“Hamba Tuan Puteri, mudah-mudahan demikianlah hendaknya. Namun bagaimanapun juga, adanya Prajurit-prajurit itu di sekitar angger Mahisa Agni, pasti berpengaruh juga pada dirinya.”
Empu Sada tidak segera mengerti pembicaraan itu. Karena itu ketika keduanya berhenti sejenak, maka diberanikannya dirinya bertanya, “Jadi, apakah maksud Tuan Puteri mengatakan bahwa Tuanku Akuwu Tunggul Ametung telah mengetahui bahaya yang mengancam kakanda Tuan Putri itu.”
“Bahaya itu sudah diketahuinya sejak lama.” sahut Ken Dedes, “sejak Kakanda Mahisa Agni bertemu dengan Akuwu Tunggul Ametung yang saat itu berada di Panawijen.”
Ken Dedes berhenti sejenak. Tanpa disengaja ia telah mengungkat kembali peristiwa pahit yang pernah dialaminya. Sejenak ia terdiam, namun kemudian ia berhasil menguasai dirinya kembali dan berkata,
“Bahwa bahaya itu menjadi semakin besar, ternyata pula setelah kau mencegatku di hutan pada saat aku pergi ke Panawijen bersama kakang Witantra. Tetapi, bahwa kemudian bahaya itu menjadi semakin besar dan besar. Tuanku Akuwu Tunggul Ametung masih belum mengetahuinya. Terlibatnya dua orang kakak beradik yang bernama Kebo Sindet dan Wong Sarimpat atas permintaanmu itu pun masih belum diketahui pula. Tetapi adalah kebetulan sekali bahwa dari Tumapel telah dikirim sepasukan prajurit di bawah pimpinan seorang Pelayan Dalam yang masih muda, bernama Ken Arok. Seorang Pelayan Dalam yang meskipun masa jabatan belum terlalu lama, tetapi ia adalah seorang anak muda yang menurut pendengaranku, mumpuni dalam olah krida.”
Empu Sada itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tanpa disadarinya mulutnya berdesir, “Syukurlah kalau demikian. Mudah-mudahan segalanya menjadi baik. Semoga Kebo Sindet dan Wong Sarimpat tidak mendapat kesempatan untuk berbuat sesuatu. Tetapi, kedua setan itu terlampau licik. Ia akan dapat menemukan akal untuk memisahkan Angger Mahisa Agni dari lingkungannya. Tetapi mudah-mudahan kali ini tidak. Karena itu adalah sebaiknya bahwa Angger Mahisa Agni segera diberi tahu akan bahaya yang mengancamnya.”
Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sependapat dengan Empu Sada, bahwa Mahisa Agni harus segera mengetahui bahaya yang mengintainya itu.
“Tetapi aku harus menyampaikannya kepada Akuwu Empu. Akuwu akan mengutus seseorang untuk menyampaikannya kepada Kakang Mahisa Agni.”
“Semakin cepat semakin baik Tuanku.”
“Tuan Puteri.” tiba-tiba emban pemomongnya itu memotong, “hamba dengar bahwa hari ini ada seseorang yang datang dari padang Karautan. Mungkin orang itu membawa laporan kepada Tuanku Akuwu Tunggul Ametung tentang keadaan prajurit Tumapel yang berada di sana. Mungkin orang itu dapat mengatakan apa yang telah terjadi di padang itu, dan orang itu pun akan dapat menerima pesan apabila ia segera akan kembali.”
“Seseorang datang dari Padang Karautan?” bertanya Ken Dedes dengan bati yang berdebar-debar karena berbagai macam tanggapan akan kedatangan orang itu.
Ternyata bukan saja Ken Dedes yang menjadi berdebar-debar mendengar berita tentang kedatangan seseorang dari padang Karautan, namun Empu Sada pun menjadi cemas pula.
“Apakah yang dikatakan oleh prajurit itu.” bertanya Ken Dedes kepada pemomongnya.
“Belum aku ketahui Tuan Puteri.” sahut pemomongnya “prajurit itu sedang berusaha untuk menghadap Akuwu sore ini. Mungkin prajurit itu sudah menyampaikan laporannya kepada Tuanku Tunggul Ametung.”
Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun dadanya masih saja berdebar-debar. Meskipun demikian ia mencoba untuk menghibur dirinya sendiri. Katanya di dalam hati,
“Kalau terjadi sesuatu Akuwu pasti sudah memberitahuku.”
Namun agaknya Empu Sada masih ingin bertanya, katanya, “Apakah prajurit itu dapat ditemui dan bertanya kepadanya tentang Padang Karautan setelah ia menghadap Akuwu dan menyampaikan laporannya.”
Emban itu berpikir sejenak. Jawabnya kemudian, “Mungkin juga dapat bertanya kepadanya setelah ia menghadap Akuwu.”
“Apakah mungkin kau dapat memanggilnya Nini?”
“Aku tidak tahu siapakah yang datang.”
“Para prajurit yang bertugas barangkali dapat mengatakan, siapakah yang baru saja menghadap Akuwu.”
Emban tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Mungkin juga aku dapat mencobanya.”
Tetapi tiba-tiba dipandanginya Empu Sada itu dengan hati yang ragu. Apakah ia akan meninggalkan momongannya berdua dengan Empu Sada yang selama ini telah menghantui gadis itu? Apakah ia dapat mempercayai orang tua itu sepenuhnya? Emban itu menjadi bimbang. Karena itu ia tidak segera bangkit dari tempatnya.
Emban tua itu masih juga termanggu-mangu ketika Empu Sada memandanginya dengan gelisah dan cemas. Bayangannya tentang Padang Karautan terlampau suram bagi Mahisa Agni. Apakah seseorang yang datang dari Padang Karautan itu tidak menyampaikan laporan tentang sesuatu bahaya yang telah menimpa anak muda itu? Apakah seseorang itu tidak melaporkan bahwa Mahisa Agni telah hilang dari lingkungan mereka?
Tetapi Empu Sada tidak mengucapkannya. Ia takut kalau Ken Dedes menjadi semakin cemas pula. Karena itu, maka Empu Sada itu pun bahkan terdiam sambil menundukkan kepalanya.
Sejenak ketiga orang itu saling berdiam diri. Ken Dedes pun masih juga dibayangi oleh kecemasan tentang kakaknya, Mahisa Agni. Sedang emban pemomong Ken Dedes itu, yang sebenarnya adalah ibu Mahisa Agni kemudian tidak pula kalah cemasnya. Di dalam hatinya pun merayap pula gambaran-gambaran yang mengerikan yang dapat menimpa anaknya. Karena itu, maka ia pun sebenarnya ingin segera mendengar, ceritera apakah yang telah dibawa oleh seseorang itu dari padang rumput Karautan yang garang.
Tetapi emban tua itu tidak dapat meninggalkan Ken Dedes seorang diri. Empu Sada telah meninggalkan bekas yang hitam di sepanjang langkahnya. Karena itu, maka apa yang dilakukannya masih juga menimbulkan keragu-raguan di dalam hati.
Karena emban tua itu tidak segera beranjak dari tempatnya, maka Empu Sada pun kemudian mengangkat wajahnya. Ia ingin bertanya, kenapa emban itu tidak segera mencari prajurit yang datang dari Padang Karautan untuk segera mendapat jawaban atas teka-teki yang berkecamuk di dalam hati mereka. Tetapi ketika Empu Sada melihat sorot mata emban itu, kembali ia menundukkan kepalanya sambil berdesah di dalam hati,
“Hem, agaknya Rumanti belum dapat melepaskan momongannya sendiri bersama aku. Tetapi itu bukan salahnya. Itu adalah salahku.”
Kesepian itu akhirnya telah menyesakkan dada Empu Sada yang gelisah, sehingga duduknya pun menjadi gelisah pula. Tetapi ia tidak berani berkata sepatah kata pun, apalagi mendesak supaya emban itu segera memanggil prajurit yang datang dari Karautan. Dengan demikian kecurigaannya dapat menjadi semakin bertambah, seakan-akan ia memaksanya untuk meninggalkan Ken Dedes seorang diri. Tetapi agaknya yang bertanya kemudian adalah Ken Dedes, katanya,
“Bagaimana bibi?”
Emban itu menjadi agak kebingungan. Ia tidak dapat pergi, tetapi bagaimana ia akan mengatakannya?. Namun tiba-tiba ia mendapat akal. Mungkin ia tidak perlu pergi mencarinya sendiri atau bertanya-tanya ke halaman. Bukankah di belakang, di tangga serambi ada seorang prajurit dan para Pelayan dalam yang bertugas? Karena itu, maka katanya,
“Tuan Puteri. Biarlah hamba memanggil seorang prajurit di serambi belakang. Ia akan dapat lebih cepat menemukan kawannya yang datang dari padang Karautan.”
“Panggillah,” sahut Ken Dedes tanpa mengerti maksud embannya.
Namun ketika emban itu sempat memandang wajah Empu Sada, maka Dilihatnya orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya seakan-akan ia memuji ketrampilan emban pemomong Ken Dedes itu. Sejenak kemudian emban itu berdiri dan melangkah ke pintu, tetapi tidak sampai di luar pintu. Dari celah-celah daun pintu yang dibukanya sedikit terdengar suaranya memanggil seorang prajurit yang sedang bertugas. Akhirnya ketika prajurit itu telah menghadap, maka berkatalah emban itu,
“Silahkanlah Tuan Puteri, mungkin prajurit ini dapat menemukannya lebih cepat.”
Prajurit itu menjadi berdebar-debar. Apakah yang harus dicarinya? Namun ia menarik nafas dalam-dalam ketika ia mendengar Ken Dedes kemudian menjelaskan maksudnya.
“Hamba Tuan Puteri.” sahut prajurit itu kemudian, “memang siang tadi hamba melihat tidak hanya seorang, tetapi dua orang yang datang dari Padang Karautan. Mungkin mereka telah menghadap Akuwu Tunggul Ametung.”
“Kalau mereka telah menyampaikan laporannya, panggillah mereka kemari.” perintah Ken Dedes kepadanya.
Prajurit itu terdiam sejenak. Ia tidak mengerti, kenapa Ken Dedes ingin segera mendengar secara langsung laporan Prajurit-prajurit yang baru saja datang dari padang Karautan siang tadi. Adalah tidak lajim bahwa seseorang selain Akuwu Tunggul Ametung memanggil seorang prajurit untuk mendengarkan laporannya secara langsung. Apabila seseorang tersangkut dalam satu persoalan, maka biasanya Akuwu Tunggul Ametung sendirilah yang akan memanggilnya dan mempersoalkan dengan orang yang berkepentingan itu. Tetapi kali ini yang memberinya perintah adalah bakal Permaisuri Tunggul Ametung itu sendiri, yang selama ini belum pernah ada. Karena itu maka prajurit itu sejenak menjadi ragu-ragu.
Ken Dedes melihat keragu-raguan prajurit itu. Maka katanya kemudian, “Sudah tentu apabila laporan itu bukan laporan rahasia yang hanya boleh didengar oleh Akuwu. Meskipun demikian, aku akan dapat bertanya kepadanya tentang keadaan padang itu, tentang Kakakku Mahisa Agni dan tentang bendungan yang baru dibuatnya.”
Prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian kepala itu membungkuk dalam-dalam. Terdengar ia berkata, “Hamba Tuan Puteri. Biarlah hamba cari prajurit yang baru saja datang dari padang Karautan itu.”
“Carilah. Hal-hal yang penting. Akuwu sendiri pasti akan memberitahukan kepadaku. Aku tidak memerlukan hal-hal yang penting itu. Aku hanya ingin mendengar kabar tentang bendungan dan Kakakku Mahisa Agni.”
Prajurit itu pun segera mohon diri, beringsut mundur, dan kemudian meninggalkan ruangan itu untuk mencari ke dua kawannya yang siang tadi baru saja datang dari padang Karautan.
“Orang-orang itu pasti pulang ke rumah masing-masing.” katanya di dalam hati, “kesempatan untuk menengok keluarga.”
Tetapi, prajurit itu tidak segera keluar halaman. Ditanyakannya kepada Pelayan Dalam di tangga halaman depan, apakah ada prajurit dari padang Karautan yang sedang menghadap langsung Akuwu Tunggul Ametung.
“Siang tadi.” sahut Pelayan Dalam itu, “menghadap bersama pemimpin Pengawal Istana kakang Witantra.”
“O,” prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya, “mereka pasti sudah pulang. Mungkin sudah tidur mendengkur di sisi anak-anaknya.” Pelayan dalam itu tidak menjawab, tetapi ia tersenyum.
Prajurit itu pun kemudian pergi ke regol tempat ia bertugas. Kepada kawan-kawannya dijelaskannya apa yang harus di lakukan. Sejenak kemudian maka berderaplah kaki-kaki kudanya menyusur jalan kota. Akhirnya kedua prajurit itu benar-benar diketemukannya di rumah masing-masing. Alangkah terkejutnya kedua prajurit itu ketika datang seorang kawannya ke rumah. Mereka menyangka bahwa ada sesuatu yang penting. Tetapi, mereka memberengut ketika mereka mendengar keperluan prajurit itu.
“Apakah Tuan Puteri belum mendengar laporanku lewat Tuanku Akuwu?”
“Belum,” sahut kawannya itu.
Ketika mereka menemui prajurit yang seorang lagi yang baru saja datang dari Padang Karautan, maka katanya “bukankah ini telah malam. Apakah tidak dapat ditunda sampai besok?”
“Tuan Puteri ingin segera mendengar laporanmu.”
“Kami sudah melaporkannya kepada Tuanku Akuwu Tunggul Ametung.”
“Tetapi belum kepada Tuan Puteri.”
“Ah,” prajurit itu berdesah. Tetapi iapun membenahi pakaiannya.
Kemudian mereka pun dengan tergesa-gesa pergi ke Istana untuk menghadap Ken Dedes.
“Kenapa tidak siang tadi?” prajurit yang seorang masih saja menggerutu.
“Aku melihat kalian datang, tetapi aku tidak melihat kalian pergi bersama Ki Witantra. Apakah kalian lewat regol yang lain?”
“Ketika aku datang Ki Witantra ternyata sudah berada di Istana. Aku keluar lewat regol yang itu-itu juga, tetapi agaknya kau baru mengambil rangsum, atau baru memakannya di belakang gardu.”
Prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka pun kemudian terdiam. Hanya derap kuda mereka sajalah yang terdengar memecah sepi malam, menghantam dinding-dinding halaman di sisi-sisi jalan. Angin malam yang dingin mengalir mengusap tubuh-tubuh mereka yang lembab oleh keringat dan embun. Kedua prajurit itu pun kemudian dihadapkan kepada Ken Dedes yang hampir tidak sabar menunggunya. Empu Sada yang sudah mulai terkantuk-kantuk pun menjadi terbangun kembali.
“Kemarilah,” berkata Ken Dedes mempersilahkan kedua prajurit itu.
Kedua prajurit itu pun beringsut maju. Mereka menjadi agak canggung. Mereka belum pernah menghadap gadis bakal permaisuri Akuwu Tunggul Ametung.
“Apakah kalian baru datang dari padang Karautan?” bertanya Ken Dedes.
“Hamba Tuan Puteri,” jawab salah seorang dari mereka dengan suara parau, karena mereka masih juga dihinggapi oleh rasa kantuk.
“Apakah ada sesuatu yang penting terjadi di Padang Karautan sehingga kau berdua harus melaporkannya kepada Akuwu?”
“O, tidak Tuan Puteri.” sahut salah seorang prajurit itu, “tidak ada yang penting. Hamba hanya menyampaikan laporan bahwa prajurit-prajurit Tumapel telah sampai dengan selamat dan telah mulai bekerja dengan baik membantu orang-orang Panawijen membuat bendungan.”
Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Bersyukurlah ia di dalam hati bahwa tidak ada sesuatu yang penting terjadi.
“Bagaimana dengan bendungan itu dan kakang Mahisa Agni?”
“Kakanda Tuan Puteri, Mahisa Agni kini baru pergi ke Panawijen tuanku. Ada sedikit bencana yang menimpa padukuhan itu. Tetapi sama sekali tidak berarti dan tidak mengganggu pekerjaan yang besar itu.”
Ken Dedes mengerutkan keningnya mendengar berita tentang Panawijen. Karena itu maka dengan serta merta ia bertanya, “Bencana apa lagi yang telah menimpa pedukuhan itu? Pedukuhan itu telah menjadi kering, dan sekarang apa yang telah terjadi?”
“Tetapi bencana itu tidak mencemaskan Tuan Puteri. Bahkan bencana yang kecil itu dapat saja dilupakan.”
“Ya, tetapi apa yang terjadi.”
“Justru karena Panawijen telah menjadi kering, maka udara di padukuhan itu pun menjadi sangat panasnya, sehingga karena itu maka di padukuhan itu telah terjadi kebakaran kecil. Beberapa buah lumbung dan rumah terbakar habis. Tetapi karena beberapa orang tua masih tinggal di pedukuhan itu dan perempuan, maka dengan pasir dan sisa-sisa pohon pisang yang masih ada maka api dapat dibatasi. Ternyata mereka berhasil memisahkan api yang berkobar itu dengan daerah di sekitarnya, sehingga api tidak menjalar lebih besar lagi.”
“O, kasihan Panawijen.”
“Tetapi Tuan Puteri tidak usah cemas. Hamba telah menyampaikan semuanya itu kepada Tuanku Akuwu Tunggul Ametung atas perintah pimpinan yang ditugaskan di padang Karautan, Ken Arok.”
“Bagaimanakah tanggapan Tuanku Akuwu Tunggul Ametung?”
“Tuanku Akuwu hanya tertawa saja mendengar laporan hamba. Tetapi Akhirnya Tuanku Akuwu memerintahkan kepada kakang Witantra untuk menyampaikan perintah kepada yang berkepentingan, menyediakan padi dan jagung untuk membantu orang-orang Panawijen yang telah kehilangan sebagian dari bahan makanan mereka. Sedang sawah-sawah mereka sendiri dalam keadaan kering dan tidak mungkin menghasilkan di musim kering seperti ini.”
Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia menarik nafas dalam-dalam sambil berdesah. “Beruntunglah Panawijen mempunyai seorang Akuwu yang baik.”
Sejenak ruangan itu menjadi sunyi. Tetapi Ken Dedes sudah tidak lagi dicengkam oleh kecemasan dan kegelisahan. Bencana itu memang bukan bencana yang besar yang dapat menggelisahkannya. Mungkin karena persoalan yang kecil itulah maka Akuwu tidak segera memanggilnya dan memberitahukan kepadanya tentang apa yang telah terjadi di Panawijen, bahkan mungkin lusa Akuwu Tunggul Ametung baru akan memberitahukannya.
Tetapi tanggapan Empu Sada agak berbeda dengan tanggapan Ken Dedes. Sesaat dipandangnya wajah emban tua yang duduk di sisi Ken Dedes itu. Tetapi agaknya emban tua itu pun merasa bahwa tidak terjadi sesuatu di padang Karautan. Emban tua itu beberapa kali mengangguk-anggukkan kepalanya tanpa suatu kesan yang mendebarkan hatinya. Namun Empu Sada masih menahan diri untuk tidak berkata sesuatu. Ia masih menunggu, barangkali prajurit itu masih ingin menyampaikan beberapa persoalan kepada Ken Dedes. Tetapi prajurit itu masih juga terdiam. Ken Dedes dan pemomongnya pun masih juga belum berkata sesuatu.
Ruangan itu masih juga diliputi oleh kesenyapan. Yang terdengar hanyalah desah angin yang menyentuh dedaunan di petamanan di luar ruangan itu. Para prajurit yang sedang bertugas duduk terkantuk-kantuk sambil memeluk senjata mereka. Prajurit yang duduk di tangga di belakang ruangan belakang itu pun sudah mengantuk pula. Seharusnya ia sudah selesai dengan tugasnya dan pulang ke rumah, minum air hangat dan makan sekenyang-kenyangnya. Tetapi ia masih saja duduk di tangga istana bersama beberapa Pelayan Dalam di ujung tangga yang lain.
“Perutku lapar.” gumamnya seorang diri. Tiba-tiba di kejauhan dilihatnya cahaya yang melontar dari celah-celah pintu.
“Di sana itu masih ada orang. Mungkin seorang Pelayan yang dapat pergi ke dapur sejenak mengambil rangsum tambahan buatku.” Tetapi prajurit itu tidak berani meninggalkan tempatnya, “Emban tadi mengatakan, bahwa aku akan dapat pergi ke dapur. Tetapi bagaimana dengan laki-laki tua itu?” Akhirnya kembali prajurit itu duduk mengantuk sambil menahan lapar yang mengganggu perutnya.
Di dalam ruangan yang sepi itu Empu Sada menjadi gelisah. Keterangan prajurit yang baru saja datang dari padang Karautan itu baginya membawa kesan yang lain. Bukan sekedar beberapa buah lumbung yang terbakar. Bukan sekedar beberapa orang Panawijen telah kehilangan tempat tinggalnya. Tetapi jauh lebih mendebarkan dari pada itu.
Isi lumbung yang terbakar, rumah-rumah yang hangus menjadi abu, akan segera dapat diganti. Lumbung-lumbung akan segera dapat dibangun kembali, bahkan Akuwu Tunggul Ametung telah memerintahkan untuk mengirimkan jagung dan padi ke Panawijen. Tetapi yang mencemaskannya adalah, kenapa hal itu terjadi? Apakah benar, hanya sekedar karena udara yang panas maka lumbung-lumbung itu terbakar? Tetapi seandainya seseorang telah membakarnya, apakah mereka hanya sekedar ingin melihat orang-orang Panawijen kelaparan, ataukah ada tujuan lain? Akhirnya Empu Sada tidak dapat menahan pertanyaannya lagi. Dengan hati-hati ia berkata,
“Angger, Prajurit-prajurit yang baru datang dari Padang Karautan, apakah kebakaran yang timbul di Panawijen itu disebabkan oleh udara yang panas, atau karena seseorang kurang berhati-hati sehingga menimbulkan bencana itu, atau oleh sebab yang lain lagi?”
Kedua prajurit itu mengangkat wajahnya, kemudian mereka berpaling kepada laki-laki tua itu. Sejenak mereka menjadi ragu-ragu. Namun kemudian terdengar Ken Dedes berkata,
“Jawablah pertanyaan itu.”
“Hamba Tuanku.” sahut salah seorang dari mereka, “tetapi hamba tidak tahu pasti apa yang telah menyebabkannya. Dua orang tua yang tinggal di Padukuhan Panawijen telah datang ke Padang Karautan dan memberitahukannya kepada Kakanda Tuan Puteri, yang segera ingin melihatnya sendiri ke Panawijen.”
Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sudah menyangka bahwa Mahisa Agni pasti akan datang sendiri ke Panawijen untuk menyaksikan bencana itu betapa kecilnya. Karena itu ia sama sekali tidak terkejut mendengar keterangan prajurit itu. Berbeda dengan Ken Dedes, Empu Sada merasa sesuatu berdesir di dadanya meskipun tidak segera tampak pada wajahnya. Tetapi laki-laki tua itu kemudian bertanya pula,
“Dengan siapakah Angger Mahisa Agni pergi ke Panawijen?”
“Dengan pamannya” sahut prajurit itu.
Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Yang dimaksud pamannya pastilah Empu Gandring.
“Hanya berdua?”
“Tidak.” sahut prajurit itu, “meskipun Adi Mahisa Agni ingin pergi seorang diri, tetapi pamannya menasehatkannya untuk membawa beberapa orang kawan.”
“Ya, siapakah Kawan-kawannya itu?”
“Ken Arok sendiri.”
Empu Sada mengerutkan keningnya. Meskipun tidak segera terucapkan, tetapi di dalam kepalanya berkecamuk berbagai macam persoalan. Ia menjadi curiga, bahwa di padukuhan Panawijen telah timbul kebakaran betapapun kecilnya. Kemudian dua orang laki-laki tua yang tinggal di Panawijen datang ke Padang Karautan untuk memberitahukan kebakaran itu kepada Mahisa Agni. Bahwa ada dua orang laki-laki tua berani melintasi padang Karautan itu telah menarik perhatiannya pula.
Tiba-tiba Empu Sada itu mengerutkan keningnya. Debar di dalam dadanya menjadi semakin cepat. Ia sampai pada suatu kesimpulan yang sangat menggelisahkan. Katanya di dalam hati,
“Ini pasti pokal Kebo Sindet dan Wong Sarimpat untuk memikat Mahisa Agni datang ke Panawijen. Mudah-mudahan Empu Gandring cukup waspada. Tetapi agaknya Empu Gandring belum mengenalnya. Kelicikan dan kecurangan bukan soal bagi mereka berdua.”
Empu Sada itu pun menjadi gelisah. Tetapi kegelisahannya itu masih saja dicoba untuk disembunyikan.
“Angger,” berkata Empu Sada kemudian kepada kedua prajurit itu, “kapankah Angger ke Padang Karautan.”
“Lusa aku akan kembali. Aku masih semalam lagi berada di Tumapel.”
Empu Sada mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian kepada Ken Dedes ia berkata, “Tuan Puteri, apakah masih ada yang ingin tuanku ketahui?”
“Aku kira untuk sementara tidak Kiai.”
“Apakah tuanku ingin berpesan kepada mereka.”
Ken Dedes terdiam sejenak. Kepada emban pemomongnya ia bertanya, “Apakah yang penting aku pesankan kepada mereka bibi?”
Emban tua itu mengangkat kepalanya. Ditatapnya kedua prajurit itu sejenak. Kemudian kepada Ken Dedes ia berkata, “Tuanku, tak ada yang lebih penting tuanku pesankan, daripada mengharap agar Angger Mahisa Agni menjadi lebih berhati-hati. Bahaya akan dapat selalu menerkamnya setiap saat. Beritahukan kepada kedua prajurit itu, bahwa mereka harus berhati-hati pula.”
Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Kau dengar kata-kata bibi emban itu? Mungkin dapat kau beritahukan kepada Kakang Mahisa Agni bahwa ia harus berhati-hati terhadap dua orang yang bernama Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Bukankah begitu Kiai?”
“Ya, ya tuanku.” sahut Empu Sada.
Tiba-tiba Prajurit-prajurit itu mengerutkan keningnya. Salah seorang dari mereka berkata, “Ya, aku pernah mendengar nama itu. Menurut ceritera yang pernah aku dengar, di Padang Karautan sekarang berkeliaran kedua orang bersaudara itu. Yang pernah bertemu dengan Adi Mahisa Agni dan pamannya adalah salah seorang dari mereka yang bernama Wong Sarimpat.”
“He,” Empu Sada terkejut mendengar keterangan itu, “jadi Wong Sarimpat lelah mencoba menjumpai Angger Mahisa Agni.”
Kedua prajurit itu terkejut mendengar pertanyaan Empu Sada. Tetapi sejenak kemudian mereka menjawab, “Ya. Aku tidak tahu kebenaran dari ceritera itu. Mahisa Agni sendiri tidak pernah mengatakannya.”
“Kalau demikian, dari siapa mereka mendengar ceritera itu?”
“Ki Buyut Panawijen.”
Empu Sada mengangguk-anggukkan kepalanya. Kalau demikian maka hanya Ki Buyut lah yang diberi tahu bahwa bahaya itu pernah ditemui oleh Mahisa Agni. Untunglah bahwa pamannya Empu Gandring ada bersamanya. Tetapi agaknya Ki Buyut telah mengatakannya pula kepada orang lain, sehingga akhirnya ceritera itu pun tersebar diantara orang-orang Panawijen dan para prajurit dari Tumapel. Dada Empu Sada berguncang ketika prajurit itu berkata seterusnya,
“Tetapi Wong Sarimpat bukanlah bahaya yang sebenarnya bagi adi Mahisa Agni. Sumber dari bahaya yang selalu membayangi anak muda itu adalah Kuda Sempana dan gurunya.”
Perlahan-lahan Empu Sada melepaskan tarikan nafas yang tiba-tiba terasa seolah-olah berhenti. Tetapi ia tidak berkata sepatah katapun. Kesunyian sekali lagi menghinggapi ruangan itu. Malam yang bertambah malam pun terasa semakin sepi Dikejauhan terdengar bunyi kentongan dalam nada dara muluk. Hampir tengah malam.
Sejenak kemudian terdengar Ken Dedes berkata, “Aku kira keperluanku dengan kalian telah selesai. Kalian dapat kembali ke rumah kalian. Besok kalau kalian akan kembali ke Padang Karautan aku ingin bertemu dengan kalian sekali lagi.”
“Hamba tuan puteri.” sahut kedua prajurit itu hampir bersamaan.
Sesaat kemudian maka keduanya telah mohon diri dan meninggalkan ruangan itu. Prajurit yang menjemputnya masih saja duduk mengantuk di tangga belakang. Ketika ia melihat kedua prajurit itu pergi, maka ia pun mengumpat di dalam hatinya.
Empu Sada yang masih duduk di dalam ruangan belakang bersama dengan Ken Dedes dan emban tua itu pun menjadi semakin tidak tenteram. Setiap orang menganggap bahwa Kuda Sempana dan dirinya adalah sumber bencana bagi Mahisa Agni. Dan ia pun tidak akan dapat mengingkari. Dengan demikian, apabila Mahisa Agni kali ini benar-benar masuk ke dalam jebakan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat, maka dirinyalah yang harus bertanggung jawab. Karena itu, karena ketegangan yang mencengkam jantungnya Empu Sada tidak lagi dapat duduk lebih lama. Sejenak kemudian maka ia pun mohon diri pula untuk meninggalkan ruangan itu.
“Tuanku.” berkata Empu Sada, “sebenarnya hamba ingin menyampaikan pesan ini juga kepada Tuanku Tunggul Ametung. Tetapi hamba tidak berani. Hamba merasa diri hamba yang kotor. Karena itu tuanku, hamba mengharap bahwa Tuanku Akuwu Tunggul Ametung akan dapat mendengarnya dari Tuan Puteri. Mungkin Tuanku Tunggul Ametung akan mempunyai suatu sikap yang dapat menyelamatkan Angger Mahisa Agni, atau bahkan menangkap kedua setan dari Kemundungan itu. Kalau ada orang lain yang mau mencoba menangkapnya, maka hamba menyediakan diri hamba untuk ikut serta. Mungkin Panji Bojong Santi dengan sepasukan prajurit atau mungkin orang lain menurut pertimbangan Tuanku Akuwu Tunggul Ametung.”
Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya, Jawabnya, “Baik Empu, aku akan menyampaikannya kepada Tuanku Akuwu Tunggul Ametung. Apabila kedua orang itu telah tertangkap, maka akan tenteramlah hatiku.”
“Demikianlah Tuanku. Dan kini perkenankanlah hamba mohon diri. Setiap kali hamba bersedia untuk memenuhi panggilan Tuanku. Bukan saja untuk suatu pekerjaan yang berat, bahkan untuk digantung pun hamba akan datang.”
Ken Dedes mengerutkan keningnya, namun kemudian ia berkata. “Baiklah Empu. Aku akan memberitahukan kepadamu apabila ada sesuatu yang penting untuk kau ketahui.”
Empu Sada itu pun kemudian meninggalkan ruangan itu pula diantar oleh emban pemomong Ken Dedes. Di luar pintu bilik emban itu terkejut melihat seorang prajurit hampir tertidur pada kedua tangannya yang memeluk lututnya. Ketika prajurit itu mendengar langkah keluar, ia pun terkejut pula dan segera memperbaiki letak duduknya. Tetapi segera ia menarik nafas dalam-dalam ketika dilihatnya emban tua itu bersama laki-laki yang telah dibawanya masuk.
“Hem.” desis prajurit itu, “kapan aku harus pergi ke dapur.”
“O.” emban tua itu tersenyum, “aku lupa membawamu ke dapur. Pembicaraan kami terlampau asyik, sehingga aku tidak ingat lagi bahwa kau ada disini.”
“Terlalu.”
“Apakah sekarang kau masih lapar?”
“Tidak, aku sudah tidak lapar lagi. Aku telah makan kenyang-kenyang di sini.”
“Makan apa?”
“Angin.” sahut prajurit itu sambil bersungut.
“O.” emban itu tertawa, “marilah, aku ambilkan rangsum tambahan buatmu.”
“Tidak, aku sudah tidak lapar.”
“Jangan mutung.”
“Tidak.” kemudian katanya kepada laki-laki tua yang menyebut dirinya Makerti, “marilah Kaki, apakah kau sudah cukup?”
“Sudah ngger.”
“Marilah aku antar kau keluar halaman istana ini.”
“Tetapi apakah angger tidak makan dahulu?”
“Tidak.”
“Aku juga tidak dijamu makan meskipun aku bertamu hampir separuh malam.”
“Separuh malam lebih.” prajurit itu membetulkan.
“O, ya, separuh malam lebih.”
Empu Sada tidak segera mengerti pembicaraan itu. Karena itu ketika keduanya berhenti sejenak, maka diberanikannya dirinya bertanya, “Jadi, apakah maksud Tuan Puteri mengatakan bahwa Tuanku Akuwu Tunggul Ametung telah mengetahui bahaya yang mengancam kakanda Tuan Putri itu.”
“Bahaya itu sudah diketahuinya sejak lama.” sahut Ken Dedes, “sejak Kakanda Mahisa Agni bertemu dengan Akuwu Tunggul Ametung yang saat itu berada di Panawijen.”
Ken Dedes berhenti sejenak. Tanpa disengaja ia telah mengungkat kembali peristiwa pahit yang pernah dialaminya. Sejenak ia terdiam, namun kemudian ia berhasil menguasai dirinya kembali dan berkata,
“Bahwa bahaya itu menjadi semakin besar, ternyata pula setelah kau mencegatku di hutan pada saat aku pergi ke Panawijen bersama kakang Witantra. Tetapi, bahwa kemudian bahaya itu menjadi semakin besar dan besar. Tuanku Akuwu Tunggul Ametung masih belum mengetahuinya. Terlibatnya dua orang kakak beradik yang bernama Kebo Sindet dan Wong Sarimpat atas permintaanmu itu pun masih belum diketahui pula. Tetapi adalah kebetulan sekali bahwa dari Tumapel telah dikirim sepasukan prajurit di bawah pimpinan seorang Pelayan Dalam yang masih muda, bernama Ken Arok. Seorang Pelayan Dalam yang meskipun masa jabatan belum terlalu lama, tetapi ia adalah seorang anak muda yang menurut pendengaranku, mumpuni dalam olah krida.”
Empu Sada itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tanpa disadarinya mulutnya berdesir, “Syukurlah kalau demikian. Mudah-mudahan segalanya menjadi baik. Semoga Kebo Sindet dan Wong Sarimpat tidak mendapat kesempatan untuk berbuat sesuatu. Tetapi, kedua setan itu terlampau licik. Ia akan dapat menemukan akal untuk memisahkan Angger Mahisa Agni dari lingkungannya. Tetapi mudah-mudahan kali ini tidak. Karena itu adalah sebaiknya bahwa Angger Mahisa Agni segera diberi tahu akan bahaya yang mengancamnya.”
Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sependapat dengan Empu Sada, bahwa Mahisa Agni harus segera mengetahui bahaya yang mengintainya itu.
“Tetapi aku harus menyampaikannya kepada Akuwu Empu. Akuwu akan mengutus seseorang untuk menyampaikannya kepada Kakang Mahisa Agni.”
“Semakin cepat semakin baik Tuanku.”
“Tuan Puteri.” tiba-tiba emban pemomongnya itu memotong, “hamba dengar bahwa hari ini ada seseorang yang datang dari padang Karautan. Mungkin orang itu membawa laporan kepada Tuanku Akuwu Tunggul Ametung tentang keadaan prajurit Tumapel yang berada di sana. Mungkin orang itu dapat mengatakan apa yang telah terjadi di padang itu, dan orang itu pun akan dapat menerima pesan apabila ia segera akan kembali.”
“Seseorang datang dari Padang Karautan?” bertanya Ken Dedes dengan bati yang berdebar-debar karena berbagai macam tanggapan akan kedatangan orang itu.
Ternyata bukan saja Ken Dedes yang menjadi berdebar-debar mendengar berita tentang kedatangan seseorang dari padang Karautan, namun Empu Sada pun menjadi cemas pula.
“Apakah yang dikatakan oleh prajurit itu.” bertanya Ken Dedes kepada pemomongnya.
“Belum aku ketahui Tuan Puteri.” sahut pemomongnya “prajurit itu sedang berusaha untuk menghadap Akuwu sore ini. Mungkin prajurit itu sudah menyampaikan laporannya kepada Tuanku Tunggul Ametung.”
Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun dadanya masih saja berdebar-debar. Meskipun demikian ia mencoba untuk menghibur dirinya sendiri. Katanya di dalam hati,
“Kalau terjadi sesuatu Akuwu pasti sudah memberitahuku.”
Namun agaknya Empu Sada masih ingin bertanya, katanya, “Apakah prajurit itu dapat ditemui dan bertanya kepadanya tentang Padang Karautan setelah ia menghadap Akuwu dan menyampaikan laporannya.”
Emban itu berpikir sejenak. Jawabnya kemudian, “Mungkin juga dapat bertanya kepadanya setelah ia menghadap Akuwu.”
“Apakah mungkin kau dapat memanggilnya Nini?”
“Aku tidak tahu siapakah yang datang.”
“Para prajurit yang bertugas barangkali dapat mengatakan, siapakah yang baru saja menghadap Akuwu.”
Emban tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Mungkin juga aku dapat mencobanya.”
Tetapi tiba-tiba dipandanginya Empu Sada itu dengan hati yang ragu. Apakah ia akan meninggalkan momongannya berdua dengan Empu Sada yang selama ini telah menghantui gadis itu? Apakah ia dapat mempercayai orang tua itu sepenuhnya? Emban itu menjadi bimbang. Karena itu ia tidak segera bangkit dari tempatnya.
Emban tua itu masih juga termanggu-mangu ketika Empu Sada memandanginya dengan gelisah dan cemas. Bayangannya tentang Padang Karautan terlampau suram bagi Mahisa Agni. Apakah seseorang yang datang dari Padang Karautan itu tidak menyampaikan laporan tentang sesuatu bahaya yang telah menimpa anak muda itu? Apakah seseorang itu tidak melaporkan bahwa Mahisa Agni telah hilang dari lingkungan mereka?
Tetapi Empu Sada tidak mengucapkannya. Ia takut kalau Ken Dedes menjadi semakin cemas pula. Karena itu, maka Empu Sada itu pun bahkan terdiam sambil menundukkan kepalanya.
Sejenak ketiga orang itu saling berdiam diri. Ken Dedes pun masih juga dibayangi oleh kecemasan tentang kakaknya, Mahisa Agni. Sedang emban pemomong Ken Dedes itu, yang sebenarnya adalah ibu Mahisa Agni kemudian tidak pula kalah cemasnya. Di dalam hatinya pun merayap pula gambaran-gambaran yang mengerikan yang dapat menimpa anaknya. Karena itu, maka ia pun sebenarnya ingin segera mendengar, ceritera apakah yang telah dibawa oleh seseorang itu dari padang rumput Karautan yang garang.
Tetapi emban tua itu tidak dapat meninggalkan Ken Dedes seorang diri. Empu Sada telah meninggalkan bekas yang hitam di sepanjang langkahnya. Karena itu, maka apa yang dilakukannya masih juga menimbulkan keragu-raguan di dalam hati.
Karena emban tua itu tidak segera beranjak dari tempatnya, maka Empu Sada pun kemudian mengangkat wajahnya. Ia ingin bertanya, kenapa emban itu tidak segera mencari prajurit yang datang dari Padang Karautan untuk segera mendapat jawaban atas teka-teki yang berkecamuk di dalam hati mereka. Tetapi ketika Empu Sada melihat sorot mata emban itu, kembali ia menundukkan kepalanya sambil berdesah di dalam hati,
“Hem, agaknya Rumanti belum dapat melepaskan momongannya sendiri bersama aku. Tetapi itu bukan salahnya. Itu adalah salahku.”
Kesepian itu akhirnya telah menyesakkan dada Empu Sada yang gelisah, sehingga duduknya pun menjadi gelisah pula. Tetapi ia tidak berani berkata sepatah kata pun, apalagi mendesak supaya emban itu segera memanggil prajurit yang datang dari Karautan. Dengan demikian kecurigaannya dapat menjadi semakin bertambah, seakan-akan ia memaksanya untuk meninggalkan Ken Dedes seorang diri. Tetapi agaknya yang bertanya kemudian adalah Ken Dedes, katanya,
“Bagaimana bibi?”
Emban itu menjadi agak kebingungan. Ia tidak dapat pergi, tetapi bagaimana ia akan mengatakannya?. Namun tiba-tiba ia mendapat akal. Mungkin ia tidak perlu pergi mencarinya sendiri atau bertanya-tanya ke halaman. Bukankah di belakang, di tangga serambi ada seorang prajurit dan para Pelayan dalam yang bertugas? Karena itu, maka katanya,
“Tuan Puteri. Biarlah hamba memanggil seorang prajurit di serambi belakang. Ia akan dapat lebih cepat menemukan kawannya yang datang dari padang Karautan.”
“Panggillah,” sahut Ken Dedes tanpa mengerti maksud embannya.
Namun ketika emban itu sempat memandang wajah Empu Sada, maka Dilihatnya orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya seakan-akan ia memuji ketrampilan emban pemomong Ken Dedes itu. Sejenak kemudian emban itu berdiri dan melangkah ke pintu, tetapi tidak sampai di luar pintu. Dari celah-celah daun pintu yang dibukanya sedikit terdengar suaranya memanggil seorang prajurit yang sedang bertugas. Akhirnya ketika prajurit itu telah menghadap, maka berkatalah emban itu,
“Silahkanlah Tuan Puteri, mungkin prajurit ini dapat menemukannya lebih cepat.”
Prajurit itu menjadi berdebar-debar. Apakah yang harus dicarinya? Namun ia menarik nafas dalam-dalam ketika ia mendengar Ken Dedes kemudian menjelaskan maksudnya.
“Hamba Tuan Puteri.” sahut prajurit itu kemudian, “memang siang tadi hamba melihat tidak hanya seorang, tetapi dua orang yang datang dari Padang Karautan. Mungkin mereka telah menghadap Akuwu Tunggul Ametung.”
“Kalau mereka telah menyampaikan laporannya, panggillah mereka kemari.” perintah Ken Dedes kepadanya.
Prajurit itu terdiam sejenak. Ia tidak mengerti, kenapa Ken Dedes ingin segera mendengar secara langsung laporan Prajurit-prajurit yang baru saja datang dari padang Karautan siang tadi. Adalah tidak lajim bahwa seseorang selain Akuwu Tunggul Ametung memanggil seorang prajurit untuk mendengarkan laporannya secara langsung. Apabila seseorang tersangkut dalam satu persoalan, maka biasanya Akuwu Tunggul Ametung sendirilah yang akan memanggilnya dan mempersoalkan dengan orang yang berkepentingan itu. Tetapi kali ini yang memberinya perintah adalah bakal Permaisuri Tunggul Ametung itu sendiri, yang selama ini belum pernah ada. Karena itu maka prajurit itu sejenak menjadi ragu-ragu.
Ken Dedes melihat keragu-raguan prajurit itu. Maka katanya kemudian, “Sudah tentu apabila laporan itu bukan laporan rahasia yang hanya boleh didengar oleh Akuwu. Meskipun demikian, aku akan dapat bertanya kepadanya tentang keadaan padang itu, tentang Kakakku Mahisa Agni dan tentang bendungan yang baru dibuatnya.”
Prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian kepala itu membungkuk dalam-dalam. Terdengar ia berkata, “Hamba Tuan Puteri. Biarlah hamba cari prajurit yang baru saja datang dari padang Karautan itu.”
“Carilah. Hal-hal yang penting. Akuwu sendiri pasti akan memberitahukan kepadaku. Aku tidak memerlukan hal-hal yang penting itu. Aku hanya ingin mendengar kabar tentang bendungan dan Kakakku Mahisa Agni.”
Prajurit itu pun segera mohon diri, beringsut mundur, dan kemudian meninggalkan ruangan itu untuk mencari ke dua kawannya yang siang tadi baru saja datang dari padang Karautan.
“Orang-orang itu pasti pulang ke rumah masing-masing.” katanya di dalam hati, “kesempatan untuk menengok keluarga.”
Tetapi, prajurit itu tidak segera keluar halaman. Ditanyakannya kepada Pelayan Dalam di tangga halaman depan, apakah ada prajurit dari padang Karautan yang sedang menghadap langsung Akuwu Tunggul Ametung.
“Siang tadi.” sahut Pelayan Dalam itu, “menghadap bersama pemimpin Pengawal Istana kakang Witantra.”
“O,” prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya, “mereka pasti sudah pulang. Mungkin sudah tidur mendengkur di sisi anak-anaknya.” Pelayan dalam itu tidak menjawab, tetapi ia tersenyum.
Prajurit itu pun kemudian pergi ke regol tempat ia bertugas. Kepada kawan-kawannya dijelaskannya apa yang harus di lakukan. Sejenak kemudian maka berderaplah kaki-kaki kudanya menyusur jalan kota. Akhirnya kedua prajurit itu benar-benar diketemukannya di rumah masing-masing. Alangkah terkejutnya kedua prajurit itu ketika datang seorang kawannya ke rumah. Mereka menyangka bahwa ada sesuatu yang penting. Tetapi, mereka memberengut ketika mereka mendengar keperluan prajurit itu.
“Apakah Tuan Puteri belum mendengar laporanku lewat Tuanku Akuwu?”
“Belum,” sahut kawannya itu.
Ketika mereka menemui prajurit yang seorang lagi yang baru saja datang dari Padang Karautan, maka katanya “bukankah ini telah malam. Apakah tidak dapat ditunda sampai besok?”
“Tuan Puteri ingin segera mendengar laporanmu.”
“Kami sudah melaporkannya kepada Tuanku Akuwu Tunggul Ametung.”
“Tetapi belum kepada Tuan Puteri.”
“Ah,” prajurit itu berdesah. Tetapi iapun membenahi pakaiannya.
Kemudian mereka pun dengan tergesa-gesa pergi ke Istana untuk menghadap Ken Dedes.
“Kenapa tidak siang tadi?” prajurit yang seorang masih saja menggerutu.
“Aku melihat kalian datang, tetapi aku tidak melihat kalian pergi bersama Ki Witantra. Apakah kalian lewat regol yang lain?”
“Ketika aku datang Ki Witantra ternyata sudah berada di Istana. Aku keluar lewat regol yang itu-itu juga, tetapi agaknya kau baru mengambil rangsum, atau baru memakannya di belakang gardu.”
Prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka pun kemudian terdiam. Hanya derap kuda mereka sajalah yang terdengar memecah sepi malam, menghantam dinding-dinding halaman di sisi-sisi jalan. Angin malam yang dingin mengalir mengusap tubuh-tubuh mereka yang lembab oleh keringat dan embun. Kedua prajurit itu pun kemudian dihadapkan kepada Ken Dedes yang hampir tidak sabar menunggunya. Empu Sada yang sudah mulai terkantuk-kantuk pun menjadi terbangun kembali.
“Kemarilah,” berkata Ken Dedes mempersilahkan kedua prajurit itu.
Kedua prajurit itu pun beringsut maju. Mereka menjadi agak canggung. Mereka belum pernah menghadap gadis bakal permaisuri Akuwu Tunggul Ametung.
“Apakah kalian baru datang dari padang Karautan?” bertanya Ken Dedes.
“Hamba Tuan Puteri,” jawab salah seorang dari mereka dengan suara parau, karena mereka masih juga dihinggapi oleh rasa kantuk.
“Apakah ada sesuatu yang penting terjadi di Padang Karautan sehingga kau berdua harus melaporkannya kepada Akuwu?”
“O, tidak Tuan Puteri.” sahut salah seorang prajurit itu, “tidak ada yang penting. Hamba hanya menyampaikan laporan bahwa prajurit-prajurit Tumapel telah sampai dengan selamat dan telah mulai bekerja dengan baik membantu orang-orang Panawijen membuat bendungan.”
Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Bersyukurlah ia di dalam hati bahwa tidak ada sesuatu yang penting terjadi.
“Bagaimana dengan bendungan itu dan kakang Mahisa Agni?”
“Kakanda Tuan Puteri, Mahisa Agni kini baru pergi ke Panawijen tuanku. Ada sedikit bencana yang menimpa padukuhan itu. Tetapi sama sekali tidak berarti dan tidak mengganggu pekerjaan yang besar itu.”
Ken Dedes mengerutkan keningnya mendengar berita tentang Panawijen. Karena itu maka dengan serta merta ia bertanya, “Bencana apa lagi yang telah menimpa pedukuhan itu? Pedukuhan itu telah menjadi kering, dan sekarang apa yang telah terjadi?”
“Tetapi bencana itu tidak mencemaskan Tuan Puteri. Bahkan bencana yang kecil itu dapat saja dilupakan.”
“Ya, tetapi apa yang terjadi.”
“Justru karena Panawijen telah menjadi kering, maka udara di padukuhan itu pun menjadi sangat panasnya, sehingga karena itu maka di padukuhan itu telah terjadi kebakaran kecil. Beberapa buah lumbung dan rumah terbakar habis. Tetapi karena beberapa orang tua masih tinggal di pedukuhan itu dan perempuan, maka dengan pasir dan sisa-sisa pohon pisang yang masih ada maka api dapat dibatasi. Ternyata mereka berhasil memisahkan api yang berkobar itu dengan daerah di sekitarnya, sehingga api tidak menjalar lebih besar lagi.”
“O, kasihan Panawijen.”
“Tetapi Tuan Puteri tidak usah cemas. Hamba telah menyampaikan semuanya itu kepada Tuanku Akuwu Tunggul Ametung atas perintah pimpinan yang ditugaskan di padang Karautan, Ken Arok.”
“Bagaimanakah tanggapan Tuanku Akuwu Tunggul Ametung?”
“Tuanku Akuwu hanya tertawa saja mendengar laporan hamba. Tetapi Akhirnya Tuanku Akuwu memerintahkan kepada kakang Witantra untuk menyampaikan perintah kepada yang berkepentingan, menyediakan padi dan jagung untuk membantu orang-orang Panawijen yang telah kehilangan sebagian dari bahan makanan mereka. Sedang sawah-sawah mereka sendiri dalam keadaan kering dan tidak mungkin menghasilkan di musim kering seperti ini.”
Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia menarik nafas dalam-dalam sambil berdesah. “Beruntunglah Panawijen mempunyai seorang Akuwu yang baik.”
Sejenak ruangan itu menjadi sunyi. Tetapi Ken Dedes sudah tidak lagi dicengkam oleh kecemasan dan kegelisahan. Bencana itu memang bukan bencana yang besar yang dapat menggelisahkannya. Mungkin karena persoalan yang kecil itulah maka Akuwu tidak segera memanggilnya dan memberitahukan kepadanya tentang apa yang telah terjadi di Panawijen, bahkan mungkin lusa Akuwu Tunggul Ametung baru akan memberitahukannya.
Tetapi tanggapan Empu Sada agak berbeda dengan tanggapan Ken Dedes. Sesaat dipandangnya wajah emban tua yang duduk di sisi Ken Dedes itu. Tetapi agaknya emban tua itu pun merasa bahwa tidak terjadi sesuatu di padang Karautan. Emban tua itu beberapa kali mengangguk-anggukkan kepalanya tanpa suatu kesan yang mendebarkan hatinya. Namun Empu Sada masih menahan diri untuk tidak berkata sesuatu. Ia masih menunggu, barangkali prajurit itu masih ingin menyampaikan beberapa persoalan kepada Ken Dedes. Tetapi prajurit itu masih juga terdiam. Ken Dedes dan pemomongnya pun masih juga belum berkata sesuatu.
Ruangan itu masih juga diliputi oleh kesenyapan. Yang terdengar hanyalah desah angin yang menyentuh dedaunan di petamanan di luar ruangan itu. Para prajurit yang sedang bertugas duduk terkantuk-kantuk sambil memeluk senjata mereka. Prajurit yang duduk di tangga di belakang ruangan belakang itu pun sudah mengantuk pula. Seharusnya ia sudah selesai dengan tugasnya dan pulang ke rumah, minum air hangat dan makan sekenyang-kenyangnya. Tetapi ia masih saja duduk di tangga istana bersama beberapa Pelayan Dalam di ujung tangga yang lain.
“Perutku lapar.” gumamnya seorang diri. Tiba-tiba di kejauhan dilihatnya cahaya yang melontar dari celah-celah pintu.
“Di sana itu masih ada orang. Mungkin seorang Pelayan yang dapat pergi ke dapur sejenak mengambil rangsum tambahan buatku.” Tetapi prajurit itu tidak berani meninggalkan tempatnya, “Emban tadi mengatakan, bahwa aku akan dapat pergi ke dapur. Tetapi bagaimana dengan laki-laki tua itu?” Akhirnya kembali prajurit itu duduk mengantuk sambil menahan lapar yang mengganggu perutnya.
Di dalam ruangan yang sepi itu Empu Sada menjadi gelisah. Keterangan prajurit yang baru saja datang dari padang Karautan itu baginya membawa kesan yang lain. Bukan sekedar beberapa buah lumbung yang terbakar. Bukan sekedar beberapa orang Panawijen telah kehilangan tempat tinggalnya. Tetapi jauh lebih mendebarkan dari pada itu.
Isi lumbung yang terbakar, rumah-rumah yang hangus menjadi abu, akan segera dapat diganti. Lumbung-lumbung akan segera dapat dibangun kembali, bahkan Akuwu Tunggul Ametung telah memerintahkan untuk mengirimkan jagung dan padi ke Panawijen. Tetapi yang mencemaskannya adalah, kenapa hal itu terjadi? Apakah benar, hanya sekedar karena udara yang panas maka lumbung-lumbung itu terbakar? Tetapi seandainya seseorang telah membakarnya, apakah mereka hanya sekedar ingin melihat orang-orang Panawijen kelaparan, ataukah ada tujuan lain? Akhirnya Empu Sada tidak dapat menahan pertanyaannya lagi. Dengan hati-hati ia berkata,
“Angger, Prajurit-prajurit yang baru datang dari Padang Karautan, apakah kebakaran yang timbul di Panawijen itu disebabkan oleh udara yang panas, atau karena seseorang kurang berhati-hati sehingga menimbulkan bencana itu, atau oleh sebab yang lain lagi?”
Kedua prajurit itu mengangkat wajahnya, kemudian mereka berpaling kepada laki-laki tua itu. Sejenak mereka menjadi ragu-ragu. Namun kemudian terdengar Ken Dedes berkata,
“Jawablah pertanyaan itu.”
“Hamba Tuanku.” sahut salah seorang dari mereka, “tetapi hamba tidak tahu pasti apa yang telah menyebabkannya. Dua orang tua yang tinggal di Padukuhan Panawijen telah datang ke Padang Karautan dan memberitahukannya kepada Kakanda Tuan Puteri, yang segera ingin melihatnya sendiri ke Panawijen.”
Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sudah menyangka bahwa Mahisa Agni pasti akan datang sendiri ke Panawijen untuk menyaksikan bencana itu betapa kecilnya. Karena itu ia sama sekali tidak terkejut mendengar keterangan prajurit itu. Berbeda dengan Ken Dedes, Empu Sada merasa sesuatu berdesir di dadanya meskipun tidak segera tampak pada wajahnya. Tetapi laki-laki tua itu kemudian bertanya pula,
“Dengan siapakah Angger Mahisa Agni pergi ke Panawijen?”
“Dengan pamannya” sahut prajurit itu.
Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Yang dimaksud pamannya pastilah Empu Gandring.
“Hanya berdua?”
“Tidak.” sahut prajurit itu, “meskipun Adi Mahisa Agni ingin pergi seorang diri, tetapi pamannya menasehatkannya untuk membawa beberapa orang kawan.”
“Ya, siapakah Kawan-kawannya itu?”
“Ken Arok sendiri.”
Empu Sada mengerutkan keningnya. Meskipun tidak segera terucapkan, tetapi di dalam kepalanya berkecamuk berbagai macam persoalan. Ia menjadi curiga, bahwa di padukuhan Panawijen telah timbul kebakaran betapapun kecilnya. Kemudian dua orang laki-laki tua yang tinggal di Panawijen datang ke Padang Karautan untuk memberitahukan kebakaran itu kepada Mahisa Agni. Bahwa ada dua orang laki-laki tua berani melintasi padang Karautan itu telah menarik perhatiannya pula.
Tiba-tiba Empu Sada itu mengerutkan keningnya. Debar di dalam dadanya menjadi semakin cepat. Ia sampai pada suatu kesimpulan yang sangat menggelisahkan. Katanya di dalam hati,
“Ini pasti pokal Kebo Sindet dan Wong Sarimpat untuk memikat Mahisa Agni datang ke Panawijen. Mudah-mudahan Empu Gandring cukup waspada. Tetapi agaknya Empu Gandring belum mengenalnya. Kelicikan dan kecurangan bukan soal bagi mereka berdua.”
Empu Sada itu pun menjadi gelisah. Tetapi kegelisahannya itu masih saja dicoba untuk disembunyikan.
“Angger,” berkata Empu Sada kemudian kepada kedua prajurit itu, “kapankah Angger ke Padang Karautan.”
“Lusa aku akan kembali. Aku masih semalam lagi berada di Tumapel.”
Empu Sada mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian kepada Ken Dedes ia berkata, “Tuan Puteri, apakah masih ada yang ingin tuanku ketahui?”
“Aku kira untuk sementara tidak Kiai.”
“Apakah tuanku ingin berpesan kepada mereka.”
Ken Dedes terdiam sejenak. Kepada emban pemomongnya ia bertanya, “Apakah yang penting aku pesankan kepada mereka bibi?”
Emban tua itu mengangkat kepalanya. Ditatapnya kedua prajurit itu sejenak. Kemudian kepada Ken Dedes ia berkata, “Tuanku, tak ada yang lebih penting tuanku pesankan, daripada mengharap agar Angger Mahisa Agni menjadi lebih berhati-hati. Bahaya akan dapat selalu menerkamnya setiap saat. Beritahukan kepada kedua prajurit itu, bahwa mereka harus berhati-hati pula.”
Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Kau dengar kata-kata bibi emban itu? Mungkin dapat kau beritahukan kepada Kakang Mahisa Agni bahwa ia harus berhati-hati terhadap dua orang yang bernama Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Bukankah begitu Kiai?”
“Ya, ya tuanku.” sahut Empu Sada.
Tiba-tiba Prajurit-prajurit itu mengerutkan keningnya. Salah seorang dari mereka berkata, “Ya, aku pernah mendengar nama itu. Menurut ceritera yang pernah aku dengar, di Padang Karautan sekarang berkeliaran kedua orang bersaudara itu. Yang pernah bertemu dengan Adi Mahisa Agni dan pamannya adalah salah seorang dari mereka yang bernama Wong Sarimpat.”
“He,” Empu Sada terkejut mendengar keterangan itu, “jadi Wong Sarimpat lelah mencoba menjumpai Angger Mahisa Agni.”
Kedua prajurit itu terkejut mendengar pertanyaan Empu Sada. Tetapi sejenak kemudian mereka menjawab, “Ya. Aku tidak tahu kebenaran dari ceritera itu. Mahisa Agni sendiri tidak pernah mengatakannya.”
“Kalau demikian, dari siapa mereka mendengar ceritera itu?”
“Ki Buyut Panawijen.”
Empu Sada mengangguk-anggukkan kepalanya. Kalau demikian maka hanya Ki Buyut lah yang diberi tahu bahwa bahaya itu pernah ditemui oleh Mahisa Agni. Untunglah bahwa pamannya Empu Gandring ada bersamanya. Tetapi agaknya Ki Buyut telah mengatakannya pula kepada orang lain, sehingga akhirnya ceritera itu pun tersebar diantara orang-orang Panawijen dan para prajurit dari Tumapel. Dada Empu Sada berguncang ketika prajurit itu berkata seterusnya,
“Tetapi Wong Sarimpat bukanlah bahaya yang sebenarnya bagi adi Mahisa Agni. Sumber dari bahaya yang selalu membayangi anak muda itu adalah Kuda Sempana dan gurunya.”
Perlahan-lahan Empu Sada melepaskan tarikan nafas yang tiba-tiba terasa seolah-olah berhenti. Tetapi ia tidak berkata sepatah katapun. Kesunyian sekali lagi menghinggapi ruangan itu. Malam yang bertambah malam pun terasa semakin sepi Dikejauhan terdengar bunyi kentongan dalam nada dara muluk. Hampir tengah malam.
Sejenak kemudian terdengar Ken Dedes berkata, “Aku kira keperluanku dengan kalian telah selesai. Kalian dapat kembali ke rumah kalian. Besok kalau kalian akan kembali ke Padang Karautan aku ingin bertemu dengan kalian sekali lagi.”
“Hamba tuan puteri.” sahut kedua prajurit itu hampir bersamaan.
Sesaat kemudian maka keduanya telah mohon diri dan meninggalkan ruangan itu. Prajurit yang menjemputnya masih saja duduk mengantuk di tangga belakang. Ketika ia melihat kedua prajurit itu pergi, maka ia pun mengumpat di dalam hatinya.
Empu Sada yang masih duduk di dalam ruangan belakang bersama dengan Ken Dedes dan emban tua itu pun menjadi semakin tidak tenteram. Setiap orang menganggap bahwa Kuda Sempana dan dirinya adalah sumber bencana bagi Mahisa Agni. Dan ia pun tidak akan dapat mengingkari. Dengan demikian, apabila Mahisa Agni kali ini benar-benar masuk ke dalam jebakan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat, maka dirinyalah yang harus bertanggung jawab. Karena itu, karena ketegangan yang mencengkam jantungnya Empu Sada tidak lagi dapat duduk lebih lama. Sejenak kemudian maka ia pun mohon diri pula untuk meninggalkan ruangan itu.
“Tuanku.” berkata Empu Sada, “sebenarnya hamba ingin menyampaikan pesan ini juga kepada Tuanku Tunggul Ametung. Tetapi hamba tidak berani. Hamba merasa diri hamba yang kotor. Karena itu tuanku, hamba mengharap bahwa Tuanku Akuwu Tunggul Ametung akan dapat mendengarnya dari Tuan Puteri. Mungkin Tuanku Tunggul Ametung akan mempunyai suatu sikap yang dapat menyelamatkan Angger Mahisa Agni, atau bahkan menangkap kedua setan dari Kemundungan itu. Kalau ada orang lain yang mau mencoba menangkapnya, maka hamba menyediakan diri hamba untuk ikut serta. Mungkin Panji Bojong Santi dengan sepasukan prajurit atau mungkin orang lain menurut pertimbangan Tuanku Akuwu Tunggul Ametung.”
Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya, Jawabnya, “Baik Empu, aku akan menyampaikannya kepada Tuanku Akuwu Tunggul Ametung. Apabila kedua orang itu telah tertangkap, maka akan tenteramlah hatiku.”
“Demikianlah Tuanku. Dan kini perkenankanlah hamba mohon diri. Setiap kali hamba bersedia untuk memenuhi panggilan Tuanku. Bukan saja untuk suatu pekerjaan yang berat, bahkan untuk digantung pun hamba akan datang.”
Ken Dedes mengerutkan keningnya, namun kemudian ia berkata. “Baiklah Empu. Aku akan memberitahukan kepadamu apabila ada sesuatu yang penting untuk kau ketahui.”
Empu Sada itu pun kemudian meninggalkan ruangan itu pula diantar oleh emban pemomong Ken Dedes. Di luar pintu bilik emban itu terkejut melihat seorang prajurit hampir tertidur pada kedua tangannya yang memeluk lututnya. Ketika prajurit itu mendengar langkah keluar, ia pun terkejut pula dan segera memperbaiki letak duduknya. Tetapi segera ia menarik nafas dalam-dalam ketika dilihatnya emban tua itu bersama laki-laki yang telah dibawanya masuk.
“Hem.” desis prajurit itu, “kapan aku harus pergi ke dapur.”
“O.” emban tua itu tersenyum, “aku lupa membawamu ke dapur. Pembicaraan kami terlampau asyik, sehingga aku tidak ingat lagi bahwa kau ada disini.”
“Terlalu.”
“Apakah sekarang kau masih lapar?”
“Tidak, aku sudah tidak lapar lagi. Aku telah makan kenyang-kenyang di sini.”
“Makan apa?”
“Angin.” sahut prajurit itu sambil bersungut.
“O.” emban itu tertawa, “marilah, aku ambilkan rangsum tambahan buatmu.”
“Tidak, aku sudah tidak lapar.”
“Jangan mutung.”
“Tidak.” kemudian katanya kepada laki-laki tua yang menyebut dirinya Makerti, “marilah Kaki, apakah kau sudah cukup?”
“Sudah ngger.”
“Marilah aku antar kau keluar halaman istana ini.”
“Tetapi apakah angger tidak makan dahulu?”
“Tidak.”
“Aku juga tidak dijamu makan meskipun aku bertamu hampir separuh malam.”
“Separuh malam lebih.” prajurit itu membetulkan.
“O, ya, separuh malam lebih.”
OBJEK WISATA MANCA NEGARA


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar