MENU

Ads

Rabu, 11 Maret 2026

Pelangi di Langit Singasari 130

Namun dalam pada itu terdengar Wong Sarimpat tertawa menyakitkan hati. Dengan nada tinggi ia berkata, “O, alangkah malang nasibmu Empu. Kau masih juga tidak menyadari keadaanmu. Apakah kau akan sekali lagi berkelahi dengan curang? Meskipun demikian kalau tidak ada setan yang menyembunyikan kau waktu itu, maka kau pasti akan menjadi bangkai makanan anjing-anjing liar. Sekarang kau masih juga akan mencobanya lagi. Apalagi kita berhadapan beradu dada. Maka umurmu tidak akan lebih dari sepemakan sirih”.

Empu Sada mengangkat alisnya. Dengan tenang ia menjawab “Apa kita akan berhadapan beradu dada?”.

Wong Sarimpat terdiam sejenak. Tampaklah wajahnya yang kasar menjadi berkerut-merut. Sejenak ditatapnya wajah Kebo Sindet yang membeku, seolah-olah ia ingin bertanya, apakah yang harus dilakukannya. Apakah ia akan melayani tantangan Empu Sada itu yang maknanya diketahuinya dengan baik.

Namun terdengar Kebo Sindet menjawab dengan kata-kata yang seolah-olah bergumul di dalam perutnya, “Apakah artinya kau Empu. Apakah kau sangka bahwa kami menganggap kau cukup bernilai untuk kami layani dengan menjunjung kehormatan kami, dengan perang tanding misalnya? Selamanya kau pasti akan berbuat curang dan licik. Kami sudah mengenal kau dengan baik. Pada saat yang lampau itu dapat menjadi peringatan bagi kami, siapakah Empu Sada itu, dan bagaimana kali caranya melayani lawannya, meskipun lawannya berbuat sejujur-jujurnya. Pada perkelahian kita yang terakhir itu adalah peringatan yang terakhir pula bagi kami, bahwa kami untuk seterusnya tidak akan mempercayai kau lagi, apabila kau masih akan bertemu lagi dengan kami, seperti saat ini”.

Empu Sada tersenyum mendengar kata-kata Kebo Sindet. Jawabnya, “Kau dapat berkata demikian kepada orang lain yang tidak melihat apa yang terjadi sesungguhnya. Kau dapat membual dan memutar balik keadaan terhadap orang lain. Tetapi jangan kepadaku. Dan jangan kepada Kuda Sempana. Sebab kalian dan pasti mengerti bahwa kami, aku dan Kuda Sempana, tahu benar apa yang telah terjadi. Sehingga ceriteramu itu benar-benar seperti ceritera yang kau hisap dari ujung kelingkingmu.”

Sekali lagi terdengar Kebo Sindet menggeram. Yang menyahut kemudian adalah Wong Sarimpat “Kakang, kenapa kita membuang waktu untuk mendengarkan kata-katanya yang tidak berujung pangkal itu? Seperti yang diigaukan oleh seseorang yang sedang sekarat. Marilah kita selesaikan saja orang ini. Kita bunuh dan kita cincang sampai lumat”.

Kebo Sindet tidak menjawab. Tetapi sikapnya yang kaku tegang menunjukkan, bahwa ia sependapat dengan pikiran adiknya itu.

Dalam pada itu, maka Empu Sada pun berkata, “Apakah sudah kalian pikirkan masak-masak keputusan kalian itu?”

Terdengar Wong Sarimpat tertawa berkepanjangan. Katanya, “O, ternyata kau sudah mulai ketakutan. Agaknya kau mengharap bahwa kau akan dapat mencoba mengungkat harga diri kami, dan kemudian dengan licik akan kau manfaatkan. Sekarang Empu yang malang, kau tidak akan dapat lepas lagi dari tangan kami. Nyawamu benar-benar sudah berada di ujung ubun-ubun. Sebenarnya bagimu lebih baik kau menyerah saja, dan kau akan mati dengan cepat tanpa merasakan lelah lebih dahulu, dari pada kau harus bertempur mati-matian, namun akibatnya tidak akan berbeda. Sebab kali ini kami sudah tidak akan…“ tiba-tiba kata-kata Wong Sarimpat itu terputus.

Ternyata Empu Sada melakukan apa yang dikatakannya. Untuk menyelamatkan Mahisa Agni, apapun akan dikorbankannya. Nyawanya, kehormatannya dan apa saja. Kali ini Empu Sada menyadari, betapa ia berlaku licik. Tetapi ia sudah tidak mempertimbangkannya lagi. Dengan serta merta selagi Wong Sarimpat tertawa berkepanjangan sambil berkata dengan sombongnya, tiba-tiba orang tua itu melepaskan sebilah keris kecil, hampir sekecil kelingkingnya. Demikian cepat dan tiba-tiba, serta dilambari tenaga Empu Sada yang sedang diamuk oleh kebencian, dendam, kemarahan dan segala macam perasaan, dan bahkan lebih dari pada itu adalah perasaan bersalah atas tertangkapnya Mahisa Agni, maka tenaga lontarannya pun seakan-akan menjadi berlipat ganda.

Kedua iblis dari Kemundungan itu terkejut bukan kepalang. Sekali lagi mereka didahului oleh kelicikan Empu Sada. Kebo Sindet yang berwajah beku itupun tampak menggerakkan dahinya sambil berteriak,

“Sarimpat, hindari senjata itu”.

Wong Sarimpat pun melihat sebilah keris yang kecil itu meluncur ke arahnya. Tetapi demikian tiba-tiba. Hanya karena kelincahan dan pengalaman yang tidak terhitung itulah, maka ia dapat menghindarkan senjata itu menembus dada langsung menghunjam ke jantungnya. Namun meskipun demikian, senjata itu masih juga mengenai pangkal lengan kirinya. Terdengar orang itu mengaduh pendek, namun kemudian terdengar ia mengumpat dengan kata-kata yang kotor.

Tetapi sekali lagi Wong Sarimpat harus menutup mulutnya ketika dengan dahsyatnya Empu Sada menyerang tanpa mengucapkan kata-kata apapun. Kali ini tongkat panjangnya menyambar dengan cepatnya, seperti lidah api meloncat di udara. Namun sekali lagi Empu Sada berbuat curang. Ternyata ia lidak menyerang lawannya, tetapi ternyata tongkatnya menyambar kaki kuda Kebo Sindet. Kuda itu terkejut bukan kepalang. Terdengar ia meringkik tinggi, namun sejenak kemudian kuda itupun robohlah ke tanah.

“Setan licik” teriak Wong Sarimpat sambil meraba pangkal lengannya. Terasa cairan yang hangat meleleh dari lukanya. Kini ia melihat Kebo Sindet tidak berkuda lagi. Tetapi meskipun demikian, ia merasa mendapat kesempatan untuk mencabut keris yang hampir tenggelam sampai ke hulu itu dari pangkal lengannya.

Kebo Sindet yang terpaksa meloncat dari kudanya menjadi marah bukan buatan. Sekilas ia melihat kudanya begetar, namun sejenak kemudian didengarnya kuda itu meringkik-ringkik. Agaknya kakinya terasa demikian sakitnya, sehingga kuda itu tidak lagi mampu berdiri. Sambil menggenggam goloknya erat-erat Kebo Sindet itu menggeram,

“Kau benar-benar setan yang licik. Pengecut yang tidak punya malu. Apakah kau sangka caramu itu cukup bernilai untuk mendapat pelayanan yang jujur. Sekarang aku pun akan berbuat apa saja untuk membunuhmu”.

Kini Empu Sadalah yang tertawa. Sambil memutar kudanya ia berkata, “Lakukan apa saja yang dapat kau lakukan, aku pun akan berbuat serupa licik, pengecut, curang dan apa saja. Kita adalah orang-orang dari daerah yang hitam. Dari daerah yang penuh dengan noda. Dimana tidak ada lagi ukuran yang dapat memberi penilaian terhadap apa yang kita lakukan. Tak ada lagi ikatan-ikatan dan keharusan, apalagi tata kesopanan. Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Kita adalah binatang-binatang liar yang buas yang hidup di tengah-tengah rimba yang lebat. Jangan menyebut-nyebut lagi tentang kelicikan, kecurangan, pengecut dan sebagainya. Itu adalah sandangan kita. Itu adalah sikap dan sifat-sifat yang memang kita miliki sejak lama. Ayo, sekarang, marilah kita berbuat apa saja”.

“Setan alas“ Kebo Sindet itu mengumpat “aku terima tantanganmu Empu. Kita akan berbuat apa saja”.

Empu Sada tidak menunggu Kebo Sindet itu mengatupkan mulutnya. Kudanya segera meluncur seperti anak panah menyerang iblis dari Kemundungan itu. Tetapi kali ini Kebo Sindet sudah bersiap menerimanya. Goloknya yang besar segera berputar. Ia ingin berbuat seperti Empu Sada, menjatuhkan kuda lawannya. Tetapi ternyata tongkat Empu Sada lebih panjang dari goloknya, sehingga ia tidak sempat maju lebih dekat lagi pada kuda lawannya itu. Bahkan ia melihat ujung tongkat Empu Sada menyambar kepalanya, sehingga dengan demikian ia harus menangkisnya. Terjadilah benturan antara keduanya, dan keduanya merasakan betapa kekuatan lawannya terpusat pada Senjata-senjata itu, dilambari oleh kemarahan dan nafsu yang hampir tak terkendali.



Sementara itu Wong Sarimpat sedang sibuk berusaha menarik keris yang menghunjam dipangkal lengannya. Terdengar ia berdesis di atas punggung kuda. Ketika ia melihat kakaknya bertempur dengan gigihnya, maka ia merasa aman untuk melakukannya. Sambil memejamkan matanya Wong Sarimpat menjepit hulu keris yang hanya mencuat tidak lebih dari senyari itu, dengan kedua ujung jarinya. Perlahan-lahan ditariknya keris itu sambil berdesis menahan sakit. Namun kadang-kadang mulutnya masih juga sempat mengumpat-umpat dengan kotornya.

“Iblis laknat” orang itu berteriak ketika ia berhasil menarik keris itu dari pangkal lengannya. Tetapi sejenak kemudian sekali lagi ia menyeringai kesakitan. Darah yang merah kehitam-hitaman kemudian bergumpal-gumpal meleleh dari luka yang tidak seberapa besar itu.

Wong Sarimpat itu mengangkat wajahnya ketika ia mendengar suara Empu Sada, “Kerisku mengandung warangan yang tajam Sarimpat. Kau lihatlah darahmu dengan saksama”.

“Aku sudah mengira“ teriak Wong Sarimpat sambil melihat Empu Sada itu bertempur terus melawan kakaknya.

Tetapi Empu Sada yang berada dipunggung kuda itu masih juga mempunyai kesempatan lebih banyak. Kebo Sindet, seakan-akan hanya dapat menunggu serangan-serangan yang datang menyambar-nyambar. Tetapi ia tidak banyak mendapat kesempatan untuk menyerang lawannya, karena setiap kali kuda Empu Sada itu menyambar, lalu dengan cepatnya berlari menjauh untuk kemudian berputar dan sekali lagi menyambarnya dengan dahsyat seperti badai.

“Tetapi warangan yang betapapun tajamnya tidak akan berarti apa-apa bagiku Empu“ teriak Wong Sarimpat itu pula.

Empu Sada yang mendengar teriakan itu sempat berpaling. Dalam kesuraman cahaya bulan yang redup ia melihat Wong Sarimpat mengambil sebilah pisau. Dengan pisau itu ia melukai pangkal lengannya sendiri di sekitar lukanya karena keris Empu Sada; sehingga dengan demikian darah yang merah segar menjadi semakin banyak mengalir.

“Tak ada gunanya“ berkata Empu Sada, “sentuhan warangan itu dengan setetes darahmu telah cukup membuatmu, beku”.

Tetapi Empu Sada itu pun kemudian melihat Wong Sarimpat menelan segumpal obat reramuan pencegah racun. Sambil menelan orang itu masih juga mengambil reramuan yang lain untuk diusapkan pada lukanya, sehingga luka itu terasa agak menjadi dingin.

“O, iblis itu benar-benar telah mempersiapkan diri untuk menghadapi setiap kemungkinan“ geram Empu Sada di dalam hatinya.

Dalam pada itu ia mendengar Wong Sarimpat berteriak, “tak ada racun yang dapat membunuh Wong Sarimpat” katanya, “aku sudah menemukan obat untuk mengobati segala macam warangan dan racun karena gigitan ular sekalipun. Bahkan sengatan lebah biru dari kaki gunung Semeru. Apalagi sejenis warangan mu yang tidak berarti apa-apa itu bagiku”.

Empu Sada tidak menyahut. Ia memang melihat lamat-lamat darah semakin banyak mengalir. Dengan demikian, maka racun itu pun akan dapat dipunahkannya. Tetapi meskipun demikian, ia telah berhasil melukai Wong Sarimpat. Luka yang kemudian dibuat menjadi besar oleh orang itu sendiri. Mengalirkan darah dari tubuhnya, berarti mengurangi kekuatan tubuh itu dan daya tahannya.

Sejenak kemudian Wong Sarimpat yang merasa, bahwa racun Empu Sada sudah tidak berbahaya lagi bagi tubuhnya, segera melumuri lukanya itu dengan semacam obat yang lain, obat yang dapat menghentikan arus darahnya. Kemudian terdengar Wong Sarimpat itu tertawa. Digerakkannya kudanya beberapa langkah maju. Katanya di antara suara tertawanya yang menyakitkan hati,

“Sekarang aku sudah selesai Empu. Aku akan berkelahi bersama kakang Kebo Sindet, dan kaupun akan segera mati terbunuh. Begitu?”

Empu Sada sama sekali tidak menjawab kata-kata Wong Sarimpat. Ia sedang berusaha untuk menekan Kebo Sindet selagi ia masih mendapat kesempatan. Kudanya masih saja menyambar-nyambar seperti burung elang di udara. Tetapi Kebo Sindet bukanlah seekor anak ayam yang ketakutan melihat elang. Dengan garangnya ia menyambut setiap serangan seperti seekor harimau yang kelaparan.

Demikianlah pertempuran itu semakin lama menjadi semakin dahsyat. Keduanya adalah orang-orang sakti yang sukar di cari bandingnya. Adalah suatu keuntungan bagi Empu Sada, bahwa kelincahan kudanya dapat membantunya mempersulit kedudukan lawannya. Meskipun demikian Empu Sada masih juga belum mendapat kesempatan untuk berbuat banyak.

Wong Sarimpat yang telah selesai mengobati luka-lukanya itu tidak segera masuk kedalam perkelahian. Ia melihat kakaknya masih akan dapat bertahan seorang diri. Dibiarkannya tubuhnya menjadi lebih baik dan kuat setelah beberapa saat ia harus berjuang untuk melawan racun. Bahkan Wong Sarimpat itu kemudian mendekati Kuda Sempana yang melihat perkelahian itu dengan mata tanpa berkedip, tetapi dengan jantung yang berdegupan dengan gemuruh.

Anak muda itu terkejut ketika Wong Sarimpat menggamitnya “He Kuda Sempana. Kau lihat perkelahian itu?” Kuda Sempana mengangguk. “Katakan, siapakah yang bakal menang?”

Kuda Sempana terbungkam. Ia tidak dapat menjawab pertanyaan itu. Ia mengharap gurunya tidak mati, tetapi ia mengharap pula bahwa Kebo Sindet akan melindunginya dari keinginan gurunya untuk menyelamatkan Mahisa Agni. Meskipun ia tidak lagi dapat mempertimbangkan, apa yang sebaiknya dilakukan atas Mahisa Agni, tetapi kini yang dipikirkannya adalah, bahwa Mahisa Agni itu akan selalu merupakan hantu baginya di masa-masa mendatang apabila ia masih akan tetap hidup. Mahisa Agni akan selalu membayanginya dengan penuh dendam dan kebencian. Karena itu, maka baginya kini, lebih baik apabila Mahisa Agni itu lenyap saja sama sekali.

Karena Kuda Sempana tidak menjawab, maka berkatalah Wong Sarimpat, “Mungkin kau tidak cukup mampu menilai perkelahian itu Kuda Sempana. Baiklah aku beritahu bahwa keduanya dalam keadaan seimbang. Kelebihan Empu Sada hanyalah terletak pada kudanya itu. Meskipun demikian kudanya itu pun tidak akan banyak menolong, sebab segala macam geraknya mau tidak mau harus diperhitungkan pula dengan setiap kemungkinan yang dilakukan oleh kudanya, sebab kuda itu mempunyai otaknya sendiri. Kalau kuda itu tidak mempunyai otak dan kemauan sendiri, maka Empu Sada pasti akan segera memenangkan perkelahian itu.

Kuda-Sempana masih saja berdiam diri. “Tetapi“ Wong Sarimpat meneruskan, “aku akan segera terjun ke dalam arena. Nah, kau akan dapat mempertimbangkan, apakah yang kira-kira akan terjadi. Mungkin kau tidak akan sampai hati melihat gurumu mati terbunuh, bahkan untuk meyakinkannya, mungkin aku akan mencincangnya”. Kuda Sempana sama sekali tidak menjawab.

“Nah“ Wong Sarimpat berkata lebih lanjut, “Apakah kau akan menyaksikannya, apakah kau akan pergi lebih dahulu membawa Mahisa Agni itu ke Kemundungan? Atau kau akan mencoba berbuat sesuatu?”.

Kuda Sempana seolah-olah telah benar-benar membeku di atas punggung kudanya. Karena itu ia sama sekali tidak menjawab.

“Jangan takut kepada Mahisa Agni. Urat nadinya terganggu karena sentuhan tangan kakang Kebo Sindet. Ia akan menjadi sadar, apabila kakang Kebo Sindet menghendakinya”. Kuda Sempana masih tetap mengatupkan mulutnya.

“Hem, kau menjadi bisu agaknya. Baiklah. Duduk sajalah di situ”.

Wong Sarimpat itu pun kemudian memutar kudanya. Kini ia melihat perkelahian antara kakaknya melawan Empu Sada telah bergeser beberapa langkah. Tetapi ia masih melihat bahwa keduanya sama sekali belum banyak mendapat kemajuan. Meskipun demikian, agaknya keadaan Empu Sada masih lebih baik dari kakaknya yang harus berloncatan menghindari derap kuda Empu Sada dan tongkatnya yang terayun-ayun mengerikan. Sedang Kebo Sindet itu sendiri hanya mendapat sedikit saja kesempatan melakukan serangan-serangan atas lawannya,

“Pertempuran itu tidak adil“ desis Wong Sarimpat, “aku harus membantunya”. Tetapi orang itu tidak pernah mempertimbangkan, bahwa untuk melawan mereka berdua adalah perbuatan yang tidak adil pula.

Demikianlah, maka Wong Sarimpat itu perlahan-lahan mendekati arena perkelahian. Ia melihat sekali-sekali kakaknya terpaksa meloncat jauh-jauh surut. Sekali-sekali bahkan ia terdorong dengan kerasnya. Namun meskipun demikian, Kebo Sindet masih juga tetap memberikan perlawanan yang sengit.

Wong Sarimpat itupun kemudian berhenti beberapa langkah dari titik pertempuran. Diamatinya keadaan dengan seksama, seperti seorang saksi yang sedang memperhatikan sebuah perang tanding yang seru. Diperhatikannya cara Empu Sada menggerakkan kudanya menyambar lawannya, dan diperhatikannya bagaimana ia menghindar apabila Kebo Sindet membalas menyerangnya.

“Ternyata Empu tua itu ahli pula bermain-main dengan kuda, agak lebih baik dari Empu Gandring“ desisnya di dalam hati.

Beberapa langkah lagi ia maju. Hampir pada garis serangan Empu Sada. Sambil menyeringai maka Wong Sarimpat menggerakkan pedangnya berputaran. Empu Sada melibat bagaimana Wong Sarimpat ingin memotong garis serangannya. Karena itu, maka segera diputarnya kudanya menghindar, dan ditempuhnya sebuah garis serangan yang lain.

“Huh“ Wong Sarimpat berdesis, “pengecut. Kau tidak berani menghadapi aku yang sama-sama berada di atas, punggung kuda”.

Tetapi Empu Sada tidak menjawab. Namun segera ia bersiap untuk menghadapi lawannya yang baru. Ternyata Wong Sarimpat tidak melepaskan waktu terbuang lebih banyak. Segera ia menggerakkan kendali kudanya dan kuda itu pun meluncur dengan cepatnya menyerang Empu Sada. Agaknya kali ini Wong Sarimpat telah memperhitungkan banyak kemungkinan. Ia telah memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan untuk bertempur di atas punggung kudanya. Karena itu, maka kudanya kali ini diberinya berpelana.

Serangan Wong Sarimpat itu pun cukup dahsyat. Meskipun pangkal lengan kirinya telah terluka, namun tenaga tangan kanannya masih cukup menggetarkan tongkat lawannya. Kini, Empu Sada harus menghadapi dua orang lawan yang masing-masing memiliki kekuatan setingkat dengan dirinya. Ia hanya sempat mengurangi kelincahan Wong Sarimpat dengan melukai tangannya. Meskipun demikian, tetapi Wong Sarimpat masih tetap garang dan buas.

Untuk menghadapi keduanya maka Empu Sada harus benar-benar berkelahi dengan licik. Setiap kali ia melawan Wong Sarimpat sambil berputaran menjauhi Kebo Sindet yang meloncat-loncat mengejarnya. Tetapi ternyata tenaga kuda Empu Sada masih lebih cepat dari tenaga wajar Kebo Sindet, sehingga dengan demikian, maka Kebo Sindet tidak dapat mendekatinya. Setiap kali ia mendekat, maka Empu Sada mendorong kudanya untuk berlari menjauh sambil menyerang Wong Sarimpat atau menghindari serangannya.

“He, Empu Sada“ Kebo Sindet akhirnya tidak dapat menahan kemarahannya, “kau benar-benar pengecut. Jauh lebih pengecut lagi dari yang aku sangka. Kau sama sekali tidak berani berhadapan langsung melawan aku. Kau selalu melarikan kudamu menjauh, setiap kali menjauh”.

“Jangan berteriak-teriak Kebo Sindet“ jawab Empu Sada, “aku masih sibuk melayani adikmu yang tangannya hampir menjadi patah ini”.

“Tutup mulutmu“ teriak Wong Sarimpat, “aku masih mempunyai kemungkinan yang cukup untuk membelah dadamu yang penuh dengan kesombongan, tetapi licik, curang, pengecut, penakut, penipu...”

Wong Sarimpat tidak sempat meneruskan kata-kata umpatannya. Tiba-tiba saja tongkat Empu Sada mematuk hampir tepat masuk kemulutnya. Dengan tergesa-gesa Wong Sarimpat membungkukkan badannya dan dengan cekatan digerakkan goloknya menangkis serangan yang datangnya dengan tiba-tiba itu. Hanya oleh keahliannya mengendalikan kudanya, maka Wong Sarimpat dapat menghindari serangan Empu Sada berikutnya. Serangan yang hampir membabi buta. Namun Empu Sada masih memiliki kesadaran menghadapi kedua iblis yang mengerikan itu.

Demikianlah perkelahian itu menjadi semakin lama semakin seru. Empu Sada dan Wong Sarimpat bertempur seperti sepasang burung Rajawali yang sedang berebut sarang. Sedang Kebo Sindet dengan dada yang bergelora hampir meledak tidak banyak mendapat kesempatan untuk ikut serta dalam perkelahian berkuda itu. Hanya kadang-kadang saja ia sempat meloncat pada garis perkelahian itu, dan dengan goloknya yang dahsyat menyerang Empu Sada. Namun kuda Empu Sada ternyata dengan lincahnya, selalu menghindarinya. Berlari dan membuat sebuah putaran yang panjang.

“Empu Sada” Kebo Sindet menjadi semakin marah, “Apakah kau menyadari apa yang kau lakukan itu? Sebenarnya lebih baik bagimu, bersembunyi saja di belakang pekiwan dari pada kau datang kemari. Apakah sebenarnya maksudmu menjumpai aku he? Sekarang kau selalu menghindari setiap benturan. Benturan kekuatan, ilmu atau tenaga dan Senjata”.

Empu Sada yang menjadi semakin jauh dari Kebo Sindet masih saja sibuk melayani serangan-serangan Wong Sarimpat. Keduanya adalah orang-orang yang hampir mumpuni bermain-main di atas punggung kuda. Sehingga dengan demikian maka perkelahian itu pun menjadi semakin seru.

Meskipun demikian Empu Sada masih sempat menjawab, “Kebo Sindet, jangan tergesa-gesa. Aku bunuh dahulu adikmu. Kemudian kita akan berhadapan. Dan aku akan segera turun pula dari kudaku”.

“Persetan” teriak Wong Sarimpat, “mulutmu sama sekali tidak berarti lagi bagi kami. Mampuslah kau orang tua yang tidak tahu diri”.

Kuda Sempana yang membeku di atas punggung kudanya melihat perkelahian itu dengan hati yang bergolak dengan dahsyatnya, seperti badai yang mengamuk di dalam dadanya. Gemuruh seolah-olah akan merontokkan tulang-tulang iganya. Gurunya adalah seorang yang di kenal dan dikaguminya sejak lama. Tongkat panjangnya itu adalah ciri kebesaran dan keperkasaannya. Kuda Sempana tidak pernah melihat gurunya mempergunakan senjata lain daripada tongkat panjang itu. Tongkat panjang yang telah berada bersama-sama dengan gurunya sejak ia bertemu untuk pertama kalinya dengan orang itu. Senjata yang telah mengawaninya melawan seribu macam senjata lawan-lawannya. Dan Kuda Sempana tetap menyangka bahwa tongkat panjang pusaka gurunya itulah yang tetap bersamanya sampai saat ini.

Sedang kedua hantu dari Kemundungan itu adalah orang-orang yang tidak kalah dahsyatnya. Goloknya adalah golok yang luar biasa pula. Kuda Sempana pernah menyaksikan Kebo Sindet memukul sebatang besi gligen dengan goloknya itu. Dan besi itupun terpatahkan, sedang golok itu sama sekali tidak menjadi cacat. Bahkan semenirpun golok itu tidak gempil. Kini Kuda Sempana melihat kedua macam senjata itu beradu dalam genggaman tangan-tangan yang mengerikan.

Kebo Sindet yang akhirnya kehilangan kesabaran, tidak lagi ingin menunggu lebih lama. Tiba-tiba ia berteriak nyaring sambil menggetarkan tubuhnya. Dipusatkannya segenap kekuatannya yang kasat mata dan yang tidak kasat mata. Dengan kemarahan yang meluap-luap maka disalurkannya kekuatannya yang bersumber pada kekuatan sesat itu pada tangan kanannya yang menggenggam goloknya. Dan dengan penuh nafsu ia melenting seperti seekor bilalang raksasa, melampaui kecepatan loncat seekor kuda menyerang Empu Sada dengan kekuatan Aji Bajang.

Tetapi Empu Sada yang tua itu telah melihatnya. Dengan demikian maka ia tidak membiarkan dirinya lumat. Maka di benturnya Aji Bajang itu dengan kekuatan Ajinya, Kala Bama. Kedua aji itu adalah kekuatan yang dahsyat, sedahsyat guntur dan petir. Itulah maka sebabnya ketika Kuda Sempana melihat keduanya bersiap dalam kekuatan tertingginya, maka hatinya seakan-akan menjadi meledak pula karenanya. Hampir ia berteriak, tetapi suaranya tidak terdengar oleh siapapun. Bahkan oleh dirinya sendiri.

Sementara itu Wong Sarimpat pun mengerutkan keningnya. Dibiarkannya kakaknya membenturkan Aji Bajang. Ia yakin bahwa kekuatan Aji Bajang sedemikian dahsyatnya, sehingga hampir tak dapat dibayangkan akibatnya. Meskipun Wong Sarimpat tahu pula bahwa Empu Sada pun pasti memiliki simpanan kekuatan, namun setidak-tidaknya Aji Bajang tidak akan dapat dikalahkan.

“Hanya setan dari Tumapel itu yang tidak lumat karena Aji Bajang“ desis Wong Sarimpat, “tetapi apabila Aji Bajang itu diulang, maka prajurit Tumapel yang sombong itu pasti akan menjadi debu”.

Dalam pada itu, Kuda Sempana yang benar-benar membeku itu melihat Kebo Sindet meloncat seperti petir menyambar di langit. Namun dalam pada itu ia melihat Empu Sada seperti sebuah gunung karang yang kokoh kuat, yang tak tergetarkan oleh petir yang betapapun dahsyatnya.

Demikianlah maka Empu Sada segera menyongsong Kebo Sindet. Kali ini dihempaskannya segenap kekuatannya pada tongkat panjangnya. Apapun yang akan terjadi. Ia merasa pula bahwa Kala Bama tidak akan berada di bawah kekuatan iblis dari Kemundungan itu. Sejenak kemudian terjadilah sebuah benturan yang mengerikan. Demikian kerasnya, sehingga bunga api memercik di udara, meloncat dari kedua senjata yang sedang beradu. Sesaat mereka yang menyaksikan benturan itu dicengkam oleh ketegangan yang memuncak. Seperti mereka pun ikut pula dalam benturan yang dahsyat itu.

Akibat dari benturan itupun dahsyat pula. Kebo Sindet terlempar beberapa langkah surut. Dengan kerasnya ia terbanting jatuh. Beberapa kali ia berguling, kemudian dengan terhuyung-huyung iblis itu mencoba tegak berdiri. Goloknya yang besar masih berkilat-kilat di dalam genggamannya. Sedang Empu Sadapun kemudian terpelanting dari kudanya. Dengan kerasnya kuda itu meringkik. Terasa pula dorongan kekuatan benturan itu, sehingga kuda itu tegak berdiri. Namun kuda itu tidak berlari meninggalkan penunggangnya yang jatuh berguling-guling di tanah.

Seperti Kebo Sindet, Empu Sada pun segera mencoba berdiri. Ia masih menggenggam tongkatnya, tetapi ketika ia tegak sambil mengamati tongkatnya itu, maka dadanya berdesir. Ia berpaling ketika ia mendengar Wong Sarimpat tertawa berkepanjangan sambil berteriak-teriak,

“He, Empu. Ternyata tongkatmu terpatahkan”.

Kuda Sempana terkejut mendengar teriakan itu. Ketika ia memandangi gurunya yang berdiri dengan nafas terengah-engah, maka dadanya berguncang dengan dahsyat. Iapun kini melihat bahwa tongkat gurunya, yang selama ini selalu menemaninya, melawan segala macam senjata yang ada di dunia ini tanpa dapat dilukai apalagi patah, maka kini dalam benturan dengan golok Kebo Sindet, tongkat itu patah menjadi dua hampir ditengah-tengah. Apa yang dilihatnya itu benar telah membuat Kuda Sempana hampir kehilangan kesadaran. Ia menjadi bingung dan merasa seakan-akan berada dalam sebuah mimpi, yang dahsyat. Tetapi, ketika ia melihat gurunya menimang tongkatnya yang patah itu, segera ia tersadar, bahwa yang terjadi itu bukanlah sebuah mimpi.

Yang terdengar adalah suara tertawa Wong Sarimpat di samping kata-katanya, “Hayo Empu yang sakti. Apakah sekarang kau masih juga menyombongkan diri sambil menengadahkan dadamu untuk melawan sepasang Garuda dari Kemundungan? Menyerahlah, supaya kau mati dengan tenang”.

Terdengar Empu Sada menggeram. Tetapi segera ia bersiap menghadapi setiap kemungkinan. Sekali-sekali diamat-amatinya tongkatnya yang patah itu. Tetapi ia tidak terkejut seperti Kuda Sempana. Seharusnya ia telah melihat kemungkinan itu dapat terjadi. Tetapi Empu Sada tidak sempat merenung terlampau lama. Tiba-tiba ia melihat kuda Wong Sarimpat datang menyerangnya benar-benar seperti seekor Garuda menyambar anak kambing yang kehilangan induknya. Tetapi Empu Sada bukan seekor anak kambing. Betapapun juga ia masih mampu menghindari serangan itu. Dipungutnya potongan tongkatnya yang lain, sehingga dengan demikian kini ia bersenjata sepasang potongan tongkatnya.

Serangan Wong Sarimpat itu pun kemudian datang bergelombang seperti ombak di lautan. Beruntun tak henti-hentinya menghantam tebing, sehingga beberapa kali Empu Sada terdesak semakin jauh. Sekali lagi dada Empu Sada berdesir ketika ia melibat Kebo Sindet dengan tiba-tiba meloncat ke atas punggung kudanya. Ya, kuda yang telah terlepas dari tanganya karena benturan kekuatan. Terdengarlah orang tua itu menggeram semakin keras.

Tiba-tiba ia mendengar Kuda Sempana berteriak “Guru, pakailah kudaku.”

Empu Sada terkejut mendengar teriakan itu. Kemudian disusul dengan teriakan Kebo Sindet, “Kuda Sempana. Apakah kau sadari perbuatanmu itu?”.

Dengan tiba-tiba Empu Sada melihat Kuda Sempana telah berada di sampingnya. Sekali lagi ia berkata, “pakailah kudaku”.

Empu Sada menjadi ragu-ragu. Di atas punggung kuda itu terdapat Mahisa Agni. Tetapi apakah ia dapat melepaskan diri dari kedua iblis itu? Apakah dengan demikian ia tidak mempercepat kematian Mahisa Agni?. Dalam keragu-raguan itu ia mendengar muridnya bertanya lirih

“Guru, kenapa tongkat itu terpatahkan?”.

“Jangan heran Kuda Sempana. Tongkat ini bukan tongkat ciri kebesaranku selama ini. Tongkat itu telah aku serahkan kepada adikmu, Sumekar. Tongkat ini adalah tongkat rangkapan, yang biasa kita pakai di padepokan.”

“Oh”, dada Kuda Sempana berdesir, “jadi…”.

“Ya. Aku tidak biasa mempergunakan senjata jenis yang lain. Tetapi tongkat ini tidak sekuat tongkat ciri kebesaran Empu Sada sendiri.”

Terasa jantung Kuda Sempana menghentak-hentak di dalam dadanya. Betapapun ia menjadi sangat cemas melihat gurunya kini hanya bersenjata tongkatnya yang telah patah menjadi dua. Apalagi Empu Sada kini sudah tidak berada di punggung kuda, sedang Kebo Sindet justru telah mendapatkan kudanya. Dengan demikian maka Empu Sada harus berhadapan dengan dua orang lawan yang masing-masing memiliki ilmu setingkat dengan dirinya dan mereka berada di punggung kuda kedua-duanya.

Sementara itu Empu sada sendiri berada dalam keragu-raguan. Ia mendengar tawaran muridnya untuk mempergunakan kudanya. Tetapi ia tidak segera dapat menerimannya. Dengan demikian, maka tindakan Kuda Sempana itu pasti akan menimbulkan kemarahan yang tak terkendali pada Kebo Sindet dan Wong Sarimpat atasnya. Kalau Empu Sada tidak berhasil mempertahankan dirinya, maka Kuda Sempana pun pasti akan menjadi korban. Mungkin Empu Sada dapat mengambil cara yang lain tanpa menghiraukan nasib orang lain. Mungkin ia dapat dengan serta merta melarikan diri sambil membawa tubuh Mahisa Agni yang pingsan itu. Tetapi dengan demikian ia pasti akan mengorbankan Kuda Sempana. Ia berhasil menyelamatkan satu nyawa, tetapi ia akan mengorbankan nyawa seorang yang lain.

Meskipun ia dapat membedakan nilai kedua anak muda itu, tetapi ia masih belum sampai hati berbuat demikian, betapapun ia menjadi benci dan muak melihat muridnya itu. Namun pada saat-saat terakhir muridnya masih juga merasa cemas aka keselamatannya. Dan agaknya sikap itulah yang telah melunakkan hati Empu Sada atas Kuda Sempana. Sejenak Empu Sada berada dalam kebimbangan dan kegelisahan. Dalam pada itu ia mendengar Kebo Sindet berteriak,

“Kuda Sempana, apakah kau ingin mengalami nasib seperti bekas gurumu itu nanti? Kalau kau mengurungkan niatmu memberikan kudamu kepada setan tua itu, maka aku akan memaafkan kesalahanmu”.

Kuda Sempana tidak menjawab. Tiba-tiba iapun dilanda oleh kecemasan yang tajam. Terasa dadanya bergelora semakin keras. Dipandanginya gurunya dan kedua hantu Kemundungan itu berganti-ganti. Sementara bulan yang tua beredar dengan malasnya, semakin tinggi menggapai puncak langit.

Tiba-tiba Kuda Sempana itu mendengar gurunya berdesis, “Terima kasih Kuda Sempana. Pikirkanlah nasibmu sendiri. Sukurlah kalau kau mampu melupakan dendammu kepada Mahisa Agni dan mencoba menyelamatkannya”.

Yang di dengar adalah suara Wong Sarimpat, sambil berkata “Apa yang akan kau lakukan Kuda Sempana? Apakah kau akan mencoba lari? Kau harus menyadari bahwa hal itu akan tidak berguna sama sekali bagimu. Salah seorang dari kami akan mengejarmu, menangkap dan menyeret kau di belakang kaki-kaki kuda sampai kulitmu terkelupas seperti pisang yang telanjang. Apakah kau pernah membayangkan betapa pedihnya luka-luka itu apabila di sentuh oleh air asam atau air jeruk dan garam?”.

Bulu-bulu Kuda Sempana meremang mendengar ancaman itu. Baik Kuda Sempana maupun Empu Sada merasa bahwa hal yang demikian itu sebenarnya dapat terjadi atas Kuda Sempana apabila ia melanggar perintah kedua iblis itu. Kebo Sindet dan Wong Sarimpat sebelumnya akan dapat berlaku apa saja atas seseorang yang mengecewakannya. Tak ada lagi perasaan apapun pada kedua orang itu menghadapi kekejaman yang bagaimanapun juga. Dengan demikian, maka Empu Sada tidak akan sampai hati membiarkan hal itu terjadi atas Kuda Sempana, betapapun sifat dan watak anak muda itu.

Namun, Empu Sada itu pun kemudian menjadi semakin bulat tekatnya menghadapi kedua iblis itu dengan tangannya. Meskipun ia menyadari bahwa keduanya bukanlah anak-anak yang sedang belajar bermain-main di atas punggung kuda dengan golok di tangan, tetapi Empu Sada itu tidak mempunyai pilihan lain.

Sekali lagi ditimang-timangnya kedua potongan senjatanya. Ternyata tongkatnya tidak dapat bertahan terhadap golok Kebo Sindet. Meskipun tongkat itu bukan tongkat kebesaran perguruannya, tetapi Senjata yang patah itu telah menyentuh perasaannya, seperti ketika ia menengadahkan wajahnya ke langit, maka bulan masih juga berkalang.

Koleksi:Ismoyo
Retype: Sukasrana
Proofing:Wiek
Cek Ulang:Arema






OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar