Tetapi alangkah terkejutnya Empu Sada ketika agak jauh di sisinya ia mendengar tiba-tiba saja suara menyentak, “Aku menandainya Kakang. Di samping batu padas yang menjorok itulah ia terpelanting jatuh. Pasti ia berada di sekitar tempat di bawah batu itu pula. Ia pasti terbaring di sana, apakah ia mati atau pingsan. Bahkan seandainya ia masih hidup pun ia akan mati pula karena darahnya yang mengalir dari lukanya.”
“Tetapi aku harus melihat bangkainya. Harus. Aku tidak puas dengan dugaan-dugaan serupa itu.”
Dada Empu Sada menjadi berdebar-debar. Seolah-olah luka di dadanya menjadi bertambah pedih.
“Setan itu masih mampu berjalan begitu cepatnya,” desahnya dalam hati.
Meskipun suara itu masih belum terlampau dekat, namun ia harus memperhitungkan keadaan. Ia tahu, bahwa Kebo Sindet dan Wong Sarimpat masih berada di tempat yang agak jauh. Di malam hari, di lereng bukit pula, maka suara itu kedengarannya menjadi semakin jelas.
“Aku harus segera menjauhinya,” katanya di dalam hati pula.
Empu Sada mencoba mempercepat langkahnya. Tetapi nafasnya dan sakit di dada dan telinganya benar-benar telah mengganggunya, bahkan hampir-hampir ia tidak mampu lagi untuk bergerak. Meskipun darah tidak lagi mengalir dari luka di dadanya karena reramuan obat-obatnya namun sakitnya masih juga menusuk-nusuk sampai ke pusat jantung.
Di kejauhan ia mendengar suara pula, “Mudah-mudahan bau darahnya memanggil anjing-anjing liar kemari. Seandainya ia masih hidup, maka ia akan menjadi hidangan malam ini.”
“Bagaimana kalau ia lari?”
“Tidak mungkin Kakang. Tidak mungkin. Seandainya ia masih mampu berjalan, maka ia pasti hanya dapat melangkahkan beberapa langkah. Kemudian ia akan jatuh terbaring. Mati atau hanya menunggu saat untuk mati. Mati lemas karena kehabisan darah, atau mati karena anjing-anjing liar.”
“Mungkin. Mungkin. Tetapi aku harus melihatnya, harus.”
“Baik. Lihatlah bayangan batu padas yang mencorong itu. Kita lihat di bawahnya.”
Suara itu semakin lama menjadi semakin dekat. Dada Empu Sada pun menjadi semakin berdebar-debar. Dicoba mengamati daerah sekitarnya. Gerumbul-gerumbul kecil dan ilalang liar yang bertebaran hampir di sepanjang lereng itu.
“Aku tidak dapat bersembunyi di dalam gerumbul-gerumbul kecil,” katanya di dalam hati, “dan tidak pula melalui ilalang liar itu. Dengan demikian, maka jejakku akan segera dapat mereka ikuti.”
Empu Sada menjadi bingung sejenak. Kali ini ia masih terlindung dari beberapa gerumbul semak-semak dan ilalang liar. Tetapi kalau Kebo Sindet dapat menemukan bekas tempat ia terjatuh, maka mereka pasti akan dapat menemukan jejaknya di alang-alang. Tetapi kalau ia keluar dari daerah alang-alang, maka ia akan berada di tempat terbuka. Kemungkinan akan menjadi besar pula, kedua orang itu melihatnya, meskipun di dalam gelap malam.
Dalam keragu-raguan, tiba-tiba Empu Sada melihat dataran yang berkilat di sebelah gerumbul-gerumbul liar beberapa puluh langkah daripadanya memantulkan cahaya bintang yang bergayutan di langit. Dan tiba-tiba pula mulutnya berdesis,
“Air. Air. itu adalah sebuah sendang yang agak luar. Tetapi bagaimana aku dapat menyeberangi sendang itu? Kalau sendang itu cukup dalam, maka aku pasti akan tenggelam. Keadaanku tidak memungkinkan aku untuk berenang sampai ke sisi yang lain.”
Kembali Empu Sada menjadi termangu-mangu. Seakan-akan tidak ada jalan yang dapat ditempuhnya untuk menyingkirkan diri. Ilalang akan memberi jejak kepada kedua orang yang mengejarnya. Gerumbul-gerumbul yang bertebaran terlampau kecil untuk tempatnya bersembunyi. Di tempat terbuka sama sekali tidak menguntungkannya. Dan salah satu arah yang lain adalah air sendang yang luas. Sendang yang tidak akan mampu direnanginya karena keadaan tubuhnya. Bahkan sendang itu justru menjadi dinding yang mengungkungnya dalam satu lingkaran yang serasa terlampau sempat menempatkan tubuhnya yang kecil itu.
Kembali Empu Sada mendengar suara semakin dekat, “Batu padas itu yang kau maksud?”
“Ya, Kakang.”
“Kita hampir sampai. Kita akan segera melihat tubuhnya yang terbaring. Aku mengharap ia masih hidup. Aku ingin melihat ia menjadi sangat kecewa menghadapi akhir hayatnya. Aku ingin melihat ia menyesali perbuatannya, tetapi aku ingin melihat orang itu tidak melihat jalan yang dapat membebaskannya meskipun penyesalan itu merobek-robek dadanya.” Terdengar Wong Sarimpat tertawa. Tetapi segera suara itu terputus. Yang terdengar adalah suaranya terbatuk-batuk.
Empu Sada merasa bahwa ia tidak dapat terlalu lama berdiri termangu-mangu. Ia harus menentukan sikap. Melarikan diri atau melawan sama sekali, yang keduanya sulit dilakukan. Tiba-tiba orang tua itu bergumam kepada diri sendiri,
“Marilah. Marilah orang tua yang celaka. Marilah kita terjun ke dalam air. Lebih baik ditempuh jalan itu daripada jatuh ke tangan kedua setan-setan liar itu. Kalau aku mampu keluar dari sendang itu, maka aku akan hidup. Tetapi apabila sendang itu sendang lendut, atau kalau aku tidak lagi mampu berenang maka aku akan mati di dalamnya. Mati tenggelam adalah jauh lebih baik daripada mati di tangan orang-orang liar yang mengerikan itu.”
Empu Sada pun kemudian menjadi bulat bertekad untuk terjun ke dalam sendang. Ia tidak tahu apakah kira-kira yang akan terjadi. Mungkin ia akan tenggelam karena tubuhnya telah lemah. Mungkin pula ia akan terbenam ke dalam lumpur dan tidak berdaya untuk melepaskan diri, sehingga ia pun akan mati berkubur di bawah lumpur sendang itu.
“Tetapi itu lebih baik. Itu lebih baik. Aku gagal setelah berusaha, sehingga aku tidak menyerahkan kepalaku begitu saja kepada Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.”
Empu Sada itu pun kemudian berjalan tertatih-tatih meninggalkan persembunyiannya, batang-batang ilalang di lereng gunung gundul. Meskipun ia harus berjalan beberapa langkah di tempat terbuka, tetapi ia mengharap, bahwa ia masih tetap terlindung dari arah pandangan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat oleh batang-batang ilalang yang rimbun di belakangnya.
Tetapi ketika ia sampai ke ujung rimbunnya batang-batang ilalang, tiba-tiba ia melihat beberapa batang gelagah ilalang mencuat dari ujung batangnya. Ujung gelagah yang berumbai itu bergerak-gerak ditiup angin malam, seperti rambut yang jarang-jarang dan telah memutih pula. Seperti rambut Empu Sada sendiri.
Empu Sada itu termenung sejenak. Ia sangat tertarik pada gelagah ilalang itu. Dengan serta-merta ia meraih dan mengambilnya sebatang. Dipotongnya umbai pada ujungnya, dan ketika ia meniup gelagah ilalang itu, maka ia bersorak di dalam hati. Gelagah ilalang itu berlubang di tengah seperti sebatang sumpit yang panjang.
“Hem,” gumamnya, “mudah-mudahan aku berhasil.”
Dijinjingnya kemudian tiga batang gelagah ilalang di tangan kanannya, sedang tangan kirinya menggenggam tongkatnya erat-erat. Ia kini berusaha tidak lagi berjalan bersandar pada tongkatnya, supaya ujung tongkatnya tidak melukiskan jejak di tanah yang semakin gembur.
Ketika Empu Sada hampir mencapai tepi sendang itu, ia masih mendengar suara Wong Sarimpat, “Di sini, Kakang. Orang itu pasti berada di sini. Lihatlah batu padas yang menjorok itu. Di sebelah batu itu ia jatuh terpelanting. Kepalanya mungkin telah pecah menimpa batu-batu yang keras dan runcing ini.”
Kebo Sindet menjawab keras, “Kau selalu puas dengan angan-anganmu. Mungkin orang itu mati. Mungkin kepalanya pecah. Mungkin dimakan anjing. Tetapi mungkin pula ia masih hidup. Mengintai kita, dan dengan curang pula ia menyerang kita dengan tongkatnya.”
“Uh,” bantah adiknya, “tidak mungkin Kakang. Tidak mungkin ia masih tetap hidup. Apabila ia tidak sedang terluka, memang hal itu mungkin terjadi.”
“Kau lihat berbagai semak-semak di lereng bukit gundul itu?” bertanya kakaknya.
“Ya, kenapa?”
“Semak-semak itu dapat menolongnya. Menahan atau memperlambat.”
“Mungkin. Tetapi kemungkinan itu terjadi satu dari seratus kejadian.”
“Kalau Empu Sada termasuk yang satu itu?”
Wong Sarimpat terdiam. Dan yang terdengar adalah suara Kebo Sindet, “Cari. Kita cari sampai ketemu. Aku mengharap ia masih tetap hidup. Membunuhnya dengan tangan sendiri pasti lebih menyenangkan.”
Wong Sarimpat tidak menyahut. Kini keduanya terdiam untuk sejenak. Mereka melangkah lebih mendekat lereng bukit gundul itu. Meskipun hampir dapat dipastikan bahwa orang yang jatuh terpelanting dari atas bukit gundul itu akan mati, namun ternyata keduanya cukup berhati-hati. Seperti dugaan Kebo Sindet, demikian pula tumbuh, meskipun sangat tipis, keragu-raguan di dalam hati Wong Sarimpat. Jangan-jangan Empu Sada kini sedang mengintai mereka, dan akan menerkam mereka dengan curang seperti serangannya yang pertama.
Tetapi mereka tidak segera menemukan Empu Sada. Betapa pun mereka mencari, namun mereka tidak melihat sesosok tubuh yang terbaring diam di bawah rimbunnya gerumbul-gerumbul kecil atau di antara batang-batang ilalang liar.
Mula-mula mereka menyangka, bahwa mungkin Empu Sada terpelanting agak jauh dari tempatnya terguling. Mungkin tubuhnya terantuk sebuah batu yang menjorok dan melemparkannya beberapa langkah. Tetapi setelah mereka berputar-putar beberapa langkah dari tempat itu, tubuh Empu Sada tidak mereka temukan.
“Apakah orang tua itu anak demit?” geram Kebo Sindet, yang kemudian berkata kepada Wong Sarimpat, “He, Sarimpat. Apa katamu sekarang?”
Keringat dingin mulai mengaliri punggung orang itu. Bahkan kemudian dadanya yang sakit terasa menjadi semakin pedih.
“Ia tidak akan dapat meninggalkan tempat ini Kakang,” katanya. Tetapi ia sudah tidak yakin lagi akan kata-katanya sendiri, “Mungkin ia berhasil merangkak beberapa langkah. Tetapi tidak akan terlampau jauh.”
“Orang itu harus kita temukan,” teriak Kebo Sindet yang benar-benar dibakar oleh kemarahannya.
Namun tiba-tiba terdengar orang itu hampir memekik, “Lihat. Bukankah ini jejak setan itu?”
Tertatih-tatih Wong Sarimpat mendatangi kakaknya. Hatinya menjadi semakin berdebar-debar, Apakah Empu Sada benar-benar mampu melarikan diri dari tangan mereka?. Demikian ia berdiri di samping kakaknya, segera ia melihat apa yang dikatakan oleh Kebo Sindet. Di antara batang-batang ilalang mereka melibat seolah-olah sebuah jaluran yang memanjang. Ilalang yang terinjak-injak kaki Empu Sada menjadi roboh dan seakan-akan membelah kedua sisinya. Dengan demikian, maka jejaknya akan terlampau mudah diikuti. Apabila Empu Sada yang terluka, yang berjalan terhuyung-huyung bersandar pada tongkatnya.
Wong Sarimpat mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata, “Inilah jejak orang sekarat itu. Kita pasti akan menemukannya Kakang. Orang itu pasti belum terlampau jauh.”
Kebo Sindet tidak segera menjawab. Ternyata ia terpaksa berpikir menghadapi orang aneh itu. Orang yang ternyata memiliki ketahanan tubuh yang luar biasa.
“Mari Kakang,” ajak Wong Sarimpat tidak sabar.
“Mari,” sahut Kebo Sindet sambil melangkah maju.
Tetapi dalam pada itu Kebo Sindet terpaksa memperhitungkan keadaan dirinya. Kedua tangannya yang telah terluka. Pelipisnya yang serasa telah menjadi retak. Ia tinggal mempercayakan dirinya pada ketangkasan dan kekuatan kakinya. Sedang adiknya pun telah hampir mati pula karena luka di dada.
“Hem,” katanya di dalam hati, “Apakah Empu Sada masih mampu bertempur?”
Tetapi kembali nafsunya mencengkam dadanya. Empu Sada harus ditangkapnya. Kini ia yakin bahwa orang itu masih hidup, dan ia akan dapat membunuh dengan caranya. Mungkin dengan cara yang belum pernah dilakukannya. Karena itu maka Kebo Sindet pun segera berjalan tergesa-gesa. Meskipun kedua tangannya dan pelipisnya serasa pecah, tetapi kedua kakinya masih cukup mampu untuk berjalan agak cepat. Tetapi Wong Sarimpat tidak mampu berjalan secepat kakaknya. Sambil terbungkuk-bungkuk ia melangkah maju semakin lama semakin jauh dari Kebo Sindet.
Dengan seksama Kebo Sindet mengikuti jejak Empu Sada di antara batang-batang ilalang. Namun ia sama sekali tidak meninggalkan kewaspadaan. Setiap kali ia mendengar gemeresik di sekitarnya, segera ia berhenti dan mempersiapkan diri. Tetapi ternyata suara itu adalah suara kelinci-kelinci liar yang berlari karena ketakutan.
“Bekas ini cukup panjang,” desisnya.
Tetapi Kebo Sindet tidak mendengar jawaban. Ketika ia berpaling, maka dilihatnya adiknya samar-samar agak jauh di belakangnya. Tetapi Kebo Sindet tidak memedulikan. Ia tidak mau kehilangan buruannya, sehingga justru ia mempercepat langkahnya. Namun ia tidak dapat terlampau cepat. Ia harus mengamati setiap langkah supaya ia tidak kehilangan jejak.
Ternyata jejak yang harus ditelusur oleh Kebo Sindet dan Wong Sarimpat cukup panjang. Kadang-kadang ia kehilangan jejak untuk sesaat. Seolah-olah jalur yang menjelujur itu menghilang ke dalam semak-semak. Apabila demikian, maka Kebo Sindet harus menjadi sangat berhati-hati. Orang itu menyangka bahwa Empu Sada bersembunyi ke dalam semak-semak itu. Tetapi kemudian ternyata, bahwa di sebelah semak-semak itu, ditemukan kembali jejak Empu Sada yang memanjang. Dan kembali Kebo Sindet berjalan menyusurinya.
Tetapi jejak itu cukup panjang. Bahkan terlalu panjang. Apa lagi Wong Sarimpat yang berjalan agak jauh di belakang Kebo Sindet. Orang itu mengumpat tak habis-habisnya. Namun di samping kemarahan yang semakin dalam, ia pun menjadi heran. Apakah orang yang sudah terluka dan terpelanting ke dalam jurang itu masih mampu berjalan sedemikian, ia tetap yakin, bahwa suatu ketika ia akan menjumpai tubuh itu terbaring di atas tanah dengan lemahnya.
Wong Sarimpat itu terkejut ketika ia mendengar kakaknya berteriak menggigilnya, “He Sarimpat. Lihat ini. Di sini jejak itu lenyap.”
Dada Wong Sarimpat berdesir. Segera ia berusaha mempercepat langkahnya. Kata-kata kakaknya benar-benar telah membuatnya menjadi sangat cemas. Ketika ia sampai ke dekat Kebo Sindet ia melihat batang-batang ilalang menjadi sangat tipis, bahkan kemudian hampir lenyap. Yang terbentang kemudian adalah sebuah lapangan rumput yang sempit dengan gerumbul-gerumbul liar di sana-sini. Kemudian di hadapan padang rumput itu mereka melihat sebuah sendang yang agak luas.
Wong Sarimpat dan Kebo Sindet telah mengenal tempat itu baik-baik. Mereka telah mengetahui bahwa sandang itu cukup luas. Bahkan di tengah-tengah sendang itu tumbuh semacam tumbuhan air yang berbahaya. Ganggeng. Yang menurut cerita ganggeng itu sering menelan binatang atau manusia sebagai makanannya. Tetapi Kebo Sindet dan Wong Sarimpat tidak meyakininya. Yang mereka ketahui adalah, bahwa ganggeng itu berakar banyak dan panjang, sehingga apabila seseorang berenang melampaui sekelompok tumbuh-tumbuhan ganggeng, maka tubuhnya pasti akan terbelit. Apabila seseorang menjadi bingung dan kehilangan akal, maka mustahil ia dapat melepaskan diri dari belitan akar ganggeng yang sangat banyak dan panjang-panjang.
“Ia meninggalkan gerumbul alang-alang ini, Kakang. Ia pergi ke tempat terbuka.”
Kebo Sindet meng-angguk-anggukkan kepalanya. Ia tahu benar bahwa lapangan rumput itu terlampau sempit. Di ujung lereng bukit gundul itu bertemu dengan sisi sendang, sehingga tak seorang pun yang akan mampu melampauinya. Yang dapat dilakukan adalah, terjun ke dalam sendang atau mendaki tebing yang curam, yang keduanya sangat sulit. Tak seorang pun yang dapat mendaki tebing yang sangat curam itu dan tak seorang pun yang akan dapat melampaui tebaran tumbuhan ganggeng di tengah-tengah sendang itu. Apabila seseorang masuk ke dalam sendang, maka satu-satunya kemungkinan untuk hidup adalah kembali sisi ini.
Apabila seseorang tidak mendaki tebing dan tidak terjun ke dalam sendang, maka satu-satunya jalan adalah kembali meninggalkan tempat yang terbuka, masuk ke dalam semak-semak batang-batang ilalang bertebaran memenuhi sisi bukit gundul itu.
Karena itu maka Kebo Sindet itu menggeram “Tidak ada kemungkinan lain.”
Wong Sarimpat yang mengenal tempat itu sebaik kakaknya, tahu benar maksud kata-kata itu, sehingga dengan serta-merta ia menjawab “Ya, tidak ada kemungkinan lain. Marilah kita lihat batang-batang ilalang di sekitar tempat ini. Kalau tidak ada bekas kakinya meninggalkan tempat ini, maka orang itu pasti mencoba melarikan diri menyeberang sendang itu.”
Kebo Sindet tidak menjawab. Segera ia berjalan menyusur pinggiran semak-semak ilalang yang memagari tempat terbuka itu. Dicobanya untuk menemukan jejak apabila Empu Sada mencoba meninggalkan tempat itu. Wong Sarimpat pun kemudian berbuat serupa. Dengan seksama ia meneliti setiap langkah. Diamatinya dengan penuh kewaspadaan. Bukan saja jejak kaki, tetapi apabila tiba-tiba dari balik semak-semak dan batang-batang ilalang itu mematuk sebatang tongkat panjang. Tongkat Empu Sada.
Tetapi sampai ke ujung, sampai semak-semak ilalang itu bertaut dengan sisi sendang di sebelah yang lain, mereka sama sekali tidak menemukan jejak itu. Tak ada tanda-tanda pada semak-semak ilalang itu seperti yang pernah mereka lihat. Tak ada batang-batang ilalang yang roboh karena terinjak kaki. Kebo Sindet itu menggeram. Dadanya seakan-akan menjadi pepat karena kemarahannya.
“Setan itu telah lenyap,” umpatnya “bagaimana mungkin ia bisa lari?”
“Tidak mungkin!” sahut Wong Sarimpat, “Tidak mungkin! Orang itu aku kira telah terjun ke dalam Sendang. Ia tidak tahu sama sekali bahaya yang telah menunggunya. Selain tubuhnya yang lemah, maka ganggang itu pasti akan menelannya.”
“Aku belum yakin,” sahut kakaknya, “ia adalah orang yang sangat cerdik. Otaknya tajam tidak seperti otakmu. Mungkin ia masuk ke dalam sendang di sepanjang tepi semak-semak ini sekedar menghilangkan jejak. Kemudian ia masuk kembali di antara batang ilalang beberapa langkah dari tempat ini.”
Wong Sarimpat mengangguk-anggukkan kepalanya. Hal itu pun memang mungkin terjadi. Tetapi Empu Sada tidak akan dapat terlampau jauh menyusur tepi sendang ini, sebab di sebelah yang agak dalam, tepi sendang ini menjadi curam. Karena itu maka ia sependapat ketika kakaknya berkata,
“Kita telusuri tepi sendang ini. Apabila kita sampai di tempat yang curam itu, kita belum menemukan jejaknya, maka baru kita yakin bahwa orang tua itu terjun ke dalam sendang.”
Keduanya pun kemudian dengan hati-hati masuk ke dalam pinggiran sendang yang landai dan tidak terlampau dalam. Perlahan-lahan mereka berjalan sambil mengamati semak-semak ilalang di pinggir sendang itu. Setiap ada tanda-tanda yang mencurigakan maka segera mereka berdua mengamatinya dengan seksama. Tetapi kembali mereka menjadi kecewa. Mereka sama sekali tidak menemukan jejak apapun sehingga mereka sampai ke sisi sendang yang curam.
Kemarahan Kebo Sindet menjadi semakin memuncak. Dadanya serasa akan meledak karena kemarahannya itu. Wong Sarimpat pun mengumpat tidak habis-habisnya sehingga kakaknya membentaknya
“He, tutup mulutmu! Sekarang terbukti bahwa kau masih saja selalu menuruti angan-anganmu yang bodoh. Coba katakan sekarang, di mana Empu Sada itu.” Wong Sarimpat tidak menjawab. Tetapi terdengar ia menggeram. “Ayo, sekarang kita menyusuri tepi sendang ini. Mungkin Empu Sada hanya sekedar masuk ke dalam air merendamkan tubuhnya, untuk nanti menepi kembali.”
“Marilah,” sahut adiknya.
Kembali keduanya berjalan menyusuri tepi sendang itu. Sekali-kali mereka berhenti agak lama dan memperhatikan permukaan sendang itu, seandainya mereka melihat sesuatu. Tetapi permukaan air yang datar itu, sama sekali tidak dinodai oleh sesuatu apapun. Mereka sama sekali tidak melihat wajah air beriak, atau sebuah kepala yang muncul ke permukaan air.
“Tak ada orang yang mampu merendam diri sekian lama bersama seluruh tubuhnya. Sekali-kali ia harus muncul ke atas permukaan air untuk mengambil nafas,” geram Kebo Sindet.
“Mungkin ia telah berenang agak ke tengah dan lenyap ditelan ganggeng.”
“Kau masih juga berangan-angan. Mungkin dan mungkin lagi.”
Wong Sarimpat terdiam. Tetapi hatinya bergumam, “Lalu apakah orang itu dapat lenyap menjadi asap?”
Beberapa lama mereka menunggui sendang itu. Bahkan kemudian Kebo Sindet melihat sesuatu di tepi sendang itu. Sepotong kain kecil berwarna ungu.
“Kacu, kau lihat?” teriak Kebo Sindet.
“Ya, kacu,” sahut Wong Sarimpat dengan serta-merta
“Pasti seseorang telah datang kemari. Lihat, apakah yang dibendeli dalam kacu itu.”
Wong Sarimpat segera memungut sepotong kain berwarna ungu, yang ternyata di dalamnya ada sesuatu benda yang terbalut. Ketika Kebo Sindet membuka sepotong kain berwarna ungu itu, maka tiba-tiba ia berkata,
“Ini pasti milik Empu Sada.”
“Pasti. Kau lihat bumbung kecil ini? Isinya adalah sebuah reramuan obat-obatan. Mungkin obat-obatan ini pulalah yang telah membuatnya menjadi kuat dan dapat menempuh jarak ini.”
Wong Sarimpat mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia mengumpat tak habis-habisnya. Sambil membanting potongan kain itu di tanah ia berkata lantang, “Ia pasti terjun ke dalam sendang ini. Pasti. Tetapi dengan demikian ia pasti menemui ajalnya pula, berkubur di dalam perut pelus yang menunggui sendang ini.”
Kebo Sindet yang berwajah beku itu berdiri mematung di tepi sendang. Tetapi matanyalah yang memancarkan gejolak di dalam dadanya. Apabila Empu Sada itu lepas dari tangannya, maka orang itu akan menjadi orang yang paling berbahaya baginya. Orang itu pasti mendendamnya pula. Tetapi untuk sementara, Empu Sada pasti masih harus menyembuhkan luka-lukanya yang pasti lebih berat dari lukanya sendiri. Empu Sada itu pun pasti tidak akan segera dapat berhubungan dengan Mahisa Agni atau Tunggul Ametung. Dengan demikian masih akan timbul salah paham di antara mereka karena hubungan mereka yang terlampau jelek di masa-masa yang lampau.
Dalam pada itu Wong Sarimpat masih juga berteriak, “He Empu yang gila. Jangan bersembunyi di dalam air. Kau akan mampus ditelan ganggeng. Ayo keluarlah!”
Namun suaranya yang melontar itu hanya disahut oleh gemanya sendiri. Gema yang memantul dari lereng-lereng bukit gundul.
“Tak ada orang yang dapat hidup di dalam air,” berkata Kebo Sindet kemudian. “Kita tunggu di sini untuk sejenak. Kalau kita sudah yakin, bahwa Empu Sada tidak sekedar merendam diri, maka kita akan mendapat kesimpulan, bahwa orang itu telah mencoba melarikan diri, menyeberangi sendang ini.”
“Dan ia akan mampus di antara ganggeng-ganggeng itu.”
Kebo Sindet tidak menjawab. Tetapi ia berdiri dengan gelisah. Dengan dada yang menghentak-hentak ia berjalan mondar-mandir. Ia mengharap melihat sebuah kepala tersembul di permukaan air. Tetapi ia tidak melihatnya, meskipun cukup lama ia berada di pinggir sendang itu. Ia tidak melihat sebuah kepala yang muncul di permukaan air.
“Kalau orang tua itu berada di dalam air, maka sekali-sekali ia akan muncul dan akan segera dapat kita lihat.”
“Ya,” sahut Wong Sarimpat keras-keras, “tetapi orang itu sangat bodoh. Dan ia mencoba berenang menyeberang.”
Kebo Sindet tidak menyahut. Dibiarkannya adiknya berteriak memanggil nama Empu Sada dan sekali-kali ia terbatuk-batuk karena dadanya serasa menjadi pepat. Namun demikian ia berhasil mengatur pernafasannya, maka dipuaskannya hatinya dengan berteriak-teriak untuk mengurangi himpitan kekecewaannya atas hilangnya Empu Sada.
Akhirnya Kebo Sindet menjadi tidak sabar lagi. Menurut perhitungannya, ia telah terlalu lama berdiri, dan kemudian duduk, untuk sejenak lagi berdiri, di tepi sendang itu. Kalau benar Empu Sada masuk ke dalam sendang itu, maka ia pasti sudah mati lemas, atau mati dibelit ganggang. Sedang kemungkinan yang lain tidak ada.
“Aku harap orang itu sudah mampus,” desis Kebo Sindet.
“Pasti. Pasti sudah mampus,” teriak Wong Sarimpat. Kemudian keras-keras ia berkata “Kalau belum ia pasti akan muncul di permukaan air.”
“Mari kita kembali. Kita lihat Kuda Sempana, apakah ia masih utuh atau tinggal Kerangkanya saja dirobek-robek anjing liar,” berkata Kebo Sindet.
“Apakah keberatan kita Kakang?” sahut Wong Sarimpat “biar sajalah Kuda Sempana itu mampus pula.”
“Aku masih memerlukan anak itu. Mungkin masih ada keterangan-keterangan yang bisa diperas daripadanya. Bersikaplah baik terhadap anak itu.”
Wong Sarimpat menggeram. Kepada Kuda Sempana ia mempunyai tanggapan yang serupa seperti kepada gurunya dan kepada Cundaka yang telah dibunuhnya. Tetapi karena kakaknya menghendaki, maka betapa berat perasaannya, ia harus memenuhinya.
Keduanya pun kemudian meninggalkan sendang itu. Kebo Sindet pun kini telah yakin, bahwa Empu Sada pasti akan mati di tengah-tengah sendang itu. Tak ada orang yang dapat menahan nafasnya sekian lama, sepanjang mereka berdua berada di tepi sendang itu. Dan tak ada orang yang akan dapat menyeberangi sendang itu dengan selamat. Orang itu pasti akan tenggelam dibelit oleh ganggeng yang tumbuh lebat hampir di segenap sudut sendang itu. Sedangkan apabila Empu Sada tetap tinggal di tepi, maka setiap kali ia mengambil nafas maka pasti akan dilihatnya.
Ketika keduanya mulai melangkahkan kakinya, maka tiba-tiba Wong Sarimpat membungkukkan badannya. Diraihnya beberapa buah batu dan dilempar-lemparkannya ke dalam sendang itu sambil berteriak,
“Mampuslah kau! Mampuslah!”
Tetapi batu-batu itu tidak terlampau besar, dan wajah sendang itu terlampau luas. Tetapi Wong Sarimpat berbuat asal sekedar berbuat saja. Ia hanya ingin melepaskan kekecewaan, kemarahan dan dendam karena luka di dadanya. Suara Wong Sarimpat yang mengumpat-umpat semakin lama terdengar semakin jauh dari sendang itu. Ketika dadanya menjadi sakit, barulah ia terdiam dan terbatuk-batuk. Seterusnya orang itu tidak lagi berteriak dan mengumpat-umpat.
Dengan tertatih-tatih keduanya berjalan menerobos semak-semak ilalang di sekitar bukit gundul itu. Bahkan Kebo Sindet pun kemudian menjadi agak tergesa-gesa. Ia takut Kuda Sempana yang ditinggalkannya akan dikerumuni oleh anjing-anjing hutan, menjadi makanan mereka yang menyenangkan.
“Tetapi aku harus melihat bangkainya. Harus. Aku tidak puas dengan dugaan-dugaan serupa itu.”
Dada Empu Sada menjadi berdebar-debar. Seolah-olah luka di dadanya menjadi bertambah pedih.
“Setan itu masih mampu berjalan begitu cepatnya,” desahnya dalam hati.
Meskipun suara itu masih belum terlampau dekat, namun ia harus memperhitungkan keadaan. Ia tahu, bahwa Kebo Sindet dan Wong Sarimpat masih berada di tempat yang agak jauh. Di malam hari, di lereng bukit pula, maka suara itu kedengarannya menjadi semakin jelas.
“Aku harus segera menjauhinya,” katanya di dalam hati pula.
Empu Sada mencoba mempercepat langkahnya. Tetapi nafasnya dan sakit di dada dan telinganya benar-benar telah mengganggunya, bahkan hampir-hampir ia tidak mampu lagi untuk bergerak. Meskipun darah tidak lagi mengalir dari luka di dadanya karena reramuan obat-obatnya namun sakitnya masih juga menusuk-nusuk sampai ke pusat jantung.
Di kejauhan ia mendengar suara pula, “Mudah-mudahan bau darahnya memanggil anjing-anjing liar kemari. Seandainya ia masih hidup, maka ia akan menjadi hidangan malam ini.”
“Bagaimana kalau ia lari?”
“Tidak mungkin Kakang. Tidak mungkin. Seandainya ia masih mampu berjalan, maka ia pasti hanya dapat melangkahkan beberapa langkah. Kemudian ia akan jatuh terbaring. Mati atau hanya menunggu saat untuk mati. Mati lemas karena kehabisan darah, atau mati karena anjing-anjing liar.”
“Mungkin. Mungkin. Tetapi aku harus melihatnya, harus.”
“Baik. Lihatlah bayangan batu padas yang mencorong itu. Kita lihat di bawahnya.”
Suara itu semakin lama menjadi semakin dekat. Dada Empu Sada pun menjadi semakin berdebar-debar. Dicoba mengamati daerah sekitarnya. Gerumbul-gerumbul kecil dan ilalang liar yang bertebaran hampir di sepanjang lereng itu.
“Aku tidak dapat bersembunyi di dalam gerumbul-gerumbul kecil,” katanya di dalam hati, “dan tidak pula melalui ilalang liar itu. Dengan demikian, maka jejakku akan segera dapat mereka ikuti.”
Empu Sada menjadi bingung sejenak. Kali ini ia masih terlindung dari beberapa gerumbul semak-semak dan ilalang liar. Tetapi kalau Kebo Sindet dapat menemukan bekas tempat ia terjatuh, maka mereka pasti akan dapat menemukan jejaknya di alang-alang. Tetapi kalau ia keluar dari daerah alang-alang, maka ia akan berada di tempat terbuka. Kemungkinan akan menjadi besar pula, kedua orang itu melihatnya, meskipun di dalam gelap malam.
Dalam keragu-raguan, tiba-tiba Empu Sada melihat dataran yang berkilat di sebelah gerumbul-gerumbul liar beberapa puluh langkah daripadanya memantulkan cahaya bintang yang bergayutan di langit. Dan tiba-tiba pula mulutnya berdesis,
“Air. Air. itu adalah sebuah sendang yang agak luar. Tetapi bagaimana aku dapat menyeberangi sendang itu? Kalau sendang itu cukup dalam, maka aku pasti akan tenggelam. Keadaanku tidak memungkinkan aku untuk berenang sampai ke sisi yang lain.”
Kembali Empu Sada menjadi termangu-mangu. Seakan-akan tidak ada jalan yang dapat ditempuhnya untuk menyingkirkan diri. Ilalang akan memberi jejak kepada kedua orang yang mengejarnya. Gerumbul-gerumbul yang bertebaran terlampau kecil untuk tempatnya bersembunyi. Di tempat terbuka sama sekali tidak menguntungkannya. Dan salah satu arah yang lain adalah air sendang yang luas. Sendang yang tidak akan mampu direnanginya karena keadaan tubuhnya. Bahkan sendang itu justru menjadi dinding yang mengungkungnya dalam satu lingkaran yang serasa terlampau sempat menempatkan tubuhnya yang kecil itu.
Kembali Empu Sada mendengar suara semakin dekat, “Batu padas itu yang kau maksud?”
“Ya, Kakang.”
“Kita hampir sampai. Kita akan segera melihat tubuhnya yang terbaring. Aku mengharap ia masih hidup. Aku ingin melihat ia menjadi sangat kecewa menghadapi akhir hayatnya. Aku ingin melihat ia menyesali perbuatannya, tetapi aku ingin melihat orang itu tidak melihat jalan yang dapat membebaskannya meskipun penyesalan itu merobek-robek dadanya.” Terdengar Wong Sarimpat tertawa. Tetapi segera suara itu terputus. Yang terdengar adalah suaranya terbatuk-batuk.
Empu Sada merasa bahwa ia tidak dapat terlalu lama berdiri termangu-mangu. Ia harus menentukan sikap. Melarikan diri atau melawan sama sekali, yang keduanya sulit dilakukan. Tiba-tiba orang tua itu bergumam kepada diri sendiri,
“Marilah. Marilah orang tua yang celaka. Marilah kita terjun ke dalam air. Lebih baik ditempuh jalan itu daripada jatuh ke tangan kedua setan-setan liar itu. Kalau aku mampu keluar dari sendang itu, maka aku akan hidup. Tetapi apabila sendang itu sendang lendut, atau kalau aku tidak lagi mampu berenang maka aku akan mati di dalamnya. Mati tenggelam adalah jauh lebih baik daripada mati di tangan orang-orang liar yang mengerikan itu.”
Empu Sada pun kemudian menjadi bulat bertekad untuk terjun ke dalam sendang. Ia tidak tahu apakah kira-kira yang akan terjadi. Mungkin ia akan tenggelam karena tubuhnya telah lemah. Mungkin pula ia akan terbenam ke dalam lumpur dan tidak berdaya untuk melepaskan diri, sehingga ia pun akan mati berkubur di bawah lumpur sendang itu.
“Tetapi itu lebih baik. Itu lebih baik. Aku gagal setelah berusaha, sehingga aku tidak menyerahkan kepalaku begitu saja kepada Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.”
Empu Sada itu pun kemudian berjalan tertatih-tatih meninggalkan persembunyiannya, batang-batang ilalang di lereng gunung gundul. Meskipun ia harus berjalan beberapa langkah di tempat terbuka, tetapi ia mengharap, bahwa ia masih tetap terlindung dari arah pandangan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat oleh batang-batang ilalang yang rimbun di belakangnya.
Tetapi ketika ia sampai ke ujung rimbunnya batang-batang ilalang, tiba-tiba ia melihat beberapa batang gelagah ilalang mencuat dari ujung batangnya. Ujung gelagah yang berumbai itu bergerak-gerak ditiup angin malam, seperti rambut yang jarang-jarang dan telah memutih pula. Seperti rambut Empu Sada sendiri.
Empu Sada itu termenung sejenak. Ia sangat tertarik pada gelagah ilalang itu. Dengan serta-merta ia meraih dan mengambilnya sebatang. Dipotongnya umbai pada ujungnya, dan ketika ia meniup gelagah ilalang itu, maka ia bersorak di dalam hati. Gelagah ilalang itu berlubang di tengah seperti sebatang sumpit yang panjang.
“Hem,” gumamnya, “mudah-mudahan aku berhasil.”
Dijinjingnya kemudian tiga batang gelagah ilalang di tangan kanannya, sedang tangan kirinya menggenggam tongkatnya erat-erat. Ia kini berusaha tidak lagi berjalan bersandar pada tongkatnya, supaya ujung tongkatnya tidak melukiskan jejak di tanah yang semakin gembur.
Ketika Empu Sada hampir mencapai tepi sendang itu, ia masih mendengar suara Wong Sarimpat, “Di sini, Kakang. Orang itu pasti berada di sini. Lihatlah batu padas yang menjorok itu. Di sebelah batu itu ia jatuh terpelanting. Kepalanya mungkin telah pecah menimpa batu-batu yang keras dan runcing ini.”
Kebo Sindet menjawab keras, “Kau selalu puas dengan angan-anganmu. Mungkin orang itu mati. Mungkin kepalanya pecah. Mungkin dimakan anjing. Tetapi mungkin pula ia masih hidup. Mengintai kita, dan dengan curang pula ia menyerang kita dengan tongkatnya.”
“Uh,” bantah adiknya, “tidak mungkin Kakang. Tidak mungkin ia masih tetap hidup. Apabila ia tidak sedang terluka, memang hal itu mungkin terjadi.”
“Kau lihat berbagai semak-semak di lereng bukit gundul itu?” bertanya kakaknya.
“Ya, kenapa?”
“Semak-semak itu dapat menolongnya. Menahan atau memperlambat.”
“Mungkin. Tetapi kemungkinan itu terjadi satu dari seratus kejadian.”
“Kalau Empu Sada termasuk yang satu itu?”
Wong Sarimpat terdiam. Dan yang terdengar adalah suara Kebo Sindet, “Cari. Kita cari sampai ketemu. Aku mengharap ia masih tetap hidup. Membunuhnya dengan tangan sendiri pasti lebih menyenangkan.”
Wong Sarimpat tidak menyahut. Kini keduanya terdiam untuk sejenak. Mereka melangkah lebih mendekat lereng bukit gundul itu. Meskipun hampir dapat dipastikan bahwa orang yang jatuh terpelanting dari atas bukit gundul itu akan mati, namun ternyata keduanya cukup berhati-hati. Seperti dugaan Kebo Sindet, demikian pula tumbuh, meskipun sangat tipis, keragu-raguan di dalam hati Wong Sarimpat. Jangan-jangan Empu Sada kini sedang mengintai mereka, dan akan menerkam mereka dengan curang seperti serangannya yang pertama.
Tetapi mereka tidak segera menemukan Empu Sada. Betapa pun mereka mencari, namun mereka tidak melihat sesosok tubuh yang terbaring diam di bawah rimbunnya gerumbul-gerumbul kecil atau di antara batang-batang ilalang liar.
Mula-mula mereka menyangka, bahwa mungkin Empu Sada terpelanting agak jauh dari tempatnya terguling. Mungkin tubuhnya terantuk sebuah batu yang menjorok dan melemparkannya beberapa langkah. Tetapi setelah mereka berputar-putar beberapa langkah dari tempat itu, tubuh Empu Sada tidak mereka temukan.
“Apakah orang tua itu anak demit?” geram Kebo Sindet, yang kemudian berkata kepada Wong Sarimpat, “He, Sarimpat. Apa katamu sekarang?”
Keringat dingin mulai mengaliri punggung orang itu. Bahkan kemudian dadanya yang sakit terasa menjadi semakin pedih.
“Ia tidak akan dapat meninggalkan tempat ini Kakang,” katanya. Tetapi ia sudah tidak yakin lagi akan kata-katanya sendiri, “Mungkin ia berhasil merangkak beberapa langkah. Tetapi tidak akan terlampau jauh.”
“Orang itu harus kita temukan,” teriak Kebo Sindet yang benar-benar dibakar oleh kemarahannya.
Namun tiba-tiba terdengar orang itu hampir memekik, “Lihat. Bukankah ini jejak setan itu?”
Tertatih-tatih Wong Sarimpat mendatangi kakaknya. Hatinya menjadi semakin berdebar-debar, Apakah Empu Sada benar-benar mampu melarikan diri dari tangan mereka?. Demikian ia berdiri di samping kakaknya, segera ia melihat apa yang dikatakan oleh Kebo Sindet. Di antara batang-batang ilalang mereka melibat seolah-olah sebuah jaluran yang memanjang. Ilalang yang terinjak-injak kaki Empu Sada menjadi roboh dan seakan-akan membelah kedua sisinya. Dengan demikian, maka jejaknya akan terlampau mudah diikuti. Apabila Empu Sada yang terluka, yang berjalan terhuyung-huyung bersandar pada tongkatnya.
Wong Sarimpat mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata, “Inilah jejak orang sekarat itu. Kita pasti akan menemukannya Kakang. Orang itu pasti belum terlampau jauh.”
Kebo Sindet tidak segera menjawab. Ternyata ia terpaksa berpikir menghadapi orang aneh itu. Orang yang ternyata memiliki ketahanan tubuh yang luar biasa.
“Mari Kakang,” ajak Wong Sarimpat tidak sabar.
“Mari,” sahut Kebo Sindet sambil melangkah maju.
Tetapi dalam pada itu Kebo Sindet terpaksa memperhitungkan keadaan dirinya. Kedua tangannya yang telah terluka. Pelipisnya yang serasa telah menjadi retak. Ia tinggal mempercayakan dirinya pada ketangkasan dan kekuatan kakinya. Sedang adiknya pun telah hampir mati pula karena luka di dada.
“Hem,” katanya di dalam hati, “Apakah Empu Sada masih mampu bertempur?”
Tetapi kembali nafsunya mencengkam dadanya. Empu Sada harus ditangkapnya. Kini ia yakin bahwa orang itu masih hidup, dan ia akan dapat membunuh dengan caranya. Mungkin dengan cara yang belum pernah dilakukannya. Karena itu maka Kebo Sindet pun segera berjalan tergesa-gesa. Meskipun kedua tangannya dan pelipisnya serasa pecah, tetapi kedua kakinya masih cukup mampu untuk berjalan agak cepat. Tetapi Wong Sarimpat tidak mampu berjalan secepat kakaknya. Sambil terbungkuk-bungkuk ia melangkah maju semakin lama semakin jauh dari Kebo Sindet.
Dengan seksama Kebo Sindet mengikuti jejak Empu Sada di antara batang-batang ilalang. Namun ia sama sekali tidak meninggalkan kewaspadaan. Setiap kali ia mendengar gemeresik di sekitarnya, segera ia berhenti dan mempersiapkan diri. Tetapi ternyata suara itu adalah suara kelinci-kelinci liar yang berlari karena ketakutan.
“Bekas ini cukup panjang,” desisnya.
Tetapi Kebo Sindet tidak mendengar jawaban. Ketika ia berpaling, maka dilihatnya adiknya samar-samar agak jauh di belakangnya. Tetapi Kebo Sindet tidak memedulikan. Ia tidak mau kehilangan buruannya, sehingga justru ia mempercepat langkahnya. Namun ia tidak dapat terlampau cepat. Ia harus mengamati setiap langkah supaya ia tidak kehilangan jejak.
Ternyata jejak yang harus ditelusur oleh Kebo Sindet dan Wong Sarimpat cukup panjang. Kadang-kadang ia kehilangan jejak untuk sesaat. Seolah-olah jalur yang menjelujur itu menghilang ke dalam semak-semak. Apabila demikian, maka Kebo Sindet harus menjadi sangat berhati-hati. Orang itu menyangka bahwa Empu Sada bersembunyi ke dalam semak-semak itu. Tetapi kemudian ternyata, bahwa di sebelah semak-semak itu, ditemukan kembali jejak Empu Sada yang memanjang. Dan kembali Kebo Sindet berjalan menyusurinya.
Tetapi jejak itu cukup panjang. Bahkan terlalu panjang. Apa lagi Wong Sarimpat yang berjalan agak jauh di belakang Kebo Sindet. Orang itu mengumpat tak habis-habisnya. Namun di samping kemarahan yang semakin dalam, ia pun menjadi heran. Apakah orang yang sudah terluka dan terpelanting ke dalam jurang itu masih mampu berjalan sedemikian, ia tetap yakin, bahwa suatu ketika ia akan menjumpai tubuh itu terbaring di atas tanah dengan lemahnya.
Wong Sarimpat itu terkejut ketika ia mendengar kakaknya berteriak menggigilnya, “He Sarimpat. Lihat ini. Di sini jejak itu lenyap.”
Dada Wong Sarimpat berdesir. Segera ia berusaha mempercepat langkahnya. Kata-kata kakaknya benar-benar telah membuatnya menjadi sangat cemas. Ketika ia sampai ke dekat Kebo Sindet ia melihat batang-batang ilalang menjadi sangat tipis, bahkan kemudian hampir lenyap. Yang terbentang kemudian adalah sebuah lapangan rumput yang sempit dengan gerumbul-gerumbul liar di sana-sini. Kemudian di hadapan padang rumput itu mereka melihat sebuah sendang yang agak luas.
Wong Sarimpat dan Kebo Sindet telah mengenal tempat itu baik-baik. Mereka telah mengetahui bahwa sandang itu cukup luas. Bahkan di tengah-tengah sendang itu tumbuh semacam tumbuhan air yang berbahaya. Ganggeng. Yang menurut cerita ganggeng itu sering menelan binatang atau manusia sebagai makanannya. Tetapi Kebo Sindet dan Wong Sarimpat tidak meyakininya. Yang mereka ketahui adalah, bahwa ganggeng itu berakar banyak dan panjang, sehingga apabila seseorang berenang melampaui sekelompok tumbuh-tumbuhan ganggeng, maka tubuhnya pasti akan terbelit. Apabila seseorang menjadi bingung dan kehilangan akal, maka mustahil ia dapat melepaskan diri dari belitan akar ganggeng yang sangat banyak dan panjang-panjang.
“Ia meninggalkan gerumbul alang-alang ini, Kakang. Ia pergi ke tempat terbuka.”
Kebo Sindet meng-angguk-anggukkan kepalanya. Ia tahu benar bahwa lapangan rumput itu terlampau sempit. Di ujung lereng bukit gundul itu bertemu dengan sisi sendang, sehingga tak seorang pun yang akan mampu melampauinya. Yang dapat dilakukan adalah, terjun ke dalam sendang atau mendaki tebing yang curam, yang keduanya sangat sulit. Tak seorang pun yang dapat mendaki tebing yang sangat curam itu dan tak seorang pun yang akan dapat melampaui tebaran tumbuhan ganggeng di tengah-tengah sendang itu. Apabila seseorang masuk ke dalam sendang, maka satu-satunya kemungkinan untuk hidup adalah kembali sisi ini.
Apabila seseorang tidak mendaki tebing dan tidak terjun ke dalam sendang, maka satu-satunya jalan adalah kembali meninggalkan tempat yang terbuka, masuk ke dalam semak-semak batang-batang ilalang bertebaran memenuhi sisi bukit gundul itu.
Karena itu maka Kebo Sindet itu menggeram “Tidak ada kemungkinan lain.”
Wong Sarimpat yang mengenal tempat itu sebaik kakaknya, tahu benar maksud kata-kata itu, sehingga dengan serta-merta ia menjawab “Ya, tidak ada kemungkinan lain. Marilah kita lihat batang-batang ilalang di sekitar tempat ini. Kalau tidak ada bekas kakinya meninggalkan tempat ini, maka orang itu pasti mencoba melarikan diri menyeberang sendang itu.”
Kebo Sindet tidak menjawab. Segera ia berjalan menyusur pinggiran semak-semak ilalang yang memagari tempat terbuka itu. Dicobanya untuk menemukan jejak apabila Empu Sada mencoba meninggalkan tempat itu. Wong Sarimpat pun kemudian berbuat serupa. Dengan seksama ia meneliti setiap langkah. Diamatinya dengan penuh kewaspadaan. Bukan saja jejak kaki, tetapi apabila tiba-tiba dari balik semak-semak dan batang-batang ilalang itu mematuk sebatang tongkat panjang. Tongkat Empu Sada.
Tetapi sampai ke ujung, sampai semak-semak ilalang itu bertaut dengan sisi sendang di sebelah yang lain, mereka sama sekali tidak menemukan jejak itu. Tak ada tanda-tanda pada semak-semak ilalang itu seperti yang pernah mereka lihat. Tak ada batang-batang ilalang yang roboh karena terinjak kaki. Kebo Sindet itu menggeram. Dadanya seakan-akan menjadi pepat karena kemarahannya.
“Setan itu telah lenyap,” umpatnya “bagaimana mungkin ia bisa lari?”
“Tidak mungkin!” sahut Wong Sarimpat, “Tidak mungkin! Orang itu aku kira telah terjun ke dalam Sendang. Ia tidak tahu sama sekali bahaya yang telah menunggunya. Selain tubuhnya yang lemah, maka ganggang itu pasti akan menelannya.”
“Aku belum yakin,” sahut kakaknya, “ia adalah orang yang sangat cerdik. Otaknya tajam tidak seperti otakmu. Mungkin ia masuk ke dalam sendang di sepanjang tepi semak-semak ini sekedar menghilangkan jejak. Kemudian ia masuk kembali di antara batang ilalang beberapa langkah dari tempat ini.”
Wong Sarimpat mengangguk-anggukkan kepalanya. Hal itu pun memang mungkin terjadi. Tetapi Empu Sada tidak akan dapat terlampau jauh menyusur tepi sendang ini, sebab di sebelah yang agak dalam, tepi sendang ini menjadi curam. Karena itu maka ia sependapat ketika kakaknya berkata,
“Kita telusuri tepi sendang ini. Apabila kita sampai di tempat yang curam itu, kita belum menemukan jejaknya, maka baru kita yakin bahwa orang tua itu terjun ke dalam sendang.”
Keduanya pun kemudian dengan hati-hati masuk ke dalam pinggiran sendang yang landai dan tidak terlampau dalam. Perlahan-lahan mereka berjalan sambil mengamati semak-semak ilalang di pinggir sendang itu. Setiap ada tanda-tanda yang mencurigakan maka segera mereka berdua mengamatinya dengan seksama. Tetapi kembali mereka menjadi kecewa. Mereka sama sekali tidak menemukan jejak apapun sehingga mereka sampai ke sisi sendang yang curam.
Kemarahan Kebo Sindet menjadi semakin memuncak. Dadanya serasa akan meledak karena kemarahannya itu. Wong Sarimpat pun mengumpat tidak habis-habisnya sehingga kakaknya membentaknya
“He, tutup mulutmu! Sekarang terbukti bahwa kau masih saja selalu menuruti angan-anganmu yang bodoh. Coba katakan sekarang, di mana Empu Sada itu.” Wong Sarimpat tidak menjawab. Tetapi terdengar ia menggeram. “Ayo, sekarang kita menyusuri tepi sendang ini. Mungkin Empu Sada hanya sekedar masuk ke dalam air merendamkan tubuhnya, untuk nanti menepi kembali.”
“Marilah,” sahut adiknya.
Kembali keduanya berjalan menyusuri tepi sendang itu. Sekali-kali mereka berhenti agak lama dan memperhatikan permukaan sendang itu, seandainya mereka melihat sesuatu. Tetapi permukaan air yang datar itu, sama sekali tidak dinodai oleh sesuatu apapun. Mereka sama sekali tidak melihat wajah air beriak, atau sebuah kepala yang muncul ke permukaan air.
“Tak ada orang yang mampu merendam diri sekian lama bersama seluruh tubuhnya. Sekali-kali ia harus muncul ke atas permukaan air untuk mengambil nafas,” geram Kebo Sindet.
“Mungkin ia telah berenang agak ke tengah dan lenyap ditelan ganggeng.”
“Kau masih juga berangan-angan. Mungkin dan mungkin lagi.”
Wong Sarimpat terdiam. Tetapi hatinya bergumam, “Lalu apakah orang itu dapat lenyap menjadi asap?”
Beberapa lama mereka menunggui sendang itu. Bahkan kemudian Kebo Sindet melihat sesuatu di tepi sendang itu. Sepotong kain kecil berwarna ungu.
“Kacu, kau lihat?” teriak Kebo Sindet.
“Ya, kacu,” sahut Wong Sarimpat dengan serta-merta
“Pasti seseorang telah datang kemari. Lihat, apakah yang dibendeli dalam kacu itu.”
Wong Sarimpat segera memungut sepotong kain berwarna ungu, yang ternyata di dalamnya ada sesuatu benda yang terbalut. Ketika Kebo Sindet membuka sepotong kain berwarna ungu itu, maka tiba-tiba ia berkata,
“Ini pasti milik Empu Sada.”
“Pasti. Kau lihat bumbung kecil ini? Isinya adalah sebuah reramuan obat-obatan. Mungkin obat-obatan ini pulalah yang telah membuatnya menjadi kuat dan dapat menempuh jarak ini.”
Wong Sarimpat mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia mengumpat tak habis-habisnya. Sambil membanting potongan kain itu di tanah ia berkata lantang, “Ia pasti terjun ke dalam sendang ini. Pasti. Tetapi dengan demikian ia pasti menemui ajalnya pula, berkubur di dalam perut pelus yang menunggui sendang ini.”
Kebo Sindet yang berwajah beku itu berdiri mematung di tepi sendang. Tetapi matanyalah yang memancarkan gejolak di dalam dadanya. Apabila Empu Sada itu lepas dari tangannya, maka orang itu akan menjadi orang yang paling berbahaya baginya. Orang itu pasti mendendamnya pula. Tetapi untuk sementara, Empu Sada pasti masih harus menyembuhkan luka-lukanya yang pasti lebih berat dari lukanya sendiri. Empu Sada itu pun pasti tidak akan segera dapat berhubungan dengan Mahisa Agni atau Tunggul Ametung. Dengan demikian masih akan timbul salah paham di antara mereka karena hubungan mereka yang terlampau jelek di masa-masa yang lampau.
Dalam pada itu Wong Sarimpat masih juga berteriak, “He Empu yang gila. Jangan bersembunyi di dalam air. Kau akan mampus ditelan ganggeng. Ayo keluarlah!”
Namun suaranya yang melontar itu hanya disahut oleh gemanya sendiri. Gema yang memantul dari lereng-lereng bukit gundul.
“Tak ada orang yang dapat hidup di dalam air,” berkata Kebo Sindet kemudian. “Kita tunggu di sini untuk sejenak. Kalau kita sudah yakin, bahwa Empu Sada tidak sekedar merendam diri, maka kita akan mendapat kesimpulan, bahwa orang itu telah mencoba melarikan diri, menyeberangi sendang ini.”
“Dan ia akan mampus di antara ganggeng-ganggeng itu.”
Kebo Sindet tidak menjawab. Tetapi ia berdiri dengan gelisah. Dengan dada yang menghentak-hentak ia berjalan mondar-mandir. Ia mengharap melihat sebuah kepala tersembul di permukaan air. Tetapi ia tidak melihatnya, meskipun cukup lama ia berada di pinggir sendang itu. Ia tidak melihat sebuah kepala yang muncul di permukaan air.
“Kalau orang tua itu berada di dalam air, maka sekali-sekali ia akan muncul dan akan segera dapat kita lihat.”
“Ya,” sahut Wong Sarimpat keras-keras, “tetapi orang itu sangat bodoh. Dan ia mencoba berenang menyeberang.”
Kebo Sindet tidak menyahut. Dibiarkannya adiknya berteriak memanggil nama Empu Sada dan sekali-kali ia terbatuk-batuk karena dadanya serasa menjadi pepat. Namun demikian ia berhasil mengatur pernafasannya, maka dipuaskannya hatinya dengan berteriak-teriak untuk mengurangi himpitan kekecewaannya atas hilangnya Empu Sada.
Akhirnya Kebo Sindet menjadi tidak sabar lagi. Menurut perhitungannya, ia telah terlalu lama berdiri, dan kemudian duduk, untuk sejenak lagi berdiri, di tepi sendang itu. Kalau benar Empu Sada masuk ke dalam sendang itu, maka ia pasti sudah mati lemas, atau mati dibelit ganggang. Sedang kemungkinan yang lain tidak ada.
“Aku harap orang itu sudah mampus,” desis Kebo Sindet.
“Pasti. Pasti sudah mampus,” teriak Wong Sarimpat. Kemudian keras-keras ia berkata “Kalau belum ia pasti akan muncul di permukaan air.”
“Mari kita kembali. Kita lihat Kuda Sempana, apakah ia masih utuh atau tinggal Kerangkanya saja dirobek-robek anjing liar,” berkata Kebo Sindet.
“Apakah keberatan kita Kakang?” sahut Wong Sarimpat “biar sajalah Kuda Sempana itu mampus pula.”
“Aku masih memerlukan anak itu. Mungkin masih ada keterangan-keterangan yang bisa diperas daripadanya. Bersikaplah baik terhadap anak itu.”
Wong Sarimpat menggeram. Kepada Kuda Sempana ia mempunyai tanggapan yang serupa seperti kepada gurunya dan kepada Cundaka yang telah dibunuhnya. Tetapi karena kakaknya menghendaki, maka betapa berat perasaannya, ia harus memenuhinya.
Keduanya pun kemudian meninggalkan sendang itu. Kebo Sindet pun kini telah yakin, bahwa Empu Sada pasti akan mati di tengah-tengah sendang itu. Tak ada orang yang dapat menahan nafasnya sekian lama, sepanjang mereka berdua berada di tepi sendang itu. Dan tak ada orang yang akan dapat menyeberangi sendang itu dengan selamat. Orang itu pasti akan tenggelam dibelit oleh ganggeng yang tumbuh lebat hampir di segenap sudut sendang itu. Sedangkan apabila Empu Sada tetap tinggal di tepi, maka setiap kali ia mengambil nafas maka pasti akan dilihatnya.
Ketika keduanya mulai melangkahkan kakinya, maka tiba-tiba Wong Sarimpat membungkukkan badannya. Diraihnya beberapa buah batu dan dilempar-lemparkannya ke dalam sendang itu sambil berteriak,
“Mampuslah kau! Mampuslah!”
Tetapi batu-batu itu tidak terlampau besar, dan wajah sendang itu terlampau luas. Tetapi Wong Sarimpat berbuat asal sekedar berbuat saja. Ia hanya ingin melepaskan kekecewaan, kemarahan dan dendam karena luka di dadanya. Suara Wong Sarimpat yang mengumpat-umpat semakin lama terdengar semakin jauh dari sendang itu. Ketika dadanya menjadi sakit, barulah ia terdiam dan terbatuk-batuk. Seterusnya orang itu tidak lagi berteriak dan mengumpat-umpat.
Dengan tertatih-tatih keduanya berjalan menerobos semak-semak ilalang di sekitar bukit gundul itu. Bahkan Kebo Sindet pun kemudian menjadi agak tergesa-gesa. Ia takut Kuda Sempana yang ditinggalkannya akan dikerumuni oleh anjing-anjing hutan, menjadi makanan mereka yang menyenangkan.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar