“Kau berdua akan berhadapan dengan lawan yang terlampau kuat. Mungkin kalian berdua akan bertemu dengan Empu Gandring, Empu Purwa dan Panji Bojong Santi bersama-sama.”
Kembali Kebo Sindet terdiam. Ia mencoba memecahkan persoalan itu di dalam kepalanya. Tiba-tiba ia berkata, “Akan aku pikirkan. Tetapi kapankah kira-kira Ken Dedes akan kawin?”
“Kami tidak tahu,“ sahut Kuda Sempana, “tetapi aku kira segera akan dilakukannya.”
Kembali ruangan itu menjadi sepi. Kembali Empu Sada menimbang-nimbang sikap Kebo Sindet yang meragukannya itu. Tetapi ia tidak dapat menduga, apakah kira-kira yang akan dilakukannya. Namun dalam pada itu, harapan di dalam dada Kuda Sempana telah menyala berkobar-kobar. Hampir dapat dipastikan, ia akan dapat mengikat Mahisa Agni pada sebuah tonggak kayu. Melecutnya sesuka hati. Meludahi mukanya dan menggurat tubuhnya dengan pedangnya. Melumurinya dengan air asam dan garam.
“Hem,“ Kuda Sempana itu tersenyum sendiri.
Musuhnya yang paling dibencinya itu sebentar lagi akan jatuh ke tangannya. Ia tidak peduli apakah ia harus menjual segala miliknya yang telah dikumpulkan selama ia menghambakan diri di istana. Timang emas tretes berlian, pendok emas, binggel dan apa saja, asal dendam dan sakit hatinya dapat terbalas atas Mahisa Agni dan beruntunglah ia kalau kedua orang itu berhasil mengambil Ken Dedes dari istana. Dan angan-angan yang membubung tinggi itulah yang kemudian mendorong Kuda Sempana untuk kemudian berkata kepada gurunya,
“Guru, bagiku, apakah kedua paman ini akan pergi tanpa kami, ataukah kami harus pergi bersama mereka, bukanlah soal bagiku. Yang penting adalah Mahisa Agni jatuh ke tanganku.”
“Anak bodoh,“ desis Empu Sada di dalam hatinya. Tetapi yang diucapkannya adalah, “Kita tidak dapat mengumpankan kedua pamanmu tanpa kami. Kamilah yang tahu, bahwa di sekeliling Mahisa Agni berdiri beberapa kekuatan. Bahkan mungkin Witantra, murid Bojong Santi akan menyerahkan prajurit-prajuritnya yang cukup memiliki kekuatan untuk menangkap kami dan kedua pamanmu sekaligus. Betapa kemampuan kami seorang, tetapi apakah kami masing-masing mampu melawan seratus orang Witantra sekaligus? Kau harus tahu Kuda Sempana, bahwa di istana mempunyai banyak kekuatan yang tersimpan. Banyaklah orang-orang yang sekuat kau. Meskipun aku gurumu, namun aku tidak akan mampu melawan kau dalam jumlah yang cukup. Sebab kekuatan seseorang itu sesuatu ketika akan mencapai titik puncaknya. Dan orang itu tidak akan mampu berbuat melampaui titik puncak itu.”
Kuda Sempana tidak dapat menjawab kata-kata gurunya. Karena itu ia pun terdiam. Tetapi yang terdengar kemudian adalah suara Kebo Sindet, “Baiklah. Kami akan berpikir malam ini. Besok pagi kami akan mengatakan sesuatu kepada kalian tentang rencana ini. Malam ini kalian dapat tidur di rumah ini.”
Sekali lagi dada Empu Sada berdesir. Kini ia sudah yakin seyakin-yakinnya, bahwa ada sesuatu yang terjadi di dalam hati Kebo Sindet. Orang semacam itu sudah tentu tidak akan bersedia merubah keputusannya apabila tidak ada hal yang penting terjadi pada dirinya. Karena itu maka Empu Sada menjawab,
“Tidak. Aku tidak akan tidur di rumahmu ini. Kau akan membunuh kami selagi kami tidur.”
“Tidak,“ sahut Kebo Sindet, “aku tidak akan berbuat demikian. Aku tadi hanya menakutimu.”
“Mungkin. Mungkin tadi kalian hanya ingin menakuti kami. Tetapi sekarang mungkin rencana itu benar-benar akan kalian lakukan. Aku ingin tidur di bukit gundul itu. Mungkin aku akan dapat menangkap harimau kumbang.”
Tak ada jawaban. Dan sekali lagi Empu Sada menjadi heran. Ia tidak mendengar Wong Sarimpat tertawa terbahak-bahak.
“Marilah Kuda Sempana dan Cundaka,“ ajak Empu Sada, “kita pergi ke bukit gundul itu.”
Empu Sada tidak menunggu apapun lagi. Terdengar amben itu bergerit dan Empu tua itu pun segera turun dan melangkah ke pintu. Ternyata diluar tampak sedikit lebih terang dari pada di dalam gubug yang sempit itu.
“Tunggu,“ terdengar suara Kebo Sindet.
Empu Sada tertegun sejenak. Ia mencoba berpaling, tetapi yang dilihatnya hanyalah hitam yang pekat dan bayangan-bayangan yang wajahnya tidak jelas dari orang-orang yang duduk di amben itu.
Tetapi ia mendengar Kebo Sindet berkata pula, “Empu Sada, kalau kau tidak mau bermalam di gubug yang jelek ini, terserahlah kepadamu. Tetapi aku ingin Kuda Sempana tinggal disini. Aku masih memerlukan beberapa keterangan daripadanya.”
Empu Sada itu menggelengkan kepalanya meskipun ia tahu, bahwa di dalam ruangan itu gelapnya bukan main, “Tidak. Kuda Sempana pergi bersama aku.”
“Kenapa kau terlalu berkeras hatimu?” bertanya Kebo Sindet, “bukankah kau datang untuk suatu usaha bekerja bersama? Karena itu maka kau pun harus mempunyai kepercayaan kepada kami.”
“Tidak,“ jawab Empu Sada tegas, “Kedua muridku harus bersama aku.”
Tetapi Empu Sada tiba-tiba terkejut ketika ia mendengar Kuda Sempana yang seolah-olah sedang terbius oleh angan-angannya untuk segera menangkap Mahisa Agni itu berkata,
“Guru apakah keberatannya apabila aku tinggal disini? Aku percaya kepada kedua paman ini, bahwa tidak akan membunuh kami. Seandainya guru keberatan, maka akulah yang akan tinggal selama ini untuk memberikan beberapa penjelasan yang perlu.”
Terdengar Empu Sada menggeram. Ia tidak menyangka bahwa Kuda Sempana akan berbuat demikian. Maka jawabnya, “Kuda Sempana. Kau adalah muridku. Kau harus menurut segala petunjukku. Kau pergi bersama aku. Besok kita kembali kemari untuk mendengarkan penjelasan apakah kedua pamanmu bersedia membantu kami atau tidak.”
Kebo Sindet yang mempunyai perhitungan tersendiri tiba-tiba menyela, “Baiklah. Bawalah Kuda Sempana. Beri aku kesempatan malam ini. Besok aku mengharap kalian datang lagi kemari.”
Empu Sada tidak menjawab. Hatinya bergetar menahan segala macam perasaan. Apalagi Kuda Sempana yang telah menyeretnya ke bukit gundul ini telah mengecewakannya pula.
Kuda Sempana kemudian berkata kepada Kebo Sindet, “Baiklah paman, biarlah aku malam ini mengikuti guru. Besok kami pasti akan kembali.”
“Baiklah,“ sahut Kebo Sindet.
Keramahannya itu pun telah semakin meyakinkan Empu Sada bahwa sesuatu yang tidak menyenangkan telah direncanakan oleh Kebo Sindet itu. Cundaka pun kemudian berjalan di belakang gurunya. Seperti gurunya ia tidak minta diri kepada sepasang kakak beradik yang baginya sangat memuakkan tetapi juga mengerikan. Dengan tergesa-gesa Empu Sada berjalan meninggalkan gubug itu sambil bersungut-sungut. Cundaka berjalan terloncat-loncat di belakangnya. Malam yang gelap semakin lama menjadi semakin dalam. Tetapi di langit bergayutan jutaan bintang yang bercahaya. Ternyata diluar tidak terlalu pepat seperti di dalam gubug yang sempit.
Beberapa langkah di belakang mereka, Kuda Sempana berlari-lari kecil menyusul guru dan saudara seperguruannya. Ketika jarak mereka sudah menjadi semakin dekat, terdengar Kuda Sempana bertanya,
“Kemana kita pergi guru?”
Empu Sada berpaling, tetapi ia tidak mengurangi kecepatan langkahnya. Diloncatinya batu-batu padas dan lubang-lubang di sepanjang jalan yang sempit itu. Karena Empu Sada tidak segera menjawab, maka kembali Kuda Sempana mendesaknya,
“Kemana kita pergi guru?”
“Kemana saja,“ jawab Empu Sada, “kita jauhi rumah kedua orang gila itu.”
“Tetapi,“ potong Kuda Sempana, “bukankah mereka telah menyatakan keinginannya untuk membantu kami.”
Empu Sada tidak menjawab. Langkahnya bahkan menjadi semakin panjang dan cepat. Kuda Sempana menjadi heran. Agaknya ada yang tidak berkenan di hati gurunya. Namun ia tidak segera menanyakannya. Diikutinya saja kemana gurunya itu pergi. Dalam pada itu Empu Sada menyusur jalan sempit di kaki lereng bukit gundul. Kemudian dengan susah payah mereka mendaki naik. Meskipun malam menjadi bertambah malam, namun mereka seolah-olah tidak mempedulikannya.
Tiba-tiba mereka mendengar Empu Sada bergumam, “Kita bermalam di bukit gundul itu.”
“Pasti terlampau dingin,“ sahut Kuda Sempana.
“Kita tidak akan membeku seperti minyak di musim bediding. Darah kita cukup panas dan hati kita pun cukup panas.”
Kuda Sempana tidak menjawab. Ia menjadi semakin yakin bahwa ada yang tidak menyenangkan hati gurunya itu. Cundaka berjalan sambil menundukkan kepalanya. Ia tidak mau tergelincir dan terbanting ke dalam jurang. Ia hampir-hampir tidak memperhatikan sama sekali percakapan Kuda Sempana dengan gurunya. Tetapi ketika terasa bahwa gurunya menjadi tidak begitu senang terhadap kedua laki-laki kakak beradik itu, maka tergugah kembalilah perasaan muaknya. Tetapi ia masih saja tetap berdiam diri.
Apapun yang akan terjadi, maka ia harus pandai mengambil keuntungan. Seandainya orang-orang liar itu benar-benar akan membunuh Mahisa Agni, maka ia pun akan mengambil keuntungan pula dari padanya. Seandainya niat itu diurungkan maka ia tidak terlampau banyak berkepentingan. Bahkan dengan demikian ia akan terhindar dari kemungkinan yang lebih parah. Apabila kemudian Akuwu Tunggul Ametung mengetahuinya, maka sasaran yang pertama-tama dari kemarahannya adalah gurunya, Kuda Sempana dan murid-murid Empu Sada yang lain.
Demikianlah mereka bertiga memanjat tebing gunung gundul itu sambil berdiam diri. Kuda Sempana pun tidak lagi bertanya-tanya. Sedang Empu Sada sama sekali tidak bernafsu untuk berbicara. Meskipun demikian orang tua itu berkata,
“Siapkan senjata kalian. Di gunung gundul ini terdapat beberapa jenis binatang. Mungkin kalian akan bertemu dengan harimau kumbang yang mendaki dari hutan-hutan di sekitar bukit ini untuk mencari anjing-anjing liar. Tetapi anjing-anjing liar itu sendiri tidak kalah berbahayanya dari harimau-harimau kumbang. Tetapi yang lebih berbahaya adalah kedua orang liar itu. Mereka akan mampu menerkam kalian lebih cepat dari harimau yang betapapun buasnya.”
Kedua muridnya terkejut mendengar kata-kata itu. Tetapi yang lebih terkejut diantara mereka adalah Kuda Sempana, sehingga dengan serta merta ia menjawab, “Guru. Apakah guru berprasangka? Ketika aku menjumpai paman Wong Sarimpat di lereng gunung gundul ini, maka kesan yang aku dapatkan memang tidak begitu baik. Tetapi bukankah paman Kebo Sindet tidak sekasar paman Wong Sarimpat. Bahkan paman Kebo Sindet ternyata jauh lebih baik dari yang pernah guru katakan tentang kedua orang yang guru sebut sebagai orang-orang liar itu. Paman Kebo Sindet cukup ramah dan baik.”
“Hem,“ Empu Sada menggeram, “kau memang terlampau bodoh Kuda Sempana. Aku mengenal mereka berdua sejak lama. Sejak kakak seperguruanku masih hidup. Mereka adalah orang-orang liar yang tak dapat bersikap baik. Tetapi dahulu aku masih mempercayainya. Mereka waktu itu tidak mempunyai pertimbangan-pertimbangan lain kecuali berapa banyak kita akan memberinya upah. Tetapi sekarang aku melihat beberapa perbedaan. Mungkin mereka telah terlampau banyak menyimpan kekayaan, sehingga mereka mempunyai kesempatan untuk mempertimbangkan keadaan lebih saksama. Dan adalah karena kebodohanmu, bahwa kau terlampau banyak berceritera tentang lawanmu itu.”
Kuda Sempana menjadi semakin tidak mengerti. kembali ia bertanya, “Apakah keberatannya guru? Bukankah kita akan bekerja bersama dengan mereka?”
“Kita akan bekerja bersama dengan mereka,“ jawab Empu Sada, “tetapi apakah kau yakin bahwa mereka akan bekerja bersama dengan kita?”
“Mereka tidak mempunyai kepentingan apapun dengan Mahisa Agni,“ sahut Kuda Sempana.
“Mahisa Agni adalah calon kakak ipar Akuwu Tunggul Ametung yang kaya raya. Yang mampu menyediakan emas sebongkah dan berlian segenggam. Alangkah bodohnya kau.”
Kuda Sempana masih belum dapat mengerti maksud gurunya dengan pasti. Namun menurut perasaannya, apapun yang akan dilakukan atas Mahisa Agni kemudian ia tidak perlu mempertimbangkan. Baginya asalkan dendamnya terbalas, maka tak ada lagi alasan untuk membuat perhitungan-perhitungan lain. Ia harus dapat melihat Mahisa Agni terikat pada tonggak kayu tanpa dapat berbuat apapun. Kemudian ia harus melihat, betapa anak muda itu menjadi sangat kecewa karena bendungannya gagal. Yang terakhir ia harus mendengar kabar bahwa Ken Dedes menangis setiap saat menangisi kakaknya yang mati. Kemudian Ken Dedes itu pun akan mati pula. Adalah lebih baik baginya dari pada setiap kali ia mendengar dan melihat gadis itu sebagai seorang permaisuri Akuwu Tunggul Ametung.
“Gila,“ gumamnya di dalam hati, “bahkan kalau mungkin Tunggul Ametung harus aku bunuh pula.”
Tetapi Kuda Sempana itu kini berdiam diri. Ia berbicara dalam angan-angannya. Berbicara kepada diri sendiri tentang kemenangan yang akan dicapainya untuk melepaskan dendamnya. Tanpa mereka sadari, maka mereka bertiga kini telah berada di punggung bukit gundul itu. Mereka berjalan diatas batu-batu padas yang keputih-putihan mengandung kapur. Di sana-sini bertebaran gerumbul-gerumbul liar seperti seonggok batu yang berserak-serak.
Tetapi Empu Sada itu masih berjalan terus. Langkahnya masih tetap panjang-panjang dan cepat. Kuda Sempana yang mempunyai kepentingan langsung dengan kedua laki-laki kakak beradik itu bertanya kembali,
“Guru, dimana kita bermalam?”
“Sejauh-jauhnya dari rumah hantu-hantu liar itu.”
“Kenapa sejauh-jauhnya? Besok kita akan terlalu payah. Bukankah kita besok akan kembali lagi kepada mereka?”
Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Hatinya kini dicengkam oleh keragu-raguan yang tajam. Sebagai seorang tua yang memiliki pengamatan yang jauh, terasa bahwa kedatangannya sama sekali tidak menggantungkannya. Juga tidak bagi murid-muridnya. Tetapi ia masih tidak pasti atas pengamatan perasaannya itu. Apalagi ketika didengarnya Kuda Sempana bertanya tentang apa yang akan dilakukan kini.
Sejenak orang tua itu tidak menjawab. Tetapi langkahnya sama sekali tidak mengendor, meskipun malam menjadi semakin dalam dan angin yang dingin berhembus dari selatan mengusap kulit mereka yang dilumuri oleh keringat. Keringat yang mengalir karena ketegangan yang menghentak-hentak dada.
Karena Empu Sada tidak menjawab, maka kembali terdengar Kuda Sempana bertanya, “Guru, kemana kita bermalam. Bukankah kita dapat bermalam di tempat ini, tempat yang menurut pendapatku telah terlampau jauh?”
“Tidak Kuda Sempana,“ jawab gurunya. Akhirnya Empu Sada tidak dapat menyembunyikan perasaannya, ia ingin menyelamatkan kedua muridnya itu dari bencana meskipun bencana itu belum pasti datang, “Terus terang aku katakan sekarang kepadamu berdua, bahwa sebenarnya aku menaruh curiga kepada kedua orang itu.”
Kuda Sempana terkejut mendengar kata-kata gurunya, dengan serta merta ia bertanya, “Kenapa guru bercuriga. Memang keduanya tampaknya terlampau kasar dan liar, tetapi menurut anggapanku mereka mempunyai dada terbuka. Dan bukankah mereka telah menanyakan banyak hal tentang Mahisa Agni?”
“Terlampau banyak,“ sahut gurunya.
“Guru, aku tidak tahu, kenapa guru berkeberatan?”
Kembali Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Sebelum ia menjawab terdengar Cundaka berkata, “Ya, aku pun bercuriga kepada mereka.”
Kuda Sempana segera merasa tersinggung mendengar kata-kata saudara seperguruannya itu, sehingga cepat-cepat ia menyahut, “Kenapa kau pun bercuriga? sebenarnya kau tidak berkepentingan sama sekali dengan kedua orang itu. Lebih baik kau tidak usah turut menilainya.”
Cundaka mengerutkan keningnya. Ia tidak senang mendengar teguran Kuda Sempana yang kasar itu. Sehingga kembali ia berkata, “Demikianlah tanggapanku atas kedua orang itu. Berkepentingan atau tidak berkepentingan. Tetapi bagiku mereka berdua adalah orang-orang yang kasar dan memuakkan.”
“Kalau kau tidak mau bekerja bersama dengan mereka, pergilah,“ sahut Kuda Sempana, “tetapi jangan mencoba mengendorkan tekadku untuk membalas sakit hatiku atas Mahisa Agni.”
Tiba-tiba Cundaka itu pun berhenti. Wajahnya menjadi merah karena marah. Dengan tajamnya ia menjawab, “Baik. Aku akan pergi. Aku tidak mau turut campur dalam urusan yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan kepentinganku sendiri secara langsung. Aku memang pernah mendendam Mahisa Agni. Tetapi aku akan tekun menambah ilmuku sendiri. Kalau kau tak berhasil membinasakannya, maka akan sampai saatnya akulah yang berbuat. Tetapi dengan tanganku sendiri.”
“Jangan terlalu sombong,“ bentak Kuda Sempana yang, tidak kalah marahnya pula.
Tetapi ketika ia akan mengumpat-umpat lebih banyak lagi, terdengar Empu Sada berkata, “Apakah yang kalian kerjakan itu. Apakah kalian akan berkelahi diantara kalian sendiri, sedang kalian masing-masing mendendam anak muda yang bernama Mahisa Agni?”
Kedua muridnya itu terdiam. Mereka sekali berpaling, memandangi gurunya yang telah berhenti pula. Beberapa langkah Empu Sada itu mendekati mereka yang sudah berdiri berhadapan. Bahkan Kuda Sempana telah meraba hulu pedangnya.
“Ternyata kalian telah menjadi gila,“ berkata Empu Sada, “apa kau sangka bahwa setelah kalian berkelahi, maka urusan kalian dengan Mahisa Agni itu dapat selesai.”
“Tetapi ia menghina kedua paman kakak beradik itu guru.”
“Aku mengatakan tanggapan perasaanku atas mereka berdua.”
“Cukup,“ bentak Empu Sada keras-keras, Betapa marahnya orang tua itu masing-masing murid-muridnya bertengkar diantara mereka, sehingga tongkat panjangnya terayun-ayun hampir menyentuh wajah kedua muridnya berganti-ganti, “Ayo. Siapa yang masih membuka mulutnya, maka mulut itu pasti akan pecah oleh tongkatku ini. Ayo. Siapa yang masih akan mencoba?”
Kedua muridnya menjadi takut melihat gurunya benar-benar marah. Kuda Sempana dan Cundaka segera menundukkan wajahnya dan menyembunyikan perasaannya. Tetapi bukan saja mereka berdua yang mencoba menyembunyikan perasaan yang menghentak-hentak dada masing-masing, tetapi Empu Sada pun mencoba menyembunyikan perasaannya di balik kemarahannya. Orang tua itu pun kemudian merasa, bahwa apa yang telah dilakukan selama ini terhadap murid-muridnya adalah keliru. Muridnya itu satu sama lain sama sekali tidak mempunyai ikatan persaudaraan yang kokoh. Sekali lagi Empu Sada menjadi iri melihat murid-murid Panji Bojong Santi. Mereka seakan-akan mempunyai suatu tataran yang teratur menurut urutan kakak beradik dalam perguruannya.
Tetapi semuanya itu telah terlanjur. Empu Sada hanya dapat menyesali diri sendiri. Ia tidak dapat membentuk murid-muridnya menjadi suatu lingkungan yang terikat oleh perasaan senasib sepenanggungan. Namun itu bukanlah salah murid-muridnya. Empu Sada sendiri memperlakukan mereka tidak adil sebagai murid yang baik. Empu Sada lebih memperhatikan muridnya yang berkedudukan baik dan yang mampu memberinya banyak uang dan harta benda.
Tetapi murid-muridnya yang tidak mampu memberinya banyak dan tidak mempunyai kebanggaan apapun tentang dirinya, maka murid-murid itu hanya sedikit sekali mendapat perhatiannya. Sehingga dengan demikian, Empu Sada tidak mempunyai tanggung jawab yang sepenuhnya atas murid-muridnya, dan murid-muridnya pun tidak mempunyai kewajiban yang wajar atas gurunya itu. Murid-muridnya tidak menganggap gurunya sebagai seorang yang wajib dihormati dan disegani sepenuhnya, tetapi sebagai seseorang yang telah memberi mereka itu kepandaian setelah ia menerima upahnya.
Kini Empu Sada menyadarinya. Tak seorang pun dari murid-muridnya yang mempunyai wibawa atas murid-muridnya yang lain sebagai seorang kakak seperguruan terhadap adiknya. Murid-muridnya merasa, bahwa mereka satu sama lain terlepas dari ikatan semacam itu. Kalau ikatan itu ada, maka ikatan itu terlampau lemah. Namun kesadaran orang tua itu agaknya telah terlampau lambat. Kini ia dihadapkan pada keadaan serba sulit, ia tahu benar bahwa kedua muridnya itu kini berada dalam keadaan yang berlawanan. Yang seorang ingin pergi meninggalkan tempat ini sedang yang lain ingin tinggal untuk mendapatkan orang-orang yang sanggup membantunya. Empu Sada itu tersadar ketika dikejutkan terdengar suara anjing liar menggonggong bersahut-sahutan.
“Hem,“ desahnya sambil memandangi kedua muridnya itu berganti-ganti. “Sekarang bagaimana?”
Kedua muridnya itu mengangkat wajahnya. Tetapi mereka masih ragu-ragu untuk menjawab. Namun sekali lagi mereka mendengar Empu Sada bertanya, “Sekarang bagaimana?”
Yang mula-mula menjawab adalah orang yang menyebut dirinya Bahu Reksa Kali Elo, “Kita pergi saja meninggalkan tempat ini.”
“Tidak,“ potong Kuda Sempana cepat-cepat, “kita kembali ke rumah paman Kebo Sindet. Kita telah mengambil keputusan untuk memohon bantuan mereka. Dan agaknya mereka telah membuka pintu selebar-lebarnya.”
“Ya,“ sahut Empu Sada, “mereka telah membuka pintu selebar-lebarnya. Tidak saja untuk memasukkan Mahisa Agni kedalamnya, tetapi kita sendiri akan berkubur di dalam goa itu, apabila malam ini kita kembali.”
“Guru terlampau berprasangka,“ jawab Kuda Sempana dengan tegangnya sehingga urat-urat lehernya seolah-olah akan mencuat keluar.
Empu Sada benar-benar menjadi bingung. Ia tahu, bahwa ia berprasangka, tetapi perasaannya dengan kuatnya memaksanya untuk tidak kembali ke rumah itu. Malam ini, dan bahkan besok pagi. Tetapi ia tidak sampai hati untuk mengecewakan Kuda Sempana yang telah menyimpan pengharapan di dalam hatinya sejak dijumpainya Wong Sarimpat.
Dalam pada itu terdengar Cundaka yang menyebut dirinya Bahu Reksa Kali Elo itu berdesis, “Aku akan meneruskan perjalanan ini guru. Malam ini aku tidak akan bermalam di bukit gundul ini. Aku akan berjalan terus sejauhnya.”
Belum lagi kalimat itu habis, Kuda Sempana telah memotongnya, “Aku akan kembali ke rumah paman Kebo Sindet dan Paman Wong Sarimpat. Aku tidak akan melepaskan kesempatan ini. Mahisa Agni harus tertangkap hidup-hidup. Bukankah guru seorang diri tidak sanggup melakukannya.”
“Kuda Sempana,“ bentak Empu Sada, “apakah kau sudah kehilangan kepercayaan atas gurumu?”
“Maksudku,“ sahut Kuda Sempana cepat-cepat, “maksudku, guru tidak dapat menyelesaikannya sendiri karena ada orang-orang lain yang ternyata telah terlibat pula, seperti Panji Bojong Santi seperti yang pernah guru katakan, dan mungkin Empu Purwa, ayah gadis itu yang sepengetahuanku selama aku tinggal di Panawijen pada masa kecilku, tidak lebih dari seorang tua yang sakit-sakitan. Namun ternyata guru telah memperhitungkannya pula.”
“Tentang Empu Purwa bertanyalah kepada Kebo Sindet. Ia mengenal orang tua sakit-sakitan itu dengan baik.”
“Jadi guru akan kembali ke gubug itu?”
Kembali Empu Sada diamuk oleh kebimbangan. Sekali-sekali dikejauhan terdengar anjing liar menggonggong bersahutan. Empu Sada memasang telinganya baik-baik. Anjing itu telah menimbulkan kecurigaannya pula. Terdengar suaranya berkepanjangan dan berputar-putar di lereng bukit gundul ini.
“Apakah anjing itu melihat harimau, atau mereka melihat seseorang mendaki bukit ini?” katanya di dalam hati. Tetapi ia tidak mengatakannya kepada kedua orang muridnya itu.
“Bagaimana guru?” desak Kuda Sempana.
“Aku tidak akan kembali, setidak-tidaknya malam ini,“ sahut Empu Sada, “entahlah besok pagi-pagi. Mungkin malam ini aku dapat mempertimbangkannya. Tetapi malam ini aku akan bermalam di seberang bukit gundul ini.”
“Kenapa terlampau jauh?”
“Banyak bahayanya di bukit gundul ini. Harimau, anjing-anjing liar dan orang-orang liar itu. Tetapi anggaplah kita tidak berprasangka apa pun terhadap kedua laki-laki itu. Maka yang perlu kita perhatikan adalah anjing-anjing liar itu. Anjing-anjing liar itu datang dalam jumlah yang terlampau banyak. Lebih baik melawan dua atau tiga ekor harimau dari pada lima puluh ekor anjing yang menyergap dari segenap penjuru.”
Sebelum Kuda Sempana menjawab, terdengar Cundaka mendahuluinya, “Aku akan pergi. Aku akan pergi.”
“Tunggu,“ cegah Empu Sada, “akulah yang mengambil keputusan.“ Namun kembali orang tua itu mendengar gonggong anjing. Sahut menyahut melingkar-lingkar, sehingga orang tua itu terpaksa mempertimbangkannya.
Cundaka yang hampir melangkahkan kakinya tertegun diam. Ia tidak berani melanggar kata-kata gurunya itu. Ia tahu, bahwa kali ini Empu Sada berkata sebenarnya. Dan ia harus tunduk kepadanya. Wajah orang tua itu kini diliputi oleh ketegangan yang mencengkam hatinya. Dikejauhan ia masih mendengar gonggong anjing-anjing liar. Kadang-kadang menghilang, namun kadang-kadang serasa menjadi amat dekatnya.
Dengan nada datar orang tua itu berkata, “Tidak kita tidak boleh terpisah-pisah. Kalian dengar gonggong anjing liar itu?” Kedua muridnya menganggukkan kepalanya mereka. “Berapa jumlah anjing-anjing liar itu menurut dugaanmu?”
Kedua muridnya terdiam. Namun tiba-tiba mereka merasa ngeri juga mendengar suara anjing itu. Terlampau banyak. Betapapun tangkas mereka mempermainkan pedang, tetapi mereka satu-satu tidak akan dapat melawan sejumlah anjing-anjing liar itu. Anjing-anjing liar itu dapat menyerang dari segenap penjuru. Selagi seseorang mengayunkan senjatanya membunuh seekor diantara mereka, maka seekor yang lain telah menerkam tubuhnya dari arah yang lain. Disusul yang lain lagi, yang lain dan berpuluh-puluh banyaknya. Apalagi mereka sama sekali belum mengenal watak dan tabiat anjing-anjing hutan yang liar itu.
“Turutlah nasehatku,“ berkata Empu Sada kemudian, “anjing-anjing liar dan harimau-harimau kumbang akan merupakan bahaya yang besar bagi kalian. Alangkah malangnya apabila kalian mati dikoyak oleh anjing-anjing liar itu. Bukankah lebih baik kalian mati dibunuh oleh Mahisa Agni.”
Kedua muridnya tidak menjawab. Mereka kini mencoba memperhatikan suara anjing-anjing liar. bersahut-sahutan tak henti-hentinya. Semakin lama menjadi semakin riuh. Tetapi kemudan mereka terkejut ketika mereka melihat bayangan yang kemerah-merahan bergerak-gerak di sisi tebing. Cahaya yang bertebaran memancar dari balik gerumbul dan batu-batu yang menjorok di permukaan bukit gundul itu.
Empu Sada mengerutkan keningnya. Ditatapnya cahaya yang kemerahan itu dengan tajamnya, perlahan-lahan ia bergumam, “Obor. Apakah kalian melihat sinar obor itu?” Kedua muridnya mengangguk. “Siapa menurut dugaanmu?”
Cundaka lah yang menjawab, “Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.”
“Mereka tidak memerlukan obor,“ potong Kuda Sempana.
“Lalu siapa menurut dugaanmu Kuda Sempana?“ bertanya Empu Sada.
Kuda Sempana menggelengkan kepalanya, “Aku tidak tahu guru.”
Kembali Kebo Sindet terdiam. Ia mencoba memecahkan persoalan itu di dalam kepalanya. Tiba-tiba ia berkata, “Akan aku pikirkan. Tetapi kapankah kira-kira Ken Dedes akan kawin?”
“Kami tidak tahu,“ sahut Kuda Sempana, “tetapi aku kira segera akan dilakukannya.”
Kembali ruangan itu menjadi sepi. Kembali Empu Sada menimbang-nimbang sikap Kebo Sindet yang meragukannya itu. Tetapi ia tidak dapat menduga, apakah kira-kira yang akan dilakukannya. Namun dalam pada itu, harapan di dalam dada Kuda Sempana telah menyala berkobar-kobar. Hampir dapat dipastikan, ia akan dapat mengikat Mahisa Agni pada sebuah tonggak kayu. Melecutnya sesuka hati. Meludahi mukanya dan menggurat tubuhnya dengan pedangnya. Melumurinya dengan air asam dan garam.
“Hem,“ Kuda Sempana itu tersenyum sendiri.
Musuhnya yang paling dibencinya itu sebentar lagi akan jatuh ke tangannya. Ia tidak peduli apakah ia harus menjual segala miliknya yang telah dikumpulkan selama ia menghambakan diri di istana. Timang emas tretes berlian, pendok emas, binggel dan apa saja, asal dendam dan sakit hatinya dapat terbalas atas Mahisa Agni dan beruntunglah ia kalau kedua orang itu berhasil mengambil Ken Dedes dari istana. Dan angan-angan yang membubung tinggi itulah yang kemudian mendorong Kuda Sempana untuk kemudian berkata kepada gurunya,
“Guru, bagiku, apakah kedua paman ini akan pergi tanpa kami, ataukah kami harus pergi bersama mereka, bukanlah soal bagiku. Yang penting adalah Mahisa Agni jatuh ke tanganku.”
“Anak bodoh,“ desis Empu Sada di dalam hatinya. Tetapi yang diucapkannya adalah, “Kita tidak dapat mengumpankan kedua pamanmu tanpa kami. Kamilah yang tahu, bahwa di sekeliling Mahisa Agni berdiri beberapa kekuatan. Bahkan mungkin Witantra, murid Bojong Santi akan menyerahkan prajurit-prajuritnya yang cukup memiliki kekuatan untuk menangkap kami dan kedua pamanmu sekaligus. Betapa kemampuan kami seorang, tetapi apakah kami masing-masing mampu melawan seratus orang Witantra sekaligus? Kau harus tahu Kuda Sempana, bahwa di istana mempunyai banyak kekuatan yang tersimpan. Banyaklah orang-orang yang sekuat kau. Meskipun aku gurumu, namun aku tidak akan mampu melawan kau dalam jumlah yang cukup. Sebab kekuatan seseorang itu sesuatu ketika akan mencapai titik puncaknya. Dan orang itu tidak akan mampu berbuat melampaui titik puncak itu.”
Kuda Sempana tidak dapat menjawab kata-kata gurunya. Karena itu ia pun terdiam. Tetapi yang terdengar kemudian adalah suara Kebo Sindet, “Baiklah. Kami akan berpikir malam ini. Besok pagi kami akan mengatakan sesuatu kepada kalian tentang rencana ini. Malam ini kalian dapat tidur di rumah ini.”
Sekali lagi dada Empu Sada berdesir. Kini ia sudah yakin seyakin-yakinnya, bahwa ada sesuatu yang terjadi di dalam hati Kebo Sindet. Orang semacam itu sudah tentu tidak akan bersedia merubah keputusannya apabila tidak ada hal yang penting terjadi pada dirinya. Karena itu maka Empu Sada menjawab,
“Tidak. Aku tidak akan tidur di rumahmu ini. Kau akan membunuh kami selagi kami tidur.”
“Tidak,“ sahut Kebo Sindet, “aku tidak akan berbuat demikian. Aku tadi hanya menakutimu.”
“Mungkin. Mungkin tadi kalian hanya ingin menakuti kami. Tetapi sekarang mungkin rencana itu benar-benar akan kalian lakukan. Aku ingin tidur di bukit gundul itu. Mungkin aku akan dapat menangkap harimau kumbang.”
Tak ada jawaban. Dan sekali lagi Empu Sada menjadi heran. Ia tidak mendengar Wong Sarimpat tertawa terbahak-bahak.
“Marilah Kuda Sempana dan Cundaka,“ ajak Empu Sada, “kita pergi ke bukit gundul itu.”
Empu Sada tidak menunggu apapun lagi. Terdengar amben itu bergerit dan Empu tua itu pun segera turun dan melangkah ke pintu. Ternyata diluar tampak sedikit lebih terang dari pada di dalam gubug yang sempit itu.
“Tunggu,“ terdengar suara Kebo Sindet.
Empu Sada tertegun sejenak. Ia mencoba berpaling, tetapi yang dilihatnya hanyalah hitam yang pekat dan bayangan-bayangan yang wajahnya tidak jelas dari orang-orang yang duduk di amben itu.
Tetapi ia mendengar Kebo Sindet berkata pula, “Empu Sada, kalau kau tidak mau bermalam di gubug yang jelek ini, terserahlah kepadamu. Tetapi aku ingin Kuda Sempana tinggal disini. Aku masih memerlukan beberapa keterangan daripadanya.”
Empu Sada itu menggelengkan kepalanya meskipun ia tahu, bahwa di dalam ruangan itu gelapnya bukan main, “Tidak. Kuda Sempana pergi bersama aku.”
“Kenapa kau terlalu berkeras hatimu?” bertanya Kebo Sindet, “bukankah kau datang untuk suatu usaha bekerja bersama? Karena itu maka kau pun harus mempunyai kepercayaan kepada kami.”
“Tidak,“ jawab Empu Sada tegas, “Kedua muridku harus bersama aku.”
Tetapi Empu Sada tiba-tiba terkejut ketika ia mendengar Kuda Sempana yang seolah-olah sedang terbius oleh angan-angannya untuk segera menangkap Mahisa Agni itu berkata,
“Guru apakah keberatannya apabila aku tinggal disini? Aku percaya kepada kedua paman ini, bahwa tidak akan membunuh kami. Seandainya guru keberatan, maka akulah yang akan tinggal selama ini untuk memberikan beberapa penjelasan yang perlu.”
Terdengar Empu Sada menggeram. Ia tidak menyangka bahwa Kuda Sempana akan berbuat demikian. Maka jawabnya, “Kuda Sempana. Kau adalah muridku. Kau harus menurut segala petunjukku. Kau pergi bersama aku. Besok kita kembali kemari untuk mendengarkan penjelasan apakah kedua pamanmu bersedia membantu kami atau tidak.”
Kebo Sindet yang mempunyai perhitungan tersendiri tiba-tiba menyela, “Baiklah. Bawalah Kuda Sempana. Beri aku kesempatan malam ini. Besok aku mengharap kalian datang lagi kemari.”
Empu Sada tidak menjawab. Hatinya bergetar menahan segala macam perasaan. Apalagi Kuda Sempana yang telah menyeretnya ke bukit gundul ini telah mengecewakannya pula.
Kuda Sempana kemudian berkata kepada Kebo Sindet, “Baiklah paman, biarlah aku malam ini mengikuti guru. Besok kami pasti akan kembali.”
“Baiklah,“ sahut Kebo Sindet.
Keramahannya itu pun telah semakin meyakinkan Empu Sada bahwa sesuatu yang tidak menyenangkan telah direncanakan oleh Kebo Sindet itu. Cundaka pun kemudian berjalan di belakang gurunya. Seperti gurunya ia tidak minta diri kepada sepasang kakak beradik yang baginya sangat memuakkan tetapi juga mengerikan. Dengan tergesa-gesa Empu Sada berjalan meninggalkan gubug itu sambil bersungut-sungut. Cundaka berjalan terloncat-loncat di belakangnya. Malam yang gelap semakin lama menjadi semakin dalam. Tetapi di langit bergayutan jutaan bintang yang bercahaya. Ternyata diluar tidak terlalu pepat seperti di dalam gubug yang sempit.
Beberapa langkah di belakang mereka, Kuda Sempana berlari-lari kecil menyusul guru dan saudara seperguruannya. Ketika jarak mereka sudah menjadi semakin dekat, terdengar Kuda Sempana bertanya,
“Kemana kita pergi guru?”
Empu Sada berpaling, tetapi ia tidak mengurangi kecepatan langkahnya. Diloncatinya batu-batu padas dan lubang-lubang di sepanjang jalan yang sempit itu. Karena Empu Sada tidak segera menjawab, maka kembali Kuda Sempana mendesaknya,
“Kemana kita pergi guru?”
“Kemana saja,“ jawab Empu Sada, “kita jauhi rumah kedua orang gila itu.”
“Tetapi,“ potong Kuda Sempana, “bukankah mereka telah menyatakan keinginannya untuk membantu kami.”
Empu Sada tidak menjawab. Langkahnya bahkan menjadi semakin panjang dan cepat. Kuda Sempana menjadi heran. Agaknya ada yang tidak berkenan di hati gurunya. Namun ia tidak segera menanyakannya. Diikutinya saja kemana gurunya itu pergi. Dalam pada itu Empu Sada menyusur jalan sempit di kaki lereng bukit gundul. Kemudian dengan susah payah mereka mendaki naik. Meskipun malam menjadi bertambah malam, namun mereka seolah-olah tidak mempedulikannya.
Tiba-tiba mereka mendengar Empu Sada bergumam, “Kita bermalam di bukit gundul itu.”
“Pasti terlampau dingin,“ sahut Kuda Sempana.
“Kita tidak akan membeku seperti minyak di musim bediding. Darah kita cukup panas dan hati kita pun cukup panas.”
Kuda Sempana tidak menjawab. Ia menjadi semakin yakin bahwa ada yang tidak menyenangkan hati gurunya itu. Cundaka berjalan sambil menundukkan kepalanya. Ia tidak mau tergelincir dan terbanting ke dalam jurang. Ia hampir-hampir tidak memperhatikan sama sekali percakapan Kuda Sempana dengan gurunya. Tetapi ketika terasa bahwa gurunya menjadi tidak begitu senang terhadap kedua laki-laki kakak beradik itu, maka tergugah kembalilah perasaan muaknya. Tetapi ia masih saja tetap berdiam diri.
Apapun yang akan terjadi, maka ia harus pandai mengambil keuntungan. Seandainya orang-orang liar itu benar-benar akan membunuh Mahisa Agni, maka ia pun akan mengambil keuntungan pula dari padanya. Seandainya niat itu diurungkan maka ia tidak terlampau banyak berkepentingan. Bahkan dengan demikian ia akan terhindar dari kemungkinan yang lebih parah. Apabila kemudian Akuwu Tunggul Ametung mengetahuinya, maka sasaran yang pertama-tama dari kemarahannya adalah gurunya, Kuda Sempana dan murid-murid Empu Sada yang lain.
Demikianlah mereka bertiga memanjat tebing gunung gundul itu sambil berdiam diri. Kuda Sempana pun tidak lagi bertanya-tanya. Sedang Empu Sada sama sekali tidak bernafsu untuk berbicara. Meskipun demikian orang tua itu berkata,
“Siapkan senjata kalian. Di gunung gundul ini terdapat beberapa jenis binatang. Mungkin kalian akan bertemu dengan harimau kumbang yang mendaki dari hutan-hutan di sekitar bukit ini untuk mencari anjing-anjing liar. Tetapi anjing-anjing liar itu sendiri tidak kalah berbahayanya dari harimau-harimau kumbang. Tetapi yang lebih berbahaya adalah kedua orang liar itu. Mereka akan mampu menerkam kalian lebih cepat dari harimau yang betapapun buasnya.”
Kedua muridnya terkejut mendengar kata-kata itu. Tetapi yang lebih terkejut diantara mereka adalah Kuda Sempana, sehingga dengan serta merta ia menjawab, “Guru. Apakah guru berprasangka? Ketika aku menjumpai paman Wong Sarimpat di lereng gunung gundul ini, maka kesan yang aku dapatkan memang tidak begitu baik. Tetapi bukankah paman Kebo Sindet tidak sekasar paman Wong Sarimpat. Bahkan paman Kebo Sindet ternyata jauh lebih baik dari yang pernah guru katakan tentang kedua orang yang guru sebut sebagai orang-orang liar itu. Paman Kebo Sindet cukup ramah dan baik.”
“Hem,“ Empu Sada menggeram, “kau memang terlampau bodoh Kuda Sempana. Aku mengenal mereka berdua sejak lama. Sejak kakak seperguruanku masih hidup. Mereka adalah orang-orang liar yang tak dapat bersikap baik. Tetapi dahulu aku masih mempercayainya. Mereka waktu itu tidak mempunyai pertimbangan-pertimbangan lain kecuali berapa banyak kita akan memberinya upah. Tetapi sekarang aku melihat beberapa perbedaan. Mungkin mereka telah terlampau banyak menyimpan kekayaan, sehingga mereka mempunyai kesempatan untuk mempertimbangkan keadaan lebih saksama. Dan adalah karena kebodohanmu, bahwa kau terlampau banyak berceritera tentang lawanmu itu.”
Kuda Sempana menjadi semakin tidak mengerti. kembali ia bertanya, “Apakah keberatannya guru? Bukankah kita akan bekerja bersama dengan mereka?”
“Kita akan bekerja bersama dengan mereka,“ jawab Empu Sada, “tetapi apakah kau yakin bahwa mereka akan bekerja bersama dengan kita?”
“Mereka tidak mempunyai kepentingan apapun dengan Mahisa Agni,“ sahut Kuda Sempana.
“Mahisa Agni adalah calon kakak ipar Akuwu Tunggul Ametung yang kaya raya. Yang mampu menyediakan emas sebongkah dan berlian segenggam. Alangkah bodohnya kau.”
Kuda Sempana masih belum dapat mengerti maksud gurunya dengan pasti. Namun menurut perasaannya, apapun yang akan dilakukan atas Mahisa Agni kemudian ia tidak perlu mempertimbangkan. Baginya asalkan dendamnya terbalas, maka tak ada lagi alasan untuk membuat perhitungan-perhitungan lain. Ia harus dapat melihat Mahisa Agni terikat pada tonggak kayu tanpa dapat berbuat apapun. Kemudian ia harus melihat, betapa anak muda itu menjadi sangat kecewa karena bendungannya gagal. Yang terakhir ia harus mendengar kabar bahwa Ken Dedes menangis setiap saat menangisi kakaknya yang mati. Kemudian Ken Dedes itu pun akan mati pula. Adalah lebih baik baginya dari pada setiap kali ia mendengar dan melihat gadis itu sebagai seorang permaisuri Akuwu Tunggul Ametung.
“Gila,“ gumamnya di dalam hati, “bahkan kalau mungkin Tunggul Ametung harus aku bunuh pula.”
Tetapi Kuda Sempana itu kini berdiam diri. Ia berbicara dalam angan-angannya. Berbicara kepada diri sendiri tentang kemenangan yang akan dicapainya untuk melepaskan dendamnya. Tanpa mereka sadari, maka mereka bertiga kini telah berada di punggung bukit gundul itu. Mereka berjalan diatas batu-batu padas yang keputih-putihan mengandung kapur. Di sana-sini bertebaran gerumbul-gerumbul liar seperti seonggok batu yang berserak-serak.
Tetapi Empu Sada itu masih berjalan terus. Langkahnya masih tetap panjang-panjang dan cepat. Kuda Sempana yang mempunyai kepentingan langsung dengan kedua laki-laki kakak beradik itu bertanya kembali,
“Guru, dimana kita bermalam?”
“Sejauh-jauhnya dari rumah hantu-hantu liar itu.”
“Kenapa sejauh-jauhnya? Besok kita akan terlalu payah. Bukankah kita besok akan kembali lagi kepada mereka?”
Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Hatinya kini dicengkam oleh keragu-raguan yang tajam. Sebagai seorang tua yang memiliki pengamatan yang jauh, terasa bahwa kedatangannya sama sekali tidak menggantungkannya. Juga tidak bagi murid-muridnya. Tetapi ia masih tidak pasti atas pengamatan perasaannya itu. Apalagi ketika didengarnya Kuda Sempana bertanya tentang apa yang akan dilakukan kini.
Sejenak orang tua itu tidak menjawab. Tetapi langkahnya sama sekali tidak mengendor, meskipun malam menjadi semakin dalam dan angin yang dingin berhembus dari selatan mengusap kulit mereka yang dilumuri oleh keringat. Keringat yang mengalir karena ketegangan yang menghentak-hentak dada.
Karena Empu Sada tidak menjawab, maka kembali terdengar Kuda Sempana bertanya, “Guru, kemana kita bermalam. Bukankah kita dapat bermalam di tempat ini, tempat yang menurut pendapatku telah terlampau jauh?”
“Tidak Kuda Sempana,“ jawab gurunya. Akhirnya Empu Sada tidak dapat menyembunyikan perasaannya, ia ingin menyelamatkan kedua muridnya itu dari bencana meskipun bencana itu belum pasti datang, “Terus terang aku katakan sekarang kepadamu berdua, bahwa sebenarnya aku menaruh curiga kepada kedua orang itu.”
Kuda Sempana terkejut mendengar kata-kata gurunya, dengan serta merta ia bertanya, “Kenapa guru bercuriga. Memang keduanya tampaknya terlampau kasar dan liar, tetapi menurut anggapanku mereka mempunyai dada terbuka. Dan bukankah mereka telah menanyakan banyak hal tentang Mahisa Agni?”
“Terlampau banyak,“ sahut gurunya.
“Guru, aku tidak tahu, kenapa guru berkeberatan?”
Kembali Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Sebelum ia menjawab terdengar Cundaka berkata, “Ya, aku pun bercuriga kepada mereka.”
Kuda Sempana segera merasa tersinggung mendengar kata-kata saudara seperguruannya itu, sehingga cepat-cepat ia menyahut, “Kenapa kau pun bercuriga? sebenarnya kau tidak berkepentingan sama sekali dengan kedua orang itu. Lebih baik kau tidak usah turut menilainya.”
Cundaka mengerutkan keningnya. Ia tidak senang mendengar teguran Kuda Sempana yang kasar itu. Sehingga kembali ia berkata, “Demikianlah tanggapanku atas kedua orang itu. Berkepentingan atau tidak berkepentingan. Tetapi bagiku mereka berdua adalah orang-orang yang kasar dan memuakkan.”
“Kalau kau tidak mau bekerja bersama dengan mereka, pergilah,“ sahut Kuda Sempana, “tetapi jangan mencoba mengendorkan tekadku untuk membalas sakit hatiku atas Mahisa Agni.”
Tiba-tiba Cundaka itu pun berhenti. Wajahnya menjadi merah karena marah. Dengan tajamnya ia menjawab, “Baik. Aku akan pergi. Aku tidak mau turut campur dalam urusan yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan kepentinganku sendiri secara langsung. Aku memang pernah mendendam Mahisa Agni. Tetapi aku akan tekun menambah ilmuku sendiri. Kalau kau tak berhasil membinasakannya, maka akan sampai saatnya akulah yang berbuat. Tetapi dengan tanganku sendiri.”
“Jangan terlalu sombong,“ bentak Kuda Sempana yang, tidak kalah marahnya pula.
Tetapi ketika ia akan mengumpat-umpat lebih banyak lagi, terdengar Empu Sada berkata, “Apakah yang kalian kerjakan itu. Apakah kalian akan berkelahi diantara kalian sendiri, sedang kalian masing-masing mendendam anak muda yang bernama Mahisa Agni?”
Kedua muridnya itu terdiam. Mereka sekali berpaling, memandangi gurunya yang telah berhenti pula. Beberapa langkah Empu Sada itu mendekati mereka yang sudah berdiri berhadapan. Bahkan Kuda Sempana telah meraba hulu pedangnya.
“Ternyata kalian telah menjadi gila,“ berkata Empu Sada, “apa kau sangka bahwa setelah kalian berkelahi, maka urusan kalian dengan Mahisa Agni itu dapat selesai.”
“Tetapi ia menghina kedua paman kakak beradik itu guru.”
“Aku mengatakan tanggapan perasaanku atas mereka berdua.”
“Cukup,“ bentak Empu Sada keras-keras, Betapa marahnya orang tua itu masing-masing murid-muridnya bertengkar diantara mereka, sehingga tongkat panjangnya terayun-ayun hampir menyentuh wajah kedua muridnya berganti-ganti, “Ayo. Siapa yang masih membuka mulutnya, maka mulut itu pasti akan pecah oleh tongkatku ini. Ayo. Siapa yang masih akan mencoba?”
Kedua muridnya menjadi takut melihat gurunya benar-benar marah. Kuda Sempana dan Cundaka segera menundukkan wajahnya dan menyembunyikan perasaannya. Tetapi bukan saja mereka berdua yang mencoba menyembunyikan perasaan yang menghentak-hentak dada masing-masing, tetapi Empu Sada pun mencoba menyembunyikan perasaannya di balik kemarahannya. Orang tua itu pun kemudian merasa, bahwa apa yang telah dilakukan selama ini terhadap murid-muridnya adalah keliru. Muridnya itu satu sama lain sama sekali tidak mempunyai ikatan persaudaraan yang kokoh. Sekali lagi Empu Sada menjadi iri melihat murid-murid Panji Bojong Santi. Mereka seakan-akan mempunyai suatu tataran yang teratur menurut urutan kakak beradik dalam perguruannya.
Tetapi semuanya itu telah terlanjur. Empu Sada hanya dapat menyesali diri sendiri. Ia tidak dapat membentuk murid-muridnya menjadi suatu lingkungan yang terikat oleh perasaan senasib sepenanggungan. Namun itu bukanlah salah murid-muridnya. Empu Sada sendiri memperlakukan mereka tidak adil sebagai murid yang baik. Empu Sada lebih memperhatikan muridnya yang berkedudukan baik dan yang mampu memberinya banyak uang dan harta benda.
Tetapi murid-muridnya yang tidak mampu memberinya banyak dan tidak mempunyai kebanggaan apapun tentang dirinya, maka murid-murid itu hanya sedikit sekali mendapat perhatiannya. Sehingga dengan demikian, Empu Sada tidak mempunyai tanggung jawab yang sepenuhnya atas murid-muridnya, dan murid-muridnya pun tidak mempunyai kewajiban yang wajar atas gurunya itu. Murid-muridnya tidak menganggap gurunya sebagai seorang yang wajib dihormati dan disegani sepenuhnya, tetapi sebagai seseorang yang telah memberi mereka itu kepandaian setelah ia menerima upahnya.
Kini Empu Sada menyadarinya. Tak seorang pun dari murid-muridnya yang mempunyai wibawa atas murid-muridnya yang lain sebagai seorang kakak seperguruan terhadap adiknya. Murid-muridnya merasa, bahwa mereka satu sama lain terlepas dari ikatan semacam itu. Kalau ikatan itu ada, maka ikatan itu terlampau lemah. Namun kesadaran orang tua itu agaknya telah terlampau lambat. Kini ia dihadapkan pada keadaan serba sulit, ia tahu benar bahwa kedua muridnya itu kini berada dalam keadaan yang berlawanan. Yang seorang ingin pergi meninggalkan tempat ini sedang yang lain ingin tinggal untuk mendapatkan orang-orang yang sanggup membantunya. Empu Sada itu tersadar ketika dikejutkan terdengar suara anjing liar menggonggong bersahut-sahutan.
“Hem,“ desahnya sambil memandangi kedua muridnya itu berganti-ganti. “Sekarang bagaimana?”
Kedua muridnya itu mengangkat wajahnya. Tetapi mereka masih ragu-ragu untuk menjawab. Namun sekali lagi mereka mendengar Empu Sada bertanya, “Sekarang bagaimana?”
Yang mula-mula menjawab adalah orang yang menyebut dirinya Bahu Reksa Kali Elo, “Kita pergi saja meninggalkan tempat ini.”
“Tidak,“ potong Kuda Sempana cepat-cepat, “kita kembali ke rumah paman Kebo Sindet. Kita telah mengambil keputusan untuk memohon bantuan mereka. Dan agaknya mereka telah membuka pintu selebar-lebarnya.”
“Ya,“ sahut Empu Sada, “mereka telah membuka pintu selebar-lebarnya. Tidak saja untuk memasukkan Mahisa Agni kedalamnya, tetapi kita sendiri akan berkubur di dalam goa itu, apabila malam ini kita kembali.”
“Guru terlampau berprasangka,“ jawab Kuda Sempana dengan tegangnya sehingga urat-urat lehernya seolah-olah akan mencuat keluar.
Empu Sada benar-benar menjadi bingung. Ia tahu, bahwa ia berprasangka, tetapi perasaannya dengan kuatnya memaksanya untuk tidak kembali ke rumah itu. Malam ini, dan bahkan besok pagi. Tetapi ia tidak sampai hati untuk mengecewakan Kuda Sempana yang telah menyimpan pengharapan di dalam hatinya sejak dijumpainya Wong Sarimpat.
Dalam pada itu terdengar Cundaka yang menyebut dirinya Bahu Reksa Kali Elo itu berdesis, “Aku akan meneruskan perjalanan ini guru. Malam ini aku tidak akan bermalam di bukit gundul ini. Aku akan berjalan terus sejauhnya.”
Belum lagi kalimat itu habis, Kuda Sempana telah memotongnya, “Aku akan kembali ke rumah paman Kebo Sindet dan Paman Wong Sarimpat. Aku tidak akan melepaskan kesempatan ini. Mahisa Agni harus tertangkap hidup-hidup. Bukankah guru seorang diri tidak sanggup melakukannya.”
“Kuda Sempana,“ bentak Empu Sada, “apakah kau sudah kehilangan kepercayaan atas gurumu?”
“Maksudku,“ sahut Kuda Sempana cepat-cepat, “maksudku, guru tidak dapat menyelesaikannya sendiri karena ada orang-orang lain yang ternyata telah terlibat pula, seperti Panji Bojong Santi seperti yang pernah guru katakan, dan mungkin Empu Purwa, ayah gadis itu yang sepengetahuanku selama aku tinggal di Panawijen pada masa kecilku, tidak lebih dari seorang tua yang sakit-sakitan. Namun ternyata guru telah memperhitungkannya pula.”
“Tentang Empu Purwa bertanyalah kepada Kebo Sindet. Ia mengenal orang tua sakit-sakitan itu dengan baik.”
“Jadi guru akan kembali ke gubug itu?”
Kembali Empu Sada diamuk oleh kebimbangan. Sekali-sekali dikejauhan terdengar anjing liar menggonggong bersahutan. Empu Sada memasang telinganya baik-baik. Anjing itu telah menimbulkan kecurigaannya pula. Terdengar suaranya berkepanjangan dan berputar-putar di lereng bukit gundul ini.
“Apakah anjing itu melihat harimau, atau mereka melihat seseorang mendaki bukit ini?” katanya di dalam hati. Tetapi ia tidak mengatakannya kepada kedua orang muridnya itu.
“Bagaimana guru?” desak Kuda Sempana.
“Aku tidak akan kembali, setidak-tidaknya malam ini,“ sahut Empu Sada, “entahlah besok pagi-pagi. Mungkin malam ini aku dapat mempertimbangkannya. Tetapi malam ini aku akan bermalam di seberang bukit gundul ini.”
“Kenapa terlampau jauh?”
“Banyak bahayanya di bukit gundul ini. Harimau, anjing-anjing liar dan orang-orang liar itu. Tetapi anggaplah kita tidak berprasangka apa pun terhadap kedua laki-laki itu. Maka yang perlu kita perhatikan adalah anjing-anjing liar itu. Anjing-anjing liar itu datang dalam jumlah yang terlampau banyak. Lebih baik melawan dua atau tiga ekor harimau dari pada lima puluh ekor anjing yang menyergap dari segenap penjuru.”
Sebelum Kuda Sempana menjawab, terdengar Cundaka mendahuluinya, “Aku akan pergi. Aku akan pergi.”
“Tunggu,“ cegah Empu Sada, “akulah yang mengambil keputusan.“ Namun kembali orang tua itu mendengar gonggong anjing. Sahut menyahut melingkar-lingkar, sehingga orang tua itu terpaksa mempertimbangkannya.
Cundaka yang hampir melangkahkan kakinya tertegun diam. Ia tidak berani melanggar kata-kata gurunya itu. Ia tahu, bahwa kali ini Empu Sada berkata sebenarnya. Dan ia harus tunduk kepadanya. Wajah orang tua itu kini diliputi oleh ketegangan yang mencengkam hatinya. Dikejauhan ia masih mendengar gonggong anjing-anjing liar. Kadang-kadang menghilang, namun kadang-kadang serasa menjadi amat dekatnya.
Dengan nada datar orang tua itu berkata, “Tidak kita tidak boleh terpisah-pisah. Kalian dengar gonggong anjing liar itu?” Kedua muridnya menganggukkan kepalanya mereka. “Berapa jumlah anjing-anjing liar itu menurut dugaanmu?”
Kedua muridnya terdiam. Namun tiba-tiba mereka merasa ngeri juga mendengar suara anjing itu. Terlampau banyak. Betapapun tangkas mereka mempermainkan pedang, tetapi mereka satu-satu tidak akan dapat melawan sejumlah anjing-anjing liar itu. Anjing-anjing liar itu dapat menyerang dari segenap penjuru. Selagi seseorang mengayunkan senjatanya membunuh seekor diantara mereka, maka seekor yang lain telah menerkam tubuhnya dari arah yang lain. Disusul yang lain lagi, yang lain dan berpuluh-puluh banyaknya. Apalagi mereka sama sekali belum mengenal watak dan tabiat anjing-anjing hutan yang liar itu.
“Turutlah nasehatku,“ berkata Empu Sada kemudian, “anjing-anjing liar dan harimau-harimau kumbang akan merupakan bahaya yang besar bagi kalian. Alangkah malangnya apabila kalian mati dikoyak oleh anjing-anjing liar itu. Bukankah lebih baik kalian mati dibunuh oleh Mahisa Agni.”
Kedua muridnya tidak menjawab. Mereka kini mencoba memperhatikan suara anjing-anjing liar. bersahut-sahutan tak henti-hentinya. Semakin lama menjadi semakin riuh. Tetapi kemudan mereka terkejut ketika mereka melihat bayangan yang kemerah-merahan bergerak-gerak di sisi tebing. Cahaya yang bertebaran memancar dari balik gerumbul dan batu-batu yang menjorok di permukaan bukit gundul itu.
Empu Sada mengerutkan keningnya. Ditatapnya cahaya yang kemerahan itu dengan tajamnya, perlahan-lahan ia bergumam, “Obor. Apakah kalian melihat sinar obor itu?” Kedua muridnya mengangguk. “Siapa menurut dugaanmu?”
Cundaka lah yang menjawab, “Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.”
“Mereka tidak memerlukan obor,“ potong Kuda Sempana.
“Lalu siapa menurut dugaanmu Kuda Sempana?“ bertanya Empu Sada.
Kuda Sempana menggelengkan kepalanya, “Aku tidak tahu guru.”
OBJEK WISATA MANCA NEGARA


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar