Secengkang demi secengkang maka bendungan itu pun naik. Air di dalam sungai itu pun naik pula. Lebih cepat dari dugaan Mahisa Agni karena para prajurit yang ikut membantunya. Dengan bangga Mahisa Agni bergumam di dalam hatinya,
“Alangkah menyenangkan. Harapan bagi masa datang kini menjadi semakin terang. Ternyata para prajurit itu tidak hanya pandai mengayunkan pedangnya, tetapi mereka pandai pula mengayunkan cangkul dan kapak. Bahkan mengemudikan gerobak dan cikar. Memegang tangkai waluku dan garu”.
Alangkah besar rasa terima kasihnya kepada Akuwu Tunggul Ametung kali ini tanpa mengingat kepedihan hatinya sendiri. Tetapi lebih dari itu, Mahisa Agni pun memanjatkan ucapan terima kasihnya kepada Yang Maha Agung. Hanya karena tuntunannya maka semua ini dapat terjadi.
“Lima kali lebih cepat dari perhitunganku” desis Mahisa Agni “Ternyata alat-alat itu sangat membantu dan mempercepat penyelesaian kerja ini. Tenaga berpasang-pasang lembu dan kerbau itu jauh lebih besar dari tenaga separo dari orang-orang Panawijen seluruhnya”.
Bukan saja Mahisa Agni yang menjadi bangga dan gembira melibat kerja itu, tetapi Ki Buyut Panawijen pun tidak kalah pula menyimpan harapan yang melimpah-limpah di dalam dadanya. Sebagai seorang yang hampir selama hidupnya berada ditengah-tengah rakyat Panawijen, maka padukuhan yang baru itu nanti pasti akan tetap mengikat orang-orang Panawijen dalam satu lingkungan. Mereka tidak akan bercerai-berai dan berpisah-pisah.
Sedang Empu Gandring menjadi gembira melihat kemanakannya berbesar hati. Orang tua itu melihat kebanggaan Mahisa Agni sebagai suatu kebanggaan dihatinya pula.
Dalam pada itu, bukan saja di Padang Karautan terjadi kesibukan yang luar biasa, tetapi di dalam istana pun terjadi kesibukan yang luar biasa pula. Para hamba istana sibuk membersihkan segala sudut halaman. Para juru sungging sibuk memperbaharui sungging pada setiap ukiran yang melekat pada tiang-tiang dan dinding-dinding istana.
Orang-orang tua di dalam istana Tumapel telah menasehatkan kepada Akuwu Tunggul Ametung untuk segera meresmikan perkawinannya dengan gadis Panawijen apabila memang telah dikehendakinya. Karena itu, maka segala persiapan pun telah dilakukan.
Meskipun demikian Akuwu Tunggul Ametung tidak melupakan janjinya kepada Mahisa Agni. Karena itu, maka ia telah mengirim sepasukan prajurit dan pelayan dalam untuk membantu Mahisa Agni membuat bendungan.
“Bendungan itu harus selesai tecepatnya. Secepat orang-orang di istana ini membersihkan dan memperbaharui segala bagian. Kemudian taman yang harus dibangun itu pun harus selesai pula. Taman yang akan aku hadiahkan kepada permaisuriku. Taman yang akan menjadi tempat beristirahat, apabila kami pergi berburu. Akan aku tinggalkan Ken Dedes di taman itu, di tempat yang pasti akan menyenangkan hatinya, sebab Ken Dedes akan dikelilingi oleh orang-orang yang telah dikenalnya dengan baik sejak kanak-anaknya” pesan Tunggul Ametung kepada Ken Arok yang diserahi pimpinan ketika pasukannya itu berangkat.
Sementara itu, di Kemundungan terjadi pula kesibukan. Kuda Sempana telah bertekad untuk menempa dirinya. Perlahan-lahan ia tertarik pula akan ilmu yang kasar dan keras dari kedua orang liar kakak beradik Wong Sarimpat dan Kebo Sindet. Meskipun kesempatan untuk berlatih itu tidak terlalu banyak, karena kedua orang itu hampir bergantian selalu pergi meninggalkan rumahnya, namun Kuda Sempana mendapatkan beberapa kemajuan pula. Kuda Sempana kemudian tidak lagi mempertimbangkan apa saja yang akan dilakukan oleh Wong Sarimpat dan Kebo Sindet atasnya dan atas Mahisa Agni. Namun kini ia berpikir, selagi ia mendapat kesempatan, biarlah ia memanfaatkan kesempatan itu. Baginya kini tidak ada pilihan lain daripada meneguk setiap ilmu yang mungkin disadapnya.
Tetapi sejalan dengan usahanya untuk mempertinggi ilmunya tanpa mengingat sumber ilmu itu, Kuda Sempana sebenarnya perlahan-lahan telah kehilangan segala gairahnya menghadapi masa depannya. Kegagalan yang bertubi-tubi datang melandanya, telah membuat hatinya menjadi beku. Ia kini seakan-akan telah kehilangan segala macam cita-cita dan tujuan. Ia berlatih asal saja ia mampu menambah ilmunya. Ia tidak tahu, apakah yang akan dilakukan, kelak dengan ilmunya yang bercampur baur itu.
Namun dengan demikian, karena ia telah kehilangan segala macam cita-cita hari depannya, maka ia sama sekali tidak berusaha untuk mencari keserasian gerak dari macam-macam ilmu yang dimilikinya. Ia tidak berusaha mengendapkan ilmu-ilmu itu untuk menemukan sari-patinya. Ia menerima menelan dan kemudian memuntahkannya kembali seperti apa yang ditelannya. Kasar dan keras, namun kadang-kadang muncul juga unsur-unsur gerak yang dipelajarinya dari Empu Sada, justru yang lebih lama terendam di dalam dirinya.
Tetapi Kuda Sempana sendiri tidak menyadari, bahwa sebenarnya apa yang diterimanya dari Kebo Sindet dan Wong Sarimpat, tidak banyak berpengaruh atas tingkat ilmunya. Yang didapatnya hanyalah sekedar macam-macam ilmu gerak yang tidak lebih baik dari yang pernah dimilikinya. Meskipun demikian, maka Kuda Sempana kini memiliki jenis-jenis unsur gerak yang lebih banyak dari yang dimilikinya semula.
Meskipun Kuda Sempana sudah beberapa waktu berada di Kemundungan, namun ia tidak tahu pasti, apakah yang akan dilakukan oleh Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Setiap kali salah seorang dari mereka pergi meninggalkan rumah mereka. Apabila orang yang pergi itu kembali, maka yang di dengarnya hanyalah Kebo Sindet atau Wong Sarimpat mengumpat-umpat.
Namun Kuda Sempana itu pun merasakan, bahwa sampai saat ini kedua orang itu masih belum mempercayainya. Betapa Kuda Sempana tidak mempedulikan keadaan, tetapi sikap dan perkataan kedua orang itu dapat dirasakannya. Keduanya tidak pernah pergi bersama-sama. Salah seorang dari mereka terasa selalu mengawasinya kemana ia pergi. Hanya kadang-kadang Kebo Sindet mengajaknya berbicara mengenai Mahisa Agni. Bahkan kini Kebo Sindet lah yang hampir tidak bersabar lagi untuk menangkap buruannya itu.
Kadang-kadang Kuda Sempana pun menjadi heran, apabila Kebo Sindet dan Wong Sarimpat itu hanya mengharap beberapa keping emas saja dari padanya, bahkan dengan segala miliknya, pendok emas, timang emas tretes berlian, maka apakah yang dilakukan oleh kedua orang itu cukup memadai. Bahkan Kuda Sempana sendiri kini menjadi cemas, apakah barang-barang miliknya yang dititipkannya pada gurunya itu masih juga utuh dapat diambilnya kelak? Apabila terlalu lama ia tidak kembali sedang gurunya telah tidak ada lagi, maka barang-barang itu pun pasti akan jatuh ketangan orang-orang lain yang berada di padepokan gurunya. Tetapi Kuda Sempana kini telah menjadi malas untuk memikirkan semuanya itu dengan sungguh-sungguh. Ia jalani apa yang dilakukannya hari ini tanpa berpikir tentang besok.
“Mungkin besok aku sudah mati dipancung oleh kedua orang ini,” kadang-kadang pikiran itu membersit di kepalanya. Tetapi kadang-kadang ia merasa bahwa kedua orang itu sangat berbaik hati kepadanya, seperti kepada murid terkasih.
“Mungkin aku akan menjadi gila” desisnya di dalam hati, “Keadaan ini benar-benar telah mengguncang-guncang keseimbangan perasaan dan pikiranku”.
Tetapi kesadaran tentang goncangan perasaan dan pikirannya itulah sebenarnya yang telah menahannya untuk tidak menjadi gila sebenarnya gila. Dan kini hari-harinya diisinya dengan menirukan, mempelajari dan mencobakan unsur-unsur gerak yang kasar dan keras. Kadang-kadang kini telah terlontar pula dari mulutnya sebuah teriakan yang keras untuk memberikan tekanan pada unsur geraknya. Tidak hanya keras, namun kadang-kadang berisi umpatan yang kotor dan memuakkan.
Tetapi, Kuda Sempana sendiri tidak tahu apa yang dikerjakan, ia sama sekali tidak berpikir tentang itu. Ia berbuat seperti yang harus diperbuatnya. Kosong. Kuda Sempana kini telah menjadi kosong. Ketika suatu ketika Kebo Sindet membawanya berbincang tentang Mahisa Agni, maka jawabnya sama sekali tidak lagi membayangkan segala macam dendam dan kebencian yang selama ini terpendam.
“Kuda Sempana” berkata Kebo Sindet, “Meskipun aku banyak menemui kesulitan, tetapi aku yakin bahwa dalam saat yang pendek aku harus dapat membawa Mahisa Agni ke Kemundungan dan menyerahkannya kepadamu”.
Dengan kepala yang hampa Kuda Sempana mengangguk, “Ya paman.”
“Bukankah kau masih menghendaki?” bertanya Kebo Sindet.
“Ya paman.”
“Apakah kau sudah memaafkannya?”
Kuda Sempana terdiam. Ditatapnya wajah Kebo Sindet yang beku sebeku wajah mayat. Namun Tiba-tiba mulutnya berkata, “Tidak paman, aku sama sekali tidak memaafkannya”.
“Bagus,” berkata Kebo Sindet, “apakah kau sekarang sudah siap?”
Kuda Sempana menjadi heran, “Apakah yang barus aku lakukan paman?”
“Kita bersama-sama mengambil Mahisa Agni. Aku tidak bersabar lagi. Kita bertiga pasti akan mampu melawan Mahisa Agni, Empu Gandring dan orang-orang Panawijen yang pengecut itu. Aku akan mengikat Empu Gandring dalam suatu perkelahian, Wong Sarimpat akan melumpuhkan Mahisa Agni sementara kau menghalau orang-orang Panawijen. Setelah itu, maka semuanya akan segera dapat diselesaikan. Empu Gandring tidak akan mampu melawan aku dan Wong Sarimpat sekaligus apabila kita masing-masing sudah saling menyiapkan diri.”
Tetapi tanggapan Kuda Sempana kini sudah tidak segairah pada saat ia pertama-tama datang ke Kemundungan. Meskipun demikian ia menjawab, “Baik paman.”
“Kita menunggu Wong Sarimpat. Sementara itu kita akan menyiapkan diri kita masing-masing”.
Tetapi ketika pada sore harinya Wong Sarimpat datang, maka persoalannya kembali menjadi panjang. Kebo Sindet mengumpat tidak habis-habisnya.
“Kau lihat sendiri, Wong Sarimpat ?”
“Ya kakang”.
“Sepasukan prajurit dari Tumapel”.
“Gila. Benar-benar gila. Apakah kerja prajurit-prajurit itu?”
“Aku tidak tahu kakang. Tetapi mereka pasti akan lama tinggal di Padang Karautan menilik bekal yang mereka bawa. Lebih dari duapuluh pedati yang ditarik kerbau dan lembu mereka bawa serta”.
Tiba-tiba tampak sebuah kerut di dahi Kebo Sindet yang beku itu. Tetapi hanya sesaat. Sesaat kemudian kembali wajah itu tidak menunjukkan kesan apapun. Namun orang itu menjadi heran pula ketika dilihatnya wajah Kuda Sempana tidak menunjukkan kesan sama sekali. Anak muda yang selama ini menahan dendam di dalam dadanya, tiba-tiba dendam itu seakan-akan telah menguap seperti asap.
Tetapi Kebo Sindet dan Wong Sarimpat tidak bertanya apapun kepadanya, bahkan mereka seakan-akan tidak melihat perubahan itu. Namun Wong Sarimpat yang hampir setiap hari melihat kebekuan wajah kakaknya berkata di dalam hatinya,
“Apakah Kuda Sempana itu kini telah kejangkitan sikap seperti kakang Kebo Sindet? Ataukah anak muda itu memang berusaha untuk berlaku demikian karena ia merasa menjadi murid kakang Kebo Sindet? Alangkah bodohnya. Umurnya tidak akan lagi lebih panjang dari umur jagung. Begitu Mahisa Agni tertangkap, maka ia pun akan menjadi orang tangkapan. Mungkin ia akan digantung di alun-alun Tumapel setinggi pohon beringin”.
Dalam pada itu terdengar Kebo Sindet bertanya, “Apakah kau sangka bahwa sepasukan prajurit itu hanya sekedar lewat di Padang Karautan atau mereka datang ke perkemahan orang-orang Panawijen itu?”
Wong Sarimpat mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu ia menjawab, “Mereka datang ke perkemahan orang-orang Panawijen”.
“Tetapi ada beberapa kemungkinan yang dapat terjadi. Mereka datang untuk menyerahkan bantuan berupa bahan-bahan, tetapi sesudah itu mereka kembali ke Tumapel, atau mereka akan ikut serta dalam kerja membuat bendungan itu”.
“Mereka datang ke perkemahan itu”.
“Gila kau Wong Sarimpat. Kau tidak pernah menyelesaikan kerja dengan baik. Tinggallah kau di rumah bersama Kuda Sempana. Aku sendiri akan melihat dan membuat perhitungan-perhitungan baru” kemudian kepada KudaSempana, “Kau pernah berkata bahwa kau sendiri berasal dari Panawijen juga. Bukan begitu?”
Wajah Kuda Sempana yang beku seperti wajah Kebo Sindet itu mengangguk, “Ya”.
“Dimana orang tuamu tinggal?”
Kali ini Kuda Sempana menjadi ragu-ragu. Apakah kepentingan orang itu bertanya tentang orang tuanya?
“He, bagaimana?” Kuda Sempana tidak segera menjawab. “Kau agaknya menjadi ragu-ragu. Aku berbuat semata-mata untuk kepentinganmu”.
Meskipun dada anak muda itu diamuk oleh kebimbangan, namun ia menjawab juga, “Ya. Orang tuaku tinggal di Panawijen. Tetapi mereka sudah tua”.
“Itu tidak penting. Mungkin mereka akan berguna bagimu dan dapat membantu anaknya melepaskan sakit hatinya”.
“Apa yang dapat mereka lakukan?”
“Serahkan kepadaku”.
“Paman” berkata Kuda Sempana dengan nada yang rendah, “jangan paman menyeretnya ke dalam kesulitan. Biarlah aku sendiri yang bertanggung jawab atas segala macam persoalan. Sebaiknya paman melepaskannya dan membiarkannya menghabiskan sisa-sisa hidupnya dengan tenteram”.
“Jangan bodoh dan jangan menjadi cengeng. Aku tidak akan berbuat segila yang kau sangka. Aku hanya akan berbuat untuk kepentinganmu”.
Kuda Sempana tidak menjawab. Tetapi kini ia bukan saja menjadi ragu-ragu. Kecemasan yang dalam telah menggores dinding jantungnya. Namun ia tidak mengucapkannya.
Malam itu juga Kebo Sindet pergi meninggalkan Kemundungan. Dengan berbagai macam persoalan di dalam dadanya, ia ingin menyaksikan sendiri, apakah benar para prajurit Tumapel itu untuk sementara menetap di Padang Karautan?. Sementara itu Wong Sarimpat tinggal di rumah bersama Kuda Sempana yang diamuk oleh berbagai perasaan. Ia kini justru berpikir tentang orang tuanya. Apakah kira-kira yang akan dilakukan oleh Kebo Sindet dengan kedua orang tuanya itu? Tetapi, ketika hatinya menjadi semakin pepat, Kuda Sempana itu berdesah,
“Persetan. Aku tidak peduli apa yang akan terjadi dengan siapa pun juga. Bahkan apa yang akan terjadi dengan diriku sendiri”.
Dan kembali anak muda itu berusaha melupakan segala-galanya. Ia mencoba untuk tidak berpikir dan merasakan sesuatu. Ia tinggal menjalani apa yang terjadi hari ini. Besok biarlah dipikirkannya besok. Sedang apa yang pernah terjadi kemarin, diusahakannya untuk melupakan sama sekali. Hidupnya kemudian menjadi sepotong-sepotong. Seolah-olah tak ada hubungan lagi antara apa yang pernah terjadi, apa yang sedang berlaku dan apa yang akan datang kemudian.
Ketika malam menjadi gelap, maka Kebo Sindet berpacu dengan kudanya mendaki tebing bukit gundul. Suara berderak memecah sepi malam menyelusur dan memantul kembali meneriakkan gema yang melingkar-lingkar karena dinding-dinding batu pegunungan gundul itu. Dengan gigi yang terkatub rapat orang itu menggenggam kendali kudanya. Di kepalanya bergelut berbagai rnacam persoalan. sehingga tanpa sesadarnya ia berdesis,
“Gila orang-orang Tumapel itu. Kalau benar mereka berada di perkemahan, maka aku pasti akan menemui kesulitan. Aku harus segera dapat mengambil Mahisa Agni sebelum adiknya tenggelam dalam kehidupan yang bahagia di dalam istana. Dengan demikian, maka adalah suatu kemungkinan bahwa Ken Dedes itu akan melupakan kakaknya dan tidak lagi mempedulikannya. Tetapi kini, hubungan mereka masih terlampau erat. Menurut ceritera Kuda Sempana, maka Ken Dedes sangat mencintai kakaknya sehingga apapun telah dilakukannya untuk menjemput Mahisa Agni menghadap Akuwu Tunggul Ametung”.
Kebo Sindet itu menggeretakkan giginya Kudanya segera dipacunya semakin cepat. Ia ingin segera melihat, apakah sebenarnya yang telah terjadi di Padang Karautan. Sementara itu otaknya masih juga berputar terus. Perlahan-lahan ia bergumam kepada diri sendiri,
“Hem. Mungkin orang tua Kuda Sempana akan dapat membantuku apabila apa yang dikatakan oleh Wong Sarimpat itu benar telah terjadi, Orang yang sudah tua itu pasti tidak berada di Padang Karautan. Mereka pasti tinggal di rumah mereka”.
Dan suara derap kaki kuda itu pun semakin keras memecah sepi malam. Gemeretak beradu dengan batu-batu padas memencar di sekitar bukit gundul yang kini telah mulai dituruninya.
Jauh dari Padang Karautan, di luar kota Tumapel, seorang tua dengan tongkat yang panjang berjalan tersuruk-suruk. Selangkah demi selangkah ia maju. Namun begitu sering ia harus berhenti untuk mengatur pernafasannya. Berkali-kali ia bersandar pada pohon-pohon di pinggir jalan untuk menenangkan detak jantungnya yang seakan-akan tidak teratur lagi. Sekali ia menarik nafas dalam.
“Beberapa langkah lagi” desisnya, “mudah-mudahan aku dapat mencapai padepokan itu”.
Kembali orang tua itu berjalan tertatih-tatih. Tangan kanannya bertelekan pada tongkat pangjangnya, sedang tangan kirinya seakan-akan menahan punggungnya supaya tidak terlepas.
“Gila orang-orang liar itu” gumamnya, “benar juga kata Empu Gandring dan Panji kurus itu, bahwa sukarlah untuk mendekati Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Tetapi aku dahulu mampu memperalatnya. Namun kini agaknya kepala Kebo Sindet menjadi semakin tajam. Berbeda dengan adiknya yang dungu itu”.
Ketika angin malam berhembus mengusap tengkuknya, maka orang tua itu menengadahkan wajahnya. Dilihatnya bintang-bintang berhamburan di dataran langit yang biru pekat. Melihat kebesaran alam yang terentang itu, orang tua itu menarik alisnya. Seakan-akan baru kali ini dilihatnya bintang gemintang yang berkeredipan di angkasa. Masing-masing dengan bentuk dan susunannya sendiri. Masing-masing beredar menurut irama yang berbeda. Tetapi penuh dengan keserasian.
Tiba-tiba orang tua itu seakan-akan melihat sebuah dunia yang asing. Dunia yang selama ini tdiak pernah dilihatnya. Benda-benda yang gemerlapan berpijar dalam warna yang cemerlang. Perlahan-lahan orang tua itu mengangguk-anggukan kepalanya. Punggungnya masih terasa sakit. Meskipun luka-lukanya telah hampir sembuh, namun tenaga masih belum pulih sama sekali. Ternyata luka-luka kulit dan luka-luka di bagian dalamnya cukup berat. Meskipun luka-luka pada kulitnya telah tidak lagi mengganggunya.
“Aku memerlukan waktu” desahnya, “mudah-mudahan aku segera sembuh. Kalau aku dapat mencapai pedepokanku itu masih seperti keadaannya semula, maka aku akan dapat mengobati luka-luka di bagian dalam tubuhku dengan baik. Tidak akan terhitung minggu, aku pasti akan mendapat kekuatanku kembali. Empu Sada tetap memiliki namanya yang lama”
Orang itu, Empu Sada, telah hampir sampai ke padepokannya kembali, setelah ia bersembunyi berjalan berhari-hari dengan susah payah. Setelah ia berhasil menyelamatkan dirinya dari tangan kakak beradik Kebo Sindet dan Wong Sarimpat maka kini di dalam hatinya pun menyala dendam kepada kedua orang itu. Apalagi ketika ia telah kehilangan muridnya yang dibangga-banggakan. Keduanya hilang. Keduanyalah yang selama ini paling banyak memberinya berbagai rnacam barang dan perhiasan. Saudagar keliling yang menamakan dirinya Bahu Reksa Kali Elo, dan seorang hamba istana yang dekat dengan Akuwu Tunggul Ametung, Kuda Sempana.
Empu Sada saat itu tidak memikirkan dari mana orang yang menyebut dirinya Bahu Rekso Kali Elo itu mendapat barang-barangnya. Tetapi ternyata orang itu mampu memberinya kesenangan, sehingga kepada orang itu berdua dengan Kuda Sempana, maka ilmunya paling banyak diberikan. Tetapi kini Empu Sada menjadi kecewa. Kecewa akan cara yang ditempuhnya. Ternyata dengan demikian, ia tidak mendapatkan apapun juga. Barang-barang dan perhiasan-perhiasan yang bertumpuk-tumpuk itu sama sekali tidak dapat membantunya menghadapi orang-orang seliar Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.
“Hanya kemampuan berkelahilah yang dapat membantu aku berurusan dengan kedua orang-orang liar itu” gurnamnya, “tetapi aku kini telah terlambat. Aku tidak akan sempat membentuk beberapa orang yang cukup kuat untuk menghadapi mereka berdua, meskipun sepuluh atau dua puluh orang sekaligus”.
Empu Sada menggeleng-gelengkan kepalanya untuk mengusir kekecewaannya. Tetapi setiap kali kekecewaannya itu kembali merayapi hatinya.
“Hem” gumamnya, “seandainya aku mempunyai seorang murid seperti Mahisa Agni, Witantra dan saudara-saudara seperguruan murid Panji yang kurus itu. Aku akan mampu menempa mereka berempat dan menyiapkan mereka untuk berhadapan dengan salah seorang dari orang-orang liar itu”. Tetapi kemudian ia berdesah, “Terlambat. Terlambat”.
Empu Sada itu pun terdiam. Sunyi malam telah menyebabkan hatinya menjadi semakin pahit. Sekali lagi ia menatap bintang di langit. Dan Tiba-tiba ia tersadar, betapa besar alam yang terbentang dihadapannya. Betapa besarnya. Lebih dari pada itu, alangkah Maha Besar Pencipta Nya.
Sejalan dengan kesadarannya tentang kebesaran alam yang selama ini sama sekali tidak pernah dihiraukannya, maka terasa pula betapa kecil dirinya. Ya, betapa kecil dan lemahnya. Dikenangnya apa yang baru dialaminya. Bukit gundul, padang alang-alang, sebuah sendang yang luas. Alangkah sakitnya terbanting ke dalam jurang di tebing gunung gundul yang kecil dibandingkan dengan Gunung Kawi. Apalagi dibandingkan dengan Gunung Semeru. Dan alangkah sempitnya sendang itu dibandingkan dengan Samodra. Samodra Kidul yang luas. Lebih-lebih lagi betapa perbandingan itu diterapkannya dengan dirinya.
“Apakah arti nama Empu Sada berhadapan dengan alam ini?” Tiba-tiba terbersit pertanyaan di dalam batinya.
Perasaan orang itu menjadi semakin dalam terbenam dalam kekecewaan dan penyesalan. Ternyata hidupnya yang sudah sekian lama itu, sama sekali tidak berarti apapun bagi hari tuanya. Tak ada yang dapat ditinggalkannya apabila ia kelak meninggalkan dunia ini. Tak ada yang dapat dibanggakannya. Perguruannya, muridnya dan bahkan dirinya sendiri. Tak ada yang dapat dibanggakannya, yang jasmaniah, apa lagi yang rokhaniah. Tidak ada yang akan mengatakan bahwa perguruan Empu Sada telah melahirkan anak-anak muda yang perkasa, yang pilih tanding, mumpuni saliring ilmu Jaya kawijayan guna kasantikan.
Tidak. Tidak ada. Apalagi anak-anak muda yang berbudi, yang memancarkan cinta kasih sesama. Yang selalu siap mengulurkan tangan menolong setiap kelemahan di dalam kebenaran. Tidak ada. Yang ada adalah dendam dan permusuhan. Dendam Kuda Sempana yang meluap-luap yang selama ini dibenarkannya. Dendam yang kemudian tertanam di dalam hatinya sendiri kepada Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Dendam yang akan menyala tanpa dapat dipadamkan.
Empu Sada menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia ingin melupakan segala kepahitan itu. Ia ingin segera sampai di padepokannya. Kemudian beristirahat dan mengambil reramuan obat-obatnya untuk menyembuhkan luka-luka di bagian dalam tubuhnya. Tetapi setiap kali kekecewaan dan penyesalan itu muncul di permukaan wajah hatinya.
“Hem” orang tua itu menarik nafas dalam-dalam.
Dan ia semakin terdorong dalam perasaan yang pahit. Orang tua itu merasa bahwa hidup yang pernah dijalaninya sama sekali tidak berarti apa-apa bagi dunia ini. Adanya seperti tidak ada, bagi kebajikan, dan apabila ia kelak mati, maka tidak ada jejak yang pernah ditinggalkan di kulit bumi ini. Selain noda-noda yang hitam. Perlahan-lahan namun akhirnya Empu Sada itu pun menjadi semakin dekat dengan pedukuhannya. Ia ingin sampai di padepokan itu sebelum fajar.
Ketika ayam jantan berkokok untuk yang terakhir kalinya, maka orang tua itu telah melangkahkan kakinya masuk ke halaman padepokannya. Terasa dadanya menjadi berdebar-debar. Seakan-akan ia merupakan orang asing di halaman rumahnya sendiri. Telah sering benar ia melakukan perjalanan dan pengembaraan. Telah sering benar ia meninggalkan padepokan itu sampai berhari-hari bahkan berbulan-bulan. Tetapi ia selalu pulang dengan dada tengadah. Dengan kebanggaan di dalam hatinya, bahwa isi rumah itu akan bertambah. Emas berkeping-keping di dalam gledegnya akan bertambah banyak. Simpanannya harta benda akan menjadi semakin penuh. Apabila ia membuka peti kayu cendana di sisi pembaringannya, maka gemerlap intan, berlian, mirah dan jamrut menjadi kian cemerlang.
Tetapi kali ini ia membawa kesuraman di hatinya. Bukan karena tubuhnya terluka. Adalah menjadi kebiasaan pula baginya, pulang dengan luka di luar dan dalam tubuhnya itu. Tetapi lukanya kali ini terlampau parah. Jauh lebih parah dari luka pada tubuh di bagian luar maupun di bagian dalam. Kali ini luka yang dibawanya adalah luka di hatinya. Setiap kali orang tua itu menarik nafas terlampau dalam Setiap kali terasa dadanya berdesir. Kadang-kadang ia merasa bahwa ada sesuatu yang belum dikerjakannya, tetapi ia tidak tahu, apakah yang sedang mengejarnya itu.
Akhirnya Empu Sada sampai pula di muka rumah yang berada di tengah-tengah halaman yang cukup luas. Rumah itu tidak terlampau besar. Tidak terlampau baik, dan bahkan rumah itu adalah rumah yang sederhana. Tak banyak orang yang tahu, siapakah yang tinggal di dalam rumah itu. Tetapi bagi mereka yang mengetahuinya, maka rumah itu merupakan rumah yang angker. Bahkan menyeramkan. Rumah yang halamannya terlampau rimbun. Rumah yang pintu-pintunya jarang-jarang terbuka. Hampir tak pernah tampak seorang dua orang berada di halamannya. Apalagi suara anak-anak yang tertawa dan berteriak-teriak dalam sebuah permainan yang gembira. Rumah itu seakan-akan diliputi oleh sebuah rahasia yang gelap. Tetapi di dalam rumah itu tertimbun berkeping-keping emas. Bergumpal-gumpal intan dan berlian. Bahkan berbagai macam barang-barang berharga lainnya.
Tetapi ketika tangan Empu Sada telah terayun untuk mengetuk pintunya, ia menjadi ragu-ragu. Apakah tidak ada bahaya yang sedang menunggunya di dalam rumah itu? Mungkin orang-orang Witantra bahkan mungkin Panji Bojong Santi sendiri, atau mungkin pula Wong Sarimpat, atau Kebo Sindet atau bahkan kedua-duanya, atau Empu Gandring atau Empu Purwa?
Sekali lagi Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Alangkah gelisah perjalanan hidupnya. Meskipun umurnya telah hampir sampai dua pertiga abad, tetapi ia masih belum juga menemukan sesuatu. Bahkan ia sama sekali terjauh dari ketenteraman dan kedamaian hati. Alangkah banyak lawan-lawannya. Orang yang paling jahat seperti Kebo Sindet dan Wong Sarimpat sampai orang yang cukup mengendap seperti Empu Purwa. Dan ini adalah buah yang harus dipetiknya dari benih yang pernah ditaburkannya.
Karena itu, maka Empu Sada mengurungkan niatnya. Perlahan ia berjalan bertelekan tongkatnya menyusur sisi rumahnya dengan hati-hati. Ia ingin melihat ke belakang dimana beberapa orang-orangnya berada. Ia harus bertemu dengan salah seorang dari mereka untuk mendapat keyakinan bahwa ia dapat memasuki rumahnya dengan aman. Di sebuah bilik yang sempit Empu Sada masih melihat sebuah pelita yang menyala. Dengan hati-hati maka didekatinya bilik itu. Ketajaman telinganya mendengar bahwa di dalam bilik itu seseorang sedang tidur nyenyak.
Empu Sada tahu benar, bahwa bilik itu adalah bilik salah seorang pelayannya. Dengan hati yang berdebar-debar perlahan-lahan diketuknya dinding bilik itu, tepat pada arah kepala pelayan itu tidur. Dengan gugup pelayan itu bangun. Ia mendengar seseorang berada di luar biliknya. Karena itu maka perlahan-lahan ia bertanya,
“Siapa?”
“Aku, Empu Sada”.
“Oh, apakah Empu yang berada di luar itu?” terdengar pelayan itu bertanya lebih keras.
Sesaat keadaan menjadi sunyi. Empu Sada yang sedang dibakar oleh keragu-raguan dan prasangka tidak segera menjawab. Tetapi ketika ia mendengar suara itu kembali bertanya Empu Sada
“Empu, adakah Empu yang datang itu?” Maka ia menjadi yakin bahwa suara itu benar-benar suara pelayannya.
Perlahan-lahan Empu Sada pun kemudian menjawab, “Ya. Aku Empu Sada”.
Kini Empu Sada mendengar orang itu bangun dengan tergesa-gesa. Bahkan kemudian kakinya telah menendang sebuah mangkuk tanah, dan hampir-hampir pula tangannya menyentuh pelita di tiang. Dengan tergopoh-gopoh pula orang itu membuka pintu sambil bertanya, “Empu, kenapa Empu datang lewat pintu belakang?”
“Alangkah menyenangkan. Harapan bagi masa datang kini menjadi semakin terang. Ternyata para prajurit itu tidak hanya pandai mengayunkan pedangnya, tetapi mereka pandai pula mengayunkan cangkul dan kapak. Bahkan mengemudikan gerobak dan cikar. Memegang tangkai waluku dan garu”.
Alangkah besar rasa terima kasihnya kepada Akuwu Tunggul Ametung kali ini tanpa mengingat kepedihan hatinya sendiri. Tetapi lebih dari itu, Mahisa Agni pun memanjatkan ucapan terima kasihnya kepada Yang Maha Agung. Hanya karena tuntunannya maka semua ini dapat terjadi.
“Lima kali lebih cepat dari perhitunganku” desis Mahisa Agni “Ternyata alat-alat itu sangat membantu dan mempercepat penyelesaian kerja ini. Tenaga berpasang-pasang lembu dan kerbau itu jauh lebih besar dari tenaga separo dari orang-orang Panawijen seluruhnya”.
Bukan saja Mahisa Agni yang menjadi bangga dan gembira melibat kerja itu, tetapi Ki Buyut Panawijen pun tidak kalah pula menyimpan harapan yang melimpah-limpah di dalam dadanya. Sebagai seorang yang hampir selama hidupnya berada ditengah-tengah rakyat Panawijen, maka padukuhan yang baru itu nanti pasti akan tetap mengikat orang-orang Panawijen dalam satu lingkungan. Mereka tidak akan bercerai-berai dan berpisah-pisah.
Sedang Empu Gandring menjadi gembira melihat kemanakannya berbesar hati. Orang tua itu melihat kebanggaan Mahisa Agni sebagai suatu kebanggaan dihatinya pula.
Dalam pada itu, bukan saja di Padang Karautan terjadi kesibukan yang luar biasa, tetapi di dalam istana pun terjadi kesibukan yang luar biasa pula. Para hamba istana sibuk membersihkan segala sudut halaman. Para juru sungging sibuk memperbaharui sungging pada setiap ukiran yang melekat pada tiang-tiang dan dinding-dinding istana.
Orang-orang tua di dalam istana Tumapel telah menasehatkan kepada Akuwu Tunggul Ametung untuk segera meresmikan perkawinannya dengan gadis Panawijen apabila memang telah dikehendakinya. Karena itu, maka segala persiapan pun telah dilakukan.
Meskipun demikian Akuwu Tunggul Ametung tidak melupakan janjinya kepada Mahisa Agni. Karena itu, maka ia telah mengirim sepasukan prajurit dan pelayan dalam untuk membantu Mahisa Agni membuat bendungan.
“Bendungan itu harus selesai tecepatnya. Secepat orang-orang di istana ini membersihkan dan memperbaharui segala bagian. Kemudian taman yang harus dibangun itu pun harus selesai pula. Taman yang akan aku hadiahkan kepada permaisuriku. Taman yang akan menjadi tempat beristirahat, apabila kami pergi berburu. Akan aku tinggalkan Ken Dedes di taman itu, di tempat yang pasti akan menyenangkan hatinya, sebab Ken Dedes akan dikelilingi oleh orang-orang yang telah dikenalnya dengan baik sejak kanak-anaknya” pesan Tunggul Ametung kepada Ken Arok yang diserahi pimpinan ketika pasukannya itu berangkat.
Sementara itu, di Kemundungan terjadi pula kesibukan. Kuda Sempana telah bertekad untuk menempa dirinya. Perlahan-lahan ia tertarik pula akan ilmu yang kasar dan keras dari kedua orang liar kakak beradik Wong Sarimpat dan Kebo Sindet. Meskipun kesempatan untuk berlatih itu tidak terlalu banyak, karena kedua orang itu hampir bergantian selalu pergi meninggalkan rumahnya, namun Kuda Sempana mendapatkan beberapa kemajuan pula. Kuda Sempana kemudian tidak lagi mempertimbangkan apa saja yang akan dilakukan oleh Wong Sarimpat dan Kebo Sindet atasnya dan atas Mahisa Agni. Namun kini ia berpikir, selagi ia mendapat kesempatan, biarlah ia memanfaatkan kesempatan itu. Baginya kini tidak ada pilihan lain daripada meneguk setiap ilmu yang mungkin disadapnya.
Tetapi sejalan dengan usahanya untuk mempertinggi ilmunya tanpa mengingat sumber ilmu itu, Kuda Sempana sebenarnya perlahan-lahan telah kehilangan segala gairahnya menghadapi masa depannya. Kegagalan yang bertubi-tubi datang melandanya, telah membuat hatinya menjadi beku. Ia kini seakan-akan telah kehilangan segala macam cita-cita dan tujuan. Ia berlatih asal saja ia mampu menambah ilmunya. Ia tidak tahu, apakah yang akan dilakukan, kelak dengan ilmunya yang bercampur baur itu.
Namun dengan demikian, karena ia telah kehilangan segala macam cita-cita hari depannya, maka ia sama sekali tidak berusaha untuk mencari keserasian gerak dari macam-macam ilmu yang dimilikinya. Ia tidak berusaha mengendapkan ilmu-ilmu itu untuk menemukan sari-patinya. Ia menerima menelan dan kemudian memuntahkannya kembali seperti apa yang ditelannya. Kasar dan keras, namun kadang-kadang muncul juga unsur-unsur gerak yang dipelajarinya dari Empu Sada, justru yang lebih lama terendam di dalam dirinya.
Tetapi Kuda Sempana sendiri tidak menyadari, bahwa sebenarnya apa yang diterimanya dari Kebo Sindet dan Wong Sarimpat, tidak banyak berpengaruh atas tingkat ilmunya. Yang didapatnya hanyalah sekedar macam-macam ilmu gerak yang tidak lebih baik dari yang pernah dimilikinya. Meskipun demikian, maka Kuda Sempana kini memiliki jenis-jenis unsur gerak yang lebih banyak dari yang dimilikinya semula.
Meskipun Kuda Sempana sudah beberapa waktu berada di Kemundungan, namun ia tidak tahu pasti, apakah yang akan dilakukan oleh Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Setiap kali salah seorang dari mereka pergi meninggalkan rumah mereka. Apabila orang yang pergi itu kembali, maka yang di dengarnya hanyalah Kebo Sindet atau Wong Sarimpat mengumpat-umpat.
Namun Kuda Sempana itu pun merasakan, bahwa sampai saat ini kedua orang itu masih belum mempercayainya. Betapa Kuda Sempana tidak mempedulikan keadaan, tetapi sikap dan perkataan kedua orang itu dapat dirasakannya. Keduanya tidak pernah pergi bersama-sama. Salah seorang dari mereka terasa selalu mengawasinya kemana ia pergi. Hanya kadang-kadang Kebo Sindet mengajaknya berbicara mengenai Mahisa Agni. Bahkan kini Kebo Sindet lah yang hampir tidak bersabar lagi untuk menangkap buruannya itu.
Kadang-kadang Kuda Sempana pun menjadi heran, apabila Kebo Sindet dan Wong Sarimpat itu hanya mengharap beberapa keping emas saja dari padanya, bahkan dengan segala miliknya, pendok emas, timang emas tretes berlian, maka apakah yang dilakukan oleh kedua orang itu cukup memadai. Bahkan Kuda Sempana sendiri kini menjadi cemas, apakah barang-barang miliknya yang dititipkannya pada gurunya itu masih juga utuh dapat diambilnya kelak? Apabila terlalu lama ia tidak kembali sedang gurunya telah tidak ada lagi, maka barang-barang itu pun pasti akan jatuh ketangan orang-orang lain yang berada di padepokan gurunya. Tetapi Kuda Sempana kini telah menjadi malas untuk memikirkan semuanya itu dengan sungguh-sungguh. Ia jalani apa yang dilakukannya hari ini tanpa berpikir tentang besok.
“Mungkin besok aku sudah mati dipancung oleh kedua orang ini,” kadang-kadang pikiran itu membersit di kepalanya. Tetapi kadang-kadang ia merasa bahwa kedua orang itu sangat berbaik hati kepadanya, seperti kepada murid terkasih.
“Mungkin aku akan menjadi gila” desisnya di dalam hati, “Keadaan ini benar-benar telah mengguncang-guncang keseimbangan perasaan dan pikiranku”.
Tetapi kesadaran tentang goncangan perasaan dan pikirannya itulah sebenarnya yang telah menahannya untuk tidak menjadi gila sebenarnya gila. Dan kini hari-harinya diisinya dengan menirukan, mempelajari dan mencobakan unsur-unsur gerak yang kasar dan keras. Kadang-kadang kini telah terlontar pula dari mulutnya sebuah teriakan yang keras untuk memberikan tekanan pada unsur geraknya. Tidak hanya keras, namun kadang-kadang berisi umpatan yang kotor dan memuakkan.
Tetapi, Kuda Sempana sendiri tidak tahu apa yang dikerjakan, ia sama sekali tidak berpikir tentang itu. Ia berbuat seperti yang harus diperbuatnya. Kosong. Kuda Sempana kini telah menjadi kosong. Ketika suatu ketika Kebo Sindet membawanya berbincang tentang Mahisa Agni, maka jawabnya sama sekali tidak lagi membayangkan segala macam dendam dan kebencian yang selama ini terpendam.
“Kuda Sempana” berkata Kebo Sindet, “Meskipun aku banyak menemui kesulitan, tetapi aku yakin bahwa dalam saat yang pendek aku harus dapat membawa Mahisa Agni ke Kemundungan dan menyerahkannya kepadamu”.
Dengan kepala yang hampa Kuda Sempana mengangguk, “Ya paman.”
“Bukankah kau masih menghendaki?” bertanya Kebo Sindet.
“Ya paman.”
“Apakah kau sudah memaafkannya?”
Kuda Sempana terdiam. Ditatapnya wajah Kebo Sindet yang beku sebeku wajah mayat. Namun Tiba-tiba mulutnya berkata, “Tidak paman, aku sama sekali tidak memaafkannya”.
“Bagus,” berkata Kebo Sindet, “apakah kau sekarang sudah siap?”
Kuda Sempana menjadi heran, “Apakah yang barus aku lakukan paman?”
“Kita bersama-sama mengambil Mahisa Agni. Aku tidak bersabar lagi. Kita bertiga pasti akan mampu melawan Mahisa Agni, Empu Gandring dan orang-orang Panawijen yang pengecut itu. Aku akan mengikat Empu Gandring dalam suatu perkelahian, Wong Sarimpat akan melumpuhkan Mahisa Agni sementara kau menghalau orang-orang Panawijen. Setelah itu, maka semuanya akan segera dapat diselesaikan. Empu Gandring tidak akan mampu melawan aku dan Wong Sarimpat sekaligus apabila kita masing-masing sudah saling menyiapkan diri.”
Tetapi tanggapan Kuda Sempana kini sudah tidak segairah pada saat ia pertama-tama datang ke Kemundungan. Meskipun demikian ia menjawab, “Baik paman.”
“Kita menunggu Wong Sarimpat. Sementara itu kita akan menyiapkan diri kita masing-masing”.
Tetapi ketika pada sore harinya Wong Sarimpat datang, maka persoalannya kembali menjadi panjang. Kebo Sindet mengumpat tidak habis-habisnya.
“Kau lihat sendiri, Wong Sarimpat ?”
“Ya kakang”.
“Sepasukan prajurit dari Tumapel”.
“Gila. Benar-benar gila. Apakah kerja prajurit-prajurit itu?”
“Aku tidak tahu kakang. Tetapi mereka pasti akan lama tinggal di Padang Karautan menilik bekal yang mereka bawa. Lebih dari duapuluh pedati yang ditarik kerbau dan lembu mereka bawa serta”.
Tiba-tiba tampak sebuah kerut di dahi Kebo Sindet yang beku itu. Tetapi hanya sesaat. Sesaat kemudian kembali wajah itu tidak menunjukkan kesan apapun. Namun orang itu menjadi heran pula ketika dilihatnya wajah Kuda Sempana tidak menunjukkan kesan sama sekali. Anak muda yang selama ini menahan dendam di dalam dadanya, tiba-tiba dendam itu seakan-akan telah menguap seperti asap.
Tetapi Kebo Sindet dan Wong Sarimpat tidak bertanya apapun kepadanya, bahkan mereka seakan-akan tidak melihat perubahan itu. Namun Wong Sarimpat yang hampir setiap hari melihat kebekuan wajah kakaknya berkata di dalam hatinya,
“Apakah Kuda Sempana itu kini telah kejangkitan sikap seperti kakang Kebo Sindet? Ataukah anak muda itu memang berusaha untuk berlaku demikian karena ia merasa menjadi murid kakang Kebo Sindet? Alangkah bodohnya. Umurnya tidak akan lagi lebih panjang dari umur jagung. Begitu Mahisa Agni tertangkap, maka ia pun akan menjadi orang tangkapan. Mungkin ia akan digantung di alun-alun Tumapel setinggi pohon beringin”.
Dalam pada itu terdengar Kebo Sindet bertanya, “Apakah kau sangka bahwa sepasukan prajurit itu hanya sekedar lewat di Padang Karautan atau mereka datang ke perkemahan orang-orang Panawijen itu?”
Wong Sarimpat mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu ia menjawab, “Mereka datang ke perkemahan orang-orang Panawijen”.
“Tetapi ada beberapa kemungkinan yang dapat terjadi. Mereka datang untuk menyerahkan bantuan berupa bahan-bahan, tetapi sesudah itu mereka kembali ke Tumapel, atau mereka akan ikut serta dalam kerja membuat bendungan itu”.
“Mereka datang ke perkemahan itu”.
“Gila kau Wong Sarimpat. Kau tidak pernah menyelesaikan kerja dengan baik. Tinggallah kau di rumah bersama Kuda Sempana. Aku sendiri akan melihat dan membuat perhitungan-perhitungan baru” kemudian kepada KudaSempana, “Kau pernah berkata bahwa kau sendiri berasal dari Panawijen juga. Bukan begitu?”
Wajah Kuda Sempana yang beku seperti wajah Kebo Sindet itu mengangguk, “Ya”.
“Dimana orang tuamu tinggal?”
Kali ini Kuda Sempana menjadi ragu-ragu. Apakah kepentingan orang itu bertanya tentang orang tuanya?
“He, bagaimana?” Kuda Sempana tidak segera menjawab. “Kau agaknya menjadi ragu-ragu. Aku berbuat semata-mata untuk kepentinganmu”.
Meskipun dada anak muda itu diamuk oleh kebimbangan, namun ia menjawab juga, “Ya. Orang tuaku tinggal di Panawijen. Tetapi mereka sudah tua”.
“Itu tidak penting. Mungkin mereka akan berguna bagimu dan dapat membantu anaknya melepaskan sakit hatinya”.
“Apa yang dapat mereka lakukan?”
“Serahkan kepadaku”.
“Paman” berkata Kuda Sempana dengan nada yang rendah, “jangan paman menyeretnya ke dalam kesulitan. Biarlah aku sendiri yang bertanggung jawab atas segala macam persoalan. Sebaiknya paman melepaskannya dan membiarkannya menghabiskan sisa-sisa hidupnya dengan tenteram”.
“Jangan bodoh dan jangan menjadi cengeng. Aku tidak akan berbuat segila yang kau sangka. Aku hanya akan berbuat untuk kepentinganmu”.
Kuda Sempana tidak menjawab. Tetapi kini ia bukan saja menjadi ragu-ragu. Kecemasan yang dalam telah menggores dinding jantungnya. Namun ia tidak mengucapkannya.
Malam itu juga Kebo Sindet pergi meninggalkan Kemundungan. Dengan berbagai macam persoalan di dalam dadanya, ia ingin menyaksikan sendiri, apakah benar para prajurit Tumapel itu untuk sementara menetap di Padang Karautan?. Sementara itu Wong Sarimpat tinggal di rumah bersama Kuda Sempana yang diamuk oleh berbagai perasaan. Ia kini justru berpikir tentang orang tuanya. Apakah kira-kira yang akan dilakukan oleh Kebo Sindet dengan kedua orang tuanya itu? Tetapi, ketika hatinya menjadi semakin pepat, Kuda Sempana itu berdesah,
“Persetan. Aku tidak peduli apa yang akan terjadi dengan siapa pun juga. Bahkan apa yang akan terjadi dengan diriku sendiri”.
Dan kembali anak muda itu berusaha melupakan segala-galanya. Ia mencoba untuk tidak berpikir dan merasakan sesuatu. Ia tinggal menjalani apa yang terjadi hari ini. Besok biarlah dipikirkannya besok. Sedang apa yang pernah terjadi kemarin, diusahakannya untuk melupakan sama sekali. Hidupnya kemudian menjadi sepotong-sepotong. Seolah-olah tak ada hubungan lagi antara apa yang pernah terjadi, apa yang sedang berlaku dan apa yang akan datang kemudian.
Ketika malam menjadi gelap, maka Kebo Sindet berpacu dengan kudanya mendaki tebing bukit gundul. Suara berderak memecah sepi malam menyelusur dan memantul kembali meneriakkan gema yang melingkar-lingkar karena dinding-dinding batu pegunungan gundul itu. Dengan gigi yang terkatub rapat orang itu menggenggam kendali kudanya. Di kepalanya bergelut berbagai rnacam persoalan. sehingga tanpa sesadarnya ia berdesis,
“Gila orang-orang Tumapel itu. Kalau benar mereka berada di perkemahan, maka aku pasti akan menemui kesulitan. Aku harus segera dapat mengambil Mahisa Agni sebelum adiknya tenggelam dalam kehidupan yang bahagia di dalam istana. Dengan demikian, maka adalah suatu kemungkinan bahwa Ken Dedes itu akan melupakan kakaknya dan tidak lagi mempedulikannya. Tetapi kini, hubungan mereka masih terlampau erat. Menurut ceritera Kuda Sempana, maka Ken Dedes sangat mencintai kakaknya sehingga apapun telah dilakukannya untuk menjemput Mahisa Agni menghadap Akuwu Tunggul Ametung”.
Kebo Sindet itu menggeretakkan giginya Kudanya segera dipacunya semakin cepat. Ia ingin segera melihat, apakah sebenarnya yang telah terjadi di Padang Karautan. Sementara itu otaknya masih juga berputar terus. Perlahan-lahan ia bergumam kepada diri sendiri,
“Hem. Mungkin orang tua Kuda Sempana akan dapat membantuku apabila apa yang dikatakan oleh Wong Sarimpat itu benar telah terjadi, Orang yang sudah tua itu pasti tidak berada di Padang Karautan. Mereka pasti tinggal di rumah mereka”.
Dan suara derap kaki kuda itu pun semakin keras memecah sepi malam. Gemeretak beradu dengan batu-batu padas memencar di sekitar bukit gundul yang kini telah mulai dituruninya.
Jauh dari Padang Karautan, di luar kota Tumapel, seorang tua dengan tongkat yang panjang berjalan tersuruk-suruk. Selangkah demi selangkah ia maju. Namun begitu sering ia harus berhenti untuk mengatur pernafasannya. Berkali-kali ia bersandar pada pohon-pohon di pinggir jalan untuk menenangkan detak jantungnya yang seakan-akan tidak teratur lagi. Sekali ia menarik nafas dalam.
“Beberapa langkah lagi” desisnya, “mudah-mudahan aku dapat mencapai padepokan itu”.
Kembali orang tua itu berjalan tertatih-tatih. Tangan kanannya bertelekan pada tongkat pangjangnya, sedang tangan kirinya seakan-akan menahan punggungnya supaya tidak terlepas.
“Gila orang-orang liar itu” gumamnya, “benar juga kata Empu Gandring dan Panji kurus itu, bahwa sukarlah untuk mendekati Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Tetapi aku dahulu mampu memperalatnya. Namun kini agaknya kepala Kebo Sindet menjadi semakin tajam. Berbeda dengan adiknya yang dungu itu”.
Ketika angin malam berhembus mengusap tengkuknya, maka orang tua itu menengadahkan wajahnya. Dilihatnya bintang-bintang berhamburan di dataran langit yang biru pekat. Melihat kebesaran alam yang terentang itu, orang tua itu menarik alisnya. Seakan-akan baru kali ini dilihatnya bintang gemintang yang berkeredipan di angkasa. Masing-masing dengan bentuk dan susunannya sendiri. Masing-masing beredar menurut irama yang berbeda. Tetapi penuh dengan keserasian.
Tiba-tiba orang tua itu seakan-akan melihat sebuah dunia yang asing. Dunia yang selama ini tdiak pernah dilihatnya. Benda-benda yang gemerlapan berpijar dalam warna yang cemerlang. Perlahan-lahan orang tua itu mengangguk-anggukan kepalanya. Punggungnya masih terasa sakit. Meskipun luka-lukanya telah hampir sembuh, namun tenaga masih belum pulih sama sekali. Ternyata luka-luka kulit dan luka-luka di bagian dalamnya cukup berat. Meskipun luka-luka pada kulitnya telah tidak lagi mengganggunya.
“Aku memerlukan waktu” desahnya, “mudah-mudahan aku segera sembuh. Kalau aku dapat mencapai pedepokanku itu masih seperti keadaannya semula, maka aku akan dapat mengobati luka-luka di bagian dalam tubuhku dengan baik. Tidak akan terhitung minggu, aku pasti akan mendapat kekuatanku kembali. Empu Sada tetap memiliki namanya yang lama”
Orang itu, Empu Sada, telah hampir sampai ke padepokannya kembali, setelah ia bersembunyi berjalan berhari-hari dengan susah payah. Setelah ia berhasil menyelamatkan dirinya dari tangan kakak beradik Kebo Sindet dan Wong Sarimpat maka kini di dalam hatinya pun menyala dendam kepada kedua orang itu. Apalagi ketika ia telah kehilangan muridnya yang dibangga-banggakan. Keduanya hilang. Keduanyalah yang selama ini paling banyak memberinya berbagai rnacam barang dan perhiasan. Saudagar keliling yang menamakan dirinya Bahu Reksa Kali Elo, dan seorang hamba istana yang dekat dengan Akuwu Tunggul Ametung, Kuda Sempana.
Empu Sada saat itu tidak memikirkan dari mana orang yang menyebut dirinya Bahu Rekso Kali Elo itu mendapat barang-barangnya. Tetapi ternyata orang itu mampu memberinya kesenangan, sehingga kepada orang itu berdua dengan Kuda Sempana, maka ilmunya paling banyak diberikan. Tetapi kini Empu Sada menjadi kecewa. Kecewa akan cara yang ditempuhnya. Ternyata dengan demikian, ia tidak mendapatkan apapun juga. Barang-barang dan perhiasan-perhiasan yang bertumpuk-tumpuk itu sama sekali tidak dapat membantunya menghadapi orang-orang seliar Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.
“Hanya kemampuan berkelahilah yang dapat membantu aku berurusan dengan kedua orang-orang liar itu” gurnamnya, “tetapi aku kini telah terlambat. Aku tidak akan sempat membentuk beberapa orang yang cukup kuat untuk menghadapi mereka berdua, meskipun sepuluh atau dua puluh orang sekaligus”.
Empu Sada menggeleng-gelengkan kepalanya untuk mengusir kekecewaannya. Tetapi setiap kali kekecewaannya itu kembali merayapi hatinya.
“Hem” gumamnya, “seandainya aku mempunyai seorang murid seperti Mahisa Agni, Witantra dan saudara-saudara seperguruan murid Panji yang kurus itu. Aku akan mampu menempa mereka berempat dan menyiapkan mereka untuk berhadapan dengan salah seorang dari orang-orang liar itu”. Tetapi kemudian ia berdesah, “Terlambat. Terlambat”.
Empu Sada itu pun terdiam. Sunyi malam telah menyebabkan hatinya menjadi semakin pahit. Sekali lagi ia menatap bintang di langit. Dan Tiba-tiba ia tersadar, betapa besar alam yang terbentang dihadapannya. Betapa besarnya. Lebih dari pada itu, alangkah Maha Besar Pencipta Nya.
Sejalan dengan kesadarannya tentang kebesaran alam yang selama ini sama sekali tidak pernah dihiraukannya, maka terasa pula betapa kecil dirinya. Ya, betapa kecil dan lemahnya. Dikenangnya apa yang baru dialaminya. Bukit gundul, padang alang-alang, sebuah sendang yang luas. Alangkah sakitnya terbanting ke dalam jurang di tebing gunung gundul yang kecil dibandingkan dengan Gunung Kawi. Apalagi dibandingkan dengan Gunung Semeru. Dan alangkah sempitnya sendang itu dibandingkan dengan Samodra. Samodra Kidul yang luas. Lebih-lebih lagi betapa perbandingan itu diterapkannya dengan dirinya.
“Apakah arti nama Empu Sada berhadapan dengan alam ini?” Tiba-tiba terbersit pertanyaan di dalam batinya.
Perasaan orang itu menjadi semakin dalam terbenam dalam kekecewaan dan penyesalan. Ternyata hidupnya yang sudah sekian lama itu, sama sekali tidak berarti apapun bagi hari tuanya. Tak ada yang dapat ditinggalkannya apabila ia kelak meninggalkan dunia ini. Tak ada yang dapat dibanggakannya. Perguruannya, muridnya dan bahkan dirinya sendiri. Tak ada yang dapat dibanggakannya, yang jasmaniah, apa lagi yang rokhaniah. Tidak ada yang akan mengatakan bahwa perguruan Empu Sada telah melahirkan anak-anak muda yang perkasa, yang pilih tanding, mumpuni saliring ilmu Jaya kawijayan guna kasantikan.
Tidak. Tidak ada. Apalagi anak-anak muda yang berbudi, yang memancarkan cinta kasih sesama. Yang selalu siap mengulurkan tangan menolong setiap kelemahan di dalam kebenaran. Tidak ada. Yang ada adalah dendam dan permusuhan. Dendam Kuda Sempana yang meluap-luap yang selama ini dibenarkannya. Dendam yang kemudian tertanam di dalam hatinya sendiri kepada Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Dendam yang akan menyala tanpa dapat dipadamkan.
Empu Sada menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia ingin melupakan segala kepahitan itu. Ia ingin segera sampai di padepokannya. Kemudian beristirahat dan mengambil reramuan obat-obatnya untuk menyembuhkan luka-luka di bagian dalam tubuhnya. Tetapi setiap kali kekecewaan dan penyesalan itu muncul di permukaan wajah hatinya.
“Hem” orang tua itu menarik nafas dalam-dalam.
Dan ia semakin terdorong dalam perasaan yang pahit. Orang tua itu merasa bahwa hidup yang pernah dijalaninya sama sekali tidak berarti apa-apa bagi dunia ini. Adanya seperti tidak ada, bagi kebajikan, dan apabila ia kelak mati, maka tidak ada jejak yang pernah ditinggalkan di kulit bumi ini. Selain noda-noda yang hitam. Perlahan-lahan namun akhirnya Empu Sada itu pun menjadi semakin dekat dengan pedukuhannya. Ia ingin sampai di padepokan itu sebelum fajar.
Ketika ayam jantan berkokok untuk yang terakhir kalinya, maka orang tua itu telah melangkahkan kakinya masuk ke halaman padepokannya. Terasa dadanya menjadi berdebar-debar. Seakan-akan ia merupakan orang asing di halaman rumahnya sendiri. Telah sering benar ia melakukan perjalanan dan pengembaraan. Telah sering benar ia meninggalkan padepokan itu sampai berhari-hari bahkan berbulan-bulan. Tetapi ia selalu pulang dengan dada tengadah. Dengan kebanggaan di dalam hatinya, bahwa isi rumah itu akan bertambah. Emas berkeping-keping di dalam gledegnya akan bertambah banyak. Simpanannya harta benda akan menjadi semakin penuh. Apabila ia membuka peti kayu cendana di sisi pembaringannya, maka gemerlap intan, berlian, mirah dan jamrut menjadi kian cemerlang.
Tetapi kali ini ia membawa kesuraman di hatinya. Bukan karena tubuhnya terluka. Adalah menjadi kebiasaan pula baginya, pulang dengan luka di luar dan dalam tubuhnya itu. Tetapi lukanya kali ini terlampau parah. Jauh lebih parah dari luka pada tubuh di bagian luar maupun di bagian dalam. Kali ini luka yang dibawanya adalah luka di hatinya. Setiap kali orang tua itu menarik nafas terlampau dalam Setiap kali terasa dadanya berdesir. Kadang-kadang ia merasa bahwa ada sesuatu yang belum dikerjakannya, tetapi ia tidak tahu, apakah yang sedang mengejarnya itu.
Akhirnya Empu Sada sampai pula di muka rumah yang berada di tengah-tengah halaman yang cukup luas. Rumah itu tidak terlampau besar. Tidak terlampau baik, dan bahkan rumah itu adalah rumah yang sederhana. Tak banyak orang yang tahu, siapakah yang tinggal di dalam rumah itu. Tetapi bagi mereka yang mengetahuinya, maka rumah itu merupakan rumah yang angker. Bahkan menyeramkan. Rumah yang halamannya terlampau rimbun. Rumah yang pintu-pintunya jarang-jarang terbuka. Hampir tak pernah tampak seorang dua orang berada di halamannya. Apalagi suara anak-anak yang tertawa dan berteriak-teriak dalam sebuah permainan yang gembira. Rumah itu seakan-akan diliputi oleh sebuah rahasia yang gelap. Tetapi di dalam rumah itu tertimbun berkeping-keping emas. Bergumpal-gumpal intan dan berlian. Bahkan berbagai macam barang-barang berharga lainnya.
Tetapi ketika tangan Empu Sada telah terayun untuk mengetuk pintunya, ia menjadi ragu-ragu. Apakah tidak ada bahaya yang sedang menunggunya di dalam rumah itu? Mungkin orang-orang Witantra bahkan mungkin Panji Bojong Santi sendiri, atau mungkin pula Wong Sarimpat, atau Kebo Sindet atau bahkan kedua-duanya, atau Empu Gandring atau Empu Purwa?
Sekali lagi Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Alangkah gelisah perjalanan hidupnya. Meskipun umurnya telah hampir sampai dua pertiga abad, tetapi ia masih belum juga menemukan sesuatu. Bahkan ia sama sekali terjauh dari ketenteraman dan kedamaian hati. Alangkah banyak lawan-lawannya. Orang yang paling jahat seperti Kebo Sindet dan Wong Sarimpat sampai orang yang cukup mengendap seperti Empu Purwa. Dan ini adalah buah yang harus dipetiknya dari benih yang pernah ditaburkannya.
Karena itu, maka Empu Sada mengurungkan niatnya. Perlahan ia berjalan bertelekan tongkatnya menyusur sisi rumahnya dengan hati-hati. Ia ingin melihat ke belakang dimana beberapa orang-orangnya berada. Ia harus bertemu dengan salah seorang dari mereka untuk mendapat keyakinan bahwa ia dapat memasuki rumahnya dengan aman. Di sebuah bilik yang sempit Empu Sada masih melihat sebuah pelita yang menyala. Dengan hati-hati maka didekatinya bilik itu. Ketajaman telinganya mendengar bahwa di dalam bilik itu seseorang sedang tidur nyenyak.
Empu Sada tahu benar, bahwa bilik itu adalah bilik salah seorang pelayannya. Dengan hati yang berdebar-debar perlahan-lahan diketuknya dinding bilik itu, tepat pada arah kepala pelayan itu tidur. Dengan gugup pelayan itu bangun. Ia mendengar seseorang berada di luar biliknya. Karena itu maka perlahan-lahan ia bertanya,
“Siapa?”
“Aku, Empu Sada”.
“Oh, apakah Empu yang berada di luar itu?” terdengar pelayan itu bertanya lebih keras.
Sesaat keadaan menjadi sunyi. Empu Sada yang sedang dibakar oleh keragu-raguan dan prasangka tidak segera menjawab. Tetapi ketika ia mendengar suara itu kembali bertanya Empu Sada
“Empu, adakah Empu yang datang itu?” Maka ia menjadi yakin bahwa suara itu benar-benar suara pelayannya.
Perlahan-lahan Empu Sada pun kemudian menjawab, “Ya. Aku Empu Sada”.
Kini Empu Sada mendengar orang itu bangun dengan tergesa-gesa. Bahkan kemudian kakinya telah menendang sebuah mangkuk tanah, dan hampir-hampir pula tangannya menyentuh pelita di tiang. Dengan tergopoh-gopoh pula orang itu membuka pintu sambil bertanya, “Empu, kenapa Empu datang lewat pintu belakang?”
OBJEK WISATA MANCA NEGARA


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar