Tetapi ia tidak tahu, bahwa persoalan itu telah terdorong semakin jauh. Kini kakak seperguruannya itu ternyata tertangkap oleh orang-orang yang dikatakan gurunya orang liar itu. Bahkan kakak seperguruannya yang seorang lagi terbunuh. Pada satu segi Sumekar menjadi marah di dalam hati. Bahkan tumbuh pula dendam di dadanya. Namun pada segi yang lain ia merasa seakan apa yang terjadi itu adalah wajar. Bahkan seharusnya.
Sekali lagi Sumekar itu terperanjat ketika ia mendengar gurunya Tiba-tiba bertanya, “Sumekar, kenapa kau dahulu berguru kepadaku? Ternyata kau terperosok ke dalam lingkungan yang bertentangan dengan sifat-sifatmu sendiri. Dan kau selama ini mencoba menyesuaikan dirimu. Aku kini merasa, bahwa kau telah memilih jalan yang salah”.
Sumekar seakan-akan terbungkam karenanya. Pertanyaan itu menjadi semakin keras berdentang di dalam telinganya sendiri “Ya, mengapa aku dahulu berguru disini? Mengapa aku terlempar dalam lingkungan yang suram tanpa berusaha untuk menghindar meskipun sebagian telah aku ketahuinya”.
Tetapi semuanya telah terjadi. Dan Sumekar itu merasa bahwa ia telah pernah menerima berbagai ilmu dari gurunya itu. Karena itu, maka ia tidak akan dapat lagi meloncat surut, kemasa yang lampau.
Sedang gurunya itu berkata, “Tetapi Sumekar, ada baiknya kau melihat segenap persoalan dan akhir dari peristiwa ini. Kau akan mendapatkan sebuah cermin yang baik untuk melihat, betapa kekuasaan yang Maha Agung telah menggerakkan alat-alat-Nya untuk menyelesaikan rencananya. Kau lihat bagaimana aku sekarang terluka parah dan bahkan hampir mati terbunuh. Murid-muridku kini tidak lagi dapat berbuat sesuatu. Malahan Cundaka itu telah terbunuh pula sedang Kuda Sempana tidak sempat aku selamatkan”.
Empu Sada berhenti sejenak, kemudian dilanjutkannya, “Karena itu Sumekar, sebelum kau terlanjur terperosok dalam dunia yang gelap, kau dapat mengungkat kembali sifat-sifatmu yang sebenarnya. Ilmuku sebenarnya bukan sejenis ilmu yang kasar seperti ilmu yang di miliki oleb Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Tetapi meskipun demikian, ilmu hanya sekedar kelengkapan hidup kita. Meskipun ilmu itu ilmu yang sekasar apapun, lebih kasar dari ilmu Kebo Sindet dan Wong Sarimpat, tetapi ilmu itu tidak dapat berbuat sendiri. Tergantung terlampau jauh kepada pemiliknya. Orang yang memiliki sifat ilmu itu. Seperti sebilah pisau di tangan anak-anak. Pisau itu akan dapat bermanfaat baginya dan orang lain, untuk mengupas makanan dan buah-buahan. Tetapi pisau itu juga akan dapat mendatangkan bencana bagi dirinya dan orang lain. Bagaimanapun bentuk daripada pisau itu”.
Kepala Sumekar menjadi semakin tunduk. Selama ini gurunya tidak pernah memberinya petunjuk tentang jalan hidup yang harus dipilihnya. Selama ini gurunya hanya memberinya petunjuk-petunjuk bagaimana ia harus melakukan berbagai macam unsur-unsur gerak. Dari yang paling sederhana sampai yang paling sulit sekalipun. Gurunya selama ini hanya membentak-bentaknya apabila ia gagal melakukan sebuah latihan. Dan gurunya itu pula selalu membentak-bentaknya apabila ia terlambat sehari dua hari tidak menyerahkan imbalan setiap selapan kepadanya. Tetapi kini gurunya bersikap lain. Gurunya itu mengatakan persoalan yang lain dari memperbodohkannya. Gurunya berkata tentang hidup dan kehidupan.
Tiba-tiba gurunya itu berkata, “Aku sudah cukup tua Sumekar”.
Sumekar mengangkat wajahnya. Ditatapnya kedua mata gurunya yang suram. Tetapi gurunya tidak pernah berbuat demikian sebelumnya. Gurunya bukan hanya sekali ini terluka. Bahkan jauh lebih parah. Namun gurunya itu tidak pernah menjadi lesu dan kehilangan gairahnya seperti sekarang.
“Sumekar” berkata gurunya, “kau harus tekun berlatih”.
Sumekar tidak tahu apa yang bergolak di dalam dada gurunya, tetapi ia menjawab, “Ya guru”.
“Lupakanlah kakak seperguruanmu, Cundaka dan Kuda Sempana. Lupakanlah apa yang pernah mereka lakukan. Meskipun aku mengetahuinya, bagaimana Cundaka itu mendapatkan berbagai macam barang-barang berharga, tetapi aku selalu berpura-pura tidak tahu. Aku selalu mengatakan, bahwa ia adalah seorang pedagang keliling yang kaya raya. Bukan sekedar seorang penggalas. Tetapi orang itu kini telah mati”.
Empu Sada berhenti sejenak. Yang terdengar adalah desah nafasnya yang semakin cepat, tetapi terpatah-patah.
“Guru” bertanya Sumekar kemudian, “apakah aku dapat meramu macam obat-obatan yang lain supaya guru tidak menjadi sesak nafas?”
“Tidak. Tidak perlu Sumekar. Aku sudah sehat”.
“Tetapi nafas Empu seolah-olah tidak berjalan dengan wajar”.
“Pendengaranmu cukup baik Sumekar. Tetapi tidak apa-apa. Tidak berbahaya bagiku”. Empu Sada berhenti sejenak, “tetapi aku memang sudah tua. Tak ada lagi yang dapat aku kerjakan. Hidupku yang tidak berarti apa-apa ini sudah tidak berguna lagi”.
Tetapi ia harus berusaha menyembuhkan luka-lukanya. Meskipun demikian keadaan gurunya itu cukup menggelisahkannya. Hari itu Sumekar bekerja dengan penuh kegelisahan dan kecemasan. Setiap kali ia menengok gurunya yang berbaring diam. Namun setiap kali ia masih melihat gurunya itu tidur.
“Mudah-mudahan guru menjadi bertambah baik dengan istirahatnya”.
Di sore hari Sumekar melihat gurunya itu berjalan tertatih-tatih keluar biliknya. Dengan serta-merta Sumekar mendatanginya untuk menolongnya berjalan. Tetapi Empu Sada berkata,
“Aku masih cukup kuat Sumekar”.
Sumekar tertegun di tempatnya, namun kemudian ia bertanya, “Apakah Empu akan berjalan-jalan kehalaman?”
Empu Sada menggeleng. Jawabnya, “Tidak Sumekar. Aku ingin pergi ke bilik belakang. Aku ingin melibat kau berlatih. Dimanakah kedua anak-anak adik seperguruanmu?”
“Di luar Empu. Mereka pun sedang berlatih bersama”.
“Mereka pun harus dipesan, bahwa tak seorang pun boleh tahu bahwa Empu Sada telah kembali”.
“Ya Empu. Seluruh isi padepokan ini telah mendapat pesan itu”.
Tetapi Empu Sada itu pun kemudian berkata, “Tetapi sebenarnya itu tidak perlu Sumekar”. Sumekar menjadi heran dan gurunya berkata terus, “Biar sajalah orang-orang yang ingin datang untuk membalas dendam itu kemari. Aku telah pasrah diri sebagai tebusan atas segala kesalahanku”.
“Guru, apakah sebenarnya yang Empu kehendaki”.
Empu Sada menggeleng “Tidak apa-apa” katanya, “mari, aku ingin melihat kau berlatih. Ilmumu harus meningkat sebelum aku mati”.
“Jangan Empu” sahut Sumekar terbata-bata.
Empu Sada tersenyum “Apakah bukan sudah seharusnya bahwa suatu ketika seseorang akan mati? Ingat Sumekar. Betapa tinggi ilmu seseorang. Meskipun orang itu memiliki aji yang maha dahsyat. Dapat melebur gunung dan dapat mengeringkan lautan dengan puntiran langannya, tetapi ia tidak akan dapat hidup sepanjang jaman. Suatu saat ia akan dihadapkan pada suatu keadaan dimana ilmunya tidak akan mampu melawan maut. Ada seribu jalan menuju ke kerajaan maut. Dan setiap orang pasti akan pergi ke sana”.
Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Kembali ia melihat sorot yang memancarkan keputus-asaan dari sepasang mata gurunya. Tetapi ia tidak dapat berkata sesuatu.
“Ayolah. Berjalanlah dahulu”.
Keduanya pun kemudian pergi ke bilik belakang. Ke bilik tempat murid-murid Empu Sada berlatih. Dilihatnya kedua muridnya yang muda pun, sedang berlatih di bilik itu. Ketika mereka melihat gurunya datang, maka dengan serta-merta mereka menghentikan latihan mereka. Dengan hormatnya mereka membungkukkan kepala mereka.
“Bagus” desis Empu Sada sambil berjalan tertatih-tatih bersandarkan tongkat panjangnya “Berlatihlah dengan baik, selagi masih ada kesempatan, dan selagi aku masih dapat memberimu petunjuk”.
Kedua murid yang masih sangat muda itu pun saling berpandangan dan sekali-sekali mereka memandang wajah Sumekar. Tetapi mereka tidak berani bertanya.
“Sekarang beristiratlah. Tunggulah di luar. Aku ingin memberi latihan yang khusus kepada kakakmu”.
Sekali lagi mereka berdua menganggukkan kepalanya. Kemudian mereka pun meninggalkan bilik itu. Yang kemudian melatih dirinya adalah Sumekar. Meskipun Empu Sada tidak mampu untuk memberinya petunjuk dengan gerak, tetapi dengan kata-kata dituntunnya muridnya yang seorang ini dengan baik. Diberinya berbagai macam unsur gerak yang belum pernah diterimanya. Bahkan kemudian gurunya itu berkata,
“Sumekar. Ternyata persiapanmu telah cukup untuk mulai dengan ilmu yang terakhir dari perguruan kita. Ilmu yang dapat aku berikan sebelum aku mati”.
Dada Sumekar menjadi berdebar-debar. Berbagai perasaan bercampur baur di dalam dadanya. Di satu pihak ia merasa bangga dan bergembira bahwa gurunya telah menganggap cukup baginya untuk menerima ilmu yang tertinggi dari perguruan Empu Sada. Tetapi dilain pihak ia merasa sangat cemas, bahwa gurunya seakan-akan telah kehilangan usaha untuk memperpanjang hidupnya. Sehari ini gurunya sama sekali tidak lagi mau berobat, selain pada saat ia datang.
“Sumekar” berkata Empu Sada, “besok kita sudah akan dapat mulai dengan dasar-dasar permulaan dari ilmu itu. Ilmu yang telah dimiliki oleh kedua muridku yang hilang. Cundaka dan Kuda Sempana. Karena itu, Sumekar, maka cobalah persiapkan dirimu. Aku mengharap bahwa aku masih akan dapat bertahan sampai kau mengenal dasar-dasar yang paling sedikit dapat memberimu jalan untuk menerima ilmu itu”.
Sumekar menganggukkan kepalanya sambil bergumam, “Terima kasih Empu. Tetapi bagaimana dengan keadaan Empu sendiri?”
“Jangan berpikir tentang aku. Aku sudah cukup mengerti bagaimana aku mengatur diriku sendiri”.
Sumekar terdiam. Bukan semestinya ia memberi gurunya petunjuk. Tetapi gurunya kali ini tidak berpikir sewajarnya. Agaknya gurunya sedang terganggu oleh sesuatu persoalan yang telah menggelapkan hatinya.
Ketika kemudian malam yang gelap turun kembali menyelimuti padepokan yang sepi dan menyimpan berbagai macam rahasia itu, Empu Sada kembali masuk ke dalam biliknya. Kembali ia berbaring sambil menghitung dosa yang pernah dibuatnya. Nafasnya yang tersendat-sendat terdengar seperti saling memburu.
Sumekar tidak sampai hati meninggalkan gurunya seorang diri dalam keadaan itu. Meskipun tidak dikehendaki oleh gurunya, namun Sumekar itu pun duduk di atas sehelai tikar disamping pembaringan gurunya.
“Sumekar” berkata gurunya, “beristirahatlah”.
“Nanti Empu, aku belum merasa mengantuk”.
“Apakah kau sudah menyelesaikan semua pekerjaanmu, dan semuanya telah selesai pula dengan pekerjaan masing-masing”.
“Sudah Empu”.
“Bagaimana dengan burung perkututku?”
Sumekar menarik nafas. Empu Sada masih juga ingin kepada burung perkututnya. Burung yang sebenarnya tidak terlampau baik “Burung itu baik-baik saja Empu”. Empu Sada terdiam sejenak. Tetapi nafasnya masih belum teratur.
“Empu” Sumekar masih mencoba memberanikan dirinya, “apakah Empu tidak ingin berobat lagi”.
“Tidak Sumekar” jawab gurunya, “sudah cukup. Aku sudah sehat kembali. Aku masih akan cukup kuat bertahan sampai kau menyelesaikan latihanmu dan menerima ilmu yang terakhir itu”.
Sumekar hanya dapat menundukkan kepalanya. Dan ia mendengar gurunya berkata lagi, “Kalau kau sudah menerima ilmu itu Sumekar, tugasku telah selesai. Dadaku akan menjadi lapang. Dan apapun yang terjadi atas diriku, sama sekali bukan soal lagi bagiku”.
Sumekar masih menundukkan kepalanya. Tetapi Tiba-tiba ia bertanya, “Tetapi bagaimana dengan saudara seperguruanku Empu”.
“Aku belum tahu benar sifat-sifat mereka. Aku tidak berani memberikan ilmu yang aku anggap paling baik dari perguruan ini tanpa mempertimbangkan siapakah yang akan menerimanya. Aku sudah mengalami masa-masa dimana aku kehilangan pertimbangan itu”.
“Dan bagaimanakah dengan kakang Kuda Sempana?” Tiba-tiba pula pertanyaan itu meluncur dari mulut Sumekar, “apakah guru tidak akan berusaha melepaskannya kelak?”
Empu Sada tersenyum. Ia tahu, bahwa sadar atau tidak sadar muridnya ingin memberinya nafsu untuk hidup dan berbuat. Karena itu maka katanya, “Aku sudah memberinya bekal yang cukup Sumekar”.
“Tetapi ia berada di tangan orang yang jauh melampaui kemampuannya untuk mencoba melepaskan diri tanpa pertolongan”.
“Mudah-mudahan ia tidak mengalami bencana. Agaknya Kebo Sindet dan Wong Sarimpat akan mempergunakannya untuk menangkap Mahisa Agni. Aku tidak tahu, apa yang akan dilakukan oleh kedua orang itu atas Kuda Sempana. Tetapi Kuda Sempana itu tidak akan dibunuhnya”.
“Bagaimana kalau kemudian kakang Kuda Sempana itu diperalat oleh Kebo Sindet dan Wong Sarimpat, dengan demikian maka mereka akan meninggalkan kesan bahwa Empu pasti turut serta dalam perbuatan itu, karena ada murid Empu bersama mereka. Apalagi Empu lah yang sejak pertama-tama mempunyai persoalan dengan Mahisa Agni?”
Empu Sada terdiam. Matanya masih menatap langit-langit rumahnya. Terdengar kemudian ia berdesah, “Aku justru tidak lagi berpikir tentang Kuda Sempana. Aku kini menyadari bahwa nafsunya terlampau dimanjakannya. Ia telah terseret oleh suatu keinginan yang tiada dapat dikendalikan lagi. Tetapi…“, Empu Sada itu terhenti sejenak. Terdengar ia menarik nafas dalam-dalam. Bahkan kemudian orang tua itu terbatuk-batuk kecil.
Sumekar memandangnya dengan cemas. Tetapi ia tidak dapat berbuat sesuatu. Sejenak kemudian Empu Sada berkata kembali, “Tetapi aku justru merasa kasihan kepada Mahisa Agni. Anak itu adalah anak yang baik. Sampai sekarang ia masih selalu mendapat perlindungan dari Yang Maha Agung. Tetapi bagaimanakah kalau suatu ketika orang-orang liar itu berusaha untuk menangkapnya? Apakah ia akan berhasil melepaskan diri? Mahisa Agni akan dapat menjadi alat untuk memeras Permaisuri Akuwu Tunggul Ametung”.
“Hem” orang tua itu berdesah. Namun Tiba-tiba ia berkata, “Perbuatan itu harus dicegah. Ia akan dapat memperalat namaku dan menjerumuskan aku ke dalam keadaan yang lebih buruk lagi. Perbuatan itu memang harus dicegah”. Tiba-tiba Empu Sada itu berkata lantang, “Sumekar, beri aku obat itu. cepat.”
Sumekar terkejut mendengar perintah gurunya. Sejenak justru ia terpaku di tempatnya. Perintah yang tiba-tiba itu tidak segera dapat disadari artinya. Tetapi kembali Sumekar terkejut ketika gurunya membentaknya,
“Sumekar, kenapa kau duduk saja seperti patung. Apakah kau tidak melihat bahwa aku sedang sakit karena terluka di bagian dalam tubuhku. Apakah kau tidak mendengar bahwa nafasku hampir patah di kerongkongan. Ayo, lekas, ambilkan obat itu. Bukankah aku sudah mengajarimu sedikit tentang obat-obatan”.
Sumekar itu pun kemudian terloncat dari duduknya. Ia menjadi gembira karena gurunya ingin berobat. Tetapi ia menjadi bingung, Tiba-tiba saja sifat Empu Sada kambuh kembali. Membentak-bentaknya. Sejenak kemudian Sumekar itu telah kembali membawa semangkuk obat yang telah dicairkannya dengan air. Dengan serta-merta maka obat itu pun diminum habis oleh Empu Sada.
“Hem” Empu Sada itu menarik nafas dalam-dalam, “sekarang tinggalkan aku sendiri Sumekar. Aku ingin beristirahat. Cobalah, persiapkan dirimu, supaya aku dapat dengan baik memberimu petunjuk kepadamu untuk memasuki masa terakhir dari perguruan ini”.
“Tetapi bukankah guru akan segera sembuh?” bertanya Sumekar dengan dada berdebar-debar.
Empu Sada tersenyum. Katanya, “Hidup dan mati sama sekali tidak terletak di tanganku sendiri Sumekar. Kalau aku dapat menentukan hidup matiku sendiri, maka alangkah kuasanya aku atas diriku. Tetapi tidaklah demikian halnya. Namun adalah kewajiban manusia untuk berusaha”.
Sumekar terdiam. Tetapi dadanya sesak oleh kebimbangan dan kebingungan. Gurunya yang tiba-tiba menjadi keras itu pun kini agaknya telah luluh pula kembali. Sifat yang berubah-ubah itu telah membuatnya canggung untuk berbuat sesuatu.
“Sumekar,” berkata Empu Sada, “tinggalkan aku sendiri. Aku ingin beristirahat. Mudahkan aku menjadi segera baik kembali”.
Sumekar membungkukkan badannya. Kemudian ditinggal kannya gurunya termenung seorang diri. Ternyata sejak itu Empu Sada benar-benar berusaha untuk menyembuhkan sakitnya. Ternyata ia menemukan kesadaran betapa pentingnya ia berusaha untuk tetap hidup, meskipun ia tahu benar, bahwa hasil usahanya itu sama sekali tidak tergantung kepadanya. Namun adalah menjadi kewajibannya untuk berusaha. Di tengah malam itu sekali lagi Empu Sada mengobati dirinya. Sehingga dengan demikian di pagi harinya, terasa tubuhnya menjadi kian segar. Ia tidak menolak lagi ketika Sumekar mempersilahkannya makan.
Seperti yang dikatakannya, maka sejak hari itu Empu Sada mulai dengan beberapa petunjuk-petunjuk dasar bagi Sumekar untuk mempersiapkan dirinya menerima ilmu tertinggi dari perguruan Empu Sada. Tetapi sejak itu pula Empu Sada tidak saja memberikan petunjuk-petunjuk mengenai ilmu itu, tetapi juga petunjuk-petunjuk apa yang seharusnya dilakukan oleh muridnya itu. Diberitahukannya kepada Sumekar segala macam pengalaman yang pernah terjadi atas dirinya. Pengalaman yang dipenuhi oleh noda-noda yang hitam.
“Sumekar,” berkata Empu Sada suatu ketika, “pelajarilah olehmu. Kau telah mendengar jalan hidupku, dan aku pun pernah memberitahukan kepadamu, apa yang aku lihat pada Panji Bojong Santi, pada Empu Gandring dan pada Empu Purwa. Aku pernah pula menceriterakan kehidupan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Jadilah pertimbangan untuk menentukan jalan hidupmu. Meskipun kau seorang murid dari seorang guru yang cacat namanya, namun apabila kau mampu membawa dirimu, maka namamu justru akan mengangkat dan memperbaiki nama perguruanmu”.
Sumekar hanya menundukkan kepalanya. Tetapi ia berjanji di dalam hati untuk berbuat seperti yang dinasehatkan oleh gurunya.
“Kini Sumekar,” berkata gurunya, “tekuni persiapan yang telah aku berikan. Aku ingin menyelesaikan kewajibanku yang terakhir. Aku harus mencoba melepaskan Mahisa Agni dari tangan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Mudah-mudahan aku belum terlambat. Tetapi sampai kini aku masih belum menemukan jalan yang sebaik-baiknya untuk melakukannya”.
Sumekar memandangi wajah gurunya. Tampaklah kerut-merut di dahinya. Kerut-merut ketuaan dan kerut-merut kegelisahan. Tetapi Sumekar tidak dapat mengerti kenapa gurunya masih belum dapat menemukan cara untuk mencoba menyelamatkan Mahisa Agni.
“Guru,” Sumekar itu pun kemudian mencoba bertanya, “apakah sulitnya bagi guru untuk menyelamatkan Mahisa Agni. Apakah guru tidak tahu dimanakah Mahisa Agni sekarang berada?”
“Aku tahu tempat di mana ia sekarang berada Sumekar. Tetapi aku tidak dapat menemuinya dan memberitahukan kepadanya bahwa ia sedang diintai bahaya. Orang seperti aku ini Sumekar, terlampau sulit untuk mendapatkan kepercayaan dari siapapun. Kalau aku mencoba menemui Mahisa Agni, maka aku pasti akan terlibat dalam perkelahian dengan pamannya yang selalu membayanginya. Apapun yang aku katakan, mereka pasti tidak akan dapat mempercayainya. Mereka pasti menyangka, bahwa aku akan menipu mereka”.
Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Dan gurunya berkata, “Ini pun akan dapat menjadi cermin bagimu. Sekali seseorang kehilangan kepercayaan, maka akan sulitlah baginya untuk mendapatkannya kembali”.
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya, ia dapat mengerti keterangan gurunya itu. Dan gurunya itu pun berkata seterusnya, “Betapa baiknya hasrat yang terkandung di dalam hati ini tetapi orang melihat Empu Sada dengan penuh kecurigaan”.
Empu Sada itu pun terdiam sejenak. Sehingga mereka untuk sesaat saling berdiam diri. Namun tiba-tiba Sumekar itu pun berkata, “Apakah Empu ingin aku pergi menemuinya dan memberitahukannya apa yang sebenarnya telah terjadi?”
Kembali dahi orang tua itu pun berkerut-merut. Tampaklah ia berpikir sejenak. Tetapi kemudian ia menjawab, “Sumekar, aku ingin kau mewarisi ilmu perguruan ini. Kalau kau mengalami sesuatu di perjalanan, maka aku pasti akan menyesal. Karena itu kau harus tinggal di sini sampai kau memahami ilmu terakhir itu”.
Sumekar yang duduk tepekur itu menggigit bibirnya. Ia tenang mendengar gurunya menyayangkannya dan benar-benar ingin membentuknya menjadi seorang yang baik. Tetapi apabila mungkin ia ingin membantu gurunya mengatasi kesulitannya.
Maka katanya kemudian, “Empu, apabila ada yang dapat aku kerjakan, maka inginlah aku berbuat sesuatu. Adapun mengenai ilmu itu, akan aku terima dengan segala kesenangan sesudah aku dapat melakukan sesuatu untuk memperingan beban Empu soal ini. Apabila terjadi sesuatu dalam kewajiban itu, aku tidak akan menyesal. Aku menggagapnya sebagai suatu akibat dari tugas yang harus aku lakukan”.
“Kau tidak akan menyesal, Sumekar,” jawab gurunya, “tetapi akulah yang menyesal. Karena itu, tinggallah di sini. Tekunilah dasar-dasar ilmu tertinggi itu dengan baik. Awasilah adik-adikmu, supaya mereka tidak terdorong dalam tabiat seperti kakak-kakakmu dahulu. Aku telah membuat kesalahan itu. Sekarang aku akan berusaha mengurangi kesalahan itu sebagai suatu pertanda, bahwa aku berusaha dengan sekuat-kuat tenagaku untuk menebusnya”.
“Apakah yang akan guru lakukan?”
Empu Sada termenung sejenak. Ia mencoba meyakinkan bahwa rencananya akan bermanfaat. Maka katanya kemudian, “Aku tidak berani menemui Mahisa Agni sekarang, Sumekar. Tetapi aku mempunyai jalan lain. Aku ingin menghadap Ken Dedes. Orang-orang di istana belum terlampau banyak mengenal Empu Sada. Aku akan merubah sedikit kebiasaanku berpakaian dan meninggalkan tongkat ini. Aku akan menyebut diriku sebagai orang Panawijen yang ingin menghadap Ken Dedes untuk memberitahukan sesuatu dari kakaknya Mahisa Agni”.
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia bertanya dengan cemas, “Bagaimanakah kalau Empu bertemu dengan pengawal istana, apalagi Witantra itu sendiri?”
Empu Sada menarik nafas. Katanya, “Aku hanya mengharap supaya mereka tidak segera mengenal aku. Aku akan memberikan kesan yang lain dari keadaanku semula. Aku dapat menjadi seorang yang timpang atau bongkok atau cacat-cacat yang lain. Aku dapat memakai pakaian sebagaimana orang-orang padesan memakainya. Sedikit menghitamkan alis dan rambut di pelipis”.
Sumekar masih mengangguk-anggukkan kepalanya meskipun ia tidak yakin bahwa usaha gurunya itu akan berhasil. Tetapi ia tidak berani menyatakan keragu-raguannya itu. Seharusnya ia percaya kepada gurunya.
Ternyata Empu Sada benar-benar ingin melakukan rencananya. Ia ingin menghadap Ken Dedes, menyatakan penyesalan yang sedalam-dalamnya apabila ia benar-benar dapat bertemu. Kemudian memberitahukan bahaya yang mengancam Mahisa Agni, supaya Ken Dedes mengirim utusan untuk memberitahukannya. Akan dikatakan pula kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi, pemerasan dan sebagainya yang akan banyak merepotkan. Bahkan mungkin banyak diperlukan harta dan benda untuk menebus Mahisa Agni itu.
Sudah tentu apabila hilangnya Mahisa Agni itu menyangkut namanya, Ken Dedes sudah dapat mengetahuinya bahwa hal itu tidak benar. Semuanya itu pasti akan didengar pula oleh Akuwu Tunggul Ametung. Mudah-mudahan Ken Dedes dapat menjadi lantaran baginya untuk mohon ampun pula kepada Akuwu. Apalagi kalau Akuwu berkenan mengirimkan beberapa orang yang terpercaya untuk menangkap Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.
Beberapa hari kemudian, setelah Empu Sada itu benar-benar sembuh, maka dilakukanlah rencana itu. Dicobanya untuk membuat perubahan sebaik-baiknya pada dirinya. Pada pakaiannya, pada polah tingkahnya dan menghitamkan alis, kumis dan janggutnya yang tidak terlampau lebat, yang selama ini tidak dapat dipeliharanya, serta rambut di pelipisnya.
“Sumekar,” berkata orang tua itu, “apakah kau melihat perbedaan padaku?”
Mau tidak mau Sumekar terpaksa tersenyum. Gurunya memang pandai merubah diri, menyamar sebagai seorang cantrik tua dari padepokan Panawijen.
“Kalau aku tidak tahu bahwa yang berdiri di hadapanku ini adalah Empu, maka aku tidak akan dapat mengenal”.
Empu Sada pun tersenyum pula. Katanya, “Aku tak akan melakukannya hal serupa ini di saat-saat yang lampau. Tetapi aku telah melepaskan cara hidup yang lama itu. Aku ingin menempuh hidup yang lain. Ini adalah permulaan dari hidup yang baru itu. Kalau aku berhasil, maka Empu Sada seterusnya tidak harus selalu bersembunyi dan mengurung diri dalam kecemasan dan ketakutan”.
Demikianlah hari itu juga Empu Sada meninggalkan padepokannya di pagi-pagi buta supaya tidak seorang pun yang melihatnya. Tertatih-tatih ia berjalan menuju ke kota untuk mencoba menghadap Tuan Puteri Ken Dedes yang sebentar lagi akan diangkat menjadi permaisuri Tumapel.
Ketika kemudian matahari terbit, timbullah kecemasan di hati orang tua itu. Apakah benar-benar orang-orang lain tidak dapat mengenalnya sebagai Empu Sada. Kalau ia sudah berhasil menghadap Ken Dedes apalagi Akuwu Tunggul Ametung, dan mendengar kata-kata pengampunannya, maka ia tidak akan cemas lagi. Ia akan dapat menengadahkan dadanya sambil berkata,
“Ini adalah Empu Sada. Tetapi bukan Empu Sada yang dahulu”.
Tetapi apabila Akuwu Tunggul Ametung tetap menganggapnya bersalah, dan ingin juga menghukumnya, maka ia sudah akan pasrah diri, sebagai tebusan atas segala kesalahan yang telah dilakukan. Namun dengan demikian maka Akuwu pasti akan dapat menilai, apa yang terjadi apabila Mahisa Agni benar-benar akan hilang dari Padang Karautan
“Aku akan dapat berbuat sesuatu apabila suatu ketika Kebo Sindet atau Wong Sarimpat datang sambil berkata bahwa mereka pasti berhasil membebaskan Mahisa Agni dari tangan Empu Sada dengan imbalan yang cukup banyak. Bahwa mereka telah mengetahui di mana Empu Sada bersembunyi”.
Dengan hati yang berdebar-debar Empu Sada itu berjalan selangkah demi selangkah maju mendekati Istana Tumapel. Ia harus datang sebagai seorang cantrik yang tua untuk menemui Ken Dedes membawa pesan dari Mahisa Agni. Di sepanjang jalan Empu Sada selalu mencoba melihat perhatian orang lain kepadanya. Sekali-sekali disilangnya orang yang sebenarnya telah dikenalnya. Tetapi ternyata orang itu tidak menegurnya. Dengan demikian maka Empu Sada merasa, bahwa samarannya agaknya dapat berhasil.
Tetapi kesulitan yang lain, yang harus diatasinya nanti adalah pertanyaan-pertanyaan para penjaga. Mungkin ia harus menjawab beberapa pertanyaan yang menyangkut gadis bakal permaisuri itu. Empu Sada menarik nafas. Ia masih berjalan tersuruk-suruk di tepi jalan yang berpohon-pohon rindang.
Sekali lagi Sumekar itu terperanjat ketika ia mendengar gurunya Tiba-tiba bertanya, “Sumekar, kenapa kau dahulu berguru kepadaku? Ternyata kau terperosok ke dalam lingkungan yang bertentangan dengan sifat-sifatmu sendiri. Dan kau selama ini mencoba menyesuaikan dirimu. Aku kini merasa, bahwa kau telah memilih jalan yang salah”.
Sumekar seakan-akan terbungkam karenanya. Pertanyaan itu menjadi semakin keras berdentang di dalam telinganya sendiri “Ya, mengapa aku dahulu berguru disini? Mengapa aku terlempar dalam lingkungan yang suram tanpa berusaha untuk menghindar meskipun sebagian telah aku ketahuinya”.
Tetapi semuanya telah terjadi. Dan Sumekar itu merasa bahwa ia telah pernah menerima berbagai ilmu dari gurunya itu. Karena itu, maka ia tidak akan dapat lagi meloncat surut, kemasa yang lampau.
Sedang gurunya itu berkata, “Tetapi Sumekar, ada baiknya kau melihat segenap persoalan dan akhir dari peristiwa ini. Kau akan mendapatkan sebuah cermin yang baik untuk melihat, betapa kekuasaan yang Maha Agung telah menggerakkan alat-alat-Nya untuk menyelesaikan rencananya. Kau lihat bagaimana aku sekarang terluka parah dan bahkan hampir mati terbunuh. Murid-muridku kini tidak lagi dapat berbuat sesuatu. Malahan Cundaka itu telah terbunuh pula sedang Kuda Sempana tidak sempat aku selamatkan”.
Empu Sada berhenti sejenak, kemudian dilanjutkannya, “Karena itu Sumekar, sebelum kau terlanjur terperosok dalam dunia yang gelap, kau dapat mengungkat kembali sifat-sifatmu yang sebenarnya. Ilmuku sebenarnya bukan sejenis ilmu yang kasar seperti ilmu yang di miliki oleb Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Tetapi meskipun demikian, ilmu hanya sekedar kelengkapan hidup kita. Meskipun ilmu itu ilmu yang sekasar apapun, lebih kasar dari ilmu Kebo Sindet dan Wong Sarimpat, tetapi ilmu itu tidak dapat berbuat sendiri. Tergantung terlampau jauh kepada pemiliknya. Orang yang memiliki sifat ilmu itu. Seperti sebilah pisau di tangan anak-anak. Pisau itu akan dapat bermanfaat baginya dan orang lain, untuk mengupas makanan dan buah-buahan. Tetapi pisau itu juga akan dapat mendatangkan bencana bagi dirinya dan orang lain. Bagaimanapun bentuk daripada pisau itu”.
Kepala Sumekar menjadi semakin tunduk. Selama ini gurunya tidak pernah memberinya petunjuk tentang jalan hidup yang harus dipilihnya. Selama ini gurunya hanya memberinya petunjuk-petunjuk bagaimana ia harus melakukan berbagai macam unsur-unsur gerak. Dari yang paling sederhana sampai yang paling sulit sekalipun. Gurunya selama ini hanya membentak-bentaknya apabila ia gagal melakukan sebuah latihan. Dan gurunya itu pula selalu membentak-bentaknya apabila ia terlambat sehari dua hari tidak menyerahkan imbalan setiap selapan kepadanya. Tetapi kini gurunya bersikap lain. Gurunya itu mengatakan persoalan yang lain dari memperbodohkannya. Gurunya berkata tentang hidup dan kehidupan.
Tiba-tiba gurunya itu berkata, “Aku sudah cukup tua Sumekar”.
Sumekar mengangkat wajahnya. Ditatapnya kedua mata gurunya yang suram. Tetapi gurunya tidak pernah berbuat demikian sebelumnya. Gurunya bukan hanya sekali ini terluka. Bahkan jauh lebih parah. Namun gurunya itu tidak pernah menjadi lesu dan kehilangan gairahnya seperti sekarang.
“Sumekar” berkata gurunya, “kau harus tekun berlatih”.
Sumekar tidak tahu apa yang bergolak di dalam dada gurunya, tetapi ia menjawab, “Ya guru”.
“Lupakanlah kakak seperguruanmu, Cundaka dan Kuda Sempana. Lupakanlah apa yang pernah mereka lakukan. Meskipun aku mengetahuinya, bagaimana Cundaka itu mendapatkan berbagai macam barang-barang berharga, tetapi aku selalu berpura-pura tidak tahu. Aku selalu mengatakan, bahwa ia adalah seorang pedagang keliling yang kaya raya. Bukan sekedar seorang penggalas. Tetapi orang itu kini telah mati”.
Empu Sada berhenti sejenak. Yang terdengar adalah desah nafasnya yang semakin cepat, tetapi terpatah-patah.
“Guru” bertanya Sumekar kemudian, “apakah aku dapat meramu macam obat-obatan yang lain supaya guru tidak menjadi sesak nafas?”
“Tidak. Tidak perlu Sumekar. Aku sudah sehat”.
“Tetapi nafas Empu seolah-olah tidak berjalan dengan wajar”.
“Pendengaranmu cukup baik Sumekar. Tetapi tidak apa-apa. Tidak berbahaya bagiku”. Empu Sada berhenti sejenak, “tetapi aku memang sudah tua. Tak ada lagi yang dapat aku kerjakan. Hidupku yang tidak berarti apa-apa ini sudah tidak berguna lagi”.
Tetapi ia harus berusaha menyembuhkan luka-lukanya. Meskipun demikian keadaan gurunya itu cukup menggelisahkannya. Hari itu Sumekar bekerja dengan penuh kegelisahan dan kecemasan. Setiap kali ia menengok gurunya yang berbaring diam. Namun setiap kali ia masih melihat gurunya itu tidur.
“Mudah-mudahan guru menjadi bertambah baik dengan istirahatnya”.
Di sore hari Sumekar melihat gurunya itu berjalan tertatih-tatih keluar biliknya. Dengan serta-merta Sumekar mendatanginya untuk menolongnya berjalan. Tetapi Empu Sada berkata,
“Aku masih cukup kuat Sumekar”.
Sumekar tertegun di tempatnya, namun kemudian ia bertanya, “Apakah Empu akan berjalan-jalan kehalaman?”
Empu Sada menggeleng. Jawabnya, “Tidak Sumekar. Aku ingin pergi ke bilik belakang. Aku ingin melibat kau berlatih. Dimanakah kedua anak-anak adik seperguruanmu?”
“Di luar Empu. Mereka pun sedang berlatih bersama”.
“Mereka pun harus dipesan, bahwa tak seorang pun boleh tahu bahwa Empu Sada telah kembali”.
“Ya Empu. Seluruh isi padepokan ini telah mendapat pesan itu”.
Tetapi Empu Sada itu pun kemudian berkata, “Tetapi sebenarnya itu tidak perlu Sumekar”. Sumekar menjadi heran dan gurunya berkata terus, “Biar sajalah orang-orang yang ingin datang untuk membalas dendam itu kemari. Aku telah pasrah diri sebagai tebusan atas segala kesalahanku”.
“Guru, apakah sebenarnya yang Empu kehendaki”.
Empu Sada menggeleng “Tidak apa-apa” katanya, “mari, aku ingin melihat kau berlatih. Ilmumu harus meningkat sebelum aku mati”.
“Jangan Empu” sahut Sumekar terbata-bata.
Empu Sada tersenyum “Apakah bukan sudah seharusnya bahwa suatu ketika seseorang akan mati? Ingat Sumekar. Betapa tinggi ilmu seseorang. Meskipun orang itu memiliki aji yang maha dahsyat. Dapat melebur gunung dan dapat mengeringkan lautan dengan puntiran langannya, tetapi ia tidak akan dapat hidup sepanjang jaman. Suatu saat ia akan dihadapkan pada suatu keadaan dimana ilmunya tidak akan mampu melawan maut. Ada seribu jalan menuju ke kerajaan maut. Dan setiap orang pasti akan pergi ke sana”.
Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Kembali ia melihat sorot yang memancarkan keputus-asaan dari sepasang mata gurunya. Tetapi ia tidak dapat berkata sesuatu.
“Ayolah. Berjalanlah dahulu”.
Keduanya pun kemudian pergi ke bilik belakang. Ke bilik tempat murid-murid Empu Sada berlatih. Dilihatnya kedua muridnya yang muda pun, sedang berlatih di bilik itu. Ketika mereka melihat gurunya datang, maka dengan serta-merta mereka menghentikan latihan mereka. Dengan hormatnya mereka membungkukkan kepala mereka.
“Bagus” desis Empu Sada sambil berjalan tertatih-tatih bersandarkan tongkat panjangnya “Berlatihlah dengan baik, selagi masih ada kesempatan, dan selagi aku masih dapat memberimu petunjuk”.
Kedua murid yang masih sangat muda itu pun saling berpandangan dan sekali-sekali mereka memandang wajah Sumekar. Tetapi mereka tidak berani bertanya.
“Sekarang beristiratlah. Tunggulah di luar. Aku ingin memberi latihan yang khusus kepada kakakmu”.
Sekali lagi mereka berdua menganggukkan kepalanya. Kemudian mereka pun meninggalkan bilik itu. Yang kemudian melatih dirinya adalah Sumekar. Meskipun Empu Sada tidak mampu untuk memberinya petunjuk dengan gerak, tetapi dengan kata-kata dituntunnya muridnya yang seorang ini dengan baik. Diberinya berbagai macam unsur gerak yang belum pernah diterimanya. Bahkan kemudian gurunya itu berkata,
“Sumekar. Ternyata persiapanmu telah cukup untuk mulai dengan ilmu yang terakhir dari perguruan kita. Ilmu yang dapat aku berikan sebelum aku mati”.
Dada Sumekar menjadi berdebar-debar. Berbagai perasaan bercampur baur di dalam dadanya. Di satu pihak ia merasa bangga dan bergembira bahwa gurunya telah menganggap cukup baginya untuk menerima ilmu yang tertinggi dari perguruan Empu Sada. Tetapi dilain pihak ia merasa sangat cemas, bahwa gurunya seakan-akan telah kehilangan usaha untuk memperpanjang hidupnya. Sehari ini gurunya sama sekali tidak lagi mau berobat, selain pada saat ia datang.
“Sumekar” berkata Empu Sada, “besok kita sudah akan dapat mulai dengan dasar-dasar permulaan dari ilmu itu. Ilmu yang telah dimiliki oleh kedua muridku yang hilang. Cundaka dan Kuda Sempana. Karena itu, Sumekar, maka cobalah persiapkan dirimu. Aku mengharap bahwa aku masih akan dapat bertahan sampai kau mengenal dasar-dasar yang paling sedikit dapat memberimu jalan untuk menerima ilmu itu”.
Sumekar menganggukkan kepalanya sambil bergumam, “Terima kasih Empu. Tetapi bagaimana dengan keadaan Empu sendiri?”
“Jangan berpikir tentang aku. Aku sudah cukup mengerti bagaimana aku mengatur diriku sendiri”.
Sumekar terdiam. Bukan semestinya ia memberi gurunya petunjuk. Tetapi gurunya kali ini tidak berpikir sewajarnya. Agaknya gurunya sedang terganggu oleh sesuatu persoalan yang telah menggelapkan hatinya.
Ketika kemudian malam yang gelap turun kembali menyelimuti padepokan yang sepi dan menyimpan berbagai macam rahasia itu, Empu Sada kembali masuk ke dalam biliknya. Kembali ia berbaring sambil menghitung dosa yang pernah dibuatnya. Nafasnya yang tersendat-sendat terdengar seperti saling memburu.
Sumekar tidak sampai hati meninggalkan gurunya seorang diri dalam keadaan itu. Meskipun tidak dikehendaki oleh gurunya, namun Sumekar itu pun duduk di atas sehelai tikar disamping pembaringan gurunya.
“Sumekar” berkata gurunya, “beristirahatlah”.
“Nanti Empu, aku belum merasa mengantuk”.
“Apakah kau sudah menyelesaikan semua pekerjaanmu, dan semuanya telah selesai pula dengan pekerjaan masing-masing”.
“Sudah Empu”.
“Bagaimana dengan burung perkututku?”
Sumekar menarik nafas. Empu Sada masih juga ingin kepada burung perkututnya. Burung yang sebenarnya tidak terlampau baik “Burung itu baik-baik saja Empu”. Empu Sada terdiam sejenak. Tetapi nafasnya masih belum teratur.
“Empu” Sumekar masih mencoba memberanikan dirinya, “apakah Empu tidak ingin berobat lagi”.
“Tidak Sumekar” jawab gurunya, “sudah cukup. Aku sudah sehat kembali. Aku masih akan cukup kuat bertahan sampai kau menyelesaikan latihanmu dan menerima ilmu yang terakhir itu”.
Sumekar hanya dapat menundukkan kepalanya. Dan ia mendengar gurunya berkata lagi, “Kalau kau sudah menerima ilmu itu Sumekar, tugasku telah selesai. Dadaku akan menjadi lapang. Dan apapun yang terjadi atas diriku, sama sekali bukan soal lagi bagiku”.
Sumekar masih menundukkan kepalanya. Tetapi Tiba-tiba ia bertanya, “Tetapi bagaimana dengan saudara seperguruanku Empu”.
“Aku belum tahu benar sifat-sifat mereka. Aku tidak berani memberikan ilmu yang aku anggap paling baik dari perguruan ini tanpa mempertimbangkan siapakah yang akan menerimanya. Aku sudah mengalami masa-masa dimana aku kehilangan pertimbangan itu”.
“Dan bagaimanakah dengan kakang Kuda Sempana?” Tiba-tiba pula pertanyaan itu meluncur dari mulut Sumekar, “apakah guru tidak akan berusaha melepaskannya kelak?”
Empu Sada tersenyum. Ia tahu, bahwa sadar atau tidak sadar muridnya ingin memberinya nafsu untuk hidup dan berbuat. Karena itu maka katanya, “Aku sudah memberinya bekal yang cukup Sumekar”.
“Tetapi ia berada di tangan orang yang jauh melampaui kemampuannya untuk mencoba melepaskan diri tanpa pertolongan”.
“Mudah-mudahan ia tidak mengalami bencana. Agaknya Kebo Sindet dan Wong Sarimpat akan mempergunakannya untuk menangkap Mahisa Agni. Aku tidak tahu, apa yang akan dilakukan oleh kedua orang itu atas Kuda Sempana. Tetapi Kuda Sempana itu tidak akan dibunuhnya”.
“Bagaimana kalau kemudian kakang Kuda Sempana itu diperalat oleh Kebo Sindet dan Wong Sarimpat, dengan demikian maka mereka akan meninggalkan kesan bahwa Empu pasti turut serta dalam perbuatan itu, karena ada murid Empu bersama mereka. Apalagi Empu lah yang sejak pertama-tama mempunyai persoalan dengan Mahisa Agni?”
Empu Sada terdiam. Matanya masih menatap langit-langit rumahnya. Terdengar kemudian ia berdesah, “Aku justru tidak lagi berpikir tentang Kuda Sempana. Aku kini menyadari bahwa nafsunya terlampau dimanjakannya. Ia telah terseret oleh suatu keinginan yang tiada dapat dikendalikan lagi. Tetapi…“, Empu Sada itu terhenti sejenak. Terdengar ia menarik nafas dalam-dalam. Bahkan kemudian orang tua itu terbatuk-batuk kecil.
Sumekar memandangnya dengan cemas. Tetapi ia tidak dapat berbuat sesuatu. Sejenak kemudian Empu Sada berkata kembali, “Tetapi aku justru merasa kasihan kepada Mahisa Agni. Anak itu adalah anak yang baik. Sampai sekarang ia masih selalu mendapat perlindungan dari Yang Maha Agung. Tetapi bagaimanakah kalau suatu ketika orang-orang liar itu berusaha untuk menangkapnya? Apakah ia akan berhasil melepaskan diri? Mahisa Agni akan dapat menjadi alat untuk memeras Permaisuri Akuwu Tunggul Ametung”.
“Hem” orang tua itu berdesah. Namun Tiba-tiba ia berkata, “Perbuatan itu harus dicegah. Ia akan dapat memperalat namaku dan menjerumuskan aku ke dalam keadaan yang lebih buruk lagi. Perbuatan itu memang harus dicegah”. Tiba-tiba Empu Sada itu berkata lantang, “Sumekar, beri aku obat itu. cepat.”
Sumekar terkejut mendengar perintah gurunya. Sejenak justru ia terpaku di tempatnya. Perintah yang tiba-tiba itu tidak segera dapat disadari artinya. Tetapi kembali Sumekar terkejut ketika gurunya membentaknya,
“Sumekar, kenapa kau duduk saja seperti patung. Apakah kau tidak melihat bahwa aku sedang sakit karena terluka di bagian dalam tubuhku. Apakah kau tidak mendengar bahwa nafasku hampir patah di kerongkongan. Ayo, lekas, ambilkan obat itu. Bukankah aku sudah mengajarimu sedikit tentang obat-obatan”.
Sumekar itu pun kemudian terloncat dari duduknya. Ia menjadi gembira karena gurunya ingin berobat. Tetapi ia menjadi bingung, Tiba-tiba saja sifat Empu Sada kambuh kembali. Membentak-bentaknya. Sejenak kemudian Sumekar itu telah kembali membawa semangkuk obat yang telah dicairkannya dengan air. Dengan serta-merta maka obat itu pun diminum habis oleh Empu Sada.
“Hem” Empu Sada itu menarik nafas dalam-dalam, “sekarang tinggalkan aku sendiri Sumekar. Aku ingin beristirahat. Cobalah, persiapkan dirimu, supaya aku dapat dengan baik memberimu petunjuk kepadamu untuk memasuki masa terakhir dari perguruan ini”.
“Tetapi bukankah guru akan segera sembuh?” bertanya Sumekar dengan dada berdebar-debar.
Empu Sada tersenyum. Katanya, “Hidup dan mati sama sekali tidak terletak di tanganku sendiri Sumekar. Kalau aku dapat menentukan hidup matiku sendiri, maka alangkah kuasanya aku atas diriku. Tetapi tidaklah demikian halnya. Namun adalah kewajiban manusia untuk berusaha”.
Sumekar terdiam. Tetapi dadanya sesak oleh kebimbangan dan kebingungan. Gurunya yang tiba-tiba menjadi keras itu pun kini agaknya telah luluh pula kembali. Sifat yang berubah-ubah itu telah membuatnya canggung untuk berbuat sesuatu.
“Sumekar,” berkata Empu Sada, “tinggalkan aku sendiri. Aku ingin beristirahat. Mudahkan aku menjadi segera baik kembali”.
Sumekar membungkukkan badannya. Kemudian ditinggal kannya gurunya termenung seorang diri. Ternyata sejak itu Empu Sada benar-benar berusaha untuk menyembuhkan sakitnya. Ternyata ia menemukan kesadaran betapa pentingnya ia berusaha untuk tetap hidup, meskipun ia tahu benar, bahwa hasil usahanya itu sama sekali tidak tergantung kepadanya. Namun adalah menjadi kewajibannya untuk berusaha. Di tengah malam itu sekali lagi Empu Sada mengobati dirinya. Sehingga dengan demikian di pagi harinya, terasa tubuhnya menjadi kian segar. Ia tidak menolak lagi ketika Sumekar mempersilahkannya makan.
Seperti yang dikatakannya, maka sejak hari itu Empu Sada mulai dengan beberapa petunjuk-petunjuk dasar bagi Sumekar untuk mempersiapkan dirinya menerima ilmu tertinggi dari perguruan Empu Sada. Tetapi sejak itu pula Empu Sada tidak saja memberikan petunjuk-petunjuk mengenai ilmu itu, tetapi juga petunjuk-petunjuk apa yang seharusnya dilakukan oleh muridnya itu. Diberitahukannya kepada Sumekar segala macam pengalaman yang pernah terjadi atas dirinya. Pengalaman yang dipenuhi oleh noda-noda yang hitam.
“Sumekar,” berkata Empu Sada suatu ketika, “pelajarilah olehmu. Kau telah mendengar jalan hidupku, dan aku pun pernah memberitahukan kepadamu, apa yang aku lihat pada Panji Bojong Santi, pada Empu Gandring dan pada Empu Purwa. Aku pernah pula menceriterakan kehidupan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Jadilah pertimbangan untuk menentukan jalan hidupmu. Meskipun kau seorang murid dari seorang guru yang cacat namanya, namun apabila kau mampu membawa dirimu, maka namamu justru akan mengangkat dan memperbaiki nama perguruanmu”.
Sumekar hanya menundukkan kepalanya. Tetapi ia berjanji di dalam hati untuk berbuat seperti yang dinasehatkan oleh gurunya.
“Kini Sumekar,” berkata gurunya, “tekuni persiapan yang telah aku berikan. Aku ingin menyelesaikan kewajibanku yang terakhir. Aku harus mencoba melepaskan Mahisa Agni dari tangan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Mudah-mudahan aku belum terlambat. Tetapi sampai kini aku masih belum menemukan jalan yang sebaik-baiknya untuk melakukannya”.
Sumekar memandangi wajah gurunya. Tampaklah kerut-merut di dahinya. Kerut-merut ketuaan dan kerut-merut kegelisahan. Tetapi Sumekar tidak dapat mengerti kenapa gurunya masih belum dapat menemukan cara untuk mencoba menyelamatkan Mahisa Agni.
“Guru,” Sumekar itu pun kemudian mencoba bertanya, “apakah sulitnya bagi guru untuk menyelamatkan Mahisa Agni. Apakah guru tidak tahu dimanakah Mahisa Agni sekarang berada?”
“Aku tahu tempat di mana ia sekarang berada Sumekar. Tetapi aku tidak dapat menemuinya dan memberitahukan kepadanya bahwa ia sedang diintai bahaya. Orang seperti aku ini Sumekar, terlampau sulit untuk mendapatkan kepercayaan dari siapapun. Kalau aku mencoba menemui Mahisa Agni, maka aku pasti akan terlibat dalam perkelahian dengan pamannya yang selalu membayanginya. Apapun yang aku katakan, mereka pasti tidak akan dapat mempercayainya. Mereka pasti menyangka, bahwa aku akan menipu mereka”.
Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Dan gurunya berkata, “Ini pun akan dapat menjadi cermin bagimu. Sekali seseorang kehilangan kepercayaan, maka akan sulitlah baginya untuk mendapatkannya kembali”.
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya, ia dapat mengerti keterangan gurunya itu. Dan gurunya itu pun berkata seterusnya, “Betapa baiknya hasrat yang terkandung di dalam hati ini tetapi orang melihat Empu Sada dengan penuh kecurigaan”.
Empu Sada itu pun terdiam sejenak. Sehingga mereka untuk sesaat saling berdiam diri. Namun tiba-tiba Sumekar itu pun berkata, “Apakah Empu ingin aku pergi menemuinya dan memberitahukannya apa yang sebenarnya telah terjadi?”
Kembali dahi orang tua itu pun berkerut-merut. Tampaklah ia berpikir sejenak. Tetapi kemudian ia menjawab, “Sumekar, aku ingin kau mewarisi ilmu perguruan ini. Kalau kau mengalami sesuatu di perjalanan, maka aku pasti akan menyesal. Karena itu kau harus tinggal di sini sampai kau memahami ilmu terakhir itu”.
Sumekar yang duduk tepekur itu menggigit bibirnya. Ia tenang mendengar gurunya menyayangkannya dan benar-benar ingin membentuknya menjadi seorang yang baik. Tetapi apabila mungkin ia ingin membantu gurunya mengatasi kesulitannya.
Maka katanya kemudian, “Empu, apabila ada yang dapat aku kerjakan, maka inginlah aku berbuat sesuatu. Adapun mengenai ilmu itu, akan aku terima dengan segala kesenangan sesudah aku dapat melakukan sesuatu untuk memperingan beban Empu soal ini. Apabila terjadi sesuatu dalam kewajiban itu, aku tidak akan menyesal. Aku menggagapnya sebagai suatu akibat dari tugas yang harus aku lakukan”.
“Kau tidak akan menyesal, Sumekar,” jawab gurunya, “tetapi akulah yang menyesal. Karena itu, tinggallah di sini. Tekunilah dasar-dasar ilmu tertinggi itu dengan baik. Awasilah adik-adikmu, supaya mereka tidak terdorong dalam tabiat seperti kakak-kakakmu dahulu. Aku telah membuat kesalahan itu. Sekarang aku akan berusaha mengurangi kesalahan itu sebagai suatu pertanda, bahwa aku berusaha dengan sekuat-kuat tenagaku untuk menebusnya”.
“Apakah yang akan guru lakukan?”
Empu Sada termenung sejenak. Ia mencoba meyakinkan bahwa rencananya akan bermanfaat. Maka katanya kemudian, “Aku tidak berani menemui Mahisa Agni sekarang, Sumekar. Tetapi aku mempunyai jalan lain. Aku ingin menghadap Ken Dedes. Orang-orang di istana belum terlampau banyak mengenal Empu Sada. Aku akan merubah sedikit kebiasaanku berpakaian dan meninggalkan tongkat ini. Aku akan menyebut diriku sebagai orang Panawijen yang ingin menghadap Ken Dedes untuk memberitahukan sesuatu dari kakaknya Mahisa Agni”.
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia bertanya dengan cemas, “Bagaimanakah kalau Empu bertemu dengan pengawal istana, apalagi Witantra itu sendiri?”
Empu Sada menarik nafas. Katanya, “Aku hanya mengharap supaya mereka tidak segera mengenal aku. Aku akan memberikan kesan yang lain dari keadaanku semula. Aku dapat menjadi seorang yang timpang atau bongkok atau cacat-cacat yang lain. Aku dapat memakai pakaian sebagaimana orang-orang padesan memakainya. Sedikit menghitamkan alis dan rambut di pelipis”.
Sumekar masih mengangguk-anggukkan kepalanya meskipun ia tidak yakin bahwa usaha gurunya itu akan berhasil. Tetapi ia tidak berani menyatakan keragu-raguannya itu. Seharusnya ia percaya kepada gurunya.
Ternyata Empu Sada benar-benar ingin melakukan rencananya. Ia ingin menghadap Ken Dedes, menyatakan penyesalan yang sedalam-dalamnya apabila ia benar-benar dapat bertemu. Kemudian memberitahukan bahaya yang mengancam Mahisa Agni, supaya Ken Dedes mengirim utusan untuk memberitahukannya. Akan dikatakan pula kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi, pemerasan dan sebagainya yang akan banyak merepotkan. Bahkan mungkin banyak diperlukan harta dan benda untuk menebus Mahisa Agni itu.
Sudah tentu apabila hilangnya Mahisa Agni itu menyangkut namanya, Ken Dedes sudah dapat mengetahuinya bahwa hal itu tidak benar. Semuanya itu pasti akan didengar pula oleh Akuwu Tunggul Ametung. Mudah-mudahan Ken Dedes dapat menjadi lantaran baginya untuk mohon ampun pula kepada Akuwu. Apalagi kalau Akuwu berkenan mengirimkan beberapa orang yang terpercaya untuk menangkap Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.
Beberapa hari kemudian, setelah Empu Sada itu benar-benar sembuh, maka dilakukanlah rencana itu. Dicobanya untuk membuat perubahan sebaik-baiknya pada dirinya. Pada pakaiannya, pada polah tingkahnya dan menghitamkan alis, kumis dan janggutnya yang tidak terlampau lebat, yang selama ini tidak dapat dipeliharanya, serta rambut di pelipisnya.
“Sumekar,” berkata orang tua itu, “apakah kau melihat perbedaan padaku?”
Mau tidak mau Sumekar terpaksa tersenyum. Gurunya memang pandai merubah diri, menyamar sebagai seorang cantrik tua dari padepokan Panawijen.
“Kalau aku tidak tahu bahwa yang berdiri di hadapanku ini adalah Empu, maka aku tidak akan dapat mengenal”.
Empu Sada pun tersenyum pula. Katanya, “Aku tak akan melakukannya hal serupa ini di saat-saat yang lampau. Tetapi aku telah melepaskan cara hidup yang lama itu. Aku ingin menempuh hidup yang lain. Ini adalah permulaan dari hidup yang baru itu. Kalau aku berhasil, maka Empu Sada seterusnya tidak harus selalu bersembunyi dan mengurung diri dalam kecemasan dan ketakutan”.
Demikianlah hari itu juga Empu Sada meninggalkan padepokannya di pagi-pagi buta supaya tidak seorang pun yang melihatnya. Tertatih-tatih ia berjalan menuju ke kota untuk mencoba menghadap Tuan Puteri Ken Dedes yang sebentar lagi akan diangkat menjadi permaisuri Tumapel.
Ketika kemudian matahari terbit, timbullah kecemasan di hati orang tua itu. Apakah benar-benar orang-orang lain tidak dapat mengenalnya sebagai Empu Sada. Kalau ia sudah berhasil menghadap Ken Dedes apalagi Akuwu Tunggul Ametung, dan mendengar kata-kata pengampunannya, maka ia tidak akan cemas lagi. Ia akan dapat menengadahkan dadanya sambil berkata,
“Ini adalah Empu Sada. Tetapi bukan Empu Sada yang dahulu”.
Tetapi apabila Akuwu Tunggul Ametung tetap menganggapnya bersalah, dan ingin juga menghukumnya, maka ia sudah akan pasrah diri, sebagai tebusan atas segala kesalahan yang telah dilakukan. Namun dengan demikian maka Akuwu pasti akan dapat menilai, apa yang terjadi apabila Mahisa Agni benar-benar akan hilang dari Padang Karautan
“Aku akan dapat berbuat sesuatu apabila suatu ketika Kebo Sindet atau Wong Sarimpat datang sambil berkata bahwa mereka pasti berhasil membebaskan Mahisa Agni dari tangan Empu Sada dengan imbalan yang cukup banyak. Bahwa mereka telah mengetahui di mana Empu Sada bersembunyi”.
Dengan hati yang berdebar-debar Empu Sada itu berjalan selangkah demi selangkah maju mendekati Istana Tumapel. Ia harus datang sebagai seorang cantrik yang tua untuk menemui Ken Dedes membawa pesan dari Mahisa Agni. Di sepanjang jalan Empu Sada selalu mencoba melihat perhatian orang lain kepadanya. Sekali-sekali disilangnya orang yang sebenarnya telah dikenalnya. Tetapi ternyata orang itu tidak menegurnya. Dengan demikian maka Empu Sada merasa, bahwa samarannya agaknya dapat berhasil.
Tetapi kesulitan yang lain, yang harus diatasinya nanti adalah pertanyaan-pertanyaan para penjaga. Mungkin ia harus menjawab beberapa pertanyaan yang menyangkut gadis bakal permaisuri itu. Empu Sada menarik nafas. Ia masih berjalan tersuruk-suruk di tepi jalan yang berpohon-pohon rindang.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar