“Aku harus kembali ke tempatku bertugas.” berkata prajurit itu lebih lanjut, “aku sudah mencoba menolongmu Kaki. Tetapi keputusan terakhir memang tidak terletak di tanganku.” Empu Sada masih berdiam diri. Karena Empu Sada tidak segera menjawab, maka kembali prajurit itu berkata, “Bagaimana Kaki?”
Dalam kebimbangan kemudian Empu Sada menjawab, “Bukan aku yang menentukan tuan, tetapi emban pemomong Ken Dedes itu. Tergantung kepadanya, apakah aku diperbolehkan menghadap atau tidak.”
Prajurit itu berpaling, memandangi wajah emban tua yang kini menjadi tegang penuh kebimbangan, Sejenak mereka saling berdiam diri. Empu Sada menunggu dengan hati yang berdebar-debar, sedang prajurit itu menjadi heran. Ia melihat beberapa perubahan sikap pada laki-laki tua yang kini agaknya menjadi bertambah sigap.
Dalam pada itu emban tua itu masih juga dicengkam oleh kebimbangan. Tetapi ia dapat mengerti keterangan Empu Sada. Ia dapat mempercayainya, bahwa kali ini ia bermaksud baik. Kalau ia bermaksud jahat, maka ia tidak perlu berbantah lagi. Mungkin dengan sebuah sentuhan ia sudah menjadi pingsan. Prajurit-prajurit yang berjumlah empat orang yang sama sekali tidak bersiaga itu akan dapat diselesaikan dalam waktu yang singkat. Dan adalah tidak mustahil, bahwa ia akan berhasil mengambil puteri itu tanpa dapat ditangkap oleh para penjaga. Hanya kalau Akuwu Tunggul Ametung mengetahuinya, maka pusakanya akan mungkin dapat melawan orang tua itu. Dalam kebimbangan perempuan tua itu mendengar prajurit itu bertanya kembali,
“Bagaimana Nyai. Apakah orang tua itu diperkenankan menghadap, ataukah ia harus keluar?”
Perempuan tua itu menggigit bibirnya. Tampaklah kerut merut di dahinya menjadi semakin dalam. Diawasinya Empu Sada dan prajurit itu berganti-ganti. Akhirnya terdengar ia bersuara lirih,
“Biarlah ngger, laki-laki tua ini menghadap Tuan Puteri. Kalau nanti ternyata Tuan puteri tidak berkenan, maka biarlah ia keluar halaman.”
“Tetapi ia tidak boleh berkeliaran sendiri di halaman ini Nyai.” sahut prajurit itu, “kalau Tuan Puteri tidak berkenan maka aku harus mengantarkannya keluar.”
“Baiklah kalau demikian, marilah ikut aku. Kau dapat menunggu di luar sampai laki-laki ini meninggalkan istana.”
“Sampai kapan aku harus menunggunya?”
“Tidak akan sampai besok.”
“Ah.” prajurit itu mengeluh, tetapi kemudian ia berkata, “apakah aku akan dibiarkan lapar? Sore tadi aku belum makan Nyai. Seharusnya sebentar lagi aku akan diganti oleh prajurit yang bertugas semalam suntuk nanti. Aku akan segera kembali pulang dan makan.”
“Jangan takut.” sahut perempuan tua itu, “kau dapat pergi ke dapur. Kau akan dapat memecahkan perutmu nanti, Ngger.”
Prajurit itu tersenyum. “Baiklah kalau demikian.”
“Ikutlah kami.” kata perempuan itu, dan kepada Empu Sada ia berkata, “Marilah kita mencoba menghadap Tuan Puteri.”
“Aku percaya kepadamu Nini, untuk kepentingan anakmu pula.”
“Sst.”
“O.” laki-laki yang menyebut dirinya Makerti itu pun terdiam.
Mereka kini berjalan sepanjang dinding istana lewat halaman belakang. Dari tangga mereka memasuki serambi belakang untuk menghadap Tuan Puteri Ken Dedes yang hampir tidak sabar lagi menanti pemomongnya. Ketika didengarnya suara pemomongnya itu di luar pintu biliknya, maka dengan tergesa-gesa ia keluar. Ia ingin segera mendengar tentang laki-laki yang menyebut dirinya pamannya dan bernama Makerti.
“Tuan Puteri.” berkata pemomongnya ketika Ken Dedes sudah berada di luar pintu biliknya, “seorang laki-laki tua kini menunggu Tuan Puteri di ruang belakang.”
Ken Dedes mengerutkan keningnya. Kemudian ia bertanya, “Apakah benar, bahwa ia adalah pamanku Bibi?”
“Silahkanlah puteri. Tuan Puteri akan dapat bertanya kepadanya sendiri.”
Tetapi Ken Dedes menangkap keragu-raguan di dalam kata-kata perempuan tua itu sehingga kemudian sambil mengerutkan keningnya ia bertanya, “Apakah kau sudah pernah mengenalnya?”
Emban pemomong Ken Dedes itu menjadi semakin bimbang. Ia tidak segera tahu, bagaimana ia harus menjawab. Karena itu maka sejenak emban tua itu berdiri saja mematung.
“Bagaimana bibi?” desak Ken Dedes.
“Tuan Puteri.” jawab emban itu kemudian, “hamba tidak dapat mengatakannya apakah hamba pernah mengenalnya atau belum dalam hubungannya dengan pengakuan laki-laki tua itu. Tetapi dalam persoalan yang lain, hamba memang pernah mengenalnya sebagai orang dari padukuhan Ngarang.”
“Dalam hubungannya dengan aku?”
“Hamba tidak tahu Tuan Puteri, tetapi sebaiknya Tuan Puteri menemuinya dan bertanya langsung kepadanya.”
“Apakah orang itu tidak berbahaya?”
“Di tangga belakang ada seorang prajurit yang menunggunya Tuan Puteri, di samping Pelayan Dalam yang sedang bertugas.”
Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia masih saja ragu-ragu untuk berbuat.
“Bagaimana nasehatmu bibi?”
“Menurut pendapat hamba Tuan Puteri, Tuan Puteri dapat menemuinya dan bertanya langsung kepadanya.”
“Baiklah. Aku percaya kepadamu.”
Ken Dedes itu pun segera melangkah ke ruang belakang diiringi oleh pemomongnya. Meskipun demikian sebenarnya di dalam dada keduanya, masih menyala keragu-raguan. Tetapi emban tua itu bergumam di dalam hatinya.
“Aku mengharap bahwa laki-laki itu masih mempunyai sisa-sisa harga diri dan perasaan.”
Ketika Ken Dedes memasuki ruangan belakang, dilihatnya seorang laki-laki duduk bersila sambil tumungkul. Kekhidmatannya ternyata telah mengurangi perasaan bimbang di hati Ken Dedes. Ken Dedes itu pun kemudian duduk di atas sebuah batu hitam yang dialasi oleh selapis kulit kayu yang dihias dengan ukir-ukiran benang berwarna emas. Ditatapnya laki-laki tua yang masih saja duduk tepekur seakan-akan tidak berani bergerak meskipun hanya ujung jari kakinya.
Ken Dedes itu pun tidak segera bertanya sesuatu kepada laki-laki yang duduk sambil menundukkan kepalanya itu. Dicoba untuk mengingat-ingat apakah ia pernah mengenal seorang laki-laki seperti yang kini duduk di hadapannya. Tetapi betapa gadis itu berusaha, namun ia tidak berhasil menemukan ingatan tentang seorang laki-laki tua yang bernama Makerti.
Sekilas Ken Dedes memandangi pemomongnya yang duduk dekat di sampingnya. Bagaimanapun juga, ternyata perempuan itu masih juga menyimpan keragu-raguan di dalam hatinya, apalagi setelah diketahuinya, bahwa sebenarnya laki-laki tua itulah yang bernama Empu Sada. Karena itu, maka pemomong Ken Dedes itu duduk dekat di sisi kaki Ken Dedes, bahkan seolah-olah bersandar kepada gadis itu.
“Kiai.” sapa Ken Dedes kemudian Perlahan-lahan, “maafkan aku Kiai, bahwa aku merasa belum mengenalmu. Baik namamu dan bahkan wajahmu. Adalah suatu kemungkinan bahwa aku telah lupa kepada seseorang yang pernah aku kenal sebelumnya. Tetapi cobalah kau menjelaskan, bagaimanakah hubunganmu dahulu, aku pasti akan menjadi ingat kembali kepadamu.”
Tetapi Empu Sada tidak segera dapat menjawab. Bahkan kepalanya yang tunduk itu seakan-akan menjadi semakin tunduk.
“Kiai.” berkata Ken Dedes pula, “mungkin Kiai dapat berceritera tentang keluargaku, tentang ibuku semasa hidupnya dan tentang ayahku. Mungkin Kiai dapat berceritera tentang diriku di masa kanak-kanakku. Dengan demikian aku akan dapat mengingatnya kembali atau setidak-tidaknya dapat meyakinkan diriku bahwa kau adalah pamanku.”
Empu Sada masih belum menjawab. Kepalanya masih menunduk dalam-dalam. Namun laki-laki tua itu menggigit bibirnya sendiri kuat-kuat. Ketika ia telah berhadapan dengan gadis itu, tiba-tiba terkenanglah kembali apa yang pernah dilakukannya. Ia pernah berusaha merebut gadis itu untuk muridnya Kuda Sempana. Apakah dengan demikian tidak akan berarti merenggut gadis itu dari dunianya yang sekarang dan melemparkannya ke dalam satu dunia yang gelap? Memang ia tidak mempunyai anak seorang gadis. Ia tidak dapat membayangkan betapa perasaan seorang gadis tentang dirinya, tentang dunia di sekitarnya dan tentang masa depannya.
Tetapi ketika ia berhadapan dengan Ken Dedes, alangkah pedih hatinya. Seandainya, Ya, seandainya saat itu Panji Bojong Santi tidak menghalanginya, maka apakah jadinya gadis yang kini duduk dihadapannya itu? wajah yang cerah sumringah itu pasti akan menjadi suram dan muram. Kuda Sempana pasti akan membawanya hidup dalam suatu dunia yang gelap yang tersembunyi.
“O.” laki-laki tua itu menarik nafas dalam-dalam. Di dalam hatinya ia bergumam, “Ternyata Yang Maha Agung masih melindunginya.”
Ken Dedes yang masih saja melihat orang tua itu terdiam, hatinya menjadi berdebar-debar. Kenapa ia tidak menjawab sepatah katapun? Kembali Ken Dedes berpaling kepada emban pemomong. Tetapi emban itu pun menundukkan kepalanya pula. Ken Dedes itu kemudian justru menjadi gelisah. Sekali lagi ia mencoba bertanya,
“Kiai, bukankah Kiai telah datang untuk bertemu dengan aku? Bukankah Kiai yang bernama Makerti dan mengaku sebagai pamanku?”
Ken Dedes itu pun kemudian melihat laki-laki tua itu bergerak. Setapak ia bergeser, namun justru ia bergeser mundur. Perlahan-lahan ia mengangkat wajahnya.
“Ampun Tuan Puteri.” desisnya perlahan. Tetapi kembali ia terdiam. Kembali kepalanya menunduk.
Tetapi dalam sekejap itu, Ken Dedes telah melihat wajahnya. Wajah itu benar-benar telah mengejutkannya. Ken Dedes melihat mata orang tua itu menjadi terlampau suram dan bahkan menjadi basah.
“Katakanlah Kiai.” minta Ken Dedes, seperti seorang gadis kepada kakeknya yang tua.
“Ampun Tuan Puteri.” berkata orang tua itu tersendat-sendat, seakan-akan lehernja tersumbat oleh kata-katanya.
“Ya katakanlah.”
Ketika orang tua itu kembali mengangkat wajahnya, kini Ken Dedes benar-benar melihat setitik air menetes dari matanya.
“Kenapa kau Kiai?” bertanya Ken Dedes.
Emban tua yang mendengar pertanyaan itu pun mengangkat wajahnya pula, dan Dilihatnya pula titik air di mata laki-laki itu.
“Ampun Tuanku.” berkata Empu Sada patah-patah, “hamba telah berani membohongi Tuan Puteri. Tetapi percayalah Tuan Puteri, bahwa maksud hamba adalah baik.”
Ken Dedes mengerutkan keningnya. Ia tidak segera dapat menangkap maksud orang tua itu.
“Hamba belum pernah melihat tuanku sejelas saat ini. Hamba belum pernah melihat betapa cerah wajah Tuan Puteri. Hamba belum pernah mengetahui betapa bersih hati Tuan Puteri. Selama ini mata hambalah yang telah dibutakan oleh kegelapan hati.”
“Kiai.” potong Ken Dedes dengan heran, “aku tidak mengerti apakah sebenarnya yang kau maksudkan.”
“O.” Empu Sada menelan ludahnya, “Tuan Puteri adalah sesoca Tumapel yang tidak ada duanya. Alangkah bahagianya Empu Purwa mempunyai seorang Puteri seperti tuanku. O, sungguh gila Kuda Sempana yang berkeinginan memperisteri Tuan Puteri. Sepantasnyalah bahwa Kuda Sempana menjadi alas kaki tuanku.”
Ken Dedes menjadi semakin bingung. Ia tidak tahu ujung pangkal kata-kata laki-laki tua yang mengaku pamannya dan bernama Makerti itu. Apalagi ketika laki-laki itu berkata seterusnya dengan nafas yang terengah-engah,
“Tetapi Tuanku, adalah hamba yang paling bersalah, sehingga Kuda Sempana itu menjadi semakin gila. Namun syukurlah bahwa Tuan Puteri masih selalu mendapat perlindungan dari Yang Maha Agung.”
Sejenak Ken Dedes terpukau oleh keadaan yang tidak dimengertinya. Dipandanginya laki-laki tua itu dengan penuh pertanyaan pada sinar matanya yang bening.
Dalam pada itu Empu Sada masih berkata terus, “Seandainya hamba tidak terseret dalam kegilaan yang serupa, maka Kuda Sempana pasti dapat hamba kendalikan. Sekarang semuanya telah hancur. Hidupku dan masa depan Kuda Sempana itu sendiri. Tetapi adalah wajar dan setimpal dengan kesalahan-kesalahan yang telah kami lakukan.”
Ken Dedes masih diam mematung. Sedang emban pemomongnya pun seakan-akan terbungkam pula. Tetapi emban tua itu dapat merasakan betapa hati orang yang mengaku bernama Makerti itu terpecah belah.
Empu Sada adalah seorang yang hidup dalam arusnya angin ribut, sehingga karena itu, maka hatinya seakan-akan telah menjadi sekeras baja dan perasaannya pun telah menjadi tumpul. Namun tiba-tiba seperti cahaya matahari di pagi hari, wajah Ken Dedes yang cerah telah menerangi segenap relung hati orang tua itu. Relung hati yang karena keadaan telah sedikit terbuka, dan kini cerahnya sinar matahari itu langsung mencairkan kepekatan yang kelam yang selama ini mewarnainya.
Sesaat Ken Dedes masih diam termangu-mangu. Namun ketika kembali ia melihat laki-laki tua itu menundukkan kepalanya, maka berkatalah gadis itu, “Kiai, aku tidak mengerti apa yang kau katakan. Aku tidak mengerti apa yang ingin kau nyatakan kepadaku. Tetapi bahwa kau telah menyebut nama Kuda Sempana benar-benar telah mengejutkan hatiku. Nama itu bagiku adalah nama yang dapat mendirikan segenap bulu romaku. Karena itu, katakanlah maksud kedatanganmu sendiri.”
Empu Sada masih menundukkan kepalanya. Ia menjadi ragu-ragu untuk mengucapkan kata-kata. Tetapi kembali Ken Dedes mendesaknya, “Katakanlah keperluanmu Kiai. Atau cobalah meyakinkan aku, bahwa kau adalah pamanku.”
“Ampun Tuan Puteri.” desis Empu Sada kemudian. Tetapi kini kepalanya menjadi semakin menunduk, “ampunkanlah hamba. Bahwa sebenarnya hamba memang bukan paman Tuan Puteri.”
Dada Ken Dedes berdesir mendengar pengakuan itu. Sejenak ia berpaling kepada pemomongnya. Tetapi pemomongnya itu tidak sedang memandanginya. Bahkan pemomongnya itu dengan tajamnya sedang memandang kepada laki-laki tua yang masih saja menundukkan kepalanya.
“Jadi, siapakah kau sebenarnya?” bertanya Ken Dedes, “dan apakah hubunganmu dengan Kuda Sempana? Kau telah menyebut namanya, bahkan menghubung-hubungkannya dengan dirimu sendiri.”
Empu Sada itu memperbaiki letak duduknya. Dengan susah payah ia kini berhasil mengatur perasaannya yang tiba-tiba saja telah menjadi cair setelah bertahun-tahun membeku. Sekali ia menarik nafas dalam-dalam. Kemudian Perlahan-lahan ia berkata,
“Tuan Puteri yang baik. Mungkin pengakuan hamba akan mengejutkan Tuan Puteri. Tetapi perkenankanlah hamba lebih dahulu berjanji, bahwa sebenarnyalah maksud kedatangan hamba kali ini adalah terdorong oleh penyesalan dan ketakutan yang selama ini telah mengejar-ngejar hamba. Hamba tidak dapat ingkar lagi. Hamba tidak dapat melarikan diri, karena ketakutan itu tumbuh di dalam hati hamba. Hamba tidak dapat bersembunyi kemanapun, selain pasrah diri dihadapan Tuan Puteri. Hamba akan bersedia menerima apa saja hukuman yang akan Tuanku jatuhkan. Tetapi sebelumnya hamba ingin menyampaikan sesuatu yang mungkin berguna bagi Tuan Puteri dan Kakanda Tuan Puteri Mahisa Agni.”
Wajah Ken Dedes tampak berkerut. Diawasinya laki-laki tua itu dengan sorot mata yang menjadi tegang. Dengan ragu-ragu Ken Dedes itu bertanya, “Jadi, apabila kau sebenarnya bukan pamanku apakah kau juga tidak bernama Makerti dan tidak datang dari pedukuhan yang kau sebut Ngarang? Apabila demikian, siapakah kau sebenarnya, dan apakah yang kau ceriterakan semuanya itu akan berarti bagiku?”
“Tuan Puteri. Demikianlah hamba. Hamba memang tidak bernama Makerti. Tetapi hamba benar-benar berasal dari Pedukuhan Ngarang. Namun beberapa puluh tahun yang lampau hamba telah meninggalkan pedukuhan itu, merantau dari satu tempat ke lain tempat, sehingga Akhirnya hamba menetap tidak terlampau jauh diluar kota Tumapel.”
Wajah Ken Dedes menjadi semakin tegang. Kini ia segera ingin tahu, siapakah sebenarnya laki-laki tua itu. Maka katanya, “Kiai, aku tidak mengerti apakah gunanya kau berbohong. Aku tidak mengerti maksud kedatanganmu yang sebenarnya. Tetapi sebutkan dahulu, siapakah kau.”
“Percayalah Tuan Puteri, bahwa hamba tidak akan membuat bencana lagi. Hamba telah menyesali perbuatan hamba.”
“Ya siapakah kau dan apa hubunganmu dengan Kuda Sempana?”
Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Sejenak ia menjadi ragu-ragu. Tetapi kemudian dibulatkannya tekadnya. Apa saja yang akan terjadi tidak akan diingkarinya. Maka katanya sambil menahan nafas.
“Tuanku, janganlah tuanku terkejut. Hamba akan berkata dengan jujur, siapakah hamba ini sebenarnya. Tuanku. Hamba bersedia seandainya Tuan Puteri ingin membelah dadaku.”
“Ya, Ya, tetapi siapa kau Kiai?”
“Tuan Puteri, yang sudi menyebut nama hamba, hamba inilah yang dikenal bernama Empu Sada.”
Seperti tersengat seribu lebah, Ken Dedes terkejut bukan buatan. Wajahnya yang cerah tiba-tiba menjadi seputih kapas. Darahnya seakan-akan berhenti mengalir. Sesaat ia terpaku di tempatnya namun tiba-tiba ia terloncat berdiri. Hampir saja ia berteriak memanggil prajurit atau Pelayan dalam atau si apapun untuk mengurangi ketakutannya. Tetapi emban pemomongnya tiba-tiba memeluk kakinya sambil berkata lirih.
“Tenanglah Tuan Puteri, tenanglah. Laki-laki yang bernama Empu Sada itu kini bukan lagi seperti seekor serigala yang lapar. Tetapi ia tidak lebih dari seekor kucing yang telah dijinakkan.”
Meskipun Ken Dedes tidak berteriak karena emban pemomongnya itu, namun debar di jantungnya masih belum berkurang. Wajahnya masih putih dan tegang, sedang nafasnya menjadi terengah-engah. Dipandanginya Empu Sada dengan sorot mata ketakutan dan kecemasan. Ken Dedes itu pernah mendengar, bahwa orang yang mencegatnya di hutan dalam perjalanannya ke Panawijen adalah Kuda Sempana bersama gurunya yang bernama Empu Sada. Dan orang yang selama ini menghantuinya itu tiba-tiba duduk dihadapannya.
Tetapi Empu Sada tidak bergerak. Kepalanya masih tumungkul hampir menyentuh lantai. Kedua tangannya rapat berpegangan satu dengan yang lain. Namun meskipun demikian debar di dadanya pun menjadi kian cepat. Iapun menjadi cemas apabila gadis itu tidak segera dapat menguasai dirinya, maka akibatnya akan menjadi sangat sulit baginya. Namun ia sudah pasrah diri. Dan akibat yang bagaimanapun juga telah bulat untuk diterimanya.
Ken Dedes yang melihat laki-laki tua itu masih juga tepekur, serta kata-kata pemomongnya yang lembut dan sareh, telah membuatnya menjadi agak tenang. Meskipun demikian ia masih dicengkam oleh kecemasan dan keragu-raguan tentang laki-laki tua yang duduk dihadapannya itu.
Empu Sada kemudian dapat merasakan, bahwa hati Ken Dedes menjadi bertambah tenang. Agaknya kata-kata pemomongnya telah dapat meredakan luapan ketakutan yang menerkam dirinya. Karena itu untuk meyakinkan maka orang tua itu berkata sareh,
“Tuan Puteri. Benarlah kata emban pemomong tuanku. Hamba kini bukan lagi serigala kelaparan di hutan-hutan rimba, tetapi hamba kini tidak lebih dari seekor kucing yang telah dijinakkan. Hamba tinggal menerima apa saja yang sepantasnya dipikulkan atas pundak hamba, sebab hamba telah banyak sekali berbuat kesalahan di hadapan Tuan Puteri dan Tuanku Akuwu Tunggul Ametung. Bahkan menurut penilaian hamba kini, hamba telah banyak sekali berbuat dosa dihadapan Yang Maha Agung. Itulah sebabnya hamba kini menghadap Tuan Puteri.”
“Tetapi.” sahut Ken Dedes terbata-bata, “kalau kau bermaksud baik, kenapa kau menipu aku, emban pemomongku dan para prajurit penjaga dengan memakai nama lain dan mengaku pamanku?”
“Itupun salah satu bentuk pengakuan atas segala kesalahan hamba Tuan Puteri. Hamba menjadi ketakutan menyebut nama hamba sendiri. Bayangan dosa dan noda itu selalu melekat pada nama Empu Sada, sehingga hamba merasa bahwa Empu Sada tidak sepantasnya diperkenankan menghadap Tuan Puteri. Karena itulah maka hamba mencari akal, bagaimana hamba dapat berhadapan dengan Tuan Puteri untuk menyampaikan sebuah ceritera yang menarik bagi Tuan Puteri, demi keselamatan Kakanda Tuan Puteri sendiri, Mahisa Agni.”
Wajah Ken Dedes yang seputih kapas itu kini telah menjadi agak kemerah-merahan. Meskipun demikian tubuhnya masih terasa gemetar.
“Duduklah Tuan Puteri.” pemomongnya mempersilahkan.
Perlahan-lahan Ken Dedes kembali meletakkan tubuhnya di atas batu hitam yang beralaskan klikaning kayu yang dihiasi dengan benang-benang yang berwarna keemasan. Namun untuk sesaat gadis itu masih saja berdiam diri. Debar jantungnya masih terasa terlampau cepat, sedang kedua belah tangan dan kakinya masih saja gemetar. Tetapi perasaannya kini telah mulai dapat dikuasainya. Apalagi ketika ia masih melihat Empu Sada itu duduk tepekur diam hampir tidak bergerak sama sekali.
“Tuan Puteri.” berkata Empu Sada kemudian, “kedatangan hamba menghadap tuanku dengan segala macam akal, adalah karena hamba ingin dapat langsung menyampaikan permohonan maaf ke hadapan tuanku serta ingin menyampaikan sebuah kisah yang barangkali tidak menarik, tetapi barangkali akan dapat memberikan jalan bagi Mahisa Agni melawan keadaan yang kurang menguntungkannja.”
Empu Sada berhenti sejenak. Dicobanya untuk merasakan tanggapan Ken Dedes akan kata-katanya itu. Dan didengarnya Ken Dedes bertanya, “Apakah yang terjadi dengan kakang Mahisa Agni? Bukankah ia selama ini berada di Padang Karautan untuk menyelesaikan bendungannya?”
“Hamba Tuan Puteri.” sahut Empu Sada, “justru Mahisa Agni berada di Padang itulah maka bahaya selalu mengitarinya”
“Empu Sada,” berkata Ken Dedes yang sudah menjadi semakin tenang, “sepengetahuanku, bahaya yang paling dahsyat yang selama ini mengejarnya adalah bahaya yang ditimbulkan oleh ketamakan Kuda Sempana dan gurunya yang bernama Empu Sada. Apabila kau sekarang benar-benar sudah menghentikan usahamu untuk mencelakakannya, maka aku sangka Kakang Mahisa Agni akan dapat menjaga dirinya sendiri terhadap Kuda Sempana meskipun seandainya Kuda Sempana berbuat curang.”
“Tidak Tuan Puteri.” jawab Empu Sada, “karena itulah maka hamba dengan segala akal yang licik berusaha menemui Tuan Puteri. Bahaya yang sekarang mengancam Mahisa Agni bukan saja datang dari Kuda Sempana. Bahkan Kuda Sempana pun pada saatnya pasti akan mengalami bencana yang tidak kalah dahsyatnya dari Mahisa Agni sendiri.”
Ken Dedes mengerutkan keningnya, katanya, “Aku tidak mengerti Empu Sada.”
“Tuan Puteri,” berkata Empu Sada, “perkenankanlah hamba berceritera tentang diri hamba dan tentang diri Kakanda tuanku Mahisa Agni.”
“Katakanlah Empu.” sahut Ken Dedes.
Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Sesaat ditengadahkannya wajahnya, namun kembali wajah itu menunduk. Digesernya dirinya senyari maju, dan sejenak kemudian mulailah ia berceritera tentang dirinya. Empu Sada yang telah benar-benar merasa bersalah itu berceritera dengan sejujur-jujurnya, apa yang pernah dilakukan atas Mahisa Agni. Usahanya menemui Kebo Sindet dan Wong Sarimpat, dan diceriterakannya pula saat ia hampir mati terbunuh oleh kedua iblis yang mengerikan itu.
Ken Dedes mendengarkan ceritera Empu Sada itu dengan dada yang berdebar-debar. Hatinya semakin lama menjadi semakin cemas, sedang wajahnya menjadi semakin tegang. Perlahan-lahan ia dapat merasakan bahaya yang sedang mengancam Mahisa Agni. Bahaya yang justru ditimbulkan oleh orang yang kini dengan menyesal menceriterakannya kepadanya.
Akhirnya Empu Sada itu berkata, “Tuan Puteri, hamba dapat membayangkan, bahwa di Padang Karautan kini merayap-rayap Kebo Sindet dan Wong Sarimpat, mengintai Kakanda Tuan Puteri, Angger Mahisa Agni yang setiap saat siap untuk meloncat dan menerkamnya.”
Wajah Ken Dedes yang sudah mulai memerah itu kini lelah menjadi pucat kembali. Terasa debar dadanya menjadi semakin deras, dan kecemasan yang sangat telah menghinggapinya. Bahkan bukan saja Ken Dedes. Emban pemomongnya yang semasa mudanya bernama Jun Rumanti itu pun menjadi cemas. Terlalu cemas. Mahisa Agni adalah satu-satunya anaknya.
“Kenapa semuanya itu kau lakukan Empu?” bertanya Ken Dedes tanpa sesadarnya.
“Hamba sedang dilibat oleh kekelaman hati Tuan Puteri.”
“Kalau kau tidak mengalami kegagalan dan bahkan hampir mati pula karenanya, maka aku kira kau tidak akan berbuat seperti sekarang.” berkata Ken Dedes dengan penuh penyesalan.
“Hamba Tuan Puteri. Sebenarnyalah demikian. Karena itu, maka kedatangan hamba kemari bukan karena sisa-sisa kebersihan hati hamba yang mekar di dalam dada hamba, tetapi hamba datang kemari karena hamba telah ditelan oleh ketakutan dan keputus-asaan. Hamba tidak tahu lagi apa yang akan hamba lakukan, sedang hamba tidak dapat menyembunyikan diri kemana pun. Ketakutan, kecemasan dan keputus asaan itu selalu memeluk hati hamba. Maka dalam keadaan yang demikian itulah hamba datang menghadap.”
Ketegangan hati Ken Dedes pun menjadi semakin meningkat. Ia tidak segera tahu, apa yang harus dilakukannya. Namun tiba-tiba ia mengangkat dagunya. Sejenak ia merenung, namun tiba-tiba Wajahnya menjadi agak cerah. Perlahan-lahan ia berkata tidak kepada Empu Sada tetapi kepada pemomongnya,
“Bibi, bukankah beberapa hari yang lalu Tuanku Akuwu Tunggul Ametung telah mengirim sepasukan prajurit ke Padang Karautan untuk membantu Kakang Mahisa Agni?”
Emban itu pun menengadahkan wajahnya yang mulai dijalari oleh aliran darahnya kembali. Dengan serta-merta ia menjawab, “Ya, Ya Tuan Puteri. Pasukan itu telah berangkat minggu yang lalu. Pasukan itu kini pasti sudah berada di Padang Karautan dan telah sempat membantu pekerjaan Angger Mahisa Agni.”
Empu Sada yang mendengar pembicaraan itu mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak segera berani memotong untuk bertanya. Yang berbicara kemudian adalah Ken Dedes,
“Bukankah dengan demikian, maka bahaya yang mengancam kakang Mahisa Agni dapat dikurangi?”
Dalam kebimbangan kemudian Empu Sada menjawab, “Bukan aku yang menentukan tuan, tetapi emban pemomong Ken Dedes itu. Tergantung kepadanya, apakah aku diperbolehkan menghadap atau tidak.”
Prajurit itu berpaling, memandangi wajah emban tua yang kini menjadi tegang penuh kebimbangan, Sejenak mereka saling berdiam diri. Empu Sada menunggu dengan hati yang berdebar-debar, sedang prajurit itu menjadi heran. Ia melihat beberapa perubahan sikap pada laki-laki tua yang kini agaknya menjadi bertambah sigap.
Dalam pada itu emban tua itu masih juga dicengkam oleh kebimbangan. Tetapi ia dapat mengerti keterangan Empu Sada. Ia dapat mempercayainya, bahwa kali ini ia bermaksud baik. Kalau ia bermaksud jahat, maka ia tidak perlu berbantah lagi. Mungkin dengan sebuah sentuhan ia sudah menjadi pingsan. Prajurit-prajurit yang berjumlah empat orang yang sama sekali tidak bersiaga itu akan dapat diselesaikan dalam waktu yang singkat. Dan adalah tidak mustahil, bahwa ia akan berhasil mengambil puteri itu tanpa dapat ditangkap oleh para penjaga. Hanya kalau Akuwu Tunggul Ametung mengetahuinya, maka pusakanya akan mungkin dapat melawan orang tua itu. Dalam kebimbangan perempuan tua itu mendengar prajurit itu bertanya kembali,
“Bagaimana Nyai. Apakah orang tua itu diperkenankan menghadap, ataukah ia harus keluar?”
Perempuan tua itu menggigit bibirnya. Tampaklah kerut merut di dahinya menjadi semakin dalam. Diawasinya Empu Sada dan prajurit itu berganti-ganti. Akhirnya terdengar ia bersuara lirih,
“Biarlah ngger, laki-laki tua ini menghadap Tuan Puteri. Kalau nanti ternyata Tuan puteri tidak berkenan, maka biarlah ia keluar halaman.”
“Tetapi ia tidak boleh berkeliaran sendiri di halaman ini Nyai.” sahut prajurit itu, “kalau Tuan Puteri tidak berkenan maka aku harus mengantarkannya keluar.”
“Baiklah kalau demikian, marilah ikut aku. Kau dapat menunggu di luar sampai laki-laki ini meninggalkan istana.”
“Sampai kapan aku harus menunggunya?”
“Tidak akan sampai besok.”
“Ah.” prajurit itu mengeluh, tetapi kemudian ia berkata, “apakah aku akan dibiarkan lapar? Sore tadi aku belum makan Nyai. Seharusnya sebentar lagi aku akan diganti oleh prajurit yang bertugas semalam suntuk nanti. Aku akan segera kembali pulang dan makan.”
“Jangan takut.” sahut perempuan tua itu, “kau dapat pergi ke dapur. Kau akan dapat memecahkan perutmu nanti, Ngger.”
Prajurit itu tersenyum. “Baiklah kalau demikian.”
“Ikutlah kami.” kata perempuan itu, dan kepada Empu Sada ia berkata, “Marilah kita mencoba menghadap Tuan Puteri.”
“Aku percaya kepadamu Nini, untuk kepentingan anakmu pula.”
“Sst.”
“O.” laki-laki yang menyebut dirinya Makerti itu pun terdiam.
Mereka kini berjalan sepanjang dinding istana lewat halaman belakang. Dari tangga mereka memasuki serambi belakang untuk menghadap Tuan Puteri Ken Dedes yang hampir tidak sabar lagi menanti pemomongnya. Ketika didengarnya suara pemomongnya itu di luar pintu biliknya, maka dengan tergesa-gesa ia keluar. Ia ingin segera mendengar tentang laki-laki yang menyebut dirinya pamannya dan bernama Makerti.
“Tuan Puteri.” berkata pemomongnya ketika Ken Dedes sudah berada di luar pintu biliknya, “seorang laki-laki tua kini menunggu Tuan Puteri di ruang belakang.”
Ken Dedes mengerutkan keningnya. Kemudian ia bertanya, “Apakah benar, bahwa ia adalah pamanku Bibi?”
“Silahkanlah puteri. Tuan Puteri akan dapat bertanya kepadanya sendiri.”
Tetapi Ken Dedes menangkap keragu-raguan di dalam kata-kata perempuan tua itu sehingga kemudian sambil mengerutkan keningnya ia bertanya, “Apakah kau sudah pernah mengenalnya?”
Emban pemomong Ken Dedes itu menjadi semakin bimbang. Ia tidak segera tahu, bagaimana ia harus menjawab. Karena itu maka sejenak emban tua itu berdiri saja mematung.
“Bagaimana bibi?” desak Ken Dedes.
“Tuan Puteri.” jawab emban itu kemudian, “hamba tidak dapat mengatakannya apakah hamba pernah mengenalnya atau belum dalam hubungannya dengan pengakuan laki-laki tua itu. Tetapi dalam persoalan yang lain, hamba memang pernah mengenalnya sebagai orang dari padukuhan Ngarang.”
“Dalam hubungannya dengan aku?”
“Hamba tidak tahu Tuan Puteri, tetapi sebaiknya Tuan Puteri menemuinya dan bertanya langsung kepadanya.”
“Apakah orang itu tidak berbahaya?”
“Di tangga belakang ada seorang prajurit yang menunggunya Tuan Puteri, di samping Pelayan Dalam yang sedang bertugas.”
Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia masih saja ragu-ragu untuk berbuat.
“Bagaimana nasehatmu bibi?”
“Menurut pendapat hamba Tuan Puteri, Tuan Puteri dapat menemuinya dan bertanya langsung kepadanya.”
“Baiklah. Aku percaya kepadamu.”
Ken Dedes itu pun segera melangkah ke ruang belakang diiringi oleh pemomongnya. Meskipun demikian sebenarnya di dalam dada keduanya, masih menyala keragu-raguan. Tetapi emban tua itu bergumam di dalam hatinya.
“Aku mengharap bahwa laki-laki itu masih mempunyai sisa-sisa harga diri dan perasaan.”
Ketika Ken Dedes memasuki ruangan belakang, dilihatnya seorang laki-laki duduk bersila sambil tumungkul. Kekhidmatannya ternyata telah mengurangi perasaan bimbang di hati Ken Dedes. Ken Dedes itu pun kemudian duduk di atas sebuah batu hitam yang dialasi oleh selapis kulit kayu yang dihias dengan ukir-ukiran benang berwarna emas. Ditatapnya laki-laki tua yang masih saja duduk tepekur seakan-akan tidak berani bergerak meskipun hanya ujung jari kakinya.
Ken Dedes itu pun tidak segera bertanya sesuatu kepada laki-laki yang duduk sambil menundukkan kepalanya itu. Dicoba untuk mengingat-ingat apakah ia pernah mengenal seorang laki-laki seperti yang kini duduk di hadapannya. Tetapi betapa gadis itu berusaha, namun ia tidak berhasil menemukan ingatan tentang seorang laki-laki tua yang bernama Makerti.
Sekilas Ken Dedes memandangi pemomongnya yang duduk dekat di sampingnya. Bagaimanapun juga, ternyata perempuan itu masih juga menyimpan keragu-raguan di dalam hatinya, apalagi setelah diketahuinya, bahwa sebenarnya laki-laki tua itulah yang bernama Empu Sada. Karena itu, maka pemomong Ken Dedes itu duduk dekat di sisi kaki Ken Dedes, bahkan seolah-olah bersandar kepada gadis itu.
“Kiai.” sapa Ken Dedes kemudian Perlahan-lahan, “maafkan aku Kiai, bahwa aku merasa belum mengenalmu. Baik namamu dan bahkan wajahmu. Adalah suatu kemungkinan bahwa aku telah lupa kepada seseorang yang pernah aku kenal sebelumnya. Tetapi cobalah kau menjelaskan, bagaimanakah hubunganmu dahulu, aku pasti akan menjadi ingat kembali kepadamu.”
Tetapi Empu Sada tidak segera dapat menjawab. Bahkan kepalanya yang tunduk itu seakan-akan menjadi semakin tunduk.
“Kiai.” berkata Ken Dedes pula, “mungkin Kiai dapat berceritera tentang keluargaku, tentang ibuku semasa hidupnya dan tentang ayahku. Mungkin Kiai dapat berceritera tentang diriku di masa kanak-kanakku. Dengan demikian aku akan dapat mengingatnya kembali atau setidak-tidaknya dapat meyakinkan diriku bahwa kau adalah pamanku.”
Empu Sada masih belum menjawab. Kepalanya masih menunduk dalam-dalam. Namun laki-laki tua itu menggigit bibirnya sendiri kuat-kuat. Ketika ia telah berhadapan dengan gadis itu, tiba-tiba terkenanglah kembali apa yang pernah dilakukannya. Ia pernah berusaha merebut gadis itu untuk muridnya Kuda Sempana. Apakah dengan demikian tidak akan berarti merenggut gadis itu dari dunianya yang sekarang dan melemparkannya ke dalam satu dunia yang gelap? Memang ia tidak mempunyai anak seorang gadis. Ia tidak dapat membayangkan betapa perasaan seorang gadis tentang dirinya, tentang dunia di sekitarnya dan tentang masa depannya.
Tetapi ketika ia berhadapan dengan Ken Dedes, alangkah pedih hatinya. Seandainya, Ya, seandainya saat itu Panji Bojong Santi tidak menghalanginya, maka apakah jadinya gadis yang kini duduk dihadapannya itu? wajah yang cerah sumringah itu pasti akan menjadi suram dan muram. Kuda Sempana pasti akan membawanya hidup dalam suatu dunia yang gelap yang tersembunyi.
“O.” laki-laki tua itu menarik nafas dalam-dalam. Di dalam hatinya ia bergumam, “Ternyata Yang Maha Agung masih melindunginya.”
Ken Dedes yang masih saja melihat orang tua itu terdiam, hatinya menjadi berdebar-debar. Kenapa ia tidak menjawab sepatah katapun? Kembali Ken Dedes berpaling kepada emban pemomong. Tetapi emban itu pun menundukkan kepalanya pula. Ken Dedes itu kemudian justru menjadi gelisah. Sekali lagi ia mencoba bertanya,
“Kiai, bukankah Kiai telah datang untuk bertemu dengan aku? Bukankah Kiai yang bernama Makerti dan mengaku sebagai pamanku?”
Ken Dedes itu pun kemudian melihat laki-laki tua itu bergerak. Setapak ia bergeser, namun justru ia bergeser mundur. Perlahan-lahan ia mengangkat wajahnya.
“Ampun Tuan Puteri.” desisnya perlahan. Tetapi kembali ia terdiam. Kembali kepalanya menunduk.
Tetapi dalam sekejap itu, Ken Dedes telah melihat wajahnya. Wajah itu benar-benar telah mengejutkannya. Ken Dedes melihat mata orang tua itu menjadi terlampau suram dan bahkan menjadi basah.
“Katakanlah Kiai.” minta Ken Dedes, seperti seorang gadis kepada kakeknya yang tua.
“Ampun Tuan Puteri.” berkata orang tua itu tersendat-sendat, seakan-akan lehernja tersumbat oleh kata-katanya.
“Ya katakanlah.”
Ketika orang tua itu kembali mengangkat wajahnya, kini Ken Dedes benar-benar melihat setitik air menetes dari matanya.
“Kenapa kau Kiai?” bertanya Ken Dedes.
Emban tua yang mendengar pertanyaan itu pun mengangkat wajahnya pula, dan Dilihatnya pula titik air di mata laki-laki itu.
“Ampun Tuanku.” berkata Empu Sada patah-patah, “hamba telah berani membohongi Tuan Puteri. Tetapi percayalah Tuan Puteri, bahwa maksud hamba adalah baik.”
Ken Dedes mengerutkan keningnya. Ia tidak segera dapat menangkap maksud orang tua itu.
“Hamba belum pernah melihat tuanku sejelas saat ini. Hamba belum pernah melihat betapa cerah wajah Tuan Puteri. Hamba belum pernah mengetahui betapa bersih hati Tuan Puteri. Selama ini mata hambalah yang telah dibutakan oleh kegelapan hati.”
“Kiai.” potong Ken Dedes dengan heran, “aku tidak mengerti apakah sebenarnya yang kau maksudkan.”
“O.” Empu Sada menelan ludahnya, “Tuan Puteri adalah sesoca Tumapel yang tidak ada duanya. Alangkah bahagianya Empu Purwa mempunyai seorang Puteri seperti tuanku. O, sungguh gila Kuda Sempana yang berkeinginan memperisteri Tuan Puteri. Sepantasnyalah bahwa Kuda Sempana menjadi alas kaki tuanku.”
Ken Dedes menjadi semakin bingung. Ia tidak tahu ujung pangkal kata-kata laki-laki tua yang mengaku pamannya dan bernama Makerti itu. Apalagi ketika laki-laki itu berkata seterusnya dengan nafas yang terengah-engah,
“Tetapi Tuanku, adalah hamba yang paling bersalah, sehingga Kuda Sempana itu menjadi semakin gila. Namun syukurlah bahwa Tuan Puteri masih selalu mendapat perlindungan dari Yang Maha Agung.”
Sejenak Ken Dedes terpukau oleh keadaan yang tidak dimengertinya. Dipandanginya laki-laki tua itu dengan penuh pertanyaan pada sinar matanya yang bening.
Dalam pada itu Empu Sada masih berkata terus, “Seandainya hamba tidak terseret dalam kegilaan yang serupa, maka Kuda Sempana pasti dapat hamba kendalikan. Sekarang semuanya telah hancur. Hidupku dan masa depan Kuda Sempana itu sendiri. Tetapi adalah wajar dan setimpal dengan kesalahan-kesalahan yang telah kami lakukan.”
Ken Dedes masih diam mematung. Sedang emban pemomongnya pun seakan-akan terbungkam pula. Tetapi emban tua itu dapat merasakan betapa hati orang yang mengaku bernama Makerti itu terpecah belah.
Empu Sada adalah seorang yang hidup dalam arusnya angin ribut, sehingga karena itu, maka hatinya seakan-akan telah menjadi sekeras baja dan perasaannya pun telah menjadi tumpul. Namun tiba-tiba seperti cahaya matahari di pagi hari, wajah Ken Dedes yang cerah telah menerangi segenap relung hati orang tua itu. Relung hati yang karena keadaan telah sedikit terbuka, dan kini cerahnya sinar matahari itu langsung mencairkan kepekatan yang kelam yang selama ini mewarnainya.
Sesaat Ken Dedes masih diam termangu-mangu. Namun ketika kembali ia melihat laki-laki tua itu menundukkan kepalanya, maka berkatalah gadis itu, “Kiai, aku tidak mengerti apa yang kau katakan. Aku tidak mengerti apa yang ingin kau nyatakan kepadaku. Tetapi bahwa kau telah menyebut nama Kuda Sempana benar-benar telah mengejutkan hatiku. Nama itu bagiku adalah nama yang dapat mendirikan segenap bulu romaku. Karena itu, katakanlah maksud kedatanganmu sendiri.”
Empu Sada masih menundukkan kepalanya. Ia menjadi ragu-ragu untuk mengucapkan kata-kata. Tetapi kembali Ken Dedes mendesaknya, “Katakanlah keperluanmu Kiai. Atau cobalah meyakinkan aku, bahwa kau adalah pamanku.”
“Ampun Tuan Puteri.” desis Empu Sada kemudian. Tetapi kini kepalanya menjadi semakin menunduk, “ampunkanlah hamba. Bahwa sebenarnya hamba memang bukan paman Tuan Puteri.”
Dada Ken Dedes berdesir mendengar pengakuan itu. Sejenak ia berpaling kepada pemomongnya. Tetapi pemomongnya itu tidak sedang memandanginya. Bahkan pemomongnya itu dengan tajamnya sedang memandang kepada laki-laki tua yang masih saja menundukkan kepalanya.
“Jadi, siapakah kau sebenarnya?” bertanya Ken Dedes, “dan apakah hubunganmu dengan Kuda Sempana? Kau telah menyebut namanya, bahkan menghubung-hubungkannya dengan dirimu sendiri.”
Empu Sada itu memperbaiki letak duduknya. Dengan susah payah ia kini berhasil mengatur perasaannya yang tiba-tiba saja telah menjadi cair setelah bertahun-tahun membeku. Sekali ia menarik nafas dalam-dalam. Kemudian Perlahan-lahan ia berkata,
“Tuan Puteri yang baik. Mungkin pengakuan hamba akan mengejutkan Tuan Puteri. Tetapi perkenankanlah hamba lebih dahulu berjanji, bahwa sebenarnyalah maksud kedatangan hamba kali ini adalah terdorong oleh penyesalan dan ketakutan yang selama ini telah mengejar-ngejar hamba. Hamba tidak dapat ingkar lagi. Hamba tidak dapat melarikan diri, karena ketakutan itu tumbuh di dalam hati hamba. Hamba tidak dapat bersembunyi kemanapun, selain pasrah diri dihadapan Tuan Puteri. Hamba akan bersedia menerima apa saja hukuman yang akan Tuanku jatuhkan. Tetapi sebelumnya hamba ingin menyampaikan sesuatu yang mungkin berguna bagi Tuan Puteri dan Kakanda Tuan Puteri Mahisa Agni.”
Wajah Ken Dedes tampak berkerut. Diawasinya laki-laki tua itu dengan sorot mata yang menjadi tegang. Dengan ragu-ragu Ken Dedes itu bertanya, “Jadi, apabila kau sebenarnya bukan pamanku apakah kau juga tidak bernama Makerti dan tidak datang dari pedukuhan yang kau sebut Ngarang? Apabila demikian, siapakah kau sebenarnya, dan apakah yang kau ceriterakan semuanya itu akan berarti bagiku?”
“Tuan Puteri. Demikianlah hamba. Hamba memang tidak bernama Makerti. Tetapi hamba benar-benar berasal dari Pedukuhan Ngarang. Namun beberapa puluh tahun yang lampau hamba telah meninggalkan pedukuhan itu, merantau dari satu tempat ke lain tempat, sehingga Akhirnya hamba menetap tidak terlampau jauh diluar kota Tumapel.”
Wajah Ken Dedes menjadi semakin tegang. Kini ia segera ingin tahu, siapakah sebenarnya laki-laki tua itu. Maka katanya, “Kiai, aku tidak mengerti apakah gunanya kau berbohong. Aku tidak mengerti maksud kedatanganmu yang sebenarnya. Tetapi sebutkan dahulu, siapakah kau.”
“Percayalah Tuan Puteri, bahwa hamba tidak akan membuat bencana lagi. Hamba telah menyesali perbuatan hamba.”
“Ya siapakah kau dan apa hubunganmu dengan Kuda Sempana?”
Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Sejenak ia menjadi ragu-ragu. Tetapi kemudian dibulatkannya tekadnya. Apa saja yang akan terjadi tidak akan diingkarinya. Maka katanya sambil menahan nafas.
“Tuanku, janganlah tuanku terkejut. Hamba akan berkata dengan jujur, siapakah hamba ini sebenarnya. Tuanku. Hamba bersedia seandainya Tuan Puteri ingin membelah dadaku.”
“Ya, Ya, tetapi siapa kau Kiai?”
“Tuan Puteri, yang sudi menyebut nama hamba, hamba inilah yang dikenal bernama Empu Sada.”
Seperti tersengat seribu lebah, Ken Dedes terkejut bukan buatan. Wajahnya yang cerah tiba-tiba menjadi seputih kapas. Darahnya seakan-akan berhenti mengalir. Sesaat ia terpaku di tempatnya namun tiba-tiba ia terloncat berdiri. Hampir saja ia berteriak memanggil prajurit atau Pelayan dalam atau si apapun untuk mengurangi ketakutannya. Tetapi emban pemomongnya tiba-tiba memeluk kakinya sambil berkata lirih.
“Tenanglah Tuan Puteri, tenanglah. Laki-laki yang bernama Empu Sada itu kini bukan lagi seperti seekor serigala yang lapar. Tetapi ia tidak lebih dari seekor kucing yang telah dijinakkan.”
Meskipun Ken Dedes tidak berteriak karena emban pemomongnya itu, namun debar di jantungnya masih belum berkurang. Wajahnya masih putih dan tegang, sedang nafasnya menjadi terengah-engah. Dipandanginya Empu Sada dengan sorot mata ketakutan dan kecemasan. Ken Dedes itu pernah mendengar, bahwa orang yang mencegatnya di hutan dalam perjalanannya ke Panawijen adalah Kuda Sempana bersama gurunya yang bernama Empu Sada. Dan orang yang selama ini menghantuinya itu tiba-tiba duduk dihadapannya.
Tetapi Empu Sada tidak bergerak. Kepalanya masih tumungkul hampir menyentuh lantai. Kedua tangannya rapat berpegangan satu dengan yang lain. Namun meskipun demikian debar di dadanya pun menjadi kian cepat. Iapun menjadi cemas apabila gadis itu tidak segera dapat menguasai dirinya, maka akibatnya akan menjadi sangat sulit baginya. Namun ia sudah pasrah diri. Dan akibat yang bagaimanapun juga telah bulat untuk diterimanya.
Ken Dedes yang melihat laki-laki tua itu masih juga tepekur, serta kata-kata pemomongnya yang lembut dan sareh, telah membuatnya menjadi agak tenang. Meskipun demikian ia masih dicengkam oleh kecemasan dan keragu-raguan tentang laki-laki tua yang duduk dihadapannya itu.
Empu Sada kemudian dapat merasakan, bahwa hati Ken Dedes menjadi bertambah tenang. Agaknya kata-kata pemomongnya telah dapat meredakan luapan ketakutan yang menerkam dirinya. Karena itu untuk meyakinkan maka orang tua itu berkata sareh,
“Tuan Puteri. Benarlah kata emban pemomong tuanku. Hamba kini bukan lagi serigala kelaparan di hutan-hutan rimba, tetapi hamba kini tidak lebih dari seekor kucing yang telah dijinakkan. Hamba tinggal menerima apa saja yang sepantasnya dipikulkan atas pundak hamba, sebab hamba telah banyak sekali berbuat kesalahan di hadapan Tuan Puteri dan Tuanku Akuwu Tunggul Ametung. Bahkan menurut penilaian hamba kini, hamba telah banyak sekali berbuat dosa dihadapan Yang Maha Agung. Itulah sebabnya hamba kini menghadap Tuan Puteri.”
“Tetapi.” sahut Ken Dedes terbata-bata, “kalau kau bermaksud baik, kenapa kau menipu aku, emban pemomongku dan para prajurit penjaga dengan memakai nama lain dan mengaku pamanku?”
“Itupun salah satu bentuk pengakuan atas segala kesalahan hamba Tuan Puteri. Hamba menjadi ketakutan menyebut nama hamba sendiri. Bayangan dosa dan noda itu selalu melekat pada nama Empu Sada, sehingga hamba merasa bahwa Empu Sada tidak sepantasnya diperkenankan menghadap Tuan Puteri. Karena itulah maka hamba mencari akal, bagaimana hamba dapat berhadapan dengan Tuan Puteri untuk menyampaikan sebuah ceritera yang menarik bagi Tuan Puteri, demi keselamatan Kakanda Tuan Puteri sendiri, Mahisa Agni.”
Wajah Ken Dedes yang seputih kapas itu kini telah menjadi agak kemerah-merahan. Meskipun demikian tubuhnya masih terasa gemetar.
“Duduklah Tuan Puteri.” pemomongnya mempersilahkan.
Perlahan-lahan Ken Dedes kembali meletakkan tubuhnya di atas batu hitam yang beralaskan klikaning kayu yang dihiasi dengan benang-benang yang berwarna keemasan. Namun untuk sesaat gadis itu masih saja berdiam diri. Debar jantungnya masih terasa terlampau cepat, sedang kedua belah tangan dan kakinya masih saja gemetar. Tetapi perasaannya kini telah mulai dapat dikuasainya. Apalagi ketika ia masih melihat Empu Sada itu duduk tepekur diam hampir tidak bergerak sama sekali.
“Tuan Puteri.” berkata Empu Sada kemudian, “kedatangan hamba menghadap tuanku dengan segala macam akal, adalah karena hamba ingin dapat langsung menyampaikan permohonan maaf ke hadapan tuanku serta ingin menyampaikan sebuah kisah yang barangkali tidak menarik, tetapi barangkali akan dapat memberikan jalan bagi Mahisa Agni melawan keadaan yang kurang menguntungkannja.”
Empu Sada berhenti sejenak. Dicobanya untuk merasakan tanggapan Ken Dedes akan kata-katanya itu. Dan didengarnya Ken Dedes bertanya, “Apakah yang terjadi dengan kakang Mahisa Agni? Bukankah ia selama ini berada di Padang Karautan untuk menyelesaikan bendungannya?”
“Hamba Tuan Puteri.” sahut Empu Sada, “justru Mahisa Agni berada di Padang itulah maka bahaya selalu mengitarinya”
“Empu Sada,” berkata Ken Dedes yang sudah menjadi semakin tenang, “sepengetahuanku, bahaya yang paling dahsyat yang selama ini mengejarnya adalah bahaya yang ditimbulkan oleh ketamakan Kuda Sempana dan gurunya yang bernama Empu Sada. Apabila kau sekarang benar-benar sudah menghentikan usahamu untuk mencelakakannya, maka aku sangka Kakang Mahisa Agni akan dapat menjaga dirinya sendiri terhadap Kuda Sempana meskipun seandainya Kuda Sempana berbuat curang.”
“Tidak Tuan Puteri.” jawab Empu Sada, “karena itulah maka hamba dengan segala akal yang licik berusaha menemui Tuan Puteri. Bahaya yang sekarang mengancam Mahisa Agni bukan saja datang dari Kuda Sempana. Bahkan Kuda Sempana pun pada saatnya pasti akan mengalami bencana yang tidak kalah dahsyatnya dari Mahisa Agni sendiri.”
Ken Dedes mengerutkan keningnya, katanya, “Aku tidak mengerti Empu Sada.”
“Tuan Puteri,” berkata Empu Sada, “perkenankanlah hamba berceritera tentang diri hamba dan tentang diri Kakanda tuanku Mahisa Agni.”
“Katakanlah Empu.” sahut Ken Dedes.
Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Sesaat ditengadahkannya wajahnya, namun kembali wajah itu menunduk. Digesernya dirinya senyari maju, dan sejenak kemudian mulailah ia berceritera tentang dirinya. Empu Sada yang telah benar-benar merasa bersalah itu berceritera dengan sejujur-jujurnya, apa yang pernah dilakukan atas Mahisa Agni. Usahanya menemui Kebo Sindet dan Wong Sarimpat, dan diceriterakannya pula saat ia hampir mati terbunuh oleh kedua iblis yang mengerikan itu.
Ken Dedes mendengarkan ceritera Empu Sada itu dengan dada yang berdebar-debar. Hatinya semakin lama menjadi semakin cemas, sedang wajahnya menjadi semakin tegang. Perlahan-lahan ia dapat merasakan bahaya yang sedang mengancam Mahisa Agni. Bahaya yang justru ditimbulkan oleh orang yang kini dengan menyesal menceriterakannya kepadanya.
Akhirnya Empu Sada itu berkata, “Tuan Puteri, hamba dapat membayangkan, bahwa di Padang Karautan kini merayap-rayap Kebo Sindet dan Wong Sarimpat, mengintai Kakanda Tuan Puteri, Angger Mahisa Agni yang setiap saat siap untuk meloncat dan menerkamnya.”
Wajah Ken Dedes yang sudah mulai memerah itu kini lelah menjadi pucat kembali. Terasa debar dadanya menjadi semakin deras, dan kecemasan yang sangat telah menghinggapinya. Bahkan bukan saja Ken Dedes. Emban pemomongnya yang semasa mudanya bernama Jun Rumanti itu pun menjadi cemas. Terlalu cemas. Mahisa Agni adalah satu-satunya anaknya.
“Kenapa semuanya itu kau lakukan Empu?” bertanya Ken Dedes tanpa sesadarnya.
“Hamba sedang dilibat oleh kekelaman hati Tuan Puteri.”
“Kalau kau tidak mengalami kegagalan dan bahkan hampir mati pula karenanya, maka aku kira kau tidak akan berbuat seperti sekarang.” berkata Ken Dedes dengan penuh penyesalan.
“Hamba Tuan Puteri. Sebenarnyalah demikian. Karena itu, maka kedatangan hamba kemari bukan karena sisa-sisa kebersihan hati hamba yang mekar di dalam dada hamba, tetapi hamba datang kemari karena hamba telah ditelan oleh ketakutan dan keputus-asaan. Hamba tidak tahu lagi apa yang akan hamba lakukan, sedang hamba tidak dapat menyembunyikan diri kemana pun. Ketakutan, kecemasan dan keputus asaan itu selalu memeluk hati hamba. Maka dalam keadaan yang demikian itulah hamba datang menghadap.”
Ketegangan hati Ken Dedes pun menjadi semakin meningkat. Ia tidak segera tahu, apa yang harus dilakukannya. Namun tiba-tiba ia mengangkat dagunya. Sejenak ia merenung, namun tiba-tiba Wajahnya menjadi agak cerah. Perlahan-lahan ia berkata tidak kepada Empu Sada tetapi kepada pemomongnya,
“Bibi, bukankah beberapa hari yang lalu Tuanku Akuwu Tunggul Ametung telah mengirim sepasukan prajurit ke Padang Karautan untuk membantu Kakang Mahisa Agni?”
Emban itu pun menengadahkan wajahnya yang mulai dijalari oleh aliran darahnya kembali. Dengan serta-merta ia menjawab, “Ya, Ya Tuan Puteri. Pasukan itu telah berangkat minggu yang lalu. Pasukan itu kini pasti sudah berada di Padang Karautan dan telah sempat membantu pekerjaan Angger Mahisa Agni.”
Empu Sada yang mendengar pembicaraan itu mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak segera berani memotong untuk bertanya. Yang berbicara kemudian adalah Ken Dedes,
“Bukankah dengan demikian, maka bahaya yang mengancam kakang Mahisa Agni dapat dikurangi?”
OBJEK WISATA MANCA NEGARA


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar