MENU

Ads

Minggu, 08 Maret 2026

Pelangi di Langit Singasari 125

“Aku juga akan mempersiapkan diri.“ berkata Ken Arok, “aku akan menyerahkan pimpinan kepada seseorang dan memerintahkan dua orang untuk pergi ke Tumapel. Ke dua prajurit akan melaporkan keadaan di Padang ini dan akan menyampaikan berita kebakaran di Panawijen. Aku yakin kalau Tuanku Akuwu Tunggul Ametung akan menyangupi memberi bantuan kepada orang-orang Panawijen. Setidak-tidaknya bagi orang-orang Panawijen yang berada di Padang Karautan ini, sehingga mereka tidak perlu mengurangi persediaan makan dari lumbung-lumbung yang masih ada di Panawijen.”

“Terima kasih Ken Arok.“ desis Mahisa Agni sambil menundukkan kepalanya. Getar dadanya serasa semakin cepat mengalir. Bantuan-bantuan yang datang itu telah mengharukan perasaannya.

Akhirnya perasaan terima kasih yang tidak terhingga dipanjatkannya kepada Yang Maha Agung. Hanya karena tangan-Nya lah maka semua itu dapat terjadi. Sejenak kemudian Ken Arok telah meninggalkan Mahisa Agni yang masih duduk tepekur. Beberapa orang lainpun satu-satu beranjak pula dari tempat duduk mereka, kembali kegubug masing-masing. Mereka menjadi gelisah setelah mereka mendengar berita kebakaran di Panawijen. Tetapi mereka pun menjadi gelisah pula mendengar pembicaraan orang-orang penting di sekitar mereka. Mereka ingin Mahisa Agni melihat bekas-bekas kebakaran itu untuk memastikan sebab-sebabnya, tetapi mereka juga mengharap di dalam hatinya, agar Mahisa Agni tidak usah pergi ke Panawijen, sebab menurut pendengaran mereka, Padang Karautan benar-benar merupakan Padang yang dipenuhi oleh seribu macam rahasia.

Tetapi mereka tidak dapat mengatakan kepada Mahisa Agni, kepada Ken Arok atau kepada paman Mahisa Agni. Mereka juga tidak dapat mengatakan kepada kedua laki-laki tua yang baru datang dari kampung halaman mereka, bahwa sebaiknya Mahisa Agni tidak usah mereka ajak kembali ke Panawijen. Namun satu dua orang berpendapat bahwa sebaiknya Mahisa Agni pergi saja ke Panawijen, supaya apabila ia kembali ke Padang ini, ia dapat mengatakan apa yang telah terjadi. Sehingga dengan demikian mereka tidak selalu dihantui oleh bayangan yang mungkin sangat ber lebih-lebihan.

Ketika tempat itu menjadi semakin sepi, maka Mahisa Agni terkejut mendengar suara Ki Buyut Panawijen dekat di sampingnya, “Angger, aku juga ingin turut ke Panawijen.”

“Oh.” Mahisa Agni mengangkat wajahnya dan dengan serta merta ia berkata, “Jangan Ki Buyut. Aku sudah meninggalkan pekerjaan ini. Sebaiknya Ki Buyut lah yang kini menunggui mereka supaya mereka tidak menjadi kehilangan gairah.”

“Tetapi aku juga ingin melihat apa yang terjadi itu ngger.”

“Lain kali Ki Buyut. Biarlah Ki Buyut tetap bersama mereka yang sedang bekerja. Aku, paman Empu Gandring dan Ken Arok telah meninggalkan Padang ini. Para prajurit Tumapel itu pun diserahkannya kepada orang lain. Karena itu sebaiknya Ki Buyut tetap berada di sini.”

Ki Buyut Panawijen menatap wajah Mahisa Agni dengan pancaran kekecewaan hatinya. Tetapi ia tidak berkata sesuatu. Dicobanya untuk mengerti kata-kata Mahisa Agni itu.

“Ki Buyut.” Mahisa Agni meneruskan, “kerja yang besar ini tidak akan dapat kita tinggalkan bersama-sama. Aku telah melihat sekali-sekali kilat memancar di langit. Sebentar lagi kita akan sampai pada musim basah. Sebelum banjir yang pertama mengaliri sungai ini, maka bendungan kita harus sudah meyakinkan, bahwa ia tidak akan hanyut karenanya.” Ki Buyut mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia masih saja berdiam diri.

“Karena itu.” Mahisa Agni meneruskan, “kita harus bekerjya keras untuk menyelesaikannya. Untunglah bahwa kita mendapat bantuan para prajurit dari Tumapel itu.”

Ki Buyut Panawijen masih mengangguk-angguk kecil. Kemudian katanya perlahan-lahan, “Baiklah ngger. Biarlah aku tinggal di sini menunggui mereka yang sedang bekerja.”

“Terima kasih Ki Buyut.” sahut Mahisa Agni, “mudah-mudahan semuanya dapat kita selesaikan bersama-sama.”

Ki Buyut kemudian meninggalkan Mahisa Agni kembali kegubugnya. Udara masih juga terasa agak panas, meskipun angin telah bertiup agak kencang. Gelap malam pun semakin lama menjadi semakin pekat. Ketika Mahisa Agni menengadahkan wajahnya, dilihatnya dari celah tutup keyong gubugnya, bintang-bintang sudah berpijaran di langit yang biru hitam.

Kedua laki-laki tua yang datang dari Panawijen masih berada di dalam gubug itu. Ketika suasana menjadi semakin sepi, dan tidak ada orang lain di dalam gubugnya, maka salah seorang daripadanya bertanya,

“Agni, siapakah orang tua itu?”

“He.” Mahisa Agni mengerutkan keningnya, “bukankah itu Ki Buyut. Apakah kalian telah melupakannya?”

“Bukan. Bukan Ki Buyut. Apakah aku sudah gila sehingga aku tidak mengenalnya lagi.” sahut orang itu, “maksudku orang tua yang selalu mencoba menghalangi kau pergi ke Panawijen.”

Dahi Mahisa Agni menjadi berkerut merut. Terasa detak jantungnya menjadi semakin cepat. Tetapi ia tidak akan dapat mengatakan lain daripada keadaan sesungguhnya. Dengan demikian maka untuk selanjutnya kedua orang itu akan bersikap lebih hati-hati. Namun hal itu pasti akan mengejutkan mereka. Tetapi menurut pendapat Mahisa Agni demikianlah sebaiknya-baiknya.

Maka jawabnya, “Kaki, laki-laki tua itu adalah salah seorang dari mereka yang disebut-sebut sebagai orang aneh di Tumapel. Ia seorang pembuat keris. Kerisnya hampir tak ada duanya di dunia ini. Tetapi membuat keris baginya tidak seperti pembuat-pembuat keris yang lain. Belum pasti setahun sekali ia menghasilnya sebuah keris. Bahkan mungkin dua tahun. Tetapi apabila sebuah keris disiapkannya, maka keris itu pilih tanding.”



Kedua laki-laki itu memandangi wajah Mahisa Agni dengan tegangnya. Tetapi mereka tidak segera tahu, siapakah orang itu. Karena itu maka salah seorang dari mereka bertanya,

“Siapakah orang itu?”

“Orang itu telah pula disebut-sebut namanya oleh Ken Arok.”

“Ya, siapakah namanya?”

“Empu Gandring.”

“O.“ kedua orang itu terbungkam.

Mereka mendengar nama itu tadi disebut pula seorang anak muda pemimpin prajurit dari Tumapel dalam deretan nama-nama yang asing bagi mereka, tetapi kesan yang mereka tangkap adalah terlampau dahsyat. Justru karena itu maka mereka tidak lagi mengucapkan sepatah katapun. Dada mereka seakan-akan tersumbat oleh penyesalan.

Yang berbicara kemudian adalah Mahisa Agni, katanya, “Nah, sekarang beristirahatlah. Besok kita berangkat pagi-pagi supaya kita sampai di Panawijen sebelum sore hari.”

“Begitu cepat?”

“Tidak terlampau cepat. Perjalanan yang sedang.”

Kedua orang itu tidak menjawab lagi. Mahisa Agni telah menyediakan untuk mereka sehelai tikar pandan yang dibentangkan di atas setumpuk rumput-rumput kering. Malam pun kemudian menjadi semakin dalam. Setapak demi setapak bintang berkisar kebarat menuju kecakrawala. Angin malam yang sejuk berhembus dari Selatan. Dan embun pun kemudian setetes-setetes menitik dan hinggap di dedaunan yang menguning.

Ketika fajar menyingkap kehitaman langit di ujung Timur, maka Mahisa Agni dan Kawan-kawannya pun telah bersiap. Kedua laki-laki tua dari Panawijen, Empu Gandring dengan sebilah keris raksasa di punggungnya, Ken Arok dengan pedang di lambung dan Mahisa Agni sendiri. Seperti Ken Arok Mahisa Agnipun membawa pedang pula tergantung pada ikat pinggang kulit yang lebar.

Terasa oleh orang-orang Panawijen dan para prajurit Tumapel, bahwa orang-orang yang berangkat melintasi Padang Karautan itu benar-benar telah bersiap untuk menghadapi setiap kemungkinan. Ketika langit menjadi semakin terang, maka mereka pun segera berangkat, dilepas oleh Ki Buyut Panawijen dan orang lain yang sebentar lagi akan mulai pula bekerja menyelesaikan bendungan itu.

Sejenak kemudian maka kuda-kuda itu pun segera berpacu. Tetapi mereka tidak dapat berjalan seperti yang mereka kehendaki, karena kedua laki-laki tua dari Panawijen itu tidak berani menunggang kuda terlampau kencang. Karena itu maka perjalanan itu pun merupakan perjalanan yang terlampau lambat bagi Mahisa Agni, Empu Gandring, apalagi Ken Arok.

Meskipun demikian, namun mereka pun menjadi semakin lama semakin mendekati pedukuhan Panawijen. Pedukuhan yang semakin lama menjadi semakin kering. Namun dengan demikian, bagi Mahisa Agni semakin lama semakin didekatinya bahaya yang bersembunyi di dalam pedukuhan itu.

Kebo Sindet dan Wong Sarimpat telah menunggunya dengan sepenuh harapan tentang berbagai keuntungan yang akan mereka dapatkan dari pemerasan yang akan mereka lakukan.

Betapapun lambatnya perjalanan itu, tetapi akhirnya Panawijen telah berada di hadapan hidung mereka, setelah beberapa kali mereka berhenti melepaskan lelah dan haus, karena kedua laki-laki tua dari Panawijen itu. Mereka tidak memiliki ketahanan seperti Mahisa Agni, Empu Gandring yang meskipun sudah tua pula dan apalagi Ken Arok, seorang yang paling mengenal Padang Karautan melampaui yang lain-lain.

Sejenak kemudian mereka pun telah memasuki padukuhan itu. Mereka berlima disambut dengan penuh gairah oleh orang-orang Panawijen. Apalagi setelah mereka melihat Mahisa Agni, maka mereka pun menjadi seakan-akan anak-anak yang sudah lama tidak melihat ayahnya pergi merantau, dan kini ayah itu kembali pulang.

Belum lagi Mahisa Agni sempat beristirahat, maka beberapa orang-orang telah menemuinya dan masing-masing berceritera dalam nada yang berbeda-beda tentang kebakaran yang terjadi dipadukuhan mereka. Tentang beberapa buah lumbung dan rumah-rumah yang lain.

“Nanti aku akan melihat.” berkata Mahisa Agni, “sekarang apakah kalian tidak ingin memberi kesempatan kami untuk beristirahat sebentar.”

“Oh.“ orang-orang Panawijen itu saling berpandangan sejenak. Kemudian merekapun menjawab hampir bersamaan, “Silahkan. Silahkan anakmas beristirahat di rumah Ki Buyut.”

“Terima kasih.” sahut Mahisa Agni, “aku akan beristirahat di padepokanku.”

Mahisa Agni pun kemudian pergi kepadepokannya, padepokan yang pernah didiaminya sejak kanak-kanak.

Dalam pada itu Kebo Sindet dan Wong Sarimpat menunggu dengan berdebar-debar di rumah Kuda Sempana. Ketika ayah Kuda Sempana datang, maka dengan tergesa-gesa Wong Sarimpat bertanya,

“He, apakah kau melihat Mahisa Agni. Bukankah orang-orang ribut menyambut kedatangannya. Anak-anak itu akan menjadi terlampau congkak. Seakan-akan ia sudah menjadi seorang Akuwu di Panawijen.”

“Aku melihatnya.” sahut ayah Kuda Sempana, “anak muda itu datang berlima.”

“Berlima?” Wong Sarimpat mengerutkan alisnya, sedang wajah Kebo Sindet yang beku masih juga membeku, “siapa saja mereka?”

Ayah Kuda Sempana menggeleng, “Aku tidak tahu. Yang seorang sudah agak tua, membawa sebuah keris yang besar di punggungnya.”

“Empu Gandring.” gumam Wong Sarimpat. “Yang seorang lagi agaknya prajurit atau Pelayan Dalam seperti Kuda Sempana dahulu. Wajahnya tampan dan bermata terang.”

“Siapakah anak itu Kuda Sempana?” bertanya Wong Sarimpat.

Kuda Sempana menggeleng. Jawabnya kosong, “Aku tidak tahu.”

“Kau pasti tahu.” sahut Wong Sarimpat, “kau pernah menjadi seorang prajurit atau seorang Pelayan Dalam.”

“Tetapi aku tidak melihat siapa orang itu.”

Wong Sarimpat mengangguk-anggukkan kepalanya. Gumamnya, “Ya, kau memang tidak melihat tetapi seharusnya kau dapat mengira-ngirakan siapakah orang itu.”

“Ada beratus-ratus Pelayan Dalam dan prajurit pengawal di dalam istana. Aku tidak dapat mengenal seluruhnya.”

“Tetapi siapakah yang berwajah tampan dan bermata terang.“ tiba-tiba Wong Sarimpat membentak.

“Jangan terlampau keras berteriak.” Kebo Sindet memperingatkannya, “kita tidak berada di Kemundungan. Kita berada di dalam sebuah pedukuhan. Di Kemundungan, suaramu yang keras dan serak itu hanya akan didengar oleh dinding-dinding padas lereng bukit. Di sini suaramu akan dapat membuat bayi-bayi menjadi pingsan.”

“Oh.“ Wong Sarimpat mengusap mulutnya seakan-akan ia akan menghapus suaranya yang telah terlanjur terlontar. Tetapi kembali ia bertanya merkipun agak perlahan-lahan, “Siapa?”

“Banyak di antara mereka yang tampan dan bermata, terang.“ sahut Kuda Sempana seakan-akan acuh tak acuh, “Witantra, Sura, Kukma, Mitra…”

“Cukup.“ sekali lagi Wong Sarimpat berteriak dan sekali lagi Kebo Sindet memperingatkannya, “Wong Sarimpat. Apakah kau tidak mempunyai otak?”

Wong Sarimpat terdiam. Tetapi mulutnya masih saja kumat-kamit, dan ia mengumpat tak habis-habisnya di dalam hati.

“Mungkin kau tidak mengenal anak itu Kuda Sempana.“ berkata Kebo Sindet dengan wajah yang beku, “tetapi siapakah yang dua lagi?”

Ayah Kuda Sempana menjawab, “Yang dua adalah laki-laki tua dari Panawijen yang menjemput mereka.”

Kebo Sindet mengangguk-anggukkan kepalanya. Kepada Wong Sarimpat ia berkata, “Kita sudah pasti. Siapa pun prajurit muda itu, tetapi ia bukan orang-orang yang wajib kita perhitungkan. Kau dapat menahan Empu Gandring, dan aku akan melarikan Mahisa Agni.” Wong Sarimpat mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kemudian kau lebih baik meninggalkan Empu Gandring. Ia tidak akan dapat menyusulmu. Kudamu pasti lebih baik dari pada kudanya.” Wong Sarimpat masih mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kalau anak muda yang seorang itu mampu membuat perlawanan, maka sementara Kuda Sempana harus mengikat Mahisa Agni dalam perkelahian. Hanya sebentar. Aku akan membunuh prajurit muda yang tampan itu. Aku tidak tahu siapa ia, tetapi kalau ia mencoba menghalang-halangi aku, maka terpaksa aku akan membunuhnya.”

“Baik.“ geram Wong Sarimpat, “aku akan membunuh Empu Gandring, tidak hanya sekedar menyingkirkannya dari Mahisa Agni.”

“Kau tidak perlu membual Wong Sarimpat.“ berkata Kebo Sindet. Kemudian kepada Kuda Sempana ia berkata, “Dan kau Kuda Sempana, kau akan dapat melepaskan dendam hatimu. Sekendakmulah, apa yang akan kau lakukan atas anak muda itu kelak di Kemundungan. Sedang aku mempunyai kepentingan sendiri dengan Mahisa Agni itu. Tetapi aku tidak akan mengecewakanmu.”

Sementara itu, setelah Mahisa Agni dan kedua orang lainnya, Empu Gandring dan Ken Arok, beristirahat sejenak, minum air legen yang manis langsung dari bumbung yang di turunkan dari deresan pohon nyiur, dan sedikit makan beberapa jenis makanan, mereka pun segera pergi ketempat ke bakaran. Mereka melihat beberapa lumbung dan rumah terbakar hampir musna. Abu yang lembut masih saja berhamburan disentuh angin yang agak kencang. Di sana sini masih teronggok reruntuhan yang tersisa. Mahisa Agni, Empu Gandring dan Ken Arok melihat sisa-sisa kebakaran itu dengan saksama, sementara beberapa orang mengerumuninya dari kejauhan.

Tiba-tiba Empu Gandring yang tua itu mengerutkan keningnya. Ia melihat beberapa hal yang kurang wajar menurut penilaiannya. Karena itu maka digamitnya Ken Arok dan di panggilnya Mahisa Agni mendekat.

“Kau lihat onggokan abu di sini?“ bertanya Empu Gandring. Kedua anak muda itu menggangguk. “Dan kau lihat rumah sebelah yang belum terbakar habis?” Sekali lagi keduanya mengangguk.

“Aku akan menyebutkan suatu kemungkinan, tetapi aku tidak dapat memastikan kebenarannya. Kalau menurut dugaanku, maka lumbung ini pasti lebih dahulu terbakar dari rumah itu. Bukankah di sisi sebelah ini kebakaran agaknya lebih sempurna dari sisi yang lain.”

“Ya.“ sahut Mahisa Agni.

“Tetapi rumah itu terbakar disisi yang berlawanan dari lumbung ini. Kalau rumah itu terbakar oleh api yang menjalar dari lumbung ini, maka sebelah yang terdekat dengan lumbung inilah yang akan terbakar lebih dahulu. Tetapi bukankah yang terjadi sebaliknya? justru yang di sisi ini rumah itu masih tersisa meskipun tinggal seonggok kayu.”

Kedua anak-anak muda itu masih mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka segera dapat mengambil kesimpulan, bahwa api yang membakar rumah itu bukanlah yang menjalar dari lumbung ini. Kenyataan yang kecil itu telah cukup membuat mereka bercuriga. Apakah mungkin karena panasnya udara timbul api dari dua tempat yang berbeda? Yang hampir bersamaan telah membakar dua macam bangunan itu?

Dalam pada itu terdengar Ken Arok berdesis, “Ada tangan yang menyalakannya.”

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya, sedang mata Mahisa Agni kini menjadi menyala seperti api yang membara. Terdengar giginya gemeretak. Dengan dada yang berdentangan ia menggeram,

“Aku sependapat. Ada orang yang mencoba mengacaukan kerja kita.”

“Jangan kau tanggapi dengan hati yang gelap Agni. Adalah sudah menjadi kebiasaan, bahwa setiap kerja yang baik dan bermanfaat, apalagi kerja yang besar, pasti akan ditemuinya berbagai macam rintangan dan gangguan. Kini kau juga menjumpai rintangan dan gangguan itu.”

“Jadi apakah kita akan membiarkan saja mereka itu paman?”

“Tentu tidak Agni. Tetapi hati kita harus tetap jernih supaya kita tetap dapat melihat dengan terang. Kita harus pasti siapakah yang kita hadapi.“ Empu Gandring berhenti sejenak. Dipandanginya orang-orang yang berkerumun di kejauhan. Kemudian katanya, “Kau jangan membuat orang-orang itu menjadi semakin bingung dan cemas. Buatlah mereka tenang.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam seakan-akan ingin mengendapkan isi dadanya yang sedang bergolak.

“Berilah mereka ketenangan, supaya mereka tidak akan menambah bebanmu yang telah menjadi semakin berat itu.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan iapun dapat mengerti ketika pamannya berkata, “Kau harus berkata kepada mereka, bahwa tidak ada apa-apa yang terjadi. Kebakaran ini adalah kebakaran yang wajar karena suatu kecelakaan saja. Dan kau harus menyampaikan kepada mereka kesanggupan Angger Ken Arok. Adalah lebih baik apabila angger Ken Arok menyampaikannya sendiri.”

Mahisa Agni pun kemudian memandangi wajah-wajah yang memancarkan kecemasan dan ketidak tentuan. Namun kepala anak muda itu masih saja mengangguk-angguk.

“Baiklah“ gumamnya. Sambil berpaling kepada Ken Arok, Mahisa Agni berkata, “Apakah kau tidak berkeberatan?”

“Aku mendahului keputusan Akuwu Tunggul Ametung. Tetapi aku yakin bahwa demikianlah yang akan terjadi?”

“Jadi bagaimana?”

“Baiklah.”

Ketiganya, bersama dua laki-laki yang menjemput mereka ke Padang Karautan dan beberapa orang tua yang menunggu mereka agak jauh di samping bekas-bekas kebakaran itu pun segera menemui orang-orang Panawijen. Mahisa Agni mencoba untuk menenangkan hati mereka dengan beberapa keterangan. Dan akhirnya dipersilahkannya Ken Arok sendiri memberi penjelasan kepada orang-orang Panawijen itu. Agaknya kesanggupan Ken Arok telah dapat memberi mereka ketenteraman. Mereka tidak lagi digelisahkan oleh masa depan yang mengerikan. Bahaya kelaparan yang selalu menghantui mereka beberapa hari terakhir.

“Aku telah mengirimkan dua orang prajurit ke Tumapel.“ berkata Ken Arok, “mudah-mudahan mereka segera datang. Sebelum padi yang terakhir kalian masukkan kedalam lesung, maka pasti telah datang padi dan jagung dari Tumapel. Kalian tidak akan dibiarkan kelaparan sampai tanah yang kalian garap menghasilkan. Sampai bendungan di Padang Karautan itu dapat mengangkat air, mengairi sawah-sawah kalian yang pasti akan lebih subur dari sawah-sawah kalian di Panawijen ini.”

Alangkah lapang hati mereka. Meskipun daun-daun di padukuhan mereka menjadi semakin kuning dan berguguran, namun hati mereka menjadi tenteram. Tetapi tidak demikian dengan Mahisa Agni sendiri. Hatinya selalu diganggu oleh kemarahan dan kegelisahan, meskipun ia tidak tahu, bahwa Kebo Sindet dan Wong Sarimpat saat itu berada di pedukuhan itu pula.

Sebenarnya bukan seja Mahisa Agni Yang menjadi gelisah. Tetapi juga Empu Gandring dan Ken Arok. Dugaan mereka atas timbulnya kebakaran karena kesengajaan telah menumbuhkan berbagai persoalan di dalam dada mereka. Itulah sebabnya, maka setelah mereka kembali kepadepokan dan beristirahat di serambi samping, maka senjata-senjata mereka tidak juga terpisah daripada tubuh mereka. Empu Gandring yang melihat kekuatan-kekuatan yang seimbang dengan dirinya yang menurut dugaannya adalah Empu Sada,

Kebo Sindet dan Wong Sarimpat membiarkan kerisnya melekat di punggung, meskipun ia sedang duduk menikmati beberapa macam makanan padepokan Panawijen. Sedang Ken Arok meletakkan pedangnya di pangkuannya. Mahisa Agni sendiripun tidak juga melepas pedangnya tersangkut di lambungnya.

Beberapa orang cantrik yang masih tinggal di padepokan itu sibuk menjediakan makan dan minuman mereka. Salah seorang dari mereka bertanya kepada Mahisa Agni,

“Apakah aku dapat menyimpan senjata-senjata kalian?”

Mahisa Agni menggeleng, “Jangan.”

Cantrik itu terdiam, tetapi wajahnya menjadi kecut. Terbayanglah suatu pertanyaan di dalam wajah itu, “Kenapa senjata-senjata itu tidak juga ditempatkan.“ Namun cantrik itu tidak mengucapkannya.

Sementara itu cahaya di langit pun menjadi semakin lama semakin merah. Mega yang berarak-arak dan awan yang seolah-olah tersangkut di langit memantulkan cahaya matahari yang hampir tenggelam, dan memancarlah layung di langit. Warna yang tajam menusuk ke dalam serambi samping padepokan Panawijen. Warna itu seolah-olah menambah kegelisahan yang tersimpan di dalam dada Mahisa Agni, Empu Gandring dan Ken Arok. Warna itu seperti tajamnya ujung senjata yang berputar di langit, disoroti oleh cahaya senja.

Tiba-tiba Mahisa Agni berdiri dari tempatnya. Perlahan-lahan ia melangkah sambil berkata, “Aku akan ke sanggar sebentar paman.”

“Apa yang akan kau perbuat?”

“Tidak apa-apa. Aku hanya ingin melihat sanggar guruku yang telah lama tidak dipergunakan.”

Empu Gandring merasa heran. Padepokan ini adalah padepokan guru Mahisa Agni. Tetapi untuk melepas Mahisa Agni pergi dari sisi sebelah Timur ke sisi sebelah Barat, terasa begitu berat. Seakan-akan Empu Gandring sedang melepas seorang anak kecil bermain-main ditepi sumur.

“Aku terlampau dibayangi oleh perasaanku sendiri.“ berkata orang tua itu di dalam hatinya. Karena itu maka di cobanya untuk mempergunakan pikiran jernihnya. Anak muda itu hanya akan pergi ke sanggar. Tidak lebih dari tigapuluh langkah dari tempat itu.

“Pergilah.“ jawabnya kemudian, “tetapi hati-hatilah. Rumah ini sudah lama tidak kau kenal.”

“Baiklah paman.”

Mahisa Agnipun segera meninggalkan pamannya. Pesan itu adalah pesan yang aneh baginya, tetapi ia merasa bahwa pesan itu sudah wajar diucapkannya. Seakan-akan anak muda itu sendiri merasa bahwa ia berada di suatu medan yang berbahaya. Dengan pedang di lambung Mahisa Agni pun segera pergi ke sanggar gurunya. Perlahan-lahan dibukanya pintu sanggar itu. Terdengar suara berderit, dan seberkas sinar senja yang temaram melontar masuk.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Terasa udara agak panas mengalir dari dalam. Remang-remang dilihatnya tiang-tiang kayu nangka yang kekuning-kuningan. Perlahan-lahan Mahisa Agni melangkah naik anak tangga dan memasuki sanggar. Ketika kakinya menyentuh lantai, debu yang tipis menggelepar di bawah kakinya. Mahisa Agni pun kemudian melangkah terus masuk ke dalam sanggar. Ia tidak menutup pintunya terlampau rapat karena dengan demikian sanggar itu akan menjadi gelap sekali. Dengan sisa-sisa sinar senja ia mencoba mengamati isi sanggar gurunya itu.

“Pusaka itu masih berada di sini.“ desisnya, “tak seorang pun yang tahu tempatnya selain aku.”

Dengan ragu-ragu Mahisa Agni mencoba membuka sepotong papan lantai dan meraba-raba kedalamnya. Ketika tangannya menyentuh sebuah peti kecil, maka ia menarik nafas dalam-dalam.

“Peti ini masih di sini.“ desisnya.

Mahisa Agni itu pun segera duduk menghadap pintu sanggar yang masih sedikit menganga. Sambil melihat keluar, kalau-kalau ada orang yang melihatnya, ia membuka peti kecil itu. Hati-hati ia meraba ke dalamnya, dan kini tangannya menyentuh sebuah benda yang dingin.

“Inilah pusaka itu.“ katanya di dalam hati.

Dengan dada yang berdebar-debar diangkatnya benda kecil dari dalam peti itu. Mata Mahisa Agni menjadi bersinar-sinar ketika ia melihat sebuah pusaka kecil berkilat-kilat di tangannya. Trisula.

Seperti didorong oleh tenaga yang aneh, cepat-cepat ia memasukkan trisulanya kembali. Segera menutup peti itu, dan menempatkan kembali sepotong papan lantai itu pada tempatnya, dan mengembalikan semuanya seperti sediakala. Tak ada bekas apapun yang ditinggalkannya. Tak seorang pun tahu, bahwa ada sepotong kayu lantai yang dapat diangkat, dan di dalamnya tersimpan pusaka itu.

Sejenak Mahisa Agni duduk tepekur. Di luar senja menjadi semakin beringsut menjelang malam. Langit yang kemerah-merahan menjadi semakin kelam. Dan sanggar itu pun manjadi semakin gelap.

Empu Gandring dan Ken Arok masih duduk di serambi samping. Mereka hampir tidak bercakap-cakap sama sekali. Kepala mereka tampak tepekur. Ketika seseorang memasang sebuah lampu dinding di samping mereka, mereka hanya menganggukkan kepala sambil bergumam,

“Terima kasih.“ Namun sesudah itu mereka terdiam kembali.

Yang kemudian bertanya adalah Ken Arok, “Paman, kenapa Mahisa Agni terlampau lama berada di dalam sanggar itu?”

Empu Gandring tidak segera menjawab. Meskipun sebenarnya hatinya sendiri selalu diliputi oleh kegelisahan. Dipandanginya warna-warna yang kelam di halaman. Tetapi agaknya tak satupun yang dilihatnya.

Agaknya Ken Arok tidak dapat menahan kegelisabannya, sehingga iapun kemudian berdiri. Perlahan-lahan ia berdesis, “Aku ingin melihat kesanggar sebentar paman. Apakah Agni sedang bersemadi?”

“Aku kira tidak Ngger. Tetapi baiklah kalau kau ingin melihatnya. Tetapi kau pun harus ber-hati-hati pula.”

“Baik paman.”

Ken Arok pun kemudian melangkah meninggalkan serambi samping pergi ke sanggar di sisi yang lain dari halaman rumah itu. Dengan hati-hati Ken Arok melihat setiap gerak dan mendengarkan setiap bunyi di halaman. Di sana-sini beberapa orang cantrik telah menyalakan pelita-pelita di sudut-sudut rumah. Ken Arok berhenti beberapa langkah dari sanggar. Ia tidak ingin mengganggu Mahisa Agni. Dari tempatnya berdiri, Ken Arok melihat remang-remang pintu sanggar itu tidak tertutup rapat.

Tetapi malam pun menjadi semakin malam. Dan Mahisa Agni masih juga belum keluar dari sanggar. Meskipun demikian Ken Arok masih juga belum beranjak dari tempatnya. Tiba-tiba dadanya berdesir ketika ia melihat sesosok bayangan mendekati sanggar itu. Bayangan yang hanya dilihatnya lamat-lamat itu berhenti sejenak di muka pintu. Tetapi bayangan itu kemudian tidak segera pergi.

“Siapakah ia?” desis Ken Arok di dalam hatinya, “Agaknya ia menunggu Mahisa Agni keluar.”

Tetapi Ken Arok tidak begitu mencemaskannya. Agaknya bayangan itu tidak sengaja menyembunyikan diri. Ia berdiri saja di samping pintu sanggar.

“Mungkin seorang cantrik.“ berkata Ken Arok di dalam hatinya.

Sejenak kemudian ia melihat pintu sanggar itu bergerak. Bayangan yang menunggu di samping pintu itu surut selangkah. Sementara itu, mata Ken Arok yang tajam melihat Mahisa Agni tersembul ke luar dari dalamnya. Tiba-tiba Mahisa Agni itu terloncat kesamping anak tangga sanggarnya. Agaknya ia terkejut ketika ia melihat seseorang menunggunya dimuka pintu sanggar. Tetapi orang yang menunggunya itu pun terkejut pula, sehingga iapun terloncat mundur.

“Siapa?“ terdengar Mahisa Agni bertanya.

“Aku Agni.”

“O.” Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam, “kau membuat aku terkejut cantrik. Apa kerjamu di sini?”

“Aku ingin bertanya kepadamu Agni, apakah kau memerlukan lampu. Tetapi aku tidak berani mengganggumu, masuk ke dalam sanggar.”

Sekali lagi Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam, dan beberapa langkah daripadanya, di dalam kegelapan, Ken Arok pun menarik nafas dalam-dalam pula. “Benar dugaanku.“ katanya di dalam hati, “ia seorang cantrik.”

koleksi : Ki Ismoyo
scanning : Ki Ismoyo
Retype : Ki Sukasrana
Proofing : Ki Wijil
Cek ulang : Ki Arema






OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar