MENU

Ads

Selasa, 03 Maret 2026

Pelangi di Langit Singasari 106

PdLS-22
EMPU Gandring pun tidak segera berkata sesuatu. Dibiarkannya Mahisa Agni duduk dengan nafas yang berkejar-kejaran dari lubang hidungnya. Ditatapnya wajah pamannya dengan penuh pertanyaan yang bergelut di dalam dadanya,

“Kenapa pamannya menghalanginya untuk berbuat sesuatu?”

Sejenak kemudian baru Empu Gandring berkata, “Kau akan mengumpat-umpat di hadapan mereka Agni?” Agni tdak menjawab. “Kalau kau berbicara sekarang, sedang hatimu masih dibakar oleh kemarahan dan kekecewaan, maka kalimat yang akan meloncat dari mulutmu adalah kalimat-kalimat yang mencerminkan kepahitan tanggapan perasaanmu atas peristiwa ini. Dengan demikian maka kau sama sekali tidak akan mendapatkan apa-apa, kecuali menyinggung perasaan kawan-kawan seperjuanganmu. Kau sangka bahwa mereka dapat kau perlakukan seperti bajak dan cangkul itu? Tidak Agni” Empu Gandring berhenti sejenak

Dipandanginya wajah kemanakannya yang kini tertunduk. Sejenak kemudian diteruskannya, “Aku bangga melihat nafsu kerjamu yang meluap-luap. Tenagamu cukup tangkas dan kuat melawan terik matahari, melawan udara yang panas dan melawan kerja yang berat. Tetapi tidak semua orang-orang Panawijen memiliki ketahanan tubuh seperti kau. Kalau kau tidak percaya, ayo berlomba lari dengan aku. Meskipun aku sudah setua ini. Tetapi dengan janji, kau tidak boleh berhenti? Kau tahu maksudku? Aku hanya ingin mengatakan bahwa ketahanan tubuh seseorang tidak selalu sama. Kau dan aku. Dan kau dengan orang-orang lain. Kalau kau marah-marah kepada mereka hari ini, maka kau benar-benar akan kehilangan hari ini. Mereka sudah pasti bahwa hari ini tidak dapat dan sudah nyata, tidak berbuat apa-apa. Mereka hari ini tidak bekerja. Tetapi kalau kau marah-marah, maka istirahat yang sudah terlanjur dijalani ini akan tidak terasa nikmatnya” Empu Gandring berhenti sejenak sambil menelan ludahnya.

Kepala Mahisa Agni yang tunduk menjadi semakin tunduk. Dadanya yang bergejolak itupun sedikit demi sedikit mereda. Pamannya telah memaksanya untuk mencoba mengerti keadaan yang dihadapinya kini.

Dalam pada itu pamannya berkata pula, “Agni. Manfaatkanlah keadaan ini. Hari ini adalah hari yang menyenangkan. Jangan kau biarkan hari ini menjadi hari yang benar-benar tidak berarti. Karena itu, senangkanlah hati mereka dengan istirahat ini, supaya terasa benar nikmatnya. Besok mereka pasti akan dengan senang hati bekerja kembali. Tetapi kalau hari ini kau jadikan hari yang gelap, maka besok mereka akan mengangkat alat-alat mereka dengan hati yang gelap pula”.

Kini Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Hari ini memang sudah terjadi dan hampir dilampaui. Ia tidak akan dapat memutar matahari untuk kembali kearah Timur. Karena itu, mau tidak mau ia harus menerimanya sebagai kenyataan, apa yang telah terjadi. Dan sebenarnyalah kata pamannya, bahwa ia harus memanfaatkan yang ada untuk kepentingan hari-hari mendatang.

Terdengar kemudian pamannya bertanya, “Kau tahu maksudku Agni?”

“Ya paman” Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

Ki Buyut Panawijen yang sejak tadi duduk mematung, tiba-tiba menarik nafas dalam-dalam. Terdengar ia berdesah, “Hem. Demikianlah Ngger. Hatiku yang tinggal semenir dapat menjadi tegar kembali”.

Empu Gandring tersenyum. Katanya, “Ki Buyut sudah berbuat sebaik-baiknya yang mungkin dapat Ki Buyut lakukan”.

Orang tua itu mengangguk-angguk, jawabnya, “Ya, ya Empu. Aku sudah mencoba apa saja yang dapat aku lakukan. Tetapi, kemampuanku memang terlampau jauh ketinggalan”.

“Tidak Ki Buyut. Siapa pun yang menghadapi persoalan ini, tidak akan dapat mengambil sikap yang lebih baik dari pada yang telah Ki Buyut lakukan”.

Kembali orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekali-kali tangannya mengusap dadanya sambil bergumam, “O, rasa-rasanya dada ini hampir pecah”.

Empu Gandring tertawa perlahan-lahan. Mahisa Agni masih menundukkan kepalanya. Tetapi dengan demikian ia dapat mengerti pula, betapa berat perasaan orang tua itu menghadapi orang-orangnya.

“Nah Agni” berkata Empu Gandring kemudian, “sekarang ambillah obat yang kau bawa itu. Obat itu harus dilumatkan, dan kemudian air perahannyalah yang harus diminum sebagai obat”.

Mahisa Agni mengangkat wajahnya. Pamannya benar. Adalah lebih baik berbuat sesuatu yang dapat menyenangkan hati orang-orang Panawijen dari pada mengumpati mereka itu. Karena itu maka Mahisa Agni pun menjawab,

“Baik paman. Aku akan mencoba mengobatinya”.

Ketika Mahisa Agni kemudian berdiri dan melangkah meninggalkan pamannya dan Ki Buyut, sekali lagi pamannya berpesan, “Jangan membuat hati orang-orang Panawijen tersinggung. Tetapi usahakan mengatakan dengan baik, bahwa tidak seharusnya mereka bermalas-malas”.



Mahisa Agni mengangguk, jawabnya, “Ya paman. Akan aku usahakan”.

Anak muda itu pun kemudian melangkah meninggalkan gubug itu. Ketika ia sampai di luar, maka sikapnya pun menjadi canggung. Perasaannya sama sekali tidak senang melihat orang-orang Panawijen duduk-duduk bermalas-malasan. Tetapi ia tidak dapat melepaskan perasaannya itu. Pikirannya membenarkan pendapat pamannya. Sehingga karena itu, maka Mahisa Agni harus mengekang sikapnya sejauh-jauh dapat dilakukan.

Orang-orang yang berada di sekitar gubug Ki Buyut itupun menjadi berdebar-debar ketika mereka melibat Mahisa Agni keluar seorang diri. Bermacam-macam tanggapan merayap di dalam dada masing-masing. Tetapi mereka menjadi heran ketika mereka melihat Mahisa Agni itu tersenyum kepada mereka sambil berkata,

“Apakah kalian sudah tidak lelah lagi?”

Sejenak mereka menjadi bingung. Senyum Mahisa Agni memang terasa agak hambar. Tetapi mereka tidak menyangka bahwa Mahisa Agni tidak menjadi kecewa melihat keadaan itu.

“Siapakah yang kakinya menjadi bengkak?” bertanya Mahisa Agni sekenanya.

Orang-orang itupun menjadi saling berpandangan. Tetapi belum ada seorang pun yang menjawab.

“Siapa?” desak Mahisa Agni, “aku dengar ada diantara kalian yang kaki-kakinya menjadi bengkak karena pekerjaan yang terlampau berat ini. Ada yang punggungnya hampir patah. Nah, aku ingin tahu, siapa yang telah menderita itu”.

Orang-orang itupun menjadi ragu-ragu. Apakah Mahisa Agni itu benar-benar bertanya tentang kaki yang bengkak dan punggung yang sakit, atau sekedar merupakan pendahuluan untuk menumpahkan kemarahannya.

Dalam keragu-raguan itu terdengar Mahisa Agni berkata, “Kalau demikian, memang sebaiknya kalian beristirahat hari ini. Matahari sebentar lagi akan turun ke cakrawala. Nikmatilah hari istirahat ini sebaik-baiknya supaya besok kita dapat mulai lagi dengan tenaga baru”. Mahisa Agni berhenti sejenak, tetapi ia bertanya kembali, “Tetapi siapakah yang menjadi sakit?”

Tiba-tiba terdengar jawaban penuh keragu-raguan, “Aku Agni. Kakiku menjadi bengkak”.

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Terasa sesuatu berdesir di dalam dadanya. Sejenak kemudian ia melangkah mendekati orang itu sambil berkata, “Lihat. Kenapa kakimu menjadi bengkak?” Orang itu menjulurkan kakinya dan memperlihatkan bagian yang bengkak.

Mahisa Agni terkejut melihat kaki yang bengkak itu. Ia sama sekali tidak menyangka, bahwa satu di antara kawan-kawannya menderita sakit semacam itu. Karena itu maka dengan serta-merta ia bertanya,

“Kenapa kakimu bengkak?”

Orang itu menjawab, “Kakiku tertimpa pecahan batu, Agni”.

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak segera berkata apapun. Diamatinya kaki yang bengkak itu seperti melihat sesuatu yang ganjil baginya. Tetapi kemudian ia mengangguk-anggukkan kepalanya ketika dilihatnya sebuah luka hampir pada mata kakinya.

“Apakah luka itu sakit?” bertanya Mahisa Agni.

Orang itu memandang Mahisa Agni dengan sorot mata yang aneh. Ia tidak segera dapat menjawab karena keheranannya atas pertanyaan itu. Sehingga Mahisa Agni mendesaknya,

“Sakit?”

“Tentu Agni” jawab orang itu kemudian, “kalau tidak sakit maka aku tidak akan menyeringai sepanjang hari”.

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Peristiwa-peristiwa semacam ini berada di luar perhitungannya. Disangkanya bahwa setiap orang akan mampu bekerja seperti dirinya, dan memiliki ketahanan tubuh seperti dirinya pula. Dalam pada itu teringatlah ia akan pesan pamannya. Maka dengan ramahnya ia berkata,

“Baiklah. Beristirahatlah hari ini. Pergunakanlah hari ini sebaik-baiknya untuk menenangkan diri, besok kita akan mulai kembali”.

Mahisa Agnipun kemudian melangkah pergi. Tetapi ia tidak sempat melihat wajah orang itu. Wajah orang yang kakinya bengkak karena lukanya yang rnenjadi semakin parah. Ketika Mahisa Agni sudah berjalan beberapa langkah dari padanya terdengar ia bergumam,

“Bagaimana mungkin aku harus bekerja besok. Apakah kakiku malam nanti sudah akan sembuh?”

Beberapa kawan-kawannya memandanginya dengan iba. Tetapi sebagian dari mereka menjadi berlega hati. Ternyata Mahisa Agni tidak menjadi marah seperti yang mereka sangka. Meskipun seandainya demikian, mereka sudah terlanjur tidak bekerja hari ini. Dan hari ini kini sudah hampir sampai ke ujungnya.

Mahisa Agni berjalan dengan berbagai angan-angan di kepalanya. Apa yang dilihatnya telah meninggalkan bermacam-macam kecemasan. Beberapa orang yang sakit pasti akan benar-benar menghambat pekerjaan itu. Orang-orang yang lain, yang sekedar karena malas, akan dapat berpura-pura sakit pada punggungnya atau pada tulang rusuknya atau sakit perutnya. Semakin banyak orang yang sakit dan berpura-pura sakit, maka pekerjaannya akan menjadi semakin lama. Musim hujan sama sekali tidak dapat diajaknya berbicara tentang orang-orang yang sakit dan berpura-pura sakit.

Langkah Mahisa Agni terhenti diantara beberapa anak-anak muda yang duduk di bawah sebuah gubug. Ketika mereka melihat Mahisa Agni berhenti di depan gubug itu, maka anak-anak muda itu pun menundukkan kepalanya. Dada mereka pun menjadi berdebar-debar. Meskipun mereka dengan sengaja tidak bekerja hari ini, tetapi ketika mereka melihat Mahisa Agni berada dihadapan hidung mereka, maka jantung mereka pun menjadi semakin cepat berdenyut.

Ketika Mahisa Agni melihat anak-anak muda yang sehat-sehat itu, hatinya menjadi agak tenang. Anak-anak muda inilah yang harus membantunya sepenuh tenaga untuk membangun bendungan itu. Namun ketika dilihatnya anak-anak muda itu duduk bermalas-malasan, maka hatinya pun menjadi kecewa. Sebenarnya mereka hari ini tidak perlu beristirahat seperti orang-orang yang sudah berumur agak lanjut. Biarlah orang-orang tua dan mereka yang sakit beristirahat. Tetapi anak-anak muda ini seharusnya mempergunakan setiap waktu dengan sebaik-baiknya. Bahkan apabila ada diantara kawan-kawannya yang terpaksa tidak dapat bekerja, maka mereka yang sehat-sehat itu harus melipat-gandakan kerja yang mungkin dilakukan.

Sejenak Mahisa Agni berdiri saja mematung di luar gubug itu. Sedang anak-anak muda yang duduk di dalam pun tidak menegurnya, sehingga sejenak mereka saling berdiam diri? Meskipun mereka setiap hari bertemu, kekerja bersama-sama dan kadang-kadang bergurau pula, namun kali ini seolah-olah mereka merupakan kawan yang baru saja dikenalnya. Masing-masing menjadi canggung dan tidak segera menemukan kata-kata pertama untuk saling berbicara.

Yang mula-mula mencoba menegur adalah Mahisa Agni, sekenanya ia bertanya, “Apakah yang kalian kerjakan?” Pertanyaan itu tidak segera terjawab. Beberapa anak-anak muda saling berpandangan. Namun kemudian kembali mereka menundukkan kepala mereka. “Baru apakah kalian kini?” bertanya Mahisa Agni kembali.

Sejenak kemudian terdengar jawab perlahan-lahan, “Kami sedang beristirahat, Agni”.

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Sinar matahari yang semakin condong masih juga memanasi kulitnya yang berwarna tembaga oleh keringat yang membasahinya. Tampaklah keningnya berkerut mendengar jawaban itu. Dengan serta-merta pula ia bertanya,

“Apakah kalian sakit?” Kembali anak-anak muda di dalam gubug itu menjadi bingung. Kembali mereka saling berpandangan. Namun tak seorang pun yang dapat menjawab pertanyaan itu, sehingga Mahisa Agni terpaksa memperbaiki pertanyaannya, “Apakah ada diantara kalian yang sakit?”

Mahisa Agni melihat beberapa diantara mereka menggelengkan kepalanya dan terdengar jawaban lirih, “Tidak Agni. Kami tidak sakit. Tetapi ada diantara kami yang sakit. Tubuhnya menjadi panas tetapi ia menggigil seperti orang kedinginan”.

“Bitung yang kau maksud?”

“Ya”.

“Aku sudah mengambil obat untuknya. Bitung memang sakit, tetapi bukankah kalian tidak sakit?” Kembali Mahisa Agni melihat beberapa diantara mereka menggeleng. “Mereka tidak sakit” berkata Mahisa Agni didalam hatinya, “mereka hanya malas saja”.

Tetapi ditahannya hatinya. Diingatnya kata-kata pamannya. Biarlah mereka menikmati istirahat yang sudah terlanjur dilakukannya.

“Baiklah” berkata Mahisa Agni kemudian, “beristirahatlah. Besok kita bekerja kembali”.

Mahisa Agni itu pun segera melangkah pergi. Kini ia akan mengambil obat yang masih terikat di kudanya. Ia ingin segera memberikannya kepada Bitung, supaya sakitnya segera menjadi berkurang. Tetapi betapapun Mahisa Agni berusaha, namun perasaannya masih juga bergolak melihat orang-orang Panawijen duduk dengan malasnya. Meskipun apabila Mahisa Agni lewat disamping mereka, tampak juga mereka menjadi seakan-akan malu. Tetapi Mahisa Agni selalu ingat akan kata-kata pamannya. Karena itu, ia sama sekali berusaha untuk menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya. Bahkan setiap kali ia melewati kelompok-kelompok orang-orang Panawiijen, anak muda itu selalu mencoba tersenyum dan berkata,

“Mudah-mudahan kalian puas dengan istirahat ini.” Namun tidak lupa ia selalu mengatakan, “Besok kita segera mulai kembali. Mudah-mudahan pula kita mendapatkan tenaga baru”.

Apabila Mahisa Agni telah lampau, maka mereka pun saling berpandangan. Tetapi tanggapan mereka atas sikap Mahisa Agni itu pun berbeda-beda. Mereka yang masih mempunyai tanggung jawab atas pekerjaan itu berkata di dalam hatinya,

“Ya, besok aku akan bekerja lebih baik setelah hari ini aku beristirahat”.

Tetapi yang sama sekali tidak dikehendaki oleh Mahisa Agni adalah mereka yang memang tidak mempunyai nafsu untuk berjuang. Mereka yang acuh tak acuh menghadapi masa-masa yang akan datang. Ketika mereka melihat sikap Mahisa Agni yang lunak itu, mereka berkata di dalam hati,

“Nah, lihat. Mahisa Agni tidak berani berbuat apa-apa. Kenapa kita terlampau bodoh pada masa-masa yang lewat. Bekerja terlampau banyak sehingga tubuh kita hampir remuk karenanya. Di saat-saat yang akan datang, ia pasti akan berdiam diri pula apabila kita memaksa beristirahat seperti hari ini”.

Alangkah sayangnya, bahwa justru pikiran yang demikian itulah yang lebih banyak menguasai orang-orang Panawijen yang sebagian dari mereka sudah menjadi jemu menghadapi pekerjaan yang berat itu. Mahisa Agni tidak dapat membedakan wajah-wajah mereka yang menyimpan perasaan yang berbeda-beda itu. Karena itu ia berjalan terus ke tambatan kudanya. Diambilnya obat yang dibawanya dari Panawijen dan dimintanya kemudian petunjuk dari pamannya. Bagaimana ia harus membuatnya.

Dengan petunjuk pamannya Mahisa Agni menumbuk bagian-bagian dari pohon kates itu sendiri dengan tangannya, kemudian memerasnya ke dalam mangkuk dan membawanya kepada Bitung bersama dengan Empu Gandring dan Ki Buyut Panawijen.

Bitung berbaring di atas anyaman ilalang. Dikerudunginya tubuhnya dengan selimut kain berlapis-lapis. Beberapa orang kawan-kawannya meminjaminya kain kepadanya. Tetapi ia masih juga menggigil kedinginan. Sekali-kali terdengar mulutnya berdesah menahan perasaaan dingin panas dan nyeri-nyeri di sendi-sendi tulangnya. Ketika tangannya yang gemetar menerima semangkuk cairan yang kehijau-hijauan, maka anak itu mengerutkan keningnya.

“Minumlah” berkata Ki Buyut.

“Kalau kau tidak mau meminumnya, maka sakitmu tidak akan berkurang, “ berkata Empu Gandring.

Bitung pun kemudian terpaksa minum obat itu. Ketika ia hampir muntah karena obat yang pahit itu, Mahisa Agni berkata, “Bitung, aku ambil obat itu dengan taruhan yang mahal sekali. Aku hampir mati dipenggal leherku oleh iblis yang belum pernah aku kenal. Untunglah paman melindungi aku. Karena itu jangan kau muntahkan obat itu, supaya aku tidak perlu lagi pergi ke Panawijen. Meskipun aku tidak hanya membawa untuk satu kali pengobatan, namun setiap teguk obat itu akan berarti bagimu”.

Bitung menahan mulutnya dengan kedua belah tangannya. Namun ia berhasil untuk menelannya betapapun pahitnya. Dalam pada itu, matahari kini sudah menjadi semakin rendah. Setiap saat matahari itu bergeser turun. Sehingga akhirnya, matahari itu pun tenggelam di balik bukit di ujung Barat.

Mahisa Agni merasa, betapa lambatnya waktu merayap. Ia hampir-hampir tidak sabar menunggu malam itu berjalan. Terasa seakan-akan waktu terhenti., “Waktu pun menjadi sangat malasnya berjalan” gumamnya.

Anak muda itu ingin matahari segera terbit. Ia ingin segera berada kembali di bawah teriknya sambil bekerja memeras segenap tenaga. Meskipun debu yang kotor melekat di kulitnya yang basah karena keringat, meskipun tubuhnya menjadi merah-merah hangus oleh sinar matahari, tetapi ia merasa mendapatkan kepuasan. Ia merasa bahagia berada di tengah-tengah derunya kerja yang berat itu. Sebab anak muda itu berkeyakinan, bahwa hanya dengan kerja, maka hari depan mereka dan anak cucu menjadi baik.

Oleh karena itu, maka justru Mahisa Agni tidak dapat memejamkan matanya. Hatinya menjadi risau dan gelisah. Sekali-kali terasa ia terlena sejenak, tetapi seperti dikejutkan oleh deru guguran batu-batu di tebing, ia tersentak bangun. Akhirnya Mahisa Agni itu bangkit dari pembaringannya, sehelai tikar yang dibentangnya diatas tumpukan daun-daun ilalang. Perlahan-lahan ia berjalan menyusuri gubug demi gubug. Ia masih melihat beberapa perapian yang masih membara. Tetapi ia tidak melihat seorang pun yang masih menunggui perapian itu.

Tetapi langkahnya kemudian tertegun ketika ia berjalan di samping gubug Bitung. Ia mendengar anak itu merintih. Sekali-kali terdengar suara kawannya menghibur. Tetapi agaknya sakit anak itu belum juga susut. Perlahan-lahan Mahisa Agni mendekat. Kemudian ia pun menyusup kedalam gubug itu pula.

Kawan Bitung agak terkejut melihat kehadirannya. Tetapi kemudian matanya menyala, Seakan-akan berkata kepadanya, “Sakit Bitung adalah tanggung jawabmu, Agni”. Tetapi anak muda, kawan Bitung tidak berkata sepatah katapun.

Mahisa Agni pun kemudian duduk disamping Bitung. Tangannya mencoba meraba dahi anak muda itu. Tetapi ia menjadi terkejut. Terasa dahi itu panas sekali. Mahisa Agni menggigit bibirnya. Tanpa disadarinya ia berkata,

“Obat itu baru saja diminumnya. Mudah-mudahan nanti akan berpengaruh. Besok pagi-pagi aku buat obat untuknya sebelum kita bekerja”.

“Apakah besok kita akan bekerja lagi?” bertanya kawan Bitung.

Pertanyaan itu telah mengguncang perasaan Mahisa Agni. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa ia akan menghadapi pertanyaan seorang anak muda yang demikian. Meskipun ia dapat meraba bahwa anak-anak muda lebih senang beristirahat, duduk-duduk dan berbaring sambil mengunyah makanan, namun bahwa seseorang langsung mengucapkan pertanyaan itu adalah sangat mengecewakan.

Tetapi Mahisa Agni segera berusaha menahan perasaannya sendiri seperti pesan pamannya. Beruntunglah bahwa pamannya telah memberinya pesan, sehingga setiap kali pesan-pesan itu dapat mengekangnya. Dengan menahan diri Mahisa Agni kemudian bertanya kepada anak muda itu,

“Jadi, bagaimana maksudmu?”

“Kita perlu beristirahat” jawab kawan Bitung itu.

“Bukankah hari ini kita sudah beristirahat”.

“Sehari tidak cukup untuk menghilangkan lelah”.

Mahisa Agni menarik nafas. Kekecewaanya menjadi kian bertambah. Tetapi ia menjawab hati-hati, “Kita tidak boleh terlampau lama beristirahat. Musim hujan tidak akan dapat ditunda”.

“Tetapi kita tidak akan dapat bekerja terus-menerus. Bitung sakit Aku harus menunggui. Meskipun seandainya kita besok bekerja kembali, aku tidak akan dapat ikut serta. Kasihan apabila tak ada yang mengawani anak yang sakit ini”.

“Besok aku carikan kawan buat Bitung. Biarlah orang-orang tua atau orang yang lagi berhalangan bekerja, karena sakit kakinya, misalnya. Dengan demikian kita tidak akan banyak kehilangan tenaga”.

Anak muda itu tidak menjawab. Tetapi wajahnya tidak mejakinkan bahwa ia dapat mengerti kata-kata Mahisa Agni. Namun ketika anak muda itu tidak menyahut, Mahisa Agni pun tidak berkata lagi. Mereka kemudian terdorong dalam kesepian yang mencengkam. Malam yang kelam menjadi semakin jauh merayap. Dikejauhan terdengar korek bilalang yang sedang berlari-larian, berloncat-loncatan di padang rumput. Mereka berpaling ketika mereka mendengar Bitung merintih perlahan-lahan. Tetapi anak itu kini telah tertidur. Tubuhnya tidak lagi terlampau panas dan tidak lagi menggigil ke dinginan.

“Mudah-mudahan obat yang diminumnya itu akan berarti baginya” gumam Mahisa Agni. Tak ada jawaban. “Tidurlah. Kau pasti lelah pula. Besok aku harap seseorang merawat Bitung. Kita yang muda-muda wajib bekerja menyelesaikan bendungan itu”. Masih tak ada jawaban. Mahisa Agni pun kemudian bergeser sambil berkata, “Aku pun akan beristirahat pula”.

Anak muda yang sedang menunggui Bitung itu mengangguk, “Silahkan” jawabnya hambar, “aku akan tidur, selagi Bitung juga sedang tidur”.

Mahisa Agni pun meninggalkan gubug itu. Kembali ia berjalan menyusuri celah-celah gubug yang bertebaran. Ia terhenti ketika ia mendengar seseorang merintih pula. Orang yang kakinya sedang bengkak.

“Hem” Mahisa Agni menarik nafas panjang-panjang. Panjang sekali. Tetapi ia tidak singgah ke gubug itu. Ia berjalan terus dalam kegelapan, menuju ke gubugnya sendiri.

Kembali anak muda itu berbaring di atas tikar yang di bentangkan pada tumpukan jerami. Tetapi kembali angan-angannya mengganggunya. Meskipun demikian, karena lelah, maka akhirnya Mahisa Agni itu pun tertidur pula. Gubug-gubug itu pun kini telah menjadi sepi. Hampir tak seorang pun yang masih tinggal bangun kecuali satu dua yang selalu diganggu oleh berbagai perasaan sakit. Tetapi mereka pun tidak beranjak dari pembaringannya. Sekali-kali terdengar suara mereka merintih di antara bunyi cengkerik dan bilalang yang bersahut-sahutan.

Tetapi Mahisa Agni pun tidak dapat tidur dengan nyenyak. Belum juga ia dapat tenang. Sekali-kali ia terbangun. Gigitan nyamuk benar-benar telah mengganggunya seperti perasaannya sendiri yang selalu mengganggunya pula.

Menjelang fajar, maka Mahisa Agni tidak lagi dapat berbaring diam, apalagi mencoba kembali tidur. Nalurinya yang selalu membangunkannya, pagi itu agak terlampau cepat membawanya bangkit dari pembaringannya. Ia menjadi kian jemu menahan kesabarannya. Malam terasa terlampau panjang, sehingga seakan-akan waktunya telah dihabiskannya untuk menunggu pagi.

Ketika kemudian warna-warna merah membayang di ujung Timur, Mahisa Agni telah berada di luar gubugnya. Pamannya pun ternyata bangun pula. Segera mereka pergi ke sungai untuk mencuci muka. Sebentar lagi, mereka harus menyiapkan alat-alat mereka. Kerja akan dimulai lagi. Kali ini Mahisa Agni tidak akan dapat menunda lagi rencananya, meletakkan dasar bendungan di sisi-sisi seberang.

Tetapi terasa pagi ini agak asing bagi Mahisa Agni. Dilihatnya beberapa orang dengan malasnya keluar dari gubug masing-masing. Ada pula di antara mereka yang masih berselimut kain dan sebelum berbuat sesuatu, mereka itu pun menguap dengan malasnya sambil berjongkok di depan gubugnya.

Mahisa Agni menjadi gelisah. Tetapi kemudian dilihatnya Ki Buyut Panawijen telah siap pula di luar gubugnya. Orang itu meskipun usianya telah melampaui pertengahan abad, namun rasa tanggung jawabnya telah mendorongnya untuk berbuat lebih banyak dari orang-orang lain.

“Kita akan bekerja kembali Ki Buyut” berkata Mahisa Agni.

“Ya. Semuanya telah bangun”.

Mahisa Agni mengangguk. Dilihatnya kemudian Ki Buyut seakan-akan mengguncang perkemahan itu dengan suaranya. Di bangunkannya mereka yang masih tidur. Dan bayangan kemerahan di Timur pun menjadi semakin nyala. Satu-satu orang-orang Panawijen pun meninggalkan gubug masing-masing. Mereka yang tertidur di samping perapian-perapian pun telah menggeliat pula sambil bardiri dengan malasnya.

Mahisa Agni memandangi mereka dengan dada yang berdebar. Ia melihat sikap yang lain dari pada sikap mereka dua tiga hari yang lalu. Mata mereka tidak lagi memancarkan kegairahan bekerja dan gerak mereka pun kini menjadi kemalas-malasan.

Ketika kemudian matahari menjenguk dari balik bukit dan menebarkan sinarnya yang masih kemerah-merahan ke atas rumput itu, maka orang-orang Panawijen sama selali tidak memperhatikannya lagi. Masih juga ada satu dua orang yang tampak tergesa-gesa mengambil alat-alat mereka. Ada juga yang dengan tergesa-gesa menyalakan api dan memanasi air minum seperti biasa. Tetapi sebagian besar dari mereka masih lebih senang berdiri menggeliat atau menguap sambil berkerudung kain.

Dengan wajah yang berkerut-merut Mahisa Agni memandangi pamannya, seakan-akan ingin menumpahkan kejengkelannya melihat suasana itu. Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Ia tahu benar perasaan kemanakannya. Tetapi ia tidak berkata sepatah kata pun.

Betapapun lambannya, namun orang-orang Panawijen itu pun akhirnya berkumpul pula. Mereka telah menjinjing alat masing-masing. Tetapi mereka tidak segera bergerak ke tempat kerja mereka. Hal yang demikian tidak pernah terjadi sebelumnya. Orang-orang tua biasanya datang kepada Mahisa Agni dan bertanya apa yang akan dilakukan. Pagi-pagi mereka beramai-ramai berjalan tanpa perintah menuju ke tempat pekerjaan mereka masing-masing. Tetapi kali ini dengan segannya mereka berdiri saja menunggu, apa yang harus mereka lakukan.

Meskipun demikian, di antara mereka itu masih juga ada orang-orang yang memahami tanggung jawab. Dua orang yang justru telah agak lanjut usianya mendekati Mahisa Agni sambil bertanya, “Apa yang akan kita lakukan Agni?”




OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar