MENU

Ads

Selasa, 03 Maret 2026

Pelangi di Langit Singasari 109

Mahisa Agni mengangkat wajahnya. Tetapi kembali wajah itu menunduk memandangi air dibawah kakinya. Perlahan-lahan ia menjawab, “Tidak apa-apa paman”.

Pamannya menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya wajah kemanakannya yang tunduk. Iba batinya terhadap anak itu menjadi semakin dalam. Ia tahu apa yang telah terjadi diperkemahan. Ia tahu bahwa beberapa orang telah membenahi diri dan besok akan meninggalkan padang itu kembali ke Panawijen.

Karena itu maka katanya, “Agni, apakah kau sedang memikirkan bendungan itu?” Kembali Mahisa Agni mengangkat wajahnya. Tetapi ia tidak menjawab. “Apakah kau sedang dibingungkan oleh beberapa orang yang besok akan kembali ke Panawijen?” Mahisa Agni masih berdiam diri. “Dan kau tidak dapat mencegahnya lagi?”

Akhirnya Mahisa Agni menganggukkan kepalanya sambil berkata, “Ya paman. Beberapa orang besok akan kembali ke Panawijen. Kalau itu benar-benar terjadi, maka orang-orang yang lain pun akan pergi juga dari padang ini, sehingga akhirnya aku akan kehabisan kawan. Pasti tidak mungkin aku akan melakukannya sendiri”.

Pamannya mengangguk-anggukkan kepalanya, katanya, “Ya, kau tidak akan dapat melakukannya sendiri. Tetapi bukankah kau masih dapat mengharap beberapa orang akan tetap berada di padang ini dan bekerja bersamamu?”

“Pekerjaan ini adalah pekerjaan yang besar dan berat paman. Aku memerlukan teman sebanyak-banyaknya yang dapat mengerti arti perjuangan ini. Tetapi ternyata mereka sama sekali tidak dapat membayangkan arti dari perjuangannya itu, sehingga sebagian dari mereka menjadi jemu karenanya. Besok sebagian dari mereka akan kembali. Lusa yang lain menyusul. Esok kemudian yang lain lagi, sehingga akhirnya aku akan tinggal di sini seorang diri”.

Empu Gandring mengagguk-anggukkan kepalanya mendengar keluhan Mahisa Agni itu. Ia dapat mengerti luka parah luka dihatinya. Meskipun demikian orang tua itu berkata,

“Agni, kau adalah seorang anak muda. Karena itu jangan mengeluh dan lekas berputus asa. Lakukan segala usaha, kau pasti akan menemukan jalan. Bukankah usahamu ini adalah usaha yang baik. Yang Maha Agung pasti akan menyertaimu”.

Mahisa Agni tidak segera menjawab. Ia percaya benar kepada kekuasaan tertinggi diluar kemampuan jangkau otak manusia. Ia percaya bahwa usahanya itu adalah usaha yang baik. Usaha untuk kesejahteraan manusia, meskipun hanya dalam lingkungan yang kecil.

Tetapi kali ini seakan-akan pekerjaannya sama sekali tidak dapat berjalan dengan lancar. Seakan-akan Yang Maha Agung tidak memberinya kesempatan untuk berbuat, untuk melakukan pengabdian yang kecil ini. Ada saja rintangan-rintangan yang harus dihadapinya. Dari dalam tubuh orang-orang Panawijen sendiri dan dari luar lingkungan mereka.

Karena Mahisa Agni tidak segera menjawab, maka Empu Gandring itu pun berkata pula, justru langsung menjentuh perasaan Mahisa Agni yang sedang diliputi oleh kerisauan itu,

“Agni. Mungkin tangan Yang Maha Agung itu tidak segera dapat kau rasakan. Mungkin kau justru merasa sama sekali tidak mendapat tuntunan-Nya. Tetapi kau barus mencari kesalahan itu pada dirimu sendiri. Mungkin kau kurang tekun memanjatkan permohonan kepada-Nya. Mungkin kau kurang prihatin. Tetapi mungkin juga kali ini permohonanmu memang belum selayaknya dipenuhi seluruhnya. Setiap kesulitan adalah pelajaran bagimu. Hanya kitalah yang kadang-kadang tidak dapat menangkap maksud tuntunan itu. Namun seandainya demikian buat kali ini, baiklah kita mencoba meraba-raba maksud itu. Yang Maha Agung tidak akan memberikan bendungan begitu saja. Tetapi pasti ada tuntunan bagi kita sekalian. Kita ternyata mendapat latihan untuk bekerja keras dan berusaha tidak mengenal putus asa”. Empu Gandring diam sejenak. Ia ingin tahu, apakah yang dirasakan oleh kemanakannya.

Sesaat kemudian berkatalah Mahisa Agni, “Paman bagaimana aku akan dapat melangsungkan kerja tanpa orang-orang lain. Mungkin aku dan Ki Buyut Panawijen dapat tinggal di sini dengan kesadaran sepenuhnya, bahwa apa yang kita lakukan ini akan berarti tidak saja buat masa depan yang dekat, tetapi juga buat masa-masa mendatang. Buat anak cucu. Namun apakah arti kami berdua, dan mungkin juga paman untuk beberapa lama, karena mustahil paman akan dapat tinggal bersama kami terus-menerus, karena paman mempunyai padepokan dan beberapa orang cantrik. Apakah yang dapat kita lakukan untuk melawan alam yang garang dan kasar ini?”

“Agni” berkata pamannya, “kau hanya melihat kekuatan lahiriah. Kau melupakan kekuatan yang tidak kasat mata. Ingatkah kau Agni, apa yang pernah dilakukan oleh gurumu? Aku pernah mendengar, dan kau pernah pula mengatakan kepadaku. Bagaimana ia membuat bendungan di Panawijen?”

Mahisa Agni tidak segera menjawab. Dan pamannya berkata seterusnya, “Gurumu, Empu Purwa bekerja seorang diri. Hanya dengan beberapa orang cantrik yang setia dan beberapa orang dalam jumlah yang sangat kecil, ia berhasil membangun bendungan, meskipun sampai berbilang tahun. Apakah kau sangka Empu Purwa mempunyai Aji Bala Srewu yang berwujud seribu raksasa untuk membantunya membangun bendungan itu? Tidak Agni. Bala Srewu milik gurumu adalah ketekunannya berlandaskan pada kepercayaannya kepada Yang Maha Tinggi. Gurumu tidak akan mampu membuat apa pun tanpa tuntunan-Nya. Tanpa Tangan-Nya Yang Agung. Adalah di luar akal, bahwa gurumu dan beberapa orang saja mampu membuat bendungan itu, apabila tidak ada kekuasaan yang melampaui segala kekuasaan ikut membantunya”.

Mahisa Agni menggigit bibirnya. Terasa jantungnya berderak-derak seperti akan meledak. Kata-kata pamannya serasa menyentuh batinnya dan mengalir menelusur urat-urat darahnya, memanasi seluruh bagian tubuhnya. Kata-kata itu bagaikan kekuatan yang tidak ada taranya menyusup ke dalam dirinya.

Mahisa Agni itu pun tiba-tiba menengadahkan wajahnya. Kini seakan-akan ia telah menemukan dirinya dan menemukan gairah serta nafsu yang menyala-nyala itu kembali. Ketika ia melihat langit diatas kepalanya, kini dilihatnya bintang gemintang berbinar terang bergayutan pada tabir yang biru gelap. Terdengar suara derik jengkerik seperti suara genderang perang, serta suara burung-burung malam yang memekik-mekik itu, seperti suara sangkakala yang berbunyi dari celah-celah langit.

Tiba-tiba terdengar anak muda itu menggeram, “Ya, paman. Aku menyadari keadaanku. Aku telah terseret oleh arus keputus-asaan. Aku melupakan setiap kemungkinan, yang teraba dan yang tidak teraba oleh panca indera. Karena itu, aku berjanji paman, bahwa aku akan berusaha sampai kemungkinan yang terakhir untuk mewujudkan bendungan ini. Meskipun seandainya aku tinggal seorang diri”.

“Bagus” sahut pamannya, “setidak-tidaknya cantrik-cantrik gurumu akan membantumu seperti gurumu pada saat membuat bendungan itu. Apabila demikian, apabila kau harus bekerja sendiri, maka yang pertama-tama harus kau kerjakan adalah, berusaha mendapatkan perbekalan secara terus-menerus. Tanamlah macam-macam ubi-ubian di tebing-tebing sungai ini supaya kau dapat menyimpan makanan untuk waktu yang panjang”.

“Baik paman” sahut Mahisa Agni dengan mantap. Ia kini tidak lagi dilanda oleh keragu-raguan dan kebimbangan.



“Tetapi kini kau belum sendiri. Kau masih mempunyai cukup kawan”.

“Mereka besok akan meninggalkan padang ini. Satu demi satu. Tetapi aku sudah tidak mempedulikannya lagi. Biarlah mereka pergi seluruhnya. Biarlah mereka meninggalkan aku seorang diri. Tetapi kini aku menemukan keyakinan di dalam diriku, seperti kata paman, bahwa ada yang selalu bersamaku, justru Yang Maha Agung”.

Terasa sesuatu bergetar di dalam dada Empu Gandring mendengar kata-kata kemanakannya, yang agaknya kini benar-benar telah menemukan kembali hubungan yang erat antara dirinya dengan Sumbernya, yang selama ini telah terganggu oleh keragu-raguan, kecemasan dan ketidak-tentuan.

Karena itu maka orang tua itu berkata, “Bagus Agni. Dengan bekal itu kau pasti akan dapat menyelesaikan pekerjaanmu. Kau tidak perlu tergesa-gesa. Kau tidak perlu mengharap bendunganmu itu akan siap sebelum musim hujan yang akan datang. Meskipun di musim hujan air akan menjadi lebih besar, tetapi banjir yang besar yang akan menghanyutkan brunjung-brunjung yang telah kau letakkan pada dasar sungai itu tidak selalu datang. Mungkin banjir-banjir itu akan datang melandanya dan menghanyutkannya, tetapi mungkin pula tidak. Kalau kau pasang dasar bendungan itu dengan perhitungan yang baik, dengan dasar kemungkinan yang paling pahit, maka kau akan berhasil mengatasi banjir yang bagaimanapun besarnya”.

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini ia menjadi semakin mantap. Dan kini ia tidak lagi menjadi cemas menghadapi setiap ancaman. Karena itu, maka ketika pamannya mengajaknya kembali keperkemahan, Mahisa Agni tidak lagi berjalan dengan ragu. Ia melangkah dengan dada tengadah. Ketika mereka sampai di perkemahannya, maka Empu Gandring pun segera masuk ke dalam gubugnya. Tetapi Mahisa Agni tidak berbuat demikian. Ia masih ingin melihat-lihat perkemahan itu sekali lagi dengan tanggapan yang jauh berbeda.

“Kau harus beristirahat Agni”.

“Ya paman, tetapi aku ingin meneruskan melihat-lihat perkemahan ini sebentar. Aku tadi terhenti di tengah-tengah ketika hatiku menjadi bingung melihat orang-orang yang sedang sibuk berkemas-kemas. Kini aku akan melihat gubug demi gubug. Apa pun yang akan aku lihat, aku sudah tidak akan terpengaruh lagi. Bahkan aku ingin melihat, siapakah yang kira-kira akan dapat bekerja bersamaku seterusnya apabila orang-orang lain satu demi satu meninggalkan padang yang keras ini”.

“Aku kira semua orang telah tidur”.

“Biarlah. Kalau ternyata demikian, aku pun akan segera tidur pula”.

Pamannya tidak menahannya lagi. Perlahan-lahan Mahisa Agni melangkah kembali menyusuri perkemahan itu. Gubug demi gubug dilihatnya. Beberapa anak-anak muda tidur mendekur berselimut kain panjang. Ada pula diantara mereka yang tidur di samping perapian yang masih membara. Tetapi bagaimanapun juga, hati anak muda itu menjadi berdebar-debar ketika sekali lagi ia melihat beberapa orang tidur dengan beberapa bungkusan yang telah siap di sampingnya. Sejenak Mahisa Agni berhenti. Ditatapnya orang-orang itu sambil bergumam didalam hatinya

“Hem, agaknya kalian tidak menyadari apa yang kalian lakukan”.

Kini Mahisa Agni tidak lagi menjadi cemas, ketakutan dan berputus-asa, tetapi tiba-tiba ia merasa kasihan kepada orang-orang itu. Kasihan mereka menjadi berputus-asa dan kehilangan kepercayaan kepada diri sendiri. Mereka lebih senang melarikan diri dari usaha ini dan menggantungkan diri kepada kemungkinan-kemungkinan yang akan dijumpainya. Mungkin karena belas kasihan seseorang, mungkin karena kebetulan. Tetapi Mahisa Agni menjadi kecewa pula. Sikap itu pasti akan mempengaruhi sikap orang-orang lain yang memang sudah dihinggapi oleh perasaan yang serupa.

Meskipun demikian, kini Mahisa Agni sendiri tidak terpengaruh olehnya. Ia tidak lagi menjadi bingung dan putus-asa seperti orang-orang itu. Perlahan-lahan Mahisa Agni meneruskan langkahnya. Kini ia mendengar seseorang mengeluh karena kakinya bengkak dan di gubug yang lain ia mendengar seseorang menggigil kedinginan meskipun tubuhnya menjadi panas. Mahisa Agni menarik nafas panjang. Ia tidak boleh mundur karena keadaan itu. Tetapi ia harus maju justru mengatasi keadaan itu.

Yang ada di kepala Mahisa Agni kini adalah angan-angan, bagaimana ia dapat mencari jalan keluar dari segala macam kesulitan. Bagaimana ia dapat mengatasinya dan menemukan suatu keadaan yang mantap, meskipun hanya tinggal beberapa orang saja yang bersedia bekerja bersamanya.

Tanpa diketahuinya Mahisa Agni kini telah berdiri di ujung perkemahannya. Seperti sebatang tonggak ia berdiri dan mengawasi padang yang luas terbentang dihadapannya. Padang yang kelak akan dibelahnya dengan saluran air dan akan dirobek-robeknya dengan parit-parit yang mengalirkan air yang jernih. Mahisa Agni berpaling ketika ia melihat seseorang yang tidur di samping perapian menggeliat bangun. Orang itu agak terkejut ketika dilihatnya sesosok tubuh berdiri membeku di sampingnya. Tetapi kemudian orang itu berkata,

“Hem, kau Agni. Apakah kau tidak tidur?”

“Aku tidak mengantuk” jawab Agni.

“Aku lelah sekali, “ sahut orang itu pula, “tangan dan kakiku serasa akan terlepas”.

Mahisa Agni yang sedang risau itu tiba-tiba merasa tersinggung. Tanpa memandang ke arah orang itu ia berkata, “Apakah kau juga akan kembali ke Panawijen seperti beberapa orang lain?”

Orang itu menjadi heran. Perlahan-lahan ia bertanya, “Apakah ada orang yang akan kembali ke Panawijen?”

“Ya Orang-orang yang berputus-asa. Apakah kau mau ikut supaya kaki dan tanganmu tidak terlepas?”

Orang itu diam sejenak. Dengan heran dipandanginya wajah Mahisa Agni yang seolah-olah membeku. Namun tiba-tiba ia berkata, “Agni kau salah sangka. Aku sudah bersedia bekerja di padang ini. Bukankah kau melihat bahwa aku telah bekerja dengan sekuat tenagaku? Kenapa kau berkata begitu? Meskipun semua orang akan kembali ke Panawijen, namun aku akan tetap berada di sini selagi masih ada orang yang memimpinku mengerjakan bendungan itu”.

Hati Mahisa Agni bergejolak mendengar jawaban itu. Tiba-tiba ia menyadari kesalahannya. Karena itu dengan serta-merta ia berkata, “Maafkan aku. Hatiku sedang diamuk oleh kekecewaan karena aku melihat beberapa orang yang akan meninggalkan padang ini besok pagi”.

Orang itu meng-angguk-anggukkan kepalanya. Kembali ia bertanya, “Jadi benarkah bahwa ada orang-orang yangg akan kembali ke Panawijen besok?”

“Ya”.

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan ia bergumam, “Suatu pertanda bahwa pekerjaan kita akan menjadi semakin berat. Pasti bukan hanya orang itu sajalah yang kemudian akan meninggalkan kita”.

“Apakah kau keberatan?”

Orang itu menggeleng, dan Mahisa Agni pun menjadi malu kepada diri sendiri. Apalagi ketika orang itu menjawab, “Bukankah kita tidak akan dapat memaksanya? Kalau orang-orang itu memang telah menjadi jemu, biarlah mereka pergi. Di tempat ini mereka hanya akan mengganggu dengan berbagai macam hasutan dan menghabiskan persediaan makan yang sudah menipis itu”.

Mahisa Agni menggigit bibirnya. Ia kagum mendengar tekad dan pendapat orang itu. Ternyata di antara orang-orang Panawijen yang malas dan berhati goyah, ada juga orang-orang serupa orang ini.

“Bagaimana kalau mereka semuanya pergi meninggalkan padang ini?” Mahisa Agni mencoba menjajagi hatinya.

“Hem” orang itu berdesah, “kalau demikian maka kita yang tinggal akan bekerja untuk dua tiga musim”.

“Bagus” sahut Mahisa Agni, “ternyata kau adalah seorang yang berhati baja. Setidak-tidaknya kita bertiga dan beberapa orang cantrik akan tinggal disini. Aku, kau, Ki Buyut Panawijen dan cantrik-cantrik dari padepokan Empu Purwa itu”.

Orang itu tersenyum. Sambil menguap ia bergumam, “Aku mengantuk. Aku akan tidur”.

Sejenak kemudian orang itu pun telah berbaring kembali di samping perapian sambil menyelimuti seluruh tubuhnya dengan kain panjang yang lungset. Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ternyata hatinya tidak setenang dan setabah hati orang itu. Orang itu sama sekali tidak menjadi gelisah dan kecewa. Bahkan sejenak kemudian orang itu telah mendekur pula.

Namun dengan demikian, hati Mahisa Agni kini menjadi semakin mantap. Ternyata Yang Maha Agung benar-benar besertanya. Lewat pamannya dan orang yang kini telah tertidur kembali itu, ia mendapat tuntunan-Nya, mendapat peringatan-Nya sehingga ia mendapatkan kekuatannya kembali. Kini Mahisa Agni kembali memandangi padang yang luas dan gelap itu. Padang itu harus ditaklukkannya, sehingga padang itu akan menuruti kemauannya.

Malam yang gelap menjadi semakin gelap. Angin malam berhembus mengusap tubuh Mahisa Agni yang berdiri tegang. Titik-titik embun telah mulai membasahi atap-atap gubug dan rerumputan yang terbentang dihadapannya. Tetapi titik embun itu sama sekali tidak mampu menyejukkan hati Mahisa Agni yang kecewa. Meskipun ia tidak lagi menjadi gelisah dan bingung, namun sikap beberapa orang itu masih saja tidak dapat dimengertinya.

Ketika Mahisa Agni mendengar suara batuk-batuk seseorang yang sedang tidur di gubug yang paling ujung, maka tersadarlah bahwa malam telah terlampau dalam, bahkan telah melampaui titik pusatnya. Karena itu, maka perlahan-lahan Mahisa Agni menggeliat dan melangkah kembali ke gubugnya sambil bergumam,

“Persetan. Pergilah yang mau pergi. Pendapat orang itu baik sekali. Disini mereka hanya akan mengganggu dan menghabiskan persediaan makanan”. Tetapi Mahisa Agni berdesah pula, “Kasian. Mereka telah kehilangan segenap kepercayaan. Kepada diri sendiri dan kepada Sumber Hidup-Nya”.

Tiba-tiba langkah Mahisa Agni tertegun. Ia melihat sesuatu bergerak-gerak dikejauhan. Mula-mula samar-samar, tetapi semakin lama menjadi semakin jelas. Jantung Mahisa Agni serasa berdentang karenanya. Ia melihat nyala obor. Tidak hanya sebuah, tetapi dua, tiga bahkan lebih.

“Apakah aku bermimpi?” desis Mahisa Agni. Namun obor itu masih saja dilihatnya semakin lama semakin nyata.

“Obor itu mendekati perkemahan ini” gumamnya.

Sejenak Mahisa Agni berdiri mematung. Ia mencoba untuk menebak apakah kira-kira yang dilihatnya itu. Apakah benar-benar obor, atau yang sering disebut orang kemamang? Semacam burung yang dapat menyala dan berterbangan di malam hari. Tetapi segera Mahisa Agni dapat memastikan bahwa yang dilihatnya itu adalah nyala beberapa buah obor. Untuk meyakinkan penglihatannya, Mahisa Agni melangkah kembali mendekati orang yang sedang mendekur itu. Perlahan-lahan orang itu dibangunkannya.

Sambil menggeliat orang itu bertanya, “Ada apa Agni?”

“Bangunlah. Lihatlah. Apakah kau melihat seperti yang aku lihat?”

“Apa?”

“Bangunlah”.

Wajah orang itu memjadi tegang. Perlahan-lahan ia bergumam, “Apakah kau sedang menakut-nakuti aku? Atau apakah kau melihat Hantu Karautan?”

“Aku tidak takut kepada Hantu Karautan. Tetapi yang aku lihat adalah obor”.

“O, kemamang kau maksudkan? Hantu api yang menyebarkan bala penyakit”.

“Bangunlah dan lihatlah. Menurut pengamatanku yang aku lihat adalah nyala obor. Sama sekali bukan kemamang Apalagi yang menjebarkan penyakit”.

Dengan tergesa-gesa orang itu bangkit dan segera pula berdiri. Ditatapnya arah yang ditunjuk oleh Mahisa Agni dengan jarinya. Wajah itu pun segera menjadi semakin tegang. Seperti bergumam kepada diri sendiri orang itu berkata,

“Ya ya. Obor”.

“Nah” berkata Mahisa Agni, “bukankah benar-benar obor, api obor? Bukan kemamang yang akan menyebarkan penyakit?”

“Tetapi siapakah yang membawa obor di malam begini di Padang Karautan?, Orang itu berhenti sejenak. Terapi hampir memekik ia berkata, “Pasti Hantu Karautan. Hantu Karautan bersama kawan-kawannya berbaris. Oh, memang hantu-hantu sering berbaris pula seperti manusia. Mungkin hantu-hantu itu terjadi oleh roh-roh jahat. Mungkin gerombolan-gerombolan perampok yang terbunuh di padang ini oleh prajurit Tumapel”.

“Hantu-hantu tidak memerlukan obor” sahut Mahisa Agni, “mereka dapat melihat jelas di dalam gelap. Justru semakin gelap, mereka semakin dapat melihat dengan tajamnya”.

Orang itu menarik nafas., “ Lalu siapakah mereka?” Mahisa Agni tidak segera dapat menjawab. Kembali orang itu berkata dengan serta-merta, “Kalau begitu mereka bukan roh perampok-perampok yang mati di padang ini, tetapi justru mereka adalah perampok-perampok yang masih hidup. Mereka menyangka kita membawa banyak perbekalan disini”.

Dada Mahisa Agni berdesir mendengar kata-kata itu. Meskipun angan-angannya tidak sejalan dengan orang itu, bahwa yang datang itu gerombolan perampok yang akan merampas harta benda, tetapi ada juga persamaaanya dengan itu. Angan-angannya segera hinggap kepada Empu Sada, Kuda Sempana, dan orang yang ditemuinya terakhir di Padang Karautan Wong Sarimpat.

Wajah Mahisa Agni pun menjadi semakin tegang. Di kenangnya pula ceritera Witantra ketika pemimpin prajurit pengawal Akuwu itu mengantar Ken Dcdes ke Panawijen. Ternyata Empu Sada mampu membawa segerombol orang-orangnya untuk mencegat para pengawal.

“Apakah mereka datang kemari pula?” katanya di dalam hati, “tetapi apakah mereka memerlukan obor juga?”

Meskipun Mahisa Agni menjadi bimbang, tetapi kemungkinan itulah yang paling besar dapat terjadi. Tidak ada hantu tidak ada kemamang yang menyebarkan penyakit, tetapi apabila yang datang itu Empu Sada dan Wong Sarimpat, maka akibatnya lebih dari hantu yang mana pun juga, lebih daripada kemamang yang menyebarkan penyakit. Tetapi Mahisa Agni tidak mau menggelisahkan orang-orang Panawijen. Dengan tenang ia berkata,

“Marilah kita tunggu, siapakah yang datang itu. Sebaiknya Ki Buyut Panawijen siap pula menyambutnya. Mungkin orang-orang yang datang itu sebuah rombongan pedagang yang tersesat atau mencari perlindungan”.

“Apakah mereka tahu, bahwa di sini ada perkemahan?”

“Api yang menyala di perapian dan lampu-lampu itulah agaknya yang menuntun mereka kemari”.

Orang itu pun meng-angguk-anggukkan kepalanya. Dari sela-sela bibirnya ia bergumam, “Mungkin. Mungkin pula demikian”. Namun terasa bahwa batinya diganggu oleh keragu-raguan dan kecemasan.

“Awasilah obor-obor itu” berkata Mahisa Agni, “aku akan membangunkan Ki Buyut”.

“Baiklah, “ jawab orang itu, “tetapi jangan terlampau, lama”.

“Kenapa?”

Orang itu tidak menjawab, tetapi Mahisa Agni dapat meraba perasaannya. Orang itu agaknya menjadi takut.

“Jangan takut dan cemas. Obor-obor itu masih terlalu jauh. Kalau benar mereka itu para pedagang yang tersesat, maka kau pasti akan mendapat hadiah nanti. Tenanglah”.

Orang itu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja, tanpa sepatah jawabanpun. Dengan tenangnya Mahisa Agni berjalan meninggalkannya seorang diri. Tetapi ketika Agni telah membelok ke balik sebuah gubug, maka segera ia mempercepat langkahnya. Hatinya sendiri sebenarnya telah dilanda pula oleh kegelisahan dan berbagai pertanyaan mengenai obor-obor itu.

Ki Buyut yang kemudian dibangunkan dari tidurnya, dengan tergesa-gesa pergi keluar gubugnya dan berjalan ke sisi perkemahan. Atas petunjuk Mahisa Agni, segera ia pun melihat beberapa buah obor yang kini menjadi semakin dekat.

“Apakah menurut dugaanmu Ngger?”

“Aku tidak tahu Ki Buyut”. Ki Buyut mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia pun menjadi gelisah pula. “Aku akan membangunkan paman pula Ki Buyut”.

“Bagus, “ sahutnya, “aku menunggu disini”.

Kembali Mahisa Agni melangkah dengan tergesa-gesa. Berbagai gambaran hilir mudik dikepalanya. Namun yang paling tajam adalah gambaran tentang Kuda Sempana, Empu Sada dan orang yang berwajah kasar, sekasar batu padas, yang mampu memacu kuda tanpa pelana.

Empu Gandring mengerutkan keningnya ketika ia mendengar tentang obor-obor itu dari Mahisa Agni. Seperti Ki Buyut maka orang tua itu pun segera pergi ke sisi perkemahan untuk dapat melihat obor-obor itu dengan jelas.

“Apakah dugaan Empu tentang obor-obor itu?”

Empu Gandring menggeleng, “Aku belum dapat menduga Ki Buyut”.

Namun Mahisa Agnilah yang menjawab dengan ragu-ragu, “Apakah mungkin mereka itu sebuah gerombolan seperti yang diceriterakan oleh Witantra itu paman. Bukankah Empu Sada pernah mencoba mencegat Ken Dedes?”

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia berdesis, “Apakah mereka akan datang dengan membawa obor?”

“Mereka yakin bahwa usahanya akan berhasil kali ini. Bukankah Empu Sada tidak sendiri?”

“Ya, Bersama Wong Sarimpat, Kebo Sindet dan beberapa orang muridnya”.

Mahisa Agni menjadi berdebar-debar mendengar jawaban pamannya, meskipun ia sudah menduga pula. Nama-nama itu kembali diulanginya didalam hatinya, Empu Sada, Wong Sarimpat dan Kebo Sindet.

“Hem” desahnya.

Ki Buyut Panawijen yang mendengar pembicaraan itu pun menjadi cemas pula. Terbata-bata ia bertanya, “Siapakah mereka itu Empu? Apakah mereka itulah yang ingin berbuat jahat atas Angger Mahisa Agni?”

“Belum pasti Ki Buyut. Kita belum tahu pasti siapakah yang akan datang itu”.

“Tetapi kemungkinan terbesar adalah mereka itu. Siapa lagi? Siapa lagi yang akan datang dilewat tengah malam ini kecuali orang jahat? Mereka sengaja datang sambil membawa obor untuk memberitahukan kepada kita bahwa mereka datang dengan dada tengadah”.

Empu Gandring masih berusaha menenangkan, “Ki Buyut, Padang Karautan ini adalah padang yang terlampau sepi. Seandainya ada satu dua penjahat atau penyamun, maka mereka pasti berada di sisi lain, yang sering dilalui orang”.

“Mereka pun pasti hanya seorang atau dua, tidak dalam jumlah yang besar”.

“Mereka dapat memanggil kawan-kawan mereka Empu”.

“Apakah yang akan mereka cari di sini? Bukankah mereka mengetahui bahwa kita sedang bekerja membuat bendungan? Seandainya mereka ingin merampok kita, maka mereka pasti akan datang ke Panawijen justru di sana hampir tidak ada seorang laki-laki pun”.

Ki Buyut memandangi wajah Empu Gandring dengan gelisahnya. Perlahan-lahan ia menjawab ragu-ragu sambil berpaling kepada Mahisa Agni, “Bukan Empu, bukan harta benda yang mereka cari, bukankah mereka mencari Angger Mahisa Agni”.

Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam, sedang Mahisa Agni mcnggeretakkan giginya. Sambil mengangguk perlahan-lahan Empu Gandring berkata, “Mungkin. Tetapi itu pun baru kemungkinan. Kita semua tidak tahu, siapakah yang datang itu?”

Sejenak mereka terdiam. Obor-obor itu bergerak-gerak seperti siput yang sedang merayap. Perlahan-lahan tetapi pasti maju mendekati perkemahan ini. Mereka terkejut ketika kemudian terjadi hiruk pikuk di sisi perkemahan itu. Ternyata beberapa orang telah bangun. Oleh orang yang melihat obor itu bersama Mahisa Agni, beberapa kawannya telah dibangunkannya karena perasaan takut. Tetapi ternyata ketakutannya itu pun telah menjalar pula, sehingga kemudian hampir semua orang di perkemahan itu terbangun.

Beberapa orang berlari-lari mencari Ki Buyut Panawijen. Dengan nafas terengah-engah salah seorang dari mereka bertanya, “Apakah yang datang itu Ki Buyut?”




OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar