PdLS-25
KEDUANYAPUN kemudian meninggalkan halaman belakang. Terkantuk-kantuk prajurit itu membawa Empu Sada keluar. Dilewatinya regol dalam yang bertugas di regol itu ternyata sudah berganti orang. Demikian pula di regol halaman. Kawan-kawannya bertugas telah pulang kerumah masing-masing.
“Darimana?“ bertanya penjaga yang baru.
“Aku bertugas di kamar bakal permaisuri.“ sahut prajurit yang kantuk itu.
“He?”
“Ya, hanya aku sajalah satu-satunya prajurit yang bertugas di sana dari seluruh Tumapel. Menyenangkan sekali. Makan minum dan apa saja yang kuminta. Tuan Puteri sendirilah yang memberinya”
Prajurit-prajurit yang sedang bertugas itu tertawa. Mereka tahu bahwa prajurit itu sedang lapar dan menunggu seseorang yang diantarnya itu sampai tengah malam. Ketika mereka telah sampai di luar regol, maka segera prajurit itu berkata,
“Kaki Makerti, tugasku sudah selesai. Kaki telah keluar dari halaman istana. Karena itu terserahlah kepada Kaki. Apakah kau akan bermalam di rumahku?”
“Terima kasih Ngger, terima kasih. Aku akan pergi ke tempat saudaraku.”
“Kaki mempunyai saudara di kota ini?”
“Ya, aku akan mencarinya. Rumahnya di dekat pasar.”
“Silahkan,“ berkata prajurit itu.
Ia sudah merasa sangat lelah dan kantuk. Karena itu maka segera ditinggalkannya laki-laki tua itu seorang diri. Dengan langkah panjang prajurit itu berjalan pulang. Untunglah bahwa rumahnya tidak terlampau jauh dari istana. Tetapi ia harus bersedia jawaban kalau isterinya bertanya kenapa ia pulang lambat. Isterinya kadang-kadang menjadi cemburu, karena seorang kawannya yang dekat, baru-baru ini telah mengambil seorang isteri muda.
Sepeninggal prajurit itu, hati Empu Sada menjadi semakin gelisah. Terbayang diangan-angannya, Mahisa Agni kini sedang merangkak masuk ke dalam jebakan yang dipasang oleh Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Sejenak Empu Sada masih saja berdiri termangu-mangu. Ia sama sekali tidak dapat mencuci tangan terhadap apa yang akan terjadi dengan Mahisa Agni. Orang tua itu terkejut ketika tiba-tiba seorang prajurit mendekatinya sambil bertanya,
“Bagaimana Kaki, apakah Kaki tidak tahu kemana akan pergi?”
“O,“ sahut Empu Sada terbata-bata, “tidak, tidak Ngger. Aku sedang melamun. Alangkah senangnya hidup kemenakanku itu. Aku ikut bergembira pula bersamanya.”
Prajurit itu terheran-heran. Kemudian iapun bertanya, “Siapakah kemanakanmu itu?”
Empu Sada memandangi prajurit itu dengan saksama. Barulah ia menyadari, bahwa prajurit-prajurit itu bukanlah prajurit-prajurit yang menerimanya siang kemarin. Tetapi meskipun demikian, prajurit-prajurit yang bertugas mendahuluinya pasti telah memberitahukan kepada mereka, tentang dirinya. Karena itu maka katanya,
“Apakah Angger tidak mendapat pemberitahuan bahwa aku baru saja menghadap kemanakanku. Ken Dedes?”
“O.“ prajurit itu mengerutkan keningnya, “Ya, ya. Jadi kaukah orang Yang bernama Makerti ? O, Ya, ya. Prajurit yang mengantarmu itu adalah prajurit yang telah dikatakan oleh pimpinan yang bertugas sebelum kami. Lalu, bagaimana sekarang?”
“Aku akan pergi kerumah saudaraku di samping pasar.“ sahut Empu Sada.
“Apakah Kaki memerlukan pengantar?”
“Tidak, tidak Ngger. Terima kasih.”
Empu Sada itu pun segera melangkah pergi meninggalkan regol istana itu. Tertatih-tatih ia berjalan menyusup kedalam gelapnya malam. Sinar obor dari regol yang memancar kemerah-merahan, akhirnya tidak lagi dapat mencapainya. Angin malam yang silir berhembus perlahan-lahan mengusap tubuh orang tua itu. Meskipun embun setitik-setitik turun dari langit, tetapi tubuh Empu Sada telah menjadi basah karena keringatnya. Ketegangan perasaannya tidak lagi dapat disembunyikannya.
“Kasihan,“ desisnya seorang diri. “Apakah aku hanya akan berpangku tangan? Mudah-mudahan Empu Gandring dapat menyelamatkannya. Tetapi apakah Empu Gandring mampu menghadapi kedua iblis itu bersama-sama. Kalau Ken Arok, pemimpin pasukan yang berada di Padang Karautan itu pergi pula bersama Mahisa Agni, maka aku mengharap orang itu akan dapat membantunya bersama-sama Mahisa Agni sendiri. Tetapi bagaimanakah dengan kekuatan Ken Arok itu?”
Hati Empu Sada pun menjadi semakin tidak tenang. Ketika ia kemudian berpaling, dan regol istana itu sudah tidak dilihatnya, maka langkahnyapun segera menjadi semakin cepat. Dengan sigapnya ia melontarkan kakinya, meloncat-loncat seperti seekor kijang di padang perburuan. Ia sendiri tidak tahu, kenapa tiba-tiba ia menjadi bernafsu untuk segera sampai ke rumahnya. Demikian kuat desakan keinginannya, sehingga tanpa dikehendakinya sendiri, orang tua itupun kemudian berlari semakin cepat menuju ke padepokannya.
Empu Sada tidak lagi menghiraukan, apakah ada seseorang yang melihatnya berlari-lari. Bahkan kemudian dikerahkannya segenap kemampuannya. Dan Empu Sada itu pun berlari secepat tatit. Ketika Empu Sada sampai kepadepokannya, maka dengan serta-merta diketuknya pintu rumahnya sambil memanggil-manggil nama muridnya.
“Sumekar, Sumekar.”
Alangkah terkejutnya muridnya itu. Segera ia bangkit dan berlari membukakan pintu. Ia menyangka bahwa gurunya sedang dikejar oleh bahaya. Ketika pintu telah terbuka, dan dilihatnya Sumekar berdiri di mukanya, Empu Sada tertegun sejenak. Ditatapnya wajah muridnya yang masih belum menyadari sepenuhnya apa yang dilakukan. Sekali-sekali Sumekar masih menggosok-gosok matanya yang merah.
“Tutuplah pintu.“ perintah Empu Sada kemudian ketika ia telah meloncat masuk. Sumekar pun melakukan saja perintah itu. Tetapi Sumekar itupun semakin terkejut ketika gurunya itu berkata, “Sumekar, pergilah ke sumur. Adus kramas. Siapkan dirimu dalam kemampuan tertinggi.”
Sejenak Sumekar berdiri kaku. Dengan sorot mata bertanya-tanya dipandanginya gurunya. Ia tidak segera menangkap maksud kata-katanya itu. Ketika Empu Sada melihat Sumekar masih saja berdiri termangu-mangu maka diulanginya perintahnya,
“Sumekar, pergilah adus kramas. Bersihkan dirimu lahir dan batin. Cepatlah.”
Sumekar tidak membantah lagi. Segera ia pergi ke perigi. Disiapkannya beberapa jambangan air dan diambilnya seberkas merang. Sambil membakar merang itu, hatinya selalu bertanya-tanya,
“Apakah sebenarnya maksud guru. Hari masih malam. Kenapa aku harus mandi?”
Tetapi Sumekar Yang patuh itu melakukan perintah itu dengan baik. Dibersihkannya tubuhnya meskipun dingin malam sampai menggigit tulang. Ternyata gurunya pun mandi pula. Gurunya pun agaknya telah membersihkan dirinya seperti yang dilakukannya. Ketika Sumekar telah selesai dan kembali ia menghadap gurunya, maka berkatalah Empu Sada,
“Sumekar. Kau sudah cukup dewasa, umurmu, persiapan jiwamu dan ilmumu. Karena itu, Sumekar, hari ini adalah hari yang kau nanti-nanti selama ini. Kau berada di padepokanku meskipun bukan semata-mata untuk itu, tetapi ilmu tertinggi pasti menjadi keinginan setiap murid.”
Tiba-tiba dada anak muda itu berdesir. Ia tidak menyangka, bahwa tiba-tiba saja ia dihadapkan pada kesempatan yang memang diharapkannya. Begitu tiba-tiba. Tetapi ia tidak sempat bertanya. Gurunyalah yang kemudian berkata.
“Masuklah ke dalam bilik belakang, tempat kau berlatih. Jangan ganggu adik-adik seperguruanmu yang sedang tidur. Biarlah mereka tidak tahu apa yang terjadi dengan dirimu.”
Sumekar hanya dapat mengikuti perintah itu. Meskipun beberapa pertanyaan terselip di dalam hatinya, kenapa peristiwa itu terjadi tanpa disangka-sangkanya lebih dahulu. Tetapi Sumekar tidak sempat menanyakannya. Hatinya yang berdebar-debar menjadikannya semakin tegang.
Ketika Sumekar dan Empu Sada telah berada di dalam bilik yang gelap di bagian belakang halaman rumahnya, maka gurunya itupun segera menutup pintu. Sebab slarak kayu nangka telah mengancing pintu itu rapat-rapat.
“Sumekar.“ berkata gurunya. Meskipun gelapnya bukan main, namun lambat laun, Sumekar dapat melihat bayangan gurunya, “kau benar-benar telah cukup mempunyai bekal untuk menerima ilmu tertinggi dari perguruanku. Bahkan kau telah memiliki beberapa kelebihan dari kakak-kakak seperguruan mu. Ada beberapa unsur yang aku berikan kepadamu, tetapi tidak aku berikan kepada kakak-kakakmu. Apalagi ketika aku telah meyakini kesalahanku pada masa-masa yang lampau, dan melihat bahwa kau memiliki beberapa kelebihan sifat dari kakak-kakak sebelummu.
Maka apa yang kau terima adalah melampaui dari apa yang telah dimiliki oleh Cundaka, Kuda Sempana dan apalagi yang lain-lain. Sehingga menurut perhitunganku, nanti apabila kau dapat memahami Aji Kala Bama dengan baik, maka kau tidak akan lagi berada di bawah kakak-kakak seperguruanmu. Bahkan seandainya kakak-kakak seperguruanmu, mungkin Kuda Sempana, mempunyai beberapa kelebihan waktu daripadamu, dan seandainya ia menerima beberapa petunjuk dan unsur-unsur gerak dari orang lain, maka kau tidak perlu mencemaskan dirimu. Ketekunanmu selama ini memang dapat dibanggakan. Apalagi kau selama ini tidak mempunyai kesibukan lain daripada memperdalam ilmu di perguruanku ini. Berbeda dengan Cundaka, pedagang keliling yang tamak dan Kuda Sempana Pelayan Dalam yang gila itu.”
Sumekar tidak menjawab. Ia hanya menundukkan kepalanya saja memandang jari-jari kakinya yang seolah-olah dipulas oleh warna yang hitam.
“Sumekar.“ terdengar suara Empu Sada lunak.
“Ya guru.“ sahut muridnya.
“Apakah kau sudah siap.”
“Sudah guru. Aku telah menyiapkan diri menurut ke mampuan yang ada padaku.”
“Bagus. Kau cukup rendah hati dan tidak sombong. Kelebihanmu dari kakak-kakakmu bukan saja pada ilmu dan unsur-unsur gerak, tetapi juga pada sifat dan budimu. Aku tidak pernah menyinggung masalah watak sebelumnya dengan kakak-kakak sebelummu. Apabila mereka memenuhi syarat yang aku berikan, maka mereka dapat segera menerima puncak ilmu itu. Tetapi ketahuilah, sebagai seorang pedagang, meskipun aku memperdagangkan ilmu, maka milikku pasti harus lebih baik dari milik orang lain. Ilmuku pun harus lebih baik dari ilmu orang lain.
Karena itu, maka tidak pernah aku mencoba memberikan sebaik-baiknya kepada mereka. Aku memberi seperti orang berjual beli. Sedikit mungkin untuk harga yang semahal mungkin. Aku tidak pernah mempedulikan untuk apa saja ilmu itu kelak. Tetapi kini tidak, Sumekar. Untuk pertama kalinya aku berpesan kepada seorang muridku, bahwa ilmu hanya berguna bagi pengabdian. Ilmu yang dipergunakan untuk hal-hal yang sebaliknya, pasti akan berarti bencana. Bencana bagi manusia dan kemanusiaan.”
Sumekar menjadi semakin tumungkul. Terasa kata-kata gurunya itu seolah-olah menyusup ke dalam jantungnya. Dan tanpa dikehendakinya sendiri, maka kepalanya pun mengangguk-angguk kecil.
“Nah, Sumekar.“ berkata gurunya, “kini berdoalah di dalam hati. Mulailah dengan kesiapan tertinggi untuk menerima Aji Kala Bama. Kau sendirilah yang sebenarnya harus menghisap Aji itu sesuai dengan pemusatan nalar dan rasa. Aku hanya akan menuntunmu.”
Sumekar membungkukkan kepalanya dalam-dalam. Kemudian terdengar ia berdesis, “Aku telah siap guru.”
Demikianlah maka keduanya kemudian tenggelam dalam pengerahan segenap kemampuan lahir dan batin. Empu Sada telah bertekad untuk menjadikan muridnya yang seorang ini sebagai pewaris yang paling sempurna dari ilmunya. Penyesalan atas masa lampau telah mendorongnya untuk berbuat sendiri yang seakan-akan ingin dipergunakannya untuk mengurangi kesalahan-kesalahan itu. Ia mengharap bahwa muridnya yang seorang ini dapat menerapkan ilmunya untuk kebajikan, seperti apa yang dilihatnya atas murid-murid Panji Bojong Santi dan apalagi murid Empu Purwa. Meskipun seandainya muridnya tidak akan dapat berbuat seperti mereka, namun setidak-tidaknya muridnya tidak menyalah-gunakan ilmu yang dimilikinya dan betapa kecilnya akan dapat menyerahkan ilmu itu untuk suatu pengabdian.
Malam berjalan terus bintang-bintang di langit bergeser semakin jauh ke barat, seperti permata yang bertaburan pada sebuah permadani yang berputar pada bola langit yang bulat. Angin yang basah mengalir lembut mengisap dedaunan yang nyenyak tertidur berselimutkan embun. Akhirnya, langit yang kelam itu menjadi semburat merah oleh warna fajar. Perlahan-lahan cahaya yang memancar dari balik cakrawala merayap semakin tinggi. Dan berhamburanlah kokok ayam jantan di antara kicau burung-burung liar di fajar pagi.
Kedua murid Empu Sada pun kemudian terbangun dari tidurnya. Seperti biasa mereka segera melakukan pekerjaan mereka. Menimba air bersama para pelayan. Membersihkan halaman dan isi rumah. Semula mereka tidak memperhatikan bahwa mereka tidak segera menjumpai Sumekar di dalam rumah itu. Tetapi lambat laun terasa sesuatu yang kurang.
“Dimanakah Kakang Sumekar?“ desis yang seorang.
Kawannya menggelengkan kepalanya. “Aku belum melihatnya.“ jawabnya.
Ketika kemudian mereka bertanya kepada para pelayan, maka tak seorang pun yang melihatnya. Tak seorang pun yang mengerti kemana anak muda itu pergi. Tetapi, kedua murid Empu Sada itu melihat pintu bilik di halaman belakang tertutup rapat. Karena itu maka berkata salah seorang dari mereka.
“Mungkin kakang Sumekar ada di dalamnya.”
Tetapi keduanya tidak yakin akan hal itu. Mereka sama sekali tidak mendengar langkah apapun di dalam bilik itu. Bahkan bilik itu seolah-olah sedang tertidur nyenyak meskipun matahari telah mulai melepaskan sinarnya yang kekuning-kuningan.
“Mungkin kakang Sumekar tidur di dalamnya“ berkata salah seorang dari mereka.
“Apakah guru juga pergi?”
Kawannya mengangkat bahu katanya. “Tak seorang pun yang dapat mengatakan tentang guru. Apakah guru ada di rumah ataukah sedang pergi.”
Keduanya pun kemudian terdiam. Mereka meneruskan kerja mereka, membersihkan rumah dan halaman. Para pelayan pun melakukan pekerjaan mereka seperti biasa. Tetapi kali ini Sumekar tidak ada di antara mereka. Biasanya Sumekar lah yang memimpin mereka dan memberi beberapa petunjuk tentang pekerjaan yang harus mereka lakukan hari itu. Namun mereka tidak dapat berpangku tangan, membiarkan padepokan itu terbengkalai karena Sumekar tidak mereka temui. Kedua murid Empu Sada itu semakin siang menjadi semakin gelisah. Kalau Sumekar tidur di dalam bilik itu, ia pasti sudah terbangun. Meskipun demikian, mereka sama sekali tidak berani mengetuk pintu yang masih saja tertutup itu.
Sehari itu padepokan Empu Sada yang sunyi terasa menjadi semakin sunyi. Kedua muridnya dan para pelayan hampir-hampir tidak berbicara satu sama lain. Mereka lebih banyak merenung dan menebak di dalam hati. Tetapi pintu bilik di halaman belakang itu masih juga tertutup, dan mereka masih juga belum menemukan Sumekar, apalagi guru mereka, Empu Sada. Baru ketika matahari lingsir ke Barat menjelang senja, maka hati kedua murid Empu Sada itu menjadi berdebar-debar. Mereka melihat pintu bilik itu bergerak-gerak. Sejenak kemudian mereka mendengar pintu itu bergerit.
Kedua murid Empu Sada itu tidak tahu kenapa mereka menjadi berdebar-debar. Meskipun mereka tahu bahwa bilik itu memang bilik yang khusus, tetapi kali ini mereka merasa hati beberapa perbedaan dari hari-hari yang lampau. Mereka seakan-akan melihat, bahwa di belakang pintu yang sedang bergerit itu tersembunyi sebuah rahasia yang besar. Ketika pintu itu terbuka dada kedua murid itupun berdesir. Hampir tidak sabar mereka menunggu, siapakah yang berada di dalam bilik itu.
Mereka menahan nafas ketika kemudian mereka melihat guru mereka, Empu Sada melangkah keluar pintu dengan wajah yang pucat. Tetapi ketika Empu Sada itu melihat kedua muridnya, maka orang tua itu tersenyum. Perlahan-lahan ia berkata,
“Kakakmu ada di dalam bilik itu.”
Kedua muridnya termangu-mangu. Ia tidak tahu maksud gurunya. Apakah mereka harus masuk ke dalam bilik itu?. Tetapi keduanya tidak berani bertanya. Mereka hanya memandang saja ketika gurunya berjalan perlahan-lahan masuk ke dalam rumah.
“Apakah yang sudah terjadi?” bisik salah seorang dari mereka.
“Entahlah“ sahut yang lain.
“Marilah kita lihat.” ajak yang pertama.
Kawannya menjadi agak ragu-ragu. Tetapi kemudian mereka melangkah memasuki bilik yang khusus mereka pergunakan untuk berlatih. Mereka tertegun ketika mereka melihat Sumekar sedang mengemasi beberapa macam senjata. Beberapa macam benda yang tidak mereka mengerti. Mereka melihat beberapa batang besi yang melengkung dan beberapa senjata terpatah-patahkan. Di sudut ruangan mereka melihat sebuah batu yang pecah berserakan.
“Apa Yang telah terjadi.“ tiba-tiba terloncat sebuah pertanyaan dari salah seorang dari mereka.
“Tidak apa-apa.“ jawab Sumekar tersenyum. Ketika ia tegak berdiri, maka kedua tangannya mengusap peluh yang membasahi wajahnya.
Tiba-tiba salah seorang murid Empu Sada itu mengerutkan keningnja. Batu-batu Yang pecah berserakan, senjata-senjata yang patah dan keringat Sumekar Yang seakan-akan terperas dari dalam tubuhnya ternyata telah memberinya petunjuk. Dengan suara gemetar ia berdesis,
“Kala Bama.”
Sumekar berpaling kearah adik seperguruannya itu. Tampaklah wajahnya berkerut. Tetapi kemudian ia berdesis, “Ya. Tetapi jangan membual.”
“Tidak.“ jawabnya, “berbahagialah kakang Sumekar yang telah mendapat kesempatan memiliki Aji Kala Bama.”
“Pada saatnya kalian pun akan memilikinya pula.”
Kuda murid Empu Sada itu menggelengkan kepalanya. Dengan wajah Yang suram salah seorang berkata, “Tidak mungkin.”
“Kenapa?”
“Aku tidak akan dapat menyediakan syarat yang diminta oleh guru untuk itu.”
Sumekar mengerutkan keningnya, tetapi kemudian ia tersenyum. “Tidak. Syarat itu tidak akan memberatimu lagi.”
Kedua murid Empu Sada Yang muda itu saling berpandangan. Tetapi mereka tidak tahu maksud kata-kata Sumekar.
“Marilah.“ berkata Sumekar, “bantulah aku membersihkan tempat ini.”
Kedua adik seperguruannya itu segera membantu membersihkan tempat itu. Namun hampir-hampir tidak dapat mereka mengerti, bahwa apa yang terjadi itu sama sekali tidak menimbulkan suara sedikit pun. Demikian tajamnya pertanyaan itu membelit hatinya, sehingga salah seorang dari mereka tanpa sesadarnya bertanya,
“Kakang, bagaimana mungkin hal ini terjadi tanpa suara?”
“Ah, tentu saja apa yang terjadi ini menimbulkan suara yang amat ribut.”
“Tetapi kami tidak mendengarnya.”
“Kau masih tidur.“ sahut Sumekar. “semuanya terjadi sebelum fajar. Sesudah itu aku pun menjadi pingsan hampir sehari penuh.”
Kembali kedua adik seperguruan Sumekar itu saling berpandangan. “Pingsan hampir sepanjang hari.“ desis mereka di dalam hati. Dengan demikian mereka dapat membayangkan betapa beratnya saat-saat yang harus dilewati selama seseorang menerima puncak tertinggi ilmu dari perguruan Empu Sada.
Sejenak kemudian Sumekar itu pun berkata, “Belajarlah dengan tekun. Menerima ilmu tertinggi itu benar-benar memerlukan kesiapan yang cukup. Lahir dan batin.”
Kedua adik-adik seperguruan Sumekar itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan Sumekar berkata seterusnya, “Perguruan Empu Sada kini telah berubah warnanya. Bukan perguruan yang dahulu. Dari perguruan ini untuk seterusnya harus memancar kebajikan. Ilmu yang kalian terima harus menjadi pelita bagi mereka yang kegelapan, bukan sebaliknya. Dan pelita itu harus bersinar terang. Bukan pelita yang ditutup di bawah belanga. Betapapun terangnya pelita itu, namun sinarnya yang tertutup sama sekali tidak berarti. Tetapi pelita, itu harus menyala, bersinar dan menerangi keadaan di sekitarnya.”
Kedua adik seperguruan Sumekar itu ternganga-nganga mendengar keterangan kakaknya. Mereka belum pernah mendengar hal-hal yang demikian sebelumnya. Mereka hanya sekedar menerima petunjuk mengenai beberapa macam ilmu gerak menirukan dan memahami. Kemudian setiap kali, pada saatnya, mereka harus menyerahkan uang atau benda-benda berharga. Kalau tidak, maka mereka pun harus berhenti. Tak ada lagi tambahan ilmu yang akan mereka terima. Itu saja.
Sementara itu Empu Sada telah berada di dalam biliknya. Terasa betapa sepi dunianya. Namun setelah ia memberikan ilmu tertinggi kepada muridnya, terasa bahwa dadanya menjadi agak lapang. Ia sendiri tidak tahu, kenapa ia seakan-akan didorong dalam suatu keharusan untuk dengan segera mewariskan ilmunya. Bahkan tidak saja seperti yang pernah diberikannya kepada murid-muridnya yang lain, maka Sumekar telah menerima lebih banyak dari mereka. Betapa lelahnya lahir dan batin, maka anak muda itu jatuh pingsan hampir sehari penuh.
Kini dada Empu Sada menjadi lapang. Lapang tetapi sepi, seperti sepinya Padang rumput Karautan Yang luas. Orang tua itu berkali-kali menarik nafas dalam-dalam. Tanpa dikehendakinya, maka direbahkannya dirinya di pembaringannya. Ia pun merasa lelah sekali, setelah dengan penuh kesungguhan diturunkannya ilmu terakhirnya kepada Sumekar.
Tetapi dalam kesepian itu tumbuhlah segenap kenangan masa lampaunya. Seorang demi seorang datang dan pergi dari angan-angannya. Empu Sada menjadi berdebar-debar ketika terbayang kembali betapa ia dikecewakan oleh seorang gadis Yang bernama Jun Rumanti.
“Aku menjadi kehilangan keseimbangan.“ desisnya, “dan lahirlah seorang Empu Sada yang telah mengotori jagad.” Empu Sada menggigit bibirnya. Alangkah cupet budinya. Perbuatannya benar-benar telah tersesat. “Kita bersama-sama telah hancur,“ desahnya kemudian, “aku, Jun Rumanti dan suaminya yang meninggal itu.” “Tetapi.“ tiba-tiba Empu Sada bangkit, “Jun Rumanti telah melahirkan seorang anak laki-laki. Anak laki-laki yang baik, yang telah berbuat kebajikan. Lalu apa yang dapat aku lahirkan? Anak tidak, tingkah laku pun tidak. Apalagi pengalaman terhadap manusia dan kemanusiaan.” Empu Sada itu termenung sejenak. “Aku baru mencoba,“ katanya di dalam hati, “mudah-mudahan Sumekar itu dapat berbuat baik seperti Mahisa Agni.”
Angan-angan orang tua itu pun kini seakan-akan terhisap di seputar Mahisa Agni. Kembali terbayang anak muda itu merayap masuk kedalam perangkap Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.
“Anak itu anak Jun Rumanti.“ desisnya, “kalau aku tahu sebelumnya. Tetapi mudah-mudahan aku belum terlambat.“ tiba-tiba orang tua itupun meloncat dari pembaringannya, “alangkah bodohnya aku. Kenapa aku berbaring saja di pembaringan, sedang bahaya yang sebenarnya telah siap menerkam anak itu?”
Sejenak Empu Sada menjadi ragu-ragu, “Jangan-jangan kehadiranku akan disambut oleh para prajurit Tumapel di Padang Karautan. Tidak, aku akan pergi ke Panawijen. Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu dengan Mahisa Agni.”
Empu Sada itu pun kemudian membulatkan hatinya. Disadarinya bahwa sebenarnya kegelisahan telah mencengkamnya sejak ia bermaksud menemui Ken Dedes di istana, apalagi setelah diketahuinya bahwa Mahisa Agni adalah anak Jun Rumanti. Empu Sada itu pun kemudian membenahi dirinya. Dihirupnya semangkuk air hangat yang disediakan untuknya dan dimakannya beberapa suap nasi. Terasa betapa nikmatnya setelah ia bekerja keras lebih dari sehari penuh. Dikenyamnya makanan itu dengan sepenuh minat.
“Alangkah enaknya makanan ini dan alangkah segarnya air padepokanku.”
Sejenak kemudian Empu Sada meraih tongkat panjangnya. Dibelainya tongkat itu seperti membelai kekasih. Perlahan-lahan ia melangkah keluar biliknya.
“Aneh,“ desisnya, “berpuluh tahun aku tinggal di padepokan ini, tetapi seakan-akan aku menjadi orang asing di sini.”
Diamatinya setiap bagian rumahnya. Rumah yang didiaminya sejak lama. Tetapi seakan-akan ia belum pernah melihatnya. Ukiran pada pangkal tiang. tlundak dan ajuk-ajuk yang disungging dengan warna-warna yang cerah. Lampu dinding dan lampu gantung.
“O, rumah ini rumah yang cukup baik.“ pikirnya.
Tiba-tiba Empu Sada ingat pada kekayaannya yang tersimpan di bilik sebelah, di dalam lubang yang hanya diketahuinya sendiri. Peti yang disandingnya sama sekali bukanlah kekayaan yang sebenarnya.
“Aku sudah tidak memerlukannya lagi.“ desisnya. ”Aku sudah tidak memerlukan kekayaan duniawi. Ternyata benda-benda itu tidak dapat memberi aku apa-apa.” Karena itu maka dipanggilnya Sumekar. Diajaknya anak muda itu berbicara seorang diri.
“Sumekar.“ berkata Empu Sada, “hari ini aku akan pergi.”
Sumekar mengerutkan keningnya. Dengan bimbang ia bertanya, “Kemana guru?”
“Ah, apakah kau pernah mengetahui kemana aku pergi?”
“Kadang-kadang guru.”
“Ya, kadang-kadang aku memberitahu kepadamu kemana aku pergi, tetapi sebagian besar dari pengembaraanku, tak seorang muridku pun yang mengetahuinya.” Sumekar tidak menjawab. Ditundukkannya kepalanya dalam-dalam.
“Sumekar.“ berkala gurunya kemudian, “kau adalah penerus dari padepokan Empu Sada. Kalau aku lambat kembali, atau bahkan tidak kembali sama sekali, maka kau lah yang wajib meneruskan tata kehidupan di padepokan ini. Kau harus mangerti apa yang sebaiknya dilakukan. Kau harus mulai mengenali musim untuk menanami sawah. Kau harus mengenal mangsa dan wataknya. Bukan saja ilmu beladiri dan olah kanuragan. Para pembantumu harus selalu bekerja dengan baik dan rajin.”
Sumekar menjadi heran mendengar pesan gurunya. Tanpa disadarinya sekali lagi ia bertanya, “Kemanakah guru akan pergi?”
“Darimana?“ bertanya penjaga yang baru.
“Aku bertugas di kamar bakal permaisuri.“ sahut prajurit yang kantuk itu.
“He?”
“Ya, hanya aku sajalah satu-satunya prajurit yang bertugas di sana dari seluruh Tumapel. Menyenangkan sekali. Makan minum dan apa saja yang kuminta. Tuan Puteri sendirilah yang memberinya”
Prajurit-prajurit yang sedang bertugas itu tertawa. Mereka tahu bahwa prajurit itu sedang lapar dan menunggu seseorang yang diantarnya itu sampai tengah malam. Ketika mereka telah sampai di luar regol, maka segera prajurit itu berkata,
“Kaki Makerti, tugasku sudah selesai. Kaki telah keluar dari halaman istana. Karena itu terserahlah kepada Kaki. Apakah kau akan bermalam di rumahku?”
“Terima kasih Ngger, terima kasih. Aku akan pergi ke tempat saudaraku.”
“Kaki mempunyai saudara di kota ini?”
“Ya, aku akan mencarinya. Rumahnya di dekat pasar.”
“Silahkan,“ berkata prajurit itu.
Ia sudah merasa sangat lelah dan kantuk. Karena itu maka segera ditinggalkannya laki-laki tua itu seorang diri. Dengan langkah panjang prajurit itu berjalan pulang. Untunglah bahwa rumahnya tidak terlampau jauh dari istana. Tetapi ia harus bersedia jawaban kalau isterinya bertanya kenapa ia pulang lambat. Isterinya kadang-kadang menjadi cemburu, karena seorang kawannya yang dekat, baru-baru ini telah mengambil seorang isteri muda.
Sepeninggal prajurit itu, hati Empu Sada menjadi semakin gelisah. Terbayang diangan-angannya, Mahisa Agni kini sedang merangkak masuk ke dalam jebakan yang dipasang oleh Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Sejenak Empu Sada masih saja berdiri termangu-mangu. Ia sama sekali tidak dapat mencuci tangan terhadap apa yang akan terjadi dengan Mahisa Agni. Orang tua itu terkejut ketika tiba-tiba seorang prajurit mendekatinya sambil bertanya,
“Bagaimana Kaki, apakah Kaki tidak tahu kemana akan pergi?”
“O,“ sahut Empu Sada terbata-bata, “tidak, tidak Ngger. Aku sedang melamun. Alangkah senangnya hidup kemenakanku itu. Aku ikut bergembira pula bersamanya.”
Prajurit itu terheran-heran. Kemudian iapun bertanya, “Siapakah kemanakanmu itu?”
Empu Sada memandangi prajurit itu dengan saksama. Barulah ia menyadari, bahwa prajurit-prajurit itu bukanlah prajurit-prajurit yang menerimanya siang kemarin. Tetapi meskipun demikian, prajurit-prajurit yang bertugas mendahuluinya pasti telah memberitahukan kepada mereka, tentang dirinya. Karena itu maka katanya,
“Apakah Angger tidak mendapat pemberitahuan bahwa aku baru saja menghadap kemanakanku. Ken Dedes?”
“O.“ prajurit itu mengerutkan keningnya, “Ya, ya. Jadi kaukah orang Yang bernama Makerti ? O, Ya, ya. Prajurit yang mengantarmu itu adalah prajurit yang telah dikatakan oleh pimpinan yang bertugas sebelum kami. Lalu, bagaimana sekarang?”
“Aku akan pergi kerumah saudaraku di samping pasar.“ sahut Empu Sada.
“Apakah Kaki memerlukan pengantar?”
“Tidak, tidak Ngger. Terima kasih.”
Empu Sada itu pun segera melangkah pergi meninggalkan regol istana itu. Tertatih-tatih ia berjalan menyusup kedalam gelapnya malam. Sinar obor dari regol yang memancar kemerah-merahan, akhirnya tidak lagi dapat mencapainya. Angin malam yang silir berhembus perlahan-lahan mengusap tubuh orang tua itu. Meskipun embun setitik-setitik turun dari langit, tetapi tubuh Empu Sada telah menjadi basah karena keringatnya. Ketegangan perasaannya tidak lagi dapat disembunyikannya.
“Kasihan,“ desisnya seorang diri. “Apakah aku hanya akan berpangku tangan? Mudah-mudahan Empu Gandring dapat menyelamatkannya. Tetapi apakah Empu Gandring mampu menghadapi kedua iblis itu bersama-sama. Kalau Ken Arok, pemimpin pasukan yang berada di Padang Karautan itu pergi pula bersama Mahisa Agni, maka aku mengharap orang itu akan dapat membantunya bersama-sama Mahisa Agni sendiri. Tetapi bagaimanakah dengan kekuatan Ken Arok itu?”
Hati Empu Sada pun menjadi semakin tidak tenang. Ketika ia kemudian berpaling, dan regol istana itu sudah tidak dilihatnya, maka langkahnyapun segera menjadi semakin cepat. Dengan sigapnya ia melontarkan kakinya, meloncat-loncat seperti seekor kijang di padang perburuan. Ia sendiri tidak tahu, kenapa tiba-tiba ia menjadi bernafsu untuk segera sampai ke rumahnya. Demikian kuat desakan keinginannya, sehingga tanpa dikehendakinya sendiri, orang tua itupun kemudian berlari semakin cepat menuju ke padepokannya.
Empu Sada tidak lagi menghiraukan, apakah ada seseorang yang melihatnya berlari-lari. Bahkan kemudian dikerahkannya segenap kemampuannya. Dan Empu Sada itu pun berlari secepat tatit. Ketika Empu Sada sampai kepadepokannya, maka dengan serta-merta diketuknya pintu rumahnya sambil memanggil-manggil nama muridnya.
“Sumekar, Sumekar.”
Alangkah terkejutnya muridnya itu. Segera ia bangkit dan berlari membukakan pintu. Ia menyangka bahwa gurunya sedang dikejar oleh bahaya. Ketika pintu telah terbuka, dan dilihatnya Sumekar berdiri di mukanya, Empu Sada tertegun sejenak. Ditatapnya wajah muridnya yang masih belum menyadari sepenuhnya apa yang dilakukan. Sekali-sekali Sumekar masih menggosok-gosok matanya yang merah.
“Tutuplah pintu.“ perintah Empu Sada kemudian ketika ia telah meloncat masuk. Sumekar pun melakukan saja perintah itu. Tetapi Sumekar itupun semakin terkejut ketika gurunya itu berkata, “Sumekar, pergilah ke sumur. Adus kramas. Siapkan dirimu dalam kemampuan tertinggi.”
Sejenak Sumekar berdiri kaku. Dengan sorot mata bertanya-tanya dipandanginya gurunya. Ia tidak segera menangkap maksud kata-katanya itu. Ketika Empu Sada melihat Sumekar masih saja berdiri termangu-mangu maka diulanginya perintahnya,
“Sumekar, pergilah adus kramas. Bersihkan dirimu lahir dan batin. Cepatlah.”
Sumekar tidak membantah lagi. Segera ia pergi ke perigi. Disiapkannya beberapa jambangan air dan diambilnya seberkas merang. Sambil membakar merang itu, hatinya selalu bertanya-tanya,
“Apakah sebenarnya maksud guru. Hari masih malam. Kenapa aku harus mandi?”
Tetapi Sumekar Yang patuh itu melakukan perintah itu dengan baik. Dibersihkannya tubuhnya meskipun dingin malam sampai menggigit tulang. Ternyata gurunya pun mandi pula. Gurunya pun agaknya telah membersihkan dirinya seperti yang dilakukannya. Ketika Sumekar telah selesai dan kembali ia menghadap gurunya, maka berkatalah Empu Sada,
“Sumekar. Kau sudah cukup dewasa, umurmu, persiapan jiwamu dan ilmumu. Karena itu, Sumekar, hari ini adalah hari yang kau nanti-nanti selama ini. Kau berada di padepokanku meskipun bukan semata-mata untuk itu, tetapi ilmu tertinggi pasti menjadi keinginan setiap murid.”
Tiba-tiba dada anak muda itu berdesir. Ia tidak menyangka, bahwa tiba-tiba saja ia dihadapkan pada kesempatan yang memang diharapkannya. Begitu tiba-tiba. Tetapi ia tidak sempat bertanya. Gurunyalah yang kemudian berkata.
“Masuklah ke dalam bilik belakang, tempat kau berlatih. Jangan ganggu adik-adik seperguruanmu yang sedang tidur. Biarlah mereka tidak tahu apa yang terjadi dengan dirimu.”
Sumekar hanya dapat mengikuti perintah itu. Meskipun beberapa pertanyaan terselip di dalam hatinya, kenapa peristiwa itu terjadi tanpa disangka-sangkanya lebih dahulu. Tetapi Sumekar tidak sempat menanyakannya. Hatinya yang berdebar-debar menjadikannya semakin tegang.
Ketika Sumekar dan Empu Sada telah berada di dalam bilik yang gelap di bagian belakang halaman rumahnya, maka gurunya itupun segera menutup pintu. Sebab slarak kayu nangka telah mengancing pintu itu rapat-rapat.
“Sumekar.“ berkata gurunya. Meskipun gelapnya bukan main, namun lambat laun, Sumekar dapat melihat bayangan gurunya, “kau benar-benar telah cukup mempunyai bekal untuk menerima ilmu tertinggi dari perguruanku. Bahkan kau telah memiliki beberapa kelebihan dari kakak-kakak seperguruan mu. Ada beberapa unsur yang aku berikan kepadamu, tetapi tidak aku berikan kepada kakak-kakakmu. Apalagi ketika aku telah meyakini kesalahanku pada masa-masa yang lampau, dan melihat bahwa kau memiliki beberapa kelebihan sifat dari kakak-kakak sebelummu.
Maka apa yang kau terima adalah melampaui dari apa yang telah dimiliki oleh Cundaka, Kuda Sempana dan apalagi yang lain-lain. Sehingga menurut perhitunganku, nanti apabila kau dapat memahami Aji Kala Bama dengan baik, maka kau tidak akan lagi berada di bawah kakak-kakak seperguruanmu. Bahkan seandainya kakak-kakak seperguruanmu, mungkin Kuda Sempana, mempunyai beberapa kelebihan waktu daripadamu, dan seandainya ia menerima beberapa petunjuk dan unsur-unsur gerak dari orang lain, maka kau tidak perlu mencemaskan dirimu. Ketekunanmu selama ini memang dapat dibanggakan. Apalagi kau selama ini tidak mempunyai kesibukan lain daripada memperdalam ilmu di perguruanku ini. Berbeda dengan Cundaka, pedagang keliling yang tamak dan Kuda Sempana Pelayan Dalam yang gila itu.”
Sumekar tidak menjawab. Ia hanya menundukkan kepalanya saja memandang jari-jari kakinya yang seolah-olah dipulas oleh warna yang hitam.
“Sumekar.“ terdengar suara Empu Sada lunak.
“Ya guru.“ sahut muridnya.
“Apakah kau sudah siap.”
“Sudah guru. Aku telah menyiapkan diri menurut ke mampuan yang ada padaku.”
“Bagus. Kau cukup rendah hati dan tidak sombong. Kelebihanmu dari kakak-kakakmu bukan saja pada ilmu dan unsur-unsur gerak, tetapi juga pada sifat dan budimu. Aku tidak pernah menyinggung masalah watak sebelumnya dengan kakak-kakak sebelummu. Apabila mereka memenuhi syarat yang aku berikan, maka mereka dapat segera menerima puncak ilmu itu. Tetapi ketahuilah, sebagai seorang pedagang, meskipun aku memperdagangkan ilmu, maka milikku pasti harus lebih baik dari milik orang lain. Ilmuku pun harus lebih baik dari ilmu orang lain.
Karena itu, maka tidak pernah aku mencoba memberikan sebaik-baiknya kepada mereka. Aku memberi seperti orang berjual beli. Sedikit mungkin untuk harga yang semahal mungkin. Aku tidak pernah mempedulikan untuk apa saja ilmu itu kelak. Tetapi kini tidak, Sumekar. Untuk pertama kalinya aku berpesan kepada seorang muridku, bahwa ilmu hanya berguna bagi pengabdian. Ilmu yang dipergunakan untuk hal-hal yang sebaliknya, pasti akan berarti bencana. Bencana bagi manusia dan kemanusiaan.”
Sumekar menjadi semakin tumungkul. Terasa kata-kata gurunya itu seolah-olah menyusup ke dalam jantungnya. Dan tanpa dikehendakinya sendiri, maka kepalanya pun mengangguk-angguk kecil.
“Nah, Sumekar.“ berkata gurunya, “kini berdoalah di dalam hati. Mulailah dengan kesiapan tertinggi untuk menerima Aji Kala Bama. Kau sendirilah yang sebenarnya harus menghisap Aji itu sesuai dengan pemusatan nalar dan rasa. Aku hanya akan menuntunmu.”
Sumekar membungkukkan kepalanya dalam-dalam. Kemudian terdengar ia berdesis, “Aku telah siap guru.”
Demikianlah maka keduanya kemudian tenggelam dalam pengerahan segenap kemampuan lahir dan batin. Empu Sada telah bertekad untuk menjadikan muridnya yang seorang ini sebagai pewaris yang paling sempurna dari ilmunya. Penyesalan atas masa lampau telah mendorongnya untuk berbuat sendiri yang seakan-akan ingin dipergunakannya untuk mengurangi kesalahan-kesalahan itu. Ia mengharap bahwa muridnya yang seorang ini dapat menerapkan ilmunya untuk kebajikan, seperti apa yang dilihatnya atas murid-murid Panji Bojong Santi dan apalagi murid Empu Purwa. Meskipun seandainya muridnya tidak akan dapat berbuat seperti mereka, namun setidak-tidaknya muridnya tidak menyalah-gunakan ilmu yang dimilikinya dan betapa kecilnya akan dapat menyerahkan ilmu itu untuk suatu pengabdian.
Malam berjalan terus bintang-bintang di langit bergeser semakin jauh ke barat, seperti permata yang bertaburan pada sebuah permadani yang berputar pada bola langit yang bulat. Angin yang basah mengalir lembut mengisap dedaunan yang nyenyak tertidur berselimutkan embun. Akhirnya, langit yang kelam itu menjadi semburat merah oleh warna fajar. Perlahan-lahan cahaya yang memancar dari balik cakrawala merayap semakin tinggi. Dan berhamburanlah kokok ayam jantan di antara kicau burung-burung liar di fajar pagi.
Kedua murid Empu Sada pun kemudian terbangun dari tidurnya. Seperti biasa mereka segera melakukan pekerjaan mereka. Menimba air bersama para pelayan. Membersihkan halaman dan isi rumah. Semula mereka tidak memperhatikan bahwa mereka tidak segera menjumpai Sumekar di dalam rumah itu. Tetapi lambat laun terasa sesuatu yang kurang.
“Dimanakah Kakang Sumekar?“ desis yang seorang.
Kawannya menggelengkan kepalanya. “Aku belum melihatnya.“ jawabnya.
Ketika kemudian mereka bertanya kepada para pelayan, maka tak seorang pun yang melihatnya. Tak seorang pun yang mengerti kemana anak muda itu pergi. Tetapi, kedua murid Empu Sada itu melihat pintu bilik di halaman belakang tertutup rapat. Karena itu maka berkata salah seorang dari mereka.
“Mungkin kakang Sumekar ada di dalamnya.”
Tetapi keduanya tidak yakin akan hal itu. Mereka sama sekali tidak mendengar langkah apapun di dalam bilik itu. Bahkan bilik itu seolah-olah sedang tertidur nyenyak meskipun matahari telah mulai melepaskan sinarnya yang kekuning-kuningan.
“Mungkin kakang Sumekar tidur di dalamnya“ berkata salah seorang dari mereka.
“Apakah guru juga pergi?”
Kawannya mengangkat bahu katanya. “Tak seorang pun yang dapat mengatakan tentang guru. Apakah guru ada di rumah ataukah sedang pergi.”
Keduanya pun kemudian terdiam. Mereka meneruskan kerja mereka, membersihkan rumah dan halaman. Para pelayan pun melakukan pekerjaan mereka seperti biasa. Tetapi kali ini Sumekar tidak ada di antara mereka. Biasanya Sumekar lah yang memimpin mereka dan memberi beberapa petunjuk tentang pekerjaan yang harus mereka lakukan hari itu. Namun mereka tidak dapat berpangku tangan, membiarkan padepokan itu terbengkalai karena Sumekar tidak mereka temui. Kedua murid Empu Sada itu semakin siang menjadi semakin gelisah. Kalau Sumekar tidur di dalam bilik itu, ia pasti sudah terbangun. Meskipun demikian, mereka sama sekali tidak berani mengetuk pintu yang masih saja tertutup itu.
Sehari itu padepokan Empu Sada yang sunyi terasa menjadi semakin sunyi. Kedua muridnya dan para pelayan hampir-hampir tidak berbicara satu sama lain. Mereka lebih banyak merenung dan menebak di dalam hati. Tetapi pintu bilik di halaman belakang itu masih juga tertutup, dan mereka masih juga belum menemukan Sumekar, apalagi guru mereka, Empu Sada. Baru ketika matahari lingsir ke Barat menjelang senja, maka hati kedua murid Empu Sada itu menjadi berdebar-debar. Mereka melihat pintu bilik itu bergerak-gerak. Sejenak kemudian mereka mendengar pintu itu bergerit.
Kedua murid Empu Sada itu tidak tahu kenapa mereka menjadi berdebar-debar. Meskipun mereka tahu bahwa bilik itu memang bilik yang khusus, tetapi kali ini mereka merasa hati beberapa perbedaan dari hari-hari yang lampau. Mereka seakan-akan melihat, bahwa di belakang pintu yang sedang bergerit itu tersembunyi sebuah rahasia yang besar. Ketika pintu itu terbuka dada kedua murid itupun berdesir. Hampir tidak sabar mereka menunggu, siapakah yang berada di dalam bilik itu.
Mereka menahan nafas ketika kemudian mereka melihat guru mereka, Empu Sada melangkah keluar pintu dengan wajah yang pucat. Tetapi ketika Empu Sada itu melihat kedua muridnya, maka orang tua itu tersenyum. Perlahan-lahan ia berkata,
“Kakakmu ada di dalam bilik itu.”
Kedua muridnya termangu-mangu. Ia tidak tahu maksud gurunya. Apakah mereka harus masuk ke dalam bilik itu?. Tetapi keduanya tidak berani bertanya. Mereka hanya memandang saja ketika gurunya berjalan perlahan-lahan masuk ke dalam rumah.
“Apakah yang sudah terjadi?” bisik salah seorang dari mereka.
“Entahlah“ sahut yang lain.
“Marilah kita lihat.” ajak yang pertama.
Kawannya menjadi agak ragu-ragu. Tetapi kemudian mereka melangkah memasuki bilik yang khusus mereka pergunakan untuk berlatih. Mereka tertegun ketika mereka melihat Sumekar sedang mengemasi beberapa macam senjata. Beberapa macam benda yang tidak mereka mengerti. Mereka melihat beberapa batang besi yang melengkung dan beberapa senjata terpatah-patahkan. Di sudut ruangan mereka melihat sebuah batu yang pecah berserakan.
“Apa Yang telah terjadi.“ tiba-tiba terloncat sebuah pertanyaan dari salah seorang dari mereka.
“Tidak apa-apa.“ jawab Sumekar tersenyum. Ketika ia tegak berdiri, maka kedua tangannya mengusap peluh yang membasahi wajahnya.
Tiba-tiba salah seorang murid Empu Sada itu mengerutkan keningnja. Batu-batu Yang pecah berserakan, senjata-senjata yang patah dan keringat Sumekar Yang seakan-akan terperas dari dalam tubuhnya ternyata telah memberinya petunjuk. Dengan suara gemetar ia berdesis,
“Kala Bama.”
Sumekar berpaling kearah adik seperguruannya itu. Tampaklah wajahnya berkerut. Tetapi kemudian ia berdesis, “Ya. Tetapi jangan membual.”
“Tidak.“ jawabnya, “berbahagialah kakang Sumekar yang telah mendapat kesempatan memiliki Aji Kala Bama.”
“Pada saatnya kalian pun akan memilikinya pula.”
Kuda murid Empu Sada itu menggelengkan kepalanya. Dengan wajah Yang suram salah seorang berkata, “Tidak mungkin.”
“Kenapa?”
“Aku tidak akan dapat menyediakan syarat yang diminta oleh guru untuk itu.”
Sumekar mengerutkan keningnya, tetapi kemudian ia tersenyum. “Tidak. Syarat itu tidak akan memberatimu lagi.”
Kedua murid Empu Sada Yang muda itu saling berpandangan. Tetapi mereka tidak tahu maksud kata-kata Sumekar.
“Marilah.“ berkata Sumekar, “bantulah aku membersihkan tempat ini.”
Kedua adik seperguruannya itu segera membantu membersihkan tempat itu. Namun hampir-hampir tidak dapat mereka mengerti, bahwa apa yang terjadi itu sama sekali tidak menimbulkan suara sedikit pun. Demikian tajamnya pertanyaan itu membelit hatinya, sehingga salah seorang dari mereka tanpa sesadarnya bertanya,
“Kakang, bagaimana mungkin hal ini terjadi tanpa suara?”
“Ah, tentu saja apa yang terjadi ini menimbulkan suara yang amat ribut.”
“Tetapi kami tidak mendengarnya.”
“Kau masih tidur.“ sahut Sumekar. “semuanya terjadi sebelum fajar. Sesudah itu aku pun menjadi pingsan hampir sehari penuh.”
Kembali kedua adik seperguruan Sumekar itu saling berpandangan. “Pingsan hampir sepanjang hari.“ desis mereka di dalam hati. Dengan demikian mereka dapat membayangkan betapa beratnya saat-saat yang harus dilewati selama seseorang menerima puncak tertinggi ilmu dari perguruan Empu Sada.
Sejenak kemudian Sumekar itu pun berkata, “Belajarlah dengan tekun. Menerima ilmu tertinggi itu benar-benar memerlukan kesiapan yang cukup. Lahir dan batin.”
Kedua adik-adik seperguruan Sumekar itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan Sumekar berkata seterusnya, “Perguruan Empu Sada kini telah berubah warnanya. Bukan perguruan yang dahulu. Dari perguruan ini untuk seterusnya harus memancar kebajikan. Ilmu yang kalian terima harus menjadi pelita bagi mereka yang kegelapan, bukan sebaliknya. Dan pelita itu harus bersinar terang. Bukan pelita yang ditutup di bawah belanga. Betapapun terangnya pelita itu, namun sinarnya yang tertutup sama sekali tidak berarti. Tetapi pelita, itu harus menyala, bersinar dan menerangi keadaan di sekitarnya.”
Kedua adik seperguruan Sumekar itu ternganga-nganga mendengar keterangan kakaknya. Mereka belum pernah mendengar hal-hal yang demikian sebelumnya. Mereka hanya sekedar menerima petunjuk mengenai beberapa macam ilmu gerak menirukan dan memahami. Kemudian setiap kali, pada saatnya, mereka harus menyerahkan uang atau benda-benda berharga. Kalau tidak, maka mereka pun harus berhenti. Tak ada lagi tambahan ilmu yang akan mereka terima. Itu saja.
Sementara itu Empu Sada telah berada di dalam biliknya. Terasa betapa sepi dunianya. Namun setelah ia memberikan ilmu tertinggi kepada muridnya, terasa bahwa dadanya menjadi agak lapang. Ia sendiri tidak tahu, kenapa ia seakan-akan didorong dalam suatu keharusan untuk dengan segera mewariskan ilmunya. Bahkan tidak saja seperti yang pernah diberikannya kepada murid-muridnya yang lain, maka Sumekar telah menerima lebih banyak dari mereka. Betapa lelahnya lahir dan batin, maka anak muda itu jatuh pingsan hampir sehari penuh.
Kini dada Empu Sada menjadi lapang. Lapang tetapi sepi, seperti sepinya Padang rumput Karautan Yang luas. Orang tua itu berkali-kali menarik nafas dalam-dalam. Tanpa dikehendakinya, maka direbahkannya dirinya di pembaringannya. Ia pun merasa lelah sekali, setelah dengan penuh kesungguhan diturunkannya ilmu terakhirnya kepada Sumekar.
Tetapi dalam kesepian itu tumbuhlah segenap kenangan masa lampaunya. Seorang demi seorang datang dan pergi dari angan-angannya. Empu Sada menjadi berdebar-debar ketika terbayang kembali betapa ia dikecewakan oleh seorang gadis Yang bernama Jun Rumanti.
“Aku menjadi kehilangan keseimbangan.“ desisnya, “dan lahirlah seorang Empu Sada yang telah mengotori jagad.” Empu Sada menggigit bibirnya. Alangkah cupet budinya. Perbuatannya benar-benar telah tersesat. “Kita bersama-sama telah hancur,“ desahnya kemudian, “aku, Jun Rumanti dan suaminya yang meninggal itu.” “Tetapi.“ tiba-tiba Empu Sada bangkit, “Jun Rumanti telah melahirkan seorang anak laki-laki. Anak laki-laki yang baik, yang telah berbuat kebajikan. Lalu apa yang dapat aku lahirkan? Anak tidak, tingkah laku pun tidak. Apalagi pengalaman terhadap manusia dan kemanusiaan.” Empu Sada itu termenung sejenak. “Aku baru mencoba,“ katanya di dalam hati, “mudah-mudahan Sumekar itu dapat berbuat baik seperti Mahisa Agni.”
Angan-angan orang tua itu pun kini seakan-akan terhisap di seputar Mahisa Agni. Kembali terbayang anak muda itu merayap masuk kedalam perangkap Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.
“Anak itu anak Jun Rumanti.“ desisnya, “kalau aku tahu sebelumnya. Tetapi mudah-mudahan aku belum terlambat.“ tiba-tiba orang tua itupun meloncat dari pembaringannya, “alangkah bodohnya aku. Kenapa aku berbaring saja di pembaringan, sedang bahaya yang sebenarnya telah siap menerkam anak itu?”
Sejenak Empu Sada menjadi ragu-ragu, “Jangan-jangan kehadiranku akan disambut oleh para prajurit Tumapel di Padang Karautan. Tidak, aku akan pergi ke Panawijen. Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu dengan Mahisa Agni.”
Empu Sada itu pun kemudian membulatkan hatinya. Disadarinya bahwa sebenarnya kegelisahan telah mencengkamnya sejak ia bermaksud menemui Ken Dedes di istana, apalagi setelah diketahuinya bahwa Mahisa Agni adalah anak Jun Rumanti. Empu Sada itu pun kemudian membenahi dirinya. Dihirupnya semangkuk air hangat yang disediakan untuknya dan dimakannya beberapa suap nasi. Terasa betapa nikmatnya setelah ia bekerja keras lebih dari sehari penuh. Dikenyamnya makanan itu dengan sepenuh minat.
“Alangkah enaknya makanan ini dan alangkah segarnya air padepokanku.”
Sejenak kemudian Empu Sada meraih tongkat panjangnya. Dibelainya tongkat itu seperti membelai kekasih. Perlahan-lahan ia melangkah keluar biliknya.
“Aneh,“ desisnya, “berpuluh tahun aku tinggal di padepokan ini, tetapi seakan-akan aku menjadi orang asing di sini.”
Diamatinya setiap bagian rumahnya. Rumah yang didiaminya sejak lama. Tetapi seakan-akan ia belum pernah melihatnya. Ukiran pada pangkal tiang. tlundak dan ajuk-ajuk yang disungging dengan warna-warna yang cerah. Lampu dinding dan lampu gantung.
“O, rumah ini rumah yang cukup baik.“ pikirnya.
Tiba-tiba Empu Sada ingat pada kekayaannya yang tersimpan di bilik sebelah, di dalam lubang yang hanya diketahuinya sendiri. Peti yang disandingnya sama sekali bukanlah kekayaan yang sebenarnya.
“Aku sudah tidak memerlukannya lagi.“ desisnya. ”Aku sudah tidak memerlukan kekayaan duniawi. Ternyata benda-benda itu tidak dapat memberi aku apa-apa.” Karena itu maka dipanggilnya Sumekar. Diajaknya anak muda itu berbicara seorang diri.
“Sumekar.“ berkata Empu Sada, “hari ini aku akan pergi.”
Sumekar mengerutkan keningnya. Dengan bimbang ia bertanya, “Kemana guru?”
“Ah, apakah kau pernah mengetahui kemana aku pergi?”
“Kadang-kadang guru.”
“Ya, kadang-kadang aku memberitahu kepadamu kemana aku pergi, tetapi sebagian besar dari pengembaraanku, tak seorang muridku pun yang mengetahuinya.” Sumekar tidak menjawab. Ditundukkannya kepalanya dalam-dalam.
“Sumekar.“ berkala gurunya kemudian, “kau adalah penerus dari padepokan Empu Sada. Kalau aku lambat kembali, atau bahkan tidak kembali sama sekali, maka kau lah yang wajib meneruskan tata kehidupan di padepokan ini. Kau harus mangerti apa yang sebaiknya dilakukan. Kau harus mulai mengenali musim untuk menanami sawah. Kau harus mengenal mangsa dan wataknya. Bukan saja ilmu beladiri dan olah kanuragan. Para pembantumu harus selalu bekerja dengan baik dan rajin.”
Sumekar menjadi heran mendengar pesan gurunya. Tanpa disadarinya sekali lagi ia bertanya, “Kemanakah guru akan pergi?”
OBJEK WISATA MANCA NEGARA



































Tidak ada komentar:
Posting Komentar