MENU

Ads

Minggu, 08 Maret 2026

Pelangi di Langit Singasari 124

Mungkin untuk sementara Mahisa Agni dapat mencoba mengatasi dengan menanam apa saja di sepanjang lereng-lereng sungai dan dataran-dataran serta lembah-lembah yang basah. Tetapi tanah itu tidak seberapa luas. Sedangkan seluruh mulut yang ada di Panawijen harus disuapinya.

Tetapi tiba-tiba ketegangan itu dipecahkan oleh suara tertawa perlahan-lahan. Ketika mereka berpaling, mereka melihat Ken Arok berdiri di belakang orang-orang Panawijen yang mengerumuni kedua laki-laki tua itu. Ketika anak muda itu beradu pandang dengan Mahisa Agni, maka katanya,

“Jangan risau Agni. Besok aku akan mengirim dua orang prajurit ke Tumapel. Aku akan memberikan laporan apa yang telah kami kerjakan di sini. Dan aku akan dapat memberikan laporan tentang Panawijen itu pula. Peristiwa itu sama sekali bukan peristiwa yang penting. Bukankah aku pernah berkata, bahwa Tuanku Akuwu menyanggupkan bantuan apa saja yang kau perlukan? Coba katakan, berapakah jumlah lumbung yang terbakar itu? Sepuluh atau dua puluh barak? Berapa pikul padi dan jagung yang telah terbakar?“ Ken Arok berhenti sejenak. Dipandangnya setiap wajah yang tiba-tiba kembali bersinar, “jangan kalian cemaskan.”

Mahisa Agni menjadi berdebar-debar mendengar kata-kata Ken Arok itu. Sekali lagi kepalanya jatuh tepekur. Kebaikan bati Tunggul Ametung yang melimpah-limpah itu telah menggetarkan perasaannya. Sekilas dikenangnya puteri gurunya, Ken Dedes. Namun Mahisa Agni itu pun kemudian menggigit bibirnya.

“Terima kasih.“ terdengar ia berdesis, “terima kasih atas hadiah yang tiada taranya itu.”

Masih terdengar suara tertawa perlahan yang meluncur di antara bibir Ken Arok. Wajahnya Yang seolah-olah bersinar seperti harapan di dalam hati. Dengan penuh keyakinan ia berkata,

“Agni, Tumapel tidak akan kekurangan beras dan jagung. Bahkan seandainya seluruh Panawijen itu terbakar sekalipun. Jangan risaukan kebakaran itu. Kita selesaikan bendungan kita dan sesudah itu aku masih mempunyai satu tugas lagi, barangkali kalian sudi membantu. Membuat sebuah taman yang akan dihadiahkan oleh Tuanku Akuwu Tunggul Ametung kepada permaisurinya kelak.”

“Tentu.“ sahut Mahisa Agni dengan serta merta, “apalagi sekedar membangun sebuah taman. Apapun yang harus kami lakukan, maka kami tidak akan dapat ingkar lagi.”

Wajah Ken Arok menjadi semakin cerah karenanya. Wajah yang bagi Mahisa Agni memiliki beberapa perbedaan dari wajah-wajah yang pernah dikenalnya. Tetapi Mahisa Agni tidak dapat mengatakan, apakah sebabnya maka ia melihat perbedaan itu. Sejenak mereka saling berdiam diri. Orang-orang Panawijen kini tidak lagi kehilangan harapan untuk menjelesaikan bendungannya setelah mendengar janji Ken Arok. Tetapi meskipun demikian kebakaran di Panawijen itu menimbulkan teka-teki pula di dalam dada mereka.

Agaknya kebakaran itu bukan saja menumbuhkan teka-teki di dalam dada Mahisa Agni. Ia merasa mempunyai tanggungjawab untuk melihat, apakah sebenarnya yang telah terjadi. Selanjutnya mencegah jangan sampai terulang kembali. Meskipun ia yakin juga seperti Ken Arok, bahwa Akuwu Tunggul Ametung bersedia memberi mereka beras dan jagung berapa saja yang mereka butuhkan, tetapi untuk terlampau menggantungkan diri kepada bantuan itu bagi Mahisa Agni adalah kurang bijaksana. Orang-orang Panawijen harus mecoba sejauh mungkin mencukupi kebutuhan diri sendiri. Hanya apabila keadaan tidak memungkinkan lagi, maka bantuan Akuwu Tunggul Ametung itu akan menjadi sandaran terakhir bagi mereka.

Karena itu, maka sejenak kemudian Mahisa Agni berkata, “Ken Arok, terimakasih kami orang-orang Panawijen tiada tara bandingnya atas segala bantuan yang telah kami terima. Namun jangan berarti bahwa kami harus menyandarkan diri kami kepada bantuan-bantuan itu saja. Biarlah kami mencoba mencapai kedewasaan kami. Karena itu, aku ingin melihat apakah yang sebenarnya terjadi di Panawijen. Aku ingin berusaha agar kebakaran semacam itu tidak terulang kembali.”

“Apakah hal itu perlu sekali kau lakukan Agni?“ bertanya Ken Arok.

“Perjalanan berkuda ke Panawijen tidak terlampau jauh. Kalau besok pagi aku berangkat, maka pagi berikutnya aku sudah berada di tempai ini kembali.”

Ken Arok mengerutkan keningnya. Sebagai orang yang telah mengenal Padang Karautan melampaui siapa saja, Ken Arok membenarkan perhitungan Mahisa Agni. Tetapi terasa sesuatu mengganggu perasaannya. Sehingga tanpa sesadarnya ia berkata,

“Pekerjaan itu dapat kau lakukan besok lusa, seminggu bahkan sebulan yang akan datang. Sekarang tungguilah pekerjaan ini. Pekerjaan yang memberi harapan bukan saja kepadamu sendiri.”

Mahisa Agni termenung sejenak. Tetapi hatinya telah mendorongnya untuk berkata, “Sehari dua hari tidak akan mengganggu Ken Arok. Aku ingin sekali melihat dan berbuat sesuatu untuk mencegah kebakaran itu terulang. Bahkan mungkin aku dapat menemukan tanda-tanda lain. Mungkin seseorang telah menjadi panas hati melihat hasil kerja orang-orang Panawijen.”

Ken Arok tidak segera menyahut. Dicobanya untuk mengerti perasaannya sendiri. Aneh. Ia tidak mengerti dengan pasti bahaya yang dapat mengancam Mahisa Agni di perjalanan, tetapi seakan-akan sesuatu bakal terjadi. Ia pernah melihat Kuda Sempana berkelahi dengan Mahisa Agni di Padang ini. Ia tahu benar bahwa Kuda Sempana mempunyai seorang guru yang sakti. Empu Sada. Tetapi ia tidak tahu banyak tentang mereka itu.

Kesepian sekali lagi mencengkam suasana. Ken Arok masih juga berdiri di tempatnya sambil mengerutkan keningnya, sedang Mahisa Agni yang duduk di antara kerumunan orang-orang Panawijen bersama dua laki-laki tua yang baru saja datang, menekurkan kepalanya, seakan-akan terbayanglah di rongga matanya nyala api yang menggapai langit menelan beberapa buah lumbung dan rumah-rumah di Panawijen.

Dalam kesenyapan itu hampir semua kepala berpaling ketika mereka mendengar seseorang berkata perlahan-lahan, “Agni. Aku sependapat dengan angger Ken Arok. Padang Karautan bukanlah jalan yang lapang selapang Padang itu sendiri bagimu.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat pamannya Empu Gandring berdiri di luar lingkaran orang-orang Panawijen seperti Ken Arok. Dan terbayang di wajah orang tua itu kekhawatiran dan kecemasan. Berbeda dengan Ken Arok Empu Gandring mempunai perhitungan-perhitungan yang lebih jelas tentang setiap kemungkinan yang dapat terjadi atas kemanakannya itu.



“Kau seharusnya dapat menghubungkan peristiwa-peristiwa yang pernah kau alami Agni.“ berkata Empu Gandring itu, “Karena itu, sabarkanlah dirimu. Tunggulah sampai beberapa saat.”

Mahisa Agni tidak segera menjawab. Tetapi dipandanginya dua laki-laki tua yang baru saja datang dari Panawijen itu berganti-ganti.

Tiba-tiba salah seorang laki-laki itu berkata, “Kami mengharap sekali kehadiran Mahisa Agni. Kami ingin mendapatkan kepastian bahwa kami tidak akan mati kelaparan.”

“Aku memberikan jaminan itu.“ sahut Ken Arok.

“Tetapi orang-orang Panawijen belum mendengarnya.”

“Bukankah kau dapat mengatakan kepada mereka.”

Sejenak kedua laki-laki itu terdiam. Namun salah seorang dari mereka berkata, “Entahlah, aku tidak tahu apa sebabnya. Tetapi tiba-tiba aku merasa bahwa aku tidak berani kembali berdua dengan kawanku ini, Apalagi setelah aku mendengar bahwa Padang Karautan masih juga menyimpan banyak bahaya.”

Kini semua orang terdiam. Beberapa di antara mereka saling berpandangan. Ada juga yang menjadi gelisah. Rumah-rumah siapakah yang terbakar itu? Jangan-jangan rumah mereka telah menjadi abu. Tetapi tak seorang pun yang bertanya, sebab seandainya mereka mendapat kesempatan, maka mereka pun tidak akan berani melihat ke Panawijen.

Dalam pada itu terdengar Ken Arok bertanya, “Tetapi Kaki berdua telah berani menempuh perjalanan kemari. Ternyata Kaki tidak juga mengalami sesuatu di perjalanan. Kenapa Kaki berdua tidak berani kembali kepadukuhan Kaki?”

Kedua laki-laki itu menggelengkan kepalanya. Salah seorang dari mereka menjawab, “Aku tidak tahu sebabnya Ngger. Aku juga tidak tahu apakah yang telah mendorong aku sehingga aku berani menyeberangi Padang Karautan. Tetapi apabila kini ternyata Padang itu berbahaya, sedangkan Mahisa Agni saja masih juga harus berhati-hati, apalagi kami berdua.”

Ken Arok mengerutkan keningnya. Jalan pikiran orang tua-tua itu dapat dimengertinya. Yang menyahut kemudian adalah Empu Gandring, “Kalian telah lanjut usia. Mungkin sebaya atau bahkan lebih tua dari padaku. Karena itu maka justru kalian tidak akan terganggu di sepanjang perjalanan. Tak ada seorang pun yang akan mengganggu orang-orang tua. Aku pun berani menyeberangi Padang itu, sebab aku juga sudah tua. Apakah kalian bersedia apabila kami bertiga pergi, melintasi Padang Karautan?”

Kedua laki-laki tua dari Panawijen itu saling berpandangan sesaat. Salah seorang dari mereka kemudian menjawab, “Kalau kami berdua harus pulang ke Panawijen, maka kami mengharap bahwa kami akan mendapat kawan yang sekiranya akan dapat melindungi kami. Kalau kami pergi bersama orang-orang tua sebaya dengan kami, maka aku rasa, kehadiran seorang kawan itu tidak akan banyak memberikan ketenteraman di hati kami.”

Mahisa Agni terkejut mendengar jawaban itu. Ken Arok pun dengan serta merta bergeser setapak. Diamatinya orang tua yang bernama Empu Gandring dengan sudut matanya. Tetapi Empu Gandring sendiri hanya tersenyum. Katanya,

“setidak-tidaknya kita mempunyai seorang lagi untuk kawan bercakap-cakap. Dengan demikian kita akan dapat melupakan ketegangan di sepanjang perjalanan. Bukankah kita akan berjalan siang hari?”

“Yang kami perlukan bukan seorang kawan bercakap-cakap.“ sahut salah seorang laki-laki tua dari Panawijen itu, “tetapi seseorang yang akan menyelamatkan kami dari setiap bencana yang dapat menerkam kami di sepanjang perjalanan kami. Aku kira tak ada duanya yang dapat aku sebut namanya selain Mahisa Agni. Mahisa Agni akan dapat memberi perlindungan kepada kami di sepanjang perjalanan kami. Sedang orang-orang Panawijen akan mendapatkan ketenangan mendengar janji itu diucapkan oleh Mahisa Agni sendiri.”

Hampir bersamaan, Mahisa Agni, Ken Arok dan Ki Buyut Panawijen berpaling memandangi wajah Empu Gandring. Tetapi orang tua itu masih juga tersenyum.

“Hem.“ Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam, “orang-orang tua itu tidak tahu siapakah paman Empu Gandring. Mereka menyangka bahwa Empu Gandring adalah seorang tua seperti mereka itu sendiri.”

Tetapi permintaan orang-orang tua itu benar-benar telah membuat kepala Mahisa Agni pening, la sendiri ingin sekali melihat, apakah yang sebenarnya terjadi di Panawijen. Tetapi ia menyadari juga, bahwa setiap kali ia akan dapat ditelan bahaya. Meskipun demikian Mahisa Agni merasa, bahwa ia berkepentingan sekali datang ke Panawijen. Bahaya itu adalah baru suatu kemungkinan. Ia dapat pergi siang hari, berpacu di Padang yang kering.

“Apakah bahaya itu mengintai juga di siang hari? Betapapun kuatnya keinginan seseorang untuk mencelakai aku, tetapi aku sangka mereka tidak akan berjemur di terik panas seperti itu. Mereka pun pasti menyangka bahwa aku selalu memilih waktu di malam hari, di udara yang sejuk. Dan apakah aku sekarang ini sudah menjadi seorang pengecut?”

Perasaan itu selalu berdentangan di dalam dada Mahisa Agni. Karena itu maka tiba-tiba ia berkata, “Ki Buyut, Paman Empu Gandring dan kau Ken Arok. Aku ternyata tidak dapat memilih selain memenuhi permintaan kedua orang-orang tua ini. Meskipun demikian aku harus berhati-hati. Aku akan pergi ke Panawijen di siang hari.”

Ketiga orang itu terdiam sejenak. Tampaklah wajah-wajah itu menjadi tegang. Bahkan orang-orang Panawijen yang berkerumun itu pun menjadi tegang pula.

“Apakah itu sudah menjadi keputusanmu Agni?“ bertanya Ken Arok.

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya sambil menjawab, “Ya.”

“Keputusan yang tergesa-gesa.“ desis Empu Gandring.

Kedua orang laki-laki yang datang dari Panawijen itu berpaling kepada Empu Gandring. Mereka menjadi tidak senang mendengar kata-katanya yang seolah-olah selalu berusaha merintangi kepergian Mahisa Agni ke Panawijen. Sehingga karena itu salah seorang berkata,

“Kenapa kau mencoba mencegah kepergiannya? Bahkan kau sendiri akan mengantarkan kami?”

Mahisa Agni terperanjat mendengar kata-kata itu. Hampir-hampir ia menyahut, tetapi ternyata Empu Gandring mendahuluinya, “Maafkan aku ki sanak. Mungkin aku terlampau mencemaskan nasib anak muda itu.”

“Ia telah dapat menilai dirinya sendiri.”

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya, sahutnya, “Mungkin. Mungkin demikian. Tetapi ia masih terlampau muda. Darahnya masih terlampau cepat mendidih.”

“Itulah anak-anak muda yang berani dan bertanggung-jawab. Memang kita orang-orang tua kadang-kadang tidak dapat mengerti tentang anak-anak muda apalagi seperti Mahisa Agni. Itu adalah karena kebodohan kita masing-masing.”

Empu Gandring tidak menjawab lagi. Ia tidak dapat berbincang dengan kedua laki-laki tua dari Panawijen itu. Tetapi dengan demikian Mahisa Agni lah yang menjadi gelisah. Pamannya adalah seorang yang sukar dicari duanya. Orang tua itu telah memiliki ilmu yang dapat disejajarkan dengan orang-orang yang pilih tanding, Gurunya, Panji Bojong Santi, Empu Sada dan lain-lainnya. Untunglah bahwa Empu Gandring memiliki kesabaran yang cukup sehingga ia dapat dengan wajar menanggapi kata-kata kedua laki-laki tua dari Panawijen yang tidak mengenalnya itu.

Yang kemudian terdengar adalah salah seorang laki-laki tua itu berkata, “Angger Mahisa Agni. Aku harap kau mendengarkan suara hati orang-orang Panawijen. Mereka cukup puas apabila mereka melihat Angger datang ke Panawijen. Memberikan beberapa keterangan dan memberikan ketenteraman kepada mereka. Apalagi janji yang telah diucapkan oleh angger yang agaknya seorang pemimpin dari Tumapel. Dengan demikian maka orang-orang Panawijen tidak selalu dikejar-kejar oleh kegelisahan karena bayangan bahaya kelaparan yang akan menimpa mereka.”

Mahisa Agni tidak segera menjawab. Sejenak ditatapnya wajah pamannya yang suram. Tetapi laki-laki tua dari Panawidjen itu berkata, “Jangan hiraukan orang-orang lain. Apalagi mereka yang bukan orang Panawijen. Mereka tidak dapat merasakan betapa kecemasan telah mencengkeram seluruh padukuhan. Tanah yang kering kerontang, daun-daun yang menjadi kuning dan gugur di tanah. Kini beberapa lumbung desa kami terbakar.”

Detak jantung Mahisa Agni serasa menjadi berdentangan di dalam dadanya. Hampir-hampir ia berkata, “siapakah laki-laki tua yang memang sebenarnya bukan orang Panawijen itu. Tetapi ia adalah seorang yang dapat berbuat banyak di Padang Karautan ini.”

Sekali lagi Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat pamannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Terdengar ia berkata perlahan-lahan, “Sebenarnyalah demikian Agni. Segala sesuatu tergantung kepadamu. Dihadapanmu terbentang banyak pekerjaan dan kewajiban yang terlampau sulit.”

Dahi Mahisa Agni menjadi semakin berkerut merut. Tetapi keinginannya untuk pergi ke Panawijen sangat mendesaknya. Ia dapat membayangkan betapa orang-orang yang tinggal di Panawijen menjadi terlampau gelisah dan cemas. Perempuan dan anak-anak pasti tidak akan dapat tidur nyenyak karena hantu kelaparan yang selalu menakut-nakuti mereka.

“Paman.“ berkata Mahisa Agni kemudian, “aku terpaksa pergi ke Panawijen. Tetapi kali ini aku akan pergi di siang hari. Mudah-mudahan aku terhindar dari segala macam bahaya.”

Tanpa mereka sengaja, maka Empu Gandring dan Ken Arok saling berpandangan. Dan tanpa berjanji pula mereka berdesis, “Kau jangan pergi seorang diri.”

Mahisa Agni memandangi wajah pamannya dan Ken Arok berganti-ganti, “Aku hanya akan pergi sehari saja.”

“Sehari atau seminggu bahaya itu bagimu sama saja Agni.“ berkata pamannya.

Mahisa Agni menyadari kata-kata pamannya itu. Tetapi apakah ia harus mengecewakan orang-orang Panawijen yang sedang dicengkam oleh ketakutan itu? Mahisa Agni tidak dapat melupakan, bahwa kekeringan yang menimpa Panawijen itu adalah akibat dari sikap gurunya yang sedang kehilangan ke seimbangan. Ia tidak dapat melemparkan kesalahan itu ke pada orang lain berturutan, sehingga akhirnya kesalahan itu akan dibebankan kepada Kuda Sempana. Tidak. Ia harus turut bertanggung jawab atas akibat dari kekhilafan gurunya itu. Apalagi ketika terpandang olehya wajah-wajah laki-laki tua yang datang dari Panawijen dengan sepenuh harapan.

Karena itu maka Mahisa Agni pun kemudian berkata, “Paman, aku tidak dapat mengecewakan orang-orang Panawijen. Bukan karena aku selalu dapat mengatasi setiap kesulitan dan memberi apa saja yang mereka butuhkan tetapi mereka memerlukan kawan untuk ikut serta merasakan kecemasan dan kegelisahan. Adalah hanya karena pertolongan Yang Maha Agung lah kemudian apabila dapat kita temukan jalan keluar dari kesulitan-kesulitan itu. Kali ini, dalam hal kekurangan persediaan bahan makanan, Tuanku Akuwu Tunggul Ametung telah menjadi lantaran untuk meringankan beban kita.”

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan kemudian terloncat dari bibirnya, “Baiklah Agni. Kalau kau tidak dapat lagi merubah keputusanmu.”

Sebelum Empu Gandring menyelesaikan kalimatnya, salah seorang laki-laki tua dari Panawijen itu memotong, “Keputusan itu adalah keputusan yang paling bijaksana.”

Empu Gandring sama sekali tidak menanggapinya. Ia masih berkata kepada Mahisa Agni, “Berangkatlah besok pagi. Aku pergi bersamamu.”

Kedua laki-laki tua dari Panawijen itu mengangkat wajahnya. Sambil memandangi Empu Gandring salah seorang dari mereka bertanya, “Buat apa kau ikut dengan Mabisa Agni?”

Mahisa Agni tidak lagi dapat menahan dirinya. Terasa sesuatu mendesak di dalam dadanya. Dan tanpa sesadarnya ia membentak, “Kaki. Aku sudah memenuhi permintaanmu. Tetapi jangan terlampau banyak mempersoalkan orang lain yang sama sekali tidak kau ketahui keadaannya.”

Kedua laki-laki itu benar-benar terkejut mendengar Mahisa Agni membentak, sehingga keduanya menjadi terbungkam. Wajah merekapun menjadi pucat dan bibir mereka menjadi gemetar. Mereka tidak tahu kenapa tiba-tiba Mahisa Agni menjadi marah kepada mereka.

Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Dengan sareh ia berkata, “Biarkan mereka menyatakan pikirannya Agni.”

Dada Mahisa Agni seakan-akan menjadi sesak. Perlahan-lahan ia berdesis, “Maafkan aku Kaki. Bukan maksudku menyakiti hatimu.”

Sejenak kemudian mereka terdampar ke dalam suasana yang sepi. Kedua laki-laki tua dari Panawijen itu masih gemetar. Mereka benar-benar tidak menyadari apa yang sedang mereka lakukan. Tanpa mereka kehendaki, mereka telah ikut serta menjerumuskan Mahisa Agni ke dalam bahaya. Yang mereka angan-angankan adalah, bahwa apabila mereka berhasil membawa Mahisa Agni datang ke Panawdjen, maka mereka akan menjadi pahlawan. Mereka dapat melakukan sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh orang lain. Mereka sama sekali tidak mengerti keadaan Mahisa Agni sebenarnya, dan mereka tidak merasa, bahwa merekapun ternyata telah terjebak dalam suatu akal yang licik dari Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.

Dalam pada itu terayata bukan saja Empu Ganring yang menjadi cemas atas nasib Mahisa Agni. Ken Arokpun merasakan sesuatu yang tidak dapat dimengertinya sendiri. Karena itu maka kemudian ia berkata,

“Mahisa Agni. Aku akan menyiapkan tujuh orang yang terpilih, untuk mengawanimu pergi ke Panawijen.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Ia tidak menyangka akan mendapat tawaran itu. Tetapi sayang, bahwa hati kecilnya meronta. Ia sama sekali bukan seorang pemimpin, tetapi juga bukan seorang penakut. Karena itu, maka pangawalan tujuh orang prajurit akan membuatnya menjadi canggung. Karena itu maka jawabnya,

“Terima kasih Ken Arok. Terima kasih atas kebaikanmu itu. Tetapi maaf aku tidak dapat menerimanya. Pengawalan prajurit sama sekali bukanlah hakku, dan sama sekali tidak sepantasnya terjadi. Aku hanya seorang anak padesan yang tidak berarti.”

“Jangan terlampau merendahkan dirimu Agni.” sahut Ken Arok, “aku sama sekali tidak memandang siapakah kau. Tetapi aku merasakan suatu ketidak wajaran. Sedang kau sekarang sedang dibebani oleh tugas yang cukup berat.”

Mahisa Agni menggeleng lemah, “Terima kasih Ken Arok. Tetapi maaf, aku kira aku tidak akan dapat menerimanya.”

“Apakah kau tersinggung karenanya?” bertanya Ken Arok, “aku sama sekali tidak ingin menganggapmu seperti kanak-anak yang masih selalu memerlukan dayang dan pengasuh. Tidak. Tetapi Padang Karautan memang menyimpan seribu macam rahasia.”

“Rahasia itu sekarang telah berada di tanganmu.”

“Satu di antaranya.” jawab Ken Arok, “tetapi aku pernah melihat tiga hantu Karautan berkumpul di sini, kemudian hadir seorang sakti yang bernama Empu Sada. Setelah itu ternyata di Padang ini telah singgah pula seorang yang barnama Empu Gandring. Akhir-akhir ini di Padang ini pula berkeliaran penunggang kuda tanpa pelana, hantu dari Kemundungan yang bernama Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Sebelumnya di hutan menjelang Padang ini terdengar pula seorang berkasa kulit harimau, guru kakang Witantra, Panji Bojong Santi. Nah, Agni. Apakah tujuh orang prajurit itu masih kau anggap berlebih-lebihan.”

Mahisa Agni tidak segera menjawab. Kata-kata yang diucapkan oleh Ken Arok itu sama sekali tak dapat disangkalnya. Ia mengakui bahwa semuanya itu benar-benar membuat Padang ini semakin banyak menyimpan rahasia. Tetapi bagaimanapun juga, Mahisa Agni merasa canggung apabila ia harus mendapat pengawalan tujuh orang prajurit Tumapel.

Karena itu dengan berat hati ia berkata, “Terima kasih Ken Arok. Aku dapat menerima kemurahan Akuwu Tunggul Ametung atas bendungan yang sedang kita bangun. Aku tidak akan menolak seandainya nanti Akuwu Tunggul Ametung memberikan hadiah bahan makanan kepada kami, orang-orang Panawijen yang kelaparan. Tetapi aku tidak dapat menerima kebaikan hatimu, justru untukku sendiri. Aku tidak dapat berjalan seperti seorang Senapati yang dikawal oleh prajurit-prajuritnya.”

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Mahisa Agni bukanlah sanak dan bukan kadangnya. Tetapi ia merasa sesuatu telah memaksanya untuk mencoba melindunginya. Sejenak mereka saling berdiam diri. Dua laki-laki tua dari Panawijen itu duduk membeku. Nama-nama yang disebut oleh Ken Arok sebagian besar belum pernah mereka dengar. Tetapi suasana pembicaraan itu membayangkan kepada mereka bahwa di Padang Karautan itu memang tersimpan berbagai macam persoalan.

Tetapi kedua laki-laki itu sama sekali tidak dapat mengerti kenapa Mahisa Agni menolak ketujuh orang prajurit yang diberikan oleh Ken Arok kepadanya. Bukankah dengan demikian perjalanan mereka akan menjadi bertambah aman? Mereka sama sekali tidak merasakan kejanggalan dan keseganan itu. Bahkan mereka sama sekali tidak berpikir tentang keadaan diri sendiri dalam hubungannya dengan para prajurit itu.

Keheningan itu kemudian dipecahkan oleh suara Ken Arok, “Agni, kalau demikian, maka aku akan ikut besertamu.”

Mahisa Agni terkejut mendengar kata-kata itu, sehingga duduknya berkisar setapak. Dengan serta merta ia menjawab, “Ken Arok, jangan hiraukan aku. Lakukanlah kewajiban yang dibebankan kepadamu oleh Akuwu Tunggul Ametung. Memimpin para prajurit dan Pelayan Dalam istana untuk membantu membuat bendungan ini. Tetapi jangan mempersulit dirimu dan menghiraukan hal-hal yang kecil yang bukan kewajibanmu, tetapi justru dapat mendatangkan bencana bagimu.”

Ken Arok menggelengkan kepalanya, katanya, “Aku dapat bersikap sebagai seorang pemimpin dari para prajurit ini, tetapi aku juga dapat bersikap sebagai Ken Arok pribadi, Ken Arok yang untuk pertama kalinya bertemu dengan Mahisa Agni di Padang Karautan ini. Karena itu, maka biarlah aku melepaskan pakaian kepemimpinanku sejenak dan menyerahkan kepada orang lain. Aku, Ken Arok akan pergi bersamamu menyeberangi Padang ini. Aku ingin mengenangkan kembali segarnya udara terbuka, hijaunya daun-daun perdu dan panasnya terik matahari. Jangan menolak Agni. Sebab menolak atau tidak, aku mempunyai kebebasan untuk melakukannya. Pergi ke Panawijen atau tinggal di sini.”

Sejenak Mahisa Agni terbungkam. Sama sekali ia tidak dapat mengucapkan sepatah katapun. Karena itu maka sekali lagi suasana menjadi sepi. Kadang-kadang terdengar beberapa orang yang duduk di sekitar Mahisa Agni itu saling berbisik. Kadang-kadang mereka mengangguk-anggukkan kepala mereka, namun kadang-kadang wajah-wajah itu menjadi sangat tegang.

Mahisa Agni sendiri sejenak tidak dapat mengucapkan sepatah katapun. Ia tidak menyangka bahwa begitu besar perhatian orang-orang di sekitarnya terhadap dirinya. Terbersitlah rasa terima kasih yang menyentuh hatinya, tetapi ia pun menjadi canggung pula karenanya. Ia biasa hidup sebagai seorang anak padepokan yang bertanggung jawab. Yang biasa meletakkan kewajiban pada usaha sendiri. Tetapi kini ia harus menghadap suatu kenyataan yang lain meskipun persoalannya dapat dimengertinya.

Meskipun demikian Mahisa Agni masih mencoba menjawab, “Ken Arok, aku sekali lagi mengucapkan terima kasih kepadamu. Aku memang tidak akan dapat menolak apalagi melarang, seandainya kau dengan kehendakmu sendiri ingin menjelajahi Padang Karautan ini. Tetapi apakah dengan demikian kau tidak justru meninggalkan kewajiban yang dibebankan oleh Akuwu Tunggul Ametung kepadamu?”

“Itu adalah tanggung jawabku Agni. Seandainya aku akan dianggap mengabaikan kewajibanku sekalipun, maka akulah yang akan menerima akibatnya.”

Mahisa Agni tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Ia tabu benar, bahwa sama sekali bukan maksud Ken Arok untuk memaksa kehendaknya atasnya, tetapi apa yang dilakukannya itu terdorong oleh perasaan cemas dan gelisah.

Akhirnya Mahisa Agni berkata, “Baiklah. Kalau kau ingin juga pergi menyeberangi Padang Karautan ini. Aku tahu bahwa itu bukan semata-mata karena kau telah merindukan udara Padang yang luas ini, bukan karena kau ingin mendengar angin yang gemerisik membelai dedaunan yang mulai kering menguning. Tidak pula karena kau ingin melihat angin pusaran yang menaburkan debu dan rerumputan kering. Tetapi karena kau melihat sesuatu yang mencemaskan hatimu. Tentang aku.”

Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya perlahan-lahan, “Terserah kepadamu Agni. Apakah yang akan kau katakan tentang aku.”

Keduanya pun kemudian terdiam. Angin senja bertiup semakin lama semakin kencang. Tiba-tiba mereka melihat kilat memancar. Dada Mahisa Agni berdesir. Tanpa disadarinya ditatapnya langit di luar gubugnya. Tetapi langit itu tampak bersih. Satu dua bintang telah mulai menampakkan dirinya, berkeredipan seperti batu permata.

“Hem, apakah sudah akan sampai waktunya musim basah tiba.“ pertanyaan itu tumbuh di dalam hatinya, “Bendungan itu masih belum siap seluruhnya. Tetapi menilik mangsa, hujan baru akan datang dua bulan lagi, dan banjir yang pertama menurut kebiasaan akan datang kira-kira tiga bulan lagi.”

Mahisa Agni terkejut ketika pamannya berkata, “Apakah kita sudah menjatuhkan putusan? Besok kau pergi bersama aku dan angger Ken Arok?”

Mahisa Agni mengangguk sambil menjawab, “Demikianlah paman.”

“Baiklah.“ sahut pamannya, “sekarang aku akan beristirahat. Besok kita berangkat pagi-pagi.”

“Silahkan paman.” jawab Mahisa Agni.




OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar