Empu Sada tidak segera menjawab. Kembali ia menjadi curiga. “Siapakah yang berada di dalam?” bertanya Empu itu.
Pelayannya itu pun menggeleng, “Tidak ada Empu, kecuali seorang juru panebah yang menunggui ruang dalam, sambil mengharap-harap Empu segera datang kembali”.
“Hanya satu orang?”
Pelayan itu pun menjadi bingung. Tetapi kemudian ia menjawab, “Tidak Empu. Ada dua orang yang berada di ruang dalam”.
“Nah. Kenapa kau berkata hanya seorang?”
“Aku lupa Kiai”.
“Siapakah yang seorang itu? Bojong Santi, Empu Gandring atau siapa?” Pelayannya semakin heran. Ia belum mengenal nama-nama itu sama sekali. “Siapa? Siapakah yang kau sembunyikan di rumah itu untuk menanti aku? Kebo Sindet atau Wong Sarimpat?”
Pelayan itu menjadi semakin bingung. Nama-nama yang disebut oleh Empu Sada benar-benar membingungkan. Pelayan itu telah mengenal beberapa orang murid-murid Empu Sada yang terdekat. Tetapi nama-nama itu tidak pernah disebutnya.
“Siapa?” bentak Empu Sada.
“Sumekar. Murid Empu yang Empu tugaskan untuk menjaga rumah ini”.
“Oh” Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Terasa perasaan aneh berdesir di dadanya. Ternyata anak yang berada di dalam rumah itu adalah Sumekar.
“Kenapa tidak kau katakan sejak tadi?” bertanya Empu Sada.
“Aku terlupa Kyai” jawab pelayan itu.
Empu Sada menjadi malu sendiri. Seandainya pelayannya itu berani menatap wajah orang tua itu di dalam terang, maka akan tampaklah bahwa muka yang telah mulai berkerut-merut oleh garis-garis umur itu menjadi kemerah-merahan.
“Alangkah cemasnya hati ini” desis Empu Sada itu di dalam hatinya “Betapa gelisah dan goyahnya hidupku. Sama sekali tidak ada ketenteraman dan kedamaian”.
Tiba-tiba Empu Sada tersentak ketika ia mendengar gerit perlahan-lahan di sampingnya. Dengan tanpa dikehendakinya sendiri, tiba-tiba orang tua itu telah bersiap menghadapi setiap kemungkinan. Tetapi kembali dadanya berdesir ketika ia melihat seorang anak muda yang keluar dari pintu rumah itu. Sumekar.
“Oh” sekali lagi Empu Sada menarik nafas dalam-dalam, “Kau Sumekar”.
“Ya Empu. Aku mendengar suara Empu bercakap-cakap. Mula-mula aku sangka orang lain. Empu Sada biasanya tidak melalui pintu ini”.
“Ya, ya” sahut Empu Sada tergagap.
“Marilah Empu. Silahkanlah”.
“Kau sendiri?” bertanya Empu Sada.
“Ya” sahut Sumekar.
Empu Sada pun kemudian dengan hati-hati memasuki rumahnya, rumah yang telah berpuluh tahun ditempatinya. Tetapi kini rasa-rasanya ia sedang memasuki sebuah goa rahasia yang penuh dengan bahaya yang sedang menantinya. Tetapi akhirnya Empu Sada mengenali tempat itu kembali. Perlahan-lahan kekhawatirannya pun menjadi surut. Ia mengenal setiap pintu, tiang dan bahkan setiap jelujur kayu yang ada di dalam ruangan itu. Lampu minyak yang menggapai-ngapai di tlundak yang melekat pada saka guru. Sebuah amben yang besar di sebuah sisi, dan disekat oleh sebuah dinding, adalah bilik yang khusus dibuat untuknya, untuk menyimpan sebagian dari kekayaannya.
“Tak seorang pun masuk ke dalam bilik itu?”
“Tidak Empu” sahut Sumekar.
“Kau?”
“Ya. Kadang-kadang untuk membawa para pelayan membersihkannya”.
Empu Sada mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia bertanya kembali, “Dimana orang-orang lain?”
“Di luar Empu, Dua orang selalu tidur di atas gedogan kuda”.
Empu Sada mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejak ia belum berangkat bersama Kuda Sempana dua orang muridnya yang masih belum terlalu baik selalu tidur di atas kandang kuda. Belum lagi Empu Sada sempat beristirahat, terdengar ayam jantan berkokok bersahutan. Terontong-terontong terbayang pada lubang-lubang dinding cahaya fajar yang menjadi semakin terang. Empu Sada menggeliat sambil menyeringai. Tubuhnya masih terasa sakit-sakit.
“Siapakah yang datang ke rumah ini sepeninggalku untuk mencari aku?”
Sumekar mengerutkan keningnya. Ia mencoba mengingat-ingat. Tetapi kemudian ia menjawab, “ Tidak ada Empu”.
“Tidak ada?” jawaban itu tidak meyakinkannya.
“Tidak Empu”.
“Prajurit-prajurit Tumapel?”
Sumekar menggeleng, “Tidak Empu”.
“Orang-orang yang liar seliar orang-orang hutan?”
Kembali Sumekar mengerutkan keningnya. Kemudian kembali ia menjawab, “Tidak Empu”.
Empu Sada terdiam sejenak. Tetapi ia tidak yakin akan kebenaran kata-kata Sumekar. Mungkin Sumekar tidak ada di rumah waktu itu atau mungkin anak itu sudah tidak ingat lagi. Tetapi apabila yang datang Witantra dengan pasukannya, maka mustahil bahwa Sumekar tidak tahu atau melupakannya.
“Jadi tidak ada seorang pun yang datang?”
“Maksudku, tidak ada yang datang untuk suatu keperluan yang khusus Empu. Mungkin ada juga satu dua orang yang bertanya tentang Empu, tetapi mereka agaknya tidak mempunyai persoalan yang penting”.
Empu Sada mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi tiba-tiba alisnya berkerut, “Coba katakan, apakah kau masih ingat yang satu dua orang itu?”
“Aku tidak memperhatikannya Empu, sebab mereka agaknya juga tidak menganggap penting”.
“Ya, mungkin. Tetapi siapa saja seingatmu?”
Sumekar mengingat-ingat sejenak. Kemudian katanya, “Yang aku ingat Empu. Saduki pernah datang kemari”.
“Persetan dengan orang itu. Apa keperluannya?”
“Isterinya ngidam Empu. Isterinya itu ingin sekali makan jeruk yang sedang berbuah di halaman depan”.
“Cukup, cukup tentang orang gila itu” Sumekar terdiam. “Yang lain”.
Sumekar mencoba mengingat-ingat. Ada juga satu dua orang yang menanyakan gurunya saat itu. Tetapi mereka pada umumnya adalah orang-orang yang sering datang untuk mengadakan jual beli dan tukar menukar barang-barang. Tetapi Tiba-tiba Sumekar itu ingat, bahwa pernah datang seseorang yang belum pernah dilihatnya. Tetapi agaknya orang itu pun tidak mempunyai keperluan yang penting. Mungkin orang itu sahabat Empu Sada atau mungkin salah seorang keluarganya. Meskipun demikian Sumekar itu pun berkata,
“Empu, ada aku ingat seseorang yang belum pernah aku kenal. Kecuali para pedagang yang ingin berjual beli dan tukar menukar seperti yang sering terjadi, maka pernah datang seorang yang usianya sebaya dengan Empu”.
Empu Sada mengerutkan keningnya, “Siapa?”
“Tetapi orang itu tidak mempunyai apapun. Ia hanya sekedar ingin berkunjung kepada Empu Sada. Mungkin ia sahabat Empu yang sudah agak lama tidak bertemu”.
“Ya siapa?”
“Orang itu tidak menyebut namanya”.
“Kau katakanlah ciri-cirinya”.
“Orang itu agak tinggi. Kurus”.
“Ada berpuluh-puluh orang yang tinggi kurus di dunia ini”.
Sumekar mengerutkan keningnya. Tetapi Tiba-tiba ia berkata, “Orang itu membawa sebuah kasa yang dibuatnya dari kulit harimau. Kasa itu telah menarik perhatianku saat itu”.
“He” Empu Sada itu terkejut bukan buatan. Sehingga dengan serta-merta ia tegak berdiri seperti sebuah tonggak yang kokoh “Orang itu membawa kasa dari kulit harimau?”
Sumekar pun terkejut bukan main. Bukan karena kasa yang dibuat dari kulit harimau itu, tetapi justru karena sikap gurunya.
“Ya” sahutnya terbata-bata.
“Alangkah bodohnya kau. Jauh lebih bodoh dari orang yang menyebut dirinya Bahu Reksa Kali Elo itu. Orang yang membawa kasa dari kulit harimau itu bernama Panji Bojong Santi”.
“Oh” Sumekar meng-angguk-angguk, “Aku belum tahu Empu. Empu belum pernah memberi tahukan kepadaku. Aku menyesal bahwa aku tidak mempersilahkannya untuk menunggu Empu atau menanyakan dimanakah rumahnya, sehingga aku akan dapat memberitahukan bahwa Empu telah kembali”.
“Gila, gila kau” Empu Sada itu hampir berteriak, “jangan kau suruh ia masuk rumah ini, apalagi menunggu aku pulang. Kini ia tidak boleh mendengar bahwa Empu Sada telah berada di padepokannya kembali. Kau dengar?”
Sumekar menjadi bertambah bingung. Ia tidak tahu bagaimana ia harus menanggapi kata-kata gurunya. Bahkan sedemikian bingungnya sehingga tanpa disadari ia berkata,
“Orang itu baik guru. Ramah dan menyenangkan”.
“Oh, Sumekar, Sumekar” Tiba-tiba Empu Sada menekan dadanya yang masih terasa sakit, “alangkah bodohnya kau Panji Bojong Santi bagiku jauh lebih berbahaya dari sepasukan prajurit Tumapel meskipun dari kesatuan pengawal Akuwu yang dipimpin oleh Witantra itu sekalipun. Ternyata orang itu benar licin seperti iblis. Yang mencari aku kemari bukan sepasukan prajurit, tetapi seorang Panji Bojong Santi”.
Kini Sumekar benar-benar terbungkam. Ia tahu kemungkinan-kemungkinan yang demikian, bahwa suatu ketika gurunya akan dicari oleh sepasukan prajurit karena berbagai macam persoalan. Mungkin soal barang-barang yang diambilnya dari orang lain, meskipun tidak dengan tangannya sendiri. Mungkin soal-soal lain yang serupa dengan kejahatan. Meskipun salah seorang murid Empu Sada itu adalah seorang Pelayan Dalam Akuwu Tunggul Ametung yang dekat, Kuda Sempana. Namun agaknya ada sesuatu yang tidak wajar pada muridnya yang seorang itu. Empu Sada itu pun kemudian terduduk di amben bambu. Terasa dadanya menjadi bertambah pedih.
“Oh” desahnya, “untunglah orang itu tidak kembali. Ingat, tak seorang pun boleh tahu bahwa Empu Sada telah berada di padepokannya. Aku harus menyembuhkan segenap luka-lukaku. Sesudah itu, ayo siapakah yang akan datang menemui aku. Panji Bojong Santi, Empu Gandring, Empu Purwa, Kebo Sindet atau Wong Sarimpat?” Empu Sada terdiam. Tetapi kata-katanya itu telah mendebarkan jantungnya. Bahkan ia berdesah di dalam hati, “Alangkah banyak musuh yang harus aku hadapi”.
Sebenarnya Empu Sada tidak sedang dilanda oleh kecemasan dan ketakutan. Sebagai seorang yang telah memilih jalan hidupnya di dalam lingkungan para sakti, maka apa yang dihadapinya itu sama sekali tidak mengejutkannya, apalagi menakutkannya. Nama-nama yang pernah disebutnya tidak akan mampu membuatnya berkecil hati. Apabila ia harus menghadapi bahaya yang betapapun besarnya, maka yang dilakukannya adalah mencari jalan untuk melawan bahaya itu. Tetapi kali ini ada perasaan yang asing di dalam dirinya. Perasaan yang selama ini belum pernah dikenalnya. Meskipun ia sama sekali tidak merasa takut, namun perasaan asing itulah yang kini mendorongnya pada suatu keadaan yang asing pula baginya.
Tiba-tiba Empu Sada itu tanpa dikehendakinya mencoba menilai dirinya. Ia melihat orang lain seperti Bojong Santi, Empu Purwa, Empu Gandring dan beberapa orang lain. Kenapa mereka dapat bidup tenteram dan damai? Seakan-akan mereka tidak diamuk oleh kegelisahan dunia. Meskipun sekali-sekali mereka harus juga berkelahi, tetapi mereka merasa berdiri di atas landasan yang mantap. Mereka berkelahi dan menghadapi lawan-lawannya dengan terbuka untuk kepentingan yang terbuka pula.
Tanpa sesadarnya orang tua itu berdiri dan melangkah ke dalam biliknya. Dilihatnya sebuah peti terletak di sudut ruang itu diikat dengan kuatnya Tetapi sebenarnya tidak di dalam peti itulah kekayaan Empu Sada yang sebenarnya. Ia menyimpan peti-peti di tempat yang dirahasiakannya. Satu di antara peti-peti itu dibuatnya dari kayu cendana. Peti yang tidak pernah terpisah dari samping pembaringannya. Telapi peti itu berada di dalam dinding yang sebenarnya berlapis. Sedang di dalam peti yang terikat itu disimpannya beberapa macam benda yang kurang berharga dari benda-benda yang telah disembunyikannya.
Melihat benda itu terasa dada Empu Sada berdesir. Ia tahu benar bahwa di belakang peti yang terikat itu, di belakang dinding yang berlapis itu, ia mempunyai kekayaan yang luar biasa banyaknya. Tetapi apakah artinya kekayaan itu baginya? Empu Sada terhenyak dalam suatu keadaan yang membingungkannya. Ternyata kekayaan yang tidak terhitung itu tidak dapat memberinya kedamaian. Kekayaan yang diterimanya dengan menjual ilmunya dengan harga yang cukup mahal, tanpa menghiraukan akibat daripadanya. Tanpa mengingat, apakah yang akan dilakukan oleh murid-muridnya itu kelak.
Perlahan-lahan Empu Sada duduk di amben pembaringannya. Kini dadanya benar bergolak. Apakah sebenarnya arti kekayaan itu baginya? Kekayaan itu tidak memberinya kenikmatan jasmaniah. Rumahnya bukan rumah yang seindah istana. Ia tidak membiarkan dirinya makan dan minum sepuas-puas hatinya. Ia tidak berbuat sesuatu dengan kekayaannya itu.
Belum pernah ia mempunyai seperti kini. Ia heran sendiri, buat apa sebenarnya ia menyimpan kekayaan itu? Buat apa? Dibiarkannya dirinya terlunta-lunta. Makan hanya sekedar untuk memelihara tubuhnya. Pakaian hanya sekedar selembar kain. Kekayaan yang dikumpulkannya bahkan kadang-kadang dengan bertaruh nyawa itu sama sekali tidak berarti baginya, tidak memberinya kenikmatan jasmaniah.
Apalagi nilai rokhaniah. Nilai-nilai pengabdian dan kebaktian. Pengabdian kepada sesama dan kepada kemanusiaan, serta kebaktian yang bulat kepada Maha Pencipta Nya. Tidak. Sama sekali tidak, bahkan nilai-nilai itu telah seringkali dikorbankannya untuk mendapatkan kekayaan duniawi yang tidak bermanfaat justru bagi keduniawiannya, apalagi kerokhaniaannya.
Empu Sada masih melihat lewat lubang pintunya yang masih terbuka. Sumekar duduk termenung di luar biliknya. Seorang pelayannya yang terbangun itu pun duduk pula sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia sama sekali tidak mengetahui sesuatu. Apalagi pelayan itu, Sumekar pun menjadi bingung melihat sikap gurunya. Namun Sumekar itu dapat merasakan bahwa terjadi segala macam luka yang pernah dialaminya. Dengan demikian pasti gurunya mendapat kesulitan yang lain. Kesulitan yang tidak dapat dimengertinya.
Sejenak kemudian mereka telah mendengar suara ayam yang turun dari kandang-kandang mereka. Mereka mendengar suara sapu di halaman. Lamat-lamat kicau burung telah menyegarkan pagi yang terang dan jernih. Tetapi tidak demikian dengan hati Empu Sada.
Pelayannya yang berada di dalam rumah itu pun segera ke luar. Namun sekali lagi ia mendapat pesan bahwa orang lain tidak boleh mendengar bahwa Empu Sada telah kembali. Ketika pelayan itu telah pergi, maka dipanggilnya Sumekar masuk ke dalam biliknya. Dengan cemas Sumekar melihat keadaan gurunya yang tampaknya terlampau lesu
“Apakah luka dalam yang diderita oleh guru terlampau berat?” Tetapi Sumekar tidak berani bertanya.
“Kau simpan obat-obat itu?” bertanya gurunya.
“Ya guru”.
“Baik. Bawa obat-obat itu kemari”.
“Ya guru” sahut Sumekar sambil meninggalkan gurunya berbaring di amben bambu. Sejenak kemudian Sumekar telah kembali sambil membawa semangkuk obat yang sudah dicairkannya dengan air dingin.
“Berikanlah” minta Empu Sada sambil bangkit duduk. Dengan sekali teguk maka obat itu pun telah dihabiskannya. “Mudah-mudahan aku akan segera sembuh.” gumamnya.
“Mudah-mudahan Empu” sahut muridnya itu.
Empu Sada itu pun kemudian ditinggalkannya sendiri. Orang tua itu kemudian kembali berbaring. Tanpa dikehendakinya, maka berdatanganlah semua kenangan masa lampaunya yang suram. Sekali-sekali terdengar Empu Sada itu berdesah. Kini bukan saja bagian dalam tubuhnya yang terasa sakit, tetapi lebih-lebih lagi adalah batinya. Masa lampaunya bukanlah masa yang menyenangkan untuk dikenang.
Tiba-tiba terdengar orang tua itu memanggil muridnya perlahan-lahan, “Sumekar, Sumekar”.
Sumekar yang sedang membantu membersihkan ruangan dalam itu tergopoh-gopoh melangkah masuk ke dalam bilik gurunya. Dilihatnya gurunya menjadi semakin lesu, “Ya guru.” jawabnya dengan gelisah.
“Kemarilah. Mendekatlah” berkata orang tua itu.
Sumekar itu pun segera mendekatinya. Dan duduk bersimpuh di samping pembaringan gurunya.
“Sumekar” berkata Empu Sada, “obatmu benar-benar baik. Terasa sakitku menjadi jauh berkurang”.
“Ya Empu. Obat itu adalah obat yang guru buat sendiri beberapa bulan yang lalu”.
“Ya, ya. Tetapi kau telah membuat takaran yang tepat”.
“Ya guru”.
Empu Sada berhenti sejenak. Dipandanginya wajah muridnya yang satu ini. Murid ini baginya tidak begitu menarik hati disaat-saat yang lampau, ketika masih ada muridnya yang paling dimanjakannya. Bukan karena sifat dan kemampuannya, tetapi justru karena mereka itu mampu memberi banyak imbalan kepada Empu Sada. Anak ini tidak seperti mereka itu. Tidak seperti Kuda Sempana dan pedagang keliling yang bernama Cundaka. Bahkan masih ada beberapa orang muridnya yang lain yang lebih menarik dari anak ini. Tetapi murid-muridnya itu kini tidak ada di rumah ini. Mereka berada di tempat yang terpencar tanpa dapat diawasinya dengan baik, apakah yang telah mereka lakukan.
Tetapi anak ini, anak yang bernama Sumekar ini selalu berada di padepokannya. Tak banyak yang dilakukan selain dengan tekun berlatih. Tetapi Sumekar tidak banyak dapat memberinya imbalan. Meskipun ia anak seorang petani yang kaya, tetapi ternyata tidak dapat menyamai Kuda Sempana, seorang Pelayan dalam yang waktu itu dekat dengan Akuwu Tunggul Ametung dan pedagang keliling yang kaya raya yang seakan-akan barang-barangnya tidak pernah kering. Dan Empu Sada tidak pernah bertanya dari mana orang yang menyebut dirinya Bahu Reksa Kali Elo itu mendapatkan barang-barang berharga.
Karena itu, maka Sumekar tidak banyak mendapat kesempatan dari gurunya. Bahkan setiap kali ia ditinggalkannya di padepokan untuk menunggui rumah dan halaman. Kalau ada sesuatu yang tidak berkenan di hati Empu Sada pada saat ia kembali, maka Sumekarlah tempat yang pertama-tama untuk menumpahkan segala kemarahannya. Tetapi kali ini Empu Sada berbuat lain. Meskipun terasa sesuatu yang kurang pada tempatnya, namun gurunya itu tidak memaki-makinya dan mengumpannya. Bahkan kini gurunya itu agaknya berkenan di hati oleh obatnya yang kebetulan dianggap tepat takarannya. Tetapi Sumekar hanya dapat menundukkan kepalanya. Ia tidak dapat bertanya, apakah sebabnya maka perubahan itu terjadi.
Kini sejenak mereka saling berdiam diri. Nafas Empu Sada terdengar satu-satu meluncur dari lubang hidungnya. Terengah-engah seperti orang sedang kelelahan. Sumekar menjadi cemas mendengar tarikan nafas gurunya itu. Apalagi ketika kemudian ia menengadahkan wajahnya, dilihatnya gurunya terlampau pucat. Tetapi Sumekar masih juga belum berani bertanya sesuatu. Ia menunggu sampai gurunya sendiri mengatakannya kepadanya.
Barulah sejenak kemudian Empu Sada itu berkata, “Sumekar. Apakah kau selalu tekun berlatih sepeninggalku?”
“Ya guru” sahut Sumekar, “aku telah mencobanya”.
Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Di dalam batinya ia berkata, “Sayang, aku tidak terlalu banyak memberikan bahan-bahan kepadamu. Tetapi yang terloncat dari bibirnya adalah, “Sukurlah. Mudah-mudahan kau cepat dapat mengikuti kakak-kakak seperguruanmu”.
“Mudah-mudahan guru” sahut Sumekar.
Namun dalam pada itu Sumekar melihat sesuatu di wajah gurunya. Kebimbangan atau kecemasan. Tetapi ia masih juga belum berani bertanya.
“Sumekar” berkata gurunya, “berlatihlah sebaik-baiknya. Aku sudah cukup tua”. Sumekar terperanjat mendengar kata-kata gurunya itu. “Orang setua aku ini” berkata gurunya seterusnya, “pasti hanya tinggal menunggu saat dipanggil kembali oleh pemilikNya. Aku telah mendapat kesempatan hidup di dunia ini untuk waktu yang cukup lama”.
“Guru” Tiba-tiba terloncat dari bibir Sumekar, namun kemudian ia pun terdiam.
Empu Sada tersenyum. Baru kali ini ia melihat, bahwa Sumekar memiliki kesetiaan yang terlalu baik bagi seorang murid. Murid menurut caranya “Mungkin ia cemas karena ia belum mendapat ilmu yang cukup” berkata Empu Sada di dalam hatinya, “bukan karena aku adalah gurunya. Kalau ia tidak memerlukan aku lagi, maka apapun yang akan terjadi atas diriku, ia tidak akan memperdulikannya”. Tetapi mata anak muda itu bagi Empu Sada tampak terlampau jujur.
Tiba-tiba Empu Sada itu tidak dapat menahan hatinya lagi untuk menceriterakan apa yang pernah dialaminya di perjalanan. Ia tidak mempunyai seorang sahabat yang dipercayanya. Karena itu, untuk mengurangi himpitan tekanan perasaan, maka diceriterakannya apa yang telah terjadi itu kepada muridnya. Muridnya yang selama ini tidak banyak mendapat perhatiannya.
“Anak ini adalah anak yang paling jujur yang pernah aku temui di dalam perguruanku” desisnya di dalam hati.
Namun justru karena itu ia menjadi terasing. Seorang yang jujur seakan merupakan duri bagi lingkungan yang sama sekali tidak menghargai lagi kejujuran. Sumekar mendengarkan kata demi kata yang meluncur dari raut gurunya. Berbagai perasaan bergolak di dalam dadanya. Kadang-kadang hatinya berdesir tajam, namun kadang-kadang menyala seperti bara.
“Akhirnya aku terluka” terdengar mara Empu Sada lemah, “beruntunglah bahwa aku sempat menyembunyikan diriku di dalam air. Kalau tidak maka hari ini aku tidak akan bertemu dengan kau lagi Sumekar”.
Terdergar gigi anak muda itu gemeretak. Ingin ia meloncat dan berlari menemui orang-orang yang telah melukai gurunya untuk membuat perhitungan. Tetapi Tiba-tiba ia hanya menghela nafasnya dalam-dalam,
“Gurunya dan dua orang kakak seperguruannya tidak mampu melawan kedua orang yang diceriterakan oleh gurunya itu. Apalagi dirinya sendiri. Tetapi meskipun demikian terasa bahwa ia tidak mau menerima kekalahan itu tanpa pembalasan. Karena itu maka ia berkata di dalam hatinya, “Suatu ketika aku akan dapat menebus kekalahan ini”.
Tetapi Sumekar itu terperanjat ketika ia mendengar gurunya berkata, seolah-olah melihat perasaan yang bergolak di dalam dadanya, “Sumekar, jangan kau membayangkan, bahwa suatu ketika kau akan dapat menebus kekalahan ini. Kedua orang itu benar-benar orang yang luar biasa. Serahkanlah orang-orang itu kepada keadilan Yang Maha Agung”.
Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Meskipun ragu-ragu ia mencoba menjawab, “Tetapi apakah sifat-sifat yang bertentangan dengan adab dan kemanusiaan itu akan kita biarkan saja Empu?”
Empu Sada lah yang kini terperanjat. Jawaban Sumekar tanpa dikehendaki telah menusuk jantungnya pula. Bukan saja Kebo Sindet dan Wong Sarimpat yang telah berbuat bertentangan dengan adab dan kemanusiaan. Ia sendiri, Empu Sada pun pernah melakukannya. Sejenak Empu Sada itu pun terdiam. Terasa bagian dalam dadanya menjadi semakin sakit. Tetapi terlebih sakit lagi adalah hatinya.
Kembali mereka terlempar dalam kediaman. Ruangan yang tidak terlampau besar itu menjadi sunyi. Di luar terdengar gerit timba seperti menggores jantung. Matahari pun menjadi semakin tinggi pula. Dari celah-celah dinding meloncatlah bayangan-bayangan yang bulat seolah-olah berpijar pada sisi yang lain. Bergetar oleh bayangan dedaunan yang hitam, yang bergerak-gerak karena angin pagi yang silir, menumbuhkan suara gemerisik. Di dahan-dahan pepohonan, burung-burung liar berkicau saling sambut-menyahut dengan riangnya. Tetapi hati Empu Sada kian bertambah sakit.
“Sumekar” berkata orang tua itu kemudian, “setiap penyimpangan dari kehendak Yang Maha Agung, pada saatnya pasti akan mendapat hukuman sewajarnya”. Empu Sada berhenti sejenak. Kemudian diteruskannya, “tetapi pasti akan dipergunakan tangan yang sesuai untuk kepentingan itu. Tanganmu terlampau kecil untuk melakukannya, Sumekar”.
Sumekar hanya dapat menundukkan wajahnya. Ia merasa betapa kecil arti dirinya dibandingkan dengan kedua orang yang dikatakan oleh gurunya itu. Tetapi satu hal yang tidak dapat dimengertinya. Kenapa gurunya harus berhubungan dengan kedua orang itu?
Semula Empu Sada ingin merahasiakan persoalan yang sebenarnya dihadapi. Tetapi pandangan mata Sumekar yang terlampau jujur itu terasa menghunjam ke pusat jantungnya. Akhirnya Empu Sada tidak dapat bertahan lagi. Perlahan-lahan dipanggilnya Sumekar semakin dekat. Katanya,
“Sumekar. Mungkin kau dapat pula mengerti, bahwa sebenarnya aku pun bukanlah orang yang bersih. Aku pun termasuk orang yang sering memperkosa peradaban dan kemanusiaan. Tetapi aku belum terjerumus terlalu jauh seperti Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Mungkin kau selalu bertanya-tanya di dalam hatimu, kenapa aku pergi mencari kedua orang itu. Itu pun didorong pula oleh kekuasaan nafsu yang telah mencengkam dadaku. Aku terlampau menuruti kehendak Kuda Sempana, meskipun aku mempunyai pamrih juga dari padanya. Kini kau lihat, justru tangan kedua orang liar itulah yang dipergunakan untuk menghukumku. Hukuman badaniah yang aku alami sekarang tidakkah separah penyesalan dan kekecewaan hatiku. Cidera badaniah telah terlampau sering aku alami, tetapi luka yang separah ini pada hatiku, belum pernah aku rasakan”.
Empu Sada itu terdiam sejenak. Kemudian diceriterakannya pula hubungan antara Kuda Sempana dan Mahisa Agni. Hubungan antara Kuda Sempana dan Ken Dedes. Sumekar menganggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak tahu, bagaimana ia harus menanggapi persoalan itu. Memang pernah didengarnya persoalan yang terjadi antara kakak seperguruannya yang menjadi Pelayan dalam itu. Memang ia pernah mendengar pertentangan-pertentangan yang timbul kemudian sehingga kakak seperguruannya itu harus menyingkir.
Pelayannya itu pun menggeleng, “Tidak ada Empu, kecuali seorang juru panebah yang menunggui ruang dalam, sambil mengharap-harap Empu segera datang kembali”.
“Hanya satu orang?”
Pelayan itu pun menjadi bingung. Tetapi kemudian ia menjawab, “Tidak Empu. Ada dua orang yang berada di ruang dalam”.
“Nah. Kenapa kau berkata hanya seorang?”
“Aku lupa Kiai”.
“Siapakah yang seorang itu? Bojong Santi, Empu Gandring atau siapa?” Pelayannya semakin heran. Ia belum mengenal nama-nama itu sama sekali. “Siapa? Siapakah yang kau sembunyikan di rumah itu untuk menanti aku? Kebo Sindet atau Wong Sarimpat?”
Pelayan itu menjadi semakin bingung. Nama-nama yang disebut oleh Empu Sada benar-benar membingungkan. Pelayan itu telah mengenal beberapa orang murid-murid Empu Sada yang terdekat. Tetapi nama-nama itu tidak pernah disebutnya.
“Siapa?” bentak Empu Sada.
“Sumekar. Murid Empu yang Empu tugaskan untuk menjaga rumah ini”.
“Oh” Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Terasa perasaan aneh berdesir di dadanya. Ternyata anak yang berada di dalam rumah itu adalah Sumekar.
“Kenapa tidak kau katakan sejak tadi?” bertanya Empu Sada.
“Aku terlupa Kyai” jawab pelayan itu.
Empu Sada menjadi malu sendiri. Seandainya pelayannya itu berani menatap wajah orang tua itu di dalam terang, maka akan tampaklah bahwa muka yang telah mulai berkerut-merut oleh garis-garis umur itu menjadi kemerah-merahan.
“Alangkah cemasnya hati ini” desis Empu Sada itu di dalam hatinya “Betapa gelisah dan goyahnya hidupku. Sama sekali tidak ada ketenteraman dan kedamaian”.
Tiba-tiba Empu Sada tersentak ketika ia mendengar gerit perlahan-lahan di sampingnya. Dengan tanpa dikehendakinya sendiri, tiba-tiba orang tua itu telah bersiap menghadapi setiap kemungkinan. Tetapi kembali dadanya berdesir ketika ia melihat seorang anak muda yang keluar dari pintu rumah itu. Sumekar.
“Oh” sekali lagi Empu Sada menarik nafas dalam-dalam, “Kau Sumekar”.
“Ya Empu. Aku mendengar suara Empu bercakap-cakap. Mula-mula aku sangka orang lain. Empu Sada biasanya tidak melalui pintu ini”.
“Ya, ya” sahut Empu Sada tergagap.
“Marilah Empu. Silahkanlah”.
“Kau sendiri?” bertanya Empu Sada.
“Ya” sahut Sumekar.
Empu Sada pun kemudian dengan hati-hati memasuki rumahnya, rumah yang telah berpuluh tahun ditempatinya. Tetapi kini rasa-rasanya ia sedang memasuki sebuah goa rahasia yang penuh dengan bahaya yang sedang menantinya. Tetapi akhirnya Empu Sada mengenali tempat itu kembali. Perlahan-lahan kekhawatirannya pun menjadi surut. Ia mengenal setiap pintu, tiang dan bahkan setiap jelujur kayu yang ada di dalam ruangan itu. Lampu minyak yang menggapai-ngapai di tlundak yang melekat pada saka guru. Sebuah amben yang besar di sebuah sisi, dan disekat oleh sebuah dinding, adalah bilik yang khusus dibuat untuknya, untuk menyimpan sebagian dari kekayaannya.
“Tak seorang pun masuk ke dalam bilik itu?”
“Tidak Empu” sahut Sumekar.
“Kau?”
“Ya. Kadang-kadang untuk membawa para pelayan membersihkannya”.
Empu Sada mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia bertanya kembali, “Dimana orang-orang lain?”
“Di luar Empu, Dua orang selalu tidur di atas gedogan kuda”.
Empu Sada mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejak ia belum berangkat bersama Kuda Sempana dua orang muridnya yang masih belum terlalu baik selalu tidur di atas kandang kuda. Belum lagi Empu Sada sempat beristirahat, terdengar ayam jantan berkokok bersahutan. Terontong-terontong terbayang pada lubang-lubang dinding cahaya fajar yang menjadi semakin terang. Empu Sada menggeliat sambil menyeringai. Tubuhnya masih terasa sakit-sakit.
“Siapakah yang datang ke rumah ini sepeninggalku untuk mencari aku?”
Sumekar mengerutkan keningnya. Ia mencoba mengingat-ingat. Tetapi kemudian ia menjawab, “ Tidak ada Empu”.
“Tidak ada?” jawaban itu tidak meyakinkannya.
“Tidak Empu”.
“Prajurit-prajurit Tumapel?”
Sumekar menggeleng, “Tidak Empu”.
“Orang-orang yang liar seliar orang-orang hutan?”
Kembali Sumekar mengerutkan keningnya. Kemudian kembali ia menjawab, “Tidak Empu”.
Empu Sada terdiam sejenak. Tetapi ia tidak yakin akan kebenaran kata-kata Sumekar. Mungkin Sumekar tidak ada di rumah waktu itu atau mungkin anak itu sudah tidak ingat lagi. Tetapi apabila yang datang Witantra dengan pasukannya, maka mustahil bahwa Sumekar tidak tahu atau melupakannya.
“Jadi tidak ada seorang pun yang datang?”
“Maksudku, tidak ada yang datang untuk suatu keperluan yang khusus Empu. Mungkin ada juga satu dua orang yang bertanya tentang Empu, tetapi mereka agaknya tidak mempunyai persoalan yang penting”.
Empu Sada mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi tiba-tiba alisnya berkerut, “Coba katakan, apakah kau masih ingat yang satu dua orang itu?”
“Aku tidak memperhatikannya Empu, sebab mereka agaknya juga tidak menganggap penting”.
“Ya, mungkin. Tetapi siapa saja seingatmu?”
Sumekar mengingat-ingat sejenak. Kemudian katanya, “Yang aku ingat Empu. Saduki pernah datang kemari”.
“Persetan dengan orang itu. Apa keperluannya?”
“Isterinya ngidam Empu. Isterinya itu ingin sekali makan jeruk yang sedang berbuah di halaman depan”.
“Cukup, cukup tentang orang gila itu” Sumekar terdiam. “Yang lain”.
Sumekar mencoba mengingat-ingat. Ada juga satu dua orang yang menanyakan gurunya saat itu. Tetapi mereka pada umumnya adalah orang-orang yang sering datang untuk mengadakan jual beli dan tukar menukar barang-barang. Tetapi Tiba-tiba Sumekar itu ingat, bahwa pernah datang seseorang yang belum pernah dilihatnya. Tetapi agaknya orang itu pun tidak mempunyai keperluan yang penting. Mungkin orang itu sahabat Empu Sada atau mungkin salah seorang keluarganya. Meskipun demikian Sumekar itu pun berkata,
“Empu, ada aku ingat seseorang yang belum pernah aku kenal. Kecuali para pedagang yang ingin berjual beli dan tukar menukar seperti yang sering terjadi, maka pernah datang seorang yang usianya sebaya dengan Empu”.
Empu Sada mengerutkan keningnya, “Siapa?”
“Tetapi orang itu tidak mempunyai apapun. Ia hanya sekedar ingin berkunjung kepada Empu Sada. Mungkin ia sahabat Empu yang sudah agak lama tidak bertemu”.
“Ya siapa?”
“Orang itu tidak menyebut namanya”.
“Kau katakanlah ciri-cirinya”.
“Orang itu agak tinggi. Kurus”.
“Ada berpuluh-puluh orang yang tinggi kurus di dunia ini”.
Sumekar mengerutkan keningnya. Tetapi Tiba-tiba ia berkata, “Orang itu membawa sebuah kasa yang dibuatnya dari kulit harimau. Kasa itu telah menarik perhatianku saat itu”.
“He” Empu Sada itu terkejut bukan buatan. Sehingga dengan serta-merta ia tegak berdiri seperti sebuah tonggak yang kokoh “Orang itu membawa kasa dari kulit harimau?”
Sumekar pun terkejut bukan main. Bukan karena kasa yang dibuat dari kulit harimau itu, tetapi justru karena sikap gurunya.
“Ya” sahutnya terbata-bata.
“Alangkah bodohnya kau. Jauh lebih bodoh dari orang yang menyebut dirinya Bahu Reksa Kali Elo itu. Orang yang membawa kasa dari kulit harimau itu bernama Panji Bojong Santi”.
“Oh” Sumekar meng-angguk-angguk, “Aku belum tahu Empu. Empu belum pernah memberi tahukan kepadaku. Aku menyesal bahwa aku tidak mempersilahkannya untuk menunggu Empu atau menanyakan dimanakah rumahnya, sehingga aku akan dapat memberitahukan bahwa Empu telah kembali”.
“Gila, gila kau” Empu Sada itu hampir berteriak, “jangan kau suruh ia masuk rumah ini, apalagi menunggu aku pulang. Kini ia tidak boleh mendengar bahwa Empu Sada telah berada di padepokannya kembali. Kau dengar?”
Sumekar menjadi bertambah bingung. Ia tidak tahu bagaimana ia harus menanggapi kata-kata gurunya. Bahkan sedemikian bingungnya sehingga tanpa disadari ia berkata,
“Orang itu baik guru. Ramah dan menyenangkan”.
“Oh, Sumekar, Sumekar” Tiba-tiba Empu Sada menekan dadanya yang masih terasa sakit, “alangkah bodohnya kau Panji Bojong Santi bagiku jauh lebih berbahaya dari sepasukan prajurit Tumapel meskipun dari kesatuan pengawal Akuwu yang dipimpin oleh Witantra itu sekalipun. Ternyata orang itu benar licin seperti iblis. Yang mencari aku kemari bukan sepasukan prajurit, tetapi seorang Panji Bojong Santi”.
Kini Sumekar benar-benar terbungkam. Ia tahu kemungkinan-kemungkinan yang demikian, bahwa suatu ketika gurunya akan dicari oleh sepasukan prajurit karena berbagai macam persoalan. Mungkin soal barang-barang yang diambilnya dari orang lain, meskipun tidak dengan tangannya sendiri. Mungkin soal-soal lain yang serupa dengan kejahatan. Meskipun salah seorang murid Empu Sada itu adalah seorang Pelayan Dalam Akuwu Tunggul Ametung yang dekat, Kuda Sempana. Namun agaknya ada sesuatu yang tidak wajar pada muridnya yang seorang itu. Empu Sada itu pun kemudian terduduk di amben bambu. Terasa dadanya menjadi bertambah pedih.
“Oh” desahnya, “untunglah orang itu tidak kembali. Ingat, tak seorang pun boleh tahu bahwa Empu Sada telah berada di padepokannya. Aku harus menyembuhkan segenap luka-lukaku. Sesudah itu, ayo siapakah yang akan datang menemui aku. Panji Bojong Santi, Empu Gandring, Empu Purwa, Kebo Sindet atau Wong Sarimpat?” Empu Sada terdiam. Tetapi kata-katanya itu telah mendebarkan jantungnya. Bahkan ia berdesah di dalam hati, “Alangkah banyak musuh yang harus aku hadapi”.
Sebenarnya Empu Sada tidak sedang dilanda oleh kecemasan dan ketakutan. Sebagai seorang yang telah memilih jalan hidupnya di dalam lingkungan para sakti, maka apa yang dihadapinya itu sama sekali tidak mengejutkannya, apalagi menakutkannya. Nama-nama yang pernah disebutnya tidak akan mampu membuatnya berkecil hati. Apabila ia harus menghadapi bahaya yang betapapun besarnya, maka yang dilakukannya adalah mencari jalan untuk melawan bahaya itu. Tetapi kali ini ada perasaan yang asing di dalam dirinya. Perasaan yang selama ini belum pernah dikenalnya. Meskipun ia sama sekali tidak merasa takut, namun perasaan asing itulah yang kini mendorongnya pada suatu keadaan yang asing pula baginya.
Tiba-tiba Empu Sada itu tanpa dikehendakinya mencoba menilai dirinya. Ia melihat orang lain seperti Bojong Santi, Empu Purwa, Empu Gandring dan beberapa orang lain. Kenapa mereka dapat bidup tenteram dan damai? Seakan-akan mereka tidak diamuk oleh kegelisahan dunia. Meskipun sekali-sekali mereka harus juga berkelahi, tetapi mereka merasa berdiri di atas landasan yang mantap. Mereka berkelahi dan menghadapi lawan-lawannya dengan terbuka untuk kepentingan yang terbuka pula.
Tanpa sesadarnya orang tua itu berdiri dan melangkah ke dalam biliknya. Dilihatnya sebuah peti terletak di sudut ruang itu diikat dengan kuatnya Tetapi sebenarnya tidak di dalam peti itulah kekayaan Empu Sada yang sebenarnya. Ia menyimpan peti-peti di tempat yang dirahasiakannya. Satu di antara peti-peti itu dibuatnya dari kayu cendana. Peti yang tidak pernah terpisah dari samping pembaringannya. Telapi peti itu berada di dalam dinding yang sebenarnya berlapis. Sedang di dalam peti yang terikat itu disimpannya beberapa macam benda yang kurang berharga dari benda-benda yang telah disembunyikannya.
Melihat benda itu terasa dada Empu Sada berdesir. Ia tahu benar bahwa di belakang peti yang terikat itu, di belakang dinding yang berlapis itu, ia mempunyai kekayaan yang luar biasa banyaknya. Tetapi apakah artinya kekayaan itu baginya? Empu Sada terhenyak dalam suatu keadaan yang membingungkannya. Ternyata kekayaan yang tidak terhitung itu tidak dapat memberinya kedamaian. Kekayaan yang diterimanya dengan menjual ilmunya dengan harga yang cukup mahal, tanpa menghiraukan akibat daripadanya. Tanpa mengingat, apakah yang akan dilakukan oleh murid-muridnya itu kelak.
Perlahan-lahan Empu Sada duduk di amben pembaringannya. Kini dadanya benar bergolak. Apakah sebenarnya arti kekayaan itu baginya? Kekayaan itu tidak memberinya kenikmatan jasmaniah. Rumahnya bukan rumah yang seindah istana. Ia tidak membiarkan dirinya makan dan minum sepuas-puas hatinya. Ia tidak berbuat sesuatu dengan kekayaannya itu.
Belum pernah ia mempunyai seperti kini. Ia heran sendiri, buat apa sebenarnya ia menyimpan kekayaan itu? Buat apa? Dibiarkannya dirinya terlunta-lunta. Makan hanya sekedar untuk memelihara tubuhnya. Pakaian hanya sekedar selembar kain. Kekayaan yang dikumpulkannya bahkan kadang-kadang dengan bertaruh nyawa itu sama sekali tidak berarti baginya, tidak memberinya kenikmatan jasmaniah.
Apalagi nilai rokhaniah. Nilai-nilai pengabdian dan kebaktian. Pengabdian kepada sesama dan kepada kemanusiaan, serta kebaktian yang bulat kepada Maha Pencipta Nya. Tidak. Sama sekali tidak, bahkan nilai-nilai itu telah seringkali dikorbankannya untuk mendapatkan kekayaan duniawi yang tidak bermanfaat justru bagi keduniawiannya, apalagi kerokhaniaannya.
Empu Sada masih melihat lewat lubang pintunya yang masih terbuka. Sumekar duduk termenung di luar biliknya. Seorang pelayannya yang terbangun itu pun duduk pula sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia sama sekali tidak mengetahui sesuatu. Apalagi pelayan itu, Sumekar pun menjadi bingung melihat sikap gurunya. Namun Sumekar itu dapat merasakan bahwa terjadi segala macam luka yang pernah dialaminya. Dengan demikian pasti gurunya mendapat kesulitan yang lain. Kesulitan yang tidak dapat dimengertinya.
Sejenak kemudian mereka telah mendengar suara ayam yang turun dari kandang-kandang mereka. Mereka mendengar suara sapu di halaman. Lamat-lamat kicau burung telah menyegarkan pagi yang terang dan jernih. Tetapi tidak demikian dengan hati Empu Sada.
Pelayannya yang berada di dalam rumah itu pun segera ke luar. Namun sekali lagi ia mendapat pesan bahwa orang lain tidak boleh mendengar bahwa Empu Sada telah kembali. Ketika pelayan itu telah pergi, maka dipanggilnya Sumekar masuk ke dalam biliknya. Dengan cemas Sumekar melihat keadaan gurunya yang tampaknya terlampau lesu
“Apakah luka dalam yang diderita oleh guru terlampau berat?” Tetapi Sumekar tidak berani bertanya.
“Kau simpan obat-obat itu?” bertanya gurunya.
“Ya guru”.
“Baik. Bawa obat-obat itu kemari”.
“Ya guru” sahut Sumekar sambil meninggalkan gurunya berbaring di amben bambu. Sejenak kemudian Sumekar telah kembali sambil membawa semangkuk obat yang sudah dicairkannya dengan air dingin.
“Berikanlah” minta Empu Sada sambil bangkit duduk. Dengan sekali teguk maka obat itu pun telah dihabiskannya. “Mudah-mudahan aku akan segera sembuh.” gumamnya.
“Mudah-mudahan Empu” sahut muridnya itu.
Empu Sada itu pun kemudian ditinggalkannya sendiri. Orang tua itu kemudian kembali berbaring. Tanpa dikehendakinya, maka berdatanganlah semua kenangan masa lampaunya yang suram. Sekali-sekali terdengar Empu Sada itu berdesah. Kini bukan saja bagian dalam tubuhnya yang terasa sakit, tetapi lebih-lebih lagi adalah batinya. Masa lampaunya bukanlah masa yang menyenangkan untuk dikenang.
Tiba-tiba terdengar orang tua itu memanggil muridnya perlahan-lahan, “Sumekar, Sumekar”.
Sumekar yang sedang membantu membersihkan ruangan dalam itu tergopoh-gopoh melangkah masuk ke dalam bilik gurunya. Dilihatnya gurunya menjadi semakin lesu, “Ya guru.” jawabnya dengan gelisah.
“Kemarilah. Mendekatlah” berkata orang tua itu.
Sumekar itu pun segera mendekatinya. Dan duduk bersimpuh di samping pembaringan gurunya.
“Sumekar” berkata Empu Sada, “obatmu benar-benar baik. Terasa sakitku menjadi jauh berkurang”.
“Ya Empu. Obat itu adalah obat yang guru buat sendiri beberapa bulan yang lalu”.
“Ya, ya. Tetapi kau telah membuat takaran yang tepat”.
“Ya guru”.
Empu Sada berhenti sejenak. Dipandanginya wajah muridnya yang satu ini. Murid ini baginya tidak begitu menarik hati disaat-saat yang lampau, ketika masih ada muridnya yang paling dimanjakannya. Bukan karena sifat dan kemampuannya, tetapi justru karena mereka itu mampu memberi banyak imbalan kepada Empu Sada. Anak ini tidak seperti mereka itu. Tidak seperti Kuda Sempana dan pedagang keliling yang bernama Cundaka. Bahkan masih ada beberapa orang muridnya yang lain yang lebih menarik dari anak ini. Tetapi murid-muridnya itu kini tidak ada di rumah ini. Mereka berada di tempat yang terpencar tanpa dapat diawasinya dengan baik, apakah yang telah mereka lakukan.
Tetapi anak ini, anak yang bernama Sumekar ini selalu berada di padepokannya. Tak banyak yang dilakukan selain dengan tekun berlatih. Tetapi Sumekar tidak banyak dapat memberinya imbalan. Meskipun ia anak seorang petani yang kaya, tetapi ternyata tidak dapat menyamai Kuda Sempana, seorang Pelayan dalam yang waktu itu dekat dengan Akuwu Tunggul Ametung dan pedagang keliling yang kaya raya yang seakan-akan barang-barangnya tidak pernah kering. Dan Empu Sada tidak pernah bertanya dari mana orang yang menyebut dirinya Bahu Reksa Kali Elo itu mendapatkan barang-barang berharga.
Karena itu, maka Sumekar tidak banyak mendapat kesempatan dari gurunya. Bahkan setiap kali ia ditinggalkannya di padepokan untuk menunggui rumah dan halaman. Kalau ada sesuatu yang tidak berkenan di hati Empu Sada pada saat ia kembali, maka Sumekarlah tempat yang pertama-tama untuk menumpahkan segala kemarahannya. Tetapi kali ini Empu Sada berbuat lain. Meskipun terasa sesuatu yang kurang pada tempatnya, namun gurunya itu tidak memaki-makinya dan mengumpannya. Bahkan kini gurunya itu agaknya berkenan di hati oleh obatnya yang kebetulan dianggap tepat takarannya. Tetapi Sumekar hanya dapat menundukkan kepalanya. Ia tidak dapat bertanya, apakah sebabnya maka perubahan itu terjadi.
Kini sejenak mereka saling berdiam diri. Nafas Empu Sada terdengar satu-satu meluncur dari lubang hidungnya. Terengah-engah seperti orang sedang kelelahan. Sumekar menjadi cemas mendengar tarikan nafas gurunya itu. Apalagi ketika kemudian ia menengadahkan wajahnya, dilihatnya gurunya terlampau pucat. Tetapi Sumekar masih juga belum berani bertanya sesuatu. Ia menunggu sampai gurunya sendiri mengatakannya kepadanya.
Barulah sejenak kemudian Empu Sada itu berkata, “Sumekar. Apakah kau selalu tekun berlatih sepeninggalku?”
“Ya guru” sahut Sumekar, “aku telah mencobanya”.
Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Di dalam batinya ia berkata, “Sayang, aku tidak terlalu banyak memberikan bahan-bahan kepadamu. Tetapi yang terloncat dari bibirnya adalah, “Sukurlah. Mudah-mudahan kau cepat dapat mengikuti kakak-kakak seperguruanmu”.
“Mudah-mudahan guru” sahut Sumekar.
Namun dalam pada itu Sumekar melihat sesuatu di wajah gurunya. Kebimbangan atau kecemasan. Tetapi ia masih juga belum berani bertanya.
“Sumekar” berkata gurunya, “berlatihlah sebaik-baiknya. Aku sudah cukup tua”. Sumekar terperanjat mendengar kata-kata gurunya itu. “Orang setua aku ini” berkata gurunya seterusnya, “pasti hanya tinggal menunggu saat dipanggil kembali oleh pemilikNya. Aku telah mendapat kesempatan hidup di dunia ini untuk waktu yang cukup lama”.
“Guru” Tiba-tiba terloncat dari bibir Sumekar, namun kemudian ia pun terdiam.
Empu Sada tersenyum. Baru kali ini ia melihat, bahwa Sumekar memiliki kesetiaan yang terlalu baik bagi seorang murid. Murid menurut caranya “Mungkin ia cemas karena ia belum mendapat ilmu yang cukup” berkata Empu Sada di dalam hatinya, “bukan karena aku adalah gurunya. Kalau ia tidak memerlukan aku lagi, maka apapun yang akan terjadi atas diriku, ia tidak akan memperdulikannya”. Tetapi mata anak muda itu bagi Empu Sada tampak terlampau jujur.
Tiba-tiba Empu Sada itu tidak dapat menahan hatinya lagi untuk menceriterakan apa yang pernah dialaminya di perjalanan. Ia tidak mempunyai seorang sahabat yang dipercayanya. Karena itu, untuk mengurangi himpitan tekanan perasaan, maka diceriterakannya apa yang telah terjadi itu kepada muridnya. Muridnya yang selama ini tidak banyak mendapat perhatiannya.
“Anak ini adalah anak yang paling jujur yang pernah aku temui di dalam perguruanku” desisnya di dalam hati.
Namun justru karena itu ia menjadi terasing. Seorang yang jujur seakan merupakan duri bagi lingkungan yang sama sekali tidak menghargai lagi kejujuran. Sumekar mendengarkan kata demi kata yang meluncur dari raut gurunya. Berbagai perasaan bergolak di dalam dadanya. Kadang-kadang hatinya berdesir tajam, namun kadang-kadang menyala seperti bara.
“Akhirnya aku terluka” terdengar mara Empu Sada lemah, “beruntunglah bahwa aku sempat menyembunyikan diriku di dalam air. Kalau tidak maka hari ini aku tidak akan bertemu dengan kau lagi Sumekar”.
Terdergar gigi anak muda itu gemeretak. Ingin ia meloncat dan berlari menemui orang-orang yang telah melukai gurunya untuk membuat perhitungan. Tetapi Tiba-tiba ia hanya menghela nafasnya dalam-dalam,
“Gurunya dan dua orang kakak seperguruannya tidak mampu melawan kedua orang yang diceriterakan oleh gurunya itu. Apalagi dirinya sendiri. Tetapi meskipun demikian terasa bahwa ia tidak mau menerima kekalahan itu tanpa pembalasan. Karena itu maka ia berkata di dalam hatinya, “Suatu ketika aku akan dapat menebus kekalahan ini”.
Tetapi Sumekar itu terperanjat ketika ia mendengar gurunya berkata, seolah-olah melihat perasaan yang bergolak di dalam dadanya, “Sumekar, jangan kau membayangkan, bahwa suatu ketika kau akan dapat menebus kekalahan ini. Kedua orang itu benar-benar orang yang luar biasa. Serahkanlah orang-orang itu kepada keadilan Yang Maha Agung”.
Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Meskipun ragu-ragu ia mencoba menjawab, “Tetapi apakah sifat-sifat yang bertentangan dengan adab dan kemanusiaan itu akan kita biarkan saja Empu?”
Empu Sada lah yang kini terperanjat. Jawaban Sumekar tanpa dikehendaki telah menusuk jantungnya pula. Bukan saja Kebo Sindet dan Wong Sarimpat yang telah berbuat bertentangan dengan adab dan kemanusiaan. Ia sendiri, Empu Sada pun pernah melakukannya. Sejenak Empu Sada itu pun terdiam. Terasa bagian dalam dadanya menjadi semakin sakit. Tetapi terlebih sakit lagi adalah hatinya.
Kembali mereka terlempar dalam kediaman. Ruangan yang tidak terlampau besar itu menjadi sunyi. Di luar terdengar gerit timba seperti menggores jantung. Matahari pun menjadi semakin tinggi pula. Dari celah-celah dinding meloncatlah bayangan-bayangan yang bulat seolah-olah berpijar pada sisi yang lain. Bergetar oleh bayangan dedaunan yang hitam, yang bergerak-gerak karena angin pagi yang silir, menumbuhkan suara gemerisik. Di dahan-dahan pepohonan, burung-burung liar berkicau saling sambut-menyahut dengan riangnya. Tetapi hati Empu Sada kian bertambah sakit.
“Sumekar” berkata orang tua itu kemudian, “setiap penyimpangan dari kehendak Yang Maha Agung, pada saatnya pasti akan mendapat hukuman sewajarnya”. Empu Sada berhenti sejenak. Kemudian diteruskannya, “tetapi pasti akan dipergunakan tangan yang sesuai untuk kepentingan itu. Tanganmu terlampau kecil untuk melakukannya, Sumekar”.
Sumekar hanya dapat menundukkan wajahnya. Ia merasa betapa kecil arti dirinya dibandingkan dengan kedua orang yang dikatakan oleh gurunya itu. Tetapi satu hal yang tidak dapat dimengertinya. Kenapa gurunya harus berhubungan dengan kedua orang itu?
Semula Empu Sada ingin merahasiakan persoalan yang sebenarnya dihadapi. Tetapi pandangan mata Sumekar yang terlampau jujur itu terasa menghunjam ke pusat jantungnya. Akhirnya Empu Sada tidak dapat bertahan lagi. Perlahan-lahan dipanggilnya Sumekar semakin dekat. Katanya,
“Sumekar. Mungkin kau dapat pula mengerti, bahwa sebenarnya aku pun bukanlah orang yang bersih. Aku pun termasuk orang yang sering memperkosa peradaban dan kemanusiaan. Tetapi aku belum terjerumus terlalu jauh seperti Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Mungkin kau selalu bertanya-tanya di dalam hatimu, kenapa aku pergi mencari kedua orang itu. Itu pun didorong pula oleh kekuasaan nafsu yang telah mencengkam dadaku. Aku terlampau menuruti kehendak Kuda Sempana, meskipun aku mempunyai pamrih juga dari padanya. Kini kau lihat, justru tangan kedua orang liar itulah yang dipergunakan untuk menghukumku. Hukuman badaniah yang aku alami sekarang tidakkah separah penyesalan dan kekecewaan hatiku. Cidera badaniah telah terlampau sering aku alami, tetapi luka yang separah ini pada hatiku, belum pernah aku rasakan”.
Empu Sada itu terdiam sejenak. Kemudian diceriterakannya pula hubungan antara Kuda Sempana dan Mahisa Agni. Hubungan antara Kuda Sempana dan Ken Dedes. Sumekar menganggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak tahu, bagaimana ia harus menanggapi persoalan itu. Memang pernah didengarnya persoalan yang terjadi antara kakak seperguruannya yang menjadi Pelayan dalam itu. Memang ia pernah mendengar pertentangan-pertentangan yang timbul kemudian sehingga kakak seperguruannya itu harus menyingkir.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar