PdLS-20
NAFAS Kuda Sempana tiba-tiba menjadi tersendat. Upah itu terlampau mahal baginya. Bagaimanapun juga, Cundaka adalah saudara seperguruannya. Apakah ia sampai hati untuk berbuat dengan demikian, bahkan seandainya gurunya mengizinkannya pula. Sejenak Kuda Sempana pun seakan-akan menjadi beku. Dan suasana tercengkam oleh kesenyapan yang tegang.
Tiba-tiba di kejauhan terdengar sebuah auman yang keras, disusul oleh jerit yang melengking. Jerit seekor anjing hutan yang karena kurang hati-hati telah diterkam oleh seekor harimau kumbang. Itulah kehidupan di dalam rimba. Siapa yang kuat, maka ialah yang menguasai segenap keadaan tanpa memperhitungkan keadilan dan kebenaran. Dan di bukit gundul itu pun agaknya akan berlaku pula keadaan yang serupa.
Ketika Kuda Sempana tidak segera menjawab, maka terdengar Wong Sarimpat mendesak “Bagaimana Kuda Sempana?”
Dada Kuda Sempana terasa menjadi pepat. Ia dihadapkan pada keadaan yang sangat sulit. Dendamnya kepada Mahisa Agni dan Ken Dedes terasa terlampau sakit menghimpit hatinya, tetapi untuk melepaskan himpitan itu ia harus mengorbankan saudara seperguruannya Alangkah mahalnya.
Dalam pada itu, Empu Sada pun menjadi bimbang. Tetapi akhirnya ia tidak dapat memilih, kecuali mencoba melindungi muridnya. Meskipun hatinya mengumpat-umpat atas ketelanjuran Cundaka itu, tetapi adalah gila juga apabila dibiarkannya seorang muridnya kehilangan sebelah matanya di hadapannya. Namun sekali lagi ia kecewa atas muridnya itu, kecewa kepada diri sendiri. Bahwa ia tidak dapat menempatkan muridnya dalam satu ikatan yang kokoh seperti murid-murid Bojong Santi.
Kuda Sempana pun tidak kurang mengumpat-umpat di dalam hati. “Cundaka memang gila. Ia tidak tahu perasaanku, sehingga ia malahan seolah-olah menghalang-halangiku. Kini akulah yang dihadapkan pada suatu kesulitan. Kalau ia tidak berbuat gila, maka aku pun tidak akan berdiri di persimpangan jalan yang sulit ini.”
Mereka yang berdiri di atas bukit gundul itu kini benar dilanda oleh ketegangan yang semakin memuncak. Kuda Sempana tegak seperti patung. Namun nafasnya menjadi terengah-engah. Sekali-kali dipandangnya wajah gurunya. Ia ingin mendapat nasihat daripadanya, tetapi gurunya masih juga tetap berdiam diri.
Cundaka sendiri sejenak kehilangan kemampuan menimbang dan memperhitungkan keadaan yang dihadapinya. Tetapi kemudian ia berhasil menenangkan dirinya. Kini ia telah pasti bahwa ketelanjurannya akan mendatangkan bencana kepadanya. Namun tiba-tiba ia menjadi tabah menghadapi bencana yang betapapun juga. Kalau ia sudah mampu menghindarkan dirinya, maka ia harus berani menanggung segala akibat dari perbuatannya. Di dalam hati ia berkata
“Terserah kepadamu Kuda Sempana. Tetapi namaku hanya dapat lepas bersama nyawaku.”
Ketika Kuda Sempana tidak segera berbuat sesuatu, maka kembali terdengar Wong Sarimpat berkata “He Kuda Sempana, apakah kau juga menjadi bisu? Ayo, jawablah!”
Kuda Sempana benar-benar menjadi bingung. Kembali ia memandangi wajah gurunya mencari jawab atas pertanyaan Wong Sarimpat itu. Empu Sada melihat kebingungan di hati Kuda Sempana. Ia menjadi sedikit bersenang hati, bahwa Kuda Sempana masih memerlukan untuk berpikir ketika ia harus melakukan sesuatu yang dapat lebih menyakitkan hatinya, yaitu berkelahi sesama muridnya. Karena itu, maka Empu Sadalah yang menjawab
“Wong Sarimpat. Permintaanmu memang tidak masuk akal. Nah, kalau demikian maka biarlah aku memberikan tawaran. Beberapa potong emas itu saja. Mungkin Kuda Sempana mempunyai mata yang bagus, tetapi bukan mata orang. Mungkin ia mempunyai mata cincin batu akik yang berharga. Akik mata kucing barangkali atau akik Wukir Gading yang kekuningan. Kalau kau tidak senang mata batu akik, mungkin kau senang permata intan atau berlian.”
Suara Empu Sada patah ketika kembali terdengar suara tertawa Wong Sarimpat. Katanya “Harga Mahisa Agni yang aku berikan tidak dapat ditawar-tawar. Ayo, kau tinggal sanggup atau tidak.”
Tiba-tiba Wong Sarimpat terkejut sehingga suara tertawanya terputus. Bukan saja Wong Sarimpat, tetapi juga Kuda Sempana. Dengan tegas Empu Sada menjawab singkat
“Tidak. Aku tidak mau. Kita batalkan pembicaraan kita.”
“Guru,” dengan serta-merta Kuda Sempana memotong “Bagaimana mungkin, Guru. Aku sudah memutuskan, Mahisa Agni harus tertangkap. Hidup atau mati. Aku lebih senang kalau ia dapat tertangkap hidup-hidup.”
“Tetapi harga itu terlampau mahal. Kalau kau masih keras hati untuk membunuh Mahisa Agni, maka berarti kau telah membunuh dua orang sekaligus. Mahisa Agni dan saudara seperguruanmu sendiri. Nah. Pertimbangkan. Kecuali Wong Sarimpat memberikan penawaran lain.”
Kembali Kuda Sempana terbungkam. Terasa sesuatu bergolak di dalam dadanya Dan kembali ia mengumpat-umpat di dalam hati. Kejengkelannya terhadap Cundaka semakin meningkat dan bahkan kemudian ia menjadi muak melihat orang itu. Orang yang selama ini telah memperlemah tekadnya membalas dendam. Adalah omong kosong kalau Cundaka yang menyebut dirinya Bahu Reksa Kali Elo itu kelak akan mampu melepaskan dendamnya terhadap Mahisa Agni dengan tangannya sendiri.
“Kenapa orang itu tidak mati saja diterkam macan?” desisnya di dalam hati.
Namun dengan demikian tiba-tiba jantungnya serasa akan meledak ketika tumbuh pikiran di dalam benaknya, kenapa orang itu tidak dibiarkannya mati saja? Kenapa gurunya menganggap Cundaka sebagai tebusan yang terlampau mahal? Cundaka itu pun kini tidak berguna lagi baginya, sehingga seandainya anak itu mati. maka ia tidak akan merasa kehilangan. Tetapi ia tidak berani mengatakannya kepada gurunya.
Yang terdengar kemudian adalah suara Wong Sarimpat. “Kakang Kebo Sindet, bagaimana sebaiknya? Permintaan Kakang terlampau murah. Sebelah mata. Aku sekarang ingin menaikkan harga itu. Tidak hanya sebelah tetapi sepasang mata anak setan ini. Apakah Kakang setuju?” Wajah yang beku itu tetap membeku, seolah-olah Kebo Sindet tidak mendengar suara adiknya. Namun Wong Sarimpat itu berkata “Nah, ternyata Kakang Kebo Sindet telah menyetujui. Sepasang mata.”
Kemudian kepada Kuda Sempana, “Kau dengar kenaikan harga itu? Karena kau terlampau lama berpikir, maka kami terpaksa menaikkan harga. Kalau kemudian kau tidak segera memutuskan maka harga itu akan naik lagi. Kau tinggal menyetujui atau tidak. Kalau ternyata kau tidak mampu, maka biarlah harga itu kami ambil sendiri.”
Kata-kata itu benar-benar menggetarkan hati. Dan udara di gunung gandul itu pun tergetar ketika Empu Sada menjawab tegas
“Tidak. Muridku adalah milikku. Aku tidak akan menjerahkannya. Aku belum gila segila kalian berdua.”
Kembali mereka terdiam. Wong Sarimpat memandang wajah Empu Sada dengan mata yang menyala-nyala. Kemudian sekali ia berpaling kepada kakaknya sambil berkata
“Apa pula yang kita tunggu, Kakang?”
Tiba-tiba terdengar suara Kebo Sindet datar, “Empu Sada. Kenapa kau tidak dapat melakukan pekerjaan ini sendiri? Kenapa kau tidak dapat menangkap Mahisa Agni? Apakah orang-orang yang pernah kau sebutkan itu selalu mengawaninya? Empu Purwa, Empu Gandring dan Panji Bojong Santi?”
Empu Sada tidak segera menjawab, tetapi yang menjawab adalah Kuda Sempana, “Salah seorang dari mereka pasti ada di sekitar Mahisa Agni atau Ken Dedes. Dan Guru hanyalah seorang diri.”
“Tidak,” potong Empu Sada, “ada sebab-sebab lain. Sebab-sebab yang tidak dapat aku katakan di sini.”
Tiba-tiba wajah Kebo Sindet yang beku itu bergerak. Matanya tiba-tiba menjadi redup. Dan sejenak kemudian terdengar ia berkata “Kami berdua cukup kuat untuk melakukannya Empu, kau tidak kami perlukan lagi.”
Kata-kata Kebo Sindet itu bagaikan petir yang meledak di dalam dada Kuda Sempana. ia tidak tahu pasti maksud orang berwajah beku itu, namun terasa bahwa ada sesuatu yang kurang wajar akan terjadi. Bukan saja Kuda Sempana, namun juga Cundaka terkejut sekali mendengarnya. Meskipun ia juga kurang menyadari arti kata-kata itu seperti Kuda Sempana, namun ia menjadi semakin muak melihat kedua orang liar itu.
Empu Sada sendiri mengerutkan keningnya. Ia terkejut juga mendengarnya, namun ia telah merabanya lebih dahulu, bahwa ia akan berhadapan dengan kemungkinan itu. Kemungkinan yang timbul karena kebodohan Kuda Sempana. Kuda Sempana telah mengatakan banyak sekali, bahkan terlampau banyak tentang Mahisa Agni, sehingga kedua orang itu telah mendapat gambaran yang hampir sempurna tentang anak muda itu.
Cepat Empu Sada dapat mengikuti jalan pikiran Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Mereka pasti akan berbuat untuk kepentingan mereka sendiri. Mereka mengetahui dari Kuda Sempana bahwa Mahisa Agni selalu mondar-mandir antara padang rumput Karautan dan padukuhan Panawijen untuk setiap persoalan. Mahisa Agni adalah satu-satunya anak muda yang berani melakukannya. Dari Kuda Sempana pun, Kebo Sindet dan Wong Sarimpat mendengar hubungan yang terlampau rapat, terlampau rukun antara kedua saudara itu, Mahisa Agni dan Ken Dedes, meskipun Kuda Sempana tahu bahwa keduanya adalah bukan saudara kandung. Kedua orang itu mendengar pula betapa Akuwu Tunggul Ametung sangat bernafsu untuk memperistri Ken Dedes, bahkan mengambilnya sebagai permaisuri.
“Hem,” Empu Sada menarik nafas dalam. Kemudian terdengar ia bertanya “Kebo Sindet, apakah maksudmu sebenarnya?”
“Cukup jelas bagi seorang seperti kau Empu.”
“Tidak!” sahut Empu Sada, “Kurang jelas bagiku, sebab aku tidak biasa berpikir seperti kalian.”
Kini wajah Kebo Sindet telah membeku kembali. Dengan nada datar ia berkata, “Cukup jelas. Aku tidak memerlukan kau. Tetapi aku juga tidak mau kau ganggu.”
“Kau keliru. Kau tak akan bisa menyelesaikan pekerjaan ini tanpa aku.”
“Kau berusaha menyelamatkan dirimu?”
“Kenapa aku menyelamatkan diri? Apakah ada bahaya yang mengancam aku?”
“Jangan pura-pura tidak tahu. Aku tidak memerlukan kau dan aku tidak mau kau mengganggu untuk seterusnya. Jelas?”
Tiba-tiba Empu Sada tersenyum. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata “Kau akan membunuh aku?”
Kebo Sindet tidak segera menjawab. Ditatapnya mata Empu Sada dengan tatapan mata semakin lama menjadi semakin tajam. Hanya tatapan mata itulah yang dapat dibaca oleh Empu Sada, bahwa Kebo Sindet benar-benar berusaha akan melakukannya.
Percakapan itu benar-benar telah mengguncangkan dada Kuda Sempana. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa akhirnya ia akan menghadapi keadaan yang sama sekali tidak disangkanya. Ia tidak dapat mengerti kenapa Kebo Sindet tiba-tiba ingin menyingkirkan gurunya. Seandainya persoalan itu dapat dilakukan oleh mereka sendiri, kenapa gurunya mesti harus disingkirkan? Dengan demikian maka bergolaklah dada Kuda Sempana itu, seperti bergolaknya perut gunung berapi.
Yang terdengar kemudian adalah suara Wong Sarimpat menyambar telinga mereka seperti guruh di langit, “He, Empu Sada! Kami telah cukup mengerti apa yang harus kami lakukan. Karena itu kau bagi kami pasti hanya akan menjadi perintang yang memuakkan. Mungkin kau akan berkhianat dan bahkan mungkin kau sempat membunuh kami. Karena itu, maka kaulah yang harus kami singkirkan dahulu.”
“Kenapa?” bertanya Empu Sada. Orang tua itu masih tetap saja berdiri dengan tenang “bukankah aku yang memerlukan kalian untuk pekerjaan ini? Kenapa akulah yang mungkin mengkhianatinya?”
“Kami bukan orang yang kau sangka berotak batu,” sahut Wong Sarimpat “aku tahu rencanamu. Kami akan kau jerumuskan dalam persoalan yang tak tanggung-tanggung. Berhadapan dengan Akuwu Tunggul Ametung. Kemudian kalau rencana itu berhasil, menangkap Mahisa Agni, maka kau akan menghadap Akuwu dan menunjukkan siapakah yang telah melakukan perbuatan itu. Dengan demikian maka kau akan bersih dari segenap tuduhan, karena sebelumnya kaulah yang telah membuat persoalan dengan Mahisa Agni karena muridmu, dan keuntungan yang lain, kalau kami kemudian tertangkap maka kau tidak perlu melepaskan sepotong emas pun untuk kami.”
Sekali lagi Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Sekarang disadarinya bahwa apa yang dikatakan Empu Gandring dan Panji Bojong Santi itu bukanlah suatu usaha untuk menakut-nakutinya saja. Meskipun di antara mereka, Empu Sada sendirilah yang paling mengenal kedua orang itu karena ia pernah berhubungan sebelumnya. Tetapi kini, ia tidak berhasil mempergunakan kedua orang itu.
Empu Sada itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan tenang ia menjawab “Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Jangan kau sangka bahwa aku pun tidak tahu apa yang kalian rencanakan. Bukankah kalian telah merasa cukup mengetahui persoalan Mahisa Agni? itu adalah kesalahan Kuda Sempana. Dan bukankah kalian berdua ingin menangkap Mahisa Agni untuk tujuan pemerasan? Mungkin kalian menyangka bahwa dengan menyembunyikan Mahisa Agni, maka akulah yang akan menjadi sasaran tuduhan itu. Sementara itu kau akan menjual jasa, mengembalikan Mahisa Agni dan mengatakan bahwa kau telah membunuh Empu Sada. Kau mengharap Ken Dedes akan memberi kalian segerobak emas dan berlian, karena ia seorang permaisuri?” Empu Sada itu berhenti sejenak. Tiba-tiba ia tertawa sambil berkata, “Cobalah. Kau kelak pasti akan digantung di alun-alun. Mahisa Agni tidak pernah terpisah dari orang-orang yang tak akan dapat kau kalahkan.”
Tetapi kata-kata Empu Sada itu disambut oleh suara tertawa pula. Suara Wong Sarimpat. Jauh lebih keras dari suara tertawa Empu Sada. Di antara suara tertawanya yang menggelegar itu terdengar ia berkata
“Oh, apakah kau mengharap kami menjadi ketakutan dan mengurungkan niat kami? Kau salah Empu. Tekad kami telah bulat. Empu Sada harus disingkirkan. Mungkin dugaanmu mengenai rencana kami benar.”
Empu Sada masih mencoba menguasai perasaannya. Katanya “Kau akui bahwa kau telah merencanakan membunuh aku dan mencoba melakukan pemerasan?”
Sebelum Wong Sarimpat menjawab, terdengar suara Kebo Sindet, “Otakmu memang cemerlang Empu. Namun karena itu maka kau harus kami tiadakan.”
Empu Sada kini sudah tidak melihat kemungkinan lain. Meskipun ia masih kelihatan tenang-tenang saja, namun hatinya benar-benar menjadi gelisah. Murid-muridnyalah yang paling terancam jiwanya. Apa lagi Cundaka. Agaknya kedua orang itu sama sekali tidak senang kepada muridnya yang seorang ini, seperti juga muridnya itu sama sekali tidak senang kepada kedua orang-orang liar itu.
Kini suasana Tiba-tiba menjadi tegang. Empu Sada mencoba untuk memusatkan segenap daya pikirannya untuk menemukan jalan keluar dari kesulitan ini. Tetapi jalan itu tidak dilihatnya. Satu-satunya jalan adalah bertempur. Tanpa disengajanya orang tua itu berpaling memandangi kedua muridnya berganti-ganti. Kemudian menarik nafas dalam-dalam. Lebih-lebih lagi. Ketika ia melihat Cundaka yang berdiri tegak dengan tegangnya.
“Hem,” katanya di dalam hati, “Kasihan anak ini. Meskipun ia anak yang bengal, tetapi aku telah menyeretnya ke dalam kesulitan yang tak mungkin padat dihindarinya.” Tetapi ketika kemudian ia melihat sinar mata muridnya yang menyala itu, hatinya menjadi bangga. Katanya pula di dalam hati “Kalau kau mati anakku, matilah dengan wajah tengadah.”
Empu Sada itu pun kemudian terkejut ketika terdengar suara Kebo Sindet, “Empu Sada. Kita sudah cukup lama berkenalan. Kita sudah pernah bekerja bersama dan berhasil dengan baik. Karena itu marilah kita saling berbaik hati. Janganlah kita menyusahkan satu sama lain. Aku harap kau pun mengenal terima kasih kepadaku atas pertolonganmu dahulu, dan sekarang kau bersikap baik terhadap kami. Karena itu, maka sebaiknya kau tidak perlu mempersulit usaha kami membunuhmu dan mengambil sepasang mata muridmu itu.”
Darah di dalam tubuh Empu Sada terasa menggelegak. Di kejauhan terdengar suara anjing liar menyalak bersahut-sahutan. Tetapi rupa-rupanya kita saling berbaik hati. Ja nya perasaan Cundakalah yang lebih dahulu meluap, sehingga tanpa dikehendakinya kembali ia menggeram.
Wong Sarimpat yang mendengar geram itu, berkata kasar, “Jangan tergesa-gesa. Waktu masih cukup. Apakah terlampau terburu oleh keinginan untuk mencoba hidup tanpa mata?”
Alangkah sakit hati orang yang menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo itu. Namun setelah beberapa kali gurunya selalu menggamitnya, maka kali ini pun ia menahan mulutnya sekuat-kuatnya. Apalagi setelah ia mendengar pembicaraan gurunya dengan kedua orang liar itu, maka kebenciannya menjadi semakin memuncak. Meskipun demikian ia menjadi berdebar-debar pula. Agaknya ia tidak akan dapat keluar dari bencana yang sudah membayang di depan matanya.
Dalam pada itu kembali terdengar suara Kebo Sindet, “Bagaimana dengan permintaanku, Empu?”
Empu Sada tidak menjawab. Ia tahu benar, bahwa ia tidak dapat mencari jalan untuk melepaskan dirinya. Ia tahu benar, bahwa yang seorang dari kakak beradik itu akan melawannya, dan yang seorang dengan mudahnya akan membunuh kedua muridnya. Sesudah itu, maka kedua orang itu ber-sama-sama akan membunuhnya pula.
“Licik!” geramnya di dalam hati.
Tetapi Tiba-tiba di dalam hati Empu Sada itu pun timbul pula tekadnya untuk melawan kedua orang itu dengan cara seperti yang ditempuh oleh mereka. Karena itu maka, meskipun Empu Sada itu masih saja berdiri sambil menundukkan kepalanya, namun kepalanya itu bergelora dengan dahsyatnya.
“Kebo Sindet,” berkata Empu Sada, “apakah tidak ada tawaran lain? Bagaimana kalau kau sebut saja misalnya kami harus membayar lebih dahulu supaya kami tidak menipumu?”
Wong Sarimpat tertawa. Jawabnya, “Berapakah besar kemampuan mau membayar kami, Empu Sada. Ken Dedes adalah seorang permaisuri Akuwu yang kaya raya. Beberapa potong emas bagi mereka pasti tidak akan berarti apa-apa. Bahkan setelah kami berhasil merebut Mahisa Agni dan membunuh Empu Sada yang telah menculik Mahisa Agni itu, kami akan mendapat kedudukan yang baik. Kami akan mendapat hadiah tanah perdikan dan kami akan dapat hidup dengan tenteram untuk seterusnya. Tidak seperti hidup kami saat ini.”
Empu Sada menganggukkan kepalanya, “Jadi kau ingin kedudukan dan harta itu dengan beralaskan kepalaku?”
Wong Sarimpat tertawa terus. “Ya,” jawabnya.
Kepala Empu Sada menjadi semakin tunduk. Kakinya tiba-tiba menjadi gemetar seperti suaranya yang gemetar pula.
“Aku masih ingin hidup Wong Sarimpat. Apakah kau tidak kasihan melihat umurku yang sudah menjadi semakin tua. Kau biarkanlah aku beberapa tahun lagi, pasti akan mati sendiri.” Suara tertawa Wong Sarimpat menjadi semakin keras.
“He, Empu Sada yang garang. Kenapa kau tiba-tiba menjadi ketakutan he? Di mana namamu yang besar selama ini, yang mempunyai puluhan murid tersebar di segenap penjuru Tumapel, bahkan di setiap sudut Kerajaan Kediri?”
Empu Sada melihat kegembiraan itu Wong Sarimpat agaknya menjadi sangat bersenang hati, seperti melihat permainan yang baru pertama kali dimilikinya. Namun Tiba-tiba suara tertawa itu terhenti. Terdengar sebuah keluhan pendek terloncat dari mulutnya. Wong Sarimpat yang bertubuh besar kekar meskipun tidak terlalu tinggi itu terdorong ke belakang dan terlempar jatuh.
Betapa terkejutnya semua orang yang berdiri di atas gunung gundul itu. Peristiwa itu sama sekali tidak mereka sangka. Kebo Sindet, orang yang berwajah mayat itu pun terkejut bukan buatan, sehingga justru karena itu sejenak ia terpaku diam. Ia melihat Empu Sada dengan kecepatan yang hampir tidak kasatmata, meloncat, menghantam dada Wong Sarimpat yang sedang tertawa terbahak-bahak. Ternyata Empu Sada telah melanggar kehormatan diri sebagai seorang sakti yang disegani. Ia telah mulai menyerang sebelum musuhnya bersiap.
Dalam pada itu, Wong Sarimpat yang sama sekali tidak menyangka bahwa Empu Sada akan berbuat demikian, tidak sempat untuk mengelakkan diri atau menangkis serangan itu. Selagi ia terlena oleh kegembiraan hatinya yang seakan-akan membakar segenap dadanya ketika ia melihat Empu Sada ketakutan. Namun tiba-tiba terasa seakan-akan Gunung Kawi runtuh menimpa dadanya.
Kalau yang melakukan serangan itu Kuda Sempana atau Cundaka, bahkan keduanya sekaligus, maka Wong Sarimpat tidak akan dapat digeser setapak pun dari tempatnya. Bahkan ia akan tertawa semakin keras. Tetapi yang menyerang dengan tiba-tiba sebelum ia bersiap itu adalah Empu Sada. Orang yang setingkat dengan Wong Sarimpat itu sendiri. Dengan demikian maka Wong Sarimpat tidak dapat mencegah ketika dirinya sendiri terbanting jatuh. Bahkan kemudian serasa dadanya menjadi pecah. Sekali ia menggeliat dan mencoba untuk segera bangkit, namun ia memerlukan waktu untuk melakukannya.
Tetapi Empu Sada yang telah merendahkan dirinya dengan licik itu tidak berhenti dengan serangan itu. Selagi Kebo Sindet masih tercengkam oleh perasaan terkejut, maka tongkatnya telah terayun deras sekali. Hampir tidak ada senggang waktu dengan serangannya atas Wong Sarimpat. Kebo Sindet yang terkejut itu pun tidak sempat menghindar. Tetapi ia mampu bergerak cepat pula. Dengan tangannya ia menahan serangan Empu Sada yang menyambarnya secepat tatit. Tetapi ternyata tongkat Empu Sada masih lebih keras dari tubuh Kebo Sindet yang hampir sekeras batu padas. Tongkat itu adalah tongkat Empu Sada. Tongkat seorang yang pilih tanding, sehingga tongkat itu bukan sekedar tongkat untuk mencari jalan di malam yang gelap.
Terasa perasaan sakit yang sangat telah menyengat tangan Kebo Sindet. Seperti Wong Sarimpat ia mengeluh pendek. Tetapi yang terasa sakit pada Kebo Sindet hanyalah sebelah tangannya, tangan kirinya, bukan dadanya seperti Wong Sarimpat yang bahkan nafasnya menjadi semakin sesak. Dengan demikian, maka perkelahian di antara mereka telah dimulai. Dimulai oleh sebuah serangan yang licik, sehingga Kebo Sindet yang kemudian menyadari keadaan berteriak marah sekali,
“He Empu yang gila. Kau ternyata tidak lagi merasa dirimu berharga untuk menjaga kehormatanmu. Kau mulai dengan sebuah serangan yang licik dan hina. Apakah kau tidak mengenal tata kehormatan dalam setiap perselisihan?”
Empu Sada kembali memutar tongkatnya, dan meluncurlah sebuah serangan yang dahsyat mengarah ke dada Kebo Sindet. Kebo Sindet yang belum dapat menyesuaikan diri sepenuhnya itu segera meloncat mundur, namun tongkat Empu Sada mengejarnya. Sekali lagi Kebo Sindet terpaksa menangkis serangan itu dengan tangannya, dan sekali lagi terasa tongkat itu seperti menggigit tulangnya.
“Gila kau, Empu Sada!”
“Tidak ada tata kehormatan yang mengikat aku seperti tidak adat kebiasaan dan adat yang dapat mengikat kalian!” teriak Empu Sada tidak kalah kerasnya. Suaranya bergetar dalam nada yang tinggi. Ternyata Empu Sada itu pun telah dibakar oleh kemarahan yang akhirnya meledak, “Mungkin aku berbuat curang dan licik. Tetapi maaf, aku terpaksa melakukannya. Aku tidak mau menjadi bangkai makanan anjing-anjing liar.”
Dalam pada itu Wong Sarimpat telah berdiri di atas kedua kakinya. Tetapi dadanya serasa akan pecah dan nafasnya seakan-akan telah menyumbat lubang-lubang hidungnya. Sekali ia terhuyung-huyung, namun kemudian ia dapat menguasai keseimbangannya dengan mantap.
Cundaka yang terkejut pun kini telah menyadari apa yang terjadi. Ternyata gurunya telah mulai. Sudah tentu ia tidak akan dapat berpangku tangan. Meskipun ia bukan lawan yang berarti bagi Wong Sarimpat itu telah terluka di dalam. Wong Sarimpat itu seolah-olah telah menjadi sangat lemah dan tidak lagi mampu berbuat sesuatu. Karena maka nafsunya untuk melawan Wong Sarimpat yang kasar itu segera berkembang di dalam dadanya. Dengan serta-merta ia menarik pedangnya dan siap menghadapi setiap kemungkinan.
Ia terkejut ketika ia mendengar Empu Sada berteriak, “Cundaka dan Kuda Sempana. Tinggalkan tempat ini! Cepat! Kau hanya memenangkan perlombaan lari dengan Wong Sarimpat. Jangan mencoba melawan!”
Tetapi Cundaka menjadi ragu-ragu. Ia melihat Wong Sarimpat telah hampir mati. Apakah ia tidak akan dapat membunuhnya dengan pedangnya itu. Ia tinggal menghunjamkan pedang itu ke dada orang yang berdiri pun hampir tidak mampu itu berdiri kaku di tempatnya. Sejenak ia benar-benar kehilangan akal. Apakah yang harus dilakukannya?
“Jangan gila!” kembali Empu Sada terdengar berteriak.
Tetapi Cundaka tidak segera pergi. Sekali ia memandang Kuda Sempana dengan sudut matanya. Namun Kuda Sempana masih berdiri kaku di tempatnya. Sejenak ia benar-benar kehilangan akal. Apakah yang harus dilakukannya?
Dalam pada itu terdengar Kebo Sindet yang sedang berkelahi dengan Empu Sada berkata, “Wong Sarimpat, jangan kau bunuh Kuda Sempana. Ia adalah arak muda yang baik hati, jujur dan mengerti apa sebabnya dilakukan. Sayang jika jatuh ke tangan Empu Sada yang licik. Yang lain itu terserahlah kepadamu. Aku hanya memerlukan sepasang matanya saja.”
Empu Sada tidak tahu pasti maksud Kebo Sindet dengan kata-katanya itu. Mungkin ia benar-benar ingin menangkap Kuda Sempana hidup-hidup sebagai orang yang dianggapnya cukup mengerti tentang Mahisa Agni dan Ken Dedes. Apalagi Kuda Sempana dan Empu Sada tidak sempat berbicara terlampau banyak, telah mengaku bahwa ia adalah pelayan dalam istana Tumapel, yang banyak mengetahui seluk beluk istana itu. Tetapi mungkin juga dengan demikian Kebo Sindet hanya ingin mencegah Kuda Sempana supaya tidak melawan adiknya yang terluka itu bersama-sama dengan Cundaka dengan cara yang licik pula. Kebo Sindet berpura-pura membiarkan Kuda Sempana akan tetap hidup, namun apabila lawan yang lain telah binasa, maka akan datang giliran pada anak muda itu. Karena itu maka Empu Sada itu pun segera berteriak pula,
“Kuda Sempana, jangan terpengaruh. Kebo Sindet hanya ingin mencegah kalian bertempur berpasangan melawan Wong Sarimpat yang hampir mampus itu. Kalau kau ingin melawan lawanlah bersama-sama. Kalau sempat, lebih baik tinggalkan tempat ini. Semakin cepat semakin baik.”
Kini Kebo Sindet telah benar-benar berada dalam keadaan yang mantap untuk melawannya. Namun tangan kirinya telah terluka. Terasa setiap kali tulang-tulangnya seperti menjadi retak karena pukulan tongkat Empu Sada. Kebo Sindet itu pun kemudian tidak membiarkan dirinya hancur dan tulang-tulangnya patah oleh tongkat empu tua itu. Maka dengan tangkasnya ia menarik goloknya yang besar dari rangkanya yang tergantung di pinggang. Dengan demikian, maka sejenak kemudian kedua orang itu telah terlihat dalam perkelahian yang sengit. Masing-masing adalah orang-orang sakti yang sukar dicari keseimbangannya.
Dalam pada itu Kuda Sempana masih berdiri dengan ragu-ragu. Tiba-tiba ia teringat pada saat-saat ia harus berkelahi melawan Mahisa Agni di bendungan, kemudian di Panawijen. Namun keduanya ia terusir karena kekalahan yang dialaminya. Kemudian ia berhasil membunuh Wiraprana dan membawa Ken Dedes, tetapi ia harus berhadapan dengan Witantra. Sekali lagi ia gagal. Dan ia kemudian terlempar dengan hinanya ke atas tangga serambi istana atas permintaan Ken Dedes yang ingin melepaskan sakit hatinya. Dengan demikian maka ia adalah seorang buruan.
Tiba-tiba di kejauhan terdengar sebuah auman yang keras, disusul oleh jerit yang melengking. Jerit seekor anjing hutan yang karena kurang hati-hati telah diterkam oleh seekor harimau kumbang. Itulah kehidupan di dalam rimba. Siapa yang kuat, maka ialah yang menguasai segenap keadaan tanpa memperhitungkan keadilan dan kebenaran. Dan di bukit gundul itu pun agaknya akan berlaku pula keadaan yang serupa.
Ketika Kuda Sempana tidak segera menjawab, maka terdengar Wong Sarimpat mendesak “Bagaimana Kuda Sempana?”
Dada Kuda Sempana terasa menjadi pepat. Ia dihadapkan pada keadaan yang sangat sulit. Dendamnya kepada Mahisa Agni dan Ken Dedes terasa terlampau sakit menghimpit hatinya, tetapi untuk melepaskan himpitan itu ia harus mengorbankan saudara seperguruannya Alangkah mahalnya.
Dalam pada itu, Empu Sada pun menjadi bimbang. Tetapi akhirnya ia tidak dapat memilih, kecuali mencoba melindungi muridnya. Meskipun hatinya mengumpat-umpat atas ketelanjuran Cundaka itu, tetapi adalah gila juga apabila dibiarkannya seorang muridnya kehilangan sebelah matanya di hadapannya. Namun sekali lagi ia kecewa atas muridnya itu, kecewa kepada diri sendiri. Bahwa ia tidak dapat menempatkan muridnya dalam satu ikatan yang kokoh seperti murid-murid Bojong Santi.
Kuda Sempana pun tidak kurang mengumpat-umpat di dalam hati. “Cundaka memang gila. Ia tidak tahu perasaanku, sehingga ia malahan seolah-olah menghalang-halangiku. Kini akulah yang dihadapkan pada suatu kesulitan. Kalau ia tidak berbuat gila, maka aku pun tidak akan berdiri di persimpangan jalan yang sulit ini.”
Mereka yang berdiri di atas bukit gundul itu kini benar dilanda oleh ketegangan yang semakin memuncak. Kuda Sempana tegak seperti patung. Namun nafasnya menjadi terengah-engah. Sekali-kali dipandangnya wajah gurunya. Ia ingin mendapat nasihat daripadanya, tetapi gurunya masih juga tetap berdiam diri.
Cundaka sendiri sejenak kehilangan kemampuan menimbang dan memperhitungkan keadaan yang dihadapinya. Tetapi kemudian ia berhasil menenangkan dirinya. Kini ia telah pasti bahwa ketelanjurannya akan mendatangkan bencana kepadanya. Namun tiba-tiba ia menjadi tabah menghadapi bencana yang betapapun juga. Kalau ia sudah mampu menghindarkan dirinya, maka ia harus berani menanggung segala akibat dari perbuatannya. Di dalam hati ia berkata
“Terserah kepadamu Kuda Sempana. Tetapi namaku hanya dapat lepas bersama nyawaku.”
Ketika Kuda Sempana tidak segera berbuat sesuatu, maka kembali terdengar Wong Sarimpat berkata “He Kuda Sempana, apakah kau juga menjadi bisu? Ayo, jawablah!”
Kuda Sempana benar-benar menjadi bingung. Kembali ia memandangi wajah gurunya mencari jawab atas pertanyaan Wong Sarimpat itu. Empu Sada melihat kebingungan di hati Kuda Sempana. Ia menjadi sedikit bersenang hati, bahwa Kuda Sempana masih memerlukan untuk berpikir ketika ia harus melakukan sesuatu yang dapat lebih menyakitkan hatinya, yaitu berkelahi sesama muridnya. Karena itu, maka Empu Sadalah yang menjawab
“Wong Sarimpat. Permintaanmu memang tidak masuk akal. Nah, kalau demikian maka biarlah aku memberikan tawaran. Beberapa potong emas itu saja. Mungkin Kuda Sempana mempunyai mata yang bagus, tetapi bukan mata orang. Mungkin ia mempunyai mata cincin batu akik yang berharga. Akik mata kucing barangkali atau akik Wukir Gading yang kekuningan. Kalau kau tidak senang mata batu akik, mungkin kau senang permata intan atau berlian.”
Suara Empu Sada patah ketika kembali terdengar suara tertawa Wong Sarimpat. Katanya “Harga Mahisa Agni yang aku berikan tidak dapat ditawar-tawar. Ayo, kau tinggal sanggup atau tidak.”
Tiba-tiba Wong Sarimpat terkejut sehingga suara tertawanya terputus. Bukan saja Wong Sarimpat, tetapi juga Kuda Sempana. Dengan tegas Empu Sada menjawab singkat
“Tidak. Aku tidak mau. Kita batalkan pembicaraan kita.”
“Guru,” dengan serta-merta Kuda Sempana memotong “Bagaimana mungkin, Guru. Aku sudah memutuskan, Mahisa Agni harus tertangkap. Hidup atau mati. Aku lebih senang kalau ia dapat tertangkap hidup-hidup.”
“Tetapi harga itu terlampau mahal. Kalau kau masih keras hati untuk membunuh Mahisa Agni, maka berarti kau telah membunuh dua orang sekaligus. Mahisa Agni dan saudara seperguruanmu sendiri. Nah. Pertimbangkan. Kecuali Wong Sarimpat memberikan penawaran lain.”
Kembali Kuda Sempana terbungkam. Terasa sesuatu bergolak di dalam dadanya Dan kembali ia mengumpat-umpat di dalam hati. Kejengkelannya terhadap Cundaka semakin meningkat dan bahkan kemudian ia menjadi muak melihat orang itu. Orang yang selama ini telah memperlemah tekadnya membalas dendam. Adalah omong kosong kalau Cundaka yang menyebut dirinya Bahu Reksa Kali Elo itu kelak akan mampu melepaskan dendamnya terhadap Mahisa Agni dengan tangannya sendiri.
“Kenapa orang itu tidak mati saja diterkam macan?” desisnya di dalam hati.
Namun dengan demikian tiba-tiba jantungnya serasa akan meledak ketika tumbuh pikiran di dalam benaknya, kenapa orang itu tidak dibiarkannya mati saja? Kenapa gurunya menganggap Cundaka sebagai tebusan yang terlampau mahal? Cundaka itu pun kini tidak berguna lagi baginya, sehingga seandainya anak itu mati. maka ia tidak akan merasa kehilangan. Tetapi ia tidak berani mengatakannya kepada gurunya.
Yang terdengar kemudian adalah suara Wong Sarimpat. “Kakang Kebo Sindet, bagaimana sebaiknya? Permintaan Kakang terlampau murah. Sebelah mata. Aku sekarang ingin menaikkan harga itu. Tidak hanya sebelah tetapi sepasang mata anak setan ini. Apakah Kakang setuju?” Wajah yang beku itu tetap membeku, seolah-olah Kebo Sindet tidak mendengar suara adiknya. Namun Wong Sarimpat itu berkata “Nah, ternyata Kakang Kebo Sindet telah menyetujui. Sepasang mata.”
Kemudian kepada Kuda Sempana, “Kau dengar kenaikan harga itu? Karena kau terlampau lama berpikir, maka kami terpaksa menaikkan harga. Kalau kemudian kau tidak segera memutuskan maka harga itu akan naik lagi. Kau tinggal menyetujui atau tidak. Kalau ternyata kau tidak mampu, maka biarlah harga itu kami ambil sendiri.”
Kata-kata itu benar-benar menggetarkan hati. Dan udara di gunung gandul itu pun tergetar ketika Empu Sada menjawab tegas
“Tidak. Muridku adalah milikku. Aku tidak akan menjerahkannya. Aku belum gila segila kalian berdua.”
Kembali mereka terdiam. Wong Sarimpat memandang wajah Empu Sada dengan mata yang menyala-nyala. Kemudian sekali ia berpaling kepada kakaknya sambil berkata
“Apa pula yang kita tunggu, Kakang?”
Tiba-tiba terdengar suara Kebo Sindet datar, “Empu Sada. Kenapa kau tidak dapat melakukan pekerjaan ini sendiri? Kenapa kau tidak dapat menangkap Mahisa Agni? Apakah orang-orang yang pernah kau sebutkan itu selalu mengawaninya? Empu Purwa, Empu Gandring dan Panji Bojong Santi?”
Empu Sada tidak segera menjawab, tetapi yang menjawab adalah Kuda Sempana, “Salah seorang dari mereka pasti ada di sekitar Mahisa Agni atau Ken Dedes. Dan Guru hanyalah seorang diri.”
“Tidak,” potong Empu Sada, “ada sebab-sebab lain. Sebab-sebab yang tidak dapat aku katakan di sini.”
Tiba-tiba wajah Kebo Sindet yang beku itu bergerak. Matanya tiba-tiba menjadi redup. Dan sejenak kemudian terdengar ia berkata “Kami berdua cukup kuat untuk melakukannya Empu, kau tidak kami perlukan lagi.”
Kata-kata Kebo Sindet itu bagaikan petir yang meledak di dalam dada Kuda Sempana. ia tidak tahu pasti maksud orang berwajah beku itu, namun terasa bahwa ada sesuatu yang kurang wajar akan terjadi. Bukan saja Kuda Sempana, namun juga Cundaka terkejut sekali mendengarnya. Meskipun ia juga kurang menyadari arti kata-kata itu seperti Kuda Sempana, namun ia menjadi semakin muak melihat kedua orang liar itu.
Empu Sada sendiri mengerutkan keningnya. Ia terkejut juga mendengarnya, namun ia telah merabanya lebih dahulu, bahwa ia akan berhadapan dengan kemungkinan itu. Kemungkinan yang timbul karena kebodohan Kuda Sempana. Kuda Sempana telah mengatakan banyak sekali, bahkan terlampau banyak tentang Mahisa Agni, sehingga kedua orang itu telah mendapat gambaran yang hampir sempurna tentang anak muda itu.
Cepat Empu Sada dapat mengikuti jalan pikiran Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Mereka pasti akan berbuat untuk kepentingan mereka sendiri. Mereka mengetahui dari Kuda Sempana bahwa Mahisa Agni selalu mondar-mandir antara padang rumput Karautan dan padukuhan Panawijen untuk setiap persoalan. Mahisa Agni adalah satu-satunya anak muda yang berani melakukannya. Dari Kuda Sempana pun, Kebo Sindet dan Wong Sarimpat mendengar hubungan yang terlampau rapat, terlampau rukun antara kedua saudara itu, Mahisa Agni dan Ken Dedes, meskipun Kuda Sempana tahu bahwa keduanya adalah bukan saudara kandung. Kedua orang itu mendengar pula betapa Akuwu Tunggul Ametung sangat bernafsu untuk memperistri Ken Dedes, bahkan mengambilnya sebagai permaisuri.
“Hem,” Empu Sada menarik nafas dalam. Kemudian terdengar ia bertanya “Kebo Sindet, apakah maksudmu sebenarnya?”
“Cukup jelas bagi seorang seperti kau Empu.”
“Tidak!” sahut Empu Sada, “Kurang jelas bagiku, sebab aku tidak biasa berpikir seperti kalian.”
Kini wajah Kebo Sindet telah membeku kembali. Dengan nada datar ia berkata, “Cukup jelas. Aku tidak memerlukan kau. Tetapi aku juga tidak mau kau ganggu.”
“Kau keliru. Kau tak akan bisa menyelesaikan pekerjaan ini tanpa aku.”
“Kau berusaha menyelamatkan dirimu?”
“Kenapa aku menyelamatkan diri? Apakah ada bahaya yang mengancam aku?”
“Jangan pura-pura tidak tahu. Aku tidak memerlukan kau dan aku tidak mau kau mengganggu untuk seterusnya. Jelas?”
Tiba-tiba Empu Sada tersenyum. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata “Kau akan membunuh aku?”
Kebo Sindet tidak segera menjawab. Ditatapnya mata Empu Sada dengan tatapan mata semakin lama menjadi semakin tajam. Hanya tatapan mata itulah yang dapat dibaca oleh Empu Sada, bahwa Kebo Sindet benar-benar berusaha akan melakukannya.
Percakapan itu benar-benar telah mengguncangkan dada Kuda Sempana. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa akhirnya ia akan menghadapi keadaan yang sama sekali tidak disangkanya. Ia tidak dapat mengerti kenapa Kebo Sindet tiba-tiba ingin menyingkirkan gurunya. Seandainya persoalan itu dapat dilakukan oleh mereka sendiri, kenapa gurunya mesti harus disingkirkan? Dengan demikian maka bergolaklah dada Kuda Sempana itu, seperti bergolaknya perut gunung berapi.
Yang terdengar kemudian adalah suara Wong Sarimpat menyambar telinga mereka seperti guruh di langit, “He, Empu Sada! Kami telah cukup mengerti apa yang harus kami lakukan. Karena itu kau bagi kami pasti hanya akan menjadi perintang yang memuakkan. Mungkin kau akan berkhianat dan bahkan mungkin kau sempat membunuh kami. Karena itu, maka kaulah yang harus kami singkirkan dahulu.”
“Kenapa?” bertanya Empu Sada. Orang tua itu masih tetap saja berdiri dengan tenang “bukankah aku yang memerlukan kalian untuk pekerjaan ini? Kenapa akulah yang mungkin mengkhianatinya?”
“Kami bukan orang yang kau sangka berotak batu,” sahut Wong Sarimpat “aku tahu rencanamu. Kami akan kau jerumuskan dalam persoalan yang tak tanggung-tanggung. Berhadapan dengan Akuwu Tunggul Ametung. Kemudian kalau rencana itu berhasil, menangkap Mahisa Agni, maka kau akan menghadap Akuwu dan menunjukkan siapakah yang telah melakukan perbuatan itu. Dengan demikian maka kau akan bersih dari segenap tuduhan, karena sebelumnya kaulah yang telah membuat persoalan dengan Mahisa Agni karena muridmu, dan keuntungan yang lain, kalau kami kemudian tertangkap maka kau tidak perlu melepaskan sepotong emas pun untuk kami.”
Sekali lagi Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Sekarang disadarinya bahwa apa yang dikatakan Empu Gandring dan Panji Bojong Santi itu bukanlah suatu usaha untuk menakut-nakutinya saja. Meskipun di antara mereka, Empu Sada sendirilah yang paling mengenal kedua orang itu karena ia pernah berhubungan sebelumnya. Tetapi kini, ia tidak berhasil mempergunakan kedua orang itu.
Empu Sada itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan tenang ia menjawab “Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Jangan kau sangka bahwa aku pun tidak tahu apa yang kalian rencanakan. Bukankah kalian telah merasa cukup mengetahui persoalan Mahisa Agni? itu adalah kesalahan Kuda Sempana. Dan bukankah kalian berdua ingin menangkap Mahisa Agni untuk tujuan pemerasan? Mungkin kalian menyangka bahwa dengan menyembunyikan Mahisa Agni, maka akulah yang akan menjadi sasaran tuduhan itu. Sementara itu kau akan menjual jasa, mengembalikan Mahisa Agni dan mengatakan bahwa kau telah membunuh Empu Sada. Kau mengharap Ken Dedes akan memberi kalian segerobak emas dan berlian, karena ia seorang permaisuri?” Empu Sada itu berhenti sejenak. Tiba-tiba ia tertawa sambil berkata, “Cobalah. Kau kelak pasti akan digantung di alun-alun. Mahisa Agni tidak pernah terpisah dari orang-orang yang tak akan dapat kau kalahkan.”
Tetapi kata-kata Empu Sada itu disambut oleh suara tertawa pula. Suara Wong Sarimpat. Jauh lebih keras dari suara tertawa Empu Sada. Di antara suara tertawanya yang menggelegar itu terdengar ia berkata
“Oh, apakah kau mengharap kami menjadi ketakutan dan mengurungkan niat kami? Kau salah Empu. Tekad kami telah bulat. Empu Sada harus disingkirkan. Mungkin dugaanmu mengenai rencana kami benar.”
Empu Sada masih mencoba menguasai perasaannya. Katanya “Kau akui bahwa kau telah merencanakan membunuh aku dan mencoba melakukan pemerasan?”
Sebelum Wong Sarimpat menjawab, terdengar suara Kebo Sindet, “Otakmu memang cemerlang Empu. Namun karena itu maka kau harus kami tiadakan.”
Empu Sada kini sudah tidak melihat kemungkinan lain. Meskipun ia masih kelihatan tenang-tenang saja, namun hatinya benar-benar menjadi gelisah. Murid-muridnyalah yang paling terancam jiwanya. Apa lagi Cundaka. Agaknya kedua orang itu sama sekali tidak senang kepada muridnya yang seorang ini, seperti juga muridnya itu sama sekali tidak senang kepada kedua orang-orang liar itu.
Kini suasana Tiba-tiba menjadi tegang. Empu Sada mencoba untuk memusatkan segenap daya pikirannya untuk menemukan jalan keluar dari kesulitan ini. Tetapi jalan itu tidak dilihatnya. Satu-satunya jalan adalah bertempur. Tanpa disengajanya orang tua itu berpaling memandangi kedua muridnya berganti-ganti. Kemudian menarik nafas dalam-dalam. Lebih-lebih lagi. Ketika ia melihat Cundaka yang berdiri tegak dengan tegangnya.
“Hem,” katanya di dalam hati, “Kasihan anak ini. Meskipun ia anak yang bengal, tetapi aku telah menyeretnya ke dalam kesulitan yang tak mungkin padat dihindarinya.” Tetapi ketika kemudian ia melihat sinar mata muridnya yang menyala itu, hatinya menjadi bangga. Katanya pula di dalam hati “Kalau kau mati anakku, matilah dengan wajah tengadah.”
Empu Sada itu pun kemudian terkejut ketika terdengar suara Kebo Sindet, “Empu Sada. Kita sudah cukup lama berkenalan. Kita sudah pernah bekerja bersama dan berhasil dengan baik. Karena itu marilah kita saling berbaik hati. Janganlah kita menyusahkan satu sama lain. Aku harap kau pun mengenal terima kasih kepadaku atas pertolonganmu dahulu, dan sekarang kau bersikap baik terhadap kami. Karena itu, maka sebaiknya kau tidak perlu mempersulit usaha kami membunuhmu dan mengambil sepasang mata muridmu itu.”
Darah di dalam tubuh Empu Sada terasa menggelegak. Di kejauhan terdengar suara anjing liar menyalak bersahut-sahutan. Tetapi rupa-rupanya kita saling berbaik hati. Ja nya perasaan Cundakalah yang lebih dahulu meluap, sehingga tanpa dikehendakinya kembali ia menggeram.
Wong Sarimpat yang mendengar geram itu, berkata kasar, “Jangan tergesa-gesa. Waktu masih cukup. Apakah terlampau terburu oleh keinginan untuk mencoba hidup tanpa mata?”
Alangkah sakit hati orang yang menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo itu. Namun setelah beberapa kali gurunya selalu menggamitnya, maka kali ini pun ia menahan mulutnya sekuat-kuatnya. Apalagi setelah ia mendengar pembicaraan gurunya dengan kedua orang liar itu, maka kebenciannya menjadi semakin memuncak. Meskipun demikian ia menjadi berdebar-debar pula. Agaknya ia tidak akan dapat keluar dari bencana yang sudah membayang di depan matanya.
Dalam pada itu kembali terdengar suara Kebo Sindet, “Bagaimana dengan permintaanku, Empu?”
Empu Sada tidak menjawab. Ia tahu benar, bahwa ia tidak dapat mencari jalan untuk melepaskan dirinya. Ia tahu benar, bahwa yang seorang dari kakak beradik itu akan melawannya, dan yang seorang dengan mudahnya akan membunuh kedua muridnya. Sesudah itu, maka kedua orang itu ber-sama-sama akan membunuhnya pula.
“Licik!” geramnya di dalam hati.
Tetapi Tiba-tiba di dalam hati Empu Sada itu pun timbul pula tekadnya untuk melawan kedua orang itu dengan cara seperti yang ditempuh oleh mereka. Karena itu maka, meskipun Empu Sada itu masih saja berdiri sambil menundukkan kepalanya, namun kepalanya itu bergelora dengan dahsyatnya.
“Kebo Sindet,” berkata Empu Sada, “apakah tidak ada tawaran lain? Bagaimana kalau kau sebut saja misalnya kami harus membayar lebih dahulu supaya kami tidak menipumu?”
Wong Sarimpat tertawa. Jawabnya, “Berapakah besar kemampuan mau membayar kami, Empu Sada. Ken Dedes adalah seorang permaisuri Akuwu yang kaya raya. Beberapa potong emas bagi mereka pasti tidak akan berarti apa-apa. Bahkan setelah kami berhasil merebut Mahisa Agni dan membunuh Empu Sada yang telah menculik Mahisa Agni itu, kami akan mendapat kedudukan yang baik. Kami akan mendapat hadiah tanah perdikan dan kami akan dapat hidup dengan tenteram untuk seterusnya. Tidak seperti hidup kami saat ini.”
Empu Sada menganggukkan kepalanya, “Jadi kau ingin kedudukan dan harta itu dengan beralaskan kepalaku?”
Wong Sarimpat tertawa terus. “Ya,” jawabnya.
Kepala Empu Sada menjadi semakin tunduk. Kakinya tiba-tiba menjadi gemetar seperti suaranya yang gemetar pula.
“Aku masih ingin hidup Wong Sarimpat. Apakah kau tidak kasihan melihat umurku yang sudah menjadi semakin tua. Kau biarkanlah aku beberapa tahun lagi, pasti akan mati sendiri.” Suara tertawa Wong Sarimpat menjadi semakin keras.
“He, Empu Sada yang garang. Kenapa kau tiba-tiba menjadi ketakutan he? Di mana namamu yang besar selama ini, yang mempunyai puluhan murid tersebar di segenap penjuru Tumapel, bahkan di setiap sudut Kerajaan Kediri?”
Empu Sada melihat kegembiraan itu Wong Sarimpat agaknya menjadi sangat bersenang hati, seperti melihat permainan yang baru pertama kali dimilikinya. Namun Tiba-tiba suara tertawa itu terhenti. Terdengar sebuah keluhan pendek terloncat dari mulutnya. Wong Sarimpat yang bertubuh besar kekar meskipun tidak terlalu tinggi itu terdorong ke belakang dan terlempar jatuh.
Betapa terkejutnya semua orang yang berdiri di atas gunung gundul itu. Peristiwa itu sama sekali tidak mereka sangka. Kebo Sindet, orang yang berwajah mayat itu pun terkejut bukan buatan, sehingga justru karena itu sejenak ia terpaku diam. Ia melihat Empu Sada dengan kecepatan yang hampir tidak kasatmata, meloncat, menghantam dada Wong Sarimpat yang sedang tertawa terbahak-bahak. Ternyata Empu Sada telah melanggar kehormatan diri sebagai seorang sakti yang disegani. Ia telah mulai menyerang sebelum musuhnya bersiap.
Dalam pada itu, Wong Sarimpat yang sama sekali tidak menyangka bahwa Empu Sada akan berbuat demikian, tidak sempat untuk mengelakkan diri atau menangkis serangan itu. Selagi ia terlena oleh kegembiraan hatinya yang seakan-akan membakar segenap dadanya ketika ia melihat Empu Sada ketakutan. Namun tiba-tiba terasa seakan-akan Gunung Kawi runtuh menimpa dadanya.
Kalau yang melakukan serangan itu Kuda Sempana atau Cundaka, bahkan keduanya sekaligus, maka Wong Sarimpat tidak akan dapat digeser setapak pun dari tempatnya. Bahkan ia akan tertawa semakin keras. Tetapi yang menyerang dengan tiba-tiba sebelum ia bersiap itu adalah Empu Sada. Orang yang setingkat dengan Wong Sarimpat itu sendiri. Dengan demikian maka Wong Sarimpat tidak dapat mencegah ketika dirinya sendiri terbanting jatuh. Bahkan kemudian serasa dadanya menjadi pecah. Sekali ia menggeliat dan mencoba untuk segera bangkit, namun ia memerlukan waktu untuk melakukannya.
Tetapi Empu Sada yang telah merendahkan dirinya dengan licik itu tidak berhenti dengan serangan itu. Selagi Kebo Sindet masih tercengkam oleh perasaan terkejut, maka tongkatnya telah terayun deras sekali. Hampir tidak ada senggang waktu dengan serangannya atas Wong Sarimpat. Kebo Sindet yang terkejut itu pun tidak sempat menghindar. Tetapi ia mampu bergerak cepat pula. Dengan tangannya ia menahan serangan Empu Sada yang menyambarnya secepat tatit. Tetapi ternyata tongkat Empu Sada masih lebih keras dari tubuh Kebo Sindet yang hampir sekeras batu padas. Tongkat itu adalah tongkat Empu Sada. Tongkat seorang yang pilih tanding, sehingga tongkat itu bukan sekedar tongkat untuk mencari jalan di malam yang gelap.
Terasa perasaan sakit yang sangat telah menyengat tangan Kebo Sindet. Seperti Wong Sarimpat ia mengeluh pendek. Tetapi yang terasa sakit pada Kebo Sindet hanyalah sebelah tangannya, tangan kirinya, bukan dadanya seperti Wong Sarimpat yang bahkan nafasnya menjadi semakin sesak. Dengan demikian, maka perkelahian di antara mereka telah dimulai. Dimulai oleh sebuah serangan yang licik, sehingga Kebo Sindet yang kemudian menyadari keadaan berteriak marah sekali,
“He Empu yang gila. Kau ternyata tidak lagi merasa dirimu berharga untuk menjaga kehormatanmu. Kau mulai dengan sebuah serangan yang licik dan hina. Apakah kau tidak mengenal tata kehormatan dalam setiap perselisihan?”
Empu Sada kembali memutar tongkatnya, dan meluncurlah sebuah serangan yang dahsyat mengarah ke dada Kebo Sindet. Kebo Sindet yang belum dapat menyesuaikan diri sepenuhnya itu segera meloncat mundur, namun tongkat Empu Sada mengejarnya. Sekali lagi Kebo Sindet terpaksa menangkis serangan itu dengan tangannya, dan sekali lagi terasa tongkat itu seperti menggigit tulangnya.
“Gila kau, Empu Sada!”
“Tidak ada tata kehormatan yang mengikat aku seperti tidak adat kebiasaan dan adat yang dapat mengikat kalian!” teriak Empu Sada tidak kalah kerasnya. Suaranya bergetar dalam nada yang tinggi. Ternyata Empu Sada itu pun telah dibakar oleh kemarahan yang akhirnya meledak, “Mungkin aku berbuat curang dan licik. Tetapi maaf, aku terpaksa melakukannya. Aku tidak mau menjadi bangkai makanan anjing-anjing liar.”
Dalam pada itu Wong Sarimpat telah berdiri di atas kedua kakinya. Tetapi dadanya serasa akan pecah dan nafasnya seakan-akan telah menyumbat lubang-lubang hidungnya. Sekali ia terhuyung-huyung, namun kemudian ia dapat menguasai keseimbangannya dengan mantap.
Cundaka yang terkejut pun kini telah menyadari apa yang terjadi. Ternyata gurunya telah mulai. Sudah tentu ia tidak akan dapat berpangku tangan. Meskipun ia bukan lawan yang berarti bagi Wong Sarimpat itu telah terluka di dalam. Wong Sarimpat itu seolah-olah telah menjadi sangat lemah dan tidak lagi mampu berbuat sesuatu. Karena maka nafsunya untuk melawan Wong Sarimpat yang kasar itu segera berkembang di dalam dadanya. Dengan serta-merta ia menarik pedangnya dan siap menghadapi setiap kemungkinan.
Ia terkejut ketika ia mendengar Empu Sada berteriak, “Cundaka dan Kuda Sempana. Tinggalkan tempat ini! Cepat! Kau hanya memenangkan perlombaan lari dengan Wong Sarimpat. Jangan mencoba melawan!”
Tetapi Cundaka menjadi ragu-ragu. Ia melihat Wong Sarimpat telah hampir mati. Apakah ia tidak akan dapat membunuhnya dengan pedangnya itu. Ia tinggal menghunjamkan pedang itu ke dada orang yang berdiri pun hampir tidak mampu itu berdiri kaku di tempatnya. Sejenak ia benar-benar kehilangan akal. Apakah yang harus dilakukannya?
“Jangan gila!” kembali Empu Sada terdengar berteriak.
Tetapi Cundaka tidak segera pergi. Sekali ia memandang Kuda Sempana dengan sudut matanya. Namun Kuda Sempana masih berdiri kaku di tempatnya. Sejenak ia benar-benar kehilangan akal. Apakah yang harus dilakukannya?
Dalam pada itu terdengar Kebo Sindet yang sedang berkelahi dengan Empu Sada berkata, “Wong Sarimpat, jangan kau bunuh Kuda Sempana. Ia adalah arak muda yang baik hati, jujur dan mengerti apa sebabnya dilakukan. Sayang jika jatuh ke tangan Empu Sada yang licik. Yang lain itu terserahlah kepadamu. Aku hanya memerlukan sepasang matanya saja.”
Empu Sada tidak tahu pasti maksud Kebo Sindet dengan kata-katanya itu. Mungkin ia benar-benar ingin menangkap Kuda Sempana hidup-hidup sebagai orang yang dianggapnya cukup mengerti tentang Mahisa Agni dan Ken Dedes. Apalagi Kuda Sempana dan Empu Sada tidak sempat berbicara terlampau banyak, telah mengaku bahwa ia adalah pelayan dalam istana Tumapel, yang banyak mengetahui seluk beluk istana itu. Tetapi mungkin juga dengan demikian Kebo Sindet hanya ingin mencegah Kuda Sempana supaya tidak melawan adiknya yang terluka itu bersama-sama dengan Cundaka dengan cara yang licik pula. Kebo Sindet berpura-pura membiarkan Kuda Sempana akan tetap hidup, namun apabila lawan yang lain telah binasa, maka akan datang giliran pada anak muda itu. Karena itu maka Empu Sada itu pun segera berteriak pula,
“Kuda Sempana, jangan terpengaruh. Kebo Sindet hanya ingin mencegah kalian bertempur berpasangan melawan Wong Sarimpat yang hampir mampus itu. Kalau kau ingin melawan lawanlah bersama-sama. Kalau sempat, lebih baik tinggalkan tempat ini. Semakin cepat semakin baik.”
Kini Kebo Sindet telah benar-benar berada dalam keadaan yang mantap untuk melawannya. Namun tangan kirinya telah terluka. Terasa setiap kali tulang-tulangnya seperti menjadi retak karena pukulan tongkat Empu Sada. Kebo Sindet itu pun kemudian tidak membiarkan dirinya hancur dan tulang-tulangnya patah oleh tongkat empu tua itu. Maka dengan tangkasnya ia menarik goloknya yang besar dari rangkanya yang tergantung di pinggang. Dengan demikian, maka sejenak kemudian kedua orang itu telah terlihat dalam perkelahian yang sengit. Masing-masing adalah orang-orang sakti yang sukar dicari keseimbangannya.
Dalam pada itu Kuda Sempana masih berdiri dengan ragu-ragu. Tiba-tiba ia teringat pada saat-saat ia harus berkelahi melawan Mahisa Agni di bendungan, kemudian di Panawijen. Namun keduanya ia terusir karena kekalahan yang dialaminya. Kemudian ia berhasil membunuh Wiraprana dan membawa Ken Dedes, tetapi ia harus berhadapan dengan Witantra. Sekali lagi ia gagal. Dan ia kemudian terlempar dengan hinanya ke atas tangga serambi istana atas permintaan Ken Dedes yang ingin melepaskan sakit hatinya. Dengan demikian maka ia adalah seorang buruan.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA



































Tidak ada komentar:
Posting Komentar