MENU

Ads

Rabu, 11 Maret 2026

Pelangi di Langit Singasari 128

Dengan demikian, maka ia sama sekali tidak gentar melihat sikap Kebo Sindet. Ia sama sekali tidak gentar, seandainya ia akan hancur lumat dan mati. Tak pernah ia berbuat seperti saat ini. Pasrah kepada Kekuasaan Tertinggi. Pasrah, sama sekali pasrah. Ken Arok merasa pernah dilepaskan dari maut justru sebelum ia mengenal-Nya. Kalau kini ia harus hancur dan lumat menjadi debu, maka apapun yang dilakukannya, justru lari sekalipun, maka ia pasti tidak akan terhindar dari padanya.

Ken Arok sendiri tidak sadar, apa yang kemudian dilakukannya. Tiba-tiba saja, tanpa dikehendakinya sendiri, ia berdiri tegak pada kedua kakinya. Dengan pasrah diri sepasrah-pasrahnya, ia memusatkan segenap daya rasa dan nalarnya. Tanpa sesadarnya pula ia telah membangunkan segenap kekuatan yang ada padanya dalam pemusatan diri di luar kehendaknya. Itu adalah suatu bentuk pemusatan kekuatan yang justru dilambari oleh kepercayaan yang bulat kepada Yang Maha Agung, tanpa dimengertinya sendiri.

Justru Empu Gandring lah yang menjadi sangat cemas melihat sikap Ken Arok yang sama sekali tidak berusaha untuk menghindar. Bahkan, orang tua itu melihat Ken Arok dengan tenangnya menanti serangan Kebo Sindet. Hilanglah kesan yang liar dan buas dari wajah anak itu, justru pada saat ia menghadapi kekuatan terakhir dari hantu Kemudungan. Wajah itu kini memancarkan keagungan dan kesentausaan tiada taranya.

Wong Sarimpat yang melihat kakaknya telah membangunkan kekuatan terakhir itu menjadi berdebar-debar pula. Apakah anak muda serupa itu benar-benar anak pilihan yang tiada tara bandingnya, sehingga seorang Kebo Sindet perlu mempergunakan Aji Bajangnya? Wong Sarimpat masih melihat cahaya kemerah-merahan di atas kepala Ken Arok, seolah-olah bahkan menjadi semakin terang.

Dalam pada itu, karena kedua-duanya ingin melihat akibat dari benturan Aji Bajang, maka tanpa berjanji perkelahian antara Empu Gandring dan Wong Sarimpat itu pun menjadi semakin kendor, dan bahkan akhirnya berhenti sama sekali. Hanya Kuda Sempana dan Mahisa Agnilah yang kemudian masih saja bertempur dengan sengitnya desak-mendesak, seperti sepasang Garuda yang berlaga di udara.

Pada saat yang demikian itulah, Kebo Sindet meloncat mirip dengan seekor burung Alap-alap yang menyambar mangsanya di langit, menukik dan tangannya terayun deras sekali ke dada lawannya yang kini masih saja berdiri mematung.

Empu Gandring dan Wong Sarimpat menahan nafasnya. Sejenak kemudian mereka seakan-akan membeku melihat akibat dari pukulan Aji Bajang. Ketika tangan Kebo Sindet menyentuh dada Ken Arok, maka seakan-akan terjadilah sebuah benturan yang mengerikan. Kebo Sindet, hantu Kemundungan yang mengerikan itu tergetar dan terpaksa meloncat beberapa langkah surut untuk menyalurkan tekanan pada pangkal tangannya.

Sedang dalam pada itu Ken Arok terlempar beberapa langkah dan dengan kerasnya ia terbanting di atas tanah. Bulat-bulat seperti sebuah batu yang besar. Sama sekali tidak terdengar ia mengaduh atau berteriak kesakitan. Tak ada sama sekali terdengar ia mengeluh atau mengumpat.

Empu Gandring yang melihat anak muda itu terbanting jatuh tanpa sesadarnya, segera meloncat memburu. Dengan serta merta ia berjongkok di sampingnya dan memegang tangannya. Perlahan-lahan ia berdesis

“Angger?”

Ken Arok tidak menjawab. Wajahnya pucat pasi, seperti mayat. Tetapi Empu Gandring masih saja melihat warna yang kemerah-merahan itu tidak padam. Karena itu, harapannya masih tebal di dalam dadanya, bahwa anak itu masih mendapat perlindungan dari Yang Maha Agung. Sejenak kemudian Empu Gandring mendengar Ken Arok menarik nafas perlahan-lahan. Sangat perlahan-lahan. Tetapi sejalan dengan itu, harapan Empu Gandring pun menjadi semakin tebal. Dicobanya menempelkan telinganya pada dada anak itu, dan ia masih mendengar jantungnya berdetak.

“Ia masih hidup“ desis Empu Gandring.

Tetapi dengan demikian Empu Gandring menjadi lengah. Ia masih akan mendengar dan sempat membela diri seandainya Kebo Sindet dan Wong Sarimpat menyerangnya bersama-sama. Tetapi tidak demikian yang terjadi. Empu Gandring hanya sejenak mendengar keributan. Terlampau pendek. Dan ketika ia meloncat bangkit, darahnya benar-benar serasa terhenti. Yang dilihatnya adalah Mahisa Agni yang pingsan berada ditangan Kebo Sindet.

“Gila kau“ teriak Empu Gandring “lepaskan anak itu. Marilah kita bertempur secara jantan, meskipun seandainya kau berdua akan berkelahi berpasangan”.

Wajah Kebo Sindet sama sekali tidak bergerak. Beku. Tetapi yang terdengar adalah suara tertawa Wong Sarimpat, “Apakah kau sedang mengigau Empu. Sekian lama kita berkelahi, tetapi tak seorang pun yang dapat mengalahkan lawannya. Kini kau menantang kami berdua melawanmu. Apakah kau benar-benar akan membunuh dirimu”.

“Aku tidak peduli apa yang terjadi. Tetapi lepaskan anak itu“ suara Empu Gandring terasa bergetar karena kemarahannya. Senjatanya, sebilah keris raksasa tiba-tiba menjadi bergetar pula.

Kebo Sindet yang berwajah beku seperti mayat itu menjawab dengan suara yang bergulung-gulung di dalam perutnya, “Empu Gandring, kami tidak mempunyai kepentingan dengan kau. Karena itu pergilah. Jangan ganggu kami lagi”.

“Aku berkepentingan dengan anak itu. Ia adalah ke manakanku. Kalau kau bergerak selangkah membawanya pergi, maka aku tidak tahu, apakah aku akan berbuat curang pula seperti kalian”.

Kebo Sindet dan Wong Sarimpat saling berpandangan sejenak. Mereka tidak dapat membayangkan, apa yang dapat dilakukan oleh Empu Gandring, meskipun dirinya sendiri menyebutnya curang. Namun dengan demikian kemarahan Kebo Sindet menjadi semakin menyala di dalam dadanya. Sehingga karena itu maka katanya

“Baik. Baik Empu gila. Aku dan adikku akan bersama-sama membunuhmu. Tetapi jangan kau sangka, bahwa aku akan melepaskan kemanakanmu ini“ Kebo Sindet diam sejenak. Lalu katanya kepada Kuda Sempana, “Bawa anak ini dengan kudamu mendahului kami ke Kemundungan. Aku akan segera menyusul. Pekerjaan kami tidak lagi begitu berat. Membunuh Empu gila ini berdua”.



Kuda Sempana tidak menjawab sepatah kata pun. Di terimanya tubuh Mahisa Agni yang lepas dari tangan Kebo Sindet.

“Gila. Kau benar-benar setan alasan“ teriak Empu Gandring sambil selangkah maju.

Tetapi Wong Sarimpat telah berdiri dimukanya dengan golok ditangannya, “Jangan maju lagi Empu”.

“Persetan. Aku penggal lehermu”.

“Lakukanlah”.

Empu Gandring yang marah itu maju setapak lagi. Seakan-akan ia sama sekali tidak menghiraukan Wong Sarimpat. Dengan marahnya ia menggeram, “Aku tidak peduli, apakah aku berbuat curang atau kejam atau liar. Tetapi jagalah, sentuhan seujung rambut dari kerisku yang satu ini telah cukup mencabut nyawamu“. Dan ternyata di tangan kiri orang tua itu telah tergenggam sebilah keris yang kecil.

Kebo Sindet dan Wong Sarimpat tertegun melihat keris itu. Keris itu agak lebih kecil dari keris biasa, tetapi keris yang kecil itu seakan-akan memancarkan cahaya yang hijau suram. Kedua hantu dari Kemendungan itu segera tahu pula, bahwa pada keris yang kecil itu tersimpan semacam bisa yang tajamnya melampaui bisa ular. Itulah sebabnya maka sejenak mereka menjadi ragu-ragu.

“Aku tidak pernah bermimpi untuk mempergunakan keris ini“ desis Empu Gandring “karena itu maka keris ini tidak pernah terpisah dari padaku, supaya keris ini tidak jatuh ketangan orang lain. Tetapi, mungkin aku sekarang benar-benar telah menjadi gila. Aku terpaksa nganggar keris ini. Meskipun demikian aku masih cukup sadar memberi kalian peringatan”.

Terdengar Kebo Sindet menggeram. Tetapi wajah bekunya masih juga membeku. Namun terdengar ia menjawab “Jangan menakut-nakuti kami seperti menakut-nakuti anak-anak dengan kelabang. Betapa tajamnya racun kerismu itu Empu, namun keris itu tidak akan dapat menyentuh tubuhku”.

“Jangan terlalu sombong“ sahut Empu Gandring “kau sudah dapat menduga bahwa keris ini mengandung bisa. Memang, aku telah memberi bisa yang setajam-tajamnya pada keris ini, sekedar sebagai suatu percobaan. Tetapi menghadapi setan-setan tidak berjantung seperti kalian, maka aku terpaksa mempergunakannya. Semoga aku tidak terkutuk karenanya”.

Kebo Sindet dan Wong Sarimpat masih ragu-ragu sejenak. Tetapi, ketika mereka menyadari bahwa Kuda Sempana belum beranjak dari tempatnya, maka Kebo Sindet itu pun membentak

“Ayo, lekas bawa anak itu pergi supaya bukan kau yang akan menjadi korban pertama dari keris itu”. Kuda Sempana terkejut. Sejenak ia ragu-ragu, tetapi kemudian ia melangkah pergi.

“Berhenti“ teriak Empu Gandring.

“Jangan hiraukan“ sahut Kebo Sindet.

Dalam kebimbangan dan keragu-raguan, Kuda Sempana berjalan menuju ke tempat kudanya disembunyikan. Dalam pada itu Empu Gandring sudah tidak bersabar lagi. Cepat ia meloncat menyerang Kebo Sindet dengan sepasang keris di kedua tangannya. Sebilah keris raksasa di tangan kanan, dan sebilah keris yang berwarna hijau suram di tangan kirinya.

Tetapi lawannya adalah sepasang bantu dari Kemundungan. Hantu yang telah kenyang menghisap darah dan keringat sesama. Itulah sebabnya, maka serangannya yang pertama itu tidak mengenai serangannya. Sedang kedua iblis itu pun segera berloncatan memencar. Ketika kemudian perkelahian pula dengan sengitnya, di tangan Kebo Sindet telah tergenggam sebilah golok.

Empu Gandring yang tua, yang dibakar oleh kemarahan itu pun bertempur dengan sepenuh kemampuan dan ilmunya. Sedang kedua lawannya yang berkelahi berpasangan itu pun terlampau bernafsu pula untuk segera membunuh Empu Gandring. Dengan demikian maka perkelahian itu pun menjadi semakin dahsyat. Tenaga mereka bagaikan angin taufan yang saling berbenturan di atas lautan, sehingga kemudian timbullah gelombang yang mengerikan, hantam-menghantam, hempas-menghempas tiada henti-hentinya.

Tetapi Empu Gandring bertempur seorang diri. Lawannya, dua iblis dari Kemundungan itu berkelahi berpasangan. Hanya karena senjatanya yang mengerikan itu sajalah maka Empu Gandring masih tetap mampu bertahan. Betapa berani dan gilanya Wong Sarimpat dan Kebo Sindet, namun mereka benar-benar tidak mau tersentuh oleh keris Empu Gandring yang berwarna bijau suram itu. Itu pulalah sebabnya maka Empu Gandring masih mampu bertahan melawan keduanya. Setiap kali kerisnya itu menyambar seperti sikatan, sedang kerisnya yang lain menebas seperti baling-baling.

Namun bagaimanapun juga, ternyata kekuatan kedua orang lawannya, Kebo Sindet dan Wong Sarimpat yang bergabung itu, terlampau sukar ditandinginya. Setelah beberapa saat mereka bertempur, maka terasa, bahwa akhirnya Empu Gandring itu pun terdesak mundur. Dengan demikian maka ia tidak segera berhasil menahan Kuda Sempana, bahkan untuk mempertahankan dirinya sendiri pun, orang tua itu harus bertempur mati-matian.

Dengan hati yang pedih, Empu Gandring terpaksa membiarkan Kuda Sempana menghilang membawa Mahisa Agni yang sedang pingsan. Sejenak kemudian ia mendengar kaki kuda berderap, dan lenyap pulalah semua harapannya untuk menyelamatkan anak muda itu. Tetapi dengan demikian, kemarahannya menjadi semakin memuncak membakar ubun-ubunnya. Orang tua itu seolah-olah tidak lagi menghiraukan keseimbangan perkelahian itu. Seperti Orang yang kesurupan, Empu Gandring mengamuk sejadi-jadinya. Dan justru karena itulah, maka kedua lawannya terpaksa mengerahkan kemampuan mereka pula. Apalagi menghadapi keris yang satu yang berwarna hijau suram itu.

Perkelahian itupun kemudian menjadi semakin mengerikan. Orang-orang yang menyaksikannya dari kejauhan menggigil ketakutan. Mereka melihat dedaunan berguguran di tanah dan pepohonan menjadi tumbang, seperti padepokan itu sedang dilanda oleh angin taufan yang maha dahsyat.

Tetapi mereka yang bertempur itu tiba-tiba terkejut ketika mereka melihat Ken Arok yang terbaring diam itu mulai bergerak. Perlahan-lahan ia menggeliat, dan tiba-tiba saja ia bangkit berdiri. Sekali lagi anak muda itu mengeliat. Seperti orang yang baru terbangun dari tidurnya ia memandang berkeliling. Ketika tiba-tiba dilihatnya Empu Gandring yang sedang bertempur melawan kedua hantu dari Kemundungan itu, tampak wajahnya menjadi tegang.

Ken Arok yang bangkit dengan serta merta itu benar-benar mengejutkan ketiga orang-orang tua yang sedang berkelahi. Mereka menganggap bahwa hal itu tidak akan mungkin dapat terjadi. Anak muda itu baru saja terbanting jatuh dan pingsan. Bahkan hampir mati. Nafasnya hanya terdengar lemah sekali, dan detak jantungnya hampir berhenti. Tetapi tiba-tiba saja ia bangkit dan seperti bangun saja dari tidur yang nikmat.

Apa yang terjadi atas diri Ken Arok itu, benar-benar telah menggetarkan jantung Kebo Sindet. Dengan kekuatan yang selama ini dibanggakan ia memukul dada Ken Arok tanpa perlawanan yang berarti. Ia melihat anak itu terlempar dan terbanting jatuh. Tetapi tiba-tiba anak itu bangun kembali hanya dalam waktu yang tidak terlalu lama.

“Anak setan” Kebo Sindet mengumpat di dalam hatinya ”apakah dadanya berlapis baja?”.

Namun dengan demikian orang yang selama ini hidup di dalam dunia yang kelam, di dalam lingkungan yang liar dan buas, sebuas rimba belantara, hampir setiap hari bermain-main dengan maut, tetapi menghadapi Ken Arok terasa kengerian merayapi hatinya. Bukan karena ia takut melawan Ken Arok, sebab meskipun anak itu mempunyai daya tahan yang tiada taranya, tetapi ia pingsan juga karena pukulan Aji Bajang. Tetapi kini ia menghadapi dua orang yang mempunyai kelebihanya masing-masing. Empu Gandring dengan kerisnya yang berwarna hijau suram dan Ken Arok yang seakan-akan menyimpan tujuh nyawa rangkap di dalam dirinya

Karena itu, maka Kebo Sindet mengambil keputusan untuk melepaskan saja lawannya. Lebih baik ia pergi meninggalkan setan-setan Panawijen itu. Lebih baik ia masih sempat menikmati kemenangannya. Menyembunyikan Mahisa Agni untuk memeras Ken Dedes dengan segala macam kelicikan.

“Tetapi setan-setan ini menjadi saksi bahwa Empu Sada tidak ada di sini” katanya di dalam hati, “tetapi tidak apa. Muridnya telah mereka lihat. Mudah-mudahan mereka berpendapat bahwa kehadiranku ini adalah karena permintaan Empu Sada. Bukankah Empu Gandring pernah juga bertemu dengan Empu Sada di Padang Karautan.”

Akhirnya keputusan Kebo Sindet pun menjadi bulat. Ia mengangap bahwa Kuda Sempana telah cukup jauh mengambil jarak seandainya Empu Gandring akan mengejar mereka. Tiba-tiba Kebo Sindet itu pun memberi isyarat kepada adiknya. Dengan serta merta mereka berloncatan mundur, meskipun mereka masih tetap berkelahi.

Empu Gandring yang melihat sikap itu menjadi semakin marah. Alangkah licik lawannya. Mereka akan meninggalkan gelanggang meskipun mereka telah berkelahi berpasangan. Dan apa yang diduga itupun segera terjadilah. Kedua orang itupun segera berloncatan meninggalkan halaman, melangkahi dinding batu. Tetapi sudah tentu Empu Gandring tidak membiarkannya. Segera ia mengejarnya. Namun kedua iblis dari Kemundungan itu tidak banyak menemukan kesukaran. Sambil melawan mereka kemudian sempat mencapai kuda-kuda mereka. Bergantian mereka meloncat ke atas punggung-punggung kuda itu, dan sejenak kemudian terdengar derap kedua kuda itu memecah sepi malam.

“Pengecut” Empu Gandring berteriak mengatasi derap kaki-kaki kuda itu. Tetapi suara itu disahut oleh suara tertawa Wong Sarimpat berkepanjangan menyusur sepanjang jalan padukuhan Panawijen.

Ken Arok melihat juga kelicikan itu. Kemarahan yang memang sudah menyala di dalam dadanya serasa berkobar semakin besar. Tanpa disadarinya, iapun segera meloncat ingin mengejar mereka. Tetapi segera langkahnya terhenti. Dadanya serasa akan pecah, dan tulang-tulang iganya seolah-olah sudah tidak terpaut lagi di dadanya. Baru kini terdengar ia mengaduh perlahan-lahan sekali. Ditekankannya kedua telapak tangannya pada dadanya. Perasaan sakit itu seakan-akan dengan tiba-tiba saja menerkamnya. Perasaan itu serasa baru saja melanda dirinya. Ken Arok berdiri dengan menahan sakitnya. Ia tidak dapat berlari mengejar orang-orang yang melarikan Mahisa Agni. Karena itu betapa ia menyesal. Dadanya berdentang keras sekali ketika ia melihat Empu Gandring dengan tergesa-gesa kembali. Tetapi ketika orang tua itu melihatnya, maka iapun berhenti.

“Kenapa engkau Ngger?” bertanya Empu Gandring.

Nafas Ken Arok menjadi semakin deras mengalir. Terputus-putus ia menyahut, “dadaku Empu”.

Empu Gandring menjadi cemas melihat keadaan Ken Arok. Karena itu maka anak muda itu pun didekatinya “Bagaimana dengan dadamu?”

Ken Arok menggigit bibirnya. Tetapi ketika disadarinya bahwa Empu Gandring agaknya bermaksud mengejar kedua orang Kemundungan itu, maka jawabnya, “Tidak apa-apa Empu, hanya sedikit terasa nyeri”.

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menjadi bingung. Apakah ia akan meninggalkan Ken Arok yang sedang terluka itu, ataukah ia harus membiarkan Mahisa Agni hilang dibawa oleh Kebo Sindet dan Wong Sarimpat?.

Agaknya Ken Arok melihat kebimbangan di hati orang tua itu, maka katanya, “Empu, tinggalkanlah aku disini. Barangkali Empu Gandring dapat menyusul Kebo Sindet, setidak-tidaknya Empu mengetahui kemana Mahisa Agni itu dibawa. Kalau benar ia dibawa ke Kemundungan, maka besok Kemundungan akan aku kepung dengan prajurit Tumapel segelar sepapan. Meskipun di dalam sarang mereka ada Kebo Sindet, Wong Sarimpat dan Empu Sada sekalipun, namun prajurit-prajurit Tumapel cukup banyak untuk merampok mereka, seperti orang-orang padesan merampok macan.”

Empu Gandring masih ragu-ragu sejenak. Dan Ken Arok berkata pula, “Marilah Empu, aku ikut. Tetapi barangkali aku tidak dapat berkuda terlampau cepat. Biarlah Empu pergi lebih dahulu. Aku harap di sepanjang perjalanan sakitku sudah jauh berkurang, sehingga apabila perlu aku masih dapat membantu Empu menghadapi orang-orang itu.”

“Jangan Ngger. Sembuhkan dahulu lukamu”.

“Jangan hiraukan aku Empu. Setan-setan itu akan menjadi semakin jauh”.

Empu Gandring termenung sejenak. Anak muda yang bernama Ken Arok ini memang sangat mengherankan baginya. Anak muda itu sama sekali tidak memuntahkan darah dari mulut dan hidungnya. Justru karena itu, maka Empu Gandring merasa tidak berkeberatan untuk meninggalkannya menyusul Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Tetapi, meskipun demikian, untuk sejenak Empu Gandring berdiri termangu-mangu. Ditatapnya saja Ken Arok yang masih menekan dadanya dengan kedua telapak tangannya. Namun Ken Aroklah yang mendesaknya,

“Silahkan Empu, silahkan Empu mendahului. Aku akan segera menyusul”.

Empu Gandring itu seperti tersadar dari mimpinya. Maka jawabnya sambil meloncat mencari kudanya, “Baiklah Ngger. Aku akan pergi dahulu. Tetapi kalau Angger masih merasa sakit, sebaiknya Angger beristirahat”

Dengan tergesa-gesa Empu Gandring pergi ke tempat kudanya ditambatkan. Sejenak ia masih harus membenahi pelana kuda itu, dan sejenak kemudian terdengar kaki-kaki kuda itu berderap meninggalkan halaman padepokan Empu Purwa.

“Mereka menuju ke arah ini” desis Empu Gandring yang dengan serta merta melecut kudanya yang terasa terlampau lambat berlari.

Ken Arok kini masih tegak seorang diri di halaman padepokan Empu Purwa. Setelah keadaan menjadi agak reda, maka barulah satu dua orang cantrik berani mendekatinya. Salah seorang dari mereka bertanya.

“Apakah tuan terluka?”

“Ambilkan aku air “desis Ken Arok.

“Air apa?”

“Air. Air dingin”.

Cantrik itupun segera berlari-lari mengambil sebuah gendi yang berisi air. Sementara itu Ken Arok minta kepada seorang cantrik yang lain untuk menyiapkan kudanya.

“Inilah air itu tuan”.

Ken Arok menerima gendi itu. Ia tidak tahu, apakah obat yang paling baik untuk menyembuhkan luka-lukanya. Tetapi ia ingin minum, dan mudah-mudahan air yang dingin itu dapat meringankan sakit dadanya itu. Perlahan-lahan Ken Arok mengangkat gendi itu. Perlahan-lahan sekali karena gerak tangannya ternyata menyebabkan dadanya semakin sakit. Diangkatnya wajahnya, dan dengan hati-hati dituangkannya air gendi itu ke dalam mulutnya.

“Hem,” desisnya, “alangkah segarnya”.

Tetapi, anak muda itu pun terkejut ketika tiba-tiba rasa sakit di dadanya menjadi agak berkurang oleh segarnya air yang diminumnya. Sekali lagi ia mengangkat gendi itu. Kini gerak langannya telah tidak terasa terlampau sakit, dan diteguknya air itu sehingga habis,

“Heh” ia menarik nafas dalam-dalam. Rasa nyeri pada dada itu sudah sangat berkurang. Diberikannya kendi itu kepada cantrik yang membawanya sambil bertanya “Air apakah ini?”.

“Air. Air dingin biasa tuan”.

“Alangkah segar air dari padepokan Panawijen. Air itu ternyata telah mengurangi rasa sakit pada dadaku. Terima kasih. Kini aku telah mampu berkuda menyusul Empu Gandring”.

“Kemanakah mereka itu tuan?”.

“Aku tidak tahu. Dan aku ingin mengetahuinya”. Ken Arok itu pun kemudian perlahan-lahan berjalan ke arah kudanya. “Dadaku sudah agak baik” katanya kepada para cantrik yang mengerumuninya, “aku akan pergi menyusul Empu Gandring. Terima kasih, agaknya air padepokan ini memang mengandung obat. Aku hampir sembuh”.

Ken Arok itu pun kemudian menyentuh perut kudanya. Perlahan-lahan kuda itu berjalan meninggalkan halaman padepokan itu. Semakin lama semakin kencang. Ketika Ken Arok merasa bahwa sakit dadanya tidak menjadi semakin parah karena derap kudanya, maka kuda itu pun kemudian meluncur lebih cepat. Meskipun demikian sekali-kali Ken Arok masih harus meraba dada itu dengan tangannya. Kadang-kadang masih terasa nyeri-nyeri di dalamnya. Tetapi agaknya angin malam yang sejuk telah banyak membantu meringankan rasa sakit itu.

Dalam keheningan malam terdengar hiruk pikuk derap kaki-kaki kuda. Orang-orang yang membenamkan dirinya di bawah selembar kain karena dingin dan ketakutan menjadi semakin menggigil karenanya. Mereka mendengar derap kuda berturutan. Semula mereka mendengar seekor kuda lari seperti di kejar hantu. Kuda itu adalah kuda yang dilarikan oleh Kuda Sempana membawa Mahisa Agni. Kemudian disusul oleh kuda-kuda Wong Sarimpat dan Kebo Sindet. Sejenak kemudian sekali lagi mereka mendengar derap kaki kuda. Agaknya kuda itu adalah kuda Empu Gandring. Dan kini lagi mereka bergetar karena suara kaki-kaki kuda yang berlari kencang.

Sedang dalam pada itu, orang laki-laki yang mencoba melihat apa yang terjadi dan melihat perkelahian di padepokan Empu Purwa dari kejauhan, satu demi satu keluar dari persembunyian mereka. Dengan hati yang cemas mereka memperbincangkan apa yang telah mereka lihat. Tetapi mereka tidak jelas atas apa yang terjadi. Mereka tidak banyak mengerti, bagaimana akhir dari perkelahian itu. Tetapi ketiga orang yang telah menjemput Mahisa Agni yang mengintip lewat dinding batu halaman padepokan itu dapat mengatakan apa yang dilihatnya. Meskipun mereka tidak tahu seluruhnya, tetapi mereka melihat Mahisa Agni menjadi pingsan dan dibawa oleh Kuda Sempana. Setelah itu maka yang terjadi adalah keributan yang tidak dimengertinya. Mereka tahu bahwa Empu Gandring bertempur melawan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat, tetapi yang mereka lihat seolah-olah hanyalah sebuah angin pusaran yang dahsyat.

Malam yang dingin menjadi semakin dingin. Di langit bintang-bintang bertaburan merata disegenap penjuru. Sekali-sekali selembar awan putih yang lembut mengucap wajah langit yang biru, membelai gemerlapnya bintang-bintang yang bergayutan.

Tetapi Kuda Sempana sama sekali tidak menghiraukannya. Seperti orang yang kehilangan akal ia berpacu ke Kemundungan. Mahisa Agni yang pingsan masih juga tersangkut di punggung kuda itu pula. Sejenak kemudian ia telah meninggalkan padukuhan Panawijen. Namun, ia sama sekali tidak menyangka bahwa dari jurusan yang berlawanan sedang berpacu pula seekor kuda menuju kepadukuhan Panawijen.

Demikianlah, di dalam malam yang semakin jauh itu, berpacu beberapa ekor kuda saling berkejaran. Mereka sama sekali tidak menghiraukan dinginnya angin malam. Betapa tubuh-tubuh mereka basah oleh keringat dan embun. Tetapi kuda yang datang dari arah yang berlawanan itu pun berpacu pula seperti angin. Penunggangnya adalah seorang tua yang menjinjing sebuah tongkat panjang. Orang itu adalah Empu Sada. Setiap kali ia melecut kudanya, supaya berlari lebih cepat. Orang itu seakan-akan takut kehilangan waktu walaupun hanya sekejap.

Karena itulah maka jarak antara Empu Sada dan Kuda Sempana menjadi sangat cepat surut. Keduanya berpacu dalam satu jalur jalan, namun pada arah yang berlawanan. Yang satu meninggalkan Panawijen sedang yang lain menuju ke Panawijen. Akhirnya, ketika jarak itu menjadi semakin dekat, maka Empu Sada menengadahkan wajahnya. Lamat-lamat ia mendengar derap kaki kuda dihadapannya. Semakin lama menjadi semakin dekat.

“Hem“ desis orang tua itu, “mudah-mudahan aku berjumpa dengan mereka”.

Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Dihirupnya udara malam sepuas-puasnya, seakan-akan untuk yang terakhir kalinya. Diamatinya bintang-bintang dilangit satu demi satu. Tetapi bintang-bintang itu terlampau banyak. Ribuan, jutaan dan bahkan tidak terhitung. Tiba-tiba dada Empu Sada berdesir. Ia melihat bulan tua yang baru tumbuh mengambang di langit. Kemudian dilihatnya pula sebuah lingkaran yang luas di sekitar bulan yang sudah tua itu.

“Bulan berkalang“ desisnya pula, “agak tidak lazim. Biasanya bulan purnama lah yang berkalang. Tetapi kini, bulan yang sudah tipis, setipis alis perawan, berkalang pula”.

Tetapi Empu Sada tidak memperlambat langkah kudanya. Bahkan berkali-kali ia melecut kuda itu. Dan kuda itu menjadi semakin menggila. Ditembusnya keremangan malam dengan derapnya yang hiruk-pikuk.

“Kuda itu semakin dekat. Tetapi tidak lebih dari seekor“ gumam Empu Sada kepada diri sendiri.

Tiba-tiba Empu Sada menarik tali kekang kudanya. Dan Kudanya pun mengurangi kecepatan lajunya.

“Lebih baik aku menunggu“ gumam Empu Sada itu pula.

Tetapi ternyata penunggang kuda yang datang dari arah yang berlawanan itupun telah mendengar langkah kudanya. Dengan hati yang berdebar-debar Kuda Sempana mencoba meyakinkan pendengarannya. Dan kemudian ia pun pasti, bahwa derap kuda itu adalah derap kuda dihadapannya, bukan kuda yang menyusul di belakang.

“Siapakah yang berkuda itu?” desisnya.

“Persetan” Kuda Sempana menggeretakan giginya. Tanpa sesadarnya tangannya telah meraba hulu pedangnya, “mungkin aku akan bertemu dengan seseorang yang ingin membunuh dirinya”.

Kuda Sempana sama sekali tidak memperlambat langkah kaki kudanya. Bahkan dibiarkannya kudanya berlari semakin kencang seakan-akan berpacu dengan angin malam yang silir. Namun meskipun demikian, terasa debar jantungnya pun menjadi semakin cepat. Tetapi, Kuda Sumpana itu pun kemudian mengerinyitkan alisnya. Suara derap kuda yang didengarnya tiba-tiba berhenti seperti ditelan hantu.

“Apakah telingaku sudah tidak beres lagi“ desis Kuda Sempana, “tetapi mungkin orang yang berkuda itu berhenti setelah mendengar derap kudaku. Atau mungkin bersembunyi”.

Karena angan-angannya itu maka tiba-tiba Kuda Sempana pun memperlambat kudanya. Ia harus berhati-hati, mungkin seseorang yang bersembunyi sedang mengintainya, untuk dengan tiba-tiba menerkam dari balik gerumbul di tepi jalan.




OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar