MENU

Ads

Sabtu, 07 Maret 2026

Pelangi di Langit Singasari 116

PdLS-24
PRAJURIT-PRAJURIT yang berada di dalam gardu itu pun kini sama sekali sudah tidak lagi menaruh perhatian kepada orang tua itu. Dibiarkannya Empu Sada duduk terkantuk-kantuk. Tetapi mereka sama sekali tidak melihat, bahwa di dalam dada orang tua itu sedang bergolak berbagai perasaan yang bersimpang siur. Tiba-tiba timbullah sesuatu yang aneh di dalam dada Empu Sada itu. Sekali disambarnya Prajurit-prajurit itu dengan sudut matanya. Sekilas menggelegak di dalam dadanya,

“Hem. Kelinci-kelinci ini dapat aku bungkam dalam sekejap.”

Empu Sada terkejut sendiri menyadari angan-angannya itu. Namun angan-angannya itu masih juga menjalar terus. “Kalau prajurit ini sudah binasa, aku akan masuk ke halaman dalam. Aku kira tidak akan begitu sulit mencari tempat Ken Dedes tanpa diketahui oleh banyak orang.”

Orang tua itu tiba-tiba menengadahkan wajahnya ke langit. Matahari telah rendah di ujung Barat. “Kalau malam segera tiba.” desisnya di dalam hati. “Apakah kepentinganku atas Mahisa Agni itu. Kalau aku dapat mengambil Ken Dedes, maka Kebo Sindet dan Wong Sarimpat pasti akan mengumpat setinggi langit. Mahisa Agni tidak akan bermanfaat baginya. Sedang kini tak seorang pun yang tahu, siapakah yang telah masuk ke dalam istana. Tak seorang pun tahu bahwa Empu Sada lah yang telah mengambil gadis itu. O, aku akan dapat menyebarkan desas-desus untuk melawan akal Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Aku harus berusaha melemparkan kesalahan tentang hilangnya Ken Dedes kepada kedua setan itu sebagai pembalasan dendam.”

Kembali Empu Sada terhenyak oleh angan-angannya. Kembali ia menjadi sadar akan kehadirannya. Tetapi jalan hidup yang ditempuhnya selama ini tiba-tiba telah mengamuk kembali di dalam dadanya. Maka terjadilah kini benturan yang dahsyat di dalam dada orang tua itu. Baru sesaat ia menemukan jalan yang terang. Apa yang dialaminya pada saat-saat terakhir telah mendorongnya ke dalam suatu kesadaran. Namun ketika ia dihadapkan kembali pada kesempatan-kesempatan seperti ini, maka kembali kebimbangan menggelegak di dadanya.

Kebimbangan yang bersilang-melintang. Ia bimbang apakah nama yang dipergunakannya akan dapat membawanya kepada Ken Dedes? Tetapi ia pun dicengkam oleh sebuah kebimbangan yang lain. Apakah kesempatan ini akan dilewatkannya? Sudah berpuluh tahun ia menempuh cara hidup yang dipilihnya. Dengan cara apapun ia pernah berusaha untuk mengambil Ken Dedes dan mempergunakannya untuk mendapatkan sesuatu yang cukup bernilai. Meskipun kini Kuda Sempana tidak ada lagi padanya, namun Ken Dedes akan dapat dijadikannya barang tanggungan yang baik, jauh lebih baik dari Mahisa Agni.

Tetapi, tiba-tiba terbayang di dalam angan-angannya itu seorang anak muda yang bernama Sumekar. Anak muda yang memandanginya dengan sorot mata yang jujur dan jernih. Yang seolah-olah tidak tahu bahwa tangan gurunya telah dilumuri oleh noda-noda yang kotor, meskipun sebenarnya dimengertinya juga. Empu Sada itu menarik nafas dalam-dalam. Benturan-benturan yang semakin dahsyat kini terjadi di dalam dirinya.

Dalam pada itu, prajurit yang membawanya masuk ke dalam halaman dalam, telah mencoba menghubungi pelayan dalam untuk menyampaikan maksudnya. Lewat seorang emban maka permintaan prajurit itu pun telah disampaikannya kepada Ken Dedes.

“Seseorang ingin menemui aku?” bertanya Ken Dedes kepada emban itu.

“Ya Tuan Puteri, seseorang dari Panawijen.”

“Siapa dia?”

“Seorang prajurit yang telah menerimanya, Tuan Puteri.”

“Dimana prajurit itu sekarang?”

“Di serambi belakang.”

“Aku ingin mendengar langsung dari padanya.” berkata gadis itu.

“Baik Tuan Puteri.”

Emban itu pun meninggalkan Ken Dedes yang kemudian pergi keruang belakang untuk menemui prajurit itu. Ia ingin mendengar langsung, siapakah yang ingin menemuinya.

Dengan kepala tunduk prajurit itu berkata, “Tuan Puteri, seseorang ingin menghadap Tuan Puteri.”

“Dimana ia sekarang?”



“Hamba menyuruhnya menunggu di regol dalam.”

“Siapakah namanya?”

“Makerti, Tuanku.”

“He,” Ken Dedes mengerutkan keningnya. Nama Makerti belum pernah dikenalnya. Karena itu ia berkata. “Apakah kau tidak salah? Berapa kira-kira usia orang itu?”

“Orang itu sudah tua, Tuanku. Namun Kaki Makerti pesan kepada hamba untuk mengatakan bahwa Kaki Makerti adalah paman Tuan Puteri. Orang tua itu datang dari Padukuhan Ngarang, dan ia adalah adik dari ibu Tuanku.”

“He,”

Ken Dedes menjadi semakin bingung. Dicobanya untuk mengingat-ingat. Tetapi ia sama sekali tidak pernah mendengar padukuhan yang bernama Ngarang. Dan ia tidak pernah pula mendengar bahwa ia mempunyai seorang paman yang bernama Makerti. Karena itu sejenak Ken Dedes berdiam diri. Dalam kerut-kerut di keningnya tampak betapa ia sedang mencoba mengingat kembali masa kanak-kanaknya di Padukuhan Panawijen.

“Apakah aku sudah menjadi seorang pelupa.” pikirnya, “kalau aku menerimanya, maka aku meragukan maksud kedatangannya. Tetapi kalau aku menolaknya dan orang itu benar-benar pamanku, apakah aku tidak menyakiti hatinya? Orang itu akan menganggap, bahwa setelah aku berada di istana, maka aku tidak mau lagi mengenal keluargaku. Apalagi keluarga dari ibuku.”

Dengan demikian, maka Ken Dedes itu menjadi ragu-ragu untuk berbuat sesuatu, sehingga tidaklah mudah baginya untuk menentukan keputusan. Maka sejenak mereka menjadi saling berdiam diri. Prajurit itu masih saja menundukkan wajahnya, sedang Ken Dedes masih juga ragu-ragu.

Untuk mencoba menumbuhkan kembali ingatannya maka Ken Dedes itu pun bertanya, “Apakah orang itu mengatakan bahwa namanya Makerti?”

“Hamba tuan Puteri.”

“Apakah kau dapat menggambarkan bagaimana kira-kira bentuk orang itu?”

Prajurit itu menggeser dirinya secengkang. Sejenak ia mencoba membayangkan kembali orang yang sedang menunggunya. Namun kemudian ia menjawab, “Tak ada yang aneh pada orang tua itu Tuan Puteri. Tak ada tanda-tanda yang khusus. Seperti kebanyakan orang-orang tua maka ia menjadi agak bongkok. Kepalanya menunduk agak terlampau jauh. Dan ia berjalan tersuruk-suruk dengan sebuah tongkat kecil yang agaknya ditemukannya saja di jalan. Suaranya bernada rendah, namun kadang-kadang melengking tinggi.”

“Oh.”

Ken Dedes justru menjadi bertambah bingung. Tetapi ia tidak mau mengambil sikap terlampau tergesa-gesa. Gadis itu selalu mengingat bahwa ia sendiri berasal dari sebuah padepokan jauh dari kota Tumapel. Bahwa ia sendiri hanyalah seorang gadis padesan. Adalah wajar kalau suatu ketika seseorang yang berasal dari padesan mencarinya dan memerlukan sebuah kesempatan untuk menemuinya.

Meskipun demikian, pengalamannya yang pahit selama ini telah memberinya beberapa petunjuk, bahwa dirinya selalu dibayangi oleh berbagai kemungkinan yang kadang-kadang tidak menyenangkan baginya. Selalu dikenangnya bagaimana Kuda Sempana mengejarnya tanpa mengenal jemu. Bahkan ternyata guru Kuda Sempana yang bernama Empu Sada telah turut campur pula dengan mencegatnya di jalan pada saat ia akan mengunjungi Panawijen.

Semuanya itu telah membuat Ken Dedes menjadi semakin hati-hati. Sekilas terlintas pula di hatinya untuk memohon pertimbangan kepada Akuwu Tunggul Ametung. Mungkin akan lebih baik baginya. Apabila ternyata terjadi sesuatu, maka akan mudahlah baginya untuk segera mendapatkan perlindungan. Tetapi Ken Dedes mengurungkan niatnya. ia tidak ingin mengganggu Akuwu hanya dalam soal-soal yang kecil itu. Bahkan seandainya orang itu bermaksud kurang baik sekalipun, apakah yang akan dapat dilakukannya? Di halaman berkeliaran beberapa orang prajurit dan Pelayan-dalam dalam sikap ke prajuritan pula. Ia akan dapat memerintahkan prajurit itu menunggunya selama ia menerima orang itu.

Ken Dedes itu pun kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Pada dasarnya ia memang ingin bertemu dengan orang yang menyebut dirinya Makerti dan mengaku sebagai pamannya. Namun ketika ia melihat emban pemomongnya yang mengikutinya dari Panawijen lewat maka dipanggilnyalah orang tua itu.

Pemomongnya itu pun segera mendekatinya. Orang tua itu kini telah menyesuaikan dirinya dengan cara hidup di dalam istana. Sambil duduk bersimpuh ia berkata,

“Hamba Tuan Puteri.”

“Bibi.” berkata Ken Dedes kemudian, “seseorang telah membingungkan aku. Karena bibi adalah pemomongku sejak kanak-kanak, maka aku kira bibi akan dapat memberi aku beberapa petunjuk.” Pemomong Ken Dedes itu mengangkat wajahnya. Tetapi ia tidak segera menjawab. “Seorang tua menyebut dirinya bernama Makerti dan mengaku pamanku ingin datang menghadap. Orang itu mengatakan bahwa dirinya adalah adik ibuku. Bibi, apakah selama ini bibi pernah mengenalnya?”

Perempuan tua itu pun mengerutkan keningnya. Tanpa dikehendakinya, maka dipandanginya wajah prajurit yang masih saja menunduk.

“Ya, prajurit itulah yang menyampaikan permintaannya.” berkata Ken Dedes.

Pemomong Ken Dedes itu pun menggeleng-gelengkan kepalanya. Namun iapun menjadi ragu-ragu pula. Jawabnya, “Tuan Puteri. Seingat hamba, maka Tuan Puteri tidak pernah mempunyai seorang paman adik ibu Tuan Puteri. Hamba belum pernah mendengar nama Makerti dan selama hamba berada di dekat Tuan Puteri, maka tak seorang pun yang pernah datang ke Padepokan Panawijen dengan nama itu.”

Ken Dedes menjadi semakin bimbang mendengar keterangan itu. Ia percaya benar kepada pemomongnya, bahwa perempuan itu tahu jauh lebih banyak tentang dirinya daripada dirinya sendiri.

“Seandainya demikian.” berkata perempuan itu pula, “maka setidak-tidaknya Ayahanda Empu Purwa pasti pernah menyebut-nyebutnya atau suatu ketika hamba pernah melibat seorang tamu dari keluarga Ibu Tuan Puteri itu.”

Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Kepada prajurit yang duduk tepekur di hadapannya ia berkata, “Apakah keperluan orang itu menghadap aku?”

“Tuan Puteri.” sahut prajurit itu, “menurut keterangannya, ia mendapat pesan dari Kakanda Tuan Puteri Mahisa Agni. Pesan itu ingin disampaikannya sendiri kepada Tuan Puteri apabila Tuan Puteri berkenan menerimanya.”

“Dari kakang Mahisa Agni?” Ken Dedes mengulanginya. Tampaklah sesuatu kesan yang aneh tersirat di wajahnya.

“Apalagi Angger Mahisa Agni.” desis pemomong Ken Dedes itu. “Orang tua yang bernama Makerti itu datang ke Panawijen untuk mencari kemanakannya yang ternyata adalah Tuan Puteri Ken Dedes. Tetapi yang ada hanyalah Kakanda Tuan Puteri. Dari Kakanda Tuan Puteri itulah Kaki Makerti mendapat petunjuk bahwa Tuan Puteri berada di istana. Bahkan orang itu, yang barangkali terlampau ingin bertemu dengan kemanakannya, membawa pesan dari Kakanda Tuan Puteri itu pula.” Kembali perempuan tua itu termenung. Namun tiba-tiba ia berkata, “Tuan Puteri, baiklah hamba lihat dahulu, apakah hamba sudah pernah mengenalnya.”

Ken Dedes dengan serta merta menjetujuinya. Dengan mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Baik, baik bibi. Pendapat bibi adalah pendapat yang baik sekali.”

“Hamba Tuan Puteri. Hamba kira bahwa hamba telah mengenal semua orang Panawijen atau orang-orang yang sering berhubungan dengan Ayahanda Tuan Puteri.”

Kepada prajurit itu Ken Dedes kemudian bertanya, “Menurut katamu orang itu datang dari suatu pedukuban untuk mencariku ke Panawijen, dan bertemu dengan kakang Mahisa Agni. Apakah ia bertemu dengan kakang Mahisa Agni di Panawijen ataukah di tempat ia membuat bendungan?”

Prajurit itu termenung sejenak. Namun kemudian ia berkata, “Orang tua itu sama sekali tidak menyebutnya Tuan Puteri.”

Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya Kecurigaannya tiba-tiba menjadi semakin tebal. Sepengetahuannya Mahisa Agni kini sedang berada di Padang Karautan. Bahkan Akuwu Tunggul Ametung baru saja mengirim sepasukan prajurit dengan berbagai macam perbekalan untuk membantu membuat bendungan itu. Maka kepada pemomongnya Ken Dedes berkata,

“Nah, pergilah bibi. Lihatlah orang yang menyebut dirinya bernama Makerti dan datang dari Padukuhan Ngarang itu.”

Tiba-tiba wajah pemomongnya itu menjadi tegang. Kerut merut di dahinya menjadi semakin jelas. Tanpa sesadarnya ia mengulang kata-kata Ken Dedes, “Orang itu datang dari desa Ngarang?”

“Ya.” sahut Ken Dedes, “Kenapa?”

Dada emban tua itu terasa berdesir. Dengan ragu-ragu ia berpaling kepada prajurit yang masih saja duduk tepekur di sampingnya.

“Bertanyalah kepada prajurit itu.” berkata Ken Dedes.

“Benarkah laki-laki tua itu datang dari desa Ngarang?”

“Ya, bibi. Orang itu datang dari Ngarang menurut katanya sendiri.”

Emban tua itu mengangguk-angguk. Tetapi tampaklah sesuatu tersirat pada sorot matanya sehingga Ken Dedes bertanya, “Kenapa bibi? Apakah kau pernah mendengar nama padukuhan Ngarang?”

“Hamba Tuan Puteri. Hamba memang pernah mendengar nama itu.”

“Dan kau pernah mendengar pula bahwa pamanku tinggal di padukuban itu?”

Emban tua itu menggeleng. Jawabnya, “Tidak tuanku.”

Ken Dedes menjadi ragu-ragu pula melihat wajah pemomongnya yang menjadi tegang itu. Namun lebih baik baginya apabila emban itu segera pergi keluar dan melihat siapakah laki-laki yang menyebut dirinya bernama Makerti.

Sejenak kemudian emban itu pun minta diri, diantar oleh prajurit yang membawa pesan dari Makerti itu. Namun di sepanjang langkahnya perempuan tua, pemomong Ken Dedes itu, kini dibebani oleh sebuah pertanyaan yang telah membuatnya menjadi berdebar-debar. Kenapa orang tua itu menyebut pedukuhan Ngarang? Kenapa tidak dari pedukuhan yang lain? Apakah benar orang itu paman gadis momongannya?

Dalam pada itu, di sisi regol dalam, di muka gardu penjaga, Empu Sada duduk dengan gelisah. Pergolakan yang terjadi di dalam dadanya terasa semakin lama menjadi semakin riuh. Sekali-sekali ditatapnya gardu peronda itu. Dilihatnya dua di antara ketiga prajurit itu duduk terkantuk-kantuk. Sedang yang seorang lagi berjalan hilir mudik memandi tombaknya. Setiap kali mereka bergantian, duduk dan berjalan hilir mudik.

Tetapi ketiga orang itu sama sekali tidak akan banyak berarti bagi Empu Sada. Dengan lemparan batu, ia mampu membunuhnya satu demi satu tanpa membuat suara apapun. Tiba-tiba dada orang tua itu berdesir ketika Dilihatnya prajurit yang membawanya, berjalan di antara tanaman-tanaman di halaman bersama seorang perempuan tua.

“Hem.” desis Empu Sada di hatinya, “apalagi kerja perempuan tua itu. Apakah perempuan tua itu emban terdekat dari Ken Dedes yang harus membawa aku menghadap. Dengan sentuhan jari saja, maka perempuan itu akan menjadi kejang. Kalau saja aku ingin melarikan Ken Dedes maka tiba-tiba aku mendapat kesempatan.”

Sekali Empu Sada menengadahkan wajahnya. Warna-warna merah telah membayang di langit sebelah Barat. Warna-warna yang telah mendorong hati Empu Sada mendekati kegelapan seperti senja yang menghadap malam.

“Dalam malam yang gelap, maka aku pasti bahwa aku akan dapat melarikan gadis itu. Kalau terjadi demikian, kalau Ken Dedes hilang dari istana ini, apakah artinya Mahisa Agni bagi Kebo Sindet dan Wong Sarimpat? Siapakah yang harus memenuhi pemerasan yang akan dilakukan?” Empu Sada itu tersenyum di dalam hati. Namun terasa kembali dadanya berguncang. Kembali terjadi berbagai benturan yang dahsyat di dalam dadanya.

“Tidak.” katanya di dalam hati, “aku sudah pasrah.”

Dan perempuan tua yang datang bersama prajurit itu pun sudah menjadi semakin dekat. Ketika mereka kemudian berhenti beberapa langkah dari Empu Sada maka prajurit itu pun berkata,

“Inilah bibi. Inilah Kaki Makerti.”

Pemomong Ken Dedes itu pun mengerutkan keningnya. Dicoba untuk mengamat-amati laki-laki tua itu dengan seksama. Namun kemudian kepala perempuan tua itu pun menggeleng. Terdengar ia bergumam, “Aku belum pernah mengenalnya.”

Empu Sada yang masih duduk itu pun menengadahkan wajahnya. Seperti perempuan itu, maka Empu Sada pun tidak pula mengenalnya.

“Apakah Kaki yang bernama Makerti?” bertanya emban tua itu.

“Ya, akulah.” sahut Empu Sada.

“Apakah Kaki paman dari Tuan Puteri Ken Dedes?”

Kembali dada Empu Sada dilanda oleh kebimbangan. Namun ia menjawab, “Ya, ya, akulah.”

Pemomong Ken Dedes itu pun terdiam sejenak. Kembali ia mencoba mengamati wajah itu. Tetapi ia sama sekali belum mengenalnya. Sejenak mereka saling berdiam diri. Namun di dalam dada masing-masing bergeletar berbagai macam persoalan. Apalagi di dalam dada Empu Sada. Tetapi orang tua itu mencoba dengan sekuat-kuat tenaganya untuk tetap tenang.

Sejenak kemudian terdengarlah emban tua, pemomong Ken Dedes itu berkata, “Kaki Makerti, apakah Kaki sering mengunjungi kemanakan Kaki yang bernama Ken Dedes itu dahulu?”

“O tentu, tentu.” jawab Empu Sada dengan serta merta, “Ken Dedes adalah seorang kemanakan yang manis. Ia tahu benar akan dirinya. Setiap kali aku datang, maka segera ia menyambutku dengan girang. Dengan suara tertawanya yang renyah. Tertawa kekanak-kanakan. Tetapi kini ia sudah berada di istana. Aku tidak tahu, apakah ia masih dapat mengenalku dan masih juga menyambut kedatanganku seperti dahulu di Panawijen, seperti masa kanak-kanaknya.”

Perempuan tua, pemomong Ken Dedes itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan iapun bertanya pula, “Apakah Kaki juga mengenal Mahisa Agni?”

“Oh tentu. Aku mengenal anak itu seperti aku mengenal Ken Dedes. Meskipun Mahisa Agni bukan kakak sendiri, tetapi keduanya hampir-hampir seperti saudara kandung yang sangat rukun.”

Kembali perempuan tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya, tetapi kecurigaan di dalam hatinya pun bertambah-tambah pula. Kalau laki-laki itu sering datang ke Panawijen, maka sudah pasti sekali dua kali ia pernah melihatnya.

“Kaki.” bertanya emban itu pula, “apakah kata Kakanda Tuan Puteri tentang adiknya ketika Kaki pergi ke Panawijen?”

Empu Sada menyambar wajah emban itu sesaat, tetapi segera ia menunjukkan wajahnya, wajah yang telah dipulasnya menjadi bentuknya yang sekarang. Tetapi ia sadar bahwa ia sedang mendapat pertanyaan-pertanyaan untuk meyakinkan bahwa Makerti adalah benar-benar paman Ken Dedes.

“Orang tua ini pastilah emban yang dipercaya oleh Ken Dedes.” desis orang tua itu di dalam hatinya. Dalam pada itu ia menjawab dengan hati-hati, “Tidak banyak yang dikatakan oleh Mahisa Agni. Ia hanya mengatakan bahwa Ken Dedes kini berada di Istana Tumapel, bahkan menurut pendengarannya gadis itu akan menjadi seorang permaisuri. Namun Mahisa Agni itu pun mempunyai beberapa pesan yang harus aku sampaikan kepada adiknya, Tuan Puteri Ken Dedes.”

“Dimanakah Kaki bertemu dengan Mahisa Agni?”

Mendengar pertanyaan itu Empu Sada mengerutkan keningnya. “Dimana?” orang tua itu mengulanginya di dalam hati.

“Dimana?” emban tua itu mendesak.

“Di Panawijen.” sahut Empu Sada. Namun terasa bahwa kata-katanya itu diucapkannya dalam kebimbangan.

Empu Sada menjadi berdebar-debar ketika kembali ia melihat emban tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Bahkan kemudian Empu Sada pun menyadari, bahwa emban tua itu menjadi semakin curiga kepadanya. Dalam keadaan yang menegangkan itu, kembali dada Empu Sada diamuk oleh berbagai perasaan yang saling berbenturan.

Ingin ia segera meloncat dan memberikan beberapa sentuhan kepada emban tua itu sehingga ia menjadi pingsan. Kemudian dengan beberapa gerakan ia akan mampu melumpuhkan Prajurit-prajurit yang menontonnya seperti sedang menonton pertunjukan yang mengasikkan. Apalagi ketika kemudian senja menjadi semakin lama semakin suram. Warna-warna merah di langit menjadi semakin pudar. Seleret warna senja masih tergantung di sisi-sisi mega putih yang mengalir dibawa angin.

“Kaki.” berkata emban itu kemudian, “apakah Kaki datang langsung dari Panawijen kemari?”

Empu Sada menjadi hampir kehilangan kesabarannya. Pertanyaan emban itu terlampau banyak baginya. Kalau pertanyaan-pertanyaan yang serupa itu tidak ada habis-habisnya, maka sudah pasti bahwa suatu ketika ia akan tidak lagi dapat menjawab. Namun kali ini Empu Sada masih juga menyabarkan hatinya,

“Ya. Aku datang dari Panawijen. Aku harus segera menghadap Tuan Puteri untuk menyampaikan pesan itu langsung kepadanya.”

“Jangan tergesa-gesa Kaki.” berkata emban tua itu, “aku masih ingin bertanya, apakah angger Mahisa Agni berada di Panawijen.”

Kembali dada Empu Sada berdesir. Pertanyaan itu benar-benar mengejutkannya. Dan tiba-tiba pula ia sadar, bahwa Mahisa Agni kini sedang membuat bendungan di padang Karautan. Wajah Empu Sada itu pun tiba-tiba menjadi tegang. Tiba-tiba pula ia merasa, bahwa kecurigaan emban itu pasti akan menundukkannya ke dalam keadaan yang tidak menguntungkan.

Dalam kebimbangan itu, maka Empu Sada pun kemudian mengambil suatu sikap. Katanya di dalam hati. “Kalau aku gagal menghadap Ken Dedes dalam suatu keinginan yang baik, dan apabila kemudian keadaanku sendiri terancam karenanya, maka adalah lebih baik bagiku untuk pasrah diri. Aku sudah kehilangan segala macam keinginanku. Mungkin dosaku telah terlampau banyak, sehingga keinginanku yang terakhir, yang berkehendak baik pun sudah tidak dapat terjadi.”

“Bagaimana Kaki?” desak emban tua itu.

Tetapi, kini Empu Sada justru telah menjadi tegang. Ia tidak lagi memandangi sisa-sisa senja yang tersangkut di ujung pepohonan. Meskipun demikian ia masih mencoba menjawab,

“Ya. Aku bertemu Mahisa Agni di Panawijen. Tetapi tidak lama, sebab anak muda itu harus segera kembali ke Padang Karautan. Menurut katanya, ia sedang membuat bendungan.”

Emban tua itu mengerutkan keningnya. Jawaban itu memang masuk diakalnya. Mungkin Mahisa Agni sedang pulang sejenak untuk sesuatu keperluan. Tetapi meskipun demikian, jawaban itu sama sekali belum meyakinkannya. Sehingga kembali ia bertanya,

“Kaki. Aku dengar Kaki berasal dari padukuhan Ngarang. Apakah benar demikian?”

Empu Sada kini benar-benar menjadi jemu mendengar pertanyaan-pertanyaan itu. Tetapi ia tidak dapat berbuat lain. Ia harus menjawab satu demi satu. Namun apabila jawabnya kemudian tidak lagi dapat sesuai dengan keadaan yang sewajarnja, maka perempuan tua itu pasti akan mencurigainya. Mungkin ia akan berteriak kepada para prajurit untuk menangkapnya. Tetapi Empu Sada telah pasrah.

“Kaki.” desak perempuan tua itu, “benarkah Kaki berasal dari Ngarang?”

Empu Sada menganggukkan kepalanya, Jawabnya, “Ya, aku berasal dari Ngarang.”

“Apakah kau tahu benar tentang pedukuhan itu? Dan apakah kau memang berasal dari Ngarang sejak kecil?”

“Ya.” jawab Empu Sada.

Tetapi kali ini ia tidak begitu cemas. Memang ia dahulu berasal dari Ngarang. Meskipun desa itu sudah lama sekali ditinggalkannya, tetapi ia pasti masih dapat menjawab satu dua pertanyaan tentang padesan itu meskipun ia sudah benar-benar menjadi jemu.

“Kaki Makerti.” berkata perempuan tua itu, “kalau Kaki benar berasal dari Ngarang, maka sudah tentu Kaki mengenal beberapa orang yang berasal dari desa itu pula.”

“Tentu.” sahut Empu Sada.

“Nah, aku ingin bertanya tentang keluargaku yang sudah lama sekali meninggalkan desa itu.”

“Siapakah orang itu?”

“Namanya Pramuntaka.”

Mendengar nama itu wajah Empu Sada tiba-tiba menjadi tegang. Terasa darahnya seakan-akan berhenti mengalir. Sejenak ia terbungkam dengan dada bergelora. Ketika ia menengadahkan wajahnya ditatapnya wajah perempuan tua itu. Wajah yang tidak dikenalnya. Tetapi bibir perempuan tua itu telah menyebut nama yang seperti Gunung Kawi yang runtuh menimpa dadanya.

Perempuan tua dan para prajurit itu sama sekali tidak melihat warna merah yang menyala di wajah Empu Sada, karena senja sudah menjadi semakin suram. Namun perempuan tua itu melihat bahwa Empu Sada tiba-tiba menjadi gelisah dan tidak segera dapat menjawab pertanyaannya. Karena itu maka kecurigaannya pun menjadi semakin tebal, sehingga menurut pendapatnya, tak ada gunanya lagi ia menanyakan berbagai macam soal. Orang itu pasti bukan paman Ken Dedes, dan pasti bukan orang Ngarang.

Sejenak terlintas di hati pemomong Ken Dedes itu tentang berbagai macam bahaya yang pernah mengitari momongannya. Karena itu, maka kecurigaannya pun menjadi semakin kuat. Laki-laki tua itu mungkin salah seorang dari mereka yang ingin berbuat jahat kepada momongannya. Dengan demikian maka menjadi kewajibannya untuk menolak maksud orang yang menyebut dirinya Makerti itu menghadap momongannya. Bahkan adalah menjadi kewajibannya pula untuk menyampaikannya kepada orang yang berkewajiban untuk menelitinya lebih jauh.




OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar