Hari itu Mahisa Agni masih dapat tersenyum. Ketika matahari kemudian turun ke Barat, maka orang-orang Panawijen itu pun segera meninggalkan kerja mereka. Mahisa Agni memandangi iring-iringan itu dengan hati yang mantap. Bahkan ia begumam,
“Kalau mereka tetap bekerja seperti ini, maka aku yakin, orang-orang Panawijen akan segera dapat menikmati basil kerjanya”.
Mahisa Agni itu berpaling ketika ia mendengar pamannya berkata di sampingnya, “Marilah, kita pulang Agni”.
“Oh” desis Agni, “Marilah paman”.
Mereka berdua pun kemudian berjalan membelakangi iring-iringan orang Panawijen yang dengan lelah kembali ke perkemahannya. Tetapi hari-hari berikutnya, Mahisa Agni tidak lagi melihat gairah kerja yang membesarkan hatinya itu. Ia tidak lagi tersenyum di dalam tidurnya. Kerja orang-orang Panawijen itu pun mulai mengendor lagi. Bahkan beberapa orang kemudian berkata kepadanya,
“Besok aku tidak dapat ikut serta Agni. Punggungku sakit”. Yang lain berkata, “Kakiku hampir patah Agni. Kelak apabila sudah sembuh aku akan bekerja kembali”. Dan yang lain lagi berkata, “Kepalaku pening Agni. Ternyata aku tidak tahan terik matahari yang memanasi rambutku, sehingga setiap kali kepalaku menjadi sakit seperti ditusuk-tusuk di pelipisku”.
Alangkah kecewanya anak muda itu. Hampir-hampir ia kehilangan kesabaran. Tetapi pamannya selalu menasehatinya. Kerja itu harus didasari oleh kerelaan hati. Kerja itu bukan kerja paksa. Karena itu maka pekerjaan Mahisa Agni adalah memberi mereka kesadaran untuk bekerja, bukan memaksa mereka dengan mengancam dan menakuti.
Mahisa Agni mengerti nasehat itu. Tetapi ia sudah kehabisan cara untuk memberi pengertian yang wajar kepada orang Panawijen itu. Bahkan satu dua orang di antara mereka telah mulai lagi mengumpati Empu Purwa yang merusak bendungan lama di Panawijen. Meskipun bendungan itu di buatnya sendiri, tetapi bendungan itu kemudian telah menjadi milik rakyat Panawijen, bendungan itu telah menjadi sumber penghidupan mereka.
“Apakah kita cukup dengan menyesali pecahnya bendungan yang lama” suatu ketika Mahisa Agni mencoba memberi penjelasan, “dengan menyesal dan mengumpat kita tidak akan mendapat bendungan yang baru”.
Tetapi hatinya menjadi pedih ketika ia mendengar seorang bertanya, “Kapan kita berhenti bekerja Agni?”
“Tidak ada batas yang dapat kita lampaui. Selama kita masih merasa bahwa kita bertanggung jawab terhadap keadaan kita sendiri, keadaan masyarakat kita dan anak cucu kita di masa yang akan datang. Kerja adalah isi dari hidup kita. Karena itu kerja akan berlangsung sepanjang umur kita masing-masing”.
Hati Mahisa Agni itu menjadi semakin pedih ketika ia mendengar jawaban, “Tetapi aku sudah jemu Agni. Aku sudah jemu berjemur di terik matahari, sedang apabila malam dilanda oleh udara dingin di padang yang sepi ini. Aku ingin segera berada kembali di antara keluargaku. Isteriku dan anak-anakku.
“Apakah kau cukup berada saja di dekat isteri dan anak-anakmu tanpa suatu kepastian buat masa datang? Buat anak-anakmu itu? Apakah kau pasti bahwa anak-anakmu itu akan dapat makan dari tanah yang kering di Panawijen?”
Orang itu terdiam. Tetapi wajahnya sama sekali tidak membayangkan pengertiannya akan kata-kata Mahisa Agni, sehingga Mahisa Agni berkata terus, “Tidak saudaraku-saudaraku. Tanah yang kering itu tidak akan dapat memberi kita harapan”.
“Tetapi bendungan ini pun akan merusak tubuh kita”.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam untuk menahan perasaannya. Katanya, “Itu terlampau berlebih-lebihan kerja pasti mengeluarkan tenaga. Mungkin satu dua di antara kita tidak tahan melawan udara yang panas dan dingin. Tetapi sebagian besar dari kita harus mampu mengatasinya”.
Dada Mahisa Agni bergelora ketika ia melihat beberapa kepala menggeleng lemah. Mahisa Agni masih mencoba mengulangi kata-katanya yang beberapa saat yang lampau dapat membangkitkan gairah kerja kembali. Katanya,
“Kerja ini adalah kerja kalian. Aku adalah seorang di sini. Kalau kerja ini terhenti, aku pun tidak akan mengalami kesulitan apa-apa. Aku akan dengan mudahnya dapat mencari penghidupan di Tumapel. Tetapi bagaimana dengan kalian? Apalagi yang mempunyai keluarga yang besar”.
Jawaban yang didengar oleh Mahisa Agni kali ini berbeda dengan jawaban yang terdahulu. Bahkan jawaban itu seakan-akan telah menghentikan arus darah di urat-urat nadi anak muda itu,
“Agni, jangan kau merasa dirimu jauh lebih baik daripada kami. Meski pun kami tidak mampu berkelahi tidak mampu menjadi prajurit, tetapi segi kehidupan seseorang bukanlah hanya berkelahi saja. Aku pun akan dapat mencari penghidupan di tempat-tempat lain. Mungkin menjadi undagi, mungkin menjadi pekatik atau bertani di tempat-tempat baru yang sudah terbuka”.
“Oh,” tanpa disengaja Mahisa Agni tiba-tiba memegangi kepalanya dengan kedua tangannya, seakan-akan kepalanya itu akan terlepas dari lehernya.
Dadanya yang bergelora terasa menjadi sesak, dan dengan demikian Mahisa Agni justru terbungkam. Ia tidak mampu lagi berkata apapun kepada orang-orang Panawijen itu. Ketika orang-orang itu kemudian satu-satu meninggalkannya, maka Mahisa Agni seakan-akan sama sekali tidak lagi mampu mengucapkan kata-kata. Yang didengarnya kemudian adalah,
“Sudahlah Agni. Lepaskanlah keinginanmu membuat bendungan itu dengan mengumpankan kami. Biarkanlah kami mencari jalan sendiri-sendiri”.
Kepala Mahisa Agni menjadi pening karenanya. Sama sekali tidak disangkanya bahwa ada di antara orang-orang Panawijen yang menganggap bahwa apa yang dilakukannya itu adalah suatu perbuatan yang sangat merugikan orang-orang lain di Panawijen. Bahkan ada orang yang merasa dirinya menjadi alat untuk kepentingan Mahisa Agni.
Hati anak muda itu menggelegak. Berdesak-desakan kata-kata di dalam hatinya untuk membantah anggapan itu. Ingin ia berteriak, tetapi mulutnya seakan-akan terbungkam. Seribu kali ia menjelaskan apa yang sedang dilakukannya kini. Setiap kali orang-orang Panawijen itu pada saat-saat yang lampau menjadi gairah kembali atas kerja mereka apabila mereka mendengar keterangan Mahisa Agni tentang bendungan itu. Tetapi kali ini kata-katanya sama sekali tidak berarti bagi mereka, bahkan mereka menganggap, seakan-akan umpan saja untuk kesenangannya.
“Tidak. Aku sama sekali tidak bekerja untuk kemasyuran namaku. Aku tidak ingin di atas bendungan ini kelak dipahatkan namaku. Mahisa Agni. Tidak. Aku membuat bendungan bersama dengan kalian karena aku ingin melihat kalian mendapat sesuatu. Kalian tidak akan kehilangan lingkungan kehidupan. Aku bekerja bukan untuk kepentinganku sendiri”. Tetapi kata-kata itu hanya bergumul saja di dalam dadanya. Sihingga dengan demikian nafasnya justru menjadi semakin sesak. Sekali-kali terdengar Mahisa Agni, “Inikah tanggapan orang-orang Panawijen atas jerih payahku” katanya di dalam hati.
Ketika Mahisa Agni kemudian mengangkat wajahnya, dilihatnya udara telah disaput oleh malam yang turun perlahan-lahan. Bintang-bintang berhamburan memencar dari ujung ke ujung langit yang lain. Gemerlapan. Tetapi hati Mahisa Agni sendiri kini menjadi betapa suramnya. Ditatapnya padang yang luas terbentang dihadapannya, seakan-akan tidak bertepi, menjorok masuk ke dalam kegelapan malam di kejauhan. Kini ia duduk seorang diri di sisi perkemahannya. Orang-orang Panawijen telah masuk ke dalam gubug masing-masing. Satu dua dilihatnya anak-anak muda duduk di sekitar perapian yang menyala.
Perlahan-lahan Mahisa Agni bangkit. Dengan langkah yang berat ia berjalan ke gubugnya. Perasaannya dibebani oleh ke pedihan hati dan hampir keputus-asaan. Ia tidak tahu lagi, bagaimana ia harus berkata untuk meyakinkan maksudnya yang baik justru untuk kepentingan orang-orang Panawijen itu sendiri.
Dari celah-celah dinding anyaman bambu yang jarang ia melihat beberapa telah berbaring di dalam gubugnya. Tetapi tiba-tiba langkah Mahisa Agni tertegun ketika ia melihat beberapa orang membenahi bungkusan. Dengan serta merta Mahisa Agni berbelok masuk ke dalamnya. Orang-orang itu pun terkejut. Tetapi sejenak kemudian mereka seakan-akan menjadi acuh tidak acuh. Diteruskannya kerjanja berbenah-benah. Ketika Mahisa Agni melihat apa yang sedang dibenahi itu, hatinya berdesir-desir. Tanpa disadarinya terloncat kata-kata dari bibirnya,
“Apakah artinya ini?”
Orang itu berpaling. Hanya sejenak. Kembali mereka menjadi acuh tak acuh. Meski pun demikian salah seorang dari mereka menjawab, “Aku membenahi pakaian Agni”
“Kenapa?, “ bertanya Agni.
“Aku besok akan kembali ke Panawijen”.
Darah Mahisa Agni serasa membeku mendengar jawaban itu. Sejenak ia diam mematung. Ditatapnya saja orang itu membungkus beberapa potong pakaiannya dan beberapa macam peralatan kecil. Di sudut gubug itu Mahisa Agni melihat seikat alat-alat yang lebih besar. Cangkul, kelewang pemotong kayu dan sebuah kapak.
Baru sejenak kemudian ia mampu bertanya, “Kenapa kalian akan kembali ke Panawijen?”
“Aku sudah jemu berjemur diterik matahari. Beberapa orang menjadi sakit. Ada yang bengkak kakinya, ada yang sakit panas dingin, ada yang punggungnya patah. Mungkin kau tidak melihatnya Agni”.
“Bukankah Bitung telah sembuh?” bertanya Agni.
“Ya, Bitung telah sembuh. Tetapi ada tiga anak yang sakit seperti gejala-gejala sakit Bitung ketika baru mulai”.
“Oh. Aku memang belum tahu. Kenapa tidak ada yang mcmberitahukannya kepadaku? Paman telah menanam beberapa batang Kates Grandel di sini. Mungkin satu dua dapat diambil untuk mengobatinya”.
Orang itu menggeleng, “Tidak banyak manfaatnya. Kalau ketiganya nanti sembuh, maka yang sepuluh akan menderita sakit serupa. Karena itu sebelum aku menderita pula seperti mereka lebih baik aku kembali ke Panawijen. Apabila benar-benar menjadi kering, aku akan mengungsi ke tempat lain. Mungkin aku dapat mencari kemanakanku ke Gangsa atau mencari pamanku ke Sambitan”.
“Apa yang kalian lakukan akan mempunyai pengaruh yang sangat jelek bagi orang-orang lain”.
Orang itu mengangkat bahunya. Sejenak mereka saling berpandangan. Kemudian salah seorang dari mereka menjawab, “Terserah kepada mereka masing-masing Agni. Karena itu nasehatku kepadamu Ngger, tinggalkan saja keinginanmu untuk membangun bendungan ini. Memang, kelak namamu akan tetap dikenal oleh anak cucu apabila bendunganmu berwujud tetapi jangan membiarkan korban terlampau banyak untuk kepentingan itu”.
Sekali lagi dada Mahesa Agni serasa terhantam reruntuhan Gunung Kawi. Hampir-hampir ia kehilangan kesabaran. Bahkan hampir-hampir ia berbuat sesuatu untuk melepaskan kemarahannya. Tetapi tiba-tiba ia tertegun ketika terdengar suara di luar gubug itu,
“Ya, Agni berada di dalam”.
Mahisa Agni berpaling. Dilihatnya seorang anak muda yang pucat berdiri di muka pintu. Ketika dilihatnya Mahisa Agni, maka katanya, “Agni, aku memerlukan kau”.
“Kenapa?”
“Wajahku menjadi panas, tetapi tubuhku terasa dingin”.
Orang-orang yang sedang berbenah itu menyahut, “Itu adalah gejala-gejala seperti penyakit Bitung”.
Wajah yang pucat itu menjadi semakin pucat. Selangkah ia maju masuk ke dalam gubug. Dengan suara gemetar ia berkata, “Apakah aku akan sakit seperti Bitung?”
Yang menjawab adalah salah seorang yang berada di dalam gubug dan sedang membenahi pakaiannya, “Ya, kau akan sakit seperti Bitung. Bukan hanya kau, telah ada tiga orang lagi yang akan sakit seperti kau”.
Anak muda itu menjadi semakin cemas. Tiba-tiba ia berkata, “Agni, aku takut”.
Dada Mahisa Agni yang bergelora itu menjadi kian bergolak. Dengan suara bergetar ia bertanya, “Kenapa kau takut?”
“Aku tidak mau sakit”.
“Kami telah menyimpan obatnya. Bukankah Bitung kini telah berangsur sembuh?”
Anak muda itu terdiam sesaat. Tetapi kemudian ia berkata, “Tetapi siapakah yang akan mengurus aku selama aku sakit?”
Selagi kau belum sakit, besok aku akan membuat obat untukmu. Aku masih ada persediaan obat itu, bahkan telah ditanam pula beberapa batang oleh paman Empu Gandring di sini, dan kini telah mulai tumbuh subur.
“Tetapi aku takut Agni. Kalau aku sakit, aku akan kembali kepada ibuku”.
“He” Mahisa Agni menahan nafasnya, “kau masih juga biyung-biyungan”.
Anak itu terdiam. Tetapi yang menjawab adalah orang lain yang sejak semula telah berada di tempat itu, “Biarlah ia kembali ke ibunya Agni”. Kepada anak muda itu ia berkata, “Benahilah pakaianmu. Besok kembali bersama aku ke Panawijen”.
“Apakah paman akan kembali ke Panawijen?”
“Ya, besok aku akan kembali”.
“Baik, baik paman” wajah anak muda yang pucat itu tiba-tiba menjadi cerah. Tanpa kerkata sepatah kata pun lagi ia berlari meninggalkan gubug itu.
Mahisa Agni hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Perasaannya bergejolak semakin dahsyat, tetapi ia tidak dapat berbuat sesuatu. Karena itu, maka dadanya sendirilah yang terasa menjadi pepat.
“Maafkan kami Agni” terdengar salah seorang itu berkata, “Aku tidak dapat mengikuti jalan pikiranmu. Bendungan itu bagi kami hanyalah tinggal suatu mimpi yang mengagumkan.”
“Tidak” terdengar suara Mahisa Agni bergetar, “aku akan mewujudkan bendungan itu. Kalian akan melihat kelak tanah ini menjadi subur. Tanam-tanaman akan menjadi hijau segar seperti beberapa batang Kates Grandel yang ditanam oleh paman Empu Gandring. Baru beberapa hari saja, pohon karena itu telah menjadi tiga kali lipat tingginya dari pada alat batang itu ditancapkan di tanah”.
Orang itu itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Mudah-mudahan Agni. Tetapi aku tidak akan turut serta”.
Wajah Mahisa Agni menjadi merah karena perasaan yang bercampur baur di dalam dadanya. Tanpa sesadarnya tiba-tiba ia berkata, “Terserah kepada kalian. Kami di sini tidak tergantung kepada satu dua tiga orang yang sama sekali tidak mempunyai tanggung jawab buat masa mendatang. Pergilah kalau kalian akan pergi. Orang-orang semacam kalian pasti hanya akan memperlambat pekerjaan dan mengendorkan nafsu bekerja”.
“Agni” potong orang-orang itu, dan salah seorang di antara mereka meneruskan, “kata-kata itu terlampau kasar buat kami”.
“Hatiku terlampau sakit melihat sikap kalian dan alasan kalian yang tidak masuk akal bagiku”.
Orang-orang itu tidak menjawab lagi. Tetapi mereka kini membenahi pakaian mereka dengan tergesa-gesa, “Aku akan segera pergi”.
“Pergilah. Mudah-mudahan Hantu Karautan menyadap darahmu” desis Mahisa Agni hampir-hampir tidak dapat mengendalikan diri.
Tiba-tiba orang-orang itu menjadi pucat. Mereka takut mendengar Agni menyebut Hantu Karautan, sejenak mereka saling berpandangan. Kemudian berkatalah salah seorang dari mereka,
“Kami akan pergi pagi-pagi besok”.
“Kalian akan kemalaman di jalan”.
“Terpaksa kami akan membawa kuda-kuda kami, seekor buat dua orang”.
“He” kembali Mahisa Agni terkejut. Kuda yang ada di padang itu di antaranya memang milik orang-orang itu. Dua di antara mereka. Tetapi apa boleh buat. Dengan lemahnya Agni berkata, “Bawalah. Kau sangka hantu Karautan tidak dapat mengejarmu lebih cepat dari lari seekor kuda. Dan kudamu akan mati kelelahan”.
Tetapi Mahisa Agni tidak mau mendengar jawaban mereka lagi supaya hatinya tidak bertambah panas. Segera ia melangkah meninggalkan gubug itu. Hatinya menjadi kian risau dan gelisah. Pasti bukan hanya orang-orang itulah yang berperasaan demikian. Apabila seorang mulai dengan yang meyakinkan hatinya itu, maka orang-orang lain pasti akan mengikutinya.
Langkah Mahisa Agni tersendat-sendat di antara gubug-gubug yang berserakan. Tetapi tiba-tiba ia mereka takut untuk melihat keadaan di dalam gubug-gubug itu. Takut bahwa ia akan melihat orang-orang yang lain berbenah lagi seperti yang baru saja dilihatnya. Atau orang-orang yang sedang terkena penyakit seperti sakit Bitung. Atau yang kakinya bengkak dan punggungnya terkilir. Tiba-tiba Mahisa mempercepat langkahnya. Tanpa dikehendakinya sendiri ia berjalan cepat-cepat meninggalkan perkemahannya, masuk kedalam gelapnya malam.
Anak muda itu sadar, ketika ia sudah berdiri di sisi bendungan yang sedang dikerjakannya. Dengan hati yang pedih ia berjalan menyelusuri brunjung-brunjung yang sudah dan belum terisi batu. Disentuh-sentuhnya benda itu dengan tangannya seperti ia sedang membelai anak-anak kesayangannya. Di sana-sini, teronggok patok-patok bambu yang sudah siap diruncingkan. Besok benda-benda itu akan diturunkan ke kali. Tetapi, siapakah yang akan melakukannya, apabila orang-orang Panawijen itu satu-satu meninggalkannya? Apakah ia sendiri, bersama Ki Buyut dan Empu Gandring mampu melakukanya?
Alangkah gelisahnya hati Mahisa Agni. Terbayang di dalam angan-angannya, benda-benda itu akan terbengkelai. Brunjung-brunjung dan segala macam perlengkapan. Semuanya itu akan teronggok untuk seterusnya. Tak akan ada lagi tangan yang menyentuhnya. Tak ada lagi yang menaruh perhatian atasnya. Kalau kelak beberapa tahun lagi ia sempat datang ke tempat itu pula. Sama sekali tidak berubah seperti saat ditinggalkannya. Hanya apabila kerangka-kerangka bambu itu menyadi lapuk, batu-batu itu pun akan berserakan di sekitarnya, untuk seterusnya tergolek saja disitu. Bertahun-tahun, bahkan berpuluh-puluh tahun.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan ia meletakkan tubuhnya duduk di atas sebuah brunjung yang sudah berada di sisi dasar bendungan. Dari tempat duduknya Mahisa Agni dapat melihat air yang mengalir hampir dibawah kakinya. Air itu sebenarnya sudah tampak naik dan tergenang beberapa cengkang dari dasarnya.
“Apakah pekerjaan ini akan terhenti?” gumamnya seorang diri.
Ia akan dapat membayangkan, seandainya satu dua orang saja yang meninggalkan kerja itu, maka sehari dua hari lagi, hal itu pasti akan menjalar kepada orang-orang lain. Mereka pun akan segera meninggalkan padang ini, untuk seterusnya berpencaran mencari tempat-tempat baru di padukuhan-padukuhan yang telah terbuka. Mungkin sekedar menjadi pekerja, atau pencari kayu, atau pekerjaan-pekerjaan lain yang dapat mereka lakukan, sekedar untuk mendapatkan upah.
“Kenapa mereka tidak mempertahankan harga diri meskipun pada permulaannya semuanya dilakukan dengan prihatin” gumamnya seorang diri, “Meskipun kini mereka harus membanting tulang, tetapi mereka tidak perlu mencari belas kasian orang lain. Mereka kelak akan menikmati hasil tangan sendiri”.
Tetapi orang-orang Panawijen berpendirian lain. Mereka tidak setabah Mahisa Agni menghadapi kesulitan. Setelah berpuluh tahun mereka hidup dengan senang, setiap cengkang tanah memberi mereka makan, setiap dahan yang ditancapkan akan berbuah, maka mereka benar-benar menjadi pekerja-pekerja yang kurang baik. Dengan hati yang risau Mahisa Agni duduk tepekur. Dipandanginya arus sungai yang gemericik membawakan lagu yang rawan, seperti lagu yang bergema didalam hati Mahisa Agni itu sendiri.
Dalam pada itu Mahisa Agni sama sekali tidak merasakan, bahwa sepasang mata selalu saja memperhatikannya. Jarak mereka memang belum terlampau dekat. Tetapi ketajaman mata itu dapat melihat bahwa seseorang duduk termenung di sisi bendungan yang sedang dibangun.
“Pasti Mahisa Agni” gumam orang itu, “tak ada orang lain yang berani keluar seorang diri dari perkemahannya”. Orang itu berwajah beku seperti wajah sosok mayat.
Kebo Sindet. Selama ini ia tidak sabar lagi menunggu adiknya setiap kali kembali dengan laporan yang sama. Belum ada kesempatan. Karena itu, maka kini ia ingin melihat sendiri, apakah yang dikatakan adiknya itu benar. Karena itu, ketika dilihatnya seorang anak muda duduk saorang diri disisi bendungan yang sedang dikerjakan itu, Kebo Sindet mengumpat didalam hatinya,
“Wong Sarimpat benar-benar anak yang malas. Mungkin ia tidak telaten menunggu kesempatan-kesempatan seperti ini. Bukankah mudah sekali untuk menerkamnya, memijit tengkuknya dan membawanya ke Kemundungan?” tetapi kemudian dijawabnya sendiri, “Ah, agaknya pesanku yang telah mengekangnya. Aku mengharap ia tidak berbuat sendiri, supaya tidak mengalami kegagalan seperti yang pernah terjadi. Tetapi orang itu benar-benar bodoh. Sebenarnya ia dapat mempergunakan kebijaksanaan. Kesempatan serupa ini tidak boleh lewat”.
Kebo Sindet tersenyum di dalam hati. Namun wajahnya yang beku masih saja membeku. Dikepalanya telah berputar berbagai rencana dengan anak muda yang bernama Mahisa Agni itu. Dari Kuda Sempana ia akan menerima hadiah yang cukup. Seterusnya ia akan dapat melontarkan kesalahan kepada Empu Sada. Kebo Sindet itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tiba-tiba ia mengumpat perlahan-lahan,
“Wong Sarimpat benar-benar bodoh. Empu Gandring pasti akan memperhitungkannya pula, apabila Mahisa Agni hilang”.
Orang yang berwajah beku itu tertegun sejenak. Namun katanya di dalam hati, “Hem, kami harus mengakui lebih dahulu, bahwa kami mendapat permintaan dan kemudian bekerja bersama dengan Empu Sada. Seterusnya, aku dapat mengatakan kepada permaisuri itu, bahwa kami terpaksa membunuh Empu Sada, karena ternyata maksudnya terlampau jahat. Sedang anak muda yang bernama Mahisa Agni ternyata tidak bersalah, apalagi ia adalah adik tuan puteri Ken Dedes. Dan kami akan merebut Mahisa Agni. Namun sayang, anak muda itu telah menjadi cacat karena perlakuan Empu Sada dan Kuda Sempana. Buta, tuli dan bisu” Kebo Sindet mengangguk-anggukkan kepalanya,
“Meskipun Mahisa Agni telah cacat, namun adiknya yang terlampau mengasihinya dan kini menjadi seorang permaisuri itu pasti akan memberi kami hadiah. Apalagi kalau kami sempat menyerahkan Kuda Sempana pula. Mungkin Kuda Sempana harus menjadi bisu pula supaya tidak dapat mengatakan apapun lagi. Tetapi seandainya tidak, maka kata-katanya pasti tidak akan dipercaya, sebab selama ini Kuda Sempana lah yang selalu mengejar-ngejar Mahisa Agni”. Namun Kebo Sindet itu berguman, “Tentu saja tidak terlampau sederhana seperti itu, tetapi gambaran yang demikian bukan berarti terlampau jauh”.
Kembali Kebo Sindet memandangi bayangan yang duduk termenung itu. Perlahan-lahan ia merayapi tebing supaya Mahisa Agni tidak melihatnya. Ia akan muncul dengan tiba-tiba dan menerkamnya, langsung menekan urat-urat lehernya dan membuat anak itu pingsan. Tetapi Kebo Sindet itu terkejut. Agak jauh ia mendengar suara batuk-batuk. Tetapi semakin lama semakin dekat. Dan ia mengumpat habis-habisan di dalam hatinya ketika ia mendengar anak muda itu menyapa,
“Siapa?”
Bayangan yang mendatang itu tidak segera menjawab. Perlahan-lahan ia melangkah semakin dekat. Kebo Sindet yang bersembunyi di sisi tebing di balik rumpun-rumpun perdu segera melihat pula bayangan itu. Remang-remang di dalam gelap malam berjalan mendekati Mahisa Agni.
“Siapa?,” sekali lagi Mahisa Agni menyapanya.
Tiba-tiba ia menyadari, bahwa bahaya masih saja selalu mengerumuninya. Karena itu maka segera ia berdiri tegak dan siap menghadapi setiap kemungkinan. Tetapi jawaban yang didengarnya telah mengendorkan ketegangan uratnya,
“Aku Agni”.
Namun Kebo Sindetlah yang kemudian menjadi tegang ketika ia mendengar Agni menyahut, “Paman Empu Gandring?”
“Ya Agni”.
Mahisa Agni pun kemudian duduk kembali di atas brunjung-brunjung yang sudah penuh berdiri batu, sedang pamannya duduk pula disampingnya. Tetapi mereka sama sekali tidak menyadari bahwa sepasang mata sedang mengintai mereka.
Alangkah kecewanya Kebo Sindet melihat kehadiran Empu Gandring. Kembali ia mengumpat-umpat di dalam hatinya., “Setan belang. Apakah yang dicarinya setan tua itu?” Namun tiba-tiba timbullah pertanyaan di dalam hatinya, “Apakah orang itu mengetahui bahwa aku berada disini?”
Kebo Sindet mengatupkan giginya rapat, tetapi sorot matanya seakan-akan memancarkan api kemarahannya., “Hem,” ia menggeram di dalam hati, “Ternyata benar juga kata Wong Sarimpat. Orang tua itu seolah-olah tidak pernah terpisah dari kemanakannya. Tetapi ini akibat dari kelalaian Wong Sarimpat pula, sehingga Empu Gandring menjadi semakin berhati-hati. Setiap kali ia tidak melihat kemanakannya, maka pasti ia akan mencarinya.
Terasa dada orang itu bergelora, meskipun wajahnya masih saja membeku. Namun Kebo Sindet ternyata lebih mampu mengendalikan perasaannya dari pada adiknya. Seandainya yang ada di tebing itu Wong Sarimpat, maka pasti ia akan melepaskan kemarahannya. Mungkin ia akan melompat meskipun ia ia tahu bahwa itu tidak akan ada gunanya.
Tetapi Kebo Sindet tidak berbuat demikian. Perlahan-lahan ia malangkah surut semua tindakannya atas anak muda itu saat ini pasti tidak akan berhasil. Karena itu, lebih baik menyingkir untuk sementara sampai di saat lain ada kesempatan yang terbuka.
“Aku harus bersabar” katanya di dalam hati, “aku harus menunggu keduanya menjadi lengah sehingga mereka melupakan bahaya yang dapat mengancam anak muda itu”.
Empu Gandring dan Mahisa Agni sama sekali tidak tahu bahwa seseorang sedang meninggalkan tepian itu sambil mengumpat-umpat tak putus-putusnya. Mereka tidak menyadari bahwa hampir-hampir saja Mahisa Agni diterkam oleh bahaya yang selalu membayanginya. Seperti semula ia tidak tahu, bahwa orang-orang Panawijen sendirilah yang akan menggagalkan rencana pembuatan bendungan itu.
Ternyata Kebo Sindet cukup berhati-hati, sehingga ia tidak menimbulkan kegaduhan. Kudanya yang ditambatkannya agak jauh, tidak segera dipacunya. Tetapi dibiarkannya kuda itu berjalan perlahan-lahan menjauh. Meskipun demikian, hatinya benar-benar menjadi kecewa. Anak muda yang dicarinya itu seakan-akan telah ada di dalam genggamannya. Tetapi tiba-tiba lepas kembali.
“Hem” gumamnya, “Wong Sarimpat pernah berkata demikian pula beberapa saat yang lalu”.
Di atas bendungan yang sedang dikerjakan itu, Mahisa Agni dan Empu Gandring masih saja duduk sambil berdiam diri. Mereka masih saja memandangi arus air yang bergejolak menggelepar melanda dasar bendungan yang sudah diletakkan di dasar sungai itu. Angin malam yang sejuk berhembus perlahan-lahan mengusap tubuh mereka. Dikejauhan terdengar lamat-lamat burung-burung malam bersahut-sahutan, diantara derik suara bilalang.
Yang sejenak kemudian berkata memecah sepinya malam adalah Empu Gandring. Dengan nada yang rendah ia bertanya, “Mahisa Agni, apa kerjamu malam-malam disini?”
“Kalau mereka tetap bekerja seperti ini, maka aku yakin, orang-orang Panawijen akan segera dapat menikmati basil kerjanya”.
Mahisa Agni itu berpaling ketika ia mendengar pamannya berkata di sampingnya, “Marilah, kita pulang Agni”.
“Oh” desis Agni, “Marilah paman”.
Mereka berdua pun kemudian berjalan membelakangi iring-iringan orang Panawijen yang dengan lelah kembali ke perkemahannya. Tetapi hari-hari berikutnya, Mahisa Agni tidak lagi melihat gairah kerja yang membesarkan hatinya itu. Ia tidak lagi tersenyum di dalam tidurnya. Kerja orang-orang Panawijen itu pun mulai mengendor lagi. Bahkan beberapa orang kemudian berkata kepadanya,
“Besok aku tidak dapat ikut serta Agni. Punggungku sakit”. Yang lain berkata, “Kakiku hampir patah Agni. Kelak apabila sudah sembuh aku akan bekerja kembali”. Dan yang lain lagi berkata, “Kepalaku pening Agni. Ternyata aku tidak tahan terik matahari yang memanasi rambutku, sehingga setiap kali kepalaku menjadi sakit seperti ditusuk-tusuk di pelipisku”.
Alangkah kecewanya anak muda itu. Hampir-hampir ia kehilangan kesabaran. Tetapi pamannya selalu menasehatinya. Kerja itu harus didasari oleh kerelaan hati. Kerja itu bukan kerja paksa. Karena itu maka pekerjaan Mahisa Agni adalah memberi mereka kesadaran untuk bekerja, bukan memaksa mereka dengan mengancam dan menakuti.
Mahisa Agni mengerti nasehat itu. Tetapi ia sudah kehabisan cara untuk memberi pengertian yang wajar kepada orang Panawijen itu. Bahkan satu dua orang di antara mereka telah mulai lagi mengumpati Empu Purwa yang merusak bendungan lama di Panawijen. Meskipun bendungan itu di buatnya sendiri, tetapi bendungan itu kemudian telah menjadi milik rakyat Panawijen, bendungan itu telah menjadi sumber penghidupan mereka.
“Apakah kita cukup dengan menyesali pecahnya bendungan yang lama” suatu ketika Mahisa Agni mencoba memberi penjelasan, “dengan menyesal dan mengumpat kita tidak akan mendapat bendungan yang baru”.
Tetapi hatinya menjadi pedih ketika ia mendengar seorang bertanya, “Kapan kita berhenti bekerja Agni?”
“Tidak ada batas yang dapat kita lampaui. Selama kita masih merasa bahwa kita bertanggung jawab terhadap keadaan kita sendiri, keadaan masyarakat kita dan anak cucu kita di masa yang akan datang. Kerja adalah isi dari hidup kita. Karena itu kerja akan berlangsung sepanjang umur kita masing-masing”.
Hati Mahisa Agni itu menjadi semakin pedih ketika ia mendengar jawaban, “Tetapi aku sudah jemu Agni. Aku sudah jemu berjemur di terik matahari, sedang apabila malam dilanda oleh udara dingin di padang yang sepi ini. Aku ingin segera berada kembali di antara keluargaku. Isteriku dan anak-anakku.
“Apakah kau cukup berada saja di dekat isteri dan anak-anakmu tanpa suatu kepastian buat masa datang? Buat anak-anakmu itu? Apakah kau pasti bahwa anak-anakmu itu akan dapat makan dari tanah yang kering di Panawijen?”
Orang itu terdiam. Tetapi wajahnya sama sekali tidak membayangkan pengertiannya akan kata-kata Mahisa Agni, sehingga Mahisa Agni berkata terus, “Tidak saudaraku-saudaraku. Tanah yang kering itu tidak akan dapat memberi kita harapan”.
“Tetapi bendungan ini pun akan merusak tubuh kita”.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam untuk menahan perasaannya. Katanya, “Itu terlampau berlebih-lebihan kerja pasti mengeluarkan tenaga. Mungkin satu dua di antara kita tidak tahan melawan udara yang panas dan dingin. Tetapi sebagian besar dari kita harus mampu mengatasinya”.
Dada Mahisa Agni bergelora ketika ia melihat beberapa kepala menggeleng lemah. Mahisa Agni masih mencoba mengulangi kata-katanya yang beberapa saat yang lampau dapat membangkitkan gairah kerja kembali. Katanya,
“Kerja ini adalah kerja kalian. Aku adalah seorang di sini. Kalau kerja ini terhenti, aku pun tidak akan mengalami kesulitan apa-apa. Aku akan dengan mudahnya dapat mencari penghidupan di Tumapel. Tetapi bagaimana dengan kalian? Apalagi yang mempunyai keluarga yang besar”.
Jawaban yang didengar oleh Mahisa Agni kali ini berbeda dengan jawaban yang terdahulu. Bahkan jawaban itu seakan-akan telah menghentikan arus darah di urat-urat nadi anak muda itu,
“Agni, jangan kau merasa dirimu jauh lebih baik daripada kami. Meski pun kami tidak mampu berkelahi tidak mampu menjadi prajurit, tetapi segi kehidupan seseorang bukanlah hanya berkelahi saja. Aku pun akan dapat mencari penghidupan di tempat-tempat lain. Mungkin menjadi undagi, mungkin menjadi pekatik atau bertani di tempat-tempat baru yang sudah terbuka”.
“Oh,” tanpa disengaja Mahisa Agni tiba-tiba memegangi kepalanya dengan kedua tangannya, seakan-akan kepalanya itu akan terlepas dari lehernya.
Dadanya yang bergelora terasa menjadi sesak, dan dengan demikian Mahisa Agni justru terbungkam. Ia tidak mampu lagi berkata apapun kepada orang-orang Panawijen itu. Ketika orang-orang itu kemudian satu-satu meninggalkannya, maka Mahisa Agni seakan-akan sama sekali tidak lagi mampu mengucapkan kata-kata. Yang didengarnya kemudian adalah,
“Sudahlah Agni. Lepaskanlah keinginanmu membuat bendungan itu dengan mengumpankan kami. Biarkanlah kami mencari jalan sendiri-sendiri”.
Kepala Mahisa Agni menjadi pening karenanya. Sama sekali tidak disangkanya bahwa ada di antara orang-orang Panawijen yang menganggap bahwa apa yang dilakukannya itu adalah suatu perbuatan yang sangat merugikan orang-orang lain di Panawijen. Bahkan ada orang yang merasa dirinya menjadi alat untuk kepentingan Mahisa Agni.
Hati anak muda itu menggelegak. Berdesak-desakan kata-kata di dalam hatinya untuk membantah anggapan itu. Ingin ia berteriak, tetapi mulutnya seakan-akan terbungkam. Seribu kali ia menjelaskan apa yang sedang dilakukannya kini. Setiap kali orang-orang Panawijen itu pada saat-saat yang lampau menjadi gairah kembali atas kerja mereka apabila mereka mendengar keterangan Mahisa Agni tentang bendungan itu. Tetapi kali ini kata-katanya sama sekali tidak berarti bagi mereka, bahkan mereka menganggap, seakan-akan umpan saja untuk kesenangannya.
“Tidak. Aku sama sekali tidak bekerja untuk kemasyuran namaku. Aku tidak ingin di atas bendungan ini kelak dipahatkan namaku. Mahisa Agni. Tidak. Aku membuat bendungan bersama dengan kalian karena aku ingin melihat kalian mendapat sesuatu. Kalian tidak akan kehilangan lingkungan kehidupan. Aku bekerja bukan untuk kepentinganku sendiri”. Tetapi kata-kata itu hanya bergumul saja di dalam dadanya. Sihingga dengan demikian nafasnya justru menjadi semakin sesak. Sekali-kali terdengar Mahisa Agni, “Inikah tanggapan orang-orang Panawijen atas jerih payahku” katanya di dalam hati.
Ketika Mahisa Agni kemudian mengangkat wajahnya, dilihatnya udara telah disaput oleh malam yang turun perlahan-lahan. Bintang-bintang berhamburan memencar dari ujung ke ujung langit yang lain. Gemerlapan. Tetapi hati Mahisa Agni sendiri kini menjadi betapa suramnya. Ditatapnya padang yang luas terbentang dihadapannya, seakan-akan tidak bertepi, menjorok masuk ke dalam kegelapan malam di kejauhan. Kini ia duduk seorang diri di sisi perkemahannya. Orang-orang Panawijen telah masuk ke dalam gubug masing-masing. Satu dua dilihatnya anak-anak muda duduk di sekitar perapian yang menyala.
Perlahan-lahan Mahisa Agni bangkit. Dengan langkah yang berat ia berjalan ke gubugnya. Perasaannya dibebani oleh ke pedihan hati dan hampir keputus-asaan. Ia tidak tahu lagi, bagaimana ia harus berkata untuk meyakinkan maksudnya yang baik justru untuk kepentingan orang-orang Panawijen itu sendiri.
Dari celah-celah dinding anyaman bambu yang jarang ia melihat beberapa telah berbaring di dalam gubugnya. Tetapi tiba-tiba langkah Mahisa Agni tertegun ketika ia melihat beberapa orang membenahi bungkusan. Dengan serta merta Mahisa Agni berbelok masuk ke dalamnya. Orang-orang itu pun terkejut. Tetapi sejenak kemudian mereka seakan-akan menjadi acuh tidak acuh. Diteruskannya kerjanja berbenah-benah. Ketika Mahisa Agni melihat apa yang sedang dibenahi itu, hatinya berdesir-desir. Tanpa disadarinya terloncat kata-kata dari bibirnya,
“Apakah artinya ini?”
Orang itu berpaling. Hanya sejenak. Kembali mereka menjadi acuh tak acuh. Meski pun demikian salah seorang dari mereka menjawab, “Aku membenahi pakaian Agni”
“Kenapa?, “ bertanya Agni.
“Aku besok akan kembali ke Panawijen”.
Darah Mahisa Agni serasa membeku mendengar jawaban itu. Sejenak ia diam mematung. Ditatapnya saja orang itu membungkus beberapa potong pakaiannya dan beberapa macam peralatan kecil. Di sudut gubug itu Mahisa Agni melihat seikat alat-alat yang lebih besar. Cangkul, kelewang pemotong kayu dan sebuah kapak.
Baru sejenak kemudian ia mampu bertanya, “Kenapa kalian akan kembali ke Panawijen?”
“Aku sudah jemu berjemur diterik matahari. Beberapa orang menjadi sakit. Ada yang bengkak kakinya, ada yang sakit panas dingin, ada yang punggungnya patah. Mungkin kau tidak melihatnya Agni”.
“Bukankah Bitung telah sembuh?” bertanya Agni.
“Ya, Bitung telah sembuh. Tetapi ada tiga anak yang sakit seperti gejala-gejala sakit Bitung ketika baru mulai”.
“Oh. Aku memang belum tahu. Kenapa tidak ada yang mcmberitahukannya kepadaku? Paman telah menanam beberapa batang Kates Grandel di sini. Mungkin satu dua dapat diambil untuk mengobatinya”.
Orang itu menggeleng, “Tidak banyak manfaatnya. Kalau ketiganya nanti sembuh, maka yang sepuluh akan menderita sakit serupa. Karena itu sebelum aku menderita pula seperti mereka lebih baik aku kembali ke Panawijen. Apabila benar-benar menjadi kering, aku akan mengungsi ke tempat lain. Mungkin aku dapat mencari kemanakanku ke Gangsa atau mencari pamanku ke Sambitan”.
“Apa yang kalian lakukan akan mempunyai pengaruh yang sangat jelek bagi orang-orang lain”.
Orang itu mengangkat bahunya. Sejenak mereka saling berpandangan. Kemudian salah seorang dari mereka menjawab, “Terserah kepada mereka masing-masing Agni. Karena itu nasehatku kepadamu Ngger, tinggalkan saja keinginanmu untuk membangun bendungan ini. Memang, kelak namamu akan tetap dikenal oleh anak cucu apabila bendunganmu berwujud tetapi jangan membiarkan korban terlampau banyak untuk kepentingan itu”.
Sekali lagi dada Mahesa Agni serasa terhantam reruntuhan Gunung Kawi. Hampir-hampir ia kehilangan kesabaran. Bahkan hampir-hampir ia berbuat sesuatu untuk melepaskan kemarahannya. Tetapi tiba-tiba ia tertegun ketika terdengar suara di luar gubug itu,
“Ya, Agni berada di dalam”.
Mahisa Agni berpaling. Dilihatnya seorang anak muda yang pucat berdiri di muka pintu. Ketika dilihatnya Mahisa Agni, maka katanya, “Agni, aku memerlukan kau”.
“Kenapa?”
“Wajahku menjadi panas, tetapi tubuhku terasa dingin”.
Orang-orang yang sedang berbenah itu menyahut, “Itu adalah gejala-gejala seperti penyakit Bitung”.
Wajah yang pucat itu menjadi semakin pucat. Selangkah ia maju masuk ke dalam gubug. Dengan suara gemetar ia berkata, “Apakah aku akan sakit seperti Bitung?”
Yang menjawab adalah salah seorang yang berada di dalam gubug dan sedang membenahi pakaiannya, “Ya, kau akan sakit seperti Bitung. Bukan hanya kau, telah ada tiga orang lagi yang akan sakit seperti kau”.
Anak muda itu menjadi semakin cemas. Tiba-tiba ia berkata, “Agni, aku takut”.
Dada Mahisa Agni yang bergelora itu menjadi kian bergolak. Dengan suara bergetar ia bertanya, “Kenapa kau takut?”
“Aku tidak mau sakit”.
“Kami telah menyimpan obatnya. Bukankah Bitung kini telah berangsur sembuh?”
Anak muda itu terdiam sesaat. Tetapi kemudian ia berkata, “Tetapi siapakah yang akan mengurus aku selama aku sakit?”
Selagi kau belum sakit, besok aku akan membuat obat untukmu. Aku masih ada persediaan obat itu, bahkan telah ditanam pula beberapa batang oleh paman Empu Gandring di sini, dan kini telah mulai tumbuh subur.
“Tetapi aku takut Agni. Kalau aku sakit, aku akan kembali kepada ibuku”.
“He” Mahisa Agni menahan nafasnya, “kau masih juga biyung-biyungan”.
Anak itu terdiam. Tetapi yang menjawab adalah orang lain yang sejak semula telah berada di tempat itu, “Biarlah ia kembali ke ibunya Agni”. Kepada anak muda itu ia berkata, “Benahilah pakaianmu. Besok kembali bersama aku ke Panawijen”.
“Apakah paman akan kembali ke Panawijen?”
“Ya, besok aku akan kembali”.
“Baik, baik paman” wajah anak muda yang pucat itu tiba-tiba menjadi cerah. Tanpa kerkata sepatah kata pun lagi ia berlari meninggalkan gubug itu.
Mahisa Agni hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Perasaannya bergejolak semakin dahsyat, tetapi ia tidak dapat berbuat sesuatu. Karena itu, maka dadanya sendirilah yang terasa menjadi pepat.
“Maafkan kami Agni” terdengar salah seorang itu berkata, “Aku tidak dapat mengikuti jalan pikiranmu. Bendungan itu bagi kami hanyalah tinggal suatu mimpi yang mengagumkan.”
“Tidak” terdengar suara Mahisa Agni bergetar, “aku akan mewujudkan bendungan itu. Kalian akan melihat kelak tanah ini menjadi subur. Tanam-tanaman akan menjadi hijau segar seperti beberapa batang Kates Grandel yang ditanam oleh paman Empu Gandring. Baru beberapa hari saja, pohon karena itu telah menjadi tiga kali lipat tingginya dari pada alat batang itu ditancapkan di tanah”.
Orang itu itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Mudah-mudahan Agni. Tetapi aku tidak akan turut serta”.
Wajah Mahisa Agni menjadi merah karena perasaan yang bercampur baur di dalam dadanya. Tanpa sesadarnya tiba-tiba ia berkata, “Terserah kepada kalian. Kami di sini tidak tergantung kepada satu dua tiga orang yang sama sekali tidak mempunyai tanggung jawab buat masa mendatang. Pergilah kalau kalian akan pergi. Orang-orang semacam kalian pasti hanya akan memperlambat pekerjaan dan mengendorkan nafsu bekerja”.
“Agni” potong orang-orang itu, dan salah seorang di antara mereka meneruskan, “kata-kata itu terlampau kasar buat kami”.
“Hatiku terlampau sakit melihat sikap kalian dan alasan kalian yang tidak masuk akal bagiku”.
Orang-orang itu tidak menjawab lagi. Tetapi mereka kini membenahi pakaian mereka dengan tergesa-gesa, “Aku akan segera pergi”.
“Pergilah. Mudah-mudahan Hantu Karautan menyadap darahmu” desis Mahisa Agni hampir-hampir tidak dapat mengendalikan diri.
Tiba-tiba orang-orang itu menjadi pucat. Mereka takut mendengar Agni menyebut Hantu Karautan, sejenak mereka saling berpandangan. Kemudian berkatalah salah seorang dari mereka,
“Kami akan pergi pagi-pagi besok”.
“Kalian akan kemalaman di jalan”.
“Terpaksa kami akan membawa kuda-kuda kami, seekor buat dua orang”.
“He” kembali Mahisa Agni terkejut. Kuda yang ada di padang itu di antaranya memang milik orang-orang itu. Dua di antara mereka. Tetapi apa boleh buat. Dengan lemahnya Agni berkata, “Bawalah. Kau sangka hantu Karautan tidak dapat mengejarmu lebih cepat dari lari seekor kuda. Dan kudamu akan mati kelelahan”.
Tetapi Mahisa Agni tidak mau mendengar jawaban mereka lagi supaya hatinya tidak bertambah panas. Segera ia melangkah meninggalkan gubug itu. Hatinya menjadi kian risau dan gelisah. Pasti bukan hanya orang-orang itulah yang berperasaan demikian. Apabila seorang mulai dengan yang meyakinkan hatinya itu, maka orang-orang lain pasti akan mengikutinya.
Langkah Mahisa Agni tersendat-sendat di antara gubug-gubug yang berserakan. Tetapi tiba-tiba ia mereka takut untuk melihat keadaan di dalam gubug-gubug itu. Takut bahwa ia akan melihat orang-orang yang lain berbenah lagi seperti yang baru saja dilihatnya. Atau orang-orang yang sedang terkena penyakit seperti sakit Bitung. Atau yang kakinya bengkak dan punggungnya terkilir. Tiba-tiba Mahisa mempercepat langkahnya. Tanpa dikehendakinya sendiri ia berjalan cepat-cepat meninggalkan perkemahannya, masuk kedalam gelapnya malam.
Anak muda itu sadar, ketika ia sudah berdiri di sisi bendungan yang sedang dikerjakannya. Dengan hati yang pedih ia berjalan menyelusuri brunjung-brunjung yang sudah dan belum terisi batu. Disentuh-sentuhnya benda itu dengan tangannya seperti ia sedang membelai anak-anak kesayangannya. Di sana-sini, teronggok patok-patok bambu yang sudah siap diruncingkan. Besok benda-benda itu akan diturunkan ke kali. Tetapi, siapakah yang akan melakukannya, apabila orang-orang Panawijen itu satu-satu meninggalkannya? Apakah ia sendiri, bersama Ki Buyut dan Empu Gandring mampu melakukanya?
Alangkah gelisahnya hati Mahisa Agni. Terbayang di dalam angan-angannya, benda-benda itu akan terbengkelai. Brunjung-brunjung dan segala macam perlengkapan. Semuanya itu akan teronggok untuk seterusnya. Tak akan ada lagi tangan yang menyentuhnya. Tak ada lagi yang menaruh perhatian atasnya. Kalau kelak beberapa tahun lagi ia sempat datang ke tempat itu pula. Sama sekali tidak berubah seperti saat ditinggalkannya. Hanya apabila kerangka-kerangka bambu itu menyadi lapuk, batu-batu itu pun akan berserakan di sekitarnya, untuk seterusnya tergolek saja disitu. Bertahun-tahun, bahkan berpuluh-puluh tahun.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan ia meletakkan tubuhnya duduk di atas sebuah brunjung yang sudah berada di sisi dasar bendungan. Dari tempat duduknya Mahisa Agni dapat melihat air yang mengalir hampir dibawah kakinya. Air itu sebenarnya sudah tampak naik dan tergenang beberapa cengkang dari dasarnya.
“Apakah pekerjaan ini akan terhenti?” gumamnya seorang diri.
Ia akan dapat membayangkan, seandainya satu dua orang saja yang meninggalkan kerja itu, maka sehari dua hari lagi, hal itu pasti akan menjalar kepada orang-orang lain. Mereka pun akan segera meninggalkan padang ini, untuk seterusnya berpencaran mencari tempat-tempat baru di padukuhan-padukuhan yang telah terbuka. Mungkin sekedar menjadi pekerja, atau pencari kayu, atau pekerjaan-pekerjaan lain yang dapat mereka lakukan, sekedar untuk mendapatkan upah.
“Kenapa mereka tidak mempertahankan harga diri meskipun pada permulaannya semuanya dilakukan dengan prihatin” gumamnya seorang diri, “Meskipun kini mereka harus membanting tulang, tetapi mereka tidak perlu mencari belas kasian orang lain. Mereka kelak akan menikmati hasil tangan sendiri”.
Tetapi orang-orang Panawijen berpendirian lain. Mereka tidak setabah Mahisa Agni menghadapi kesulitan. Setelah berpuluh tahun mereka hidup dengan senang, setiap cengkang tanah memberi mereka makan, setiap dahan yang ditancapkan akan berbuah, maka mereka benar-benar menjadi pekerja-pekerja yang kurang baik. Dengan hati yang risau Mahisa Agni duduk tepekur. Dipandanginya arus sungai yang gemericik membawakan lagu yang rawan, seperti lagu yang bergema didalam hati Mahisa Agni itu sendiri.
Dalam pada itu Mahisa Agni sama sekali tidak merasakan, bahwa sepasang mata selalu saja memperhatikannya. Jarak mereka memang belum terlampau dekat. Tetapi ketajaman mata itu dapat melihat bahwa seseorang duduk termenung di sisi bendungan yang sedang dibangun.
“Pasti Mahisa Agni” gumam orang itu, “tak ada orang lain yang berani keluar seorang diri dari perkemahannya”. Orang itu berwajah beku seperti wajah sosok mayat.
Kebo Sindet. Selama ini ia tidak sabar lagi menunggu adiknya setiap kali kembali dengan laporan yang sama. Belum ada kesempatan. Karena itu, maka kini ia ingin melihat sendiri, apakah yang dikatakan adiknya itu benar. Karena itu, ketika dilihatnya seorang anak muda duduk saorang diri disisi bendungan yang sedang dikerjakan itu, Kebo Sindet mengumpat didalam hatinya,
“Wong Sarimpat benar-benar anak yang malas. Mungkin ia tidak telaten menunggu kesempatan-kesempatan seperti ini. Bukankah mudah sekali untuk menerkamnya, memijit tengkuknya dan membawanya ke Kemundungan?” tetapi kemudian dijawabnya sendiri, “Ah, agaknya pesanku yang telah mengekangnya. Aku mengharap ia tidak berbuat sendiri, supaya tidak mengalami kegagalan seperti yang pernah terjadi. Tetapi orang itu benar-benar bodoh. Sebenarnya ia dapat mempergunakan kebijaksanaan. Kesempatan serupa ini tidak boleh lewat”.
Kebo Sindet tersenyum di dalam hati. Namun wajahnya yang beku masih saja membeku. Dikepalanya telah berputar berbagai rencana dengan anak muda yang bernama Mahisa Agni itu. Dari Kuda Sempana ia akan menerima hadiah yang cukup. Seterusnya ia akan dapat melontarkan kesalahan kepada Empu Sada. Kebo Sindet itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tiba-tiba ia mengumpat perlahan-lahan,
“Wong Sarimpat benar-benar bodoh. Empu Gandring pasti akan memperhitungkannya pula, apabila Mahisa Agni hilang”.
Orang yang berwajah beku itu tertegun sejenak. Namun katanya di dalam hati, “Hem, kami harus mengakui lebih dahulu, bahwa kami mendapat permintaan dan kemudian bekerja bersama dengan Empu Sada. Seterusnya, aku dapat mengatakan kepada permaisuri itu, bahwa kami terpaksa membunuh Empu Sada, karena ternyata maksudnya terlampau jahat. Sedang anak muda yang bernama Mahisa Agni ternyata tidak bersalah, apalagi ia adalah adik tuan puteri Ken Dedes. Dan kami akan merebut Mahisa Agni. Namun sayang, anak muda itu telah menjadi cacat karena perlakuan Empu Sada dan Kuda Sempana. Buta, tuli dan bisu” Kebo Sindet mengangguk-anggukkan kepalanya,
“Meskipun Mahisa Agni telah cacat, namun adiknya yang terlampau mengasihinya dan kini menjadi seorang permaisuri itu pasti akan memberi kami hadiah. Apalagi kalau kami sempat menyerahkan Kuda Sempana pula. Mungkin Kuda Sempana harus menjadi bisu pula supaya tidak dapat mengatakan apapun lagi. Tetapi seandainya tidak, maka kata-katanya pasti tidak akan dipercaya, sebab selama ini Kuda Sempana lah yang selalu mengejar-ngejar Mahisa Agni”. Namun Kebo Sindet itu berguman, “Tentu saja tidak terlampau sederhana seperti itu, tetapi gambaran yang demikian bukan berarti terlampau jauh”.
Kembali Kebo Sindet memandangi bayangan yang duduk termenung itu. Perlahan-lahan ia merayapi tebing supaya Mahisa Agni tidak melihatnya. Ia akan muncul dengan tiba-tiba dan menerkamnya, langsung menekan urat-urat lehernya dan membuat anak itu pingsan. Tetapi Kebo Sindet itu terkejut. Agak jauh ia mendengar suara batuk-batuk. Tetapi semakin lama semakin dekat. Dan ia mengumpat habis-habisan di dalam hatinya ketika ia mendengar anak muda itu menyapa,
“Siapa?”
Bayangan yang mendatang itu tidak segera menjawab. Perlahan-lahan ia melangkah semakin dekat. Kebo Sindet yang bersembunyi di sisi tebing di balik rumpun-rumpun perdu segera melihat pula bayangan itu. Remang-remang di dalam gelap malam berjalan mendekati Mahisa Agni.
“Siapa?,” sekali lagi Mahisa Agni menyapanya.
Tiba-tiba ia menyadari, bahwa bahaya masih saja selalu mengerumuninya. Karena itu maka segera ia berdiri tegak dan siap menghadapi setiap kemungkinan. Tetapi jawaban yang didengarnya telah mengendorkan ketegangan uratnya,
“Aku Agni”.
Namun Kebo Sindetlah yang kemudian menjadi tegang ketika ia mendengar Agni menyahut, “Paman Empu Gandring?”
“Ya Agni”.
Mahisa Agni pun kemudian duduk kembali di atas brunjung-brunjung yang sudah penuh berdiri batu, sedang pamannya duduk pula disampingnya. Tetapi mereka sama sekali tidak menyadari bahwa sepasang mata sedang mengintai mereka.
Alangkah kecewanya Kebo Sindet melihat kehadiran Empu Gandring. Kembali ia mengumpat-umpat di dalam hatinya., “Setan belang. Apakah yang dicarinya setan tua itu?” Namun tiba-tiba timbullah pertanyaan di dalam hatinya, “Apakah orang itu mengetahui bahwa aku berada disini?”
Kebo Sindet mengatupkan giginya rapat, tetapi sorot matanya seakan-akan memancarkan api kemarahannya., “Hem,” ia menggeram di dalam hati, “Ternyata benar juga kata Wong Sarimpat. Orang tua itu seolah-olah tidak pernah terpisah dari kemanakannya. Tetapi ini akibat dari kelalaian Wong Sarimpat pula, sehingga Empu Gandring menjadi semakin berhati-hati. Setiap kali ia tidak melihat kemanakannya, maka pasti ia akan mencarinya.
Terasa dada orang itu bergelora, meskipun wajahnya masih saja membeku. Namun Kebo Sindet ternyata lebih mampu mengendalikan perasaannya dari pada adiknya. Seandainya yang ada di tebing itu Wong Sarimpat, maka pasti ia akan melepaskan kemarahannya. Mungkin ia akan melompat meskipun ia ia tahu bahwa itu tidak akan ada gunanya.
Tetapi Kebo Sindet tidak berbuat demikian. Perlahan-lahan ia malangkah surut semua tindakannya atas anak muda itu saat ini pasti tidak akan berhasil. Karena itu, lebih baik menyingkir untuk sementara sampai di saat lain ada kesempatan yang terbuka.
“Aku harus bersabar” katanya di dalam hati, “aku harus menunggu keduanya menjadi lengah sehingga mereka melupakan bahaya yang dapat mengancam anak muda itu”.
Empu Gandring dan Mahisa Agni sama sekali tidak tahu bahwa seseorang sedang meninggalkan tepian itu sambil mengumpat-umpat tak putus-putusnya. Mereka tidak menyadari bahwa hampir-hampir saja Mahisa Agni diterkam oleh bahaya yang selalu membayanginya. Seperti semula ia tidak tahu, bahwa orang-orang Panawijen sendirilah yang akan menggagalkan rencana pembuatan bendungan itu.
Ternyata Kebo Sindet cukup berhati-hati, sehingga ia tidak menimbulkan kegaduhan. Kudanya yang ditambatkannya agak jauh, tidak segera dipacunya. Tetapi dibiarkannya kuda itu berjalan perlahan-lahan menjauh. Meskipun demikian, hatinya benar-benar menjadi kecewa. Anak muda yang dicarinya itu seakan-akan telah ada di dalam genggamannya. Tetapi tiba-tiba lepas kembali.
“Hem” gumamnya, “Wong Sarimpat pernah berkata demikian pula beberapa saat yang lalu”.
Di atas bendungan yang sedang dikerjakan itu, Mahisa Agni dan Empu Gandring masih saja duduk sambil berdiam diri. Mereka masih saja memandangi arus air yang bergejolak menggelepar melanda dasar bendungan yang sudah diletakkan di dasar sungai itu. Angin malam yang sejuk berhembus perlahan-lahan mengusap tubuh mereka. Dikejauhan terdengar lamat-lamat burung-burung malam bersahut-sahutan, diantara derik suara bilalang.
Yang sejenak kemudian berkata memecah sepinya malam adalah Empu Gandring. Dengan nada yang rendah ia bertanya, “Mahisa Agni, apa kerjamu malam-malam disini?”
OBJEK WISATA MANCA NEGARA


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar