“Apakah aku akan membiarkan kampung halamanku musnah dimakan api?” desisnya di dalam hati.
Tetapi ia menjadi termangu-mangu ketika Kebo Sindet yang seakan-akan mengerti perasaannya berkata, “Jangan cemas Kuda Sempana. Aku tidak akan membakar seluruh padukuhan Panawijen. Aku hanya akan membakar beberapa buah lumbung dan rumah di sekitarnya.”
“Panawijen kini sedang menderita kekeringan. Kalau lumbung-lumbung terbakar, maka mereka pasti segera akan mati kelaparan.”
“Sudah aku katakan, tidak semua lumbung akan aku bakar.”
“Yang satu atau dua lumbung itu pengaruhnya akan besar sekali bagi Panawijen.”
“Jadikanlah mereka korban dari cita-citamu. Jadikanlah mereka umpan kailmu. Kalau ikan yang akan kita pancing itu ikan yang besar, maka umpannyapun harus cukup besar pula yang akan aku jadikan umpan?”
Dada Kuda Sempana berdesir. Sendirian itu merupakan ancaman baginya. Karena itu maka iapun berdiam diri. Betapa hatinya menukik, tetapi ia berhadapan dengan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Dua iblis kakak beradik yang benar-benar berhati iblis. Dengan demikian maka Kuda Sempana tidak dapat ber buat apa-apa lagi. Ia harus menurut saja ketika mereka menarik kuda-kuda mereka ke dalam gerumbul yang telah kekuning-kuningan. Kemudian sejenak mereka menunggu hari menjadi gelap.
Ketika lamat-lamat dikejauhan terdengar bunyi burung kedasih, maka berkatalah Kebo Sindet, “Hari telah malam. Marilah kita lakukan pekerjaan kita.”
Kuda Sempana tidak dapat mengucapkan sepatah kata pun. Ia harus melakukan sesuatu yang bertentangan dengan perasaannya. Tetapi ia tidak dapat menolak. Peristiwa demi peristiwa telah menghantam perasaan Kuda Sempana yang semakin lama menjadi semakin kosong. Semakin tidak dapat dimengertinya sendiri.
Malam itu Kuda Sempana menyaksikan api yang melonjak kendara. Dengan hati yang pedih ia melihat orang-orang Panawijen saling berlari dan berteriak-teriak ngeri. Namun orang-orang itu kemudian menemukan keseimbangan. Mereka tidak lagi berlari-lari, tetapi beberapa orang laki-laki yang tinggal di padukuhan karena beberapa hal, yang pada umumnya adalah orang tua-tua telah berusaha untuk memadamkan api itu. Mereka mencoba merobohkan rumah-rumah dan pepohonan di sekitar api yang sedang menyala-nyala, sehingga mereka dapat membatasi, supaya api itu tidak menjalar semakin luas. Meskipun demikian, Panawijen telah menjadi geger. Perempuan-perempuan yang berani membantu mencoba memadamkan setidak-tidak membatasi supaya api tidak menjalar.
Dari kejauhan Kebo Sindet, Wong Sarimpat dan Kuda Sempana menyaksikan hiruk pikuk itu dengan tanggapan mereka sendiri-sendiri. Kebo Sindet melihat api itu dengan wajahnya yang membeku, sedang Wong Sarimpat tampak tertawa-tawa kecil. Sekali-sekali tangannya mengusap wajahnya yang gembung. Wajah yang basah dilapisi oleh keringat. Disamping mereka, Kuda Sempana menyaksikan api itu dengan hati yang tersayat-sayat.
“Nah, lihatlah.“ berkata Kebo Sindet, “kampung halamanmu sama sekali tidak musnah. Bukankah hanya sebagian kecil dari padukuhan itu yang terbakar. Lihatlah, mereka telah berhasil menguasai api.” Kuda Sempana tidak menjawab. “Kita akan segera melakukan tugas berikutnya. Nah, Kuda Sempana, antarkan aku ke rumah ayahmu.”
“Apakah yang akan paman lakukan?”
“Antarkan aku ke rumah ayahmu.”
“Ayah pasti tidak ada di rumah. Ayah pasti sedang bergulat dengan api itu pula.”
“Tidak apa, kita tidak tergesa-gesa. Kita dapat menunggunya sampai nanti lingsir wengi atau bahkan sampai besok pagi sekalipun.”
Kuda Sempana tidak dapat menjawab lagi. Maka mau tidak mau kedua iblis kakak beradik itu harus dibawanya pulang ke rumah orang tuanya. Betapa liciknya Kebo Sindet dan Wong Sarimpat membujuk ayah Kuda Sempana. Kebo Sindet yang berwajah beku itu sekali-sekali dapat juga tersenyum sambil berkata,
“Untuk kepentingan anakmu Kaki.”
Kuda Sempana sama sekali tidak sempat menolak. Ia diam saja seperti patung mendengarkan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat berkata berkepanjangan. Hanya sekali-sekali ia terpaksa mengiakan apabila Kebo Sindet dan Wong Sarimpat bertanya kepadanya.
“Kaki.“ berkata Kebo Sindet, “anakmu memang menghendaki aku menangkap Mahisa Agni hidup-hidup.”
Orang tua itu memandangi anaknya dengan sorot mata yang aneh. Tetapi Kebo Sindet segera berkata, “Tetapi persoalannya tidak saja menyangkul anak Kaki. Ada banyak persoalan. Kalau bapak bersedia membantu kami, maka nasib bapak tidak akan sejelek sekarang ini. Kaki tidak akan dapat menggantungkan nasib Kaki kepada Kuda Sempana yang kini sudah bukan seorang Pelayan Dalam yang terhormat lagi. Apakah bapak pernah melihat emas sebesar ini?”
Mata ayah Kuda Sempana itupun terbelalak melihat sekeping emas murni. “Apakah itu benar-benar emas.“ ia bertanya.
“Bertanyalah kepada Kuda Sempana.”
Orang tua itu menelan ludahnya. Tetapi ia tidak segera menjawab. Hatinya masih dipenuhi oleh keragu-raguan.
“Pekerjaan Kaki tidak berat. Carilah dua atau tiga orang yang bersedia pergi ke Padang Karautan untuk menyampaikan kabar ini kepada Mahisa Agni. Hanya itu.”
Ayah Kuda Sempana itu masih saja berdiam diri. Tetapi sorot matanya tidak juga lepas dari sekeping emas murni yang masih di tangan Kebo Sindet.
“Nah bagaimana?“ bertanya Kebo Sindet. Sekali lagi ayah Kuda Sempana itu menelan ludahnya. “Kau akan menerima emas ini untuk pekerjaan yang tidak berarti. Membujuk dua atau tiga orang untuk memberitahukan kebakaran ini kepada Mahisa Agni.“
Ayah Kuda Sempana itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekali-sekali dipandanginya wajah anaknya yang buram, dan kemudian kembali matanya tersangkut pada emas yang bercahaya-cahaya itu.
“Tak seorang pun yang berani pergi ke Padang Karautan.“ gumam ayah Kuda Sempana itu seakan-akan kepada diri sendiri.
“Kau dapat memberi tahukan, bahwa sekarang Padang Karautan telah tidak berbahaya lagi. Hantu Karautan telah dibinasakan oleh Mahisa Agni.”
Ayah Kuda Sempana mengangguk-anggukkan kepalanya lagi. Katanya, “Kalau ada yang berani menyeberangi padang ini, maka hal itu pasti sudah dilakukan tanpa seorang pun yang membujuknya. Tetapi mereka belum tahu, bahwa Padang Karautan kini sudah tidak menakutkan lagi seperti pada masa-masa yang lampau. Kau dapat membujuk mereka supaya mereka menjadi berani, itu saja. Atau kau sendiri yang akan pergi?”
“Seandainya aku tidak bertemu dengan hantu Padang Karautan, maka bagiku Mahisa Agni adalah seorang yang aku takuti lebih dari hantu yang manapun juga. Perbuatan Kuda Sempana selama ini telah cukup menjadi alasan baginya untuk membunuhku.”
Kuda Sempana mengangkat wajahnya, tetapi kemudian wajah itu kembali menunduk. Dengan wajah yang suram anak muda itu menarik nafas dalam-dalam.
“Terserahlah kepadamu Kaki.“ berkata Kebo Sindet, “emas ini sangat tergantung kepada perbuatanmu.” Sekali lagi ayah Kuda Sempana itu menelan ludahnya.
“Pikirkanlah.“ gumam Wong Sarimpat pula.
Kuda Sempana tidak dapat berbuat apapun. Ia tahu betapa kasarnya kedua kakak beradik itu. Kalau ia berbuat sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendaknya, maka kedua orang itu dapat berbuat sekehendaknya atas dirinya dan bahkan ayahnya itu pula.
“Pekerjaan itu bagiku bukanlah perkerjaan yang mudah.“ berkata ayah Kuda Sempana.
“Kaki hanya tinggal membujuk mereka untuk tidak takut berjalan di Padang Karautan. Bukankah Mahisa Agni dapat berbuat banyak untuk kepentingan kampung halamannya?”
“Tetapi Mahisa Agni tidak akan dapat berbuat demikian, sebab bukankah tuan hendak menangkapnya bersama anakku ini.”
Sekali lagi Kuda Sempana mengangkat wajahnya, tetapi yang menjawab adalah Kebo Sindet, “Benar, demikianlah. Mudah-mudahan anakmu mendapat kepuasan karenanya. Dengan demikian maka hidupnya tidak akan selalu diracuni oleh rasa dendam yang tidak dapat dilepaskannya. Kalau Mahisa Agni itu sudah ada ditangannya, maka anak pasti akan menemukan kembali keseimbangan jiwanya.”
Orang tua itu sekali lagi memandangi wajah anaknya yang suram. Tetapi dalam kesuraman itu tidak tampak olehnya nyala matanya yang memancarkan dendam di hatinya. Kuda Sempana sendiri tiba-tiba menjadi acuh tak acuh saja pada pembicaraan itu. Ia benar-benar telah kehilangan pengertian tentang dirinya sendiri. Ia tidak tahu apakah ia masih juga mendendamnya sampai sekarang. Dalam pada itu, ayah Kuda Sempana berpikir dengan tegangnya. Sekali-sekali matanya menjadi silau oleh kilatan emas di tangan Kebo Sindet.
“Bagaimana?“ terdengar suara Kebo Sindet berat.
Perlahan-lahan Kebo Sindet melihat ayah Kuda Sempana perlahan-lahan mengangguk sambil menjawab, “Baiklah. Akan aku coba. Sebenarnya setiap orang disini berkeinginan untuk memberitahukannya kepada Mahisa Agni apa yang telah terjadi, tetapi mereka masih saja dibayangi oleh ketakutan kecemasan tentang Padang Karautan.”
“Kalau kau dapat meyakinkan tentang Padang itu, maka segala maksud kita akan tercapai, dan kau akan memiliki emas yang sekeping ini untuk menyelamatkan sisa-sisa hari tuamu dari kemiskinan dan sengsara. Apakah kau juga mengharap bahwa kerja Mahisa Agni membuat bendungan itu akan selesai? Omong kosong. Bendungan itu tidak akan pernah selesai. Orang-orang Panawijen tidak boleh menggantungkan harapannya pada bendungan itu. Sebab besok atau lusa Mahisa Agni sudah berada di tanganku. Nah, dengan demikian kalian harus pergi mengembara mencari tempat baru untuk hidup kalian orang Panawijen.” Ayah Kuda Sempana mengangguk-anggukan kepalanya.
“Lakukanlah.“ berkata Kebo Sindet kemudian, “Aku menunggu di sini.”
Orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun demikian ia masih juga ragu-ragu. Tetapi ketika terpandang olehnya kilatan warna kekuning-kuningan yang memancar dari sekeping emas itu, ia berkata,
“Baiklah, akan aku coba mencari dua tiga orang yang paling berani.”
Ayah Kuda Sempana itupun akhirnya meninggalkan mereka. Ditemuinya beberapa orang yang sedang bergerombol membicarakan kebakaran yang baru saja terjadi.
“Sebaiknya Mahisa Agni diberi tahu.“ berkala salah seorang dari mereka.
“Ya, tetapi siapakah yang berani melakukannya?” Mereka kemudian terdiam, beberapa laki-laki tua saling berpandangan.
“Hanya Mahisa Agni lah yang dapat memberi kita cara supaya kita tidak mati kelaparan di sini. Beberapa lumbung kita terbakar. Hampir sepertiga dari persediaan makan kita telah musnah.”
Ayah Kuda Sempana mendengarkan dengan penuh minat pembicaraan itu. Dengan dada yang berdebar-debar ia menangkap perasaan hampir setiap orang Panawijen. Mereka berkeinginan untuk memberitahukan kepada Mahisa Agni. Ketika orang-orang itu kembali terdiam, maka berkatalah ayah Kuda Sempana,
“Tak ada orang lain yang dapat menolong kita, selain Mahisa Agni.”
Beberapa orang berpaling kepadanya. Tetapi ada juga di antara mereka yang membuang mukanya. Ayah Kuda Sempana ternyata kurang disenangi di antara mereka karena sifat dan kelakuan anaknya. Hampir setiap orang Panawijen menganggap, bahwa apa yang terjadi itu adalah akibat dari pertentangan yang berlarut-larut antara Kuda Sempana dan Mahisa Agni karena nafsu Kuda Sempana yang tak terkendalikan.
“Jalan satu-satunya adalah memberitahukan kepada Mahisa Agni apa yang telah terjadi.“ gumam ayah Kuda Sempana itu.
Tak seorang pun menanggapnya. Bahkan hampir setiap orang mengumpat di dalam hati, “Kami semua tahu, tetapi siapakah yang akan pergi ke Padang Karautan?”
Karena tak seorang pun yang menyahut, maka ayah Kuda Sempana itu meneruskannya, “Kalau saja aku masih mendapat kepercayaan, maka aku akan pergi ke Padang Karautan.”
Kini sekali lagi beberapa orang berpaling kepadanya. Ternyata kata-katanya yang terakhir telah menarik banyak perhatian.
“Tetapi sayang. Aku takut. Bukan karena Padang Karautan, tetapi aku takut melihat wajah Mahisa Agni. Bahkan mungkin aku akan dicekiknya.”
Diantara beberapa orang itu terdengar salah seorang bertanya, “Kenapa kau takut kepada Mahisa Agni?”
“Aku harus menyadari, betapa besar dosa anakku terhadapnya dan terhadap kampung halaman.”
“Mahisa Agni bukan pendendam. Kalau kau berani menyeberangi Padang Karautan pergilah kepadanya.”
“Padang Karautan sama sekali tidak menakutkan bagiku. Hantu Karautan yang mengerikan itu telah dibinasakan oleh Mahisa Agni. Tetapi yang mengerikan bagiku kini justru Mahisa Agni itu sendiri.”
Mereka sejenak terdiam. Beberapa orang ternyata mulai merenungkan kata-kata ayah Kuda Sempana itu. Bahkan salah seorang daripada mereka bertanya, “Apakah benar Mahisa Agni telah membinasakan hantu Padang Karautan?”
“Itu sudah lama terjadi. Sebelum Mahisa Agni mulai membangun bendungan itu. Apakah kalian tidak mendengar ceritera dari Patalan, Jinan atau Sinung Sari?”
Orang-orang yang mendengar jawaban itu mengangguk-anggukkan kepala mereka. Tetapi untuk sejenak mereka masih saja berdiam diri. Namun demikian, timbullah beberapa masalah baru di dalam kepala mereka,
“Kalau benar kata orang itu, maka perjalanan ke Padang Karautan tidak lagi berbahaya seperti waktu-waktu yang lalu.”
“Sayang.“ desis ayah Kuda Sempana itu perlahan-lahan.
“Kenapa.“ bertanya ialah seorang dari mereka.
“Sayang, Mahisa Agni mempunyai kesan yang tidak baik terhadapku.”
“Itu hanya perasaanmu saja. Mahisa Agni bukan seorang pendendam.”
“Tetapi kesalahan anakku sudah bertimbun setinggi gunung Semeru.”
Kembali mereka terdiam. Dan kembali masalah itu bergolak di dalam dada mereka. Bahkan tiba-tiba salah seorang dari mereka berkata, “Kalau ada seseorang yang mau menemani aku, maka akupun bersedia pergi ke Padang Karautan.”
Dada ayah Kuda Sempana melonjak mendengar kesanggupan itu. Serasa sekeping emas murni yang berkilat-kilat itu telah berada di tangannya. Namun ia berusaha untuk menghapuskan setiap kesan di wajahnya. Bahkan dengan nada yang parau ia berkata,
“adalah suatu jasa yang tiada taranya bagi kita di sini, apabila ada kesediaan salah seorang dari kita untuk berangkat. Sayang, aku bukanlah orang yang dapat melakukannya.”
Akhirnya ayah Kuda Sempana itu mendengar seorang lagi berkata, “Marilah, kita pergi bersama-sama. Aku sudah terlalu tua. Seandainya aku bertemu dengan bahaya di Padang Karautan, dan darahku akan dihisapnya habis, maka aku pun tidak akan menyesal lagi. Sisa umurku pun pasti sudah tidak akan banyak lagi.”
Dada ayah Kuda Sempana menjadi semakin berdebar-debar. Kalau mereka benar-benar berangkat ke Padang Karautan, dan Mahisa Agni berhasil diseretnya ke pedukuhan ini, maka emas yang sekeping itu akan jatuh di tangannya. Emas itu akan dapat memberinya kebahagiaan bagi sisa-sisa hidupnya. Ia akan pergi kedaerah yang jauh, menjual emas itu dan menukarkannya dengan halaman, rumah dan sawah yang sudah siap untuk digarap. Tidak lagi ia akan bekerja keras bersama anak isterinya membuka tanah dan mempersiapkannya menjadi tanah persawahan.
Kegembiraan di hati orang tua itupun akhirnya meluap membakar segenap perasaannya. Hampir-hampir ia tidak dapat mengendalikan dirinya. Hanya dengan sekuat tenaganya ia mampu menahan melontarnya kegembiraan yang berlebih-lebihan itu, ketika ia mendengar keputusan dari keduanya, bahwa mereka benar-benar akan pergi ke Padang Karautan.
“Kita pergi berkuda.“ berkata salah seorang dari ke dua laki-laki tua itu.
“Baiklah“ jawab yang lain, “kita akan segera sampai. Dan berkuda adalah jalan yang paling aman.”
“Kapan kita berangkat?”
“Besok pagi-pagi. Kita menempuh perjalanan di siang hari supaya kita tidak selalu dibayangi oleh ketakutan dan kecemasan.”
Beberapa orang lain yang mendengar percakapan itu menangguk-anggukkan kepala mereka dengan lontaran ucapan terima kasih. Kehadiran Mahisa Agni akan memberikan petunjuk yang akan bermanfaat bagi mereka, untuk menghindarkan diri dari bahaya kelaparan.
Ketika matahari melemparkan sinarnya yang pertama di pagi hari berikutnya, maka sebagian besar orang-orang Panawijen berdiri berkerumun di ujung desa. Diantara mereka dua laki-laki tua berdiri memegangi kendali kuda. Sekali-sekali dilayangkannya pandangan mata mereka ke daun-daun yang kekuning-kuningan serta ditebarkannya ke atas sawah dan pategalan yang kering kerontang.
Orang-orang Panawijen itu sedang melepas dua orang yang mereka anggap sebagai orang-orang yang paling berani diantara mereka. Dua laki-laki tua itu akan menghubungkan padukuhan mereka dengan Padang Karautan karena beberapa buah lumbung mereka terbakar. Kalau bendungan itu tidak segera dapat mengangkat air keatas Padang Karautan, maka mereka akan terancam bahaya yang mengerikan. Persediaan makanan mereka akan habis, dan bencana itu pun akan menghentikan usaha pembangunan bendungan itu pula, karena orang-orang yang sedang bekerja itu tidak akan lagi mendapat persediaan makanan. Karena itu maka Mahisa Agni harus segera tahu. Ia harus segera menentukan sikap, untuk mengatasi meskipun hanya bersifat sementara.
Demikianlah maka orang-orang Panawijen itu kemudian melihat kedua laki-laki tua itu naik ke atas punggung kuda. Melambaikan tangan-tangan mereka dan kemudian melecut kuda-kuda mereka meninggalkan Panawijen seperdi dua orang pahlawan yang berangkat kemedan perang. Beberapa orang yang menyaksikan keberangkatan itu berdiri tertegun. Terasa dada mereka bergetaran.
Ketika debunya yang putih mengepul di belakang kaki-kaki kuda yang berlari meninggalkan kampung halaman mereka, maka beberapa orang perempuan menekan dada mereka sambil bergumam,
“Mudah-mudahan mereka selamat sampai ke tujuan.”
Ayah Kuda Sempana berdiri juga di antara orang-orang yang melepas kedua laki-laki tua itu. Wajahnya pun tampak suram sesuram wajah-wajah orang Panawijen yang lain. Tetapi hatinya tertawa cerah secerah matahari pagi yang bersinar di atas Padang dan pegunungan. Didalam dadanya berkumandang gemerincing emas sekeping yang kuning berkilat-kilat.
“Hem.“ katanya di dalam hati, “alangkah mudahnya memiliki emas murni sebesar itu. Kalau aku tahu, maka aku tidak akan menderita selama ini. Minum air yang harus diambilnya langsung dari sungai sejauh itu dan makan terlampau terbatas karena kecemasan bahwa suatu ketika akan kehabisan persediaan. Dengan emas itu, maka Panawijen dan bendungan itu tidak akan berarti lagi bagiku.”
Ketika ayah Kuda Sempana itu mengangkat wajahnya, maka kepulan debu yang putih itu pun sudah menjadi semakin jauh. Beberapa orang telah melangkahkan kakinya meninggalkan ujung desa kembali kerumah masing-masing. Namun di sepanjang jalan pulang, mereka masih saja memperbincangkan kedua laki-laki tua yang sedang melakukan perjalanan yang selama ini seakan-akan tabu mereka lakukan.
Sekali ayah Kuda Sempana itu menarik nafas dalam-dalam. Dibiarkannya orang-orang lain meninggalkannya seorang diri. Tetapi begitu orang yang terakhir hilang masuk ke mulut lorong, maka ayah Kuda Sempana itupun segera meloncati parit yang kering dan berjalan cepat lewat pematang-pematang yang pecah-pecah pulang ke rumahnya.
Di rumahnya, Kebo Sindet, Wong Sarimpat dan Kuda Sempana masih menunggunya. Kebo Sindet dan Wong Sarimpat selalu saja dibayangi oleh kegelisahan, ia tidak yakin bahwa usaha ayah Kuda Sempana akan berhasil. Meskipun demikian harapan untuk itu masih ada juga pada mereka. Sedang Kuda Sempana sendiri kini benar-benar menjadi acuh tak acuh saja. Ia sendiri tidak tahu, apakah ia mengharapkan usaha ayahnya berhasil atau tidak.
Karena itu ketika ayah Kuda Sempana itu muncul dari balik pintu rumahnya, maka yang perpertama-tama bertanya adalah Wong Sarimpat, “Bagaimana Kaki. Apakah usahamu berhasil?”
“Sebagian.“ jawab ayah Kuda Sempana, “kedua orang laki-laki tua itu telah berangkat.” Kebo Sindet menarik nafas dalam-dalam. Wajahnya yang beku itu tampak bergerak-gerak. Sebuah senyum yang samar-samar telah menggerakkan bibirnya.
“Mudah-mudahan Mahisa Agni bersedia datang.“ desis Kebo Sindet.
“Menilik sifat-sifatnya dan kelakuannya dimasa yang lampau ia pasti akan datang untuk melihat sendiri apa yang telah terjadi di padepokan ini.“ sahut ayah Kuda Sempana.
“Mudah-mudahan ia tidak datang dengan sepasukan prajurit dari Tumapel yang kini berada di Padang Karautan.”
“Mudah-mudahan.”
Mereka pun kemudian terdiam sejenak, tenggelam dalam angan-angan masing-masing. Kebo Sindet dan Wong Sarimpat telah membayangkan, betapa Ken Dedes terpaksa melepaskan bermacam-macam perhiasan dan benda-benda berharga untuk membebaskan kakaknya. Sementara itu ia harus berusaha memberikan kesan bahwa usaha menculik Mahisa Agni ini dilakukan oleh Empu Sada yang disangkanya telah mati.
Sementara itu kedua laki-laki tua dari Panawijen telah menjadi semakin jauh dari pedukuhannya. Kini dihadapan mereka terbentang sebuah Padang rumput yang luas yang seakan-akan tidak bertepi. Cahaya matahari yang sudah semakin tinggi seakan-akan menyala membakar Padang rumput yang kering itu.
“Alangkah panasnya.“ gumam salah seorang dari mereka.
Yang seorang untuk sejenak tidak menjawab. Matanya seakan-akan menjadi silau menatap udara yang sedang mendidih dibakar oleh terik matahari.
“Kita akan menjadi kering seperti rerumputan itu.“ berkata orang yang pertama.
“Menurut pendengaranku, sebaiknya kita menyusul aliran sungai itu. Setiap saat kita tidak akan kehabisan air. Setiap kali kita haus, kita akan dapat segera minum. Hanya menurut pendengaranku di beberapa bagian tebing sungai ini menjadi sangat curam.”
Kawannya tidak segera menjawab. Tetapi tatapan matanya membayangkan betapa jantungnya menjadi berdebar-debar. Matahari yang memanjat semakin tinggi seakan-akan langsung menghunjamkan sinarnya kekepala mereka.
“Kita berkuda.“ desis kawannya yang ternyata memiliki tekad lebih besar, “kita tidak akan sampai sehari penuh berjemur di Padang Karautan.”
Kawannya mengangguk-anggukan kepalanya. Perlahan-lahan ia menjawab, “Ya. Kita berusaha supaya kita cepat sampai.”
“Marilah.”
Keduanya pun kemudian melanjutkan perjalanan mereka menyusur sungi yang membelah Padang Karautan itu. Meskipun mereka tidak berani berpacu terlampau cepat, tetapi perjalanan itu jauh lebih cepat daripada mereka berjalan kaki. Kuda-kuda mereka itupun agaknya dapat mengerti juga, bahwa penumpang-penumpang mereka adalah orang-orang tua yang tidak begitu tangkas memegang kendali. Sehingga langkah kaki-kaki Kuda itupun seolah-olah terayun seenaknya.
Ternyata mereka mendapat banyak keuntungan dengan jalan yang mereka pilih. Ketika bumbung air mereka tuntas, maka mereka dapat mengambilnya langsung ke dalam sungai, sekaligus membiarkan kuda-kuda mereka yang kehausan minum pula. Dengan bumbung yang penuh berisi air itulah maka mereka meneruskan perjalanan mereka menuju ke tempat Mahisa Agni membangun bendungan.
Meskipun di sepanjang jalan mereka selalu dicemaskan oleh nama yang selama ini menakutkan mereka, ialah hantu Karautan, namun akhirnya merekapun menjadi semakin lama semakin dekat pula dengan lingkaran kerja Mahisa Agni dan orang-orang Panawijen yang dibantu oleh sepasukan prajurit dari Tumapel. Kedatangan kedua orang tua-tua itu telah mengejutkan Mahisa Agni dan Ki buyut Panawijen. Dipersilahkannya kedua orang itu duduk beristirahat, sementara Mahisa Agni mengakhiri kerja hari itu karena matahari telah hampir lenyap ditelan cakrawala.
Mahisa Agni dan Ki Buyut tidak sempat membersihkan dirinya lebih dahulu. Dengan hati berdebar-debar ditemuinya ke dua orang tua-tua yang baru saja datang dari Panawijen. Kedatangan mereka bagi Mahisa Agni dan Ki Buyut dan bahkan bagi seluruh orang-orang Panawijen yang sedang bekerja di Padang Karautan, merupakan suatu hal yang sangat menarik perhatian. Mereka tahu, bahwa apabila tidak terpaksa sekali, maka tidak akan ada seorang pun yang berani melintasi Padang yang menakutkan bagi mereka.
Kedua laki-laki tua itupun tidak membiarkan Mahisa Agni dan Ki Buyut Panawijen terlalu lama digelisahkan oleh teka-teki tentang kedatangan mereka. Segera mereka menceriterakan apa yang telah terjadi di padukuhan mereka. Mereka berbicara ganti berganti dan saling tambah menambahi sehingga ceritera tentang kebakaran di Panawijen itu menjadi sebuah ceritera yang menegangkan hati Mahisa Agni dan Ki Buyut Panawijen.
Dengan dada yang berdebar-debar beberapa orang lain mendengar juga ceritera tentang kebakaran itu. Sehingga tiba-tiba salah seorang berkata, “Kita tidak lagi mempunyai persediaan makan. Apakah kita masih juga mampu bekerja untuk membuat bendungan ini?”
Suasana kemudian menjadi sepi. Pertanyaan itu hinggap pula di setiap dada orang-orang Panawijen, bahkan juga Mahisa Agni dan Ki Buyut Panawijen.
“Bagaimana mungkin kebakaran itu dapat terjadi?“ bertanya Mahisa Agni.
Kedua laki-laki itu menggelengkan kepala mereka. Salah seorang dari mereka menjawab, “Tak seorang pun yang tahu sebabnya. Tetapi udara di Panawijen akhir-akhir ini terasa sangat panas.”
“Apakah demikian panasnya sehingga memungkinkan lumbung-lumbung padi dan jagung itu terbakar dengan sendirinya?”
Sekali lagi kedua laki-laki tua itu menggelengkan kepala mereka, “Kami tidak tahu. Tetapi menurut pengamatan kami, tak ada seorang pun bahkan anak-anak yang bermain-main di dekat lumbung-lumbung itu, apalagi bermain-main dengan api.”
Mahisa Agni dan Ki Buyut Panawijen menekurkan kepala mereka. Kini terbayang kembali kesulitan-kesulitan yang bakal mereka alami. Mereka baru saja mendapatkan kejutan yang mendorong orang-orang Panawijen bekerja lebih keras dengan kedatangan Prajurit-prajurit dari Tumapel. Tetapi peristiwa ini pasti akan memperlemah lagi usaha mereka menyelesaikan bendungan itu.
Tetapi ia menjadi termangu-mangu ketika Kebo Sindet yang seakan-akan mengerti perasaannya berkata, “Jangan cemas Kuda Sempana. Aku tidak akan membakar seluruh padukuhan Panawijen. Aku hanya akan membakar beberapa buah lumbung dan rumah di sekitarnya.”
“Panawijen kini sedang menderita kekeringan. Kalau lumbung-lumbung terbakar, maka mereka pasti segera akan mati kelaparan.”
“Sudah aku katakan, tidak semua lumbung akan aku bakar.”
“Yang satu atau dua lumbung itu pengaruhnya akan besar sekali bagi Panawijen.”
“Jadikanlah mereka korban dari cita-citamu. Jadikanlah mereka umpan kailmu. Kalau ikan yang akan kita pancing itu ikan yang besar, maka umpannyapun harus cukup besar pula yang akan aku jadikan umpan?”
Dada Kuda Sempana berdesir. Sendirian itu merupakan ancaman baginya. Karena itu maka iapun berdiam diri. Betapa hatinya menukik, tetapi ia berhadapan dengan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Dua iblis kakak beradik yang benar-benar berhati iblis. Dengan demikian maka Kuda Sempana tidak dapat ber buat apa-apa lagi. Ia harus menurut saja ketika mereka menarik kuda-kuda mereka ke dalam gerumbul yang telah kekuning-kuningan. Kemudian sejenak mereka menunggu hari menjadi gelap.
Ketika lamat-lamat dikejauhan terdengar bunyi burung kedasih, maka berkatalah Kebo Sindet, “Hari telah malam. Marilah kita lakukan pekerjaan kita.”
Kuda Sempana tidak dapat mengucapkan sepatah kata pun. Ia harus melakukan sesuatu yang bertentangan dengan perasaannya. Tetapi ia tidak dapat menolak. Peristiwa demi peristiwa telah menghantam perasaan Kuda Sempana yang semakin lama menjadi semakin kosong. Semakin tidak dapat dimengertinya sendiri.
Malam itu Kuda Sempana menyaksikan api yang melonjak kendara. Dengan hati yang pedih ia melihat orang-orang Panawijen saling berlari dan berteriak-teriak ngeri. Namun orang-orang itu kemudian menemukan keseimbangan. Mereka tidak lagi berlari-lari, tetapi beberapa orang laki-laki yang tinggal di padukuhan karena beberapa hal, yang pada umumnya adalah orang tua-tua telah berusaha untuk memadamkan api itu. Mereka mencoba merobohkan rumah-rumah dan pepohonan di sekitar api yang sedang menyala-nyala, sehingga mereka dapat membatasi, supaya api itu tidak menjalar semakin luas. Meskipun demikian, Panawijen telah menjadi geger. Perempuan-perempuan yang berani membantu mencoba memadamkan setidak-tidak membatasi supaya api tidak menjalar.
Dari kejauhan Kebo Sindet, Wong Sarimpat dan Kuda Sempana menyaksikan hiruk pikuk itu dengan tanggapan mereka sendiri-sendiri. Kebo Sindet melihat api itu dengan wajahnya yang membeku, sedang Wong Sarimpat tampak tertawa-tawa kecil. Sekali-sekali tangannya mengusap wajahnya yang gembung. Wajah yang basah dilapisi oleh keringat. Disamping mereka, Kuda Sempana menyaksikan api itu dengan hati yang tersayat-sayat.
“Nah, lihatlah.“ berkata Kebo Sindet, “kampung halamanmu sama sekali tidak musnah. Bukankah hanya sebagian kecil dari padukuhan itu yang terbakar. Lihatlah, mereka telah berhasil menguasai api.” Kuda Sempana tidak menjawab. “Kita akan segera melakukan tugas berikutnya. Nah, Kuda Sempana, antarkan aku ke rumah ayahmu.”
“Apakah yang akan paman lakukan?”
“Antarkan aku ke rumah ayahmu.”
“Ayah pasti tidak ada di rumah. Ayah pasti sedang bergulat dengan api itu pula.”
“Tidak apa, kita tidak tergesa-gesa. Kita dapat menunggunya sampai nanti lingsir wengi atau bahkan sampai besok pagi sekalipun.”
Kuda Sempana tidak dapat menjawab lagi. Maka mau tidak mau kedua iblis kakak beradik itu harus dibawanya pulang ke rumah orang tuanya. Betapa liciknya Kebo Sindet dan Wong Sarimpat membujuk ayah Kuda Sempana. Kebo Sindet yang berwajah beku itu sekali-sekali dapat juga tersenyum sambil berkata,
“Untuk kepentingan anakmu Kaki.”
Kuda Sempana sama sekali tidak sempat menolak. Ia diam saja seperti patung mendengarkan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat berkata berkepanjangan. Hanya sekali-sekali ia terpaksa mengiakan apabila Kebo Sindet dan Wong Sarimpat bertanya kepadanya.
“Kaki.“ berkata Kebo Sindet, “anakmu memang menghendaki aku menangkap Mahisa Agni hidup-hidup.”
Orang tua itu memandangi anaknya dengan sorot mata yang aneh. Tetapi Kebo Sindet segera berkata, “Tetapi persoalannya tidak saja menyangkul anak Kaki. Ada banyak persoalan. Kalau bapak bersedia membantu kami, maka nasib bapak tidak akan sejelek sekarang ini. Kaki tidak akan dapat menggantungkan nasib Kaki kepada Kuda Sempana yang kini sudah bukan seorang Pelayan Dalam yang terhormat lagi. Apakah bapak pernah melihat emas sebesar ini?”
Mata ayah Kuda Sempana itupun terbelalak melihat sekeping emas murni. “Apakah itu benar-benar emas.“ ia bertanya.
“Bertanyalah kepada Kuda Sempana.”
Orang tua itu menelan ludahnya. Tetapi ia tidak segera menjawab. Hatinya masih dipenuhi oleh keragu-raguan.
“Pekerjaan Kaki tidak berat. Carilah dua atau tiga orang yang bersedia pergi ke Padang Karautan untuk menyampaikan kabar ini kepada Mahisa Agni. Hanya itu.”
Ayah Kuda Sempana itu masih saja berdiam diri. Tetapi sorot matanya tidak juga lepas dari sekeping emas murni yang masih di tangan Kebo Sindet.
“Nah bagaimana?“ bertanya Kebo Sindet. Sekali lagi ayah Kuda Sempana itu menelan ludahnya. “Kau akan menerima emas ini untuk pekerjaan yang tidak berarti. Membujuk dua atau tiga orang untuk memberitahukan kebakaran ini kepada Mahisa Agni.“
Ayah Kuda Sempana itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekali-sekali dipandanginya wajah anaknya yang buram, dan kemudian kembali matanya tersangkut pada emas yang bercahaya-cahaya itu.
“Tak seorang pun yang berani pergi ke Padang Karautan.“ gumam ayah Kuda Sempana itu seakan-akan kepada diri sendiri.
“Kau dapat memberi tahukan, bahwa sekarang Padang Karautan telah tidak berbahaya lagi. Hantu Karautan telah dibinasakan oleh Mahisa Agni.”
Ayah Kuda Sempana mengangguk-anggukkan kepalanya lagi. Katanya, “Kalau ada yang berani menyeberangi padang ini, maka hal itu pasti sudah dilakukan tanpa seorang pun yang membujuknya. Tetapi mereka belum tahu, bahwa Padang Karautan kini sudah tidak menakutkan lagi seperti pada masa-masa yang lampau. Kau dapat membujuk mereka supaya mereka menjadi berani, itu saja. Atau kau sendiri yang akan pergi?”
“Seandainya aku tidak bertemu dengan hantu Padang Karautan, maka bagiku Mahisa Agni adalah seorang yang aku takuti lebih dari hantu yang manapun juga. Perbuatan Kuda Sempana selama ini telah cukup menjadi alasan baginya untuk membunuhku.”
Kuda Sempana mengangkat wajahnya, tetapi kemudian wajah itu kembali menunduk. Dengan wajah yang suram anak muda itu menarik nafas dalam-dalam.
“Terserahlah kepadamu Kaki.“ berkata Kebo Sindet, “emas ini sangat tergantung kepada perbuatanmu.” Sekali lagi ayah Kuda Sempana itu menelan ludahnya.
“Pikirkanlah.“ gumam Wong Sarimpat pula.
Kuda Sempana tidak dapat berbuat apapun. Ia tahu betapa kasarnya kedua kakak beradik itu. Kalau ia berbuat sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendaknya, maka kedua orang itu dapat berbuat sekehendaknya atas dirinya dan bahkan ayahnya itu pula.
“Pekerjaan itu bagiku bukanlah perkerjaan yang mudah.“ berkata ayah Kuda Sempana.
“Kaki hanya tinggal membujuk mereka untuk tidak takut berjalan di Padang Karautan. Bukankah Mahisa Agni dapat berbuat banyak untuk kepentingan kampung halamannya?”
“Tetapi Mahisa Agni tidak akan dapat berbuat demikian, sebab bukankah tuan hendak menangkapnya bersama anakku ini.”
Sekali lagi Kuda Sempana mengangkat wajahnya, tetapi yang menjawab adalah Kebo Sindet, “Benar, demikianlah. Mudah-mudahan anakmu mendapat kepuasan karenanya. Dengan demikian maka hidupnya tidak akan selalu diracuni oleh rasa dendam yang tidak dapat dilepaskannya. Kalau Mahisa Agni itu sudah ada ditangannya, maka anak pasti akan menemukan kembali keseimbangan jiwanya.”
Orang tua itu sekali lagi memandangi wajah anaknya yang suram. Tetapi dalam kesuraman itu tidak tampak olehnya nyala matanya yang memancarkan dendam di hatinya. Kuda Sempana sendiri tiba-tiba menjadi acuh tak acuh saja pada pembicaraan itu. Ia benar-benar telah kehilangan pengertian tentang dirinya sendiri. Ia tidak tahu apakah ia masih juga mendendamnya sampai sekarang. Dalam pada itu, ayah Kuda Sempana berpikir dengan tegangnya. Sekali-sekali matanya menjadi silau oleh kilatan emas di tangan Kebo Sindet.
“Bagaimana?“ terdengar suara Kebo Sindet berat.
Perlahan-lahan Kebo Sindet melihat ayah Kuda Sempana perlahan-lahan mengangguk sambil menjawab, “Baiklah. Akan aku coba. Sebenarnya setiap orang disini berkeinginan untuk memberitahukannya kepada Mahisa Agni apa yang telah terjadi, tetapi mereka masih saja dibayangi oleh ketakutan kecemasan tentang Padang Karautan.”
“Kalau kau dapat meyakinkan tentang Padang itu, maka segala maksud kita akan tercapai, dan kau akan memiliki emas yang sekeping ini untuk menyelamatkan sisa-sisa hari tuamu dari kemiskinan dan sengsara. Apakah kau juga mengharap bahwa kerja Mahisa Agni membuat bendungan itu akan selesai? Omong kosong. Bendungan itu tidak akan pernah selesai. Orang-orang Panawijen tidak boleh menggantungkan harapannya pada bendungan itu. Sebab besok atau lusa Mahisa Agni sudah berada di tanganku. Nah, dengan demikian kalian harus pergi mengembara mencari tempat baru untuk hidup kalian orang Panawijen.” Ayah Kuda Sempana mengangguk-anggukan kepalanya.
“Lakukanlah.“ berkata Kebo Sindet kemudian, “Aku menunggu di sini.”
Orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun demikian ia masih juga ragu-ragu. Tetapi ketika terpandang olehnya kilatan warna kekuning-kuningan yang memancar dari sekeping emas itu, ia berkata,
“Baiklah, akan aku coba mencari dua tiga orang yang paling berani.”
Ayah Kuda Sempana itupun akhirnya meninggalkan mereka. Ditemuinya beberapa orang yang sedang bergerombol membicarakan kebakaran yang baru saja terjadi.
“Sebaiknya Mahisa Agni diberi tahu.“ berkala salah seorang dari mereka.
“Ya, tetapi siapakah yang berani melakukannya?” Mereka kemudian terdiam, beberapa laki-laki tua saling berpandangan.
“Hanya Mahisa Agni lah yang dapat memberi kita cara supaya kita tidak mati kelaparan di sini. Beberapa lumbung kita terbakar. Hampir sepertiga dari persediaan makan kita telah musnah.”
Ayah Kuda Sempana mendengarkan dengan penuh minat pembicaraan itu. Dengan dada yang berdebar-debar ia menangkap perasaan hampir setiap orang Panawijen. Mereka berkeinginan untuk memberitahukan kepada Mahisa Agni. Ketika orang-orang itu kembali terdiam, maka berkatalah ayah Kuda Sempana,
“Tak ada orang lain yang dapat menolong kita, selain Mahisa Agni.”
Beberapa orang berpaling kepadanya. Tetapi ada juga di antara mereka yang membuang mukanya. Ayah Kuda Sempana ternyata kurang disenangi di antara mereka karena sifat dan kelakuan anaknya. Hampir setiap orang Panawijen menganggap, bahwa apa yang terjadi itu adalah akibat dari pertentangan yang berlarut-larut antara Kuda Sempana dan Mahisa Agni karena nafsu Kuda Sempana yang tak terkendalikan.
“Jalan satu-satunya adalah memberitahukan kepada Mahisa Agni apa yang telah terjadi.“ gumam ayah Kuda Sempana itu.
Tak seorang pun menanggapnya. Bahkan hampir setiap orang mengumpat di dalam hati, “Kami semua tahu, tetapi siapakah yang akan pergi ke Padang Karautan?”
Karena tak seorang pun yang menyahut, maka ayah Kuda Sempana itu meneruskannya, “Kalau saja aku masih mendapat kepercayaan, maka aku akan pergi ke Padang Karautan.”
Kini sekali lagi beberapa orang berpaling kepadanya. Ternyata kata-katanya yang terakhir telah menarik banyak perhatian.
“Tetapi sayang. Aku takut. Bukan karena Padang Karautan, tetapi aku takut melihat wajah Mahisa Agni. Bahkan mungkin aku akan dicekiknya.”
Diantara beberapa orang itu terdengar salah seorang bertanya, “Kenapa kau takut kepada Mahisa Agni?”
“Aku harus menyadari, betapa besar dosa anakku terhadapnya dan terhadap kampung halaman.”
“Mahisa Agni bukan pendendam. Kalau kau berani menyeberangi Padang Karautan pergilah kepadanya.”
“Padang Karautan sama sekali tidak menakutkan bagiku. Hantu Karautan yang mengerikan itu telah dibinasakan oleh Mahisa Agni. Tetapi yang mengerikan bagiku kini justru Mahisa Agni itu sendiri.”
Mereka sejenak terdiam. Beberapa orang ternyata mulai merenungkan kata-kata ayah Kuda Sempana itu. Bahkan salah seorang daripada mereka bertanya, “Apakah benar Mahisa Agni telah membinasakan hantu Padang Karautan?”
“Itu sudah lama terjadi. Sebelum Mahisa Agni mulai membangun bendungan itu. Apakah kalian tidak mendengar ceritera dari Patalan, Jinan atau Sinung Sari?”
Orang-orang yang mendengar jawaban itu mengangguk-anggukkan kepala mereka. Tetapi untuk sejenak mereka masih saja berdiam diri. Namun demikian, timbullah beberapa masalah baru di dalam kepala mereka,
“Kalau benar kata orang itu, maka perjalanan ke Padang Karautan tidak lagi berbahaya seperti waktu-waktu yang lalu.”
“Sayang.“ desis ayah Kuda Sempana itu perlahan-lahan.
“Kenapa.“ bertanya ialah seorang dari mereka.
“Sayang, Mahisa Agni mempunyai kesan yang tidak baik terhadapku.”
“Itu hanya perasaanmu saja. Mahisa Agni bukan seorang pendendam.”
“Tetapi kesalahan anakku sudah bertimbun setinggi gunung Semeru.”
Kembali mereka terdiam. Dan kembali masalah itu bergolak di dalam dada mereka. Bahkan tiba-tiba salah seorang dari mereka berkata, “Kalau ada seseorang yang mau menemani aku, maka akupun bersedia pergi ke Padang Karautan.”
Dada ayah Kuda Sempana melonjak mendengar kesanggupan itu. Serasa sekeping emas murni yang berkilat-kilat itu telah berada di tangannya. Namun ia berusaha untuk menghapuskan setiap kesan di wajahnya. Bahkan dengan nada yang parau ia berkata,
“adalah suatu jasa yang tiada taranya bagi kita di sini, apabila ada kesediaan salah seorang dari kita untuk berangkat. Sayang, aku bukanlah orang yang dapat melakukannya.”
Akhirnya ayah Kuda Sempana itu mendengar seorang lagi berkata, “Marilah, kita pergi bersama-sama. Aku sudah terlalu tua. Seandainya aku bertemu dengan bahaya di Padang Karautan, dan darahku akan dihisapnya habis, maka aku pun tidak akan menyesal lagi. Sisa umurku pun pasti sudah tidak akan banyak lagi.”
Dada ayah Kuda Sempana menjadi semakin berdebar-debar. Kalau mereka benar-benar berangkat ke Padang Karautan, dan Mahisa Agni berhasil diseretnya ke pedukuhan ini, maka emas yang sekeping itu akan jatuh di tangannya. Emas itu akan dapat memberinya kebahagiaan bagi sisa-sisa hidupnya. Ia akan pergi kedaerah yang jauh, menjual emas itu dan menukarkannya dengan halaman, rumah dan sawah yang sudah siap untuk digarap. Tidak lagi ia akan bekerja keras bersama anak isterinya membuka tanah dan mempersiapkannya menjadi tanah persawahan.
Kegembiraan di hati orang tua itupun akhirnya meluap membakar segenap perasaannya. Hampir-hampir ia tidak dapat mengendalikan dirinya. Hanya dengan sekuat tenaganya ia mampu menahan melontarnya kegembiraan yang berlebih-lebihan itu, ketika ia mendengar keputusan dari keduanya, bahwa mereka benar-benar akan pergi ke Padang Karautan.
“Kita pergi berkuda.“ berkata salah seorang dari ke dua laki-laki tua itu.
“Baiklah“ jawab yang lain, “kita akan segera sampai. Dan berkuda adalah jalan yang paling aman.”
“Kapan kita berangkat?”
“Besok pagi-pagi. Kita menempuh perjalanan di siang hari supaya kita tidak selalu dibayangi oleh ketakutan dan kecemasan.”
Beberapa orang lain yang mendengar percakapan itu menangguk-anggukkan kepala mereka dengan lontaran ucapan terima kasih. Kehadiran Mahisa Agni akan memberikan petunjuk yang akan bermanfaat bagi mereka, untuk menghindarkan diri dari bahaya kelaparan.
Ketika matahari melemparkan sinarnya yang pertama di pagi hari berikutnya, maka sebagian besar orang-orang Panawijen berdiri berkerumun di ujung desa. Diantara mereka dua laki-laki tua berdiri memegangi kendali kuda. Sekali-sekali dilayangkannya pandangan mata mereka ke daun-daun yang kekuning-kuningan serta ditebarkannya ke atas sawah dan pategalan yang kering kerontang.
Orang-orang Panawijen itu sedang melepas dua orang yang mereka anggap sebagai orang-orang yang paling berani diantara mereka. Dua laki-laki tua itu akan menghubungkan padukuhan mereka dengan Padang Karautan karena beberapa buah lumbung mereka terbakar. Kalau bendungan itu tidak segera dapat mengangkat air keatas Padang Karautan, maka mereka akan terancam bahaya yang mengerikan. Persediaan makanan mereka akan habis, dan bencana itu pun akan menghentikan usaha pembangunan bendungan itu pula, karena orang-orang yang sedang bekerja itu tidak akan lagi mendapat persediaan makanan. Karena itu maka Mahisa Agni harus segera tahu. Ia harus segera menentukan sikap, untuk mengatasi meskipun hanya bersifat sementara.
Demikianlah maka orang-orang Panawijen itu kemudian melihat kedua laki-laki tua itu naik ke atas punggung kuda. Melambaikan tangan-tangan mereka dan kemudian melecut kuda-kuda mereka meninggalkan Panawijen seperdi dua orang pahlawan yang berangkat kemedan perang. Beberapa orang yang menyaksikan keberangkatan itu berdiri tertegun. Terasa dada mereka bergetaran.
Ketika debunya yang putih mengepul di belakang kaki-kaki kuda yang berlari meninggalkan kampung halaman mereka, maka beberapa orang perempuan menekan dada mereka sambil bergumam,
“Mudah-mudahan mereka selamat sampai ke tujuan.”
Ayah Kuda Sempana berdiri juga di antara orang-orang yang melepas kedua laki-laki tua itu. Wajahnya pun tampak suram sesuram wajah-wajah orang Panawijen yang lain. Tetapi hatinya tertawa cerah secerah matahari pagi yang bersinar di atas Padang dan pegunungan. Didalam dadanya berkumandang gemerincing emas sekeping yang kuning berkilat-kilat.
“Hem.“ katanya di dalam hati, “alangkah mudahnya memiliki emas murni sebesar itu. Kalau aku tahu, maka aku tidak akan menderita selama ini. Minum air yang harus diambilnya langsung dari sungai sejauh itu dan makan terlampau terbatas karena kecemasan bahwa suatu ketika akan kehabisan persediaan. Dengan emas itu, maka Panawijen dan bendungan itu tidak akan berarti lagi bagiku.”
Ketika ayah Kuda Sempana itu mengangkat wajahnya, maka kepulan debu yang putih itu pun sudah menjadi semakin jauh. Beberapa orang telah melangkahkan kakinya meninggalkan ujung desa kembali kerumah masing-masing. Namun di sepanjang jalan pulang, mereka masih saja memperbincangkan kedua laki-laki tua yang sedang melakukan perjalanan yang selama ini seakan-akan tabu mereka lakukan.
Sekali ayah Kuda Sempana itu menarik nafas dalam-dalam. Dibiarkannya orang-orang lain meninggalkannya seorang diri. Tetapi begitu orang yang terakhir hilang masuk ke mulut lorong, maka ayah Kuda Sempana itupun segera meloncati parit yang kering dan berjalan cepat lewat pematang-pematang yang pecah-pecah pulang ke rumahnya.
Di rumahnya, Kebo Sindet, Wong Sarimpat dan Kuda Sempana masih menunggunya. Kebo Sindet dan Wong Sarimpat selalu saja dibayangi oleh kegelisahan, ia tidak yakin bahwa usaha ayah Kuda Sempana akan berhasil. Meskipun demikian harapan untuk itu masih ada juga pada mereka. Sedang Kuda Sempana sendiri kini benar-benar menjadi acuh tak acuh saja. Ia sendiri tidak tahu, apakah ia mengharapkan usaha ayahnya berhasil atau tidak.
Karena itu ketika ayah Kuda Sempana itu muncul dari balik pintu rumahnya, maka yang perpertama-tama bertanya adalah Wong Sarimpat, “Bagaimana Kaki. Apakah usahamu berhasil?”
“Sebagian.“ jawab ayah Kuda Sempana, “kedua orang laki-laki tua itu telah berangkat.” Kebo Sindet menarik nafas dalam-dalam. Wajahnya yang beku itu tampak bergerak-gerak. Sebuah senyum yang samar-samar telah menggerakkan bibirnya.
“Mudah-mudahan Mahisa Agni bersedia datang.“ desis Kebo Sindet.
“Menilik sifat-sifatnya dan kelakuannya dimasa yang lampau ia pasti akan datang untuk melihat sendiri apa yang telah terjadi di padepokan ini.“ sahut ayah Kuda Sempana.
“Mudah-mudahan ia tidak datang dengan sepasukan prajurit dari Tumapel yang kini berada di Padang Karautan.”
“Mudah-mudahan.”
Mereka pun kemudian terdiam sejenak, tenggelam dalam angan-angan masing-masing. Kebo Sindet dan Wong Sarimpat telah membayangkan, betapa Ken Dedes terpaksa melepaskan bermacam-macam perhiasan dan benda-benda berharga untuk membebaskan kakaknya. Sementara itu ia harus berusaha memberikan kesan bahwa usaha menculik Mahisa Agni ini dilakukan oleh Empu Sada yang disangkanya telah mati.
Sementara itu kedua laki-laki tua dari Panawijen telah menjadi semakin jauh dari pedukuhannya. Kini dihadapan mereka terbentang sebuah Padang rumput yang luas yang seakan-akan tidak bertepi. Cahaya matahari yang sudah semakin tinggi seakan-akan menyala membakar Padang rumput yang kering itu.
“Alangkah panasnya.“ gumam salah seorang dari mereka.
Yang seorang untuk sejenak tidak menjawab. Matanya seakan-akan menjadi silau menatap udara yang sedang mendidih dibakar oleh terik matahari.
“Kita akan menjadi kering seperti rerumputan itu.“ berkata orang yang pertama.
“Menurut pendengaranku, sebaiknya kita menyusul aliran sungai itu. Setiap saat kita tidak akan kehabisan air. Setiap kali kita haus, kita akan dapat segera minum. Hanya menurut pendengaranku di beberapa bagian tebing sungai ini menjadi sangat curam.”
Kawannya tidak segera menjawab. Tetapi tatapan matanya membayangkan betapa jantungnya menjadi berdebar-debar. Matahari yang memanjat semakin tinggi seakan-akan langsung menghunjamkan sinarnya kekepala mereka.
“Kita berkuda.“ desis kawannya yang ternyata memiliki tekad lebih besar, “kita tidak akan sampai sehari penuh berjemur di Padang Karautan.”
Kawannya mengangguk-anggukan kepalanya. Perlahan-lahan ia menjawab, “Ya. Kita berusaha supaya kita cepat sampai.”
“Marilah.”
Keduanya pun kemudian melanjutkan perjalanan mereka menyusur sungi yang membelah Padang Karautan itu. Meskipun mereka tidak berani berpacu terlampau cepat, tetapi perjalanan itu jauh lebih cepat daripada mereka berjalan kaki. Kuda-kuda mereka itupun agaknya dapat mengerti juga, bahwa penumpang-penumpang mereka adalah orang-orang tua yang tidak begitu tangkas memegang kendali. Sehingga langkah kaki-kaki Kuda itupun seolah-olah terayun seenaknya.
Ternyata mereka mendapat banyak keuntungan dengan jalan yang mereka pilih. Ketika bumbung air mereka tuntas, maka mereka dapat mengambilnya langsung ke dalam sungai, sekaligus membiarkan kuda-kuda mereka yang kehausan minum pula. Dengan bumbung yang penuh berisi air itulah maka mereka meneruskan perjalanan mereka menuju ke tempat Mahisa Agni membangun bendungan.
Meskipun di sepanjang jalan mereka selalu dicemaskan oleh nama yang selama ini menakutkan mereka, ialah hantu Karautan, namun akhirnya merekapun menjadi semakin lama semakin dekat pula dengan lingkaran kerja Mahisa Agni dan orang-orang Panawijen yang dibantu oleh sepasukan prajurit dari Tumapel. Kedatangan kedua orang tua-tua itu telah mengejutkan Mahisa Agni dan Ki buyut Panawijen. Dipersilahkannya kedua orang itu duduk beristirahat, sementara Mahisa Agni mengakhiri kerja hari itu karena matahari telah hampir lenyap ditelan cakrawala.
Mahisa Agni dan Ki Buyut tidak sempat membersihkan dirinya lebih dahulu. Dengan hati berdebar-debar ditemuinya ke dua orang tua-tua yang baru saja datang dari Panawijen. Kedatangan mereka bagi Mahisa Agni dan Ki Buyut dan bahkan bagi seluruh orang-orang Panawijen yang sedang bekerja di Padang Karautan, merupakan suatu hal yang sangat menarik perhatian. Mereka tahu, bahwa apabila tidak terpaksa sekali, maka tidak akan ada seorang pun yang berani melintasi Padang yang menakutkan bagi mereka.
Kedua laki-laki tua itupun tidak membiarkan Mahisa Agni dan Ki Buyut Panawijen terlalu lama digelisahkan oleh teka-teki tentang kedatangan mereka. Segera mereka menceriterakan apa yang telah terjadi di padukuhan mereka. Mereka berbicara ganti berganti dan saling tambah menambahi sehingga ceritera tentang kebakaran di Panawijen itu menjadi sebuah ceritera yang menegangkan hati Mahisa Agni dan Ki Buyut Panawijen.
Dengan dada yang berdebar-debar beberapa orang lain mendengar juga ceritera tentang kebakaran itu. Sehingga tiba-tiba salah seorang berkata, “Kita tidak lagi mempunyai persediaan makan. Apakah kita masih juga mampu bekerja untuk membuat bendungan ini?”
Suasana kemudian menjadi sepi. Pertanyaan itu hinggap pula di setiap dada orang-orang Panawijen, bahkan juga Mahisa Agni dan Ki Buyut Panawijen.
“Bagaimana mungkin kebakaran itu dapat terjadi?“ bertanya Mahisa Agni.
Kedua laki-laki itu menggelengkan kepala mereka. Salah seorang dari mereka menjawab, “Tak seorang pun yang tahu sebabnya. Tetapi udara di Panawijen akhir-akhir ini terasa sangat panas.”
“Apakah demikian panasnya sehingga memungkinkan lumbung-lumbung padi dan jagung itu terbakar dengan sendirinya?”
Sekali lagi kedua laki-laki tua itu menggelengkan kepala mereka, “Kami tidak tahu. Tetapi menurut pengamatan kami, tak ada seorang pun bahkan anak-anak yang bermain-main di dekat lumbung-lumbung itu, apalagi bermain-main dengan api.”
Mahisa Agni dan Ki Buyut Panawijen menekurkan kepala mereka. Kini terbayang kembali kesulitan-kesulitan yang bakal mereka alami. Mereka baru saja mendapatkan kejutan yang mendorong orang-orang Panawijen bekerja lebih keras dengan kedatangan Prajurit-prajurit dari Tumapel. Tetapi peristiwa ini pasti akan memperlemah lagi usaha mereka menyelesaikan bendungan itu.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar