MENU

Ads

Kamis, 05 Maret 2026

Pelangi di Langit Singasari 111

PdLS-23
BEBERAPA anak-anak muda menjadi berdebar-debar di dalam hati. Ada pula yang menjadi malu kepada diri mereka sendiri. Tetapi ada yang bahkan menjadi semakin kecut. Wajah-wajah mereka menjadi seputih kapas, dan nafas mereka satu-satu tersangkut di kerongkongan.

Tetapi, Jinan dan Sinung Sari tidak lagi dapat berdiam diri, sambil menggigil ketakutan Patalan telah lebih dahulu mengambil pedangnya. Karena itu maka Jinan berkata kepada seseorang yang berjongkok pula di sampingnya,

“Mari, usahakan Patalan menjadi sadar. Aku pun akan mengambil pedangku.”

Kini, seseorang yang sudah agak tua memangku kepala Patalan. Setetes-setetes dititikannya air ke mulut anak itu. Ketika kemudian Jinan dan Sinung Sari telah berdiri di sampingnya dengan pedang di lambung masing-masing, maka obor-obor itu menjadi sudah sangat dekat.

Tiba-tiba mereka melihat Patalan itu bergerak-gerak. Dengan serta-merta beberapa orang segera berjongkok di sampingnya. Dan mereka pun kemudian mendengar Patalan berdesis perlahan-lahan ketika dilihatnya Jinan dan Sinung Sari,

“Hantu Karautan yang datang itu adalah Hantu Karautan.”

Suara itu menggelegar bagai guntur yang meledak disetiap telinga. Hantu Karautan. Segera, ketakutan mencengkam hati orang-orang Panawijen itu. Hantu adalah sebutan yang paling mengerikan bagi mereka. Kalau yang datang itu segerombolan perampok atau Kuda Sempana, maka mereka masih akan dapat menghindar. Melarikan diri atau menangis minta ampun. Tetapi yang disebut Patalan adalah Hantu Karautan. Hantu yang bengis dan mengerikan.

Tak seorang pun yang masih mampu mengucapkan pertanyaan-pertanyaan. Ki Buyut Panawijen terdiam membeku. Apakah ia akan dapat melawan hantu meskipun seandainya anak-anak Panawijen itu bersama-sama mengangkat senjata.

Dalam pada itu kembali terdengar suara Patalan. Kali ini agak lebih keras,, “Sinung Sari dan Jinan. Apakah kau masih ingat Hantu Karautan itu?” Sinung Sari dan Jinan mengerutkan keningnya. “Bukankah kita telah pernah bertemu dengan tiga orang hantu di padang ini?” Tiba-tiba Sinung Sari dan Jinan menganggukkan kepalanya. “Aku akan bangun” desah Patalan.

Perlahan-lahan, ditolong oleh Sinung Sari dan Jinan, Patalan itu bangkit dan duduk bertelekan tangannya, “Apakah aku pingsan?”

“Ya kau pingsan” sahut Sinung Sari.

“Lihat obor-obor itu sudah terlampau dekat”.

“Ya, siapakah mereka?” bertanya Jinan tidak sabar.

“Sudah aku katakan, Hantu Karautan.”

Tetapi orang-orang yang mendengar kata-kata Patalan dan melihat wajahnya menjadi bingung. Wajah itu meskipun pucat tetapi sama sekali tidak menunjukkan kesan-kesan yang mengerikan.

“Hantu yang mana? Katakan cepat” desak Sinung Sari.

“Hantu berkuda.”

Orang-orang yang mendengarkannya menjadi semakin bingung. “Hantu berkuda?” beberapa orang mengulangi di dalam hatinya yang kecut.



“Ada dua hantu berkuda” sahut Jinan.

“Yang datang adalah hantu yang sebenarnya. Hantu yang dikatakan oleh Mahisa Agni, hantu yang mengalahkan segala hantu di padang ini”.

Sinung Sari berpikir sejenak. Jinan pun Tiba-tiba bangkit berdiri “Sinung Sari,” katanya,, “hantu berkuda yang tampan itu. Bukankah begitu maksudmu Patalan?”

“Ya.”

“Tetapi kenapa kau berlari terbirit-birit ketakutan?”

“Aku disuruh oleh Mahisa Agni untuk mengabarkan, bahwa hantu itulah yang datang. Bukan orang lain”.

“Gila” Tiba-tiba Sinung Sari pun tegak pula. Hampir bersamaan maka Sinung Sari dan Jinan berkata, “Aku akan pergi menyongsong hantu itu”.

“Sinung Sari, Jinan” panggil Ki Buyut.

Tetapi Sinung Sari dan Jinan telah berlari masuk ke dalam gelap malam menyongsong obor-obor yang kini sudah menjadi semakin dekat. Berbagai perasaan berkecamuk di dalam dada orang-orang Panawijen. Kenapa tiba-tiba Sinung Sari dan Jinan berlari menyongsong Hantu Karautan itu? Apakah tiba-tiba saja mereka sadar bahwa mereka harus membela Mahisa Agni dari bencana.

Tetapi tak seorang pun yang sempat menemukan jawabnya. Patalan yang lemah itu pun kini telah berdiri pula. Di pandanginya nyala obor-obor itu, dan remang-remang mereka telah melihat serombongan bayangan berjalan perlahan-lahan mendekati perkemahan itu.

“Patalan” desis Ki Buyut, “kau lihat bayangan-bayangan itu?”

“Ya Ki Buyut”.

“Aku menjadi ngeri. Bagaimanakah bentuk hantu-hantu itu?”

Patalan tiba-tiba tersenyum, dan Ki Buyut pun menjadi semakin tidak mengerti, apakah sebenarnya yang sedang dihadapi. Ketika sekali lagi ia mengamati bayangan-bayangan itu, dilihatnya bayangan-bayangan yang besar berjalan tersuruk-suruk diantara mereka. Tetapi tiba-tiba telinga Ki Buyut menangkap sesuatu. Bunyi yang selama ini seolah-olah bunyi gemerisik kaki-kaki hantu yang mengerikan. Tetapi ia kenal benar bunyi yang kini dapat didengarkannya dengan lebih seksama.

“Pedati” desisnya , “bukankah bunyi-bunyi itu berasal dari roda pedati?”

“Ya” sahut Patalan.

“Apakah hubungan antara hantu dan Pedati?”

Sekali lagi Patalan tersenyum, “Lihat Ki Buyut. Yang berkuda di depan itulah Hantu Karautan”.

Ki Buyut tidak dapat mengerti. Tetapi obor-obor itu kini sudah menjadi terlampau dekat. Dengan hati yang bimbang dan penuh kecemasan Ki Buyut Panawijen beserta orang-orang Panawijen yang gemetar melihat sebuah iring-iringan yang besar mendekati perkemahan mereka. Bukan saja beberapa orang berkuda tetapi pedati-pedati dan beberapa pasang lembu dan kuda.

Dalam kebimbangan dan kebingungan itu terdengar suara Mahisa Agni, “Ki Buyut. Ternyata semua dugaan kita keliru. Bukankah Patalan telah mengatakannya?”

“Patalan pingsan” terdengar suara Sinung Sari menyahut.

Mahisa Agni tertegun. Dipalingkannya wajahnya ke arah Sinung Sari dan Jinan yang menjemputnya , “Kenapa anak itu pingsan?”

Patalan mendengar pembicaraan itu. Sambil tertawa kecil ia menyahut , “Aku berlari terlampau cepat. Nafasku terputus, dan aku pingsan sabelum aku sempat mengatakannya”.

“Oh” Mahisa Agni pun tertawa pula.

Kini iring-iringan itu telah berhenti. Mahisa Agni dan pamannya bersama Sinung Sari dan Jinan berjalan mendahului menemui Ki Buyut Paaawijen yang berdiri seperti sebatang tonggak. Dengan wajah yang tidak menentu orang tua itu memandangi Mahisa Agni dan iring-iringan itu berganti-ganti. Perkemahan itu kini ditelan oleh suasana yang aneh. Ki Buyut Panawijen, anak-anak muda dan orang-orang Panawijen yang melihat iring-iringan itu serasa berada di dalam mimpi. Pedati-pedati dan berpasang-pasang, lembu, kerbau dan kuda.

“Apakah artinya ini Agni?” bertanya Ki Buyut dengan nada yang datar.

“Ki Buyut” berkata Mahisa Agni, “bukankah aku pernah mengatakan bahwa Akuwu di Tumapel pernah menjanjikan bantuan kepada kita. Pedati dan alat-alat lain. Bahkan lembu, kerbau dan kuda?”

Ki Buyut Panawijen yang tua itu menarik nafas dalam-dalam sambil mengusap dadanya. Seakan-akan baru saja ia terlempar ke dalam sebuah mimpi yang dahsyat. Sekali ia mengamati iring-iringan itu di bawah cahaya obor yang tidak begitu terang. Lamat-lamat dilihatnya pedati yang ditarik oleh kerbau dan lembu berberat-berat, dan beberapa puluh orang prajurit.

“Benar-benar seperti ceritera tentang barang-barang tiban dari langit.” gumamnya.

“Inilah orangnya yang mendapat tugas untuk membawa semuanya itu kemari Ki Buyut. Namanya Ken Arok. Seorang Pelayan Dalam Istana Tumapel. Ken Arok mengenal Padang Karautan ini seperti kita mengenal segenap sudut pedukuhan Panawijen. Itulah sebabnya ia tidak asing lagi berada di tengah-tengah padang ini kembali”.

Ki Buyut menganggukkan kepalanya dalam-dalam. Sedang K«n Arok tersenyum sambil berdesah, “Ah, ada-ada saja kau Agni”.

“Selamat datang Ngger.” Ki Bayut menyapanya.

“Selamat Ki Buyut. Kami barangkali telah mengejutkan Ki Buyut dan orang-orang Panawijen yang sedang beristirahat. Sebenarnya kami ingin berhenti dan meneruskan perjalanan besok siang supaya tidak menimbulkan kecemasan. Tetapi kami ingin segera sampai. Karena itu, kami telah menyalakan obor-obor supaya tidak mencurigakan. Tetapi agaknya obor-obor kamilah yang malahan menimbulkan kekhawatiran kalian”.

Ki Buyut mengangguk-anggukkan kepalanya, “Banyak kejadian yang telah membuat kami terlampau berkecil hati”.

“Ya, kami telah mendengarnya sebagian. Mungkin Kuda Sempana dan gurunya. Mungkin pula Hantu Karautan”.

“Itulah. Dan Patalan yang disuruh Mahisa Agni memberitahukan bahwa yang datang adalah anak-mas, ternyata mengganggu kami pula, meskipun ia baru saja sadar dari pingsannya”.

“Apakah yang dikatakan?” bertanya Mahisa Agni.

“Katanya yang datang itu adalah Hantu Karautan”.

Mahisa Agni tersenyum. Ken Arok pun tersenyum pula, katanya, “Ternyata yang datang adalah aku sebagai utusan Akuwu Tumapel”.

“Itulah. Ingin aku mencabut beberapa helai rambut Patalan karena kenakalannya. Hampir-hampir kami semua di sini mati ketakutan”.

Kini Ken Arok tertawa. Dan yang menyahut adalah Mahisa Agni, “Patalan berkata sebenarnya Ki Buyut”.

Wajah Ki Buyut menjadi berkerut-kerut, sedang Ken Arok sekali lagi berdesah, “Ah, kau ini Agni”.

“Aku menjadi bingung” gumam Ki Buyut.

“Salah Mahisa Agni, Ki Buyut” sahut Ken Arok, “mungkin ia ingin orang lain menjadi ketakutan seperti dirinya sendiri”.

Mahisa Agni tertawa, dan Ki Buyut pun tertawa pula. Kepada Empu Gandring Ki Buyut kemudian bertanya, “Bagaimana Empu? Anak-anak muda sering mengganggu yang tua-tua”.

Empu Gandring pun tersenyum pula, katanya, “Kalau aku tahu, maka lebih baik aku tidur saja di dalam gubugku. Dinginnya bukan main di tengah padang”.

Yang mendengarnya tertawa bersahutan. Bahkan orang-orang Panawijen yang masih pucat dan belum lagi dapat menghilangkan getar di jantung mereka pun sempat tersenyum.

“Nah Agni” berkata Ki Buyut kemudian, “jelaskan apa yang terjadi kepada orang-orang Panawijen, supaya mereka tidak selalu bertanya-tanya di dalam hati”.

“Baiklah Ki Buyut” sahut Mahisa Agni yang kemudian melangkah maju mendekati orang-orang Panawijen yang berkumpul di sisi perkemahan itu.

Dengan singkat Mahisa Agni memberitahukan kepada mereka, bahwa yang datang itu adalah sumbangsih Akuwu Tunggul Ametung, berupa pedati, kerbau, lembu, kuda dan alat-alat yang lain yang akan memperingan pekerjaan mereka, membuat bendungan dan parit-parit.

“Ternyata Akuwu Tunggul Ametung dapat mengerti betapa pentingnya bendungan itu bagi kita di sini. Betapa bendungan itu tidak saja akan sangat berarti bagi kita, tetapi juga bagi anak cucu kita. Lebih dari pada itu bendungan yang kecil ini akan merupakan setitik air yang ikut serta membantu kesejahteraan Tumapel seluruhnya”. Orang-orang yang mendengar keterangan Mahisa Agni itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Alangkah janggalnya” Mahisa Agni meneruskan, “apabila Akuwu Tunggul Ametung dapat mengerti betapa pentingnya bendungan ini, meskipun tanpa bendungan ini pun kebesarannya tidak akan terganggu. Sedang kita di sini, yang langsung berkepentingan, seakan-akan acuh tak acuh saja terhadapnya. Bahkan ada beberapa orang yang benar-benar telah menjadi jemu. Ternyata utusan Akuwu Tunggul Ametung datang tepat pada waktunya. Pada waktu orang-orang Panawijen hampir kehabisan gairah untuk melanjutkan kerja. Pada waktu orang-orang Panawijen telah mulai berputus-asa, bahkan ada yang sudah benar-benar kehilangan nafsu dan jemu berjemur di terik matahari di padang ini, sehingga telah membenahi pakaian dan alat-alatnya untuk besok pagi pulang kembali ke Panawijen yang sudah mulai dibakar oleh kekeringan”.

Kembali Mahisa Agni berhenti sejenak. Beberapa orang menundukkan kepalanya. Mereka benar-benar menyadari betapa lemah hati mereka. Betapa mereka sama sekali tidak betah menghadapi prihatin meskipun untuk suatu cita-cita yang tinggi. Apalagi bagi mereka yang benar-benar telah membenahi pakaian dan alat-alat mereka. Terasa, hati mereka bergejolak oleh perasan malu dan sesal.

Dalam pada itu Mahisa Agni kemudian berkata seterusnya , “Sekarang, marilah kita lihat, apakah yang dibawa oleh Ken Arok sebagai utusan Akuwu Tunggul Ametung” Kemudian Mahisa Agni itu pun berpaling kepada Ken Arok sambil berkata, “Ken Arok, apakah kau tidak berkeberatan apabila orang-orang Panawijen saat ini juga melihat-lihat apa saja yang kau bawa supaya hati mereka menjadi pulih kembali seperti saat mereka berangkat memasuki padang ini, bahkan menjadi lebih besar lagi, sehingga gairah kerja mereka menjadi berlipat-lipat”.

“Silahkan” sahut Ken Arok, “barang-barang ini memang dihadiahkan oleh Akuwu Tunggul Ametung kepada kalian. Kepada orang-orang Panawijen”.

“Terima kasih” berkata Mahisa Agni pula. Kepada orang-orang Panawijen ia berkata, “Nah, sekarang kalian mendapat kesempatan melihat apa saja yang berada dalam iring-iringan itu, supaya kalian menjadi mantap. Menurut Ken Arok, utusan Akuwu Tunggul Ametung, semua itu akan dihadiahkan kepadamu sekalian. Bukankah begitu Ken Arok?”

“Ya” Ken Arok menganggukkan kepalanya.

“Termasuk para prajurit” menyela Empu Gandring sambil tersenyum.

Ken Arok pun tersenyum pula, jawabnya, “Termasuk para prajurit. Tetapi mereka hanya sekedar dipinjamkan”.

Ki Buyut Panawijen pun tersenyum pula. Ketika Mahisa Agni kemudian memberi kesempatan kepada orang-orang Panawijen untuk melihat-lihat pedati-pedati itu, maka Ki Buyutlah yang pertama-tama maju mendekat

“Ah, apa sajakah kiranya isi iring-iringan itu?” gumamnya.

“Silahkan. Silahkanlah menyaksikan” jawab Arok.

Di belakang Ki Buyut, kemudian seakan-akan berebutan, orang Panawijen berjajar-jajar bahkan berdesak-desakan melihat-lihat isi pedati yang dibawa oleh Ken Arok. Beberapa orang prajurit yang berdiri disekeliling pedati-pedati itu pun terpaksa menyingkir memberi kesempatan kepada orang Panawijen untuk menyaksikan.

Dengan api-api obor mereka melihat-lihat pedati-pedati yang ditarik oleh pasangan-pasangan kerbau dan lembu yang besar-besar. Melihat lembu dan kerbau itu pun mereka telah menjadi kagum. Apalagi ketika mereka melihat itu pedati-pedati itu. Cangkul, kapak, waluku, garu dan sagala macam alat-alat yang diperlukan. Tetapi ternyata bukan itu saja, ketika mereka melihat pedati-pedati dibagian belakang, maka mereka melihat, pedati-pedati itu penuh bersisi bahan makanan.

Mahisa Agni sendiri merasakan sesuatu yang berdesir di dalam dadanya, melihat betapa Akuwu Tunggul Ametung telah mengirimkan alat dan bahan makan itu untuk orang-orang Panawijen.

Ken Arok yang berdiri di sampingnya agaknya melihat hati anak muda itu yang bergetar lewat perubahan wajahnya. Maka katanya, “Kau tidak usah heran, mengapa Akuwu Tunggul Ametung menyertakan bahan-bahan makanan itu pula. Akuwu Tunggul Ametung memerintahkan agar para prajurit membantu menyelesaikan bendunganmu. Bukankah mereka itu memerlukan makan? Nah, Akuwu tidak ingin mengurangi persediaan makan orang-orang Panawijen yang sudah pasti terlampau tipis. Karena itu, maka kami harus membawa bahan makanan itu untuk para prajurit dan untuk orang-orang Panawijen pula. Apabila ternyata kelak masih kurang, kami akan mengambilnya ke Tumapel”.

“Terima kasih” suara Mahisa Agni menjadi datar dan bernada rendah.

Namun tiba-tiba merayaplah suatu perasaan yang asing di dalam dirinya. Ketika ia melihat pedati, alat-alat yang lengkap dan bahan-bahan makanan, maka seakan-akan ia merasa, bahwa semuanya itu merupakan sebuah tebusan dari luka dihatinya. Seakan-akan ia telah melepaskan sesuatu yang tertambat dihatinya untuk mendapatkan barang-barang itu. Untuk mendapat bantuan dari Akuwu Tunggul Ametung.

“Apakah aku telah menjual hatiku? Apakah aku telah menukarkan perasaan seorang laki-laki dengan semuanya ini?” desisnya di dalam hati.

Tiba-tiba Mahisa Agni mengatubkan mulutnya rapat-rapat. Di lawannya perasaannya itu sekuat-kuat tenaganya.

“Tidak” ia menggeram di dalam hatinya, “Akuwu tidak tahu perasaanku itu. Akuwu tidak pernah merasa membeli Ken Dedes dari padaku, atau menukarnya setelah ia merenggut gadis itu dari tambatannya di hatiku. Tidak. Tak seorang pun tahu, Ken Dedes juga tidak tahu. Akuwu memberikan bantuannya karena ia menyadari betapa pentingnya bendungan ini bagi kami. Kalau ada dorongan yang lain, tidak akan melampaui dorongan yang diberikan oleh Ken Dedes untuk membantu orang-orang sepedukuhannya. Tidak lebih dari itu”.

Mahisa Agni itu terkejut ketika ia mendengar Ki Buyut Panawijen bergumam, “Bukan main. Apakah semuanya ini akan dihadiahkan kepada kami?”

Mahisa Agni menjadi tergagap. Tetapi Ken Arok telah menyahut, “Ya, Ki Buyut. Semuanya ini telah diserahkan kepada orang-orang Panawijen. Akuwu Tunggul Ametung akan bergembira apabila bendungan itu kelak akan terwujud. Padang Karautan yang kering ini akan menjadi hijau segar dialiri oleh air yang naik dari bendungan itu. Bahkan Akuwu telah memerintahkan kepada kami, apabila pekerjaan ini kelak selesai, maka kami masih mendapat tugas lain”.

“Apa?” bertanya Mahisa Agni dengan serta merta.

“Kami harus membangun taman yang seindah-indahnya di sekitar pedukuhan yang baru nanti. Taman yang akan dihadiahkan oleh Akuwu Tunggul Ametung kepada Permaisurinya yang cantik seperti Ratih, Ken Dedes”.

“Hem” Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam “Sebuah taman” desisnya.

Sejenak Mahisa Agni terdiam. Betapa perasaan yang asing kembali merayapi dinding-dinding hatinya. Sukarlah bagi Mahisa Agni untuk menyebut, perasaan apa yang sebenarnya kini tersimpan di dadanya itu. Namun anak muda itu bergumam di dalam hatinya,

“Mudah-mudahan Ken Dedes menemukan kebahagiaan. Agaknya Akuwu Tunggul Ametung benar-benar mencintainya. Gadis itu tak akan dapat menikmati kesegaran hidup seperti kini apabila ia tidak menjadi seorang permaisuri. Hanya seorang Akuwu dan seorang rajalah yang mampu menghadiahkan sebuah taman kepada isterinya. Taman yang dibangun oleh para prajurit”.

Dalam pada itu orang-orang Panawijen tak habis-habisnya mengagumi iring-iringan yang datang membawa perlengkapan, peralatan dan makan bagi mereka. Salah seorang bergumam,

“Hem, alangkah murah hati Akuwu Tunggul Ametung”.

Seorang tua yang lain menyahut, “Hanya seorang yang berhati emaslah yang dapat berbuat seperti itu. Jarak Panawijen Tumapel adalah jarak yang cukup jauh. Jarang sekali Akuwu Tunggul Ametung atau Akuwu-Akuwu sebelumnya datang ke pedukuhan kami. Tetapi Akuwu Tunggul Ametung dapat merasakan kesulitan kami, sehingga Akuwu itu pun telah mengirimkan berbagai macam barang dan makanan kepada kami”.

“Belum lama Akuwu datang ke Panawijen” sahut yang lain.

“Ya, belum lama” sela yang lain lagi.

“Ya, ketika Akuwu datang bersama Kuda Sempana”.

Orang-orang yang mendengar kata-kata itu sejenak saling berpandangan. Namun tak seorang pun yang berani menyahut dan meneruskannya. Tak seorang pun yang kemudian berkata bahwa Akuwu itu datang ke Panawijen bersama Kuda Sempana untuk mengambil Ken Dedes. Untuk merampas gadis itu dan melarikannya. Tetapi bagaimana pun juga terselip pertanyaan di dalam hati orang-orang Panawijen itu,

“Alangkah jauh bedanya. Kedatangan Akuwu yang pertama ke Panawijen bersama para prajurit justru telah melukai hati orang-orang Panawijen. Tetapi kini Akuwu telah mengirimkan bantuan yang tiada taranya bagi orang-orang Panawijen.”

Tak Seorang pun yang mengucapkan pertanyaan itu lewat bibirnya. Bahkan hampir setiap orang telah berusaha menindas ingatannya tentang perbuatan Akuwu saat melindungi Kuda Sempana merampas Ken Dedes. Mereka tidak ingin memercikkan noda pada iring-iringan yang kini menggembirakan perasaan mereka itu. Mereka ingin tetap mengatakan, bahwa Akuwu Tunggul Ametung adalah seorang yang berhati emas. Seorang yang luhur budi dan pengasih, tanpa setitik kesalahan pun pada dirinya. Mereka ingin mengucapkan terima kasih dengan seutuh-utuhnya. Mereka akan melupakan, bahwa mereka pernah mengumpat-umpati Akuwu Tunggul Ametung itu dengan mulutnya.

“Mahisa Agni sendiri pun menerimanya dengan senang hati. Mahisa Agni yang kehilangan adiknya itu pun telah melupakan segala-galanya. Apalagi kami” desis mereka di dalam hati.

Tetapi mereka tidak melihat hati Mahisa Agni. Hati yang bergejolak dengan dahsyatnya. Namun Mahisa Agni mampu mempergunakan akalnya untuk menindas perasaannya.

“Aku tidak boleh melihat persoalan ini berdasarkan kepentingan diri sendiri” berkata Mahisa Agni itu di dalam hatinya, “aku harus melihat kepentingan yang jauh lebih besar. Bendungan, yang akan memberi kesejahteraan bagi seluruh rakyat Panawijen. Bukan sekedar memuaskan hati dan perasaanku saja”.

Dengan demikian, maka Mahisa Agni pun kemudian dapat menerima keadaan itu dengan hati yang lapang. Bahkan kemudian anak muda itu pun menjadi gembira. Kini harapannya yang hampir-hampir lenyap bersama kejemuan yang melanda perkemahannya, akan dapat disegarkannya kembali.

Ternyata, harapan Mahisa Agni itu pun terjadi. Ketika matahari dipagi yang cerah memancar di atas punggung bukit tampaklah betapa segarnya wajah perkemahan orang-orang Panawijen itu. Meskipun hari itu mereka tidak bekerja, karena mereka masih sibuk menyambut para prajurit Tumapel dan mengatur segala macam peralatan dan lainnya, namun telah terbayang di wajah Mahisa Agni, apa yang besok akan dapat mereka kerjakan.

Hari itu perkemahan orang-orang Panawijen itu disibukkan dengan mengatur tempat penyimpanan bahan-bahan makanan, alat-alat dan membagi gubug-gubug bagi mereka dan para prajurit dari Tumapel. Mereka mencoba saling mengenal dan bercakap-cakap tentang banyak hal. Tetapi pembicaraan mereka pada umumnya tidak berkisar dari bendungan, Padang Karautan yang keras, terik matahari di siang hari dan dingin malam yang menggigit tulang.

Tetapi para prajurit itu memiliki tubuh yang terlatih dan banyak mengalami persoalan-persoalan yang keras dan berat. Itulah sebabnya maka tanggapan mereka terhadap terik matahari, dan dingin malam agak berbeda dengan orang-orang Panawijen.

Hal itu ternyata pada hari-hari berikutnya. Ketika orang-orang Panawijen telah mulai kembali dengan kerja mereka, dengan gairah dan nafsu yang kembali menyala di dalam dada mereka, maka segera mereka melihat bagaimana para prajurit Tumapel itu bekerja. Para prajurit itu seakan-akan tidak mengenal lelah dan tidak mengenal gangguan-gangguan pada tubuhnya. Meskipun matahari menyala di langit, meskipun keringat telah membasahi segenap wajah kulit mereka, tetapi mereka masih juga tidak susut tenaganya. Bahkan masih juga ada di antara mereka yang mengangkat batu dan brunjung bambu sambil berdendang. Di kelompok lain, mereka masih saja bergurau sesamanya.

“Mereka baru sehari bekerja” gumam salah seorang dari orang-orang Panawijen, “entahlah apabila mereka telah bekerja dua tiga hari di bawah panas terik ini”.

Tetapi di hari-hari berikutnya, kerja para prajurit itu lama sekali tidak berubah. Mereka bekerja dengan wajah yang cerah. Mereka mengangkat brunjung, memecah batu, mengemudikan cikar-cikar dan gerobag-gerobag dengan senyum dan tawa. Mereka mengayunkan cangkul sambil berdendang dan bergurau. Sehingga dengan demikian, kegembiraan kerja mereka itu telah memancari pula orang-orang Panawijen yang selama ini telah menjadi lesu.

Wajah-wajah orang-orang Panawijen yang bekerja membuat bendungan itu kini telah berubah sama sekali. Tidak ada kerut-merut, tidak ada kejemuan dan keragu-raguan. Semua bekerja dengan gairah dan gembira.

Mahisa Agni pun menjadi gembira pula. Bahkan ia adalah orang yang paling gembira melihat kerja itu. Kadang-kadang anak muda itu bahkan berdiri saja di atas sebuah batu besar mengamati orang-orang yang sedang sibuk dan tekun bekerja itu. Dilihatnya brunjung-brunjung turun ke sungai satu demi satu dikedua sisinya. Dilihatnya pedati hilir mudik mengangkut batu-batu dan tanah. Dilihatnya sebelah lain, orang yang sedang membajak melunakkan tanah untuk membuat susukan yang akan membelah Padang Karautan, dan parit-parit. Dilihatnya pula orang-orang Panawijen dan para prajurit sedang mengayunkan cangkul-cangkul mereka untuk menaikkan tanah dari susukan yang sedang mereka buat. Semua berlangsung dengan cepat dan menggembirakan.




OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar