MENU

Ads

Senin, 02 Maret 2026

Pelangi di Langit Singasari 104

Ketika kedua ekor kuda itu berpapasan, maka Wong Sarimpat segera mengayunkan tangannya. Dengan telapak tangannya ia menyerang ke arah Empu Gandring. Tetapi, Empu Gandring segera melawan serangan itu. Empu Gandring sengaja tidak menghindarkan dirinya. Meskipun ia pernah mendengar tentang Wong Sarimpat, tetapi ia belum pernah mengukur langsung, betapa besar kekuatannya. Karena itu, ketika ia melihat tangan Wong Sarimpat terayun kearahnya, maka segera ia pun memukul telapak tangan itu dengan sisi telapak tangannya.

Wong Sarimpat menggeram. Ia melihat cara Empu Gandring menyambut serangannya. Orang tua itu sama sekali tidak mcncoba menghindar. Namun, agaknya Wong Sarimpat pun ingin tahu, sampai dimana kebenaran kata orang, bahwa tangan Empu Gandring itu mampu dipakainya untuk menempa keris. Dengan sengaja Wong Sarimpat tidak menarik serangannya. Bahkan dihentakkannya tangan itu sekuat tenaganya.

Dengan dahsyatnya kedua kekuatan itu berbenturan. Keduanya menyeringai menahan getaran yang menggigit tangan masing-masing. Kedua tangan itu terdorong kebelakang sehingga hampir-hampir mereka terlempar dari kuda masing-masing.

“Bukan main” desis Empu Gandring, “Alangkah besar kekuatannya”.

Namun dalam pada itu, Wong Sarimpat mengumpat keras-keras, “Anak demit. Ternyata bukan cerita melulu, bahwa dengan tanganmu kau mampu menempa keris. Hampir aku terjatuh dari kudaku, dan hampir-hampir pula lenganku kau patahkan. Sekarang aku percaya bahwa kau menyimpan tenaga raksasa di dalam tubuhmu yang kering itu. Tenagamu tidak kalah dengan tenaga Empu Sada. Tetapi, kau tidak curang seperti Empu Sada.

Empu Gandrirg mengerutkan keningnya. Tiba-tiba tanpa dikehendakinya sendiri ia bertanya, “Hei, apa Empu Sada Curang?”

Wong Sarimpat pun terdiam. Agaknya mulutnya telah terlanjur mengatakannya. Tetapi, segera ia tertawa gemuruh memenuhi Padang Karautan. Katanya, “kita selesaikan. Jangau kau hiraukan Empu Sada. Aku telah mewakilinya. Ayo, sekarang kita selesaikan persoalan ini. Aku harus kembali membawa Mahisa Agni. Kalau kita berkelahi dengan tangan, menggunakan segala macam Aji yang ada pada kita, maka kita tidak akan selesai. Mungkin kita tidak akan dapat menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah dalam sepekan. Sekarang kita simpan Aji kita untuk kepentingan lain. Kalau kulitmu tidak kebal, maka tajamnya akan membelah dadamu”.

Wong Sarimpat tidak menunggu jawaban Empu Gandring. Tiba-tiba sebuah golok yang besar telah tergenggam di tangannya. Golok yang dengan serta merta telah ditariknya dari sarung di lambungnya. Sekali lagi lagi Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Golok itu memang terlampau besar. Tetapi, tidak terlampau panjang. Tangkai golok itu terlalu lampau pendek.

“Ambil senjatamu” teriak Wong Sarimpat, “aku tidak mau membunuh orang yang tidak bersenjata”.

“Baik” sahut Empu Gaadring. Tangannya pun segera begerak, meraih tangkai senjatanya lewat di atas pundaknya.

Kerisnya yang khusus melekat di punggungnya. Keris yang sebesar pedang, sedang tangkainya mencuat dibelakang kepalanya. Wong Sarimpat mengerutkan keningnya melihat senjata Empu Gandring itu. Sejenak ia terdiam, namun sejenak kemudian iapun tertawa pula berkepanjangan. Dengan suara yang menggelegar memenuhi Padang Rumput Karautan ia berkata,

“Lihat Empu Gandring. Mentang-mentang kau tukang membuat keris, kau buat keris untuk dirimu sendiri sebesar itu?”

“Apakah kau baru sekali ini melihat keris sebesar ini Worg Sarimpat?” bertanya Empu Gandring.

“Tidak. Tidak. Para bangsawan Kediri juga mempunyai keris yang besar, sebesar kerismu. Apakah kau pula yang membuat keris-keris itu?”

“Bukan hanya seorang Empu keris di seluruh Kediri ini Wong Sarimpat”.

Wong Sarimpat mengangguk-angguk. Kemudian katanya, “Kalau keris buatanmu terkenal disegenap penjuru Kediri, maka keris yang kau buat untukmu sendiri, pastilah sebilah keris yang luar biasa. Mungkin kerismu sakti tiada taranya. Tersentuh kerismu berarti binasa. Bahkan mungkin gunung akan runtuh dan lautan akan menjadi kering. Begitu?”

Empu Gandring mengerutkan keningnya. Tetapi, ia menjawab, “Ya. Gunung akan runtuh dan lautan akan menjadi kering”.

Dan Wong Sarimpat itu menjawab pula, “Tetapi, Wong Sarimpat teguh timbul melampaui gunung dan lautan”.

“Kerisku mampu meruntuhkan gunung dan mengeringkan lautan. Kalau kau teguh timbul melampaui gunung dan lautan, maka kau harus memperhitungkan tenaga ayunan tangan Empu Purwa. Jangan membantah dahulu. Tak ada gunanya. Sebab tenaga kita telah beradu. Aku dapat mengukur kekuatanmu dan kau dapat mengukur kekuatanku”.

“Bagus. Bagus. Kau benar Empu. Kita tak usah membual. Mari kita bertempur, setelah satu dari kita mati, maka bualan kita baru akan terbukti”.



“Aku sudah menunggu” sahut Empu Gandring.

Wong Sarimpat terdiam. Wajahnya tiba-tiba menjadi tegang. Sejenak dipandanginya keris Empu Gandring yang besar, sebesar pedang. Namun, ujungnya yang runcing dan tajam di kedua sisinya, serta luk pitu, memberikan ciri, bahwa yang digenggam di tangan Empu Gandring itu adalah sebilah keris. Bukan pedang dan bukan pula golok seperti senjatanya.

Kini Wong Sarimpat tidak ingin lebih lama lagi menunggu. Disadarinya bahwa malam telah membenam lebih dalam lagi. Karena itu maka terdengar suaranya melengking mengejutkan. Kudanya seolah-olah meloncat menyergap Empu Gandring.

Namun, Empu Gandring telah siap benar menunggu serangan itu. Dengan demikian maka orang itu sama sekali tidak gugup. Digerakkannya kendali kudanya dan dengan sigap pula disongsongnya serangan Wong Sarimpat. Beruntunglah Empu Gandring bahwa kini ia berada di punggung kuda Mahisa Agni, sehingga dengan demikian ia dapat cukup lincah mengimbangi Wong Sarimpat.

Demikianlah maka segera mereka terlibat dalam sebuah perkelahian yang sengit. Wong Sarimpat memiliki keahlian yang mumpuni dalam hal menunggang kuda. Tetapi, Empu Gandring pun cukup cakap mengendalikan kudanya. Apalagi ketrampilannya menggerakkan kerisnya adalah ngedap-edapi. Hampir setiap saat ia bergulat dengan keris. Mungkin ia sedang membuat, dan mungkin sedang berlatih seorang diri untuk menyempurnakan ilmunya. Sehingga dalam keadaan yang memaksanya benar-benar mempergunakan senjata itu, Empu Gandring sama sekali tidak mengecewakan.

Namun, Wong Sarimpat pun adalah seorang yang memiliki ilmu yang hampir sempurna. Goloknya yang besar itu seakan-akan hampir tidak menahan gerak tangannya. Senjata itu berputar dan terayun-ayun seperti sepotong lidi saja. Dengan demikian, maka kedua orang itu tidak segera dapat melihat, apakah yang akan terjadi dalam perkelahian itu. Kedua ekor kuda yang tegar itu pun menyambar-nyambar seperti Burung Garuda, sedang di punggungnya seolah-olah Wisnu sedang menari-nari dengan gairahnya, menarikan tari maut.

Mahisa Agni melihat pertempuran itu. Anak muda itu pun adalah anak muda yang menyimpan ilmu yang cukup di dalam dirinya. Tetapi, orang-orang yang sedang bertempur itu adalah orang-orang yang mengagumkan. Pamannya dan Wong Sarimpat dapat disejajarkan dengan gurunya, Empu Purwa yang seakan-akan kini telah lenyap dari pergaulan karena duka yang mencengkam hatinya tiada tertanggungkan lagi.

Dengan dada yang bergelora Mahisa Agni mengikuti setiap gerak dari kedua orang yang sedang bertempur itu. Ternyata Wong Sarimpat adalah benar-benar seorang yang kasar. Dengan memekik-mekik dan berteriak-teriak ia menyerang dengan garangnya, goloknya terayun-ayun mengerikan, sekali-kali menyambar kepala namun segera mematuk lambung.

Lawannya Empu Gandring, cukup tenang menghadapi tata gerak yang kasar itu. Tetapi, Empu Gandring yang memiliki pengalaman yang cukup segera melihat apa yang dilakukan oleh lawannya itu dengan cermat. Gerak Wong Sarimpat tampaknya kasar dan tidak teratur, namun dalam gerak yang kasar dan tampaknya tidak teratur itu tersembunyi ilmu yangg dahsyat. Ilmu yang memang dalam ungkapannya berbentuk serupa itu, kasar dan mengerikan. Namun, Empu Gandring tidak membiarkan dirinya tenggelam dalam perasaannya. la tidak mau terseret dalam tingkah laku yang kasar pula. Sebab dengan demikian ia telah menjerumuskan dirinya sendiri kedalam bahaya. Ia tidak dapat mengimbangi kekasaran itu dengan kekasaran pula.

Itulah sebabnya maka kini Empu Gandring tidak lagi ingin melawan setiap serangan dengan serangan. Ia tahu, bahwa kekuatan Wong Sarimpat tidak melampauinya, namun ia akan terseret ke dalam sikap yang tidak dipahaminya. Maka untuk seterusnya Empu Gandring menghadapi dengan sikap yang tenang. Tetapi, setiap gerak tangannya, benar-benar menimbulkan desir di dada lawannya.

Perkelahian diantara kedua orang yang sakti itu semakin lama menjadi semakin seru. Masing-masing telah mencoba mengerahkan segenap kemampuan untuk dapat mengalasi lawannya. Namun, ternyata bahwa mereka berdua benar-benar seperti sepasang Burung Rajawali yang berlaga di udara. Tak ada tanda-tanda bahwa salah seorang dari mereka akan berhasil memenangkan perkelahian itu. Silih-ungkih desak-mendesak.

Debu yang putih pun semakin lama menjadi semakin banyak berhamburan dilontarkan oleh kaki-kaki kuda yang seakan-akan ikut serta berlaga. Kadang-kadang terdengar kuda-kuda itu meringkik dengan kerasnya apabila terasa penunggangnya menarik kendali terlampua keras, dan kadang-kadang kuda itu pun saling berbenturan sementara penunggangnya membenturkan senjata-senjata mereka.

Namun, keduanya adalah orang-orang yang pilih tanding Semakin banyak keringat membasahi tubuh-tubuh mereka, maka mereka menjadi semakin trampil. Wong Sarimpat menjadi semakin garang dan kasar, sedang Empu Gandring menjadi semakin lincah dan cekatan.

Mahisa Agni masih saja duduk di belakang gerumbul. Tetapi, ia sudah kehilangan nafsunya untuk bersembunyi terus. Bahkan semakin lama ia bergeser semakin jauh dari tempat persembunyiannya, dan malahan kadang-kadang ia harus mendekat untuk dapat melihat kuda-kuda itu berlari-larian di Padang Karautan.

Tetapi, perkelahian itu masih berlangsung dalam keadaan yang serupa saja. Mereka masing-masing mencoba menunggu apabila lawan-lawannya membuat kelalaian-kelalaian kecil, sehingga salah seorang dari mereka akan mendapat kesempatan yang baik. Tetapi, kesempatan itu tidak juga kunjung datang. Sehingga dalam kejemuan akhirnya Wong Sarimpat berteriak-teriak keras sekali.

Empu Gandring sama sekali tidak menanggapinya. Ia bertempur dengan cermat. Kerisnya yang besar itu bergetar dan mematuk dari segenap penjuru. Namun, setiap kali senjata itu selalu membentur golok Wong Sarimpat yang besar itu, seakan-akan golok itu pun melebar seluas perisai yang mengelilingi tubuh Wong Sarimpat.

Di langit bintang gemintang beredar dengan terangnya seakan-akan sama sekali tak dihiraukannya pertempuran yang dahsyat yang terjadi di Padang Karautan. Angin yang dingin mengalir lambat mengusap tubuh-tubuh yang berkeringat itu. Tetapi, mereka yang bertempur sama sekali tidak menghiraukannya betapa sejuknya udara di malam yang dingin itu.

Wong Sarimpat akhirnya benar-benar menjadi jemu. Ia terpaksa melilat suatu kenyataan, bahwa Empu Gandring tidak dapat dikalahkannya, betapapun ia berusaha. Apapun yang dilakukannya, maka Empu Gandring pasti mampu menyelamatkan dirinya seperti apa yang terjadi sebaliknya. Karena itu, tiba-tiba Wong Sarimpat berpendirian lain. Lebih baik ditinggalkannya mereka kali ini. Ia akan menyampaikan semua peristiwa itu kepada kakaknya. Ia memang harus datang berdua sedikit-dikitnya supaya dapat melepaskan Mahisa Agni dari pamannya yang selalu membayanginya itu.

Kini, dalam perkelahian ini, ia sama sekali tidak dapat melihat siapakah yang akan dapat memenangkannya. Ia tidak melihat kemungkinan untuk membawa Mahisa Agni. Dengan demikian, maka Wong Sarimpat itu pun kemudian mengambil keputusan untuk melepaskan lawannya dan kembali ke Kemundungan. Ia akan segera kembali bersama dengan Kebo Sindet untuk mengambil Mahisa Agni.

Ketika perkelahian itu masih berlangsung dengan sengitnya tiba-tiba Wong Sarimpat menarik kendali kudanya yang kemudian berputar dan berlari menjauh. Yang terdengar kemudian adalah suaranya mengguruh disertai derai tertawanya,

“Maaf Empu Gandring, aku terpaksa meninggalkanmu”. Empu Gandring tertegun melihat lawannya menyingkir. Di dalam remang-remang gelap malam ia melibat Wong Sarimpat itu berhenti beberapa langkah dari padanya sambil berkata terus, “Aku tidak melihat titik akhir dari perkelahian ini, sehingga aku menganggap bahwa apa yang terjadi seterusnya sama sekali tidak akan berarti. Karena itu, aku mohon diri, aku sudah rindu kepada kakakku Kebo Sindet. Mungkin ia ingin menemuimu. Lain kali aku akan membawanya kemari”.

Empu Gandring tidak menjawab. Didorongnya kudanya maju mendekat, tetapi kuda Wong Sarimpat pun berjalan menjauh.

“Jangan mencoba mengejar aku. Kudamu lebih jelek dari kudaku, sehingga kau tidak akan berhasill. Meskipun seandainya kau mempunyai kesaktian berlipat-ganda dari padaku pun kau masih harus tergantung kepada kaki-kaki kudamu. Kalau kau tidak percaya, buktikanlah”.

Wong Sarimpat tidak menunggu Empu Gandring menjawab. Ditariknya kekang kudanya sehingga kudanya berputar setengah lingkaran. Kemudian kuda itu pun seakan-akan meloncat dan terbang meninggalkan Empu Gandring yang memandanginya dengan wajah yang kecut.

“Hem, hantu itu benar-benar berbahaya” gumamnya.

Mahisa Agni pun melihat betapa Wong Sarimpat memacu kudanya meninggalkan Padang Karautan. Tetapi ia menyadari pula bahwa pamannya pasti tak akan dapat mengejarnya karena kuda Wong Sarimpat yang bernama Tatit itu mampu berlari benar-benar seperti tatit.

“Agni”. Mahisa Agni mendengar pamannya memanggil. Perlahan-lahan ia berdiri dan berjalan mendekati Empu Gandring. “Bukankah benar kataku bahwa di padang ini tersembunyi seribu macam bahaya?” Mahisa Agni menundukkan kepalanya. Sepatah pun ia tidak menjawab. “Kau melihat sendiri, betapa berbahayanya orang sekasar Wong Sarimpat. Bahkan menurut penilaianku, orang ini jauh lebih berbahaya daripada Empu Sada sendiri. Dan kini mereka agaknya berdiri di pihak yang sama. Aneh. Untuk melawanmu Empu Sada harus bersusah payah mencari teman seliar Wong Sarimpat.”

Mahisa Agni masih saja berdiam diri Bahkan kepalanya pun masih juga ditundukkannya. Kalau dikenangkan apa yang baru saja terjadi, maka ia menjadi ngeri sendiri. Meskipun ia sama sekali bukan seorang pengecut, tetapi menghadapi orang yang ganas seperti Wong Sarimpat, adalah suatu pekerjaan yang tidak menyenangkan.

Dalam pada itu terdengar Empu Gandring betkata, “Semula aku juga hanya ingin mengharap bahwa kau tidak bertemu dengan bahaya, tetapi akhirnya aku tidak sampai hati untuk melepaskan kau pergi seorang diri di malam yang terlampau gelap untuk menyeberangi Padang Karautan yang garang ini. Karena itu aku mencoba menyusulmu. Ketika kudaku menjadi semakin dekat, agaknya kau telah mamacu kudamu. Padahal yang aku dapatkan hanya seekor kuda yang tidak terlampua baik, sehingga jarak diantara kita menjadi semakin lama semakin jauh.”

Mahisa Agni masih berdiri mematung. Dan Empu Gandring itu pun akhirnya berkata ”Sekarang bagaimana Agni. Kita sudah melampaui separo jalan. Apakah kau akan kembali atau kau ingin meneruskan perjalanan ini”.

Sejenak Mahisa Agni menjadi ragu-ragu. Tetapi, ketika diingatnya bahwa di perkemahan seorang kawannya mengharap kedatangannya dengan membawa obat, maka jawabnya kemudian,

“Aku akan meneruskan perjalanan ini paman”.

“Hm” Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Namun, ia berkata, “Baiklah. Perjalanan ini sudah cukup jauh. Marilah aku antarkan kau ke Panawijen. Mudah-mudahan kita akan segera kembali sebelum Wong Sarimpat sempat memanggil kakaknya yang bernama Kebo sindet itu”.

“Apakah rumah mereka tidak terlampau jauh?”

“Aku dengar mereka bersembunyi di Kemundungan. Jaraknya cukup jauh. Tetapi, apabila kakaknya Kebo Sindet telah berada di perjalanan kemari, maka mereka akan segera kembali”.

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Sekali lagi ia menyesalkan Kuda Sempana. Persoalan yang ada sekarang sudah jauh berkisar dari persoalan yang semula. Kuda Sempana kini sudah tidak lagi mempersoalkan Ken Dedes, karena ia menyadari, bahwa ia tidak akan mungkin lagi merebutnya dari Akuwu Tunggul Ametung. Tetapi, yang ada sekarang adalah dendam yang tiada akan padam menyala di dada anak muda yang merasa dirinya dikecewakan dan disakiti hatinya. Tetapi, Mahisa Agni tidak dapat terlampau lama berangan-angan. Sekali lagi pamannya berkata,

“Kalau akan meneruskan perjalanan, marilah. Kudaku aku tambatkan di belakang semak-semak tempat kau mencari pedangmu”.

Mahisa Agni tidak menjawab. Perlahan-lahan ia melangkah ke dalam gelap, mencari kuda Empu Gandring.

“Apakah kau akan memakai kudamu ini?” bertanya Empu Gandring.

“Tidak paman” sahut Mahisa Agni, “sama saja bagiku. Bukankah kita akan berjalan bersama-sama”.

Empu Gandring tersenyum. Diikutinya Mahisa Agni berjalan mengambil kuda pamannya. Sejenak kemudian mereka berdua telah berpacu kembali ke Panawijen. Namun, mereka sudah pasti tidak akan dapat berada kembali di bendungan yang sedang mereka kerjakan terlampau pagi. Perjalanan mereka telah terganggu, sehingga waktunya pun menjadi bertambah panjang.

Sementara itu Wong Sarimpat berpacu pula cepat-cepat kembali ke Kemundungan. Ia menyesal bukan kepalang atas kegagalannya, dan tanpa kesadarannya mulutnya telah mengumpat habis-habisan.

“Setan tua itu sepantasnya dipancung kepalanya. Ia harus dibinasakan seperti Empu Sada. Aku ingin membenamkannya pula di dalam sendang tempat Empu Sada membunuh dirinya. Melibatkannya pada akar-akar ganggang dan menggantungi lehernya dengan batu”.

Dan Suara Wong Sarimpat itu pun mengumandang berkeliling padang yang luas dan gelap. Namun, padang itu terlampau sepi. Tak seorang pun mendengarkannya dan tak seorang pun yang melihatnya ia berpacu seperti dikejar hantu. Ketika orang itu kemudian memasuki sebuah hutan tiba-tiba ia merasa jemu berpacu. Orang yang tidak pernah mengenal lelah itu, tiba-tiba ingin berhenti dan beristirahat. Mungkin kudanya memang memerlukan waktu untuk beristirahat sejenak.

Tetapi, istirahat itu pun terasa menjemukan sekali. Wong Sarimpat mencoba berbaring sejenak. Begitu saja di atas tanah yang lembab. Dicobanya untuk mereka-reka, bagaimana mungkin ia membalas sakit hatinya. Tetapi, ia tidak segera menemukannya. Ketika perlahan-lahan ia mendengar suara berdesir disisinya, cepat ia meloncat bangkit. Dalam kegelapan malam, ia mendengar suara itu menyelusur menjauhi kakinya.

“Ular gila itu ingin aku cekik sampai mati” teriaknya.

Tetapi, malam di dalam hutan itu cukup kelam, sehingga betapapun tajam penglihaannya, namun ia tidak berani menyerang ular itu, meskipun disiang hari adalah pekerjaan Wong Sarimpat menangkap dan membunuh ular hanya dengan tangannya. Kulitnya sangat digemarinya seperti ia merggemari berbagai macam batu-batuan. Dalam kejengkelannya Wong Sarimpat itu kembali meloncat ke punggung kudanya, dan kembali ia berpacu menembus jalan-kalan sempit di hutan itu. Jalan yang biasa dilalui oleh para pejalan dan para pencari kayu bakar.

Ketika kudanya meluncur di antara batang-batang yang agak jarang, maka ditengadahkannya. Sekali lagi ia mengumpat keras-keras ketika ia melihat bayangan yang mewarnai langit. Orang itu sampai di Kemundungan melampaui tengah hari. Langsung ia mencari kakaknya untuk menceriterakan apa yang telah dilihatnya.

Kebo Sindet yang sedang mencoba memberikan beberapa macam ilmu kepada Kuda Sempana tertegun mendengar adiknya berteriak-teriak di depan gubugnya. Sambil bersungut-sungut ia menjawab,

“Aku di sini Wong Sarimpat”. Kuda Sempana pun tertegun pula. Bahkan ia terkejut. Sebelum ia melihat Wong Sarimpat, ia telah mendengar suaranya mengumpat-umpat tak habis-habisnya. “Kita berhenti sebentar Kuda Sempana” berkata Kebo Sindet.

Kuda Sempana yang memang kurang mempunyai gairah untuk berlatih ilmu yang kasar itu, menjadi gembira didalam hatinya, meskipun setiap kali diminta untuk berlatih, ia tidak berani menolaknya.

Sejenak kemudian Wong Sarimpat telah muncul dari balik sudut gubug yang kotor itu. Dengan nafas terengah-engah ia berjalan mendekati kakaknya. Wajahnya tampak tegang dan mulutnya masih saja mengumpat-umpat.

“Apa yang telah terjadi?” bertanya Kebo Sindet. Tetapi, wajahnya sama sekali tidak bergerak. Beku.

“Hampir aku berhasil meskipun aku hanya seorang diri” berkata Wong Sarimpat dengan bertolak pinggang.

“Apa yang berhasil?” bertanya kakaknya.

“Buruanmu. Seakan-akan telah berada ditelapak tangan. Tetapi, tiba-tiba berhasil lepas kembali”.

“Mahisa Agni maksdumu?” bertanya Kebo Sindet.

“Ya”. Wajah yang beku itu tiba-tiba bergerak. Tampak beberapa garis kerut merut di dahinya. Namun, hanya sesaat. Sesaat kemudian wajah itu telah beku kembali. “Aku telah berhasil menangkapnya” berkata Wong Sarimpat pula.

“Dimanakah anak itu sekarang”.

“Sudah aku katakan, anak itu lepas kembali”.

“Kenapa?”.

“Setan tua itu datang mengganggu”.

“Siapa yang kau maksud? Empu Purwa, Bojong Santi, atau Empu Sada sendiri?”

“Kali ini Empu Gandring. Pamannya”.

Terdengar mulut Kebo Sindet menggeram, Tiba-tiba ia berkata tidak terlampau keras, tetapi mengejutkan Wong Sarimpat, “Kaulah yang bodoh”.

Wong Sarimpat mengerutkan dahinya. Katanya, “Kenapa aku yang bodoh?”

“Sudah dikatakan oleh Empu Sada bahwa anak itu tidak dapat ditangkap seorang diri. Kalau kau mampu melakukannya. maka Empu Sada tidak akan ribut kemari memanggil kita”.

Wong Sarimpat menarik nafas dalam-dalam. Tetapi, ia tidak menyahut. Dan kakaknya berkata pula, “Bukankah Empu Sada pernah mengatakan bahwa ada saja yang selalu membayanginya. Kali ini kau bertemu dengan Empu Gandring, mungkin kalau kau berbuat bodoh untuk kedua kalinya kau akan bertemu dengan Empu Purwa, guru anak itu sendiri. Di lain kali kau akan bertemu dengan Panji Kelantung dari Tumapel atau bahkan apabila masih hidup, Empu Sada sendiri akan menemuimu”.

Wong Sarimpat mengangguk-angguk. Tetapi, ia menjawab, “Jangan kau sebut orang yang terakhir itu kakang. Aku pasti bahwa ia telah mampus ditelan ganggang”.

“Mudah-mudahan” sahut kakaknya, “tetapi meskipun Empa Sada telah mati, namun kebodohanmu tidak terhapus karenanya. Kau tahu akibat dari perbuatanmu?”

Mata Wong Sarimpat meredup, seakan-akan ia mcncoha berpikir. Tetapi, akhirnya ia hanya menggelengkan kepalanya sambil menjawab, “Akibatnya adalah kita masih harus menangkapnya”.

“Kau benar-benar bodoh” suara Kebo Sindet datar, tetapi mengandung tekanan sehingga Wong Sarimpat terdiam. Dibiarkannya kakaknya berkata terus, “Akibatnya adalah Mahisa Agni dan Empu Gandring itu menyadari bahaya yang mengintainya. Kini ia tahu pasti siapa yang harus mereka hadapi. Bukan sekedar Empu Sada. Tetapi, Empu Gandring itu sudah melihat tampangmu yang kasar seperti batu asahan.”

Wong Sarimpat menggeram. Tetapi, ia tidak menjawab. Ketika dilihatnya Kuda Sempana mengawasinya pula, tiba-tiba matanya terbelalak sehingga cepat-cepat Kuda Sempana melemparkan pandangannya ke titik yang jauh.

“Jangan menyalahkannya” bentak kakaknya, “sudah sewajarnya Kuda Sempana kecewa terhadap sikapmu. Dengan demikian maka usaha ini akan menjadi semakin panjang. Kalau kau tetap pada kewajiban yang aku bebankan padamu, mengintai saja anak muda itu, maka aku pasti akan segera berangkat ke Panawijen. Aku dapat mengikat Empu Gandring dalam perkelahian dan kau dapat menangkap anak itu dengan mudah. Sekarang, setelah kegagalan yang bodoh itu, apa katamu?”

Mulut Wong Sarimpat bergerak-gerak. Tetapi, tak sepatah kata pun meloncat dari sela-sela bibirnya.

Kemudian Kebo Sindet itu berkata kepada Kuda Sempana, “Kita harus bersabar lagi beberapa lama karena kebodohan pamanmu”.

Kuda Sempana tidak segera menyawab. Sekali lagi mencoba memandangi wajah Wong Sarimpat, tetapi sekali lagi ia melihat Wong Sarimpat membelalakkinya, sehingga Kuda Sempana itu menundukkan kepalanya. Tetapi, ketika Kebo Sindet berpaling, maka Wong Sarimpat pun menundukkan kepalanya pula secepat-cepatnya.

“Kuda Sempana,” berkata Kebo Sindet, “pekerjaanmu kemudian adalah berlatih sebaik-baiknya. Kita masih harus menunggu beberapa hari lagi. Kita mengharap mereka akan menjadi lengah. Tetapi, aku mempunyai harapan yang lain pula. Mudah-mudahan aku segera menjadi semakin sempurna dalam olah kanuragan, sehingga suatu saat kau sendiri akan mampu menghadapi Mahisa Agni. Akan berbanggalah kau kiranya apabila kau datang dan mangajukan tantangan jantan. Perang tanding di hadapan beberapa saksi”.

Kuda Sempana tidak menjawab. Sepercik kebanggaan melonjak di dalam dadanya. Tetapi, kemudian di sudut yang lain kembali memancar perasaan syaknya. Ia tetap berprasangka terhadap orang yang berwajah beku sebeku majat itu. Tetapi, Kuda Sempana tidak mau membebani kepalanya dengan segala macam kebingungan. Kini ia menghadapi kesempatan. Apa pun yang akan terjadi kemudian akan dihadapinya kemudian. Namun, peningkatan ilmu baginya pasti akan berguna. Untuk apapun. Sehingga Kuda Sempana pun kemudian justru berusaha untuk menambah ilmunya sebaik-baiknya. Dicobanya untuk mengatasi perasaan segan yang hampir setiap kali mengganggunya.

Ketika Wong Sarimpat itu pun kemudian dengan langkah yang tersendat-sendat meninggalkan kakaknya yang memarahinya, kembali Kebo Sindet dan Kuda Sempana meneruskan latihan mereka disamping gubugnya dibawah bukit padas.

Dalam pada itu, Mahisa Agni dan Empu Gandring pun telah berpacu kembali ke Padang Karautan. Sekali-sekali Mahisa Agni menengadahkan wajahnya. Hatinya menjadi gelisah ketika matahari telah merambat semakin tinggi. Rencana hari ini pasti akan tertunda.

“Hanya tertunda satu hari bagi pekerjaan sebesar itu” ia mencoba menghibur dirinya. Tetapi, perasaannya seakan-akan selalu terganggu. Penundaan rencananya kali ini seolah-olah tidak disebabkan oleh alasan yang wajar. Mahisa Agni berpaling ketika ia mendengar pamannya berkata,

“Kau kecewa atas rencanamu yang tertunda itu Agni”.

Mahisa Agni tidak dapat menjawab lain. Pamannya itu seolah-olah dapat melihat isi hatinya seluruhnya. Maka jawabnya, “Ya paman. Sebenarnya aku sudah mantap untuk memulainya hari ini”.

“Pekerjaan itu hanya tertunda satu hari saja Agni. Jangan kau risaukan. Seandainya air itu membawa pasir pada dasar sungai, maka perbedaan dalam hari ini dengan besok tidak akan lebih dari lima cengkang”.




OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar