MENU

Ads

Minggu, 01 Maret 2026

Pelangi di Langit Singasari 097

Kuda Sempana itu berdiri membeku di tempatnya. Ia melihat Cundaka telah siap dengan pedangnya. Namun sekali lagi ia mendengar kembali suara hatinya pada saat ia berkelahi melawan Witantra,

“Ken Dedes bagiku adalah lambang keteguhan tekadku. Kalau aku tidak mampu mempertahankannya maka dalam persoalan-persoalan yang lain aku pun akan selalu gagal.”

Kuda Sempana menjadi semakin ragu-ragu. Apakah ia akan tetap dalam pendiriannya itu meskipun dengan perubahan? Kini ia telah bertekad, kalau ia gagal maka lambang keteguhan tekadnya itu akan dihancurkannya sama sekali lewat kehancuran yang akan dialami oleh Mahisa Agni. Orang yang paling dibencinya.

Kuda Sempana tersadar ketika ia melihat gurunya dan Kebo Sindet tiba-tiba meloncat dekat di mukanya. Dengan serta-merta ia meloncat mundur. Namun ketika ia telah tegak kembali di atas kedua kakinya, maka ia masih saja dicengkam oleh kebimbangan. Kalau ia membiarkan perkelahian itu, maka berarti ia telah mengkhianati gurunya. Tetapi kalau ia memihak gurunya dan bersama-sama dengan Cundaka mencoba membunuh Wong Sarimpat, maka kembali ia akan mengalami kegagalan menghadapi Mahisa Agni.

Dadanya berdesir ketika sekali lagi ia mendengar gurunya berteriak, “Cundaka. Jangan gila! Tinggalkan orang itu, atau berdua melawan ber-sama-sama. Jangan berbuat sendiri!”

Cundaka pun menjadi ragu-ragu. Ia melihat Wong Sarimpat berjalan terhuyung-huyung ke arahnya. Sekali-kali orang itu meraba dadanya yang serasa pecah. Namun matanya masih memancarkan kemarahan yang membara. Dengan ujung jari tangan kirinya ia menunjuk wajah Cundaka sambil berkata serak tersendat-sendat,

“Jangan lari tikus kecil aku masih mampu membunuhmu.”

Cundaka mundur selangkah. Tetapi pedangnya kini telah terjulur lurus mengarah ke dada Wong Sarimpat. Dada yang telah berhasil dilukai oleh Empu Sada. Namun ketika Wong Sarimpat maju selangkah lagi, Cundaka itu pun surut pula selangkah sambil berpaling memandangi saudara seperguruannya, Kuda Sempana. Tetapi Kuda Sempana itu pun masih juga berangan-angan.

“Apakah kematian Cundaka dan guru sendiri, akan merupakan korban yang harus aku relakan untuk melakukan rencanaku?”

Sekali lagi Kuda Sempana mendengar gurunya berteriak, “Kau sudah terpengaruh oleh suara iblis ini Kuda Sempana. Jangan kau sangka bahwa kau akan mendapatkan apa yang telah mereka janjikan.”

Kebo Sindet yang tangan kirinya telah terluka itu sempat juga berkata, “Kasihan kau Kuda Sempana. Mungkin kau tidak mengerti kenapa kami ingin membunuh gurumu. Sebelum gurumu ini aku singkirkan, maka kau tidak akan dapat mengingkari rencana itu, sebab di belakang semua perbuatannya, tersembunyi pamrih yang tidak kau ketahui. Aku akan mengatakannya kelak, apabila gurumu telah menjadi bangkai.”

Kata-kata Kebo Sindet terputus oleh serangan Empu Sada yang semakin dahsyat. Tongkatnya sekali-kali berhasil menyusup ke dalam lingkaran gerakan pedang Kebo Sindet. Bahkan sekali-kali tongkat itu berhasil pula menyentuh tangannya yang sakit, sehingga tulang-tulangnya semakin lama terasa seolah-olah menjadi semakin remuk.

“Gila!” katanya di dalam hati “Empu tua itu tahu benar, bahwa tanganku hampir patah.”

Namun betapapun juga, akhirnya Kuda Sempana menyadari, bahwa ia tidak dapat membiarkan guru dan saudara seperguruannya. Betapapun ia menjadi ragu-ragu tetapi terdengar kata-kata hatinya melonjak-lonjak.

“Itu adalah gurumu.”

Dengan mata yang tidak berkedip Kuda Sempana melihat gurunya bertempur. Hilanglah segala kesan ketuaan Empu Sada. Kini Empu Sada itu seolah-olah menjadi seekor burung sriti yang sedang menari-nari di udara, Namun Kebo Sindet melawannya dengan tangkas. Goloknya berputar dan terayun-ayun dengan dahsyatnya. Kekuatan orang itu benar-benar mengagumkan. Golok yang besar itu di tangannya, seolah-olah tidak lebih dari sebatang gelagah alang-alang. Pertempuran itu semakin lama menjadi semakin seru, seperti pertempuran di dalam dada Kuda Sempana. Dalam ke-ragu-raguan ia mendengar gurunya berteriak dengan penuh kecemasan,

“Cundaka! He, Cundaka! Apa kau sudah benar-benar gila. Lari! Lari cepat!”

Tetapi Cundaka melihat Wong Sarimpat sudah hampir mati, Dengan sebuah sentuhan yang tidak berarti orang itu pasti sudah akan jatuh telentang. Dan ia segera akan menghunjamkan pedangnya di dada orang liar itu. Betapa gurunya berteriak-teriak namun perasaan sombong di dalam dadanya telah memaksanya untuk tetap berada di tempatnya, bahkan ia sesumbar di dalam hatinya,

“He Wong Sarimpat. Betapa nistanya Cundaka yang bergelar Bahu Reksa Kali Elo, namun aku adalah laki-laki juga seperti kau. Sekarang, kenapa aku harus menghindarkan diri sedang kau sudah hampir menjadi bangkai?”

Wong Sarimpat menjadi semakin dekat. Dan Cundaka masih mendengar gurunya berteriak. Tetapi ia ingin, ya, ia ingin, bahwa ia berhasil membunuh Wong Sarimpat itu. Karena itu, tiba-tiba Cundaka itu pun memekik tinggi. Dengan satu loncatan yang garang ia menyerang Wong Sarimpat dengan pedangnya mengarah dada.



“Oh,” terdengar Empu Sada mengeluh, kemudian katanya, “Nasibmu memang terlampau jelek Cundaka.”

Tetapi Cundaka tidak mendengar. Ia sedang dimabukkan oleh keinginannya membunuh Wong Sarimpat yang di sangkanya hampir mati karena luka di dadanya. Kuda Sempana melihat serangan itu. Ia mendengar gurunya memerintahkan kepadanya untuk bersama-sama dengan Cundaka menghadapi Wong Sarimpat. Betapa ia masih dikuasai oleh kebimbangan, namun tangannya telah menarik pedangnya pula. Sekali ia melangkah maju, namun tiba-tiba langkahnya terhenti. Matanya seakan-akan meloncat dari pelupuknya. Dengan mulut ternganga ia meneriakkan sesuatu, tetapi kata-katanya tidak lagi dapat dimengerti.

“Sudah nasibmu Cundaka,” geram Empu Sada sambil bertempur.

Yang terdengar adalah suara parau Wong Sarimpat. Betapa luka menghentak-hentak dadanya, namun ia tertawa terbahak-bahak. Ternyata Cundaka yang mencoba menusuk dada Wong Sarimpat telah mengalami nasib malang. Dengan kecepatan yang tidak disangka-sangka oleh Cundaka, Wong Sarimpat berhasil menghindarkan dirinya. Cundaka yang memastikan bahwa pedangnya akan menyentuh lawannya yang disangkanya sudah tidak mampu bergerak itu, terdorong oleh tenaganya sendiri. Tiba-tiba terasa sebuah tangan yang kuat menangkap lehernya. Demikian kuatnya, sehingga terasa lehernya hampir terputus karenanya. Ketika sekali ia mencoba meronta, maka terasa jari-jari tangan itu seolah-olah menghunjam ke dalam kulitnya dan berangsur-angsur tenaganya menjadi kian lemah.

Dengan sisa tenaganya Cundaka segera menggerakkan pedang yang masih berada di tangannya. Ia melihat sepasang kaki yang renggang di sampingnya. Tetapi demikian pedangnya terayun, terasa kaki Wong Sarimpat mengenai pergelangannya sehingga pedangnya pun terlepas dan jatuh di tanah.

“Kuda Sempana, cepat berbuatlah sesuatu!” teriak Empu Sada.

Kuda Sempana maju pula selangkah. Kini ia telah mencabut pedangnya. Ketika ia melihat Cundaka tidak berdaya maka timbullah perabaan iba di dalam hatinya. Cundaka itu telah pernah berusaha membantunya pula. Namun tiba-tiba kembali Kuda Sempana tertegun. Ia melihat Cundaka yang tidak berhasil melepaskan tangan Wong Sarimpat itu mencoba menghimpun kekuatan lahir dan batinnya. Dalam keadaannya itu ia masih mencoba membangunkan kekuatan aji Kala Bama. Demikian ia merasa siap dengan kekuatannya itu, maka sambil membungkuk karena tekanan tangan Wong Sarimpat, pada lehernya Cundaka mengayunkan tangannya memukul lambung Wong Sarimpat.

Namun Wong Sarimpat menyadari apa yang akan terjadi. Dengan kekuatan yang ada padanya, maka terkaman jarinya itu pun diperketat. Suatu kekuatan yang tiada taranya telah menjalar di jarinya, sehingga Cundaka itu pun tiba-tiba menjadi lemah seperti dilepasi seluruh tulang belulangnya.

Empu Sada yang melihat muridnya mencoba membangun kekuatan terakhir itu pun berdesah “Tak ada gunanya.”

Dan sebenarnyalah, ketika Wong Sarimpat melepaskan tangannya, maka Cundaka itu pun jatuh dengan lemahnya di tanah. Kekuatan yang telah mulai tumbuh dan menjalari tangannya, tiba-tiba seperti dihisap oleh kekuatan yang tak dimengertinya. Bahkan segenap kekuatan yang ada padanya.

Kini Cundaka tidak lebih dari sehelai daun yang laju. Terasa betapa sakit segenap tubuhnya, dan betapa nafasnya menjadi sesak. Sekejap ia menyesal bahwa ia tidak menuruti nasihat gurunya, namun sekejap kemudian ia telah menemukan kekuatan batinnya kembali. Adalah wajar, bahwa dalam setiap perkelahian itu, salah satu pihak akan mengalami kekalahan. Mati adalah akibat yang telah dimengertinya sejak pertama-tama ia menggantungkan pedang di lambungnya. Dan mati itu kini menghampirinya. Karena itu, dalam kelemahan, Cundaka bahkan menjadi tenang. Meskipun tenaganya telah habis, namun ia masih sempat melihat gurunya bertempur dan melihat Kuda Sempana berdiri termangu-mangu dengan pedang di tangan.

“Mudah-mudahan guru dapat membalaskan dendamku,” desisnya.

Suaranya perlahan-lahan dalam nada yang sangat rendah. Tetapi Empu Sada mendengar kata-kata itu. Hati orang tua itu pun menjadi sangat terharu ketika ia melihat muridnya pasrah kepada maut yang telah siap untuk memeluknya

Kuda Sempana yang berdiri dalam kebingungan tiba-tiba tersadar bahwa ia sedang menghadapi bahaya yang sama besarnya dengan bahaya yang telah menelan Cundaka. Karena itu, maka segera ia mencoba memusatkan perhatiannya ke pada ujung pedangnya dan kepada Wong Sarimpat. Ditindasnya setiap perasaan ragu-ragu dan disingkirkannya setiap harapan akan membalas dendam terhadap Mahisa Agni dengan alat kedua orang liar itu. Meskipun harapan itu selalu saja menyentuh-nyentuh hatinya.

Kuda Sempana itu pun kemudian menggeretakkan giginya. Ia masih melihat saudaranya seperguruannya menggeliat. Dan sekali lagi Cundaka itu mencoba berkata,

“Aku sudah tidak dapat membantu guru lagi.”

Sekali lagi dada Empu Sada tersentuh. Murid itu diambilnya, karena Cundaka yang menyebut dirinya Bahu Reksa Kali Elo itu dapat memenuhi permintaannya. Dapat memberinya berbagai macam barang dan uang. Bukan karena suatu keyakinan bahwa muridnya itu akan dapat meneruskan cabang perguruannya. Namun ketika ia melihat anak itu hampir sampai pada ajalnya, maka hatinya melonjak. Kemarahannya pun menjadi semakin menyala di dalam dadanya. Tiba-tiba hati orang tua itu berkata

“Ya, aku akan mencoba membalaskan dendammu, Anakku.”

Tiba-tiba Empu Sada itu pun melenting meninggalkan lawannya. Gerak yang tiba-tiba dan hampir secepat tatit meloncat di udara itu, tidak segera dapat diikuti oleh Kebo Sindet. Namun sebagai seorang yang telah dipenuhi oleh pengalaman maka segera Kebo Sindet dapat menangkap maksud Empu Sada. Dengan loncatan yang panjang Kebo Sindet mengejarnya. Tetapi Kebo Sindet terlambat sekejap. Tongkat Empu Sada telah terjulur lurus ke dada Wong Sarimpat. Alangkah terkejutnya Wong Sarimpat yang sedang menikmati kemenangannya itu. Ketika ia melihat Empu Sada meloncat ke arahnya, dan ketika ia melihat tongkat orang tua itu terjulur lurus ke dadanya, maka ia menjadi gugup.

Kalau dadanya tidak sedang terluka maka serangan itu sama sekali tidak akan membingungkannya. Ia mampu bergerak secepat Empu Sada. Tetapi kini betapa sakit tulang-tulang iganya. Setiap geraknya pasti menumbuhkan rasa pedih pada isi dadanya itu. Namun ia tidak mau mati karena serangan itu. Betapapun sakitnya, tetapi ia harus mengerahkan segenap kemampuannya. Karena ia tidak mendapat kesempatan untuk meloncat, maka satu-satunya cara yang dapat menolongnya adalah menjatuhkan diri. Sementara itu ia mengharap kakaknya akan datang menolongnya.

Demikianlah dengan serta-merta Wong Sarimpat mencoba menjatuhkan dirinya mendahului tongkat Empu Sada. Meskipun dadanya terluka, namun ia masih juga mampu bergerak cepat, sehingga dadanya terlepas dari dorongan tongkat orang tua itu. Tetapi Empu Sada tidak membiarkannya bebas sama sekali dari serangannya, dengan satu putaran ia menghantamkan tongkatnya pada punggung lawannya. Sekali lagi Wong Sarimpat terpaksa mencoba menghindarkan diri dengan berguling di tanah. Namun kali ini Wong Sarimpat yang sudah tidak mampu mempergunakan segenap kekuatannya itu tidak berhasil membebaskan dirinya sama sekali. Sekali lagi ia terpaksa mengalami cedera. Kali ini lengannya telah terkena tongkat Empu Sada yang sedang menjadi sangat marah itu.

Terdengar Wong Sarimpat mengumpat pendek. Perasaan nyeri telah menusuk tulangnya, serasa tulangnya telah menjadi retak pula karenanya. Namun dengan demikian, karena nafsu Empu Sada untuk membunuh Wong Sarimpat terlampau menguasai perasaannya, maka sejenak ia menjadi lengah, bahwa Kebo Sindet sedang mengejarnya. Empu tua itu mendengar Kuda Sempana berteriak pendek dan terasa sebuah getaran menyentuh punggungnya. Cepat ia meloncat ke samping sambil merendahkan dirinya.

Kali ini ia berhasil menghindari sambaran golok Kebo Sindet, tetapi ketika golok itu terayun melampaui tubuhnya yang sedang merendah, terasa telinganya seakan-akan menjadi pecah. Ternyata kaki Kebo Sindet berhasil menyambar kepalanya, menyentuh telinga kanannya. Untunglah bahwa Kebo Sindet tidak berhasil mempergunakan sepenuh kekuatannya karena tarikan goloknya sendiri. Meskipun demikian Empu Sada itu pun terdorong selangkah dan jatuh terguling di tanah. Namun seperti singgat, orang tua itu segera melenting berdiri. Tongkatnya masih tergenggam erat di tangannya. Tetapi kini kepalanya menjadi pening. Bahkan serasa dunia ini berputar di sekelilingnya.

“Gila!” orang itu mengumpat di dalam hati.

Ketika ia melihat Kebo Sindet menyerangnya kembali, maka sementara orang tua itu hanya berhati menghindar sambil mencoba menenangkan dadanya. Sementara itu Wong Sarimpat pun telah duduk kembali. Tepat di samping Cundaka yang terbaring lemah. Betapa kemarahan Wong Sarimpat itu menghunjam jantungnya. Maka ketika tiba-tiba dilihatnya Cundaka di sampingnya, dengan serta-merta ia merangkak dan menangkap leher orang yang sudah tidak berdaya itu. Dengan gigi gemeretak ia menekankan sepuluh jari-jari tangannya ke leher Cundaka yang tidak dapat melawannya sama sekali.

Kuda Sempana yang meloncat dengan pedang di tangan ternyata terlambat. Cundaka sudah benar-benar mati dicekik oleh Wong Sarimpat. Ketika Kuda Sempana kemudian siap menyerang orang yang masih terduduk itu terdengar Empu Sada memperingatkannya,

“Jangan kau ulangi kesalahan saudaramu. Orang yang hampir mati itu masih cukup berbahaya bagimu.”

Tetapi suara itu disusul oleh suara Kebo Sindet, “Wong Sarimpat, jangan kau bunuh Kuda Sempana. Aku bahkan ingin menolongnya, menangkap Mahisa Agni.”

“Setan!” geram Empu Sada.

Kini kepalanya sudah tidak terlampau pening lagi. Namun telinganyalah yang terata sakit bukan buatan. Bahkan hatinya pun menjadi sangat pedih. Satu muridnya meninggal di hadapan hidungnya. Tetapi muridnya itu telah menjadi korban kesombongan sendiri. Ia tidak mau mendengarkan nasihatnya.

Seruan gurunya, serta suara Kebo Sindet, kembali telah mengganggu perasaan Kuda Sempana. Ia kini kembali berdiri tegak seperti patung. Ia melihat Cundaka terbunuh karena tidak mau mendengar nasihat gurunya. Dan kini gurunya itu melarangnya pula untuk melawan Wong Sarimpat yang tampaknya sudah terlampau lemah. Tetapi dalam pada itu ia mendengar Kebo Sindet mencegah adiknya untuk tidak membunuhnya.

Kuda Sempana menjadi bingung. Tetapi bahwa Kebo Sindet dan Wong Sarimpat tidak berlaku jujur kini mulai terbayang di dalam benaknya, Karena itu maka Kuda Sempana pun kini mulai menyadari betapa bodohnya dirinya sendiri. Dan ia ingin mencoba menebus kebodohannya. Ia ingin memanfaatkan sikap Kebo Sindet atas adiknya Wong Sarimpat. Apabila ia menyerang Wong Sarimpat, maka Wong Sarimpat pasti tidak akan berani membunuhnya karena kakaknya tidak menghendakinya. Tidak seperti saudara seperguruannya itu. Kedua orang liar itu agaknya benar-benar membencinya meskipun mereka belum mengenalnya dengan baik. Apalagi kini Wong Sarimpat telah menjadi semakin parah.

Karena itu maka Kuda Sempana tidak segera meninggalkan tempat itu. Dari cahaya obor yang masih menyala meskipun kini tergolek di atas batu-batu padas, ia melihat betapa wajah Wong Sarimpat yang tegang. Agaknya orang itu berusaha untuk menahan perasaan sakitnya. Ketika api obor itu menyala semakin besar, maka Kuda Sempana melihat, betapa wajah itu menjadi sangat mengerikan. Wong Sarimpat itu menatap seperti ingin menelannya hidup-hidup.

Tekad Kuda Sempana telah bulat di dalam dadanya. Ia mempunyai kedudukan yang berbeda dengan saudara seperguruannya di mata kedua orang-orang liar itu. Betapa Wong Sarimpat marah kepadanya, namun Kebo Sindet agaknya masih memerlukannya.

Namun kembali ia mendengar gurunya berteriak, “Apakah kau juga akan membunuh dirimu Kuda Sempana?”

Kuda Sempana menggeram. Terasa dadanya bergolak. Apakah sudah sepantasnya ia melarikan dirinya selagi gurunya bertempur mati-matian dan sesudah saudara seperguruannya itu mati?. Dalam keragu-raguan itu ia melihat Wong Sarimpat berusaha untuk berdiri. Beberapa kali ia berusaha, namun setiap kali ia berhenti, mengatur pernafasannya dan mengusap dadanya. Agaknya dadanya masih terasa sangat parah, di samping lengannya yang serasa menjadi retak.

“Setan licik!” geramnya. Kemudian ditatapnya wajah Kuda Sempana sambil mengumpat “Kau setan pula. Ternyata kakakku berbaik hati kepadamu. Kalau tidak, maka nyawamu akan meloncat dari ubun-ubunmu seperti demit kecil ini.”

Namun terdengar suara Kebo Sindet, “Jangan kau takut-takuti anak itu, Wong Sarimpat. Ia tidak bersalah. Gurunyalah yang gila dan saudara seperguruannya itu pula.”

Dada Kuda Sempana berdesir. Namun ia sependapat dengan gurunya ketika ia mendengar gurunya berkata, “Apakah kau dapat mempercayainya Kuda Sempana?” Kuda Sempana tidak menjawab, tetapi kepalanya mengangguk lemah.

Sementara itu Wong Sarimpat telah berhasil berdiri tegak. Ditelekan kedua tangannya di dadanya, dan dihisapnya nafas dalam-dalam beberapa kali. Sejenak ia memusatkan segenap sisa-sisa kekuatannya. Dan kemudian terdengarlah ia berdesis.

Kebo Sindet dan Empu Sada masih juga bertempur dengan sengitnya. Keduanya adalah orang-orang yang jarang tandingannya. Masing-masing mempunyai kekhususannya sendiri-sendiri. Namun terasa bahwa tangan Kebo Sindet yang terluka agak mengganggunya. Meskipun demikian goloknya masih dapat berputar seperti baling-baling.

Empu Sada tidak kalah lincahnya pula. Meskipun telinganya menjadi sakit, namun kekuatannya seolah-olah sama sekali tidak terpengaruh olehnya. Tongkatnya masih menyambar-nyambar dan sekali-kali mematuk ke titik-titik berbahaya pada tubuh Kebo Sindet.

Kuda Sempana kemudian melihat Wong Sarimpat mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi sambil menghisap udara sebanyak-banyaknya. Seakan-akan seluruh udara di atas bukit gundul itu akan dihisapnya. Ber-kali-kali dan kemudian terdengar ia berdesah lirih,

“Hem. Setan tua itu harus binasa.”

Dengan penenangan itu ternyata Wong Sarimpat berhasil mengurangi perasaan sakitnya meskipun hanya sedikit. Namun karena kemarahan yang membara di dadanya, maka ia tidak dapat membiarkan melihat kakaknya bertempur sendiri melawan Empu Sada. Bagi Wong Sarimpat Kuda Sempana sama sekali sudah tidak berarti lagi. Karena itu dibiarkannya saja ia berdiri tegak dengan pedang di tangan.

Tetapi Kebo Sindet tidak ingin membiarkan Kuda Sempana itu. Ia tidak menghendaki anak itu dilepaskan. Ia tidak akan membiarkan anak itu lari. Tetapi ia tidak dapat memberitahukannya kepada adiknya, sebab dengan demikian, maka Empu Sada pasti segera mengetahui maksudnya pula. Karena itu, maka Kebo Sindet itu pun menjadi gelisah. Tetapi ketika ia melihat Wong Sarimpat telah siap untuk ikut serta dalam perkelahian itu, maka tumbuhlah harapannya untuk dapat menangkap Kuda Sempana hidup-hidup. Ia mengharap anak muda itu bukan seorang pengecut yang licik. Ia mengharap setidak-tidaknya Kuda Sempana mempunyai keberanian seperti saudara seperguruannya.

Maka Tiba-tiba berkatalah Kebo Sindet, “He, apa yang akan kau lakukan Wong Sarimpat?”

Wong Sarimpat menggeram. Ia tidak mengerti kenapa kakaknya itu bertanya. Namun dijawabnya pula pertanyaan itu, “Aku ingin memecahkan dada Empu tua itu seperti ia melukai dadaku. Tetapi aku bukan pengecut seperti orang itu.”

Empu Sada tidak merasa perlu untuk menjawab. Bahkan serangannyalah yang menjadi semakin garang. Ia sama sekali tidak menjadi cemas melawan keduanya telah dilukainya sehingga mereka tidak dapat mempergunakan teraga mereka sepenuh-penuhnya. Meskipun demikian Empu Sada tidak dapat memperingan lawannya. Apalagi Kebo Sindet. Meskipun sebelah tangannya telah terluka namun tandangnya hampir tidak berbeda. Tetapi Empu Sada yang telah mengetahui luka di tangan itu, selalu berusaha untuk menyentuhnya dengan tongkatnya. Empu tua itu tahu betul, sentuhan yang kecil telah cukup untuk membangkitkan perasaan sakit yang membakar seluruh tubuh Kebo Sindet itu. Karena itu ketika Wong Sarimpat berjalan tertatih-tatih mendekatinya, maka Empu Sada itu menjadi semakin berhati-hati.

Kuda Sempana yang masih tegak seperti tonggak, melihat Wong Sarimpat semakin lama menjadi semakin dekat dengan kedua orang yang sedang bertempur itu. Meskipun tataran ilmu gurunya serta Kebo Sindet di atas ilmunya, namun Kuda Sempana dapat melihat bahwa Kebo Sindet yang terluka tangannya itu selalu terdesak oleh gurunya. Betapa besar golok orang itu, dan betapa kuatnya ia menggerakkannya, namun setiap kali ia melihat orang itu menyeringai menahan sakit dan sekali dua kali meloncat surut untuk menghindari serangan Empu Sada yang selalu berusaha menyarang titik kelemahan lawannya.

Sesaat kemudian Kuda Sempana itu pun melihat Wong Sarimpat meloncat menerjunkan diri ke dalam perkelahian itu. Alangkah terkejutnya ketika ia melihat orang yang di sangkanya sudah hampir mati itu mampu meloncat dengan kecepatan yang luar biasa. Serangannya datang seperti kilat menyambar di langit. Tetapi ketika lawannya mampu menghindari serangan itu, maka kembali Wong Sarimpat berdiri terbungkuk-bungkuk. Kedua tangannya menekan dadanya dan nafasnya seakan-akan hampir putus.

Ternyata orang itu telah mengerahkan sisa-sisa tenaganya untuk tetap dapat mengimbangi lawannya. Meskipun kemudian luka di dalam dadanya terasa sakit kembali, namun pada saat tertentu, karena nafsu dan kemarahan yang meluap-luap, Wong Sarimpat telah berhasil meluapkannya. Sehingga serangan yang demikian itu tidak hanya satu kali dilakukan oleh Wong Sarimpat. Setiap kali ia menyerang dan setiap kali pula ia menyingkir dari titik perkelahian untuk menenangkan dirinya.

Meskipun demikian, namun serangan-serangan Wong Sarimpat itu cukup mengganggu Empu Sada. Setiap kali ia harus membagi perhatiannya. Bahkan serangan-serangan orang tampaknya telah hampir lumpuh itu pun masih cukup berbahaya. Akhirnya Empu Sada pun menyadari, bahwa tidak ada gunanya lagi ia bertempur seterusnya. Kini ia tinggal mencoba bertahan dan memberikan kesempatan Kuda Sempana untuk menyingkir sebelum ia sendiri meninggalkan bukit gundul itu. Tetapi alangkah jengkelnya Empu tua itu ketika ia masih melihat Kuda Sempana berdiri saja seperti patung,

“Kuda Sempana, pergilah!” berkata Empu Sada.

Tetapi yang menyahut adalah Kebo Sindet, “Wong Sarimpat. Jangan putus asa karena luka-lukamu. Marilah kita bunuh Empu tua yang gila ini. Ia telah banyak berbuat kesalahan tidak saja atas kita. Namun lihatlah. Apakah ia telah membentuk muridnya itu dengan baik? Menurut pendapatku Kuda Sempana adalah seorang anak muda yang cukup berani. Tetapi gurunyalah yang mengajarinya menjadi pengecut. Bagi laki-laki, lari dari arena perkelahian adalah sifat yang sehina-hinanya. Lebih hina dari serangan yang licik yang dilakukan oleh Empu Sada itu sendiri.”

“Jangan hiraukan!” teriak Empu Sada sambil bertempur, “Jangan hiraukan. Lari tinggalkan tempat ini!”

“Kalau kau yang lari, Wong Sarimpat, meskipun kau sudah akan mati, maka kau akan aku bunuh sendiri,” geram Kebo Sindet.

Tiba-tiba Wong Sarimpat yang terluka di dadanya itu melepaskan diri dari perkelahian. Terdengar ia mencoba tertawa keras-keras. Tetapi suara itu pun patah karena perasaan sakit yang menekan dadanya. Namun ia masih sempat berkata

“Empu Sada telah mendidiknya berbuat demikian. Ternyata murid yang gila, yang kau kehendaki sepasang matanya itu lebih berani daripada Kuda Sempana.”

Baik Empu Sada maupun Kuda Sempana menyadari maksud kata-kata itu. Mereka tidak menghendaki Kuda Sempana meninggalkan perkelahian. Namun meskipun demikian, harga diri Kuda Sempana tersinggung juga. Itulah sebabnya ia masih juga berdiri termangu-mangu meskipun beberapa kali gurunya berteriak-teriak mengusirnya.

Dalam perkelahian yang kemudian menjadi semakin sengit, Kebo Sindet sempat berkata kepada Wong Sarimpat perlahan-lahan, “Tangkap anak itu. Jangan sampai ia lari. Kau tidak akan dapat mengejarnya karena lukamu.”

Betapa Kebo Sindet mencoba berbisik perlahan-lahan sekali, tetapi telinga Empu Sada yang tajam dapat mendengarnya. Karena itu sekali lagi ia berteriak “Lari Kuda Sempana lari. Kau akan ditangkap hidup-hidup untuk permainan mereka ini. Permainan orang-orang liar.”

Karena perhatian yang terpecah-pecah itulah maka Kebo Sindet dan Wong Sarimpat berhasil menekan Empu Sada mendekati Kuda Sempana. Wong Sarimpat yang terluka itu kadang-kadang sama sekali tidak mampu meloncat menyerang karena perasaan sakitnya, namun kadang-kadang apabila ia berhasil mengatasi perasaan sakit dan berhasil menghimpun tenaganya maka luka di dadanya itu seakan-akan sudah tidak berbekas.

Ketika titik perkelahian itu menjadi semakin mendekatinya, maka Kuda Sempana pun menjadi semakin menyadari apa yang akan dihadapinya. Ia benar-benar tidak dapat ikut dalam perkelahian itu, tetapi untuk meninggalkan gurunya, hatinya masih ragu-ragu. Meskipun demikian, akhirnya ia mengambil suatu kesimpulan,

“Lebih baik aku menyingkir. Aku harap Guru berhasil melarikan dirinya pula kemudian.”

Ternyata gurunya yang benar-benar menginginkan Kuda Sempana pergi telah mencoba merendahkan dirinya agar muridnya tidak terlampau terikat pada harga diri pula, katanya

“Kuda Sempana, larilah selagi aku mampu menahan kedua orang liar itu, sesudah itu aku pun akan melarikan diri pala. Tak ada gunanya lagi berurusan dengan orang-orang liar ini.”

Tak ada pilihan lain bagi Kuda Sempana selain meninggalkan pertempuran itu. Ia harus segera pergi, tidak tahu ke mana, asal saja menjauhi kedua orang-orang yang aneh itu. Tetapi betapa terkejut Kuda Sempana ketika ia seolah-olah melihat kilat yang menyambar di hadapannya. Demikian cepatnya sehingga ia tidak mendapat kesempatan berbuat sesuatu. Ketika ia telah mengambil keputusan untuk lari, maka ia telah terlambat. Wong Sarimpat yang terluka itu tiba-tiba telah berdiri di hadapannya. Sebelum ia dapat berbuat sesuatu, terasa tangannya yang memegang pedang bergetar, dan pedangnya pun terpelanting jatuh di tanah.

Kuda Sempana benar-benar tidak mendapat kesempatan untuk berbuat sesuatu. Yang terasa olehnya adalah sebuah tekanan yang keras pada lengan kanannya. Ketika ia terputar, maka Wong Sarimpat telah menangkap tengkuknya. Sebuah tekanan yang keras di tengkuknya serasa sebagai daya yang kuat, yang telah menghisap seluruh tenaganya. Seperti Cundaka, maka Tiba-tiba Kuda Sempana itu menjadi lemah. Semakin lama semakin lemah.

“Gila!” terdengar Empu Sada berteriak.

Tetapi ia tidak dapat berbuat sesuatu. Kebo Sindet yang telah bersiap untuk menghadapi tindakan adiknya itu dengan garangnya mencoba melibat Empu Sada, sehingga orang itu tidak mendapat kesempatan berbuat sesuatu. Betapa jantung orang tua itu dicengkam oleh kemarahan yang memuncak. Betapa dadanya serasa akan pecah. Tetapi semuanya itu sudah terjadi. Ia menyesal tak habisnya atas kedua muridnya yang sama sekali tidak mau mendengarkan nasihatnya. Cundaka telah hangus dibakar kesombongannya sendiri, sedang Kuda Sempana telah dibelit oleh keragu-raguannya. Namun kedua-duanya kini tidak dapat diharapkannya lagi.




OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar