MENU

Ads

Kamis, 12 Maret 2026

Pelangi di Langit Singasari 131

PdLS-27
“ALAMAT yang kurang menyenangkan” desis Empu Sada di dalam hatinya. Tetapi hati itu telah bulat. Tekad di dalam dadanya telah mengendap.

“Aku akan bertempur sampai aku tidak mampu lagi menggerakkan tubuhku.” katanya di dalam hati, “aku akan mempertaruhkan nyawaku untuk menenteramkan perasaanku. Kematian yang demikian adalah kematian yang paling menyenangkan”.

Dan tiba-tiba Empu Sada itu berkata, “Minggirlah Kuda Sempana. Jangan pikirkan aku lagi.”

“Tetapi Empu sekarang tidak bersenjata lagi. Bagaimana Empu akan melawan ke duanya?”

Dengan wajah yang tegang Empu Sada memandangi ke dua potongan tongkatnya sambil berdesis, “Aku mengharap bahwa aku dapat mempergunakannya.”

Dan tiba-tiba saja, tanpa diduga-duga oleh siapa pun, baik oleh Kuda Sempana maupun oleh Kebo Sindet dan Wong Sarimpat maka Empu Sada dengan serta merta melemparkan sepotong dari potongan tongkatnya itu. Demikian keras dan tiba-tiba sehingga Wong Sarimpat tidak sempat untuk berbuat sesuatu. Ia melihat tongkat itu meluncur ke arah pahanya. Demikian cepatnya. Betapapun ia cakap mengendalikan kudanya, tetapi kali ini ia tidak sempat apa-apa. Ia hanya mampu menghindarkan pahanya dari sambaran potongan tongkat Empu Sada.

Namun kedudukannya kurang menguntungkannya. Tongkat itu menyambar dari sisi sebelah kiri. Meskipun tangan kirinya tidak kalah cepatnya menggerakkan goloknya dari tangan kanan, tetapi goloknya saat itu berada di tangan kanannya sehingga Wong Sarimpat itu tidak pula sempat menangkis dengan mempergunakan goloknya. Sehingga, yang terjadi sangat mengejutkannya. Terdengar kuda Wong Sarimpat itu memekik tinggi kemudian jatuh terbanting di tanah. Di lambung kuda itu menancap potongan tongkat Empu Sada menembus tubuhnya.

Wajah Kebo Sindet yang beku sebeku wajah mayat itu tampak berkerut melihat kejadian itu. Sejenak ia terpukau di tempatnya dengan desah nafas yang memburu semakin cepat. Terdengar ia menggeram dalam nada yang berat.

Sementara itu, Wong Sarimpat telah meloncat turun sambil mengumpat keras-keras,, “he setan tua yang licik. Kenapa kau berusaha membunuh hanya seekor binatang. Kenapa kau tidak membidik kepalaku atau tengkukku?”

“Tak akan ada gunanya” sahut Empu Sada,, “kau pasti mampu menghindarinya. Tetapi kuda itu tidak. Dan ternyata kau kini sudah tidak berkuda lagi. Dengan demikian maka pekerjaanku akan menjadi semakin ringan. Kini aku tinggal berusaha untuk membunuh kudaku yang di curi oleh Kebo Sindet itu, supaya kita dapat berhadapan dengan kaki kita masing-masing berjejak di atas tanah”.

“Persetan dengan sesorahmu. Ayo kita selesaikan persoalan ini”.

“Jangan hanya banyak bicara” potong Empu Sada,, “aku sudah siap menunggu kalian”.

Wong Sarimpat yang dilanda oleh arus kemarahan itu pun maju setapak demi setapak mendekati Empu Sada. Terdengar ia berkata,, “Kuda Sempana. Pergilah, supaya aku dapat dengan leluasa membunuh Empu tua yang tak tahu diri ini”.

Kuda Sempana tidak menyahut. Sekali ia berpaling ke pada Empu Sada yang berdesis, “menepilah”. Tetapi Kuda Sempana masih tetap di tempatnya.

“Empu Sada” berkata Wong Sarimpat, “selagi tongkatmu masih utuh, kau tidak mampu melawan kami berdua. Kini tongkatmu itu tinggal sepotong. Apakah kau masih akan mencoba melawan? Apalagi salah seorang dari kami berada dipunggung kuda. Nah, umurmu akan menjadi semakin singkat. Dan kau akan mati dengan cara yang barangkali belum pernah kau bayangkan”.

Ancaman Wong Sarimpat itu ternyata memberi kesadaran kepada Empu Sada bahwa senjatanya memang tidak akan banyak berarti lagi untuk melawan sepasang golok yang berada di tangan sepasang hantu dari Kemundungan itu. Tetapi apakah yang akan dilakukannya? Ia tidak akan dapat mengambil potongan senjatanya yang lain, sebab potongan itu terletak terlampau jauh dari padanya.

Sementara itu ia melihat kuda Kebo Sindet pun telah bergerak pula. Bahkan orang itu telah mempersiapkan diri untuk menyambarnya dengan kuda itu. Sambil mengayun-ayunkan goloknya. Empu Sada melihat Kebo Sindet telah siap menyerangnya. Dalam waktu yang singkat itu Empu Sada mencoba berpikir untuk mendapatkan cara yang sebaik-baiknya melawan ke dua orang yang liar itu. Tongkatnya yang tinggal sepotong itu tidak akan dapat membantunya. Tetapi apa yang dapat dilakukannya?

Dalam ketegangan itu, maka suasana di cengkam oleh kesenyapan yang mengerikan. Tak seorang pun yang telah mulai dengan sergapan dan serangan, seakan-akan mereka menunggu perkembangan keadaan. Tetapi wajah-wajah mereka menjadi semakin keras sekeras batu karang. Sedang senjata-senjata mereka menjadi semakin erat di dalam genggaman. Ketegangan itu tiba-tiba dipecahkan oleh derap kuda Kebo Sindet yang meluncur seperti badai menyambar Empu Sada. Golok Kebo Sindet terayun dengan cepatnya mengarah kepada lawannya.



Namun Empu Sada pun telah bersiap pula menerima serangan itu. Dengan lincahnya ia meloncat kesamping menghindari sambaran golok Kebo Sindet, namun kemudian, ia melenting menyerang dengan potongan tongkatnya. Tetapi potongan tongkat itu ternyata terlampau pendek. Meskipun tangannya sudah terjulur lurus, tetapi ujung tongkatnya yang sepotong itu masih belum menyentuh tubuh lawannya sama sekali, meskipun Kebo Sindet sama sekali tidak berusaha untuk menangkisnya. Dengan menggeser tubuhnya sedikit saja, maka iblis itu telah dapat membebaskan dirinya dari lawannya.

Terdengar Empu Sada berdesis. Senjata yang selama ini dipergunakan adalah sebuah tongkat yang panjang. Sebenarnya, ia telah meletakkan senjatanya itu. Ia tidak ingin lagi melibatkan diri dengan persoalan yang harus diselesaikan dengan senjata. Tetapi persoalan Mahisa Agni, anak Jun Rumanti itu, telah memaksanya untuk mengangkat sebatang tongkat lagi. Tetapi tongkat itu tidak dapat membantu sepenuhnya seperti tongkat pusakanya, ciri kebesarannya. Sementara, Kebo Sindet memutar kudanya, Wong Sarimpat telah melompat pula sambil memutar goloknya menyerang Empu Sada dengan garangnya.

Sekali lagi Empu Sada harus menghindari serangan itu, tetapi ia tidak sekedar mau menjadi sasaran yang meloncat kian kemari seperti sedang menari di atas bara. Dengan dahsyatnya ia pun segera menyerang. Tongkatnya yang sepotong itu mematuk dengan lincahnya. Tetapi sekali lagi ia menjadi kecewa, bahwa tongkatnya ternyata terlampau pendek.

“Hem” ia berdesah di dalam hati.

Meskipun demikian, Empu Sada adalah seorang tua yang memiliki perbendaharaan pengalaman yang banyak sekali. Karena itu meskipun, setiap kali ia dikecewakan oleh tongkatnya yang pendek, namun ia masih mampu juga bertahan untuk beberapa saat.

Tetapi sejenak kemudian segera terasa, bahwa melawan kedua hantu dari Kemundungan itu adalah pekerjaan yang berat sekali baginya. Dan disadarinya bahwa ia tidak akan mampu melakukannya. Apalagi keadaan kedua orang itu jauh lebih baik dari padanya. Yang seorang dari mereka berada di punggung kudu yang dapat menyambarnya seperti seekor Garuda, dan keduanya masih menggenggam senjata masing-masing. Sedang Empu Sada harus melawan mereka berdua seorang diri dengan senjata yang telah patah pula.

Dalam keadaan yang semakin sulit, tiba-tiba Empu Sada itu meloncat ke arah Kuda Sempana. Dengan serta merta ditariknya pedang anak muda itu tanpa minta ijin dahulu kepadanya. Alangkah lerkejut anak muda itu. Tetapi semuanya itu terjadi dalam waktu yang sangat singkat, dan Kuda Sempana hanya dapat melihat pedangnya itu sudah berada di tangan Empu Sada.

Kini Empu Sada mempergunakan senjata rangkap pada kedua belah tangannya. Tangannya yang kiri menggenggam pedang Kuda Sempana, dan tangannya yang kanan memegang potongan tongkatnya. Ia masih belum yakin benar terhadap kekuatan pedang Kuda Sempana. Apakah pedang itu mampu mengalami benturan-benturan dengan golok kedua orang Kemundungan yang besar dan tebal, apalagi terbuat dari baja pilihan. Ia masih lebih percaya kepada tongkatnya yang patah. Tongkat itu kini menjadi pendek. Karena itu, maka kemungkinan patah pun menjadi semakin kecil.

Dengan sepasang senjata itu lah Empu Sada melawan ke dua kakak beradik itu. Betapa Empu tua itu masih dapat meloncat-loncat dengan lincahnya. Menyambar-nyambar dengan penuh nafsu yang menyala di dalam dadanya, sehingga seolah-olah tenaganya menjadi bertambah-tambah.

Wong Sarimpat yang kemudian melihat Empu Sada itu bersenjata pada kedua tangannya, mengumpat tak habis-habisnya. Bahkan ia berteriak kepada Kuda Sempana, “He, anak yang tidak tahu diri kenapa pedangmu kau biarkan di ambil oleh setan tua itu? Sekarang, mumpung belum terlanjur, pergilah. Pergi jauh-jauh atau kembali ke Kemundungan lebih dahulu”.

Kuda Sempana mendengar teriakan itu. Tetapi ia masih belum beranjak dari tempatnya. Sementara itu pertempuran masih berlangsung terus.

“Cepat pergi” bentak Wong Sarimpat, “atau kau ingin aku bunuh pula”.

Kuda Sempana tidak menjawab, tetapi ia masih belum bergerak. Kuda Sempana itu berpaling ketika Kebo Sindet tiba-tiba telah berada di sampingnya, dan membiarkan adiknya bertempur seorang diri melayani Empu Sada. Dengan nada yang datar ia berkata,

“Kuda Sempana. Sebaiknya kau mendahului kami pergi Kemundungan. Letakkanlah Mahisa Agni itu di pembaringan, supaya ia tidak terlanjur mati. Aku memerlukannya hidup-hidup, seperti kau juga. Bukankah kau ingin melihat anak muda itu mengalami seperti yang pernah kau alami. Sakit hati yang tidak tersembuhkan”.

Kuda Sempana merasakan suatu perbawa yang tak dapat di atasinya. Ketika ia perpaling dan menatap wajah Kebo Sindet, tampaklah sepasang mata iblis itu seolah-olah menyala. Karena itu maka cepat-cepat Kuda Sempana menundukan kepalanya.

“Aku tidak menyalahkanmu” berkata Kebo Sindet yang suaranya seolah-olah bergulung-gulung saja didalam perutnya, “memang di luar kemampuanmu untuk mempertahankan pedangmu itu. Tetapi sebelum keadaan berkembang semakin jelek, dan Wong Sarimpat itu menjadi semakin marah, nah pergilah. Pergilah lebih dahulu ke Kemundungan. Aku merasa bahwa kau tidak akan sampai hati melihat gurumu terbunuh dengan cara yang diinginkan oleh Wong Sarimpat. Tetapi aku tidak dapat mencegah adikku itu mendapatkan permainan yang menyenangkan, apalagi mencegah keinginanku sendiri. Supaya kau tidak pingsan, maka pergilah. Kecuali kalau kau memang ingin menyaksikan, bagaimana tubuh gurumu akan menjadi makanan burung gagak dan anjing-anjing liar”.

Terasa dada Kuda Sempana menjadi semakin pepat. Namun ia masih saja tidak bergerak. Kata-kata Kebo Sindet yang diucapkannya perlahan-lahan itu justru terasa betapa mengerikannya. Tanpa dikehendakinya, maka Kuda Sempana itu memandangi gurunya yang sedang berkelahi melawan Wong Sarimpat. Meskipun kemampuannya sama sekali masih kurang cukup untuk menilai perkelahian itu, tetapi ia dapat merasakan bahwa gurunya mempunyai beberapa kelebihan dari Wong Sarimpat.

Senjata gurunya di kedua belah tangannya tampak menyambar-nyambar mengerikan di antara ayunan golok Wong Sarimpat. Tetapi Empu Sada sendiri dapat pula melihat bahwa Wong Sarimpat tidak berada dalam puncak kekuatannya. Dan Empu Sada dapat melihat, bahwa hal itu adalah akibat luka di pangkal lengannya. Luka itu agaknya selalu mengganggunya. Hanya karena ketahanan tubuh Wong Sarimpat yang luar biasa, maka luka itu tidak banyak mempengaruhinya.

Kebo Sindet pun melihat pula hal itu. Tetapi ia sama sekali tidak mencemaskannya. Ia memang melihat kelemahan adiknya dan apabila hal itu dibiarkannya, maka Wong Sarimpat akan lebih dahulu kehabisan tenaga. Tetapi waktu itu pasti cukup lama. Mungkin sehari, mungkin dua hari. Dan Kebo Sindet yakin, bahwa sebentar lagi apabila ia telah kembali ke arena, maka waktu yang diperlukan akan surut berlipat-lipat. Empu Sada itu pasti akan segera dapat mereka selesaikan.

Tetapi Kebo Sindet itu ingin supaya Kuda Sempana menjauhkan dirinya. Kebo Sindet menjadi cemas apabila tiba-tiba saja Empu Sada mendorong Kuda Sempana dari kudanya, dan kemudian berusaha melarikan kuda beserta Mahisa Agni. Ia hanya akan dapat menyusul Empu Sada itu seorang diri karena Wong Sarimpat sudah tidak berkuda lagi. Apabila mereka harus berkuda berdua, maka pasti akan memperlambat. Sebab kuda yang di pakai oleh Kuda Sempana agaknya lebih baik dari kuda Empu Sada yang dipakainya. Dan ia pun kemudian harus bertempur seorang diri pula di sepanjang pengejarannya. Dengan demikian, maka Kebo Sindet tidak yakin sampai berapa lama ia mampu mengalahkan Empu Sada. Bahkan mungkin sampai ke Tumapel, mereka masih juga harus bertempur di sepanjang jalan.

Karena itu maka sekali lagi ia berkata, “Kuda Sempana. Menyingkirlah selagi kau masih mempunyai kesempatan”.

Pengaruh kata-kata Kebo Sindet, serta sorot matanya yang seakan-akan langsung menembus kejantungnya itu tidak dapat di hindari oleh Kuda Sempana, sehingga seperti terdorong oleh suatu tenaga yang tidak dimengertinya, tiba-tiba ia menggerakkan kendali kudanya. Perlahan-lahan kuda itu berjalan dan kemudian memutar.

“Bagus” desis Kebo Sindet, “dahululah. Jangan terlampau cepat supaya kami segera dapat menyusulmu”.

Kepala Kuda Sempana yang kosong telah membawanya berjalan perlahan-lahan menjauhi arena. Sekali-sekali ia berpaling, dan kini dilihatnya Kebo Sindet telah pula menyerang Empu Sada. Untuk menahan senjata-senjata lawannya, maka kedua senjata Empu Sada itu berputar seperti baling-baling, sehingga putarannya menjadi sebuah perisai yang tak akan dapat di tembus oleh ujung jarum sekalipun.

Tetapi Kuda Sempana itu tertegun sejenak. Bahkan terdengar mulutnya menggeram. Meskipun demikian ia tidak memutar kudanya kembali ke arena perkelahian itu. Dengan dada yang berguncang-guncang ia melihat sekali gurunya terpelanting ketika ia menahan sergapan tiba-tiba Kebo Sindet di atas kuda. Tetapi Empu Sada itu masih cukup lincah. Ketika Wong Sarimpat berusaha menerkamnya, maka orang tua itu sudah bangun dan sekali lagi diputarnya kedua senjatanya untuk melindungi dirinya.

Meskipun demikian, segera terasa bahwa perlawanannya itu akan tidak banyak berarti bagi kedua iblis itu. Sebentar lagi maka ia pasti akan kehabisan tenaga, dan kedua golok lawannya itu akan mencincang tubuhnya.

“Hem” Empu Sada menggeram, “kalau yang membawa Mahisa Agni itu bukan Kuda Sempana, setidak-tidaknya aku mendapat kesempatan untuk mendapat kawan mati dan bahkan melarikan kudanya bersama Mahisa Agni. Mungkin aku akan berhasil memancing salah seorang dari keduanya untuk mengejarku di atas kudanya”.

Tetapi ia tidak dapat mengingkari kenyataan. Yang duduk di atas punggung kuda itu adalah Kuda Sempana, seorang dari muridnya. Perkelahian di arena menjadi semakin sengit. Namun menjadi semakin jelas pulalah bahwa Empu Sada menjadi semakin terdesak. Hanya karena tekadnya yang bulat serta hampir-hampir di dasari oleh keputusasaan, maka justru tenaganya menjadi kian dahsyat.

Tetapi Kuda Sempuna yang semakin jauh dari perkelahian itu masih juga sempat melihat bahwa gurunya berkali-kali terdorong surut, bahkan terbanting jatuh. Untuk melawan kedua lawannya itu. Empu Sada benar-benar telah memeras segenap tenaga, kemampuan dan ilmunya. Jatuh bangun ia berjuang. Terbersit tekad di dalam dadanya,

“Aku akan membawa salah seorang dari mereka untuk menemaniku meninggalkan dunia yang fana ini”.

Kuda Sempana akhirnya tidak sampai hati lagi melihat gurunya berjuang mati-matian dalam kesulitan. Ia tidak sampai hati melihat gurunya terbanting kemudian melenting berdiri untuk segera terdorong pula surut kebelakang. Sejenak kemudian Empu Sada itu harus meloncat jauh-jauh mengambil jarak dari kedua lawannya yang menyerangnya dari jurusan yang berbeda.

Dengan hati yang pedih, lebih pedih dari segala macam penderitaan yang dialaminya selama ini, Kuda Sempana segera memukul perut kudanya dengan tumitnya. Kuda itu terkejut dan segera meloncat seperti gila. Menembus keremangan malam yang di tandai oleh sesisir bulan yang sedang berkalang. Kuda Sempana sendiri bagaikan orang gila melecut-lecut kuda itu sekuat-kuat tenaganya. Ia ingin segera menjauhi tempat jahanam itu. Ia ingin melupakan apa yang baru saja dilihatnya. Dan ia sama sekali ingin melenyapkan gambaran-gambaran apa yang akan terjadi atas gurunya. Karena itulah maka ia berpacu sekuat-kuat kaki kudanya. Hampir-hampir ia tidak memperhatikan lagi Mahisa Agni yang tersangkut di punggung kuda itu pula.

Demikianlah, Kuda Sempana berusaha melarikan diri dari kenangan dan angan-angannya masa-masa lampau dan masa-masa yang akan datang. Dengan demikian ia pun seakan-akan melupakan dirinya sendiri masa kini. Ia tidak tahu kemana kudanya akan pergi. Tetapi kuda itu adalah kuda yang dibawanya dari Kemundungan, sehingga kuda itu berlari menurut jalan yang dikenalnya. Kemundungan.

Sedang di belakang Kuda Sempana itu gurunya bertempur antara hidup dan mati. Disadarinya bahwa nyawanya sebentar lagi akan meninggalkan tubuhnya. Tetapi ia tidak akan menyerahkan nyawanya seperti seekor lembu di pembantaian. Namun tiba-tiba perkelahian yang semakin seru dan semakin berat sebelah itu terganggu. Telinga-telinga mereka yang tajam itu mendengar suara derap seekor kuda di kejauhan. Semakin lama semakin dekat.

Kebo Sindet yang berada di punggung kuda menengadahkan wajahnya. Perlahan-perlahan ia berdesis seperti kepada diri sendiri, “apakah yang datang itu pande keris dari Lulumbang?”

Wong Sarimpat pun mengumpat di dalam hatinya. Ia pun menyangka bahwa yang datang itu pasti Empu Gandring. Karena itu, maka dengan penuh nafsu ia berteriak, “mari kita selesaikan tikus tua ini kakang. Sebentar lagi kita bantai orang yang datang untuk membunuh diri itu”.

Kebo Sindet memandangi Empu Sada yang sedang berusaha mengelakkan serangan Wong Sarimpat. Dengan suara berat dan datar ia menjawab, “Huh. Satu lagi datang seorang yang ingin membunuh Empu Sada itu pula. Wong Sarimpat. Nanti kalau orang itu datang, biarlah kita bersama-sama menguliti Empu yang malang ini. Bukankah orang itu Empu Gandring? Ia pasti menyangka bahwa Empu Sadalah yang menjadi biang keladi dari peristiwa ini. Nah, kira-kira orang tua itu akan berbuat apa?”

Empu Sada tidak menghiraukan apa yang mereka percakapkan. Tetapi ia menyerang lawannya sejadi-jadinya, semakin lama semakin dahsyat, seperti angin pusaran di musim kesanga.

Wong Sarimpat yang lebih banyak menjadi sasaran serangan Empu Sada itu mengumpat di dalam hati. Tetapi, ia tidak begitu yakin akan kata-kata kakaknya. Karena itu, maka baginya, lebih baik membunuh orang tua ini lebih dahulu dan kemudian membunuh Empu Gandring bersama-sama pula daripada berteka-teki tentang apa yang akan dilakukan oleh Empu Gandring. Dengan demikian, maka tandangnya pun menjadi semakin buas. Ia ingin segera membinasakan Empu Sada itu secepatnya.

Tetapi, Empu yang tua itu ternyata membuat perhitungan sendiri. Mungkin Empu Gandring, paman Mahisa Agni itu mendendamnya dan menyangkanya bahwa ia lah biang keladi dari penculikan kemenakannya itu. Tetapi yang datang itu benar Empu Gandring dan melihat perkelahian itu, maka ia pasti akan memihak Empu Gandring pasti akan memihaknya. Sebab ia adalah pihak yang lemah. Apabila Empu Gandring itu berhasil keluar dari perkelahian itu bersamanya, mengalahkan kedua iblis dari Kemundungan dan seandainya Empu Gandring masih tetap dalam pendiriannya menyangka dirinya dengan tuduhan itu, maka lawannya adalah pihak yang lemah. Bukan kedua orang iblis itu lagi.

Dengan demikian Empu Sada bertekad untuk bertempur terus. Meskipun Empu Sada itu menjadi semakin terdesak, tetapi ia mempunyai harapan untuk bertahan sampai kuda itu menjadi semakin dekat. Segala cara ditempuhnya untuk menyelamatkan dirinya. Meloncat-loncat, berlari-lari, melingkar-lingkar pada gerumbul-gerumbul liar. Ia tidak peduli lagi apa yang dikatakan orang tentang dirinya. Ia akan mempergunakan segala cara.

Kebo Sindet dan Wong Sarimpat mengumpat-umpat di dalam hati. Bahkan Wong Sarimpat berteriak, “He Empu Sada apakah kau sudah kehilangan sama sekali harga dirimu. Bagaimana mungkin seorang Empu yang sakti bertempur dengan cara itu”.

Empu Sada tidak menyahut. Ia bertempur semakin liar. Sama sekali tak diperhatikannya lagi tata kesopanan di dalam perkelahian. Sementara itu derap kuda dikejauhan pun menjadi semakin dekat. Harapan Empu Sada pun menjadi semakin berkembang. Tetapi Kebo Sindet dan Wong Sarimpat menjadi semakin keras mengumpat-umpat. Akhirnya mereka, yang sedang bertempur itu melihat seekor kuda berpacu seperti angin mendekati titik perkelahian itu.

Dalam pada itu, terdengar Kebo Sindet berkata, “Empu Sada, kalau Empu Gandring itu menjadi semakin dekat maka nyawamu pun akan menjadi semakin pendek”.

Empu Sada masih tetap tidak menjawab. Tetapi senjatanya bergerak semakin mantap. Kini kuda yang datang itu telah menjadi semakin dekat, dan sesaat kemudian kuda itu berhenti. Benarlah dugaan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat bahwa penunggangnya adalah Empu Gandring.

Demikian kuda itu berhenti terdengar Wong Sarimpat berteriak, “Empu Gandring ini kah orangnya yang kau cari?”

Empu Sada segera meloncat jauh kesamping untuk melepaskan diri dari perkelahian. Dengan sebuah senyuman ia menyambut kedatangan Empu Gandring, katanya, “Selamat malam Empu, telah cukup lama kami menunggu kedatanganmu”.

Empu Gandring yang duduk di atas punggung kudanya termenung sejenak melihat apa yang sedang terjadi. Ia tidak dapat segera mengerti, mengapa Kebo Sindet dan Wong Sarimpat bertempur melawan Empu Sada. Yang terdengar kemudian adalah suara Kebo Sindet kepada Empu Gandring,

“Kau telah menemukan orangnya, sumber bencana yang menimpa Mahisa Agni”.

Tetapi Empu Gandring tidak segera memberi tanggapan. Ia masih saja duduk membeku di atas punggung kudanya. Sementara itu Wong Sarimpat berteriak, “Mengapa kau masih saja seperti patung?”

Kebo Sindetlah yang menyahut, “Apakah kau memerlukan penjelasan, Empu Gandring?”

Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Ia ingin menghadapi persoalan itu dengan tenang, supaya ia tidak terperosok dalam suatu sikap yang salah.

Kebo Sindet terdengar berkata lagi, “Empu Gandring apakah kau masih sangsi bahwa kemanakanmu telah dilarikan oleh murid Empu Sada. Kau melihat sendiri bahwa Mahisa Agni berada di punggung kuda yang dipergunakan oleh Kuda Sempana. Memang akulah yang telah berbuat langsung, tetapi aku hanyalah sekedar alat. Aku tidak tahu maksud Empu Sada yang sebenarnya, dengan menculik Mahisa Agni. Baru kemudian aku tahu setelah aku menyerahkannya kepadanya.

Ternyata, dendam murid Empu Sada telah begitu tajam meracuni hatinya, sehingga kedua guru dan murid ini begitu sampai hati untuk berbuat di luar perikemanusiaan atas Mahisa Agni. Sehingga, kami berdua berusaha mencegah. Kemudian yang terjadi adalah seperti yang kau lihat ini. Kami berdua terpaksa bertempur melawan Empu Sada. Nah Empu Gandring sekarang terserah padamu apa yang akan kau lakukan. Kau akan dapat bersama-sama kami membunuh Empu Sada ini, kemudian bersama-sama kami pula mengejar Kuda Sempana. Sebab selama kami bertempur Kuda Sempana telah sempat melarikan Mahisa Agni”.

Empu Gandring masih tetap mematung. dilayangkannya pandangan matanya mengedari arena perkelahian itu. Dilihatnya Empu Sada berdiri tegak disisi sebuah parit yang kering. Ketika pandangan mata mereka beradu maka berkatalah Empu Sada,

“Empu Gandring, kau telah mendengar penjelasan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Tetapi apakah kau dapat mempercayainya”.

Empu Gandring masih tetap tidak menjawab. Dan Empu Sada pun berkata lebih lanjut, “Empu Gandring, aku menyesal bahwa aku tidak mendengarkan nasihatmu dahulu, seperti Bojong Santi pernah menasehati aku juga kalau aku berhubungan dengan kedua iblis dari Kemundungan itu maka aku pasti akan ditelannya. Ternyata nasihatmu itu benar-benar terjadi, aku kini telah kehilangan semuanya. Muridku pun telah dirampasnya pula, sedang muridku yang lain telah dibunuhnya. Empu Gandring, kini Mahisa Agni itu pun telah diambilnya untuk kepentingan yang kotor. Mereka ingin mempergunakan Mahisa Agni untuk melakukan pemerasan. Adalah Kuda Sempana yang memberitahukan kepada mereka, kedua iblis dari Kemundungan itu, bahwa bakal permaisuri Tunggul Ametung sangat mengasihi kakaknya, Mahisa Agni”.

“Bohong” potong Kebo Sindet, “jangan mempercayainya”.

“Empu Gandring” berkata Empu Sada pula, “kau telah mendengar penjelasan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat, dan kau telah mendengar penjelasanku pula. Kemudian terserah kepadamu manakah yang menurut pertimbanganmu dapat kau percaya”.

“Hebat” teriak Wong Sarimpat, “pembelaanmu hebat sekali Empu. Tetapi sayang bahwa hanya anak-anak kecil sajalah yang mempercayainya. Tetapi sudah tentu bukan Empu Gandring dan kami berdua yang sudah kenyang makan garam”.

Empu Sada sama sekali tidak menanggapi teriakan Wong Sarimpat. Ia tidak ingin terlampau banyak berbicara. Tetapi ia yakin bahwa Empu Gandring dapat melihat keadaan dengan wajar, sebab orang itu dahulu pernah mengatakan kepadanya sedikit tentang Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Karena itu maka Empu Sada membiarkan saja Wong Sarimpat berteriak-teriak terus,

“Empu Gandring apa lagi yang kita tunggu? Marilah kita selesaikan saja gurunya, kemudian marilah kita susul muridnya kepadepokan Empu Sada. Mahisa Agni itu pasti dibawanya kesana untuk diperlakukannya dengan biadab” Wong Sarimpat berhenti sejenak. Tetapi karena Empu Gandring masih belum menjawab, maka ia berkata selanjutnya, “atau kau ingin mendahului kami menyelamatkan kemenakanmu itu. Sementara kami menyelesaikan orang ini? Nanti sesudah pekerjaan ini selesai, maka kami pun akan menyusulmu ke Padepokan Empu Sada itu”.

Ketika Wong Sarimpat terdiam, maka kesenyapan segera menerkam suasana. Kebo Sindet, Wong Sarimpat dan Empu Sada menjadi tegang menunggu sikap Empu Gandring. Keputusan orang itu akan menentukan keadaan. Apabila Empu Gandring berpihak kepada Kebo Sindet dan Wong Sarimpat, bersama-sama membinasakan Empu Sada, maka kemudian ia pun pasti akan binasa pula ditangan kedua iblis itu. Tetapi kalau ia berpihak kepada Empu Sada, maka keadaannya akan berbeda.

Ternyata perhitungan Empu Gandring tidak jauh berbeda dengan perhitungan Empu Sada. Kalau ia berpihak kepada Empu Sada, maka seandainya ia masih menjumpai persoalan dengan orang itu, maka kedudukan mereka pasti akan seimbang. Bahkan mungkin tiga hari, seminggu dan bahkan setahun, mereka tidak akan dapat menentukan siapakah yang akan menang dan akan kalah. Mungkin Empu Gandring mempunyai beberapa kelebihan dari Empu Sada, tetapi dalam perkelahian terbuka, maka kelebihan yang hanya selapis itu tidak akan banyak berpengaruh. Apalagi melihat cara Empu Sada berkelahi saat ini. Meloncat-loncat, berlari-lari bersembunyi dan melingkari pepohonan yang daun-daunnya menjadi berguguran. Karena itu maka Empu Gandring membulatkan tekadnya. Ia memilih berpihak kepada Empu Sada. Pengenalannya kepada mereka, yang sedang berkelahi itu telah mendorongnya untuk mengambil keputusan itu.

Dalam ketegangan itu Empu Gandring menggerakkan kudanya beberapa langkah maju. Keris raksasanya ternyata masih saja berada di dalam genggamannya. Sejenak ia mengawasi ketiga orang yang tegang mematung. Akhirnya terdengarlah suaranya membelah kesenyapan,

“Empu Sada, aku berpihak kepadamu. Meskipun setelah pertempuran ini selesai, entah sehari, atau seminggu, aku masih harus berurusan dengan kau”.

“Baik Empu” sahut Empu Sada, “aku terima syaratmu. Ternyata kau cukup bijaksana menentukan pilihan”.

“Persetan kalian” tiba-tiba Kebo Sindet berteriak nyaring.

Tanpa berkata sepatah kata pun lagi, kudanya meluncur dengan cepatnya menyerang Empu Gandring. Untunglah bahwa selama ini Empu Gandring tidak meninggalkan kewaspadaan, sehingga ketika golok iblis itu mematuknya, maka Empu Gandring pun segera menangkisnya dengan keris raksasanya.

“Hem” Empu Gandring menggeram, “kau segera mulai Kebo Sindet. Baiklah, aku memang ingin segera menyelesaikan persoalan ini”.




OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar