Empu Sada yang menyebut dirinya Makerti itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi Perlahan-lahan ia menggeleng lemah. “Tidak Nini.”
“Oh, kalau kau punyai gadis itu Kaki.” desak perempuan tua itu, “maka kau akan merasakan, betapa seorang gadis tidak dapat membiarkan waktu lewat tanpa menggoreskan luka di dadanya semakin banyak hari-hari yang dilewatinya untuk menunggu, maka kegelisahan di hatinya menjadi semakin menyala.”
“Ya, ya aku tahu Nini.” potong Empu Sada, “tetapi tidak demikian dengan gadis yang bernama Rumanti itu. Mereka sebelumnya telah berjanji, dan Rumanti tahu, bahwa Pramuntaka sedang pergi merantau untuk mempersiapkan hari-hari yang bakal mereka jelang. Tetapi ketika Pramuntaka kembali, maka gadis itu telah membawa seorang anak laki-laki di dalam dukungannya.”
“Cukup. Cukup.” tetapi suara perempuan itu seakan-akan tersumbat di kerongkongan.
“Kalau kau keluarga dari perempuan itu Nini, maka dengarlah keluhan hati Pramuntaka yang meratapi kegagalannya. Laki-laki cengeng itu menganggap bahwa hidupnya sudah tidak akan berarti lagi.”
“Tetapi perempuan itu pun telah menyiksa dirinya sendiri Kaki. Ia menyesal karena iapun Akhirnya kehilangan segala-galanya.”
“Bohong.” sahut Empu Sada, “itu hanya sebuah dongeng ngayawara. Ternyata kaulah yang hanya mendengar dongeng di sepanjang jalan tentang Pramuntaka dan Jun Rumanti itu. Ternyata kaulah yang hanya mendengar ceritera itu berdesah dari mulut ke mulut. Kau tidak melihat dari dekat, dan kau tidak turut serta merasakan betapa kepahitan dari peristiwa itu membekas sampai akhir hayatnya.”
“Kau yang bohong.” bantah perempuan itu. Namun kini mulai terdengar isak tangisnya, “perempuan itu pun telah menerima hukumannya.”
“Kembali kau mengarang ceritera itu. Mungkin kau kenal keduanya, tetapi kau tidak mengenal perasaan mereka.”
“Tentu, tentu Kaki Makerti, aku tentu mengenal perasaan mereka seperti aku mengenal perasaan sendiri. Aku mengenal perasaan gadis itu melampaui setiap orang yang pernah mengenalnya.”
“Nini emban.” tiba-tiba suara Empu Sada menjadi datar dan berat. Serasa sesuatu menyumbat kerongkongannya. Namun laki-laki itu memaksa mengucapkan kata-kata, “Nini, kenapa kau mengenal perasaan gadis itu melampaui setiap orang? Nah, katakan kepadaku Nini, apakah kau yang bernama Jun Rumanti?”
Emban tua itu terkejut mendengar pertanyaan itu. Sekali lagi ia bergeser setapak menjauhi laki-laki yang berdiri di hadapannya. Dengan tajamnya ia memandangi wajah laki-laki tua itu, namun kemudian wajahnya tertunduk. Dengan ujung kembennya ia menyeka matanya. Dan tiba-tiba mata itu kini menjadi kering. Ketika perempuan itu mengangkat kepalanya, maka ia berkata,
“Tak ada gunanya air mata buatku. Buat orang tua-tua.” kemudian dengan tegas ia berkata, “Ya, aku lah Jun Rumanti itu.”
Jawaban itu telah diduga oleh Empu Sada yang menyebut dirinya Makerti. Namun meskipun demikian terasa juga dadanya berdesir, dan karenanya maka sejenak ia pun terdiam.
“Kaki Makerti, kini kau telah berhadapan dengan perempuan itu. Jun Rumanti. Nah, bertanyalah kepadanya, kenapa ia tidak setia menunggu Pramuntaka yang pergi tanpa sebuah pertanggungan jawab pun menghadapi gadis dan waktu.”
Empu Sada tidak segera menjawab. Namun setelah ia mencoba menenangkan dirinya ia berkata, “Maaf aku Nini.”
“Apa yang harus dimaafkan? Aku tidak menyesali kata-katamu. Mungkin kau hanya mendengarnya dari Pramuntaka. Itu adalah haknya untuk menyatakan perasaannya. Dan ketahuilah Kaki, bahwa anak Jun Rumanti itu kini telah menjadi seorang anak laki-laki yang cukup memberinya kebanggaan.”
“Dimana ayahnya sekarang?”
“Huh, apakah kau berpura-pura.”
“Aku belum mengenalnya.”
“Ayahnya telah mati seperti Pramuntaka pun telah mati. Laki-laki itu lari tanpa meninggalkan pesan apapun.”
“Pendengaranku tentang laki-laki suamimu itu ternyata benar.”
“He, kau telah mengetahuinya pula?” bertanya emban tua itu, yang ternyata bernama Jun Rumanti di masa gadisnya, “kenapa kau mempunyai perhatian yang sedemikian besar atas Jun Rumanti itu dan suaminya pula?”
“Tidak apa-apa. Aku mengetahuinya seperti aku mengetahui banyak tentang Pramuntaka.” Emban tua itu menarik nafas dalam-dalam. “Dimana anakmu sekarang Nini?” bertanya Empu Sada.
“Anakku telah kau kenal. Kau telah mengakui menjadi paman Ken Dedes dan membawa pesan dari laki-laki itu.”
“He? Kau maksud bahwa anakmu bernama Mahisa Agni?” wajah Empu Sada tiba-tiba menjadi semakin tegang sehingga jalur-jalur nadinya seakan-akan ingin mencuat keluar dari wajah kulitnya yang berwarna tembaga.
Emban tua itu pun terkejut mendengar pertanyaan Empu Sada dalam nada yang tinggi. Kini emban itulah yang melihat Empu Sada tiba-tiba menjadi sangat gelisah. Sekali lagi ia menegaskan.
“Nini, apakah anak muda yang bernama Mahisa Agni itu anakmu?”
Emban tua yang bernama Jun Rumanti di masa gadisnya itu menganggukkan kepalanya sambil menjawab, “Ya, Kaki. Mahisa Agni itu adalah anakku.”
“Oh.” tiba-tiba Empu Sada itu menundukkan wajahnya. Terasa dadanya seakan-akan terhimpit batu yang terlontar dari lereng Gunung Kawi.
Dalam pada itu, emban tua itu pun tertegun. Ia belum pernah mengatakan kepada siapapun, bahwa Mahisa Agni itu adalah anaknya. Namun tiba-tiba, kepada orang yang baru saja dikenalnya itu ia berterus terang, bahwa Mahisa Agni adalah anaknya. Tetapi tanggapan laki-laki tua itu pun sangat menarik perhatiannya. Didengarnya orang yang menyebut dirinya Makerti itu berdesah beberapa kali.
“Kenapa Kaki.” bertanya emban tua itu, “kenapa kalau Mahisa Agni itu anakku?”
“Tidak apa-apa Rumanti.”
“Jangan panggil aku dengan nama itu. Panggil aku kini sebagai seorang emban Tuan Puteri Ken Dedes.”
“Ya Nini emban.”
“Tetapi kenapa dengan Mahisa Agni?”
“Aku tidak menyangka, bahwa Mahisa Agni itu adalah anakmu.”
“Tak seorang pun tahu, bahwa Mahisa Agni itu anakku. Mungkin pamannya, Empu Gandring telah mendengar dari Agni, bahwa aku disini. Tetapi orang lain tidak. Ken Dedes, momonganku itu pun tidak tahu, bahwa kakak angkatnya, Mahisa Agni adalah anakku, anak pemomongnya.”
“Itukah akibat dari penyesalanmu atas peristiwa yang pernah terjadi dalam hidupmu itu!”
“Ya, salah satu bentuk daripadanya.”
“Kau membuang dirimu?
“Ya.”
“Tetapi apakah Mahisa Agni tahu bahwa kau adalah ibunya?”
“Ya.”
Sekali lagi terdengar Empu Sada berdesah. Bahkan beberapa kali tangannya mengusap peluhnya yang menitik dari dahinya. Dalam kesuraman cahaya pelita di kejauhan, maka wajah yang tegang itu tampaknya menjadi bertambah tegang.
“Aku tidak menyangka.” desis Empu Sada.
“Sekarang kau tahu, dan apakah yang akan kau lakukan atas anak itu? Anak itu adalah anakku. Anak Jun Rumanti yang telah melukai, bahkan menurut katamu mengkhianati orang yang bernama Pramuntaka itu, yang mungkin adalah sahabatmu atau saudaramu atau apa saja. Ternyata kau benar-benar mengetahui keadaannya hampir sempurna.”
Ternyata Empu Sada menjadi semakin gelisah mendengar kata-kata Jun Rumanti, emban pemomong Ken Dedes itu, sehingga ia tidak lagi berhasil menyembunyikan perasaannya. Kata-kata emban tua yang tidak disadari oleh perempuan itu sendiri seakan-akan telah menunjuk wajahnya, bahwa ia pernah berbuat sesuatu atas Mahisa Agni, bahkan pernah berusaha untuk membunuhnya.
Empu Sada itu memalingkan wajahnya ketika emban itu berkata, “Bagaimana Kaki. Apakah sekarang yang akan kau katakan? Apakah kau benar-benar mendapat pesan dari Mahisa Agni untuk kemanakanmu Ken Dedes?”
“Maafkan Rumanti, aku tidak tahu bahwa Mahisa Agni adalah anakmu.”
“Jangan panggil aku dengan nama itu. Rumanti telah tidak ada lagi. Yang ada adalah emban tua pemomong Tuan Puteri Ken Dedes ini.” emban itu berhenti sejenak. Kemudian dilanjutkannya. “Tetapi kenapa dengan Mahisa Agni setelah kau tahu bahwa Mahisa Agni adalah anakku.”
Gelora di dalam dada Empu Sada menjadi semakin gemuruh. Terbayang di dalam angan-angannya, betapa ia mengejar-ngejar anak itu bersama muridnya Kuda Sempana. Namun tiba-tiba Empu Sada itu bergumam,
“Tetapi Nini, kali ini maksud kedatanganku adalah baik. Aku justru ingin menyelamatkan anak muda itu.”
“Kaki Makerti.” potong emban tua itu, “kenapa kali ini? Apakah di kali lain kau mempunyai maksud yang lain pula?”
Empu tua yang menyebut dirinya Makerti itu kini benar-benar tidak lagi dapat menahan arus perasaannya yang seakan-akan ingin memecahkan dadanya. Tiba-tiba ia tertunduk lemah sambil berdesis,
“Aku tidak tahu Nini. Aku tidak tahu kalau anak muda itu anakmu?”
“Kenapa kalau anakku? Kau tidak mempunyai sangkut paut dengan aku. Kau tidak mempunyai sangkut-paut dengan Mahisa Agni. Tetapi apakah yang pernah kau lakukan terhadap anak itu?”
Empu Sada terdiam sejenak. Sekali ia memandang halaman yang luas itu. Satu dua berkeredipan lampu-lampu minyak yang melemparkan sorotnya bertebaran. Tetapi sorot lampu itu tidak mampu menerangi wajah Empu tua yang sedang gelap. Ketika dikejauhan terdengar bunyi kentongan dara muluk, maka hati orang tua itu pun seakan-akan meledak karenanya. Perlahan-lahan ia berdesah seperti kepada diri sendiri.
“Anak itu anak baik. Untunglah bahwa segala sesuatunya belum terjadi.” Empu Sada berhenti sejenak. Kini ia memandangi wajah emban tua itu dengan saksama. Tampaklah bibir laki-laki tua itu bergerak-gerak. Namun baru kemudian ia berhasil mengucapkan kata-kata, “Maafkan aku Rumanti. Bukan maksudku menyakiti hatimu. Aku tidak tahu apakah yang sedang aku hadapi dan aku tidak menyadari apa yang aku lakukan. Rumanti. Kalau kau masih juga dapat mempercayai kata-kataku, akulah laki-laki pengecut itu. Akulah orang yang bernama Pramuntaka dan aku adalah orang yang tidak tahu diri.”
Alangkah mengejutkan pengakuan itu, sehingga sejenak emban tua itu terpaku diam. Namun gemuruh di dalam dadanya bergelora melampaui gelora kawah gunung berapi. Sorot matanya menghunjam seolah-olah hendak menembus jantung orang yang menyebut dirinya Makerti. Tetapi sejenak mulutnya bagaikan terkunci.
Empu Sada kini menundukkan wajahnya. Pengakuan itu meluncur bagaikan lepasnya seekor burung yang selama ini disimpannya rapat-rapat di dalam sangkar. Tak seorang pun yang dapat mengetahuinya seperti tak seorang pun yang mengenal perempuan itu bernama Jun Rumanti.
“Tetapi.” terdengar kemudian suara perempuan tua itu tersendat-sendat, “tetapi bukankah Pramuntaka itu telah mati?”
“Ya. Kau benar. Pramuntaka memang telah mati, seperti Jun Rumanti yang demikian saja hilang dari lingkungannya. Pramuntaka telah mati. Yang ada kemudian adalah orang lain. Orang yang hidupnya tidak ada sangkut pautnya dengan orang yang bernama Pramuntaka itu. Hidup Pramuntaka telah diakhiri. Dan lahirlah orang baru, Empu Sada.”
“He?” emban tua itu hampir-hampir berteriak mendengar pengakuan laki-laki itu lebih lanjut. “Kaukah orang yang bernama Empu Sada itu pula?”
Kini Empu Sada sendiri terkejut bukan buatan. Pengakuan itu meluncur tanpa disadarinya. Ternyata ia telah terdorong menyebut dirinya Empu Sada. Karena itu maka jantung laki-laki itu berdegup semakin keras. Dengan nanar dipandanginya perempuan tua yang tiba-tiba menjadi sangat tegang. Tetapi ucapan itu sudah terlanjur meloncat dari bibirnya.
Perempuan tua, emban pemomong Ken Dedes itu berdiri seperti sebuah patung. Tetapi patung itu telah membuat Empu Sada gemetar. Lebih baik baginya berhadapan dengan seorang yang bernama Kebo Sindet atau Wong Sarimpat, atau Panji Bojong Santi bahkan Empu Purwa sekalipun, daripada perempuan tua itu. Perempuan yang pernah bernama Jun Rumanti. Dada Empu Sada terasa menjadi retak ketika ia mendengar perempuan tua itu berdesis penuh tekanan
“Jadi kaukah laki-laki itu. Kaukah laki-laki yang bernama Pramuntaka, yang pernah kehilangan perhitungan tentang gadis dalam hubungannya dengan waktu, dan kaukah pula yang kini bernama Empu Sada, yang pernah berusaha membinasakan anakku Mahisa Agni dan hampir-hampir pula mencelakakan momonganku, Ken Dedes.”
Tubuh Empu Sada menjadi semakin gemetar. Sejenak timbullah hasratnya untuk lari. Ia harus meninggalkan halaman itu sebelum para prajurit itu mengenalnya, bahwa ialah orang yang bernama Empu Sada. Ia harus meloncat pagar dan lenyap di balik dinding halaman. Tetapi tiba-tiba hatinya serasa lumpuh. Perempuan tua itu adalah Jun Rumanti. Dalam usianya yang telah lanjut itu, tanpa disadarinya telah terungkat kembali kenangan masa-masa lampaunya. Masa-masa puluhan tahun yang lampau.
Empu Sada, seorang laki-laki yang mampu menghadapi setiap bahaya yang mengancam dirinya, bahkan telah berhasil melepaskan diri dari tangan kakak beradik Kebo Sindet dan Wong Sarimpat itu, kini berdiri sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam dihadapan seorang emban tua. Betapa kekuatan tangannya serta aji yang tersimpan di dalam dirinya, namun Empu Sada tidak akan mampu melawan perasaannya. Terdengar di dalam dadanya suatu keluhan.
“Kembali aku menjadi seorang laki-laki cengeng.”
Empu Sada itu menjadi semakin berdebar-debar ketika kemudian perempuan yang berdiri di depannya itu berkata seperti air yang membanjir. “O, jadi kaukah yang bernama Empu Sada itu. Kini aku tahu. Kau ingin melepaskan sakit hatimu atas anak dan momonganku. Oh alangkah cupet budimu. Aku sangka kau dahulu dengan jujur berkata, “Kembalilah kepada suamimu dan kepada anakmu. Mereka lebih memerlukan kau dari pada aku.” Tetapi ternyata kau menyimpan dendam di dalam hatimu.
Apakah artinya kematian Pramuntaka dan lahirnya seorang yang bernama Empu Sada? Apakah arti kata-katamu bahwa tak ada hubungan antara orang yang bernama Pramuntaka dan Empu Sada itu? Ternyata kau adalah pembohong yang paling besar yang pernah aku temui. Empu Sada adalah nama yang kau pergunakan untuk menyembunyikan dirimu. Dengan demikian kau akan menjadi lebih mudah untuk berbuat sesuatu. Melepaskan dendammu yang puluhan tahun mengeram di dalam dadamu. Kini kau memakai nama lain pula. Makerti, supaya kau dapat melepaskan sebagian dari dendammu.”
Empu Sada menekan dadanya dengan telapak tangannya. Ditahankannya perasaannya sekuat tenaganya. Dibiarkannya perempuan tua itu berkata sepuas-puasnya. Baru ketika emban itu berhenti Empu Sada berkata,
“Rumanti, ternyata kau salah sangka.”
“Apa yang salah?” bantah emban tua itu, “bukankah yang terjadi memang demikian? Untunglah bahwa kau belum dibawa langsung menghadap Tuan Puteri. Apabila demikian, maka istana ini akan mendapat bencana. Memang adalah suatu kemungkinan bahwa seisi istana ini tidak akan mampu menangkapmu, apabila Tuanku Tunggul Ametung sendiri terlambat mendengar. Adalah tidak terlampau sukar bagimu untuk menembus penjagaan para prajurit yang terkantuk-kantuk itu.”
“Rumanti.” sahut Empu Sada dengan nada yang datar. Ditahankannya hatinya. Dengan sareh ia berkata, “Aku dapat mengerti perasaanmu itu. Tetapi ketahuilah bahwa sama sekali tidak tahu bahwa kau berada di sini. Bahwa Mahisa Agni adalah anakmu dan Tuan Puteri adalah momonganmu.”
“Apakah aku harus mempercayainya? Kau yang bernama Pramuntaka dan kemudian menyebut dirimu Empu Sada, apakah mungkin bahwa kau tidak mengerti bahwa akulah Jun Rumanti yang beranakkan Mahisa Agni? Pramuntaka, ternyata bencana yang mengancam anakku itu tidak sekedar datang dari Kuda Sempana yang aku dengar adalah murid Empu Sada, tetapi justru datang darimu sendiri.”
Empu Sada masih mencoba menahan diri sekuat-kuatnya. Dengan dada yang bergetar ia mencoba mendengarkan luapan perasaan perempuan tua itu. Ia sendiri berusaha untuk tidak terseret ke dalam arus perasaan seperti emban pemomong Ken Dedes itu. Ketika perempuan yang dahulu bernama Jun Rumanti itu berhenti sesaat, maka berkatalah Empu Sada.
“Rumanti.”
“Jangan sebut nama itu.” potong perempuan tua itu.
“Baiklah.” Empu Sada mencoba memperbaiki kata-katanya, “Nini, betapa jahatnya Empu Sada, namun kali ini aku masih ingin mendapat kepercayaanmu. Mungkin kalau aku berusaha Nini, barangkali aku memang akan dapat menemukanmu dan mengetahui bahwa Mahisa Agni itu adalah anakmu.”
“Bohong. Aku adalah seorang perempuan yang tidak mempunyai kecakapan apapun. Aku bukan seorang yang sakti yang memiliki aji di dalam diriku. Aku bukan seorang perantau yang mengembara dari satu tempat ke lain tempat. Namun aku berhasil menemukan anakku sepeninggal suamiku.”
“Sebenarnyalah demikian Nini.” sahut Empu Sada, “sekali lagi aku katakan, bahwa aku memang tidak berusaha demikian. Aku tidak mencari seorang gadis yang bernama Jun Rumanti. Aku tidak mencari suaminya atau anaknya. Tidak. Justru aku selalu mencoba menjauhinya seperti aku mencoba menjauhi semua kenang-kenangan yang pernah terjadi. Itulah bedanya. Kau mencari dan aku justru menghindari.”
Emban itu terdiam sejenak. Kesabaran Empu Sada ternyata mempengaruhi tanggapannya atas peristiwa yang sedang dihadapinya, la kemudian dapat mengerti keterangan Empu Sada itu, bahwa Empu Sada yang dahulu bernama Pramuntaka, tidak mengetahui siapakah Mahisa Agni.
Keduanja sejenak terdiam. Masing-masing mencoba mencernakan, apakah yang sedang mereka hadapi. Sedang angin malam berdesau semakin kencang. Dan nyala-nyala pelita meronta-ronta karena sentuhan angin itu.
Emban tua itu menundukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menangis. Sedang Empu Sada berdiri tegak seperti tonggak mati. Keduanya masih belum mengucapkan kata-kata. Tetapi dada mereka masih saja bergelora. Di kejauhan para prajurit sudah mulai dihinggapi oleh kecurigaan. Apakah laki-laki tua itu masih juga memaksakan keinginannya untuk menghadap Ken Dedes? Pembicaraan mereka telah berlangsung terlampau lama. Tetapi agaknya mereka masih belum menemukan kesepakatan.
“Apakah laki-laki tua itu gila?” tiba-tiba terdengar salah seorang dari mereka berdesis.
Kawannya yang lain menggeliat sambil menguap, “Persetan. Kalau perempuan tua itu memanggil, barulah aku akan datang. Huh. Masih berapa lama lagi kita mendapat ganti. Aku sudah mulai lapar.”
Prajurit yang telah membawa Empu Sada masuk menyahut. “Ternyata aku Akhirnya tidak dapat menunggu lagi. Kalau mereka masih juga bertengkar terlampau lama, maka aku harus kembali ke tempatku.”
“Tunggulah sebentar. Kau yang membawanya kemari. Mungkin kau harus membawanya keluar pula sebentar lagi.”
Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Baiklah. Aku lebih senang duduk di sini daripada datang giliranku untuk berdiri hilir mudik di samping regol.”
Kawannya yang bertugas di regol mendengar pula percakapan mereka. Sekilas ia memandangi prajurit yang sebenarnya harus bertugas di regol luar. Tetapi kemudian ia tidak menghiraukannya lagi.
Sementara itu, Empu Sada masih juga berdiam diri. Ditatapnya wajah perempuan tua yang berdiri dihadapannya sambil menunduk.
“Nini.” berkata Empu Sada kemudian, “apakah kau telah benar-benar kehilangan segenap kepercayaanmu kepadaku.”
“Bagaimana mungkin aku dapat mempercayaimu Empu.”
Empu Sada menarik nafas dalam. Tetapi harapannya kini telah tumbuh kembali. Perempuan tua itu kini telah tidak terlampau keras lagi.
“Nini.” berkata Empu Sada lebih lanjut, “aku ingin menghadap Tuan Puteri.”
Emban itu mengangkat wajahnya. Sambil mengerutkan keningnya ia berkata, “Kau hampir-hampir mencelakakannya. Kini apakah kau masih juga berhasrat untuk menculiknya?”
“Ada sebuah ceritera yang panjang Nini.” berkata Empu Sada, “tetapi akhir daripada ceritera itu telah menuntun aku kemari dengan maksud yang baik. Mungkin aku seorang yang sejahat-jahatnya, sehingga aku tidak akan mendapat jalan kembali tanpa menjadi putus asa lebih dahulu. Aku kini mengalami keputus asaan itu. Itulah sebabnya aku datang kemari. Aku ingin mematikan Empu Sada itu pula seperti aku ingin mematikan Pramuntaka dahulu. Aku ingin hidup dalam bentuk yang lain lagi. Keadaan telah membenturkan kesadaranku, bahwa jalan yang selama ini aku tempuh bukanlah jalan yang sebaik-baiknya.”
“Apa lagi yang telah terjadi pada dirimu. Ternyata hidupmu dipenuhi oleh keputus asaan. Seperti orang yang berjalan di dalam kegelapan, kau meraba-raba tanpa tujuan. Kalau ternyata jalan itu salah, dan kau telah terperosok dalam keputus-asaan, maka kau mencoba mencari jalan yang lain. Tetapi kau tidak mempunyai suatu garis lurus yang harus kau perjuangkan.”
“Kau benar Nini. Kau benar. Aku hidup seperti kapuk yang diterbangkan angin. Kemana angin bertiup, ke arah itulah aku terbang. Namun kini, meskipun mungkin aku akan hanyut lagi tanpa aku ketahui, tetapi aku ingin menyampaikan sesuatu kepada Tuan Puteri. Dan tentu saja kepadamu, setelah aku tahu bahwa Mahisa Agni adalah anakmu.”
Emban pemomong Ken Dedes itu kini mengerutkan keningnya. Ditatapnya wajah orang yang menyebut dirinya Makerti itu. Wajah itu sama sekali tidak dapat dikenalnya sebagai wajah seorang yang pernah bernama Pramuntaka. Puluhan tahun yang lampau. sejak Mahisa Agni masih di dalam kandungan ia bertemu untuk yang terakhir kalinya. Karena itu, maka wajah laki-laki tua itu telah berubah sama sekali. Pengalaman yang pahit, yang pedih dan segala macam pengalaman yang lain telah mencetak muka laki-laki itu menjadi wajah Empu Sada yang hidup di dalam dunia yang asing.
Tetapi wajah perempuan itu pun telah berubah pula. Tak ada lagi sisa-sisa kecantikan wajah seorang gadis yang bernama Jun Rumanti. Tak ada lagi senyum yang cerah dan suara tawa yang renyah. Namun sorot mata itu masih setajam sorot mata Jun Rumanti.
“Kaki Makerti.” berkata emban itu, “apakah sebenarnya yang akan kau sampaikan kepada Tuan Puteri?.”
Empu Sada ragu-ragu sejenak. Tetapi ia harus mengatakan setidak-tidaknya sebagian dari seluruh keterangannya. Apabila tidak demikian, maka ia pasti tidak akan mendapat kepercayaan dari perempuan tua itu. Apalagi setelah diketahuinya bahwa Mahisa Agni adalah anaknya.
“Rumanti.” desis Empu Sada.
“Sekali lagi, jangan sebut nama itu.” potong perempuan itu.
“O, maafkan aku Nini.” Empu Sada menelan ludahnya, lalu ia meneruskan, “ada yang akan aku sampaikan kepada Tuan Puteri justru dalam hubungannya dengan anakmu itu.”
“Ya katakanlah.”
“Anakmu kini berada dalam bahaya Nini.”
“Sudah lama ia berada dalam bahaya, sejak ia mengurungkan niat Kuda Sempana, muridmu, untuk mengambil Ken Dedes menjadi isteri dengan caranya yang kasar.”
“Ya, ya. Kau benar. Tetapi kini bahaya itu menjadi semakin besar.”
“Kaukah yang mengatakan itu? Kau salah seorang yang membahayakan baginya.”
“Sudah aku katakan. Aku kembali terbentur pada suatu keadaan yang memaksaku menjadi sekali lagi berputus-asa. Bukan karena sisa-sisa kebaikan hatiku sehingga aku menyadari kejahatan serta kekeliruanku di masa-masa yang lampau, tetapi aku kini sedang berputus asa. Empu Sada bukan seorang yang pantas mendapat tempat dimana pun. Ia adalah seorang yang tidak akan berguna bagi siapa pun, seperti Pramuntaka tidak akan berguna bagi siapa pun juga. Tetapi Nini, kali ini, aku mengharap kau mendengarkan kata-kataku, selagi aku tidak tahu apa yang sebaiknya aku kerjakan. Aku sendiri tidak yakin, apakah sikap ini akan berlaku seterusnya. Aku ragu-ragu terhadap diriku sendiri. Dan orang seperti aku, yang sudah kehilangan kepercayaan kepada dirinya sendiri, adalah orang yang paling tidak berguna.”
Emban tua itu mengernyitkan alisnya. Terasa kejujuran memancar dari setiap kata Empu Sada. Apalagi ketika Empu Sada itu berkata, “Nini, berilah aku kesempatan. Selain tentang Mahisa Agni, aku ingin mohon maaf kepada Tuan Puteri atas segala kelakuanku di masa-masa yang lewat. Aku tidak tahu, apakah aku tidak akan kambuh kembali. Tetapi sekarang, percayalah, bahwa hatiku sedang gelap, sehingga tidak ada jalan lain daripada menyerahkan diri dalam keputus asaan. Nini jangan menunggu aku menjadi gila. Ketika aku masuk ke dalam halaman ini, memang terbersit kehendak yang gila itu. Kenapa tidak saja lebih baik bagiku mengambil Ken Dedes untuk kepentingan yang bermacam-macam.
Untunglah, bahwa aku sedang berada dalam ketakutan. Aku tidak berani menghadapi lawan-lawanku yang kini mengelilingi aku. Empu Purwa, ayah gadis itu, Empu Gandring yang selalu berada di dekat Mahisa Agni, Panji Bojong Santi yang pernah mengurungkan niatku menculik Tuan Puteri di jalan ke Panawijen dan yang paling gila adalah Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Keduanya itulah yang paling berbahaya bagiku dan bagi Mahisa Agni. Muridku, Kuda Sempana kini ada pada mereka. Adalah suatu bahaya yang tak terkirakan, bahwa kedua setan itu ingin menangkap Mahisa Agni tidak untuk Kuda Sempana, tetapi justru untuk memeras Tuan Puteri Ken Dedes dan Tuanku Tunggul Ametung.”
Dada perempuan tua itu berguncang mendengar kata-kata Empu Sada. Tiba-tiba tumbuhlah kepercayaan di dalam hatinya, bahwa Empu Sada benar-benar sedang dalam keputus asaan. Namun sejalan dengan itu, maka hatinya pun kini dicengkam oleh kecemasan tentang anaknya. Karena itu, maka emban itu pun menjadi gelisah. Sejenak ia berdiam diri dalam ke bimbangan. Tetapi perempuan tua itu terhenyak ketika ia mendengar seorang prajurit menegurnya, prajurit yang membawa Empu Sada masuk ke halaman dalam,
“Kaki, bagaimana dengan Kau? Apakah kau masih juga betah berdiri di situ sampai pagi untuk memaksa menghadap Tuan Puteri Ken Dedes.”
Empu Sada tidak menjawab. Ditatapnya saja wajah perempuan tua dihadapannya, seolah-olah minta kepadanya untuk menjawab pertanyaan prajurit itu.
“Oh, kalau kau punyai gadis itu Kaki.” desak perempuan tua itu, “maka kau akan merasakan, betapa seorang gadis tidak dapat membiarkan waktu lewat tanpa menggoreskan luka di dadanya semakin banyak hari-hari yang dilewatinya untuk menunggu, maka kegelisahan di hatinya menjadi semakin menyala.”
“Ya, ya aku tahu Nini.” potong Empu Sada, “tetapi tidak demikian dengan gadis yang bernama Rumanti itu. Mereka sebelumnya telah berjanji, dan Rumanti tahu, bahwa Pramuntaka sedang pergi merantau untuk mempersiapkan hari-hari yang bakal mereka jelang. Tetapi ketika Pramuntaka kembali, maka gadis itu telah membawa seorang anak laki-laki di dalam dukungannya.”
“Cukup. Cukup.” tetapi suara perempuan itu seakan-akan tersumbat di kerongkongan.
“Kalau kau keluarga dari perempuan itu Nini, maka dengarlah keluhan hati Pramuntaka yang meratapi kegagalannya. Laki-laki cengeng itu menganggap bahwa hidupnya sudah tidak akan berarti lagi.”
“Tetapi perempuan itu pun telah menyiksa dirinya sendiri Kaki. Ia menyesal karena iapun Akhirnya kehilangan segala-galanya.”
“Bohong.” sahut Empu Sada, “itu hanya sebuah dongeng ngayawara. Ternyata kaulah yang hanya mendengar dongeng di sepanjang jalan tentang Pramuntaka dan Jun Rumanti itu. Ternyata kaulah yang hanya mendengar ceritera itu berdesah dari mulut ke mulut. Kau tidak melihat dari dekat, dan kau tidak turut serta merasakan betapa kepahitan dari peristiwa itu membekas sampai akhir hayatnya.”
“Kau yang bohong.” bantah perempuan itu. Namun kini mulai terdengar isak tangisnya, “perempuan itu pun telah menerima hukumannya.”
“Kembali kau mengarang ceritera itu. Mungkin kau kenal keduanya, tetapi kau tidak mengenal perasaan mereka.”
“Tentu, tentu Kaki Makerti, aku tentu mengenal perasaan mereka seperti aku mengenal perasaan sendiri. Aku mengenal perasaan gadis itu melampaui setiap orang yang pernah mengenalnya.”
“Nini emban.” tiba-tiba suara Empu Sada menjadi datar dan berat. Serasa sesuatu menyumbat kerongkongannya. Namun laki-laki itu memaksa mengucapkan kata-kata, “Nini, kenapa kau mengenal perasaan gadis itu melampaui setiap orang? Nah, katakan kepadaku Nini, apakah kau yang bernama Jun Rumanti?”
Emban tua itu terkejut mendengar pertanyaan itu. Sekali lagi ia bergeser setapak menjauhi laki-laki yang berdiri di hadapannya. Dengan tajamnya ia memandangi wajah laki-laki tua itu, namun kemudian wajahnya tertunduk. Dengan ujung kembennya ia menyeka matanya. Dan tiba-tiba mata itu kini menjadi kering. Ketika perempuan itu mengangkat kepalanya, maka ia berkata,
“Tak ada gunanya air mata buatku. Buat orang tua-tua.” kemudian dengan tegas ia berkata, “Ya, aku lah Jun Rumanti itu.”
Jawaban itu telah diduga oleh Empu Sada yang menyebut dirinya Makerti. Namun meskipun demikian terasa juga dadanya berdesir, dan karenanya maka sejenak ia pun terdiam.
“Kaki Makerti, kini kau telah berhadapan dengan perempuan itu. Jun Rumanti. Nah, bertanyalah kepadanya, kenapa ia tidak setia menunggu Pramuntaka yang pergi tanpa sebuah pertanggungan jawab pun menghadapi gadis dan waktu.”
Empu Sada tidak segera menjawab. Namun setelah ia mencoba menenangkan dirinya ia berkata, “Maaf aku Nini.”
“Apa yang harus dimaafkan? Aku tidak menyesali kata-katamu. Mungkin kau hanya mendengarnya dari Pramuntaka. Itu adalah haknya untuk menyatakan perasaannya. Dan ketahuilah Kaki, bahwa anak Jun Rumanti itu kini telah menjadi seorang anak laki-laki yang cukup memberinya kebanggaan.”
“Dimana ayahnya sekarang?”
“Huh, apakah kau berpura-pura.”
“Aku belum mengenalnya.”
“Ayahnya telah mati seperti Pramuntaka pun telah mati. Laki-laki itu lari tanpa meninggalkan pesan apapun.”
“Pendengaranku tentang laki-laki suamimu itu ternyata benar.”
“He, kau telah mengetahuinya pula?” bertanya emban tua itu, yang ternyata bernama Jun Rumanti di masa gadisnya, “kenapa kau mempunyai perhatian yang sedemikian besar atas Jun Rumanti itu dan suaminya pula?”
“Tidak apa-apa. Aku mengetahuinya seperti aku mengetahui banyak tentang Pramuntaka.” Emban tua itu menarik nafas dalam-dalam. “Dimana anakmu sekarang Nini?” bertanya Empu Sada.
“Anakku telah kau kenal. Kau telah mengakui menjadi paman Ken Dedes dan membawa pesan dari laki-laki itu.”
“He? Kau maksud bahwa anakmu bernama Mahisa Agni?” wajah Empu Sada tiba-tiba menjadi semakin tegang sehingga jalur-jalur nadinya seakan-akan ingin mencuat keluar dari wajah kulitnya yang berwarna tembaga.
Emban tua itu pun terkejut mendengar pertanyaan Empu Sada dalam nada yang tinggi. Kini emban itulah yang melihat Empu Sada tiba-tiba menjadi sangat gelisah. Sekali lagi ia menegaskan.
“Nini, apakah anak muda yang bernama Mahisa Agni itu anakmu?”
Emban tua yang bernama Jun Rumanti di masa gadisnya itu menganggukkan kepalanya sambil menjawab, “Ya, Kaki. Mahisa Agni itu adalah anakku.”
“Oh.” tiba-tiba Empu Sada itu menundukkan wajahnya. Terasa dadanya seakan-akan terhimpit batu yang terlontar dari lereng Gunung Kawi.
Dalam pada itu, emban tua itu pun tertegun. Ia belum pernah mengatakan kepada siapapun, bahwa Mahisa Agni itu adalah anaknya. Namun tiba-tiba, kepada orang yang baru saja dikenalnya itu ia berterus terang, bahwa Mahisa Agni adalah anaknya. Tetapi tanggapan laki-laki tua itu pun sangat menarik perhatiannya. Didengarnya orang yang menyebut dirinya Makerti itu berdesah beberapa kali.
“Kenapa Kaki.” bertanya emban tua itu, “kenapa kalau Mahisa Agni itu anakku?”
“Tidak apa-apa Rumanti.”
“Jangan panggil aku dengan nama itu. Panggil aku kini sebagai seorang emban Tuan Puteri Ken Dedes.”
“Ya Nini emban.”
“Tetapi kenapa dengan Mahisa Agni?”
“Aku tidak menyangka, bahwa Mahisa Agni itu adalah anakmu.”
“Tak seorang pun tahu, bahwa Mahisa Agni itu anakku. Mungkin pamannya, Empu Gandring telah mendengar dari Agni, bahwa aku disini. Tetapi orang lain tidak. Ken Dedes, momonganku itu pun tidak tahu, bahwa kakak angkatnya, Mahisa Agni adalah anakku, anak pemomongnya.”
“Itukah akibat dari penyesalanmu atas peristiwa yang pernah terjadi dalam hidupmu itu!”
“Ya, salah satu bentuk daripadanya.”
“Kau membuang dirimu?
“Ya.”
“Tetapi apakah Mahisa Agni tahu bahwa kau adalah ibunya?”
“Ya.”
Sekali lagi terdengar Empu Sada berdesah. Bahkan beberapa kali tangannya mengusap peluhnya yang menitik dari dahinya. Dalam kesuraman cahaya pelita di kejauhan, maka wajah yang tegang itu tampaknya menjadi bertambah tegang.
“Aku tidak menyangka.” desis Empu Sada.
“Sekarang kau tahu, dan apakah yang akan kau lakukan atas anak itu? Anak itu adalah anakku. Anak Jun Rumanti yang telah melukai, bahkan menurut katamu mengkhianati orang yang bernama Pramuntaka itu, yang mungkin adalah sahabatmu atau saudaramu atau apa saja. Ternyata kau benar-benar mengetahui keadaannya hampir sempurna.”
Ternyata Empu Sada menjadi semakin gelisah mendengar kata-kata Jun Rumanti, emban pemomong Ken Dedes itu, sehingga ia tidak lagi berhasil menyembunyikan perasaannya. Kata-kata emban tua yang tidak disadari oleh perempuan itu sendiri seakan-akan telah menunjuk wajahnya, bahwa ia pernah berbuat sesuatu atas Mahisa Agni, bahkan pernah berusaha untuk membunuhnya.
Empu Sada itu memalingkan wajahnya ketika emban itu berkata, “Bagaimana Kaki. Apakah sekarang yang akan kau katakan? Apakah kau benar-benar mendapat pesan dari Mahisa Agni untuk kemanakanmu Ken Dedes?”
“Maafkan Rumanti, aku tidak tahu bahwa Mahisa Agni adalah anakmu.”
“Jangan panggil aku dengan nama itu. Rumanti telah tidak ada lagi. Yang ada adalah emban tua pemomong Tuan Puteri Ken Dedes ini.” emban itu berhenti sejenak. Kemudian dilanjutkannya. “Tetapi kenapa dengan Mahisa Agni setelah kau tahu bahwa Mahisa Agni adalah anakku.”
Gelora di dalam dada Empu Sada menjadi semakin gemuruh. Terbayang di dalam angan-angannya, betapa ia mengejar-ngejar anak itu bersama muridnya Kuda Sempana. Namun tiba-tiba Empu Sada itu bergumam,
“Tetapi Nini, kali ini maksud kedatanganku adalah baik. Aku justru ingin menyelamatkan anak muda itu.”
“Kaki Makerti.” potong emban tua itu, “kenapa kali ini? Apakah di kali lain kau mempunyai maksud yang lain pula?”
Empu tua yang menyebut dirinya Makerti itu kini benar-benar tidak lagi dapat menahan arus perasaannya yang seakan-akan ingin memecahkan dadanya. Tiba-tiba ia tertunduk lemah sambil berdesis,
“Aku tidak tahu Nini. Aku tidak tahu kalau anak muda itu anakmu?”
“Kenapa kalau anakku? Kau tidak mempunyai sangkut paut dengan aku. Kau tidak mempunyai sangkut-paut dengan Mahisa Agni. Tetapi apakah yang pernah kau lakukan terhadap anak itu?”
Empu Sada terdiam sejenak. Sekali ia memandang halaman yang luas itu. Satu dua berkeredipan lampu-lampu minyak yang melemparkan sorotnya bertebaran. Tetapi sorot lampu itu tidak mampu menerangi wajah Empu tua yang sedang gelap. Ketika dikejauhan terdengar bunyi kentongan dara muluk, maka hati orang tua itu pun seakan-akan meledak karenanya. Perlahan-lahan ia berdesah seperti kepada diri sendiri.
“Anak itu anak baik. Untunglah bahwa segala sesuatunya belum terjadi.” Empu Sada berhenti sejenak. Kini ia memandangi wajah emban tua itu dengan saksama. Tampaklah bibir laki-laki tua itu bergerak-gerak. Namun baru kemudian ia berhasil mengucapkan kata-kata, “Maafkan aku Rumanti. Bukan maksudku menyakiti hatimu. Aku tidak tahu apakah yang sedang aku hadapi dan aku tidak menyadari apa yang aku lakukan. Rumanti. Kalau kau masih juga dapat mempercayai kata-kataku, akulah laki-laki pengecut itu. Akulah orang yang bernama Pramuntaka dan aku adalah orang yang tidak tahu diri.”
Alangkah mengejutkan pengakuan itu, sehingga sejenak emban tua itu terpaku diam. Namun gemuruh di dalam dadanya bergelora melampaui gelora kawah gunung berapi. Sorot matanya menghunjam seolah-olah hendak menembus jantung orang yang menyebut dirinya Makerti. Tetapi sejenak mulutnya bagaikan terkunci.
Empu Sada kini menundukkan wajahnya. Pengakuan itu meluncur bagaikan lepasnya seekor burung yang selama ini disimpannya rapat-rapat di dalam sangkar. Tak seorang pun yang dapat mengetahuinya seperti tak seorang pun yang mengenal perempuan itu bernama Jun Rumanti.
“Tetapi.” terdengar kemudian suara perempuan tua itu tersendat-sendat, “tetapi bukankah Pramuntaka itu telah mati?”
“Ya. Kau benar. Pramuntaka memang telah mati, seperti Jun Rumanti yang demikian saja hilang dari lingkungannya. Pramuntaka telah mati. Yang ada kemudian adalah orang lain. Orang yang hidupnya tidak ada sangkut pautnya dengan orang yang bernama Pramuntaka itu. Hidup Pramuntaka telah diakhiri. Dan lahirlah orang baru, Empu Sada.”
“He?” emban tua itu hampir-hampir berteriak mendengar pengakuan laki-laki itu lebih lanjut. “Kaukah orang yang bernama Empu Sada itu pula?”
Kini Empu Sada sendiri terkejut bukan buatan. Pengakuan itu meluncur tanpa disadarinya. Ternyata ia telah terdorong menyebut dirinya Empu Sada. Karena itu maka jantung laki-laki itu berdegup semakin keras. Dengan nanar dipandanginya perempuan tua yang tiba-tiba menjadi sangat tegang. Tetapi ucapan itu sudah terlanjur meloncat dari bibirnya.
Perempuan tua, emban pemomong Ken Dedes itu berdiri seperti sebuah patung. Tetapi patung itu telah membuat Empu Sada gemetar. Lebih baik baginya berhadapan dengan seorang yang bernama Kebo Sindet atau Wong Sarimpat, atau Panji Bojong Santi bahkan Empu Purwa sekalipun, daripada perempuan tua itu. Perempuan yang pernah bernama Jun Rumanti. Dada Empu Sada terasa menjadi retak ketika ia mendengar perempuan tua itu berdesis penuh tekanan
“Jadi kaukah laki-laki itu. Kaukah laki-laki yang bernama Pramuntaka, yang pernah kehilangan perhitungan tentang gadis dalam hubungannya dengan waktu, dan kaukah pula yang kini bernama Empu Sada, yang pernah berusaha membinasakan anakku Mahisa Agni dan hampir-hampir pula mencelakakan momonganku, Ken Dedes.”
Tubuh Empu Sada menjadi semakin gemetar. Sejenak timbullah hasratnya untuk lari. Ia harus meninggalkan halaman itu sebelum para prajurit itu mengenalnya, bahwa ialah orang yang bernama Empu Sada. Ia harus meloncat pagar dan lenyap di balik dinding halaman. Tetapi tiba-tiba hatinya serasa lumpuh. Perempuan tua itu adalah Jun Rumanti. Dalam usianya yang telah lanjut itu, tanpa disadarinya telah terungkat kembali kenangan masa-masa lampaunya. Masa-masa puluhan tahun yang lampau.
Empu Sada, seorang laki-laki yang mampu menghadapi setiap bahaya yang mengancam dirinya, bahkan telah berhasil melepaskan diri dari tangan kakak beradik Kebo Sindet dan Wong Sarimpat itu, kini berdiri sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam dihadapan seorang emban tua. Betapa kekuatan tangannya serta aji yang tersimpan di dalam dirinya, namun Empu Sada tidak akan mampu melawan perasaannya. Terdengar di dalam dadanya suatu keluhan.
“Kembali aku menjadi seorang laki-laki cengeng.”
Empu Sada itu menjadi semakin berdebar-debar ketika kemudian perempuan yang berdiri di depannya itu berkata seperti air yang membanjir. “O, jadi kaukah yang bernama Empu Sada itu. Kini aku tahu. Kau ingin melepaskan sakit hatimu atas anak dan momonganku. Oh alangkah cupet budimu. Aku sangka kau dahulu dengan jujur berkata, “Kembalilah kepada suamimu dan kepada anakmu. Mereka lebih memerlukan kau dari pada aku.” Tetapi ternyata kau menyimpan dendam di dalam hatimu.
Apakah artinya kematian Pramuntaka dan lahirnya seorang yang bernama Empu Sada? Apakah arti kata-katamu bahwa tak ada hubungan antara orang yang bernama Pramuntaka dan Empu Sada itu? Ternyata kau adalah pembohong yang paling besar yang pernah aku temui. Empu Sada adalah nama yang kau pergunakan untuk menyembunyikan dirimu. Dengan demikian kau akan menjadi lebih mudah untuk berbuat sesuatu. Melepaskan dendammu yang puluhan tahun mengeram di dalam dadamu. Kini kau memakai nama lain pula. Makerti, supaya kau dapat melepaskan sebagian dari dendammu.”
Empu Sada menekan dadanya dengan telapak tangannya. Ditahankannya perasaannya sekuat tenaganya. Dibiarkannya perempuan tua itu berkata sepuas-puasnya. Baru ketika emban itu berhenti Empu Sada berkata,
“Rumanti, ternyata kau salah sangka.”
“Apa yang salah?” bantah emban tua itu, “bukankah yang terjadi memang demikian? Untunglah bahwa kau belum dibawa langsung menghadap Tuan Puteri. Apabila demikian, maka istana ini akan mendapat bencana. Memang adalah suatu kemungkinan bahwa seisi istana ini tidak akan mampu menangkapmu, apabila Tuanku Tunggul Ametung sendiri terlambat mendengar. Adalah tidak terlampau sukar bagimu untuk menembus penjagaan para prajurit yang terkantuk-kantuk itu.”
“Rumanti.” sahut Empu Sada dengan nada yang datar. Ditahankannya hatinya. Dengan sareh ia berkata, “Aku dapat mengerti perasaanmu itu. Tetapi ketahuilah bahwa sama sekali tidak tahu bahwa kau berada di sini. Bahwa Mahisa Agni adalah anakmu dan Tuan Puteri adalah momonganmu.”
“Apakah aku harus mempercayainya? Kau yang bernama Pramuntaka dan kemudian menyebut dirimu Empu Sada, apakah mungkin bahwa kau tidak mengerti bahwa akulah Jun Rumanti yang beranakkan Mahisa Agni? Pramuntaka, ternyata bencana yang mengancam anakku itu tidak sekedar datang dari Kuda Sempana yang aku dengar adalah murid Empu Sada, tetapi justru datang darimu sendiri.”
Empu Sada masih mencoba menahan diri sekuat-kuatnya. Dengan dada yang bergetar ia mencoba mendengarkan luapan perasaan perempuan tua itu. Ia sendiri berusaha untuk tidak terseret ke dalam arus perasaan seperti emban pemomong Ken Dedes itu. Ketika perempuan yang dahulu bernama Jun Rumanti itu berhenti sesaat, maka berkatalah Empu Sada.
“Rumanti.”
“Jangan sebut nama itu.” potong perempuan tua itu.
“Baiklah.” Empu Sada mencoba memperbaiki kata-katanya, “Nini, betapa jahatnya Empu Sada, namun kali ini aku masih ingin mendapat kepercayaanmu. Mungkin kalau aku berusaha Nini, barangkali aku memang akan dapat menemukanmu dan mengetahui bahwa Mahisa Agni itu adalah anakmu.”
“Bohong. Aku adalah seorang perempuan yang tidak mempunyai kecakapan apapun. Aku bukan seorang yang sakti yang memiliki aji di dalam diriku. Aku bukan seorang perantau yang mengembara dari satu tempat ke lain tempat. Namun aku berhasil menemukan anakku sepeninggal suamiku.”
“Sebenarnyalah demikian Nini.” sahut Empu Sada, “sekali lagi aku katakan, bahwa aku memang tidak berusaha demikian. Aku tidak mencari seorang gadis yang bernama Jun Rumanti. Aku tidak mencari suaminya atau anaknya. Tidak. Justru aku selalu mencoba menjauhinya seperti aku mencoba menjauhi semua kenang-kenangan yang pernah terjadi. Itulah bedanya. Kau mencari dan aku justru menghindari.”
Emban itu terdiam sejenak. Kesabaran Empu Sada ternyata mempengaruhi tanggapannya atas peristiwa yang sedang dihadapinya, la kemudian dapat mengerti keterangan Empu Sada itu, bahwa Empu Sada yang dahulu bernama Pramuntaka, tidak mengetahui siapakah Mahisa Agni.
Keduanja sejenak terdiam. Masing-masing mencoba mencernakan, apakah yang sedang mereka hadapi. Sedang angin malam berdesau semakin kencang. Dan nyala-nyala pelita meronta-ronta karena sentuhan angin itu.
Emban tua itu menundukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menangis. Sedang Empu Sada berdiri tegak seperti tonggak mati. Keduanya masih belum mengucapkan kata-kata. Tetapi dada mereka masih saja bergelora. Di kejauhan para prajurit sudah mulai dihinggapi oleh kecurigaan. Apakah laki-laki tua itu masih juga memaksakan keinginannya untuk menghadap Ken Dedes? Pembicaraan mereka telah berlangsung terlampau lama. Tetapi agaknya mereka masih belum menemukan kesepakatan.
“Apakah laki-laki tua itu gila?” tiba-tiba terdengar salah seorang dari mereka berdesis.
Kawannya yang lain menggeliat sambil menguap, “Persetan. Kalau perempuan tua itu memanggil, barulah aku akan datang. Huh. Masih berapa lama lagi kita mendapat ganti. Aku sudah mulai lapar.”
Prajurit yang telah membawa Empu Sada masuk menyahut. “Ternyata aku Akhirnya tidak dapat menunggu lagi. Kalau mereka masih juga bertengkar terlampau lama, maka aku harus kembali ke tempatku.”
“Tunggulah sebentar. Kau yang membawanya kemari. Mungkin kau harus membawanya keluar pula sebentar lagi.”
Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Baiklah. Aku lebih senang duduk di sini daripada datang giliranku untuk berdiri hilir mudik di samping regol.”
Kawannya yang bertugas di regol mendengar pula percakapan mereka. Sekilas ia memandangi prajurit yang sebenarnya harus bertugas di regol luar. Tetapi kemudian ia tidak menghiraukannya lagi.
Sementara itu, Empu Sada masih juga berdiam diri. Ditatapnya wajah perempuan tua yang berdiri dihadapannya sambil menunduk.
“Nini.” berkata Empu Sada kemudian, “apakah kau telah benar-benar kehilangan segenap kepercayaanmu kepadaku.”
“Bagaimana mungkin aku dapat mempercayaimu Empu.”
Empu Sada menarik nafas dalam. Tetapi harapannya kini telah tumbuh kembali. Perempuan tua itu kini telah tidak terlampau keras lagi.
“Nini.” berkata Empu Sada lebih lanjut, “aku ingin menghadap Tuan Puteri.”
Emban itu mengangkat wajahnya. Sambil mengerutkan keningnya ia berkata, “Kau hampir-hampir mencelakakannya. Kini apakah kau masih juga berhasrat untuk menculiknya?”
“Ada sebuah ceritera yang panjang Nini.” berkata Empu Sada, “tetapi akhir daripada ceritera itu telah menuntun aku kemari dengan maksud yang baik. Mungkin aku seorang yang sejahat-jahatnya, sehingga aku tidak akan mendapat jalan kembali tanpa menjadi putus asa lebih dahulu. Aku kini mengalami keputus asaan itu. Itulah sebabnya aku datang kemari. Aku ingin mematikan Empu Sada itu pula seperti aku ingin mematikan Pramuntaka dahulu. Aku ingin hidup dalam bentuk yang lain lagi. Keadaan telah membenturkan kesadaranku, bahwa jalan yang selama ini aku tempuh bukanlah jalan yang sebaik-baiknya.”
“Apa lagi yang telah terjadi pada dirimu. Ternyata hidupmu dipenuhi oleh keputus asaan. Seperti orang yang berjalan di dalam kegelapan, kau meraba-raba tanpa tujuan. Kalau ternyata jalan itu salah, dan kau telah terperosok dalam keputus-asaan, maka kau mencoba mencari jalan yang lain. Tetapi kau tidak mempunyai suatu garis lurus yang harus kau perjuangkan.”
“Kau benar Nini. Kau benar. Aku hidup seperti kapuk yang diterbangkan angin. Kemana angin bertiup, ke arah itulah aku terbang. Namun kini, meskipun mungkin aku akan hanyut lagi tanpa aku ketahui, tetapi aku ingin menyampaikan sesuatu kepada Tuan Puteri. Dan tentu saja kepadamu, setelah aku tahu bahwa Mahisa Agni adalah anakmu.”
Emban pemomong Ken Dedes itu kini mengerutkan keningnya. Ditatapnya wajah orang yang menyebut dirinya Makerti itu. Wajah itu sama sekali tidak dapat dikenalnya sebagai wajah seorang yang pernah bernama Pramuntaka. Puluhan tahun yang lampau. sejak Mahisa Agni masih di dalam kandungan ia bertemu untuk yang terakhir kalinya. Karena itu, maka wajah laki-laki tua itu telah berubah sama sekali. Pengalaman yang pahit, yang pedih dan segala macam pengalaman yang lain telah mencetak muka laki-laki itu menjadi wajah Empu Sada yang hidup di dalam dunia yang asing.
Tetapi wajah perempuan itu pun telah berubah pula. Tak ada lagi sisa-sisa kecantikan wajah seorang gadis yang bernama Jun Rumanti. Tak ada lagi senyum yang cerah dan suara tawa yang renyah. Namun sorot mata itu masih setajam sorot mata Jun Rumanti.
“Kaki Makerti.” berkata emban itu, “apakah sebenarnya yang akan kau sampaikan kepada Tuan Puteri?.”
Empu Sada ragu-ragu sejenak. Tetapi ia harus mengatakan setidak-tidaknya sebagian dari seluruh keterangannya. Apabila tidak demikian, maka ia pasti tidak akan mendapat kepercayaan dari perempuan tua itu. Apalagi setelah diketahuinya bahwa Mahisa Agni adalah anaknya.
“Rumanti.” desis Empu Sada.
“Sekali lagi, jangan sebut nama itu.” potong perempuan itu.
“O, maafkan aku Nini.” Empu Sada menelan ludahnya, lalu ia meneruskan, “ada yang akan aku sampaikan kepada Tuan Puteri justru dalam hubungannya dengan anakmu itu.”
“Ya katakanlah.”
“Anakmu kini berada dalam bahaya Nini.”
“Sudah lama ia berada dalam bahaya, sejak ia mengurungkan niat Kuda Sempana, muridmu, untuk mengambil Ken Dedes menjadi isteri dengan caranya yang kasar.”
“Ya, ya. Kau benar. Tetapi kini bahaya itu menjadi semakin besar.”
“Kaukah yang mengatakan itu? Kau salah seorang yang membahayakan baginya.”
“Sudah aku katakan. Aku kembali terbentur pada suatu keadaan yang memaksaku menjadi sekali lagi berputus-asa. Bukan karena sisa-sisa kebaikan hatiku sehingga aku menyadari kejahatan serta kekeliruanku di masa-masa yang lampau, tetapi aku kini sedang berputus asa. Empu Sada bukan seorang yang pantas mendapat tempat dimana pun. Ia adalah seorang yang tidak akan berguna bagi siapa pun, seperti Pramuntaka tidak akan berguna bagi siapa pun juga. Tetapi Nini, kali ini, aku mengharap kau mendengarkan kata-kataku, selagi aku tidak tahu apa yang sebaiknya aku kerjakan. Aku sendiri tidak yakin, apakah sikap ini akan berlaku seterusnya. Aku ragu-ragu terhadap diriku sendiri. Dan orang seperti aku, yang sudah kehilangan kepercayaan kepada dirinya sendiri, adalah orang yang paling tidak berguna.”
Emban tua itu mengernyitkan alisnya. Terasa kejujuran memancar dari setiap kata Empu Sada. Apalagi ketika Empu Sada itu berkata, “Nini, berilah aku kesempatan. Selain tentang Mahisa Agni, aku ingin mohon maaf kepada Tuan Puteri atas segala kelakuanku di masa-masa yang lewat. Aku tidak tahu, apakah aku tidak akan kambuh kembali. Tetapi sekarang, percayalah, bahwa hatiku sedang gelap, sehingga tidak ada jalan lain daripada menyerahkan diri dalam keputus asaan. Nini jangan menunggu aku menjadi gila. Ketika aku masuk ke dalam halaman ini, memang terbersit kehendak yang gila itu. Kenapa tidak saja lebih baik bagiku mengambil Ken Dedes untuk kepentingan yang bermacam-macam.
Untunglah, bahwa aku sedang berada dalam ketakutan. Aku tidak berani menghadapi lawan-lawanku yang kini mengelilingi aku. Empu Purwa, ayah gadis itu, Empu Gandring yang selalu berada di dekat Mahisa Agni, Panji Bojong Santi yang pernah mengurungkan niatku menculik Tuan Puteri di jalan ke Panawijen dan yang paling gila adalah Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Keduanya itulah yang paling berbahaya bagiku dan bagi Mahisa Agni. Muridku, Kuda Sempana kini ada pada mereka. Adalah suatu bahaya yang tak terkirakan, bahwa kedua setan itu ingin menangkap Mahisa Agni tidak untuk Kuda Sempana, tetapi justru untuk memeras Tuan Puteri Ken Dedes dan Tuanku Tunggul Ametung.”
Dada perempuan tua itu berguncang mendengar kata-kata Empu Sada. Tiba-tiba tumbuhlah kepercayaan di dalam hatinya, bahwa Empu Sada benar-benar sedang dalam keputus asaan. Namun sejalan dengan itu, maka hatinya pun kini dicengkam oleh kecemasan tentang anaknya. Karena itu, maka emban itu pun menjadi gelisah. Sejenak ia berdiam diri dalam ke bimbangan. Tetapi perempuan tua itu terhenyak ketika ia mendengar seorang prajurit menegurnya, prajurit yang membawa Empu Sada masuk ke halaman dalam,
“Kaki, bagaimana dengan Kau? Apakah kau masih juga betah berdiri di situ sampai pagi untuk memaksa menghadap Tuan Puteri Ken Dedes.”
Empu Sada tidak menjawab. Ditatapnya saja wajah perempuan tua dihadapannya, seolah-olah minta kepadanya untuk menjawab pertanyaan prajurit itu.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar