MENU

Ads

Rabu, 11 Maret 2026

Pelangi di Langit Singasari 126

PdLS-26
KEN AROK itu pun kemudian mendengar Mahisa Agni menjawab, “Tidak cantrik. Aku sudah lama tinggal di dalam sanggar”.

“Oh, baiklah” sahut cantrik itu.

“Kini aku akan kembali ke serambi samping”.

“Marilah”.

Keduanya pun kemudian berjalan meninggalkan sanggar itu beriringan setelah Mahisa Agni menutup pintu rapat-rapat. Mahisa Agni berjalan di depan dan cantrik itu berjalan di belakang. Dalam keremangan sinar pelita di kejauhan Ken Arok melihat keduanya semakin lama semakin jauh dari padanya.

Tetapi darah Ken Arok itupun kemudian seakan-akan berhenti mengalir. Kali ini ia melihat sesosok bayangan yang mengendap-endap di belakang Mahisa Agni dan cantrik yang mengikutinya. Bayangan itu meloncat dari sisi sanggar ke tempat terlindung yang lain di belakang cantrik yang berjalan di belakang Mahisa Agni. Sebelum Ken Arok sempat berbuat sesuatu, ia melihat bayangan itu menyambar cantrik yang berjalan di belakang Mahisa Agni tanpa menimbulkan suara apapun.

Ken Arok adalah seorang yang memiliki tanggapan yang cepat menghadapi persoalan yang demikian. Ia adalah seorang pelayan dalam istana Tumapel dan sebelum itu ia adalah seorang hantu yang menakutkan. Karena itu segera ia tahu, bahwa sekejap lagi, maka Mahisa Agni lah yang akan mendapat sergapan dari bayangan itu.

Karena itu dengan serta merta ia berteriak, “Agni. Awas di belakangmu. Aku kira ia bukan seorang cantrik”.

Dengan gerak naluriah, segera Mahisa Agni yang mendengar teriakan Ken Arok meloncat ke samping. Dengan serta pula tangannya menarik hulu pedangnya dan terjulur lurus, tepat ke arah bayangan yang hendak menerkamnya. Dalam pada itu tubuh cantrik yang berjalan di belakang Mahisa Agni telah terbaring di tanah. Terdengar ia merintih, tetapi suara itu pun segera berhenti.

Dada Mahisa Agni yang memang telah di liputi oleh kemarahan dan kegelisahan itu rasa-rasanya meledak melihat kehadiran orang yang sama sekali tak dikehendakinya. Apalagi ketika ia melihat cantrik yang sama sekali tidak tahu menahu tentang segala macam persoalan itu terbaring diam di tanah. Meskipun Mahisa Agni masih mendengar deru nafasnya, namun serangan yang licik itu telah membakar segenap urat darahnya.

Dengan suara bergetar terdengar Mahisa Agni bertanya, “Siapakah kau?”

Orang yang berdiri di hadapannya itu tidak segera menjawab. Dalam keremangan tampaklah wajahnya membeku seperti wajah sesosok mayat. Selangkah orang itu maju, dan selangkah Mahisa Agni surut.

“Siapa kau?”

Orang itu masih juga berdiam diri. Wajahnya masih juga membeku mengerikan. Ken Arok yang melihat kehadiran orang itu tidak dapat tinggal diam. Namun, ketika ia akan melangkahkan kakinya terdengar desis di belakangnya,

“Kau akan kemana anak muda?”

Pertanyaan itu pun telah benar-benar mengejutkan hati Ken Arok. Cepat ia meloncat dan memutar tubuhnya. Kini ia berdiri berhadapan dengan seorang yang bertubuh kekar meskipun tidak cukup tinggi. Wajahnya yang kasar memancarkan sinar kebencian. Tetapi orang itu tertawa. Katanya pula,

”jangan terkejut, apakah kau belum pernah mengenal aku?”

Ken Arok tidak segera menjawab. Dipandanginya wajah itu dengan tajamnya. Ternyata sinar mata Ken Arok tidak dapat ditundukkan oleh orang itu, sehingga orang itu berhenti tertawa. Terdengar suaranya parau,

“He, anak muda. Sebut namamu”.



Ken Arok masih tetap tidak menyahut. Kakinya yang merenggang seolah-olah dalam-dalam menghunjam kepusat bumi. Tangannya tanpa sesadarnya telah berada dihulu pedangnya.

“Kau tidak mau menjawab“ bentak orang yang berdiri di hadapan Ken Arok itu, ”Baik. Kalau kau tidak mau menjawab, akulah yang akan menyebutkan namaku. Wong Sarimpat”.

“Hem“ Ken Arok menggeram.

Segera ia menyangka bahwa yang berdiri di hadapan Mahisa Agni adalah Kebo Sindet. Karena itu maka hatinya menjadi semakin berdebar-debar. Kecemasan dan kegelisahan yang dirasakannya sejak mereka berangkat dari padang Karautan kini ternyata terjadi. Dalam pada itu Kebo Sindet dan Wong Sarimpat tidak segera berbuat sesuatu. Mereka masih saja berdiri di tempatnya. Agaknya mereka masih menunggu.

“Mereka menunggu Empu Sada“ pikir Ken Arok. “Hem, apakah Mahisa Agni harus mengalami bencana itu.”

Tiba-tiba Ken Arok terkejut ketika Wong Sarimpat sekali lagi membentaknya keras-keras, “Ayo, sebut namamu “.

Ken Arok yang berdiri seperti batu karang itu masih berdiam diri. Ia tidak beranjak dari tempatnya ketika Wong Sarimpat maju selangkah mendekatinya. Tetapi langkah Wong Sarimpat tiba-tiba terhenti ia mendengar seseorang menegurnya

“Wong Sarimpat, tunggu. Jangan hanya berani mengganggu anak-anak”.

Kini Wong Sarimpat lah yang memutar tubuhnya menghadap suara itu. Dari dalam kegelapan ia melihat sesosok tubuh berjalan dengan tenang mendekatinya. Empu Gandring.

“Hem, kau pande keris itu pula”. desis Wong Sarimpat.

“Ya”.

Tiba-tiba mereka mendengar Kebo Sindet berkata, “Nah. Sekarang sudah lengkap. Kami sengaja menunggu Empu Gandring, supaya kami tidak kau sangka hanya berani mengganggu anak-anak”.

“Jadi bagaimana?“ sahut Empu Gandring.

Dilihatnya beberapa langkah dari padanya, Kebo Sindet berdiri berhadapan dengan Mahisa Agni yang seolah-olah membeku dengan pedang terjulur. Empu Gandring segera dapat menduga, apa yang kira-kira akan terjadi atas kemanakannya. Sekali dipandanginya Pelayan dalam yang bernama Ken Arok itu. Apakah berdua dengan Mahisa Agni mereka mampu setidak-tidaknya menyelamatkan diri mereka?

Tetapi, ia tidak dapat berbuat lain dari menghadapi kenyataan itu. Meskipun Empu Gandring tampaknya masih tenang-tenang saja, namun gejolak di dalam dadanya terasa menyentuh-nyentuh dinding jantungnya. Bahaya yang kini dihadapinya, bukan sekedar bermain-main seperti pada saat ia menghadapi seorang Wong Sarimpat dan seorang Empu Sada. Ia masih sempat mengganggu kedua orang itu sebelum mereka harus bertempur. Kini, yang dihadapi adalah dua orang sekaligus. Wong Sarimpat dan Kebo Sindet, bahkan mungkin Empu Sada yang segera akan menyusul.

“Empu Gandring“ terdengar suara Kebo Sindet dalam nada yang datar, “aku sebenarnya tidak ingin mengganggumu. Aku hanya akan mengambil Mahisa Agni. Kali ini, kau jangan menghalangi aku lagi. Sebab, pasti tidak akan ada gunanya. Dengarlah, jangan menjawab dahulu. Kalau kau melawan, dan kita berkelahi, maka sementara kau melawan Wong Sarimpat, maka aku telah sempat membunuh anak muda dari istana Tumapel itu. Kemudian membuat Mahisa Agni lumpuh. Sesudah itu kami berdua, aku dan Wong Sarimpat akan membunuhmu bersama-sama. Nah bagaimana pertimbanganmu Empu Gandring?”.

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia menjawab masih dalam ketenangan “Rencana itu kedengarannya baik sekali. Beberapa hari kau perlukan waktu untuk menyusun rencana itu? Aku kira kau telah mengaturnya jauh sebelum hari ini. Sejak lumbung itu terbakar. Kemudian kau membuat orang-orang Panawijen gelisah dan menjemput Mahisa Agni ke Padang Karautan. Akhirnya rencana itu sampai pada puncaknya seperti yang kau katakan itu”.

“Tepat“ jawab Kebo Sindet singkat.

“Dan kau merasa bahwa kau mampu melakukannya?”

“Bagaimana penilaianmu Empu?”

Yang menyahut kemudian adalah Ken Arok. Suaranya bergetar seperti guruh yang menggetarkan udara, “Hem. Ternyata kalian berhasil menyelesaikan sebagian dari rencana itu, tetapi bagaimana selanjutnya?”

Kebo Sindet tidak segera menjawab. Terasa di dadanya pengaruh suara Ken Arok yang agak aneh. Anak muda itu ternyata memiliki beberapa kelainan dengan anak-anak muda sebayanya. Dengan Mahisa Agni misalnya, atau Kuda-Sempana.

Tetapi sebelum Kebo Sindet menyahut, terdengar suara tertawa Wong Sarimpat, “O, kau juga berani mengucapkan kata-kata itu? Kau benar-benar anak yang luar biasa”. Ken Arok tidak menyahut. Ditatapnya wajah Wong Sarimpat yang kasar dan liar itu.

Yang berkata kemudian adalah Kebo Sindet. Suaranya bergulung-gulung seolah-olah melingkar-lingkar saja di dalam perutnya, “Jangan mengungkiri kenyataan. Kalian akan mati hari ini. Kau anak muda, kaupun akan mati pula apabila kau berpihak kepada Mahisa Agni”.

Belum lagi mulut Kebo Sindet terkatup rapat, orang itu menjadi terkejut. Ternyata Ken Arok tidak mau terlampau banyak berbicara. Seperti tatit ia meloncat menyerang, bukan Wong Sarimpat tetapi justru Kebo Sindet yang berdiri agak jauh dari padanya. Dalam waktu yang pendek itu, Ken Arok berusaha membuat pertimbangan. Baginya lebih baik melepaskan Wong Sarimpat yang sudah berdiri berhadapan dengan Empu Gandring. Ia percaya bahwa Empu Gandring akan mampu menyelesaikannya, setidaknya untuk mengikat demit dari Kemundungan itu. Sedang di pihak lain Mahisa Agni benar-benar berada dalam bahaya. Meskipun dirinya sendiri tidak yakin bahwa ia dapat bertahan melawan Kebo Sindet, namun ia mengharap bahwa berdua dengan Mahisa Agni, ia dapat menggabungkan kekuatan.

Kebo Sindet sendiri terkejut bukan buatan menerima serangan itu. Ia tidak menyangka sama sekali bahwa anak muda itu mampu membuat gerakan demikian cepatnya. Jauh lebih cepat dari apa yang dapat di lakukan oleh Kuda-Sempana. Tetapi, Kebo Sindet adalah setan tua yang memiliki pengalaman sedalam lautan. Dengan cekatan pula ia meloncat menghindari serangan Ken Arok. Bahkan dengan menjejakkan kakinya, ia melingkar dan alangkah anehnya gerak Kebo Sindet itu. Sebelum Ken Arok mampu berdiri tegak di atas tanah, maka serangan lawannya itu telah melandanya seperti angin taufan.

Alangkah dahsyatnya serangan itu. Empu Gandring masih sempat melihat apa yang terjadi. Seperti Kebo Sindet, ia heran melihat kemampuan Ken Arok. Tetapi keheranan dan kekagumannya itu dibarengi oleh perasaan cemas yang menghentak dadanya. Ia tahu akibat dari perbuatan anak muda itu. Kebo Sindet pasti akan marah dan setan tua yang berwajah beku itu akan segera memberikan serangan balasan. Tidak tanggung-tanggung. Serangan itu pasti serangan mematikan.

Dan kini ia melihat Kebo Sindet benar-benar berbuat demikian. Ia melihat tangan Kebo Sindet terayun dengan kecepatan yang luar biasa. Sudah pasti di luar kemampuan Ken Arok untuk menghindarinya. Orang tua itu hanya dapat menahan nafasnya. Jarak antara keduanya tidak terlampau dekat, sedang di sampingnya berdiri Wong Sarimpat yang pasti akan mampu menghalanginya apabila ia ingin berbuat sesuatu. Serasa dada Empu Gandring itulah yang tersentuh tangan Kebo Sindet. Dengan wajah yang tegang ia melihat apa yang akan terjadi atas anak muda dari istana Tumapel itu. Apa lagi ketika ia mendengar ledakan tertawa Wong Sarimpat yang gila.

Tetapi, tiba-tiba suara tertawa Wong Sarimpat terputus. Selangkah ia maju dengan mata yang menyala. Bahkan tanpa sesadarnya Empu Gandring pun meloncat maju mendekati Ken Arok yang terbanting di atas tanah kerena sentuhan tangan Kebo Sindet. Kedua orang tua yang telah masak itu hampir-hampir tidak percaya melihat apa yang terjadi. Bahkan Kebo Sindet sendiri seolah-olah terpaku di tempatnya. Adalah tidak mungkin sama sekali bahwa ia melihat anak muda yang bernama Ken Arok, yang terbanting dengan kerasnya karena dorongan tangan Kebo Sindet yang sedang marah, setelah terguling beberapa kali, segera berusaha bangun kembali.

Meskipun mula-mula Ken Arok kehilangan keseimbangannya dan terhuyung-huyung hampir terjatuh lagi, tetapi akhirnya ia mampu tegak berdiri dengan garangnya seperti batu karang di tengah-tengah lautan. Dengan tangannya ia mengusap dadanya yang terasa panas bukan buatan seperti terbakar karena sentuhan tangan Kebo Sindet yang sedang marah. Namun, lambat laun ia berhasil menguasai rasa sakit itu.

Ketika Ken Arok itu telah berhasil berdiri tegak kembali, maka tanpa sesadarnya terdengar Kebo Sindet berdesis, “Setan manakah yang manjing ke dalam tubuhmu itu anak muda. Kau berhasil menyelamatkan dirimu meskipun aku dapat menyentuh tubuhmu. Kalau kau tidak bernyawa rangkap, maka hal itu tidak akan mungkin terjadi pada seorang manusia biasa. Bahkan Empu Gandring pun pasti tidak akan mampu bertahan apabila tanganku berhasil mengenai dadanya.”

Ken Arok yang masih berdiri tegak itu menggeram. Kini, kemarahannya pun memuncak sampai ke ubun-ubun. Tubuhnya yang dibakar oleh kemarahan itu menggigil seperti orang kedinginan. Perlahan-lahan mulutnya bergerak dan terdengarlah ia berkata. Mahisa Agni yang seakan-akan membeku di tempatnya melihat peristiwa itu menjadi terkejut. Yang didengarnya itu adalah suara yang pernah didengarnya di Padang Karautan. Suara hantu yang menakutkan.

“Kebo Sindet,“ suara itu terdengar parau dan dalam. Lontaran getarannya menghantam dada mereka yang mendengarnya, “jangan menyombongkan diri dengan kekuatan aji-ajimu. Meskipun aku tidak memiliki ilmu macam apapun, tetapi kejahatan yang kau lakukan pasti akan mencelakakanmu. Kalau tidak saat ini, pasti akan datang suatu ketika kau hancur menjadi debu”.

“Ancaman seseorang yang telah berputus asa“ jawab Kebo Sindet dalam nada datar. Kata-kata ita seakan-akan bergulung-gulung saja di dalam perutnya, “adalah hanya kebetulan saja bahwa kau terlepas dari bahaya maut. Tetapi kalau aku mengulangnya sekali lagi, maka kau tidak akan lagi dapat menyebut nama ayah bundamu.”

Ken Arok tidak menjawab. Dengan tangan gemetar dijulurkannya pedangnya sambil berkata, “Aku sudah siap”.

Agaknya kemarahan Kebo Sindet sudah tidak tertahankan lagi. Hampir tak tertangkap oleh pandangan mata biasa ia melenting, meloncat ke arah Ken Arok. Demikian cepatnya sehinga kali ini pun Ken Arrok tidak sempat berbuat banyak. Ia hanya mampu menggerakkan ujung pedangnya mengarah kepada lawannya. Tetapi, sekali lagi gerakan Kebo Sindet tak dapat diikutinya. Sekali lagi Kebo Sindet melenting, dan kali ini Ken Arok benar-benar tidak mampu mengikuti kecepatan gerak itu.

Empu Gandring berdesis perlahan. Terasa bulu-bulunya meremang membayangkan kemungkinan yang dapat terjadi atas Ken Arok. Kini ia ingin mencoba mempengaruhi gerak Kebo Sindet, tetapi dengan tiba-tiba Wong Sarimpat menghalanginya dengan sebuah sambaran kaki pada lambung Empu Gandring. Terpaksa Empu Gandring menghindari serangan itu, dan terpaksa ia tidak dapat berbuat sesuatu atas Kebo Sindet. Yang dilihatnya adalah sekali lagi Ken Arok terpelanting jatuh sesudah pedangnya terloncat dari tangannya.

Mahisa Agni masih saja berdiri membeku. Kesadarannya seolah-olah terhisap habis-habis oleh peristiwa itu. Ia hanya mampu menggerakkan biji-biji matanya, mengikuti bayangan Ken Arok terbanting jatuh.

Tetapi, sekali lagi mereka menjadi heran dan kagum bercampur-baur. Mereka melihat Ken Arok itu berguling beberapa kali. Lalu dengan tertatih-tatih ia berdiri di atas kedua lututnya. Bahkan kemudian anak muda itu telah tegak kembali. Tegak seperti tonggak baja yang kokoh kuat.

Orang-orang tua yang melihat peristiwa itu hampir tidak dapat mempercayai penglihatannya. Mereka melihat tata gerak Ken Arok tidak terlampau jauh terpaut dari Mahisa Agni dan anak-anak muda yang memiliki kelebihan yang lain. Tetapi bahwa Ken Arok tidak lumat karena tangan Kebo Sindet adalah benar-benar di luar dugaan.

Kebo Sindet sendiri yang telah dua kali mengenainya, sejenak terpaku seperti patung. Bahkan tanpa sesadarnya ia berdesis, “Luar biasa. Anak itu benar-benar anak setan”.

Yang terdengar kemudian adalah gemeretak gigi Ken Arok. Suaranya menjadi semakin parau dan dalam, sedang nyala matanya menjadi semakin membara. Seperti mengambang di udara terdengar suaranya,

“Marilah Agni, marilah kita hadapi jahanam ini. Ternyata hidup dan mati sama sekali tidak berada di dalam kekuasaan tangannya yang telah bernoda itu”.

Mahisa Agni benar-benar seperti terbangun dari mimpi. Dua kali ia melihat Ken Arok terpelanting. Dua kali ia melihat anak itu bangkit. Dan ia sendiri belum berbuat apa-apa. Karena itu, maka dengan dada yang bergelora ia menyahut,

“Aku sudah siap Ken Arok.” Kalau saja kulitnya tidak kebal oleh senjatanya.

Belum lagi Kebo Sindet sempat menyahut, maka Ken Arok itu pun telah meloncat menyerang. Kini sikapnya menjadi semakin garang. Ia sama sekali tidak memungut pedangnya yang terjatuh, tetapi di tangannya tergenggam sebilah pisau belati yang kasar.

“Pisau itu“ desis Mahisa Agni di dalam hatinya yang berdesir “pisau itu adalah pisau hantu Karautan”.

Kebo Sindet yang memiliki berbagai macam ilmu itu tidak lengah sama sekali dengan cekatan ia menghindarinya. Namun kali ini serangan Ken Arok benar-benar seperti angin ribut. Geraknya semakin lama menjadi semakin bertambah kasar. Meskipun Mahisa Agni tidak lagi melihat gerakan yang mengerikan seperti ketika ia berkelahi melawan anak itu di Padang Karautan, tetapi kini ia melihat gerak-gerak yang serupa, bahkan bersumber pada gerakan-gerakan yang aneh itu, namun dalam tingkatan yang lebih dahsyat.

Meskipun Kebo Sindet adalah seorang yang telah menyimpan perbendaharaan pengalaman hampir tak terhitung jumlahnya, tetapi ia terkejut melihat tandang lawannya. Ia tidak melihat unsur-unsur yang tersusun rapi betapapun kasarnya, tetapi ia merasakan bahaya yang mematuknya. Karena itu maka ia pun berkata di dalam hatinya,

“Anak ini benar anak setan atau jin tetekan. Bagaimana mungkin ia bisa berkelahi dengan cara itu”.

Kini Kebo Sindet tidak hanya merasakan seorang anak muda yang sombong sedang membunuh dirinya. Tetapi ia kini berasa berhadapan dengan anak iblis yang mengerikan. Karena itu, maka orang tua itu segera melayaninya dengan penuh kemarahan.

Sejenak, Mahisa Agni melihat keduanya yang sedang bertempur itu. Ia melihat Ken Arok tidak sebagai seorang prajurit atau seorang pelayan-dalam yang berkelahi sebagai seorang prajurit dengan pedangnya. Tetapi kini Mahisa Agni melihat hantu Karautan hidup kembali, berkelahi dengan sebilah pisau di tangan. Namun, Mahisa Agni tidak dapat berdiam diri lebih lama lagi. Betapa kecil kemampuannya, ia merasa wajib untuk ikut serta dalam pertempuran yang dahsyat itu.

Karena itu, maka dengan hati-hati ia mendekat, menjulurkan pedangnya, dan sejenak kemudian maka pedang itu pun mulai bergetar. Dengan bekal ilmu yang dimilikinya dari gurunya ia ikut bertempur, dipusatkannya segenap kemampuan lahir dan batin, tersalur dalam jalur-jalur urat-nadinya, menggerakkan pedang di dalam genggamannya. Meskipun Mahisa Agni adalah seorang anak kecil saja dibandingkan dengan Kebo Sindet, namun terasa juga serangannya agak mengganggu selagi setan tua dari Kemundungan itu berusaha membinasakan hantu dari Padang Karautan.

Tetapi, setiap kali Kebo Sindet menjadi kecewa. Selanjutnya ia belum berbasil mengenai lawannya tepat seperti yang dikehendakinya. Bahkan tenaga lawannya yang semakin liar itu pun serasa menjadi semakin bertambah.

“Kekuatan apakah yang telah menyelusup ke dalam tubuh setan kecil ini“ Kebo Sindet mengumpat-umpat di dalam hatinya. Sekali-kali ia berhasil menyentuh tubuh Ken Arok sehingga anak itu terpental beberapa langkah, tetapi setiap kali anak muda itu langsung meloncatinya kembali dengan ujung pisau di tangan kanannya dan ujung kuku-kuku jari tangan kirinya.

Dengan demikian maka kemarahan Kebo Sindet pun semakin menjadi-jadi. Sekali dua kali ia harus menghindari pedang Mahisa Agni. Tetapi ia tidak menyerangnya. Betapa gelap hatinya namun ia masih berusaha membiarkan saja anak muda itu. Sebab apabila ia membalasnya dengan serangan-serangan ia takut apabila ia tidak berhasil menguasai tenaganya, sehingga Mahisa Agni itu justru yang terbunuh.

Wong Sarimpat dan Empu Gandring untuk beberapa saat masih berdiri keheranan. Bahkan, tanpa dikehendakinya Wong Sarimpat berdesis, “Apakah yang telah menggerakkan anak itu sehingga ia dapat berkelahi dengan cara itu?”

Empu Gandring tanpa sesadarnya menyahut, “Alangkah keras dan kasar unsur-unsur yang dipergunakannya. Bahkan jauh lebih kasar dari Empu Sada. Hampir sekasar kau dan kakakmu Kebo Sindet”.

“Tidak“ gumam Wong Sarimpat, “lihat, betapa kasarnya. Tidak kalah kasar dari kakang Kebo Sindet. Tetapi yang gila adalah simpanan tenaga dan kekuatan, sehingga ia mampu bertahan terhadap sentuhan tangan kakang Kebo Sindet”.

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya dan Wong Sarimpat memandanginya dengan mata yang hampir tidak berkedip. Mereka melihat betapa perkelahian antara Kebo Sindet melawan Ken Arok dan Mahisa Agni menjadi semakin dahsyat.

Setelah mapan, maka tandang Mahisa Agni pun menjadi bertambah lincah. Pedangnya menyambar-nyambar dari berbagai arah, sehingga mau tidak mau Kebo Sindet harus memperhitungkannya. Tetapi ia tidak dapat dengan garang menyerang kembali anak muda itu. Kebo Sindet yang sedang berkelahi itu merasa sangat sulit untuk mengukur tenaganya, sehingga Mahisa Agni tidak terbunuh oleh sentuhan tangannya. Seandainya ia tidak sedang berkelahi dengan iblis yang kasar itu, maka ia akan segera dapat menjajagi kekuatan tubuh Mahisa Agni. Ia akan dapat mengendalikan tangannya, menyentuh urat nadi kesadaran Mahisa Agni sehingga anak itu pingsan. Tetapi tidak mati.

Tetapi kini ia berkelahi dengan anak muda yang tidak dapat diduga kekuatannya. Meskipun ia hampir mempergunakan segenap kekuatannya, namun anak muda yang bernama Ken Arok itu tidak hancur lumat. Tulang-tulang iganya tidak menjadi rontok karenanya. Bahkan setiap kali ia berhasil menghindarkan simpul-simpul sarafnya yang berbahaya dari sentuhan tangan Kebo Sindet, sehingga setiap kali ia terbanting jatuh, setiap kali ia dapat bangun kembali. Justru semakin sering ia terpelanting, maka tubuhnya seakan-akan menjadi semakin liat, dan semakin cepatlah ia bangkit kembali meloncat dengan garang dan liar, menyerang membabi buta.

“Tidak” desis Kebo Sindet di dalam hatinya, “anak itu tidak membabi buta. Tetapi ilmu yang gila ini belum pernah aku kenal. Belum pernah aku temui seorang sakti yang berkelahi dengan cara ini.”

Dengan demikian, maka Mahisa Agni itu bagi Kebo Sindet terasa benar-benar mengganggu usahanya membinasakan Ken Arok. Karena itu maka tiba-tiba ia berteriak nyaring.

“Kuda-Sempana, jangan bersembunyi saja. Ini, aku sudah berhasil memanggil orang yang selama ini kau cari. Kau tidak usah menunggu gurumu. Selesaikan Mahisa Agni ini lebih dahulu. Tetapi ingat, biarkan ia hidup. Ia akan mengalami masa-masa yang tidak dikehendakinya”.

Panggilan itu benar menggetarkan dada Empu Gandring, Mahisa Agni dan Ken Arok. Mereka merasa bahwa bahaya semakin lama akan menjadi semakin besar. Menurut dugaan mereka, sebentar lagi akan datang Empu Sada, guru Kuda-Sempana untuk membantu mereka menangkap Mahisa Agni.

Belum lagi mereka sempat mempertimbangkan sesuatu, maka dari dalam kegelapan meloncatlah sesosok tubuh yang telah menggenggam pedang di tangan. Orang itu adalah Kuda Sempana. Sejenak ia berdiri dengan penuh kebimbangan. Betapa dendam dan bencinya kepada Mahisa Agni pada saat-saat yang lampau. Betapa ia ingin membunuh dan mencincangnya. Tetapi tiba-tiba kini, setelah ia berhadapan di bawah lindungan kedua iblis dari Kemundungan, nafsunya itu susut hampir kering sama sekali.

Tetapi seperti apa yang selama ini dilakukannya. Berbuat apa saja yang dikatakan oleh Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Demikian pula kali ini. Menurut Kebo Sindet ia harus bertempur melawan Mahisa Agni. Karena itu, maka segera iapun mencoba membulatkan hatinya. Bertempur tanpa sesuatu tujuan.

Mahisa Agni yang melihat kehadiran Kuda Sempana menggeretakkan giginya. Ia tidak dapat melupakan apa yang telah dilakukan oleh anak muda itu, sehingga keadaan menjadi semakin lama semakin jelek. Tidak saja baginya sendiri, tetapi juga bagi seluruh Panawijen. Dan kini, Kuda Sempana itu datang lagi, membuat orang-orang Panawijen ketakutan. Karena itu, ketika kemudian Kuda Sempana menyerangnya, maka dengan serta-merta ditinggalkannya Kebo Sindet yang masih berkelahi dengan Ken Arok dalam nada yang semakin lama semakin kasar dan liar. Keduanya adalah hantu-hantu yang mengerikan, dan keduanya dapat berbuat di luar bemampuan orang-orang biasa.

Sejenak kemudian Mahisa Agni telah terlibat dalam perkelahian dengan Kuda Sempana. Kuda Sempana yang semula ragu-ragu, kini ia harus menghadapi serangan Mahisa Agni yang membadai. Serangan-serangan yang dilambari oleh berbagai perasaan bercampur baur. Kebencian kemarahan dan kegelisahan. Namun justru karena itu, maka kejernihan hatinya menjadi agak terganggu. Tata geraknya menjadi tergesa-gesa dan dalam beberapa kesempatan, ia membuat kesalahan-kesalahan.

Tetapi berhadapan dengan Kuda Sempana Mahisa Agni masih mempunyai kesempatan. Betapa Kuda Sempana dapat menambah ilmunya dengan ilmu yang diberikan oleh Kebo Sindet dan Wong Sarimpat, namun melawan Mahisa Agni ia masih harus berbuat terlampau banyak. Apalagi pada saat-saat perkelahian itu dimulai. Kuda Sempana bertempur asal saja ia tidak tertusuk oleh ujung pedang lawannya. Namun semakin lama nafsunya perlahan-lahan tumbuh kembali. Bukan sekedar menyelamatkan diri, tetapi dalam lingkaran perkelahian, maka hasratnya untuk membinasakan lawannya terasa seperti api tertiup angin. Semakin lama menjadi semakin menyala di dalam dadanya.

Peristiwa itu telah membuat Ken Arok menjadi semakin marah. Setiap kali ia terlempar jatuh, setiap kali ia merasa bahwa tenaga yang tersimpan di dalam tubuhnya mengalir menyelusuri urat-urat nadinya. Semakin besar nyala kemarahannya, maka tubuhnya terasa semakin ringan dan geraknya pun menjadi semakin cepat. Tetapi yang dihadapinya adalah Kebo Sindet. Betapa besar kemampuan yang tersimpan di dalam dirinya, namun Ken Arok bagi Kebo Sindet seolah-olah tidak lebih dari sebutir kemiri dalam permainan jirak. Sekali terlempar ke samping, sekali terdorong surut dan sekali terbanting jatuh.

Meskipun demikian Ken Arok masih juga mampu bangkit berdiri, melenting dan meloncat menyerang dengan liarnya. Kuku-kukunya mengembang seperti kuku seekor garuda yang buas, sedang ditangan yang lain sebilah pisau seakan-akan melekat pada jari-jari tangannya, sehingga pisau itu tidak dapat terpelanting lepas dari genggamannya. Apa yang dilakukan Ken Arok itu benar-benar tidak dapat di mengerti nalar orang-orang tua yang mengitarinya. Wong Sarimpat, Empu Gandring dan Kebo Sindet sendiri. Bagaimana mungkin, Ken Arok itu mampu bertahan lama melawan Kebo Sindet.

Menilik tata gerak dan unsur-unsur yang dipergunakan oleh Ken Arok, maka mereka merasakan, betapa sedikit pengertian yang dimilikinya. Menurut perhitungan mereka, ilmu yang dimiliki oleh Ken Arok dalam tata gerak dan tata berkelahi, tidak banyak terpaut dari Mahisa Agni, meskipun dalam bentuk yang berbeda. Tetapi kekuatan tenaga, kecepatan bergerak dan ketahanan tubuhnya, benar-benar mengagumkan. Dan orang-orang tua itu menganggap bahwa semuanya itu sama sekali bukan dilambari oleh sesuatu ilmu apapun, tetapi apa yang dimilikinya itu adalah pembawaan sejak ia dilahirkan.




OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar