“Kau salah. Hampir setiap anak muda Panawijen berani melakukannya” sahut Mahisa Agni. Tetapi, kemarahan Mahisa Agni pun terungkat ketika orang itu tertawa kembali. “Kenapa kau tertawa?” bertanya Mahisa Agni keras, untuk mengatasi suara tertawa itu.
“Tak ada orang yang berani berbuat demikian selain Mahisa Agni”.
“Omong kosong” teriak Mahisa Agni semakin keras. Suaranya melontar memenuhi padang itu, menembus gelap pekat yang seolah-olah menelungkupi Padang Karautan.
Orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Sekarang aku yakin. Hanya ada dua orang yang dapat dibanggakan diseluruh Panawijen. Yang pertama adalah Kuda Sempana, seorang pelayan dalam yang berani, dan yang kedua adalah Mahisa Agni”.
“Katakan siapakah kau dan apa keperluanmu?” Mahisa Agni kehilangan kesabaran.
“Menangkap Mahisa Agni” jawab orang itu.
Sekali lagi Mahisa terkejut. Orang itu berkata langsung tentang dirinya. Karena itu, maka jantung Mahisa Agni pun serasa menyala. Ia belum pernah mengenal orang itu. yang dicemaskannya adalah Empu Sada, namun tiba-tiba ia bertemu dengan orang berwajah keras sekeras batu karang yang akan menangkapnya juga. Maka sekali ia bertanya dengan penuh kemarahan,
“Siapa kau, siapa?”
“Apa pedulimu tentang aku. Aku akan menangkap kau dan membawanya pulang ke rumah. Kau akan dapat menjadi permainan yang mengasyikkan”.
Kata-kata orang yang berwajah keras sekeras batu padas tu serasa api yang menyentuh telinga Mahisa Agni. Alangkah panasnya. Namun, karena itulah maka sejenak Mahisa Agni tidak dapat mengatakan sesuatu karena kemarahannya serasa menyumbat kerongkongannya. yang terdengar adalah gemeretak giginya beradu.
Tetapi, orang itu masih saja tertawa seperti melihat lelucon yang mengasyikkan, “Apakah kau marah?”
Mahisa Agni masih berdiam diri. Dicobanya untuk menenangkan perasaannya, supaya ia tidak tenggelam dalam ke marahannya sehingga tidak mampu lagi untuk melihat setiap keadaan dengan sewajarnya. Berkali-kali Mahisa Agni menarik nafas panyang. Udara dingin di malam yang kelam itu telah mengusap jalan pernafasannya. Namun, terasa darahnya masih terlampau panas.
Dengan suara gemetar sekali lagi ia bertanya, “Siapakah kau?”
“Apakah kau perlu mengenal namaku?” bertanya orang itu.
“Sebutlah namamu, atau gelarmu?”
“Aku tidak punya gelar. Aku hanya punya satu nama”.
“Ya, sebutlah satu nama itu”.
“Wong Sarimpat”.
Tanpa sesadarnya kembali bulu-bulu Mahisa Agni meremang. Nama itu pernah didengarnya dari pamannya dan dari mulut Empu Sada sendiri. Wong Sarimpat dan yang seorang lagi bernama Kebo Sindet. Sekali lagi Mahisa Agni menggeretakkan giginya. Kini ia sadar bahwa ia benar-benar berhadapan dengan bahaya. Meskipun ia tidak bertemu dengan Empu Sada, namun orang ini adalah sama berbahayanya dengan Empu Sada. Tidak mustahil bahwa Empu Sada telah benar-benar minta kedua orang itu untuk membantunya.
Sehingga dengan serta merta Mahisa Agni menggeram, “Hem. Apakah kau diminta oleh Empu Sada berbuat demikian?”
“Ya” sahut penunggang kuda yang ternyata Wong Sarimpat itu, “Empu Sada minta bantuanku dan kakang Kebo Sindet. Mereka datang ke rumahku bersama Kuda Sempana dan seorang saudara seperguruannya bernama Cundaka”.
Jantung Mahisa Agni serasa berdentang semakin keras. Orang itu selalu berkata terus terang, tanpa banyak pertimbangan. Namun, dengan demikian, maka Mahisa Agni menjadi semakin berdebar-debar. Ia dapat meraba perasaan orang itu, yang merasa tidak perlu berbohong atau menyembunyikan sesuatu, karena sebentar lagi Mahisa Agni telah ditangkapnya.
Bahkan orang itu meneruskan, “Kalau aku berhasil membawamu pulang, maka kau akan bertemu dengan Kuda Sempana. Ia ingin aku menangkapmu hidup-hidup. Mungkin ia menyimpan dendam dihatinya. Adalah salahmu, bahwa kau tidak cukup berhati-hati, sehingga kau melukai hatinya. Sekarang kau terpaksa membayar sakit bati itu dengan tebusan yang cukup mahal. Kau harus membayar sakit hati itu dengan sakit di hati dan tubuhmu. KudaSempana ingin melihat kau diikat pada sebatang pohon yang kuat.
Kuda Sempana akan dapat berbuat sekehendak hatinya atasmu. Mungkin mencambuk, mungkin menyentuhmu dengan api atau pisau, atau apa pun yang akan dilakukan untuk menyakiti tubuhmu. Sedang untuk menyakiti hatimu Kuda Sempana akan memecah bendungan yang sedang kau kerjakan. Kalau kau hilang dari antara orang-orang Panawijen itu, maka mereka pasti akan kehilangan gairah. Mereka akan menjadi jemu dan mungkin berputus-asa. Dan kau akan melihat, bahwa Padang Rumput Karautan itu akan menjadi sepi kembali. Sepi seperti sedia kala. Tidak ada orang yang mengotori kehijauan rumput yang luas seakan-akan tidak bertepi ini”.
Wong Sarimpat berhenti sejenak. Ketika dipandanginya wajah Mahisa Agni, maka wajah itu menjadi sangat tegang. Beberapa titik keringat telah membasahi keningnya, meskipun malam sangat dinginnya.
“Jangan menyesal, bahwa kau bertemu dengan aku malam ini” berkata Wong Sarimpat kemudian sambil tertawa, “sebenarnya tugasku tidak menangkap kau. Aku hanya sekedar harus mengetahui dengan pasti jalan yang sering kau pergunakan hilir mudik ke Panawijen. Sebenarnya malam ini aku harus sudah kembali kerumahku. Tetapi, tiba-tiba aku melihat seseorang berpacu dengan kudanya. Aku pernah melihat kau lewat jalan ini ke Panawijen beberapa hari sebelumnya, sehingga aku yakin bahwa jalan inilah yang selalu kau tempuh apabila kau kembali ke Panawijen. Ternyata aku kini mengambil keputusan lain. Aku akan kembali dengan membawamu sama sekali”.
Perasaan Mahisa Agni kini tak dapat dikuasainya lagi. Tiba-tiba dengan sebuah gerakan kilat, ia menarik pedangnya sambil berdesis, “Jangan membual. Aku bukan benda mati yang dapat kau perlakukan sekehendak hatimu. Mungkin kau akan mampu membunuhku, sebab kesaktianmu pernah aku dengar menyamai orang-orang yang aku kagumi. Tetapi, itu adalah lebih baik bagiku dari pada kau akan berusaha menangkap aku hidup-hidup”.
Suara tertawa Wong Sarimpat meledak seperti ledakan gunung yang pecah. Demikian kerasnya sehingga tubuhnya berguncangan di atas punggung kudanya. Katanya kemudian disela-sela suara tertawanya,
“jangan banyak tingkah. Kalau kau akan mencoba melawan aku, maka setiap batang rumput dan ilalang akan mentertawakan kau. Setiap helai daun dan setiap tangkai bunga perdu pernah mendengar siapa Wong Sarimpat. Adalah mustahil kalau kau belum pernah mendengar namaku. Mungkin kau pernah mengenal Empu Sada. Apakah kau mampu melawan orang itu pula? Orang yang diakui memiliki ilmu setingkat dengan gurumu? Aku dengar bahwa Mahisa Agni adalah murid Padepokan Panawijen Murid Empu Purwa yang oleh penduduk di sekitarnya di kenal sebagai seorang tua pendiam yang hanya mampu berdoa dan bertani”.
Sejenak Mahisa Agni terdiam. Kata-kata itu memang mengandung kebenaran, ia pasti tidak akan mampu melawan Wong Sarimpat. Tetapi, ia tidak ingin menyerahkan kepalanya dengan suka rela. Karena itu, baginya, lebih baik mati di Padang Karautan sebagai tanah harapan yang sedang diolahnya, dari pada ditangkap hidup-hidup dan dibunuh oleh Kuda Sempana sebagai suatu permainan yang bengis. Dengan demikian maka hati Mahisa Agni pun menjadi semakin bulat. Ia bertekad untuk melawannya, meskipun perlawanannya itu tidak akan berarti.
Ketika ia mendengar Wong Sarimpat itu tertawa lagi, maka tiba-tiba Mahisa Agni menggerakkan kudanya menyambar orang yang berwajah keras seperti batu padas itu. Pedangnya terayun deras sekali langsung mengarah ke lehernya. Suara tertawa itu pun terputus. Namun, Mahisa Agni harus melihat kenyataan, bahwa orang itu memang terlampau lincah. Pedangnya yang diayunkannya secepat-cepat kemampuaanya itu sama sekali tidak. berarti bagi lawannya. Babkan betapa terkejut anak muda Panawijen itu ketika terasa pergelangannya seolah-olah digigit oleh perasaan nyeri yang dahsyat. Ketika ia menyadari keadaan, maka pedangnya telah terlempar dauh dari padanya.
Kembali suara tertawa itu mengumandang. Demikian kerasnya. Dan diantara suara tertawa itu terdengar kata-katanya, “Kau memang anak muda yang luar biasa. Tenagamu memang melampaui tenaga Kuda Sempana. Dan sebenarnya kau pasti dapat mengalahkan anak muda itu seperti yang dikatakannya. Tetapi, dengan demikian kau jangan menjadi terlampau sombong. Yang kau hadapi kini sama sekali bukan Kuda Sempana”
Dada Mahisa Agni berdesir. Malam terlampau gelap, sehingga ketika ia mencoba mencari pedangnya dengan pandangan matanya, ia tidak segera menemukanya.
“Kau mencari pedangmu?” desis Wong Sarimpat. Mahisa Agni tidak menjawab. “Ambillah” teriak Wong Sarimpat, “aku memberimu kesempatan”
Sekali lagi, dada Mahisa Agni berdesir. Tetapi, ia masih saja duduk mematung di atas punggung kudanya yang masih bergerak-gerak.
“Ambillah” teriak Wong Sarimpat pula. Suara itu terlampau keras, sehingga Mahisa Agni terkejut. Dan suara itu agaknya telah memaksa Mahisa Agni bergerak tanpa sesadarnya ke arah pedang terlempar.
”Cari di kegelapan itu. Mungkin disela-sela batang ilalang atau terlempar ke dalam gerumbul”
Darah Mahisa Agni benar-benar mendidih. Betapa orang itu telah menghinanya. Dibiarkannya ia menjauh, masuk ke dalam kegelapan tanpa diikutinya. Bahkan dengan nada tinggi, Wong Sarimpat berteriak,
“Aku tunggu kau di sini. Jangan mencoba lari, tidak ada gunanya. Dalam sepuluh hitungan kalau kau belum menemukan pedangmu, adalah salahmu sendiri. Kau harus datang kembali dan bertempur dengan tanganmu. Kalau tidak, aku akan menjemputmu. Tetapi dengan demikian kau pasti akan menyesal”
Mahisa Agni tidak menjawab. Kudanya dibawanya berjalan ke arah pedangnya terlempar. Tetapi, karena malam terlampau gelap, maka ia tidak segera dapat menemukannya. Di belakangnya, Wong sarimpat yang gila itu mulai menghitung sambil tertawa-tawa, “satu, dua…. tetapi jarak di antara setiap hitungan cukup lama, seolah-olah ia sengaja memberi waktu kepada Mahisa Agni untuk menemukan pedangnya.
Betapa panasnya hati Mahisa Agni. Setiap hitungan yang didengarnya serasa sebuah tusukan langsung di lambungnya. Karena itu, maka tiba-tiba ia menggeram. Namun, pedangnya masih belum diketemukan. Sekilas, timbullah keinginannya untuk melarikan diri menjauhi orang yang berwajah keras sekeras batu padas itu. Namun, ia kemudian merasa bahwa itupun tidak akan ada gunanya. Orang itu pasti akan mendengar kudanya berderap dan segera mengejarnya. Ia tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa kuda orang itu mampu berlari lebih cepat dari kudanya. Untuk bersembunyipun rasa-rasanya tidak akan mungkin. Gerumbul-gerumbul yang jarang-jarang itu akan segera dapat disasak olehnya. Dan ia akan hancur terinjak-injak kaki kuda yang liar seliar penunggangnya itu.
Dalam kebimbangan itu, Mahisa Agni membiarkan kudanya berjalan semakin jauh. Bahkan, kini ia tidak lagi bernafsu untuk menemukan pedangnya. Ia merasa bahwa usaha itupun tidak akan berhasil. Yang kemudian bulat di dalam kepalanya adalah ia akan berkelahi dengan kekuatannya yang terakhir, dengan puncak ilmu yang dimilikinya. Gundala Sasra. Ilmu itu pasti akan lebih tajam daripada pedangnya. Mungkin Wong Sarimpat tidak dapat dibunuhnya dengan ilmu itu, namun apapun yang akan terjadi adalah lebih baik daripada ia harus ditangkap hidup-hidup. Suara Wong Sarimpat terdengar semakin lama semakin jauh. Kini ia mendengar orang-orang itu menyebut bilangan kelima.
“Hem,” Mahisa Agni menggeram, ia tidak telaten mendengar betapa lambannya Wong Sarimpat menghitung. Ia ingin segera terjadi apa yang akan terjadi. Kalau ia akan mati, biarlah segera terjadi pula.
Ketika ia berpaling, malam yang gelap seakan-akan telah memisahkannya dari orang itu. Sekali lagi Mahisa Agni mengumpat di dalam hatinya. Adalah suatu penghinaan baginya, dengan membiarkannya pergi menjauhi lawannya. Mungkin Wong Sarimpat ingin mempermainkannya. Dibiarkannya ia lari, kemudian orang itu akan menyusulnya. Mungkin orang itu akan memberinya kesempatan pula untuk kedua, ketiga dan seterusnya. Apabila kemudian nafasnya telah hampir putus, maka segera ia ditangkapnya dan dibawanya ke rumahnya.
“Hem,” sekali lagi Mahisa Agni menggeram. Tiba-tiba ia memutar kudanya sambil bergumam di dalam hatinya, “Aku tidak mau menjadi permainan. Seperti seekor tikus menghadapi kucing. Biarlah aku mati dengan jantan. Aku akan kembali kepadanya dan menyerangnya.”
Mahisa Agni sama sekali tidak dapat melihat Wong Sarimpat lagi karena gelap malam. Tetapi, ia masih mendengar suaranya. Karena itu, segera dihadapkannya kudanya ke arah suara itu. Ia akan berpacu dan mempersiapkan kekuatan puncaknya. Apabila kudanya telah menghampiri orang itu, maka segera ia akan membenturkan ajinya. Kalau orang itu memiliki kekuatan seperti baja yang berlapis-lapis, biarlah dadanya sendiri hancur karena kekuatannya, tetapi kalau tidak maka pasti akan mengurangi kekuatan lawannya.
Kini Mahisa Agni mulai memusatkan segenap kekuatannya. Ia mendengar Wong Sarimpat telah sampai kehitungan yang ketujuh. Sekali lagi Mahisa Agni menggeram. Hitungan itu terdengar sangat memuakkan. Tetapi, ia tidak akan menunggu sampai hitungan yang kesepuluh.
Tetapi, tiba-tiba kembali Mahisa Agni itu terkejut sehingga seakan-akan darahnya membeku. Pada saat ia telah siap untuk berpacu dan siap pula melepaskan kekuatan pamungkasnya, maka terasa sebuah genggaman tangan yang kuat pada lengannya. Demikian kuatnya sehingga Mahisa Agni hampir tertarik jatuh dari kudanya meskipun ia telah bersiap dengan puncak kekuatannya. Dengan sekuat tenaga Mahisa Agni mencoba merenggut dirinya, tetapi ia sama sekali tidak berhasil. Ketika ia kemudian berpaling, maka nafsunya pun terhenti sesaat. Matanya terbalik dan mulutnya ternganga.
“Turunlah” terdengar sebuah perintah.
Perintah itu benar-benar seperti telah memukau dirinya tanpa disadarinya. Segera ia meloncat dari kudanya dan sebelum ia berbuat sesuatu orang yang mencengkam lengannya itu telah meloncat naik. Ketika Mahisa Agni akan mengucapkan kata-kata, terdengar suara orang itu menggeram,
“Aku telah mendengar hitungan ke sembilan”.
Sebelum Mahisa Agni sempat menyahut, maka kudanya telah bergerak membawa orang itu mendekati Wong Sarimpat. Mahisa Agni menjadi bingung, matanya menjadi seolah-seolah melihat hantu berseliweran di padang itu. Kehadiran Wong Sarimpat yang tiba-tiba itu telah menggoncangkan hatinya dan tiba-tiba hadir pula orang lain seperti demikian saja muncul dari padang rumput itu, atau tumbuh dari sela-sela rumput-rumputan dan gerumbul. Tetapi, kehadiran orang itu telah agak menenteramkam hati Mahisa Agni. Perlahan-lahan ia menjadi tenang kembali, sehingga ia kini dapat mempergunakan otaknya dengan lebih baik.
Ternyata ketika ia meninggalkan perkemahannya, seseorang telah menyusulnya. Namun, kudanya agaknya terlampau jelek, sehingga orang itu tertinggal terlampau jauh. Namun, tanpa disangka-sangkanya, dari sebuah gerumbul muncul pula kuda yang lain. Kuda Wong Sarimpat yang mengejarnya. Tetapi, agaknya Wong Sarimpat tidak menyadari bahwa ada seekor kuda jelek mengejar di belakangnya. Meskipun kuda itu semakin jauh, namun ketika mereka berdua berhenti dan bermain-main dengan pedang, maka kuda yang jelek itu sempat menyusul mereka.
Tetapi, kenapa mereka sama sekali tidak mendengar suara derapnya. Kalau ia tidak mendengar mungkin karena hatinya yang kacau. Tetapi, apakah Wong Sarimpat juga tidak mendengarnya? Apakah orang itu telinganya hanya mampu mendengar suara tertawanya sendiri yang mengguntur-guntur.
Mahisa Agni tidak sempat berangan-angan terlampau lama ia ingin melihat apa yang terjadi. Adalah pertolongan dari Yang Maha Agung bahwa pamannya hadir pada saat ia di cengkam oleh bahaya. Dan kini pamannya telah mewakilinya, menemui orang yang berwajah keras sekeras batu padas itu.
Mahisa Agni masih melihat kudanya berjalan perlahan-lahan mendekati arah suara Wong Sarimpat. Dengan hati-hati ia berjalan mengikutinya. Ia ingin melihat apakah yang terjadi di antara mereka, ia percaya bahwa pamannya menyadari siapakah yang dihadapinya, dan ia percaya bahwa pamannya cukup mengerti perbandingan kekuatan antara mereka. Sebab pamannya telah pernah menyebut-nyebut nama itu pula, Wong Sarimpat.
Akhirnya Wong Sarimpat sampai kebilangan yang kesepuluh. Setelah ia mengucapkan bilangan itu, maka ia pun segera berteriak, “Mahisa Agni. Aku sudah sampai kebilangan yang ke sepuluh. Ayo kemarilah, apakah pedangmu telah kau ketemukan?”
Ia melihat pamannya telah semakin dekat, di samping sebuah gerumbul. Beberapa langkah dihadapannya kudanya berhenti dan pamannya agaknya lebih senang menunggu Wong Sarimpat itu berteriak sekali lagi.
“Mahisa Agni, ayo, kemarilah”.
Tanpa dikehendaki, Mahisa Agni berusaha berdiri di balik lindungan sebuah gerumbul perdu. Sementara itu kudanya berjalan maju perlahan-lahan.
“Ayo, kemarilah” teriak Wong Sarimpat pula, “apakah kau sudah menemukan pedangmu? Dan kenapa kau tidak lari saja he?”
Mahisa Agni yang berada di belakang sebuah gerumbul itu pun mengumpat di dalam hatinya. Dugaannya ternyata benar, bahwa Wong Sarimpat ingin mempermain-mainkannya. Wong Sarimpat sengaja memberinya kesempatan untuk lari. Orang itu akan segera mengejarnya, Demikian sehingga nafas Mahisa Agni akan habis dengan sendirinya. Tetapi, rencana itu harus berubah, sebab ada orang lain yang akan turut dalam permainan yang mengerikan itu.
Ketika Wong Sarimpat kemudian melihat kuda yang perlahan mendekatinya, maka terdengar suara tertawanya mengumandang di padang rumput yang luas itu. Perhatiannya sama sekait tidak tertarik kepada gerumbul disampingnya. Matanya terpaku pada kuda dengan penunggangnya itu, sehingga Mahisa Agni sempat merangkak lebih mendekat lagi. Bahkan Mahisa Agni itu pun telah melupakan dirinya sendiri pula. Keinginan untuk melihat apa yang akan terjadi telah mendorongnya untuk mengintip dari balik dedaunan.
“Agni” teriak Wong Sarimpat. Tetapi, kuda itu tidak mendekat lagi.
“Kemari. Kemari” teriak Wong Sarimpat lagi. Kuda itu masih tegak ditempatnya. “Apakah kau takut Agni?” bertanya Wong Sarimpat, “kalau kau menurut maka aku tidak akan menyentuhmu. Mari pulang ke rumah. Urusanmu seharusnya kau selesaikan sendiri dengan Kuda Sempana. Aku hanya sekedar meraba maksudmu”.
Tetapi, tiba-tiba dada Wong Sarimpat itu seperti terhantam guruh ketika ia mendengar penunggang kuda itu menjawab perlahan-lahan, namun dengan suara yang mantap,
“Baik Wong Sarimpat, aku akan datang”.
Dan suara itu sama sekali bukan suara yang pernah didengarnya diucapkan oleh Mahisa Agni. Suara itu jauh berbeda. Nadanya dan getarannya. Karena itu Wong Sarimpat justru seakan-akan terpesona melihat sebuah bayangan hitam duduk di atas punggung seekor kuda. Ketika kuda itu menjauhinya, maka orang yang duduk di atas punggungnya adalah Mahisa Agni. Tetapi, ketika kuda itu datang kembali, maka orang itu sudah berganti bentuk dan suaranya.
Dalam pada itu terdengar kembali bayangan di atas punggung kuda itu berkata, “Wong Sarimpat, apakah kau menanyakan pedangku?”
Wong Sarimpat tidak segera menjawab, dicobanya untuk melihat dengan lebih saksama. Tetapi, jarak itu belum terlampau dekat, dan hitam malam seakan-akan menjadi kian pekat.
“Siapakah kau?” teriak Wong Sarimpat.
“Mahiia Agni” jawab suara itu, “apakah kau kini telah menjadi seorang pelupa, baru saja kau memberi kesempatan kepadaku untuk mengambil pedangku. Bukankah kau menghitung sampai hitungan kesepuluh dan memanggilku untuk kembali”.
Terdengar Wong Sarimpat menggeram. Sejenak ia menjadi bingung. Apakah suara Mahisa Agni segera berubah? Mungkin anak muda itu menjadi ketakutan sehingga nada suaranya berubah menjadi terlampau rendah. Tetapi, suara yang didengarnya itu sama sekali tidak berkesan ketakutan.
Dengan demikian maka dada Wong Sarimpat itu pun di amuk oleh kebimbangan dan kebingungan. Tetapi, meskipun demikian, Wong Sarimpat adalah seorang yang mempunyai kepercayaan yang kuat kepada kemampuan diri sendiri sehingga bagaimanapun juga, maka dihadapinya setiap persoalan dengan dada tengadah.
Sejenak kemudian kembali terdengar suara tertawa orang itu menggelegar memenuhi Padang Karautan. Bahkan Mahisa Agni yang bersembunyi itu pun menjadi terkejut bukan buatan. Ia tidak tahu, mengapa tiba-tiba saja orang itu tertawa. Apakah kini Wong Sarimpat itu telah mengenal bahwa yang duduk di atas punggung kuda itu sama sekali bukan Mahisa Agni?
Tetapi, ketika ia mencoba memperhatikan pamannya, yang telah menggantikannya, maka kembali ia menjadi tenang. Pamannya itu sama sekali tidak terpengaruh oleh suara yang mengguruh itu. Orang tua itu masih saja duduk dengan tenangnya, dan membawa kudanya selangkah demi selangkah maju.
“Kemarilah” teriak orang itu.
“Aku sedang mendekat” sahut pamannya.
“Hem” Wong Sarimpat menggeram, “apakah Mahisa Agni mampu ajur-ajer mancala putra mancala putri? Ajo katakan siapa kau?”
“Siapakah aku menurut anggapanmu? Apakah aku bukan Mahisa Agni?”
Sekali lagi Wong Sarimpat tertawa berkepanjangan. Ketika suara tertawanya menjadi semakin lirih, terdengar ia berkata, “Bagus. Bagus. Suatu permainan yang bagus sekali. Ternyata aku telah terjebak oleh permainan sendiri. Aku ingin melihat Mahisa Agni lari terbirit-birit. ternyata kini ia telah datang kembali dengan wajah dan keberanian baru”.
Tiba-tiba suara tertawa kembali meninggi-ninggi. Kini Wong Sarimpat tidak sekedar menunggu kehadiran bayangan di atas punggung kuda itu. Perlahan-lahan maka didorongnya kudanya untuk mendekat. Semakin dekat suara tertawanya menjadi semakin keras, sehingga kemudian diantara derai tertawanya itu ia berkata,
“Oh. kau. Kau”.
“Ya, ternyata kau mengenal aku Wong Sarimpat”.
Wong Sarimpat itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini suara tertawanya telah berhenti. Dengan menunjuk kearah wajah Empu Gandring ia berkata, “Hem, bukankah kau tukang keris yang termasyur itu?”
“Terlalu berlebih-lebihan” jawab Empu Gandring, “tidak banyak orang yang mengenal aku. Masih jauh lebih banyak orang yang mengenal nama Wong Sarimpat”.
Kembali Wong Sarimpat tertawa, katanya, “Kau memaag jenaka. Kau masih saja suka bergurau. Meskipun aku belum mengenalmu terlalu dekat, tetapi aku sudah banyak mendengar tentang kau. Empu Gandring. Pusaka buatanmu adalah pusaka yang tak ternilai harganya. Apakah kau sekarang membawa barang sehelai?.
“Sayang Wong Sarimpat” jawab Empu Gandring, “aku tidak membawanya. Tetapi, kalau kau memerlukannya, aku dapat membuat untukmu sekarang”.
“He” Wong Sarimpat mengerutkan keningnya, “dengan apa kau akan membuat keris disini?”
“Aku dapat membuatnya dari batu. Tanganku dapat menyala untuk meluluhkan batu yang betapapun kerasnya Tanganku pula dapat aku pakai untuk menempa di atas lutut”.
Suara tertawa Wong Sarimpat seakan-akan meledak menecahkan anak telinga. Tubuhnya yang kekar pendek itu terguncang-guncang, bahkan demikian kerasnya sehingga sebelah tangannya menekan perutnya yang bergerak-gerak.
“Bagus, bagus. Kau memang Empu yang terlampau sakti. Tetapi, kau tidak akan dapat menyalakan api disini, sebab aku dapat menghembuskan hujan dari mulutku. Api mu pasti akan padam dan batumu tidak akan dapat luluh”.
“Kalau demikian, maka aku pun mampu mempergunakan batu itu untuk senjataku. Batu ditanganku tidak akan kalah berbahayanya dari sebuah keris yang bagaimanapun saktinya”.
“Ya. Aku percaya” potong Wong Sarimpat, “tetapi sayang. Kau sekarang berhadapan dengan Wong Sarimpat”.
“Apa bedanya, apabila aku berhadapan dengan Kebo Sindet atau Empu Sada?”
“Bagus, bagus Kau tahu benar siapa saja kau hadapi. Kau tahu pula hubungan antara Wong Sarimpat dengan Empu Sada. Ternyata kau sengaja menyebut-nyebut namanya”.
“Kau tidak perlu ingkar”.
“Aku tidak akan ingkar. Bahkan aku kini membenarkanya, bahwa seorang diri amat sulit untuk menangkap Mahisa Agni, karena kau selalu membayanginya”.
Empu Gandring mengerutkan keningnya, sedang dada Mahisa Agni yang mendengar kata-kata itu pun menjadi berdebar-debar. Ternyata Empu Sada benar-benar berusaha untuk menangkapnya untuk kepentingan Kuda Sempana.
Mahisa Agni menggeram, katanya di dalam hati, “Dendam Kuda Sempana benar-benar telah meracuni hidupnya. Ditinggalkannya istana dan mengembara tak menentu. Anak muda itu benar-benar menjadi korban sikapnya yang terlampau keras”.
Sejenak kemudian terdengar Empu Gandring menjawab, “Nah, sekarang apakah yang akan kau lakukan? Bukankah Empu Sada sendiri mengakui, bahwa ia tidak dapat melakukannya? Apakah kau sekarang datang bersama dengan Empu Sada?”
“Tidak” jawab Wong Sarimpat, “aku datang sendiri. Aku ingin menangkap Mahisa Agni dan membawanya pulang. Aku sangka Mahisa Agni hanya seorang diri, sebab aku tidak melihat orang lain pergi bersama-sama dengan anak itu”.
“Beruntunglah bahwa kuda yang aku pakai adalah kuda yang terlampau jelek, sehingga kuda itu tidak mampu lari mengejar Mahisa Agni. Agaknya kau bertemu dengan anak muda itu tanpa menyadari bahwa aku berpacu di belakangnya”.
Wong Sarimpat mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Aku tidak mendengar derap kudamu mendekat”.
“Telingamu tersumbat oleh suara tertawamu sendiri. Masih jauh aku sudah mendengar suaramu. Lebih keras dari derap kudaku. Kemudian aku terpaksa menghentikan lari kuda itu. Perlahan-lahan kudaku kemudian berjalan mendekat”.
“Setan,” desis Wong Sarimpat, “tetapi sekarang ceritera tentang Empu Gandring pasti akan berbeda. Aku akan memaksamu untuk manyerahkan Mahisa Agni. Ia tidak akan dapat lari. Kudanya sekarang kau pergunakan. Sedang kudamu adalah kuda yang jelek. Kau tahu bahwa kudaku mampu berlari secepat tatit yang meloncat di langit. Dan kudaku ini memang kunamakan Tatit”.
“Mahisa Agni adalah kemanakanku. Jangan mengigau. Kau tahu bahwa aku tidak akan merelakannya. Sekarang, bukankah kau akan mempergunakan kekerasan? Cobalah pergunakan. Aku sudah siap melawan setiap kekerasan dengan kekerasan pula”.
“Setan alasan” sekali lagi Wong Sarimpat mengumpat. Tatapi kata-katanya kemudian seperti tersumbat dikerongkorgan karena kemarahannya. Dengan serta merta ia menggerakkan kudanya dan menyerang Empu Gandring.
Tetapi, Empu Gandring telah siap menunggu. Karena itu, maka kendali kudanya pun digerakkan, sehingga kudanya segera maju pula. Keduanya adalah orang-orang sakti yang pilih tanding. Itulah sebabnya maka keduanya tidak dapat meninggalkan kewaspadaan tertinggi.
“Tak ada orang yang berani berbuat demikian selain Mahisa Agni”.
“Omong kosong” teriak Mahisa Agni semakin keras. Suaranya melontar memenuhi padang itu, menembus gelap pekat yang seolah-olah menelungkupi Padang Karautan.
Orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Sekarang aku yakin. Hanya ada dua orang yang dapat dibanggakan diseluruh Panawijen. Yang pertama adalah Kuda Sempana, seorang pelayan dalam yang berani, dan yang kedua adalah Mahisa Agni”.
“Katakan siapakah kau dan apa keperluanmu?” Mahisa Agni kehilangan kesabaran.
“Menangkap Mahisa Agni” jawab orang itu.
Sekali lagi Mahisa terkejut. Orang itu berkata langsung tentang dirinya. Karena itu, maka jantung Mahisa Agni pun serasa menyala. Ia belum pernah mengenal orang itu. yang dicemaskannya adalah Empu Sada, namun tiba-tiba ia bertemu dengan orang berwajah keras sekeras batu karang yang akan menangkapnya juga. Maka sekali ia bertanya dengan penuh kemarahan,
“Siapa kau, siapa?”
“Apa pedulimu tentang aku. Aku akan menangkap kau dan membawanya pulang ke rumah. Kau akan dapat menjadi permainan yang mengasyikkan”.
Kata-kata orang yang berwajah keras sekeras batu padas tu serasa api yang menyentuh telinga Mahisa Agni. Alangkah panasnya. Namun, karena itulah maka sejenak Mahisa Agni tidak dapat mengatakan sesuatu karena kemarahannya serasa menyumbat kerongkongannya. yang terdengar adalah gemeretak giginya beradu.
Tetapi, orang itu masih saja tertawa seperti melihat lelucon yang mengasyikkan, “Apakah kau marah?”
Mahisa Agni masih berdiam diri. Dicobanya untuk menenangkan perasaannya, supaya ia tidak tenggelam dalam ke marahannya sehingga tidak mampu lagi untuk melihat setiap keadaan dengan sewajarnya. Berkali-kali Mahisa Agni menarik nafas panyang. Udara dingin di malam yang kelam itu telah mengusap jalan pernafasannya. Namun, terasa darahnya masih terlampau panas.
Dengan suara gemetar sekali lagi ia bertanya, “Siapakah kau?”
“Apakah kau perlu mengenal namaku?” bertanya orang itu.
“Sebutlah namamu, atau gelarmu?”
“Aku tidak punya gelar. Aku hanya punya satu nama”.
“Ya, sebutlah satu nama itu”.
“Wong Sarimpat”.
Tanpa sesadarnya kembali bulu-bulu Mahisa Agni meremang. Nama itu pernah didengarnya dari pamannya dan dari mulut Empu Sada sendiri. Wong Sarimpat dan yang seorang lagi bernama Kebo Sindet. Sekali lagi Mahisa Agni menggeretakkan giginya. Kini ia sadar bahwa ia benar-benar berhadapan dengan bahaya. Meskipun ia tidak bertemu dengan Empu Sada, namun orang ini adalah sama berbahayanya dengan Empu Sada. Tidak mustahil bahwa Empu Sada telah benar-benar minta kedua orang itu untuk membantunya.
Sehingga dengan serta merta Mahisa Agni menggeram, “Hem. Apakah kau diminta oleh Empu Sada berbuat demikian?”
“Ya” sahut penunggang kuda yang ternyata Wong Sarimpat itu, “Empu Sada minta bantuanku dan kakang Kebo Sindet. Mereka datang ke rumahku bersama Kuda Sempana dan seorang saudara seperguruannya bernama Cundaka”.
Jantung Mahisa Agni serasa berdentang semakin keras. Orang itu selalu berkata terus terang, tanpa banyak pertimbangan. Namun, dengan demikian, maka Mahisa Agni menjadi semakin berdebar-debar. Ia dapat meraba perasaan orang itu, yang merasa tidak perlu berbohong atau menyembunyikan sesuatu, karena sebentar lagi Mahisa Agni telah ditangkapnya.
Bahkan orang itu meneruskan, “Kalau aku berhasil membawamu pulang, maka kau akan bertemu dengan Kuda Sempana. Ia ingin aku menangkapmu hidup-hidup. Mungkin ia menyimpan dendam dihatinya. Adalah salahmu, bahwa kau tidak cukup berhati-hati, sehingga kau melukai hatinya. Sekarang kau terpaksa membayar sakit bati itu dengan tebusan yang cukup mahal. Kau harus membayar sakit hati itu dengan sakit di hati dan tubuhmu. KudaSempana ingin melihat kau diikat pada sebatang pohon yang kuat.
Kuda Sempana akan dapat berbuat sekehendak hatinya atasmu. Mungkin mencambuk, mungkin menyentuhmu dengan api atau pisau, atau apa pun yang akan dilakukan untuk menyakiti tubuhmu. Sedang untuk menyakiti hatimu Kuda Sempana akan memecah bendungan yang sedang kau kerjakan. Kalau kau hilang dari antara orang-orang Panawijen itu, maka mereka pasti akan kehilangan gairah. Mereka akan menjadi jemu dan mungkin berputus-asa. Dan kau akan melihat, bahwa Padang Rumput Karautan itu akan menjadi sepi kembali. Sepi seperti sedia kala. Tidak ada orang yang mengotori kehijauan rumput yang luas seakan-akan tidak bertepi ini”.
Wong Sarimpat berhenti sejenak. Ketika dipandanginya wajah Mahisa Agni, maka wajah itu menjadi sangat tegang. Beberapa titik keringat telah membasahi keningnya, meskipun malam sangat dinginnya.
“Jangan menyesal, bahwa kau bertemu dengan aku malam ini” berkata Wong Sarimpat kemudian sambil tertawa, “sebenarnya tugasku tidak menangkap kau. Aku hanya sekedar harus mengetahui dengan pasti jalan yang sering kau pergunakan hilir mudik ke Panawijen. Sebenarnya malam ini aku harus sudah kembali kerumahku. Tetapi, tiba-tiba aku melihat seseorang berpacu dengan kudanya. Aku pernah melihat kau lewat jalan ini ke Panawijen beberapa hari sebelumnya, sehingga aku yakin bahwa jalan inilah yang selalu kau tempuh apabila kau kembali ke Panawijen. Ternyata aku kini mengambil keputusan lain. Aku akan kembali dengan membawamu sama sekali”.
Perasaan Mahisa Agni kini tak dapat dikuasainya lagi. Tiba-tiba dengan sebuah gerakan kilat, ia menarik pedangnya sambil berdesis, “Jangan membual. Aku bukan benda mati yang dapat kau perlakukan sekehendak hatimu. Mungkin kau akan mampu membunuhku, sebab kesaktianmu pernah aku dengar menyamai orang-orang yang aku kagumi. Tetapi, itu adalah lebih baik bagiku dari pada kau akan berusaha menangkap aku hidup-hidup”.
Suara tertawa Wong Sarimpat meledak seperti ledakan gunung yang pecah. Demikian kerasnya sehingga tubuhnya berguncangan di atas punggung kudanya. Katanya kemudian disela-sela suara tertawanya,
“jangan banyak tingkah. Kalau kau akan mencoba melawan aku, maka setiap batang rumput dan ilalang akan mentertawakan kau. Setiap helai daun dan setiap tangkai bunga perdu pernah mendengar siapa Wong Sarimpat. Adalah mustahil kalau kau belum pernah mendengar namaku. Mungkin kau pernah mengenal Empu Sada. Apakah kau mampu melawan orang itu pula? Orang yang diakui memiliki ilmu setingkat dengan gurumu? Aku dengar bahwa Mahisa Agni adalah murid Padepokan Panawijen Murid Empu Purwa yang oleh penduduk di sekitarnya di kenal sebagai seorang tua pendiam yang hanya mampu berdoa dan bertani”.
Sejenak Mahisa Agni terdiam. Kata-kata itu memang mengandung kebenaran, ia pasti tidak akan mampu melawan Wong Sarimpat. Tetapi, ia tidak ingin menyerahkan kepalanya dengan suka rela. Karena itu, baginya, lebih baik mati di Padang Karautan sebagai tanah harapan yang sedang diolahnya, dari pada ditangkap hidup-hidup dan dibunuh oleh Kuda Sempana sebagai suatu permainan yang bengis. Dengan demikian maka hati Mahisa Agni pun menjadi semakin bulat. Ia bertekad untuk melawannya, meskipun perlawanannya itu tidak akan berarti.
Ketika ia mendengar Wong Sarimpat itu tertawa lagi, maka tiba-tiba Mahisa Agni menggerakkan kudanya menyambar orang yang berwajah keras seperti batu padas itu. Pedangnya terayun deras sekali langsung mengarah ke lehernya. Suara tertawa itu pun terputus. Namun, Mahisa Agni harus melihat kenyataan, bahwa orang itu memang terlampau lincah. Pedangnya yang diayunkannya secepat-cepat kemampuaanya itu sama sekali tidak. berarti bagi lawannya. Babkan betapa terkejut anak muda Panawijen itu ketika terasa pergelangannya seolah-olah digigit oleh perasaan nyeri yang dahsyat. Ketika ia menyadari keadaan, maka pedangnya telah terlempar dauh dari padanya.
Kembali suara tertawa itu mengumandang. Demikian kerasnya. Dan diantara suara tertawa itu terdengar kata-katanya, “Kau memang anak muda yang luar biasa. Tenagamu memang melampaui tenaga Kuda Sempana. Dan sebenarnya kau pasti dapat mengalahkan anak muda itu seperti yang dikatakannya. Tetapi, dengan demikian kau jangan menjadi terlampau sombong. Yang kau hadapi kini sama sekali bukan Kuda Sempana”
Dada Mahisa Agni berdesir. Malam terlampau gelap, sehingga ketika ia mencoba mencari pedangnya dengan pandangan matanya, ia tidak segera menemukanya.
“Kau mencari pedangmu?” desis Wong Sarimpat. Mahisa Agni tidak menjawab. “Ambillah” teriak Wong Sarimpat, “aku memberimu kesempatan”
Sekali lagi, dada Mahisa Agni berdesir. Tetapi, ia masih saja duduk mematung di atas punggung kudanya yang masih bergerak-gerak.
“Ambillah” teriak Wong Sarimpat pula. Suara itu terlampau keras, sehingga Mahisa Agni terkejut. Dan suara itu agaknya telah memaksa Mahisa Agni bergerak tanpa sesadarnya ke arah pedang terlempar.
”Cari di kegelapan itu. Mungkin disela-sela batang ilalang atau terlempar ke dalam gerumbul”
Darah Mahisa Agni benar-benar mendidih. Betapa orang itu telah menghinanya. Dibiarkannya ia menjauh, masuk ke dalam kegelapan tanpa diikutinya. Bahkan dengan nada tinggi, Wong Sarimpat berteriak,
“Aku tunggu kau di sini. Jangan mencoba lari, tidak ada gunanya. Dalam sepuluh hitungan kalau kau belum menemukan pedangmu, adalah salahmu sendiri. Kau harus datang kembali dan bertempur dengan tanganmu. Kalau tidak, aku akan menjemputmu. Tetapi dengan demikian kau pasti akan menyesal”
Mahisa Agni tidak menjawab. Kudanya dibawanya berjalan ke arah pedangnya terlempar. Tetapi, karena malam terlampau gelap, maka ia tidak segera dapat menemukannya. Di belakangnya, Wong sarimpat yang gila itu mulai menghitung sambil tertawa-tawa, “satu, dua…. tetapi jarak di antara setiap hitungan cukup lama, seolah-olah ia sengaja memberi waktu kepada Mahisa Agni untuk menemukan pedangnya.
Betapa panasnya hati Mahisa Agni. Setiap hitungan yang didengarnya serasa sebuah tusukan langsung di lambungnya. Karena itu, maka tiba-tiba ia menggeram. Namun, pedangnya masih belum diketemukan. Sekilas, timbullah keinginannya untuk melarikan diri menjauhi orang yang berwajah keras sekeras batu padas itu. Namun, ia kemudian merasa bahwa itupun tidak akan ada gunanya. Orang itu pasti akan mendengar kudanya berderap dan segera mengejarnya. Ia tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa kuda orang itu mampu berlari lebih cepat dari kudanya. Untuk bersembunyipun rasa-rasanya tidak akan mungkin. Gerumbul-gerumbul yang jarang-jarang itu akan segera dapat disasak olehnya. Dan ia akan hancur terinjak-injak kaki kuda yang liar seliar penunggangnya itu.
Dalam kebimbangan itu, Mahisa Agni membiarkan kudanya berjalan semakin jauh. Bahkan, kini ia tidak lagi bernafsu untuk menemukan pedangnya. Ia merasa bahwa usaha itupun tidak akan berhasil. Yang kemudian bulat di dalam kepalanya adalah ia akan berkelahi dengan kekuatannya yang terakhir, dengan puncak ilmu yang dimilikinya. Gundala Sasra. Ilmu itu pasti akan lebih tajam daripada pedangnya. Mungkin Wong Sarimpat tidak dapat dibunuhnya dengan ilmu itu, namun apapun yang akan terjadi adalah lebih baik daripada ia harus ditangkap hidup-hidup. Suara Wong Sarimpat terdengar semakin lama semakin jauh. Kini ia mendengar orang-orang itu menyebut bilangan kelima.
“Hem,” Mahisa Agni menggeram, ia tidak telaten mendengar betapa lambannya Wong Sarimpat menghitung. Ia ingin segera terjadi apa yang akan terjadi. Kalau ia akan mati, biarlah segera terjadi pula.
Ketika ia berpaling, malam yang gelap seakan-akan telah memisahkannya dari orang itu. Sekali lagi Mahisa Agni mengumpat di dalam hatinya. Adalah suatu penghinaan baginya, dengan membiarkannya pergi menjauhi lawannya. Mungkin Wong Sarimpat ingin mempermainkannya. Dibiarkannya ia lari, kemudian orang itu akan menyusulnya. Mungkin orang itu akan memberinya kesempatan pula untuk kedua, ketiga dan seterusnya. Apabila kemudian nafasnya telah hampir putus, maka segera ia ditangkapnya dan dibawanya ke rumahnya.
“Hem,” sekali lagi Mahisa Agni menggeram. Tiba-tiba ia memutar kudanya sambil bergumam di dalam hatinya, “Aku tidak mau menjadi permainan. Seperti seekor tikus menghadapi kucing. Biarlah aku mati dengan jantan. Aku akan kembali kepadanya dan menyerangnya.”
Mahisa Agni sama sekali tidak dapat melihat Wong Sarimpat lagi karena gelap malam. Tetapi, ia masih mendengar suaranya. Karena itu, segera dihadapkannya kudanya ke arah suara itu. Ia akan berpacu dan mempersiapkan kekuatan puncaknya. Apabila kudanya telah menghampiri orang itu, maka segera ia akan membenturkan ajinya. Kalau orang itu memiliki kekuatan seperti baja yang berlapis-lapis, biarlah dadanya sendiri hancur karena kekuatannya, tetapi kalau tidak maka pasti akan mengurangi kekuatan lawannya.
Kini Mahisa Agni mulai memusatkan segenap kekuatannya. Ia mendengar Wong Sarimpat telah sampai kehitungan yang ketujuh. Sekali lagi Mahisa Agni menggeram. Hitungan itu terdengar sangat memuakkan. Tetapi, ia tidak akan menunggu sampai hitungan yang kesepuluh.
Tetapi, tiba-tiba kembali Mahisa Agni itu terkejut sehingga seakan-akan darahnya membeku. Pada saat ia telah siap untuk berpacu dan siap pula melepaskan kekuatan pamungkasnya, maka terasa sebuah genggaman tangan yang kuat pada lengannya. Demikian kuatnya sehingga Mahisa Agni hampir tertarik jatuh dari kudanya meskipun ia telah bersiap dengan puncak kekuatannya. Dengan sekuat tenaga Mahisa Agni mencoba merenggut dirinya, tetapi ia sama sekali tidak berhasil. Ketika ia kemudian berpaling, maka nafsunya pun terhenti sesaat. Matanya terbalik dan mulutnya ternganga.
“Turunlah” terdengar sebuah perintah.
Perintah itu benar-benar seperti telah memukau dirinya tanpa disadarinya. Segera ia meloncat dari kudanya dan sebelum ia berbuat sesuatu orang yang mencengkam lengannya itu telah meloncat naik. Ketika Mahisa Agni akan mengucapkan kata-kata, terdengar suara orang itu menggeram,
“Aku telah mendengar hitungan ke sembilan”.
Sebelum Mahisa Agni sempat menyahut, maka kudanya telah bergerak membawa orang itu mendekati Wong Sarimpat. Mahisa Agni menjadi bingung, matanya menjadi seolah-seolah melihat hantu berseliweran di padang itu. Kehadiran Wong Sarimpat yang tiba-tiba itu telah menggoncangkan hatinya dan tiba-tiba hadir pula orang lain seperti demikian saja muncul dari padang rumput itu, atau tumbuh dari sela-sela rumput-rumputan dan gerumbul. Tetapi, kehadiran orang itu telah agak menenteramkam hati Mahisa Agni. Perlahan-lahan ia menjadi tenang kembali, sehingga ia kini dapat mempergunakan otaknya dengan lebih baik.
Ternyata ketika ia meninggalkan perkemahannya, seseorang telah menyusulnya. Namun, kudanya agaknya terlampau jelek, sehingga orang itu tertinggal terlampau jauh. Namun, tanpa disangka-sangkanya, dari sebuah gerumbul muncul pula kuda yang lain. Kuda Wong Sarimpat yang mengejarnya. Tetapi, agaknya Wong Sarimpat tidak menyadari bahwa ada seekor kuda jelek mengejar di belakangnya. Meskipun kuda itu semakin jauh, namun ketika mereka berdua berhenti dan bermain-main dengan pedang, maka kuda yang jelek itu sempat menyusul mereka.
Tetapi, kenapa mereka sama sekali tidak mendengar suara derapnya. Kalau ia tidak mendengar mungkin karena hatinya yang kacau. Tetapi, apakah Wong Sarimpat juga tidak mendengarnya? Apakah orang itu telinganya hanya mampu mendengar suara tertawanya sendiri yang mengguntur-guntur.
Mahisa Agni tidak sempat berangan-angan terlampau lama ia ingin melihat apa yang terjadi. Adalah pertolongan dari Yang Maha Agung bahwa pamannya hadir pada saat ia di cengkam oleh bahaya. Dan kini pamannya telah mewakilinya, menemui orang yang berwajah keras sekeras batu padas itu.
Mahisa Agni masih melihat kudanya berjalan perlahan-lahan mendekati arah suara Wong Sarimpat. Dengan hati-hati ia berjalan mengikutinya. Ia ingin melihat apakah yang terjadi di antara mereka, ia percaya bahwa pamannya menyadari siapakah yang dihadapinya, dan ia percaya bahwa pamannya cukup mengerti perbandingan kekuatan antara mereka. Sebab pamannya telah pernah menyebut-nyebut nama itu pula, Wong Sarimpat.
Akhirnya Wong Sarimpat sampai kebilangan yang kesepuluh. Setelah ia mengucapkan bilangan itu, maka ia pun segera berteriak, “Mahisa Agni. Aku sudah sampai kebilangan yang ke sepuluh. Ayo kemarilah, apakah pedangmu telah kau ketemukan?”
Ia melihat pamannya telah semakin dekat, di samping sebuah gerumbul. Beberapa langkah dihadapannya kudanya berhenti dan pamannya agaknya lebih senang menunggu Wong Sarimpat itu berteriak sekali lagi.
“Mahisa Agni, ayo, kemarilah”.
Tanpa dikehendaki, Mahisa Agni berusaha berdiri di balik lindungan sebuah gerumbul perdu. Sementara itu kudanya berjalan maju perlahan-lahan.
“Ayo, kemarilah” teriak Wong Sarimpat pula, “apakah kau sudah menemukan pedangmu? Dan kenapa kau tidak lari saja he?”
Mahisa Agni yang berada di belakang sebuah gerumbul itu pun mengumpat di dalam hatinya. Dugaannya ternyata benar, bahwa Wong Sarimpat ingin mempermain-mainkannya. Wong Sarimpat sengaja memberinya kesempatan untuk lari. Orang itu akan segera mengejarnya, Demikian sehingga nafas Mahisa Agni akan habis dengan sendirinya. Tetapi, rencana itu harus berubah, sebab ada orang lain yang akan turut dalam permainan yang mengerikan itu.
Ketika Wong Sarimpat kemudian melihat kuda yang perlahan mendekatinya, maka terdengar suara tertawanya mengumandang di padang rumput yang luas itu. Perhatiannya sama sekait tidak tertarik kepada gerumbul disampingnya. Matanya terpaku pada kuda dengan penunggangnya itu, sehingga Mahisa Agni sempat merangkak lebih mendekat lagi. Bahkan Mahisa Agni itu pun telah melupakan dirinya sendiri pula. Keinginan untuk melihat apa yang akan terjadi telah mendorongnya untuk mengintip dari balik dedaunan.
“Agni” teriak Wong Sarimpat. Tetapi, kuda itu tidak mendekat lagi.
“Kemari. Kemari” teriak Wong Sarimpat lagi. Kuda itu masih tegak ditempatnya. “Apakah kau takut Agni?” bertanya Wong Sarimpat, “kalau kau menurut maka aku tidak akan menyentuhmu. Mari pulang ke rumah. Urusanmu seharusnya kau selesaikan sendiri dengan Kuda Sempana. Aku hanya sekedar meraba maksudmu”.
Tetapi, tiba-tiba dada Wong Sarimpat itu seperti terhantam guruh ketika ia mendengar penunggang kuda itu menjawab perlahan-lahan, namun dengan suara yang mantap,
“Baik Wong Sarimpat, aku akan datang”.
Dan suara itu sama sekali bukan suara yang pernah didengarnya diucapkan oleh Mahisa Agni. Suara itu jauh berbeda. Nadanya dan getarannya. Karena itu Wong Sarimpat justru seakan-akan terpesona melihat sebuah bayangan hitam duduk di atas punggung seekor kuda. Ketika kuda itu menjauhinya, maka orang yang duduk di atas punggungnya adalah Mahisa Agni. Tetapi, ketika kuda itu datang kembali, maka orang itu sudah berganti bentuk dan suaranya.
Dalam pada itu terdengar kembali bayangan di atas punggung kuda itu berkata, “Wong Sarimpat, apakah kau menanyakan pedangku?”
Wong Sarimpat tidak segera menjawab, dicobanya untuk melihat dengan lebih saksama. Tetapi, jarak itu belum terlampau dekat, dan hitam malam seakan-akan menjadi kian pekat.
“Siapakah kau?” teriak Wong Sarimpat.
“Mahiia Agni” jawab suara itu, “apakah kau kini telah menjadi seorang pelupa, baru saja kau memberi kesempatan kepadaku untuk mengambil pedangku. Bukankah kau menghitung sampai hitungan kesepuluh dan memanggilku untuk kembali”.
Terdengar Wong Sarimpat menggeram. Sejenak ia menjadi bingung. Apakah suara Mahisa Agni segera berubah? Mungkin anak muda itu menjadi ketakutan sehingga nada suaranya berubah menjadi terlampau rendah. Tetapi, suara yang didengarnya itu sama sekali tidak berkesan ketakutan.
Dengan demikian maka dada Wong Sarimpat itu pun di amuk oleh kebimbangan dan kebingungan. Tetapi, meskipun demikian, Wong Sarimpat adalah seorang yang mempunyai kepercayaan yang kuat kepada kemampuan diri sendiri sehingga bagaimanapun juga, maka dihadapinya setiap persoalan dengan dada tengadah.
Sejenak kemudian kembali terdengar suara tertawa orang itu menggelegar memenuhi Padang Karautan. Bahkan Mahisa Agni yang bersembunyi itu pun menjadi terkejut bukan buatan. Ia tidak tahu, mengapa tiba-tiba saja orang itu tertawa. Apakah kini Wong Sarimpat itu telah mengenal bahwa yang duduk di atas punggung kuda itu sama sekali bukan Mahisa Agni?
Tetapi, ketika ia mencoba memperhatikan pamannya, yang telah menggantikannya, maka kembali ia menjadi tenang. Pamannya itu sama sekali tidak terpengaruh oleh suara yang mengguruh itu. Orang tua itu masih saja duduk dengan tenangnya, dan membawa kudanya selangkah demi selangkah maju.
“Kemarilah” teriak orang itu.
“Aku sedang mendekat” sahut pamannya.
“Hem” Wong Sarimpat menggeram, “apakah Mahisa Agni mampu ajur-ajer mancala putra mancala putri? Ajo katakan siapa kau?”
“Siapakah aku menurut anggapanmu? Apakah aku bukan Mahisa Agni?”
Sekali lagi Wong Sarimpat tertawa berkepanjangan. Ketika suara tertawanya menjadi semakin lirih, terdengar ia berkata, “Bagus. Bagus. Suatu permainan yang bagus sekali. Ternyata aku telah terjebak oleh permainan sendiri. Aku ingin melihat Mahisa Agni lari terbirit-birit. ternyata kini ia telah datang kembali dengan wajah dan keberanian baru”.
Tiba-tiba suara tertawa kembali meninggi-ninggi. Kini Wong Sarimpat tidak sekedar menunggu kehadiran bayangan di atas punggung kuda itu. Perlahan-lahan maka didorongnya kudanya untuk mendekat. Semakin dekat suara tertawanya menjadi semakin keras, sehingga kemudian diantara derai tertawanya itu ia berkata,
“Oh. kau. Kau”.
“Ya, ternyata kau mengenal aku Wong Sarimpat”.
Wong Sarimpat itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini suara tertawanya telah berhenti. Dengan menunjuk kearah wajah Empu Gandring ia berkata, “Hem, bukankah kau tukang keris yang termasyur itu?”
“Terlalu berlebih-lebihan” jawab Empu Gandring, “tidak banyak orang yang mengenal aku. Masih jauh lebih banyak orang yang mengenal nama Wong Sarimpat”.
Kembali Wong Sarimpat tertawa, katanya, “Kau memaag jenaka. Kau masih saja suka bergurau. Meskipun aku belum mengenalmu terlalu dekat, tetapi aku sudah banyak mendengar tentang kau. Empu Gandring. Pusaka buatanmu adalah pusaka yang tak ternilai harganya. Apakah kau sekarang membawa barang sehelai?.
“Sayang Wong Sarimpat” jawab Empu Gandring, “aku tidak membawanya. Tetapi, kalau kau memerlukannya, aku dapat membuat untukmu sekarang”.
“He” Wong Sarimpat mengerutkan keningnya, “dengan apa kau akan membuat keris disini?”
“Aku dapat membuatnya dari batu. Tanganku dapat menyala untuk meluluhkan batu yang betapapun kerasnya Tanganku pula dapat aku pakai untuk menempa di atas lutut”.
Suara tertawa Wong Sarimpat seakan-akan meledak menecahkan anak telinga. Tubuhnya yang kekar pendek itu terguncang-guncang, bahkan demikian kerasnya sehingga sebelah tangannya menekan perutnya yang bergerak-gerak.
“Bagus, bagus. Kau memang Empu yang terlampau sakti. Tetapi, kau tidak akan dapat menyalakan api disini, sebab aku dapat menghembuskan hujan dari mulutku. Api mu pasti akan padam dan batumu tidak akan dapat luluh”.
“Kalau demikian, maka aku pun mampu mempergunakan batu itu untuk senjataku. Batu ditanganku tidak akan kalah berbahayanya dari sebuah keris yang bagaimanapun saktinya”.
“Ya. Aku percaya” potong Wong Sarimpat, “tetapi sayang. Kau sekarang berhadapan dengan Wong Sarimpat”.
“Apa bedanya, apabila aku berhadapan dengan Kebo Sindet atau Empu Sada?”
“Bagus, bagus Kau tahu benar siapa saja kau hadapi. Kau tahu pula hubungan antara Wong Sarimpat dengan Empu Sada. Ternyata kau sengaja menyebut-nyebut namanya”.
“Kau tidak perlu ingkar”.
“Aku tidak akan ingkar. Bahkan aku kini membenarkanya, bahwa seorang diri amat sulit untuk menangkap Mahisa Agni, karena kau selalu membayanginya”.
Empu Gandring mengerutkan keningnya, sedang dada Mahisa Agni yang mendengar kata-kata itu pun menjadi berdebar-debar. Ternyata Empu Sada benar-benar berusaha untuk menangkapnya untuk kepentingan Kuda Sempana.
Mahisa Agni menggeram, katanya di dalam hati, “Dendam Kuda Sempana benar-benar telah meracuni hidupnya. Ditinggalkannya istana dan mengembara tak menentu. Anak muda itu benar-benar menjadi korban sikapnya yang terlampau keras”.
Sejenak kemudian terdengar Empu Gandring menjawab, “Nah, sekarang apakah yang akan kau lakukan? Bukankah Empu Sada sendiri mengakui, bahwa ia tidak dapat melakukannya? Apakah kau sekarang datang bersama dengan Empu Sada?”
“Tidak” jawab Wong Sarimpat, “aku datang sendiri. Aku ingin menangkap Mahisa Agni dan membawanya pulang. Aku sangka Mahisa Agni hanya seorang diri, sebab aku tidak melihat orang lain pergi bersama-sama dengan anak itu”.
“Beruntunglah bahwa kuda yang aku pakai adalah kuda yang terlampau jelek, sehingga kuda itu tidak mampu lari mengejar Mahisa Agni. Agaknya kau bertemu dengan anak muda itu tanpa menyadari bahwa aku berpacu di belakangnya”.
Wong Sarimpat mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Aku tidak mendengar derap kudamu mendekat”.
“Telingamu tersumbat oleh suara tertawamu sendiri. Masih jauh aku sudah mendengar suaramu. Lebih keras dari derap kudaku. Kemudian aku terpaksa menghentikan lari kuda itu. Perlahan-lahan kudaku kemudian berjalan mendekat”.
“Setan,” desis Wong Sarimpat, “tetapi sekarang ceritera tentang Empu Gandring pasti akan berbeda. Aku akan memaksamu untuk manyerahkan Mahisa Agni. Ia tidak akan dapat lari. Kudanya sekarang kau pergunakan. Sedang kudamu adalah kuda yang jelek. Kau tahu bahwa kudaku mampu berlari secepat tatit yang meloncat di langit. Dan kudaku ini memang kunamakan Tatit”.
“Mahisa Agni adalah kemanakanku. Jangan mengigau. Kau tahu bahwa aku tidak akan merelakannya. Sekarang, bukankah kau akan mempergunakan kekerasan? Cobalah pergunakan. Aku sudah siap melawan setiap kekerasan dengan kekerasan pula”.
“Setan alasan” sekali lagi Wong Sarimpat mengumpat. Tatapi kata-katanya kemudian seperti tersumbat dikerongkorgan karena kemarahannya. Dengan serta merta ia menggerakkan kudanya dan menyerang Empu Gandring.
Tetapi, Empu Gandring telah siap menunggu. Karena itu, maka kendali kudanya pun digerakkan, sehingga kudanya segera maju pula. Keduanya adalah orang-orang sakti yang pilih tanding. Itulah sebabnya maka keduanya tidak dapat meninggalkan kewaspadaan tertinggi.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar