Mahisa Agni tidak menyahut. Tetapi, ia benar-benar dicengkam oleh perasaan kecewa. Meskipun demikian, hatinya terhibur pula ketika tersentuh olehnya bagian-bagian dari batang kates grandel yang dibawanya. Katanya di dalam hati,
“Mudah-mudahan usahaku ini tidak sia-sia. Mudah-mudahan penundaan rencanaku itu pun tidak sia-sia. Anak yang sakit itu pun segera menjadi sembuh”.
Karena Mahisa Agni tidak menjawab maka pamannya berkata seterusnya, “ Orang-orang Panawijen termasuk orang-orang yang kurang gairah menghadapi kerja. Tetapi, kau harus mengucap sukur bahwa semakin lama menurut penglihatanku mereka menjadi semakin sadar, bahwa apa yang dikerjakan itu merupakan harapan bagi masa depan mereka sehingga tampaknya merekapun menjadi semakin bernafsu. Tetapi, ingat Agni. Pada dasarnya orang-orang Panawijen sudah terlampau lama menikmati tanah yang subur, air yang berlimpah, sehingga seakan-akan apa pun yang dilemparkan ke tanah, pasti akan tumbuh dan memberi hasil yang baik. Dengan demikian pada dasarnya, mereka tidak menghendaki bekerja terlampau berat seperti yang dilakukan kali ini. Kau harus memperhitungkan setiap keadaan. Jangan kau abaikan pemeliharaan nafsu bekerja dan gairah akan harapkan mereka dimasa datang”.
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menyadari sepenuhnya kata-kata pamannya itu. Matahari yang memanjat langit pun menjadi semakin tinggi. Sejenak kemudian maka dicapainya puncak langit untuk seterusnya turun kembali kearah Barat. Meskipun Mahisa Agni berusaha untuk menenteramkan hatinya, tetapi ia tidak dapat melupakan kekecewaannya hari ini. Bahkan di dalam hatinya ia masih saja bergumam,
“Aku terlampau lama di Panawijen. Tetapi, ternyata bahwa pohon kates grandel itu tidak terlampau banyak, sehingga agak sulit juga aku mencari. Kalau saja aku tidak usah menunggu bibi Nyai Buyut menanak nasi, mungkin aku sudah sampai di bendungan sebelum tengah hari. Mungkin aku masih dapat memasukkan satu dua brunjung ke dasar sungai itu. Tetapi, kini tengah hari itu sudah lampau”.
Keduanya kemudian tidak lagi bercakap-cakap. Keringat-keringat mereka bercucuran seperti diperas dari dalam tubuh-tubuh mereka. Panas yang terik terasa membakar kulit. Semak-semak yang jarang-jarang tumbuh disana-sini tidak banyak memberi kesegaran bagi mereka. Selepas-lepas mata memandang, Mahisa Agni hanya melihat sinar matahari yang menyala di atas padang rumput yang luas itu. Bahkan kadang-kadang seakan-akan dilihatnya padang itu menguap dan mencerminkan wajah air. Tetapi, Mahisa Agni menyadari, bahwa penglihatannya itu adalah karena udara yang terlampau panas membakar.
Mahisa Agni terkejut ketika tiba-tiba saja pamannya berkata, “Agni, setiap hari kalian bekerja dibawah terik matahari seterik hari ini. Setiap hari kulit kalian telah dipanasi seperti padang ini. Alangkah berat pekerjaan itu”. Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya pula “Tetapi, kalau kalian berhasil, maka kalian akan dapat menepuk dada dan berkata kepada anak cucu, inilah peninggalan kami. Peninggalan pada masa kami muda”.
Mahisa Agni mengangguk dan menjawab singkat, “Ya paman”.
“Tetapi, bukan saja kebanggaan. Namun, juga kepuasan melihat anak cucu hidup dengan bahagia”.
“Ya paman. Mudah-mudahan mereka menyadari pula”.
“Mereka telah bekerja dengan baik”.
“Ya”.
“Meskipun rencanamu tidak dapat kau lakukan hari ini, tetapi bukankah ada kerja lain yang dapat mereka lakukan?”
“Kerja masih terlampau banyak paman. Aku kira mereka kali ini akan meneruskan menggali induk susukan yang akan membelah pedang ini, yang akan merupakan jalur-jalur air induk untuk segenap tanah persawahan yang kita rencanakan. Kita mengharap, bahwa demikian air dapat naik, maka jalur-jalur induk itu pun sudah akan dapat menampungnya. Tetapi, pekerjaan itu terlampaui. Kami sebenarnya mengharap janji Akuwu Tunggul Araetung yang akan memberikan bantuan bukan saja tenaga tetapi juga pedati, lembu dan alat-alat yang lain”.
“Jangan terlampau mengharap bantuan orang lain Agni. Percayalah kepada tanganmu sendiri. Yang Maha Agung akan memberi tuntunan kepadamu”.
Mahisa Agni tidak menyahut. Kepalanya tertunduk memandangi rerumputan yang seperti berlari kearah yang berlawanan. Ia dapat memahami kata-kata pamannya itu, dan ia pun telah berpendirian serupa pula. Namun, sebagai seorang yang wajar, ia memang mengharapkan bantuan itu segera datang. Tetapi, seandainya janji Tunggul Ametung itu tidak juga dipenuhi, maka itu sama sekali bukanlah suatu alasan untuk mengurungkan rencananya atau mengurangi gairah kerjanya.
Dan pamannya pun ternyata berkata, “Kalau bantuan itu datang Agni, mengucaplah terima kasih. Kalau tidak, maka sejak semula kau mulai pekerjaanmu dengan kekuatan tenaga sendiri, tenaga orang-orang Panawijen yang berjuang untuk masa depannya”.
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Perlahan-lahan ia menjawab, “Ya paman”.
“Mudah-mudahan kau dapat berhasil”.
“Mudah-mudahan paman”.
Keduanya terdiam. Panas yang terik serasa menjadi semakin panas. Keringat mereka telah membasahi segenap wajah kulit. Sekali-kali mereka terpaksa berhenti dan mencari air untuk kuda-kuda mereka yang haus dan untuk mereka sendiri. Karena itu maka mereka berpacu sepanjang tebing sungai.
Akhirnya, dikejauhan seakan-akan muncul dari dalam padang rumput dan celah-celah, gerumbul-gerumbul yang layu, tampaklah perkemahan mereka. Perkemahan ilalang, tempat mereka berteduh dari panas matahari di siang hari dan tempat mereka menghindari embun di malam hari.
Ketika tampak oleh Mahisa Agni atap-atap ilalang itu, maka dengan serta-merta ia berkata, “Mudah-mudahan mereka tidak berbuat sesuatu atas bendungan itu. Kalau mereka berbuat kesalahan, maka pekerjaan kita akan menjadi semakin sulit”.
“Aku kira tidak terlampau sulit Agni” sahut pamannya, “apakah tidak seorang pun yang mengerti akan rencanamu?”
“Kalau mereka terpaksa melakukannya tanpa menunggu aku, aku harap Ki Buyut dapat memberi mereka petunjuk. Kalau tidak, seandainya mereka meletakkan brunjung-brunjung itu disembarang tempat, maka sisi sungai itu akan melebar dan mungkin dapat mengakibatkan sisi seberang longsor”.
Pamannya tidak menyahut lagi. Kalau terjadi demikian maka Mahisa Agni pasti akan kecewa. Tetapi, seandainya demikian sekalipun, itu bukan berarti suatu kegagalan. Mungkin pekerjaan akan menjadi semakin sulit, tetapi bukan berarti tidak dapat diatasi. Keduaya pun kembali terdiam. Kuda-kuda mereka yang lelah berjalan semakin perlahan. Agni dan Empu Gandring pun menyadari bahwa tidak sepantasnya ia melecut kudanya untuk berpacu. Meskipun dada Mahisa Agni menjadi berdebar-debar oleh keinginannya segera sampai ketempat ia bekerja membuat bendungan itu. Betapapun lambatnya, namun mereka semakin lama menjadi semakin dekat. Gubug yang berderet-deret menjadi semkin jelas.
Tetapi, semakin dekat Mahisa Agni dengan perkemahan itu, maka hatinya pun menjadi semakin berdebar-debar. Disebelah gubug-gubug itu adalah susukan yang sedang mereka kerjakan meskipun terlampau lambat karena hanya dikerjakan oleh sebagian dari tenaga yang ada. Sebagian yang lain harus mengisi brunjung-brunjung dengan batu dan sebagian yang lain harus memecah batu-batu itu. Namun, kali ini Mahisa Agni sama sekali tidak melihat sesuatu pada susukan itu. Tak ada selapis debu pun yang mengepul ke udara. Tak ada satu titik pun yang bergerak-gerak disekitarnya.
Karena itu, dengan bimbang ia berkata, “Paman, apakah penglihatanku yang salah? Aku tidak melihat sesuatu di susukan yang sedang dikerjakan itu”.
Empu Gandring mengerutkan keningnya. Perlahan-lahan ia menjawab, “Aku pun tidak Agni”.
“Apakah seluruh tenaga dikerahkan oleh Ki Buyut ke bendungan untuk meletakkan brunjung-brunjung di sisi seberang?”
“Satu kemungkinan Agni” desis pamannya.
“Semula aku menduga sebaliknya paman. Aku sangka justru semua tenaga hari ini dikerahkan untuk menggali susukan karena aku tidak ada”.
Empu Gandring berpaling. Dipandanginya wajah kemanakannya itu dengan sorot mata yang ragu pula. Namun, ia berkata, “Kalau ada seseorang yang dapat melakukan Agni, maka kau seharusnya menjadi bergembira, sebab tidak semua pekerjaan dibebankan dipundakmu”.
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi, ia tidak tahu kenapa ia tidak menaruh kepercayaan kepada orang lain. Ia tahu benar, bahwa orang-orang Panawijen bukan pekerja-pekerja yang baik. Itulah sebabnya ia ingin menunggui setiap kerja yang dianggapnya penting.
Namun, pamannya berkata lagi, “Agni, kalau tidak kau ajari mereka melakukan sesuatu, maka semuanya pasti akan tergantung kepadamu. Mereka tidak punya keberanian dan kecakapan untuk berbuat. Mereka akan menjadi tenaga yang mati, yang tidak punya gairah yang timbul dari dalam dirinya tentang sesuatu yang baru. Mereka hanya akan menunggu perintahmu”.
Sekali lagi Mahisa Agni menganggnk-anggukkan kepalanya. Memang, alangkah baiknya apabila demikian. Apabila ada seorang atau dua orang yang dapat diluntunnya untuk membantunya. Yang dapat berbuat agak banyak hanya Ki Buyut yang sudah agak lanjut itu. Yang lain, masih perlu dicarinya diantara anak-anak muda Panawijen itu. Namun, Mahisa Agni telah menjadi agak puas bahwa rakjat Panawijen itu telah dapat dibawanya untuk melakukan pekerjaan yang cukup besar.
Tetapi, tiba-tiba dada Mahisa Agni terguncang ketika kemudian ia menjadi semakin dekat dengan perkemahan. Ia tidak melihat seseorang di sekitar ujung susukan yang sedang dikerjakan, tetapi ia melihat orang-orang Panawijen itu berada di sekitar perkemahan. Mereka duduk-duduk saja dan bahkan ada pula yang berbaring-baring dengan malasnya. Sejenak Mahisa Agni menjadi bingung. Apakah mereka sedang beristirahat? Menurut kebiasaan, maka waktu istirahat ditengah hari telah lampau. Apakah yang terjadi?’ Kemudian perlahan-lahan Mahisa Agni itu pun berdesis,
“Mereka sama sekali tidak berbuat sesuatu paman?”
Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya meskipun ia sendiri tahu bahwa jawaban itu tidak benar, “Mereka sedang beristirahat”.
“Waktu beristirahat telah lampau”. Empu Gandring terdiam.
Tiba-tiba Mahisa Agni tidak sabar lagi. Dilecutnya kudanya yang lelah supaya ia segera sampai ke perkemahan itu. Betapa pun juga kudanya berlari agak lebih cepat, tetapi nafas kuda itu telah menjadi semakin deras. Empu Gandring segera mengikuti dibelakangnya. Kudanya pun telah menjadi lelah pula, sehingga dengan malasnya kuda itu berlari tersuruk-suruk.
Ketika orang-orang Panawijen melihat kedatangan Mahisa Agni, tiba-tiba sejenak mereka menjadi ribut. Beberapa orang yang berbaring segera bangkit, namun mereka tidak beranjak dari tempat masing-masing. Sejenak mereka saling berpandangan, namun kemudian mereka menunggu Mahisa Agni itu semakin dekat. Demikian Mahisa Agni sampai di perkemahan itu, maka sebelum ia meloncat turun dari kudanya, yang terdengar adalah pertanyaannya,
“Kenapa kalian tidak bekerja?” Kembali orang-orang Panawijen itu saling berpandangan. Tampaklah kecemasan di wajah mereka. Tetapi, tidak seorang pun yang segera menjawab, sehingga Mahisa Agni mengulangi lagi, “Kenapa kalian tidak bekerja apa pun hari ini?”
Tiba-tiba terdengar seseorang menyahut agak jauh daripada Mahisa Agni, “Kami ingin beristirahat”.
“Apakah waktu istirahat belum lampau?” bertanya Agni pula.
“Kami ingin beristirahat tidak hanya pada saat tengah hari. Tetapi, kami ingin beristirahat beberapa bari. Kami sudah menjadi sangat lelah dan lemah”.
Terasa darah Mahisa Agni seakan-akan membeku. Jawaban itu benar-benar tidak disangkanya. Karena itu, maka sejenak mulutnya terbungkam oleh gelora di dadanya.
Empu Gandring yang kini telah berada disisinya menggamitnya sambil berbisik, “Turunlah Mahisa Agni”. Mahisa Agni berpaling. Ketika Empu Gandring melihat wajah anak muda itu membara, maka katanya, “Tenanglah Agni”.
“Tetapi, pekerjaan tidak akan selesai dengan duduk-duduk dan berbaring-baring malas, paman” sahut Mahisa Agni.
“Aku tahu” jawab pamannya, “tetapi tenanglah. Turunlah dari kudamu. Bukankah kau mau mendengar kata-kataku?”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Terasa dadanya terguncang oleh keadaan itu. Tetapi, tatapan mata pamannya telah memaksanya turun dari kudanya. Namun, terdengar ia berkata, “Apakah artinya ini paman?”
“Aku tidak tahu Agni, tetapi di sini ada Ki Buyut Panawijen. Sebaiknya kau minta keterangan kepadanya”.
Mahisa Agni tidak menjawab. Cepat-cepat ia melangkah ke gubug tempat Ki Buyut Panawijen sering beristirahat. Di sepanjang langkahnya, hatinya tak habis bertanya, apakah sebabnya hal ini terjadi? Sudah sering kali ia pergi meninggalkan pekerjaan ini untuk beberapa keperluan. Bahkan sampai dua tiga hari, seperti pada saat ia pergi ke Tumapel. Namun, mereka yang ditinggalkannya bekerja dengan penuh gairah seperti biasa. Tetapi, kenapa kali ini mereka ingin beristirahat? Bahkan beberapa hari?
Langkah Mahisa Agni demikian tergesa-gesa sehingga ia tidak sempat memperhatikan orang-orang yang memandanginya dengan pandangan yang aneh. Orang-orang Panawijen itu menjadi cemas melihat sikap Mahisa Agni. Ki Buyut Panawijen yang melihat kehadirannya pun dengan tergesa-gesa menyongsongnya. Sebelum Mahisa Agni mendekat, orang tua itu telah bertanya hampir berteriak,
“Kau sudah datang Ngger?”
Tetapi, Mahisa Agni tidak menjawab pertanyaan itu. Dengan keras pula ia bertanya, “Kenapa hari ini kita tidak berbuat sesuatu Ki Buyut?”
Wajah Ki Buyut pun menjadi tegang. Dengan terbata-bata ia menjawab, “Ya, ya Ngger. Tetapi, marilah silahkan duduk dahulu”.
“Aku ingin berbuat sesuatu untuk mempercepat pekerjaan ini Ki Buyut, bukan dengan duduk-duduk dan berbaring”.
“Ya, ya Ngger, aku tahu. Tetapi, marilah duduk dahulu”.
“Terima kasih” sahut Agni, “aku ingin tahu, kenapa kita tidak bekerja hari ini?”
“Itulah yang akan aku katakan”.
Mahisa Agni masih akan berteriak lagi ketika terasa tangan pamannya menggamitnya. Terdengar pamannya itu berkata, “Mendekatlah Agni. Jangan berteriak-teriak. Ki Buyut ingin menjelaskan persoalannya”.
Sekali lagi Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Kini ia telah berada dekat dimuka gubug Ki Buyut Panawijen.
“Duduklah Ngger”.
Mahisa Agni akan menjawab lain, tetapi terdengar pamannya mendahului, “Baik Ki Buyut. Duduklah Agni”.
Kata-kata pamannya lah yang memaksanya duduk di dalam gubug itu. Demikian mereka diteduhi oleh atap ilalang, maka terasa tubuh-tubuh mereka menjadi segar setelah hampir sehari mereka dibakar oleh terik sinar matahari. Kini mereka dapat merasakan angin yang silir berhembus dari Selatan. Meskipun ketika mereka menatap padang yang terhampar dihadapan gubug itu, mereka masih juga melihat seakan-akan padang itu menguap.
Dengan tidak sabar lagi Agni pun segera bertanya, “Ki Bujut, kenapa kita hari ini tidak berbuat sesuatu? Waktu kita tidak terlampau banyak”.
Ki Buyut tidak segera menjawab. Ia berkisar secangkang maju. Ditatapnya wajah Mahisa Agni dengan sorot mata yang memancarkan kecemasan dan kebimbangan. Apalagi ketika dilihatnya wajah Mahisa Agni yang tegang itu.
Mahisa Agni menjadi semakin tidak sabar lagi. Kembali ia mendesak, “Kenapa Ki Buyut?”
Ki Buyut Panawijen menarik nafas dalam-dalam. Ia tahu benar bahwa Mahisa Agni menjadi sangat terkejut melihat mereka duduk-duduk saja dan bahkan ada yang berbaring-baring dengan malasnya.
Dengan hati-hati Ki Buyut itu pun berkata, “Akan aku katakan sebabnya Ngger. Tetapi, apakah angger berdua dengan Empu Gandring tidak terlalu haus dan ingin minum air kendi yang dingin ini?”
“Aku ingin tahu kenapa kita hari ini tidak berbuat sesuatu Ki Buyut, sebab…”
Agni tidak dapat meneruskan kata-katanya. Terdengar Empu Gandring memotong sambil beringsut meraih kendi berisi air dingin. Katanya, “Agni. Minumlah. Aku pun haus sekali. Air yang dingin ini akan mendinginkan hati dan kepala. Dengan demikian kau akan dapat mendengar ceritera Ki Buyut dengan tenang. Sebelum hatimu menjadi dingin Agni, maka kau tidak akan dapat berpikir bening. Nah, minumlah. Aku juga akan minum”.
Empu Gandring segera mengangkatnya dan minum lewat paruh gendi itu. Alangkah segarnya. Sambil menarik nafas dalam-dalam diserahkanya kendi itu kepada Mahisa Agni. Katanya,
“Minumlah. Dalam keadaan kita sekarang ini, maka adalah kenikmatan yang tiada taranya. Minum air dingin”.
Mahisa Agni tidak dapat menolak uluran tangan pamannya. Kembali ia berbuat diluar kehendaknya. Seperti seorang yang kehilangan kesadaran diri. Diterimanya kendi itu, dan diangkatnya pula kemulutnya. Seperti pamannya ia pun minum air yang dingin segar itu.
Kesegaran air kendi itu seolah-olah telah menjalar kesegenap saluran darah Mahisa Agni. Ketika ia meletakkan kendi itu, terasa seluruh tubuhnya menjadi segar. Dan kepalanya pun tidak lagi dikerumuni oleh gejolak perasaan yang melonjak-lonjak. Meskipun ia tetap berkeinginan untuk segera mengetahui sebab-sebab kenapa orang-orang Panawijen itu tidak bekerja hari ini, namun kini ia dapat menahan dirinya oleh kesegaran yang sejuk.
“Nah” berkata pamannya, “kalau kau sudah tidak haus lagi, sekarang bertanyalah kepada Ki Buyut. Tetapi, kau pun wajib mendengarkan keterangan dan alasannya”.
Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Kini ia berkata perlahan-lahan, “Ya Ki Buyut. Aku ingin tahu kenapa hari ini kita tidak meneruskan pekerjaan kita?”
Ki Buyutlah kini yang mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Pertama-tama aku minta maaf kepadamu Ngger. Hal ini pasti membuatmu kecewa Tetapi, aku tidak dapat berbuat lain daripada menuruti kehendak mereka. Beristirahat. Hanya itu. Tidak ada maksud apapun. Meskipun ada pula alasan yang berbeda-beda, namun kesimpulan mereka, mereka ingin menghentikan kerja barang sehari dua hari”.
“Bagaimana mungkin Ki Buyut” bantah Mahisa Agni, “Kita pasti akan kehabisan waktu. Justru kita harus bekerja lebih banyak. Kalau mungkin siang dan malam, supaya pekerjaan ini segera selesai”.
“Agni” potong pamannya, “cobalah kau mendengarkan alasan-alasan yang dikatakan oleh Ki Buyut. Alasan yang meskipun berbeda-beda, tetapi kesimpulannya adalah, mereka ingin beristirahat. Cobalah mendengarkan. Kalau kau saja yang berbicara, maka kau tidak akan mengerti”.
Mahisa Agni pun terdiam. Dan Ki Buyut itu berkata, “Alasan mereka bermacam-macam Ngger. Ada yang hanya karena lelah. Lelah dan tidak lagi mampu untuk bekerja terus. Ada yang menjadi sakit pegal dan linu-linu pada punggung mereka. Mereka perlu beristirahat supaya sakitnya menjadi sembuh. Ada pula yang kakinya menjadi bengkak. Sedang yang lain ingin menunggui anak yang sakit itu. Pagi ini ia mengigau tak henti-hentinya. Tubuhnya menjadi sangat panas, dan kemudian ia menggigil kedinginan”
Ki Buyut itu berhenti sesaat. Ketika Mahisa Agni akan memotong kata-katanya Empu Gandring menggamitnya sehingga kembali Mahisa Agni terdiam. Sejenak kemudian Ki Buyut itu berkata lagi,
“Sebenarnya pagi-pagi tadi, ketika matahari terbit, kami sudah siap untuk bekerja. Tetapi, kami dikejutkan oleh igauan anak yang sakit itu. Beberapa orang segera mengerumuninya. Ketika satu di antara mereka berkata, Aku tidak bekerja hari ini. Aku akan menunggui anak ini, maka tiba-tiba seperti meledak kata-kata itu disahut berturut-turut oleh kebanyakan dari mereka yang mengerumuni anak itu. Aku juga tidak. Kakiku sakit, bengkak-bengkak, yang lain lagi, punggungku akan patah, dan yang lain, kepalaku hampir pecah kepanasan. Itulah Ngger. Aku tidak dapat memaksa mereka” kembali Ki Buyut berhenti sejenak, ia menjadi ragu-ragu, tetapi kemudian terpaksa ia berkata,
“Angger Mahisa Agni, sebenarnya telah agak lama aku mendengar keluh kesah ini. Keluh kesah yang kemudian meledak menjadi alasan-alasan yang menyebabkan kami hari ini tidak bekerja. Tetapi, aku harap Angger dapat mengerti”.
Wajah Mahisa Agni kembali menjadi merah membara. Alangkah kecewa hatinya. Ia merasa bahwa apa yang dilakukannya selama ini sama sekali tidak dihargai oleh orang-orang Panawijen itu. Bahkan mereka telah berusaha untuk memperlambat. Karena itu, maka dengan serta-merta ia menyahut,
“Jadi apakah kemauan mereka? Apakah kita hentikan saja pekerjaan ini?”
“Agni” berkata pamannya perlahan-lahan. Orang tua itu tahu benar, betapa sakit hati Mahisa Agni mendengar keadaan yang ada diperkemahan ini. Keadan yang sama sekali tidak diduga-duganya. Tetapi, orang tua itu pun dapat mengerti, kenapa orang-orang Panawijen ingin berhenti bekerja barang sehari dua hari. Maka katanya seterusnya, “Berpikirlah dengan kepala dingin. Cobalah kau cernakan dahulu apa yang kau dengar, baru kau membuat tanggapan. Jangan tergesa-gesa mengambil sikap Agni”.
Kini wajah Mahisa Agni yang merah itu menjadi semakin tegang. Terasa dadanya bergelora seperti gunung yang akan meletus. Namun, sorot mata pamannya telah menahannya untuk tidak melepaskan luapan perasaannya. Karena itu maka kepala Mahisa Agni itu justru menjadi pening.
“Agni” berkata pamannya sareh, “kau harus melihat keadaan ini secara keseluruhan. Jangan kau melihat sepotong-sepotong dari padanya. Maka kau akan dapat mengurangi kepahitan yang harus kau hadapi kini”.
Mahisa Agni menundukkan kepalanya. Tetapi, pamannya mengetahuinya bahwa anak muda itu mengatupkan giginya rapat-rapat. Ia masih berusaha untuk menguasai perasaannya.
“Kau harus dapat mencoba mengerti apa yang dikatakan oleh Ki Buyut Panawijen” berkata pamannya pula.
“Tetapi paman” betapapun Mahisa Agni mencoba menahan diri namun terloncat pula dari bibirnya, “keadaan ini tidak boleh dibiarkan terus. Memang lebih senang duduk-duduk dan berbaring-baring daripada bekerja dipanas terik matahari. Tetapi, apa yang kita dapatkan dengan duduk memeluk lutut?”
“Kau benar Agni. Kau benar. Tetapi, bagaimana kau menyampaikan hal itulah yang sulit bagimu”.
Tiba-tiba Mahisa Agni mengangkat wajahnya. Dilihatnya di sekeliling gubug itu banyak orang-orang Panawijen yang berkumpul. Agaknya mereka ingin tahu, apakah yang akan dikatakan oleh Mahisa Agni. Namun, sebagian yang lain malah pergi menjauh. Mereka duduk berkelompok-kelompok di ujung-ujung perkemahan. Di ujung yang paling jauh dari gubug Ki Buyut Panawijen supaya seandainya Mahisa Agni marah, mereka tidak mendapatkan kemarahan itu yang pertama-tama. Sebab bagaimana pun juga, tersembunyi pula rasa takutnya kepada anak muda itu. Sebagian dari setiap laki-laki Panawijen telah mengetahui bahwa Mahisa Agni mampu berbuat di luar kemampuan mereka. Mereka telah mengetahui bahwa Mahisa Agni mampu berkelahi dan memenangkan perkelahian melawan Kuda Sempana.
“Aku akan mengatakan kepada mereka” nada suara Mahisa Agni datar namun penuh tekanan.
“Apa yang akan kau sampaikan” bertanya pamannya.
“Mereka harus bekerja”.
“Lihat Agni. Matahari telah menjadi semakin condong. Kalau kau menyiapkan mereka untuk bekerja, maka kau tidak akan mendapatkan apa-apa. Demikian mereka siap, demikian matahari tenggelam”.
Mahisa Agni terdiam. Tetapi, wajahnya masih tetap tegang. “Meskipun tidak hari ini” berkata Mahisa Agni kemudian, “besok misalnya, tetapi mereka harus tahu bahwa mereka telah berbuat suatu kesalahan. Kesalahan yang besar sekali. Musim hujan yang akan datang tidak mengenal istirahat. Apapun alasan kita disini, tetapi musim itu akan datang pada waktunya”.
“Apa yang akan dilakukan?”
Sebelum menjawab, Mahisa Agni telah meloncat berdiri. Tetapi, ketika ia mengayunkan kakinya selangkah, terdengar pamannya berkala pula, “Apa yang akan kau lakukan Agni?”
“Aku akan berkata kepada mereka, bahwa apa yang mereka lakukan sama sekali tidak dapat dibenarkan”.
“Tunggulah”.
“Aku akan berkata kepada mereka sekarang”.
“Tunggulah”.
“Apa yang harus aku tunggu paman. Kini adalah saatnya. Mereka harus segera menyadari kemalasan mereka”.
“Duduklah Agni”.
“Tak ada waktu. Aku bukan pemalas yang lebih senang duduk dari pada bekerja”.
“Duduklah Agni. Duduklah”.
Ketika Agni akan menjawab, sekali lagi pamannya memotong, “Duduklah. Kau dengar?”
Mulut Agni terdiam. Meskipun dadanya menjadi sesak, namun iapun melangkah kembali dan duduk di hadapan pamannya. Ki Buyut Panawijen kini seolah-olah menjadi patung. Hatinya menjadi kusut dan bingung. Bahkan terasa pula kecemasan mencengkam jantungnya.
“Mudah-mudahan usahaku ini tidak sia-sia. Mudah-mudahan penundaan rencanaku itu pun tidak sia-sia. Anak yang sakit itu pun segera menjadi sembuh”.
Karena Mahisa Agni tidak menjawab maka pamannya berkata seterusnya, “ Orang-orang Panawijen termasuk orang-orang yang kurang gairah menghadapi kerja. Tetapi, kau harus mengucap sukur bahwa semakin lama menurut penglihatanku mereka menjadi semakin sadar, bahwa apa yang dikerjakan itu merupakan harapan bagi masa depan mereka sehingga tampaknya merekapun menjadi semakin bernafsu. Tetapi, ingat Agni. Pada dasarnya orang-orang Panawijen sudah terlampau lama menikmati tanah yang subur, air yang berlimpah, sehingga seakan-akan apa pun yang dilemparkan ke tanah, pasti akan tumbuh dan memberi hasil yang baik. Dengan demikian pada dasarnya, mereka tidak menghendaki bekerja terlampau berat seperti yang dilakukan kali ini. Kau harus memperhitungkan setiap keadaan. Jangan kau abaikan pemeliharaan nafsu bekerja dan gairah akan harapkan mereka dimasa datang”.
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menyadari sepenuhnya kata-kata pamannya itu. Matahari yang memanjat langit pun menjadi semakin tinggi. Sejenak kemudian maka dicapainya puncak langit untuk seterusnya turun kembali kearah Barat. Meskipun Mahisa Agni berusaha untuk menenteramkan hatinya, tetapi ia tidak dapat melupakan kekecewaannya hari ini. Bahkan di dalam hatinya ia masih saja bergumam,
“Aku terlampau lama di Panawijen. Tetapi, ternyata bahwa pohon kates grandel itu tidak terlampau banyak, sehingga agak sulit juga aku mencari. Kalau saja aku tidak usah menunggu bibi Nyai Buyut menanak nasi, mungkin aku sudah sampai di bendungan sebelum tengah hari. Mungkin aku masih dapat memasukkan satu dua brunjung ke dasar sungai itu. Tetapi, kini tengah hari itu sudah lampau”.
Keduanya kemudian tidak lagi bercakap-cakap. Keringat-keringat mereka bercucuran seperti diperas dari dalam tubuh-tubuh mereka. Panas yang terik terasa membakar kulit. Semak-semak yang jarang-jarang tumbuh disana-sini tidak banyak memberi kesegaran bagi mereka. Selepas-lepas mata memandang, Mahisa Agni hanya melihat sinar matahari yang menyala di atas padang rumput yang luas itu. Bahkan kadang-kadang seakan-akan dilihatnya padang itu menguap dan mencerminkan wajah air. Tetapi, Mahisa Agni menyadari, bahwa penglihatannya itu adalah karena udara yang terlampau panas membakar.
Mahisa Agni terkejut ketika tiba-tiba saja pamannya berkata, “Agni, setiap hari kalian bekerja dibawah terik matahari seterik hari ini. Setiap hari kulit kalian telah dipanasi seperti padang ini. Alangkah berat pekerjaan itu”. Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya pula “Tetapi, kalau kalian berhasil, maka kalian akan dapat menepuk dada dan berkata kepada anak cucu, inilah peninggalan kami. Peninggalan pada masa kami muda”.
Mahisa Agni mengangguk dan menjawab singkat, “Ya paman”.
“Tetapi, bukan saja kebanggaan. Namun, juga kepuasan melihat anak cucu hidup dengan bahagia”.
“Ya paman. Mudah-mudahan mereka menyadari pula”.
“Mereka telah bekerja dengan baik”.
“Ya”.
“Meskipun rencanamu tidak dapat kau lakukan hari ini, tetapi bukankah ada kerja lain yang dapat mereka lakukan?”
“Kerja masih terlampau banyak paman. Aku kira mereka kali ini akan meneruskan menggali induk susukan yang akan membelah pedang ini, yang akan merupakan jalur-jalur air induk untuk segenap tanah persawahan yang kita rencanakan. Kita mengharap, bahwa demikian air dapat naik, maka jalur-jalur induk itu pun sudah akan dapat menampungnya. Tetapi, pekerjaan itu terlampaui. Kami sebenarnya mengharap janji Akuwu Tunggul Araetung yang akan memberikan bantuan bukan saja tenaga tetapi juga pedati, lembu dan alat-alat yang lain”.
“Jangan terlampau mengharap bantuan orang lain Agni. Percayalah kepada tanganmu sendiri. Yang Maha Agung akan memberi tuntunan kepadamu”.
Mahisa Agni tidak menyahut. Kepalanya tertunduk memandangi rerumputan yang seperti berlari kearah yang berlawanan. Ia dapat memahami kata-kata pamannya itu, dan ia pun telah berpendirian serupa pula. Namun, sebagai seorang yang wajar, ia memang mengharapkan bantuan itu segera datang. Tetapi, seandainya janji Tunggul Ametung itu tidak juga dipenuhi, maka itu sama sekali bukanlah suatu alasan untuk mengurungkan rencananya atau mengurangi gairah kerjanya.
Dan pamannya pun ternyata berkata, “Kalau bantuan itu datang Agni, mengucaplah terima kasih. Kalau tidak, maka sejak semula kau mulai pekerjaanmu dengan kekuatan tenaga sendiri, tenaga orang-orang Panawijen yang berjuang untuk masa depannya”.
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Perlahan-lahan ia menjawab, “Ya paman”.
“Mudah-mudahan kau dapat berhasil”.
“Mudah-mudahan paman”.
Keduanya terdiam. Panas yang terik serasa menjadi semakin panas. Keringat mereka telah membasahi segenap wajah kulit. Sekali-kali mereka terpaksa berhenti dan mencari air untuk kuda-kuda mereka yang haus dan untuk mereka sendiri. Karena itu maka mereka berpacu sepanjang tebing sungai.
Akhirnya, dikejauhan seakan-akan muncul dari dalam padang rumput dan celah-celah, gerumbul-gerumbul yang layu, tampaklah perkemahan mereka. Perkemahan ilalang, tempat mereka berteduh dari panas matahari di siang hari dan tempat mereka menghindari embun di malam hari.
Ketika tampak oleh Mahisa Agni atap-atap ilalang itu, maka dengan serta-merta ia berkata, “Mudah-mudahan mereka tidak berbuat sesuatu atas bendungan itu. Kalau mereka berbuat kesalahan, maka pekerjaan kita akan menjadi semakin sulit”.
“Aku kira tidak terlampau sulit Agni” sahut pamannya, “apakah tidak seorang pun yang mengerti akan rencanamu?”
“Kalau mereka terpaksa melakukannya tanpa menunggu aku, aku harap Ki Buyut dapat memberi mereka petunjuk. Kalau tidak, seandainya mereka meletakkan brunjung-brunjung itu disembarang tempat, maka sisi sungai itu akan melebar dan mungkin dapat mengakibatkan sisi seberang longsor”.
Pamannya tidak menyahut lagi. Kalau terjadi demikian maka Mahisa Agni pasti akan kecewa. Tetapi, seandainya demikian sekalipun, itu bukan berarti suatu kegagalan. Mungkin pekerjaan akan menjadi semakin sulit, tetapi bukan berarti tidak dapat diatasi. Keduaya pun kembali terdiam. Kuda-kuda mereka yang lelah berjalan semakin perlahan. Agni dan Empu Gandring pun menyadari bahwa tidak sepantasnya ia melecut kudanya untuk berpacu. Meskipun dada Mahisa Agni menjadi berdebar-debar oleh keinginannya segera sampai ketempat ia bekerja membuat bendungan itu. Betapapun lambatnya, namun mereka semakin lama menjadi semakin dekat. Gubug yang berderet-deret menjadi semkin jelas.
Tetapi, semakin dekat Mahisa Agni dengan perkemahan itu, maka hatinya pun menjadi semakin berdebar-debar. Disebelah gubug-gubug itu adalah susukan yang sedang mereka kerjakan meskipun terlampau lambat karena hanya dikerjakan oleh sebagian dari tenaga yang ada. Sebagian yang lain harus mengisi brunjung-brunjung dengan batu dan sebagian yang lain harus memecah batu-batu itu. Namun, kali ini Mahisa Agni sama sekali tidak melihat sesuatu pada susukan itu. Tak ada selapis debu pun yang mengepul ke udara. Tak ada satu titik pun yang bergerak-gerak disekitarnya.
Karena itu, dengan bimbang ia berkata, “Paman, apakah penglihatanku yang salah? Aku tidak melihat sesuatu di susukan yang sedang dikerjakan itu”.
Empu Gandring mengerutkan keningnya. Perlahan-lahan ia menjawab, “Aku pun tidak Agni”.
“Apakah seluruh tenaga dikerahkan oleh Ki Buyut ke bendungan untuk meletakkan brunjung-brunjung di sisi seberang?”
“Satu kemungkinan Agni” desis pamannya.
“Semula aku menduga sebaliknya paman. Aku sangka justru semua tenaga hari ini dikerahkan untuk menggali susukan karena aku tidak ada”.
Empu Gandring berpaling. Dipandanginya wajah kemanakannya itu dengan sorot mata yang ragu pula. Namun, ia berkata, “Kalau ada seseorang yang dapat melakukan Agni, maka kau seharusnya menjadi bergembira, sebab tidak semua pekerjaan dibebankan dipundakmu”.
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi, ia tidak tahu kenapa ia tidak menaruh kepercayaan kepada orang lain. Ia tahu benar, bahwa orang-orang Panawijen bukan pekerja-pekerja yang baik. Itulah sebabnya ia ingin menunggui setiap kerja yang dianggapnya penting.
Namun, pamannya berkata lagi, “Agni, kalau tidak kau ajari mereka melakukan sesuatu, maka semuanya pasti akan tergantung kepadamu. Mereka tidak punya keberanian dan kecakapan untuk berbuat. Mereka akan menjadi tenaga yang mati, yang tidak punya gairah yang timbul dari dalam dirinya tentang sesuatu yang baru. Mereka hanya akan menunggu perintahmu”.
Sekali lagi Mahisa Agni menganggnk-anggukkan kepalanya. Memang, alangkah baiknya apabila demikian. Apabila ada seorang atau dua orang yang dapat diluntunnya untuk membantunya. Yang dapat berbuat agak banyak hanya Ki Buyut yang sudah agak lanjut itu. Yang lain, masih perlu dicarinya diantara anak-anak muda Panawijen itu. Namun, Mahisa Agni telah menjadi agak puas bahwa rakjat Panawijen itu telah dapat dibawanya untuk melakukan pekerjaan yang cukup besar.
Tetapi, tiba-tiba dada Mahisa Agni terguncang ketika kemudian ia menjadi semakin dekat dengan perkemahan. Ia tidak melihat seseorang di sekitar ujung susukan yang sedang dikerjakan, tetapi ia melihat orang-orang Panawijen itu berada di sekitar perkemahan. Mereka duduk-duduk saja dan bahkan ada pula yang berbaring-baring dengan malasnya. Sejenak Mahisa Agni menjadi bingung. Apakah mereka sedang beristirahat? Menurut kebiasaan, maka waktu istirahat ditengah hari telah lampau. Apakah yang terjadi?’ Kemudian perlahan-lahan Mahisa Agni itu pun berdesis,
“Mereka sama sekali tidak berbuat sesuatu paman?”
Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya meskipun ia sendiri tahu bahwa jawaban itu tidak benar, “Mereka sedang beristirahat”.
“Waktu beristirahat telah lampau”. Empu Gandring terdiam.
Tiba-tiba Mahisa Agni tidak sabar lagi. Dilecutnya kudanya yang lelah supaya ia segera sampai ke perkemahan itu. Betapa pun juga kudanya berlari agak lebih cepat, tetapi nafas kuda itu telah menjadi semakin deras. Empu Gandring segera mengikuti dibelakangnya. Kudanya pun telah menjadi lelah pula, sehingga dengan malasnya kuda itu berlari tersuruk-suruk.
Ketika orang-orang Panawijen melihat kedatangan Mahisa Agni, tiba-tiba sejenak mereka menjadi ribut. Beberapa orang yang berbaring segera bangkit, namun mereka tidak beranjak dari tempat masing-masing. Sejenak mereka saling berpandangan, namun kemudian mereka menunggu Mahisa Agni itu semakin dekat. Demikian Mahisa Agni sampai di perkemahan itu, maka sebelum ia meloncat turun dari kudanya, yang terdengar adalah pertanyaannya,
“Kenapa kalian tidak bekerja?” Kembali orang-orang Panawijen itu saling berpandangan. Tampaklah kecemasan di wajah mereka. Tetapi, tidak seorang pun yang segera menjawab, sehingga Mahisa Agni mengulangi lagi, “Kenapa kalian tidak bekerja apa pun hari ini?”
Tiba-tiba terdengar seseorang menyahut agak jauh daripada Mahisa Agni, “Kami ingin beristirahat”.
“Apakah waktu istirahat belum lampau?” bertanya Agni pula.
“Kami ingin beristirahat tidak hanya pada saat tengah hari. Tetapi, kami ingin beristirahat beberapa bari. Kami sudah menjadi sangat lelah dan lemah”.
Terasa darah Mahisa Agni seakan-akan membeku. Jawaban itu benar-benar tidak disangkanya. Karena itu, maka sejenak mulutnya terbungkam oleh gelora di dadanya.
Empu Gandring yang kini telah berada disisinya menggamitnya sambil berbisik, “Turunlah Mahisa Agni”. Mahisa Agni berpaling. Ketika Empu Gandring melihat wajah anak muda itu membara, maka katanya, “Tenanglah Agni”.
“Tetapi, pekerjaan tidak akan selesai dengan duduk-duduk dan berbaring-baring malas, paman” sahut Mahisa Agni.
“Aku tahu” jawab pamannya, “tetapi tenanglah. Turunlah dari kudamu. Bukankah kau mau mendengar kata-kataku?”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Terasa dadanya terguncang oleh keadaan itu. Tetapi, tatapan mata pamannya telah memaksanya turun dari kudanya. Namun, terdengar ia berkata, “Apakah artinya ini paman?”
“Aku tidak tahu Agni, tetapi di sini ada Ki Buyut Panawijen. Sebaiknya kau minta keterangan kepadanya”.
Mahisa Agni tidak menjawab. Cepat-cepat ia melangkah ke gubug tempat Ki Buyut Panawijen sering beristirahat. Di sepanjang langkahnya, hatinya tak habis bertanya, apakah sebabnya hal ini terjadi? Sudah sering kali ia pergi meninggalkan pekerjaan ini untuk beberapa keperluan. Bahkan sampai dua tiga hari, seperti pada saat ia pergi ke Tumapel. Namun, mereka yang ditinggalkannya bekerja dengan penuh gairah seperti biasa. Tetapi, kenapa kali ini mereka ingin beristirahat? Bahkan beberapa hari?
Langkah Mahisa Agni demikian tergesa-gesa sehingga ia tidak sempat memperhatikan orang-orang yang memandanginya dengan pandangan yang aneh. Orang-orang Panawijen itu menjadi cemas melihat sikap Mahisa Agni. Ki Buyut Panawijen yang melihat kehadirannya pun dengan tergesa-gesa menyongsongnya. Sebelum Mahisa Agni mendekat, orang tua itu telah bertanya hampir berteriak,
“Kau sudah datang Ngger?”
Tetapi, Mahisa Agni tidak menjawab pertanyaan itu. Dengan keras pula ia bertanya, “Kenapa hari ini kita tidak berbuat sesuatu Ki Buyut?”
Wajah Ki Buyut pun menjadi tegang. Dengan terbata-bata ia menjawab, “Ya, ya Ngger. Tetapi, marilah silahkan duduk dahulu”.
“Aku ingin berbuat sesuatu untuk mempercepat pekerjaan ini Ki Buyut, bukan dengan duduk-duduk dan berbaring”.
“Ya, ya Ngger, aku tahu. Tetapi, marilah duduk dahulu”.
“Terima kasih” sahut Agni, “aku ingin tahu, kenapa kita tidak bekerja hari ini?”
“Itulah yang akan aku katakan”.
Mahisa Agni masih akan berteriak lagi ketika terasa tangan pamannya menggamitnya. Terdengar pamannya itu berkata, “Mendekatlah Agni. Jangan berteriak-teriak. Ki Buyut ingin menjelaskan persoalannya”.
Sekali lagi Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Kini ia telah berada dekat dimuka gubug Ki Buyut Panawijen.
“Duduklah Ngger”.
Mahisa Agni akan menjawab lain, tetapi terdengar pamannya mendahului, “Baik Ki Buyut. Duduklah Agni”.
Kata-kata pamannya lah yang memaksanya duduk di dalam gubug itu. Demikian mereka diteduhi oleh atap ilalang, maka terasa tubuh-tubuh mereka menjadi segar setelah hampir sehari mereka dibakar oleh terik sinar matahari. Kini mereka dapat merasakan angin yang silir berhembus dari Selatan. Meskipun ketika mereka menatap padang yang terhampar dihadapan gubug itu, mereka masih juga melihat seakan-akan padang itu menguap.
Dengan tidak sabar lagi Agni pun segera bertanya, “Ki Bujut, kenapa kita hari ini tidak berbuat sesuatu? Waktu kita tidak terlampau banyak”.
Ki Buyut tidak segera menjawab. Ia berkisar secangkang maju. Ditatapnya wajah Mahisa Agni dengan sorot mata yang memancarkan kecemasan dan kebimbangan. Apalagi ketika dilihatnya wajah Mahisa Agni yang tegang itu.
Mahisa Agni menjadi semakin tidak sabar lagi. Kembali ia mendesak, “Kenapa Ki Buyut?”
Ki Buyut Panawijen menarik nafas dalam-dalam. Ia tahu benar bahwa Mahisa Agni menjadi sangat terkejut melihat mereka duduk-duduk saja dan bahkan ada yang berbaring-baring dengan malasnya.
Dengan hati-hati Ki Buyut itu pun berkata, “Akan aku katakan sebabnya Ngger. Tetapi, apakah angger berdua dengan Empu Gandring tidak terlalu haus dan ingin minum air kendi yang dingin ini?”
“Aku ingin tahu kenapa kita hari ini tidak berbuat sesuatu Ki Buyut, sebab…”
Agni tidak dapat meneruskan kata-katanya. Terdengar Empu Gandring memotong sambil beringsut meraih kendi berisi air dingin. Katanya, “Agni. Minumlah. Aku pun haus sekali. Air yang dingin ini akan mendinginkan hati dan kepala. Dengan demikian kau akan dapat mendengar ceritera Ki Buyut dengan tenang. Sebelum hatimu menjadi dingin Agni, maka kau tidak akan dapat berpikir bening. Nah, minumlah. Aku juga akan minum”.
Empu Gandring segera mengangkatnya dan minum lewat paruh gendi itu. Alangkah segarnya. Sambil menarik nafas dalam-dalam diserahkanya kendi itu kepada Mahisa Agni. Katanya,
“Minumlah. Dalam keadaan kita sekarang ini, maka adalah kenikmatan yang tiada taranya. Minum air dingin”.
Mahisa Agni tidak dapat menolak uluran tangan pamannya. Kembali ia berbuat diluar kehendaknya. Seperti seorang yang kehilangan kesadaran diri. Diterimanya kendi itu, dan diangkatnya pula kemulutnya. Seperti pamannya ia pun minum air yang dingin segar itu.
Kesegaran air kendi itu seolah-olah telah menjalar kesegenap saluran darah Mahisa Agni. Ketika ia meletakkan kendi itu, terasa seluruh tubuhnya menjadi segar. Dan kepalanya pun tidak lagi dikerumuni oleh gejolak perasaan yang melonjak-lonjak. Meskipun ia tetap berkeinginan untuk segera mengetahui sebab-sebab kenapa orang-orang Panawijen itu tidak bekerja hari ini, namun kini ia dapat menahan dirinya oleh kesegaran yang sejuk.
“Nah” berkata pamannya, “kalau kau sudah tidak haus lagi, sekarang bertanyalah kepada Ki Buyut. Tetapi, kau pun wajib mendengarkan keterangan dan alasannya”.
Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Kini ia berkata perlahan-lahan, “Ya Ki Buyut. Aku ingin tahu kenapa hari ini kita tidak meneruskan pekerjaan kita?”
Ki Buyutlah kini yang mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Pertama-tama aku minta maaf kepadamu Ngger. Hal ini pasti membuatmu kecewa Tetapi, aku tidak dapat berbuat lain daripada menuruti kehendak mereka. Beristirahat. Hanya itu. Tidak ada maksud apapun. Meskipun ada pula alasan yang berbeda-beda, namun kesimpulan mereka, mereka ingin menghentikan kerja barang sehari dua hari”.
“Bagaimana mungkin Ki Buyut” bantah Mahisa Agni, “Kita pasti akan kehabisan waktu. Justru kita harus bekerja lebih banyak. Kalau mungkin siang dan malam, supaya pekerjaan ini segera selesai”.
“Agni” potong pamannya, “cobalah kau mendengarkan alasan-alasan yang dikatakan oleh Ki Buyut. Alasan yang meskipun berbeda-beda, tetapi kesimpulannya adalah, mereka ingin beristirahat. Cobalah mendengarkan. Kalau kau saja yang berbicara, maka kau tidak akan mengerti”.
Mahisa Agni pun terdiam. Dan Ki Buyut itu berkata, “Alasan mereka bermacam-macam Ngger. Ada yang hanya karena lelah. Lelah dan tidak lagi mampu untuk bekerja terus. Ada yang menjadi sakit pegal dan linu-linu pada punggung mereka. Mereka perlu beristirahat supaya sakitnya menjadi sembuh. Ada pula yang kakinya menjadi bengkak. Sedang yang lain ingin menunggui anak yang sakit itu. Pagi ini ia mengigau tak henti-hentinya. Tubuhnya menjadi sangat panas, dan kemudian ia menggigil kedinginan”
Ki Buyut itu berhenti sesaat. Ketika Mahisa Agni akan memotong kata-katanya Empu Gandring menggamitnya sehingga kembali Mahisa Agni terdiam. Sejenak kemudian Ki Buyut itu berkata lagi,
“Sebenarnya pagi-pagi tadi, ketika matahari terbit, kami sudah siap untuk bekerja. Tetapi, kami dikejutkan oleh igauan anak yang sakit itu. Beberapa orang segera mengerumuninya. Ketika satu di antara mereka berkata, Aku tidak bekerja hari ini. Aku akan menunggui anak ini, maka tiba-tiba seperti meledak kata-kata itu disahut berturut-turut oleh kebanyakan dari mereka yang mengerumuni anak itu. Aku juga tidak. Kakiku sakit, bengkak-bengkak, yang lain lagi, punggungku akan patah, dan yang lain, kepalaku hampir pecah kepanasan. Itulah Ngger. Aku tidak dapat memaksa mereka” kembali Ki Buyut berhenti sejenak, ia menjadi ragu-ragu, tetapi kemudian terpaksa ia berkata,
“Angger Mahisa Agni, sebenarnya telah agak lama aku mendengar keluh kesah ini. Keluh kesah yang kemudian meledak menjadi alasan-alasan yang menyebabkan kami hari ini tidak bekerja. Tetapi, aku harap Angger dapat mengerti”.
Wajah Mahisa Agni kembali menjadi merah membara. Alangkah kecewa hatinya. Ia merasa bahwa apa yang dilakukannya selama ini sama sekali tidak dihargai oleh orang-orang Panawijen itu. Bahkan mereka telah berusaha untuk memperlambat. Karena itu, maka dengan serta-merta ia menyahut,
“Jadi apakah kemauan mereka? Apakah kita hentikan saja pekerjaan ini?”
“Agni” berkata pamannya perlahan-lahan. Orang tua itu tahu benar, betapa sakit hati Mahisa Agni mendengar keadaan yang ada diperkemahan ini. Keadan yang sama sekali tidak diduga-duganya. Tetapi, orang tua itu pun dapat mengerti, kenapa orang-orang Panawijen ingin berhenti bekerja barang sehari dua hari. Maka katanya seterusnya, “Berpikirlah dengan kepala dingin. Cobalah kau cernakan dahulu apa yang kau dengar, baru kau membuat tanggapan. Jangan tergesa-gesa mengambil sikap Agni”.
Kini wajah Mahisa Agni yang merah itu menjadi semakin tegang. Terasa dadanya bergelora seperti gunung yang akan meletus. Namun, sorot mata pamannya telah menahannya untuk tidak melepaskan luapan perasaannya. Karena itu maka kepala Mahisa Agni itu justru menjadi pening.
“Agni” berkata pamannya sareh, “kau harus melihat keadaan ini secara keseluruhan. Jangan kau melihat sepotong-sepotong dari padanya. Maka kau akan dapat mengurangi kepahitan yang harus kau hadapi kini”.
Mahisa Agni menundukkan kepalanya. Tetapi, pamannya mengetahuinya bahwa anak muda itu mengatupkan giginya rapat-rapat. Ia masih berusaha untuk menguasai perasaannya.
“Kau harus dapat mencoba mengerti apa yang dikatakan oleh Ki Buyut Panawijen” berkata pamannya pula.
“Tetapi paman” betapapun Mahisa Agni mencoba menahan diri namun terloncat pula dari bibirnya, “keadaan ini tidak boleh dibiarkan terus. Memang lebih senang duduk-duduk dan berbaring-baring daripada bekerja dipanas terik matahari. Tetapi, apa yang kita dapatkan dengan duduk memeluk lutut?”
“Kau benar Agni. Kau benar. Tetapi, bagaimana kau menyampaikan hal itulah yang sulit bagimu”.
Tiba-tiba Mahisa Agni mengangkat wajahnya. Dilihatnya di sekeliling gubug itu banyak orang-orang Panawijen yang berkumpul. Agaknya mereka ingin tahu, apakah yang akan dikatakan oleh Mahisa Agni. Namun, sebagian yang lain malah pergi menjauh. Mereka duduk berkelompok-kelompok di ujung-ujung perkemahan. Di ujung yang paling jauh dari gubug Ki Buyut Panawijen supaya seandainya Mahisa Agni marah, mereka tidak mendapatkan kemarahan itu yang pertama-tama. Sebab bagaimana pun juga, tersembunyi pula rasa takutnya kepada anak muda itu. Sebagian dari setiap laki-laki Panawijen telah mengetahui bahwa Mahisa Agni mampu berbuat di luar kemampuan mereka. Mereka telah mengetahui bahwa Mahisa Agni mampu berkelahi dan memenangkan perkelahian melawan Kuda Sempana.
“Aku akan mengatakan kepada mereka” nada suara Mahisa Agni datar namun penuh tekanan.
“Apa yang akan kau sampaikan” bertanya pamannya.
“Mereka harus bekerja”.
“Lihat Agni. Matahari telah menjadi semakin condong. Kalau kau menyiapkan mereka untuk bekerja, maka kau tidak akan mendapatkan apa-apa. Demikian mereka siap, demikian matahari tenggelam”.
Mahisa Agni terdiam. Tetapi, wajahnya masih tetap tegang. “Meskipun tidak hari ini” berkata Mahisa Agni kemudian, “besok misalnya, tetapi mereka harus tahu bahwa mereka telah berbuat suatu kesalahan. Kesalahan yang besar sekali. Musim hujan yang akan datang tidak mengenal istirahat. Apapun alasan kita disini, tetapi musim itu akan datang pada waktunya”.
“Apa yang akan dilakukan?”
Sebelum menjawab, Mahisa Agni telah meloncat berdiri. Tetapi, ketika ia mengayunkan kakinya selangkah, terdengar pamannya berkala pula, “Apa yang akan kau lakukan Agni?”
“Aku akan berkata kepada mereka, bahwa apa yang mereka lakukan sama sekali tidak dapat dibenarkan”.
“Tunggulah”.
“Aku akan berkata kepada mereka sekarang”.
“Tunggulah”.
“Apa yang harus aku tunggu paman. Kini adalah saatnya. Mereka harus segera menyadari kemalasan mereka”.
“Duduklah Agni”.
“Tak ada waktu. Aku bukan pemalas yang lebih senang duduk dari pada bekerja”.
“Duduklah Agni. Duduklah”.
Ketika Agni akan menjawab, sekali lagi pamannya memotong, “Duduklah. Kau dengar?”
Mulut Agni terdiam. Meskipun dadanya menjadi sesak, namun iapun melangkah kembali dan duduk di hadapan pamannya. Ki Buyut Panawijen kini seolah-olah menjadi patung. Hatinya menjadi kusut dan bingung. Bahkan terasa pula kecemasan mencengkam jantungnya.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar