Empu Sada itu masih melihat Kuda Sempana jatuh dengan lemahnya. Sedang Wong Sarimpat, yang terpaksa mengerahkan sisa-sisa tenaganya yang telah lemah pula, berdiri sambil menekan dadanya Sekali ia batuk sambil terbungkuk-bungkuk, namun kemudian orang itu pun jatuh terduduk di tanah.
“Kau akan mati pula!” geram Empu Sada.
Tetapi Kebo Sindet menjawab, “Tidak. Kami menyimpan obat-obatan yang dapat menyembuhkannya dalam waktu singkat. Sayang obat-obatan itu tidak kami bawa. Tetapi ia tidak akan mati. Besok ia telah sanggup bertempur melawanmu seorang diri seandainya kau masih hidup. Tetapi sayang pula, bahwa kau akan mati malam ini seperti muridmu yang sombong. Sedang muridmu yang baik itu, biarlah aku mencoba merawatnya. Menjadikannya seorang jantan yang tidak akan dapat kau kalahkan seandainya kau sempat bertemu lagi.”
Empu Sada tidak menjawab. Ia melihat kesempatan untuk mencoba menjatuhkan Kebo Sindet, selagi Wong Sarimpat sedang dicengkam oleh perasaan sakit. Dengan mengerahkan segenap kemampuannya ia menyerang seperti seekor burung elang di udara. Menyambar dengan tongkatnya, tangannya dan kakinya. Namun Kebo Sindet masih mampu untuk menghindarkan dirinya dari setiap serangan yang betapapun berbahayanya.
Perlahan-lahan Wong Sarimpat mulai dapat mengatasi perasaan sakitnya kembali. Perlahan-lahan pula ia mencoba berdiri. Dengan mata yang menyala ia memandangi Empu Sada yang sedang bertempur dengan kakaknya. Kemudian terdengar ia menggeram,
“Tinggal kau sekarang Empu tua. Ayo, menyerahlah supaya kemarahan kami tidak menyebabkan kami membunuhmu dengan cara yang tidak menyenangkan.”
Empu Sada masih berdiam diri. Bahkan serangannya menjadi semakin kuat. Namun ia bergumam di dalam hatinya, “Setan manakah yang telah bersembunyi di dalam tubuh Wong Sarimpat itu? Meskipun ia sudah hampir mampus, namun ia masih juga kuat untuk berdiri dan bahkan bertempur meskipun ia telah memeras tenaganya melampaui kemampuannya yang sewajarnya.”
Dan Empu Sada itu menjadi semakin geram, ketika ia melihat Wong Sarimpat berjalan tertatih-tatih ke arah mereka yang sedang bertempur mati-matian itu. Kini goloknya, yang mirip dengan golok kakaknya telah digenggamnya pula. Meskipun nafasnya tersendat-sendat namun nampaknya orang itu masih garang juga.
Sekali lagi Empu Sada membuat perhitungan. Ia juga tidak akan mampu mengalahkan keduanya dalam keadaan serupa itu. Ternyata kekuatan tubuh Wong Sarimpat benar-benar berada di luar dugaannya. Dalam keadaan serupa itu, ia masih juga mampu mengganggu perkelahiannya dengan Kebo Sindet. Karena itu, maka tidak ada jalan lain baginya daripada menghindarkan diri dari perkelahian itu. Kalau ia berhasil maka ia masih mempunyai kemungkinan untuk berusaha membebaskan Kuda Sempana. Menurut perhitungan Empu Sada kemudian, Kuda Sempana memang tidak akan dibunuh, sebab kedua orang itu masih memerlukannya. Mereka mengharap Kuda Sempana memberinya beberapa petunjuk tentang Mahisa Agni, Ken Dedes dan Tunggul Ametung.
Tetapi Kebo Sindet dan Wong Sarimpat pun telah dapat menebak pula maksud Empu Sada itu. Karena itu maka terdengar Kebo Sindet menggeram “Jangan mimpi kau berhasil melepaskan diri Empu. Meskipun Wong Sarimpat telah kau lukai dengan curang, tetapi ia masih mampu berbuat sesuatu. Mungkin kau dapat mengalahkan kami satu-satu karena kecuranganmu. Tetapi mengalahkan kami berdua, atau mencoba melepaskan diri dari kami berdua adalah sangat mustahil.”
Empu Sada sama sekali tidak menjawab. Tetapi ia memang melihat kesulitan itu. Wong Sarimpat yang lemah itu masih juga dapat berbuat banyak untuk mencegahnya meninggalkan perkelahian. Namun bagaimanapun juga Empu Sada berusaha untuk melakukannya. Sedikit demi sedikit ia menarik perkelahian itu ke sisi dataran gunung gundul yang tidak terlampau lebar. Namun setiap kali kedua laki-laki liar kakak beradik itu, selalu berusaha mendesaknya kembali ke tengah.
Semakin dalam malam memeluk permukaan bukit gundul itu, perkelahian mereka menjadi semakin sengit. Wong Sarimpat yang dibakar oleh kemarahannya, ternyata mampu melupakan lukanya pada saat-saat tertentu, meskipun sekali-sekali ia terpaksa menyingkir untuk sesaat, memperbaiki keadaannya dan mengatur pernafasannya.
Tetapi keadaan Empu Sadalah yang semakin lama menjadi semakin sulit. Kebo Sindet dan Wong Sarimpat berusaha dengan sekuat tenaga untuk membinasakan Empu tua itu. Orang itu akan dapat mengganggu usahanya. Rencananya tentang Mahisa Agni telah matang di dalam kepala Kebo Sindet, seperti yang ditebak oleh Empu Sada. Karena itu maka Empu Sada harus tidak ada lagi, supaya rencananya dapat berlangsung. Tetapi sudah tentu bahwa Empu Sada tidak akan menjerahkan kepadanya, sehingga bagaimanapun juga, dengan segenap kekuatan dan kemampuan yang ada orang tua itu berjuang untuk mempertahankan hidupnya.
Namun jumlah kekuatan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat yang luka itu, ternyata masih lebih besar dari kekuatan Empu Sada, sehingga sekali terasa serangan-serangan kedua orang itu hampir-hampir dapat mencapai maksudnya. Bahkan sekali-sekali terasa pada pakaian Empu Sada, sentuhan-sentuhan ujung-ujung golok Kebo Sindet atau Wong Sarimpat.
“Setan belang!” orang tua itu mengumpat di dalam hati. Ia kini benar-benar sedang berusaha untuk melepaskan dirinya.
Namun ternyata bahwa serangan-serangan kedua lawannya semakin lama menjadi semakin garang. Batu-batu padas di bukit gundul itu benar-benar tidak menyenangkan bagi kaki Empu Sada. Bahkan terasa beberapa kali kakinya terantuk oleh ujung-ujung padas yang menjorok. Tetapi bagi Kebo Sindet dan Wong Sarimpat tanah itu merupakan tanah tempat mereka bermain setiap hari sehingga ujung-ujung batu yang runcing tajam sama sekali tidak mempengaruhinya.
Ketika Empu Sada sekali lagi mencoba meloncat surut, maka tanpa disangka-sangkanya kakinya tergores oleh sebuah ujung batu padas sehingga sesaat ia terhuyung-huyung. Namun dengan tangkasnya ia meloncat dan memperbaiki keseimbangannya. Tetapi yang sesaat itu benar-benar dapat dipergunakan oleh Kebo Sindet. Dengan garangnya ia meloncat menjulurkan senjatanya lurus-lurus ke dada lawannya. Tetapi sekali ini Empu Sada masih mampu menghindarinya. Dengan lincahnya ia mengelak ke samping sambil merendahkan diri. Namun sayang, bahwa Wong Sarimpat dengan mengerahkan segenap sisa-sisa tenaganya masih mampu menyusulnya. Sebuah ayunan yang keras mengarah ke lambung Empu Sada.
Orang tua itu terkejut. Tak ada jalan lain daripada menjatuhkan dirinya. Dengan demikian maka dengan serta-merta ia menjatuhkan diri dan berguling beberapa kali. Terasa ujung-ujung batu padas telah melukai kulitnya. Namun sama sekali tidak dihiraukannya. Yang mengejutkannya pula adalah, ketika ia melenting berdiri, Kebo Sindet telah siap menyerangnya dengan sebuah tebasan langsung ke lehernya.
Empu Sada tidak dapat menghindarkan dirinya. Yang dapat dilakukan adalah melawan serangan itu dengan tongkatnya. Tetapi ia tidak dapat menangkis tajam golok lawannya dengan tongkatnya. Untunglah bahwa tongkat orang tua itu cukup panjang, sehingga dengan serta-merta dijulurkannya tongkatnya mengarah ke pergelangan tangan Kebo Sindet.
Terjadilah sebuah benturan yang dahsyat. Benturan yang tidak langsung di antara kedua senjata mereka. Ujung tongkat Empu Sada ternyata berhasil mengenai pergelangan tangan Kebo Sindet yang sedang terayun dengan derasnya. Terdengar Kebo Sindet berteriak pendek. Tulang pergelangannya terdengar gemeretak seakan-akan terpatahkan. Goloknya yang terayun itu pun terlepas dari genggamannya. Namun karena itu, karena golok yang terlepas itu, maka Empu Sada pun tidak dapat menghindarkan dirinya lagi. Golok itu dengan cepat menyambarnya. Untunglah bahwa sambaran golok itu tidak tepat mengenai lehernya. Tetapi terasa sebuah goresan yang pedih menyilang dadanya, sehingga orang tua itu pun terdorong beberapa langkah surut dan kemudian jatuh terguling di tanah.
Tetapi Kebo Sindet tidak dapat segera mengejarnya. Tangannya yang terkena tongkat Empu Sada itu benar-benar telah melumpuhkan segenap kemampuannya. Sambil berdesis menahan sakit ia berjongkok dan mencoba menahan sakit itu dengan tangannya yang lain. Tetapi lengannya yang lain pun telah terluka.
“Gila!” geramnya.
Hampir-hampir ia berteriak kepada Wong Sarimpat supaya ia berbuat sesuatu atas Empu Sada. Tetapi dilihatnya kemudian, Wong Sarimpat itu sedang terbatuk-batuk sambil menekan dadanya. Ternyata setelah ia memeras tenaganya pada saat-saat terakhir, menyerang Empu Sada dengan sisa-sisa kemampuannya yang berlebih-lebihan, terasa dadanya seakan-akan meledak. Betapa sakitnya.
Kebo Sindet yang sudah bertekad untuk membunuh Empu Sada itu tidak dapat berdiam diri. Betapa perasaan nyeri membakar segenap tubuhnya, namun dengan kemampuan yang menyala-nyala ia berusaha untuk melupakan perasaan sakitnya. Dengan gigi terkatup rapat-rapat ia berdiri. Tangan kirinya yang terluka pada lengannya, masih memegangi pergelangan tangan kanannya yang retak. Tetapi Empu Sada pun telah terluka. Dengan geramnya Kebo Sindet berkata,
“Aku masih mempunyai sepasang kaki yang utuh. Aku akan membunuhmu dengan kakiku.”
Namun Empu Sada itu pun tidak pingsan. Ia masih tetap sadar betapapun pedih luka di dadanya. Ia masih juga melihat samar-samar di dalam cahaya obor yang hampir padam, Kebo Sindet datang mendekatinya. Tetapi untuk melawan, agaknya Empu Sada sudah tidak mungkin lagi. Karena itu, maka satu-satunya cara untuk menyelamatkan diri adalah pergi meninggalkan kedua lawannya. Meskipun tulang-tulang tua di dalam tubuh Empu Sada itu serasa telah habis dilolosi, namun ia masih mampu merangkak agak cepat menjauhi bayangan Kebo Sindet yang samar-samar maju setapak demi setapak.
“He, kau akan lari Empu tua?” geram Kebo Sindet.
Empu Sada tidak menjawab. Tertatih-tatih ia mencoba berdiri, untuk melarikan diri. Tetapi tubuhnya serasa seratus kali lebih berat dari tubuhnya yang biasa. Karena itu kembali Empu Sada itu merangkak secepat ia dapat menghindarkan diri dari tangan Kebo Sindet yang telah dilukainya.
Kebo Sindet menggeram sambil menggeretakkan giginya. Kini ia benar-benar menahan segenap rasa sakitnya. Ia harus dapat menangkap Empu Sada. Keadaan telah terlanjur menjadi sangat buruk, sehingga apabila orang itu terlepas dari tangannya, maka rencananya pasti akan terancam, meskipun belum tentu Empu Sada segera berani menghubungi Mahisa Agni apalagi Tunggul Ametung karena pertentangan mereka di saat-saat yang lampau. Belum pasti pula Mahisa Agni atau Tunggul Ametung mempercayainya, seandainya Empu tua itu mencoba mengatakan apa yang sebenarnya telah terjadi. Namun meskipun demikian, maka sudah tentu Mahisa Agni akan menjadi lebih berhati-hati. Orang-orang yang dapat menjadi pelindungnya pun akan semakin ketat mengawasinya.
Tetapi seperti juga Kebo Sindet, Empu Sada telah mencoba memeras segenap sisa-sisa kekuatannya untuk hidup. Apabila ia tetap hidup, maka ia akan dapat membuat perhitungan di saat-saat yang akan datang dengan kedua orang itu. Tetapi kalau ia gagal mempertahankan hidupnya, maka ia akan menjadi kerangka di bukit gundul ini. Dagingnya pasti akan habis dikoyak-koyak oleh anjing-anjing liar.
Karena itu, betapapun ia tetap berusaha untuk merangkak pergi. Sekali-kali ia mencoba berdiri bersandar pada tongkatnya dan berjalan tertatih-tatih. Namun kembali ia harus merangkak karena luka di dadanya. Luka karena goresan pedang pada kulit dan daging dadanya. Luka yang berbeda dengan luka yang diderita oleh Wong Sarimpat. Meskipun akibatnya hampir bersamaan. Namun dari luka Empu Sada itu darah mengalir tak henti-hentinya. Meskipun orang tua itu mencoba sekali-kali menahannya dengan kainnya. Ditambah pula rasa sakit pada telinganya.
Ketika sekali ia berpaling, dilihatnya Kebo Sindet telah menjadi semakin dekat. Dan bahkan ia mendengar orang liar itu berdesis dalam nada yang berat parau “He, kemanakah kau akan lari Empu tua? Jangan membuang tenaga di saat-saat menjelang mati. Tenangkan hatimu, supaya nyawamu tidak tersendat-sendat di ujung ubun-ubunmu.”
Kebo Sindet itu sudah semakin dekat. Beberapa langkah lagi orang itu akan dapat mencapainya. Tetapi seperti Kebo Sindet dan Wong Sarimpat, Empu Sada bukan orang yang mudah menyerah pada keadaan. Ketika ia melihat Kebo Sindet menggeram dan meloncat menerkamnya, maka Empu Sada itu pun seakan-akan telah dapat melupakan perasaan sakitnya. Dengan serta-merta orang tua yang terluka itu tegak berdiri. Disambutnya serangan Kebo Sindet dengan ayunan tongkatnya.
Kebo Sindet tidak menyangka bahwa Empu Sada mampu berbuat demikian. Karena itu, selagi ia meluncur dengan derasnya, menyerang Empu yang terluka itu dengan kakinya, ia tidak dapat lagi menghindari tongkat itu. Sekali lagi terjadi benturan di antara mereka. Kaki Kebo Sindet benar-benar telah mengenai sasarannya, menghantam lambung Empu Sada. Tetapi Kebo Sindet pun kemudian terpelanting jatuh, karena tongkat Empu Sada telah menghantam pelipisnya. Namun untunglah bahwa kekuatan Empu Sada tidaklah sepenuh kekuatannya, sehingga pelipis Kebo Sindet tidak menjadi retak karenanya. Tetapi Empu Sada yang lemah itu ternyata terdorong tidak saja satu dua langkah. Beberapa langkah ia terlempar surut dan bahkan kemudian jatuh terguling.
Empu Sada yang terluka itu sama sekali tidak mampu menahan dirinya ketika tiba-tiba terasa, seakan-akan tanah tempat ia terguling itu runtuh. Terasa olehnya seakan-akan ia terlempar ke tempat yang tidak diketahuinya. Betapa derasnya ia meluncur. Barulah kemudian ia menyadari bahwa ia telah terguling ke dalam jurang. Barulah kemudian ia merasa, bahwa ia telah tergores-gores oleh batu-batu padat di lereng bukit gundul itu. Namun beberapa saat kemudian, terasa tubuh itu tersentuh dedaunan dan kemudian ranting-ranting perdu. Dengan demikian maka laju tubuh orang tua itu menjadi berkurang. Di lereng bagian bawah dari bukit gundul itu terdapat berbagai tumbuh-tumbuhan yang dapat menahan tubuh itu sehingga tidak terbanting pada batu-batu padas yang menjorok tajam.
Empu Sada itu masih tetap menyadari keadaannya. Tongkatnya masih belum terpisah dari tangannya, sedang tangannya yang lain berusaha untuk mencapai apa saja yang dapat memperlambat tubuhnya. Namun meskipun demikian, ketika terasa seakan-akan tubuhnya itu membentur sesuatu, pandangan mata orang tua itu menjadi berkunang-kunang. Sekejap ia kehilangan kesadaran. Yang dilihatnya seolah-olah seluruh bintang gemintang di langit meluncur menimpa dadanya. Kemudian gelap pekat.
Di atas bukit gundul itu Wong Sarimpat berjalan terbungkuk-bungkuk ke arah sesosok tubuh yang terbaring diam. Ternyata Kebo Sindet yang tertimpa tongkat pada pelipisnya itu pun menjadi pingsan. Betapa perasaan sakit telah melenyapkan segenap kesadarannya. Perasaan sakit pada pelipisnya itu dan perasaan sakit pada kedua belah tangannya yang tertimpa tubuhnya sendiri ketika ia terpelanting jatuh.
“Empu gila!” Wong Sarimpat mengumpat-umpat.
Sambil terbatuk-batuk ia meraba-raba tubuh kakaknya. Ia tahu bahwa kakaknya hanya sekedar pingsan. Karena itu kemudian dibiarkannya saja tubuh itu terbaring diam. Wong Sarimpat itu yakin, bahwa kakaknya itu pasti akan sadar dengan sendirinya. Tetapi bagaimana dengan Empu Sada yang terlempar ke dalam jurang itu?
“Orang itu sudah terluka. Ia pasti akan mampus terbanting di atas batu-batu padas,” gumamnya seorang diri. Ketika ia melihat Kuda Sempana maka sekali lagi ia menggeram, “Hem, buat apa Kakang Kebo Sindet memelihara tikus pengecut itu?”
“He,” teriaknya kemudian “Kuda Sempana, apakah kau sudah mampus pula?”
Kuda Sempana mendengar suara itu. Tetapi tubuhnya yang lemah masih saja belum dapat diajaknya berdiri, meskipun kini telah mulai terasa dijalari oleh beberapa bagian dari kekuatannya kembali. Namun Kuda Sempana itu menjadi heran pula. Kenapa ia tidak saja dibunuh seperti Cundaka atau seperti gurunya. Kenapa ia masih saja dibiarkan hidup?
Wong Sarimpat yang. masih ingin melepaskan kemarahannya itu pun berteriak-teriak “He, Kuda Sempana. Kenapa kau tidak mampus saja sama sekali? Sayang Kakang Kebo Sindet masih membiarkan kau hidup. Meskipun aku tidak tahu apa gunanya lagi kau hidup, tetapi aku tidak berani melanggar keinginan Kakang Kebo Sindet, dan kau boleh bersenang hati karenanya.”
Kuda Sempana masih belum menjawab teriakan-teriakan itu. Badannya masih sangat lemah, dan ia sama sekali tidak bernafsu berteriak seperti Wong Sarimpat. Ketika Wong Sarimpat itu merasa dadanya seperti tertusuk jarum karena ia berteriak-teriak maka ia pun berhenti. Kini ditekuninya kakaknya yang masih terbaring diam. Perlahan-lahan ia mencoba menggoyangkan tubuh itu. Mengangkat tangannya dan menggerakkannya dengan hati-hati. Lambat laun Kebo Sindet pun mulai menggerakkan tubuhnya. Perlahan-lahan ia menarik nafas, kemudian menggerakkan ujung-ujung kakinya.
“Kakang,” panggil Wong Sarimpat.
Lamat-lamat Kebo Sindet mendengar panggilan itu. Perlahan-lahan ingatannya pun bangkit kembali merayapi otaknya. Diingatnya peristiwa demi peristiwa yang terjadi. Yang terakhir dari peristiwa itu adalah pukulan tongkat yang mengenai pelipisnya, sementara kakinya menghantam tubuh orang tua itu. Tiba-tiba Kebo Sindet itu pun menggeram. Dengan serta-merta ia mencoba bangkit. Tetapi terasa betapa kepalanya masih sangat pening dan gunung gundul itu serasa berputar. Tubuhnya serasa berada pada poros pusaran itu.
Kebo Sindet memegangi kepalanya yang pening dan sakit. Tetapi ia telah memiliki segenap kesadarannya kembali. Karena itu maka kemudian ia berkata parau “He, di mana Empu Sada?”
Wong Sarimpat mencoba menolong kakaknya. Tetapi dadanya sendiri terasa sakit bukan buatan. Dengan tegasnya ia menjawab, “Empu itu terlempar ke dalam jurang.”
“He? Orang itu terlempar ke dalam jurang?” ulang Kebo Sindet.
“Ya.”
“Orang itu harus kita cari. Kita harus yakin bahwa ia telah mati.”
“Kenapa Kakang masih ragu-ragu. Dadanya terluka karena goresan golok Kakang. Tubuhnya terlempar karena tendangan Kakang yang keras, kemudian terbanting ke atas batu-batu padas. Apakah masih mungkin seseorang dapat hidup mengalami hal itu semuanya? Meskipun seandainya Empu Sada itu empu yang turun dari langit sekalipun, namun ia pasti hancur.”
“Aku ingin melihat mayat dengan mata kepalaku sendiri.”
“Kakang terluka. Sepasang tangan Kakang dan agaknya pelipis Kakang telah menyebabkan Kakang tidak sadar lagi.”
“Persetan! Aku sudah baik,” sambil menggeretakkan giginya Kebo Sindet berusaha untuk berdiri.
Alangkah besar tekad yang membakar jantungnya, sehingga betapapun juga ia masih mampu berdiri tegak. Kebo Sindet menengadahkan wajahnya yang beku. Dan wajah yang beku itu kini tampak menjadi semakin mengerikan. Lewat matanya memancarlah perasaannya yang meluap-luap. Kebencian, kemarahan dan nafsu untuk membinasakan Empu Sada itu. Apalagi kini, ia sudah terlanjur memulainya.
“Kita akan turun dan mencari orang itu,” desis Kebo Sindet.
Wong Sarimpat kenal betul tabiat kakaknya. Karena itu ia tidak menyahut. Ia tahu betul bahwa ia akan turut serta turun lereng gunung gundul itu untuk mencari Empu Sada. Betapa sakit dadanya, tetapi ia harus berbuat seperti kakaknya.
“Bagaimana dengan Kuda Sempana?” bertanya Kebo Sindet.
“Itu,” jawab adiknya sambil menunjuk ke arah Kuda Sempana, “aku beri tekanan pada urat lehernya, sehingga ia kehilangan kekuatannya. Tetapi agaknya ia telah mulai di jalari oleh kekuatannya kembali.”
“Jangan biarkan ia pergi. Biarlah ia beristirahat di sini sebentar. Kita akan pergi. Mudah-mudahan cahaya obor itu akan membantunya, menjauhkan dari anjing-anjing liar.”
“Baik Kakang,” sahut Wong Sarimpat.
Perlahan-lahan ia berjalan terbungkuk-bungkuk mendekati Kuda Sempana. Dengan kakinya ia melemparkan obor yang satu ke arah yang lain, sehingga kedua obor yang telah mulai redup itu menjadi agak besar kembali, setelah bergabung menjadi satu. Kemudian setapak demi setapak ia mendekati Kuda Sempana. Terdengar orang itu menggeram mengerikan,
“Kuda Sempana. Kakang Kebo Sindet menghendaki kau tetap di sini. Karena itu aku akan menolongmu supaya kau dapat beristirahat dan tidak pergi meninggalkan tempat ini.”
Sebelum Kuda Sempana menyahut, terasa telapak tangan orang itu pada lehernya. Betapapun ia berusaha melawan, namun ia tidak mampu menahan ketika terasa jari-jari orang itu sekali lagi menekan tengkuk. Kuda Sempana berdesis pendek. Kekuatannya yang telah mulai terasa merambat di urat-urat nadinya, kembali kini seolah-olah terhisap habis. Kembali ia menjadi lemah dan terbaring diam di atas bukit gundul itu.
“Gila!” ia mengumpat dalam hati.
Terasa tubuhnya seperti tidak bertulang. Ia hanya mampu menggerakkan tangan dan kakinya dengan mengerahkan segenap sisa-sisa yang ada bergerak sekedar bergerak. Namun tangan dan kakinya sudah tidak mampu lagi berbuat sesuai dengan tugas anggota-anggota badan itu.
“Sudah Kakang,” berkata Wong Sarimpat kemudian.
“Bagus, marilah kita cari orang tua itu. Biarlah ia mampus, dan aku ingin melihat bangkainya dan melemparkannya kepada anjing-anjing liar.”
Wong Sarimpat berjalan kembali mendekati kakaknya. Kemudian mereka berjalan perlahan-lahan mencari jalan yang dapat dilaluinya untuk menuruni lereng bukit gundul itu. Tetapi Kebo Sindet selalu mengumpat-umpat. Agak lama mereka berjalan menyusuri pinggiran bukit, tetapi mereka tidak segera menemukan tempat yang memungkinkan mereka merayap turun.
“Gila!” Kebo Sindet menggeram “Bagaimana kita turun Wong Sarimpat?”
Wong Sarimpat tidak segera menjawab. Dicobanya untuk memandang ke arah yang agak jauh. Tetapi malam menjadi semakin pekat dan cahaya obor mereka di dekat Kuda Sempana terbaring tidak dapat mencapai tempat-tempat yang dicarinya.
“Seandainya Empu yang gila itu tidak berbuat curang,” gerutu Wong Sarimpat.
“Kenapa? “ bertanya kakaknya.
“Kalau kita tidak terluka, maka kita akan dapat terjun di setiap tempat. Di sini pun dapat kita lakukan.”
“Jangan mengigau. Keadaan ini telah kita alami. Sekarang bagaimana kita mengatasinya.”
Wong Sarimpat tidak menjawab. Tetapi matanya masih dengan nanar mencoba mencari lereng yang agak landai.
“Apabila terpaksa kita melingkar, lewat jalan pendakian yang biasa,” gumam Kebo Sindet,
“Terlampau jauh.”
“Habis, apa yang dapat kita lakukan?”
Kembali Wong Sarimpat terdiam. Tetapi hatinya masih saja mengumpat-umpat. Seandainya mereka tidak terluka, maka mereka tidak perlu bingung tentang jalan turun. Tetapi seperti kata kakaknya. Luka itu kini sudah mereka derita, sehingga mereka tidak dapat melangkah surut. Kedua orang itu berjalan kembali tertatih-tatih di atas bukit-bukit gundul itu. Kebo Sindet tidak dapat mundur. Ia harus turun dan menemukan Empu Sada. Hidup atau mati. Kalau orang tua itu masih hidup, maka hidup itu harus segera diakhiri.
Dalam pada itu, di bawah bukit gundul itu telentang seorang tua yang sudah menjadi sangat lemah. Empu Sada yang pingsan itu terperosok ke dalam semak-semak yang rimbun. Ketika angin malam yang sejuk perlahan-lahan mengusap wajahnya, maka terasa udara yang segar menjalar di segenap urat-uratnya. Perlahan-lahan orang tua itu menjadi sadar kembali. Yang pertama-tama dirasakannya adalah nyeri yang menyengat-nyengat dadanya.
“Hem,” orang tua itu mengeluh.
Tetapi segera ia menyadari keadaannya. Karena itu, maka segera dipusatkannya segenap kekuatan lahir dan batinnya. Namun darah telah terlampau banyak mengalir, sehingga tubuh yang tua itu terasa menjadi betapa lemahnya. Tetapi Empu Sada adalah seorang yang telah banyak menelan pengalaman yang pahit dan yang manis. Itulah sebabnya maka dalam perjalanannya kali ini orang tua itu sudah membawa bekal yang cukup. Sejak ia berangkat dari rumahnya mencegat perjalanan Ken Dedes, ia telah memperhitungkan apa saja yang dapat terjadi atas dirinya. Di antaranya luka seperti yang dialaminya saat itu. Karena itu, maka Empu Sada itu pun telah membawa reramuan obat di dalam kantong ikat pinggangnya yang lebar dan terbuat dari kulit kerbau.
Dengan tangan yang lemah orang tua itu mencoba mengambil reramuan obatnya. Dan dengan tangan sendiri yang lemah itu, maka ditaburkannya obat itu pada luka dadanya. Obat itu pun adalah obat yang dibuatnya sendiri berdasarkan pengalamannya yang masak, sehingga obat itu pun dapat dipercayanya, setidak-tidaknya menahan arus darah yang masih saja mengalir. Ternyata taburan obat itu menolongnya. Perlahan-lahan darah di lukanya itu mengental, dan menyumbat alirannya. Namun tubuh Empu Sada sudah terlampau lemah.
Orang tua itu menggeram. Tubuhnya sendiri terluka. Dan ia kehilangan kedua muridnya. Ia tidak pernah menduga, bahwa hatinya menjadi pedih juga atas hilangnya kedua muridnya itu. Ia mencoba mengembalikan pikirannya kepada masa lampaunya. Bagaimana ia menerima kedua anak-anak muda itu menjadi muridnya.
“Ah, bukankah aku akan dapat mencari yang lain dengan mudah. Bukankah kedua orang itu pada saat-saat terakhir juga tidak memberi aku upah seperti masa-masa lalu? Persetan dengan keduanya. Mereka bukan sanak bukan kadang. Aku menemukan mereka dalam pengembaraan hidupku. Dan kini biarlah mereka meninggalkan aku di tengah jalan.”
Tetapi ia tidak berhasil mengusir kata-kata hatinya sendiri. Bahkan kemudian ia bergumam “Kasihan anak-anak itu.”
Ketika di kejauhan terdengar anjing-anjing liar menyalak tak henti-hentinya, maka hati orang tua itu pun menjadi berdebar-debar. Ia tidak dapat berbaring terus di semak-semak itu. Ada bermacam-macam bahaya yang dapat mengancamnya. Anjing-anjing liar itu dan orang-orang yang seliar anjing itu pula.
“Aku harus membuat sesuatu kalau aku ingin hidup terus,” gumamnya.
Empu Sada pun menarik nafas. Dicobanya untuk menenangkan debar jantungnya. Ketika sekali lagi ia mendengar anjing-anjing menyalak di kejauhan, maka dicobanya pula untuk bangkit dengan perlahan-lahan.
Orang tua itu menyeringai menahan sakit. Tetapi betapa lemah tubuhnya, namun kemauannya yang menjala di dalam dadanya telah menghangatkan darahnya. Perlahan-lahan orang tua itu berdiri bersandar pada tongkatnya. Sambil memusatkan segenap kekuatannya, serta menyesuaikan jalan pernafasannya, maka Empu Sada itu pun mendapatkan sebagian kecil dari kekuatannya kembali. Namun dengan kekuatan yang kecil dibantu oleh tongkatnya, Empu yang tua itu berhasil menggerakkan kakinya.
Empu Sada tidak tahu benar, apakah yang telah terjadi dengan Kebo Sindet. Ia merasa, bahwa tongkatnya berhasil mengenai orang itu. Tetapi akibat daripadanya, Empu Sada tidak dapat mengetahuinya. Karena itu maka sekarang ia harus memperhitungkan setiap kemungkinan. Kalau Kebo Sindet tidak mengalami cedera, maka ia bersama adiknya yang meskipun telah terluka, pasti akan mencarinya. Dalam keadaannya, mustahillah ia dapat menyelamatkan diri dari kejaran kedua orang-orang liar itu.
Dengan demikian, berdasarkan atas perhitungannya, Empu Sada segera meninggalkan tempat itu. Ia berjalan saja ke arah yang tidak diketahuinya, namun segera menjauhi bukit gundul itu. Tertatih-tatih orang tua itu berjalan. Sekali-kali ia masih harus beristirahat mengatur pernafasannya. Kadang-kadang matanya terasa seakan-akan menjadi gelap dan pandangannya menjadi kekuning-kuningan. Namun ia tidak mau mati. Ia harus berjuang untuk menyelamatkan dirinya. Kemauan yang kuat itulah yang telah membawanya meninggalkan tempat yang celaka itu.
Di kejauhan masih terdengar anjing-anjing liar menggonggong dan menyalak bersahut-sahutan. Anjing-anjing itu akan sama berbahayanya dengan kedua orang-orang liar yang memuakkan itu.
“Kau akan mati pula!” geram Empu Sada.
Tetapi Kebo Sindet menjawab, “Tidak. Kami menyimpan obat-obatan yang dapat menyembuhkannya dalam waktu singkat. Sayang obat-obatan itu tidak kami bawa. Tetapi ia tidak akan mati. Besok ia telah sanggup bertempur melawanmu seorang diri seandainya kau masih hidup. Tetapi sayang pula, bahwa kau akan mati malam ini seperti muridmu yang sombong. Sedang muridmu yang baik itu, biarlah aku mencoba merawatnya. Menjadikannya seorang jantan yang tidak akan dapat kau kalahkan seandainya kau sempat bertemu lagi.”
Empu Sada tidak menjawab. Ia melihat kesempatan untuk mencoba menjatuhkan Kebo Sindet, selagi Wong Sarimpat sedang dicengkam oleh perasaan sakit. Dengan mengerahkan segenap kemampuannya ia menyerang seperti seekor burung elang di udara. Menyambar dengan tongkatnya, tangannya dan kakinya. Namun Kebo Sindet masih mampu untuk menghindarkan dirinya dari setiap serangan yang betapapun berbahayanya.
Perlahan-lahan Wong Sarimpat mulai dapat mengatasi perasaan sakitnya kembali. Perlahan-lahan pula ia mencoba berdiri. Dengan mata yang menyala ia memandangi Empu Sada yang sedang bertempur dengan kakaknya. Kemudian terdengar ia menggeram,
“Tinggal kau sekarang Empu tua. Ayo, menyerahlah supaya kemarahan kami tidak menyebabkan kami membunuhmu dengan cara yang tidak menyenangkan.”
Empu Sada masih berdiam diri. Bahkan serangannya menjadi semakin kuat. Namun ia bergumam di dalam hatinya, “Setan manakah yang telah bersembunyi di dalam tubuh Wong Sarimpat itu? Meskipun ia sudah hampir mampus, namun ia masih juga kuat untuk berdiri dan bahkan bertempur meskipun ia telah memeras tenaganya melampaui kemampuannya yang sewajarnya.”
Dan Empu Sada itu menjadi semakin geram, ketika ia melihat Wong Sarimpat berjalan tertatih-tatih ke arah mereka yang sedang bertempur mati-matian itu. Kini goloknya, yang mirip dengan golok kakaknya telah digenggamnya pula. Meskipun nafasnya tersendat-sendat namun nampaknya orang itu masih garang juga.
Sekali lagi Empu Sada membuat perhitungan. Ia juga tidak akan mampu mengalahkan keduanya dalam keadaan serupa itu. Ternyata kekuatan tubuh Wong Sarimpat benar-benar berada di luar dugaannya. Dalam keadaan serupa itu, ia masih juga mampu mengganggu perkelahiannya dengan Kebo Sindet. Karena itu, maka tidak ada jalan lain baginya daripada menghindarkan diri dari perkelahian itu. Kalau ia berhasil maka ia masih mempunyai kemungkinan untuk berusaha membebaskan Kuda Sempana. Menurut perhitungan Empu Sada kemudian, Kuda Sempana memang tidak akan dibunuh, sebab kedua orang itu masih memerlukannya. Mereka mengharap Kuda Sempana memberinya beberapa petunjuk tentang Mahisa Agni, Ken Dedes dan Tunggul Ametung.
Tetapi Kebo Sindet dan Wong Sarimpat pun telah dapat menebak pula maksud Empu Sada itu. Karena itu maka terdengar Kebo Sindet menggeram “Jangan mimpi kau berhasil melepaskan diri Empu. Meskipun Wong Sarimpat telah kau lukai dengan curang, tetapi ia masih mampu berbuat sesuatu. Mungkin kau dapat mengalahkan kami satu-satu karena kecuranganmu. Tetapi mengalahkan kami berdua, atau mencoba melepaskan diri dari kami berdua adalah sangat mustahil.”
Empu Sada sama sekali tidak menjawab. Tetapi ia memang melihat kesulitan itu. Wong Sarimpat yang lemah itu masih juga dapat berbuat banyak untuk mencegahnya meninggalkan perkelahian. Namun bagaimanapun juga Empu Sada berusaha untuk melakukannya. Sedikit demi sedikit ia menarik perkelahian itu ke sisi dataran gunung gundul yang tidak terlampau lebar. Namun setiap kali kedua laki-laki liar kakak beradik itu, selalu berusaha mendesaknya kembali ke tengah.
Semakin dalam malam memeluk permukaan bukit gundul itu, perkelahian mereka menjadi semakin sengit. Wong Sarimpat yang dibakar oleh kemarahannya, ternyata mampu melupakan lukanya pada saat-saat tertentu, meskipun sekali-sekali ia terpaksa menyingkir untuk sesaat, memperbaiki keadaannya dan mengatur pernafasannya.
Tetapi keadaan Empu Sadalah yang semakin lama menjadi semakin sulit. Kebo Sindet dan Wong Sarimpat berusaha dengan sekuat tenaga untuk membinasakan Empu tua itu. Orang itu akan dapat mengganggu usahanya. Rencananya tentang Mahisa Agni telah matang di dalam kepala Kebo Sindet, seperti yang ditebak oleh Empu Sada. Karena itu maka Empu Sada harus tidak ada lagi, supaya rencananya dapat berlangsung. Tetapi sudah tentu bahwa Empu Sada tidak akan menjerahkan kepadanya, sehingga bagaimanapun juga, dengan segenap kekuatan dan kemampuan yang ada orang tua itu berjuang untuk mempertahankan hidupnya.
Namun jumlah kekuatan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat yang luka itu, ternyata masih lebih besar dari kekuatan Empu Sada, sehingga sekali terasa serangan-serangan kedua orang itu hampir-hampir dapat mencapai maksudnya. Bahkan sekali-sekali terasa pada pakaian Empu Sada, sentuhan-sentuhan ujung-ujung golok Kebo Sindet atau Wong Sarimpat.
“Setan belang!” orang tua itu mengumpat di dalam hati. Ia kini benar-benar sedang berusaha untuk melepaskan dirinya.
Namun ternyata bahwa serangan-serangan kedua lawannya semakin lama menjadi semakin garang. Batu-batu padas di bukit gundul itu benar-benar tidak menyenangkan bagi kaki Empu Sada. Bahkan terasa beberapa kali kakinya terantuk oleh ujung-ujung padas yang menjorok. Tetapi bagi Kebo Sindet dan Wong Sarimpat tanah itu merupakan tanah tempat mereka bermain setiap hari sehingga ujung-ujung batu yang runcing tajam sama sekali tidak mempengaruhinya.
Ketika Empu Sada sekali lagi mencoba meloncat surut, maka tanpa disangka-sangkanya kakinya tergores oleh sebuah ujung batu padas sehingga sesaat ia terhuyung-huyung. Namun dengan tangkasnya ia meloncat dan memperbaiki keseimbangannya. Tetapi yang sesaat itu benar-benar dapat dipergunakan oleh Kebo Sindet. Dengan garangnya ia meloncat menjulurkan senjatanya lurus-lurus ke dada lawannya. Tetapi sekali ini Empu Sada masih mampu menghindarinya. Dengan lincahnya ia mengelak ke samping sambil merendahkan diri. Namun sayang, bahwa Wong Sarimpat dengan mengerahkan segenap sisa-sisa tenaganya masih mampu menyusulnya. Sebuah ayunan yang keras mengarah ke lambung Empu Sada.
Orang tua itu terkejut. Tak ada jalan lain daripada menjatuhkan dirinya. Dengan demikian maka dengan serta-merta ia menjatuhkan diri dan berguling beberapa kali. Terasa ujung-ujung batu padas telah melukai kulitnya. Namun sama sekali tidak dihiraukannya. Yang mengejutkannya pula adalah, ketika ia melenting berdiri, Kebo Sindet telah siap menyerangnya dengan sebuah tebasan langsung ke lehernya.
Empu Sada tidak dapat menghindarkan dirinya. Yang dapat dilakukan adalah melawan serangan itu dengan tongkatnya. Tetapi ia tidak dapat menangkis tajam golok lawannya dengan tongkatnya. Untunglah bahwa tongkat orang tua itu cukup panjang, sehingga dengan serta-merta dijulurkannya tongkatnya mengarah ke pergelangan tangan Kebo Sindet.
Terjadilah sebuah benturan yang dahsyat. Benturan yang tidak langsung di antara kedua senjata mereka. Ujung tongkat Empu Sada ternyata berhasil mengenai pergelangan tangan Kebo Sindet yang sedang terayun dengan derasnya. Terdengar Kebo Sindet berteriak pendek. Tulang pergelangannya terdengar gemeretak seakan-akan terpatahkan. Goloknya yang terayun itu pun terlepas dari genggamannya. Namun karena itu, karena golok yang terlepas itu, maka Empu Sada pun tidak dapat menghindarkan dirinya lagi. Golok itu dengan cepat menyambarnya. Untunglah bahwa sambaran golok itu tidak tepat mengenai lehernya. Tetapi terasa sebuah goresan yang pedih menyilang dadanya, sehingga orang tua itu pun terdorong beberapa langkah surut dan kemudian jatuh terguling di tanah.
Tetapi Kebo Sindet tidak dapat segera mengejarnya. Tangannya yang terkena tongkat Empu Sada itu benar-benar telah melumpuhkan segenap kemampuannya. Sambil berdesis menahan sakit ia berjongkok dan mencoba menahan sakit itu dengan tangannya yang lain. Tetapi lengannya yang lain pun telah terluka.
“Gila!” geramnya.
Hampir-hampir ia berteriak kepada Wong Sarimpat supaya ia berbuat sesuatu atas Empu Sada. Tetapi dilihatnya kemudian, Wong Sarimpat itu sedang terbatuk-batuk sambil menekan dadanya. Ternyata setelah ia memeras tenaganya pada saat-saat terakhir, menyerang Empu Sada dengan sisa-sisa kemampuannya yang berlebih-lebihan, terasa dadanya seakan-akan meledak. Betapa sakitnya.
Kebo Sindet yang sudah bertekad untuk membunuh Empu Sada itu tidak dapat berdiam diri. Betapa perasaan nyeri membakar segenap tubuhnya, namun dengan kemampuan yang menyala-nyala ia berusaha untuk melupakan perasaan sakitnya. Dengan gigi terkatup rapat-rapat ia berdiri. Tangan kirinya yang terluka pada lengannya, masih memegangi pergelangan tangan kanannya yang retak. Tetapi Empu Sada pun telah terluka. Dengan geramnya Kebo Sindet berkata,
“Aku masih mempunyai sepasang kaki yang utuh. Aku akan membunuhmu dengan kakiku.”
Namun Empu Sada itu pun tidak pingsan. Ia masih tetap sadar betapapun pedih luka di dadanya. Ia masih juga melihat samar-samar di dalam cahaya obor yang hampir padam, Kebo Sindet datang mendekatinya. Tetapi untuk melawan, agaknya Empu Sada sudah tidak mungkin lagi. Karena itu, maka satu-satunya cara untuk menyelamatkan diri adalah pergi meninggalkan kedua lawannya. Meskipun tulang-tulang tua di dalam tubuh Empu Sada itu serasa telah habis dilolosi, namun ia masih mampu merangkak agak cepat menjauhi bayangan Kebo Sindet yang samar-samar maju setapak demi setapak.
“He, kau akan lari Empu tua?” geram Kebo Sindet.
Empu Sada tidak menjawab. Tertatih-tatih ia mencoba berdiri, untuk melarikan diri. Tetapi tubuhnya serasa seratus kali lebih berat dari tubuhnya yang biasa. Karena itu kembali Empu Sada itu merangkak secepat ia dapat menghindarkan diri dari tangan Kebo Sindet yang telah dilukainya.
Kebo Sindet menggeram sambil menggeretakkan giginya. Kini ia benar-benar menahan segenap rasa sakitnya. Ia harus dapat menangkap Empu Sada. Keadaan telah terlanjur menjadi sangat buruk, sehingga apabila orang itu terlepas dari tangannya, maka rencananya pasti akan terancam, meskipun belum tentu Empu Sada segera berani menghubungi Mahisa Agni apalagi Tunggul Ametung karena pertentangan mereka di saat-saat yang lampau. Belum pasti pula Mahisa Agni atau Tunggul Ametung mempercayainya, seandainya Empu tua itu mencoba mengatakan apa yang sebenarnya telah terjadi. Namun meskipun demikian, maka sudah tentu Mahisa Agni akan menjadi lebih berhati-hati. Orang-orang yang dapat menjadi pelindungnya pun akan semakin ketat mengawasinya.
Tetapi seperti juga Kebo Sindet, Empu Sada telah mencoba memeras segenap sisa-sisa kekuatannya untuk hidup. Apabila ia tetap hidup, maka ia akan dapat membuat perhitungan di saat-saat yang akan datang dengan kedua orang itu. Tetapi kalau ia gagal mempertahankan hidupnya, maka ia akan menjadi kerangka di bukit gundul ini. Dagingnya pasti akan habis dikoyak-koyak oleh anjing-anjing liar.
Karena itu, betapapun ia tetap berusaha untuk merangkak pergi. Sekali-kali ia mencoba berdiri bersandar pada tongkatnya dan berjalan tertatih-tatih. Namun kembali ia harus merangkak karena luka di dadanya. Luka karena goresan pedang pada kulit dan daging dadanya. Luka yang berbeda dengan luka yang diderita oleh Wong Sarimpat. Meskipun akibatnya hampir bersamaan. Namun dari luka Empu Sada itu darah mengalir tak henti-hentinya. Meskipun orang tua itu mencoba sekali-kali menahannya dengan kainnya. Ditambah pula rasa sakit pada telinganya.
Ketika sekali ia berpaling, dilihatnya Kebo Sindet telah menjadi semakin dekat. Dan bahkan ia mendengar orang liar itu berdesis dalam nada yang berat parau “He, kemanakah kau akan lari Empu tua? Jangan membuang tenaga di saat-saat menjelang mati. Tenangkan hatimu, supaya nyawamu tidak tersendat-sendat di ujung ubun-ubunmu.”
Kebo Sindet itu sudah semakin dekat. Beberapa langkah lagi orang itu akan dapat mencapainya. Tetapi seperti Kebo Sindet dan Wong Sarimpat, Empu Sada bukan orang yang mudah menyerah pada keadaan. Ketika ia melihat Kebo Sindet menggeram dan meloncat menerkamnya, maka Empu Sada itu pun seakan-akan telah dapat melupakan perasaan sakitnya. Dengan serta-merta orang tua yang terluka itu tegak berdiri. Disambutnya serangan Kebo Sindet dengan ayunan tongkatnya.
Kebo Sindet tidak menyangka bahwa Empu Sada mampu berbuat demikian. Karena itu, selagi ia meluncur dengan derasnya, menyerang Empu yang terluka itu dengan kakinya, ia tidak dapat lagi menghindari tongkat itu. Sekali lagi terjadi benturan di antara mereka. Kaki Kebo Sindet benar-benar telah mengenai sasarannya, menghantam lambung Empu Sada. Tetapi Kebo Sindet pun kemudian terpelanting jatuh, karena tongkat Empu Sada telah menghantam pelipisnya. Namun untunglah bahwa kekuatan Empu Sada tidaklah sepenuh kekuatannya, sehingga pelipis Kebo Sindet tidak menjadi retak karenanya. Tetapi Empu Sada yang lemah itu ternyata terdorong tidak saja satu dua langkah. Beberapa langkah ia terlempar surut dan bahkan kemudian jatuh terguling.
Empu Sada yang terluka itu sama sekali tidak mampu menahan dirinya ketika tiba-tiba terasa, seakan-akan tanah tempat ia terguling itu runtuh. Terasa olehnya seakan-akan ia terlempar ke tempat yang tidak diketahuinya. Betapa derasnya ia meluncur. Barulah kemudian ia menyadari bahwa ia telah terguling ke dalam jurang. Barulah kemudian ia merasa, bahwa ia telah tergores-gores oleh batu-batu padat di lereng bukit gundul itu. Namun beberapa saat kemudian, terasa tubuh itu tersentuh dedaunan dan kemudian ranting-ranting perdu. Dengan demikian maka laju tubuh orang tua itu menjadi berkurang. Di lereng bagian bawah dari bukit gundul itu terdapat berbagai tumbuh-tumbuhan yang dapat menahan tubuh itu sehingga tidak terbanting pada batu-batu padas yang menjorok tajam.
Empu Sada itu masih tetap menyadari keadaannya. Tongkatnya masih belum terpisah dari tangannya, sedang tangannya yang lain berusaha untuk mencapai apa saja yang dapat memperlambat tubuhnya. Namun meskipun demikian, ketika terasa seakan-akan tubuhnya itu membentur sesuatu, pandangan mata orang tua itu menjadi berkunang-kunang. Sekejap ia kehilangan kesadaran. Yang dilihatnya seolah-olah seluruh bintang gemintang di langit meluncur menimpa dadanya. Kemudian gelap pekat.
Di atas bukit gundul itu Wong Sarimpat berjalan terbungkuk-bungkuk ke arah sesosok tubuh yang terbaring diam. Ternyata Kebo Sindet yang tertimpa tongkat pada pelipisnya itu pun menjadi pingsan. Betapa perasaan sakit telah melenyapkan segenap kesadarannya. Perasaan sakit pada pelipisnya itu dan perasaan sakit pada kedua belah tangannya yang tertimpa tubuhnya sendiri ketika ia terpelanting jatuh.
“Empu gila!” Wong Sarimpat mengumpat-umpat.
Sambil terbatuk-batuk ia meraba-raba tubuh kakaknya. Ia tahu bahwa kakaknya hanya sekedar pingsan. Karena itu kemudian dibiarkannya saja tubuh itu terbaring diam. Wong Sarimpat itu yakin, bahwa kakaknya itu pasti akan sadar dengan sendirinya. Tetapi bagaimana dengan Empu Sada yang terlempar ke dalam jurang itu?
“Orang itu sudah terluka. Ia pasti akan mampus terbanting di atas batu-batu padas,” gumamnya seorang diri. Ketika ia melihat Kuda Sempana maka sekali lagi ia menggeram, “Hem, buat apa Kakang Kebo Sindet memelihara tikus pengecut itu?”
“He,” teriaknya kemudian “Kuda Sempana, apakah kau sudah mampus pula?”
Kuda Sempana mendengar suara itu. Tetapi tubuhnya yang lemah masih saja belum dapat diajaknya berdiri, meskipun kini telah mulai terasa dijalari oleh beberapa bagian dari kekuatannya kembali. Namun Kuda Sempana itu menjadi heran pula. Kenapa ia tidak saja dibunuh seperti Cundaka atau seperti gurunya. Kenapa ia masih saja dibiarkan hidup?
Wong Sarimpat yang. masih ingin melepaskan kemarahannya itu pun berteriak-teriak “He, Kuda Sempana. Kenapa kau tidak mampus saja sama sekali? Sayang Kakang Kebo Sindet masih membiarkan kau hidup. Meskipun aku tidak tahu apa gunanya lagi kau hidup, tetapi aku tidak berani melanggar keinginan Kakang Kebo Sindet, dan kau boleh bersenang hati karenanya.”
Kuda Sempana masih belum menjawab teriakan-teriakan itu. Badannya masih sangat lemah, dan ia sama sekali tidak bernafsu berteriak seperti Wong Sarimpat. Ketika Wong Sarimpat itu merasa dadanya seperti tertusuk jarum karena ia berteriak-teriak maka ia pun berhenti. Kini ditekuninya kakaknya yang masih terbaring diam. Perlahan-lahan ia mencoba menggoyangkan tubuh itu. Mengangkat tangannya dan menggerakkannya dengan hati-hati. Lambat laun Kebo Sindet pun mulai menggerakkan tubuhnya. Perlahan-lahan ia menarik nafas, kemudian menggerakkan ujung-ujung kakinya.
“Kakang,” panggil Wong Sarimpat.
Lamat-lamat Kebo Sindet mendengar panggilan itu. Perlahan-lahan ingatannya pun bangkit kembali merayapi otaknya. Diingatnya peristiwa demi peristiwa yang terjadi. Yang terakhir dari peristiwa itu adalah pukulan tongkat yang mengenai pelipisnya, sementara kakinya menghantam tubuh orang tua itu. Tiba-tiba Kebo Sindet itu pun menggeram. Dengan serta-merta ia mencoba bangkit. Tetapi terasa betapa kepalanya masih sangat pening dan gunung gundul itu serasa berputar. Tubuhnya serasa berada pada poros pusaran itu.
Kebo Sindet memegangi kepalanya yang pening dan sakit. Tetapi ia telah memiliki segenap kesadarannya kembali. Karena itu maka kemudian ia berkata parau “He, di mana Empu Sada?”
Wong Sarimpat mencoba menolong kakaknya. Tetapi dadanya sendiri terasa sakit bukan buatan. Dengan tegasnya ia menjawab, “Empu itu terlempar ke dalam jurang.”
“He? Orang itu terlempar ke dalam jurang?” ulang Kebo Sindet.
“Ya.”
“Orang itu harus kita cari. Kita harus yakin bahwa ia telah mati.”
“Kenapa Kakang masih ragu-ragu. Dadanya terluka karena goresan golok Kakang. Tubuhnya terlempar karena tendangan Kakang yang keras, kemudian terbanting ke atas batu-batu padas. Apakah masih mungkin seseorang dapat hidup mengalami hal itu semuanya? Meskipun seandainya Empu Sada itu empu yang turun dari langit sekalipun, namun ia pasti hancur.”
“Aku ingin melihat mayat dengan mata kepalaku sendiri.”
“Kakang terluka. Sepasang tangan Kakang dan agaknya pelipis Kakang telah menyebabkan Kakang tidak sadar lagi.”
“Persetan! Aku sudah baik,” sambil menggeretakkan giginya Kebo Sindet berusaha untuk berdiri.
Alangkah besar tekad yang membakar jantungnya, sehingga betapapun juga ia masih mampu berdiri tegak. Kebo Sindet menengadahkan wajahnya yang beku. Dan wajah yang beku itu kini tampak menjadi semakin mengerikan. Lewat matanya memancarlah perasaannya yang meluap-luap. Kebencian, kemarahan dan nafsu untuk membinasakan Empu Sada itu. Apalagi kini, ia sudah terlanjur memulainya.
“Kita akan turun dan mencari orang itu,” desis Kebo Sindet.
Wong Sarimpat kenal betul tabiat kakaknya. Karena itu ia tidak menyahut. Ia tahu betul bahwa ia akan turut serta turun lereng gunung gundul itu untuk mencari Empu Sada. Betapa sakit dadanya, tetapi ia harus berbuat seperti kakaknya.
“Bagaimana dengan Kuda Sempana?” bertanya Kebo Sindet.
“Itu,” jawab adiknya sambil menunjuk ke arah Kuda Sempana, “aku beri tekanan pada urat lehernya, sehingga ia kehilangan kekuatannya. Tetapi agaknya ia telah mulai di jalari oleh kekuatannya kembali.”
“Jangan biarkan ia pergi. Biarlah ia beristirahat di sini sebentar. Kita akan pergi. Mudah-mudahan cahaya obor itu akan membantunya, menjauhkan dari anjing-anjing liar.”
“Baik Kakang,” sahut Wong Sarimpat.
Perlahan-lahan ia berjalan terbungkuk-bungkuk mendekati Kuda Sempana. Dengan kakinya ia melemparkan obor yang satu ke arah yang lain, sehingga kedua obor yang telah mulai redup itu menjadi agak besar kembali, setelah bergabung menjadi satu. Kemudian setapak demi setapak ia mendekati Kuda Sempana. Terdengar orang itu menggeram mengerikan,
“Kuda Sempana. Kakang Kebo Sindet menghendaki kau tetap di sini. Karena itu aku akan menolongmu supaya kau dapat beristirahat dan tidak pergi meninggalkan tempat ini.”
Sebelum Kuda Sempana menyahut, terasa telapak tangan orang itu pada lehernya. Betapapun ia berusaha melawan, namun ia tidak mampu menahan ketika terasa jari-jari orang itu sekali lagi menekan tengkuk. Kuda Sempana berdesis pendek. Kekuatannya yang telah mulai terasa merambat di urat-urat nadinya, kembali kini seolah-olah terhisap habis. Kembali ia menjadi lemah dan terbaring diam di atas bukit gundul itu.
“Gila!” ia mengumpat dalam hati.
Terasa tubuhnya seperti tidak bertulang. Ia hanya mampu menggerakkan tangan dan kakinya dengan mengerahkan segenap sisa-sisa yang ada bergerak sekedar bergerak. Namun tangan dan kakinya sudah tidak mampu lagi berbuat sesuai dengan tugas anggota-anggota badan itu.
“Sudah Kakang,” berkata Wong Sarimpat kemudian.
“Bagus, marilah kita cari orang tua itu. Biarlah ia mampus, dan aku ingin melihat bangkainya dan melemparkannya kepada anjing-anjing liar.”
Wong Sarimpat berjalan kembali mendekati kakaknya. Kemudian mereka berjalan perlahan-lahan mencari jalan yang dapat dilaluinya untuk menuruni lereng bukit gundul itu. Tetapi Kebo Sindet selalu mengumpat-umpat. Agak lama mereka berjalan menyusuri pinggiran bukit, tetapi mereka tidak segera menemukan tempat yang memungkinkan mereka merayap turun.
“Gila!” Kebo Sindet menggeram “Bagaimana kita turun Wong Sarimpat?”
Wong Sarimpat tidak segera menjawab. Dicobanya untuk memandang ke arah yang agak jauh. Tetapi malam menjadi semakin pekat dan cahaya obor mereka di dekat Kuda Sempana terbaring tidak dapat mencapai tempat-tempat yang dicarinya.
“Seandainya Empu yang gila itu tidak berbuat curang,” gerutu Wong Sarimpat.
“Kenapa? “ bertanya kakaknya.
“Kalau kita tidak terluka, maka kita akan dapat terjun di setiap tempat. Di sini pun dapat kita lakukan.”
“Jangan mengigau. Keadaan ini telah kita alami. Sekarang bagaimana kita mengatasinya.”
Wong Sarimpat tidak menjawab. Tetapi matanya masih dengan nanar mencoba mencari lereng yang agak landai.
“Apabila terpaksa kita melingkar, lewat jalan pendakian yang biasa,” gumam Kebo Sindet,
“Terlampau jauh.”
“Habis, apa yang dapat kita lakukan?”
Kembali Wong Sarimpat terdiam. Tetapi hatinya masih saja mengumpat-umpat. Seandainya mereka tidak terluka, maka mereka tidak perlu bingung tentang jalan turun. Tetapi seperti kata kakaknya. Luka itu kini sudah mereka derita, sehingga mereka tidak dapat melangkah surut. Kedua orang itu berjalan kembali tertatih-tatih di atas bukit-bukit gundul itu. Kebo Sindet tidak dapat mundur. Ia harus turun dan menemukan Empu Sada. Hidup atau mati. Kalau orang tua itu masih hidup, maka hidup itu harus segera diakhiri.
Dalam pada itu, di bawah bukit gundul itu telentang seorang tua yang sudah menjadi sangat lemah. Empu Sada yang pingsan itu terperosok ke dalam semak-semak yang rimbun. Ketika angin malam yang sejuk perlahan-lahan mengusap wajahnya, maka terasa udara yang segar menjalar di segenap urat-uratnya. Perlahan-lahan orang tua itu menjadi sadar kembali. Yang pertama-tama dirasakannya adalah nyeri yang menyengat-nyengat dadanya.
“Hem,” orang tua itu mengeluh.
Tetapi segera ia menyadari keadaannya. Karena itu, maka segera dipusatkannya segenap kekuatan lahir dan batinnya. Namun darah telah terlampau banyak mengalir, sehingga tubuh yang tua itu terasa menjadi betapa lemahnya. Tetapi Empu Sada adalah seorang yang telah banyak menelan pengalaman yang pahit dan yang manis. Itulah sebabnya maka dalam perjalanannya kali ini orang tua itu sudah membawa bekal yang cukup. Sejak ia berangkat dari rumahnya mencegat perjalanan Ken Dedes, ia telah memperhitungkan apa saja yang dapat terjadi atas dirinya. Di antaranya luka seperti yang dialaminya saat itu. Karena itu, maka Empu Sada itu pun telah membawa reramuan obat di dalam kantong ikat pinggangnya yang lebar dan terbuat dari kulit kerbau.
Dengan tangan yang lemah orang tua itu mencoba mengambil reramuan obatnya. Dan dengan tangan sendiri yang lemah itu, maka ditaburkannya obat itu pada luka dadanya. Obat itu pun adalah obat yang dibuatnya sendiri berdasarkan pengalamannya yang masak, sehingga obat itu pun dapat dipercayanya, setidak-tidaknya menahan arus darah yang masih saja mengalir. Ternyata taburan obat itu menolongnya. Perlahan-lahan darah di lukanya itu mengental, dan menyumbat alirannya. Namun tubuh Empu Sada sudah terlampau lemah.
Orang tua itu menggeram. Tubuhnya sendiri terluka. Dan ia kehilangan kedua muridnya. Ia tidak pernah menduga, bahwa hatinya menjadi pedih juga atas hilangnya kedua muridnya itu. Ia mencoba mengembalikan pikirannya kepada masa lampaunya. Bagaimana ia menerima kedua anak-anak muda itu menjadi muridnya.
“Ah, bukankah aku akan dapat mencari yang lain dengan mudah. Bukankah kedua orang itu pada saat-saat terakhir juga tidak memberi aku upah seperti masa-masa lalu? Persetan dengan keduanya. Mereka bukan sanak bukan kadang. Aku menemukan mereka dalam pengembaraan hidupku. Dan kini biarlah mereka meninggalkan aku di tengah jalan.”
Tetapi ia tidak berhasil mengusir kata-kata hatinya sendiri. Bahkan kemudian ia bergumam “Kasihan anak-anak itu.”
Ketika di kejauhan terdengar anjing-anjing liar menyalak tak henti-hentinya, maka hati orang tua itu pun menjadi berdebar-debar. Ia tidak dapat berbaring terus di semak-semak itu. Ada bermacam-macam bahaya yang dapat mengancamnya. Anjing-anjing liar itu dan orang-orang yang seliar anjing itu pula.
“Aku harus membuat sesuatu kalau aku ingin hidup terus,” gumamnya.
Empu Sada pun menarik nafas. Dicobanya untuk menenangkan debar jantungnya. Ketika sekali lagi ia mendengar anjing-anjing menyalak di kejauhan, maka dicobanya pula untuk bangkit dengan perlahan-lahan.
Orang tua itu menyeringai menahan sakit. Tetapi betapa lemah tubuhnya, namun kemauannya yang menjala di dalam dadanya telah menghangatkan darahnya. Perlahan-lahan orang tua itu berdiri bersandar pada tongkatnya. Sambil memusatkan segenap kekuatannya, serta menyesuaikan jalan pernafasannya, maka Empu Sada itu pun mendapatkan sebagian kecil dari kekuatannya kembali. Namun dengan kekuatan yang kecil dibantu oleh tongkatnya, Empu yang tua itu berhasil menggerakkan kakinya.
Empu Sada tidak tahu benar, apakah yang telah terjadi dengan Kebo Sindet. Ia merasa, bahwa tongkatnya berhasil mengenai orang itu. Tetapi akibat daripadanya, Empu Sada tidak dapat mengetahuinya. Karena itu maka sekarang ia harus memperhitungkan setiap kemungkinan. Kalau Kebo Sindet tidak mengalami cedera, maka ia bersama adiknya yang meskipun telah terluka, pasti akan mencarinya. Dalam keadaannya, mustahillah ia dapat menyelamatkan diri dari kejaran kedua orang-orang liar itu.
Dengan demikian, berdasarkan atas perhitungannya, Empu Sada segera meninggalkan tempat itu. Ia berjalan saja ke arah yang tidak diketahuinya, namun segera menjauhi bukit gundul itu. Tertatih-tatih orang tua itu berjalan. Sekali-kali ia masih harus beristirahat mengatur pernafasannya. Kadang-kadang matanya terasa seakan-akan menjadi gelap dan pandangannya menjadi kekuning-kuningan. Namun ia tidak mau mati. Ia harus berjuang untuk menyelamatkan dirinya. Kemauan yang kuat itulah yang telah membawanya meninggalkan tempat yang celaka itu.
Di kejauhan masih terdengar anjing-anjing liar menggonggong dan menyalak bersahut-sahutan. Anjing-anjing itu akan sama berbahayanya dengan kedua orang-orang liar yang memuakkan itu.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar