PdLS-21
DARI hari-kehari, maka kedua orang itu menjadi semakin sembuh. Tubuh-tubuh mereka kembali menjadi sehat dan kuat seperti pada saat Kuda Sempana pertama kali melihatnya. Setiap kali Kuda Sempana melihat keduanya menguji tubuh masing-masing.
Sehingga, pada suatu hari Kebo Sindet berkata kepada Kuda Sempana,, “Kami telah memiliki keadaan tubuh kami seperti semula. Kami telah sehat kembali, seperti pada saat gurumu belum melukai kami dengan curang. Sebentar lagi kami akan menjadi siap melakukan pekerjaan yang kau percayakan kepada kami”.
Kuda Sempana masih saja diliputi oleh kebimbangan dan bahkan kebingungan. Sesudah sekian hari ia berada di dalam gubug itu, namun ia masih belum menemukan jalan yang sebaik-baiknya ditempuh.
Kuda Sempana itu terkejut ketika Kebo Sindet kemudian berkata,, “Aku tahu, bahwa kau masih tetap berprasangka kepada kami. Perasaan itu tidak akan lenyap dari kepalamu selagi kami belum dapat membuktikan perkataan kami. Tetapi, percayalah bahwa kami akan melakukannya untuk beberapa keping emas murni”.
Kuda Sempana menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba terloncat dari bibirnya, “Paman, apabila aku masih tetap berada di sini, aku tidak akan berhasil mendapatkan emas murni itu”.
“Bukankah kau sudah menyediakannya?”
“Belum berupa emas murni” sahut Kuda Sempana, “aku masih harus berusaha mendapatkannya. Yang aku punya adalah timang emas bertetes berlian. Pendok emas bermata intan dan perhiasan-perhiasan yang lain. Tetapi bukan emas murni”.
Wajah Kebo Sindet yang beku masih tetap membeku. Namun, tanpa diketahui oleh seorangpun, ia tersenyum di dalam hati. Yang diucapkan kemudian adalah, “Barang-barang itu cukup berharga bagi kami, kau tidak perlu bersusah payah menukarkannya dengan emas murni”.
Kuda Sempana terdiam. Tetapi hatinya bergolak. Barang-barang itu telah dikumpulkannya bertahun-tahun, sejak ia mengabdikan dirinya di istana, bahkan menjadi kepercayaan Akuwu dalam beberapa persoalan. Apakah barang-barang yang telah dikumpulkannya bertahun-tahun itu akan dilepaskannya? Kembali ia menyesali kebodohannya.,
“kenapa aku mengatakannya?”
Tetapi, penyesalan itu sama sekali sudah tidak berarti. Ia tidak dapat menyesali kematian gurunya karena kebodohannya pula. Karena nafsunya untuk membalas dendam, sehingga ia telah kehilangan segenap pertimbangan yang bening.
“Tetapi, kenapa guru selama ini membiarkan aku terdorong semakin jauh?” Kuda Sempana menarik nafas dalam-dalam, “Guru juga ingin mendapatkan beberapa keping emas murni, atau timang tretes berlian atau pendok emas bermata intan atau apapun yang disenanginya”.
Kembali Kuda Sempana terkejut ketika Kebo Sindet berkata, “Memang kepuasan amat mahal harganya. Tetapi, jangan takut. Aku tidak serakus gurumu. Aku hanya akan menerima sebagian menurut keikhlasanmu. Aku tidak akan menyebut, berapa banyak yang aku kehendaki”.
Kuda Sempana menarik alisnya. Tetapi, ia tidak percaya akan kata-kata itu. Namun, demikian ia menyawab, “Terima kasih paman. Kapan paman memberi kesempatan kepadaku untuk mengambil barang-barang itu?”
“Tidak terlampau tergesa-gesa” sahut Kebo Sindet, “Aku akan menerimanya setelah pekerjaanku selesai”.
Kembali Kuda Sempana terdiam. Dan kembali ia harus memutar otaknya untuk memecahkan jalan keluar dari tempat yang menyesakkan nafas ini. Tetapi dari hari-kehari, keadaan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat menjadi semakin baik. Dengan demikian maka kemungkinan Kuda Sempana untuk melepaskan diri dari tangan kedua orang itu menjadi semakin sempit. Namun, bukan saja kesempatan Kuda Sempana menjadi semakin sempit, tetapi karena nafsu Kuda Sempana untuk pergi meninggalkan gubug itu pun menjadi kecil pula.
Setelah beberapa hari ia berada di gubug itu, dirasakannya bahwa sikap Kebo Sindet dan Wong Sarimpat menjadi semakin baik terhadapnya. Apalagi Kebo Sindet. Bahkan, setelah orang itu menjadi sembuh sama sekali, Kuda Sempana sering dibawanya berburu di lereng bukit gundul itu, di dalam hutan-hutan yang tidak begitu lebat dan di padang-padang ilalang.
Kuda Sempana pun selalu berusaha untuk tidak menumbuhkan kecurigaan kepada kedua orang itu. Semula anak muda itu berhasil berpura-pura menerima tawaran Kebo Sindet dan Wong Sarimpat itu. Namun, kemudian batinya benar-benar terpengaruh oleh keadaan yang dialaminya.
Bahkan, kemudian Kebo Sindet dan Wong Sarimpat itu pun bersedia memberinya sedikit ilmu. Ilmu yang dimiliki oleh Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Ilmu yang agak berbeda dengan ilmu yang diterimanya dari gurunya Empu Sada. Namun, dengan pertolongan kedua orang itu Kuda Sempana berhasil mencoba mencernakannya. Menyusun jenis-jenis ilmu yang berbeda itu dalam tata gerak yang serasi, yang dengan sendiri dapat menambah sedikit kemampuannya bertempur.
Hal inilah yang semula sama sekali tidak diduganya. Ternyata kedua orang itu bersikap baik kepadanya, bahkan terlalu baik. Lambat laun, maka Kuda Sempana itu hampir melupakan gurunya sendiri dalam beberapa hari. Seakan-akan ia telah menemukan guru yang baru. Ketika kemudian, Kebo Sindet dan Wong Sarimpat telah benar-benar sembuh, dan telah memiliki kekuatannya kembali seperti sedia kala, maka berkatalah Kebo Sindet kepada Kuda Sempana,
“Kuda Sempana. Kami, aku dan pamanmu Wong Sarimpat telah berhasil menyembuhkan luka-luka di dalam tubuh kami. Sebaiknya kami segera melakukan penangkapan itu. Menangkap Mahisa Agni”.
Dada Kuda Sempana terasa berdesir mendengar rencana itu. Setelah sekian lama ia tinggal di dalam gubug itu, maka nafsunya untuk melakukan pembalasan telah menjadi semakin berkurang. Tetapi, ia tidak dapat menolaknya. Kehadirannya kemari adalah karena dendam itu. Dan ia mencoba membakar kembali dadanya dengan dendam yang hampir padam. Karena itu, maka dijawabnya,
“Baik paman. Aku bergembira bahwa paman akan melakukannya”.
“Semakin cepat semakin baik. Pamanmu Wong Sarimpat telah beberapa kali melihat kerja Mahisa Agni bersama kawan-kawannya di Padang Karautan. Dan kesempatan untuk mengambil Mahisa Agni terlampau luas. Kalau gurumu mempunyai otak yang sedikit cerah, maka ia tidak perlu terlampau bersusah payah. Anak itu selalu mondar-mandir dari Padang Rumput Karautan ke Panawijen. Kesempatan itu akan dapat dipergunakan sebaik-baiknya”.
Kuda Sempana terkejut mendengarnya. Sehingga dengan serta-merta terloncat pertanyaannya, “Apakah paman Wong Sarimpat pernah datang ke Padang Karautan?”
“Tidak hanya satu dua kali” sahut Kebo Sindet, “pamanmu selalu datang melihat-lihat, meskipun dari jarak yang cukup jauh”.
“Kapan paman Wong Sarimpat pergi ke Padang Karautan?”
“Lusa, sepekan yang lalu dan sepuluh hari yang lalu dan hari ini pula. Pamanmu adalah seorang penunggang kuda yang baik. Kudanya pun baik pula, sehingga waktu yang diperlukan tidak terlampau banyak. Senja ia berangkat, maka sebelum fajar di malam berikutnya ia telah berada di tempat ini kembali. Hampir sehari ia mempunyai waktu untuk melihat-lihat tempat itu. Pamanmu untuk menempuh perjalanan tanpa memincingkan matanya sama sekali selama sepekan terus-menerus. Apalagi hanya dua tiga malam”.
Kuda Sempana menarik nafas dalam-dalam, “Bukan main” desisnya di dalam hati,, “dan apakah guru mampu berbuat demikian pula?”
“Tetapi” berkata Kebo Sindet pula, “kami tidak akan pergi berdua saja. Sebaiknya kau ikut pula. Mungkin kami masih memerlukan beberapa keterangan dari padamu”.
Kuda Sempana mengerutkan keningnya. Ia mencoba berpikir, apakah sebabnya ia harus pergi pula bersama-sama dengan mereka berdua. Tetapi, jawaban yang diketemukan adalah seperti yang dengan terus terang telah dikatakan oleh Kebo Sindet, bahwa mungkin kedua orang itu masih memerlukan beberapa keterangan dari padanya. Karena itu maka jawabnya,
“Baiklah paman. Apabila paman masih memerlukan aku”.
Wajah Kebo Sindet yang beku itu masih saja tetap membeku. Namun, kepalanya itu mengangguk-angguk. Dan terdengar,, “Bagus, dengan bantuanmu, maka pekerjaan ini akan menjadi semakin cepat. Aku tidak memerlukan waktu lebih dari sepekan untuk menangkapnya. Sebab hampir setiap sepekan sekali Mahisa Agni pergi ke Panawijen untuk mengambil beberapa keperluan bagi orang-orangnya bersama beberapa kawan-kawannya. Kesempatan itu adalah kesempatan yang sebaik-baiknya bagiku untuk mengambilnya. Mahisa Agni akan hilang dari antara mereka.
Bendungan itu akan gagal sebab orang-orang Panawijen pasti akan kehilangan nafsu dan gairah untuk melanjutkannya. Bahkan mereka pasti akan teringat kembali kepada bendungan yang lama, dan mereka pasti akan mengutuk kenapa bendungan itu pecah. Orang-orang Panawijen akan menjadi putus asa dan pergi berpencaran mencari hidup mereka masing-masing. Nah, keadaan itulah yang harus dilihat oleh Mahisa Agni. Karena itu ia harus tertangkap hidup. Orang itu harus disimpan di tempat ini beberapa lama untuk merasakan kepahitan hidupnya. Mungkin ia tidak memikirkan nasibnya sendiri, tetapi kegagalannya pasti akan menyiksanya. Menyiksa perasaannya, sedang kau akan mendapat kesempatan untuk menyiksa tubuhnya. Bukankah kepahitan hidup yang kau alami sekarang ini bersumber pada perbuatan Mahisa Agni itu menurut katamu sendiri?”
Kuda Sempana mengangguk-anggukkan kepalanya. Kata-kata Kebo Sindet itu memang dapat mengungkat kembali dendamnya yang sudah menjadi hambar. Apalagi ia sendiri memang berusaha untuk menyalakan dendam itu. Bahkan kemudian seakan-akan terbayang kembali apa yang pernah terjadi atas dirinya sejak ia menemui Ken Dedes di bawah bendungan, ketika gadis itu sedang mencuci pakaian. Kegagalannya yang pertama itu telah mendorongnya ke dalam kegagalan-kegagalan yang terus menerus. Dan semuanya itu adalah karena Mahisa Agni.
Tiba-tiba Kuda Sempana itu menggeretakkan giginya. Di dalam hati ia menggeram, “Aku tidak peduli apa yang kelak akan terjadi. Atas diriku atau atas Mahisa Agni apabila ia telah ditangkap oleh Kebo Sindet dan Wong Sarimpat yang gila ini. Tetapi, aku harus sempat melepaskan dendamku. Seandainya aku pun akan dibunuh oleh kedua orang ini dan dimasukkan ke dalam goa itu, maka aku akan mati dengan tenang, karena dendamku telah terlepaskan. Apalagi kalau benar kata mereka, bahwa mereka hanya memerlukan beberapa macam perhiasan dari padaku”.
Kuda Sempana itu pun kemudian tersenyum di dalam hati. Ia tidak mau lagi mempersulit otaknya sendiri. Dijalani hidup ini disaat ini. Apa yang akan terjadi besok adalah persoalan besok. Kini ia harus menyiapkan diri bersama-sama menangkap Mahisa Agni. Dan ia ingin melakukannya sebaik-baiknya, sehingga anak muda itu dapat ditangkapnya. Disakiti tubuh dan perasaannya. Kemudian, ia tidak akan mempedulikan lagi, apakah Mahisa Agni itu akan dibunuh dan dilemparkan kebendungan yang sedang dibuatnya, atau seperti kata gurunya, bahwa kedua orang itu akan mempergunakan Mahisa Agni untuk tujuan tertentu, dan bahkan seandainya dirinya sendiri akan diperlakukan serupa itu pula.
Anak muda itu terseadar ketika ia mendengar Kebo Sindet berkata, “Bagaimana Kuda Sempana, apakah kau sudah siap apabila kita setiap saat berangkat?”
“Sudah paman. Sekarang pun aku sudah siap”.
“Bagus. Tetapi kita masih menunggu pamanmu Wong Sarimpat”.
Kuda Sempana mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Gumamnya, “Kapan pun aku sudah siap”.
Dalam pada itu, di Padang Karautan Mahisa Agni berada diantara kawan-kawannya dan hampir semua laki-laki Panawijen, bekerja memeras tenaga membuat bendungan yang akan dapat memberi harapan bagi kelangsungan hidup mereka dan anak cucu mereka dalam satu lingkungan. Apabila bendungan itu, siap maka mereka tidak harus bercerai-berai mencari hidup masing-masing. Mereka masih akan tetap berada dalam satu lingkungan yang telah berpuluh tahun mereka jalani, sehingga mereka merasa bahwa setiap orang Panawijen adalah keluarga mereka sendiri. Tidak ubahnya keluarga sesaluran darah.
Tetapi, kerja itu adalah kerja yang terlampau berat. Bendungan dan saluran-saluran air. Apa yang mereka kerjakan selama ini barulah sebagian kecil dari kerja mereka keseluruhan. Mereka belum dapat membayangkan, kapankah kerja mereka itu akan dapat selesai. Sebulan lagi, dua bulan, tiga bulan atau satu tahun? Sementara itu sawah di Panawijen menjadi semakin kering dan kering. Hampir tak ada jenis tanaman yang dapat ditanamnya lagi. Ubi kayu menjadi semakin kurus dan jagung tidak dapat tumbuh melampaui tinggi anak-anak yang baru dapat berdiri.
Sedangkan setiap orang harus memeras keringat di panas terik Padang Karautan. Mereka mulai bekerja sejak matahari terbit dan mereka baru meletakkan ala-alat mereka apabila matahari jauh turun di kaki langit. Namun, kerja itu seolah-olah hampir tidak bertambah-tambah. Setiap hari mereka harus memecah batu-batu, memasukkan ke dalam brunjung-brunjung bambu dan menimbunnya di dasar sungai. Tetapi, brunjung-brunjung bambu yang berisi batu-batu itu seolah-seolah lenyap saja ditelan pasir di dasar sungai itu.
Apalagi saluran-saluran yang mereka rencanakan. Mereka sempat menanam patok-patok bambu dan tali-tali yang harus mereka pancangkan untuk membuat garis-garis parit yang akan mereka gali. Tetapi, selebihnya belum. Belum ada seratus langkah tanah yang sudah sempat mereka cangkul. Tenaga mereka hampir seluruhnya dikerahkan untuk memecah dan memasukkan batu-batu ke dalam brunjung dan melemparkannya ke dasar sungai.
Beberapa orang telah menjadi cemas akan persediaan lumbung-lumbung mereka. Lumbung-lumbung itu telah menjadi semakin tipis. Tanaman palawijen agaknya terlampau sedikit. Sawah-sawah mereka hanya dapat tertolong sementara ada hujan turun. Sesudah itu akan kering kembali. Tetapi, hujan tidak juga kunjung-kunjung datang. Namun, mereka pun tidak dapat mengharap hujan segera datang. Dengan demikian air sungai akan bertambah besar dan bendungan yang belum siap itu pun akan terancam bahaya.
Orang-orang tua mulai mencemaskan keadaan itu. Baiklah, satu dua di antara mereka telah saling berbicara sesamanya. Apabila malam yang kelam menyelubungi padang rumput yang luas itu, maka mulailah terdengar satu dua orang mengeluh. Mengeluh karena lelah, dan mengeluh karena harapan yang mereka pancangkan bersama patok-patok bambu itu agaknya masih terlampau jauh.
Dari hari-kehari maka keluhan itu pun menyalar semakin luas. Dari mulut orang-orang tua yang merasa bahwa umurnya tidak akan lebih panyang dari kerja membuka tanah itu, merayap kepada mereka yang lebih muda. Kepada mereka yang sudah setengah umur. Kemudian merembet lagi kepada yang lebih muda pula. Kepada bapak-bapak yang baru beranak satu dua orang. Akhirnya keluh kesah itu sampai pula kepada anak-anak mudanya.
Tetapi, mereka masih juga bekerja disiang hari. Mereka masih juga mulai sejak matahari terbit dan selesai menjelang matahari bertengger di punggung bukit. Tetapi, dimalam hari mereka tidak lagi berdendang dan bersenandung. Tidak lagi terdengar suara seruling dan gelak tertawa. Dimalam hari mereka saling berbisik diantara mereka. Punggung yang sakit, pundak yang luka dan kaki yang bengkak.
Keluh kesah itu akhirnya terdengar oleh Ki Buyut Panawijen. Orang tua itu menjadi berdebar-debar. Kalau orang-orangnya nanti menjadi jemu sebelum bendungan itu siap, maka pekerjaan yang mengandung harapan itu akan terbengkalai seperti harapan mereka yang akan terbengkalai juga. Ki Buyutlah orang yang akan menjadi paling bersedih hati, di samping Mahisa Agni, apabila mereka terpaksa berpisah bercerai berai mengungsikan hidup masing-masing ke pedukuhan-pedukuhan yang masih dapat menerima mereka.
“Angger Mahisa Agni harus segera msngetahuinya pula” berkata orang tua itu di dalam hatinya, “tetapi aku harus berhati-hati mengatakan persoalan ini. Jangan sampai anak yang baik itu tersinggung hatinya. Ia telah bekerja melampaui orang lain. Dan karena itu, maka ia akan dapat menjadi sangat kecewa mendengar keluh kesah ini”.
Tetapi, keluhan itu menjalar semakin lama menjadi semakin luas. Dan Ki Buyut Panawijen menjadi semakin cemas. Lebih baik ia sendiri menyampaikannya kepada Mahisa Agni dari pada anak itu pada suatu ketika mendengar langsung dari orang-orangnya, sehingga akan menimbulkan bekas yang dalam hatinya. Maka ketika matahari telah terbenam, dan ketika orang-orang Panawijen sudah beristirahat sambil memijat-mijat kaki-kaki mereka yang lelah, maka Ki Buyut Panawijen berjalan di antara mereka mencari Mahisa Agni.
“Apakah kau sudah tidur Ngger?” sapa Ki Buyut itu di depan gubug ilalang yang dipergunakan Mahisa Agni untuk berteduh dari embun di malam hari.
Mahisa Agni yang masih duduk-duduk di dalam gubugnya itu terkejut. Dengan tergopoh-gopoh ia bangkit sambil mempersilahkan orang tua itu, “Mari Ki Buyut. Marilah duduk di sini”.
“Ya, ya Ngger” sahut Ki Buyut.
Kemudian mereka pun duduk di atas sehelai tikar yang dibentangkan di atas setumpuk rumput-rumput kering. Ki Buyut Panawijen, Mahisa Agni dan paman Mahisa Agni yang masih saja berada di Padang Karautan, Empu Gandring.
Setelah percakapan mereka melingkar-lingkar dari satu soal ke soal lain, maka dengan dada berdebar-debar Ki Buyut ingin menyampaikan keperluannya kepada Mahisa Agni. Tetapi, ketika ia melihat wajah anak muda itu, maka hatinya menjadi ragu. Wajah itu memancar penuh harapan bahwa suatu saat mereka akan dapat berdiri di sisi sungai itu sambil memandangi bendungan mereka yang telah dapat menaikkan air ke parit-parit yang memanjang membelah padang yang kering. Mahisa Agni agaknya terlampau yakin bahwa kerjanya akan berhasil.
Tetapi, kalau ia tidak menyampaikan pendengarannya tentang keluh kesah yang semakin merata itu, maka apabila Mahisa Agni mendengarnya kelak, apabila kejemuan itu benar-benar telah mencengkam segenap orang-orang yang mengerjakan bendungan ini, alangkah parahnya hati anak muda itu. Alangkah kecewanya. Seolah-olah rakyat Panawijen sama sekali tidak mengenal terima kasih atas segala jerih payahnya. Setelah dipertimbangkannya masak-masak, dan setelah dipikirkannya berulang kali, maka dengan ragu-ragu akhirnya Ki Buyut itu pun berkata,
“Angger bagaimanakah dengan bendungan kita?”
Mahisa Agni memandangi wajah Ki Buyut Panawijen dengan sorot mata yang aneh. Pertanyaan Ki Buyut itu telah mengherankan Mahisa Agni. Sehingga anak muda itu ganti bertanya,
“Bagaimana maksud Ki Buyut?”
“Ah” Ki Buyut menjadi semakin bimbang, “maksudku, apakah tidak ada kesulitan apa-apa?”
Mahisa Agni menjadi semakin heran, jawabnya, “Seperti yang Ki Buyut saksikan, bukankah pembuatan bendungan itu berjalan lancar? Bukankah orang-orang Panawijen telah berjuang dengan sekuat-kuat tenaga mereka, tanpa menghiraukan panas, lelah dan jemu?”
Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Jalan yang sudah mulai dibukanya itu seolah-olah kini telah tertutup rapat kembali. Apakah ia akan sampai hati mengatakan kepada Mahisa Agni, bahwa orang-orang Panawijen itu kini telah mulai berkeluh-kesah. Berkeluh-kesah tentang panas terik yang membakar punggung mereka, tentang lelah yang menjalar kesegenap otot baju dan tentang kejemuan yang mulai mencengkam perasaan? Ki Buyut itu pun menjadi termangu-mangu. Sehingga karena itu maka ia pun terdiam. Ia telah kehilangan cara yang sebaik-baiknya dapat ditempuh.
Bahkan orang tua itu menjadi bingung ketika Mahisa Agni kemudian berkata, “Ki Buyut, aku mengharap bahwa kita akan dapat bekerja lebih keras lagi. Kita harus menyelesaikan bendungan itu sebelum hujan turun di musim basah yang akan datang. Apabila kemudian air naik, dan ternyata bendungan kita belum sempurna, sehingga masih berbahaya apabila banjir sekali-kali datang, maka kita masih harus bekerja lagi, menyempurnakan bendungan itu. Namun, setelah itu, kita akan menikmati hasilnya. Padang itu akan menjadi tanah persawahan yang subur dan seluas-luas kita kehendaki. Sawah kita akan tidak terbatas, sebesar tenaga dapat kita berikan, seluas itu tanah yang kita garap”.
“Ya, ya” orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya.
Sejenak kemudian mereka berdiam diri, Empu Gandring duduk terkantuk-kantuk di sudut gubug itu sambil memeluk lututnya. Seakan-akan ia sama sekali tidak mendengarkan percakapan kemanakannya dengan Ki Buyut itu. Namun, sebenarnya ia mendengar semuanya. Ia menangkap perasaan yang tidak wajar yang melontar dari percakapan itu. Dari setiap kata-kata Ki Buyut Panawijen. Namun, Empu Gandring itu tidak tahu, apakah yang sebenarnya ingin dikatakan oleh Ki Buyut kepada kemanakannya.
Ketika angin malam berhembus semakin keras, terasa dingin semakin dalam menghunyam ke dalam kulit. Beberapa orang telah membuat perapian dan tidur melingkarinya sambil berselimut kain panjang. Di kejauhan terdengar suara burung hantu mengeluh seperti orang yang kelelahan.
Ki Buyut Panawijen masih saja duduk tepekur. Ia masih mengharap bahwa ia akan menemukan cara untuk menyampaikan maksudnya. Tidak jauh dari gubug itu, tampak api perapian menyala seperti melonjak-lonjak. Beberapa orang yang bertiduran disekitarnya telah benar-benar menjadi lelap. Yang terdengar kemudian adalah dengkur yang bersahut-sahutan. Ki Buyut Panawijen masih saja berdiam diri. Mahisa Agni pun seolah-olah terbungkam. Dan di kejauhan burung hantu masih saja mengeluh terputus-putus.
“Alangkah sulitnya” desah Ki Buyut di dalam hatinya, “bagaimana aku dapat mulai?”
Namun, tiba-tiba perhatian mereka terlempar ke arah dua orang yang berjalan perlahan-lahan ke gubug itu. Agaknya yang seorang memapah yang lain. Ki Buyut Panawijen, Mahisa Agni dan bahkan Empu Gandring yang terkantuk-kantuk itu pun terkejut. Dengan serta-merta mereka berdiri dan menyongsong kedua orang itu.
“Siapa?” bertanya Ki Buyut Panawijen.
“Aku, Ki Buyut”.
“Kenapa? Dan siapa kawanmu itu?”
“Bitung”.
“Kenapa dengan Bitung?”
“Tubuhnya tiba-tiba menjadi panas, tetapi ia menggigil seperti orang kedinginan”.
“Bawalah kemari” minta Mahisa Agni yang menjadi cemas.
Kedua orang itu pun kemudian memasuki gubug Mahisa Agni. Bitung pun kemudian duduk bersandar kawannya. Namun, ia masih juga menggigil seperti orang yang kedinginan. Ketika Mahisa Agni dan Ki Buyut Panawijen meraba tubuhnya ternyata tubuh itu terasa panas.
“Aneh” gumam Mahisa Agni.
“Ya aneh” sahut Ki Buyut Panawijen.
Tetapi, Empu Gandring yang lebih banyak menyimpan pengalaman dari mereka berkata, “Tidak. Sama sekali tidak aneh. Memang ada sejenis penyakit yang demikian”.
“Apakah sakit Bitung ini bukan karena hantu-hantu?” bertanya kawannya.
Ki Buyut Panawijen tidak dapat menyawab, namun yang menyawab adalah Empu Gandring, “Tidak. Sama sekali tidak. Aku telah sering melihat orang yang terserang penyakit yang demikian”.
Kawan Bitung itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku menjadi bingung ketika ia mulai menggigil. Karena itu maka ia aku bawa kemari. Apakah sakit yang demikian ini dapat diobati?”
“Tentu” Empu Gandring lah yang menyahut, “besok usahakan daun kates grandel yang masih muda. Tumbuklah beserta kulit batangnya, buahnya yang masih muda pula, bunganya dan akarnya. Mudah-mudahan ia dapat sembuh. Taruhlah garam sedikit”.
“Tetapi, bagaimana dengan malam ini?”
“Biarlah ia tidur dan beristirahat”.
Kawan Bitung itu memandangi wajah Ki Buyut dengan pandangan yang sayu. Bibirnya tampak bergerak-gerak seakan-akan ia ingin mengucapkan sesuatu. Tetapi, tak sepatah kata pun yang terloncat dari bibirnya. Namun, Ki Buyut Panawijen seakan-akan dapat membaca kata hatinya. Seakan-akan Ki Buyut Panawijen mendengar kawan Bitung itu berkata,
“Siapakah yang bertanggung jawab, seandainya yang terjadi sesuatu dengan kawanku ini? Apakah harus ada orang lain yang mengalami penyakit serupa?”
Tetapi, Ki Buyut pun berdiam diri. Ia kemudian mendengar orang itu berkata, “Baiklah. Besok aku mengharap Bitung dapat diobati. Dan aku mengharap mudah-mudahan obat itu dapat menyembuhkannya”.
“Batang Kates Grandel banyak terdapat di Panawijen” gumam Mahisa Agni.
“ya. Tetapi Bitung kini tidak berada di Panawijen” jawab kawannya.
“Tetapi, bukankah kita dapat mengambilnya?”
“Aku mengharap besok Bitung dapat diobati” berkata kawannya itu seolah-olah tidak mendengar kata-kata Mahisa Agni, “aku menunggu dan Bitung pun menunggu”.
Dada Mahisa Agni berdesir mendengar jawaban itu. Ia tahu benar maksud kata-kata itu. Obat itu harus tersedia. Jadi bukankah dengan demikian berarti bahwa ia harus mengambil obat itu ke Panawijen besok.
Meskipun demikian, Mahisa Agni itu berkata, “Ya. Mudah-mudahan ada seseorang yang akan dapat mengambilnya”.
“Mudah-mudahan” sahut orang itu.
Mahisa Agni menggigit bibirnya. Ia merasakan keanehan sikap dari orang itu. Sikap yang belum pernah dialaminya selama ini. Tetapi, ketika Mahisa Agni menyatakan perasaannya, terasa pamannya menggamitnya. Mahisa Agni berpaling, Empu Gandring menggeleng lemah. Meskipun Mahisa Agni tidak tahu maksudnya, namun ia terdiam.
“Aku akan kembali ke gubugku” berkata kawan Bitung.
“Biarlah Bitung di sini” sahut Mahisa Agni.
“Tidak. Ia bersamaku. Apapun yang akan terjadi atas dirinya”.
Kembali Mahisa Agni menarik nafas. Tetapi, ia tidak mencegahnya lagi ketika Bitung kembali dipapah oleh kawannya meninggalkan gubug itu. Bitung masih juga menggigil meskipun tubuhnya panas. Sepeninggal mereka, Ki Buyut Panawijen menjadi semakin cemas. Ia tahu benar apa yang bergolak di dalam hati Bitung dan kawannya. Mereka pasti menimpakan segala kesalahan kepada Mahisa Agni dan kemudian kepada dirinya, Buyut Panawijen.
“Hem” tiba-tiba Mahisa Agni menggeram, “apakah aku juga yang harus pergi ke Panawijen untuk mengambil obat itu?”
“Tak ada seorang pun yang berani melakukan Agni” sahut pamannya.
Sehingga, pada suatu hari Kebo Sindet berkata kepada Kuda Sempana,, “Kami telah memiliki keadaan tubuh kami seperti semula. Kami telah sehat kembali, seperti pada saat gurumu belum melukai kami dengan curang. Sebentar lagi kami akan menjadi siap melakukan pekerjaan yang kau percayakan kepada kami”.
Kuda Sempana masih saja diliputi oleh kebimbangan dan bahkan kebingungan. Sesudah sekian hari ia berada di dalam gubug itu, namun ia masih belum menemukan jalan yang sebaik-baiknya ditempuh.
Kuda Sempana itu terkejut ketika Kebo Sindet kemudian berkata,, “Aku tahu, bahwa kau masih tetap berprasangka kepada kami. Perasaan itu tidak akan lenyap dari kepalamu selagi kami belum dapat membuktikan perkataan kami. Tetapi, percayalah bahwa kami akan melakukannya untuk beberapa keping emas murni”.
Kuda Sempana menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba terloncat dari bibirnya, “Paman, apabila aku masih tetap berada di sini, aku tidak akan berhasil mendapatkan emas murni itu”.
“Bukankah kau sudah menyediakannya?”
“Belum berupa emas murni” sahut Kuda Sempana, “aku masih harus berusaha mendapatkannya. Yang aku punya adalah timang emas bertetes berlian. Pendok emas bermata intan dan perhiasan-perhiasan yang lain. Tetapi bukan emas murni”.
Wajah Kebo Sindet yang beku masih tetap membeku. Namun, tanpa diketahui oleh seorangpun, ia tersenyum di dalam hati. Yang diucapkan kemudian adalah, “Barang-barang itu cukup berharga bagi kami, kau tidak perlu bersusah payah menukarkannya dengan emas murni”.
Kuda Sempana terdiam. Tetapi hatinya bergolak. Barang-barang itu telah dikumpulkannya bertahun-tahun, sejak ia mengabdikan dirinya di istana, bahkan menjadi kepercayaan Akuwu dalam beberapa persoalan. Apakah barang-barang yang telah dikumpulkannya bertahun-tahun itu akan dilepaskannya? Kembali ia menyesali kebodohannya.,
“kenapa aku mengatakannya?”
Tetapi, penyesalan itu sama sekali sudah tidak berarti. Ia tidak dapat menyesali kematian gurunya karena kebodohannya pula. Karena nafsunya untuk membalas dendam, sehingga ia telah kehilangan segenap pertimbangan yang bening.
“Tetapi, kenapa guru selama ini membiarkan aku terdorong semakin jauh?” Kuda Sempana menarik nafas dalam-dalam, “Guru juga ingin mendapatkan beberapa keping emas murni, atau timang tretes berlian atau pendok emas bermata intan atau apapun yang disenanginya”.
Kembali Kuda Sempana terkejut ketika Kebo Sindet berkata, “Memang kepuasan amat mahal harganya. Tetapi, jangan takut. Aku tidak serakus gurumu. Aku hanya akan menerima sebagian menurut keikhlasanmu. Aku tidak akan menyebut, berapa banyak yang aku kehendaki”.
Kuda Sempana menarik alisnya. Tetapi, ia tidak percaya akan kata-kata itu. Namun, demikian ia menyawab, “Terima kasih paman. Kapan paman memberi kesempatan kepadaku untuk mengambil barang-barang itu?”
“Tidak terlampau tergesa-gesa” sahut Kebo Sindet, “Aku akan menerimanya setelah pekerjaanku selesai”.
Kembali Kuda Sempana terdiam. Dan kembali ia harus memutar otaknya untuk memecahkan jalan keluar dari tempat yang menyesakkan nafas ini. Tetapi dari hari-kehari, keadaan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat menjadi semakin baik. Dengan demikian maka kemungkinan Kuda Sempana untuk melepaskan diri dari tangan kedua orang itu menjadi semakin sempit. Namun, bukan saja kesempatan Kuda Sempana menjadi semakin sempit, tetapi karena nafsu Kuda Sempana untuk pergi meninggalkan gubug itu pun menjadi kecil pula.
Setelah beberapa hari ia berada di gubug itu, dirasakannya bahwa sikap Kebo Sindet dan Wong Sarimpat menjadi semakin baik terhadapnya. Apalagi Kebo Sindet. Bahkan, setelah orang itu menjadi sembuh sama sekali, Kuda Sempana sering dibawanya berburu di lereng bukit gundul itu, di dalam hutan-hutan yang tidak begitu lebat dan di padang-padang ilalang.
Kuda Sempana pun selalu berusaha untuk tidak menumbuhkan kecurigaan kepada kedua orang itu. Semula anak muda itu berhasil berpura-pura menerima tawaran Kebo Sindet dan Wong Sarimpat itu. Namun, kemudian batinya benar-benar terpengaruh oleh keadaan yang dialaminya.
Bahkan, kemudian Kebo Sindet dan Wong Sarimpat itu pun bersedia memberinya sedikit ilmu. Ilmu yang dimiliki oleh Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Ilmu yang agak berbeda dengan ilmu yang diterimanya dari gurunya Empu Sada. Namun, dengan pertolongan kedua orang itu Kuda Sempana berhasil mencoba mencernakannya. Menyusun jenis-jenis ilmu yang berbeda itu dalam tata gerak yang serasi, yang dengan sendiri dapat menambah sedikit kemampuannya bertempur.
Hal inilah yang semula sama sekali tidak diduganya. Ternyata kedua orang itu bersikap baik kepadanya, bahkan terlalu baik. Lambat laun, maka Kuda Sempana itu hampir melupakan gurunya sendiri dalam beberapa hari. Seakan-akan ia telah menemukan guru yang baru. Ketika kemudian, Kebo Sindet dan Wong Sarimpat telah benar-benar sembuh, dan telah memiliki kekuatannya kembali seperti sedia kala, maka berkatalah Kebo Sindet kepada Kuda Sempana,
“Kuda Sempana. Kami, aku dan pamanmu Wong Sarimpat telah berhasil menyembuhkan luka-luka di dalam tubuh kami. Sebaiknya kami segera melakukan penangkapan itu. Menangkap Mahisa Agni”.
Dada Kuda Sempana terasa berdesir mendengar rencana itu. Setelah sekian lama ia tinggal di dalam gubug itu, maka nafsunya untuk melakukan pembalasan telah menjadi semakin berkurang. Tetapi, ia tidak dapat menolaknya. Kehadirannya kemari adalah karena dendam itu. Dan ia mencoba membakar kembali dadanya dengan dendam yang hampir padam. Karena itu, maka dijawabnya,
“Baik paman. Aku bergembira bahwa paman akan melakukannya”.
“Semakin cepat semakin baik. Pamanmu Wong Sarimpat telah beberapa kali melihat kerja Mahisa Agni bersama kawan-kawannya di Padang Karautan. Dan kesempatan untuk mengambil Mahisa Agni terlampau luas. Kalau gurumu mempunyai otak yang sedikit cerah, maka ia tidak perlu terlampau bersusah payah. Anak itu selalu mondar-mandir dari Padang Rumput Karautan ke Panawijen. Kesempatan itu akan dapat dipergunakan sebaik-baiknya”.
Kuda Sempana terkejut mendengarnya. Sehingga dengan serta-merta terloncat pertanyaannya, “Apakah paman Wong Sarimpat pernah datang ke Padang Karautan?”
“Tidak hanya satu dua kali” sahut Kebo Sindet, “pamanmu selalu datang melihat-lihat, meskipun dari jarak yang cukup jauh”.
“Kapan paman Wong Sarimpat pergi ke Padang Karautan?”
“Lusa, sepekan yang lalu dan sepuluh hari yang lalu dan hari ini pula. Pamanmu adalah seorang penunggang kuda yang baik. Kudanya pun baik pula, sehingga waktu yang diperlukan tidak terlampau banyak. Senja ia berangkat, maka sebelum fajar di malam berikutnya ia telah berada di tempat ini kembali. Hampir sehari ia mempunyai waktu untuk melihat-lihat tempat itu. Pamanmu untuk menempuh perjalanan tanpa memincingkan matanya sama sekali selama sepekan terus-menerus. Apalagi hanya dua tiga malam”.
Kuda Sempana menarik nafas dalam-dalam, “Bukan main” desisnya di dalam hati,, “dan apakah guru mampu berbuat demikian pula?”
“Tetapi” berkata Kebo Sindet pula, “kami tidak akan pergi berdua saja. Sebaiknya kau ikut pula. Mungkin kami masih memerlukan beberapa keterangan dari padamu”.
Kuda Sempana mengerutkan keningnya. Ia mencoba berpikir, apakah sebabnya ia harus pergi pula bersama-sama dengan mereka berdua. Tetapi, jawaban yang diketemukan adalah seperti yang dengan terus terang telah dikatakan oleh Kebo Sindet, bahwa mungkin kedua orang itu masih memerlukan beberapa keterangan dari padanya. Karena itu maka jawabnya,
“Baiklah paman. Apabila paman masih memerlukan aku”.
Wajah Kebo Sindet yang beku itu masih saja tetap membeku. Namun, kepalanya itu mengangguk-angguk. Dan terdengar,, “Bagus, dengan bantuanmu, maka pekerjaan ini akan menjadi semakin cepat. Aku tidak memerlukan waktu lebih dari sepekan untuk menangkapnya. Sebab hampir setiap sepekan sekali Mahisa Agni pergi ke Panawijen untuk mengambil beberapa keperluan bagi orang-orangnya bersama beberapa kawan-kawannya. Kesempatan itu adalah kesempatan yang sebaik-baiknya bagiku untuk mengambilnya. Mahisa Agni akan hilang dari antara mereka.
Bendungan itu akan gagal sebab orang-orang Panawijen pasti akan kehilangan nafsu dan gairah untuk melanjutkannya. Bahkan mereka pasti akan teringat kembali kepada bendungan yang lama, dan mereka pasti akan mengutuk kenapa bendungan itu pecah. Orang-orang Panawijen akan menjadi putus asa dan pergi berpencaran mencari hidup mereka masing-masing. Nah, keadaan itulah yang harus dilihat oleh Mahisa Agni. Karena itu ia harus tertangkap hidup. Orang itu harus disimpan di tempat ini beberapa lama untuk merasakan kepahitan hidupnya. Mungkin ia tidak memikirkan nasibnya sendiri, tetapi kegagalannya pasti akan menyiksanya. Menyiksa perasaannya, sedang kau akan mendapat kesempatan untuk menyiksa tubuhnya. Bukankah kepahitan hidup yang kau alami sekarang ini bersumber pada perbuatan Mahisa Agni itu menurut katamu sendiri?”
Kuda Sempana mengangguk-anggukkan kepalanya. Kata-kata Kebo Sindet itu memang dapat mengungkat kembali dendamnya yang sudah menjadi hambar. Apalagi ia sendiri memang berusaha untuk menyalakan dendam itu. Bahkan kemudian seakan-akan terbayang kembali apa yang pernah terjadi atas dirinya sejak ia menemui Ken Dedes di bawah bendungan, ketika gadis itu sedang mencuci pakaian. Kegagalannya yang pertama itu telah mendorongnya ke dalam kegagalan-kegagalan yang terus menerus. Dan semuanya itu adalah karena Mahisa Agni.
Tiba-tiba Kuda Sempana itu menggeretakkan giginya. Di dalam hati ia menggeram, “Aku tidak peduli apa yang kelak akan terjadi. Atas diriku atau atas Mahisa Agni apabila ia telah ditangkap oleh Kebo Sindet dan Wong Sarimpat yang gila ini. Tetapi, aku harus sempat melepaskan dendamku. Seandainya aku pun akan dibunuh oleh kedua orang ini dan dimasukkan ke dalam goa itu, maka aku akan mati dengan tenang, karena dendamku telah terlepaskan. Apalagi kalau benar kata mereka, bahwa mereka hanya memerlukan beberapa macam perhiasan dari padaku”.
Kuda Sempana itu pun kemudian tersenyum di dalam hati. Ia tidak mau lagi mempersulit otaknya sendiri. Dijalani hidup ini disaat ini. Apa yang akan terjadi besok adalah persoalan besok. Kini ia harus menyiapkan diri bersama-sama menangkap Mahisa Agni. Dan ia ingin melakukannya sebaik-baiknya, sehingga anak muda itu dapat ditangkapnya. Disakiti tubuh dan perasaannya. Kemudian, ia tidak akan mempedulikan lagi, apakah Mahisa Agni itu akan dibunuh dan dilemparkan kebendungan yang sedang dibuatnya, atau seperti kata gurunya, bahwa kedua orang itu akan mempergunakan Mahisa Agni untuk tujuan tertentu, dan bahkan seandainya dirinya sendiri akan diperlakukan serupa itu pula.
Anak muda itu terseadar ketika ia mendengar Kebo Sindet berkata, “Bagaimana Kuda Sempana, apakah kau sudah siap apabila kita setiap saat berangkat?”
“Sudah paman. Sekarang pun aku sudah siap”.
“Bagus. Tetapi kita masih menunggu pamanmu Wong Sarimpat”.
Kuda Sempana mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Gumamnya, “Kapan pun aku sudah siap”.
Dalam pada itu, di Padang Karautan Mahisa Agni berada diantara kawan-kawannya dan hampir semua laki-laki Panawijen, bekerja memeras tenaga membuat bendungan yang akan dapat memberi harapan bagi kelangsungan hidup mereka dan anak cucu mereka dalam satu lingkungan. Apabila bendungan itu, siap maka mereka tidak harus bercerai-berai mencari hidup masing-masing. Mereka masih akan tetap berada dalam satu lingkungan yang telah berpuluh tahun mereka jalani, sehingga mereka merasa bahwa setiap orang Panawijen adalah keluarga mereka sendiri. Tidak ubahnya keluarga sesaluran darah.
Tetapi, kerja itu adalah kerja yang terlampau berat. Bendungan dan saluran-saluran air. Apa yang mereka kerjakan selama ini barulah sebagian kecil dari kerja mereka keseluruhan. Mereka belum dapat membayangkan, kapankah kerja mereka itu akan dapat selesai. Sebulan lagi, dua bulan, tiga bulan atau satu tahun? Sementara itu sawah di Panawijen menjadi semakin kering dan kering. Hampir tak ada jenis tanaman yang dapat ditanamnya lagi. Ubi kayu menjadi semakin kurus dan jagung tidak dapat tumbuh melampaui tinggi anak-anak yang baru dapat berdiri.
Sedangkan setiap orang harus memeras keringat di panas terik Padang Karautan. Mereka mulai bekerja sejak matahari terbit dan mereka baru meletakkan ala-alat mereka apabila matahari jauh turun di kaki langit. Namun, kerja itu seolah-olah hampir tidak bertambah-tambah. Setiap hari mereka harus memecah batu-batu, memasukkan ke dalam brunjung-brunjung bambu dan menimbunnya di dasar sungai. Tetapi, brunjung-brunjung bambu yang berisi batu-batu itu seolah-seolah lenyap saja ditelan pasir di dasar sungai itu.
Apalagi saluran-saluran yang mereka rencanakan. Mereka sempat menanam patok-patok bambu dan tali-tali yang harus mereka pancangkan untuk membuat garis-garis parit yang akan mereka gali. Tetapi, selebihnya belum. Belum ada seratus langkah tanah yang sudah sempat mereka cangkul. Tenaga mereka hampir seluruhnya dikerahkan untuk memecah dan memasukkan batu-batu ke dalam brunjung dan melemparkannya ke dasar sungai.
Beberapa orang telah menjadi cemas akan persediaan lumbung-lumbung mereka. Lumbung-lumbung itu telah menjadi semakin tipis. Tanaman palawijen agaknya terlampau sedikit. Sawah-sawah mereka hanya dapat tertolong sementara ada hujan turun. Sesudah itu akan kering kembali. Tetapi, hujan tidak juga kunjung-kunjung datang. Namun, mereka pun tidak dapat mengharap hujan segera datang. Dengan demikian air sungai akan bertambah besar dan bendungan yang belum siap itu pun akan terancam bahaya.
Orang-orang tua mulai mencemaskan keadaan itu. Baiklah, satu dua di antara mereka telah saling berbicara sesamanya. Apabila malam yang kelam menyelubungi padang rumput yang luas itu, maka mulailah terdengar satu dua orang mengeluh. Mengeluh karena lelah, dan mengeluh karena harapan yang mereka pancangkan bersama patok-patok bambu itu agaknya masih terlampau jauh.
Dari hari-kehari maka keluhan itu pun menyalar semakin luas. Dari mulut orang-orang tua yang merasa bahwa umurnya tidak akan lebih panyang dari kerja membuka tanah itu, merayap kepada mereka yang lebih muda. Kepada mereka yang sudah setengah umur. Kemudian merembet lagi kepada yang lebih muda pula. Kepada bapak-bapak yang baru beranak satu dua orang. Akhirnya keluh kesah itu sampai pula kepada anak-anak mudanya.
Tetapi, mereka masih juga bekerja disiang hari. Mereka masih juga mulai sejak matahari terbit dan selesai menjelang matahari bertengger di punggung bukit. Tetapi, dimalam hari mereka tidak lagi berdendang dan bersenandung. Tidak lagi terdengar suara seruling dan gelak tertawa. Dimalam hari mereka saling berbisik diantara mereka. Punggung yang sakit, pundak yang luka dan kaki yang bengkak.
Keluh kesah itu akhirnya terdengar oleh Ki Buyut Panawijen. Orang tua itu menjadi berdebar-debar. Kalau orang-orangnya nanti menjadi jemu sebelum bendungan itu siap, maka pekerjaan yang mengandung harapan itu akan terbengkalai seperti harapan mereka yang akan terbengkalai juga. Ki Buyutlah orang yang akan menjadi paling bersedih hati, di samping Mahisa Agni, apabila mereka terpaksa berpisah bercerai berai mengungsikan hidup masing-masing ke pedukuhan-pedukuhan yang masih dapat menerima mereka.
“Angger Mahisa Agni harus segera msngetahuinya pula” berkata orang tua itu di dalam hatinya, “tetapi aku harus berhati-hati mengatakan persoalan ini. Jangan sampai anak yang baik itu tersinggung hatinya. Ia telah bekerja melampaui orang lain. Dan karena itu, maka ia akan dapat menjadi sangat kecewa mendengar keluh kesah ini”.
Tetapi, keluhan itu menjalar semakin lama menjadi semakin luas. Dan Ki Buyut Panawijen menjadi semakin cemas. Lebih baik ia sendiri menyampaikannya kepada Mahisa Agni dari pada anak itu pada suatu ketika mendengar langsung dari orang-orangnya, sehingga akan menimbulkan bekas yang dalam hatinya. Maka ketika matahari telah terbenam, dan ketika orang-orang Panawijen sudah beristirahat sambil memijat-mijat kaki-kaki mereka yang lelah, maka Ki Buyut Panawijen berjalan di antara mereka mencari Mahisa Agni.
“Apakah kau sudah tidur Ngger?” sapa Ki Buyut itu di depan gubug ilalang yang dipergunakan Mahisa Agni untuk berteduh dari embun di malam hari.
Mahisa Agni yang masih duduk-duduk di dalam gubugnya itu terkejut. Dengan tergopoh-gopoh ia bangkit sambil mempersilahkan orang tua itu, “Mari Ki Buyut. Marilah duduk di sini”.
“Ya, ya Ngger” sahut Ki Buyut.
Kemudian mereka pun duduk di atas sehelai tikar yang dibentangkan di atas setumpuk rumput-rumput kering. Ki Buyut Panawijen, Mahisa Agni dan paman Mahisa Agni yang masih saja berada di Padang Karautan, Empu Gandring.
Setelah percakapan mereka melingkar-lingkar dari satu soal ke soal lain, maka dengan dada berdebar-debar Ki Buyut ingin menyampaikan keperluannya kepada Mahisa Agni. Tetapi, ketika ia melihat wajah anak muda itu, maka hatinya menjadi ragu. Wajah itu memancar penuh harapan bahwa suatu saat mereka akan dapat berdiri di sisi sungai itu sambil memandangi bendungan mereka yang telah dapat menaikkan air ke parit-parit yang memanjang membelah padang yang kering. Mahisa Agni agaknya terlampau yakin bahwa kerjanya akan berhasil.
Tetapi, kalau ia tidak menyampaikan pendengarannya tentang keluh kesah yang semakin merata itu, maka apabila Mahisa Agni mendengarnya kelak, apabila kejemuan itu benar-benar telah mencengkam segenap orang-orang yang mengerjakan bendungan ini, alangkah parahnya hati anak muda itu. Alangkah kecewanya. Seolah-olah rakyat Panawijen sama sekali tidak mengenal terima kasih atas segala jerih payahnya. Setelah dipertimbangkannya masak-masak, dan setelah dipikirkannya berulang kali, maka dengan ragu-ragu akhirnya Ki Buyut itu pun berkata,
“Angger bagaimanakah dengan bendungan kita?”
Mahisa Agni memandangi wajah Ki Buyut Panawijen dengan sorot mata yang aneh. Pertanyaan Ki Buyut itu telah mengherankan Mahisa Agni. Sehingga anak muda itu ganti bertanya,
“Bagaimana maksud Ki Buyut?”
“Ah” Ki Buyut menjadi semakin bimbang, “maksudku, apakah tidak ada kesulitan apa-apa?”
Mahisa Agni menjadi semakin heran, jawabnya, “Seperti yang Ki Buyut saksikan, bukankah pembuatan bendungan itu berjalan lancar? Bukankah orang-orang Panawijen telah berjuang dengan sekuat-kuat tenaga mereka, tanpa menghiraukan panas, lelah dan jemu?”
Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Jalan yang sudah mulai dibukanya itu seolah-olah kini telah tertutup rapat kembali. Apakah ia akan sampai hati mengatakan kepada Mahisa Agni, bahwa orang-orang Panawijen itu kini telah mulai berkeluh-kesah. Berkeluh-kesah tentang panas terik yang membakar punggung mereka, tentang lelah yang menjalar kesegenap otot baju dan tentang kejemuan yang mulai mencengkam perasaan? Ki Buyut itu pun menjadi termangu-mangu. Sehingga karena itu maka ia pun terdiam. Ia telah kehilangan cara yang sebaik-baiknya dapat ditempuh.
Bahkan orang tua itu menjadi bingung ketika Mahisa Agni kemudian berkata, “Ki Buyut, aku mengharap bahwa kita akan dapat bekerja lebih keras lagi. Kita harus menyelesaikan bendungan itu sebelum hujan turun di musim basah yang akan datang. Apabila kemudian air naik, dan ternyata bendungan kita belum sempurna, sehingga masih berbahaya apabila banjir sekali-kali datang, maka kita masih harus bekerja lagi, menyempurnakan bendungan itu. Namun, setelah itu, kita akan menikmati hasilnya. Padang itu akan menjadi tanah persawahan yang subur dan seluas-luas kita kehendaki. Sawah kita akan tidak terbatas, sebesar tenaga dapat kita berikan, seluas itu tanah yang kita garap”.
“Ya, ya” orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya.
Sejenak kemudian mereka berdiam diri, Empu Gandring duduk terkantuk-kantuk di sudut gubug itu sambil memeluk lututnya. Seakan-akan ia sama sekali tidak mendengarkan percakapan kemanakannya dengan Ki Buyut itu. Namun, sebenarnya ia mendengar semuanya. Ia menangkap perasaan yang tidak wajar yang melontar dari percakapan itu. Dari setiap kata-kata Ki Buyut Panawijen. Namun, Empu Gandring itu tidak tahu, apakah yang sebenarnya ingin dikatakan oleh Ki Buyut kepada kemanakannya.
Ketika angin malam berhembus semakin keras, terasa dingin semakin dalam menghunyam ke dalam kulit. Beberapa orang telah membuat perapian dan tidur melingkarinya sambil berselimut kain panjang. Di kejauhan terdengar suara burung hantu mengeluh seperti orang yang kelelahan.
Ki Buyut Panawijen masih saja duduk tepekur. Ia masih mengharap bahwa ia akan menemukan cara untuk menyampaikan maksudnya. Tidak jauh dari gubug itu, tampak api perapian menyala seperti melonjak-lonjak. Beberapa orang yang bertiduran disekitarnya telah benar-benar menjadi lelap. Yang terdengar kemudian adalah dengkur yang bersahut-sahutan. Ki Buyut Panawijen masih saja berdiam diri. Mahisa Agni pun seolah-olah terbungkam. Dan di kejauhan burung hantu masih saja mengeluh terputus-putus.
“Alangkah sulitnya” desah Ki Buyut di dalam hatinya, “bagaimana aku dapat mulai?”
Namun, tiba-tiba perhatian mereka terlempar ke arah dua orang yang berjalan perlahan-lahan ke gubug itu. Agaknya yang seorang memapah yang lain. Ki Buyut Panawijen, Mahisa Agni dan bahkan Empu Gandring yang terkantuk-kantuk itu pun terkejut. Dengan serta-merta mereka berdiri dan menyongsong kedua orang itu.
“Siapa?” bertanya Ki Buyut Panawijen.
“Aku, Ki Buyut”.
“Kenapa? Dan siapa kawanmu itu?”
“Bitung”.
“Kenapa dengan Bitung?”
“Tubuhnya tiba-tiba menjadi panas, tetapi ia menggigil seperti orang kedinginan”.
“Bawalah kemari” minta Mahisa Agni yang menjadi cemas.
Kedua orang itu pun kemudian memasuki gubug Mahisa Agni. Bitung pun kemudian duduk bersandar kawannya. Namun, ia masih juga menggigil seperti orang yang kedinginan. Ketika Mahisa Agni dan Ki Buyut Panawijen meraba tubuhnya ternyata tubuh itu terasa panas.
“Aneh” gumam Mahisa Agni.
“Ya aneh” sahut Ki Buyut Panawijen.
Tetapi, Empu Gandring yang lebih banyak menyimpan pengalaman dari mereka berkata, “Tidak. Sama sekali tidak aneh. Memang ada sejenis penyakit yang demikian”.
“Apakah sakit Bitung ini bukan karena hantu-hantu?” bertanya kawannya.
Ki Buyut Panawijen tidak dapat menyawab, namun yang menyawab adalah Empu Gandring, “Tidak. Sama sekali tidak. Aku telah sering melihat orang yang terserang penyakit yang demikian”.
Kawan Bitung itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku menjadi bingung ketika ia mulai menggigil. Karena itu maka ia aku bawa kemari. Apakah sakit yang demikian ini dapat diobati?”
“Tentu” Empu Gandring lah yang menyahut, “besok usahakan daun kates grandel yang masih muda. Tumbuklah beserta kulit batangnya, buahnya yang masih muda pula, bunganya dan akarnya. Mudah-mudahan ia dapat sembuh. Taruhlah garam sedikit”.
“Tetapi, bagaimana dengan malam ini?”
“Biarlah ia tidur dan beristirahat”.
Kawan Bitung itu memandangi wajah Ki Buyut dengan pandangan yang sayu. Bibirnya tampak bergerak-gerak seakan-akan ia ingin mengucapkan sesuatu. Tetapi, tak sepatah kata pun yang terloncat dari bibirnya. Namun, Ki Buyut Panawijen seakan-akan dapat membaca kata hatinya. Seakan-akan Ki Buyut Panawijen mendengar kawan Bitung itu berkata,
“Siapakah yang bertanggung jawab, seandainya yang terjadi sesuatu dengan kawanku ini? Apakah harus ada orang lain yang mengalami penyakit serupa?”
Tetapi, Ki Buyut pun berdiam diri. Ia kemudian mendengar orang itu berkata, “Baiklah. Besok aku mengharap Bitung dapat diobati. Dan aku mengharap mudah-mudahan obat itu dapat menyembuhkannya”.
“Batang Kates Grandel banyak terdapat di Panawijen” gumam Mahisa Agni.
“ya. Tetapi Bitung kini tidak berada di Panawijen” jawab kawannya.
“Tetapi, bukankah kita dapat mengambilnya?”
“Aku mengharap besok Bitung dapat diobati” berkata kawannya itu seolah-olah tidak mendengar kata-kata Mahisa Agni, “aku menunggu dan Bitung pun menunggu”.
Dada Mahisa Agni berdesir mendengar jawaban itu. Ia tahu benar maksud kata-kata itu. Obat itu harus tersedia. Jadi bukankah dengan demikian berarti bahwa ia harus mengambil obat itu ke Panawijen besok.
Meskipun demikian, Mahisa Agni itu berkata, “Ya. Mudah-mudahan ada seseorang yang akan dapat mengambilnya”.
“Mudah-mudahan” sahut orang itu.
Mahisa Agni menggigit bibirnya. Ia merasakan keanehan sikap dari orang itu. Sikap yang belum pernah dialaminya selama ini. Tetapi, ketika Mahisa Agni menyatakan perasaannya, terasa pamannya menggamitnya. Mahisa Agni berpaling, Empu Gandring menggeleng lemah. Meskipun Mahisa Agni tidak tahu maksudnya, namun ia terdiam.
“Aku akan kembali ke gubugku” berkata kawan Bitung.
“Biarlah Bitung di sini” sahut Mahisa Agni.
“Tidak. Ia bersamaku. Apapun yang akan terjadi atas dirinya”.
Kembali Mahisa Agni menarik nafas. Tetapi, ia tidak mencegahnya lagi ketika Bitung kembali dipapah oleh kawannya meninggalkan gubug itu. Bitung masih juga menggigil meskipun tubuhnya panas. Sepeninggal mereka, Ki Buyut Panawijen menjadi semakin cemas. Ia tahu benar apa yang bergolak di dalam hati Bitung dan kawannya. Mereka pasti menimpakan segala kesalahan kepada Mahisa Agni dan kemudian kepada dirinya, Buyut Panawijen.
“Hem” tiba-tiba Mahisa Agni menggeram, “apakah aku juga yang harus pergi ke Panawijen untuk mengambil obat itu?”
“Tak ada seorang pun yang berani melakukan Agni” sahut pamannya.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA



































Tidak ada komentar:
Posting Komentar