MENU

Ads

Rabu, 11 Maret 2026

Pelangi di Langit Singasari 129

Dengan wajah yang tegang Kuda Sempana mencoba melihat dalam malam yang semakin remang-remang. Bulan yang tersembul di langit telah menolong Kuda Sempana untuk dapat melihat agak lebih terang. Tiba-tiba darah anak muda itu berdesir. Kini ia melihat sebuah bayangan yang remang-remang berada di tengah jalan. Orang berkuda.

“Itulah dia“ desis Kuda Sempana yang darahnya serasa menjadi semakin cepat mengalir.

Tanpa dikehendakinya maka dengan gerak yang menyentak ia mempercepat lagi langkah kudanya, dan pedangnya pun telah berada di dalam genggamannya. Dengan garangnya ia mendekati bayangan yang berhenti tepat di tengah-tengah jalan yang akan dilaluinya. Sebelum Kuda Sempana melihat jelas siapakah yang berada dipunggung kuda itu, maka dengan kerasnya ia berteriak sekasar Wong Sarimpat,

“He, siapakah yang berhenti di tengah jalan. Minggir, supaya kepalamu tidak terinjak kaki-kaki kudaku”.

Dada Empu Sada bergetar mendengar suara itu. Ia segera dapat mengenal siapakah yang berteriak menyapanya. Tetapi ia terkejut mendengar nada suara anak muda yang pernah diasuh sebagai murid yang sangat dimanjakannya. Alangkah kasarnya. Kuda Sempana kini sudah menjadi semakin dekat, tetapi Empu Sada masih belum menjawab.

“Minggir“ Empu Sada mendengar Kuda Sempana berteriak lagi, “cepat sebelum aku kehabisan kesabaran”.

Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Kemudian jawabnya tenang, “Berhentilah Kuda Sempana”.

Kini Kuda Sempana lah yang terkejut bukan buatan. Ia pun dapat mengenali suara itu. Suara gurunya. Karena itu, maka dengan sekuat tenaganya ia menarik kekang kudanya sambil berdesis,

“Guru. Adakah itu Empu Sada”.

“Ya. Aku adalah gurumu, Kuda Sempana. Apakah kau masih mengenalku?”.

Kuda Kuda Sempana berhenti beberapa langkah dari kuda gurunya. Dengan dada yang berdebar-debar Kuda Sempana berkata terpatah-patah, “Guru. Jadi guru masih hidup?”

“Seperti kau lihat kini Kuda Sempana. Yang duduk di atas punggung kuda ini sama sekali bukan sebuah kerangka yang hidup. Tetapi aku adalah Empu Sada yang masih utuh. Yang terdiri dari kulit daging seperti yang dapat kau lihat, seperti kau, seperti Kebo Sindet dan Wong Sarimpat”.

Darah Kuda Sempana terasa berdeburan di dalam jantungnya. Gurunya yang disangkanya sudah mati itu kini berada beberapa langkah saja dihadapannya. Namun justru karena itu maka seolah-olah membeku di atas punggung kudanya. Anak muda itu terkejut ketika ia mendengar gurunya bertanya

“Apakah yang kau bawa itu Kuda Sempana?”

Tiba-tiba terasa sepercik kebanggaan di dalam hati anak muda itu, dengan dada tengadah ia menjawab, “Guru. Setelah kita berusaha sekian lama dengan sia-sia, akhirnya maksud itu tercapai juga. Ini adalah tubuh Mahisa Agni”.

“He?” sejenak kemudian Empu Sada itu pun terbungkam. Ia melihat tubuh terkulai, tersangkut menelungkup di punggung Kuda Sempana itu pula. Dengan terbata-bata ia kemudian bertanya, “Apakah anak itu sudah mati?”.

“Belum guru. Ia baru pingsan. Paman Kebo Sindet dan paman Wong Sarimpat menghendaki ia tetap hidup”.

Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Serasa urat-uratnya yang menegang itu pun mengendor kembali. Ternyata ia masih sempat bertemu dengan Mahisa Agni yang masih hidup.

“Jadi Mahisa Agni masih hidup?”.

“Ya guru”.



“Kenapa ia tidak dibunuh saja? Olehmu atau oleh kedua iblis dari Kemundungan itu?”

“Paman Kebo Sindet dan paman Wong Sarimpat ingin melihat Mahisa Agni ketakutan. Mati terlampau cepat bagi Mahisa Agni agaknya terlampau menyenangkan”.

“Apa yang akan mereka kerjakan?”

“Aku akan membuat perhitungan dengan anak ini”.

“Apa yang akan kau lakukan?. Kau akan melakukan perang tanding di bawah saksi pamanmu Kebo Sindet dan Wong Sarimpat?”

Kuda Sempana terdiam sejenak. Ia menjadi ragu-ragu untuk menjawab. Tetapi gurunya mendesaknya “Begitu?”.

“Tidak guru“ sahut Kuda Sempana, “dalam keadaannya, aku akan dapat berbuat apa saja atasnya”.

“Dan kau akan melakukannya juga”.

Kuda Sempana merasakan pertanyaan gurunya itu agak aneh. Ia tidak melihat kegembiraan pada sikap dan kata-kata Empu Sada. Sejak lama mereka berusaha untuk dapat berbuat seperti ini, menangkap Mahisa Agni untuk melepaskan dendam yang membara di hati. Tetapi setelah ia berhasil menangkap anak muda itu, terasa pertanyaan-pertanyaan gurunya agak sumbang.

“Bagaimana Kuda Sempana, kau akan melakukan?”.

Tiba-tiba Kuda Sempana menjadi demikian bingung. Karena itu maka jawabnya “Aku tidak tahu, guru”.

“Kuda Sempana“ desis Empu Sada, “sebaiknya kau menilai dirimu sendiri. Apakah kau dapat bersikap jantan atau tidak. Kalau kau merasa dirimu laki-laki, jangan kau berbuat seperti itu. Berbuatlah seperti seorang laki-laki”.

Kuda Sempana bertambah bingung mendengar kata-kata gurunya. Ia tidak segera menangkap maksudnya. Bukankah gurunya sendiri pernah berbuat hal-hal yang dapat disebut licik dan sama sekali tidak jantan. Adalah tidak dapat dibanggakan kemenangan Empu Sada atas Mahisa Agni seandainya pada saat itu Empu Gandring tidak hadir dan seandainya saat itu Empu Sada berhasil menangkap atau membunuh anak muda itu. Sekarang gurunya itu bertanya tentang kejantanan dan sikapnya sebagai seorang laki-laki.

Karena Kuda Sempana tidak segera menjawab, maka Empu Sada berkata selanjutnya, “Kuda Sempana, sebaiknya kau hentikan perbuatanmu semacam itu. Seperti kau juga kini menyesal, bahwa aku pernah berbuat gila-gilaan”.

Kuda Sempana tidak segera menjawab, dadanya masih diliputi oleh perasaan yang bersimpang siur, bahkan tidak di kenalnya sama sekali. Itulah sebabnya maka ia masih saja duduk mematung. Empu Sada seterusnya masih berkata pula,

“Kuda Sempana. Apakah kau mengalami berbagai macam peristiwa berurutan itu hatimu masih membeku sekeras batu?”.

Kuda Sempana masih juga membeku dan Empu Sada masih melanjutkan, “Apakah yang telah kau mulai dalam perjalanan hidupmu setelah kau terpisah daripadaku Kuda Sempana?. Di tanganku kau telah aku jadikan seorang yang licik dan pendendam. Kemudian kau bergaul dengan orang-orang Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Apakah kira-kira yang kemudian tergores pada dinding hatimu? Apakah kau kemudian menyadari keadaanmu atau bahkan kau menjadi semakin buas dan garang?”.

Kuda Sempana menundukkan wajahnya. Tidak disengajanya ia memandangi tubuh Mahisa Agni yang masih saja pingsan. Beberapa hari yang lewat ia kehilangan segala macam pertimbangan dan kehendak. Bahkan hatinya benar-benar serasa membeku. Bukan karena ia ingin melakukan apa saja untuk melepaskan dendamnya, tetapi serasa ia telah kehilangan arah dan pedoman hidupnya. Ia berbuat apa saja tanpa dapat mempertimbangkan tujuan dan akibatnya. Ia berbuat seperti alat yang digerakkan oleh tenaga orang lain. Sehingga akhirnya ia berbasil berhadapan kembali dengan Mahisa Agni. Ketika ia berkelahi dengan Mahisa Agni itulah, maka keinginannya untuk membunuh ternyata telah terungkat kembali. Meskipun tidak sedahsyat semula.

“Kuda Sempana” panggil Empu Sada kemudian.

Kuda Sempana mengangkat wajahnya. Dipadanginya mata gurunya yang tajam, seakan-akan langsung menembus pusat jantungnya. Sehingga Kuda Sempana itu pun tiba-tiba menundukkan kepalanya kembali.

“Berikanlah Mahisa Agni itu kepadaku”.

Kuda Sempana terkejut mendengar permintaan gurunya itu. Wajahnya menjadi tegang dan jantungnya berdebaran. Bukan saja karena ia sendiri ingin berbuat sesuatu atas Mahisa Agni, tetapi Mahisa Agni itu kini seakan-akan bukan miliknya. Mahisa Agni itu seakan-akan hanyalah barang titipan.

“Kuda Sempana, berikan Mahisa Agni itu kepadaku” ulang gurunya.

Dalam kesuraman sinar bulan yang tinggal secabik itu Empu Sada melihat wajah Kuda Sempana memancarkan beribu pertanyaan. Wajah yang menjadi kian tegang itu sekali-sekali terangkat dan kemudian kembali menunduk.

“Apakah kau berkeberatan Kuda Sempana?” “bertanya gurunya.

“Guru“ sahut Kuda Sempana kemudian dengan penuh kebimbangan, “Aku membawa Mahisa Agni atas perintah paman Kebo Sindet”.

“Hem“ Empu Sada mengangguk-anggukkan kepalanya, “karena perintah Kebo Sindet maka kau tidak akan memberikannya kepada siapa pun juga, meskipun kepada gurumu? Adakah lebih baik bagimu melakukan perintah Kebo Sindet atau memenuhi permintaanku?”.

Sekali lagi Kuda Sempana terbungkam. Ia tidak dapat menjawab pertanyaan itu. Bahkan terasa jantungnya menjadi semakin keras berdentang di dalam dadanya dan kepalanya menjadi pening.

“Kuda Sempana“ berkata Empu Sada selanjutnya, “aku tidak akan memperhitungkan pendirianmu. Aku tetap pada pendirianku bahwa aku harus mendapatkan Mahisa Agni itu. Kalau perlu dengan segala macam cara”.

“Guru“ Kuda Sempana hampir menjerit karena ke bingungan dan sesak yang menyumbat dadanya, “aku tidak tahu apakah yang sebaiknya aku lakukan”.

“Apakah kau tidak dapat mendengar kata-kataku? Berikan Mahisa Agni kepadaku. Itulah yang harus kau lakukan”.

“Bagaimana kalau paman Kebo Sindet marah?”.

“Itu tanggung jawabku”.

“Untuk apakah sebenarnya guru memerlukan Mahisa Agni? Apakah guru ingin membunuhnya?”

“Kau tidak usah bertanya, untuk apakah Mahis Agni itu bagiku. Tetapi aku tidak akan mempergunakannya untuk memeras bakal permaisuri yang kau anggap gilai itu. Kau tahu maksudku”.

Kuda Sempana menggelengkan kepalanya. Jawabnya “Aku tidak tahu guru”.

“Kau pun telah masuk kedalam perangkapnya. Kalau kau masih mau mendengarkan nasehatku, serahkan Mahisa Agni kepadaku dan tinggalkan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat”.

Kuda Sempana terpaku di atas punggung kudanya sejenak. Kata-kata gurunya itu amat asing bagi telinganya dan bagi hatinya. Ia tidak dapat membayangkan, apakah yang akan dilakukan kemudian.

“Bagaimana?“ bertanya Empu Sada, “aku tahu, selama ini kau pasti mendapat banyak petunjuk dan ajaran-ajaran dari kedua iblis itu, yang tanpa kau sadari telah ikut berpengaruh membentuk dirimu. Tetapi itu bukan karena salahmu. Itu juga karena salahku. Aku telah membuat kau tanah yang subur bagi ajaran-ajaran Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Tetapi aku sempat melepaskan diri. Aku harap kau pun mau mendengar kata-kataku”.

Kuda Sempana duduk membeku di tempatnya. Serasa ia mendengar kata-kata gurunya itu di dalam mimpi yang mengambang. Ia tidak segera menangkap maksud dan maknanya. Tetapi Empu Sada menjelaskannya,

“Maksudku Kuda Sempana. Hentikan segala kesesatan. Jalan yang kau tempuh telah terlampau jauh. Sekarang kembalilah. Mari kita mencari jalan bersama-sama. Jalan yang terang, yang tidak digelimangi oleh segala macam noda”.

Kuda Sempana merasakan sentuhan kata-kata gurunya. Tetapi sentuhan itu agak terlampau lemah. Hatinya selama ini telah menjadi semakin keras, sekeras batu selama ia berada di dalam lingkungan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.

Namun Kuda Sempana itu menjawab, “Guru, meskipun seandainya aku ingin kembali mencari jalan lain, aku kira tak ada dunia yang sanggup menerima aku. Aku telah terdorong dalam duniaku yang sekarang. Dan aku tidak akan dapat kembali”.

Empu Sada mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Kuda-Sempana, kau masih cukup muda. Umurmu, menurut tanggapan lahirilah, masih lebih panjang dari umurku. Tetapi aku merasa, bahwa aku dapat menemukan jalan itu. Kaupun pasti akan menemukannya. Tak ada batas yang dapat menutup kemungkinan itu sampai saat terakhir dari hidup. Selama kita masih sempat merasa diri kita bersalah dan dengan ikhlas dan bersungguh-sungguh mengakui segala kesalahan untuk bertaubat, maka jalan itu selalu terbuka bagi kita”.

Sekali lagi Kuda Sempana merasakan sentuhan kata-kata itu. Secercah goresan yang tipis telah mewarnai perasaannya. Sejenak anak muda itu termenung.

“Pikirkan Kuda Sempana, sementara itu serahkan Mahisa Agni kepadaku. Aku akan menyelamatkannya. Tidak akan membunuhnya seperti apa yang akan aku lakukan beberapa waktu yang lampau. Ini adalah satu bentuk perbuatan yang bersumber pada penyesalanku itu. Kalau kau sependapat dengan aku maka lakukanlah hal yang serupa. Maka kau akan sampai ke jalan yang kau kehendaki, ke dunia yang kau ragukan apakah masih akan menerima kau kembali”.

Kuda Sempana masih duduk membeku. Wajahnya menjadi semakin lama semakin tegang, seperti pergolakan yang terjadi di dalam dadanya, semakin lama semakin dahsyat.

“Kuda Sempana. Kau tidak usah menjadi cemas, seandainya apa yang kau lakukan itu tidak dapat di mengerti oleh orang lain. Bahkan seandainya orang lain tetap menganggapmu sebagai seorang yang bersalah. Tetapi bukankah bentuk duniawi ini kadang-kadang bertentangan dengan kepentingan hidup yang kekal kelak? Jangan hiraukan sikap orang lain atas keputusanmu untuk meninggalkan duniamu yang sekarang. Kau akan menemukan jalan menuju ke dalam ketenteraman dan kedamaian yang abadi. Seandainya kau tetap dianggap bersalah dan mendapat hukuman badani, tetapi berbahagialah kau dengan hukuman badani itu. Jika kau hayati arti dari pengertian itu, maka kau akan menemukan yang seharusnya kau cari. Yang kekal, bukan yang semu. Akupun sedang mencari yang kekal itu sekarang”.

Dada Kuda Sempana serasa menjadi semakin sesak, bahkan serasa akan meledak. Terdengar suara gurunya itu gemuruh di dalam jantungnya. Tetapi bukan itu saja. Yang terdengar pula adalah suara gemuruh derap kaki-kaki kuda semakin lama menjadi semakin dekat. Ternyata derap kaki kuda itu telah membuatnya terlampau gugup. Sentuhan kata-kata Empu Sada yang sedikit demi sedikit tergores dihatnya, tiba-tiba menjadi terpecah-belah, bercerai-berai seperti asap di hembus angin.

Yang didengarnya kini hanyalah derap kaki-kaki kuda. Kuda Sempana segera dapat menebak, bahwa deru kaki-kaki kuda itu adalah Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Tetapi Kuda Sempana tidak dapat menduga, bagaimanakah akhir dari perkelahian antara kedua iblis itu dengan kedua lawan-lawannya. Apakah Ken Arok benar-benar dapat dibunuh oleh Kebo Sindet dan kemudian bersama-sama dengan Wong Sarimpat membunuh Empu Gandring, atau kedua hantu itu sekedar menghindari lawan-lawannya.

Empu Sada pun mendengar pula derap kaki-kaki kuda itu. Di tengadahkannya wajahnya dan perlahan-lahan ia berdesis “Aku kira yang aku dengar adalah derap dua ekor kuda”.

Tak ada yang menyahut. Kuda Sempana terbungkam seperti membeku di tempatnya. Hanya desir angin malam yang menyentuh dedaunan liar terdengar gemerisik, seperti suara orang yang berbisik di telinga Empu Sada, “Ya, dua ekor kuda”.

“Kuda Sempana“ berkata Empu Sada kemudian, “apakah kau tahu, siapakah yang kira-kira akan datang?”

Seperti tidak sadar Kuda Sempana menyahut “Paman Kebo Sindet dan Wong Sarimpat guru”.

“Hem“ Empu Sada mengangguk-anggukan kepalanya.

Terasa jantungnya menjadi semakin cepat berdentang. Apakah ia akan mengulangi perkelahian yang pernah dilakukannya melawan kedua orang itu? Kalau sekarang ia harus bertempur melawan keduanya, maka ia yakin, bahwa ia akan mati terbunuh dengan sia-sia. Tetapi apakah ia akan lari menghindar? Lalu apakah gunanya ia berpacu dengan tergesa-gesa dari padepokannya sampai kedaerah Panawijen ini?.

“Kuda Sempana“ berkata orang tua itu tiba-tiba, “masih ada kesempatan. Berikan Mahisa Agni kepadaku”.

Sekali lagi terasa dada Kuda Sempana menjadi pepat. Ia tidak dapat segera mengambil keputusan. Sedang Empu Sada mendesaknya. “Cepat, sebelum mereka datang”.

“Aku takut guru“ tiba-tiba terdengar suara Kuda Sempana parau.

“Baiklah. Kau takut kepada kedua iblis itu?” geram Empu Sada, “kalau demikian, akulah yang akan membunuhmu. Bagiku kau memang sudah tidak ada gunanya lagi”.

“Guru “ suara Kuda Sempana tersekat di kerongkongan.

“Atau kau berikan Mahisa Agni”.

Kuda Sempana tiba-tiba menjadi gemetar. Seperti seseorang yang sedang berdiri pada tanah yang rapuh di tepi jurang. Sedikit saja ia bergerak, maka ia akan terperosok ke dalamnya. Maju atau. mundur. Tiba-tiba saja, tanpa diketahuinya sendiri, Kuda Sempana mengharap kuda-kuda yang berderap itu datang semakin cepat. Ia mengharap bahwa Kebo Sindet dan Wong Sarimpat akan melindunginya.

“Ayo Kuda Sempana” suara Empu Sada semakin tajam menusuk jantungnya, “cepat, serahkan Mahisa Agni atau kau aku bunuh sekarang juga”.

Kini Kuda Sempana benar-benar menggigil karena gelora di dalam dadanya yang menjadi semakin dahsyat. Apalagi, ketika ia melihat gurunya mengangkat tongkatnya. Maka darahnya serasa telah membeku.

“Aku benar-benar akan membunuh dirimu Kuda Sempana”.

Kuda Sempana tidak menjawab. Meskipun sekali dua kali tangannya menyentuh hulu pedangnya, tetapi ia tidak dapat berbuat apapun menghadapi gurunya. Seandainya ia ingin melawan, maka perlawannya itu akan tidak berguna sama sekali. Karena itu maka anak muda yang telah kehilangan gairah menghadapi masa-masa depannya itu, kini benar-benar menjadi putus asa. Ia tidak merasa sesuatu kepentingan apapun untuk mempertahankan dirinya. Apalagi terhadap gurunya. Kalau gurunya menginginkan Mahisa Agni, biarlah ia dibunuhnya. Itu lebih baik baginya dari pada ia akan mati dalam kengerian di tangan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat yang pasti menjadi sangat marah.

Dengan demikian, maka Kuda Sempana itu pun menjadi pasrah. Ia tidak ingin lagi berusaha sesuatu untuk menyelamatkan dirinya. Dengan dada yang membeku mati ia menundukkan kepalanya. Ia tidak akan mengelak meskipun ia melihat Empu Sada telah mengangkat tongkatnya.

Derap kedua ekor kuda yang didengar oleh Empu Sada pun menjadi semakin dekat. Ia sudah semakin terdesak waktu. Hatinya yang bergelora telah mendorongnya maju beberapa langkah. Ia melihat Mahisa Agni yang pingsan, dan ia mengenangkan semua peristiwa yang pernah dialaminya. Kini ia sadar sesadar-sadarnya menghadapi keadaan, ia datang ke Panawijen untuk mengurangi kesalahannya dan berusaha menyelamatkan Mahisa Agni karena itu siapa pun yang menghalangnya harus disingkirkan. Kini yang berada dihadapannya adalah Kuda Sempana yang telah menundukkan kepalanya. Dengan mudah ia dapat menyentuh kepala anak itu dengan tongkatnya dan anak itu akan terpelanting jatuh. Bahkan mati.

Namun tiba-tiba dadanya menjadi semakin bergelora. Kuda Sempana itu adalah muridnya. Betapapun juga, maka ia tidak segera dapat melupakan hubungan yang selama ini telah terjalin. Dan tiba-tiba pula ia melihat anak muda yang pasrah itu dengan hati yang jujur. Kesalahan ini tidak seluruhnya dapat ditumpahkan kepada Kuda Sempana. Justru kesalahan terbesar adalah terletak pada dirinya sendiri. Ia adalah orang yang harus bertanggung jawab, kenapa anak muda itu menjadi liar dan buas. Ia adalah seorang yang patut menanggung segala akibat dari kebinalan Kuda Sempana karena Kuda Sempana adalah muridnya.

Empu Sada yang sudah mendekati muridnya itu pun menjadi tertegun. Iapun kemudian membeku seperti Kuda Sempana. Tetapi kemudian hatinya pun menjadi bulat. Ia tidak akan meletakkan tanggung jawab kepada Kuda Sempana, tetapi kepada diri sendiri. Dengan tekad yang menyala didalam dadanya ia bergumam,

“Aku akan hadapi kedua iblis itu dengan mempertaruhkan nyawa”.

Kuda Sempana yang telah menundukkan wajahnya dengan pasrah, mendengar gumam yang lirih itu , tiba-tiba dada anak muda itupun terdesir pula. Ia tahu benar arti kata-kata gurunya, sehingga tanpa dikehendakinya sendiri ia berkata,

“Guru, mereka adalah orang-orang yang sangat buas”.

Empu Sada mengerutkan keningnya. Dipandanginya muridnya dengan pandangan yang suram. Ternyata betapapun anak itu jauh tersesat, tetapi ia masih mampu membuat perbedaan antara sifat-sifat seseorang. Dengan nada yang datar Empu Sada menjawab,

“Terima kasih akan peringatamu itu Kuda Sempana. Agaknya kau masih juga menyayangkan nyawaku. Tetapi aku sudah bertekad untuk berbuat sesuatu. Aku sudah bertekad untuk menyelamatkan Mahisa Agni. Nah kemudian terserah padamu. Kalau aku mati dalam perkelahi ini maka aku akan mati dengan dada yang lapang, sebab aku mati selagi aku berusaha untuk berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi manusia dan kemanusiaan. Sebab menurut perhitunganku keselamatan Mahisa Agni bukanlah sekedar Mahisa Agni seorang, tetapi di belakangnya adalah seluruh penghuni padukuhan Panawijen yang mengalami kekeringan. Sedang apabila aku berhasil keluar dari pertempuran ini dengan selamat, aku sudah memberitahukan kepadamu bahwa aku memerlukan Mahisa Agni itu”.

Kepala Kuda Sempana terasa menjadi semakin pepat. Semua yang akan terjadi sama sekali tidak dikehendakinya. Ia tidak ingin gurunya, Empu Sada itu mati. Tetapi kalau ia hidup, maka Mahisa Agni itu akan dimintanya. Justru untuk menyelamatkannya. Dalam kepepatan itu terdengar Empu Sada berkata,

“Menepilah Kuda Sempana. Jadilah saksi perkelahian ini. Kalau aku mati, mungkin kau masih juga bersedia untuk menguburkan mayatku”.

Kuda Sempan tidak menjawab kata-kata gurunya. Tetapi gelora di dalam dadanya menjadi kian gumuruh meledak-ledak.

“Menepilah” lagi terdengar suara Empu Sada, “itulah mereka sudah datang”.

Dengan dada yang hampir meledak Kuda Sempana mendengar derap kuda semakin dekat. Seperti di dorong oleh sebuah pengaruh yang tak dimengertinya ia menggerakkan kudanya menepi. Ketika ia memalingkan kepalanya, maka dilihatnya dua ekor kuda berpacu dalam kesuraman sinar bulan tua yang kekuning-kuningan. Segera Kuda Sempana mengetahui kahwa keduanya itu adalah Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Sekali lagi, terdorong oleh parasaan yang tak dikenalnya anak muda itu berdesis

“Guru, mereka adalah orang-orang yang sangat buas”.

“Ya, aku sudah mengenal mereka dengan baik” jawab Empu Sada, “sekali lagi, terima kasih akan peringatanmu”.

“Sebaiknya guru meniggalkan mereka”.

Empu Sada menggeleng, “Aku akan menyelamatkan Mahisa Agni. Aku akan berbuat apa saja untuk kepentingan itu. Mungkin aku akan berbuat curang atau berbuat apa saja. Mungkin juga aku akan menjadi sangat licik. Aku tidak peduli lagi akan harga diriku. Aku tidak peduli lagi apakah yang akan dikatakan orang atas diriku. Tetapi aku sudah mempertimbangkan masak-masak untuk menyelamatkan Mahisa Agni, maka Empu Sada yang telah penuh dengan noda-noda di sepanjang hidupnya ini sudah tidak berarti, tetapi Mahisa Agni adalah lambang dari masa-masa mendatang, sedang aku adalah cermin dari kerapuhan di masa-masa lalu.”

Kuda Sempana tidak lagi sempat berbuat apapun juga untuk memperingatkan gurunya. Kedua kuda iblis dari Kemundungan itupun, sudah menjadi semakin dekat. Kuda Sempana melihat Empu Sada mempersiapkan diri untuk menyongsong keduanya. Dan tiba-tiba orang tua itu menggerakkan kendali kudanya maju beberapa langkah.

Yang terdengar adalah suara Wong Sarimpat berteriak nyaring “He, bukankah kau Kuda Sempana, kenapa kau berhenti, dan siapakah orang itu?”. Tak ada jawaban. Dan yang terdengar adalah suara Wong Sarimpat itu pula dengan nada yang aneh karena terkejut, “Aku melihat tongkat panjang itu. Apakah kau Empu Sada?”

Kuda-kuda merekapun menjadi semakin dekat. Tetapi Empu Sada tidak mau berteriak menjawab pertanyaan Wong Sarimpat. Dibiarkannya mereka menjadi lebih dekat lagi.

“Setan tua itu agaknya masih hidup“ teriak Wong Sarimpat pula. Mereka sudah menjadi semakin dekat “tetapi kali ini kau tidak akan lepas lagi dari tangan kami. He, Empu yang malang. Ternyata betapa jauh kau bersembunyi, namun tiba-tiba kita telah bertemu lagi”.

Keduanya kini sudah demikian dekatnya, dan sejenak kemudian kedua kuda itu pun berhenti. Empu Sada melihat wajah kedua orang itu di dalam kesamaran sinar bulan. Tanpa disengajanya ia menengadahkan wajahnya, dan dilihatnya bulan itu masih saja berkalang. Bahkan semakin jelas. dada orang tua itu pun tiba-tiba pula berdesir karenanya.

“Hem“ terdengar suara Kebo Sindet menggeram di dalam perutnya, “ternyata kau masih hidup Empu”.

“Ya, aku masih hidup“ sahut Empu Sada dengan nada yang datar. “Apakah kau heran?”

Wajah Kebo Sindet yang beku itu sama sekali tidak berubah. Hanya matanya sajalah yang seolah-olah membara memandangi Empu Sada yang duduk tenang di atas punggung kudanya.

“Tetapi apakah sekarang kau dengan sengaja menjumpai kami?” bertanya Kebo Sindet.

“Ya, aku sengaja menjumpai kalian. Aku mendengar cara kalian memancing Mahisa Agni. Dan aku agaknya dapat memperhitungkan dengan tepat apa yang akan kalian lakukan atasnya”.

“Sekarang apa maksudmu?”.

“Aku minta Mahisa Agni. Sebenarnya aku dapat merampasnya dari tangan Kuda Sempana. Tetapi aku masih ingin berhadapan langsung dengan kalian, supaya aku mendapat kepuasan melihat hasil usahaku itu”.

Terdengar Keho Sindet menggeram seperti gunung yang akan meledak. Meskipun wajahnya yang beku tetap membeku, tetapi nafsu untuk segera membunuh Empu Sada telah memancar dari kedua biji matanya yang berwarna semakin merah membara.




OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar