“Siapkan senjata kalian. Mungkin kita bertemu dengan orang-orang yang tidak bermaksud baik terhadap kita.”
“Aku sudah pasti,“ sela Cundaka yang menyebut dirinya Bahu Reksa Kali Elo, “mereka adalah Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.”
“Persetan,“ potong Kuda Sempana pula, “kau menghina mereka berdua. Kau sangka bahwa mata mereka telah menjadi buta, atau setidak-tidaknya rabun? Mereka adalah orang-orang sakti. Apakah matamu lebih baik dari mata mereka?”
“Aku tidak peduli. Disini tidak ada orang lain kecuali mereka berdua,“ sahut Cundaka.
“Kalau begitu kaulah yang buta,“ jawab Kuda Sempana, “kau tidak melihat padukuhan di sebelah rumah paman Kebo Sindet dan paman Wong Sarimpat.”
“Orang-orang padukuhan itu tidak lebih dari mayat-mayat yang hidup. Yang berbuat tidak atas kesadaran diri. Mereka adalah alat-alat yang bernyawa dari kedua orang-orang liar itu.”
“Omong kosong. Kau tidak tahu apa-apa tentang kedua orang itu. Kau menjadi iri, ketika kau melihat ada orang yang bersedia membantuku. Kau iri bahwa upah yang akan mereka terima tidak lagi akan aku berikan kepadamu.”
“Kuda Sempana,“ potong Cundaka, “aku masih sanggup menampar mulutmu.”
“Aku bukan tonggak mati Cundaka, yang menyebut dirinya Bahu Reksa Kali Elo.”
Tiba-tiba keduanya memutar diri masing-masing. Kini Kuda Sempana dan Cundaka telah berhadapan. Namun tiba-tiba pula mereka terkejut. Mereka menyadari diri mereka masing-masing ketika mereka berdua telah terpelanting jatuh berguling-guling diatas batu-batu padas yang keputih-putihan.
“Setan,“ terdengar guru mereka itu menggeram, “Kalau kalian masih bertengkar, maka biarlah kalian aku bunuh bersama-sama. Biarlah tubuh kalian hancur disayat oleh anjing-anjing liar itu atau oleh harimau kumbang.”
Kuda Sempana dan Cundaka tertatih-tatih berdiri. Wajah-wajah mereka menjadi merah membara. Tetapi mereka tidak berani berbuat apapun terhadap gurunya.
“Lihatlah,“ berkata Empu Sada, “obor itu menjadi semakin dekat. Sebentar lagi kalian akan melihat seseorang atau dua orang muncul dari balik batu-batu yang menjorok itu. Atau kalian akan melihat, apakah yang datang itu Kebo Sindet dan Wong Sarimpat atau bukan. Mereka berdua atau bukan, kita harus menerima mereka dengan penuh kewaspadaan. Kita harus mencoba menyatukan kekuatan kita, bukan kita hancurkan sendiri.”
Kuda Sempana dan Cundaka tidak menjawab. Tetapi mereka pun berpaling ke arah yang ditunjuk oleh Empu Sada. Dikejauhan mereka melihat cahaya yang kemerahan bertebaran, semakin lama semakin dekat. Gonggong anjing liar pun semakin lama menjadi semakin hilang pula.
Tetapi dengan demikian hati mereka bertiga menjadi semakin berdebar-debar. Dengan mulut terkunci dan mata tidak berkedip mereka menatap ke arah nyala yang memancar kemerah-merahan itu. Bayangannya bergerak di bebatuan dan tebing-tebing bukit gundul di sisi yang menjorok keatas, seperti bayangan hantu yang menari-nari mengerikan menarikan tarian maut. Empu Sada dan kedua muridnya berdiri tegak seperti patung. Bahkan kadang-kadang nafas mereka tertahan karena ketegangan yang semakin memuncak. Obor itu menjadi semakin dekat.
Darah mereka serasa terhenti ketika dari balik batu yang menjorok, mereka melihat sepasang obor seolah-olah mendaki lereng bukit gundul dan muncul tidak terlampau jauh dihadapan mereka. Sepasang obor yang dibawa oleh sepasang laki-laki.
Dalam pada itu terdengarlah Cundaka menggeram perlahan-lahan, “Apa katamu Kuda Sempana. Mereka berdua pasti Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Ayo, katakanlah sekarang, bahwa aku telah menghina mereka. Nanti kau akan dapat mengamati sendiri pada wajah yang kasar sekasar batu padas dan wajah yang beku seperti wajah mayat.”
Kuda Sempana tidak menjawab. Yang terdengar adalah suara giginya gemeretak menahan marah. Namun yang dilihatnya adalah benar-benar Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. mereka masing-masing membawa sebuah obor. Dan apa yang dilihatnya itu benar-benar tidak masuk di dalam akalnya. Kenapa orang seperti Kebo Sindet dan Wong Sarimpat masih memerlukan obor untuk mendekati gunung gundul yang hampir setiap hari dilewatinya. Tetapi ia telah membawa dengan mata kepalanya sendiri. Keduanya benar-benar telah membawa obor di tangan.
Empu Sada masih berdiri diam. Dengan penuh kecurigaan dipandanginya kedua orang itu berjalan ke arah mereka. Setapak-setapak kedua laki-laki kakak beradik itu maju semakin dekat. Dan hati Empu Sada bersama dua orang muridnya menjadi semakin berdebar-debar. Mereka sama sekali belum tahu, apakah yang akan dilakukan oleh kedua orang itu. Tiba-tiba bukit gundul yang kini telah menjadi sepi karena suara anjing-anjing liar sudah tidak terdengar lagi itu digetarkan oleh suara Wong Sarimpat keras-keras,
“Ha, itulah mereka kakang.” Tak terdengar jawaban. Namun kedua orang itu melangkah semakin cepat.
“Hati-hatilah,“ terdengar Empu Sada berdesis. Tetapi ketika Cundaka meraba hulu pedangnya Empu Sada itu berkata perlahan-lahan, “Jangan.”
Kuda Sempana benar-benar tidak senang melihat sikap Cundaka yang seakan-akan memusuhi kedua orang yang telah menyatakan diri untuk membantunya. Tetapi ia tidak berkata apapun. Namun berbeda dengan gurunya dan saudara seperguruannya, ia sama sekali tidak menaruh kecurigaan apa-apa kepada mereka berdua.
Yang terdengar kemudian adalah suara Wong Sarimpat kembali, “He, Empu Sada, apakah kau telah menenukan tempat yang baik untuk bermalam?”
Empu Sada tidak segera menjawab. Ia menunggu kedua orang itu menjadi semakin dekat. Tetapi Wong Sarimpat itu telah berteriak lagi, “He, apakah kau sudah menjadi bisu?”
Namun Empu Sada masih membiarkannya berteriak sesuka hatinya meskipun ia menjadi sangat jengkel pula karenanya, apalagi muridnya yang menyebut dirinya Bahu Reksa Kali Elo. Dengan geramnya ia berdesis,
“Orang itu benar-benar seperti orang gila.”
“Sekali lagi kau menghinanya,“ sahut Kuda Sempana, “apakah mulutmu ingin disobeknya?”
“Diam,“ potong Empu Sada, “kalian berdualah yang membuat aku hampir menjadi gila.”
Keduanya kini terdiam. Kedua laki-laki kakak beradik itu kini telah menjadi semakin dekat. Hanya beberapa langkah lagi. Dan terdengarlah suara tertawa Wong Sarimpat,
“Ha, ternyata kalian masih hidup. Apakah kalian tidak menjumpai gerombolan anjing-anjing liar itu?”
“Tidak,“ sahut Empu Sada.
“Beruntunglah kalian. Kalau kalian bertemu dengan serombongan anjing-anjing itu, maka kalian harus bertempur mati-matian. Mungkin kalian bertiga akan memenangkan pertempuran itu, tetapi kalian akan kehabisan tenaga. Apabila kemudian datang rombongan yang lain atau harimau kumbang, maka kalian akan disantap mereka itu dengan nyamannya.”
“Lebih baik bagi kami bertiga,“ sahut Empu Sada.
“He,“ Wong Sarimpat terkejut, “lebih baik dari apa?”
“Lebih baik berkelahi melawan anjing-anjing liar itu dari pada kami harus mati di dalam gubugmu.”
“Kenapa?”
“Kalian akan mencekik kami selagi kami tidur.”
Kembali terdengar suara tertawa Wong Sarimpat seolah-olah akan membelah gelap malam. Demikian kerasnya sehingga perutnya terguncang. Namun dalam pada itu wajah Kebo Sindet yang beku itu sama sekali tidak bergerak. Wajah itu masih juga beku sebeku wajah sesosok mayat.
Tiba-tiba terdengar suara Kebo Sindet dalam nada yang rendah, “Aku datang karena aku menjadi cemas atas nasib kalian.”
“Apa yang kau cemaskan?” bertanya Empu Sada.
“Kalian belum mengenal bukit ini. Kalian belum mengenal penghuni bukit ini dan kalian belum mengenal siapa yang merajai bukit ini dimalam hari.”
Empu Sada tertegun mendengar kata-kata Kebo Sindet itu. Kata-kata bersahabat yang terasa menyejukkan hati. Tetapi perasaan orang tua itu telah dicengkam oleh kecurigaan, sehingga setiap kalimat yang diucapkan oleh Kebo Sindet dan Wong Sarimpat terasa bagaikan sebuah jebakan untuk menjeratnya. Tetapi Empu Sada tidak segera menjawab. Dibiarkannya Kebo Sindet berkata terus,
“Karena itu kami datang kemari. Kami akan mempersilahkan kalian sekali lagi. Tidurlah di rumah kami. Tetapi agaknya kalian telah benar-benar menganggap sikap kami terlampau menyakitkan hatimu sehingga kalian sama sekali tidak mau mendengarkan permintan kami lagi.”
“Terima kasih,“ sahut Empu Sada, “aku akan tidur disini.”
“Sekali lagi aku memperingatkanmu. Bagaimana dengan anjing liar dan harimau-harimau yang berkeliaran dimalam hari?”
Empu Sada tidak segera menjawab. Disambarnya wajah kedua muridnya dengan sudut pandangannya. Empu tua itu melihat kesan yang berlawanan pada kedua wajah itu. Sekali lagi ia menyesal. Ia telah menyalakan kecurigaannya terlampau berterus terang dihadapan muridnya, sehingga Cundaka pun menjadi sangat bercuriga dan seolah-olah tidak akan dapat mempercayai apa saja yang dikatakan oleh kedua orang itu seperti perasaannya sendiri.
Tetapi dengan demikian, ia telah membuat garis batas antara kedua murid-muridnya itu. Kuda Sempana sangat bernafsu untuk mendapat bantuan melepaskan dendamnya, sedang Cundaka yang tidak terlampau banyak berkepentingan lebih senang meninggalkan tempat itu karena sejak pertama kali ia melihat salah seorang dari kedua orang itu hatinya telah kecewa. Menurut anggapannya kedua orang itu benar-benar memuakkannya
“Bagaimana Empu Sada,“ desak Kebo Sindet, “aku hanya sekedar memberimu peringatan. Aku adalah orang di bukit gundul ini. Aku telah memahami watak daerah ini siang dan malam. Aku tahu apa yang dapat terjadi di siang hari dan apa yang dapat terjadi dimalam hari. Karena itu, maka kali ini aku membawa obor. Kau tahu, apakah gunanya obor ini bagi kami?”
Empu Sada tidak menjawab. Tetapi pertanyaan itu telah menarik perhatian Kuda Sempana dan Cundaka. Mereka memang ingin tahu, kenapa kedua orang itu membawa obor.
“Dimalam hari,“ berkata Kebo Sindet lebih lanjut, “anjing-anjing itu menjadi semakin liar. Dimalam hari gerombolan anjing-anjing itu menjadi semakin banyak. Tetapi mereka tidak begitu berani melihat api. Itulah sebabnya kami membawa obor. Dengan obor di tangan kami tidak usah bersusah payah berkelahi melawan anjing yang jumlahnya tidak terhitung. Kami hanya cukup menggerak-gerakkan obor kami dan anjing-anjing itu tidak berani mendekat. Mereka hanya menyalak dan menggonggong tak habis-habisnya. Tetapi akhirnya mereka pergi. Beruntunglah kalian bahwa kalian belum bertemu dengan gerombolan anjing-anjing itu. Kalau demikian, maka kalian harus perjuangan sekuat-kuat tenaga kalian. Tetapi anjing itu akan datang semakin banyak dan semalam suntuk kalian akan berkelahi. Apabila kalian kehabisan tenaga, maka kalian akan menjadi kerangka di bukit gundul ini.”
Di telinga Kuda Sempana kata-kata itu benar-benar sebagai suatu sikap bersahabat yang pantas dihargai. Ia sama sekali tidak melihat sikap yang pantas dicurigai. Karena itu Kuda Sempana tidak dapat mengerti, kenapa gurunya bersikap aneh terhadap kedua orang itu. Mungkin sikap Kebo Sindet agak berlebihan, tetapi bukankah orang itu mengharap upah dari padanya, sehingga ia bersedia sedikit merendahkan dirinya. Bahkan menyayangkan jiwanya bersama guru dan saudara seperguruannya? Sebab apabila mereka bertiga binasa di bukit gundul itu. Kebo Sindet dan Wong Sarimpat tidak akan dapat menerima upah lagi dari mereka.
Tetapi Empu Sada menangkap semua itu pun dengan sikap yang berbeda. Seolah-olah terasa padanya, bahwa di balik sikap itu tersembunyi maksud-maksud yang sama sekali tidak menguntungkannya. Karena itu maka jawabnya,
“Terima kasih Kebo Sindet. Kalau kau berbaik hati kepada kami, maka biarkan kami tidur disini. Berikan saja obormu itu kepada kami, supaya kami dapat terhindar dari gerombolan anjing-anjing liar itu.
“Obor ini tidak akan dapat menyala terus menerus semalam suntuk Empu Sada,“ sahut Kebo Sindet.
“Kami akan dapat mencari daun-daun kering dan ranting-ranting perdu di gerumbul-gerumbul itu untuk membuat perapian.”
Kebo Sindet mengerutkan keningnya. Ketika ia berpaling memandangi wajah adiknya, tampaklah wajah itu disaput oleh kegelisahan. Agaknya Wong Sarimpat sedang menahan hati.
Dalam pada itu Empu Sada pun sekali lagi mencoba memahami perasaan kedua muridnya. Kuda Sempana menjadi sangat kecewa mendengar sikap gurunya, sedang Cundaka bersikap acuh tak acuh saja atas pembicaraan itu. Namun sekali-sekali tampaklah wajahnya menjadi tegang dan sekali-sekali tampak jelas bahwa orang yang menyebut dirinya Bahu Reksa Kali Elo itu sama sekali tidak senang mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Kebo Sindet. Meskipun demikian ia mencoba menahan dirinya.
Tetapi mata Kebo Sindet dan Wong Sarimpat yang tajam, melihat wajah Cundaka seperti mereka melihat warna hati murid Empu Sada yang seorang itu, sebagaimana mereka dapat membaca hati Kuda Sempana pula. Kebo Sindet yang mempunyai perhitungan tersendiri masih juga membiarkannya berbuat sesuka hati. Wajahnya masih saja membeku sebeku wajah batu-batu di pegunungan gundul itu. Tetapi berbedalah dengan Wong Sarimpat. Wajahnya yang sekeras batu-batu padas menjadi semakin kasar. Sekali-sekali mulutnya berkumat-kamit, namun tak sepatah kata pun yang melontar dari mulutnya.
“Bagaimana Empu?” terdengar suara Kebo Sindet datar.
“Berikan obormu. Satu kau tinggal disini dan satu kau bawa kembali.”
Wajah Kebo Sindet sama sekali tidak menunjukan perasaan apapun di dalam dadanya, tetapi Empu Sada yang cukup matang menghadapinya, melihat bahwa mata orang itu seolah-olah menjadi semakin tajam memandanginya. Dari mata itulah Empu Sada kini mencoba membaca perasaan Kebo Sindet.
Sejenak mereka saling berdiam diri. Gunung gundul itu menjadi sunyi kembali. Sunyi namun tegang. Dalam pada itu, hati Empu Sada lah yang menjadi gemuruh karena berbagai perasaan yang bergumul didalamnya. Seakan-akan terdengarlah suara Empu Gandring berkata, “hati-hatilah menghadapi kedua orang itu Empu. Mungkin kau akan ditelannya.“ Kemudian suara Panji Bojong Santi, “Bagaimanapun juga, kau masih jauh lebih baik dari kedua orang-orang liar itu Empu Sada.”
Baru kini Empu tua itu menyadari, bahwa ternyata saat itu hatinya sendiri telah dibakar oleh kemarahan dan dendam atas kekalahan dan kegagalan murid-muridnya meskipun ia sendiri telah ikut merencanakan dan menangani usaha itu. Kebo Sindet dan Wong Sarimpat masih juga berdiri tegang di tempatnya. Sekali-sekali Wong Sarimpat mengeratkan keningnya dan mencoba memandangi wajah kakaknya. Tetapi wajah itu masih sekosong wajah sesosok mayat.
Kuda Sempana dan Cundaka pun terpaku seperti sebatang tonggak mati. Namun pada wajahnya terpancar kesan yang berbeda-beda. Kuda Sempana mengumpat-umpat di dalam hatinya atas sikap gurunya, sedang Cundaka pun tidak senang mendengar jawaban gurunya itu. Cundaka ingin gurunya berkata, “Kita tidak mempunyai urusan lagi. Kami akan pergi. Kami akan kembali ke rumah kami.”
Tetapi gurunya masih saja menuruti nafsu Kuda Sempana yang baginya sama sekali tidak akan memberikan keuntungan apa-apa. Membunuh Mahisa Agni atau mendapatkan Ken Dedes, Cundaka tidak akan mendapat apapun juga. Mahisa Agni bukan seorang pangeran yang kaya raya, yang pada mayatnya terdapat jamrut, mirah, intan dan berlian. Anak muda itu sama sekali tidak bertimang dan tidak berkelat bahu emas murni. Apakah sepeninggal Mahisa Agni ia akan mendapat bagian batu-batu bendungan, atau berunjung-berunjung bambu?.
Yang mula-mula memecah kesepian adalah suara Kebo Sindet, “Empu, apakah kau akan berkeras kepala?”
Empu Sada mengerutkan keningnya. Kini ia melihat sikap yang agak wajar dari Kebo Sindet. Orang itu adalah orang yang kasar. Setiap ucapan dan kata-katanya yang baik, sopan dan teratur pastilah menyimpan sesuatu maksud tertentu. Tetapi apabila ia mulai berkata wajar menurut keadaan, sifat dan wataknya, maka agaknya ia akan mulai berterus terang.
“Jangan hiraukan aku,“ sahut Empu Sada, “kau tidak berkepentingan apapun juga seandainya kami dicincang oleh anjing-anjing liar atau oleh macan kumbang sekalipun.”
“Tetapi kalian adalah tamuku. Aku bertanggung jawab akan keselamatanmu sekalian.”
Tiba-tiba Empu Sada tertawa mendengar jawaban itu. Katanya, “Sejak kapan kau menjadi terlampau baik hati? Sejak kapan kau merasa, bahwa kau adalah tuan rumah di rumahmu sendiri?”
Kebo Sindet terdiam. Ketika ia berpaling melihat wajah adiknya, maka wajah itu telah memerah darah. Namun dada Kebo Sindet itu berdesir ketika ia melihat wajah Cundaka yang seperti Wong Sarimpat, memancarkan kemarahan yang menyala-nyala di dalam hatinya. Meskipun demikian wajahnya yang beku masih juga membeku. Tetapi terdengar ia bertanya,
“He tikus kecil. Kenapa matamu menyorotkan kemarahan? Wajahmu yang jelek menjadi bertambah jelek.”
Cundaka hampir saja menjawab pertanyaan itu dengan kasar pula, seandainya Empu Sada tidak menggamitnya. Dan Empu Sada lah yang kemudian menjawab,
“Jangan hiraukan anak itu, dan jangan hiraukan kami semuanya. Kalau kau berbaik hati, berikan salah satu obormu. Kalau tidak, tinggalkan kami disini. Kami akan menjaga diri kami sendiri.”
“Tetapi,“ sahut Kebo Sindet, yang kata-katanya amat mengejutkan, apalagi bagi Cundaka, “mata muridmu yang seorang itu amat menarik. Bagaimana kalau aku mengambilnya sebelah Empu.”
Dada Cundaka seakan-akan hampir meledak mendengar penghinaan itu. Tetapi sekali lagi terasa tangan Empu Sada menggamitnya, sehingga kembali ia menyadari dirinya, dengan siapa ia berhadapan. Namun sakit di dalam dadanya, terasa menjadi sangat pedih.
Yang menjawab adalah Empu Sada pula, katanya, “Mata itu masih sangat berguna baginya. Kau tidak akan dapat mempergunakannya. Karena itu jangan bersusah payah. Aku akan menasehatinya, supaya ia dapat mempergunakan sebaik-baiknya. Tetapi kau jangan membuang waktu untuk urusan-urusan yang tidak berarti. Sekarang bagaimana dengan obormu? Kalau perlu, maka obor itu akan dapat diperhitungkan sama sekali dengan upah yang kau kehendaki atas bantuanmu menangkap Mahisa Agni.”
“Aku belum membicarakan tentang upah yang ingin aku minta darimu,“ sahut Kebo Sindet, “tetapi kalau kau sudah menyebut-nyebutnya, maka biarlah aku mengatakannya. Upah itu tidak terlampau banyak. Beberapa kerat emas dan sebelah mata muridmu itu.”
Cundaka hampir-hampir tidak dapat menguasai dirinya mendengar kata-kata Kebo Sindet. Namun sebelum ia menjawab, terdengar Empu Sada mendahului, “Bagus. Itu permintaanmu. Tetapi bukankah kami dapat menawarnya? Kalau ternyata tawaran kami tidak sesuai, maka permintaan kami akan dapat kami batalkan.”
“Bagaimana tawaranmu?”
“Anak itu tidak berkepentingan,“ sahut Empu Sada, “karena itu, maka ia tidak akan dapat turut membayar upah yang kau kehendaki itu. Semuanya akan dibayar oleh Kuda Sempana. Tetapi sudah tentu tidak sebelah matanya.”
“Tetapi mata Kuda Sempana tidak segarang mata muridmu yang satu itu Empu. Mata itu seperti mata burung hantu.”
Sebelum Empu Sada menyahut terdengar suara Wong Sarimpat seperti akan memecahkan selaput telinga, “Mata yang demikian itulah Empu, yang dapat kami pergunakan untuk tumbal keselamatan pekerjaan kami.“ kemudian terdengar suara Wong Sarimpat tertawa berkepanjangan. Jauh lebih mengerikan dari suara anjing liar yang menggonggong bersahut-sahutan.
Cundaka kini tidak lagi dapat menahan diri. Betapapun ia merasa kecil, namun di dalam jiwanya membara pula sifat-sifatnya yang keras dan dendam. Karena itu, maka tiba-tiba ia menggeram.
“He, kenapa kau menggeram tikus,“ bertanya Wong Sarimpat, “apa kau sangka bahwa seekor tikus akan dapat menjadi seekor harimau.”
Mata Cundaka menjadi semakin menyala. Tetapi Wong Sarimpat itu bahkan mentertawakannya semakin keras.
“Cukup,“ tiba Cundaka itu membentak.
Wong Sarimpat benar-benar terkejut mendengar bentakan itu sehingga suara tertawanya terputus. Bukan saja Wong Sarimpat tetapi juga Kebo Sindet dan bahkan Empu Sada sendiri.
Segera Empu Sada merasa bahwa perbuatan Cundaka yang menyebut dirinya Bahu Reksa Kali Elo itu sama sekali tidak bijaksana. Seandainya Empu Sada sendirilah yang membentak-bentaknya, maka kedua orang itu tidak akan segera merasa tersinggung, karena Empu Sada adalah orang yang mereka anggap setingkat dengan mereka. Tetapi Cundaka adalah seorang murid yang masih berada jauh dibawah tingkat kedua orang itu, sehingga bentakan itu akan sangat menyinggung harga dari mereka, kedua orang liar dan kasar itu. Dengan demikian maka hal-hal yang tidak diharapkan akan dapat terjadi.
Karena itu maka dengan serta merta Empu Sada berteriak, “Cundaka apakah kau sudah menjadi gila. Ayo mintalah maaf kepada kedua pamanmu.”
Sebenarnya Cundaka sendiri pun terkejut mendengar suaranya. Suaranya itu seakan-akan demikian saja meloncat dari mulutnya. Sehingga ketika ia menyadarinya, maka mau tidak mau dadanya pun menjadi berdebar-debar. Tetapi semuanya sudah terlanjur. Ketika gurunya memerintahkannya untuk segera minta maaf kepada kedua laki-laki kakak beradik itu, terjadilah keragu-raguan di dalam hatinya. Ingin ia menurut perintah itu, namun betapa ia terlampau merendahkan dirinya sendiri. Karena keragu-raguan itu, maka sejenak ia berdiam diri.
“Ayo,“ perintah gurunya, “mintalah maaf kepada kedua pamanmu. Segera.”
Tak ada pilihan lain bagi Cundaka untuk mematuhi perintah itu. Tetapi selagi ia hampir berhasil mengatasi keragu-raguannya, dan hampir saja ia mengucapkan permintaan maaf itu, terdengar Kuda Sempana berkata,
“Jangan terlalu sombong Cundaka. Kau adalah sumber dari kericuhan. Sebenarnya lebih baik apabila kau tidak ada diantara kami. Tetapi kau telah terlanjur membuat suatu kesalahan yang gila. Sekarang kau harus memohon maaf.”
Kata-kata itu benar-benar menyakitkan hati Cundaka, sehingga kembali ia kehilangan kesadaran dan menjawab kasar. “Itu adalah urusanku Kuda Sempana. Kau tidak usah mengatur, apa yang sebaiknya aku kerjakan.”
“Cundaka,“ potong Empu Sada, “jangan hiraukan Kuda Sempana.”
“Tetapi ia menghina aku guru.”
“Sekarang kau minta maaf.”
“Aku sudah ingin melakukannya, tetapi Kuda Sempana membuat dadaku terbakar.”
Percakapan itu terhenti ketika tiba-tiba terdengar suara tertawa Wong Sarimpat. Suara tertawa itu menggeletar lebih keras lagi dari yang pernah mereka dengar. Namun wajah orang itu sama sekali tidak menunjukkan kegembiraan hatinya. Meskipun ia tertawa tetapi matanya memancarkan kemarahan yang membakar jantungnya Disela-sela suara tertawa itu terdengar ia berkata,
“Tidak ada gunanya. Tidak ada gunanya kau minta maaf kepada kami he orang gila. Kalau kau kemudian minta maaf juga maka itu sama sekali bukan karena kau ingin minta maaf, tetapi itu hanya karena gurumu menyuruhmu. Nah, yang paling baik bagimu adalah mempertanggung jawabkan kesombonganmu itu.”
Kening Empu Sada berkerut-merut karenanya. Ia melihat wajah Cundaka menjadi tegang. Sekilas muridnya itu pun menatap wajahnya, namun kemudian tampaklah Cundaka menjadi bingung. Empu Sada sendiri tidak segera dapat menemukan cara yang sebaiknya untuk mengatasi keadaan, sehingga sejenak ia pun terdiam mematung.
“Nah,“ berkata Wong Sarimpat kepada Kuda Sempana, “kini kami telah pasti. Apakah yang harus kau bayar kepada kami atas pertolongan yang kau harapkan itu Kuda Sempana. Beberapa kerat emas murni dan sebelah mata saudara seperguruanmu. Kalau kau mampu menyediakannya, maka selambat-lambatnya lima hari kami akan membawa Mahisa Agni itu kepadamu. Setuju?”
“Aku sudah pasti,“ sela Cundaka yang menyebut dirinya Bahu Reksa Kali Elo, “mereka adalah Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.”
“Persetan,“ potong Kuda Sempana pula, “kau menghina mereka berdua. Kau sangka bahwa mata mereka telah menjadi buta, atau setidak-tidaknya rabun? Mereka adalah orang-orang sakti. Apakah matamu lebih baik dari mata mereka?”
“Aku tidak peduli. Disini tidak ada orang lain kecuali mereka berdua,“ sahut Cundaka.
“Kalau begitu kaulah yang buta,“ jawab Kuda Sempana, “kau tidak melihat padukuhan di sebelah rumah paman Kebo Sindet dan paman Wong Sarimpat.”
“Orang-orang padukuhan itu tidak lebih dari mayat-mayat yang hidup. Yang berbuat tidak atas kesadaran diri. Mereka adalah alat-alat yang bernyawa dari kedua orang-orang liar itu.”
“Omong kosong. Kau tidak tahu apa-apa tentang kedua orang itu. Kau menjadi iri, ketika kau melihat ada orang yang bersedia membantuku. Kau iri bahwa upah yang akan mereka terima tidak lagi akan aku berikan kepadamu.”
“Kuda Sempana,“ potong Cundaka, “aku masih sanggup menampar mulutmu.”
“Aku bukan tonggak mati Cundaka, yang menyebut dirinya Bahu Reksa Kali Elo.”
Tiba-tiba keduanya memutar diri masing-masing. Kini Kuda Sempana dan Cundaka telah berhadapan. Namun tiba-tiba pula mereka terkejut. Mereka menyadari diri mereka masing-masing ketika mereka berdua telah terpelanting jatuh berguling-guling diatas batu-batu padas yang keputih-putihan.
“Setan,“ terdengar guru mereka itu menggeram, “Kalau kalian masih bertengkar, maka biarlah kalian aku bunuh bersama-sama. Biarlah tubuh kalian hancur disayat oleh anjing-anjing liar itu atau oleh harimau kumbang.”
Kuda Sempana dan Cundaka tertatih-tatih berdiri. Wajah-wajah mereka menjadi merah membara. Tetapi mereka tidak berani berbuat apapun terhadap gurunya.
“Lihatlah,“ berkata Empu Sada, “obor itu menjadi semakin dekat. Sebentar lagi kalian akan melihat seseorang atau dua orang muncul dari balik batu-batu yang menjorok itu. Atau kalian akan melihat, apakah yang datang itu Kebo Sindet dan Wong Sarimpat atau bukan. Mereka berdua atau bukan, kita harus menerima mereka dengan penuh kewaspadaan. Kita harus mencoba menyatukan kekuatan kita, bukan kita hancurkan sendiri.”
Kuda Sempana dan Cundaka tidak menjawab. Tetapi mereka pun berpaling ke arah yang ditunjuk oleh Empu Sada. Dikejauhan mereka melihat cahaya yang kemerahan bertebaran, semakin lama semakin dekat. Gonggong anjing liar pun semakin lama menjadi semakin hilang pula.
Tetapi dengan demikian hati mereka bertiga menjadi semakin berdebar-debar. Dengan mulut terkunci dan mata tidak berkedip mereka menatap ke arah nyala yang memancar kemerah-merahan itu. Bayangannya bergerak di bebatuan dan tebing-tebing bukit gundul di sisi yang menjorok keatas, seperti bayangan hantu yang menari-nari mengerikan menarikan tarian maut. Empu Sada dan kedua muridnya berdiri tegak seperti patung. Bahkan kadang-kadang nafas mereka tertahan karena ketegangan yang semakin memuncak. Obor itu menjadi semakin dekat.
Darah mereka serasa terhenti ketika dari balik batu yang menjorok, mereka melihat sepasang obor seolah-olah mendaki lereng bukit gundul dan muncul tidak terlampau jauh dihadapan mereka. Sepasang obor yang dibawa oleh sepasang laki-laki.
Dalam pada itu terdengarlah Cundaka menggeram perlahan-lahan, “Apa katamu Kuda Sempana. Mereka berdua pasti Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Ayo, katakanlah sekarang, bahwa aku telah menghina mereka. Nanti kau akan dapat mengamati sendiri pada wajah yang kasar sekasar batu padas dan wajah yang beku seperti wajah mayat.”
Kuda Sempana tidak menjawab. Yang terdengar adalah suara giginya gemeretak menahan marah. Namun yang dilihatnya adalah benar-benar Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. mereka masing-masing membawa sebuah obor. Dan apa yang dilihatnya itu benar-benar tidak masuk di dalam akalnya. Kenapa orang seperti Kebo Sindet dan Wong Sarimpat masih memerlukan obor untuk mendekati gunung gundul yang hampir setiap hari dilewatinya. Tetapi ia telah membawa dengan mata kepalanya sendiri. Keduanya benar-benar telah membawa obor di tangan.
Empu Sada masih berdiri diam. Dengan penuh kecurigaan dipandanginya kedua orang itu berjalan ke arah mereka. Setapak-setapak kedua laki-laki kakak beradik itu maju semakin dekat. Dan hati Empu Sada bersama dua orang muridnya menjadi semakin berdebar-debar. Mereka sama sekali belum tahu, apakah yang akan dilakukan oleh kedua orang itu. Tiba-tiba bukit gundul yang kini telah menjadi sepi karena suara anjing-anjing liar sudah tidak terdengar lagi itu digetarkan oleh suara Wong Sarimpat keras-keras,
“Ha, itulah mereka kakang.” Tak terdengar jawaban. Namun kedua orang itu melangkah semakin cepat.
“Hati-hatilah,“ terdengar Empu Sada berdesis. Tetapi ketika Cundaka meraba hulu pedangnya Empu Sada itu berkata perlahan-lahan, “Jangan.”
Kuda Sempana benar-benar tidak senang melihat sikap Cundaka yang seakan-akan memusuhi kedua orang yang telah menyatakan diri untuk membantunya. Tetapi ia tidak berkata apapun. Namun berbeda dengan gurunya dan saudara seperguruannya, ia sama sekali tidak menaruh kecurigaan apa-apa kepada mereka berdua.
Yang terdengar kemudian adalah suara Wong Sarimpat kembali, “He, Empu Sada, apakah kau telah menenukan tempat yang baik untuk bermalam?”
Empu Sada tidak segera menjawab. Ia menunggu kedua orang itu menjadi semakin dekat. Tetapi Wong Sarimpat itu telah berteriak lagi, “He, apakah kau sudah menjadi bisu?”
Namun Empu Sada masih membiarkannya berteriak sesuka hatinya meskipun ia menjadi sangat jengkel pula karenanya, apalagi muridnya yang menyebut dirinya Bahu Reksa Kali Elo. Dengan geramnya ia berdesis,
“Orang itu benar-benar seperti orang gila.”
“Sekali lagi kau menghinanya,“ sahut Kuda Sempana, “apakah mulutmu ingin disobeknya?”
“Diam,“ potong Empu Sada, “kalian berdualah yang membuat aku hampir menjadi gila.”
Keduanya kini terdiam. Kedua laki-laki kakak beradik itu kini telah menjadi semakin dekat. Hanya beberapa langkah lagi. Dan terdengarlah suara tertawa Wong Sarimpat,
“Ha, ternyata kalian masih hidup. Apakah kalian tidak menjumpai gerombolan anjing-anjing liar itu?”
“Tidak,“ sahut Empu Sada.
“Beruntunglah kalian. Kalau kalian bertemu dengan serombongan anjing-anjing itu, maka kalian harus bertempur mati-matian. Mungkin kalian bertiga akan memenangkan pertempuran itu, tetapi kalian akan kehabisan tenaga. Apabila kemudian datang rombongan yang lain atau harimau kumbang, maka kalian akan disantap mereka itu dengan nyamannya.”
“Lebih baik bagi kami bertiga,“ sahut Empu Sada.
“He,“ Wong Sarimpat terkejut, “lebih baik dari apa?”
“Lebih baik berkelahi melawan anjing-anjing liar itu dari pada kami harus mati di dalam gubugmu.”
“Kenapa?”
“Kalian akan mencekik kami selagi kami tidur.”
Kembali terdengar suara tertawa Wong Sarimpat seolah-olah akan membelah gelap malam. Demikian kerasnya sehingga perutnya terguncang. Namun dalam pada itu wajah Kebo Sindet yang beku itu sama sekali tidak bergerak. Wajah itu masih juga beku sebeku wajah sesosok mayat.
Tiba-tiba terdengar suara Kebo Sindet dalam nada yang rendah, “Aku datang karena aku menjadi cemas atas nasib kalian.”
“Apa yang kau cemaskan?” bertanya Empu Sada.
“Kalian belum mengenal bukit ini. Kalian belum mengenal penghuni bukit ini dan kalian belum mengenal siapa yang merajai bukit ini dimalam hari.”
Empu Sada tertegun mendengar kata-kata Kebo Sindet itu. Kata-kata bersahabat yang terasa menyejukkan hati. Tetapi perasaan orang tua itu telah dicengkam oleh kecurigaan, sehingga setiap kalimat yang diucapkan oleh Kebo Sindet dan Wong Sarimpat terasa bagaikan sebuah jebakan untuk menjeratnya. Tetapi Empu Sada tidak segera menjawab. Dibiarkannya Kebo Sindet berkata terus,
“Karena itu kami datang kemari. Kami akan mempersilahkan kalian sekali lagi. Tidurlah di rumah kami. Tetapi agaknya kalian telah benar-benar menganggap sikap kami terlampau menyakitkan hatimu sehingga kalian sama sekali tidak mau mendengarkan permintan kami lagi.”
“Terima kasih,“ sahut Empu Sada, “aku akan tidur disini.”
“Sekali lagi aku memperingatkanmu. Bagaimana dengan anjing liar dan harimau-harimau yang berkeliaran dimalam hari?”
Empu Sada tidak segera menjawab. Disambarnya wajah kedua muridnya dengan sudut pandangannya. Empu tua itu melihat kesan yang berlawanan pada kedua wajah itu. Sekali lagi ia menyesal. Ia telah menyalakan kecurigaannya terlampau berterus terang dihadapan muridnya, sehingga Cundaka pun menjadi sangat bercuriga dan seolah-olah tidak akan dapat mempercayai apa saja yang dikatakan oleh kedua orang itu seperti perasaannya sendiri.
Tetapi dengan demikian, ia telah membuat garis batas antara kedua murid-muridnya itu. Kuda Sempana sangat bernafsu untuk mendapat bantuan melepaskan dendamnya, sedang Cundaka yang tidak terlampau banyak berkepentingan lebih senang meninggalkan tempat itu karena sejak pertama kali ia melihat salah seorang dari kedua orang itu hatinya telah kecewa. Menurut anggapannya kedua orang itu benar-benar memuakkannya
“Bagaimana Empu Sada,“ desak Kebo Sindet, “aku hanya sekedar memberimu peringatan. Aku adalah orang di bukit gundul ini. Aku telah memahami watak daerah ini siang dan malam. Aku tahu apa yang dapat terjadi di siang hari dan apa yang dapat terjadi dimalam hari. Karena itu, maka kali ini aku membawa obor. Kau tahu, apakah gunanya obor ini bagi kami?”
Empu Sada tidak menjawab. Tetapi pertanyaan itu telah menarik perhatian Kuda Sempana dan Cundaka. Mereka memang ingin tahu, kenapa kedua orang itu membawa obor.
“Dimalam hari,“ berkata Kebo Sindet lebih lanjut, “anjing-anjing itu menjadi semakin liar. Dimalam hari gerombolan anjing-anjing itu menjadi semakin banyak. Tetapi mereka tidak begitu berani melihat api. Itulah sebabnya kami membawa obor. Dengan obor di tangan kami tidak usah bersusah payah berkelahi melawan anjing yang jumlahnya tidak terhitung. Kami hanya cukup menggerak-gerakkan obor kami dan anjing-anjing itu tidak berani mendekat. Mereka hanya menyalak dan menggonggong tak habis-habisnya. Tetapi akhirnya mereka pergi. Beruntunglah kalian bahwa kalian belum bertemu dengan gerombolan anjing-anjing itu. Kalau demikian, maka kalian harus perjuangan sekuat-kuat tenaga kalian. Tetapi anjing itu akan datang semakin banyak dan semalam suntuk kalian akan berkelahi. Apabila kalian kehabisan tenaga, maka kalian akan menjadi kerangka di bukit gundul ini.”
Di telinga Kuda Sempana kata-kata itu benar-benar sebagai suatu sikap bersahabat yang pantas dihargai. Ia sama sekali tidak melihat sikap yang pantas dicurigai. Karena itu Kuda Sempana tidak dapat mengerti, kenapa gurunya bersikap aneh terhadap kedua orang itu. Mungkin sikap Kebo Sindet agak berlebihan, tetapi bukankah orang itu mengharap upah dari padanya, sehingga ia bersedia sedikit merendahkan dirinya. Bahkan menyayangkan jiwanya bersama guru dan saudara seperguruannya? Sebab apabila mereka bertiga binasa di bukit gundul itu. Kebo Sindet dan Wong Sarimpat tidak akan dapat menerima upah lagi dari mereka.
Tetapi Empu Sada menangkap semua itu pun dengan sikap yang berbeda. Seolah-olah terasa padanya, bahwa di balik sikap itu tersembunyi maksud-maksud yang sama sekali tidak menguntungkannya. Karena itu maka jawabnya,
“Terima kasih Kebo Sindet. Kalau kau berbaik hati kepada kami, maka biarkan kami tidur disini. Berikan saja obormu itu kepada kami, supaya kami dapat terhindar dari gerombolan anjing-anjing liar itu.
“Obor ini tidak akan dapat menyala terus menerus semalam suntuk Empu Sada,“ sahut Kebo Sindet.
“Kami akan dapat mencari daun-daun kering dan ranting-ranting perdu di gerumbul-gerumbul itu untuk membuat perapian.”
Kebo Sindet mengerutkan keningnya. Ketika ia berpaling memandangi wajah adiknya, tampaklah wajah itu disaput oleh kegelisahan. Agaknya Wong Sarimpat sedang menahan hati.
Dalam pada itu Empu Sada pun sekali lagi mencoba memahami perasaan kedua muridnya. Kuda Sempana menjadi sangat kecewa mendengar sikap gurunya, sedang Cundaka bersikap acuh tak acuh saja atas pembicaraan itu. Namun sekali-sekali tampaklah wajahnya menjadi tegang dan sekali-sekali tampak jelas bahwa orang yang menyebut dirinya Bahu Reksa Kali Elo itu sama sekali tidak senang mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Kebo Sindet. Meskipun demikian ia mencoba menahan dirinya.
Tetapi mata Kebo Sindet dan Wong Sarimpat yang tajam, melihat wajah Cundaka seperti mereka melihat warna hati murid Empu Sada yang seorang itu, sebagaimana mereka dapat membaca hati Kuda Sempana pula. Kebo Sindet yang mempunyai perhitungan tersendiri masih juga membiarkannya berbuat sesuka hati. Wajahnya masih saja membeku sebeku wajah batu-batu di pegunungan gundul itu. Tetapi berbedalah dengan Wong Sarimpat. Wajahnya yang sekeras batu-batu padas menjadi semakin kasar. Sekali-sekali mulutnya berkumat-kamit, namun tak sepatah kata pun yang melontar dari mulutnya.
“Bagaimana Empu?” terdengar suara Kebo Sindet datar.
“Berikan obormu. Satu kau tinggal disini dan satu kau bawa kembali.”
Wajah Kebo Sindet sama sekali tidak menunjukan perasaan apapun di dalam dadanya, tetapi Empu Sada yang cukup matang menghadapinya, melihat bahwa mata orang itu seolah-olah menjadi semakin tajam memandanginya. Dari mata itulah Empu Sada kini mencoba membaca perasaan Kebo Sindet.
Sejenak mereka saling berdiam diri. Gunung gundul itu menjadi sunyi kembali. Sunyi namun tegang. Dalam pada itu, hati Empu Sada lah yang menjadi gemuruh karena berbagai perasaan yang bergumul didalamnya. Seakan-akan terdengarlah suara Empu Gandring berkata, “hati-hatilah menghadapi kedua orang itu Empu. Mungkin kau akan ditelannya.“ Kemudian suara Panji Bojong Santi, “Bagaimanapun juga, kau masih jauh lebih baik dari kedua orang-orang liar itu Empu Sada.”
Baru kini Empu tua itu menyadari, bahwa ternyata saat itu hatinya sendiri telah dibakar oleh kemarahan dan dendam atas kekalahan dan kegagalan murid-muridnya meskipun ia sendiri telah ikut merencanakan dan menangani usaha itu. Kebo Sindet dan Wong Sarimpat masih juga berdiri tegang di tempatnya. Sekali-sekali Wong Sarimpat mengeratkan keningnya dan mencoba memandangi wajah kakaknya. Tetapi wajah itu masih sekosong wajah sesosok mayat.
Kuda Sempana dan Cundaka pun terpaku seperti sebatang tonggak mati. Namun pada wajahnya terpancar kesan yang berbeda-beda. Kuda Sempana mengumpat-umpat di dalam hatinya atas sikap gurunya, sedang Cundaka pun tidak senang mendengar jawaban gurunya itu. Cundaka ingin gurunya berkata, “Kita tidak mempunyai urusan lagi. Kami akan pergi. Kami akan kembali ke rumah kami.”
Tetapi gurunya masih saja menuruti nafsu Kuda Sempana yang baginya sama sekali tidak akan memberikan keuntungan apa-apa. Membunuh Mahisa Agni atau mendapatkan Ken Dedes, Cundaka tidak akan mendapat apapun juga. Mahisa Agni bukan seorang pangeran yang kaya raya, yang pada mayatnya terdapat jamrut, mirah, intan dan berlian. Anak muda itu sama sekali tidak bertimang dan tidak berkelat bahu emas murni. Apakah sepeninggal Mahisa Agni ia akan mendapat bagian batu-batu bendungan, atau berunjung-berunjung bambu?.
Yang mula-mula memecah kesepian adalah suara Kebo Sindet, “Empu, apakah kau akan berkeras kepala?”
Empu Sada mengerutkan keningnya. Kini ia melihat sikap yang agak wajar dari Kebo Sindet. Orang itu adalah orang yang kasar. Setiap ucapan dan kata-katanya yang baik, sopan dan teratur pastilah menyimpan sesuatu maksud tertentu. Tetapi apabila ia mulai berkata wajar menurut keadaan, sifat dan wataknya, maka agaknya ia akan mulai berterus terang.
“Jangan hiraukan aku,“ sahut Empu Sada, “kau tidak berkepentingan apapun juga seandainya kami dicincang oleh anjing-anjing liar atau oleh macan kumbang sekalipun.”
“Tetapi kalian adalah tamuku. Aku bertanggung jawab akan keselamatanmu sekalian.”
Tiba-tiba Empu Sada tertawa mendengar jawaban itu. Katanya, “Sejak kapan kau menjadi terlampau baik hati? Sejak kapan kau merasa, bahwa kau adalah tuan rumah di rumahmu sendiri?”
Kebo Sindet terdiam. Ketika ia berpaling melihat wajah adiknya, maka wajah itu telah memerah darah. Namun dada Kebo Sindet itu berdesir ketika ia melihat wajah Cundaka yang seperti Wong Sarimpat, memancarkan kemarahan yang menyala-nyala di dalam hatinya. Meskipun demikian wajahnya yang beku masih juga membeku. Tetapi terdengar ia bertanya,
“He tikus kecil. Kenapa matamu menyorotkan kemarahan? Wajahmu yang jelek menjadi bertambah jelek.”
Cundaka hampir saja menjawab pertanyaan itu dengan kasar pula, seandainya Empu Sada tidak menggamitnya. Dan Empu Sada lah yang kemudian menjawab,
“Jangan hiraukan anak itu, dan jangan hiraukan kami semuanya. Kalau kau berbaik hati, berikan salah satu obormu. Kalau tidak, tinggalkan kami disini. Kami akan menjaga diri kami sendiri.”
“Tetapi,“ sahut Kebo Sindet, yang kata-katanya amat mengejutkan, apalagi bagi Cundaka, “mata muridmu yang seorang itu amat menarik. Bagaimana kalau aku mengambilnya sebelah Empu.”
Dada Cundaka seakan-akan hampir meledak mendengar penghinaan itu. Tetapi sekali lagi terasa tangan Empu Sada menggamitnya, sehingga kembali ia menyadari dirinya, dengan siapa ia berhadapan. Namun sakit di dalam dadanya, terasa menjadi sangat pedih.
Yang menjawab adalah Empu Sada pula, katanya, “Mata itu masih sangat berguna baginya. Kau tidak akan dapat mempergunakannya. Karena itu jangan bersusah payah. Aku akan menasehatinya, supaya ia dapat mempergunakan sebaik-baiknya. Tetapi kau jangan membuang waktu untuk urusan-urusan yang tidak berarti. Sekarang bagaimana dengan obormu? Kalau perlu, maka obor itu akan dapat diperhitungkan sama sekali dengan upah yang kau kehendaki atas bantuanmu menangkap Mahisa Agni.”
“Aku belum membicarakan tentang upah yang ingin aku minta darimu,“ sahut Kebo Sindet, “tetapi kalau kau sudah menyebut-nyebutnya, maka biarlah aku mengatakannya. Upah itu tidak terlampau banyak. Beberapa kerat emas dan sebelah mata muridmu itu.”
Cundaka hampir-hampir tidak dapat menguasai dirinya mendengar kata-kata Kebo Sindet. Namun sebelum ia menjawab, terdengar Empu Sada mendahului, “Bagus. Itu permintaanmu. Tetapi bukankah kami dapat menawarnya? Kalau ternyata tawaran kami tidak sesuai, maka permintaan kami akan dapat kami batalkan.”
“Bagaimana tawaranmu?”
“Anak itu tidak berkepentingan,“ sahut Empu Sada, “karena itu, maka ia tidak akan dapat turut membayar upah yang kau kehendaki itu. Semuanya akan dibayar oleh Kuda Sempana. Tetapi sudah tentu tidak sebelah matanya.”
“Tetapi mata Kuda Sempana tidak segarang mata muridmu yang satu itu Empu. Mata itu seperti mata burung hantu.”
Sebelum Empu Sada menyahut terdengar suara Wong Sarimpat seperti akan memecahkan selaput telinga, “Mata yang demikian itulah Empu, yang dapat kami pergunakan untuk tumbal keselamatan pekerjaan kami.“ kemudian terdengar suara Wong Sarimpat tertawa berkepanjangan. Jauh lebih mengerikan dari suara anjing liar yang menggonggong bersahut-sahutan.
Cundaka kini tidak lagi dapat menahan diri. Betapapun ia merasa kecil, namun di dalam jiwanya membara pula sifat-sifatnya yang keras dan dendam. Karena itu, maka tiba-tiba ia menggeram.
“He, kenapa kau menggeram tikus,“ bertanya Wong Sarimpat, “apa kau sangka bahwa seekor tikus akan dapat menjadi seekor harimau.”
Mata Cundaka menjadi semakin menyala. Tetapi Wong Sarimpat itu bahkan mentertawakannya semakin keras.
“Cukup,“ tiba Cundaka itu membentak.
Wong Sarimpat benar-benar terkejut mendengar bentakan itu sehingga suara tertawanya terputus. Bukan saja Wong Sarimpat tetapi juga Kebo Sindet dan bahkan Empu Sada sendiri.
Segera Empu Sada merasa bahwa perbuatan Cundaka yang menyebut dirinya Bahu Reksa Kali Elo itu sama sekali tidak bijaksana. Seandainya Empu Sada sendirilah yang membentak-bentaknya, maka kedua orang itu tidak akan segera merasa tersinggung, karena Empu Sada adalah orang yang mereka anggap setingkat dengan mereka. Tetapi Cundaka adalah seorang murid yang masih berada jauh dibawah tingkat kedua orang itu, sehingga bentakan itu akan sangat menyinggung harga dari mereka, kedua orang liar dan kasar itu. Dengan demikian maka hal-hal yang tidak diharapkan akan dapat terjadi.
Karena itu maka dengan serta merta Empu Sada berteriak, “Cundaka apakah kau sudah menjadi gila. Ayo mintalah maaf kepada kedua pamanmu.”
Sebenarnya Cundaka sendiri pun terkejut mendengar suaranya. Suaranya itu seakan-akan demikian saja meloncat dari mulutnya. Sehingga ketika ia menyadarinya, maka mau tidak mau dadanya pun menjadi berdebar-debar. Tetapi semuanya sudah terlanjur. Ketika gurunya memerintahkannya untuk segera minta maaf kepada kedua laki-laki kakak beradik itu, terjadilah keragu-raguan di dalam hatinya. Ingin ia menurut perintah itu, namun betapa ia terlampau merendahkan dirinya sendiri. Karena keragu-raguan itu, maka sejenak ia berdiam diri.
“Ayo,“ perintah gurunya, “mintalah maaf kepada kedua pamanmu. Segera.”
Tak ada pilihan lain bagi Cundaka untuk mematuhi perintah itu. Tetapi selagi ia hampir berhasil mengatasi keragu-raguannya, dan hampir saja ia mengucapkan permintaan maaf itu, terdengar Kuda Sempana berkata,
“Jangan terlalu sombong Cundaka. Kau adalah sumber dari kericuhan. Sebenarnya lebih baik apabila kau tidak ada diantara kami. Tetapi kau telah terlanjur membuat suatu kesalahan yang gila. Sekarang kau harus memohon maaf.”
Kata-kata itu benar-benar menyakitkan hati Cundaka, sehingga kembali ia kehilangan kesadaran dan menjawab kasar. “Itu adalah urusanku Kuda Sempana. Kau tidak usah mengatur, apa yang sebaiknya aku kerjakan.”
“Cundaka,“ potong Empu Sada, “jangan hiraukan Kuda Sempana.”
“Tetapi ia menghina aku guru.”
“Sekarang kau minta maaf.”
“Aku sudah ingin melakukannya, tetapi Kuda Sempana membuat dadaku terbakar.”
Percakapan itu terhenti ketika tiba-tiba terdengar suara tertawa Wong Sarimpat. Suara tertawa itu menggeletar lebih keras lagi dari yang pernah mereka dengar. Namun wajah orang itu sama sekali tidak menunjukkan kegembiraan hatinya. Meskipun ia tertawa tetapi matanya memancarkan kemarahan yang membakar jantungnya Disela-sela suara tertawa itu terdengar ia berkata,
“Tidak ada gunanya. Tidak ada gunanya kau minta maaf kepada kami he orang gila. Kalau kau kemudian minta maaf juga maka itu sama sekali bukan karena kau ingin minta maaf, tetapi itu hanya karena gurumu menyuruhmu. Nah, yang paling baik bagimu adalah mempertanggung jawabkan kesombonganmu itu.”
Kening Empu Sada berkerut-merut karenanya. Ia melihat wajah Cundaka menjadi tegang. Sekilas muridnya itu pun menatap wajahnya, namun kemudian tampaklah Cundaka menjadi bingung. Empu Sada sendiri tidak segera dapat menemukan cara yang sebaiknya untuk mengatasi keadaan, sehingga sejenak ia pun terdiam mematung.
“Nah,“ berkata Wong Sarimpat kepada Kuda Sempana, “kini kami telah pasti. Apakah yang harus kau bayar kepada kami atas pertolongan yang kau harapkan itu Kuda Sempana. Beberapa kerat emas murni dan sebelah mata saudara seperguruanmu. Kalau kau mampu menyediakannya, maka selambat-lambatnya lima hari kami akan membawa Mahisa Agni itu kepadamu. Setuju?”
OBJEK WISATA MANCA NEGARA


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar