MENU

Ads

Kamis, 05 Maret 2026

Pelangi di Langit Singasari 115

“Kalau aku telah berhasil bertemu dengan Ken Dedes, maka aku tidak perlu lagi menyembunyikan diri. Aku harus segera mengatakan yang sebenarnya. Mengatakan bahwa aku pernah mencegatnya di hutan. Pernah berusaha untuk menangkap dan bahkan membunuh Mahisa Agni. Pernah berbuat hal-hal lain yang terkutuk. Kemudian aku akan mohon supaya puteri sudi menyampaikannya kepada Akuwu Tunggul Ametung permohonan maaf yang sejauh-jauhnya. Kalau Akuwu memaafkan, maka aku akan kembali ke padepokan dengan hati yang tenteram. Kalau tidak, maka aku pun akan melakukan semua hukuman dengan ikhlas. Adalah lebih baik mati di tiang gantungan dari pada mati di tangan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat”.

Empu Sada itu bergumam di dalam hatinya. Tetapi ia heran sendiri, kenapa ia kini merasa bahwa mati di tiang gantungan itu memberinya ketenteraman. Kenapa ia tidak memilih mati dengan pedang di tangan. Mati tembus oleh ujung senjata dalam perkelahian. Empu Sada menggelengkan kepalanya. Ia sendiri menjadi bingung. Namun lamat-lamat terdengar suara dari sudut hatinya yang paling dalam

“Harga diri dan kejantanan yang mapan, tidak pada tempatnya, sama sekali tidak berarti bagi hidupmu yang abadi. Keberanian dan ketabahan menghadapi maut di jalan yang salah, sama sekali tidak membuka jalan yang menuju ke sisi Yang Maha Agung. Karena itu, maka hidup yang abadi itu bernilai berlipat tanpa batas dibanding dengan hidupku kini. Dan kini aku tidak mau menambah noda bagi hidup yang abadi itu”.

Dengan demikian maka Empu Sada berjalan dengan langkah yang ringan meskipun disamarnya. Ternyata orang tua itu pandai membawa dirinya. Tak seorang pun yang berjumpa di jalan menyangka bahwa orang yang ditemuinya itu adalah seorang yang bernama Empu Sada.

Akhirnya Empu Sada itu pun sampai ke Alun-alun Tumapel. Sejenak ia menjadi ragu-ragu. Dilihatnya di regol istana beberapa orang prajurit sedang berjaga-jaga. Di sisi lain, di bagian dalam halaman tampaklah pelayan-dalam mondar-mandir dalam kewajibannya masing-masing. Namun pelayan dalam ini pun ternyata mempunyai kemampuan seperti para prajurit itu pula.

Tetapi, Empu Sada tidak akan memilih jalan depan. Ia harus masuk lewat regol belakang. Namun dalam pada itu ia selalu berharap agar wajahnya tidak dikenal sebelum ia bertemu dengan Ken Dedes. Adalah lebih baik baginya apabila ia dapat menghadap Akuwu Tunggul Ametung sama sekali.

Ketika Empu Sada sampai di muka regol belakang, kembali ia menjadi ragu-ragu. Tertegun-tegun ia berjalan, dan bahkan sesekali timbullah keinginannya untuk membatalkan niatnya. Kalau salah seorang prajurit yang sedang berjaga-jaga itu mengenalinya, maka ia pasti akan mendapat tuduhan yang sangat memberatkannya. Ia pasti akan dituduh menculik Ken Dedes dengan samarannya. Apakah ia akan dapat berdiam diri apabila para prajurit itu beramai-ramai mengeroyoknya? Bahkan kemudian akan hadir Witantra dan saudara-saudara seperguruannya?

Tetapi kadang-kadang niatnya menjadi bulat. Kalau aku harus ditangkap, biarlah aku ditangkap. Apapun yang akan dituduhkannya kepadaku, aku tidak akan berkepentingan lagi. Yang penting bagiku adalah menyampaikan pemberitahuan, bahwa rencana Kebo Sindet dan Wong Sarimpat terlampau berbahaya bagi Mahisa Agni. Serta kemungkinan-kemungkinan pemerasan dan hal-hal yang serupa itu.

Dalam keragu-raguan itu Empu Sada terkejut, ketika ia mendengar salah seorang prajurit memangilnya. Ketika ia berpaling dilihatnya prajurit itu melambaikan tangannya kepadanya.

“He, apa kerjamu disitu?, “ bertanya prajurit itu.

Empu Sada sadar, bahwa justru karena ia tertegun-tegun, maka kehadirannya telah menimbulkan kecurigaan pada prajurit-prajurit itu. Kini kembali ia diamuk oleh keragu-raguan. Sehingga untuk sejenak Empu Sada masih saja berdiri di tempatnya.

“Kemari,” panggil prajurit itu.

Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia sudah tidak akan dapat menghindari lagi. Dengan demikian, maka kini kembali ia membulatkan hatinya, bahwa ia harus pasrah diri. Namun kadang-kadang terbersit pula di dalam batinnya penyesalan, bahwa ia tidak saja menyelesaikan sama sekali ajaran-ajaran yang dapat diberikannya kepada Sumekar.

“Kalau otak anak itu cukup baik,” katanya di dalam hati, “ia sudah cukup menguasai dasar-dasar unsur gerak dari ilmu yang terakhir itu. Dengan melihat dan merasakan ilmu itu serta menghubungkannya dengan apa yang pernah dilihat, maka dengan tekun ia pasti akan sampai dengan sendirinya, meskipun mungkin ia akan mengalami kejutan yang dahsyat, namun tidak akan berbahaya bagi jiwanya”.

“He, kemari kaki“ terdengar kembali seorang prajurit memanggilnya.

Empu Sada itu pun kemudian melangkah maju. Tetapi ternyata kadang-kadang masih juga tumbuh desir di jantungnya apabila ia melihat ujung tombak. Ia tahu benar, bahwa ujung tombak di tangan para prajurit itu sama sekali tidak akan dapat menahannya apabila ia akan berbuat sesuatu. Tertatih-tatih Empu Sada itu mendekati para prajurit pengawal istana. Setiap langkah kakinya terasa seolah-olah sebuah dentangan di dalam dadanya.

Tetapi agaknya para prajurit itu menganggapnya sebagai seorang tua yang sedang kebingungan saja. Salah seorang prajurit itu bertanya acuh tak acuh, “He, Kaki, kenapa kau tertegun-tegun disini? Apakah ada yang kau cari?”

“Ya tuan,” sahut Empu Sada dengan suara bergetar dalam nada yang tinggi, “aku memang sedang mencari”.

“Apakah yang kau cari? Barangkali aku dapat menolongmu menunjukkannya?”

“Terima kasih tuan,“ Empu Sada itu membongkok sampai hampir menyentuh lututnya, “terima kasih”.



“Apakah yang kau cari?

“Aku sedang mencari Istana Akuwu Tumapel tuan”.

“He,” prajurit itu terperanjat, “kau sedang mencari Istana Tumapel”.

“Ya tuan”.

Jawaban orang tua itu agaknya telah menarik perhatian para prajurit yang lain. Beberapa orang yang semula sama sekali tidak tertarik kepada orang itu pun kemudian datang mengerumuninya.

“Apakah yang akan kau cari di dalam Istana Tumapel?”

“Tetapi apakah tuan dapat menunjukkan Istana Tumapel itu?”

“Tentu, tentu, “ sahut seorang diantara para prajurit itu.

“Terima kasih tuan, terima kasih. Apakah aku sudah dekat dengan istana yang kucari”.

“Inilah istana itu” sahut yang lain sambil menunjuk ke arah Istana Tunggul Ametung.

“Aku sudah menduga, “ sahut Empu Sada, “rumah ini adalah rumah yang paling besar dan paling baik yang aku jumpai di kota ini. Menurut pesan yang aku terima, rumah itu mempunyai alun-alun, dan pasti dijaga oleh prajurit bersenjata di setiap regolnya. Dan ternyata dugaanku itu benar”.

“Ya,” sahut prajurit yang lain pula, “dugaanmu benar. Lalu apakah yang ingin kau cari di dalam istana ini”.

“Tuan, aku akan mencari Nini Ken Dedes”.

“He,” salah seorang prajurit menyahut, “kau mencari Tuan Puteri Ken Dedes?”

“Oh. Tuan Puteri? Ya maksudku Tuan Puteri Ken Dedes. Bukankah gadis itu datang dari Panawijen?”

“Ya. Kau benar Kaki. Tuan Puteri datang dari Panawijen. Tetapi apakah keperluanmu mencari Tuan Puteri Ken Dedes?”

“Aku datang dari Panawijen tuan. Aku mendapat pesan dari anak-mas Mahisa Agni untuk menemui Tuan Puteri Ken Dedes”.

“Oh, Mahisa Agni. Anak muda kakak Tuan Puteri itu?”

“Ya. Tuan benar”.

“Apakah pesannya.?

“Aku harus menyampaikannya sendiri tuan”.

Beberapa orang prajurit itu saling berpandangan. Kemudian seorang dari padanya, yang agaknya pemimpinnya bertanya, “Apakah pesan itu terlampau penting?”

Empu Sada harus memperhitungkan keadaan dengan baik. Pertanyaan itu harus dijawabnya dengan tepat. Ia tahu benar, bahwa para prajurit itu akan dapat menyuruhnya menunggu saja di luar, sedang pesan itu akan disampaikan oleh prajurit itu sendiri. Karena itu, maka Empu Sada itu pun kemudian berusaha untuk menghindarkan kemungkinan itu.

Jawabnya, “Oh, tidak. Tidak tuan. Pesan itu sama sekali tidak penting”.

Para prajurit itu menarik nafas. Sejenak mereka saling berpandangan. Baru kemudian salah seorang dari mereka berkata, “Kaki, jarak Panawijen Tumapel adalah jarak yang tidak terlampau dekat. Kalau pesan itu tidak terlampau penting kenapa kaki harus berjalan menempuh jarak itu? Dan kenapa orang setua Kaki ini yang harus datang kemari, bukan seorang anak muda yang gagah di atas punggung kuda?”

Orang, tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan hati-hati ia menjawab, “Tuan, setiap orang muda di Panawijen harus bekerja keras membuat bendungan. Itulah sebabnya maka tak ada seorang anak muda yang dapat datang kemari”.

“Ah,” sahut prajurit yang lain, “aneh Kaki. Ada berapa orang anak-anak muda di Panawijen? Bukankah dengan berkurang seorang dari mereka tidak akan mengganggu pekerjaan itu?”

“Tuan benar. Tetapi maaf tuan, aku berkata sebenarnya, tak ada seorang pun anak-anak muda yang berani seorang diri menempuh jarak Panawijen Tumapel. Apalagi sejak beberapa kali Mahisa Agni bertemu dengan bahaya diperjalanan, bahkan Ken Dedes yang dikawal kuat pun hampir-hampir mengalami bencana”.

Prajurit-prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian salah seorang dari mereka bertanya, “Tetapi kenapa justru kau berani melakukannya Kaki?”

“Ada beberapa macam pertimbangan tuan,” salut Empu Sada, “aku sudah tua. Aku rasa tak seorang pun yang memerlukan aku lagi. Jangankan orang-orang yang sakti, sedang oleh anak-anak pun aku dapat didorongnya jatuh. Itulah sebabnya maka perjalananku pun ternyata tak diganggu orang”.

“Tetapi kau tahan berjalan sejauh itu?”

“Aku menempuh perjalanan ini selama dua hari dua malam tuan”.

“He, dua hari dua malam? Apakah kau merangkak seperti siput?”

“Ya tuan. Aku tidak dapat berjalan lebih cepat”.

“Dan setelah kau berjalan dua hari dua malam, kau hanya sekedar membawa pesan yang tidak penting?”

“Ya tuan. Pesan itu tidak penting, tetapi aku ingin menyampaikannya sendiri”.

Tiba-tiba seorang prajurit mengerutkan keningnya. Selangkah ia maju dan berkata, “Apakah pesan itu?”

Empu Sada tertegun sejenak. Ia melihat sorot mata yang aneh pada prajurit itu. Tetapi tidak mencemaskannya. Prajurit itu agaknya merasa heran bahwa pesan yang tidak penting itu harus dibawanya merangkak seperti siput selama dua hari dua malam. Meskipun demikian Empu Sada harus lebih berhati-hati. Setiap kecurigaan akan dapat menyulitkannya. Ketika prajurit itu melangkah selangkah maju lagi, maka Empu Sada pun segera mundur sambil membungkuk-bungkuk,

“Tuan” katanya terbata-bata, “pesan itu memang tidak penting tuan”.

Prajurit itu pun memandanginya semakin tajam, “Kalau tidak penting, kenapa kau harus berjalan sejauh itu. Coba katakan bagaimana bunyi pesan itu. Kami adalah para pengawal yang harus menjaga ketenteraman istana”.

“Tetapi, tetapi Mahisa Agni mengharap aku dapat menyampaikannya sendiri”.

“Tetapi kami harus tahu, apakah pesan itu”.

Empu Sada pun kemudian merunduk-runduk sambil berkata, “Baik, baik tuan”.

“Nah, katakanlah”.

“Baik, baik tuan”.

“Ya, katakanlah. Aku perlu mendengar pesan itu, bukan ingin mendengar kesediaanmu mengatakan. Tetapi katakanlah”.

“Tuan,” berkata Empu Sada, “Mahisa Agni pesan kepadaku supaya aku berkata kepadanya, kepada Tuan Puteri bahwa ia harus berusaha menyesuaikan dirinya di sini. Ia tidak dapat bermanja-manja seperti di padepokan dahulu”. Empu Sada berhenti sejenak. Diamatinya wajah prajurit itu untuk menangkap kesan yang tersirat daripadanya.

Hati orang tua itu menjadi lapang ketika tiba-tiba ia melihat prajurit itu tertawa. “Hem,” berkata prajurit itu sambil memilin kumisnya, “pesan itu sama sekali bukan sebuah rahasia. Kenapa kau agaknya mempersulit untuk mengatakannya”.

“Tidak tuan. Aku sama sekali tidak mempersulit. Tetapi aku ingin memenuhi permintaan Mahisa Agni, menyampaikan pesan itu langsung kepada Ken Dedes”.

“Tuan Puteri maksudmu?”

“Oh, ya, ya. Tuan Puteri Ken Dedes”.

“Pesan itu terlampau sederhana. Keperluanmu bertemu dengan Tuan Puteri sama sekali tidak seimbang dengan tata-cara yang harus dilakukan. Kaki, biarlah kami saja yang menyampaikan pesan itu”.

“Oh, jangan tuan. Jangan. Mahisa Agni pesan ke padaku supaya aku menyampaikannya langsung”.

“Tidak setiap orang dapat menghadap Tuan Puteri, dan tidak setiap keperluan harus dilayani”.

“Tetapi, tetapi bukankah pesan itu datang dari keluarganya yang harus didengarnya”.

“Itulah sebabnya, kami akan menyampaikan pesan itu tanpa ditambah dan dikurangi. Meskipun pesan itu datang dari keluarganya, namun tak setiap orang diperbolehkan masuk ke dalam istana seperti masuk ke dalam warung saja”.

“Oh,” Empu Sada itu pun kemudian merengek-rengek, “Tuan, kasihanilah aku orang tua ini tuan. Aku sudah berjalan sedemikian jauhnya untuk menghadap nini Ken Dedes, eh, Tuan Puteri Ken Dedes untuk menyampaikan pesan itu”.

“Pesan itu pasti akan sampai, Kaki, “ sahut prajurit yang lain.

“Tetapi, tetapi di samping itu masih ada pesan yang lain”.

“He,” prajurit itu terkejut, “jadi masih ada yang kau rahasiakan”.

“Ya tuan”.

“Oh,” prajurit itu menjadi heran, kenapa orang itu dengan mudahnya menjawab bahwa masih ada sesuatu yang dirahasiakan? Namun dengan demikian kesan yang didapat para prajurit itu adalah, “Orang tua ini adalah orang tua yang bodoh dan jujur”.

“Katakanlah rahasia itu”.

“Tetapi apakah dengan demikian aku akan dapat menghadap?”

“Tergantung kepada pertimbangan tentang rahasia itu”.

“Tetapi Mahisa Agni pesan tuan, supaya rahasia ini tidak dikatakan kepada siapapun”.

“Kalau begitu, kau tidak dapat masuk ke dalam istana”.

“Oh, jadi bagaimana?”

“Rahasia itu harus kau sebut, kaki”.

Para prajurit melihat orang tua yang berjalan tersuruk-suruk itu menjadi ragu-ragu. Justru karena itu para prajurit itu pun menjadi semakin ingin mengetahui, rahasia apakah yang telah dibawanya.

“Kalau kau tidak mengatakannya, maka kau tidak akan dapat masuk”.

“Baik, baik tuan. Aku akan mengatakan rahasia itu tetapi dengan janji”.

“Janji apa Kaki?”

“Tuan tidak boleh mengatakannya kepada orang lain”.

Tiba-tiba beberapa di antara para prajurit itu tidak dapat menahan tertawanya. Meskipun demikian mereka berusaha untuk menyembunyikan wajah-wajah mereka di belakang punggung kawan-kawannya.

“Ayo katakan,” berkata salah seorang dari pada mereka.

“Tetapi rahasia ini sebenarnya sangat memalukan. Aku mendapat pesan dari Mahisa Agni supaya disampaikan kepada adiknya. Bahwa kini Mahisa Agni sudah tidak lagi mempunyai rangkapan kain panjang. Itulah tuan”.

Meledaklah suara tertawa di regol itu Para prajurit itu pun tidak lagi dapat menahan diri. Bagaimana pun juga mereka mencobanya, tetapi suara tertawa mereka telah menarik perhatian orang-orang yang kebetulan lewat dimuka regol

“Alangkah bodohnya orang tua ini” pikir mereka, “ dan alangkah kasihannya Mahisa Agni”.

Tetapi mereka sama sekali tidak tahu, bahwa Empu Sada pun tertawa pula di dalam hati. Ia telah berhasil memainkan peranannya hampir sempurna. Meskipun demikian para prajurit itu masih belum menjawab dengan pasti permintaannya untuk menghadap Ken Dedes. Para prajurit itu masih saja tertawa, sedang Empu Sada masih juga berdiri termangu-mangu. Orang tua itu berusaha sekuat-kuatnya untuk menahan perasaan sendiri. Betapa ia tertawa di dalam hati, melampaui gelak para prajurit itu, namun wajahnya masih juga tampak alangkah bodohnya.

“O Kaki,“ berkata salah seorang dari para prajurit itu, “apakah Mahisa Agni sangat memerlukan sepotong kain panjang?”

Empu Sada mengangguk, “Ya tuan. Selembar yang dipakainya kini telah nrantang”.

“Kalau kau katakan sejak tadi kaki, kau tidak perlu terlampau bernafsu untuk menghadap Tuan Puteri. Aku mempunyai kain panjang rangkap di rumah. Kau boleh membawanya selembar buat Mahisa Agni dan selembar buat kau sendiri”.

“Terima kasih tuan, terima kasih, “ sahut Empu Sada.

“Nah, kalau demikian tunggulah sampai waktuku berjaga di sini habis. Kau turut aku ke rumah, dan kau akan mendapatkannya”.

“Tetapi bagaimana dengan Tuan Puteri?”

“Pesanmu akan disampaikan. Dan kau akan mendapat kain panjang dariku. Bukankah keperluanmu sudah selesai?”

“Tetapi, tetapi aku harus menghadap tuan. Tuan Puteri tidak hanya akan memberi selembar kain buat Agni dan selembar buat aku. Mungkin ada pesan pula dari Tuan Puteri yang harus aku sampaikan kepada kakaknya, atau barangkali selembar timang alau ikat kepala”.

Kembali para prajurit itu tertawa. Mereka melihat orang tua itu dengan sorot mata yang lucu. Tetapi mereka mendapat kesan yang hampir pasti, “Orang tua itu adalah orang tua yang bodoh tetapi jujur”.

Meskipun demikian, para prajurit itu tahu benar akan kewajibannya. Karena itu, maka mereka tidak akan dengan mudah membiarkan orang-orang di luar istana memasuki halaman. Juga orang tua ini. Meskipun mereka sebenarnya telah tidak mempunyai kecurigaan apapun lagi, namun mereka tidak segera dapat memberinya ijin untuk dengan demikian saja menghadap Tuan Puteri Ken Dedes.

“Bagaimana tuan?,” desak orang tua itu, “Apakah aku diijinkan masuk?”

“Apakah kau mengenal jalan yang menuju ketempat Tuan Puteri itu”.

Empu Sada mengerutkan keningnya, jawabnya sambil menggeleng, “Tidak Tuan”.

“Nah, kau memang tidak akan dapat memasuki halaman ini seorang diri. Tak seorang pun diijinkan. Seorang prajurit akan mengantarmu sampai ke regol halaman dalam. Kau harus menunggu di sana. Prajurit itulah yang akan menyampaikannya kepada emban terdekat, bahwa seseorang ingin menghadap. Kalau Tuan Puteri ragu-ragu, maka Tuan Puteri pasti akan memintamu menunggu sampai seseorang sempat menyampaikannya kepada Akuwu Tunggul Ametung. Tetapi untuk menyampaikan permintaan itu, kau masih harus menunggu. Mungkin sehari, mungkin besok kau baru mendapat jawaban”.

“O,” keluh Empu Sada, “dahulu aku tidak pernah mendapat kesukaran untuk bertemu dengan anak itu di Panawijen”.

“Hus” potong seorang prajurit. Tetapi mau tidak mau prajurit itu pun harus tertawa, “keadaannya dahulu dan keadaannya tentu jauh berbeda”.

“Jadi bagaimanakah tuan?”

“Masuklah bersama salah seorang dari kami. Tunggulah di luar regol dalam. Kalau Tuan Puteri mendengar bahwa seseorang dari Panawijen akan menemuinya, maka aku kira kau tidak akan menunggu sampai malam”.

“Terima kasih tuan. Terima kasih. Aku akan menunggu meskipun sehari penuh. Di dalam kasa ini aku masih menyimpan sisa bekal yang aku bawa dari rumah”.

“Sudah dua hari dua malam?”

“Nasi jagung tuan. Sepekan masih juga baik”.

“Nah, ikutilah kawanku ini,” berkata pemimpin penjaga itu sambil menunjuk salah seorang bawahannya.

Empu Sada menganggukkan kepalanya. Kemudian ia melangkah mengikuti prajurit yang membawanya masuk Tetapi kemudian ia tertegun ketika pemimpin prajurit itu masih bertanya kepadanya,

“Siapa namamu?”

Empu Sada berpaling. Tetapi ia sama sekali tidak menjadi bingung menerima pertanyaan itu. Dari rumah ia telah bersedia, apabila seseorang menanyakan namanya,

“Makerti, “ jawab Empu Sada, “namaku Makerti”.

Tetapi tiba-tiba hatinya menjadi ragu-ragu. Ia dapat menipu para penjaga itu. Ia dapat menyebut nama apa saja, bahkan seribu nama sekalipun tidak akan mencurigakan. Namun ia menyangka bahwa dengan demikian, ia akan segera dihadapkan langsung kepada Tuan Puteri Ken Dedes. Ternyata yang terjadi tidak demikian. Seorang prajurit akan menghadap dan mengatakan keperluannya. Apabila prajurit itu menyebut namanya dan Ken Dedes tidak pernah mengenal nama Makerti, maka apakah kira-kira yang akan terjadi? Empu Sada menjadi bimbang. Tempi ia tidak sempat berpikir terlampau lama. Pemimpin prajurit itu telah berkata kepadanya,

“Baiklah kaki Makerli. Pergilah mudah-mudahan kau tidak perlu terlampau lama menunggu”.

Empu Sada menganggukkan kepalanya dalam-dalam, kemudian kembali ia berjalan mengikuti prajurit yang membawanya ke regol dalam. Tetapi kembali ia dirisaukan oleh nama itu. Makerti. Nama itu memang telah disiapkannya. Ia menganggap bahwa nama tidak akan banyak berpengaruh atas rencana itu. Namun sekarang baru ia menyadari, bahwa justru karena namanya itu akan dapat timbul kecurigaan yang membahayakannya. Kenapa ia tidak berusaha untuk mencari sebuah nama yang memang pernah dimiliki oleh orang Panawijen? Angan-angan Empu Sada itu patah ketika mereka segera sampai ke regol halaman dalam. Prajurit itu terhenti sejenak dan kemudian berkata,

“He, kaki Makerti, tunggulah disini. Aku akan mencoba menghadap. Apabila maksudmu diterima, maka kau pun akan aku bawa menghadap pula”.

“Jadi bagaimana tuan. Apakah aku harus menunggu?”

“Ya. Kau memang harus menunggu di sini”.

“Bagaimana kalau aku masuk bersama tuan. Kalau aku tidak diijinkan menghadap, maka aku akan pergi bersama tuan pula”.

“Ah, jangan. Demikianlah seharusnya. Kau harus berada di sini”.

“Aku takut tuan. Aku takut di sini seorang diri”.

“Kau tidak seorang diri, “ sahut prajurit itu, “lihat, di sisi regol dalam itu adalah sebuah gardu. Apakah kau tidak melihat dua orang yang berada di dalamnya?”

“Oh,” Empu Sada menjengukkan kepalanya. Dilihatnya dua orang dukuk di dalam sebuah gardu pendek. Tetapi di sisi mereka itu tersandar dua batang tombak.

“Masih ada satu lagi. Lihat yang mondar-mandir itu”.

“Oh,” Empu Sada kini benar-benar menyadari bahwa penjagaan istana bukan sekedar sebuah upacara saja.

“Apakah bilik Tuan Puteri itu masih jauh?”

“Tidak. Itulah. Kau nanti akan naik tangga itu. Dan kau akan sampai ke serambi di belakang ruang dalam. Kalau Tuan Puteri dapat menerimamu, maka kau akan diterima di ruang itu. Sedang bilik Tuan Puteri adalah di dalam istana. Sentong Tengen”.

Empu Sada mengangguk-anggukkan kepalanya. Ketika ia memandang berkeliling, maka yang dilihatnya adalah sebuah taman yang manis. Tetapi di sekitar tempat itu ia tidak lagi melihat gardu-gardu penjagaan yang lain.

“Nah, tinggalah di sini” berkata prajurit itu, “aku akan masuk. Aku akan menyampaikan permintaanmu lewat Pelayan Dalam yang bertugas di sana. Dan aku akan menyampaikan pesan itu nanti kepadamu, apakah Kaki akan diterima atau Kaki harus menunggu saat yang lain”.

“Oh,” Empu Sada mengeluh. Ternyata tidak semudah yang disangkanya.

“Kenapa kaki?,” bertanya prajurit itu.

“Alangkah sulitnya. Tuan, tolong, katakanlah kepada gadis itu, bahwa yang ingin menghadap adalah pamannya. Makerti. Aku adalah adik ibunya yang sudah lama meninggal. Mungkin anak itu menjadi ragu-ragu. Tetapi kalau tuan menyebutnya bahwa aku berasal dari Ngarang maka ia akan mengenal aku”.

“Jadi Kaki tidak berasal dari Panawijen?”

“Ya, ya. Aku datang dari Panawijen. Tetapi aku temui Panawijen sudah lain dari dahulu. Aku hanya bertemu dengan Mahisa Agni. Mudah-mudahan Nini, eh. Tuan Puteri menerima aku”.

Prajurit itu memandanginya dengan ragu. Tetapi kemudian ia tersenyum. Katanya, “Baiklah Kaki. Tunggulah di sini. Aku akan menyampaikannya lewat seorang Pelayan dalam atau seorang emban. Tunggulah, jangan takut, di gardu itu ada orang. Dan orang-orang itu tidak akan menakut-nakutimu”.

“Siapakah orang itu?” Tiba-tiba salah seorang prajurit di dalam gardu itu bertanya.

“Bertanyalah sendiri kepadanya” jawab prajurit itu, “nah mendekatlah. Mungkin kau dapat menunggu di sana pula”.

“Baik, baik tuan”.

Empu Sada itu pun kemudian melangkah tertatih-tatih mendekati gardu dan duduk di depannya. Sementara itu prajurit yang membawanya lelah berjalan meninggalkannya, untuk menyampaikan pesan dan permintaan orang tua itu. Sementara itu, Empu Sada masih saja diliputi oleh kecemasan. Disaat-saat terakhir ia mencoba membuat pesannya menjadi kabur dan membingungkan. Mudah-mudahan Ken Dedes tidak dapat lagi menelusurnya dan menjadi ingin tahu, siapakah yang datang kepadanya.

“Tetapi bagaimanakah kalau gadis itu dengan tenang dapat menilai keterangannya?”

Kembali Empu Sada menjadi ragu-ragu. Tetapi dalam pada itu tanpa disadarinya ditelusurinya halaman itu baik-baik. Dilihatnya beberapa orang hilir mudik. Ia tahu benar, bahwa di antara mereka adalah Pelayan dalam seperti Kuda Sempana dahulu. Tetapi sementara itu Empu Sada harus menjawab pertanyaan dari prajurit-prajurit yang berada di dalam gardu itu.

Akhirnya prajurit-prajurit itu pun berhenti bertanya dan berkata, “Nah, beristirahatlah kaki. Mungkin kau harus menunggu agak lama di situ”.

“Terima kasih tuan,” jawab Empu Sada.

Namun sementara itu kembali angan-angan Empu Sada beredar diseputar keadaannya. Kecemasannya semakin lama semakin mengganggunya, sehingga tiba-tiba tanpa dikehendakinya ia mulai menilai dirinya kembali.

“Aku bermaksud baik,” katanya di dalam hati, “tetapi kalau aku dianggap ingin berbuat jahat, maka apakah aku harus berdiam diri?”

“Hem,” pertanyaan itu dijawabnya sendiri, “biarlah. Kalau seharusnya aku ditangkap, biarlah aku ditangkap. Kalau seharusnya aku digantung di alun-alun, biarlah aku digantung”.

“Tetapi,” kembali terdengar sebuah pertanyaan, “dengan demikian, maka aku tidak akan sempat mengatakan keadaan yang sedang dihadapi oleh Mahisa Agni. Semua kata-kataku pasti tidak akan dipercaya”.

Dengan demikian, maka dada Empu Sada itu pun segera. diamuk oleh kebimbangan, kebingungan dan kecemasan. Tetapi sebagai seorang yang memiliki pengalaman yang luas di dalam dunianya yang penuh dengan pergulatan, maka tanpa dikehendakinya sendiri, Empu Sada mencoba menilai dirinya, apakah ia akan mampu meloncati dinding halaman yang tinggi itu?


Koleksi: Ki Ismoyo
scanning: Ki Ismoyo
Retype: Ki Sukasrana
Proofing: Ki Wijil
Cek ulang: Ki Arema






OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar