Dalam keheranan dan kekagumannya, maka Wong Sarimpat dan Empu Gandring masih saja berdiri tegak. Wong Sarimpat tidak lagi menyerang Empu Gandring selagi Empu Gandring tidak berusaha membantu Ken Arok atau Mahisa Agni. Meskipun demikian, Empu Gandring masih juga selalu di selubungi oleh perasaan cemas dan gelisah. Betapa ketahanan tubuh Ken Arok itu, namun serangan Kebo Sindet yang datang seperti badai, menghantam terus-menerus itu suatu ketika pasti akan dapat melumpuhkan Ken Arok. Bahkan mungkin membunuhnya.
Orang tua itu masih saja melihat Ken Arok terlempar, terbanting dan berguling-guling menghindari serangan lawannya. Sekali ia melenting sambil menerkam lawannya, untuk kemudian terlempar kembali beberapa langkah. Sekali-kali terdengar ia mengeluh pendek, tetapi lambat laun suara itu terdengar seperti hantu yang sedang marah.
Tiba-tiba Empu Gandring menjadi tegang ketika ia melihat sesuatu. Darahnya serasa berhenti mengalir. Selangkah ia maju sambil menajamkan matanya. Bukan saja mata wadagnya, tetapi juga mata batinnya. Terasa dadanya kemudian bergetar semakin cepat. Tanpa sesadarnya ia berpaling memandangi wajah Wong Sarimpat. Dan wajah itu pun menegang seperti seutas tali yang hampir putus karena tarikan kedua ujungnya.
“He, tukang keris“ Wong Sarimpat itu hampir berteriak, “kau lihat itu?”
Empu Gandring tidak segera menyahut. Ternyata Wong Sarimpat betapapun kasarnya, namun ia telah berhasil melihat pula. Agaknya kekuatan yang tersimpan di dalam diri orang itu pun telah mampu menerima getaran yang aneh, yang memancar dari diri Ken Arok.
“Ternyata anak itu benar-benar anak setan”.
“Kau melihatnya?” desis Empu Gandring.
“Ya. Itulah sebabnya maka tubuhnya kuat seperti seekor gajah kerdil”.
Empu Gandring terdiam. Tetapi debar di dalam dadanya menjadi semakin lama semakin cepat. Dan apa yang dilihatnya menjadi semakin jelas. Tidak sekedar dengan mata wadagnya. Dengan jantung yang bergolak Empu Gandring dan Wong Sarimpat melihat sebuah bayangan warna kemerah-merahan yang seakan-akan memancar dari ubun-ubun Ken Arok. Tidak begitu jelas. Tetapi keduanya yakin bahwa mereka telah melihatnya. Seperti yang pernah dilihat oleh Empu Purwa di Padang Karautan.
Perlahan-lahan Empu Gandring berdesis, “Adalah manusia yang terpilihlah yang memiliki tanda-tanda demikian”.
“Anak iblis“ geram Wong Sarimpat.
Empu Gandring tidak menjawab. Namun timbullah sedikit harapan padanya, bahwa Ken Arok memiliki kelebihan yang meyakinkan dari anak-anak muda sebayanya. Tanda itu telah memberitahukan kepadanya, bahwa Ken Arok bukanlah anak-anak muda kebanyakan saja meskipun tandangnya kasar sekasar Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.
Wong Sarimpat pun melihat kelebihan itu, meskipun Dengan mulut yang mengumpat-umpat. Ia tidak tahu pasti, apakah yang telah menimbulkan bayangan kemerahan di atas ubun-ubun anak itu. Tetapi, iapun pernah mendengar dongeng-dongeng tentang anak-anak terpilih. Karena itu, maka ia menjadi sedemikian marahnya, bahwa anak muda yang memiliki kelebihan itu memihak Mahisa Agni.
“He, pande keris“ teriaknya “apakah kau sangka warna itu akan dapat menyelamatkannya?”
“Aku tidak tahu“ sahut Empu Gandring, “warna itu adalah warna keberanian”.
“Setan, iblis“ lagi-lagi orang itu mengumpat-umpat dengan mulutnya yang kotor, “ia akan mati terbunuh oleh kakang Kebo Sindet, dan warna itu akan padam dari kepalanya”.
“Marilah kita lihat”.
“Tidak. Aku tidak hanya ingin sekedar melihat, tetapi aku ingin berkelahi seperti orang lain. Ayo, bersiaplah Empu tua”.
Belum lagi Empu Gandring menjawab, Wong Sarimpat telah melompat menyerangnya sambil berteriak, “Aku akan segera membunuhmu. Kemudian aku ingin turut membuktikan, apakah anak muda itu benar-benar tak dapat dicincang kulit dagingnya”.
Tetapi Empu Gandring pun telah cukup mempersiapkan diri. Karena itu, maka ia pun sempat menghindari serangan Wong Sarimpat. Bahkan dengan cepatnya, tangannya menyambar tengkuk lawannya.
“Kaupun anak setan“ teriak Wong Sarimpat ketika terasa sebuah sambaran tangan
Empu Gandring hampir menyentuh tengkuknya, Orang itu terpaksa menghindar, sehingga hampir-hampir ia kehilangan keseimbangan. Tetapi ia tidak meneruskan kata-katanya, sebab ia melihat Empu Gandring tidak membiarkannya. Orang itu pun segera bersiap untuk menghindari serangan-serangan berikutnya, yang datang seperti banjir menghantam tebing.
“Kau pun menjadi gila dan liar“ teriak Wong Sarimpat.
Tetapi dirinya sendirilah yang menjadi semakin liar dan buas. Tata geraknya segera menjadi kasar, sekasar kakaknya Kebo Sindet. Namun Empu Gandring tidak menjadi bingung. Ia tahu, apa yang harus dilakukan melawan orang-orang liar seperti Kebo Sindet dan Wong Sarimpat, sehingga betapa liarnya lawannya, namun Empu Gandring masih juga tetap tenang. Sekali-kali ia sempat melihat perkembangan keadaan Ken Arok dan Kebo Sindet yang bertempur semakin ribut.
Kebo Sindet sendiri, yang berkelahi dengan Ken Arok tidak segera melihat warna kemerah-merahan di ubun-ubun lawannya. Dengan penuh kemarahan Kebo Sindet berusaha melumatkan lawannya dengan tangannya. Meskipun berkali-kali ia tidak berhasil memecahkan dada anak muda itu, tetapi ia masih percaya bahwa Ken Arok tak akan dapat dihancurkannya. Itulah sebabnya Kebo Sindet masih saja berkelahi dengan tangannya. Ia tahu benar bahwa ilmu lawannya sama sekali tidak berarti untuk melawannya. Namun ketahanan tubuh anak itu benar-benar memusingkan kepalanya. Bahkan kadang-kadang timbul kecemasan di dalam dirinya, apakah ilmunya telah lebur?.
Demikianlah, maka perkelahian itu menjadi kian seru. Tandang Ken Arok benar-benar menjengkelkan sekali bagi Kebo Sindet yang garang dan buas. Seakan-akan ia sedang berhadapan Dengan Aji Candra Birawa. Ia pernah mendengar, bahwa seseorang mampu membangunkan kekuatan yang tanpa batas. Kadang-kadang dapat berwujud seorang raksasa. Kalau, raksasa itu terbunuh, maka mayatnya akan membelah, dan datanglah kemudian dua orang raksasa. Demikianlah setiap kali dibinasakan, maka kekuatan itu pun menjadi berlipat.
“Apakah anak ini memiliki aji ini?” desisnya di dalam hati, “Setiap kali kekuatannya terhantam, maka seakan-akan tubuhnya menjadi semakin kuat. Kalau ia terbanting jatuh, maka segera ia bangkit dengan kesigapan yang berlipat. Tetapi anak setan ini harus mati“ geramnya sambil mempertajam serangan-serangannya, sehingga semakin lama menjadi semakin dahsyat.
Namun akhirnya Kebo Sindet itu mampu melihat bayangan kemerah-merahan di atas ubun-ubun Ken Arok. Semula orang itu menyangka, bahwa kemarahannya telah menumbuhkan bayangan-bayangan yang tak dikenalnya. Tetapi ternyata warna merah itu meloncat, melontar dan meluncur bersama-sama dengan kepala lawannya. Warna itu memancar dari ubun-ubun kepala itu.
“Gila“ desisnya, “apakah anak ini anak pilihan?”
Kebo Sindet mengumpat-umpat di dalam hatinya. Selama ini ia tidak pernah memikirkan persoalan serupa itu. Ia tidak mengenal kepada kekuatan-kekuatan di luar dirinya dan lingkungannya yang kasat mata maupun yang tidak kasat mata. Tetapi ia tidak mengenal suatu kekuasaan yang Agung meskipun pernah didengarnya. Tiba-tiba sekarang ia berhadapan dengan warna itu. Menurut dongeng yang pernah didengarnya, warna yang memancar dari ubun-ubun adalah pertanda bahwa orang itu adalah orang pilihan. Orang piniji. Itulah sebabnya maka ia memiliki kekuatan dan ketahanan tubuh melampui manusia biasa.
Sejenak, perasaan Kebo Sindet dilanda oleh kebimbangan. Namun kembali ia menguatkan hatinya. Dengan gigi gemeretak ia menggeram di dalam dadanya “Betapapun juga, ia adalah manusia. Berapa kuat ketahanan tubuhnya, tetapi kulit dagingnya pasti akan dapat menjadi lumat”.
Dengan demikian, maka tandang Kebo Sindet menjadi semakin buas dan liar. Demikian juga Ken Arok. Semakin garang ia berkelahi, nyala di atas ubun-ubunnya seolah-olah menjadi semakin terang.
Disisi lain, Kuda Sempana pun berkelahi dengan nafsu yang semakin menyala. Kini ia tidak lagi sekedar digerakkan oleh perintah Kebo Sindet, tetapi ia benar-benar berusaha membunuh Mahisa Agni. Ia tidak lagi mengingat apakah dendamnya bertimbun setinggi gunung, namun dalam perkelahian ini, ia ingin membunuh secepat-cepatnya.
Tetapi Mahisa Agni pun berkelahi dengan kemarahan yang meluap-luap. Ia ingin menghentikan petualangan anak muda itu. Ia ingin Kuda Sempana tidak lagi dapat melakukan kejahatan. Baik terhadap dirinya sendiri, terhadap Ken Dedes, terhadap orang-orang Panawijen maupun terhadap bendungan yang sedang dikerjakannya. Karena itu, maka ia harus dapat melumpuhkan lawannya. Menangkap atau kalau terpaksa anak muda itu terbunuh, adalah bukan semata-mata karena kebencian dan dendam, tetapi ia didorong oleh suatu kuwajiban untuk suatu kepentingan yang lebih besar dari kepentingannya sendiri.
Dorongan itulah yang telah memaksa Mahisa Agni bertempur mati-matian. Apalagi kalau diingatnya, bahwa sebentar lagi, tangan-tangan Kebo Sindet atau Wong Sarimpat pasti akan mencekiknya. Itulah sebabnya, ia merasa bahwa ia harus segera menyelesaikan tugasnya sebelum Ken Arok tidak lagi berdaya melawan Kebo Sindet.
Tetapi Kuda Sempana sekarang sudah lain dengan Kuda Sempana yang selalu dikalahkannya. Kuda Sempana kini, adalah Kuda Sempana yang menjadi bertambah kasar, liar tetapi bertambah kuat dan cekatan. Kuda Sempana itu mampu meloncat secepat burung sikatan dan menyambar segarang elang di udara. Merangsangnya seliar serigala dan menerkam sebuas harimau lapar.
Dengan demikian maka Mahisa Agni itu pun harus bertempur sekuat tenaganya, setinggi kemampuannya. Dikerahkannya segenap ilmunya lahir dan batin untuk mengalahkan lawannya. Tetapi pekerjaan itu bukanlah pekerjaan yang mudah, semudah memijat wohing ranti. Tetapi ia harus berjuang memeras segenap kemampuan yang ada padanya. Namun sampai beberapa lama, ia sama sekali belum melihat tanda-tanda bahwa usahanya itu akan segera berhasil. Bahkan setiap kali ia harus meloncat menghindari ujung pedang Kuda Sempana yang mematuk-matuk seperti seribu kepala ular yang menyerangnya bersama-sama dari segala penjuru.
Tetapi, Kuda Sempana pun telah dibasahi oleh keringat yang mengalir dari segenap lubang kulitnya. Betapa ia berusaha membinasakan lawannya, tetapi lawannya bukan dengan suka rela menyerahkan kepalanya, pasrah pati-urip. Karena itu, maka pekerjaannya adalah sesulit menangkap kijang di padang rumput dengan tangannya.
Tidak kalah ributnya adalah Wong Sarimpat. Sekali-kali terdengar orang itu berteriak nyaring, sehingga suaranya membentur dinding-dinding halaman, melingkar-lingkar memenuhi padukuhan yang sepi. Namun sejenak kemudian Panawijen itu telah diterkam oleh ketakutan yang amat sangat. Beberapa orang akhirnya mendengar hiruk pikuk perkelahian dan teriakan-teriakan Wong Sarimpat yang liar itu.
Mereka yang terbangun mula-mula menjadi bingung. Mereka belum tahu, suara apakah yang memecah sepinya malam, melingkar-lingkar di seluruh padepokannya. Beberapa orang laki-laki tua keluar dari rumah-rumah mereka, membawa golok dan parang pembelah kelapa dan kayu. Mengendap-endap mereka pergi ke arah suara yang hiruk pikuk dan ribut di padepokan Empu Purwa. Tetapi ketika mereka menjadi semakin dekat, maka tubuh mereka menjadi gemetar. Dalam keremangan cahaya pelita di halaman padepokan itu, mereka melihat lingkaran-lingkaran perkelahian. Perkelahian yang belum pernah mereka lihat.
Sejenak, mereka terpaku di balik dinding halaman. Sekali-kali mereka mengintip dari atas dinding sambil berdiri di atas bongkahan batu padas. Namun kemudian mereka pun kembali bersembunyi di balik dinding-dinding itu. Tak sepatah kata yang dapat mereka ucapkan di antara mereka. Sekali-kali mereka saling berpandangan. Namun kemudian mereka menggigil ketakutan.
Dada mereka serasa akan pecah ketika tiba-tiba mereka mendengar teriakan Wong Sarimpat nyaring, “He yang berdiri di balik dinding. Ayo, jangan bersembunyi. Kalau kalian cukup jantan. Inilah Wong Sarimpat dari Kemundungan”.
Tetapi kata-kata itu terhenti ketika serangan Empu Gandring hampir merobek mulutnya. Dengan lincahnya ia meloncat mundur. Golok yang kini telah berada di tangannya berputar seperti baling-baling. Tetapi setiap kali bunga api memercik tinggi apabila golok itu membentur keris Empu Gandring. Keris yang tidak kalah besarnya dari golok itu.
Ketika ketiga orang yang menjemput Mahisa Agni sampai di tempat itu pula, maka mereka menjadi gemetar. Teringatlah apa yang dirisaukan oleh orang tua yang ternyata adalah paman Mahisa Agni dan pemimpin prajurit dari Tumapel. Kini mereka menyadari kebenaran dari kecemasan orang-orang itu. Sehingga karena itu, maka alangkah mereka menyesal. Apabila terjadi sesuatu atas Mahisa Agni, maka mereka menjadi salah satu sebab dari bencana itu.
“Siapakah mereka?” bisik salah seorang dari ketiga orang itu.
Kawannya menggelengkan kepalanya. Tetapi kembali mereka terkejut ketika Wong Sarimpat sempat menjawab sambil bertiak “Kami adalah Wong Sarimpat, Kebo Sindet dan Kuda Sempana dari Kemundungan”.
Ketiga orang itu terbungkam. Tetapi di samping ketakutan dan kecemasannya, terbayanglah wajah ayah Kuda Sempana yang seolah-olah telah mendorong mereka menjemput Mahisa Agni dan kini tiba-tiba mereka mendengar bahwa di antara mereka terdapat Kuda Sempana. Ketiga orang-orang tua yang menjemput Mahisa Agni ke Padang Karautan itu merasakan sesuatu yang tidak pada tempatnya dengan ayah Kuda Sempana. Apakah ayah Kuda Sempana itu telah menjadi alat anaknya untuk menciderai Mahisa Agni? Tiba-tiba salah seorang dari mereka menggamit kawannya. Kawannya itupun mengangguk dan mereka bertiga pun meninggalkan tempat itu. Setelah cukup jauh dari padepokan Empu Purwa, maka salah seorang dari mereka berkata,
“Kita ke rumah ayah Kuda Sempana. Ia harus bertanggung jawab atas semua peristiwa ini.”
“Marilah kakang“ jawab yang lain, tetapi nada suaranya terasa diselubungi oleh kebimbangan, “tetapi apakah tidak ada orang lain di rumah itu. Kawan-kawan orang yang datang dari Kemundungan itu?”
Yang lain menjadi ragu-ragu pula, katanya, “Ya, apakah di rumah itu tidak ada orang lain lagi yang akan dapat memenggal leher kami”.
Sejenak mereka berdiam diri. Hanya langkah-langkah mereka sajalah yang terdengar gemerisik di atas tanah berbatu. Lamat-lamat mereka masih mendengar suara Wong Sarimpat menjerit-jerit. Dan tiba-tiba Kuda Sempana yang menjadi semakin kasar pun sekali-kali memekik tinggi pula.
Tetapi, orang-orang tua itupun kemudian dijalari oleh perasaan yang aneh. Karena mereka merasa, bahwa mereka telah turut serta menjerumuskan Mahisa Agni, maka mereka pun seakan-akan mendapat suatu keberanian untuk berbuat sesuatu. Mereka yang selama ini tidak pernah menggenggam senjata, kini parang pembelah kayu itu merupakan senjata yang memberi mereka ketabahan.
“Ayah Kuda Sempana harus bertanggung jawab“ desis mereka di dalam hati.
Dengan hati-hati mereka berjalan menyelusuri jalan-jalan padukuhan menuju ke rumah Kuda Sempana. Karena di dalam perkelahian itu hadir Kuda Sempana, maka mereka mengharap bahwa ayahnya akan dapat mereka temui seorang diri. Dari kejauhan mereka melibat pelita yang menyala di dalam rumah Kuda Sempana. Beberapa berkas sinarnya melontar menyelusup lubang-lubang dinding jatuh di halaman yang gelap gulita. Rumah itu tidak terlampau besar, tetapi juga tidak terlampau kecil. Pada saat Kuda Sempana masih seorang pelayan dalam, maka rumah itupun tampak terpelihara baik. Tetapi kini, semak-semak yang liar tumbuh di sekeliling halaman. Bahkan regol dan pintunya kini sama sekali sudah hampir tidak terbentuk lagi.
“Mudah-mudahan orang itu ada di rumahnya“ gumam salah seorang.
“Aku kira ia ada di rumah“ sahut yang lain.
Perlahan-lahan, mereka mendekati pintu rumah itu. Salah seorang dari mereka mencoba mengintip ke dalamnya lewat lubang dinding yang menganga selebar hitam mata. Tetapi tak sesuatu yang dilihatnya.
“Apakah kita ketuk pintunya?” bertanya salah seorang. “Ketuklah pintu“ sahut yang lain.
Salah seorang dari mereka pun segera mengetuk pintu. Sekali dua kali, tetapi tidak terdengar jawaban.
“Apakah orang itu sudah tidur?”
Yang lain tidak sabar lagi. Diketuknya semakin keras. Namun masih belum ada jawaban. Akhirnya mereka tidak dapat menahan diri. Sejenak mereka berbincang. Dan akhirnya mereka memutuskan untuk memecah pintu itu dengan paksa. Meskipun dengan agak bersusah payah, akhirnya ketiganya berhasil merusak pintu. Dengan hati-hati mereka masuk ke dalamnya. Senjata-senjata mereka telah berada di dalam genggaman, seperti seorang pahlawan yang sedang mencari lawannya yang bersembunyi. Tetapi ternyata rumah itu telah menjadi kosong. Mereka sama sekali tidak menemukan seorang pun di dalamnya.
“Kosong“ desis salah seorang dari mereka.
“Mungkin bersembunyi“ sahut yang lain.
Dengan sangat hati-hati mereka bertiga mencari ayah Kuda Sempana. Beriringan kesegenap sudut. Namun meskipun pelita terpasang hampir di setiap ruang, mereka tidak menemukan seorang pun.
“Gila. Orang itu telah merasa dirinya bersalah. Karena itu maka ia melarikan dirinya”.
“Hem“ yang lain menggeram. Tetapi tidak ada sesuatu yang dapat dilakukannya.
Meskipun demikian sekali lagi mereka meneliti setiap sudut. Di bawah kolong-kolong amben, di belakang geledeg dan di sisi-sisi paga. Tetapi mereka tetap tidak menemukan seseorang.
“Lalu“ desis salah seorang dari mereka, “apa yang akan kita kerjakan?”
Sejenak mereka bertiga terdiam. Sementara itu angin malam berhembus masuk kedalam rumah itu lewat pintu yang masih menganga. Di luar gelap yang pekat seakan-akan menyumbat setiap lubang dinding rumah.
“Kita kembali“ tiba-tiba salah seorang berkata.
“Kembali kemana?” bertanya yang lain.
“Kembali ke tempat perkelahian tadi. Kuda Sempana lah yang harus bertanggung jawab atas semua peristiwa ini. Karena kebodohan kita, maka kita telah menjadi alatnya. Maka kita pun harus menebus kebodohan itu.”
“Apa yang akan kita lakukan?”
“Membunuh Kuda Sempana”.
“He?” seorang yang lain menjadi ngeri mendengar jawaban itu, seakan-akan mereka mampu membunuh Kuda Sempana.
“Ya. Kita membunuh Kuda Sempana bersama angger Mahisa Agni”.
“Anak itu bukan lawan kita”.
“Kita hanya membantu. Membantu angger Mahisa Agni. Betapapun lemah tenaga kita, tetapi kita akan dapat membantu mengurangi kesungguhan perhatian Kuda Sempana atas Mahisa Agni”. Tetapi bukan sekedar menarik perhatiannya, bahkan mungkin ujung pedangnya.
“Kalau ujung pedangnya menghunjam ke dada kita itu adalah sekedar akibat dari kebodohan kita. Kenapa kita telah memanggil angger Mahisa Agni kepedukuhan ini?”
Kedua kawannya yang lain menjadi tegang. Namun kemudian mereka pun berkata, ”Mari. Kita kembali kepadepokan Empu Purwa. Kita lihat, siapakah yang menang dalam perkelahian itu.”
“Kita tidak akan hanya sekedar melihat”.
“Baik. Kita ikut berkelahi”.
“Sampai akibat yang paling parah”.
“Sampai mati”.
Maka bulatlah tekad mereka untuk bertempur membantu Mahisa Agni. Mereka merasa, bahwa mereka telah menyeret Mahisa Agni kedalam bencana. Dengan tergesa-gesa, mereka meninggalkan rumah Kuda Sempana. Dibiarkannya pintu rumah itu menganga. Dan dibiarkannya lampu-lampu rumah itu menyala sebesar-besarnya.
Sejenak kemudian mereka pun telah sampai kembali di tempat perkelahian antara raksasa-raksasa itu terjadi. Perlahan-lahan mereka mendekati dinding halaman Padepokan Empu Purwa. Beberapa orang masih saja mengerumuni tempat itu dari jauh. Mereka tidak berani mendekat, apalagi melihat. Tetapi mereka pun tidak mau meninggalkannya, karena mereka ingin tahu, apakah yang akan terjadi. Ketika mereka bertiga, mencongakkan kepala-kepala mereka hampir saja mereka terpelanting jatuh ketika mereka mendengar suara Wong Sarimpat,
“Ayo, siapa yang akan membantu, Kemarilah”.
Ketiganya menjadi seakan-akan membeku pada dinding halaman. Kebulatan tekad mereka sama sekali tidak lagi mereka ingat. Apalagi turut berkelahi di pihak Mahisa Agni, sedang melihat kilatan senjata mereka yang sedang berkelahi itu pun mereka seolah-olah telah menjadi mati kaku.
Meskipun demikian, mereka masih sempat melihat perkelahian yang mengerikan itu. Mereka masih melihat betapa Ken Arok berkelahi seperti orang kesurupan. Tanpa menghiraukan apapun anak muda itu mengamuk sejadi-jadinya. Meloncat menerkam, memukul, menerjang dan segala macam gerak yang memusingkan kepala. Kebo Sindet pun menjadi pusing pula karenanya. Hampir-hampir ia kehilangan akal untuk menjatuhkan lawannya yang gila dan liar. Lebih liar dan buas dari dirinya sendiri.
“Anak setan ini benar-benar mengerikan“ desis Kebo Sindet di dalam hatinya. Meskipun demikian, ia sama sekali belum mempergunakan senjatanya.
Kini keinginannya bukan saja ingin menghancurkan dan membunuh lawannya, namun timbul pula keinginannya untuk melihat sampai dimana kekuatan dan ketahanan tubuh anak muda yang ubun-ubunnya bercahaya kemerah-merahan. Karena itu, betapapun juga, Kebo Sindet masih saja melawannya dengan anggauta badannya. Sekali-kali dihantamnya dada anak muda itu sehingga terpelanting beberapa langkah. Baru saja anak muda itu melenting berdiri, maka kakinya telah mengenai lambungnya, sehingga Ken Arok terangkat tinggi-tinggi, melayang di udara untuk jatuh seperti sepotong tonggak yang basah. Tetapi sekali lagi ia meloncat bangkit dengan pisaunya ditangan kanan dan kuku-kukunya yang mengembang di tangan kiri.
“Gila. Benar-benar gila“ Kebo Sindet menggeram. Ia adalah seorang yang pilih tanding. Seorang yang sudah kenyang mencicipi segala macam bentuk kehidupan. Yang paling lunak sampai yang paling kasar. Tetapi belum pernah dijumpainya sejenis manusia seperti yang kini sedang dilawannya.
Orang yang kini berkelahi melawannya dan bernama Ken Arok itu memiliki ketabahan tubuh yang luar biasa. Namun justru karena itu, maka ia menjadi semakin tertarik kepada anak muda itu. Semakin sulit ia menjatuhkan lawannya, semakin tajam keinginannya untuk mengukur titik akhir dari ketahanan tubuh Ken Arok.
Tetapi, akhirnya Kebo Sindet menyadari, bahwa kunci dari pertempuran itu ada padanya. Adiknya, Wong Sarimpat yang bertempur melawan Empu Gandring. Rasa-rasanya tidak akan segera dapat mengakhiri perkelahian. Bahkan menurut penilaian Kebo Sindet, maka sampai seminggu pun adiknya tidak akan memenangkan pertempuran itu. Menilik ketenangan dan keyakinan setiap geraknya, maka agaknya Empu Gandring masih lebih banyak menyimpan tenaga daripada adiknya. Sehingga apabila perkelahian itu dibiarkannya sampai sehari dua hari, maka adiknya, Wong Sarimpatlah yang akan lebih dahulu susut tenaganya.
Sedang Kuda Sempana pasti tidak akan dapat mengalahkan Mahisa Agni. Kebo Sindet masih sempat melihat sekilas-sekilas perkelahian antara kedua anak muda itu. Dan Kebo Sindet masih melihat beberapa kekurangan Kuda Sempana. Dengan demikian, maka ia harus segera mengakhiri perkelahian itu. Kalau ia berhasil melumpuhkan lawannya atau membunuhnya sekali, maka ia akan segera dapat membantu kawan-kawannya yang lain.
Tiba-tiba Kebo Sindet itu pun menggeram. Ia kini tidak mau bermain-main lagi. Ia sudah cukup lama merasakan keliatan tubuh lawannya. Dan kini ia benar-benar ingin menghancurkannya. Tetapi tidak dengan senjata tajam. Ken Arok harus lumat dengan tangannya. Kebo Sindet itu pun segera memusatkan segenap kekuatan lahir dan kekuatan yang tersimpan di dalam dirinya. Kekuatan yang bersumber pada kekuatan sesat. Meskipun dalam ungkapannya, seakan-akan ia memiliki kelebihan dari orang-orang lain, tetapi kelebihannya itu didapatkannya dari dunia yang hitam; yang bertentangan dengan jalan yang seharusnya dilalui oleh manusia, titah Yang Maha Agung.
Demikianlah maka Kebo Sindet telah membangun kekuatannya. Kekuatan yang dinamainya sendiri Aji Bajang. Kekuatan yang tidak kasat mata, tetapi mempunyai akibat yang mengerikan.
Ketika tiba-tiba tubuh Kebo Sindet itu bergetar dan kedua tangannya mengembang, maka berdesirlah dada Empu Gandring. Orang tua itu tahu betapa mengerikan akibat sentuhan kekuatan raksasa yang tersimpan dalam Aji yang justru dinamainya Aji Bajang. Hanya mereka yang menyimpan kekuatan-kekuatan yang seimbang sajalah yang akan menyelamatkan diri dari pada kekuatan itu meskipun tidak akan dapat terlepas dari luka-luka di dalam tubuhnya. Apabila seseorang yang memiliki kekuatan seimbang dan sempat melawan Aji itu dengan kekuatan yang sama, maka benturan yang terjadi itupun akan berakibat pula bagi orang itu. Apalagi mereka yang tidak memiliki daya tahan yang cukup, maka ia akan hancur lumat menjadi ndeg-pangamun-amun.
Karena itu, maka meskipun dirinya sendiri sibuk melayani Wong Sarimpat yang melibatnya seperti angin pusaran, namun sempat pula ia berteriak, “Angger Ken Arok. Hindarilah tangannya. Orang itu siap melontarkan kekuatan terakhirnya”.
Ken Arok yang sedang waringuten itupun mendengar teriakan itu. Terasa dadanya yang sedang bergelora itu pun berdesir. Sejenak ia memandang lawannya yang bergetar seperti orang kedinginan. Tangannya mengembang dan matanya menjadi merah menyala. Sejenak Ken Arok yang liar itu tertegun diam. Meskipun ia tidak tahu, kekuatan apa yang akan memancar dari tangan Kebo Sindet, namun terasa pula olehnya bahwa kekuatan itu adalah kekuatan yang akan dapat menentukan hidup matinya.
Tetapi, Ken Arok sama sekali tidak ingin menghindarinya. Tekadnya telah bulat untuk melawan Kebo Sindet itu sampai kekuatannya yang terakhir. Sebagai hantu yang pernah hidup di Padang Karautan yang buas, maka Ken Arok telah menjadi seorang yang sama sekali tidak mengenal takut. Hidupnya dimasa lampau yang penuh dengan kekerasan, liar dan buas, kini seakan-akan telah muncul lagi ke atas permukaan sikapnya. Namun demikian ada sesuatu yang lain tersimpan di dalam hatinya.
Yang justru dahulu belum pernah dikenalnya, meskipun pernah dirasakannya. Ia pernah terlepas dari kepungan orang-orang yang marah kepadaya, karena ia mencuri di Pamalantenan. Hanya dengan dua helai daun tal ia berhasil menyeberangi sebuah sungai dan lari ke Nagamasa. Saat itu ia sama sekali tidak tahu, kenapa ia dapat berbuat demikian. Dan ia sama sekali tidak tahu, suara apakah yang didengarnya dan memberinya petunjuk itu.
Tetapi sekarang ia telah mengenalnya. Dari Empu Purwa, guru Mahisa Agni, ia pernah mendapatkan setitik terang yang kemudian menjadi semakin jelas baginya ketika ia bertemu dengan seorang Brahmana yang bernama Lohgawe, yang membawanya ke Istana Tumapel, dan menyerahkannya sebagai seorang abdi dari Akuwu Tunggul Ametung.
Orang tua itu masih saja melihat Ken Arok terlempar, terbanting dan berguling-guling menghindari serangan lawannya. Sekali ia melenting sambil menerkam lawannya, untuk kemudian terlempar kembali beberapa langkah. Sekali-kali terdengar ia mengeluh pendek, tetapi lambat laun suara itu terdengar seperti hantu yang sedang marah.
Tiba-tiba Empu Gandring menjadi tegang ketika ia melihat sesuatu. Darahnya serasa berhenti mengalir. Selangkah ia maju sambil menajamkan matanya. Bukan saja mata wadagnya, tetapi juga mata batinnya. Terasa dadanya kemudian bergetar semakin cepat. Tanpa sesadarnya ia berpaling memandangi wajah Wong Sarimpat. Dan wajah itu pun menegang seperti seutas tali yang hampir putus karena tarikan kedua ujungnya.
“He, tukang keris“ Wong Sarimpat itu hampir berteriak, “kau lihat itu?”
Empu Gandring tidak segera menyahut. Ternyata Wong Sarimpat betapapun kasarnya, namun ia telah berhasil melihat pula. Agaknya kekuatan yang tersimpan di dalam diri orang itu pun telah mampu menerima getaran yang aneh, yang memancar dari diri Ken Arok.
“Ternyata anak itu benar-benar anak setan”.
“Kau melihatnya?” desis Empu Gandring.
“Ya. Itulah sebabnya maka tubuhnya kuat seperti seekor gajah kerdil”.
Empu Gandring terdiam. Tetapi debar di dalam dadanya menjadi semakin lama semakin cepat. Dan apa yang dilihatnya menjadi semakin jelas. Tidak sekedar dengan mata wadagnya. Dengan jantung yang bergolak Empu Gandring dan Wong Sarimpat melihat sebuah bayangan warna kemerah-merahan yang seakan-akan memancar dari ubun-ubun Ken Arok. Tidak begitu jelas. Tetapi keduanya yakin bahwa mereka telah melihatnya. Seperti yang pernah dilihat oleh Empu Purwa di Padang Karautan.
Perlahan-lahan Empu Gandring berdesis, “Adalah manusia yang terpilihlah yang memiliki tanda-tanda demikian”.
“Anak iblis“ geram Wong Sarimpat.
Empu Gandring tidak menjawab. Namun timbullah sedikit harapan padanya, bahwa Ken Arok memiliki kelebihan yang meyakinkan dari anak-anak muda sebayanya. Tanda itu telah memberitahukan kepadanya, bahwa Ken Arok bukanlah anak-anak muda kebanyakan saja meskipun tandangnya kasar sekasar Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.
Wong Sarimpat pun melihat kelebihan itu, meskipun Dengan mulut yang mengumpat-umpat. Ia tidak tahu pasti, apakah yang telah menimbulkan bayangan kemerahan di atas ubun-ubun anak itu. Tetapi, iapun pernah mendengar dongeng-dongeng tentang anak-anak terpilih. Karena itu, maka ia menjadi sedemikian marahnya, bahwa anak muda yang memiliki kelebihan itu memihak Mahisa Agni.
“He, pande keris“ teriaknya “apakah kau sangka warna itu akan dapat menyelamatkannya?”
“Aku tidak tahu“ sahut Empu Gandring, “warna itu adalah warna keberanian”.
“Setan, iblis“ lagi-lagi orang itu mengumpat-umpat dengan mulutnya yang kotor, “ia akan mati terbunuh oleh kakang Kebo Sindet, dan warna itu akan padam dari kepalanya”.
“Marilah kita lihat”.
“Tidak. Aku tidak hanya ingin sekedar melihat, tetapi aku ingin berkelahi seperti orang lain. Ayo, bersiaplah Empu tua”.
Belum lagi Empu Gandring menjawab, Wong Sarimpat telah melompat menyerangnya sambil berteriak, “Aku akan segera membunuhmu. Kemudian aku ingin turut membuktikan, apakah anak muda itu benar-benar tak dapat dicincang kulit dagingnya”.
Tetapi Empu Gandring pun telah cukup mempersiapkan diri. Karena itu, maka ia pun sempat menghindari serangan Wong Sarimpat. Bahkan dengan cepatnya, tangannya menyambar tengkuk lawannya.
“Kaupun anak setan“ teriak Wong Sarimpat ketika terasa sebuah sambaran tangan
Empu Gandring hampir menyentuh tengkuknya, Orang itu terpaksa menghindar, sehingga hampir-hampir ia kehilangan keseimbangan. Tetapi ia tidak meneruskan kata-katanya, sebab ia melihat Empu Gandring tidak membiarkannya. Orang itu pun segera bersiap untuk menghindari serangan-serangan berikutnya, yang datang seperti banjir menghantam tebing.
“Kau pun menjadi gila dan liar“ teriak Wong Sarimpat.
Tetapi dirinya sendirilah yang menjadi semakin liar dan buas. Tata geraknya segera menjadi kasar, sekasar kakaknya Kebo Sindet. Namun Empu Gandring tidak menjadi bingung. Ia tahu, apa yang harus dilakukan melawan orang-orang liar seperti Kebo Sindet dan Wong Sarimpat, sehingga betapa liarnya lawannya, namun Empu Gandring masih juga tetap tenang. Sekali-kali ia sempat melihat perkembangan keadaan Ken Arok dan Kebo Sindet yang bertempur semakin ribut.
Kebo Sindet sendiri, yang berkelahi dengan Ken Arok tidak segera melihat warna kemerah-merahan di ubun-ubun lawannya. Dengan penuh kemarahan Kebo Sindet berusaha melumatkan lawannya dengan tangannya. Meskipun berkali-kali ia tidak berhasil memecahkan dada anak muda itu, tetapi ia masih percaya bahwa Ken Arok tak akan dapat dihancurkannya. Itulah sebabnya Kebo Sindet masih saja berkelahi dengan tangannya. Ia tahu benar bahwa ilmu lawannya sama sekali tidak berarti untuk melawannya. Namun ketahanan tubuh anak itu benar-benar memusingkan kepalanya. Bahkan kadang-kadang timbul kecemasan di dalam dirinya, apakah ilmunya telah lebur?.
Demikianlah, maka perkelahian itu menjadi kian seru. Tandang Ken Arok benar-benar menjengkelkan sekali bagi Kebo Sindet yang garang dan buas. Seakan-akan ia sedang berhadapan Dengan Aji Candra Birawa. Ia pernah mendengar, bahwa seseorang mampu membangunkan kekuatan yang tanpa batas. Kadang-kadang dapat berwujud seorang raksasa. Kalau, raksasa itu terbunuh, maka mayatnya akan membelah, dan datanglah kemudian dua orang raksasa. Demikianlah setiap kali dibinasakan, maka kekuatan itu pun menjadi berlipat.
“Apakah anak ini memiliki aji ini?” desisnya di dalam hati, “Setiap kali kekuatannya terhantam, maka seakan-akan tubuhnya menjadi semakin kuat. Kalau ia terbanting jatuh, maka segera ia bangkit dengan kesigapan yang berlipat. Tetapi anak setan ini harus mati“ geramnya sambil mempertajam serangan-serangannya, sehingga semakin lama menjadi semakin dahsyat.
Namun akhirnya Kebo Sindet itu mampu melihat bayangan kemerah-merahan di atas ubun-ubun Ken Arok. Semula orang itu menyangka, bahwa kemarahannya telah menumbuhkan bayangan-bayangan yang tak dikenalnya. Tetapi ternyata warna merah itu meloncat, melontar dan meluncur bersama-sama dengan kepala lawannya. Warna itu memancar dari ubun-ubun kepala itu.
“Gila“ desisnya, “apakah anak ini anak pilihan?”
Kebo Sindet mengumpat-umpat di dalam hatinya. Selama ini ia tidak pernah memikirkan persoalan serupa itu. Ia tidak mengenal kepada kekuatan-kekuatan di luar dirinya dan lingkungannya yang kasat mata maupun yang tidak kasat mata. Tetapi ia tidak mengenal suatu kekuasaan yang Agung meskipun pernah didengarnya. Tiba-tiba sekarang ia berhadapan dengan warna itu. Menurut dongeng yang pernah didengarnya, warna yang memancar dari ubun-ubun adalah pertanda bahwa orang itu adalah orang pilihan. Orang piniji. Itulah sebabnya maka ia memiliki kekuatan dan ketahanan tubuh melampui manusia biasa.
Sejenak, perasaan Kebo Sindet dilanda oleh kebimbangan. Namun kembali ia menguatkan hatinya. Dengan gigi gemeretak ia menggeram di dalam dadanya “Betapapun juga, ia adalah manusia. Berapa kuat ketahanan tubuhnya, tetapi kulit dagingnya pasti akan dapat menjadi lumat”.
Dengan demikian, maka tandang Kebo Sindet menjadi semakin buas dan liar. Demikian juga Ken Arok. Semakin garang ia berkelahi, nyala di atas ubun-ubunnya seolah-olah menjadi semakin terang.
Disisi lain, Kuda Sempana pun berkelahi dengan nafsu yang semakin menyala. Kini ia tidak lagi sekedar digerakkan oleh perintah Kebo Sindet, tetapi ia benar-benar berusaha membunuh Mahisa Agni. Ia tidak lagi mengingat apakah dendamnya bertimbun setinggi gunung, namun dalam perkelahian ini, ia ingin membunuh secepat-cepatnya.
Tetapi Mahisa Agni pun berkelahi dengan kemarahan yang meluap-luap. Ia ingin menghentikan petualangan anak muda itu. Ia ingin Kuda Sempana tidak lagi dapat melakukan kejahatan. Baik terhadap dirinya sendiri, terhadap Ken Dedes, terhadap orang-orang Panawijen maupun terhadap bendungan yang sedang dikerjakannya. Karena itu, maka ia harus dapat melumpuhkan lawannya. Menangkap atau kalau terpaksa anak muda itu terbunuh, adalah bukan semata-mata karena kebencian dan dendam, tetapi ia didorong oleh suatu kuwajiban untuk suatu kepentingan yang lebih besar dari kepentingannya sendiri.
Dorongan itulah yang telah memaksa Mahisa Agni bertempur mati-matian. Apalagi kalau diingatnya, bahwa sebentar lagi, tangan-tangan Kebo Sindet atau Wong Sarimpat pasti akan mencekiknya. Itulah sebabnya, ia merasa bahwa ia harus segera menyelesaikan tugasnya sebelum Ken Arok tidak lagi berdaya melawan Kebo Sindet.
Tetapi Kuda Sempana sekarang sudah lain dengan Kuda Sempana yang selalu dikalahkannya. Kuda Sempana kini, adalah Kuda Sempana yang menjadi bertambah kasar, liar tetapi bertambah kuat dan cekatan. Kuda Sempana itu mampu meloncat secepat burung sikatan dan menyambar segarang elang di udara. Merangsangnya seliar serigala dan menerkam sebuas harimau lapar.
Dengan demikian maka Mahisa Agni itu pun harus bertempur sekuat tenaganya, setinggi kemampuannya. Dikerahkannya segenap ilmunya lahir dan batin untuk mengalahkan lawannya. Tetapi pekerjaan itu bukanlah pekerjaan yang mudah, semudah memijat wohing ranti. Tetapi ia harus berjuang memeras segenap kemampuan yang ada padanya. Namun sampai beberapa lama, ia sama sekali belum melihat tanda-tanda bahwa usahanya itu akan segera berhasil. Bahkan setiap kali ia harus meloncat menghindari ujung pedang Kuda Sempana yang mematuk-matuk seperti seribu kepala ular yang menyerangnya bersama-sama dari segala penjuru.
Tetapi, Kuda Sempana pun telah dibasahi oleh keringat yang mengalir dari segenap lubang kulitnya. Betapa ia berusaha membinasakan lawannya, tetapi lawannya bukan dengan suka rela menyerahkan kepalanya, pasrah pati-urip. Karena itu, maka pekerjaannya adalah sesulit menangkap kijang di padang rumput dengan tangannya.
Tidak kalah ributnya adalah Wong Sarimpat. Sekali-kali terdengar orang itu berteriak nyaring, sehingga suaranya membentur dinding-dinding halaman, melingkar-lingkar memenuhi padukuhan yang sepi. Namun sejenak kemudian Panawijen itu telah diterkam oleh ketakutan yang amat sangat. Beberapa orang akhirnya mendengar hiruk pikuk perkelahian dan teriakan-teriakan Wong Sarimpat yang liar itu.
Mereka yang terbangun mula-mula menjadi bingung. Mereka belum tahu, suara apakah yang memecah sepinya malam, melingkar-lingkar di seluruh padepokannya. Beberapa orang laki-laki tua keluar dari rumah-rumah mereka, membawa golok dan parang pembelah kelapa dan kayu. Mengendap-endap mereka pergi ke arah suara yang hiruk pikuk dan ribut di padepokan Empu Purwa. Tetapi ketika mereka menjadi semakin dekat, maka tubuh mereka menjadi gemetar. Dalam keremangan cahaya pelita di halaman padepokan itu, mereka melihat lingkaran-lingkaran perkelahian. Perkelahian yang belum pernah mereka lihat.
Sejenak, mereka terpaku di balik dinding halaman. Sekali-kali mereka mengintip dari atas dinding sambil berdiri di atas bongkahan batu padas. Namun kemudian mereka pun kembali bersembunyi di balik dinding-dinding itu. Tak sepatah kata yang dapat mereka ucapkan di antara mereka. Sekali-kali mereka saling berpandangan. Namun kemudian mereka menggigil ketakutan.
Dada mereka serasa akan pecah ketika tiba-tiba mereka mendengar teriakan Wong Sarimpat nyaring, “He yang berdiri di balik dinding. Ayo, jangan bersembunyi. Kalau kalian cukup jantan. Inilah Wong Sarimpat dari Kemundungan”.
Tetapi kata-kata itu terhenti ketika serangan Empu Gandring hampir merobek mulutnya. Dengan lincahnya ia meloncat mundur. Golok yang kini telah berada di tangannya berputar seperti baling-baling. Tetapi setiap kali bunga api memercik tinggi apabila golok itu membentur keris Empu Gandring. Keris yang tidak kalah besarnya dari golok itu.
Ketika ketiga orang yang menjemput Mahisa Agni sampai di tempat itu pula, maka mereka menjadi gemetar. Teringatlah apa yang dirisaukan oleh orang tua yang ternyata adalah paman Mahisa Agni dan pemimpin prajurit dari Tumapel. Kini mereka menyadari kebenaran dari kecemasan orang-orang itu. Sehingga karena itu, maka alangkah mereka menyesal. Apabila terjadi sesuatu atas Mahisa Agni, maka mereka menjadi salah satu sebab dari bencana itu.
“Siapakah mereka?” bisik salah seorang dari ketiga orang itu.
Kawannya menggelengkan kepalanya. Tetapi kembali mereka terkejut ketika Wong Sarimpat sempat menjawab sambil bertiak “Kami adalah Wong Sarimpat, Kebo Sindet dan Kuda Sempana dari Kemundungan”.
Ketiga orang itu terbungkam. Tetapi di samping ketakutan dan kecemasannya, terbayanglah wajah ayah Kuda Sempana yang seolah-olah telah mendorong mereka menjemput Mahisa Agni dan kini tiba-tiba mereka mendengar bahwa di antara mereka terdapat Kuda Sempana. Ketiga orang-orang tua yang menjemput Mahisa Agni ke Padang Karautan itu merasakan sesuatu yang tidak pada tempatnya dengan ayah Kuda Sempana. Apakah ayah Kuda Sempana itu telah menjadi alat anaknya untuk menciderai Mahisa Agni? Tiba-tiba salah seorang dari mereka menggamit kawannya. Kawannya itupun mengangguk dan mereka bertiga pun meninggalkan tempat itu. Setelah cukup jauh dari padepokan Empu Purwa, maka salah seorang dari mereka berkata,
“Kita ke rumah ayah Kuda Sempana. Ia harus bertanggung jawab atas semua peristiwa ini.”
“Marilah kakang“ jawab yang lain, tetapi nada suaranya terasa diselubungi oleh kebimbangan, “tetapi apakah tidak ada orang lain di rumah itu. Kawan-kawan orang yang datang dari Kemundungan itu?”
Yang lain menjadi ragu-ragu pula, katanya, “Ya, apakah di rumah itu tidak ada orang lain lagi yang akan dapat memenggal leher kami”.
Sejenak mereka berdiam diri. Hanya langkah-langkah mereka sajalah yang terdengar gemerisik di atas tanah berbatu. Lamat-lamat mereka masih mendengar suara Wong Sarimpat menjerit-jerit. Dan tiba-tiba Kuda Sempana yang menjadi semakin kasar pun sekali-kali memekik tinggi pula.
Tetapi, orang-orang tua itupun kemudian dijalari oleh perasaan yang aneh. Karena mereka merasa, bahwa mereka telah turut serta menjerumuskan Mahisa Agni, maka mereka pun seakan-akan mendapat suatu keberanian untuk berbuat sesuatu. Mereka yang selama ini tidak pernah menggenggam senjata, kini parang pembelah kayu itu merupakan senjata yang memberi mereka ketabahan.
“Ayah Kuda Sempana harus bertanggung jawab“ desis mereka di dalam hati.
Dengan hati-hati mereka berjalan menyelusuri jalan-jalan padukuhan menuju ke rumah Kuda Sempana. Karena di dalam perkelahian itu hadir Kuda Sempana, maka mereka mengharap bahwa ayahnya akan dapat mereka temui seorang diri. Dari kejauhan mereka melibat pelita yang menyala di dalam rumah Kuda Sempana. Beberapa berkas sinarnya melontar menyelusup lubang-lubang dinding jatuh di halaman yang gelap gulita. Rumah itu tidak terlampau besar, tetapi juga tidak terlampau kecil. Pada saat Kuda Sempana masih seorang pelayan dalam, maka rumah itupun tampak terpelihara baik. Tetapi kini, semak-semak yang liar tumbuh di sekeliling halaman. Bahkan regol dan pintunya kini sama sekali sudah hampir tidak terbentuk lagi.
“Mudah-mudahan orang itu ada di rumahnya“ gumam salah seorang.
“Aku kira ia ada di rumah“ sahut yang lain.
Perlahan-lahan, mereka mendekati pintu rumah itu. Salah seorang dari mereka mencoba mengintip ke dalamnya lewat lubang dinding yang menganga selebar hitam mata. Tetapi tak sesuatu yang dilihatnya.
“Apakah kita ketuk pintunya?” bertanya salah seorang. “Ketuklah pintu“ sahut yang lain.
Salah seorang dari mereka pun segera mengetuk pintu. Sekali dua kali, tetapi tidak terdengar jawaban.
“Apakah orang itu sudah tidur?”
Yang lain tidak sabar lagi. Diketuknya semakin keras. Namun masih belum ada jawaban. Akhirnya mereka tidak dapat menahan diri. Sejenak mereka berbincang. Dan akhirnya mereka memutuskan untuk memecah pintu itu dengan paksa. Meskipun dengan agak bersusah payah, akhirnya ketiganya berhasil merusak pintu. Dengan hati-hati mereka masuk ke dalamnya. Senjata-senjata mereka telah berada di dalam genggaman, seperti seorang pahlawan yang sedang mencari lawannya yang bersembunyi. Tetapi ternyata rumah itu telah menjadi kosong. Mereka sama sekali tidak menemukan seorang pun di dalamnya.
“Kosong“ desis salah seorang dari mereka.
“Mungkin bersembunyi“ sahut yang lain.
Dengan sangat hati-hati mereka bertiga mencari ayah Kuda Sempana. Beriringan kesegenap sudut. Namun meskipun pelita terpasang hampir di setiap ruang, mereka tidak menemukan seorang pun.
“Gila. Orang itu telah merasa dirinya bersalah. Karena itu maka ia melarikan dirinya”.
“Hem“ yang lain menggeram. Tetapi tidak ada sesuatu yang dapat dilakukannya.
Meskipun demikian sekali lagi mereka meneliti setiap sudut. Di bawah kolong-kolong amben, di belakang geledeg dan di sisi-sisi paga. Tetapi mereka tetap tidak menemukan seseorang.
“Lalu“ desis salah seorang dari mereka, “apa yang akan kita kerjakan?”
Sejenak mereka bertiga terdiam. Sementara itu angin malam berhembus masuk kedalam rumah itu lewat pintu yang masih menganga. Di luar gelap yang pekat seakan-akan menyumbat setiap lubang dinding rumah.
“Kita kembali“ tiba-tiba salah seorang berkata.
“Kembali kemana?” bertanya yang lain.
“Kembali ke tempat perkelahian tadi. Kuda Sempana lah yang harus bertanggung jawab atas semua peristiwa ini. Karena kebodohan kita, maka kita telah menjadi alatnya. Maka kita pun harus menebus kebodohan itu.”
“Apa yang akan kita lakukan?”
“Membunuh Kuda Sempana”.
“He?” seorang yang lain menjadi ngeri mendengar jawaban itu, seakan-akan mereka mampu membunuh Kuda Sempana.
“Ya. Kita membunuh Kuda Sempana bersama angger Mahisa Agni”.
“Anak itu bukan lawan kita”.
“Kita hanya membantu. Membantu angger Mahisa Agni. Betapapun lemah tenaga kita, tetapi kita akan dapat membantu mengurangi kesungguhan perhatian Kuda Sempana atas Mahisa Agni”. Tetapi bukan sekedar menarik perhatiannya, bahkan mungkin ujung pedangnya.
“Kalau ujung pedangnya menghunjam ke dada kita itu adalah sekedar akibat dari kebodohan kita. Kenapa kita telah memanggil angger Mahisa Agni kepedukuhan ini?”
Kedua kawannya yang lain menjadi tegang. Namun kemudian mereka pun berkata, ”Mari. Kita kembali kepadepokan Empu Purwa. Kita lihat, siapakah yang menang dalam perkelahian itu.”
“Kita tidak akan hanya sekedar melihat”.
“Baik. Kita ikut berkelahi”.
“Sampai akibat yang paling parah”.
“Sampai mati”.
Maka bulatlah tekad mereka untuk bertempur membantu Mahisa Agni. Mereka merasa, bahwa mereka telah menyeret Mahisa Agni kedalam bencana. Dengan tergesa-gesa, mereka meninggalkan rumah Kuda Sempana. Dibiarkannya pintu rumah itu menganga. Dan dibiarkannya lampu-lampu rumah itu menyala sebesar-besarnya.
Sejenak kemudian mereka pun telah sampai kembali di tempat perkelahian antara raksasa-raksasa itu terjadi. Perlahan-lahan mereka mendekati dinding halaman Padepokan Empu Purwa. Beberapa orang masih saja mengerumuni tempat itu dari jauh. Mereka tidak berani mendekat, apalagi melihat. Tetapi mereka pun tidak mau meninggalkannya, karena mereka ingin tahu, apakah yang akan terjadi. Ketika mereka bertiga, mencongakkan kepala-kepala mereka hampir saja mereka terpelanting jatuh ketika mereka mendengar suara Wong Sarimpat,
“Ayo, siapa yang akan membantu, Kemarilah”.
Ketiganya menjadi seakan-akan membeku pada dinding halaman. Kebulatan tekad mereka sama sekali tidak lagi mereka ingat. Apalagi turut berkelahi di pihak Mahisa Agni, sedang melihat kilatan senjata mereka yang sedang berkelahi itu pun mereka seolah-olah telah menjadi mati kaku.
Meskipun demikian, mereka masih sempat melihat perkelahian yang mengerikan itu. Mereka masih melihat betapa Ken Arok berkelahi seperti orang kesurupan. Tanpa menghiraukan apapun anak muda itu mengamuk sejadi-jadinya. Meloncat menerkam, memukul, menerjang dan segala macam gerak yang memusingkan kepala. Kebo Sindet pun menjadi pusing pula karenanya. Hampir-hampir ia kehilangan akal untuk menjatuhkan lawannya yang gila dan liar. Lebih liar dan buas dari dirinya sendiri.
“Anak setan ini benar-benar mengerikan“ desis Kebo Sindet di dalam hatinya. Meskipun demikian, ia sama sekali belum mempergunakan senjatanya.
Kini keinginannya bukan saja ingin menghancurkan dan membunuh lawannya, namun timbul pula keinginannya untuk melihat sampai dimana kekuatan dan ketahanan tubuh anak muda yang ubun-ubunnya bercahaya kemerah-merahan. Karena itu, betapapun juga, Kebo Sindet masih saja melawannya dengan anggauta badannya. Sekali-kali dihantamnya dada anak muda itu sehingga terpelanting beberapa langkah. Baru saja anak muda itu melenting berdiri, maka kakinya telah mengenai lambungnya, sehingga Ken Arok terangkat tinggi-tinggi, melayang di udara untuk jatuh seperti sepotong tonggak yang basah. Tetapi sekali lagi ia meloncat bangkit dengan pisaunya ditangan kanan dan kuku-kukunya yang mengembang di tangan kiri.
“Gila. Benar-benar gila“ Kebo Sindet menggeram. Ia adalah seorang yang pilih tanding. Seorang yang sudah kenyang mencicipi segala macam bentuk kehidupan. Yang paling lunak sampai yang paling kasar. Tetapi belum pernah dijumpainya sejenis manusia seperti yang kini sedang dilawannya.
Orang yang kini berkelahi melawannya dan bernama Ken Arok itu memiliki ketabahan tubuh yang luar biasa. Namun justru karena itu, maka ia menjadi semakin tertarik kepada anak muda itu. Semakin sulit ia menjatuhkan lawannya, semakin tajam keinginannya untuk mengukur titik akhir dari ketahanan tubuh Ken Arok.
Tetapi, akhirnya Kebo Sindet menyadari, bahwa kunci dari pertempuran itu ada padanya. Adiknya, Wong Sarimpat yang bertempur melawan Empu Gandring. Rasa-rasanya tidak akan segera dapat mengakhiri perkelahian. Bahkan menurut penilaian Kebo Sindet, maka sampai seminggu pun adiknya tidak akan memenangkan pertempuran itu. Menilik ketenangan dan keyakinan setiap geraknya, maka agaknya Empu Gandring masih lebih banyak menyimpan tenaga daripada adiknya. Sehingga apabila perkelahian itu dibiarkannya sampai sehari dua hari, maka adiknya, Wong Sarimpatlah yang akan lebih dahulu susut tenaganya.
Sedang Kuda Sempana pasti tidak akan dapat mengalahkan Mahisa Agni. Kebo Sindet masih sempat melihat sekilas-sekilas perkelahian antara kedua anak muda itu. Dan Kebo Sindet masih melihat beberapa kekurangan Kuda Sempana. Dengan demikian, maka ia harus segera mengakhiri perkelahian itu. Kalau ia berhasil melumpuhkan lawannya atau membunuhnya sekali, maka ia akan segera dapat membantu kawan-kawannya yang lain.
Tiba-tiba Kebo Sindet itu pun menggeram. Ia kini tidak mau bermain-main lagi. Ia sudah cukup lama merasakan keliatan tubuh lawannya. Dan kini ia benar-benar ingin menghancurkannya. Tetapi tidak dengan senjata tajam. Ken Arok harus lumat dengan tangannya. Kebo Sindet itu pun segera memusatkan segenap kekuatan lahir dan kekuatan yang tersimpan di dalam dirinya. Kekuatan yang bersumber pada kekuatan sesat. Meskipun dalam ungkapannya, seakan-akan ia memiliki kelebihan dari orang-orang lain, tetapi kelebihannya itu didapatkannya dari dunia yang hitam; yang bertentangan dengan jalan yang seharusnya dilalui oleh manusia, titah Yang Maha Agung.
Demikianlah maka Kebo Sindet telah membangun kekuatannya. Kekuatan yang dinamainya sendiri Aji Bajang. Kekuatan yang tidak kasat mata, tetapi mempunyai akibat yang mengerikan.
Ketika tiba-tiba tubuh Kebo Sindet itu bergetar dan kedua tangannya mengembang, maka berdesirlah dada Empu Gandring. Orang tua itu tahu betapa mengerikan akibat sentuhan kekuatan raksasa yang tersimpan dalam Aji yang justru dinamainya Aji Bajang. Hanya mereka yang menyimpan kekuatan-kekuatan yang seimbang sajalah yang akan menyelamatkan diri dari pada kekuatan itu meskipun tidak akan dapat terlepas dari luka-luka di dalam tubuhnya. Apabila seseorang yang memiliki kekuatan seimbang dan sempat melawan Aji itu dengan kekuatan yang sama, maka benturan yang terjadi itupun akan berakibat pula bagi orang itu. Apalagi mereka yang tidak memiliki daya tahan yang cukup, maka ia akan hancur lumat menjadi ndeg-pangamun-amun.
Karena itu, maka meskipun dirinya sendiri sibuk melayani Wong Sarimpat yang melibatnya seperti angin pusaran, namun sempat pula ia berteriak, “Angger Ken Arok. Hindarilah tangannya. Orang itu siap melontarkan kekuatan terakhirnya”.
Ken Arok yang sedang waringuten itupun mendengar teriakan itu. Terasa dadanya yang sedang bergelora itu pun berdesir. Sejenak ia memandang lawannya yang bergetar seperti orang kedinginan. Tangannya mengembang dan matanya menjadi merah menyala. Sejenak Ken Arok yang liar itu tertegun diam. Meskipun ia tidak tahu, kekuatan apa yang akan memancar dari tangan Kebo Sindet, namun terasa pula olehnya bahwa kekuatan itu adalah kekuatan yang akan dapat menentukan hidup matinya.
Tetapi, Ken Arok sama sekali tidak ingin menghindarinya. Tekadnya telah bulat untuk melawan Kebo Sindet itu sampai kekuatannya yang terakhir. Sebagai hantu yang pernah hidup di Padang Karautan yang buas, maka Ken Arok telah menjadi seorang yang sama sekali tidak mengenal takut. Hidupnya dimasa lampau yang penuh dengan kekerasan, liar dan buas, kini seakan-akan telah muncul lagi ke atas permukaan sikapnya. Namun demikian ada sesuatu yang lain tersimpan di dalam hatinya.
Yang justru dahulu belum pernah dikenalnya, meskipun pernah dirasakannya. Ia pernah terlepas dari kepungan orang-orang yang marah kepadaya, karena ia mencuri di Pamalantenan. Hanya dengan dua helai daun tal ia berhasil menyeberangi sebuah sungai dan lari ke Nagamasa. Saat itu ia sama sekali tidak tahu, kenapa ia dapat berbuat demikian. Dan ia sama sekali tidak tahu, suara apakah yang didengarnya dan memberinya petunjuk itu.
Tetapi sekarang ia telah mengenalnya. Dari Empu Purwa, guru Mahisa Agni, ia pernah mendapatkan setitik terang yang kemudian menjadi semakin jelas baginya ketika ia bertemu dengan seorang Brahmana yang bernama Lohgawe, yang membawanya ke Istana Tumapel, dan menyerahkannya sebagai seorang abdi dari Akuwu Tunggul Ametung.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar