tetapi orang itu pun menyadari, bahwa dirinya sendiri hampir tak berarti apapun bagi kedua orang itu.
“Kebo Sindet,“ berkata Empu Sada kemudian, “baiklah aku katakan saja langsung. Aku datang untuk memenuhi permintaan muridku. Ia mempunyai dendam di dalam hatinya. Mungkin kau akan dapat membantunya.”
Tiba-tiba ruangan itu seperti meledak karena suara tertawa Wong Sarimpat. Suara itu bergetar melingkar-lingkar di dalam ruangan yang sempit. Namun Kebo Sindet masih tetap duduk dengan pandangan yang kosong membeku. Seolah-olah tidak terjadi sesuatu pada dirinya, meskipun adiknya tiba-tiba tersentak tertawa. Suara tertawa Wong Sarimpat itu benar-benar menyakitkan telinga Empu Sada, apalagi Cundaka. Sehingga Empu Sada itu pun berkata,
“He, Wong Sarimpat. Suara tertawamu sangat menyakitkan telinga. Kenapa kau tiba-tiba tertawa he.”
Suara tertawa itu masih berkepanjangan. disela-sela suara tertawa itu terdengar Wong Sarimpat berkata, “Kau rupa-rupanya sudah menjadi gila Empu Sada. Kenapa kau pergi kemari hanya karena dendam salah seorang muridmu. Apalah kau sekarang telah berubah menjadi seekor kelinci jinak yang tidak berani berbuat sesuatu. Apalagi atas lawan muridmu?”
Empu Sada tidak segera menjawab. Dibiarkannya Wong Sarimpat tertawa sepuasnya. Baru ketika tertawa itu mereda ia berkata, “Apakah kalian masih akan mendengarkan keteranganku?”
Yang menjawab adalah Kebo Sindet, “berkatalah.”
“Muridku, Kuda Sempana menyimpan dendam di hatinya. Tetapi lawannya adalah seorang yang dilingkari oleh beberapa orang sakti meskipun tidak secara langsung. Orang-orang itu adalah Panji Bojong Santi, Empu Purwa dan Empu Gandring. Itulah sebabnya aku datang kemari. Aku mengharap bahwa kalian masih mempunyai cukup keberanian untuk berbuat bersama aku.”
Wong Sarimpat kini tidak tertawa lagi. Bahkan sekali-sekali dipandangnya wajah kakaknya yang membeku itu. Namun Kebo Sindet tidak segera menjawab. Lebih-lebih dalam kegelapan, tak terlihat sama sekali kesan pada wajah yang mati itu.
Tiba-tiba dari sela-sela bibir Kebo Sindet terdengar suaranya datar, “Kenapa kau kemari?”
Empu Sada mengerutkan keningnya. Kemudian jawabnya, “Aku memerlukan kalian untuk membantu kami. Kalian tidak usah berbuat apapun atas lawan Kuda Sempana. Biarlah anak itu diselesaikan sendiri oleh Kuda Sempana. Tetapi kalian kami minta untuk melindunginya apabila orang-orang gila itu tiba-tiba saja hadir.”
Kebo Sindet kembali terdiam. Kembali ruangan itu dicengkeram kesenyapan yang terdengar adalah nafas-nafas mereka yang kembang kempis bergantian. Namun suara nafas Cundaka lah yang terdengar paling keras dan paling cepat, meskipun dadanya sendiri terasa kian menjadi sesak.
Yang kemudian terdengar adalah suara Kebo Sindet memecah kesepian, “Apa tawaranmu kepada kami untuk melakukan pekerjaan itu?”
“Apa permintaanmu?” bertanya Empu Sada.
“Siapakah lawan itu?”
“Murid Empu Purwa.”
“Untuk menilai pertolongan yang dapat aku berikan, apakah kau dapat mengatakan sedikit tentang murid Empu Purwa itu?”
Empu Sada mengangguk-anggukkan kepalanya. Tawar menawar dalam jual beli tenaga itu telah berlangsung. Sekarang ia harus mengatakan persoalannya kepada kedua orang liar itu, supaya mendapat tawaran yang sewajarnya.
“Katakanlah Kuda Sempana,“ berkata Empu Sada kepada Kuda Sempana.
Kuda Sempana menggeser dirinya sejengkal maju. Ia ingin melihat wajah-wajah dari kedua laki-laki kakak beradik itu. Tetapi malam menjadi semakin kelam. Apa yang dilihatnya kemudian hanyalah dua buah bayangan hitam yang seolah-olah membeku. Namun gambaran wajah dari kedua orang itu membuat Kuda Sempana harus bersikap hati-hati.
Tetapi sebelum Kuda Sempana mengucapkan sepatah katapun, terdengar suara Kebo Sindet, “Empu Sada, muridmu yang inikah yang berkepentingan dengan pertolonganku.”
“Ya,“ jawab Empu Sada, “kau akan dapat bertanya langsung kepadanya, kenapa ia mendendam.”
“Pantaslah,“ gumam Kebo Sindet, “anak yang berwajah seperti muridmu ini pasti seorang pengecut yang hanya berani mencari pertolongan orang lain. Tetapi katakanlah.”
Kuda Sempana mengerutkan keningnya. Bagaimanapun juga terasa dadanya berdesir. Tetapi ia kemudian tidak memperdulikannya lagi. Dendamnya kepada Mahisa Agni bukanlah dendam yang biasa. Dendam itu adalah dendam yang paling dalam. Seandainya Mahisa Agni membakar rumahnya. merampas segala miliknya, maka dendamnya tidak akan sedalam dendam yang tersimpan di hatinya kini.
Karena itu maka setelah mengatur derak jantungnya Kuda Sempana berkata perlahan-lahan dan hati-hati, “Paman,“ suaranya dalam dan parau, “aku mendendamnya karena anak muda yang bernama Mahisa Agni itu telah menggagalkan usahaku mendapatkan seorang gadis.”
Tiba-tiba suara Kuda Sempana terputus oleh suara tertawa Wong Sarimpat. Suara itu benar-benar menyesakkan dada. Ruangan yang sempit dan gelap itu terasa menjadi semakin pepat karena gemuruhnya suara Wong Sarimpat.
“O, anak cengeng,” katanya, “kenapa kau menjadi hampir gila karena seorang gadis?”
Kuda Sempana tidak menyahut. Tetapi jantungnya menjadi semakin berdebar-debar. Dalam pada itu kecemasan merambati dinding-dinding hatinya pula. Apakah mereka berdua hanya sekedar akan mentertawakannya dan tidak bersedia membantunya.
Diantara suara tertawa Wong Sarimpat terdengar Kebo Sindet bertanya, “Apakah gadis itu kemudian diperisterikan oleh Mahisa Agni.”
“Tidak,“ sahut Kuda Sempana, “gadis itu adalah adik Mahisa Agni.”
“Mudah sekali,“ potong Wong Sarimpat, “kau bunuh Mahisa Agni. Kemudian ambil gadis itu.”
Kuda Sempana terdiam. Memang jalan itu adalah jalan yang termudah. Tetapi ia tidak pernah mendapat kesempatan untuk membunuh Mahisa Agni. Gurunya pun tidak mampu berbuat demikian, karena setiap kali hadir orang-orang yang tidak dikehendakinya.
Empu Sada melihat sikap Wong Sarimpat yang memuakkan itu dengan dahi yang berkerut merut. Dengan serta merta disambungnya kata-kata Kuda Sempana, “Gadis itu adalah anak Empu Purwa.”
Mendengar kata-kata Empu Sada itu, tiba-tiba Wong Sarimpat yang masih saja menahan suara tertawanya itu terdiam. ternyata nama itu telah mempengaruhi perasaannya. Nama yang pernah didengarnya dan diketahuinya, bahwa Empu Purwa adalah seorang yang melampaui kebanyakan orang. Ruangan itu kembali menjadi sunyi. Kebo Sindet masih duduk membeku di tempatnya, sedang Wong Sarimpat yang selalu gelisah itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya,
“Empu Purwa,“ terdengar orang itu mengulangi.
Cundaka yang duduk diam kini seolah-olah tidak lagi mempedulikan percakapan itu. Ia telah kehilangan minat untuk mengikutinya. Bahkan diam-diam ia berharap di dalam hatinya, mudah-mudahan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat tidak bersedia membantu Kuda Sempana, menyingkirkan Mahisa Agni. Tiba-tiba ia merasa jemu untuk ikut serta dalam persoalan itu. Lebih baik baginya mengembara seorang diri atau bersama satu dua orang muridnya ke pedukuhan-pedukuhan terpencil, pedukuhan asal dari murid-muridnya itu.
Meskipun sedikit demi sedikit ia akan dapat mengumpulkan beberapa macam benda-benda berharga yang dapat dijualnya di tempat-tempat lain. Itu adalah cara yang telah lama ditempuhnya dengan menamakan dirinya pedagang keliling. Meskipun beberapa kali ia mengalami kegagalan karena berbagai sebab, tetapi pada umumnya ia mendapatkan dagangannya.
“Tetapi Mahisa Agni pernah menghalangi aku,“ katanya di dalam hati, “Ia pernah mencegah aku berbuat demikian di padesan salah seorang muridku yang menyebut dirinya Waraba sebelum Mahisa Agni mengenalku. Apalagi kini.”
“Hem,“ Cundaka yang menyebut dirinya Bahu Reksa Kali Elo itu mengeluh di dalam hati, “kalau Mahisa Agni itu telah mati, maka aku tidak akan terganggu lagi.“ Tiba-tiba Cundaka itu tersenyum, timbullah pikiran di dalam kepalanya, “Biarlah Kuda Sempana dan orang-orang gila itu menyelesaikannya. Aku akan mendapat keuntungan dari padanya.”
Kesunyian yang mencengkam ruangan itu kemudian dipecahkan oleh suara Kebo Sindet datar, “Apakah kau tiba-tiba telah mati Kuda Sempana?”
“Oh, kenapa?“ bertanya Kuda Sempana dengan serta merta. “Oh,“ Kuda Sempana tergagap, tetapi ia kemudian berceritera tentang Mahisa Agni, tentang Ken Dedes dan tentang dirinya sendiri.
Demikian besar keinginannya untuk mendapatkan bantuan dari Kebo Sindet, sehingga ceriteranya menjadi berkepanjangan. Dikatakannya apa yang diketahuinya tentang Mahisa Agni, tentang Ken Dedes, dan bahkan tentang Tunggul Ametung yang ingin memperisteri Ken Dedes dan dengan sungguh-sungguh ingin menemui Mahisa Agni.
Tiba-tiba suara Kuda Sempana itu terputus ketika Wong Sarimpat yang menjadi jemu berteriak, “Jangan mengigau. Katakan yang perlu saja. Atau aku sumbat mulutmu dengan tumitku.”
Dada Kuda Sempana itu pun menjadi berdebar-debar, ternyata ia telah berceritera terlampau panjang, sehingga Wong Sarimpat menjadi tidak telaten mendengarnya. Orang yang kasar itu tidak biasa mendengarkan orang lain berbicara terlampau panjang. Tetapi kembali mereka terkejut ketika kemudian Kebo Sindet berkata datar,
“Biarlah Wong Sarimpat. Biarlah ia berceritera tentang musuhnya itu. Terasa dalam kata-katanya, alangkah besar dendamnya kepada anak muda yang bernama Mahisa Agni itu.”
Terasa sesuatu bergetar di dalam dada Empu Sada. Kalimat-kalimat itu bukanlah kalimat-kalimat yang biasa diucapkan oleh Kebo Sindet. Kalimat-kalimat itu adalah kalimat-kalimat yang tersusun dan seolah-olah mengandung suatu sikap persahabatan yang sangat baik. Namun justru karena itulah maka Empu Sada yang telah kenyang makan asin manisnya penghidupan, menjadi bercuriga karenanya. Meskipun demikian orang tua itu sama sekali tidak berkata sepatah katapun.
Berbeda dengan Kuda Sempana sendiri. Tiba-tiba ia merasa bahwa Kebo Sindet benar-benar dapat mengerti perasaan dan keadaannya. Karena itu maka dengan penuh pengharapan ia berkata,
“Terima kasih paman. Terima kasih. Ceriteraku tidak terlampau panjang lagi. Aku hanya tinggal akan mengatakan bahwa aku ingin Mahisa Agni tertangkap hidup. Aku ingin ia melihat bendungan yang telah dibuatnya itu pecah dan aku ingin melihat ia menjadi sakit hati dan kecewa sekali. Ia harus mengalami penderitaan batin sebelum tanganku mencabut nyawanya.”
“Bagus, bagus,“ sahut Kebo Sindet, “tetapi aku ingin tahu lebih banyak, hubungan antara Mahisa Agni dan Ken Dedes. Menurut katamu keduanya adalah bukan saudara sekandung. Keduanya adalah saudara angkat meskipun tak ubahnya dengan saudara kandung sendiri. Menurut katamu, kalau Mahisa Agni terbunuh, maka Ken Dedes akan mengalami tekanan batin yang tidak akan teratasi. Apakah kau yakin?”
“Aku yakin,“ jawab Kuda Sempana, “kalau Mahisa Agni terbunuh, maka Ken Dedes akan menjadi sedih sakit dan ia tentu akan mati. Kecuali keduanya adalah saudara angkat yang rukun. Mahisa Agni telah menyelamatkan gadis itu beberapa kali dari tanganku. Dengan demikian, maka ikatan diantara keduanya menjadi semakin erat.”
Tiba-tiba Kebo Sindet itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi tak seorang pun yang melihat di dalam kegelapan itu, bahwa wajah yang beku itu tiba-tiba tersenyum, meskipun senyumnya hanya sebuah senyuman yang sangat kecil.
Kemudian terdengar Kebo Sindet itu bertanya pula, “Apakah Tunggul Ametung benar-benar akan mengambil Ken Dedes menjadi permaisurinya?”
“Demikianlah,“ jawab Kuda Sempana,“ tetapi apabila mungkin, maka gadis itu pun sebaiknya dipisahkan dari Akuwu Tunggul Ametung.”
“Kau masih menghendaki?”
Kuda Sempana diam sejenak. Namun kemudian terdengar ia menjawab perlahan-lahan, “Ya.”
Sekali lagi wajah yang mati itu tersenyum di dalam gelap. Tak seorang pun yang melihatnya. Tetapi perasaan Empu Sada seolah-olah mempunyai mata. Ia melihat sesuatu yang tidak wajar, dan seolah-olah ia melihat senyum di bibir Kebo Sindet itu. Apalagi ketika Kebo Sindet itu kemudian bertanya,
“Di manakah dapat kami jumpai Mahisa Agni?”
“Ia sedang membuat bendungan di Padang Karautan.”
“Apakah ia sering meninggalkan padang itu untuk sesuatu keperluan?”
“Mungkin. Tak seorang pun dari anak-anak muda Panawijen yang berani meninggalkan kelompok mereka. Aku kira, Mahisa Agni lah yang selalu mondar-mandir antara Panawijen dan padang Karautan itu apabila diperlukan sesuatu.”
Kebo Sindet mengangguk-anggukkan kepalanya. Di dalam kepalanya itu berputar suatu rencana yang tak diketahui oleh siapa pun juga. Rencana yang lain dengan rencana Kuda Sempana sendiri.
“Jalan manakah yang biasa ditempuh oleh Mahisa Agni apabila ia pergi atau kembali ke Panawijen.”
Namun sebelum Kuda Sempana menjawab, terdengar Empu Sada mendahuluinya, “Marilah kita pergi bersama-sama. Aku sudah mengetahui dengan pasti. Jalan manakah yang selalu dilaluinya.”
Kebo Sindet tertegun sejenak, tetapi kemudian ia berkata, “Empu Sada, apakah kau akan memerlukan ikut bersama kami?”
“Kamilah yang berkepentingan. Kalian berdua membantu kami.”
“Kalian akan mengganggu kami,“ berkata Kebo Sindet, “kalau kau percaya kepadaku, serahkan semua persoalan ini kepada kami berdua.”
“Dari mana mereka mendapat makan guru?” bertanya Kuda Sempana tiba-tiba.
“Desa itu telah memberinya makan. Setiap orang yang tinggal di Kemundungan adalah orang-orang yang seolah-olah terikat kaki dan tangannya. Mereka bekerja keras, namun mereka tidak dapat berbuat banyak atas hasil jerih payahnya. Hasil tanah mereka, sebagian harus mereka pergunakan untuk memberi kedua orang itu makan sekenyang-kenyang mereka.”
Kuda Sempana mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia pun kini tidak bertanya-tanya lagi. Namun dalam pada itu, timbullah berbagai pertanyaan di dalam kepala Cundaka. Ia pernah pula melakukan pemerasan, bahkan perampokan. Hampir setiap kali ia mendapat bermacam-macam barang dari murid-muridnya. Ia tahu benar, bahwa barang-barang itu adalah barang-barang yang didapatnya dengan jalan yang tidak wajar.
Tetapi sekali-sekali ia sempat menikmati hasil dari benda-benda itu. Sekali-sekali ia makan seenak-enaknya, bersuka ria dan berjalan di jalan-jalan kota dengan pakaian yang sebaiknya. Bahkan seolah-olah segala nafsunya telah dimanjakannya. Kini ia berhadapan dengan dua orang laki-laki kakak beradik yang aneh. Mereka merampok, memeras dan segala macam cara untuk mendapatkan kekayaan. Tetapi mereka hidup terpencil, di dalam gubug kecil di lereng sebuah bukit gundul. Mereka hidup seperti seorang yang semiskin-miskinnya di dunia ini. Pakaian yang kumal, badan tidak terpelihara dan rumah yang terlampau jelek.
“Untuk apakah kekayaan yang ditimbunnya itu,“ katanya di dalam hati. Tiba-tiba tanpa sesadarnya ia bertanya, “Guru, apakah kedua orang itu mempunyai anak?”
Empu Sada berpaling. Sambil mengerutkan keningnya ia menjawab, “Sepanjang yang aku ketahui, kedua orang itu sama sekali tidak pernah kawin.”
Begitu besar desakan pertanyaan di dalam dadanya, maka Cundaka itu berkata, “Hem. Untuk apakah kiranya kekayaan yang disimpannya selama ini? Tak akan ada keturunan yang akan mewarisinya.”
Empu Sada tidak menjawab, dan orang yang menyebut dirinya Bahu Reksa Kali Elo yang menganggap dirinya seorang pedagang keliling itu tidak bertanya lagi. Gubug itu kini sudah dekat dihadap mereka. Seekor kuda berdiri lepas dihadapan gubug itu. Dari dalam gubug itu pun kemudian muncul kembali Wong Sarimpat. Dengan berteriak ia berkata,
“Cepat sedikit. Kami sudah gelisah menunggumu. Apakah kau sudah kelaparan?”
Empu Sada tidak menjawab. Beberapa kerut tergores di keningnya. Namun ia harus mencoba menyesuaikan dirinya. Sebelum mereka sampai di gubug itu, maka Wong Sarimpat pun telah menghilang ke dalam rumahnya. Namun suaranya masih terdengar,
“Orang-orang malas itu tertidur di jalan kakang.”
Semakin dekat mereka ke mulut gubug yang kecil itu, maka hati mereka menjadi semakin berdebar-debar. Bukan saja Cundaka, namun juga Kuda Sempana dan bahkan Empu Sada sendiri. Ia mengharap bahwa kedua orang itu masih bersikap seperti terhadap kakak seperguruannya dulu dan seperti sikapnya pada saat mereka bersama-sama membalas dendam atas kematian kakak seperguruan Empu Sada.
Ketika mereka sampai di muka pintu, segera mereka melihat bahwa gubug itu seolah-olah kosong sama sekali. Yang ada didalamnya hanyalah sebuah amben bambu rendah. Selainnya tidak ada apa-apalagi. Diatas amben itu duduk seorang yang berwajah gelap, bertubuh kecil dan tinggi. Itulah Kebo Sindet. Kembali bulu-bulu duduk Cundaka meremang. Ketika ia menatap sorot mata orang yang bernama Kebo Sindet itu, darahnya seolah-olah jadi membeku. Berbeda dengan Wong Sarimpat, maka orang ini seolah-olah segan untuk berbicara.
“Masuklah,“ Wong Sarimpat mempersilahkan mereka. Tetapi ia masih saja duduk di amben itu pula.
Empu Sada melangkah memasuki ruangan gubug itu diikuti oleh kedua muridnya. Mereka pun kemudian duduk pula pada amben itu juga. Ketika amben itu bergerit, maka terdengar Kebo Sindet menggeram,
“Kau datang lagi kemari?”
Pertanyaan itu pun bukanlah pertanyaan yang lajim bagi dua orang yang telah lama tidak bertemu. Sekali lagi terasa di dada Cundaka yang menyebut dirinya Bahu Reksa Kali Elo, bahwa kedatangan mereka ke Kemundungan adalah suatu perbuatan yang tidak menyenangkan. Sikap kedua orang itu benar-benar membuat kepalanya pening.
Empu Sada yang mendapat pertanyaan itu menjawab, “Bukankah kau melihat bahwa aku datang lagi kemari.”
“Hem,“ Kebo Sindet menggeram. Tetapi kemudian ia terdiam untuk sesaat. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan sikap apapun. Dingin, bahkan wajah yang gelap itu seolah-olah membeku.
Ruangan itu sejenak menjadi sepi. Hanya nafas-nafas merekalah yang terdengar berkejaran lewat lubang-lubang hidung mereka. Matahari yang lesu semakin lama menjadi semakin rendah. Ruangan itu pun semakin lama menjadi semakin suram pula. Ketika sesaat kemudian matahari menyentuh punggung bukit di sebelah barat, maka cahayanya yang kemerah-merahan bertebaran diatas bukit gundul yang keputihan.
Mereka yang berada di ruangan gubug Kebo Sindet masih saja berdiam diri. Sekali-sekali terdengar amben itu bergerit. Dan Cundaka pun menjadi semakin gelisah pula karenanya. ketika tidak disengaja matanya menatap dinding gubug itu, dilihatnya sebuah pintu ereg yang tidak tertutup rapat. Dari celah-celah pintu itu ia melihat sebuah ruangan yang hitam kelam.
“Hem,“ gumamnya di dalam hati, “itulah mulut goa yang dikatakan oleh guru.”
Tiba-tiba Cundaka itu terkejut ketika ia mendengar suara Kebo Sindet datar, “Ya. Itu adalah mulut goa tempat aku menyimpan semua kekayaanku. Apakah kau mau masuk?”
Orang yang menyebut dirinya Bahu Reksa Kali Elo itu menjadi bingung, bagaimana ia harus menjawab. Dipalingkannya wajahnya memandangi wajah gurunya, seolah-olah ia ingin mendapat pertolongan untuk membebaskan dirinya dari pertanyaan yang tak dapat dijawabnya itu.
Empu Sada itu pun kemudian tersenyum. Katanya, “Hem, kau sangat baik Kebo Sindet. Tetapi biarlah lain kali saja kami melihat-lihat kekayaan yang tersimpan di dalam goa itu?”
“Lain kali kalau aku sedang pergi?”
“Tentu tidak, adalah tidak sopan untuk melihat rumah seseorang pada saat orang itu pergi.”
“Jangan berbicara tentang kesopanan. Kau juga tidak sopan dengan membunuh Empu Galeh bertiga bersama kami. Tak ada yang sopan di dalam hidup kami dan hidupmu. Nah, jangan menyangkal bahwa suatu ketika kau akan merampok aku apabila kau merasa telah mampu mengalahkan kami. Mungkin sekarang kau sedang memperhitungkan apakah kedua orang ini dapat mengalahkan salah seorang dari kami. Tetapi adalah perbuatan yang sangat gila apabila kau dapat keluar dari dalam goa itu, meskipun kami berdua tidak ada di rumah.”
“Kau terlalu berprasangka. Tetapi aku pun tidak segila yang kau sangka. Aku tidak akan percaya kalau kau menyimpan semua kekayaanmu di dalam goa itu. Goa yang hanya kau tutup dengan sebuah pintu bambu leregan. Kalau benar kekayaanmu kau simpan dalam goa itu, maka goa itu pasti sudah kau tutup dengan batu sebesar mulut goa itu sendiri.”
“Itu urusanmu. Percaya atau tidak percaya. Tetapi di dalam goa itu terdapat banyak sekali kerangka manusia yang mencoba mencari kekayaanku pada saat aku pergi. Tetapi mereka tidak pernah dapat keluar lagi.”
Tiba-tiba Empu Sada tertawa, “Kau memang pandai membual. Wajahmu yang beku itu sama sekali tidak pantas bagi seorang pembual. Apakah aku dapat mempercayainya, bahwa ada orang yang berani memasuki goa milik Kebo Sindet dan Wong Sarimpat?”
Kebo Sindet terdiam sesaat. Wajahnya masih gelap dan beku, seolah-olah tidak ada gerak apapun di dalam hatinya yang mampu menggerakkan kulit wajahnya. Tetapi wajah yang beku itu bagi Cundaka jauh lebih mengerikan dari wajah yang keras sekeras batu padas dengan kumis yang melintang dari Wong Sarimpat. Nada yang datar dari kalimat-kalimat yang meluncur dari mulut Kebo Sindet terasa lebih menyeramkan dari teriakan-teriakan yang kasar yang diucapkan oleh Wong Sarimpat.
Kini ruangan itu telah menjadi semakin gelap. Tetapi tak seorang pun dari kedua laki-laki itu yang berdiri untuk menyalakan pelita, sehingga mereka kini seolah-olah telah duduk di dalam goa.
Dalam ruang yang menjadi semakin hitam itu terdengar Kebo Sindet berkata, “Katakan apa keperluanmu.”
“Kenapa tergesa-gesa?“ bertanya Empu Sada, “aku akan bermalam disini. Besok aku akan mengatakan keperluanku. Kau tidak keberatan.”
“Terserah kepadamu,“ sahut Kebo Sindet, “tetapi jangan tidur di rumah ini.”
“Kenapa? Dan dimana aku harus tidur.”
“Terserah kepadamu.”
“Kenapa aku tidak boleh bermalam di rumah ini.”
“Kalian akan menyesal. Kadang-kadang penyakitku kambuh. Aku selalu ingin membunuh dengan mencekik leher seseorang apabila aku melihatnya tidur.”
“Gila,“ geram Empu Sada.
Wong Sarimpat pun tiba-tiba tertawa terbahak-bahak sampai amben itu berguncang. Katanya, “Kau benar-benar penakut. Di bukit gundul itu tidak ada binatang yang perlu kau takuti. Yang ada hanyalah harimau kumbang dan anjing hutan. Lebih baik bagi kalian melawan harimau kumbang dan anjing-anjing hutan itu daripada mati dicekik kakang Kebo Sindet selagi kalian tidur.”
“Kami tidak akan tidur,“ sahut Empu Sada menyentak, “kami akan duduk disini sampai pagi.”
“Kami yang akan tidur,“ berkata Wong Sarimpat.
Meskipun mereka duduk berhadapan, tetapi suaranya menggelegar seperti guntur mangsa kesanga. “Dan kau pasti akan berkata bahwa kami telah berbuat tidak sopan. Tidur dan membiarkan semuanya duduk semalam suntuk.”
Empu Sada mengerutkan keningnya. Ternyata Wong Sarimpat telah membuatnya sangat jengkel. Tetapi Empu Sada masih tetap menyadari keadaannya. Karena itu, sekali lagi ia mencoba menyesuaikan dirinya, jawabnya,
“Tak ada kesopanan di dalam hidup kita, bukankah begitu Kebo Sindet. Kalau kalian mau tidur tidurlah.”
“Itulah pula sebabnya kami tidak mempersilahkan kau tidur di gubug ini,“ sahut Wong Sarimpat pula.
Dada Empu Sada serasa menjadi sesak. Sambutan ini benar tidak diharapkannya. Dahulu ketika ia datang dengan kakak seperguruanya ia masih mendapat kesempatan tidur di dalam rumah ini. Tetapi sekarang, kedua orang itu ternyata telah menjadi bertambah liar.
Pada saat Empu Sada hampir saja membuka mulutnya, menjawab kata-kata Wong Sarimpat, terdengar Kebo Sindet mendahului, “Empu Sada, tak ada persoalan yang perlu diperbincangkan tentang itu. Aku tidak mau kau bermalam di rumah ini. Cukup. Sekarang kau mengatakan keperluanmu atau pergi dari rumah ini. Kembalilah besok atau kapan saja apabila kau sudah bersedia untuk mengucapkan kepentinganmu mencari kami berdua.”
Terdengar gigi Empu tua itu gemeretak. Tetapi ketika ia berpaling dan melihat Kuda Sempana, maka kembali ia menekan perasaannya. Ia datang ke tempat itu untuk memenuhi permintaan muridnya itu.
“Baik,“ berkata Empu Sada, “aku akan mengatakan kepentinganku datang kemari. Sesudah itu akan pergi.”
“Kalau kau mau mengatakannya, lekas katakan,“ desak Kebo Sindet. Wajahnya masih tetap membeku. Sinar matanya seakan-akan tanpa memancarkan sesuatu yang tersimpan di dalam hatinya. Beku seperti mata sesosok mayat.
Sekali Empu Sada berpaling kepada murid-muridnya. Tetapi dalam sekejap itu Empu Sada tidak berhasil melihat sorot mata mereka masing-masing. Ruangan itu menjadi semakin lama semakin gelap. Namun tak seorang pun diantara kedua laki-laki kakak beradik itu yang pergi menyalakan api. Dalam kegelapan dan dalam tatapan yang hanya sepintas itu Empu Sada tidak melihat betapa wajah orang yang menamakan dirinya Bahu Reksa Kali Elo menjadi berkerut-merut menahan dadanya yang hampir meledak. Tetapi orang itu pun menyadari, bahwa dirinya sendiri hampir tak berarti apapun bagi kedua orang itu.
“Kebo Sindet,“ berkata Empu Sada kemudian, “baiklah aku katakan saja langsung. Aku datang untuk memenuhi permintaan muridku. Ia mempunyai dendam di dalam hatinya. Mungkin kau akan dapat membantunya.”
Tiba-tiba ruangan itu seperti meledak karena suara tertawa Wong Sarimpat. Suara itu bergetar melingkar-lingkar di dalam ruangan yang sempit. Namun Kebo Sindet masih tetap duduk dengan pandangan yang kosong membeku. Seolah-olah tidak terjadi sesuatu pada dirinya, meskipun adiknya tiba-tiba tersentak tertawa. Suara tertawa Wong Sarimpat itu benar-benar menyakitkan telinga Empu Sada, apalagi Cundaka. Sehingga Empu Sada itu pun berkata,
“He, Wong Sarimpat. Suara tertawamu sangat menyakitkan telinga. Kenapa kau tiba-tiba tertawa he.”
Suara tertawa itu masih berkepanjangan. disela-sela suara tertawa itu terdengar Wong Sarimpat berkata, “Kau rupa-rupanya sudah menjadi gila Empu Sada. Kenapa kau pergi kemari hanya karena dendam salah seorang muridmu. Apalah kau sekarang telah berubah menjadi seekor kelinci jinak yang tidak berani berbuat sesuatu. Apalagi atas lawan muridmu?”
Empu Sada tidak segera menjawab. Dibiarkannya Wong Sarimpat tertawa sepuasnya. Baru ketika tertawa itu mereda ia berkata, “Apakah kalian masih akan mendengarkan keteranganku?”
Yang menjawab adalah Kebo Sindet, “berkatalah.”
“Muridku, Kuda Sempana menyimpan dendam di hatinya. Tetapi lawannya adalah seorang yang dilingkari oleh beberapa orang sakti meskipun tidak secara langsung. Orang-orang itu adalah Panji Bojong Santi, Empu Purwa dan Empu Gandring. Itulah sebabnya aku datang kemari. Aku mengharap bahwa kalian masih mempunyai cukup keberanian untuk berbuat bersama aku.”
Wong Sarimpat kini tidak tertawa lagi. Bahkan sekali-sekali dipandangnya wajah kakaknya yang membeku itu. Namun Kebo Sindet tidak segera menjawab. Lebih-lebih dalam kegelapan, tak terlihat sama sekali kesan pada wajah yang mati itu.
Tiba-tiba dari sela-sela bibir Kebo Sindet terdengar suaranya datar, “Kenapa kau kemari?”
Empu Sada mengerutkan keningnya. Kemudian jawabnya, “Aku memerlukan kalian untuk membantu kami. Kalian tidak usah berbuat apapun atas lawan Kuda Sempana. Biarlah anak itu diselesaikan sendiri oleh Kuda Sempana. Tetapi kalian kami minta untuk melindunginya apabila orang-orang gila itu tiba-tiba saja hadir.”
Kebo Sindet kembali terdiam. Kembali ruangan itu dicengkeram kesenyapan yang terdengar adalah nafas-nafas mereka yang kembang kempis bergantian. Namun suara nafas Cundaka lah yang terdengar paling keras dan paling cepat, meskipun dadanya sendiri terasa kian menjadi sesak.
Yang kemudian terdengar adalah suara Kebo Sindet memecah kesepian, “Apa tawaranmu kepada kami untuk melakukan pekerjaan itu?”
“Apa permintaanmu?” bertanya Empu Sada.
“Siapakah lawan itu?”
“Murid Empu Purwa.”
“Untuk menilai pertolongan yang dapat aku berikan, apakah kau dapat mengatakan sedikit tentang murid Empu Purwa itu?”
Empu Sada mengangguk-anggukkan kepalanya. Tawar menawar dalam jual beli tenaga itu telah berlangsung. Sekarang ia harus mengatakan persoalannya kepada kedua orang liar itu, supaya mendapat tawaran yang sewajarnya.
“Katakanlah Kuda Sempana,“ berkata Empu Sada kepada Kuda Sempana.
Kuda Sempana menggeser dirinya sejengkal maju. Ia ingin melihat wajah-wajah dari kedua laki-laki kakak beradik itu. Tetapi malam menjadi semakin kelam. Apa yang dilihatnya kemudian hanyalah dua buah bayangan hitam yang seolah-olah membeku. Namun gambaran wajah dari kedua orang itu membuat Kuda Sempana harus bersikap hati-hati.
Tetapi sebelum Kuda Sempana mengucapkan sepatah katapun, terdengar suara Kebo Sindet, “Empu Sada, muridmu yang inikah yang berkepentingan dengan pertolonganku.”
“Ya,“ jawab Empu Sada, “kau akan dapat bertanya langsung kepadanya, kenapa ia mendendam.”
“Pantaslah,“ gumam Kebo Sindet, “anak yang berwajah seperti muridmu ini pasti seorang pengecut yang hanya berani mencari pertolongan orang lain. Tetapi katakanlah.”
Kuda Sempana mengerutkan keningnya. Bagaimanapun juga terasa dadanya berdesir. Tetapi ia kemudian tidak memperdulikannya lagi. Dendamnya kepada Mahisa Agni bukanlah dendam yang biasa. Dendam itu adalah dendam yang paling dalam. Seandainya Mahisa Agni membakar rumahnya. merampas segala miliknya, maka dendamnya tidak akan sedalam dendam yang tersimpan di hatinya kini.
Karena itu maka setelah mengatur derak jantungnya Kuda Sempana berkata perlahan-lahan dan hati-hati, “Paman,“ suaranya dalam dan parau, “aku mendendamnya karena anak muda yang bernama Mahisa Agni itu telah menggagalkan usahaku mendapatkan seorang gadis.”
Tiba-tiba suara Kuda Sempana terputus oleh suara tertawa Wong Sarimpat. Suara itu benar-benar menyesakkan dada. Ruangan yang sempit dan gelap itu terasa menjadi semakin pepat karena gemuruhnya suara Wong Sarimpat.
“O, anak cengeng,” katanya, “kenapa kau menjadi hampir gila karena seorang gadis?”
Kuda Sempana tidak menyahut. Tetapi jantungnya menjadi semakin berdebar-debar. Dalam pada itu kecemasan merambati dinding-dinding hatinya pula. Apakah mereka berdua hanya sekedar akan mentertawakannya dan tidak bersedia membantunya.
Diantara suara tertawa Wong Sarimpat terdengar Kebo Sindet bertanya, “Apakah gadis itu kemudian diperisterikan oleh Mahisa Agni.”
“Tidak,“ sahut Kuda Sempana, “gadis itu adalah adik Mahisa Agni.”
“Mudah sekali,“ potong Wong Sarimpat, “kau bunuh Mahisa Agni. Kemudian ambil gadis itu.”
Kuda Sempana terdiam. Memang jalan itu adalah jalan yang termudah. Tetapi ia tidak pernah mendapat kesempatan untuk membunuh Mahisa Agni. Gurunya pun tidak mampu berbuat demikian, karena setiap kali hadir orang-orang yang tidak dikehendakinya.
Empu Sada melihat sikap Wong Sarimpat yang memuakkan itu dengan dahi yang berkerut merut. Dengan serta merta disambungnya kata-kata Kuda Sempana, “Gadis itu adalah anak Empu Purwa.”
Mendengar kata-kata Empu Sada itu, tiba-tiba Wong Sarimpat yang masih saja menahan suara tertawanya itu terdiam. ternyata nama itu telah mempengaruhi perasaannya. Nama yang pernah didengarnya dan diketahuinya, bahwa Empu Purwa adalah seorang yang melampaui kebanyakan orang. Ruangan itu kembali menjadi sunyi. Kebo Sindet masih duduk membeku di tempatnya, sedang Wong Sarimpat yang selalu gelisah itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya,
“Empu Purwa,“ terdengar orang itu mengulangi.
Cundaka yang duduk diam kini seolah-olah tidak lagi mempedulikan percakapan itu. Ia telah kehilangan minat untuk mengikutinya. Bahkan diam-diam ia berharap di dalam hatinya, mudah-mudahan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat tidak bersedia membantu Kuda Sempana, menyingkirkan Mahisa Agni. Tiba-tiba ia merasa jemu untuk ikut serta dalam persoalan itu. Lebih baik baginya mengembara seorang diri atau bersama satu dua orang muridnya ke pedukuhan-pedukuhan terpencil, pedukuhan asal dari murid-muridnya itu.
Meskipun sedikit demi sedikit ia akan dapat mengumpulkan beberapa macam benda-benda berharga yang dapat dijualnya di tempat-tempat lain. Itu adalah cara yang telah lama ditempuhnya dengan menamakan dirinya pedagang keliling. Meskipun beberapa kali ia mengalami kegagalan karena berbagai sebab, tetapi pada umumnya ia mendapatkan dagangannya.
“Tetapi Mahisa Agni pernah menghalangi aku,“ katanya di dalam hati, “Ia pernah mencegah aku berbuat demikian di padesan salah seorang muridku yang menyebut dirinya Waraba sebelum Mahisa Agni mengenalku. Apalagi kini.”
“Hem,“ Cundaka yang menyebut dirinya Bahu Reksa Kali Elo itu mengeluh di dalam hati, “kalau Mahisa Agni itu telah mati, maka aku tidak akan terganggu lagi.“ Tiba-tiba Cundaka itu tersenyum, timbullah pikiran di dalam kepalanya, “Biarlah Kuda Sempana dan orang-orang gila itu menyelesaikannya. Aku akan mendapat keuntungan dari padanya.”
Kesunyian yang mencengkam ruangan itu kemudian dipecahkan oleh suara Kebo Sindet datar, “Apakah kau tiba-tiba telah mati Kuda Sempana?”
“Oh, kenapa?“ bertanya Kuda Sempana dengan serta merta. “Oh,“ Kuda Sempana tergagap, tetapi ia kemudian berceritera tentang Mahisa Agni, tentang Ken Dedes dan tentang dirinya sendiri.
Demikian besar keinginannya untuk mendapatkan bantuan dari Kebo Sindet, sehingga ceriteranya menjadi berkepanjangan. Dikatakannya apa yang diketahuinya tentang Mahisa Agni, tentang Ken Dedes, dan bahkan tentang Tunggul Ametung yang ingin memperisteri Ken Dedes dan dengan sungguh-sungguh ingin menemui Mahisa Agni.
Tiba-tiba suara Kuda Sempana itu terputus ketika Wong Sarimpat yang menjadi jemu berteriak, “Jangan mengigau. Katakan yang perlu saja. Atau aku sumbat mulutmu dengan tumitku.”
Dada Kuda Sempana itu pun menjadi berdebar-debar, ternyata ia telah berceritera terlampau panjang, sehingga Wong Sarimpat menjadi tidak telaten mendengarnya. Orang yang kasar itu tidak biasa mendengarkan orang lain berbicara terlampau panjang. Tetapi kembali mereka terkejut ketika kemudian Kebo Sindet berkata datar,
“Biarlah Wong Sarimpat. Biarlah ia berceritera tentang musuhnya itu. Terasa dalam kata-katanya, alangkah besar dendamnya kepada anak muda yang bernama Mahisa Agni itu.”
Terasa sesuatu bergetar di dalam dada Empu Sada. Kalimat-kalimat itu bukanlah kalimat-kalimat yang biasa diucapkan oleh Kebo Sindet. Kalimat-kalimat itu adalah kalimat-kalimat yang tersusun dan seolah-olah mengandung suatu sikap persahabatan yang sangat baik. Namun justru karena itulah maka Empu Sada yang telah kenyang makan asin manisnya penghidupan, menjadi bercuriga karenanya. Meskipun demikian orang tua itu sama sekali tidak berkata sepatah katapun.
Berbeda dengan Kuda Sempana sendiri. Tiba-tiba ia merasa bahwa Kebo Sindet benar-benar dapat mengerti perasaan dan keadaannya. Karena itu maka dengan penuh pengharapan ia berkata,
“Terima kasih paman. Terima kasih. Ceriteraku tidak terlampau panjang lagi. Aku hanya tinggal akan mengatakan bahwa aku ingin Mahisa Agni tertangkap hidup. Aku ingin ia melihat bendungan yang telah dibuatnya itu pecah dan aku ingin melihat ia menjadi sakit hati dan kecewa sekali. Ia harus mengalami penderitaan batin sebelum tanganku mencabut nyawanya.”
“Bagus, bagus,“ sahut Kebo Sindet, “tetapi aku ingin tahu lebih banyak, hubungan antara Mahisa Agni dan Ken Dedes. Menurut katamu keduanya adalah bukan saudara sekandung. Keduanya adalah saudara angkat meskipun tak ubahnya dengan saudara kandung sendiri. Menurut katamu, kalau Mahisa Agni terbunuh, maka Ken Dedes akan mengalami tekanan batin yang tidak akan teratasi. Apakah kau yakin?”
“Aku yakin,“ jawab Kuda Sempana, “kalau Mahisa Agni terbunuh, maka Ken Dedes akan menjadi sedih sakit dan ia tentu akan mati. Kecuali keduanya adalah saudara angkat yang rukun. Mahisa Agni telah menyelamatkan gadis itu beberapa kali dari tanganku. Dengan demikian, maka ikatan diantara keduanya menjadi semakin erat.”
Tiba-tiba Kebo Sindet itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi tak seorang pun yang melihat di dalam kegelapan itu, bahwa wajah yang beku itu tiba-tiba tersenyum, meskipun senyumnya hanya sebuah senyuman yang sangat kecil.
Kemudian terdengar Kebo Sindet itu bertanya pula, “Apakah Tunggul Ametung benar-benar akan mengambil Ken Dedes menjadi permaisurinya?”
“Demikianlah,“ jawab Kuda Sempana,“ tetapi apabila mungkin, maka gadis itu pun sebaiknya dipisahkan dari Akuwu Tunggul Ametung.”
“Kau masih menghendaki?”
Kuda Sempana diam sejenak. Namun kemudian terdengar ia menjawab perlahan-lahan, “Ya.”
Sekali lagi wajah yang mati itu tersenyum di dalam gelap. Tak seorang pun yang melihatnya. Tetapi perasaan Empu Sada seolah-olah mempunyai mata. Ia melihat sesuatu yang tidak wajar, dan seolah-olah ia melihat senyum di bibir Kebo Sindet itu. Apalagi ketika Kebo Sindet itu kemudian bertanya,
“Di manakah dapat kami jumpai Mahisa Agni?”
“Ia sedang membuat bendungan di Padang Karautan.”
“Apakah ia sering meninggalkan padang itu untuk sesuatu keperluan?”
“Mungkin. Tak seorang pun dari anak-anak muda Panawijen yang berani meninggalkan kelompok mereka. Aku kira, Mahisa Agni lah yang selalu mondar-mandir antara Panawijen dan padang Karautan itu apabila diperlukan sesuatu.”
Kebo Sindet mengangguk-anggukkan kepalanya. Di dalam kepalanya itu berputar suatu rencana yang tak diketahui oleh siapa pun juga. Rencana yang lain dengan rencana Kuda Sempana sendiri.
“Jalan manakah yang biasa ditempuh oleh Mahisa Agni apabila ia pergi atau kembali ke Panawijen.”
Namun sebelum Kuda Sempana menjawab, terdengar Empu Sada mendahuluinya, “Marilah kita pergi bersama-sama. Aku sudah mengetahui dengan pasti. Jalan manakah yang selalu dilaluinya.”
Kebo Sindet tertegun sejenak, tetapi kemudian ia berkata, “Empu Sada, apakah kau akan memerlukan ikut bersama kami?”
“Kamilah yang berkepentingan. Kalian berdua membantu kami.”
“Kalian akan mengganggu kami,“ berkata Kebo Sindet, “kalau kau percaya kepadaku, serahkan semua persoalan ini kepada kami berdua.”
OBJEK WISATA MANCA NEGARA


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar