MENU

Ads

Senin, 02 Maret 2026

Pelangi di Langit Singasari 102

“Terlalu” desah Mahisa Agni, “semuanya harus aku lakukan”. Apakah hal-hal semacam itu tidak mengganggu pekerjaan yang besar ini?. “Besok aku harus meletakkan brunjung-brunjung dasar di sisi seberang sebelum sisi yang sebelah ini selesai supaya ada keseimbangan. Kalau aku pergi, bagaimana dengan rencana itu?”

Ki Buyut Panawijen dapat memahami perasaan Mahisa Agni yang sepenuhnya diikat oleh persoalan bendungan yang sedang dikerjakannya. Segala tenaga dan pikiranya kini sedang dicurahkannya untuk kepentingan kerja yang besar dan berat itu, sehingga hampir tak ada waktu baginya untuk berbuat hal-hal yang lain. Tetapi, Ki Buyut itu merasakan pula kepincangan yang terdiri pada orang-orangnya.

Mahisa Agni yang sudah bekerja melampaui setiap orang itu, masih harus mengurus persoalan-persoalan yang sebenarnya dapat dilakukan oleh orang lain. Namun, sebenarnya seperti kata Empu Gandring bahwa tak ada seorang pun yang berani pergi ke Panawijen tanpa Mahisa Agni. Kalau ada juga yang harus pergi, maka mereka pasti akan membawa kawan dalam jumlah yang cukup banyak.

Karena itu justru Ki Buyut Panawijen tak dapat berkata sepatah pun juga untuk menanggapi keluhan Mahisa Agni, Orang tua itu pun bahkan menekurkan kepalanya sambil mengangguk-angguk kecil.

“Paman” bertanya Mahisa Agni itu pula kepada pamannya, “apakah penyakit yang demikian itu berbahaya? Maksudku, apabila obat itu tertunda satu hari saja, apakah akibatnya akan membahayakan sekali bagi Bitung? Apabila tidak, maka aku ingin tetap melakukan rencanaku besok, baru lusa aku akan pergi ke Panawijen setelah dasar bendungan di sisi seberang dapat mapan. Dengan demikian, maka pekerjaan yang barus dilakukan tinggal menambah dasar itu dengan menimbuni brunjung-brunjung. Apabila tidak demikan, maka air akan mengalir di satu sisi, sehingga sisi itu bahkan akan menjadi semakin dalam”.

Empu Gandring pun menjadi ragu-ragu untuk menjawab pertanyaan itu. Seperti Ki Buyut Panawijen, ia dapat memahami setiap perasaan yang bergolak di dalam dada anak muda itu. Tetapi, Empu Gandring itu tahu pula, bahwa penyakit yang berbahaya. Meskipun penyakit itu tidak segera membunuh korbannya, tetapi apabila terlambat pengobatannya, maka meskipun perlahan-lahan, pasti penyakit itu akan menjadi semakin padam.

Selagi Empu Gandring itu menimbang-nimbang, terdengar Mahisa Agni bertanya, “Bagaimana paman? Apakah aku dapat pergi lusa?”

Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya kemudian dengan menganggukkkan kepalanya, “Agni. Mungkin tidak terlambat, tetapi sebaiknya penyakit yang demikian segera mendapat pengobatan”.

Wajah Mahisa Agni menjadi tegang. Dilemparkannya pandangan matanya ke padang yang luas di luar gubug itu. Gelap, meskipun bintang-bintang gemerlapan di langit. Sudah tentu ia tidak akan sampai hati membiarkan salah seorang kawannya menjadi korban. Perasaannya tidak membenarkannya, apabila Bitung kelak menemui bencana oleh penyakitnya karena kelambatannya.

Tetapi, kalau ia menunda rencananya besok meletakkan dasar bendungan di sisi seberang, maka pasir di dasar sungai itu pasti akan menjadi semakin larut dibawa air yang seolah-olah menepi di sisi itu. Dasar itu pasti akan menjadi semakin dalam. Apalagi apabila besok karena rencana itu tidak diteruskan, maka orang-orang Panawijen akan menimbuni sisi yang lain dengan brunjung-brunjung baru. Dengan demikan maka ia akan menjadi semakin terdorong ke sisi seberang, dan sisi itu pasti akan menjadi bertambah-tambah dalam.

Ki Buyut Panawijen masih saja duduk tepekur. Ia menjadi cemas memikirkan apa saja akan dapat terjadi. Ia tahu benar keberatan Mahisa Agni meninggalkan bendungannya. Tetapi, apabila Bitung menjadi semakin parah, maka akan sangat sulitlah bagi Mahisa Agni dan dirinya untuk mengendalikan perasaan anak-anak muda Panawijen yang sudah mulai menjadi jemu itu. Namun, mulutnya tidak dapat mengucapkan dengan kata-kata. Ia tidak sampai hati melihat Mahisa Agni menjadi murung.

Tetapi, baik Ki Buyut Panawijen, maupun Empu Gandring terkejut ketika tiba-tiba Mahisa Agni berkata, “Aku akan pergi sekarang ke Panawijen”.

“Agni” potong pamannya dan Ki Buyut pun dengan serta merta berkata, “Tidak Ngger. Tidak harus demikian”.

“Tidak paman, aku harus menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan ini tanpa merugikan satu dan yang lain. Aku tidak boleh meninggalkan bendungan itu besok dan aku juga tidak boleh membiarkan Bitung dimakan oleh penyakitnya”.

“Tetapi, jangan sekarang Agni. Bukankah kau besok dapat memberi beberapa orang pesan, supaya mereka melakukan rencana itu? Baru setelah pekerjaan itu dimulai dan sesuai dengan kehendakmu kau dapat meninggalkannya”.

“Tidak paman, aku harus ada di sini selama kita meletakkan dasar bendungan itu”.

“Tetapi, jangan sekarang Ngger” tanpa disengajanya Ki Buyut Panawijen memandang padang rumput yang terhampar luas dihadapannya. Tetapi, pandangan matanya tidak mampu untuk menembus gelap malam yang pekat.

Mahisa Agni pun memandangi gelap malam itu pula. Tetapi, tiba-tiba bahkan ia berdiri sambil berkata, “Aku akan pergi”.

“Agni” potong pamannya, “kau pernah berceritera kepadaku tentang banyak hal yang dapat membahayakan dirimu. Kau pernah mengatakan kepadaku bahwa ada orang yang masih saja menyimpan dendam di dalam diri mereka. Apakah kau melupakannya? Bahkan aku telah melihat sendiri, apa yang terjadi di padang ini sebelum kau mulai dengan pekerjaanmu ini”.

“Bahaya itu bagiku sama saja paman, siang atau malam”.



“Lain Agni. Kau berjalan di padang yang luas. Di siang hari kau akan dapat melihat bahaya itu jauh sebelum menyergapmu. Kudamu adalah kuda yang baik. Dengan kuda itu kau akan dapat menghindarinya. Bahkan seandainya orang yang mengancammu itu berkuda pula, maka jarak yang ada pasti akan mampu menyelamatkanmu. Apalagi kalau kau pergi berdua atau bertiga. Salah seorang dari mereka akan dapat memberitahukan kepadaku, apa yang terjadi diperjalanan itu”.

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Namun, ia berdesis, “Aku akan berangkat. Bagi Bitung, semakin cepat, semakin baik. Mudah-mudahan aku tidak bertemu dengan bahaya yang paman katakan itu”.

Tetapi, Mahisa Agni tidak meyakini kata-katanya sendiri. Mungkin Empu Sada dan Kuda Sempana telah siap menunggunya diluar perkemahan itu. Namun, demikian, adalah tanggung jawabnya untuk melakukan pekerjaan itu. Kedua-duanya. Memasang brunjung-brunjung di kali dan mengambil obat ke Panawijen. Tak ada orang yang dapat dan berani melakukannya. Karena itu, maka ia sendiri harus berangkat.

Seperti Empu Gandring, Mahisa Agni percaya kepada kudanya. Apabila ia bertemu dengan bahaya, seandainya bahaya itu sudah pasti tidak dapat diatasinya, misalnya Empu Sada, maka ia akan dapat menjauhkan dirinya. Mudah-mudahan kudanya dapat membantunya. Apabila ia gagal, maka itu adalah akibat dari tanggung jawab yang telah dipikulnya.

Namun, Ki Buyut Panawijen dan Empu Gandring berpendapat lain. Dengan terbata-bata Ki Buyut Panawijen berkata, “Jangan Ngger. Aku turut juga prihatin atas Bitung, tetapi kepergianmu akan sangat menggelisahkan kami malam ini. Biarlah kau pergi besok siang setelah kau memberikan beberapa pesan mengenai pemasangan brunjung-brunjung itu seperti kata pamanmu?”

“Kalau aku sudah mulai Ki Buyut, maka aku kira aku tidak akan dapat meninggalkannya satu sampai dua hari. Karena itu, biarlah aku pergi sekarang. Padang rumput itu cukup luas untuk berpacu seandainya aku bertemu dengan Empu Sada misalnya”.

“Agni” berkata Empu Gandring kemudian, “jangan bermain-main dengan bahaya. Empu Sada bukan seorang yang dapat diajak bercanda. Dendam Kuda Sempana kepadamu agaknya sudah terlampau dalam. Bukankah menurut anggapannya, segala kegagalan yang dialaminya kini, bukan saja kegagalannya untuk memperisteri adikmu itu, tetapi juga kegagalan dalam bidang yang lain, bersumber darimu? Tak ada cara baginya untuk melepaskan dendam itu selain meniadakanmu. Membunuhmu. Kalau kau temui bencana itu, bagaimana dengan pekerjaanmu di sini? Bendungan ini akan terbengkelai dan Panawijen benar-benar akan lenyap. Juga semua yang pernah terjadi akan dilupakan orang”.

Mahisa Agni terdiam sejenak. Tetapi ia tidak mempunyai cara yang lain. Ia tidak mempunyai waktu lagi. Kedua-duanya tak dapat ditunda-tunda. Kalau saja ada orang lain yang besok berani pergi ke Panawijen, maka kepalanya tidak akan menjadi pening seperti sekarang. Seandainya ada juga yang mau berangkat, maka berbondong-bondong mereka pergi bersama-sama, sehingga pekerjaan di padang ini akan terganggu juga. Karena itu, maka kemauannya telah bulat, sehingga katanya,

“Aku akan pergi paman. Empu Sada tidak akan berada di padang ini siang dan malam hanya untuk menunggu aku meninggalkan perkemahan ini pergi ke Panawijen. Kalau ia benar memerlukan aku, maka ia akan datang kemari dan menyerang perkemahan ini bersama dengan murid-murid orang yang menyebut dirinya Bahu Reksa Kali Elo dan saudara saudara seperguruannya yang lain seperti yang dilakukan atas rombongan Ken Dedes”.

Empu Gandring menggelengkan kepalanya, jawabnya, “mereka ragu-ragu untuk berbuat demikian. Apakah laki-laki Panawijen yang sekian banyaknya tidak berbuat sesuatu, sedang Empu Sada tahu benar bahwa aku berada di sini”.

Kembali Mahisa Agni terdiam. Namun, ia tidak dapat menemukan jalan lain dari pada jalan yang akan ditempuhnya. Bitung dan bendungan. Terngiang kembali kata-kata kawan Bitung yang seakan-akan menyerahkan segala persoalan kepadanya. Obat itu ada atau tidak ada adalah tanggung jawabnya. Anak muda itu sama sekali tidak mau berpikir apalagi berusaha untuk mendapatkannya.

“Hem” Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Kembali persoalan itu melingkar-lingkar dikepalanya. Sehingga kembali ia sampai pada suatu tekad untuk pergi malam ini juga, sehingga besok pagi-pagi, selambat-lambatnya matahari sepenggalah, ia akan sampai di tempat ini kembali. Dan ia akan segera dapat mulai dengan rencananya, sebelum air mengorek dasar sungai itu lebih dalam lagi.

Tetapi, dalam penglihatan Ki Buyut Panawijen dan Empu Gandring, keberangkatan Mahisa Agni itu tidak saja didorong oleh kemauan dan tanggung jawabnya, namun juga oleh kekecewaan dan kejengkelan. Karena itu maka Empu Gandring berkata,

“Agni, jangan pergi menurutkan perasaanmu. Cobalah kau sedikit mempergunakan pikiranmu”.

Namun, Empu Gaudring dan Ki Buyut Panawijen tidak dapat mencegahnya lagi. Mereka hanya dapat memandangi anak muda itu berkemas-kemas. Menggantungkan pedang di lambungnya, kemudian berjalan keluar dari gubug itu.

“Aku pergi paman, sudahlah Ki Buyut, mudah-mudahan aku selamat dan berhasil membawa obat itu pula. Bukankah obat itu hanya bagian-bagian dari Kates Grandel?”

Setelah Empu Gandring tidak berhasil menahannya, maka ia pun menyawab, “Ya. Semua bagian dari pohon Kates Grandel. Kalau kau sempat, bawalah daun munggur dan biji-bijinya yang kering. Itu pun akan menjadi obat yang baik pula. Jangan membawa terlampau sedikit supaya kau tidak selalu mondar mandir ke Panawijen”.

“Baik paman” sahut Mahisa Agni.

Sejenak kemudian anak muda itu telah melepaskan kudanya. Dikenakannya pakaian kuda itu, dan kemudian Mahisa Agni pun segera meloncat ke punggungnya. Bitung dan kawannya mendergar derap kuda berlari. Ketika mereka mengangkat wajah mereka, maka terdengar Ki Buyut yang telah berdiri dibelakang berkata,

“Mahisa Agni telah pergi ke Panawijen untuk mencari obat itu”.

Kawan Bitung terkejut. Dengan serta-merta ia bertanya. “Kenapa malam ini?”

“Kau meletakkan semua tanggung jawab kepadanya. Kau tidak membantunya memecahkan kesulitan karena Bitung menderita sakit. Kau hanya berkata bahwa obat itu harus datang sendiri kepadamu dan kau tidak mau tahu kesulitan apakah yang dapat terjadi diperjalanan itu”.

“Tidak Ki Buyut” sahut kawan Bitung tergagap, “bukan maksudku demikian”.

“Tetapi, Mahisa menangkap kata-katamu demikian dan aku pun menangkap kata-kata itu seperti itu pula” sahut Ki Bayut.

Dada kawan Bitung menjadi berdebar-debar. Ia tidak menyangka bahwa Mahisa Agni akan melakukan pekerjaan itu sekarang. Malam ini. Ia tidak dapat mengingkari kata Ki Buyut Panawijen. Memang semula ia berpendirian serupa itu. Bahkan beberapa orang kawan-kawannya pun menganggapnya, bahwa tanggung jawab tentang sakitnya Bitung, seluruhnya terletak di pundak Mahisa Agni. Anak muda itu bersama-sama dengan Ki Buyut Panawijenlah yang memimpin pekerjaan yang terlampau berat di padang yang panas terik disiang hari, dan dingin membeku di malam hari ini. Tetapi, tidak terlintas di dalam kepala anak-anak muda itu, bahwa segera satelah itu Mahisa Agni telah pergi meninggalkan mereka.

“Kau tidak tahu, bahaya yang mengancam anak muda itu setiap saat” berkata Ki Buyut Panawijen pula, “di antaranya adalah Kuda Sempana. Beberapa di antara kalian telah melihat sendiri, bagaimana Mahisa Agni terpaksa berkelahi di padang ini melawan Kuda Sempara bahkan kemudian guru Kuda Sempana itu pula. Kalau Mahisa Agni dalam perjalanannya ke Panawijen kali ini bertemu dengan Kuda Sempana dan gurunya, maka habislah ceritera tentang dirinya. Habis pulalah tugasnya di padang ini, dan habis pulalah harapan kita untuk mendapatkan tanah yang subur hijau seperti yang pernah kita miliki dahulu”.

Kawan Bitung itu menjadi semakin berdebar-debar. Bahkan terasa keringatnya mengalir membasahi seluruh tubuhnya, meskipun dingin malam sampai menggigit tulang.

Dengan nafas tersengal-sengal ia berkata, “Apakah kepergiannya itu tidak dapat dicegah Ki Buyut?”

“Bukankah kau melibat sendiri bahwa ia telah pergi? Bagaimana harus mencegahnya kini? Nah, kalau kau ingin menyelamatkannya, pergilah, susul anak muda itu”.

Kawan Bitung itu terdiam. Beberapa anak muda yang lain mendengar pula percakapan itu, dan mereka pun menjadi berdebar-debar pula seperti Bitung.

“Bagaimana? Apakah kau mau menyusulnya dan memintanya agar ia mengurungkan niatnya, atau kau sendirilah yang pergi ke Panawijen? Sebab Mahisa Agni tahu benar, bahwa obat itu tidak akan dapat meloncat dengan sendirinya kemari dari Panawijen. Obat itu harus dibawa dengan tangan. Dan mulutmu hanya dapat berkata mudah-mudahan, dan dapat menunggu obat itu datang”.

Kawan Bitung itu menekurkan kepalanya. Ia tahu benar bahwa Ki Buyut Panawijen yang sabar itu kini sedang marah kepadanya. Apalagi ketika Ki Buyut kemudian berkata,

“Bukan saja masalah sakit Bitung, tetapi masalah bendungan itu pun kalian ternyata bersikap serupa. Kalian telah mulai jemu mengerjakannya. Jangan ingkar. Aku pernah mendengarnya. Kalian mengeluh karena panas di siang hari membakar punggung dan di malam hari dingin menusuk sampai kesungsum. Kalian mengeluh luka-luka di tangan dan kaki serta menjadi bengkak pula. Apalagi ada di antara kalian yang menjadi sakit. Apakah dengan demikian kalian mengharap bahwa bendungan itu akan siap dengan sendirinya, seperti kalian mengharap obat itu akan jatuh dari langit. Apakah kalian ingin melihat Mahisa Agni mengerjakannya sendiri, dan kalian menunggu saja sambil berbaring sehingga bendungan itu terwujud?”

Kawan Bitung itu menundukkan kepalanya semakin dalam. Anak-anak muda yang lain, yang mendengar kata-kata itu pun menundukkan kepala masing-masing. Bahkan mereka yang telah berbaring dan bahkan telah tertidur pun menjadi terbangun dan duduk sambil tepekur. Tak seorang pun dari mereka yang berani menyawab. Bukan saja anak-anak muda, tetapi orang-orang yang sudah setengah umur pun menjadi cemas pula. Ki Buyut adalah orang yang hampir tidak pernah marah. Kini mereka merasa betapa dalamnya penyesalan yang menghentak-hentak hati orang tua itu.

“Kalau aku berani, dan kalau aku masih mampu menunggang kuda secepat Angger Mahisa Agni, aku pasti akan menyusulnya” gumam Ki Buyut.

Kata-kata itu menyentuh setiap hati yang mendengarnya. Kata-kata itu seakan-akan telah menggerakkan hati mereka untuk segera berlari ketambatan kuda. Tetapi, tak seorang pun yang berani berbuat demikian. Apalagi di malam hari. Di siang hari pun mereka tidak berani pergi seorang diri, meskipun mereka telah mendengar bahwa Hantu Karautan telah tidak ada lagi di padang itu. Tetapi, mereka masih juga membayangkan bahaya yang berserak-serak di sepanjang perjalanan ke Panawijen.

Ki Buyut itu pun kemudian pergi meninggalkan mereka. Hatinya menjadi sangat gelisah. Bukan saja mengenangkan kepergian Mahisa Agni, tetapi juga oleh ketakutan yang mencengkam hampir setiap laki-laki di perkemahan itu. Apabila ketakutan mereka terhadap keadaan di sekelilingnya masih selalu membayang-bayangi, maka apakah kelak, apabila padang itu berhasil menjadi tanah yang subur, mereka pun tidak akan berani berbuat sesuatu? Apakah mereka akan tetap bersembunyi di padukuhan yang baru itu tanpa membuat hubungan dengan padukuhan-padukuhan yang lain karena takut?

Namun, ketika terpandang oleh Ki Buyut, malam yang pekat terbentang seakan-akan tidak berpangkal dan berujung itu pun ia bergumam, “Padukuhan ini akan menjadi padukuhan yang sangat terpencil”. Tetapi, kemudian ia berkata pula, “Meskipun demikian, apakah bedanya jarak yang memisahkan padukuhan ini kelak dengan padukuhan-padukuhan yang lain dengan bulak-bulak yang panjang dan luas meskipun terdiri dari tanah-tanah persawahan dan pategalan? Kalau ada hantu atau penjahat sekalipun, maka kejahatan itu akan dapat juga dilakukan dibulak-bulak persawahan dan pategalan. Ketakutan kami adalah bersumber pada kepercayaan kami, bahwa di padang rumput ini pernah tinggal hantu yang menakutkan setiap orang”.

Dalam pada itu, Mahisa Agni telah berpacu dengan kudanya menembus gelapnya malam. Dingin angin malam mengusap kulitnya dan seolah-olah menusuk kesetiap lubang kulit. Tetapi, Mahisa Agni tidak sempat merasakannya. Hatinya dicengkam oleh perasaan yang sangat aneh. Ia sendiri kurang menyadari, kenapa ia merasa perlu untuk pergi malam ini. Tidak besok atau lusa setelah ia berhasil meletakkan brunjung-brunjung di sisi seberang. Sekali-kali Mahisa Agni mengangkat wajahnya. Ia mencoba menatap kedalam gelap, sejauh-jauh matannya dapat mencapai. Tetapi, malam terlampau kelam.

Betapapun beraninya hati anak muda itu, tetapi ia tidak dapat melenyapkan setiap perasaan was-wasnya, bahwa ia akan bertemu dengan Empu Sada. Kalau yang berada diperjalanannya itu adalah Kuda Sempana, maka ia akan dengan senang hati melayaninya. Tetapi, apabila yang dijumpainya Empu Sada, maka ia pasti harus mencoba berpacu kuda mengelilingi padang ini.

“Benar juga kata Empu Gandring” desisnya seorang diri, “di siang hari, aku dapat melihat seseorang dalam jarak yang masih agak jauh. Tetapi, di malam hari, orang itu baru dapat aku lihat setelah beberapa puluh langkah di muka hidungku”.

Tetapi, Mahisa Agni sama sekali tidak ingin kembali. Ia harus berjalan terus. Bahaya itu baru ada di dalam angan-angannya., “Apakah aku sekarang telah berubah menjadi seorang pengecut?” katanya di dalam hati.

Tiba-tiba hati Mahisa Agni itu pun berdesir. Ia mendengar derap kuda di belakangnya. Ketika ia menoleh, remang-remang ia melihat bayangan seorang penunggang kuda yang mengejarnya, bahkan telah terlampau dekat.

“Siapa yang menyusulku?” pertanyaan itu tumbuh di dalam hatinya, “mungkin seseorang yang ingin mencegah kepergianku malam ini. Ah, tidak. Aku akan menyelesaikan pekerjaanku malam ini”.

Mahisa Agni pun kemudian menyentuh perut kudanya dengan tumitnya. Kuda itu memang kuda yang tegar. Loncatannya menjadi kian panjang dan cepat. Dan kuda dibelakangnya itu pun menjadi semakin lama semakin jauh. Ia tidak mau diganggu. Mungkin orang itu Ki Buyut Panawijen mungkin pamannya Empu Gandring yang masih akan mencoba membawanya kembali ke perkemahan.

Kuda Mahisa Agni berlari kencang seperti angin. Ditembusnya gelap malam seperti anak panah yang menghunyam ke dalam kelam. Semakin lama semakin cepat. Meskipun demikian, Mahisa Agni merasa, bahwa perjalanannya itu terlampau lambat. Malam ini aku harus mendapatkan batang Kates Grandel itu. Besok, sebelum matahari terlampau tinggi aku harus sudah berada di bendungan itu kembali. Aku harus mulai dengan kerja yang sudah aku rencanakan.

Derap kuda dibelakangnya telah tidak didengarnya lagi. Mungkin kuda itu telah kembali ke perkemahan atau sudah tertinggal terlampau jauh. Ia tidak peduli, siapakah yang naik di atas punggung kuda itu. Ia ingin pekerjaannya selesai tanpa seorang pun yang mencampurinya. Besok pagi-pagi ia akan datang kepada Bitung dan memberikannya apa yang diperlukan. Kalau sakit Bitung berkurang, bergembiralah ia dan semua orang di perkemahan itu. Tetapi, apabila penyakit itu mengeras, maka ia sudah cukup berusaha. Tak seorang pun yang akan dapat menyalahkannya lagi.

Dengan demikian maka hatinya pun menjadi semakin mantap. Ia mencoba mempercepat lari kudanya, tetapi sayang, bahwa tenaga kudanya pun terbatas, sehingga kuda itu tidak dapat berpacu lebih cepat lagi. Ketika Mahisa Agni melewati sebuah gerumbul yang agak lebat, terasa hatinya berdesir. Ia tidak tahu, kenapa ia tiba-tiba saja menjadi berdebar-debar. Dan ia tidak tahu, apakah yang telah memaksanya untuk berpaling.

Kini hatinya tidak saja terkejut, tetapi hampir ia tidak percaya. Tiba-tiba saja beberapa puluh langkah di belakangnya berpacu seekor kuda dengan penunggangnya. Cepat seperti angin. Mahisa Agni tidak dapat mempercepat derap kudanya. Kudanya yang tegar itu telah mencapai kecepatan tertinggi. Namun, kuda di belakangnya itu agaknya dapat melampaui kecepatan kudanya. Kalau semula kuda itu semakin lama menjadi semakin jauh, dan bahkan telah hilang di kegelapan, maka tiba-tiba kuda itu kini telah menjadi semakin dekat.

“Kuda itu muncul lagi” pikirnya, “ia mengikuti aku sejak aku keluar dari perkemahan. Mungkin Ki Buyut mungkin paman Empu Gandring. Mungkin seseorang yang disuruh oleh keduanya untuk menyusul aku. Tetapi, tak ada seekor kuda pun di Panawijen yang dapat menyamai kudaku, sedang kuda ini agaknya bahkan melampaui”.

Mahisa Agni mencoba mengingat-ingat, apakah ada seseorang yang memiliki kemampuan berkuda menyamainya.

“Satu-satunya adalah paman Empu Gandring” desisnya, “apakah paman akan memaksa aku kembali?”

Tiba-tiba Mahisa Agni tersenyum, gumamnya, “Alangkah bodohnya aku. Biarlah paman mengejarku. Aku akan biarkan paman mengikuti aku sampai ke Panawijen. Bukankah dengan demikian aku akan mendapat kawan di perjalanan. Bahkan seandainya aku akan bertemu dengan Empu Sada sekalipun, aku tidak perlu gentar”.

Tetapi, kuda dibelakang Mahisa Agni itu menjadi semakin lama semakin dekat. Betapapun Mahisa Agni mencoba mempercepat laju kudanya.

“Hem“ desisnya, “kalau paman dapat mencapai aku sebelum aku melampaui separo jalan, maka aku pasti akan dipaksanya kembali. Kecuali kalau aku dapat membujuknya supaya paman sudi mengantarkanku. Tetapi, mungkin juga paman menyusul untuk mengawani aku ke Panawijen”.

Dugaan yang terakhir itu justru telah mengendorkan hasrat Mahisa Agni berpacu terus. Sebab ia menyadari bahwa ia tidak akan mampu lebih lama lagi mendahuluinya. Sebab kuda yang di belakangnya itu terlampau cepat, dan agaknya penunggangnya terlampau tangkas.

“Biarlah aku” katanya. Mahisa Agni itu pun kemudian malahan memperlambat kudanya. Sekali-kali ia berpaling untuk mencoba mengenal orang yang mengejarnya itu. Tetapi, karena malam terlampau gelap, maka yang tampak hanyalah sebuah bayangan yang hitam.

Tetapi, semakin dekat kuda itu, hati Mahisa Agni menjadi semakin curiga. Bentuk orang di atas punggung kuda itu sama sekali bukan bentuk tubuh pamannya. Kembali dada Mahisa Agni menjadi berdebar-debar. Namun, ia masih belum mendapat kepastian, apakah orang yang duduk di atas punggung kuda itu pamannya atau bukan. Tetapi, debar di dadanya menjadi semakin cepat ketika ia melihat kuda itu seolah-olah tidak berpelana.

“Gila” desisnya, “apakah ada orang yang dapat menunggang kuda secepat itu tanpa pelana?”

Darah Mahisa Agni serasa berhenti mengalir ketika tiba-tiba ia mendengar suara tertawa. Suara tertawa yang mendirikan bulu-bulu kuduknya. Namun, dengan demikian Mahisa Agni kini menjadi pasti bahwa orang itu sama sekali bukan pamannya, bukan Ki Buyut Panawejen. tetapi juga pasti bukan Empu Sada.

Mahisa Agni pun kemudian tidak mau berteka-teki lebih lama lagi. Ketika ia yakin bahwa orang itu bukan Empu Sada, serta tak ada kemungkinan baginya untuk menghindar karena kuda orang itu lebih cepat dari kudanya, maka tiba-tiba ia menekan kendali kudanya itu. Dengan serta merta kudanya mencoba-coba untuk berhenti. Demikian tiba-tiba sehingga kudanya itu meringkik dan berdiri di atas kedua kaki belakangnya.

“Bagus” terdengar suara orang yang mengejarnya, “Kau pandai juga bermain-main dengan kuda”.

Mahisa Agni menahan nafasnya. Diamatinya orang yang duduk di atas kuda tanpa pelana itu. Apalagi ketika orang itu pun segera menghentikan kudanya beberapa langkah saja di sampingnya. Sekali lagi orang itu tertawa. Suaranya meninggi membelah Padang Rumput Karautan.

“Kaukah itu?” berkata orang itu disela-sela suara tertawanya.

“Siapa kau?” bertanya Mahisa Agni.

“Hem, kaukah yang bernama Mahisa Agni, begitu?”

Mahisa Agni tidak segera menyawab. Diamati wajah orang yang belum pernah dilihatnya. Wajahnya keras seperti batu-batu padas dan suara tertawanya pun sekeras suara guntur di langit. Sekali lagi bulu-bulu Mahisa Agni meremang. Anak muda itu bukan seorang penakut, namun wajah itu benar-benar mengerikan. Mahisa Agni pernah bertemu dengan Hantu Padang Karautan, pada masa hantu itu masih sering menakut-nakuti orang yang lewat padang ini. Tetapi, meskipun hantu itu tampak kusut dan liar, namun wajahnya tidak mengerikan seperti wajah orang ini.

“Siapakah kau?” sekali lagi Mahisa Agni bertanya.

“Aku penunggu padang ini” sahut orang itu.

“Bohong” tiba-tiba Mahisa Agni pun berteriak, “aku kenal Hantu Karautan”.

Kembali orang itu tertawa terkekeh-kekeh. Katanya, “Oh, hantu kerdil yang sering merampok orang lewat itu? Hem, orang-orang di sekitar Padang Karautan benar-benar pengecut. Kenapa mereka takut akan hantu gila yang sering dikatakan orang? Sudah lama aku ingin menemuinya, tetapi aku tidak pernah mendapat kesempatan, dan memang aku tidak pernah ingin merendahkan diri bertemu dengan hantu cengeng itu”.

“Kalau kau penunggu padang rumput ini, apakah kau tidak pernah bertemu dengan hantu yang selalu berkeliaran di padang ini pula” bertanya Mahisa Agni.

Orang itu mengerutkan keningnya. Namun, suara tertawanya meledak kembali mengguntur berkepanjangan.

“Cukup” bentak Mahisa Agni, “jawab pertanyaanku”

“Baik. Baik” katanya, “kau benar. Aku memang bukan penunggu padang ini. Aku mencoba berbohong, tetapi kau cukup cerdik”.

Kini Mahisa Agni lah yang tertegun mendengar jawaban itu. Jawaban yang berterus-terang. Pengakuan yang demikian tiba-tiba itu semula sama sekali tidak diduganya. Namun, kemudian ia bertanya kembali,

“Jadi siapakah kau?”

Orang itu tidak segera menyawab. Diamatinya Mahisa Agni dari ujung ubun-ubun sampai keujung kakinya. Dan sekali lagi orang itu bertanya, “Hem. Kaukah Mahisa Agni?”

“Apa kepentinganmu dengan orang yang bernama Mahisa Agni?” sahut Mahisa Agni curiga.

“Aku kagum akan keberaniannya. Tak seorang pun dari anak-anak muda Panawijen yang berani berjalan seorang diri dari Padang Karautan ke Panawijen, selain Mahisa Agni”.




OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar