Ki Buyut Panawijen menggelengkan kepalanya sambil menjawab, “Aku belum tahu. Tak seorang pun yang tahu, siapakah yang datang itu”.
“Apakah mereka orang-orang jahat atau hantu-hantu yang akan berbuat jahat atas kita?”
Ki Buyut Panawijen itu menggeleng pula, “Aku tidak tahu”.
Orang-orang itu terdiam sejenak. Dengan wajah yang tegang mereka memandangi api-api obor yang bergerak-gerak di tengah Padang Karautan itu.
Tiba-tiba salah seorang dari mereka berkata, “Apakah mereka itu orang-orang yang dibawa oleh Kuda Sempana mencari Mahisa Agni. Bukankah menurut pendengaran kami, Kuda Sempana selalu berusaha menangkap Mahisa Agni dengan bantuan gurunya atau orang-orang lain yang mereka anggap mampu berbuat demikian?”
Sekali lagi Ki Buyut Panawijen menggelengkan kepalanya, “Aku tidak tahu”.
“Kalau demikian celakalah kami, “ desis seseorang.
“Mengapa?,“ dengan serta-merta terdengar Mahisa Agni bertanya.
“Kami yang tidak tahu menahu sengketa antara kau dan Kuda Sempana pasti akan mengalami bencana pula di perkemahan ini. Kalau Kuda Sempana datang bersama gurunya dan saudara-saudara seperguruannya menyerang kita, maka matilah kita semua” berkata yang lain.
Dada Mahisa Agni berdesir mendengar kata-kata itu. Apa lagi ketika yang lain menyambung, “Hem, ternyata Mahisa Agni semalam ini selalu menyusahkan kita. Mahisa Agni sekeluarga. Empu Purwa dan Ken Dedes itu pula. Merekalah sumber bencana yang selama ini melanda pedukuhan kita. Bukankah Kuda Sempana sebenarnya hanya menghendaki gadis itu. Bukankah bendungan kita hancur karena Empu Purwa dan apabila kita sekarang binasa adalah karena Mahisa Agni”.
“Kenapa kita…..” kata-kata orang itu tidak dapat diselesaikan.
Alangkah terperanjatnya, dan kemudian terdengar ia menjerit ketika tiba-tiba tangan Mahisa Agni telah menampar mulutnya. Meskipun bagi Mahisa Agni ayunan tangannya itu hanya sekedar untuk membungkam kata-kata yang menyakitkan hatinya, tetapi bagi orang yang ditamparnya serasa bagaikan tersambar petir.
“Agni” terdengar suara pamannya lantang.
Tetapi orang itu telah terduduk di tanah sambil menutup mulutnya yang berdarah. Semua orang memandang Mahisa Agni dengan wajah yang tegang. Terasa berbagai perasaan bergolak di dalam dada mereka. Ketakutan, kecemasan dan kegelisahan. Mereka takut melihat obor-obor yang merayap semakin dekat. Teiapi mereka pun menjadi takut apabila tiba-tiba Mahisa Agni menjadi marah dan mengamuk.
Mahisa Agni masih berdiri tegang, namun kepalanya tiba-tiba menunduk Ia tidak berani menatap mata pamannya yang memandanginya dengan tajam. Perlahan-lahan sekali pamannya itu berkata,
“Agni, jagalah perasaanmu” Namun suara yang perlahan-lahan itu serasa jauh lebih keras dari ayunan tangannya.
Kini suasana sejenak ditelan oleh kesepian. Kesepian yang diwarnai oleh berbagai macam perasaan yang bercampur-aduk. Kesepian yang menyesakkan dada. Sementara itu obor di Padang Karautan itu masih saja merayap semakin dekat. Dalam kepekatan malam, maka tampaklah titik-titik api itu sedemikian jelasnya, bergerak-gerak silang menyilang.
Tiba-tiba kesenyapan di perkemahan itu dipecahkan oleh suara Mahisa Agni perlahan-lahan, “Paman Empu Gandring, Ki Buyut Panawijen dan saudara-saudaraku rakyat Panawijen. Mungkin kalian benar. Akulah yang telah menyeret kalian kedalam bencana. Tidak saja aku telah membakar kalian setiap hari dipanas terik matahari, dan membekukan kalian diembun malam yang dingin di Padang Karautan, tetapi apabila benar yang datang itu Kuda Sempana, maka kalian mungkin akan terpercik bencana pula. Karena itu, biarlah aku menyongsong bencana yang akan datang. Biarlah kalian terlepas dari setiap kemungkinan yang tidak kalian kehendaki” Mahisa Agni berhenti sejenak. Ditatapnya wajah-wajah yang tegang di sekelilingnya. Tetapi wajah-wajah itu masih saja tegang membeku.
Maka sambungnya, “Paman, Ki Buyut dan saudara-saudaraku. Aku tidak akan menunggu obor itu sampai di perkemahan. Biarlah aku pergi menyongsongnya. Jangan diharap aku kembali ke tengah-tengah kalian. Kalau kemudian kalian merasa tidak perlu lagi dengan bendungan ini, maka tinggalkanlah”.
“Kenapa kau akan pergi Angger?” potong Ki Buyut dengan cemas.
“Kalau yang datang itu Kuda Sempana Ki Buyut, biarlah mereka akan aku hadapi. Tetapi tidak di sini”.
“Agni” berkata Ki Buyut terbata-bata, “kalau benar yang datang itu Kuda Sempana, kenapa Angger tidak saja berusaha melarikan diri sebelum terlambat”.
Terasa dada Mahisa Agni berdesir. Meskipun ia akan dapat berusaha menyingkir, namun akibatnya akan menimpa orang-orang Panawijen. Kuda Sempana dan kawan-kawannya pasti akan marah. Sasarannya pasti orang-orang Panawijen itu. Karena itu maka katanya,
“Tidak Ki Buyut. Dengan demikian, maka aku telah menyerahkan orang-orang Panawijen kedalam suatu keadaan yang sulit. Mereka pasti akan mencari aku dan memaksa orang-orang Panawijen ini menunjukkan dimana aku bersembunyi”.
Ki Buyut itu pun terdiam. Tetapi beberapa orang menjadi sangat cemas dan ketakutan.
“Karena itu Ki Buyut,” Mahisa Agni melanjutkan, “aku akan menyongsong mereka, dengan demikian maka kalian, orang-orang Panawijen ini akan terlepas dari bahaya”.
Terasa sesuatu bergetar di dalam dada Ki Buyut yang tua itu. Mahisa Agni baginya adalah lambang dari masa depan. Kerja yang tak dapat dilakukan oleh orang lain telah dilakukannya. Kini ketika bahaya mengancamnya, maka apakah ia akan dapat melepaskannya?. Tetapi sebelum Ki Buyut mengucapkan sepatah kata pun maka Mahisa Agni itu segera melangkah meninggalkannya kembali ke gubugnya. Tak seorang pun yang tahu, apa yang akan dilakukannya. Sementara itu pamannya pun mengikutinya pula dibelakangnya.
“Kau akan pergi Agni?” bertanya pamannya.
“Ya paman. Tak ada jalan lain untuk menyelamatkan orang-orang Panawijen. Kalau Kuda Sempana dan gurunya akan menangkap aku, biarlah mereka membawa mayatku”.
Dada pamannya berdesir mendengar jawaban itu. Apalagi ketika kemudian ia melihat Mahisa Agni meraih pedangnya dan disangkutkannya di lambungnya. Bukan hanya pedang itu, tetapi dari bawah tikar pembaringannya diambilnya pusakanya yang jarang-jarang dirabanya. Pusaka itu adalah sebilah keris buatan Empu Gandring sendiri. Meskipun demikian, Mahisa Agni mula-mula masih menyesal bahwa pusaka peninggalan gurunya tidak dibawa pula. Kalau demikian akan lengkaplah perlawanannya. Ia akan melawan dengan segenap tenaga kemampuan yang ada padanya meskipun ia sadar, bahwa Empu Sada, Kebo Sindet dan Wong Sarimpat bukanlah lawannya.
“Muda-mudahan seorang yang tepat menemukan trisula itu” desisnya di dalam hati.
Bahkan kemudian ia merasa beruntung bahwa pusaka itu tidak dibawanya. Sebab dengan demikian trisula itu akan dapat jatuh ketangan musuh-musuhnya.
“Sudahlah paman. Aku akan pergi, “ Tetapi kata-kata itu terputus ketika melihat pamannya menyelipkan pula kerisnya yang besar itu di punggungnya.
“Apakah yang akan paman lakukan?”
“Jangan pergi sendiri Agni. Aku pun akan pergi. Aku ingin melihat apa yang sebenarnya akan terjadi. Aku masih selalu dicengkam oleh keragu-raguan. Bukankah semua itu baru dugaan saja? Tetapi seakan-akan semua orang telah memastikan apa yang akan terjadi”.
Terasa mata Mahisa Agni menjadi panas. Perlahan-lahan ia bergumam, “Paman, aku menyampaikan terima kasih. Tetapi aku kira paman tidak usah pergi bersamaku. Biarlah cukup aku saja yang akan menjadi korban dari dendam yang membara di dada Kuda Sempana. Bukankah paman harus kembali ke Padepokan paman. Bukankah masih banyak yang dapat paman kerjakan?”
Pamannya tersenyum, tetapi senyum itu terasa terlampau pedih di hati Mahisa Agni. “Aku adalah pamanmu Agni. Kalau masih ada ayahmu, mungkin aku tidak akan mempedulikan lagi apa yang terjadi atasmu. Tetapi ayahmu kini sudah tidak ada lagi. Karena itu adalah menjadi kewajibanku untuk melihat apa saja yang dapat terjadi atasmu”.
Mahisa Agni tidak menjawab. Tetapi kepalanya tiba-tiba terkulai jatuh pada ujung jari-jari kakinya.
“Obor itu pasti sudah semakin dekat. Mari kita berangkat” ajak pamannya.
Mahisa Agni tidak menjawab. Ketika pamannya melangkah keluar ia mengikutinya saja dibelakangnya. Di sisi perkemahan itu, orang-orang Panawijen sudah menjadi semakin tegang. Obor itu sudah semakin dekat. Ketika mereka melihat Agni dan pamannya datang menyandang senjata, maka hati mereka pun menjadi semakin berdebar-debar. Sejenak Mahisa Agni berdiri mematung. Gelora di dalam dadanya kian berkecamuk. Sekali dipandanginya wajah-wajah orang Panawijen yang tegang, dan sekali ditatapnya api obor yang menjadi semakin dekat.
Ketika Ki Buyut Panawijen melihatnya telah bersiap untuk menyongsong obor-obor itu yang mungkin akan dapat mencelakakannya, maka hatinya pun menjadi pedih. Pada saat-saat terakhir Mahisa Agni telah menyerahkan hampir segenap waktu dan kemampuannya untuk membangunkan sebuah bendungan bagi kesejahteraan orang-orang Panawijen, dan kini bahwa miliknya yang paling berharga, yaitu hidupnya sekali, akan diserahkannya pula. Meskipun sebenarnya Mahisa Agni masih mempunyai kesempatan untuk lari, namun anak muda itu tidak mempergunakannya, karena ia tidak mau mengorbankan orang-orang lain untuk kepentingannya.
Tiba-tiba, seakan-akan di luar sadarnya orang tua itu berkata, “Agni, tanpa kau, kerja kami tidak akan berarti. Aku tahu apa yang sebenarnya tersembunyi di hampir setiap dada orang-orang Panawijen. Jemu. Karena itu sepeninggalmu, maka aku pun akan tidak berarti apa-apa. Dengan demikian Ngger, maka aku kira lebih baik aku pergi juga bersamamu, melihat apa yang sebenarnya terjadi. Kalau bahaya itu datang menerkammu, biarlah aku mencoba membantumu meskipun aku tahu, bahwa tenagaku tidak akan berati apa-apa. Tetapi aku sudah berbuat sesuatu. Aku tidak dapat melepaskanmu begitu saja setelah kau bekerja sekuat-kuat tenagamu untuk kami disini”.
Mahisa Agni menggeleng. Katanya, “Jangan Ki Buyut. Dengan demikian maka orang-orang Panawijen akan kehilangan pemimpinnya. Ki Buyut akan dapat berbuat banyak untuk kepentingan mereka”.
“Tidak” sahut Ki Buyut, “aku tidak akan mampu berbuat sesuatu mengatasi kejemuan mereka”.
“Jangan Ki Buyut” potong Mahisa Agni, “aku berkeberatan. Tinggallah di sini. Kalau Ki Buyut pergi juga, maka hatiku akan menjadi semakin pahit. Ternyata Ki Buyut juga tidak lagi menghiraukan aku lagi”.
Ki Buyut terdiam. Ia menjadi bingung. Tetapi kata-kata Mahisa Agni itu seperti telah mencengkamnya di atas tempatnya berdiri. Ketika ia melihat Mahisa Agni itu bergerak, maka kakinya seakan-akan telah tertancap dalam-dalam di Padang Karautan itu.
“Kalau Ki Buyut masih juga mau mendengarkan kata-kataku, tinggallah di sini. Dengan demikian hatiku masih juga mengucap syukur, bahwa Ki Buyut akan tetap berusaha meneruskan kerja ini meskipun hanya dengan tiga empat orang seperti yang dilakukan oleh Empu Purwa dahulu. Tiga empat tahun kerja Ki Buyut itu akan selesai”.
Ki Buyut tidak dapat menjawab. Mulutnya serasa terbungkam dan tenggorokannya serasa tersumbat sesuatu.
“Sudahlah Ki Buyut” Mahisa Agni bergumam dengan nada yang rendah datar.
Ki Buyut hanya mampu menganggukkan kepalanya. Tetapi mulutnya tidak dapat mengucapkan kata-kata. Betapapun orang-orang Panawijen itu merasa bahwa Mahisa Agni telah menyebabkan mereka terdorong ke dalam suatu kesulitan, betapa mereka menyesali Empu Purwa, namun ketika kemudian mereka melihat anak muda itu berjalan meninggalkan mereka menyongsong nyala-nyala obor dikejauhan, maka hati mereka pun menjadi trenyuh. Beberapa anak-anak mengepalkan tangannya dan berkata di dalam hatinya,
“Oh, seandainya aku mampu berkelahi, aku pasti akan mengawaninya”.
Apalagi Jinan dan Sinung Sari. Mereka adalah anak-anak muda yang pertama-tama mengikuti Mahisa Agni mencari tempat ini. Tetapi mereka hanya berani menggeretakkan gigi-gigi mereka. Betapa besar keinginan mereka untuk membantu Mahisa Agni, tetapi mereka tidak memiliki keberanian untuk itu. Sedangkan orang tua-tua hanya dapat mengusap dada mereka sambil berdoa, semoga Mahisa Agni tidak menemukan sesuatu bencana, apalagi yang dapat membahayakan jiwanya.
Berbeda dengan mereka adalah Patalan. Ia tidak dapat lagi menahan perasaannya melihat Mahisa Agni melangkah meninggalkan mereka masuk ke dalam malam yang gelap. Pedang dilambungnya telah membuat anak muda itu menjadi semakin berdebar-debar. Sedangkan yang pergi bersamanya hanyalah seorang yang telah lanjut usia dengan sebilah keris raksasa di punggungnya.
“Apakah kita sampai hati melepaskannya?” desis Patalan di dalam hatinya.
Patalan bukanlah seorang pemberani. Tetapi perasaannya ternyata lebih tajam dari kawan-kawannya. Betapapun ia dikuasai oleh kecemasan, tetapi tiba-tiba ia berlari masuk ke dalam gubugnya. Diraihnya pedang di dinding gubug itu, dan tanpa berkata apa pun kepada kawan-kawannya, maka segera ia pun berlari menyusul Mahisa Agni.
“Patalan” terdengar beberapa orang memanggilnya. Tetapi Patalan sama sekali tidak berpaling. Ia berlari semakin kencang. Dan bahkan kemudian terdengar ia berteriak,
“Agni, tunggu. Tunggu. Aku pergi bersamamu”.
Kepergian Patalan telah menggoncangkan dada orang-orang Panawijen. Tiba-tiba merekapun ingin juga berlari menyusul seperti Patalan. Namun mereka telah diikat oleh kecemasan dan ketakutan. Mereka tidak berani beranjak dari tempatnya. Tetapi dengan demikian, merayaplah kesadaran di dalam hati mereka, bahwa sebenarnya Mahisa Agni selama ini telah mengorbankan apa saja yang ada padanya untuk kepentingan mereka. Untuk kepentingan Panawijen. Sama sekali bukan untuk kepentingan diri sendiri.
Orang-orang Panawijen yang selama ini telah menyakiti hatinya menjadi kecewa. Kecewa sekali. Tetapi apakah mereka masih akan mendapat kesempatan untuk menyatakan penyesalannya dan minta maaf kepada anak muda itu. Mahisa Agni telah pergi dan berkata kepada mereka, supaya mereka tidak lagi mengharapkan ia kembali. Beberapa orang merasa, betapa besar kesalahan mereka terhadap anak muda itu. Anak muda yang kini berjalan menembus gelap malam meninggalkan mereka dengan pedang di lambungnya.
Orang-orang Panawijen yang tinggal di perkemahan itu kini masih saja berdiri tegak seperti patung. Mereka melihat Mahisa Agni dan Empu Gandring menghilang seperti ditelan oleh gelap malam yang menganga di Padang Karautan. Sejenak mereka masih dapat menyaksikan Patalan berlari menyusul keduanya. Kemudian mereka pun hilanglah. Hilang, dan terasa betapa kini mereka kehilangan anak muda yang telah banyak berkorban untuk mereka.
Mahisa Agni yang berjalan meninggalkan orang-orang Panawijen bersama pamannya terkejut mendengar seseorang memanggilnya. Ketika mereka berpaling, mereka melihat Patalan berlari-lari menyusul.
“Ada apa Patalan?” bertanya Mahisa Agni.
“Aku akan pergi bersamamu Agni” sahut Patalan dengan nafas terengah-engah. Mahisa Agni dan Empu Gandring menjadi heran. “Kenapa kau akan ikut kami” bertanya Mahisa Agni.
“Kita pergi bersama-sama sejak kita mencari tempat ini Agni. Kita telah bekerja pula bersama-sama. Sekarang berilah aku kesempatan mengikutimu, apa pun yang akan terjadi”.
“Patalan” dada Agni berdesir tajam, “terima kasih, tetapi kali ini aku akan menghadapi keadaan yang tidak menentu. Aku belum tahu apakah kira-kira yang akan terjadi. Karena itu kembalilah”.
“Dahulu, ketika kita meninggalkan Panawijen masuk ke dalam padang ini, kita juga belum tahu apa yang akan terjadi. Agni, berilah aku kesempatan, Mungkin aku tidak berarti bagimu, tetapi aku tidak dapat kembali. Aku tidak dapat melihat kau seoang diri menyongsong bahaya tanpa perhatian. Aku tidak akan mampu membelamu dalam keadaan apapun. Tetapi setidak-tidaknya aku sudah menyatakan kesetia-kawananku terhadapmu”.
“Terima kasih” sekali lagi Mahisa Agni menyalakan perasaannya, “tetapi kembalilah. Mungkin aku tidak akan sempat berbuat sesuatu atasmu, sebab keadaanku sendiri sama sekali tidak aku ketahui”.
“Tidak” sahut Patalan, “kali ini aku tidak akan minta perlindunganmu. Sejak aku hampir mati ketakutan di Padang Karautan bukankah aku belajar memegang hulu pedang? Bukankah kau juga yang mengajari aku? Mudah-mudahan aku dapat mempergunakannya”.
“Oh” Mahisa Agni menarik nafas, “apa yang aku berikan itu sama sekali belum berarti apa-apa Patalan”.
“Beri aku kesempatan Agni. Bukan terdorong karena kesombonganku, tetapi katakanlah bahwa kau menghadapi bahaya maut, dan aku pun bersedia menghadapinya”.
“Hem,” Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Betapa ia menjadi heran melihat Patalan tiba-tiba saja tidak takut menentang maut. Karena itu, maka akhirnya ia kembali. Katanya, “Baiklah Patalan. Kalau kau bersedia ikut bersama kami. Tetapi kau harus sudah dapat membayangkan, bahwa kita kali ini tidak sedang bertamasya”.
“Aku tahu Agni” sahut Patalan.
“Baiklah” gumam Mahisa Agni.
Ketiganya pun kemudian meneruskan perjalanan mereka menyongsong api-api obor yang semakin lama menjadi semakin dekat. Langkah-langkah mereka semakin lama menjadi semakin cepat. Mahisa Agni berjalan dipaling depan, kemudian pamannya dan Patalan berjalan berjajar dibelakangnya. Tak sepatah kata pun yang mereka ucapkan. Meskipun demikian semakin dekat mereka dengan obor-obor itu, hati mereka pun menjadi semakin berdebar-debar.
Tanpa sesadarnya, maka tangan Mahisa Agni telah melekat di hulu pedangnya. Dengan gigi gemeretak ia memandang lurus ke depan. Memandang pada setiap kemungkinan yang dapat terjadi atasnya. Sedang Patalan pun benar-benar mengherankan. Ia kini tidak lagi gemetar dan bahkan hampir pingsan ketakutan seperti pada saat ia bertemu dengan orang yang menyebut dirinya hantu Karautan di padang ini beberapa saat yang lampau. Tetapi kini ia berjalan dengan langkah yang tetap seperti Mahisa Agni. Tangannya pun telah melekat pula di hulu pedangnya.
Empu Gandringlah yang masih juga memandangi setiap titik nyala obor dihadapannya dengan tenang. Kerut-kerut umur di wajahnya seakan-akan menjadi kian bertambah. Tetapi orang itu masih juga sempat memperhatikan sikap kemenakannya. Meskipun demikian Empu Gandring tidak berkata sepatah katapun. Jauh di belakang mereka, orang-orang Panawijen masih juga berdiri di tempatnya. Mereka seakan-akan telah membeku.
Mata mereka terhunjam ke dalam gelap malam yang terbentang di atas padang Karautan. Tetapi mereka tidak melihat sesuatu kecuali nyala-nyala obor itu. Dengan hati yang gelisah, cemas dan berdebar-debar mereka memandangi api itu. Api itu masih saja merayap mendekat.
Tiba-tiba hati mereka terguncang ketika mereka melihat obor-obor itu berhenti. Seperti nyala-nyala api itu mengambang di udara yang dingin pekat. Tak seorang pun yang dapat membayangkan apa yang terjadi dikejauhan itu. Mereka benar-benar tidak melihat sesuatu kecuali api itu. Tangan-tangan yang menggenggam obor itu pun sama sekali tidak mereka lihat. Apalagi orang-orang yang berada di sekitarnya.
Mereka tidak akan dapat melihat seandainya di sekitar obor-obor itu kini terjadi perkelahian yang sengit. Mereka tidak akan dapat melihat seandainya Mahisa Agni terluka atau bahkan terbunuh. Atau mungkin pula Mahisa Agni itu kini telah mereka tangkap dan mereka seret dengan kasarnya di tengah-tengah padang yang gelap itu. Tetapi mungkin pula terjadi sebaliknya. Mungkin pedang Mahisa Agni dan keris raksasa pamannya telah berhasil membersihkan lawannya.
Tetapi obor itu masih juga menyala di tempatnya Tidak bergerak dan tidak menjauh. Dada orang-orang Panawijen itu menjadi semakin berdebar-debar. Mereka tidak merasa bahwa mereka telah berdiri terlampau lama di tempatnya. Mereka tersadar ketika tiba-tiba mereka melihat obor itu bergerak pula dan darah mereka serasa berhenti mengalir ketika tiba-tiba pula mereka melihat seseorang berlari-lari menuju kepada mereka sambil berteriak,
“Ki Buyut. Ki Buyut”. Orang itu adalah Patalan.
Betapa terkejut Ki Buyut Panawijen melihat Patalan yang seakan-akan dimuntahkan dari mulut kegelapan yang pekat itu. Terhuyung-huyung anak itu menjadi semakin dekat. Beberapa langkah lagi Patahan akan sampai di perkemahan, tetapi seakan-akan tenaganya telah terperas habis.
“Patalan” Ki Buyut Panawijen berlari tertatih-tatih menyongsongnya, “kenapa kau?”
Nafas Patalan seakan-akan telah terputus di kerongkongannya. Kini ia sudah tidak berlari lagi. Anak muda itu berdiri seperti sehelai daun ilalang ditiup badai. Sehingga ketika Ki Buyut Panawijen dan beberapa orang yang berlari-lari menyusulnya sampai dihadapannya, maka Patalan itu pun terjatuh.
“Patalan” panggil Ki Buyut sambil berjongkok di sampingnya. Diangkatnya kepala anak itu sambil bertanya, “Ada apa? Ada apa Patalan?”
“Ki Buyut” Patalan mencoba berkata sesuatu. Tetapi nafasnya telah menjadi terlampau sendat, sehingga akhirnya anak itu jatuh pingsan kelelahan.
“Pingsan,” desis Ki Buyut, “ambil air. Cepat. Ia akan dapat segera sadar dan mengatakan kepada kita, apa yang telah terjadi”.
Beberapa orang berlari-larian mencari air. Sedang beberapa orang lain berdiri dengan wajah pucat gemetar.
“Apakah yang terjadi?” desis sesama mereka.
“Bencana. Bencana akan menimpa kita sekalian” berkata salah seorang dari mereka.
“Lihat” sabut yang lain, “kini obor-obor itu telah mendekat. Mahisa Agni pun pasti telah mereka tangkap. Agaknya mereka tidak puas dengan menangkap Mahisa Agni dan pamannya yang tua itu. Untunglah Patalan sempat melarikan diri”.
“Ya, sekarang bagaimana dengan kita?”
“Kita harus melarikan diri pula”.
“Ya. Kita harus melarikan diri”.
Tetapi percakapan itu terputus oleh suara Ki Buyut lantang, “Kita tetap disini. Apa pun yang akan terjadi”.
“Tetapi bagaimana kalau mereka akan membunuh kita semua Ki Buyut?”
“Tak ada gunanya melarikan diri. Mereka akan mengejar dan menangkap kita. Dengan demikian kita hanya akan menambah kemarahan mereka sehingga mereka akan berbuat jauh lebih mengerikan lagi”.
Orang-orang Panawijen itu kini telah benar-benar menggigil. Betapa anak-anak muda seakan-akan tidak lagi mampu berdiri di atas kaki mereka. Namun dalam pada itu Ki Buyut berkata,
“Dari pada kita berusaha melarikan diri, bukankah jumlah kita cukup banyak? He anak-anak muda, kenapa kalian tidak mengambil Senjata-senjata kalian?”
Tak seorang pun yang beranjak dari tempatnya. Bahkan darah mereka seakan-akan telah benar-benar membeku. Ketika beberapa orang yang mengambil air telah datang, maka obor di Padang Karautan itu pun telah menjadi semakin dekat.
“Ki Buyut” tiba-tiba seorang anak muda berkata gemetar, “Kenapa kita tidak boleh lari? Bukankah lebih baik menyelamatkan diri daripada kita dibinasakanya disini?”
“Ambil senjatamu” teriak Ki Buyut yang tua itu, “kalau kau tidak mempunyai pedang, ambillah kapak atau beliung atau apa saja yang dapat kau pergunakan sebagai senjata. Jangan menjadi pengecut sampai akhir hayatmu”. Tetapi teriakan Ki Buyut itu menambahnya menjadi ketakutan.
Jinan dan Sinung Sari pun kini telah berjongkok di samping Patalan yang pingsan itu pula. Perlahan-lahan dititikkan nya air ke bibir anak itu.
“Setetes demi setetes” Ki Buyut memperingatkan. Kemudian katanya pula, “Jaga Patalan baik-baik. Usahakan anak ini segera menjadi sadar”.
“Apakah Ki Buyut akan pergi” bertanya Sinung Sari.
“Tidak. Aku tetap disini” sahut Ki Buyut, “tetapi aku tidak akan berdiam diri meskipun aku sudah tua”.
Ki Buyut itu pun segera menyerahkan Patalan kepada Sinung Sari dan Jinan. Dengan tergesa-gesa ia berdiri dan melangkah ke gubugnya. Berpasang-pasang mata mengikutinya dengan pertanyaan di dalam setiap hati. Namun segera mereka mengetahui, apakah yang telah dikerjakan oleh Ki Buyut itu.
Sejenak kemudian Ki Buyut itu pun telah kembali pula diantara orang-orang Panawijen. Tetapi kini ia memegang pedang di tangannya. Tangan yang sudah berkeriput, namun genggaman atas pedangnya masih cukup kuat. Ki Buyut bukanlah seseorang yang sama sekali tidak mampu menggenggam pedang. Meskipun ia bukan seorang yang cukup baik untuk berkelahi, namun ia mampu pula menggerakkan senjata.
“Apakah mereka orang-orang jahat atau hantu-hantu yang akan berbuat jahat atas kita?”
Ki Buyut Panawijen itu menggeleng pula, “Aku tidak tahu”.
Orang-orang itu terdiam sejenak. Dengan wajah yang tegang mereka memandangi api-api obor yang bergerak-gerak di tengah Padang Karautan itu.
Tiba-tiba salah seorang dari mereka berkata, “Apakah mereka itu orang-orang yang dibawa oleh Kuda Sempana mencari Mahisa Agni. Bukankah menurut pendengaran kami, Kuda Sempana selalu berusaha menangkap Mahisa Agni dengan bantuan gurunya atau orang-orang lain yang mereka anggap mampu berbuat demikian?”
Sekali lagi Ki Buyut Panawijen menggelengkan kepalanya, “Aku tidak tahu”.
“Kalau demikian celakalah kami, “ desis seseorang.
“Mengapa?,“ dengan serta-merta terdengar Mahisa Agni bertanya.
“Kami yang tidak tahu menahu sengketa antara kau dan Kuda Sempana pasti akan mengalami bencana pula di perkemahan ini. Kalau Kuda Sempana datang bersama gurunya dan saudara-saudara seperguruannya menyerang kita, maka matilah kita semua” berkata yang lain.
Dada Mahisa Agni berdesir mendengar kata-kata itu. Apa lagi ketika yang lain menyambung, “Hem, ternyata Mahisa Agni semalam ini selalu menyusahkan kita. Mahisa Agni sekeluarga. Empu Purwa dan Ken Dedes itu pula. Merekalah sumber bencana yang selama ini melanda pedukuhan kita. Bukankah Kuda Sempana sebenarnya hanya menghendaki gadis itu. Bukankah bendungan kita hancur karena Empu Purwa dan apabila kita sekarang binasa adalah karena Mahisa Agni”.
“Kenapa kita…..” kata-kata orang itu tidak dapat diselesaikan.
Alangkah terperanjatnya, dan kemudian terdengar ia menjerit ketika tiba-tiba tangan Mahisa Agni telah menampar mulutnya. Meskipun bagi Mahisa Agni ayunan tangannya itu hanya sekedar untuk membungkam kata-kata yang menyakitkan hatinya, tetapi bagi orang yang ditamparnya serasa bagaikan tersambar petir.
“Agni” terdengar suara pamannya lantang.
Tetapi orang itu telah terduduk di tanah sambil menutup mulutnya yang berdarah. Semua orang memandang Mahisa Agni dengan wajah yang tegang. Terasa berbagai perasaan bergolak di dalam dada mereka. Ketakutan, kecemasan dan kegelisahan. Mereka takut melihat obor-obor yang merayap semakin dekat. Teiapi mereka pun menjadi takut apabila tiba-tiba Mahisa Agni menjadi marah dan mengamuk.
Mahisa Agni masih berdiri tegang, namun kepalanya tiba-tiba menunduk Ia tidak berani menatap mata pamannya yang memandanginya dengan tajam. Perlahan-lahan sekali pamannya itu berkata,
“Agni, jagalah perasaanmu” Namun suara yang perlahan-lahan itu serasa jauh lebih keras dari ayunan tangannya.
Kini suasana sejenak ditelan oleh kesepian. Kesepian yang diwarnai oleh berbagai macam perasaan yang bercampur-aduk. Kesepian yang menyesakkan dada. Sementara itu obor di Padang Karautan itu masih saja merayap semakin dekat. Dalam kepekatan malam, maka tampaklah titik-titik api itu sedemikian jelasnya, bergerak-gerak silang menyilang.
Tiba-tiba kesenyapan di perkemahan itu dipecahkan oleh suara Mahisa Agni perlahan-lahan, “Paman Empu Gandring, Ki Buyut Panawijen dan saudara-saudaraku rakyat Panawijen. Mungkin kalian benar. Akulah yang telah menyeret kalian kedalam bencana. Tidak saja aku telah membakar kalian setiap hari dipanas terik matahari, dan membekukan kalian diembun malam yang dingin di Padang Karautan, tetapi apabila benar yang datang itu Kuda Sempana, maka kalian mungkin akan terpercik bencana pula. Karena itu, biarlah aku menyongsong bencana yang akan datang. Biarlah kalian terlepas dari setiap kemungkinan yang tidak kalian kehendaki” Mahisa Agni berhenti sejenak. Ditatapnya wajah-wajah yang tegang di sekelilingnya. Tetapi wajah-wajah itu masih saja tegang membeku.
Maka sambungnya, “Paman, Ki Buyut dan saudara-saudaraku. Aku tidak akan menunggu obor itu sampai di perkemahan. Biarlah aku pergi menyongsongnya. Jangan diharap aku kembali ke tengah-tengah kalian. Kalau kemudian kalian merasa tidak perlu lagi dengan bendungan ini, maka tinggalkanlah”.
“Kenapa kau akan pergi Angger?” potong Ki Buyut dengan cemas.
“Kalau yang datang itu Kuda Sempana Ki Buyut, biarlah mereka akan aku hadapi. Tetapi tidak di sini”.
“Agni” berkata Ki Buyut terbata-bata, “kalau benar yang datang itu Kuda Sempana, kenapa Angger tidak saja berusaha melarikan diri sebelum terlambat”.
Terasa dada Mahisa Agni berdesir. Meskipun ia akan dapat berusaha menyingkir, namun akibatnya akan menimpa orang-orang Panawijen. Kuda Sempana dan kawan-kawannya pasti akan marah. Sasarannya pasti orang-orang Panawijen itu. Karena itu maka katanya,
“Tidak Ki Buyut. Dengan demikian, maka aku telah menyerahkan orang-orang Panawijen kedalam suatu keadaan yang sulit. Mereka pasti akan mencari aku dan memaksa orang-orang Panawijen ini menunjukkan dimana aku bersembunyi”.
Ki Buyut itu pun terdiam. Tetapi beberapa orang menjadi sangat cemas dan ketakutan.
“Karena itu Ki Buyut,” Mahisa Agni melanjutkan, “aku akan menyongsong mereka, dengan demikian maka kalian, orang-orang Panawijen ini akan terlepas dari bahaya”.
Terasa sesuatu bergetar di dalam dada Ki Buyut yang tua itu. Mahisa Agni baginya adalah lambang dari masa depan. Kerja yang tak dapat dilakukan oleh orang lain telah dilakukannya. Kini ketika bahaya mengancamnya, maka apakah ia akan dapat melepaskannya?. Tetapi sebelum Ki Buyut mengucapkan sepatah kata pun maka Mahisa Agni itu segera melangkah meninggalkannya kembali ke gubugnya. Tak seorang pun yang tahu, apa yang akan dilakukannya. Sementara itu pamannya pun mengikutinya pula dibelakangnya.
“Kau akan pergi Agni?” bertanya pamannya.
“Ya paman. Tak ada jalan lain untuk menyelamatkan orang-orang Panawijen. Kalau Kuda Sempana dan gurunya akan menangkap aku, biarlah mereka membawa mayatku”.
Dada pamannya berdesir mendengar jawaban itu. Apalagi ketika kemudian ia melihat Mahisa Agni meraih pedangnya dan disangkutkannya di lambungnya. Bukan hanya pedang itu, tetapi dari bawah tikar pembaringannya diambilnya pusakanya yang jarang-jarang dirabanya. Pusaka itu adalah sebilah keris buatan Empu Gandring sendiri. Meskipun demikian, Mahisa Agni mula-mula masih menyesal bahwa pusaka peninggalan gurunya tidak dibawa pula. Kalau demikian akan lengkaplah perlawanannya. Ia akan melawan dengan segenap tenaga kemampuan yang ada padanya meskipun ia sadar, bahwa Empu Sada, Kebo Sindet dan Wong Sarimpat bukanlah lawannya.
“Muda-mudahan seorang yang tepat menemukan trisula itu” desisnya di dalam hati.
Bahkan kemudian ia merasa beruntung bahwa pusaka itu tidak dibawanya. Sebab dengan demikian trisula itu akan dapat jatuh ketangan musuh-musuhnya.
“Sudahlah paman. Aku akan pergi, “ Tetapi kata-kata itu terputus ketika melihat pamannya menyelipkan pula kerisnya yang besar itu di punggungnya.
“Apakah yang akan paman lakukan?”
“Jangan pergi sendiri Agni. Aku pun akan pergi. Aku ingin melihat apa yang sebenarnya akan terjadi. Aku masih selalu dicengkam oleh keragu-raguan. Bukankah semua itu baru dugaan saja? Tetapi seakan-akan semua orang telah memastikan apa yang akan terjadi”.
Terasa mata Mahisa Agni menjadi panas. Perlahan-lahan ia bergumam, “Paman, aku menyampaikan terima kasih. Tetapi aku kira paman tidak usah pergi bersamaku. Biarlah cukup aku saja yang akan menjadi korban dari dendam yang membara di dada Kuda Sempana. Bukankah paman harus kembali ke Padepokan paman. Bukankah masih banyak yang dapat paman kerjakan?”
Pamannya tersenyum, tetapi senyum itu terasa terlampau pedih di hati Mahisa Agni. “Aku adalah pamanmu Agni. Kalau masih ada ayahmu, mungkin aku tidak akan mempedulikan lagi apa yang terjadi atasmu. Tetapi ayahmu kini sudah tidak ada lagi. Karena itu adalah menjadi kewajibanku untuk melihat apa saja yang dapat terjadi atasmu”.
Mahisa Agni tidak menjawab. Tetapi kepalanya tiba-tiba terkulai jatuh pada ujung jari-jari kakinya.
“Obor itu pasti sudah semakin dekat. Mari kita berangkat” ajak pamannya.
Mahisa Agni tidak menjawab. Ketika pamannya melangkah keluar ia mengikutinya saja dibelakangnya. Di sisi perkemahan itu, orang-orang Panawijen sudah menjadi semakin tegang. Obor itu sudah semakin dekat. Ketika mereka melihat Agni dan pamannya datang menyandang senjata, maka hati mereka pun menjadi semakin berdebar-debar. Sejenak Mahisa Agni berdiri mematung. Gelora di dalam dadanya kian berkecamuk. Sekali dipandanginya wajah-wajah orang Panawijen yang tegang, dan sekali ditatapnya api obor yang menjadi semakin dekat.
Ketika Ki Buyut Panawijen melihatnya telah bersiap untuk menyongsong obor-obor itu yang mungkin akan dapat mencelakakannya, maka hatinya pun menjadi pedih. Pada saat-saat terakhir Mahisa Agni telah menyerahkan hampir segenap waktu dan kemampuannya untuk membangunkan sebuah bendungan bagi kesejahteraan orang-orang Panawijen, dan kini bahwa miliknya yang paling berharga, yaitu hidupnya sekali, akan diserahkannya pula. Meskipun sebenarnya Mahisa Agni masih mempunyai kesempatan untuk lari, namun anak muda itu tidak mempergunakannya, karena ia tidak mau mengorbankan orang-orang lain untuk kepentingannya.
Tiba-tiba, seakan-akan di luar sadarnya orang tua itu berkata, “Agni, tanpa kau, kerja kami tidak akan berarti. Aku tahu apa yang sebenarnya tersembunyi di hampir setiap dada orang-orang Panawijen. Jemu. Karena itu sepeninggalmu, maka aku pun akan tidak berarti apa-apa. Dengan demikian Ngger, maka aku kira lebih baik aku pergi juga bersamamu, melihat apa yang sebenarnya terjadi. Kalau bahaya itu datang menerkammu, biarlah aku mencoba membantumu meskipun aku tahu, bahwa tenagaku tidak akan berati apa-apa. Tetapi aku sudah berbuat sesuatu. Aku tidak dapat melepaskanmu begitu saja setelah kau bekerja sekuat-kuat tenagamu untuk kami disini”.
Mahisa Agni menggeleng. Katanya, “Jangan Ki Buyut. Dengan demikian maka orang-orang Panawijen akan kehilangan pemimpinnya. Ki Buyut akan dapat berbuat banyak untuk kepentingan mereka”.
“Tidak” sahut Ki Buyut, “aku tidak akan mampu berbuat sesuatu mengatasi kejemuan mereka”.
“Jangan Ki Buyut” potong Mahisa Agni, “aku berkeberatan. Tinggallah di sini. Kalau Ki Buyut pergi juga, maka hatiku akan menjadi semakin pahit. Ternyata Ki Buyut juga tidak lagi menghiraukan aku lagi”.
Ki Buyut terdiam. Ia menjadi bingung. Tetapi kata-kata Mahisa Agni itu seperti telah mencengkamnya di atas tempatnya berdiri. Ketika ia melihat Mahisa Agni itu bergerak, maka kakinya seakan-akan telah tertancap dalam-dalam di Padang Karautan itu.
“Kalau Ki Buyut masih juga mau mendengarkan kata-kataku, tinggallah di sini. Dengan demikian hatiku masih juga mengucap syukur, bahwa Ki Buyut akan tetap berusaha meneruskan kerja ini meskipun hanya dengan tiga empat orang seperti yang dilakukan oleh Empu Purwa dahulu. Tiga empat tahun kerja Ki Buyut itu akan selesai”.
Ki Buyut tidak dapat menjawab. Mulutnya serasa terbungkam dan tenggorokannya serasa tersumbat sesuatu.
“Sudahlah Ki Buyut” Mahisa Agni bergumam dengan nada yang rendah datar.
Ki Buyut hanya mampu menganggukkan kepalanya. Tetapi mulutnya tidak dapat mengucapkan kata-kata. Betapapun orang-orang Panawijen itu merasa bahwa Mahisa Agni telah menyebabkan mereka terdorong ke dalam suatu kesulitan, betapa mereka menyesali Empu Purwa, namun ketika kemudian mereka melihat anak muda itu berjalan meninggalkan mereka menyongsong nyala-nyala obor dikejauhan, maka hati mereka pun menjadi trenyuh. Beberapa anak-anak mengepalkan tangannya dan berkata di dalam hatinya,
“Oh, seandainya aku mampu berkelahi, aku pasti akan mengawaninya”.
Apalagi Jinan dan Sinung Sari. Mereka adalah anak-anak muda yang pertama-tama mengikuti Mahisa Agni mencari tempat ini. Tetapi mereka hanya berani menggeretakkan gigi-gigi mereka. Betapa besar keinginan mereka untuk membantu Mahisa Agni, tetapi mereka tidak memiliki keberanian untuk itu. Sedangkan orang tua-tua hanya dapat mengusap dada mereka sambil berdoa, semoga Mahisa Agni tidak menemukan sesuatu bencana, apalagi yang dapat membahayakan jiwanya.
Berbeda dengan mereka adalah Patalan. Ia tidak dapat lagi menahan perasaannya melihat Mahisa Agni melangkah meninggalkan mereka masuk ke dalam malam yang gelap. Pedang dilambungnya telah membuat anak muda itu menjadi semakin berdebar-debar. Sedangkan yang pergi bersamanya hanyalah seorang yang telah lanjut usia dengan sebilah keris raksasa di punggungnya.
“Apakah kita sampai hati melepaskannya?” desis Patalan di dalam hatinya.
Patalan bukanlah seorang pemberani. Tetapi perasaannya ternyata lebih tajam dari kawan-kawannya. Betapapun ia dikuasai oleh kecemasan, tetapi tiba-tiba ia berlari masuk ke dalam gubugnya. Diraihnya pedang di dinding gubug itu, dan tanpa berkata apa pun kepada kawan-kawannya, maka segera ia pun berlari menyusul Mahisa Agni.
“Patalan” terdengar beberapa orang memanggilnya. Tetapi Patalan sama sekali tidak berpaling. Ia berlari semakin kencang. Dan bahkan kemudian terdengar ia berteriak,
“Agni, tunggu. Tunggu. Aku pergi bersamamu”.
Kepergian Patalan telah menggoncangkan dada orang-orang Panawijen. Tiba-tiba merekapun ingin juga berlari menyusul seperti Patalan. Namun mereka telah diikat oleh kecemasan dan ketakutan. Mereka tidak berani beranjak dari tempatnya. Tetapi dengan demikian, merayaplah kesadaran di dalam hati mereka, bahwa sebenarnya Mahisa Agni selama ini telah mengorbankan apa saja yang ada padanya untuk kepentingan mereka. Untuk kepentingan Panawijen. Sama sekali bukan untuk kepentingan diri sendiri.
Orang-orang Panawijen yang selama ini telah menyakiti hatinya menjadi kecewa. Kecewa sekali. Tetapi apakah mereka masih akan mendapat kesempatan untuk menyatakan penyesalannya dan minta maaf kepada anak muda itu. Mahisa Agni telah pergi dan berkata kepada mereka, supaya mereka tidak lagi mengharapkan ia kembali. Beberapa orang merasa, betapa besar kesalahan mereka terhadap anak muda itu. Anak muda yang kini berjalan menembus gelap malam meninggalkan mereka dengan pedang di lambungnya.
Orang-orang Panawijen yang tinggal di perkemahan itu kini masih saja berdiri tegak seperti patung. Mereka melihat Mahisa Agni dan Empu Gandring menghilang seperti ditelan oleh gelap malam yang menganga di Padang Karautan. Sejenak mereka masih dapat menyaksikan Patalan berlari menyusul keduanya. Kemudian mereka pun hilanglah. Hilang, dan terasa betapa kini mereka kehilangan anak muda yang telah banyak berkorban untuk mereka.
Mahisa Agni yang berjalan meninggalkan orang-orang Panawijen bersama pamannya terkejut mendengar seseorang memanggilnya. Ketika mereka berpaling, mereka melihat Patalan berlari-lari menyusul.
“Ada apa Patalan?” bertanya Mahisa Agni.
“Aku akan pergi bersamamu Agni” sahut Patalan dengan nafas terengah-engah. Mahisa Agni dan Empu Gandring menjadi heran. “Kenapa kau akan ikut kami” bertanya Mahisa Agni.
“Kita pergi bersama-sama sejak kita mencari tempat ini Agni. Kita telah bekerja pula bersama-sama. Sekarang berilah aku kesempatan mengikutimu, apa pun yang akan terjadi”.
“Patalan” dada Agni berdesir tajam, “terima kasih, tetapi kali ini aku akan menghadapi keadaan yang tidak menentu. Aku belum tahu apakah kira-kira yang akan terjadi. Karena itu kembalilah”.
“Dahulu, ketika kita meninggalkan Panawijen masuk ke dalam padang ini, kita juga belum tahu apa yang akan terjadi. Agni, berilah aku kesempatan, Mungkin aku tidak berarti bagimu, tetapi aku tidak dapat kembali. Aku tidak dapat melihat kau seoang diri menyongsong bahaya tanpa perhatian. Aku tidak akan mampu membelamu dalam keadaan apapun. Tetapi setidak-tidaknya aku sudah menyatakan kesetia-kawananku terhadapmu”.
“Terima kasih” sekali lagi Mahisa Agni menyalakan perasaannya, “tetapi kembalilah. Mungkin aku tidak akan sempat berbuat sesuatu atasmu, sebab keadaanku sendiri sama sekali tidak aku ketahui”.
“Tidak” sahut Patalan, “kali ini aku tidak akan minta perlindunganmu. Sejak aku hampir mati ketakutan di Padang Karautan bukankah aku belajar memegang hulu pedang? Bukankah kau juga yang mengajari aku? Mudah-mudahan aku dapat mempergunakannya”.
“Oh” Mahisa Agni menarik nafas, “apa yang aku berikan itu sama sekali belum berarti apa-apa Patalan”.
“Beri aku kesempatan Agni. Bukan terdorong karena kesombonganku, tetapi katakanlah bahwa kau menghadapi bahaya maut, dan aku pun bersedia menghadapinya”.
“Hem,” Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Betapa ia menjadi heran melihat Patalan tiba-tiba saja tidak takut menentang maut. Karena itu, maka akhirnya ia kembali. Katanya, “Baiklah Patalan. Kalau kau bersedia ikut bersama kami. Tetapi kau harus sudah dapat membayangkan, bahwa kita kali ini tidak sedang bertamasya”.
“Aku tahu Agni” sahut Patalan.
“Baiklah” gumam Mahisa Agni.
Ketiganya pun kemudian meneruskan perjalanan mereka menyongsong api-api obor yang semakin lama menjadi semakin dekat. Langkah-langkah mereka semakin lama menjadi semakin cepat. Mahisa Agni berjalan dipaling depan, kemudian pamannya dan Patalan berjalan berjajar dibelakangnya. Tak sepatah kata pun yang mereka ucapkan. Meskipun demikian semakin dekat mereka dengan obor-obor itu, hati mereka pun menjadi semakin berdebar-debar.
Tanpa sesadarnya, maka tangan Mahisa Agni telah melekat di hulu pedangnya. Dengan gigi gemeretak ia memandang lurus ke depan. Memandang pada setiap kemungkinan yang dapat terjadi atasnya. Sedang Patalan pun benar-benar mengherankan. Ia kini tidak lagi gemetar dan bahkan hampir pingsan ketakutan seperti pada saat ia bertemu dengan orang yang menyebut dirinya hantu Karautan di padang ini beberapa saat yang lampau. Tetapi kini ia berjalan dengan langkah yang tetap seperti Mahisa Agni. Tangannya pun telah melekat pula di hulu pedangnya.
Empu Gandringlah yang masih juga memandangi setiap titik nyala obor dihadapannya dengan tenang. Kerut-kerut umur di wajahnya seakan-akan menjadi kian bertambah. Tetapi orang itu masih juga sempat memperhatikan sikap kemenakannya. Meskipun demikian Empu Gandring tidak berkata sepatah katapun. Jauh di belakang mereka, orang-orang Panawijen masih juga berdiri di tempatnya. Mereka seakan-akan telah membeku.
Mata mereka terhunjam ke dalam gelap malam yang terbentang di atas padang Karautan. Tetapi mereka tidak melihat sesuatu kecuali nyala-nyala obor itu. Dengan hati yang gelisah, cemas dan berdebar-debar mereka memandangi api itu. Api itu masih saja merayap mendekat.
Tiba-tiba hati mereka terguncang ketika mereka melihat obor-obor itu berhenti. Seperti nyala-nyala api itu mengambang di udara yang dingin pekat. Tak seorang pun yang dapat membayangkan apa yang terjadi dikejauhan itu. Mereka benar-benar tidak melihat sesuatu kecuali api itu. Tangan-tangan yang menggenggam obor itu pun sama sekali tidak mereka lihat. Apalagi orang-orang yang berada di sekitarnya.
Mereka tidak akan dapat melihat seandainya di sekitar obor-obor itu kini terjadi perkelahian yang sengit. Mereka tidak akan dapat melihat seandainya Mahisa Agni terluka atau bahkan terbunuh. Atau mungkin pula Mahisa Agni itu kini telah mereka tangkap dan mereka seret dengan kasarnya di tengah-tengah padang yang gelap itu. Tetapi mungkin pula terjadi sebaliknya. Mungkin pedang Mahisa Agni dan keris raksasa pamannya telah berhasil membersihkan lawannya.
Tetapi obor itu masih juga menyala di tempatnya Tidak bergerak dan tidak menjauh. Dada orang-orang Panawijen itu menjadi semakin berdebar-debar. Mereka tidak merasa bahwa mereka telah berdiri terlampau lama di tempatnya. Mereka tersadar ketika tiba-tiba mereka melihat obor itu bergerak pula dan darah mereka serasa berhenti mengalir ketika tiba-tiba pula mereka melihat seseorang berlari-lari menuju kepada mereka sambil berteriak,
“Ki Buyut. Ki Buyut”. Orang itu adalah Patalan.
Betapa terkejut Ki Buyut Panawijen melihat Patalan yang seakan-akan dimuntahkan dari mulut kegelapan yang pekat itu. Terhuyung-huyung anak itu menjadi semakin dekat. Beberapa langkah lagi Patahan akan sampai di perkemahan, tetapi seakan-akan tenaganya telah terperas habis.
“Patalan” Ki Buyut Panawijen berlari tertatih-tatih menyongsongnya, “kenapa kau?”
Nafas Patalan seakan-akan telah terputus di kerongkongannya. Kini ia sudah tidak berlari lagi. Anak muda itu berdiri seperti sehelai daun ilalang ditiup badai. Sehingga ketika Ki Buyut Panawijen dan beberapa orang yang berlari-lari menyusulnya sampai dihadapannya, maka Patalan itu pun terjatuh.
“Patalan” panggil Ki Buyut sambil berjongkok di sampingnya. Diangkatnya kepala anak itu sambil bertanya, “Ada apa? Ada apa Patalan?”
“Ki Buyut” Patalan mencoba berkata sesuatu. Tetapi nafasnya telah menjadi terlampau sendat, sehingga akhirnya anak itu jatuh pingsan kelelahan.
“Pingsan,” desis Ki Buyut, “ambil air. Cepat. Ia akan dapat segera sadar dan mengatakan kepada kita, apa yang telah terjadi”.
Beberapa orang berlari-larian mencari air. Sedang beberapa orang lain berdiri dengan wajah pucat gemetar.
“Apakah yang terjadi?” desis sesama mereka.
“Bencana. Bencana akan menimpa kita sekalian” berkata salah seorang dari mereka.
“Lihat” sabut yang lain, “kini obor-obor itu telah mendekat. Mahisa Agni pun pasti telah mereka tangkap. Agaknya mereka tidak puas dengan menangkap Mahisa Agni dan pamannya yang tua itu. Untunglah Patalan sempat melarikan diri”.
“Ya, sekarang bagaimana dengan kita?”
“Kita harus melarikan diri pula”.
“Ya. Kita harus melarikan diri”.
Tetapi percakapan itu terputus oleh suara Ki Buyut lantang, “Kita tetap disini. Apa pun yang akan terjadi”.
“Tetapi bagaimana kalau mereka akan membunuh kita semua Ki Buyut?”
“Tak ada gunanya melarikan diri. Mereka akan mengejar dan menangkap kita. Dengan demikian kita hanya akan menambah kemarahan mereka sehingga mereka akan berbuat jauh lebih mengerikan lagi”.
Orang-orang Panawijen itu kini telah benar-benar menggigil. Betapa anak-anak muda seakan-akan tidak lagi mampu berdiri di atas kaki mereka. Namun dalam pada itu Ki Buyut berkata,
“Dari pada kita berusaha melarikan diri, bukankah jumlah kita cukup banyak? He anak-anak muda, kenapa kalian tidak mengambil Senjata-senjata kalian?”
Tak seorang pun yang beranjak dari tempatnya. Bahkan darah mereka seakan-akan telah benar-benar membeku. Ketika beberapa orang yang mengambil air telah datang, maka obor di Padang Karautan itu pun telah menjadi semakin dekat.
“Ki Buyut” tiba-tiba seorang anak muda berkata gemetar, “Kenapa kita tidak boleh lari? Bukankah lebih baik menyelamatkan diri daripada kita dibinasakanya disini?”
“Ambil senjatamu” teriak Ki Buyut yang tua itu, “kalau kau tidak mempunyai pedang, ambillah kapak atau beliung atau apa saja yang dapat kau pergunakan sebagai senjata. Jangan menjadi pengecut sampai akhir hayatmu”. Tetapi teriakan Ki Buyut itu menambahnya menjadi ketakutan.
Jinan dan Sinung Sari pun kini telah berjongkok di samping Patalan yang pingsan itu pula. Perlahan-lahan dititikkan nya air ke bibir anak itu.
“Setetes demi setetes” Ki Buyut memperingatkan. Kemudian katanya pula, “Jaga Patalan baik-baik. Usahakan anak ini segera menjadi sadar”.
“Apakah Ki Buyut akan pergi” bertanya Sinung Sari.
“Tidak. Aku tetap disini” sahut Ki Buyut, “tetapi aku tidak akan berdiam diri meskipun aku sudah tua”.
Ki Buyut itu pun segera menyerahkan Patalan kepada Sinung Sari dan Jinan. Dengan tergesa-gesa ia berdiri dan melangkah ke gubugnya. Berpasang-pasang mata mengikutinya dengan pertanyaan di dalam setiap hati. Namun segera mereka mengetahui, apakah yang telah dikerjakan oleh Ki Buyut itu.
Sejenak kemudian Ki Buyut itu pun telah kembali pula diantara orang-orang Panawijen. Tetapi kini ia memegang pedang di tangannya. Tangan yang sudah berkeriput, namun genggaman atas pedangnya masih cukup kuat. Ki Buyut bukanlah seseorang yang sama sekali tidak mampu menggenggam pedang. Meskipun ia bukan seorang yang cukup baik untuk berkelahi, namun ia mampu pula menggerakkan senjata.
koleksi : Ki Ismoyo
scanning : Ki Ismoyo
Retype : Ki Sukasrana
Proofing : Ki Wijil
Cek ulang : Ki Arema
scanning : Ki Ismoyo
Retype : Ki Sukasrana
Proofing : Ki Wijil
Cek ulang : Ki Arema
OBJEK WISATA MANCA NEGARA


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar