MENU

Ads

Sabtu, 07 Maret 2026

Pelangi di Langit Singasari 117

“Kaki Makerti,” berkata emban itu, “tunggulah disini. Semuanya akan aku sampaikan kepada Tuan Puteri. Aku tidak tahu apakah kau akan diijinkan menghadap atau tidak.”

Empu Sada tidak segera dapat menjawab. Ia masih dicengkam oleh gelora yang dahsyat di dadanya. Nama yang disebut oleh perempuan itu benar telah membuatnya menjadi sangat gelisah. Tetapi agaknya perempuan tua itu tidak lagi menunggu jawabannya. Agaknya emban itu ingin segera menyampaikan persoalan itu kepada momongannya dan kemudian kepada pemimpin Pelayan-dalam untuk berbuat sesuatu bersama para prajurit pengawal istana.

Namun ketika emban itu melangkah pergi, dengan terbata-bata Empu Sada memanggilnya. “Tunggu. Tunggu.”

Emban tua itu berhenti. Sambil memutar dirinya ia bertanya, “Apalagi Kaki? Bukankah aku harus menyampaikan permohonanmu kepada Tuan Puteri.”

“Tunggu.” minta Empu Sada yang tiba-tiba berdiri perlahan-lahan.

Beberapa orang prajurit yang melihatnya berdiri menjadi semakin tertarik pada laki-laki tua itu. Dengan penuh perhatian mereka menyaksikan pembicaraan kedua orang-orang tua itu dengan saksama.

“Apalagi Kaki?” bertanya emban itu pula.

“Aku ingin tahu, kenapa kau bertanya tentang Pramuntaka.”

Emban tua itu mengerutkan keningnya. Terasa pertanyaan yang menyebut dirinya Makerti itu menarik hatinya. Maka Jawabnya, “Tidak apa-apa Kaki. Karena kau menyebut dirimu berasal dari padukuhan Ngarang, sedang aku mengenal seseorang dari padukuhan itu pula dan bernama Pramuntaka. Maka aku bertanya kepadamu, apakah kau sudah mengenalnya.”

“Tidak. Pasti bukan hanya sekedar ingin tahu, apakah aku pernah mengenal orang yang bernama Pramuntaka itu.”

Sekarang emban tua itulah yang terkejut. Kata-kata orang yang menyebut dirinya Makerti itu terdengar aneh ditelinganya. Karena itu ia berkata, “Kenapa kau Kaki? Kenapa kau heran atas pertanyaanku dan bahkan kau tidak percaya bahwa aku hanya sekedar bertanya tentang Pramuntaka itu. Aku pernah mengenalnya, dan aku ingin tahu, kalau kau benar-benar orang Ngarang sejak kecil, kau pasti mengenalnya pula.”

“Siapakah sebenarnya kau Nini?” tiba-tiba orang tua itu bertanya.

Pertanyaan itu semakin mengejutkan bagi emban tua itu. Namun ia menjawab, “Aku adalah emban kinasih, pemomong Ken Dedes sejak kanak-kanak. Itulah maka aku tahu semua orang Panawijen dan semua orang yang pernah berhubungan dengan momonganku itu.”

Dada Empu Sada menjadi semakin berdebar-debar. Ketika ia berkisar setapak, ia melihat prajurit yang duduk di dalam gardu kini telah berdiri. Empu Sada sama sekali tidak menjadi kecut melihat prajurit-prajurit yang hanya berjumlah empat orang itu. Kalau ia mau, maka ia tidak memerlukan waktu banyak. Tetapi yang dicemaskan Empu Sada adalah dirinya sendiri. Dengan sepenuh kesadaran ia berusaha untuk dapat mengekang perasaannya supaya ia tidak meloncat dan menyentuh para prajurit di tempat-tempat yang berbahaya, sehingga keempat prajurit itu menjadi tidak berdaya.

“Aku sudah bertekad untuk pasrah diri.” katanya di dalam hati. Namun setiap kali kakinya menjadi gemetar, seolah-olah sepasang kakinya itu amat sulit dikendalikannya sendiri.

Kini ia mendengar bahwa perempuan tua itu adalah pemomong Ken Dedes sejak kecil. Ia mendengar bahwa emban tua itu bukanlah emban istana, tetapi adalah emban yang dibawa oleh Ken Dedes dari Panawijen. Dengan demikian maka Empu Sada sudah dapat membayangkan, bahwa emban itu tidak percaya sama sekali kepada semua ceriteranya. Emban itu pasti tahu, bahwa Ken Dedes tidak mempunyai seorang paman bernama Makerti dan datang dari padukuhan Ngarang. Tetapi yang lebih membingungkannya, bahkan menjadikannya sangat berdebar-debar adalah pertanyaan emban tua itu. Kenapa emban tua itu bertanya tentang Pramuntaka?

Dalam pada itu terdengar emban Ken Dedes berkata, “Kaki. tunggulah di sini. Tinggallah bersama para prajurit ini, Aku akan menghadap Tuan Puteri untuk menyampaikan pesanmu. Namun aku akan dapat memberitahukan kepada Tuan Puteri, bahwa aku belum pernah melihatmu.”

Para prajurit yang mendengar kata-kata emban tua itu tiba-tiba menyadari keadaan. Seolah-olah mereka mendapat perintah untuk menahan orang tua itu di dalam gardunya.

“Apakah maksud Nini sebenarnya?” bertanya Empu Sada dengan cemas.

Sekali lagi ia tidak mencemaskan Prajurit-prajurit itu, tetapi ia cemas pada dirinya sendiri. Kalau ia menjadi kehilangan keseimbangan, maka ia pasti akan lari dan meninggalkan keempat prajurit itu dalam keadaan tidak sadarkan diri.



“Tidak apa-apa.” jawab emban tua pengasuh Ken Dedes, “mungkin Tuan Puteri mempunyai pertimbangan lain. Mungkin Tuan Puteri perlu minta pertimbangan dari pemimpin Pelayan-dalam yang sedang bertugas hari ini atau bahkan mohon pertimbangan kepada Akuwu Tunggul Ametung.”

Kaki Empu Sada menjadi semakin gemetar ketika ia melihat berapa prajurit itu mendekatinya.

“Tunggu Nini.” minta Empu Sada, “ada suatu.., ada sesuatu yang ingin aku jelaskan supaya Nini melihat persoalan yang sebenarnya.”

“Apakah masih ada yang belum jelas?”

“Masih Nini.”

“Apakah itu?”

“Pramuntaka. Nama itu.”

“Apakah kau kenal nama itu?”

“Ya Nini, aku mengenal nama itu dengan baik.”

Pemomong Ken Dedes itu tertegun sejenak. Diamatinya laki-laki tua itu dari ujung kaki ke ujung rambutnya. Namun malam menjadi semakin suram sehingga bayangan laki-laki tua itu pun menjadi semakin kabur.

“Sudahlah Kaki.” berkata salah seorang prajurit yang telah berdiri di sampingnya, “duduklah di gardu bersama kami. Kaki dapat beristirahat sesuka hati. Kaki dapat berbaring untuk melepaskan lelatu, sambil menunggu Tuan Puteri berkenan menerima Kaki.”

“Ya, ya tuan.” sahut Empu Sada, “tetapi aku ingin memberi penjelasan dahulu kepada Nini emban. Sebenarnyalah aku mengenal orang yang ditanyakannya.” Kemudian kepada pemomong Ken Dedes ia berkata, “Nini, apakah benar Nini mengenal orang yang bernama Pramuntaka?”

“Tentu Kaki.” sahut emban itu, “aku bertanya kepadamu justru aku mengenalnya dengan baik.”

“Aku mengenal orang itu jauh lebih baik dari siapa pun juga.” sahut Empu Sada.

Jawaban itu ternyata sangat menarik perhatian pemomong Ken Dedes. Dengan nada yang tajam ia bertanya, “Tidak. Tak ada orang yang mengenal orang itu lebih baik dari aku. Aku mengenalnya sejak ia muda sampai akhirnya ia meninggal dalam keadaan yang kurang wajar.” Emban itu terkejut ketika ia melibat Empu Sada menggeleng.

“Tidak.” berkata laki-laki tua itu, namun tiba-tiba ia bertanya, “Tetapi kenapa Nini merasa sebagai orang yang paling mengenalnya?”

“Kenapa kau tanyakan hal itu? Aku bertanya, sebutkan orang itu, ciri-cirinya dan apa pun yang kau ketahui. Kalau kau dapat mengatakannya, barulah aku percaya bahwa kau berasal dari Ngarang. Sehingga kau akan mendapat pelayanan yang lain di sini nanti.”

Keringat yang dingin mengalir hampir di seluruh tubuh Empu Seda. Perlahan-lahan ia berkata, “Pramuntaka bertubuh tinggi. Berambut panjang ikal. Mempunyai beberapa cacat senjata di tubuhnya. Bermata hitam tetapi pudar. Berwajah jelek dan dibayangi oleh warna yang pucat.”

“Sebagian benar.” sahut perempuan tua itu, “tetapi Pramuntaka tidak bermata pudar, wajahnya tidak dibayangi oleh warna yang pucat. Mata itu benar hitam mengkilat, ditandai oleh sorot kejantanan yang penuh cita-cita. Wajahnya keras namun tidak kasar.”

“Tidak. Itu terlalu berlebih-lebihan. Pramuntaka adalah seorang yang tidak berarti. Tidak berarti bagi dirinya sendiri dan tidak berarti bagi dunia. Matinya pun tidak menimbulkan sesal bagi siapa pun. Tak seorang pun mencari kuburnya untuk menaburkan bunga di atasnya. Tak seorang pun yang pernah menyebut namanya kemudian. Bagiku Pramuntaka adalah seorang yang tidak berarti apa-apa. Kematian adalah jalan yang sebaik-baiknya baginya.”

“Bohong.” tiba-tiba emban itu membantah lantang. Sikapnya pun tiba-tiba menjadi lain dari sikapnya semula.

Empu Sada terkejut melihat sikap emban tua itu. Bahkan kemudian ia terdiam sejenak. Dalam keremangan malam tampaklah wajah perempuan tua itu menjadi tegang. Di sana-sini beberapa orang juru petamanan telah memasang pelita-pelita minyak. Sinarnya manggapai-gapai disentuh angin yang lembut.

Para prajurit yang melihat pembicaraan kedua orang tua itu menjadi bingung. Mereka kini tidak sedang membicarakan kemungkinan untuk menghadap Ken Dedes, tetapi justru mereka berbicara tentang seseorang yang kali ini tidak ada hubungannya dengan permohonan orang yang menyebut dirinya Makerti itu. Meskipun demikian para prajurit itu menjadi semakin curiga. Mereka melihat orang tua yang menamakan dirinya Makerti itu seperti seorang yang tiba-tiba diselubungi oleh sebuah kabut rahasia.

Dalam pada itu terdengar perempuan tua itu berkata, “Kalau begitu, kau tidak mengenal Pramuntaka dengan baik.”

“Nini.” sahut Empu Sada, “aku bahkan menjadi heran. Kenapa Nini menganggap Pramuntaka sebagai seorang yang baik, yang sorot matanya ditandai oleh kejantanan yang penuh dengan cita-cita, wajahnya keras namun tidak kasar. Semuanya itu tidak benar Nini. Mungkin Nini mengenal orang itu dengan baik, tetapi aku adalah orang yang tinggal sepedukuhan dengan orang yang menyebut dirinya Pramuntaka. Bukan hanya sepedukuhan, tetapi aku tinggal serumah dengan orang yang saat itu masih seorang anak muda yang cengeng.”

“Bohong, bohong” sahut emban tua itu, “mungkin kau waktu itu masih juga seorang anak muda. Dan kau tidak dapat berbuat seperti apa yang dilakukannya sehingga kau menjadi iri hati kepadanya.”

Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Betapa ia menjadi heran melihat sikap emban tua itu. Apakah hubungannya dengan orang yang disebutnya bernama Pramuntaka itu?

“Nah,” berkata emban tua itu, “kalau demikian, maka kau bukan seorang yang pantas untuk mendapat pelayanan yang baik. Sifat irimu sejak muda masih saja kau simpan sampai rambutmu hampir menjadi seputih kapas.”

“Nini,” potong Empu Sada, “tunggulah. Apakah kalau aku ikut juga memuji anak muda pada saat itu, yang bernama Pramuntaka itu aku dapat menghadap Tuan Puteri Ken Dedes?”

Emban itu terkejut mendengar pertanyaan itu. Sejenak ia terbungkam. Tetapi kemudian ia menyahut “Kaki, dengan menyebut namanya, Pramuntaka, aku hanya ingin membuktikan, apakah kau benar orang dari padukuhan Ngarang.”

“Aku sudah menjawab Nini.” jawab Empu Sada, “Aku mengenalnya dengan baik. Aku telah menyebut ciri-cirinya dan Nini pun sependapat. Yang kita tak sependapat adalah sifat-sifat orang itu. Itu adalah sangat bersifat pribadi. Tetapi bahwa Nini menganggap Pramuntaka seorang yang amat baik itu telah sangat menarik perhatianku.”

“Aku tahu benar sifat-sifatnya itu.”

“Nini, mungkin Nini tidak tahu, bagaimana ia mati. Dalam keputus-asaan ia telah membunuh dirinya. Ia lari dari padukuhannya karena ia kehilangan seorang gadis pada waktu itu. Ia tidak berani merebut gadis itu dengan tajam pedangnya. Tetapi ia lebih baik lari dan menghabiskan sisa hidupnya dalam dunia yang gelap. Akhirnya ia mati dalam keputus asaan.”

“Cukup.” emban itu tiba-tiba memotong. Tetapi kemudian ia terbungkam. Terasa sesuatu menyesakkan nafasnya.

Para prajurit yang melihat mereka berdua menjadi semakin heran. Mereka tidak tahu ujung dan pangkal pembicaraan itu. Yang mereka ketahui adalah bahwa emban tua itu tidak membenarkan orang yang menyebut dirinya Makerti itu menghadap langsung bersamanya. Karena itu maka seorang diantara mereka pun segera menghampiri Empu Sada sambil berkata,

“Sudahlah Kaki, duduklah di dalam gardu. Ada beberapa kemungkinan yang dapat terjadi. Agaknya kau tidak dapat meyakinkan emban itu, bahwa kau benar-benar paman Tuan Puteri. Meskipun demikian tidak mustahil bahwa baik Tuan Puteri maupun Tuanku Akuwu Tunggul Ametung ingin membuktikan melihat wajahmu yang berkerut-merut itu.”

Dada Empu Sada menjadi berdebar-debar karenanya. Kini ia menghadapi sebuah teka-teki yang tidak disangka-sangka. Pramuntaka adalah nama yang baginya telah mati. Dan kini perempuan tua itu tiba-tiba mengungkat-ungkatnya kembali. Namun tiba-tiba darahnya serasa berhenti mengalir ketika perempuan tua itu kemudian berkata Perlahan-lahan,

“Kaki, ikutlah aku.”

Para prajurit yang mendengar kata-kata itu pun menjadi heran. Baru saja mereka melihat kedua orang tua itu berbantah. Tetapi tiba-tiba emban pemomong Ken Dedes itu ingin membawanya.

Namun kemudian para prajurit itu mendengar emban tua itu berkata, “Aku ingin mendapat jawaban-jawaban yang lebih jelas. Aku tidak ingin persoalan ini membingungkan kalian para prajurit. Aku akan membawanya ke sudut bilik itu. Kalau aku tetap tidak yakin bahwa ia paman momonganku, maka aku akan memanggil salah seorang dari kalian, dan kalian pasti akan mendengarnya.”

Para prajurit itu tidak dapat berbuat lain daripada mengiakannya. Namun di dalam dada mereka tersimpan berbagai pertanyaan yang bersimpang siur. Ketika emban tua itu kemudian melangkah pergi, maka orang tua itu mengikutinya di belakang. Mereka sejenak saling berdiam diri, namun di dalam hati mereka menggelora berbagai macam perasaan yang berbenturan. Mereka menjadi heran melihat sikap masing-masing. Mereka tidak dapat segera mengerti kenapa mereka masing-masing mempunyai anggapan yang harus mereka pertahankan tentang orang yang bernama Pramuntaka itu. Akhirnya mereka pun berhenti di sudut bilik ujung istana. Jarak itu memang tidak terlampau jauh dari para penjaga di sisi regol halaman dalam itu.

Para prajurit di sisi regol itu menarik nafas dalam-dalam. Sejenak mereka saling berpandangan. Salah seorang dari mereka itu pun berguman, “Aneh-aneh saja orang-orang tua itu. Apa saja yang mereka percakapkan di ujung istana itu? Kalau saja mereka anak-anak remaja maka aku akan menjadi iri.”

Kawan-kawannya tertawa. Namun salah seorang lagi berkata, “Tetapi mungkin sebentar lagi kau harus mempergunakan tombakmu untuk menakut-nakuti laki-laki tua itu supaya tidak berlari. Agaknya mereka sedang berselisih pendapat tentang seseorang yang bernama Pramuntaka.”

“Itulah anehnya orang-orang yang sudah hampir pikun.” sahut yang lain. “Mula-mula emban tua itu hanya ingin tahu, apakah laki-laki itu benar-benar berasal dari tempat yang disebutkannya. Tetapi Akhirnya perdebatan itu bergeser kepada soal yang lain. Soal orang itu sendiri.”

Keempat prajurit itu tersenyum. Yang seorang, yang membawa Empu Sada masuk ke halaman dalam itu Akhirnya berkata, “Ah, aku terlampau lama berada disini. Sebenarnya aku ingin segera kembali ke tempatku.”

“Kembalilah, apa lagi yang akan kau tunggu disini,”

Orang itu menjadi ragu-ragu, tetapi kemudian ia menggeleng. “Tidak. Aku belum akan kembali sekarang. Aku ingin melihat akhir dari perdebatan orang tua itu.”

Ketiga kawannya tertawa kecil. Kemudian mereka bersama-sama duduk di depan gardu, kecuali yang seorang, dengan tombak di tangannya, berdiri saja di sisi regol halaman dalam itu.

Di sudut istana Empu Sada berdiri berhadapan dengan emban tua yang telah menumbuhkan teka-teki baginya, seperti juga dirinya ternyata telah membingungkan perempuan tua itu. Di antara desau angin yang bertiup semakin kencang terdengar emban tua itu berkata perlahan-lahan sambil mencoba menguasai perasaannya sejauh mungkin.

“Kaki” katanya, “sekarang, cobalah sebutkan hubunganmu dengan Pramuntaka? Kenapa kau dapat mengatakan bahwa Pramuntaka telah lari dan menghabiskan hidupnya dalam keputus-asaan sebelum ia meninggal? Kenapa kau katakan bahwa ia tidak berani merebut gadisnya dengan tajam pedangnya?”

“Demikianlah yang terjadi Nini. Bagaimana aku akan mengatakan kepadamu apabila aku melihat sendiri bahwa demikianlah yang telah terjadi.”

“Apakah kau tahu, siapakah gadis yang diperebutkan itu?”

“Aku tahu Nini. Tentu aku tahu.”

“Coba sebutkanlah.”

Empu Sada yang menyebut dirinya Makerti itu terdiam. Dipandanginya wajah perempuan tua itu dengan saksama. Teka-teki yang mencengkam hatinya menjadi semakin rumit. Apapula gunanya ia ingin mendengar nama gadis itu?

“Nah, Kaki Makerti cobalah, sebutkanlah nama gadis itu.”

“Nini. Kenapa kita terlampau dalam masuk ke dalam persoalan orang lain yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kepentinganku kini?”

“Tentu tidak Kaki. Aku ingin tahu benar, apakah kau berasal dari desa Ngarang.”

Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Orang itu pasti tidak hanya sekedar ingin tahu, apakah ia benar-benar berasal dari desa Ngarang.

“Bagaimana Kaki Makerti, apakah kau pernah mendengar namanya? Kalau kau benar-benar tahu tentang Pramuntaka, maka kau pasti akan dapat menyebutkan nama gadis itu.”

Akhirnya Empu Sada tidak dapat menahan kesabarannya lagi. Iapun ingin segera tahu, apakah hubungan perempuan itu dengan Pramuntaka. Karena itu maka katanya,

“Baiklah Nini, kalau kau berkeras ingin tahu siapakah aku dan hubungan apakah yang pernah ada antara aku dan Pramuntaka. Kalau ceriteraku ini akan memberimu kepuasan, maka aku hanya ingin kau membawa aku menghadap Tuan Puteri Ken Dedes. Aku membawa pesan yang teramat penting bagi Tuan Puteri dari kakaknya yang bernama Mahisa Agni yang kini telah kembali ke Padang Karautan itu.”

“Ya sebutkanlah. Kalau kau dapat meyakinkan aku, bahwa kau benar-benar berasal dari Pedukuhan Ngarang, maka akulah yang akan membawamu menghadap Tuan Puteri.”

“Nini emban.” berkata Empu Sada, “menurut pendapatku, Pramuntaka tetap seorang pengecut.”

“Jangan kau sebut lagi.” potong emban tua, “katakan saja apa yang kau ketahui tentang dirinya.”

“Maaf.” sahut Empu Sada, “menurut pengetahuanku, Pramuntaka telah melarikan dirinya dari seorang gadis yang dicintainya. Ketika ia ingin beristerikan gadis itu, maka ia telah pergi mengembara untuk mendapatkan bekal di hari-hari yang akan ditempuhnya bersama gadis yang dicintainya itu. Tetapi ternyata gadis itu tidak setia. Ketika Pramuntaka kembali, gadis itu telah kawin dan mempunyai seorang anak laki-laki. Semula, laki-laki yang bernama Pramuntaka itu telah menentukan sikapnya. Cintanya akan dibelanya dengan nyawanya. Tetapi ia ingat anak kecil di dalam dukungan perempuan yang dicintainya itu, yang sudah bukan lagi seorang gadis yang menunggunya. Karena itu, maka kecengengannya telah membawanya pergi meninggalkan semua harapan yang telah disusunnya sepanjang perantauannya.”

“Cukup,” potong emban tua itu. Namun kini suaranya terdengar bergetar. Terasa sesuatu menyumbat kerongkongannya. Patah-patah ia bertanya, “Aku ingin mendengar, apakah kau tahu gadis itu?”

“Kenapa kau Nini?” bertanya Empu Sada.

“Sebutkanlah namanya.” sahut emban tua itu, “kalau kau benar-benar mengetahuinya. Kalau ceriteramu itu bukan sekedar ceritera yang kau dengar di sepanjang jalan atau ceritera lama yang berloncatan dari mulut ke mulut.”

Empu Sada tertegun sejenak. Ia melihat perubahan pada sikap dan kata-kata perempuan itu maka kini dadanya sendiri pun berguncang seperti ujung pepohonan yang ditiup angin malam yang menjadi semakin kencang. Justru mereka kini untuk sejenak saling berdiam diri. Empu Sada tidak segera menjawab pertanyaan emban tua itu. Perlahan-lahan ia berusaha menenangkan hatinya yang menjadi tegang.

“Aneh perempuan ini.” katanya di dalam hati, “pembicaraan ini telah terlampau jauh menyimpang dari maksud kedatanganku. Namun sikap perempuan yang aneh ini agaknya sangat menarik.”

“Bagaimana Kaki?” terdengar suara perempuan itu semakin serak, “Apakah kau juga dapat menyebut nama gadis yang kau katakan itu?”

“Sudahlah Nini.” sahut Empu Sada, “seandainya aku hanya mendengar dari ceritera yang berloncatan dari mulut ke mulut, seandainya ini aku dengar di sepanjang jalan, maka apakah Nini dapat membedakannya dengan apabila ceritera ini benar-benar aku lihat dengan mata kepala sendiri, hanya dengan sekedar menyebut nama gadis itu?”

“Tentu.” berkata perempuan tua itu, “kau mengatakan bahwa kau adalah orang yang paling tahu tentang dia. Tentang Pramuntaka.”

“Baiklah Nini,” Empu Sada benar-benar tidak mempunyai pilihan lain. “Sebenarnya aku tidak lagi ingin menyebut nama-nama mereka baik Pramuntaka maupun gadis itu. Mereka telah mati dan tidak lagi mempunyai sangkut paut apapun dengan aku dan kau.”

“Sebutkan, sebutkan kalau kau tahu,” potong perempuan itu.

Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan namun penuh dengan tekanan ia berkata, “Menurut pendengaranku Nini, gadis yang telah menghalau Pramuntaka dari dunia harapannya adalah seorang gadis yang bernama Jun Rumanti.”

“Cukup, cukup,” tiba-tiba perempuan tua itu memotong kata-kata orang yang menyebut dirinya Makerti, sehingga laki-laki tua itu terkejut karenanya.

Kini ia berdiri tegak seperti patung ketika ia melihat perempuan tua itu menundukkan kepalanya. Sekali-sekali diusapnya matanya dengan ujung kembennya. Tetapi perempuan tua itu tidak menangis. Ketika ia mengangkat wajahnya tampaklah wajah itu menjadi terlampau suram. Cahaya pelita yang kemerah-merahan di kejauhan tidak banyak menerangi wajah yang sudah berkerut-merut itu.

“Kau benar-benar mengetahuinya, bahwa Pramuntaka telah pernah mengenal seorang gadis yang bernama Jun Rumanti?”

Terasa sesuatu berdesakan di dalam dada Empu Sada. Meskipun perempuan tua itu tidak menangis, tetapi ia melibat sesuatu yang melengking dari dalam hatinya. Umur Empu Sada yang lanjut itu ternyata telah mempertajam perasaannya pula, sehingga tiba-tiba ia mempunyai suatu tanggapan yang lain atas emban tua itu.

“Ya Nini.” sahut Empu Sada dalam nada yang dalam, “agaknya nama itu lelah mengejutkanmu. Apakah kau mengenal nama itu pula, Jun Rumanti?”

Perempuan tua itu menggeleng, “Tidak Kaki. Aku tidak mengenal nama Rumanti.”

Empu Sada mengerutkan keningnya. Kini bukan saja ia merasakan jerit yang melonjak dari dalam hati perempuan tua itu, tetapi seakan-akan ia kini dapat mendengarnya. Perlahan-lahan ia bertanya,

“Kalau kau tidak mengenal nama Rumanti itu Nini, kenapa kau berkeras hati supaya aku menyebutkannya?”

Perempuan tua itu terdiam. Ia tidak tahu bagaimana ia harus menjawab pertanyaan itu. Sehingga dengan demikian, maka Empu Sada menjadi semakin merasakan hubungan yang lebih rapat antara perempuan tua itu dengan gadis yang dahulu bernama Jun Rumanti.

Tanpa disengajanya maka tiba-tiba Empu Sada itu berkata, “Nini, kalau gadis itu masih ada, maka ia kini pasti sudah tua pula. Mungkin gadis itu sudah setua Nini.”

Perempuan tua itu terkejut bukan buatan, sehingga ia terhenyak dan bergeser setapak surut. Ditatapnya wajah orang yang menyebut dirinya Makerti itu sejenak, namun sejenak kemudian ia berkata,

“Mungkin, mungkin Kaki.”

Empu Sada mengangguk-anggukkan kepalanya. Dari mulutnya kembali terlontar kata-kata, “Tetapi nama itu telah lenyap sejak puluhan tahun yang lampau. Sesaat sejak Pramuntaka hilang dari Ngarang. maka Jun Rumanti itu pun hilang pula.”

Kembali perempuan tua itu menundukkan wajahnya. Terasa nafasnya menjadi sesak. Betapapun ia bertahan, namun Akhirnya setitik air meleleh di pipinya yang sudah menjadi berkerut-merut oleh garis-garis umurnya. Sejenak mereka saling membisu. Namun di dalam dada Empu Sada terjadi suatu pergolakan yang gemuruh. Ia melibat perempuan tua itu menjadi semakin sedih. Dan tiba-tiba ia berkata,

“Nini, apakah kau saudara perempuan Jun Rumanti?” Perempuan itu menggeleng. “Apakah kau sahabatnya?” Perempuan itu menggeleng lagi.

“Tetapi ceritera itu telah menggali kepedihan di hatimu. Sudah aku katakan, sebaiknya kita tidak usah membicarakan orang-orang lain di luar kepentingan kita sekarang. Namun kau selalu mendesaknya. Agaknya kau ingin mengenang sesuatu lewat ceritera itu. ceritera kanak-kanak yang telah terlampau lambat untuk kita dengarkan. Tetapi Nini, aku menjadi bercuriga melihat sikapmu. Nah, sebutkanlah, siapakah kau sebenarnya?”

Perempuan itu kembali terperanjat mendengar pertanyaan Empu Sada. Sejenak ia terbungkam. Namun kemudian ia menggeleng, “Aku adalah emban Tuan Puteri Ken Dedes.”

“Tetapi kenapa kau berkeras hati memaksaku berceritera tentang pengecut itu. Tentang Pramuntaka yang lari dalam keputus asaan dan tentang gadis yang telah menghianatinya.”

“Tidak. Gadis itu tidak menghianatinya. Ia terdorong oleh suatu keadaan yang tidak dapat dihindarinya lagi. Pramuntaka telah meninggalkannya tanpa kabar berita untuk waktu yang tidak menentu.”

Sekali lagi Empu Sada terkejut mendengar jawaban perempuan tua itu. Bahkan sejenak ia tidak mengucapkan kata-kata. Namun kini ia hampir-hampir dapat menebak siapakah perempuan itu. Justru dengan demikian maka hatinya sendiri menjadi bingung. Terasa darahnya seolah-olah hampir berhenti mengalir. Wajahnya terasa menjadi panas, namun keringat dinginnya seakan-akan diperas apuh dari dalam tubuhnya.

Dalam pada itu terdengar emban tua itu berkata, “Kaki Makerti. Kalau kau benar-benar orang yang paling dekat dengan Pramuntaka, maka kau seharusnya mengetahui, bahwa gadis itu sama sekali tidak ingin menghianatinya. Kau harus tahu dan Pramuntaka pun harus tahu pula seandainya ia masih hidup. Bagi seorang laki-laki maka waktu tidak begitu banyak berpengaruh pada dirinya. Tetapi bagi seorang gadis keadaannya jauh berbeda Kaki. Kaki Makerti, apakah Kaki mempunyai anak seorang gadis?”




OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar