Empu Sada memandangi wajah anak muda itu. Ia melihat sorot mata yang tulus. Tetapi ia tidak dapat memberitahukannya. Karena itu maka jawabnya, “Aku akan pergi seperti aku pergi di waktu-waktu yang lalu. Tetapi kali ini aku mempunyai kepentingan yang lain. Aku tidak lagi ingin mendapatkan benda berharga. Ternyata benda-benda berharga, kekayaan dan mas picis itu sama sekali tidak memberi apa-apa kepadaku. Aku masih tetap seorang pengembara, yang hampir setiap hari menanggung lapar dan haus diperjalanan. Aku masih juga tetap seorang yang berpakaian kumal seperti ini. Aku tidak mengenakan timang tretes berlian, tidak menyelipkan keris berwrangka emas dan ditaburi oleh permata. Tidak memakai kampuh yang diwarnai dengan gemerlapnya prada. Tidak. Sehingga karena itu maka apa yang aku cari selama ini ternyata tidak berarti apa-apa bagiku.”
Sumekar menjadi semakin tunduk. Dirasakannya bahwa diantara kata-kata gurunya itu terselip suatu penjesalan yang tiada taranya.
“Sumekar.“ berkata gurunya lebih lanjut, “ternyata aku telah keliru mencari bekal dalam hidupku. Aku sangka emas picis raja brana itu akan memberiku ketentraman dan kebahagiaan. Tetapi ternyata bukan. Bukan itu Sumekar. Mungkin kekayaan akan dapat menjadi salah satu syarat untuk menemukan ketentraman dan kebahagiaan, namun apa bila syarat itu berubah menjadi tujuan, maka hidup kitapun akan jatuh kedalam genggamannya. Maka akan celakalah kita karenanya. Aku adalah contoh yang paling dekat Sumekar. Aku hidup dalam perbudakan yang aku jeratkan sendiri keleherku. Aku menjadi liar dan buas untuk mendapatkan harta kekayaan, sedang harta kekayaan itu sama sekali tidak berguna bagiku.“
Empu Sada berhenti sejenak. Ditatapnya wajah muridnya yang tunduk. Sejenak kemudian Empu Sada itu meneruskan, “Bukankah kau lihat Sumekar bahwa kekayaanku tidak memberi aku apa-apa. Jasmaniah apa lagi rokhaniah. Nah, kenanglah apa yang terjadi atasku. Mudah-mudahan akan dapat menjadi petunjuk bagi hidupmu kelak.”
Sekali lagi Empu Sada berhenti. Tatapan matanya kini menjadi kian pudar. Lalu katanya, “Meskipun telah terlambat Sumekar, aku kini ingin mendapat bekal yang lain. Aku sudah terlambat. Aku sudah tua. Aku harus menemukan sesuatu yang berarti dalam hidupku betapapun kecilnya. Ternyata kekayaan yang terbaik di dalam hidup ini adalah hubungan yang erat antara kita dengan Yang Maha Agung. Hubungan yang paling mesra indah ketentraman dan kebahagiaan sejati.”
Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Kata-kata gurunya itu meresap langsung ke dalam kalbunya. Sentuhan-sentuhan yang menggeser hatinya telah menumbuhkan pahatan yang dalam. Yang tidak mudah terhapus oleh sentuhan-sentuhan yang lain.
“Karena itu Sumekar.“ berkata gurunya lebih lanjut, “aku menganggap bahwa apa yang aku miliki selama ini sama sekali tidak berarti lagi bagiku. Semuanya akan aku serahkan kepadamu. Terserahlah, apa yang akan kau perbuat dengan semuanya itu. Mungkin kau akan dapat membangun sesuatu yang berarti bagi padepokan ini, atau mungkin kau merasa perlu untuk menolong orang-orang miskin di sekitar kita, atau apapun yang kau anggap perlu. Apabila kau mengenal pemiliknya, alangkah senang hatiku kalau kau sempat mengembalikan kepadanya.”
Sumekar mengangkat wajahnya. Ia tidak begitu mengerti maksud kata-kata gurunya itu, sehingga gurunya menjelaskan, “Sumekar, semua kekayaan yang pernah aku dapatkan dengan jalan apapun, kini aku serahkan saja kepadamu untuk keperluan yang kau anggap penting sesuai dengan pendirianmu.”
Dada Sumekar menjadi berdebar-debar. Ia tahu benar, bahwa gurunya menyimpan kekayaan tiada taranya. Sekarang kekayaan itu diserahkannya kepadanya, tetapi dengan pesan yang mengikatnya. Tetapi pesan itu telah membesarkan hatinya. Karena itu maka Sumekar itu berkata dengan tajimnya.
“Terima kasih atas kepercayaan itu guru. Mudah-mudahan aku akan dapat melakukan pesan yang guru berikan. Mudah-mudahan akupun tidak akan jatuh ke dalam cengkeramannya. Memperhambakan diri kepada harta benda itu.”
“Aku percaya kepadamu Sumekar, apalagi setelah kau melihat sendiri contoh yang paling baik yang dapat kau saksikan.”
Sumekar mengangguk dalam-dalam sambil menjawab, “Mudah-mudahan guru. Mudah-mudahan yang Maha Agung selalu memberi sinar terang di dalam hatiku.”
Empu Sada pun kemudian mengajak Sumekar masuk ke dalam biliknya. Ditunjukkan segala rahasia yang selama ini seakan-akan hanya diketahuinya sendiri. Ditunjukkannya celah dan lubang-lubang tempat harta bendanya tersimpan. Meskipun Sumekar telah menyangkanya, tetapi ketika ia sempat melihat sendiri apa yang disimpan gurunya, darahnya seakan-akan membeku karenanya. Sesaat ia berdiri seperti patung. Sekali-sekali dipejamkannya matanya seakan-akan ia tidak yakin atas apa yang dilihatnya.
“Jangan heran.” berkata gurunya, “ini adalah ujud dari bencana yang selama ini membelengguku. Kini aku menjadi gembira dan berterima kasih kepada Yang Maha Agung yang telah membebaskan aku dari padanya.”
Sumekar tidak menjawab. Matanya masih melekat pada benda-benda yang berkilauaan itu.
“Sisihkan milik Kuda Sempana. Aku masih mengharap ia kembali kepadaku. Aku akan mencoba membebaskannya dari belenggu yang dijeratkannya sendiri pula. Meskipun bentuknya agak berbeda, tetapi kedua-duanya dikendalikan oleh nafsu duniawi. Kuda Sempana pun telah dicekik oleh nafsunya. Nafsu memiliki seorang gadis cantik yang bernama Ken Dedes. Meskipun ujudnya tidak sama dengan benda-benda yang telah menjeratkan, namun wataknya tidak jauh berbeda. Kedua-duanya digerakkan oleh nafsu duniawi.”
Sumekar masih berdiam diri, tetapi ia mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kalau Kuda Sempana kelak menyadari keadaannya, maka barang-barangnya itu akan dapat sedikit menghiburnya.”
Empu Sada berhenti sejenak, lalu katanya, “Apakah kau mengerti maksudku Sumekar.”
“Ya guru,“ jawab Sumekar, “aku mengerti.”
“Baik. Manfaatkan harta benda ini untuk kepentingan sesama. Dengan demikian, aku akan dapat pergi dengan dada yang lapang. Aku kini merasa bahwa tanganku telah lepas dari belenggu yang selama ini menjeratku. Aku kini menjadi manusia yang bebas. Dalam sisa-sisa umurku aku akan berusaha untuk menjadikan hidupku berarti, berarti bagi sesama betapapun kecil arti itu.”
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekali lagi tanpa sesadarnya ia bertanya, “Kemanakah guru akan pergi?”
“Pertanyaanmu telah kau ucapkan untuk ketiga kalinya Sumekar. Maaf, aku tidak dapat menjawab, karena aku sendiri belum menentukan sikap. Kemana dan untuk apa aku pergi.”
Sumekar menggigit bibirnya. Ia merasa bahwa pertanyaanya itu agak mengganggu gurunya. Sebelumnya ia sama sekali tidak bernafsu untuk mengetahui kemanakah gurunya akan pergi. Sekali dua kali ia mengucapkan pertanyaan serupa itu. Tetapi pertanyaan itu meluncur saja dari bibirnya tanpa suatu maksud. Pertanyaan itu diucapkannya hanya sekedar untuk memperpantas sikap. Tetapi kini anak muda itu benar-benar ingin tahu, kemanakah gurunya akan pergi. Namun sayang, gurunya tidak memberitahukannya.
“Sumekar.“ berkata Empu Sada, “kau kini menjadi wakilku. Wakil dalam segala persoalan. Kau jugalah yang harus menuntun adik-adik seperguruanmu. Tetapi ingat, tuntunlah ia lahir dan batinnya. Bahkan seandainya ada kakak-kakak sepergurumu yang berkepentingan dengan padepokan ini, maka segala persoalannya harus kau terima sebagai wakilku. Kalau aku lambat kembali atau tidak kembali sama sekali, kembangkanlah nama padepokan ini sebaik-baiknya. Kau mengerti?”
Sumekar mengangguk, jawabnya, “Ya guru.”
“Terima kasih,“ sahut gurunya, “aku percaya kepadamu.”
“Tetapi,“ berkata Sumekar kemudian, “apakah yang dapat aku lakukan terhadap kakak-kakak seperguruanku? Mereka tahu siapa aku dan mereka merasa bahwa mereka lebih berhak untuk berbuat seperti itu.”
“Tetapi aku pun berhak menentukan siapakah yang aku percaya untuk mewakili aku.” sahut gurunya, “Sumekar, meskipun kau masih muda, tetapi kau aku anggap mencukupi syarat untuk berbuat demikian. Seandainya ada yang mencoba memaksakan kehendaknya, maka kau pun dapat bertahan atas sikap itu, bahkan seandainya dengan kekerasan sekalipun. Tak seorang pun yang dapat aku percaya menerima harta benda sebanyak ini tetapi tidak untuk dirinya sendiri, selain kau.”
Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Tugas itu bukan tugas Yang ringan. Namun gurunya berkata selanjutnya, “Baiklah. Kalau kau memerlukan bukti kepercayaanku. Tongkatku akan aku tinggalkan untukmu, sebagai pertanda bahwa aku telah menyerahkan segala sesuatunya kepadamu.”
Sekali lagi darah Sumekar terasa berhenti mengalir. Agaknya gurunya benar-benar telah melepaskan padepokan ini. Terasa oleh anak muda itu, seakan-akan pertemuannya dengan gurunya kali ini adalah kali yang terakhir. Ketika gurunya menyerahkan tongkatnya, maka Sumekar menerimanya dengan tangan gemetar. Tetapi sentuhan tangannya pada tongkat itu merasakan, bahwa tangan gurunya pun gemetar pula.
Ternyata Empu Sada merasakan sebuah goncangan pada perasaannya pada saat tongkat itu lepas dari tangannya. Tongkat itu adalah ciri dirinya dan juga senjatanya. Seorang yang bertongkat panjang adalah seorang yang bernama Empu Sada, seperti Panji Bodjong Santi dengan kasa kulit harimaunya, seperti Empu Gandring dengan keris raksasanya. Dan kini tongkat itu lepas dari tangannya. Namun untuk suatu kepentingan yang tidak kalah besarnya dari setiap kepentingan yang akan dihadapinya.
“Guru.“ desis Sumekar setelah ia menerima tongkat, “aku hanya dapat mengucapkan beribu terima kasih. Tetapi bagaimana dengan guru sendiri? Bukankah tongkat ini ciri kebesaran guru dan merupakan senjata guru pula.”
Empu Sada tersenyum. Tetapi senyumnya membayang seperti bulan disaput awan. Suram. “Aku tidak memerlukannya lagi Sumekar. Aku tidak ingin lagi mempergunakan akan senjata untuk menimbun harta benda yang tidak berarti apa-apa dalam hidupku. Aku tidak lagi ingin memamerkan namaku yang kotor itu lewat tongkatku. Bahkan aku ingin kalau aku dapat meninggalkankan bahkan melupakan masa-masa lampauku, apabila mungkin.”
Sumekar menarik nafas dalam-dalam. la merasakan keanehan sikap gurunya. Sikap itu bukan sekedar sikap penjesalan, tetapi sikap itu telah sangat merisaukannya. Sejenak keduanya saling berdiam diri. Yang terdengar kemudian adalah nafas Sumekar yang terengah-engah.
Di luar bilik Empu Sada terdengar kedua murid Empu Sada yang lain terbatuk-batuk. Mereka sedang menyalakan lampu-lampu di dalam rumah. Tetapi mereka tidak berani masuk kedalam bilik gurunya, seperti setiap hari. Yang berani masuk kedalam bilik itu hanya Sumekar selain gurunya sendiri. Hanya apabila perlu sekali seorang dua orang berani dengan tergesa-gesa.
“Sumekar.“ berkata Empu Sada kemudian, “ternyata hari telah terlampau gelap. Ambillah pelita dan terangilah bilik ini. Untuk seterusnya bilik ini adalah bilikmu sambil menjaga semua harta benda itu, sampai suatu ketika harta benda itu habis terbagi dan jatuh ketangan yang benar memerlukannya.”
Kali ini Sumekar tidak dapat lagi menahan pertanyaannya meskipun ia ragu-ragu mengucapkannya. “Guru, kenapa guru merasa bahwa guru akan lambat kembali dan bahkan mungkin tidak kembali sama sekali.”
Sekali lagi Empu Sada tersenyum. Senyum yang suram. Katanya, “Aku tidak tahu. Jangan tanyakan itu lagi. Sekarang, pasanglah pelita, dan seterusnya aku akan pergi meninggalkan padepokan ini.”
“Guru.“ potong Sumekar.
“Jangan bertanya lagi. Lakukan perintahku. Ambillah pelita. Bilik ini telah terlampau gelap.”
Sumekar tidak berani bertanya lagi. Betapa hatinya diliputi oleh seribu satu macam pertanyaan, namun ia tidak berani mengucapkannya. Perlahan-lahan ia bangkit dan berjalan keluar. Di luar bilik di ruang dalam telah terpasang lampu dinding. Nyala apinya bergetar karena angin yang menyusup lubang-lubang dinding. Sumekar pergi kebelakang untuk mengambil pelita yang setiap hari dipasangnya di bilik Empu Sada. Ternyata pelita itu telah menyala. Ketika ia mengambil pelita itu, terdengar adik seperguruannya bertanya,
“Kakang, apakah yang kau bicarakan dengan guru? Apakah penting sekali?”
Sumekar menggeleng, “tidak. Tidak ada apa-apa.”
Tetapi wajah adik seperguruannya masih saja dibayangi oleh keinginannya untuk mengetahui serba sedikit apakah yang sedang mereka bicarakan.
“Aku merasa, bahwa ada sesuatu yang tidak wajar,“ desah salah seorang adik seperguruannya itu.
“Tidak apa-apa.“ sahut Sumekar, “adalah soal biasa saja yang dipesankan guru kepadaku. Rajin bekerja, tekun berlatih dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang tercela.” Kedua adik seperguruannya itu mengerutkan keningnya. Pesan itu tidak pernah didengarnya. Tetapi ketika mereka akan bertanya lagi, Sumekar berkata, “Nanti sajalah kita berbicara. Guru menunggu di dalam bilik yang terlampau gelap.”
“Pelita itu telah lama terpasang.“ sahut salah seorang adik seperguruannya, “tetapi aku tidak berani membawanya masuk ke dalam bilik guru.”
Sumekar tersenyum, meskipun senyumnya tidak terlampau. Dengan pelita di tangan Sumekar berjalan masuk kembali ke dalam rumah, kemudian ke dalam bilik gurunya. Tetapi ketika ia sampai kedalam bilik itu, gurunya tidak dijumpainya di dalam. Yang ada di dalam bilik itu hanyalah tongkatnya saja yang telah diserahkannya kepadanya.
“Kemanakah Empu Sada.“ desis Sumekar didalam hatinya. Tetapi Sumekar tidak segera mencarinya.
Disangkanya gurunya sedang pergi keluar sebentar. Tetapi ternyata gurunya tidak segera ditemuinya kembali ke dalam biliknya. Sejenak ia menunggu, tetapi gurunya belum juga datang. Betapa terkejut anak muda itu ketika tiba-tiba ia mendengar kaki kuda berderap. Dengan sigapnya ia meloncat langsung liwat pintu depan. Dan apa yang dilihatnya benar-benar telah menghentikan arus darahnya. Ia melihat gurunya berpacu di atas kudanya.
“Guru.“ teriak Sumekar.
Gurunya berpaling. Ditariknya kekang kudanya untuk memperlambat derap kakinya. Masih di atas punggung kuda orang tua itu berkata, “Selamat tinggal Sumekar. Kaulah kini ketua padepokan ini. Kerjakanlah pesanku selama aku pergi, atau bahkan apabila aku tidak kembali lagi.”
“Guru.“ banyak yang akan diteriakkannya, tetapi yang terloncat dari mulutnya hanyalah satu kata.
Sumekar masih melihat gurunya tersenyum. Namun sejenak kemudian kuda yang ditumpanginya meloncat keluar regol halaman. Dan hilanglah gurunya dari pandangan matanya. Sejenak Sumekar berdiri mematung. Berbagai perasaan berkecamuk di dalam hatinya. Ia melihat gurunya pada saat-saat terakhir seperti orang asing yang baru dikenalnya. Perubahan sikap dan perbuatannya benar-benar telah membingungkannya. Hampir-hampir ia tidak percaya, bahwa orang yang sedang melarikan kudanya itu adalah Empu Sada yang sebelumnya pernah menuntunnya dalam ilmu tata beladiri. Seandainya kemudian orang itu memberinya ilmu tertinggi, Kala Bama, maka mungkin ia tidak lagi percaya bahwa orang itu adalah Empu Sada.
Tetapi Empu Sada itu telah pergi. Apapun yang pernah dilakukan, namun orang itu adalah gurunya. Telah bertahun-tahun ia berada di dalam padepokan itu sebagai seorang murid. Bahkan seandainya Empu Sada itu tidak berubah pada saat-saat terakhir, namun ia tidak dapat mengingkarinya bahwa ia pernah berguru kepadanya. Dan ia tidak tahu, kenapa ia terdampar kedalam perguruan itu meskipun ia tahu sebelumnya, bahwa hidup gurunya diliputi oleh suatu rahasia yang kelam. Sumekar itu tersadar ketika ia mendengar salah seorang adik seperguruannya bertanya,
“Kakang, apakah guru pergi?”
Sumekar berpaling. Dilihatnya dua anak-anak yang masih sangat muda. Ditariknya nafas panjang-panjang. Jawabnya, “Ya. Guru telah pergi.”
Sejenak mereka saling berdiam diri. Pandangan mata mereka masih saja melekat pada regol halaman. Tetapi mereka sudah tidak melihat sesuatu. Hanya pelita yang redup sajalah yang masih tergantung dan bergoyang ditiup angin. Malam menjadi semakin sepi. Yang terdengar adalah pertanyaan adik seperguruan Sumekar,
“Kemanakah guru pergi?”
Sumekar menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Aku tidak tahu.”
Ketika Sumekar berpaling memandang kedua adik seperguruannya itu dilihatnya bahwa kedua wajah itu menjadi keheran-heranan mendengar jawaban Sumekar, sehingga Sumekar merasa perlu untuk menjelaskan,
“Sebenarnyalah aku tidak tahu kemana guru pergi. Bukankah aku baru saja mengambil pelita dari belakang? Ketika aku kembali ke dalam bilik, ternyata guru telah tidak ada di dalam. Aku sangka bahwa guru hanya keluar sebentar. Tetapi yang aku dengar adalah derap seekor kuda.”
Kedua adik seperguruannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun mereka masih juga diliputi oleh keheranan. Bahkan Sumekar itu tanpa dikehendakinya sendiri bergumam lirih,
“Mungkin guru akan sangat lambat kembali atau bahkan tidak sama sekali.”
“He,“ kedua adik seperguruannya itu terkerljut. “Apakah guru tidak akan kembali?”
Kini Sumekar lah yang terkejut. Sejenak ia terdiam, namun kemudian terpatah-patah ia menjawab, “Maksudku, guru belum pasti kapan akan kembali.”
“Dari mana kakang tahu?”
Sekali lagi Sumekar tergagap. Namun kemudian jawabnya, “Guru mengatakannya dari atas punggung kuda.”
Kedua adik seperguruannya itupun mengangguk-anggukkan kepadanya. Salah seorang dari mereka berkata, “Ya aku mendengar lamat-lamat. Mungkin guru tidak kembali.”
Wajah kedua anak-anak muda itupun menjadi suram, seperti Sumekar merekapun tahu bahwa gurunya adalah seorang yang diliputi oleh seribu macam rahasia. Bahkan kedua anak-anak itu merasa bahwa mereka tidak akan dapat sampai tangga tertinggi dari perguruan Empu Sada karena syarat-syarat yang harus disediakan tidak akan pernah mencukupi. Tetapi meskipun demikian kepergian gurunya itu mempengaruhi perasaannya juga. Mereka pun merasakan kesedihan pada saat perpisahan yang aneh.
Dalam pada itu, Empu Sada sendiri berpacu di dalam gelap. Dilepaskan segelap himpitan perasaannya dengan berpacu seperti dikejar hantu. Disentuhnya setiap kali perut kudanya yang meloncat semakin lama semakin cepat. Orang tua itu ingin segera menjauhi padepokannya. Ia takut kalau padepokan yang telah didiaminya berpuluh tahun itu akan menariknya kembali. Dengan sepenuh hati ia berusaha memutuskan hubungan antara dirinya dengan padepokannya. Ia sendiri tidak tahu, kenapa ia berusaha berbuat seperti itu.
Angin malam yang dingin terasa semakin kencang mengusap tubuh Empu tua yang sedang melarikan kudanya itu. Sekali-sekali terdengar orang tua itu berdesah. Ketika ia berpaling, maka yang dilihatnya hanyalah sebuah dinding hitam kelam yang seakan-akan berlari secepat lari kudanya, mengikutinya dibelakang. Tetapi disawah-sawah di sisi jalan orang tua itu melihat berjuta-juta kunang-kunang yang berkeredipan, seakan-akan bersaing dengan bintang yang bertaburan di wajah langit yang biru pekat. Empu Sada bahkan semakin mempercepat kudanya. Kini Empu Sada mencoba melupakan padepokannya. Yang dihadapinya adalah sebuah perjalanan ke Panawijen. Ia merasa langkah kaki kudanya itu terlampau lambat.
“Mudah-mudahan aku tidak terlambat.“ katanya di dalam hati.
Ketika kudanya telah meninggalkan lingkungan tanah persawahan padepokannya, maka Empu Sada berhasil melepaskan kenangannya atas padepokannya itu. Dicobanya untuk membayangkan apa yang akan terjadi, dan apa saja yang dapat dikerjakan. Tetapi apabila ia terlambat dan Mahisa Agni mengalami sesuatu, maka ia telah ikut serta menjerumuskan anak Jun Rumanti itu ke dalam bencana.
Karena itu maka Empu Sada itu memacu kudanya lebih cepat. Seakan-akan didengarnya kembali kedua orang prajurit Tumapel yang bertugas di Padang Karautan itu berceritera tentang beberapa lumbung yang terbakar di Panawijen. Peristiwa itu seakan tergambar jelas di dalam angan-angannya. Semakin direnungkannya, maka iapun menjadi semakin yakin bahwa itu hanyalah sekedar akal Kebo Sindet untuk memancing Mahisa Agni.
Sebenarnyalah bahwa apa yang terjadi adalah demikian. Sebelum kedua prajurit Tumapel kembali menghadap Akuwu untuk memberikan beberapa laporan, maka datanglah dua orang tua ke Padang Karautan memberitahukan bahwa Panawijen tumbuh kebakaran. Tetapi kebakaran itu bukanlah kebetulan saja terjadi. Kebakaran yang terjadi dengan tiba-tiba itu ternyata telah digarap oleh tangan yang licik.
Setelah melihat setiap kemungkinan, dan setelah mengenal berapa persoalan lebih banyak lagi atas Mahisa Agni, Panawidjen dan Kuda Sempana sendiri, maka Kebo Sindet telah menemukan sebuah cara untuk menjebak Mahisa Agni.
Demikian mahalnya Mahisa Agni bagi kedua iblis itu, maka segala cara telah dilakukan untuk menjeratnya. Bagi mereka, Mahisa Agni akan merupakan sebuah barang yang sangat berharga. Ia adalah kakak seorang gadis yang sebentar lagi akan naik jenjang perkawinan. Tidak dengan sembarang orang, tetapi dengan Akuwu Tumapel. Bukankah Mahisa Agni akan dapat menjadi barang taruhan untuk mendapatkan harta benda yang tidak ternilai banyaknya.
Pada saat kedua bersaudara itu menemukan caranya, maka keduanya menjadi sangat bergembira, seakan-akan Mahisa Agni telah berada ditangannya. Keduanya menganggap bahwa Mahisa Agni mempunyai kedudukan yang penting pada saat-saat perkawinan, sebagai kakak gadis bakal permaisuri itu. Meskipun Akuwu dapat mempergunakan kekuasaanya untuk berbuat seperti yang dikehendaki, namun manurut peristiwa yang pernah terjadi, Ken Dedes merasa sangat terikat kepada kakaknya, sehingga apabila mungkin, maka segala usaha pasti akan dilakukan untuk menyelamatkannya.
“Kalau usaha itu gagal,” berkata Wong Sarimpat, “kita masih dapat memaksa Kuda Sempana untuk memberi seluruh kekayaannya kepada kita.”
“Huh, apakah kekayaan kelinci itu cukup banyak.” sahut Kebo Sindet, “pekerjaan kita ini tidak boleh gagal.”
Dengan rencana itu, maka pergilah kedua hantu dari Kemundungan itu ke Panawijen. Mereka telah membawa Kuda Sampana serta. Dangan segala macam akal, mereka telah membujuk Kuda Sempana untuk membatunya.
“Jangan kau bawa-bawa ayahku pula.” katanya.
Mendengar permintaan itu Wong Sarimpat tertawa terbahak-bahak sehingga tubuhnya berguncang-guncang. Katanya, “Apakah salahnya seorang ayah membantu anaknya untuk mencapai cita-citanya. Bukankah wanita sama nilainya dengan pusaka cita-cita.”
“Tetapi aku sudah cukup dewasa. Dan bukankah paman berdua adalah dua orang yang tidak ada tandingnya. Karena itu, jangan ayahku dibawa-bawa. Ia sudah cukup menderita melihat tingkah lakuku selama ini.”
“He,” Kebo Sindet memandangi wajah Kuda Sempana dengan tajamnya. Meskipun wajahnya yang mati itu tidak bergerak, tetapi sorot matanya seakan-akan langsung menembus dada.
“Kuda Sempana.” Berkata Kebo Sindet dengan nada yang berat, “memang aku bermaksud minta kepada ayahmu untuk menolong kita. Tetapi percayalah bahwa ia tidak akan banyak tersangkut. Ia hanya akan berbuat sedikit.”
“Apakah yang harus dilakukan?”
“Memberitahu Mahisa Agni, bahwa di Panawijen timbul kebakaran.”
“He.” Kuda Sempana terkejut, “apakah paman akan membakar Panawijen.”
“Ya.”
Terasa dada Kuda Sempana berdesir. Betapa gelap hatinya, namun ia anak Panawijen sejak lahir. Panawijen Yang kini telah menjadi kering itu akan dibakar. Alangkah mengerikan.
“Bagaimana pertimbanganmu?”
“Mengerikan.” desisnya.
Kembali terdengar Wong Sarimpat tertawa terbahak-bahak. Katanya di sela-sela derai tertawanya, “Kau benar-benar anak cengeng. Kau sudah basah di tengah-tengah banjir. Kau tidak akan dapat kembali, sebab bagimu akibatnya tidak ada bedanya.”
“Tetapi tidak menyeret orang lain untuk hanyut bersamamu.” sahut Kuda Sempana.
Suara tertawa Wong Sarimpat menjadi semakin keras, begitu kerasnya sehingga dada Kuda Sempana serasa akan terpecahkan olehnya.
“Kuda Sempana.“ berkata Kebo Sindet. Wajahnya yang membeku itu sama sekali tidak menunjukkan perubahan nama sekali, “sudah aku katakan, bahwa ayahmu hanya akan membantu, memberitahukan kepada Mahisa Agni, bahwa di Panawijen telah terjadi kebakaran.”
“Tidak ada gunanya.”
“Kenapa?”
“Mahisa Agni telah mengenal ayahku. Ia tidak akan percaya.”
Wong Sarimpat tiba-tiba mengerutkan keningnya, sedang Kebo Sindetpun terdiam sejenak. Tetapi sesaat kemudian ia berkata, “Bagus. Ada jalan lain yang lebih baik. Lebih baik bagi kita dan lebih baik bagi ayah Kuda Sempana.”
“Apakah itu.“ bertanya adiknya.
“Ayah Kuda Sempana hanya mendorong seseorang atau dua orang untuk menyusul Mahisa Agni ke Padang Karautan.”
“Tak seorangpun yang berani.”
“Ayahmu harus memberi jaminan, bahwa tidak akan ada gangguan apapun di Padang Karautan. Ayahmu harus memilih orang-orang yang dapat dibujuknya. Dalam keadaan seperti sekarang, maka setiap orang Panawijen pasti ingin menjadi pahlawan. Apalagi kalau ayahmu dapat membujuk dan memberi mereka sekedar upah.”
Kuda Sempana tidak menjawab. Tetapi terasa dadanya menjadi pepat. Ia tidak mengerti, apakah sebenarnya yang kini dikehendaki? Mahisa Agni atau apa? Ia sendiri tidak tahu apakah ia akan tetap berada di dalam sarang dua serigala bersaudara itu.
Seperti seorang yang kehilangan akal Kuda Sempana menundukkan kepalanya di atas punggung kudanya. Panawijen semakin lama menjadi semakin dekat. Ketika mereka memasuki daerah persawahan maka terasa dada Kuda Sempana berdebar terlampau cepat. Daun-daun yang kuning berguguran, tanah yang kering dan terpecah-pecah, memberikan kesan yang mengerikan, seperti terpecahnya hati dan perasaannya. Sekarang ia datang untuk membuat bencana baru. Dalam udara yang kering dan panas itu maka sepercik api akan dapat menjadikan Panawijen itu karang abang.
“Apakah aku harus menyaksikan kampung halamanku ini menjadi neraka?” Kuda Sempana itu menjadi semakin tidak mengerti tentang dirinya sendiri. Sehingga akhirnya ia tidak mampu lagi untuk berpikir. Ia berbuat tanpa dapat diyakininya sendiri, apakah yang dilakukan itu berarti baginya.
Kuda Sempana itu terkejut ketika tiba-tiba Kebo Sindet berkata, “Kita berhenti di sini. Kita sembunyikan kuda-kuda kita. Kita akan masuk ke Panawijen tampa diketahui oleh siapa pun. Kita akan menyalakan api. Beberapa buah lumbung dan rumah harus terbakar.”
Kuda Sempana sudah mendengar sebelumnya, bahwa mereka akan membakar Panawijen, tetapi ketika Kebo Sindet itu mengatakannya sekali lagi, maka dadanya menjadi berdebar-debar.
Sumekar menjadi semakin tunduk. Dirasakannya bahwa diantara kata-kata gurunya itu terselip suatu penjesalan yang tiada taranya.
“Sumekar.“ berkata gurunya lebih lanjut, “ternyata aku telah keliru mencari bekal dalam hidupku. Aku sangka emas picis raja brana itu akan memberiku ketentraman dan kebahagiaan. Tetapi ternyata bukan. Bukan itu Sumekar. Mungkin kekayaan akan dapat menjadi salah satu syarat untuk menemukan ketentraman dan kebahagiaan, namun apa bila syarat itu berubah menjadi tujuan, maka hidup kitapun akan jatuh kedalam genggamannya. Maka akan celakalah kita karenanya. Aku adalah contoh yang paling dekat Sumekar. Aku hidup dalam perbudakan yang aku jeratkan sendiri keleherku. Aku menjadi liar dan buas untuk mendapatkan harta kekayaan, sedang harta kekayaan itu sama sekali tidak berguna bagiku.“
Empu Sada berhenti sejenak. Ditatapnya wajah muridnya yang tunduk. Sejenak kemudian Empu Sada itu meneruskan, “Bukankah kau lihat Sumekar bahwa kekayaanku tidak memberi aku apa-apa. Jasmaniah apa lagi rokhaniah. Nah, kenanglah apa yang terjadi atasku. Mudah-mudahan akan dapat menjadi petunjuk bagi hidupmu kelak.”
Sekali lagi Empu Sada berhenti. Tatapan matanya kini menjadi kian pudar. Lalu katanya, “Meskipun telah terlambat Sumekar, aku kini ingin mendapat bekal yang lain. Aku sudah terlambat. Aku sudah tua. Aku harus menemukan sesuatu yang berarti dalam hidupku betapapun kecilnya. Ternyata kekayaan yang terbaik di dalam hidup ini adalah hubungan yang erat antara kita dengan Yang Maha Agung. Hubungan yang paling mesra indah ketentraman dan kebahagiaan sejati.”
Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Kata-kata gurunya itu meresap langsung ke dalam kalbunya. Sentuhan-sentuhan yang menggeser hatinya telah menumbuhkan pahatan yang dalam. Yang tidak mudah terhapus oleh sentuhan-sentuhan yang lain.
“Karena itu Sumekar.“ berkata gurunya lebih lanjut, “aku menganggap bahwa apa yang aku miliki selama ini sama sekali tidak berarti lagi bagiku. Semuanya akan aku serahkan kepadamu. Terserahlah, apa yang akan kau perbuat dengan semuanya itu. Mungkin kau akan dapat membangun sesuatu yang berarti bagi padepokan ini, atau mungkin kau merasa perlu untuk menolong orang-orang miskin di sekitar kita, atau apapun yang kau anggap perlu. Apabila kau mengenal pemiliknya, alangkah senang hatiku kalau kau sempat mengembalikan kepadanya.”
Sumekar mengangkat wajahnya. Ia tidak begitu mengerti maksud kata-kata gurunya itu, sehingga gurunya menjelaskan, “Sumekar, semua kekayaan yang pernah aku dapatkan dengan jalan apapun, kini aku serahkan saja kepadamu untuk keperluan yang kau anggap penting sesuai dengan pendirianmu.”
Dada Sumekar menjadi berdebar-debar. Ia tahu benar, bahwa gurunya menyimpan kekayaan tiada taranya. Sekarang kekayaan itu diserahkannya kepadanya, tetapi dengan pesan yang mengikatnya. Tetapi pesan itu telah membesarkan hatinya. Karena itu maka Sumekar itu berkata dengan tajimnya.
“Terima kasih atas kepercayaan itu guru. Mudah-mudahan aku akan dapat melakukan pesan yang guru berikan. Mudah-mudahan akupun tidak akan jatuh ke dalam cengkeramannya. Memperhambakan diri kepada harta benda itu.”
“Aku percaya kepadamu Sumekar, apalagi setelah kau melihat sendiri contoh yang paling baik yang dapat kau saksikan.”
Sumekar mengangguk dalam-dalam sambil menjawab, “Mudah-mudahan guru. Mudah-mudahan yang Maha Agung selalu memberi sinar terang di dalam hatiku.”
Empu Sada pun kemudian mengajak Sumekar masuk ke dalam biliknya. Ditunjukkan segala rahasia yang selama ini seakan-akan hanya diketahuinya sendiri. Ditunjukkannya celah dan lubang-lubang tempat harta bendanya tersimpan. Meskipun Sumekar telah menyangkanya, tetapi ketika ia sempat melihat sendiri apa yang disimpan gurunya, darahnya seakan-akan membeku karenanya. Sesaat ia berdiri seperti patung. Sekali-sekali dipejamkannya matanya seakan-akan ia tidak yakin atas apa yang dilihatnya.
“Jangan heran.” berkata gurunya, “ini adalah ujud dari bencana yang selama ini membelengguku. Kini aku menjadi gembira dan berterima kasih kepada Yang Maha Agung yang telah membebaskan aku dari padanya.”
Sumekar tidak menjawab. Matanya masih melekat pada benda-benda yang berkilauaan itu.
“Sisihkan milik Kuda Sempana. Aku masih mengharap ia kembali kepadaku. Aku akan mencoba membebaskannya dari belenggu yang dijeratkannya sendiri pula. Meskipun bentuknya agak berbeda, tetapi kedua-duanya dikendalikan oleh nafsu duniawi. Kuda Sempana pun telah dicekik oleh nafsunya. Nafsu memiliki seorang gadis cantik yang bernama Ken Dedes. Meskipun ujudnya tidak sama dengan benda-benda yang telah menjeratkan, namun wataknya tidak jauh berbeda. Kedua-duanya digerakkan oleh nafsu duniawi.”
Sumekar masih berdiam diri, tetapi ia mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kalau Kuda Sempana kelak menyadari keadaannya, maka barang-barangnya itu akan dapat sedikit menghiburnya.”
Empu Sada berhenti sejenak, lalu katanya, “Apakah kau mengerti maksudku Sumekar.”
“Ya guru,“ jawab Sumekar, “aku mengerti.”
“Baik. Manfaatkan harta benda ini untuk kepentingan sesama. Dengan demikian, aku akan dapat pergi dengan dada yang lapang. Aku kini merasa bahwa tanganku telah lepas dari belenggu yang selama ini menjeratku. Aku kini menjadi manusia yang bebas. Dalam sisa-sisa umurku aku akan berusaha untuk menjadikan hidupku berarti, berarti bagi sesama betapapun kecil arti itu.”
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekali lagi tanpa sesadarnya ia bertanya, “Kemanakah guru akan pergi?”
“Pertanyaanmu telah kau ucapkan untuk ketiga kalinya Sumekar. Maaf, aku tidak dapat menjawab, karena aku sendiri belum menentukan sikap. Kemana dan untuk apa aku pergi.”
Sumekar menggigit bibirnya. Ia merasa bahwa pertanyaanya itu agak mengganggu gurunya. Sebelumnya ia sama sekali tidak bernafsu untuk mengetahui kemanakah gurunya akan pergi. Sekali dua kali ia mengucapkan pertanyaan serupa itu. Tetapi pertanyaan itu meluncur saja dari bibirnya tanpa suatu maksud. Pertanyaan itu diucapkannya hanya sekedar untuk memperpantas sikap. Tetapi kini anak muda itu benar-benar ingin tahu, kemanakah gurunya akan pergi. Namun sayang, gurunya tidak memberitahukannya.
“Sumekar.“ berkata Empu Sada, “kau kini menjadi wakilku. Wakil dalam segala persoalan. Kau jugalah yang harus menuntun adik-adik seperguruanmu. Tetapi ingat, tuntunlah ia lahir dan batinnya. Bahkan seandainya ada kakak-kakak sepergurumu yang berkepentingan dengan padepokan ini, maka segala persoalannya harus kau terima sebagai wakilku. Kalau aku lambat kembali atau tidak kembali sama sekali, kembangkanlah nama padepokan ini sebaik-baiknya. Kau mengerti?”
Sumekar mengangguk, jawabnya, “Ya guru.”
“Terima kasih,“ sahut gurunya, “aku percaya kepadamu.”
“Tetapi,“ berkata Sumekar kemudian, “apakah yang dapat aku lakukan terhadap kakak-kakak seperguruanku? Mereka tahu siapa aku dan mereka merasa bahwa mereka lebih berhak untuk berbuat seperti itu.”
“Tetapi aku pun berhak menentukan siapakah yang aku percaya untuk mewakili aku.” sahut gurunya, “Sumekar, meskipun kau masih muda, tetapi kau aku anggap mencukupi syarat untuk berbuat demikian. Seandainya ada yang mencoba memaksakan kehendaknya, maka kau pun dapat bertahan atas sikap itu, bahkan seandainya dengan kekerasan sekalipun. Tak seorang pun yang dapat aku percaya menerima harta benda sebanyak ini tetapi tidak untuk dirinya sendiri, selain kau.”
Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Tugas itu bukan tugas Yang ringan. Namun gurunya berkata selanjutnya, “Baiklah. Kalau kau memerlukan bukti kepercayaanku. Tongkatku akan aku tinggalkan untukmu, sebagai pertanda bahwa aku telah menyerahkan segala sesuatunya kepadamu.”
Sekali lagi darah Sumekar terasa berhenti mengalir. Agaknya gurunya benar-benar telah melepaskan padepokan ini. Terasa oleh anak muda itu, seakan-akan pertemuannya dengan gurunya kali ini adalah kali yang terakhir. Ketika gurunya menyerahkan tongkatnya, maka Sumekar menerimanya dengan tangan gemetar. Tetapi sentuhan tangannya pada tongkat itu merasakan, bahwa tangan gurunya pun gemetar pula.
Ternyata Empu Sada merasakan sebuah goncangan pada perasaannya pada saat tongkat itu lepas dari tangannya. Tongkat itu adalah ciri dirinya dan juga senjatanya. Seorang yang bertongkat panjang adalah seorang yang bernama Empu Sada, seperti Panji Bodjong Santi dengan kasa kulit harimaunya, seperti Empu Gandring dengan keris raksasanya. Dan kini tongkat itu lepas dari tangannya. Namun untuk suatu kepentingan yang tidak kalah besarnya dari setiap kepentingan yang akan dihadapinya.
“Guru.“ desis Sumekar setelah ia menerima tongkat, “aku hanya dapat mengucapkan beribu terima kasih. Tetapi bagaimana dengan guru sendiri? Bukankah tongkat ini ciri kebesaran guru dan merupakan senjata guru pula.”
Empu Sada tersenyum. Tetapi senyumnya membayang seperti bulan disaput awan. Suram. “Aku tidak memerlukannya lagi Sumekar. Aku tidak ingin lagi mempergunakan akan senjata untuk menimbun harta benda yang tidak berarti apa-apa dalam hidupku. Aku tidak lagi ingin memamerkan namaku yang kotor itu lewat tongkatku. Bahkan aku ingin kalau aku dapat meninggalkankan bahkan melupakan masa-masa lampauku, apabila mungkin.”
Sumekar menarik nafas dalam-dalam. la merasakan keanehan sikap gurunya. Sikap itu bukan sekedar sikap penjesalan, tetapi sikap itu telah sangat merisaukannya. Sejenak keduanya saling berdiam diri. Yang terdengar kemudian adalah nafas Sumekar yang terengah-engah.
Di luar bilik Empu Sada terdengar kedua murid Empu Sada yang lain terbatuk-batuk. Mereka sedang menyalakan lampu-lampu di dalam rumah. Tetapi mereka tidak berani masuk kedalam bilik gurunya, seperti setiap hari. Yang berani masuk kedalam bilik itu hanya Sumekar selain gurunya sendiri. Hanya apabila perlu sekali seorang dua orang berani dengan tergesa-gesa.
“Sumekar.“ berkata Empu Sada kemudian, “ternyata hari telah terlampau gelap. Ambillah pelita dan terangilah bilik ini. Untuk seterusnya bilik ini adalah bilikmu sambil menjaga semua harta benda itu, sampai suatu ketika harta benda itu habis terbagi dan jatuh ketangan yang benar memerlukannya.”
Kali ini Sumekar tidak dapat lagi menahan pertanyaannya meskipun ia ragu-ragu mengucapkannya. “Guru, kenapa guru merasa bahwa guru akan lambat kembali dan bahkan mungkin tidak kembali sama sekali.”
Sekali lagi Empu Sada tersenyum. Senyum yang suram. Katanya, “Aku tidak tahu. Jangan tanyakan itu lagi. Sekarang, pasanglah pelita, dan seterusnya aku akan pergi meninggalkan padepokan ini.”
“Guru.“ potong Sumekar.
“Jangan bertanya lagi. Lakukan perintahku. Ambillah pelita. Bilik ini telah terlampau gelap.”
Sumekar tidak berani bertanya lagi. Betapa hatinya diliputi oleh seribu satu macam pertanyaan, namun ia tidak berani mengucapkannya. Perlahan-lahan ia bangkit dan berjalan keluar. Di luar bilik di ruang dalam telah terpasang lampu dinding. Nyala apinya bergetar karena angin yang menyusup lubang-lubang dinding. Sumekar pergi kebelakang untuk mengambil pelita yang setiap hari dipasangnya di bilik Empu Sada. Ternyata pelita itu telah menyala. Ketika ia mengambil pelita itu, terdengar adik seperguruannya bertanya,
“Kakang, apakah yang kau bicarakan dengan guru? Apakah penting sekali?”
Sumekar menggeleng, “tidak. Tidak ada apa-apa.”
Tetapi wajah adik seperguruannya masih saja dibayangi oleh keinginannya untuk mengetahui serba sedikit apakah yang sedang mereka bicarakan.
“Aku merasa, bahwa ada sesuatu yang tidak wajar,“ desah salah seorang adik seperguruannya itu.
“Tidak apa-apa.“ sahut Sumekar, “adalah soal biasa saja yang dipesankan guru kepadaku. Rajin bekerja, tekun berlatih dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang tercela.” Kedua adik seperguruannya itu mengerutkan keningnya. Pesan itu tidak pernah didengarnya. Tetapi ketika mereka akan bertanya lagi, Sumekar berkata, “Nanti sajalah kita berbicara. Guru menunggu di dalam bilik yang terlampau gelap.”
“Pelita itu telah lama terpasang.“ sahut salah seorang adik seperguruannya, “tetapi aku tidak berani membawanya masuk ke dalam bilik guru.”
Sumekar tersenyum, meskipun senyumnya tidak terlampau. Dengan pelita di tangan Sumekar berjalan masuk kembali ke dalam rumah, kemudian ke dalam bilik gurunya. Tetapi ketika ia sampai kedalam bilik itu, gurunya tidak dijumpainya di dalam. Yang ada di dalam bilik itu hanyalah tongkatnya saja yang telah diserahkannya kepadanya.
“Kemanakah Empu Sada.“ desis Sumekar didalam hatinya. Tetapi Sumekar tidak segera mencarinya.
Disangkanya gurunya sedang pergi keluar sebentar. Tetapi ternyata gurunya tidak segera ditemuinya kembali ke dalam biliknya. Sejenak ia menunggu, tetapi gurunya belum juga datang. Betapa terkejut anak muda itu ketika tiba-tiba ia mendengar kaki kuda berderap. Dengan sigapnya ia meloncat langsung liwat pintu depan. Dan apa yang dilihatnya benar-benar telah menghentikan arus darahnya. Ia melihat gurunya berpacu di atas kudanya.
“Guru.“ teriak Sumekar.
Gurunya berpaling. Ditariknya kekang kudanya untuk memperlambat derap kakinya. Masih di atas punggung kuda orang tua itu berkata, “Selamat tinggal Sumekar. Kaulah kini ketua padepokan ini. Kerjakanlah pesanku selama aku pergi, atau bahkan apabila aku tidak kembali lagi.”
“Guru.“ banyak yang akan diteriakkannya, tetapi yang terloncat dari mulutnya hanyalah satu kata.
Sumekar masih melihat gurunya tersenyum. Namun sejenak kemudian kuda yang ditumpanginya meloncat keluar regol halaman. Dan hilanglah gurunya dari pandangan matanya. Sejenak Sumekar berdiri mematung. Berbagai perasaan berkecamuk di dalam hatinya. Ia melihat gurunya pada saat-saat terakhir seperti orang asing yang baru dikenalnya. Perubahan sikap dan perbuatannya benar-benar telah membingungkannya. Hampir-hampir ia tidak percaya, bahwa orang yang sedang melarikan kudanya itu adalah Empu Sada yang sebelumnya pernah menuntunnya dalam ilmu tata beladiri. Seandainya kemudian orang itu memberinya ilmu tertinggi, Kala Bama, maka mungkin ia tidak lagi percaya bahwa orang itu adalah Empu Sada.
Tetapi Empu Sada itu telah pergi. Apapun yang pernah dilakukan, namun orang itu adalah gurunya. Telah bertahun-tahun ia berada di dalam padepokan itu sebagai seorang murid. Bahkan seandainya Empu Sada itu tidak berubah pada saat-saat terakhir, namun ia tidak dapat mengingkarinya bahwa ia pernah berguru kepadanya. Dan ia tidak tahu, kenapa ia terdampar kedalam perguruan itu meskipun ia tahu sebelumnya, bahwa hidup gurunya diliputi oleh suatu rahasia yang kelam. Sumekar itu tersadar ketika ia mendengar salah seorang adik seperguruannya bertanya,
“Kakang, apakah guru pergi?”
Sumekar berpaling. Dilihatnya dua anak-anak yang masih sangat muda. Ditariknya nafas panjang-panjang. Jawabnya, “Ya. Guru telah pergi.”
Sejenak mereka saling berdiam diri. Pandangan mata mereka masih saja melekat pada regol halaman. Tetapi mereka sudah tidak melihat sesuatu. Hanya pelita yang redup sajalah yang masih tergantung dan bergoyang ditiup angin. Malam menjadi semakin sepi. Yang terdengar adalah pertanyaan adik seperguruan Sumekar,
“Kemanakah guru pergi?”
Sumekar menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Aku tidak tahu.”
Ketika Sumekar berpaling memandang kedua adik seperguruannya itu dilihatnya bahwa kedua wajah itu menjadi keheran-heranan mendengar jawaban Sumekar, sehingga Sumekar merasa perlu untuk menjelaskan,
“Sebenarnyalah aku tidak tahu kemana guru pergi. Bukankah aku baru saja mengambil pelita dari belakang? Ketika aku kembali ke dalam bilik, ternyata guru telah tidak ada di dalam. Aku sangka bahwa guru hanya keluar sebentar. Tetapi yang aku dengar adalah derap seekor kuda.”
Kedua adik seperguruannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun mereka masih juga diliputi oleh keheranan. Bahkan Sumekar itu tanpa dikehendakinya sendiri bergumam lirih,
“Mungkin guru akan sangat lambat kembali atau bahkan tidak sama sekali.”
“He,“ kedua adik seperguruannya itu terkerljut. “Apakah guru tidak akan kembali?”
Kini Sumekar lah yang terkejut. Sejenak ia terdiam, namun kemudian terpatah-patah ia menjawab, “Maksudku, guru belum pasti kapan akan kembali.”
“Dari mana kakang tahu?”
Sekali lagi Sumekar tergagap. Namun kemudian jawabnya, “Guru mengatakannya dari atas punggung kuda.”
Kedua adik seperguruannya itupun mengangguk-anggukkan kepadanya. Salah seorang dari mereka berkata, “Ya aku mendengar lamat-lamat. Mungkin guru tidak kembali.”
Wajah kedua anak-anak muda itupun menjadi suram, seperti Sumekar merekapun tahu bahwa gurunya adalah seorang yang diliputi oleh seribu macam rahasia. Bahkan kedua anak-anak itu merasa bahwa mereka tidak akan dapat sampai tangga tertinggi dari perguruan Empu Sada karena syarat-syarat yang harus disediakan tidak akan pernah mencukupi. Tetapi meskipun demikian kepergian gurunya itu mempengaruhi perasaannya juga. Mereka pun merasakan kesedihan pada saat perpisahan yang aneh.
Dalam pada itu, Empu Sada sendiri berpacu di dalam gelap. Dilepaskan segelap himpitan perasaannya dengan berpacu seperti dikejar hantu. Disentuhnya setiap kali perut kudanya yang meloncat semakin lama semakin cepat. Orang tua itu ingin segera menjauhi padepokannya. Ia takut kalau padepokan yang telah didiaminya berpuluh tahun itu akan menariknya kembali. Dengan sepenuh hati ia berusaha memutuskan hubungan antara dirinya dengan padepokannya. Ia sendiri tidak tahu, kenapa ia berusaha berbuat seperti itu.
Angin malam yang dingin terasa semakin kencang mengusap tubuh Empu tua yang sedang melarikan kudanya itu. Sekali-sekali terdengar orang tua itu berdesah. Ketika ia berpaling, maka yang dilihatnya hanyalah sebuah dinding hitam kelam yang seakan-akan berlari secepat lari kudanya, mengikutinya dibelakang. Tetapi disawah-sawah di sisi jalan orang tua itu melihat berjuta-juta kunang-kunang yang berkeredipan, seakan-akan bersaing dengan bintang yang bertaburan di wajah langit yang biru pekat. Empu Sada bahkan semakin mempercepat kudanya. Kini Empu Sada mencoba melupakan padepokannya. Yang dihadapinya adalah sebuah perjalanan ke Panawijen. Ia merasa langkah kaki kudanya itu terlampau lambat.
“Mudah-mudahan aku tidak terlambat.“ katanya di dalam hati.
Ketika kudanya telah meninggalkan lingkungan tanah persawahan padepokannya, maka Empu Sada berhasil melepaskan kenangannya atas padepokannya itu. Dicobanya untuk membayangkan apa yang akan terjadi, dan apa saja yang dapat dikerjakan. Tetapi apabila ia terlambat dan Mahisa Agni mengalami sesuatu, maka ia telah ikut serta menjerumuskan anak Jun Rumanti itu ke dalam bencana.
Karena itu maka Empu Sada itu memacu kudanya lebih cepat. Seakan-akan didengarnya kembali kedua orang prajurit Tumapel yang bertugas di Padang Karautan itu berceritera tentang beberapa lumbung yang terbakar di Panawijen. Peristiwa itu seakan tergambar jelas di dalam angan-angannya. Semakin direnungkannya, maka iapun menjadi semakin yakin bahwa itu hanyalah sekedar akal Kebo Sindet untuk memancing Mahisa Agni.
Sebenarnyalah bahwa apa yang terjadi adalah demikian. Sebelum kedua prajurit Tumapel kembali menghadap Akuwu untuk memberikan beberapa laporan, maka datanglah dua orang tua ke Padang Karautan memberitahukan bahwa Panawijen tumbuh kebakaran. Tetapi kebakaran itu bukanlah kebetulan saja terjadi. Kebakaran yang terjadi dengan tiba-tiba itu ternyata telah digarap oleh tangan yang licik.
Setelah melihat setiap kemungkinan, dan setelah mengenal berapa persoalan lebih banyak lagi atas Mahisa Agni, Panawidjen dan Kuda Sempana sendiri, maka Kebo Sindet telah menemukan sebuah cara untuk menjebak Mahisa Agni.
Demikian mahalnya Mahisa Agni bagi kedua iblis itu, maka segala cara telah dilakukan untuk menjeratnya. Bagi mereka, Mahisa Agni akan merupakan sebuah barang yang sangat berharga. Ia adalah kakak seorang gadis yang sebentar lagi akan naik jenjang perkawinan. Tidak dengan sembarang orang, tetapi dengan Akuwu Tumapel. Bukankah Mahisa Agni akan dapat menjadi barang taruhan untuk mendapatkan harta benda yang tidak ternilai banyaknya.
Pada saat kedua bersaudara itu menemukan caranya, maka keduanya menjadi sangat bergembira, seakan-akan Mahisa Agni telah berada ditangannya. Keduanya menganggap bahwa Mahisa Agni mempunyai kedudukan yang penting pada saat-saat perkawinan, sebagai kakak gadis bakal permaisuri itu. Meskipun Akuwu dapat mempergunakan kekuasaanya untuk berbuat seperti yang dikehendaki, namun manurut peristiwa yang pernah terjadi, Ken Dedes merasa sangat terikat kepada kakaknya, sehingga apabila mungkin, maka segala usaha pasti akan dilakukan untuk menyelamatkannya.
“Kalau usaha itu gagal,” berkata Wong Sarimpat, “kita masih dapat memaksa Kuda Sempana untuk memberi seluruh kekayaannya kepada kita.”
“Huh, apakah kekayaan kelinci itu cukup banyak.” sahut Kebo Sindet, “pekerjaan kita ini tidak boleh gagal.”
Dengan rencana itu, maka pergilah kedua hantu dari Kemundungan itu ke Panawijen. Mereka telah membawa Kuda Sampana serta. Dangan segala macam akal, mereka telah membujuk Kuda Sempana untuk membatunya.
“Jangan kau bawa-bawa ayahku pula.” katanya.
Mendengar permintaan itu Wong Sarimpat tertawa terbahak-bahak sehingga tubuhnya berguncang-guncang. Katanya, “Apakah salahnya seorang ayah membantu anaknya untuk mencapai cita-citanya. Bukankah wanita sama nilainya dengan pusaka cita-cita.”
“Tetapi aku sudah cukup dewasa. Dan bukankah paman berdua adalah dua orang yang tidak ada tandingnya. Karena itu, jangan ayahku dibawa-bawa. Ia sudah cukup menderita melihat tingkah lakuku selama ini.”
“He,” Kebo Sindet memandangi wajah Kuda Sempana dengan tajamnya. Meskipun wajahnya yang mati itu tidak bergerak, tetapi sorot matanya seakan-akan langsung menembus dada.
“Kuda Sempana.” Berkata Kebo Sindet dengan nada yang berat, “memang aku bermaksud minta kepada ayahmu untuk menolong kita. Tetapi percayalah bahwa ia tidak akan banyak tersangkut. Ia hanya akan berbuat sedikit.”
“Apakah yang harus dilakukan?”
“Memberitahu Mahisa Agni, bahwa di Panawijen timbul kebakaran.”
“He.” Kuda Sempana terkejut, “apakah paman akan membakar Panawijen.”
“Ya.”
Terasa dada Kuda Sempana berdesir. Betapa gelap hatinya, namun ia anak Panawijen sejak lahir. Panawijen Yang kini telah menjadi kering itu akan dibakar. Alangkah mengerikan.
“Bagaimana pertimbanganmu?”
“Mengerikan.” desisnya.
Kembali terdengar Wong Sarimpat tertawa terbahak-bahak. Katanya di sela-sela derai tertawanya, “Kau benar-benar anak cengeng. Kau sudah basah di tengah-tengah banjir. Kau tidak akan dapat kembali, sebab bagimu akibatnya tidak ada bedanya.”
“Tetapi tidak menyeret orang lain untuk hanyut bersamamu.” sahut Kuda Sempana.
Suara tertawa Wong Sarimpat menjadi semakin keras, begitu kerasnya sehingga dada Kuda Sempana serasa akan terpecahkan olehnya.
“Kuda Sempana.“ berkata Kebo Sindet. Wajahnya yang membeku itu sama sekali tidak menunjukkan perubahan nama sekali, “sudah aku katakan, bahwa ayahmu hanya akan membantu, memberitahukan kepada Mahisa Agni, bahwa di Panawijen telah terjadi kebakaran.”
“Tidak ada gunanya.”
“Kenapa?”
“Mahisa Agni telah mengenal ayahku. Ia tidak akan percaya.”
Wong Sarimpat tiba-tiba mengerutkan keningnya, sedang Kebo Sindetpun terdiam sejenak. Tetapi sesaat kemudian ia berkata, “Bagus. Ada jalan lain yang lebih baik. Lebih baik bagi kita dan lebih baik bagi ayah Kuda Sempana.”
“Apakah itu.“ bertanya adiknya.
“Ayah Kuda Sempana hanya mendorong seseorang atau dua orang untuk menyusul Mahisa Agni ke Padang Karautan.”
“Tak seorangpun yang berani.”
“Ayahmu harus memberi jaminan, bahwa tidak akan ada gangguan apapun di Padang Karautan. Ayahmu harus memilih orang-orang yang dapat dibujuknya. Dalam keadaan seperti sekarang, maka setiap orang Panawijen pasti ingin menjadi pahlawan. Apalagi kalau ayahmu dapat membujuk dan memberi mereka sekedar upah.”
Kuda Sempana tidak menjawab. Tetapi terasa dadanya menjadi pepat. Ia tidak mengerti, apakah sebenarnya yang kini dikehendaki? Mahisa Agni atau apa? Ia sendiri tidak tahu apakah ia akan tetap berada di dalam sarang dua serigala bersaudara itu.
Seperti seorang yang kehilangan akal Kuda Sempana menundukkan kepalanya di atas punggung kudanya. Panawijen semakin lama menjadi semakin dekat. Ketika mereka memasuki daerah persawahan maka terasa dada Kuda Sempana berdebar terlampau cepat. Daun-daun yang kuning berguguran, tanah yang kering dan terpecah-pecah, memberikan kesan yang mengerikan, seperti terpecahnya hati dan perasaannya. Sekarang ia datang untuk membuat bencana baru. Dalam udara yang kering dan panas itu maka sepercik api akan dapat menjadikan Panawijen itu karang abang.
“Apakah aku harus menyaksikan kampung halamanku ini menjadi neraka?” Kuda Sempana itu menjadi semakin tidak mengerti tentang dirinya sendiri. Sehingga akhirnya ia tidak mampu lagi untuk berpikir. Ia berbuat tanpa dapat diyakininya sendiri, apakah yang dilakukan itu berarti baginya.
Kuda Sempana itu terkejut ketika tiba-tiba Kebo Sindet berkata, “Kita berhenti di sini. Kita sembunyikan kuda-kuda kita. Kita akan masuk ke Panawijen tampa diketahui oleh siapa pun. Kita akan menyalakan api. Beberapa buah lumbung dan rumah harus terbakar.”
Kuda Sempana sudah mendengar sebelumnya, bahwa mereka akan membakar Panawijen, tetapi ketika Kebo Sindet itu mengatakannya sekali lagi, maka dadanya menjadi berdebar-debar.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar