Mahisa Agni berpaling memandangi wajah Ki Buyut Panawijen yang menjadi cemas pula. Katanya, “Kita lakukan rencana kita yang tertunda satu hari Ki Buyut”.
“Baiklah Ngger” sahut Ki Buyut, “maksud Angger menurunkan brunjung-brunjung di sisi seberang?”
“Ya, “ jawab Agni sambil mengangguk.
“Baiklah. Kita akan melakukan rencana itu”.
Mahisa Agni pun kemudian berkata kepada kedua orang yang bertanya kepadanya, “kita turunkan brunjung-brunjung di sisi seberang. Sebagian dari kita mengisi brunjung-brunjung baru”.
Kedua orang itu mengangguk dan salah seorang dari mereka menjawab, “Baik. Kita akan berangkat sekarang?”
“Berangkatlah. Aku akan pergi juga sekarang” sahut Agni.
Kedua orang itu pun kemudian berjalan kembali ke dalam kelompok orang-orang Panawijen yang menunggunya dengan malas. Seakan-akan mereka tidak mau pergi dahulu sebelum Mahisa Agni pun pergi pula. Dengan demikian maka Mahisa Agni pun menjadi semakin canggung menghadapi orang-orang itu. Keadaan yang demikian tidak pernah terjadi pula sebelumnya. Mereka segera berangkat setelah mereka mengerti apa yang mereka lakukan. Tetapi kali ini mereka tampaknya menjadi sangat segan beranjak dari perkemahan itu.
“Kita pergi ke sisi seberang” terdengar salah seorang yang datang kepada Mahisa Agni berkata.
Orang-orang itu masih berdiam diri. Bahkan kemudian terdengar seseorang berteriak diantara mereka, “Apakah kau dan Ki Buyut Panawijen tidak pergi Agni?”
Dada Mahisa Agni berdesir. Bahkan darah mudanya segera menjadi panas. Tetapi ketika dilihatnya pamannya tersenyum, anak muda itu berusaha sekeras-kerasnya menahan diri.
“Tentu, “ yang menjawab adalah Empu Gandring, “bukankah kau juga akan pergi Agni”.
Mahisa Agni mengangguk kaku. Pertanyaan itu terasa menyinggung-nyinggung perasaannya. Namun bukan saja Empu Gandring tetapi juga Ki Buyut Panawijen tersenyum dan menjawab,
“Kami akan pergi juga sekarang”.
Ki Buyut itu pun segera melangkah maju diikuti oleh Mahisa Agni di belakangnya. Disampingnya berjalan pamannya. Orang-orang Panawijen pun kemudian bergerak pula dengan malasnya, dijinjingnya alat-alat mereka tanpa gairah dan nafsu, seakan-akan alat-alat itu menjadi beban yang sangat memberatinya. Tetapi tiba-tiba Mahisa Agni tertegun ketika ia mendengar suara memanggilnya. Bukan saja Mahisa Agni tetapi semua orang pun berhenti pula bersamanya.
“Agni, Agni” terdengar suara itu.
Mahisa Agni berpaling. Dilihatnya kawan Bitung berdiri di muka gubugnya. Dada Mahisa Agni berdesir. Ia lupa mengurus anak itu karena pikirannya dipenuhi oleh rencana bendungannya dan kekecewaan tentang sikap orang-orang Panawijen.
“Bagaimana dengan Bitung?” bertanya Agni dengan serta-merta.
“Ia tidak menggigil lagi. Tetapi manakah obat yang kau janjikan semalam. Sebelum kau berangkat, kau akan membuat obat buat Bitung. Kalau anak itu tidak kau obati maka sakitnya akan datang lagi”.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “ Kemarilah. Aku ajari kau membuat obat itu”.
“Aku tidak dapat”.
“Tentu dapat. Kemarilah supaya kita tidak saling berteriak”.
“Aku menunggu Bitung” sahut anak itu.
“Bukankah kau dapat meninggalkan sebentar kemari”.
“Aku tidak sempat membuat obat itu”.
Wajah Agni segera memerah. Darahnya yang telah panas, serasa menjadi semakin panas. Tetapi kembali pamannya tersenyum sambil berkata, “Adalah terlampau mudah untuk membuatnya”.
Tetapi kawan Bitung itu berteriak, “Buatlah obat itu sebentar Agni. Kemudian pergilah ke bendungan itu. Jangan kau anggap bahwa nilai anak ini kalah dengan nilai timbunan batu-batu di kali itu”.
Telinga Mahisa Agni serasa tersentuh bara. Hampir ia kehilangan kesabarannya seandainya pamannya tidak menyahut, “Nah, baiklah aku membuat obat itu”.
“Apakah kau dapat membuatnya paman?” bertanya kawan Bitung.
“Akulah yang memberitahukan obat itu kepada Mahisa Agni bukan? Aku pulalah yang mengatakan bahwa bagian-bagian tumbuhan Kates Grandel itu harus di tumbuk dan diperes airnya untuk diminum. Akulah yang mengajari Mahisa Agni membuat obat itu. Karena itu, maka aku pasti lebih cekatan untuk membuatnya. Muda-mudahan obat itu menjadi lebih mujarab”.
Orang tua itu melangkah kembali sambil tersenyum-senyum. Wajahnya sama sekali tidak berkesan sesuatu. Tetapi tiba-tiba langkahnya terhenti ketika ia mendengar salah seorang yang telah berada di dalam kelompok orang-orang Panawijen yang siap berangkat itu berteriak,
“Agni. Rawatlah dahulu anak itu”.
“Aku yang akan merawatnya” Empu Gandringlah yang menyahut.
“Itu adalah kewajiban Mahisa Agni. Setiap orang di dalam perkemahan ini adalah tanggung jawab Mahisa Agni dan Ki Buyut Panawijen. Bukan saja Bitung yang sakit panas dan dingin, tetapi beberapa orang lain menjadi sakit pula. Ada yang kakinya terluka, ada yang punggungnya terkilir”.
“Biarlah mereka beristirahat” Potong Empu Gandring.
“Tidak hanya beristirahat. Rawatlah mereka Agni. Obatilah supaya mereka sembuh. Bendungan itu tidak akan lari kau biarkan sehari dua hari tidak dijamah tangan. Bendungan itu tidak akan mati. Tetapi anak-anak itu dapat mati”.
“Ya” tiba-tiba terdengar suara yang lain, “sebaiknya hari ini kita urungkan kerja kita. Kita merawat kawan-kawan kita yang sedang sakit”.
“Pendapat yang baik” teriak yang lain, “kita belum cukup beristirahat sehari kemarin. Pegal-pegal punggungku belum sembuh”.
Tiba-tiba suara-suara itu disusul oleh sebuah ledakan gemuruh, “Kita beristirahat. Kita perpanjang istirahat kita”.
Dada Empu Gandring dan Ki Buyut Panawijen menjadi berdebar-debar. Apalagi ketika mereka berpaling memandangi wajah Mahisa Agni yang seakan-akan membara. Darahnya kini telah mendidih memanasi segenap tubuhnya. Giginya gemeretak dan matanya seakan-akan menyala.
“Inilah akibat kemalasan mereka kemarin” ia menggeram, “sehari mereka beristirahat, maka mereka segan untuk memulai pekerjaan ini kembali”.
Ki Buyut Panawijen dan Empu Gadrirg tidak menyahut. Mereka tidak dapat mengingkari kenyataan itu. Empu Gandring pun mencoba mencari jalan untuk mencegah Mahisa Agni kehilangan pengamatan diri.
Suara-suara orang-orang Panawijen itu masih juga terdengar sahut-menyahut. Bahkan beberapa orang diantara mereka kini telah menjatuhkaa diri masing-masing duduk dengan malasnya memeluk lutut sanbil berteriak,
“Kita masih perlu beristirahat. Kita terlampau lelah”.
Yang lain lagi, “Aku tidak mau mati kehabisan tenaga. Siapa yang ingin mati lemas, biarlah mereka lakukan sendiri”.
Suara-suara itu terdengar ditelinga Mahisa Agni seperti gemuruhnya Gunung runtuh. Runtuh bersama harapan-harapan yang selama ini disimpannya di dalam hati. Harapan tentang tanah garapan yang subur karena air yang meluap-luap dari bendungan itu mengalir disepanjang parit yang memanjang membelah Padang Karautan. Merubah warna padang yang kekuning-kuningan karena rerumputan yang kering menjadi hijau segar oleh batang-batang padi yang terbentang.
Tetapi tiba-tiba ia dihadapkan pada keadaan yang sangat menyakitkan hati. Orang-orang yang dibawanya bekerja untuk mewujudkan cita-cita bersama itu, tiba-tiba terganggu ditengah jalan. Mata Mahisa Agni yang menyala, memandangi orang-orang dalam kelompok yang menjadi semakin tidak keruan. Dengan sengaja mereka memperlihatkan kemalasan mereka. Ada yang duduk-duduk bahkan ada yang kemudian berbaring di bawah sinar matahari pagi.
“Gila” geram Mahisa Agni.
Tiba-tiba Mahisa Agni itu meloncat ke atas sebuah pedati di samping orang-orang Panawijen itu. Beberapa orang terkejut karenanya sehingga mereka pun berloncatan menjauh. Di belakang Mahisa Agni itu menyusul pamannya yang mecemaskan kemanakannya.
Ternyata betapapun kecewa hati Mahisa Agni, tetapi ia tidak lekas menjadi berputus asa. Meskipun ia melihat keruntuhan tekad dari orang-orang Panawijen, tetapi ia tidak menyerah tertimbun oleh reruntuhan itu. Sekali lagi kembali ia mencoba berusaha membawa orang-orang Panawijen kedalam suatu gairah kerja seperti yang diharapkannya. Ketika orang-orang Panawijen melihat Mahisa Agni berdiri tegak di atas sebuah pedati, maka teriakan-akan itu pun terdiam. Mereka melihat anak muda itu merah biru menahan gejolak perasaannya.
Ketika orang-orang itu terdiam, maka mulailah Mahisa Agni menebarkan pandangannya dari ujung kelompok itu ke ujung yang lain. Ditatapnya setiap mata orang-orang Panawijen yang diam mengawasinya. Anak-anak muda, orang-orang separo baya dan orang-orang yang telah menjadi agak tua. Setiap orang yang bertemu pandang dengan anak itu, tiba-tiba menundukkan kepalanya. Mata Mahisa Agni terlampau tajam menghunjam ke pusat jantung mereka. Sejenak kemudian terdengar suara Mahisa Agni gemetar,
“Aku sudah mendengar permintaan kalian” Mahisa Agni berhenti sejenak.
Beberapa wajah tampak menengadah, tetapi ketika terpandang oleh mereka wajah Mahisa Agni itu, maka kembali wajah-wajah itu tertunduk. Mata Mahisa Agni masih saja menyala menembus jantung mereka. Tetapi, Mahisa Agni itu pun tidak segera menemukan kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan kekecewaan hatinya. Dengan demikian maka suasana menjadi sepi lengang. Tetapi hati mereka dicengkam oleh ketegangan.
Beberapa orang Panawijen menjadi bingung menghadapi keadaan itu. Ada di antara mereka yang menjadi takut dan berdebar-debar, kalau-kalau Mahisa Agni tiba-tiba mengamuk dan membunuh mereka. Tetapi ada yang menyesal bukan karena ketakutan. Menyesali sikapnya sendiri. Mereka menjadi heran sendiri, kenapa tiba-tiba mereka, hanyut dalam suasana kemalasan. Tetapi ada pula yang mengerutu di dalam batinya, mengumpati Mahisa Agni tak habis–habisnya, namun mereka tidak berani mengucapkannya.
Sesaat kemudian, barulah terdengar suara Mahisa Agni kembali, “Apakah maksud kalian sebenarnya?”
Tak seorang pun yang berani menjawab pertanyaan itu. Tetapi berbagai-bagai tanggapan bergelora disetiap dada.
“Apakah kalian telah benar-benar jemu meneruskan pekerjaan itu?” Orang-orang Panawijen itu masih terdiam.
“Bagaimana?,” desak Mahisa Agni semakin keras. Ketika masih juga tidak ada jawaban, maka kembali Mahesa Agni berkata, “Aku ingin mendengar pendapat kalian. Mumpung kita kali ini berhadapan. Jangan mengambil sikap sendiri-sendiri. Kita datang bersama-sama dan membawa tekad bersama-sama untuk membuat bendungan itu. Karena itu, marilah kita tentukan sikap kita bersama-sama. Aku ingin mendengar, apakah kalian memang telah jemu melakukan pekerjaan ini”.
Sejenak, kembali kesepian menguasai padang itu. Yang terdengar adalah angin pagi yang silir menggerakkan dedaunan. Daun ilalang dan daun-daun gerumbul perdu di sana-sini, gemerisik seperti suara orang berbisik-bisik.
Disela-sela kesepian orang-orang Panawijen seorang berdesis perlahan-lahan, “Tidak Agni, Kami sama sekali tidak jemu melakukan pekerjaan ini. Kami hanya ingin sekedar beristirahat”.
Mahisa Agni memandangi orang yang sedang berbicara itu. Dan orang itu pun menundukkan kepalanya.
“Bagus” sahut Mahisa Agni, “kalau demikian aku masih mempunyai harapan”. Tak ada yang menyahut sepatah katapun. “Tetapi kalian telah beristirahat sehari kemarin”. Kembali orang-orang Panawijen itu terdiam. Yang terdengar adalah suara Mahisa Agni kembali, “Tak ada alasan lagi untuk memperpanjang waktu beristirahat. Bendungan kita harus segera jadi”.
Mahisa Agni melihat beberapa di antara mereka saling berpandangan. Tetapi Mahisa Agni tidak mendengar seorang pun dari mereka yang menjawab.
“Marilah” berkata Mahisa Agni, “kita berangkat bekerja”.
Meskipun tak seorang pun yang membantah, namun Mahisa Agni tidak segera melihat mereka berdiri dan dengan gairah berangkat ketempat kerja mereka. Sejenak orang-orang Panawijen itu masih saja duduk sambil saling berpandangan. Bahkan sebagian dari mereka menjadi kecewa karena istirahat hari itu yang bahkan kalau mungkin diperpanjang lagi tidak terpenuhi.
Karena itu maka sekali lagi Mahisa Agni berkata lebih keras lagi, “Apakah yang kita tunggu lagi? Apakah kalian masih akan memaksaku untuk membuat obat bagi sakit Bitung? Kalian telah mendengar, pamanku telah menyanggupinya. Sekarang apa lagi? Ayo berdirilah. Berangkatlah sekarang, selagi matahari belum tinggi, kita akan meletakkan brunjung-brunjung di sisi seberang hari ini”.
Beberapa orang pun kemudian berdiri sambil menggeliat. Alangkah berat rasanya untuk mulai lagi pekerjaan yang berat itu. Ternyata lebih senang menikmati istirahat kemarin dari pada bekerja keras di bawah terik matahari.
Mahisa Agni yang tidak telaten berteriak, “Kenapa kalian tidak segera berangkat. Apakah kalian telah benar-benar jemu he? Baik. Kalau demikian aku tidak akan memaksa”.
Kata-kata Mahisa Agni itu benar-benar menarik perhatihan mereka. Beberapa orang tertegun sambil memandangi wajah Agni yang tegang. Tetapi mereka tidak segera menangkap maksud kata-katanya. Apakah dengan demikian Mahisa Agni akan memberi mereka kesempatan untuk beristirahat lagi.
Terdengar suara Mahisa Agni pula, “Kalau kalian memang sudah jemu, marilah kita berjanji untuk menghentikan saja pekerjaan ini. Kita tidak usah berpikir apakah yang akan terjadi atas kita masing-masing. Biarlah daun-daun pepohonan di Panawijen satu-satu menguning dan gugur di tanah. Biarlah ladang dan sawah yang kering itu menjadi keras. Kita tidak menghiraukannya lagi. Apalagi aku. Aku tidak mempunyai keluarga seorang pun. Aku tidak akan bertanggung jawab terhadap anak cucu seandaianya mereka kelak hidup sengsara. Aku juga tidak berkeberatan seandainya kita pergi saja bercerai-berai.
Aku, seorang diri, akan lebih cepat menyesuaikan diriku dengan tempat yang baru dimana pun aku berada. Aku akan pergi ke Tumapel, menerima tawaran Akuwu untuk menjadi seorang Prajurit. Kalau demikian, maka aku menyesal bahwa aku dahulu tidak saja segera menerima tawaran itu karena aku lebih mementingkan bendungan ini. Nah, sekarang pilihlah. Kita pergi berpencaran mencari hidup masing-masing dengan menggantungkan belas kasian orang, atau tetap berada di Panawijen, tempat kita bermain dan dibesarkan, tetapi kita akan mati kelaparan Atau kita membuat daerah baru dengan memeras keringat kita, tetapi dengan demikian kita telah berbuat sesuatu untuk kita sendiri dan anak cucu kita”.
Mahisa Agni berhenti sejenak. Dipandanginya setiap wajah orang-orang yang berdiri di sekitarnya. Tampaklah wajah-wajah itu menjadi tegang. Ternyata bahwa kata-kata Mahisa Agni itu bergolek di dalam dada mereka. Meskipun demikian, tak seorang pun yang menjawab. Mulut-mulut mereka yang ternganga itu seakan-akan terbungkam untuk mengucapkan kata-kata.
Sejenak Mahisa Agni memberikan kata-katanya mengendap ke dasar hati orang-orang Panawijen. Dibiarkannya orang-orang Panawijen itu menyadari keadaannya. Menilik perubahan pada wajah-wajah mereka, serta sikap mereka, yang satu demi satu berdiri dan menggenggam alat-alat mereka kembali, maka timbullah harapan di dalam dada Mahisa Agni.
Dengan suara yang menggeletar ia bertanya, “Jadi apakah yang akan kita lakukan kini? Bekerja dengan nafsu seperti sediakala atau tidak sama sekali?”
Mahisa Agni melihat kebimbangan pada wajah orang-orang Panawijen itu. Maka katanya, “Aku tidak mau bekerja dengan separo hati. Hanya ada satu syarat untuk bekerja. Bekerja dengan gairah dan sepenuh hati. Mereka yang meninggalkan tugas ini karena mereka tidak kuat lagi, atau jemu atau sakit-sakitan, aku persilahkan. Hanya yang berkemauan keras sajalah yang akan dapat bekerja terus”.
Orang-orang Panawijen masih terdiam. Tetapi tangan mereka telah mulai menggenggam alat-alat mereka dengan eratnya.
“Aku ingin jawaban supaya aku tidak menjadi kecewa kembali”.
Tiba-tiba meledaklah jawaban orang-orang Panawijen itu, “Baik Agni. Kami akan bekerja kembali seperti sediakala”.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Terasa dadanya berdesir, dan seluruh permukaan kulitnya meremang. Dengan penuh harapan ia berkata, “Kalau demikian, marilah kita berangkat. Matahari belum sepenggalah. Marilah kita susul keterlambatan kita. Satu hari lebih seujung pagi”.
Mahisa Agni tidak perlu mengatakannya lagi. Orang-orang Panawijen itu pun kemudian seakan menggelepar dan berjalan ke arah masing-masing yang sudah ditentukan. Namun sebagian besar dari mereka berjalan ke bendungan untuk menurunkan brunjung-brunjung di sisi seberang. Sebagian kecil pergi ke ujung susukan yang sedang mereka kerjakan untuk menggalinya lebih panjang lagi. Keinginan orang-orang Parawijen adalah, susukan itu akan mampu membelah Padang Karautan, dan menjadikannya tanah persawahan yang subur.
Beberapa pedati pun segera berjalan untuk mengambil batu-batu yang telah dipecah untuk kemudian dimasukkannya ke dalam brunjung-brunjung bambu. Ketika kemudian Mahisa Agni berpaling dilihatnya pamannya serta Ki Buyut Panawijen tersenyum kepadanya. Tetapi didalam hati Empu Gandring berkata,
“Belum merupakan persoalan yang terakhir Agni. Tetapi mudah-mudahan kerjamu akan berhasil”.
Sehari itu Mahisa Agni melihat orang-orang Panawijen bekerja dengan nafsu yang menyala-nyala. Mereka serasa telah memeras tenaga memenuhi permintaan Mahisa Agni, menebus yang telah hilang. Kemarin dan ujung pagi ini. Matahari di langit berjalan dalam iramanya yang tetap.
Tetapi, terasa hari ini berjalan terlampau cepat bagi Mahisa Agni. Kegembiraannya melihat nafsu bekerja orang-orang Panawijen telah membuat lupa waktu. Betapa ia telah memeras segenap tenaganya melampauhi waktu yang sudah-sudah. Kekuatan tubuhnya benar-benar mengherankan. Dan kerjanya ternyata telah mempengaruhi, terutama anak-anak mudanya yang merasa malu mendengar Mahisa Agni menantangnya untuk menghentikan sama sekali pembuatan bendugan itu.
Sampai matahari turun rendah di langit Barat, maka seakan-akan kerja itu berlangsung tanpa beristirahat. Betapa terik matahari telah membakar kulit mereka, tetapi mereka sama sekali tidak melepaskan pekerjaan mereka, seperti pada saat mereka baru mulahi, satu dua hari.
Ketika malam kemudian turun menyelubungi Padang Karautan, maka orang-orang Panawijen itu telah berkerumun di dalam gubug masing-masing. Bitung kini telah dapat duduk bersama dengan beberapa kawannya meskipun wajahnya masih pucat. Pagi-pagi siang serta sore hari, Empu Gandring telah merawatnya dan memberinya obat sekadarnya.
Namun dalam pada itu, ketika orang-orang Panawijen itu mendapat kesempatan untuk beristirahat, mulailah terasa betapa tubuh tubuh mereka dijalari penat dan lelah. Betapa kaki-kaki mereka serasa menjadi hangus dan punggung-punggung mereka hampir patah.
Seorang dua orang duduk menyelujurkan kaki-kaki mereka sambil memijit-mijitnya. Orang-orang lain saling memijit punggung berganti-gantian. Mahisa Agni sendiri telah berbaring-baring dipembaringannya dengan bati yang lapang. Ia puas melibat kerja yang telah mereka lakukan hari ini. Karena itu, maka hatinya pun menjadi gembira. Dalam kegembiraan itulah, anak muda itu jatuh tertidur, meskipun malam belum begitu dalam. Tetapi kerja yang keras, angin yang silir sejuk dan hati yang puas, telah membelai dan menidurkannya terlampau cepat.
Tetapi yang terjadi digubug-gubug yang lain adalah jauh berbeda. Anak-anak muda, orang-orang separo baya dan orang-orang tua, terdengar mengeluh tak berkeputusan. Kerja hari ini ternyata agak berlebih-lebihan bagi mereka. Setelah beristirahat satu hari, mereka telah bekerja melampaui kemampuan wajar mereka. Dengan demikian maka tubuh-tubuh mereka menjadi sakit dan penat, sehingga mereka itu menjadi agak sukar untuk segera dapat menikmati mimpi.
Dalam malam yang semakin dalam itu terdengar seseorang mengeluh, “Betapa sakit lenganku. Siang tadi aku terlampau banyak mengangkat batu-batu. Batu-batu besar yang biasanya tidak terangkat, siang tadi aku angkat juga seorang diri”.
“Kenapa kau paksakan juga temanmu?”
Orang itu menggeleng, “Aku tidak tahu. Tetapi nafsuku bekerja ternyata melonjak-lonjak. Mahisa Agni seakan telah mendorongku dengan kemauan yang segar. Tetapi akibatnya, tubuhku hampir remuk dan lapuk”. Kawannya tidak menyahut. Orang itu pulalah yang berkata, “Hem. Apakah besok kita masih akan mengulagi lagi kerja semacam ini”. Tak ada yang menyahut. Dengan demikian maka orang itu pun berhenti berbicara.
Semetara itu malam menjadi bertambah malam. Angin yang dingin berhembus menyentuh atap-atap ilalang yang berpencaran di sudut kecil Padang Karautan yang luas itu. Disana-sini tampak berkerdipan pelita-pelita minyak dan api-api perapian yang tinggal membara.
Akhirnya perkemahan itu pun terlempar dalam kesenyapan. Orang-orang Panawijen itu pun kemudian tertidur pula dengan nyenyaknya, meskipun ada pula yang menjadi gelisah karena kelelahan. Bitung malahan kini telah menjadi agak baik. Tubuhnya masih juga kadang-kadang menjadi panas, tetapi ia sudah tidak lagi mengigau dan berteriak-teriak. Meskipun hanya sesuap, namun anak itu telah mau menelan makanan. Tetapi orang yang kakinya bengkak, masih saja merintih-rintih, juga dalam tidurnya. Serasa mimpinya pun berceritera tentang kakinya yang sakit.
Namun malam tidak juga berkepanjangan. Pada saatnya, maka membayanglah bayangan fajar. Bayangan yang memberi Mahisa Agni berbagai macam harapan. Anak muda itu terbangun seperti biasa ia bangun. Yang pertama-tama ditatapnya adalah langit yang kemerah-merahan. Di dalam hatinya ia berkata,
“Kalau kau datang, aku menyambutmu dengan gairah. Sebab kau adalah pertanda bahwa saatnya telah tiba untuk melakukan kerja”.
Sejenak kemudian seluruh perkemahan itu pun telah terbangun. Mahisa Agni dengan gembira melihat orang-orang Panawijen mempersiapkan alat-alat mereka. Seperti kemarin, Mahisa Agni melihat gairah yang besar dari orang-orang Panawijen itu. Tetapi di antara mereka, beberapa orang telah mulai mengeluh pula di dalam hatinya.
Ketika rombongan orang-orang Panawijen itu mulai berangkat ke tempat kerja masing-masing, maka di kejauhan berpacu seekor kuda yang tegar. Di punggungnya bertengger seorang yang bertubuh kasar, sekasar tebing pegunungan padas. Dengan mengumpat-umpat orang itu memacu kudanya menjauhi perkemahan orang-orang Panawijen. Meskipun kuda itu tidak ber pelana, namun agaknya penunggangnya sama sekali tidak terpengaruh olehnya.
“Kapan aku mendapat kesempatan itu lagi” gerutu penunggang kuda itu, wajahnya yang kasar menjadi semakin kasar dan keras, “Kakang Kebo Sindet hampir-hampir tidak sabar lagi menunggu” orang itu berhenti sejenak.
Ketika ia berpaling maka perkemahan orang-orang Panawijen pun sudah tidak tampak lagi. Penunggang kuda itu adalah Wong Sarimpat. Ia datang kembali ke Padang Karautan itu untuk melihat kemungkinan, apakah mereka akan mendapat kesempatan baru untuk menangkap Mahisa Agni. Tetapi agaknya kesempatan itu masih belum diketemukan oleh Wong Sarimpat. Sehingga kakaknya selalu marah saja kepadanya. Kebo Sindet menganggap bahwa kebodohannyalah yang telah menyebabkan rencana itu selalu tertunda. Bahkan Wong Sarimpat memaksa dirinya semalam merayap mendekati perkemahan itu. Namun ia masih belum melihat cara yang sebaik-baiknya untuk berbuat sesuatu. Kali ini pun ia akan datang kepada kakaknya dengan laporan yang masih akan membuat kakaknya mengumpatinya.
“Besok aku akan datang lagi,” gumamnya, “setiap kali aku akan datang. Suatu saat pasti akan aku ketemukan cara untuk menangkapnya. Bahkan aku pasti mampu menebus kegagalanku. Aku akan menangkap Mahisa Agni seorang diri. Tanpa kakang Kebo Sindet. Aku yakin, bahwa Empu Gandring suatu ketika akan terpisah dari Mahisa Agni”.
Wong Sarimpat itu pun memacu kudanya lebih cepat lagi. Ia ingin segera sampai di rumah untuk beristirahat. Baru kemarin lusa ia gagal menangkap Mahisa Agni, semalam ia sudah harus berada di Padang Karautan itu kembali. Meskipun Wong Sarimpat bukan orang yang mudah menjadi lelah, tetapi ia menjadi jemu mengintai saja di padang yang dingin itu. Lebih baik ia menyerbu saja ke perkemahan orang-orang Panawijen itu, dari pada duduk memeluk lutut sambil melihat-lihat apabila ada orang yang hilir mudik ke luar perkemahan.
Tetapi pesan kakaknya lebih menjemukan lagi baginya. Ia hanya boleh melihat kebiasaan Mahisa Agni. Bagaimana anak muda itu hidup diperkemahannya. Apakah kadang-kadang ia berjalan-jalan keluar lingkungannya atau kebiasaann-kebiasaan lain yang memungkinkan untuk mengambilnya tanpa diketahui oleh orang lain. Apabila ia melihat Mahisa Agni pergi ke Panawijen, ia harus segera berpacu pulang. Ia akan datang kembali bersama kakaknya untuk mencegah Mahisa Agni kembali ke perkemahannya.
“Itu adalah pekerjaan gila” gerutunya sambil memacu kuda di antara gerumbul-gerumbul di Padang Karautan. Perjalanan ke Kemundungan tidak lebih dekat daripada Panawijen. Namun kemudian dibantahnya sendiri, “tetapi kakang Kebo Sindet memperhitungkan bahwa Mahisa Agni pasti berbuat sesuatu yang memerlukan waktu di Panawijen”. Kuda itu pun kemudian berpacu lebih cepat.
Sementara itu, orang-orang Panawijen pun telah mulai sibuk dengan kerja masing-masing. Bahkan kali ini Empu Gandring pun turut pula berada di antara orang-orang yang sedang bekerja itu. Namun pikirnya selalu diganggu oleh gumpalan debu yang lamat-lamat sekali dapat dilihatnya pagi tadi jauh dari perkemahan.
“Debu itu seakan-akan dilemparkan oleh kaki-kaki kuda” gumamnya di dalam hati. Tetapi ia tidak sempat melihat kuda berlari meninggalkan Padang Karautan pergi ke Kemundungan.
Tanpa disengaja, maka Empu Gandring itu mencari kemanakannya. Ketika dilihatnya anak muda itu bekerja dengan sepenuh tenaga, maka kembali ia bergumam di dalam hatinya,
“Kasian anak itu. Ia menghadapi rintangan dari luar dan dari lingkungannya sendiri. Mudah-mudahan ia tabah dan bendungan ini akan dapat berwujut. Dengan demikian, maka Mahisa Agni akan mendapat kepuasan sebagai imbalan kerjanya. Hanya kepuasan itulah yang diharapkannya dalam perjuangannya. Ia akan puas melihat hari depan Panawijen telah mendapat alas yang kuat. Sedang ia sendiri sampai saat ini masih seorang diri”.
Dan hati orang tua itu pun menjadi semakin iba ketika ia melihat beberapa orang telah menjadi kendor dan segan mengangkat alat-alat di tangannya. Tetapi Mahisa Agni sendiri, yang tenggelam ke dalam kerja yang mantap, hampir-hampir tak dapat melihat keadaan itu. Anak-anak muda di sekitarnya pun bekerja dengan giatnya, hampir seperti dirinya sendiri. Meskipun demikian, namun Mahisa Agni merasakan pula, bahwa kerja hari ini sudah mulai berkurang dari pada kerja yang kemarin. Tetapi dalam tanggapan Mahisa Agni, hal itu adalah karena tenaga mereka yang memang tidak setahan dirinya sendiri.
“Baiklah Ngger” sahut Ki Buyut, “maksud Angger menurunkan brunjung-brunjung di sisi seberang?”
“Ya, “ jawab Agni sambil mengangguk.
“Baiklah. Kita akan melakukan rencana itu”.
Mahisa Agni pun kemudian berkata kepada kedua orang yang bertanya kepadanya, “kita turunkan brunjung-brunjung di sisi seberang. Sebagian dari kita mengisi brunjung-brunjung baru”.
Kedua orang itu mengangguk dan salah seorang dari mereka menjawab, “Baik. Kita akan berangkat sekarang?”
“Berangkatlah. Aku akan pergi juga sekarang” sahut Agni.
Kedua orang itu pun kemudian berjalan kembali ke dalam kelompok orang-orang Panawijen yang menunggunya dengan malas. Seakan-akan mereka tidak mau pergi dahulu sebelum Mahisa Agni pun pergi pula. Dengan demikian maka Mahisa Agni pun menjadi semakin canggung menghadapi orang-orang itu. Keadaan yang demikian tidak pernah terjadi pula sebelumnya. Mereka segera berangkat setelah mereka mengerti apa yang mereka lakukan. Tetapi kali ini mereka tampaknya menjadi sangat segan beranjak dari perkemahan itu.
“Kita pergi ke sisi seberang” terdengar salah seorang yang datang kepada Mahisa Agni berkata.
Orang-orang itu masih berdiam diri. Bahkan kemudian terdengar seseorang berteriak diantara mereka, “Apakah kau dan Ki Buyut Panawijen tidak pergi Agni?”
Dada Mahisa Agni berdesir. Bahkan darah mudanya segera menjadi panas. Tetapi ketika dilihatnya pamannya tersenyum, anak muda itu berusaha sekeras-kerasnya menahan diri.
“Tentu, “ yang menjawab adalah Empu Gandring, “bukankah kau juga akan pergi Agni”.
Mahisa Agni mengangguk kaku. Pertanyaan itu terasa menyinggung-nyinggung perasaannya. Namun bukan saja Empu Gandring tetapi juga Ki Buyut Panawijen tersenyum dan menjawab,
“Kami akan pergi juga sekarang”.
Ki Buyut itu pun segera melangkah maju diikuti oleh Mahisa Agni di belakangnya. Disampingnya berjalan pamannya. Orang-orang Panawijen pun kemudian bergerak pula dengan malasnya, dijinjingnya alat-alat mereka tanpa gairah dan nafsu, seakan-akan alat-alat itu menjadi beban yang sangat memberatinya. Tetapi tiba-tiba Mahisa Agni tertegun ketika ia mendengar suara memanggilnya. Bukan saja Mahisa Agni tetapi semua orang pun berhenti pula bersamanya.
“Agni, Agni” terdengar suara itu.
Mahisa Agni berpaling. Dilihatnya kawan Bitung berdiri di muka gubugnya. Dada Mahisa Agni berdesir. Ia lupa mengurus anak itu karena pikirannya dipenuhi oleh rencana bendungannya dan kekecewaan tentang sikap orang-orang Panawijen.
“Bagaimana dengan Bitung?” bertanya Agni dengan serta-merta.
“Ia tidak menggigil lagi. Tetapi manakah obat yang kau janjikan semalam. Sebelum kau berangkat, kau akan membuat obat buat Bitung. Kalau anak itu tidak kau obati maka sakitnya akan datang lagi”.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “ Kemarilah. Aku ajari kau membuat obat itu”.
“Aku tidak dapat”.
“Tentu dapat. Kemarilah supaya kita tidak saling berteriak”.
“Aku menunggu Bitung” sahut anak itu.
“Bukankah kau dapat meninggalkan sebentar kemari”.
“Aku tidak sempat membuat obat itu”.
Wajah Agni segera memerah. Darahnya yang telah panas, serasa menjadi semakin panas. Tetapi kembali pamannya tersenyum sambil berkata, “Adalah terlampau mudah untuk membuatnya”.
Tetapi kawan Bitung itu berteriak, “Buatlah obat itu sebentar Agni. Kemudian pergilah ke bendungan itu. Jangan kau anggap bahwa nilai anak ini kalah dengan nilai timbunan batu-batu di kali itu”.
Telinga Mahisa Agni serasa tersentuh bara. Hampir ia kehilangan kesabarannya seandainya pamannya tidak menyahut, “Nah, baiklah aku membuat obat itu”.
“Apakah kau dapat membuatnya paman?” bertanya kawan Bitung.
“Akulah yang memberitahukan obat itu kepada Mahisa Agni bukan? Aku pulalah yang mengatakan bahwa bagian-bagian tumbuhan Kates Grandel itu harus di tumbuk dan diperes airnya untuk diminum. Akulah yang mengajari Mahisa Agni membuat obat itu. Karena itu, maka aku pasti lebih cekatan untuk membuatnya. Muda-mudahan obat itu menjadi lebih mujarab”.
Orang tua itu melangkah kembali sambil tersenyum-senyum. Wajahnya sama sekali tidak berkesan sesuatu. Tetapi tiba-tiba langkahnya terhenti ketika ia mendengar salah seorang yang telah berada di dalam kelompok orang-orang Panawijen yang siap berangkat itu berteriak,
“Agni. Rawatlah dahulu anak itu”.
“Aku yang akan merawatnya” Empu Gandringlah yang menyahut.
“Itu adalah kewajiban Mahisa Agni. Setiap orang di dalam perkemahan ini adalah tanggung jawab Mahisa Agni dan Ki Buyut Panawijen. Bukan saja Bitung yang sakit panas dan dingin, tetapi beberapa orang lain menjadi sakit pula. Ada yang kakinya terluka, ada yang punggungnya terkilir”.
“Biarlah mereka beristirahat” Potong Empu Gandring.
“Tidak hanya beristirahat. Rawatlah mereka Agni. Obatilah supaya mereka sembuh. Bendungan itu tidak akan lari kau biarkan sehari dua hari tidak dijamah tangan. Bendungan itu tidak akan mati. Tetapi anak-anak itu dapat mati”.
“Ya” tiba-tiba terdengar suara yang lain, “sebaiknya hari ini kita urungkan kerja kita. Kita merawat kawan-kawan kita yang sedang sakit”.
“Pendapat yang baik” teriak yang lain, “kita belum cukup beristirahat sehari kemarin. Pegal-pegal punggungku belum sembuh”.
Tiba-tiba suara-suara itu disusul oleh sebuah ledakan gemuruh, “Kita beristirahat. Kita perpanjang istirahat kita”.
Dada Empu Gandring dan Ki Buyut Panawijen menjadi berdebar-debar. Apalagi ketika mereka berpaling memandangi wajah Mahisa Agni yang seakan-akan membara. Darahnya kini telah mendidih memanasi segenap tubuhnya. Giginya gemeretak dan matanya seakan-akan menyala.
“Inilah akibat kemalasan mereka kemarin” ia menggeram, “sehari mereka beristirahat, maka mereka segan untuk memulai pekerjaan ini kembali”.
Ki Buyut Panawijen dan Empu Gadrirg tidak menyahut. Mereka tidak dapat mengingkari kenyataan itu. Empu Gandring pun mencoba mencari jalan untuk mencegah Mahisa Agni kehilangan pengamatan diri.
Suara-suara orang-orang Panawijen itu masih juga terdengar sahut-menyahut. Bahkan beberapa orang diantara mereka kini telah menjatuhkaa diri masing-masing duduk dengan malasnya memeluk lutut sanbil berteriak,
“Kita masih perlu beristirahat. Kita terlampau lelah”.
Yang lain lagi, “Aku tidak mau mati kehabisan tenaga. Siapa yang ingin mati lemas, biarlah mereka lakukan sendiri”.
Suara-suara itu terdengar ditelinga Mahisa Agni seperti gemuruhnya Gunung runtuh. Runtuh bersama harapan-harapan yang selama ini disimpannya di dalam hati. Harapan tentang tanah garapan yang subur karena air yang meluap-luap dari bendungan itu mengalir disepanjang parit yang memanjang membelah Padang Karautan. Merubah warna padang yang kekuning-kuningan karena rerumputan yang kering menjadi hijau segar oleh batang-batang padi yang terbentang.
Tetapi tiba-tiba ia dihadapkan pada keadaan yang sangat menyakitkan hati. Orang-orang yang dibawanya bekerja untuk mewujudkan cita-cita bersama itu, tiba-tiba terganggu ditengah jalan. Mata Mahisa Agni yang menyala, memandangi orang-orang dalam kelompok yang menjadi semakin tidak keruan. Dengan sengaja mereka memperlihatkan kemalasan mereka. Ada yang duduk-duduk bahkan ada yang kemudian berbaring di bawah sinar matahari pagi.
“Gila” geram Mahisa Agni.
Tiba-tiba Mahisa Agni itu meloncat ke atas sebuah pedati di samping orang-orang Panawijen itu. Beberapa orang terkejut karenanya sehingga mereka pun berloncatan menjauh. Di belakang Mahisa Agni itu menyusul pamannya yang mecemaskan kemanakannya.
Ternyata betapapun kecewa hati Mahisa Agni, tetapi ia tidak lekas menjadi berputus asa. Meskipun ia melihat keruntuhan tekad dari orang-orang Panawijen, tetapi ia tidak menyerah tertimbun oleh reruntuhan itu. Sekali lagi kembali ia mencoba berusaha membawa orang-orang Panawijen kedalam suatu gairah kerja seperti yang diharapkannya. Ketika orang-orang Panawijen melihat Mahisa Agni berdiri tegak di atas sebuah pedati, maka teriakan-akan itu pun terdiam. Mereka melihat anak muda itu merah biru menahan gejolak perasaannya.
Ketika orang-orang itu terdiam, maka mulailah Mahisa Agni menebarkan pandangannya dari ujung kelompok itu ke ujung yang lain. Ditatapnya setiap mata orang-orang Panawijen yang diam mengawasinya. Anak-anak muda, orang-orang separo baya dan orang-orang yang telah menjadi agak tua. Setiap orang yang bertemu pandang dengan anak itu, tiba-tiba menundukkan kepalanya. Mata Mahisa Agni terlampau tajam menghunjam ke pusat jantung mereka. Sejenak kemudian terdengar suara Mahisa Agni gemetar,
“Aku sudah mendengar permintaan kalian” Mahisa Agni berhenti sejenak.
Beberapa wajah tampak menengadah, tetapi ketika terpandang oleh mereka wajah Mahisa Agni itu, maka kembali wajah-wajah itu tertunduk. Mata Mahisa Agni masih saja menyala menembus jantung mereka. Tetapi, Mahisa Agni itu pun tidak segera menemukan kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan kekecewaan hatinya. Dengan demikian maka suasana menjadi sepi lengang. Tetapi hati mereka dicengkam oleh ketegangan.
Beberapa orang Panawijen menjadi bingung menghadapi keadaan itu. Ada di antara mereka yang menjadi takut dan berdebar-debar, kalau-kalau Mahisa Agni tiba-tiba mengamuk dan membunuh mereka. Tetapi ada yang menyesal bukan karena ketakutan. Menyesali sikapnya sendiri. Mereka menjadi heran sendiri, kenapa tiba-tiba mereka, hanyut dalam suasana kemalasan. Tetapi ada pula yang mengerutu di dalam batinya, mengumpati Mahisa Agni tak habis–habisnya, namun mereka tidak berani mengucapkannya.
Sesaat kemudian, barulah terdengar suara Mahisa Agni kembali, “Apakah maksud kalian sebenarnya?”
Tak seorang pun yang berani menjawab pertanyaan itu. Tetapi berbagai-bagai tanggapan bergelora disetiap dada.
“Apakah kalian telah benar-benar jemu meneruskan pekerjaan itu?” Orang-orang Panawijen itu masih terdiam.
“Bagaimana?,” desak Mahisa Agni semakin keras. Ketika masih juga tidak ada jawaban, maka kembali Mahesa Agni berkata, “Aku ingin mendengar pendapat kalian. Mumpung kita kali ini berhadapan. Jangan mengambil sikap sendiri-sendiri. Kita datang bersama-sama dan membawa tekad bersama-sama untuk membuat bendungan itu. Karena itu, marilah kita tentukan sikap kita bersama-sama. Aku ingin mendengar, apakah kalian memang telah jemu melakukan pekerjaan ini”.
Sejenak, kembali kesepian menguasai padang itu. Yang terdengar adalah angin pagi yang silir menggerakkan dedaunan. Daun ilalang dan daun-daun gerumbul perdu di sana-sini, gemerisik seperti suara orang berbisik-bisik.
Disela-sela kesepian orang-orang Panawijen seorang berdesis perlahan-lahan, “Tidak Agni, Kami sama sekali tidak jemu melakukan pekerjaan ini. Kami hanya ingin sekedar beristirahat”.
Mahisa Agni memandangi orang yang sedang berbicara itu. Dan orang itu pun menundukkan kepalanya.
“Bagus” sahut Mahisa Agni, “kalau demikian aku masih mempunyai harapan”. Tak ada yang menyahut sepatah katapun. “Tetapi kalian telah beristirahat sehari kemarin”. Kembali orang-orang Panawijen itu terdiam. Yang terdengar adalah suara Mahisa Agni kembali, “Tak ada alasan lagi untuk memperpanjang waktu beristirahat. Bendungan kita harus segera jadi”.
Mahisa Agni melihat beberapa di antara mereka saling berpandangan. Tetapi Mahisa Agni tidak mendengar seorang pun dari mereka yang menjawab.
“Marilah” berkata Mahisa Agni, “kita berangkat bekerja”.
Meskipun tak seorang pun yang membantah, namun Mahisa Agni tidak segera melihat mereka berdiri dan dengan gairah berangkat ketempat kerja mereka. Sejenak orang-orang Panawijen itu masih saja duduk sambil saling berpandangan. Bahkan sebagian dari mereka menjadi kecewa karena istirahat hari itu yang bahkan kalau mungkin diperpanjang lagi tidak terpenuhi.
Karena itu maka sekali lagi Mahisa Agni berkata lebih keras lagi, “Apakah yang kita tunggu lagi? Apakah kalian masih akan memaksaku untuk membuat obat bagi sakit Bitung? Kalian telah mendengar, pamanku telah menyanggupinya. Sekarang apa lagi? Ayo berdirilah. Berangkatlah sekarang, selagi matahari belum tinggi, kita akan meletakkan brunjung-brunjung di sisi seberang hari ini”.
Beberapa orang pun kemudian berdiri sambil menggeliat. Alangkah berat rasanya untuk mulai lagi pekerjaan yang berat itu. Ternyata lebih senang menikmati istirahat kemarin dari pada bekerja keras di bawah terik matahari.
Mahisa Agni yang tidak telaten berteriak, “Kenapa kalian tidak segera berangkat. Apakah kalian telah benar-benar jemu he? Baik. Kalau demikian aku tidak akan memaksa”.
Kata-kata Mahisa Agni itu benar-benar menarik perhatihan mereka. Beberapa orang tertegun sambil memandangi wajah Agni yang tegang. Tetapi mereka tidak segera menangkap maksud kata-katanya. Apakah dengan demikian Mahisa Agni akan memberi mereka kesempatan untuk beristirahat lagi.
Terdengar suara Mahisa Agni pula, “Kalau kalian memang sudah jemu, marilah kita berjanji untuk menghentikan saja pekerjaan ini. Kita tidak usah berpikir apakah yang akan terjadi atas kita masing-masing. Biarlah daun-daun pepohonan di Panawijen satu-satu menguning dan gugur di tanah. Biarlah ladang dan sawah yang kering itu menjadi keras. Kita tidak menghiraukannya lagi. Apalagi aku. Aku tidak mempunyai keluarga seorang pun. Aku tidak akan bertanggung jawab terhadap anak cucu seandaianya mereka kelak hidup sengsara. Aku juga tidak berkeberatan seandainya kita pergi saja bercerai-berai.
Aku, seorang diri, akan lebih cepat menyesuaikan diriku dengan tempat yang baru dimana pun aku berada. Aku akan pergi ke Tumapel, menerima tawaran Akuwu untuk menjadi seorang Prajurit. Kalau demikian, maka aku menyesal bahwa aku dahulu tidak saja segera menerima tawaran itu karena aku lebih mementingkan bendungan ini. Nah, sekarang pilihlah. Kita pergi berpencaran mencari hidup masing-masing dengan menggantungkan belas kasian orang, atau tetap berada di Panawijen, tempat kita bermain dan dibesarkan, tetapi kita akan mati kelaparan Atau kita membuat daerah baru dengan memeras keringat kita, tetapi dengan demikian kita telah berbuat sesuatu untuk kita sendiri dan anak cucu kita”.
Mahisa Agni berhenti sejenak. Dipandanginya setiap wajah orang-orang yang berdiri di sekitarnya. Tampaklah wajah-wajah itu menjadi tegang. Ternyata bahwa kata-kata Mahisa Agni itu bergolek di dalam dada mereka. Meskipun demikian, tak seorang pun yang menjawab. Mulut-mulut mereka yang ternganga itu seakan-akan terbungkam untuk mengucapkan kata-kata.
Sejenak Mahisa Agni memberikan kata-katanya mengendap ke dasar hati orang-orang Panawijen. Dibiarkannya orang-orang Panawijen itu menyadari keadaannya. Menilik perubahan pada wajah-wajah mereka, serta sikap mereka, yang satu demi satu berdiri dan menggenggam alat-alat mereka kembali, maka timbullah harapan di dalam dada Mahisa Agni.
Dengan suara yang menggeletar ia bertanya, “Jadi apakah yang akan kita lakukan kini? Bekerja dengan nafsu seperti sediakala atau tidak sama sekali?”
Mahisa Agni melihat kebimbangan pada wajah orang-orang Panawijen itu. Maka katanya, “Aku tidak mau bekerja dengan separo hati. Hanya ada satu syarat untuk bekerja. Bekerja dengan gairah dan sepenuh hati. Mereka yang meninggalkan tugas ini karena mereka tidak kuat lagi, atau jemu atau sakit-sakitan, aku persilahkan. Hanya yang berkemauan keras sajalah yang akan dapat bekerja terus”.
Orang-orang Panawijen masih terdiam. Tetapi tangan mereka telah mulai menggenggam alat-alat mereka dengan eratnya.
“Aku ingin jawaban supaya aku tidak menjadi kecewa kembali”.
Tiba-tiba meledaklah jawaban orang-orang Panawijen itu, “Baik Agni. Kami akan bekerja kembali seperti sediakala”.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Terasa dadanya berdesir, dan seluruh permukaan kulitnya meremang. Dengan penuh harapan ia berkata, “Kalau demikian, marilah kita berangkat. Matahari belum sepenggalah. Marilah kita susul keterlambatan kita. Satu hari lebih seujung pagi”.
Mahisa Agni tidak perlu mengatakannya lagi. Orang-orang Panawijen itu pun kemudian seakan menggelepar dan berjalan ke arah masing-masing yang sudah ditentukan. Namun sebagian besar dari mereka berjalan ke bendungan untuk menurunkan brunjung-brunjung di sisi seberang. Sebagian kecil pergi ke ujung susukan yang sedang mereka kerjakan untuk menggalinya lebih panjang lagi. Keinginan orang-orang Parawijen adalah, susukan itu akan mampu membelah Padang Karautan, dan menjadikannya tanah persawahan yang subur.
Beberapa pedati pun segera berjalan untuk mengambil batu-batu yang telah dipecah untuk kemudian dimasukkannya ke dalam brunjung-brunjung bambu. Ketika kemudian Mahisa Agni berpaling dilihatnya pamannya serta Ki Buyut Panawijen tersenyum kepadanya. Tetapi didalam hati Empu Gandring berkata,
“Belum merupakan persoalan yang terakhir Agni. Tetapi mudah-mudahan kerjamu akan berhasil”.
Sehari itu Mahisa Agni melihat orang-orang Panawijen bekerja dengan nafsu yang menyala-nyala. Mereka serasa telah memeras tenaga memenuhi permintaan Mahisa Agni, menebus yang telah hilang. Kemarin dan ujung pagi ini. Matahari di langit berjalan dalam iramanya yang tetap.
Tetapi, terasa hari ini berjalan terlampau cepat bagi Mahisa Agni. Kegembiraannya melihat nafsu bekerja orang-orang Panawijen telah membuat lupa waktu. Betapa ia telah memeras segenap tenaganya melampauhi waktu yang sudah-sudah. Kekuatan tubuhnya benar-benar mengherankan. Dan kerjanya ternyata telah mempengaruhi, terutama anak-anak mudanya yang merasa malu mendengar Mahisa Agni menantangnya untuk menghentikan sama sekali pembuatan bendugan itu.
Sampai matahari turun rendah di langit Barat, maka seakan-akan kerja itu berlangsung tanpa beristirahat. Betapa terik matahari telah membakar kulit mereka, tetapi mereka sama sekali tidak melepaskan pekerjaan mereka, seperti pada saat mereka baru mulahi, satu dua hari.
Ketika malam kemudian turun menyelubungi Padang Karautan, maka orang-orang Panawijen itu telah berkerumun di dalam gubug masing-masing. Bitung kini telah dapat duduk bersama dengan beberapa kawannya meskipun wajahnya masih pucat. Pagi-pagi siang serta sore hari, Empu Gandring telah merawatnya dan memberinya obat sekadarnya.
Namun dalam pada itu, ketika orang-orang Panawijen itu mendapat kesempatan untuk beristirahat, mulailah terasa betapa tubuh tubuh mereka dijalari penat dan lelah. Betapa kaki-kaki mereka serasa menjadi hangus dan punggung-punggung mereka hampir patah.
Seorang dua orang duduk menyelujurkan kaki-kaki mereka sambil memijit-mijitnya. Orang-orang lain saling memijit punggung berganti-gantian. Mahisa Agni sendiri telah berbaring-baring dipembaringannya dengan bati yang lapang. Ia puas melibat kerja yang telah mereka lakukan hari ini. Karena itu, maka hatinya pun menjadi gembira. Dalam kegembiraan itulah, anak muda itu jatuh tertidur, meskipun malam belum begitu dalam. Tetapi kerja yang keras, angin yang silir sejuk dan hati yang puas, telah membelai dan menidurkannya terlampau cepat.
Tetapi yang terjadi digubug-gubug yang lain adalah jauh berbeda. Anak-anak muda, orang-orang separo baya dan orang-orang tua, terdengar mengeluh tak berkeputusan. Kerja hari ini ternyata agak berlebih-lebihan bagi mereka. Setelah beristirahat satu hari, mereka telah bekerja melampaui kemampuan wajar mereka. Dengan demikian maka tubuh-tubuh mereka menjadi sakit dan penat, sehingga mereka itu menjadi agak sukar untuk segera dapat menikmati mimpi.
Dalam malam yang semakin dalam itu terdengar seseorang mengeluh, “Betapa sakit lenganku. Siang tadi aku terlampau banyak mengangkat batu-batu. Batu-batu besar yang biasanya tidak terangkat, siang tadi aku angkat juga seorang diri”.
“Kenapa kau paksakan juga temanmu?”
Orang itu menggeleng, “Aku tidak tahu. Tetapi nafsuku bekerja ternyata melonjak-lonjak. Mahisa Agni seakan telah mendorongku dengan kemauan yang segar. Tetapi akibatnya, tubuhku hampir remuk dan lapuk”. Kawannya tidak menyahut. Orang itu pulalah yang berkata, “Hem. Apakah besok kita masih akan mengulagi lagi kerja semacam ini”. Tak ada yang menyahut. Dengan demikian maka orang itu pun berhenti berbicara.
Semetara itu malam menjadi bertambah malam. Angin yang dingin berhembus menyentuh atap-atap ilalang yang berpencaran di sudut kecil Padang Karautan yang luas itu. Disana-sini tampak berkerdipan pelita-pelita minyak dan api-api perapian yang tinggal membara.
Akhirnya perkemahan itu pun terlempar dalam kesenyapan. Orang-orang Panawijen itu pun kemudian tertidur pula dengan nyenyaknya, meskipun ada pula yang menjadi gelisah karena kelelahan. Bitung malahan kini telah menjadi agak baik. Tubuhnya masih juga kadang-kadang menjadi panas, tetapi ia sudah tidak lagi mengigau dan berteriak-teriak. Meskipun hanya sesuap, namun anak itu telah mau menelan makanan. Tetapi orang yang kakinya bengkak, masih saja merintih-rintih, juga dalam tidurnya. Serasa mimpinya pun berceritera tentang kakinya yang sakit.
Namun malam tidak juga berkepanjangan. Pada saatnya, maka membayanglah bayangan fajar. Bayangan yang memberi Mahisa Agni berbagai macam harapan. Anak muda itu terbangun seperti biasa ia bangun. Yang pertama-tama ditatapnya adalah langit yang kemerah-merahan. Di dalam hatinya ia berkata,
“Kalau kau datang, aku menyambutmu dengan gairah. Sebab kau adalah pertanda bahwa saatnya telah tiba untuk melakukan kerja”.
Sejenak kemudian seluruh perkemahan itu pun telah terbangun. Mahisa Agni dengan gembira melihat orang-orang Panawijen mempersiapkan alat-alat mereka. Seperti kemarin, Mahisa Agni melihat gairah yang besar dari orang-orang Panawijen itu. Tetapi di antara mereka, beberapa orang telah mulai mengeluh pula di dalam hatinya.
Ketika rombongan orang-orang Panawijen itu mulai berangkat ke tempat kerja masing-masing, maka di kejauhan berpacu seekor kuda yang tegar. Di punggungnya bertengger seorang yang bertubuh kasar, sekasar tebing pegunungan padas. Dengan mengumpat-umpat orang itu memacu kudanya menjauhi perkemahan orang-orang Panawijen. Meskipun kuda itu tidak ber pelana, namun agaknya penunggangnya sama sekali tidak terpengaruh olehnya.
“Kapan aku mendapat kesempatan itu lagi” gerutu penunggang kuda itu, wajahnya yang kasar menjadi semakin kasar dan keras, “Kakang Kebo Sindet hampir-hampir tidak sabar lagi menunggu” orang itu berhenti sejenak.
Ketika ia berpaling maka perkemahan orang-orang Panawijen pun sudah tidak tampak lagi. Penunggang kuda itu adalah Wong Sarimpat. Ia datang kembali ke Padang Karautan itu untuk melihat kemungkinan, apakah mereka akan mendapat kesempatan baru untuk menangkap Mahisa Agni. Tetapi agaknya kesempatan itu masih belum diketemukan oleh Wong Sarimpat. Sehingga kakaknya selalu marah saja kepadanya. Kebo Sindet menganggap bahwa kebodohannyalah yang telah menyebabkan rencana itu selalu tertunda. Bahkan Wong Sarimpat memaksa dirinya semalam merayap mendekati perkemahan itu. Namun ia masih belum melihat cara yang sebaik-baiknya untuk berbuat sesuatu. Kali ini pun ia akan datang kepada kakaknya dengan laporan yang masih akan membuat kakaknya mengumpatinya.
“Besok aku akan datang lagi,” gumamnya, “setiap kali aku akan datang. Suatu saat pasti akan aku ketemukan cara untuk menangkapnya. Bahkan aku pasti mampu menebus kegagalanku. Aku akan menangkap Mahisa Agni seorang diri. Tanpa kakang Kebo Sindet. Aku yakin, bahwa Empu Gandring suatu ketika akan terpisah dari Mahisa Agni”.
Wong Sarimpat itu pun memacu kudanya lebih cepat lagi. Ia ingin segera sampai di rumah untuk beristirahat. Baru kemarin lusa ia gagal menangkap Mahisa Agni, semalam ia sudah harus berada di Padang Karautan itu kembali. Meskipun Wong Sarimpat bukan orang yang mudah menjadi lelah, tetapi ia menjadi jemu mengintai saja di padang yang dingin itu. Lebih baik ia menyerbu saja ke perkemahan orang-orang Panawijen itu, dari pada duduk memeluk lutut sambil melihat-lihat apabila ada orang yang hilir mudik ke luar perkemahan.
Tetapi pesan kakaknya lebih menjemukan lagi baginya. Ia hanya boleh melihat kebiasaan Mahisa Agni. Bagaimana anak muda itu hidup diperkemahannya. Apakah kadang-kadang ia berjalan-jalan keluar lingkungannya atau kebiasaann-kebiasaan lain yang memungkinkan untuk mengambilnya tanpa diketahui oleh orang lain. Apabila ia melihat Mahisa Agni pergi ke Panawijen, ia harus segera berpacu pulang. Ia akan datang kembali bersama kakaknya untuk mencegah Mahisa Agni kembali ke perkemahannya.
“Itu adalah pekerjaan gila” gerutunya sambil memacu kuda di antara gerumbul-gerumbul di Padang Karautan. Perjalanan ke Kemundungan tidak lebih dekat daripada Panawijen. Namun kemudian dibantahnya sendiri, “tetapi kakang Kebo Sindet memperhitungkan bahwa Mahisa Agni pasti berbuat sesuatu yang memerlukan waktu di Panawijen”. Kuda itu pun kemudian berpacu lebih cepat.
Sementara itu, orang-orang Panawijen pun telah mulai sibuk dengan kerja masing-masing. Bahkan kali ini Empu Gandring pun turut pula berada di antara orang-orang yang sedang bekerja itu. Namun pikirnya selalu diganggu oleh gumpalan debu yang lamat-lamat sekali dapat dilihatnya pagi tadi jauh dari perkemahan.
“Debu itu seakan-akan dilemparkan oleh kaki-kaki kuda” gumamnya di dalam hati. Tetapi ia tidak sempat melihat kuda berlari meninggalkan Padang Karautan pergi ke Kemundungan.
Tanpa disengaja, maka Empu Gandring itu mencari kemanakannya. Ketika dilihatnya anak muda itu bekerja dengan sepenuh tenaga, maka kembali ia bergumam di dalam hatinya,
“Kasian anak itu. Ia menghadapi rintangan dari luar dan dari lingkungannya sendiri. Mudah-mudahan ia tabah dan bendungan ini akan dapat berwujut. Dengan demikian, maka Mahisa Agni akan mendapat kepuasan sebagai imbalan kerjanya. Hanya kepuasan itulah yang diharapkannya dalam perjuangannya. Ia akan puas melihat hari depan Panawijen telah mendapat alas yang kuat. Sedang ia sendiri sampai saat ini masih seorang diri”.
Dan hati orang tua itu pun menjadi semakin iba ketika ia melihat beberapa orang telah menjadi kendor dan segan mengangkat alat-alat di tangannya. Tetapi Mahisa Agni sendiri, yang tenggelam ke dalam kerja yang mantap, hampir-hampir tak dapat melihat keadaan itu. Anak-anak muda di sekitarnya pun bekerja dengan giatnya, hampir seperti dirinya sendiri. Meskipun demikian, namun Mahisa Agni merasakan pula, bahwa kerja hari ini sudah mulai berkurang dari pada kerja yang kemarin. Tetapi dalam tanggapan Mahisa Agni, hal itu adalah karena tenaga mereka yang memang tidak setahan dirinya sendiri.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar