MENU

Ads

Minggu, 01 Maret 2026

Pelangi di Langit Singasari 100

Ia masih merasa perlu atas Kuda Sempana. Banyak hal yang dapat dilakukan oleh anak itu. Meskipun apa yang akan dilakukan kelak atasnya, mungkin sama sekali tidak menyenangkan bagi Kuda Sempana, tetapi Kebo Sindet masih merasa perlu untuk bersikap baik terhadapnya. Kebo Sindet pun memperhitungkan, bahwa Kuda Sempana bukanlah seorang pengecut yang berlebihan. Mungkin ia akan mempertahankan harga dirinya, dan membiarkan dirinya mati apabila ia dicoba untuk diperas dengan kasar. Tetapi dengan cara lain, mungkin anak muda yang kehilangan gurunya itu akan menjadi lunak. Meskipun apabila terpaksa, maka segala cara akan ditempuh oleh kedua hantu lereng bukit gundul itu.

Demikianlah maka kedua orang itu pun kemudian menganggap bahwa Empu Sada telah berusaha melarikan dirinya dengan menyeberangi sendang. Dengan demikian maka mereka pun menganggap bahwa orang itu pasti sudah binasa di tengah-tengah sendang itu dibelit ganggeng.

“Tidak mungkin Empu Sada dapat melenyapkan diri seperti asap,” berkata Kebo Sindet di dalam hatinya, “dan tidak mungkin seseorang mampu menyeberangi sendang itu dengan selamat.” Meskipun demikian, Kebo Sindet itu berkata, “Besok kita kembali ke tempat ini untuk meyakinkan kematian Empu Sada.”

“Baik,” sahut adiknya.

Kembali mereka berdiam diri sambil melangkah di antara batang ilalang menuju ke lereng pendakian bukit gundul itu.

Sementara itu Empu Sada masih mencoba bersembunyi di dalam air. Baginya cara itu adalah satu-satunya jalan. Ia belum mengenal daerah itu dengan baik, sehingga ia tidak tahu, ke mana ia akan lari. Sedangkan pada saat itu, suara kedua orang liar itu sudah semakin dekat. Untunglah bahwa ia merasa terlampau lemah untuk mencoba melarikan diri dengan merenangi sendang yang tidak dilihatnya tepi di ujung lain karena malam yang pekat.

Maka tak ada pilihan lain baginya daripada terjun ke dalam air. Dengan menahan dingin dan pedih pada luka di dadanya, ia merendam dirinya. Hanya kepalanya sajalah yang semula masih berapa di atas air. Tetapi ketika didengarnya suara Kebo Sindet dan Wong Sarimpat semakin dekat, dan ketika samar-samar telah dilihatnya kedua orang itu mendekati tepi sendang maka segera dibenamkannya segenap tubuhnya.

Orang tua itu mempergunakan gelagah ilalang untuk menahan supaya ia tetap dapat bernafas meskipun dengan mulutnya. Satu ujung gelagah itu dimasukkannya ke dalam mulutnya, sedang ujungnya yang lain dicuatkannya ke atas permukaan air. Dengan demikian ia masih mampu melakukan pernafasan meskipun dengan mulutnya.

Namun usaha itu ternyata telah menyelamatkannya. Ternyata Kebo Sindet dan Wong Sarimpat tidak memperhitungkan sedemikian jauh, sehingga ketika mereka berada di tepi sendang itu cukup lama, dan tidak dilihatnya sebuah kepala yang kadang-kadang tersembul ke atas air untuk menarik nafas, maka mereka menganggap bahwa Empu Sada tidak berada di tempat itu. Tidak berada di tepian sendang yang dangkal.

Meskipun Empu Sada merendam seluruh tubuhnya, termasuk kepalanya di dalam air, namun samar-samar ia mendengar suara Wong Sarimpat mengumpat-umpat. Memanggil-manggilinya dan berteriak-teriak tak menentu. Ketika Wong Sarimpat melemparkan batu ke dalam sendang itu, maka hampir saja batu itu mengenainya, bahkan hampir saja mengenai kepalanya. Tetapi untunglah, bahwa kepalanya nyaris terkena lemparan itu.

Akhirnya suara ribut Wong Sarimpat itu pun lenyaplah. Tidak ada lagi umpatan-umpatan yang didengarnya. Tidak ada lemparan-lemparan batu yang dirasakannya. Meskipun demikian Empu Sada tidak segera berani muncul ke permukaan air. Ia masih takut apabila kedua orang itu masih menunggui di tepi sendang. Dengan demikian, maka usahanya merendam diri semakin lama, sehingga ia menggigil kedinginan dan kesakitan yang sangat pada dadanya itu akan sia-sia.

Tetapi akhirnya Empu Sada itu pun yakin bahwa kedua orang itu telah pergi. Perlahan-lahan ia mencoba menjengukkan matanya ke permukaan air. Dan kini tidak dilihatnya lagi seseorang di pinggir sendang itu. Dengan teliti diamatinya setiap bayangan yang betapapun samar-samarnya. Mungkin bayangan itu adalah kedua orang liar yang memuakkan itu. Namun akhirnya ia mendapat kesimpulan bahwa kedua orang itu memang telah pergi.

Perlahan-lahan Empu Sada bangkit berdiri. Air tempatnya bersembunyi sebenarnya tidak terlampau dalam. Masih belum melampaui perut. Namun karena Empu Sada berhasil merendamkan seluruh tubuhnya, dan cahaya bintang-bintang di langit yang sama sekali tidak membantu memecahkan gelap malam, maka kedua orang liar itu tidak melihatnya. Empu Sada yang kedinginan itu kemudian melangkah menepi. Lututnya gemetar dan darahnya serasa hampir membeku.

“Gila!” gumamnya, “pengalaman ini adalah pengalaman yang paling menarik sepanjang hidupku. Sepanjang petualangan yang pernah aku lakukan. Telah berpuluh kali aku berkelahi, berpuluh kali terluka dan berpuluh kali membunuh lawan. Namun belum pernah aku merendam diri selama ini, hanya sekedar ingin menghindari kedua setan bukit gundul ini.”

Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia meraba-raba ikat pinggangnya, diketahuinya bahwa kacu sepotong yang dipakainya untuk membalut obat-obatnya terjatuh.

“Hem, pasti ketika aku membenahi diri sebelum aku terjun kemari.”

Empu Sada pun kemudian mencari sepotong kain ungunya. Ketika kemudian kain sepotong itu ditemukan, maka gumamnya, “Kedua orang itu pasti melihat potongan kain ini. Kalau demikian, maka mereka pasti sudah tahu bahwa aku masuk ke dalam sendang ini.”

Empu Sada kini menyadari keadaan diri sepenuhnya. Kedua orang yang mencarinya pasti menyangka, bahwa ia telah mencoba melarikan diri merenangi sendang itu. Namun Empu Sada kemudian tidak dapat mengambil kesimpulan, bagaimanakah anggapan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat atas dirinya. Empu Sada tidak dapat segera mengetahui, bahwa Wong Sarimpat dan Kebo Sindet telah menganggapnya mati ditelan ganggeng di tengah-tengah sendang itu.

Karena itu, maka Empu Sada itu pun kemudian bergumam, “Mungkin mereka masih berusaha untuk segera menemukan aku. Karena itu aku harus segera pergi.”

Empu Sada segera melangkahkan kakinya. Beberapa langkah kemudian ia masih menemukan bumbungnya yang berisi reramuan obat-obatan. Tetapi sebagian dari obat-obatnya telah berserak-serak di atas rerumputan dan tak mungkin lagi dikumpulkannya. Tetapi sebagian kecil yang masih berada di dalam bumbungnya itu pun masih dapat menghiburnya. Malam semakin lama menjadi semakin dalam. Angin yang dingin berhembus menyusur bukit. Alangkah dinginnya.



Empu Sada yang tua itu menggigil kedinginan. Pakaian dan tubuhnya basah kuyup oleh air sendang tempatnya berdiam diri. Tetapi ia tidak mempunyai ganti, sehingga meskipun perasaan dingin menggigit sampai ke tulang, maka terpaksa pakaian yang basah itu pun tetap dipakainya. Kini ia dihadapkan pada persoalan, bagaimana ia dapat keluar dari tempat ini. Ia harus mampu menghilangkan segala macam kesan, bahwa ia masih berada di tempat itu. Ia harus memelihara anggapan bahwa Empu Sada lenyap ke dalam sendang. Lari menyeberangi sendang itu, supaya Kebo Sindet dan Wong Sarimpat tidak berusaha mengejarnya dengan mencari jejaknya. Sebab ia merasa bahwa ia masih belum mampu untuk meninggalkan tempat itu dengan cepat.

Ketika Empu Sada sampai ke semak-semak ilalang, maka ia memperhitungkan keadaan. Ia harus berjalan tanpa meninggalkan jejak. Karena itu, maka dicarinya jejak Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Dengan hati-hati Empu Sada berjalan di sepanjang jejak mereka, di atas batang-batang ilalang yang telah roboh terinjak-injak kaki-kaki mereka. Namun di suatu tempat ia harus memisahkan diri dari jejak itu dan mencari kesempatan yang baik tanpa menimbulkan kecurigaan.

Demikianlah dengan hati-hati Empu Sada berjalan tertatih-tatih. Tubuhnya yang kedinginan, dan dadanya yang pedih merupakan penghambat yang mengganggunya. Tetapi ia menyadari keadaan sepenuhnya. Ia harus pergi sejauh-jauhnya.

Akhirnya jejak kaki yang diikutinya itu pun keluar dari semak ilalang. Tetapi kedua orang liar itu pasti menuju ke sisi bukit gundul yang landai, tempat mereka mendaki naik ke tempat mereka berkelahi semula. Sedangkan Empu Sada pun kemudian memilih arah yang lain. Kalau masih kuat ia harus berjalan sampai pagi. Semakin jauh semakin baik. Ia masih belum berpikir ke mana ia harus pergi. Tetapi tanpa disengaja, Empu Sada telah memilih jalan kembali. Jalan yang berlawanan dengan jalan yang ditempuhnya pada saat ia datang ke bukit gundul ini.

Sementara itu Kebo Sindet dan Wong Sarimpat yang menganggap bahwa Empu Sada telah mati, bahkan hampir dapat mereka pastikan, dengan tergesa-gesa menurut kemampuan yang masih mereka miliki, telah mendaki bukit gundul itu kembali. Wong Sarimpat yang selalu diganggu oleh perasaan nyeri di dadanya. berkali-kali terpaksa berhenti terbatuk-batuk, sehingga kakaknya berjalan semakin jauh di depan.

Ketika mereka sampai ke atas bukit gundul itu, mereka melihat Kuda Sempana telah berhasil berdiri tegak. Bahkan dengan pedang di tangan ia menggeram, “Ayo, kalau kalian telah berhasil membunuh guruku serta saudara seperguruanku, kenapa kalian tidak sanggup membunuh aku sama sekali?”

Tetapi Kuda Sempana menjadi heran ketika ia melihat wajah hantu yang membeku itu Tiba-tiba tersenyum. Betapapun malam diwarnai oleh kegelapan serta obor di dekatnya telah padam, namun Kuda Sempana dapat melihat senyum itu. Senyum pada wajah yang beku, sehingga karena itu, maka hatinya menjadi ngeri. Seolah-olah ia melihat sesosok mayat yang tersenyum kepadanya.

Ketika Kebo Sindet melangkah selangkah lagi mendekatinya, tiba-tiba Kuda Sempana yang hatinya keras sekeras batu hitam itu melangkah surut sambil berteriak,

“Jangan, jangan dekati aku!”

Tetapi wajah itu masih tersenyum. Senyum yang benar-benar telah menggetarkan dada Kuda Sempana. Bukan karena Kebo Sindet adalah seorang sakti yang setingkat dengan gurunya. Ia sebenarnya telah bersedia untuk mati sekalipun. Tetapi ketika ia melihat seakan-akan sesosok mayat tersenyum kepadanya, hatinya bergolak dahsyat sekali.

Tanpa dikehendakinya kembali ia berteriak, “Pergi, pergi, atau pedangku akan memenggal lehermu itu.”

Namun Kuda Sempana terkejut pula ketika ia mendengar Kebo Sindet itu berkata dengan tenang “Kuda Sempana. Sadarilah keadaanmu, dan apakah kau mau mendengar keteranganku?”

Suara itu sangat berbeda dengan wajah yang ditatapnya. Wajah itu benar-benar mengerikan, tetapi suara itu terasa tenang dan bersungguh-sungguh.

“Aku ingin berkata sesuatu kepadamu. Aku harap kau dapat mendengarnya dengan tenang. Menimbang dengan bijaksana. Sebenarnya aku tidak mempunyai maksud yang jelek terhadapmu.”

Kini Kuda Sempana terdiam seperti patung. Ia sama sekali tidak melihat sikap pemusuhan dari Kebo Sindet yang mengerikan itu. Bahkan terasa sikapnya sejak semula tidak berubah, meskipun telah terjadi perkelahian antara orang itu dengan gurunya.

Sejenak kemudian Wong Sarimpat pun telah berdiri di sampingnya pula. Sikap orang ini memang agak berbeda dengan sikap kakaknya. Tetapi meskipun demikian, ia pun telah berusaha berbuat sebaik-baiknya. Ia ingin mencoba berbuat seperti kakaknya, menenangkan hati Kuda Sempana. Katanya

“Apakah kau masih merasa tubuhmu terlampau lemah Kuda Sempana? Kalau demikian, aku akan berusaha menyembuhkanmu.”

Kuda Sempana memandangi orang kasar itu dengan penuh kecurigaan. Tetapi ia tidak menemukan kesan apapun pada wajah Wong Sarimpat. Namun ia terkejut ketika tiba-tiba ia mendengar Wong Sarimpat tertawa terbahak-bahak,

“Matamu masih memancarkan kecurigaan.” Kuda Sempana tidak segera menyahut, namun terdengar giginya gemeretak.

Tetapi Wong Sarimpat masih saja tertawa berkepanjangan, sehingga akhirnya ia berhenti dengan sendirinya karena dadanya menjadi sakit. Sambil terbungkuk-bungkuk ia batuk-batuk. Kedua tangannya menekan dadanya yang sakit itu.

Yang berkata kemudian adalah Kebo Sindet, “Jangan bimbang lagi Kuda Sempana. Aku masih tetap pada pendirianku. Aku ingin menolongmu menangkap Mahisa Agni. Menyerahkannya kepadamu.”

Kuda Sempana masih tetap berdiam diri. Ia masih belum menemukan sikap yang sebaik-baiknya harus dilakukan. Dalam pada itu Kebo Sindet itu berkata “Jangan hiraukan lagi gurumu. Aku terpaksa membunuhnya. Sekian lama aku menunggu kesempatan ini. Dendam yang tersimpan di dalam dada ini seakan-akan tidak tertahankan lagi. Mungkin kau belum mengetahuinya, persoalan yang selama ini seolah-olah ingin dilupakan oleh gurumu. Tetapi bagiku, sebelum gurumu berkubur di bukit gundul ini, hatiku masih belum puas. Tetapi meskipun kau adalah muridnya, namun kau tidak ikut campur dalam persoalan ini. Kau sama sekali tidak mengetahui ujung dan pangkalnya, sehingga kau kami bebaskan dari setiap tindakan apapun.”

Kuda Sempana masih menggenggam pedang di tangannya. Ia masih juga belum dapat menentukan, sikap apakah yang sebaiknya dilakukan. Tetapi akhirnya Kuda Sempana itu mencoba untuk memilih kemungkinan yang paling panjang. Kalau ia melawan, maka ia pasti akan mati. Tetapi kalau ia membiarkan dirinya menurut perintah kedua orang itu, maka ia akan tetap hidup. Selagi ia masih hidup, maka kemungkinan-kemungkinan yang lain masih dapat terjadi. Berbeda sekali dengan apabila ia terbunuh malam ini.

Meskipun demikian Kuda Sempana masih juga berdiam diri. Tanpa dikehendakinya, sekali ia berpaling memandangi mayat saudara seperguruannya yang masih terbaring di atas batu-batu padas di atas bukit gundul itu.

“Jangan hiraukan jahanam itu!” teriak Wong Sarimpat sehingga Kuda Sempana terkejut karenanya. Orang itu telah mendapat upahnya sendiri. Kalau ia tidak terlampau sombong, maka ia tidak akan menemui nasib begitu jelek. Kuda Sempana masih belum menjawab.

“Kuda Sempana,” berkata Kebo Sindet “mari ikutlah kami. Kau akan tinggal bersama kami sampai kau dapat berbuat sesuatu atas Mahisa Agni. Aku berjanji akan menangkapnya hidup-hidup untukmu. Aku dapat menangkapnya pada sebuah tonggak yang kuat. Dan kau akan dapat berbuat sesuka hatimu. Mungkin kau akan membunuhnya, atau mungkin kau akan membiarkannya tersiksa atau cacat untuk seumur hidupnya.”

Kuda Sempana tidak dapat segera mengetahui perasaannya sendiri. Apakah ia menjadi bergembira mendengar tawaran itu, atau tiba-tiba ia telah kehilangan nafsu untuk berbuat demikian. Guncangan-guncangan perasaannya masih saja mengganggunya. Kematian saudara seperguruannya dan mungkin gurunya sendiri, benar-benar telah mempengaruhi cara dan kejernihannya berpikir.

Namun ketika sekali lagi Kebo Sindet mengajaknya, maka sekali lagi Kuda Sempana menjatuhkan pilihannya pada kemungkinan yang paling jauh, yaitu, ia ingin tetap hidup, sebelum ditemukannya jalan yang sebaik-baiknya dilakukan.

“Mari ikut aku,” ajak Kebo Sindet pula. Kuda Sempana tidak menjawab, tetapi ia mengangguk. “Bagus!” berkata Kebo Sindet.

Kembali wajah yang beku itu tersenyum. Dan kembali Kuda Sempana menjadi ngeri melihat senyum itu. Terbayang di wajahnya, sesosok mayat yang bangkit dari kuburnya dan tersenyum kepadanya. Tetapi Kebo Sindet sama sekali tidak memperhatikannya lagi. Segera ia berjalan kembali ke gubuknya.

Kuda Sempana yang masih saja ragu-ragu merasa punggungnya disentuh. Ketika ia berpaling Wong Sarimpat telah berdiri di belakangnya. Terdengar kemudian suara tertawanya memekakkan telinga. Di antara suara tertawanya itu ia berkata,

“Marilah Kuda Sempana. Kau akan menemukan tempat tinggal yang baru di antara kami. Kau akan segera mengenal cara hidup orang-orang Kemundungan. Orang Kemundungan ternyata terlampau baik terhadap kami. Mereka merasa bahwa kami telah melindungi mereka dari setiap kejahatan yang dapat terjadi. Kini baik penjahat-penjahat yang berkeliaran di padukuhan-padukuhan. Sejak Baginda di Kediri bertindak lebih keras terhadap kejahatan dan agaknya diikuti pula oleh setiap akuwu termasuk Akuwu Tunggul Ametung, maka penjahat-penjahat lari bertebaran di padukuhan-padukuhan terpencil. Tetapi ternyata sampai saat ini Kemundungan masih tetap lepas dari pengaruh kejahatan itu.”

Kuda Sempana mengerutkan keningnya, tetapi ia tidak menjawab. Ketika sekali lagi ia merasa tangan Wong Sarimpat menyentuhnya, maka kakinya pun terayun melangkah mengikuti Kebo Sindet yang telah beberapa langkah di muka. Ketika sekali lagi ia berpaling ke arah tubuh Cundaka yang menyebut dirinya Bahu Reksa Kali Elo, terdengar Wong Sarimpat berkata,

“Sebelum matahari bertengger di atas punggung bukit di ujung timur itu, maka yang tinggal di sini adalah kerangkanya saja. Anjing-anjing liar segera akan menerkamnya dan merobek-robeknya.”

Terasa bulu-bulu tengkuk Kuda Sempana meremang. Bagaimanapun juga orang itu adalah saudara seperguruannya yang telah lama bergaul dan bahkan orang itu telah berusaha membantunya pula untuk mencapai maksudnya, meskipun ia tahu, bahwa Cundaka itu pun mempunyai pamrih juga. Namun ketika ia melihat tubuh itu terbaring di atas batu-batu padas, maka hatinya berdesir pula.

Tetapi Kuda Sempana tidak mendapat kesempatan untuk berbuat sesuatu. Setiap kali ia tertegun, maka terasa Wong Sarimpat menyentuhnya. Sentuhan yang semakin lama terasa menjadi semakin kasar, meskipun orang itu masih juga tertawa-tawa. Akhirnya Kuda Sempana berjalan menurut irama langkah Kebo Sindet meninggalkan bukit gundul itu. Meninggalkan tempat yang tidak akan pernah dilupakannya.

Ketika kemudian mereka menuruni bukit gundul itu, terasa dada Kuda Sempana menjadi bergelora. Kemarin ia menuruni bukit ini pula bersama guru dan seorang saudara seperguruannya. Kini ia menuruni bukit itu bersama dua orang yang belum pernah dikenal sebelumnya.

Berbagai perasaan bergumul di dalam hatinya. Kadang-kadang ia ingin melepaskan diri dari kedua orang itu, tetapi kadang-kadang apabila dilihatnya punggung Kebo Sindet, ingin ia menghunjamkan pedangnya ke punggung itu. Tetapi tiba-tiba disadarinya, bahwa di belakangnya berjalan tertatih-tatih Wong Sarimpat. Meskipun orang itu tampaknya telah hampir mati, tetapi ia masih cukup berbahaya. Apalagi baginya, yang kini tidak memiliki kekuatan sepenuhnya.

Kuda Sempana terkejut ketika tiba-tiba ia melihat Kebo Sindet berhenti dan berpaling. Dari sela-sela bibirnya yang beku terdengar orang itu berkata, “He, Kuda Sempana, apakah kau masih menggenggam pedang di tangan? Sarungkanlah. Sebentar lagi jalan akan menjadi semakin sulit. Pedang itu akan berbahaya bagimu. Apabila kau terpeleset jatuh, maka mungkin sekali tajam pedang itu akan menyobek kulitmu sendiri.”

Kuda Sempana memandangi wajah Kebo Sindet dengan tajamnya. Namun kemudian tanpa dikehendakinya sendiri, tangannya tergerak menyarungkan pedang itu pada wrangka dilambungnya.

“Bagus! Hati-hatilah berjalan,” berkata Kebo Sindet itu pula “Baru apabila kita bertemu dengan gerombolan anjing liar, mungkin kau perlukan pedangmu itu untuk menghalaunya.”

Kuda Sempana masih saja berdiam diri. Ketika Kebo Sindet berjalan kembali, maka Kuda Sempana pun berjalan pula lewat jalan setapak yang kemarin pernah dilaluinya pula. Berbelit-belit di antara batu-batu padas yang menjorok tajam dan kadang-kadang seakan-akan menghadang di tengah jalan.

Di tempat inilah ia kemarin melihat Wong Sarimpat di bawah jalan ini, kemudian di atas punggung kuda berlari mendaki lereng yang curam ini. Kemarin ia masih mengagumi orang yang kasar yang disangkanya terlampau jujur itu. Tetapi ternyata orang itu telah membunuh guru dan saudara seperguruannya.

Kebo Sindet ternyata sengaja berjalan perlahan-lahan supaya Kuda Sempana dan Wong Sarimpat yang terluka itu tidak tertinggal terlampau jauh. Namun demikian, mereka semakin lama menjadi semakin dekat pula dengan gubuk di lereng bukit gundul itu. Gubuk yang berada di mulut gua.

Bulu kuduk Kuda Sempana meremang ketika teringat kata-kata Kebo Sindet, bahwa di dalam gua itu terdapat banyak kerangka manusia. Siapa yang masuk ke dalam gua itu, tidak akan dapat keluar kembali.

“Apakah aku akan dimasukkan ke dalam gua itu pula?” berkata Kuda Sempana di dalam hatinya. Tetapi kemudian ditenangkannya hatinya sendiri. Apapun yang akan terjadi akan dihadapinya, walau mati sekalipun.

“Ini adalah akibat yang mungkin sekali terjadi,” katanya di dalam hati pula, “Kalau aku berhasil, sempurnalah hasilnya, kalau gagal, tebusannya maut.”

Akhirnya mereka berhenti juga di muka gubuk Kebo Sindet. Dalam kegelapan Kuda Sempana masih dapat mengenali gubuk itu. Mulut gubuk itu masih saja menganga seperti pada saat Kuda Sempana meninggalkannya. Dan ruangan di dalam gubuk itu pun masih saja gelap pekat.

“Wong Sarimpat,” berkata Kebo Sindet “buatlah api! Nyalakan pelita! Apakah kau masih mempunyai minyak?”

“Masih Kakang,” sahut Wong Sarimpat yang kemudian berjalan memasuki gubuknya.

Kuda Sempana merasa perbedaan penerimaan atas dirinya. Ketika ia datang bersama gurunya, maka seolah-olah kedua orang itu acuh tak acuh saja. Tetapi kini terasa keduanya menjadi terlampau baik terhadapnya. Anak muda itu bukanlah anak muda yang terlampau dungu. Betapapun juga ia dapat mengerti dan merasakan, bahwa ada sesuatu kepentingan atasnya dari kedua orang itu. Samar-samar ia melihat kepada persoalan yang akan dihadapinya Kebo Sindet dan Wong Sarimpat akan memperalatnya.

Tetapi Kuda Sempana sudah tidak akan dapat melepaskan diri lagi. Ia sekarang dan seterusnya pasti hanya akan menjadi alat mati. Alat yang tidak dapat menentukan sikapnya sendiri. Namun ia tidak akan menerima nasib itu tanpa perlawanan. Ia harus mempergunakan otaknya, bukan tenaganya. Sebab ia pasti tidak akan mampu melawan keduanya. Bahkan satu pun tidak, meskipun sudah terluka.

Ketika lampu telah menjala, maka Kebo Sindet segera mempersilakan Kuda Sempana itu masuk ke dalam. Ketika mereka sudah duduk di atas amben yang kemarin mereka pakai pula, terdengar Kebo Sindet berkata,

“Kuda Sempana. Lupakanlah gurumu dan saudara seperguruanmu. Tinggallah di sini seperti di rumah sendiri. Aku dan Wong Sarimpat segera akan berusaha menyembuhkan luka-luka kami. Dalam waktu yang singkat kami akan memenuhi permintaanmu. Menangkap Mahisa Agni hidup-hidup bagi kami sama sekali bukan pekerjaan yang sulit. Kami heran, kenapa gurumu tidak mampu melakukannya apabila ia benar-benar bermaksud menangkapnya. Karena itu, bagi kami gurumu merupakan penghalang terbesar. Bahkan aku mempunyai perhitungan bahwa gurumu sengaja akan menjebak kami. Selain itu kami memang mempunyai persoalan yang lama terpendam dengan gurumu. Lambat laun kau pasti akan mengetahuinya juga.”

Tiba-tiba Kuda Sempana mengangguk-anggukkan kepalanya. Bahkan kemudian ia bertanya, “Apakah paman berkata sebenarnya?”

Kebo Sindet memandang Kuda Sempana dengan wajahnya yang beku. Tetapi sorot matanya memancarkan perasaan yang aneh. Kenapa Kuda Sempana menjadi lunak hatinya dengan tiba-tiba. Perubahan itu berlangsung terlampau cepat. Namun Kebo Sindet tidak segera dapat menarik ke simpulan. Bahkan kemudian ia menjawab,

“Tentu. Aku berkata sebenarnya.”

Kuda Sempana terdiam sesaat. Ia ingin segera berpura-pura bergembira mendengar jawaban itu, tetapi ia tidak dapat. Beruntunglah ia bahwa ia tidak mampu berbuat demikian karena kejutan perasaan yang baru saja dialami. Kebo Sindet adalah seorang yang licin. Ia akan mampu melihat perubahan yang tidak wajar apabila Kuda Sempana dengan tiba-tiba menyatakan sikapnya yang berlawanan dengan sikapnya sebelumnya. Namun karena Kuda Sempana masih dicengkam oleh perasaannya, maka justru sikapnya itu telah menghilangkan kecurigaan Kebo Sindet.

Sejak saat itu Kuda Sempana terpaksa tinggal di dalam gubuk itu pula. Gubuk Kebo Sindet. Betapa hatinya ingin melepaskan diri dari lingkungan yang sama sekali tidak di kehendaki itu, tetapi ia tidak pernah mendapat kesempatan. Setiap kali ia selalu berada di antara kedua orang liar itu atau salah seorang daripadanya. Namun setelah beberapa hari Kuda Sempana berada di tempat itu, sikap Kebo Sindet dan Wong Sarimpat sama sekali tidak berubah. Mereka masih bersikap baik dan ramah. Bahkan mereka agaknya sangat memperhatikan kebutuhannya.

Dalam beberapa hari itu Kuda Sempana dapat mengetahui cara hidup Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Kedua mendapat makanan mereka dari orang-orang Kemundungan. Meskipun orang-orang Kemundungan sendiri adalah orang-orang miskin, namun Kebo Sindet dan Wong Sarimpat tidak akan pernah merasa kekurangan. Mereka mendapat makanan mereka dalam dua bentuk. Makanan masak, yang tinggal menyuapkan saja ke dalam mulut, dan bahan-bahan mentah yang dikehendaki. Buah-buahan, pala kependam dan pala gumantung. Kedua orang itu seolah-olah menjadi raja kecil dalam padukuhan yang terpencil itu.

Di dalam gubuk Kebo Sindet memang terdapat mulut gua. Tetapi Kuda Sempana sama sekali tidak berani memasuki gua itu. Setiap kali ia mendengar Kebo Sindet atau Wong Sarimpat berkata kepadanya. Setiap orang yang mencoba masuk ke dalamnya, maka orang itu tidak akan pernah keluar lagi. Bahkan selama itu, Kuda Sempana belum pernah melihat Kebo Sindet atau Wong Sarimpat sendiri masuk ke dalamnya.

Yang diketahui oleh Kuda Sempana dengan pasti, selama ini Kebo Sindet dan Wong Sarimpat selalu mengobati diri mereka masing-masing. Ternyata luka-luka yang mereka derita bukanlah luka-luka yang ringan. Hanya karena daya tahan tubuh-tubuh mereka yang luar biasa sajalah, maka mereka tidak hancur karenanya. Mereka bahkan masih tampak tetap segar.

Koleksi : Ki Ismoyo

Retype : Ki Sukasrana

Proofing : Ki Sunda






OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar