MENU

Ads

Kamis, 12 Maret 2026

Pelangi di Langit Singasari 132

Kebo Sindet tidak menjawab. Kudanya segera berputar untuk melakukan serangan sekali lagi. Demikianlah maka Kebo Sindet dan Empu Gandring itu segera terlibat dalam perkelahian yang seru. Masing-masing adalah orang-orang yang pilih tanding. Meskipun Empu Gandring tidak setangkas Kebo Sindet bermain-main dengan kuda, tetapi ketangkasannya menggerakkan senjata dapat mengimbangi kekurangannya, sehingga perkelahian itu pun menjadi seimbang. Keduanya sambar menyambar dengan dahsyatnya. Senjata-senjata mereka terayun-ayun dan berputaran. Seolah-olah di langit telah berterbangan seribu macam senjata dari kedua jenis senjata itu. Keris-keris raksasa dan golok-golok yang berkilat-kilat.

Empu Sada masih saja berdiri di sisi sebuah parit yang kering. Perlahan-lahan ia melangkah maju sambil menarik nafas dalam-dalam. Kini ia mempunyai harapan lagi untuk mempertahankan hidupnya dan menolong Mahisa Agni. Dengan penuh minat diperhatikannya perkelahian yang dahsyat antara Empu Gandring dan Kebo Sindet yang masing-masing berada di punggung kuda. Seperti sedang melihat sepasang burung garuda yang bertempur di udara.

Di tempat lain, Wong Sarimpat pun memandang perkelahian itu dengan penuh gairah. Tanpa disadarinya sekali-sekali tangannya menyentuh-nyentuh luka di pangkal lengannya. Meskipun luka itu sudah tidak berdarah lagi, tetapi masih juga terasa, bahwa luka itu agak mengganggunya. Namun agaknya Wong Sarimpat tidak mempunyai kesempatan untuk memperhatikan luka itu. Ketika ia berpaling dilihatnya Empu Sada berjalan perlahan-lahan ke arahnya sambil berkata,

“Wong Sarimpat, kini keadaan menjadi berubah. Nah, sekarang kau tidak perlu mengumpat-umpat lagi. Aku tidak akan berlari-lari, meloncat-loncat dan bersembunyi seperti seekor kera kepanasan”.

“Persetan” sahut Wong Sarimpat, “kau telah berhasil menipu pande keris itu”.

“He” Empu Sada mengerutkan keningnya, “apakah aku menipunya? Ah, jangan begitu Wong Sarimpat. Kau tahu apa yang sebenarnya telah terjadi. Dan kau masih juga berkata aku menipunya”.

Wong Sarimpat menggeram. Digerakkannya goloknya dan ia pun maju selangkah demi selangkah menyongsong Empu Sada yang mendekatinya. Keadaan menjadi semakin tegang, sejalan dengan langkah-langkah mereka, Empu Sada dan Wong Sarimpat, yang jaraknya menjadi semakin dekat. Kini senjata-senjata mereka telah siap untuk dipergunakan. Sebuah golok besar di tangan Wong Sarimpat dan Empu Sada masih tetap menggenggam potongan tongkatnya di tangan kanan dan pedang Kuda Sempana di tangan kirinya.

Ketika jarak mereka sudah tidak lebih dari ampat langkah lagi, tanpa berjanji, serentak mereka pun berlari. Sejenak mereka saling berpandangan. Tak sepatah kata pun mereka ucapkan, tetapi lewat sorot mata mereka melontarlah segala macam kebencian, dendam, marah bercampur-baur.

Tetapi waktu itu tidak terlampau lama. Sesaat kemudian dengan sebuah teriakan yang nyaring Wong Sarimpat meloncat menyerang. Seperti petir menyambar di langit, goloknya menyambar lawannya. Tetapi Empu Sada telah siap menanti saat yang demikian. Itulah sebabnya maka ia sama sekali tidak terkejut. Segera ia menyesuaikan dirinya, sehingga dengan kecepatan yang sama Empu Sada membebaskan dirinya dari serangan itu. Tetapi sekejap kemudian, Empu Sada lah yang berganti menyerang. Kedua senjatanya berderak susul-menyusul, demikian cepatnya bagaikan berpuluh-puluh ujung senjata yang ditaburkan bersama-sama.

Mengalami serangan itu, sekali lagi Wong Sarimpat berteriak nyaring. Ia terpaksa meloncat surut beberapa langkah. Tetapi sesaat kemudian mereka telah terlibat kembali dalam pertarungan yang sengit. Pertarungan dari dua orang yang menyimpan dendam sedalam lautan di dalam dada masing-masing. Dengan demikian maka pertarungan itu menjadi pertarungan yang sangat dahsyat. Masing-masing sama sekali sudah kehilangan pengendalian diri. Yang ada di dalam hati mereka tinggallah nafsu untuk membunuh lawannya, dengan jalan dan cara apa pun juga. Sehingga perkelahian itu segera menjadi keras dan kasar, seperti perkelahian dua ekor harimau yang paling buas di dalam rimba yang sama sekali tidak pernah bersentuhan dengan peradaban.

Di sisi yang lain dua ekor kuda masih saling menyambar. Dengan gelora di dalam dada yang tidak kalah serunya, Empu Gandring dan Kebo Sindet pun bertempur mati-matian. Senjata-senjata mereka yang terayun-ayun di udara serta benturan-benturan yang terjadi tak ubahnya seperti lidah api yang berlaga di langit. Percikan bunga api yang terjadi dalam setiap benturan senjata, seperti bunga-bunga yang membara yang ditaburkan dari langit.

Sementara itu bulan yang sepotong masih bergayutan di langit. Sinarnya yang kekuning-kuningan menjadi semakin kabur, di saput oleh warna kemerah-merahan yang memancar dari timur. Angin yang silir berhembus lembut, menyentuh dedaunan yang telah menjadi kekuning-kuningan. Gemerisik suaranya seolah-olah membawa kabar bahwa sebentar lagi fajar akan segera datang. Ketika warna merah di punggung bukit di ujung timur menjadi semakin nyata, maka satu-satu bintang pun mencari tempat persembunyiannya, supaya wajahnya yang cantik tidak menjadi terbakar oleh terik matahari yang ganas.

Ternyata mereka yang sedang bertempur pun masih juga mempunyai kesempatan menyadari bahwa fajar hampir menyingsing. Tetapi justru karena itu, maka mereka menjadi gelisah. Apabila hari menjadi pagi, maka ada kemungkinan, seseorang melihat perkelahian ditengah-tengah padang yang kering itu. Apabila demikian, maka keadaan akan menjadi berbahaya. Terutama bagi Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Apalagi, apabila anak muda yang aneh, yang berpakaian prajurit Tumapel itu datang pula ke arena ini.

Karena itu, maka baik Kebo Sindet maupun Wong Sarimpat, kemudian bertempur semakin bernafsu. Mereka ingin segera menyelesaikan perkelahian itu. Namun lawan-lawan mereka pun berbuat serupa. Sehingga dengan demikian, maka perkelahian itu seolah-olah hampir tidak ada perubahan apapun. Perkelahian itu masih tetap seimbang dan dalam keadaan yang sama seperti perkelahian itu baru di mulai.

Sekali-kali terbersit ingatan di kepala Kebo Sindet untuk menghindar saja dari arena, tetapi ia tidak akan dapat meninggalkan adiknya bertempur sendiri. Karena itu maka tak habis-habisnya ia mengumpati Empu Sada yang licik, yang ternyata telah menyerang kuda-kuda mereka sehingga kini Wong Sarimpat terpaksa bertempur di atas tanah.

Seandainya Kebo Sindet berusaha membawa Wong Sarimpat bersamanya di atas satu punggung kuda, maka kesempatan itu sangat berbahaya bagi adiknya. Pada saat adiknya meloncat, maka Empu Gandring dan Empu Sada dapat menyerang bersama, sehingga sangat sulitlah untuk menghindarkan diri.

Karena itu, maka tidak ada jalan lain daripada berkelahi terus. Bahkan Kebo Sindet itu menjadi semakin garang dan semakin bernafsu, seperti Wong Sarimpat. Bahkan Wong Sarimpat itu telah hampir sampai kepuncak kemarahannya. Ia menjadi semakin muak melihat sikap Empu Sada yang di dalam pandangan matanya menjadi semakin liar. Namun sebaliknya Empu Sada pun menjadi semakin mendendam Wong Sarimpat yang di dalam pandangan matanya menjadi semakin buas.

Sebenarnyalah, bahwa kedua orang itu telah sama-sama kehilangan nilai-nilai tata kesopanan dalam pertarungan tanding. Mereka berbuat apa saja. Bahkan Wong Sarimpat yang sedang mata gelap telah berusaha menaburkan segenggarn pasir ke dalam mata Empu Sada. Untunglah Empu Sada dapat menghindar dengan cepat, dengan meloncat jauh-jauh ke belakang. Namun Empu Sada pun telah memukul pula dengan tongkatnya seonggok batu karang yang diarahkan kepada lawannya. Tetapi Wong Sarimpat pun dengan lincah dapat pula menghindari. Meskipun karena itu, maka ia mengumpat-umpat dengan bahasa yang paling kotor yang pernah dikenalnya.

Akhirnya Wong Sarimpat itu tidak dapat bersabar lagi. Ia merasa wajib untuk segera memusnakan lawannya. Kalau ia tidak dapat membinasakannya dengan wajar, maka ia harus mempergunakan tenaga simpanannya. Aji kebanggannya seperti yang dimiliki oleh kakaknya, aji Bajang.

Dan Wong Sarimpat merasa, bahwa kini saatnya telah tiba baginya untuk mempergunakan aji itu. Meskipun ia tahu, bahwa Empu Sada pun memiliki pula kekuatan yang akan dapat mengimbangi aji Bajangnya, namun dengan demikian, maka persoalannya akan lebih cepat selesai. Yang hancur akan lebih cepat hancur dan yang menang akan lebih cepat melihat kemenangannya. Namun Wong Sarimpat itu pun mengerti juga, bahwa masih ada kemungkinan-kemungkinan yang lain. Hancur bersama-sama atau aji-aji itu tidak berguna sama sekali. Apabila demikian, maka perkelahian itu akan berlangsung terus. Mungkin sehari lagi, seminggu atau apabila salah seorang telah menjadi kelaparan.



Tetapi Wong Sarimpat tidak mau dirisaukan oleh seribu satu macam pertimbangan. Ia ingin mempergunakan Aji Bajangnya saat ini. Habis perkara. Dengan demikian maka Wong Sarimpat itu segera mengambil jarak dari lawannya. Disilangkannya goloknya di muka dadanya. Dipusatkannya segenap kekuatan dan dihimpunnya menjadi kekuatan yang dahsyat. Kekuatan lahir dan batin yang didapatnya dengan segala macam jalan. Jalan yang hitam. Yang ditemuinya di bawah kelamnya pohon-pohon tua yang rimbun, di balik batu-batu yang besar dan di dalam gelapnya goa-goa yang lembab.

Empu Sada pun segera melihat apa yang sedang dihadapinya. Karena itu ia tidak boleh bermain-main lagi menghadapi sikap lawannya. Ia pun harus berbuat serupa pula. Menggerakkan segenap daya dan kekuatan yang ada padanya, memusatkannya dan kemudian menyalurkannya dalam wujud dan sifatnya yang dahsyat.

Demikianlah kini kedua-duanya telah berhadapan dalam puncak kemampuan. Wong Sarimpat telah siap melontarkan Aji Bajang lewat goloknya yang besar dan Empu Sada pun telah memusatkan Aji Kala Bama pada tangan kananya yang telah siap mengayunkan potongan tongkatnya. Kali ini ia mengharap bahwa tongkatnya yang telah patah dan menjadi pendek itu tidak akan terpatahkan lagi.

Waktu yang mereka perlukan ternyata tidak terlampau banyak. Segera mereka pun telah berada dalam puncak kesiagaan dalam ilmu tertinggi. Sekejap kemudian terdengar dua buah teriakan nyaring yang hampir berbareng meluncur dari mulut Wong Sarimpat dan Empu Sada. Dan keduanya pun segera berloncatan seperti tatit yang meloncat dan kemudian bersabung di langit.

Benturan yang terjadi benar-benar sebuah benturan yang dahsyat. Benturan antara Aji Bajang dan Kala Bama untuk yang kedua kalinya di malam itu, sesudah Empu Sada membentur Aji yang sama yang dilontarkan oleh Kebo Sindet. Kali ini pun akibatnya tidak pula kalah dahsyatnya. Bahkan Kebo Sindet dan Empu Gandring yang sedang bertempur itu pun tertegun sejenak. Kuda-kuda mereka pun berhenti berlari-lari dan seolah-olah mereka pun ingin menyaksikan, apa yang akan terjadi sesudah benturan itu.

Ternyata Wong Sarimpat dan Empu Sada bersama-sama terdorong beberapa langkah surut. Mereka seakan-akan terlempar dan melambung di udara untuk sejenak kemudian terbanting jatuh di tanah. Namun demikian tubuh-tubuh mereka menyentuh tanah, maka mereka pun segera melenting bangkit berdiri, dan bersikap kembali menghadapi setiap kemungkinan.

Meskipun demikian terasa sesuatu pada tubuh mereka. Terasa tangan-tangan mereka menjadi nyeri karena tekanan senjata-senjata mereka pada saat benturan terjadi. Hanya tangan-tangan yang di lambari oleh kekuatan yang sedahsyat kekuatan yang berbenturan itu lah, yang masih akan mampu bertahan menggenggem senjata masing-masing. Apabila tangan-tangan itu adalah tangan-tangan wajar, maka jari-jarinya pasti akan patah berserakan di tanah, dan tulang-tulang lengannya akan hancur berkeping-keping. Tetapi tangan-tangan itu ternyata masih utuh meskipun terasa juga, genggamannya menjadi mengendor.

Empu Sada yang mempergunakan hanya sepotong tongkat merasakan, bahwa tekanan ditangannya agak terlampau keras, meskipun senjatanya tidak terpatahkan lagi. Sedang Wong Sarimpat pun merasakan sesuatu yang tidak wajar pada pangkal lengannya yang terluka. Agaknya dalam benturan yang terjadi, oleh desakan kekuatan yang menghentak, maka luka itu mulai mengalirkan darah lagi.

“Setan alas” bentak Wong Sarimpat, “tangan ini agaknya akan mengganggu”.

Sejenak kemudian Wong Sarimpat meraba bumbung kecil di dalam kantong ikat pinggangnya yang dibuatnya dari kulit. Ia masih mempunyai beberapa butir reramuan obat di sana. Tetapi Empu Sada yang melihatnya, tidak ingin memberinya kesempatan sama sekali. Orang itu telah benar-benar menjadi mata gelap, dendam, benci, muak dan segala macam perasaan, telah mendorongnya untuk berbuat dengan nafsu yang meluap-luap. Dengan cepat sekali lagi ia mempersiapkan Aji Kala Bama. Ia harus cepat menyerang sebelum Wong Sarimpat sempat menahan arus darah yang meleleh dari luka di pangkal lengannya itu.

Wong Sarimpat yang melihat sikap itu mengumpat keras-keras. Tetapi ia sadar, bahwa apabila ia terlambat menyambut. kekuatan itu, maka ia pun akan menjadi lumat. Karena itu maka niatnya untuk mengambil obat diurungkannya. Segera ia pun bersiap menyambut serangan yang bakal datang. Dan serangan itu kini dilakukan oleh Empu Sada. Bukan oleh dirinya. Sekali lagi mereka berteriak nyaring. Sekali lagi mereka berloncatan sambil mengayunkan senjata-senjata mereka. Dan sekali lagi benturan yang sedahsyat semula itu terjadi.

Namun ternyata akibatnya lebih dahsyat dari pada benturan tang pertama. Dalam benturan ini, ternyata tangan-tangan mereka sudah tidak kuasa lagi mempertahankan senjata-senjata mereka tetap di tangan. Terasa betapa perasaan pedih dan nyeri menyengat tangan-tangan mereka, dan senjata-senjata mereka yang berbenturan itu pun meloncatlah bersama-sama dari tangan-tangan mereka. Meskipun segera mereka bangkit kembali setelah terbanting jatuh, dan kemudian berdiri berhadapan lagi, tetapi mereka ternyata sudah tidak bersenjata sama sekali.

Empu Sada pun baru menyadari, bahwa Pedang di tangan kirinya agaknya telah terlepas pula dari tangannya, pada saat-saat ia terlempar dan terbanting jatuh di tanah. Dengan demikian maka kini mereka berhadap-hadapan tanpa sehelai senjata pun. Yang ada pada mereka hanyalah anggauta badan mereka, tangan, kaki dan tubuh yang terdiri dari kulit, daging dan tulang belulang itu.

Tetapi ternyata bahwa nafsu kedua-duanya benar-benar tidak lagi dapat terkendali. Mereka benar-benar sudah tidak dapat berpikir lagi, apakah yang sebaiknya mereka lakukan. Yang ada di dalam kepala mereka adalah nafsu untuk membunuh. Membunuh. Tidak ada yang lain. Karena itu, maka seperti berjanji mereka pun segera mempersiapkan diri untuk melontarkan kembali kekuatan ilmu mereka yang tertinggi.

Empu Gandring dan Kebo Sindet, betapa kemarahan dan kebencian mereka pun membakar dada, namun mereka masih sempat menyaksikan perkelahian dua orang yang seakan-akan telah kehilangan diri pribadi. Seakan-akan mereka telah kepanjingan iblis yang sedang berlaga di dalam tubuh-tubuh mereka. Karena itu ketika Kebo Sindet melihat Wong Sarimpat dan Empu Sada mempersiapkan kekuatan ilmu tertinggi mereka, maka hatinya pun berdesir. Tanpa dikehendakinya ia berteriak,

“Wong Sarimpat, hati-hati dengan luka ditanganmu. Lebih baik kau memungut senjatamu”.

Tetapi Wong Sarimpat tidak sempat berbuat sesuatu. Bahkan kata-kata kakaknya itu seakan-akan tidak didengarnya. Orang itu sudah tidak lagi sempat berpikir tentang luka-lukanya yang akan dapat menjadi berbahaya baginya. Sebenarnya dalam keadaannya Wong Sarimpat lebih baik berusaha membenturkan senjatanya daripada tubuhnya. Lebih baik pula baginya, bertempur tanpa benturan-benturan meskipun setiap ayunan dilambari oleh Aji Pamungkas masing-masing.

Kebo Sindet tidak dapat berbuat apa-apa lagi ketika ia melibat kedua orang yang seolah-olah telah menjadi gila itu siap untuk saling menerkam. Ketika ia menggerakkan kudanya, maka Empu Gandring pun telah bergerak pula. Dengan demikian maka Kebo Sindet dapat menyadari keadaannya, bahwa Empu Gandring tidak akan dapat ditinggalkannya, walaupun hanya sejenak. Maka yang dapat dilakukan hanyalah melihat apa yang bakal terjadi dengan hati yang berdebar-debar. Dua ekor binatang buas yang kelaparan sedang berlaga memperebutkan sepotong tulang. Tak akan ada kekuatan yang dapat memisahkannya, selain maut telah merenggut jiwa mereka atau salah satu dari padanya.

Sejenak kemudian Empu Gandring dan Kebo Sindet menahan nafasnya. Seolah-olah mereka sendiri terseret pula di dalam loncatan yang garang dan kemudian ikut pula dalam benturan yang segera terjadi. Tetapi Wong Sarimpat ternyata bukan seorang yang benar telah menjadi gila. Ia menyadari keadaannya. Keadaan luka di pangkal lengannya. Karena itu, maka saat mereka telah saling meloncat dan mengayunkan tangan-tangan mereka, maka Empu Sada melihat, bahwa tangan Wong Sarimpat itu sengaja tidak membentur tangannya, tetapi langsung mengarah ke dadanya.

Empu Sada tergagap sesaat menghadapi keadaan itu. Tetapi keadaan sudah berada di puncak yang paling gawat. Empu Sada sudah tidak dapat berbuat apapun lagi. Ia tidak mau hanya sekedar membentur tangan Wong Sarimpat yang mengarah kedadanya, sebab dengan demikian maka geraknya akan tidak seimbang. Ia berada pada keadaan sekedar bertahan karena perimbangan gerak yang menguntungkan Wong Sarimpat.

Karena itu, maka Empu Sada yang sedang menjadi kalap itu pun tidak mau terlampau banyak berpikir dan menimbang, la tidak lagi memperhitungkan tangan dan gerak Wong Sarimpat. Letak tangan Wong Sarimpat yang mengarah ke dadanya itu memberinya kesempatan yang serupa. Dada Wong Sarimpat pun tidak terlindung karenanya. Karena itu, maka Empu Sada itu pun memusatkan perhatiannya ke arah dada lawannya. Tak ada lagi yang nampak di matanya selain dada Wong Sarimpat. Dada yang selama ini dimuati oleh segala macam nafsu dan kehendak yang hitam lekam, sifat dan watak yang kotor dan liar.

Benturan yang terjadi kemudian adalah benturan yang mengerikan. Terdengar mereka berdua berteriak nyaring hampir bersamaan untuk mentuntaskan segenap kekuatan yang tersimpan di dalam puncak ilmu masing-masing. Tetapi sejenak kemudian di susul pula oleh dua buah teriakan yang mengerikan ketika tangan-tangan itu telah menghantam dada lawan masing-masing.

Empu Gandring dan Kebo Sindet yang melihat benturan itu menahan nafas niasing-masing. Benturan itu benar-benar sebuah benturan yang paling gila yang pernah mereka lihat. Masing-masing sengaja menghindari sentuhan tangan, tetapi masing-masing langsung mengarah dan menghantam dada. Kedua orang itu terlempar jauh-jauh ke belakang. Terdengar tubuh-tubuh mereka terbanting jatuh di tanah seperti seonggok pasir. Demikian keduanya jatuh di tanah, maka keduanya pun sama sekali sudah tidak bergerak-gerak lagi. Yang terdengar adalah sebuah teriakan yang mengerikan meloncat dari sela-sela bibir Wong Sarimpat, umpatan-umpatan yang paling kotor yang pernah di dengar oleh telinga.

“Wong Sarimpat” Kebo Sindet mencoba memanggilnya.

Tetapi Wong Sarimpat sudah tidak menjawab lagi. Dan teriak-teriakannya pun telah terdiam pula. Yang terdengar kemudian adalah sebuah keluhan yang tertahan-tahan. Perlahan-lahan sekali.

“Empu Gandring” berkata Kebo Sindet, “apakah kau dapat membiarkan aku melihat adikku sejenak?”.

Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia bukan orang yang berhati batu. Ketika ia melihat keadaan itu, maka ia tidak dapat berkeras hati menolak permintaannya. Maka jawabnya,

“Aku tidak berkeberatan Sindet. Aku pun ingin melihat Empu Sada itu”.

Kebo Sindet menjadi ragu-ragu sejenak. Dipandanginya Empu Gandring seolah-olah ingin meyakinkan jawaban orang itu sehingga Empu Gandring mengulangi, “Lihatlah adikmu, aku akan melihat apa yang terjadi dengan Empu Sada itu”.

“Baiklah. Kesempatan bagimu untuk membunuhnya dengan mudah supaya ia tidak mengganggumu lagi. Kemudian kau dapat mengejar muridnya ke Padepokannya. Apakah kau belum pernah melihat Padepokan Empu Sada?”

Empu Gandring tidak menjawab. Tak terlintas di dalam kepalanya untuk berbuat selicik itu. Empu Sada yang sudah berbaring diam tidak berdaya sama sekali itu pasti tidak akan dapat melawan seandainya ia membunuhnya. Apalagi dengan kerisnya itu, bahkan dengan memijat hidungnya saja, maka lama-lama orang itu akan terputus nafasnya. Tetapi perbuatan itu adalah perbuatan yang tercela. Apa lagi bagi seorang Empu seperti Empu Gandring. Karena itu betapapun besarnya kebencian, kemarahan dan beribu macam tuntutan di dalam hati, namun tidak sepantasnya ia berbuat demikian.

Kebo Sindet itu pun kemudian perlahan-lahan mendekati adiknya. Dengan wajah yang tegang ia meloncat turun dari kudanya. Tampaklah pada wajah yang beku itu beberapa kerut merut melintang di dahinya. Dan terdengarlah ia menggeram perlahan-lahan. Ketika ia berjongkok maka dilihatnya jelas, bahwa dari luka di pangkal lengan Wong Sarimpat itu, darahnya seakan-akan terperas habis. Darah yang merah segar.

“Terlambat” desis Kebo Sindet.

Tak ada gunanya lagi ia mencoba menaburkan obat pada luka itu untuk menahan arus darah yang mengalir. Sebab nafas Wong Sarimpat hampir-hampir sudah tidak mengalir sama sekali. Ketika Kebo Sindet meletakkan kupingnya di dada adiknya, maka ia menarik nafas dalam-dalam. Tetapi Kebo Sindet itu tiba-tiba menggeram. Sekali loncat ia telah berdiri. Digenggamnya goloknya erat-erat sambil berkata,

“Empu Gandring. Apakah Empu Sada itu masih hidup?”

Empu Gandring yang sedang berjongkok itu pun berdiri pula. Ia harus berhati-hati melihat sikap Kebo Sindet yang seolah-olah menjadi gila.

“Bagaimana he?” desak Kebo Sindet.

“Orang ini masih hidup” sahut Empu Gandring.

“Empu Gandring, marilah kita lupakan persoalan kita. Tetapi kalau kau tidak mau membunuh setan tua itu, biarlah aku yang melakukannya. Adikku Wong Sarimpat sudah tidak dapat lagi diharapkan hidup. Nafasnya telah hampir putus dan darahnya sudah terlampau banyak yang memancar dari lukanya. Apalagi dadanya telah mengalami luka yang cukup parah pula.”

“Apa yang akan kau lakukan terhadap orang ini?” bertanya Empu Gandring.

“Orang itu akan aku bawa ke Padepokanku”.

“Untuk apa?”

“Itu adalah urusanku Empu”.

Empu Gandring terdiam sejenak. Dipandanginya wajah Kebo Sindet yang berdiri beberapa langkah agak jauh dari padanya. Tetapi ia tidak melihat wajah itu dengan jelas. Yang tampak dalam kesamaran sinar bulan sepotong hanyalah sikapnya yang mengerikan. Tiba-tiba Empu Gandring itu berkata perlahan-lahan,

“Tidak Kebo Sindet. Orang ini adalah tawananku. Aku yang akan mengurus dan menyelesaikannya”.

“Siapa bilang” teriak Kebo Sindet tiba-tiba, “ia pingsan karena tangan adikku. Adikkulah yang berhak atasnya. Karena adikku akan mati, maka akulah yang berhak berbuat apa saja atas setan tua itu untuk membalas sakit hatiku karena ia telah membunuh adikku.”

“Tunggulah sampai ia sembuh kembali. Kelak kau akan dapat menemuinya dan membuat perhitungan apabila orang ini akan dapat hidup karena luka-luka yang pernah dideritanya kini.”

“Aku tidak sabar menunggu waktu itu. Dan apakah kau kehilangan sesuatu apabila ia aku bawa pergi? Kau akan menjadi puas pula. Kau tidak akan terpecik dosanya, tetapi kau pun akan menemukan mayatnya kelak”.

Empu Gandring menggelengkan kepalanya. Terbayang di dalam rongga matanya perbuatan Kebo Sindet yang sangat mengerikan.

“Jangan keras kepala Empu” bentak Kebo Sindet, “apakah permusuhan kita akan kita teruskan”.

“Kebo Sindet” berkata Empu Gandring, “aku membenci Empu Sada sampai ke ujung ubun-ubunku, karena orang ini adalah orang yang mencelakai kemenakanku. Orang ini terlampau memanjakan muridnya, sehingga apa saja yang dikehendaki oleh Kuda Sempana itu dilakukannya. Sampai berbuat nista sekalipun, menghubungi orang-orang seperti kau dan adikmu.”

“Kau salah sangka. Ia sama sekali bukan karena memanjakan muridnya, tetapi karena Kuda Sempana itu menjanjikan upah yang besar kepadanya, dan kepada kami berdua”.

Empu Gandring mengerutkan keningnya, tetapi kemudian menjawab, “Apalagi demikian, Ia agaknya telah berusaha pula menjual kemanakanku. Karena itu aku mendendamnya”.

“Nah, apalagi yang kau sayangkan pada tubuh dan nyawa yang hampir terloncat dari ubun-ubun itu?”

“Tetapi bukan seperti itu caraku untuk membalas. Aku ingin merawatnya, dan kemudian membuat perhitungan di hari-hari mendatang dengan orang ini”.

“Aku pun akan berbuat demikian”.

“Aku sangsi, bukan begitu kebiasaan dan sifatmu. Apalagi melihat pancaran dendam pada sikapmu kali ini. Kau mungkin akan mencoba membuatnya sadar dan sekedar memperingan luka-lukanya. Tetapi kemudian kau akan membunuhnya dengan cara yang kau senangi. Atau kau pergunakan untuk kepentingan-kepentingan lain, karena muridnya telah melarikan Mahisa Agni. Tetapi yang paling mungkin kau lakukan, kau akan membunuhnya dengan perlahan-lahan.”

Terdengar Kebo Sindet menggeram, seperti laku seekor serigala melihat bangkai. Namun Empu Gandring pun telah siap menghadapi setiap kemungkinan yang bakal terjadi. Kerisnya masih saja berada di dalam genggamannya, dan setiap saat siap dipergunakannya. Tetapi ternyata Kebo Sindet tidak segera menyerangnya. Orang itu masih saja berdiri disamping tubuh adiknya yang diam tidak bergerak. Bahkan nafasnya pun semakin lama menjadi semakin tidak teratur. Sekali lagi Kebo Sindet berpaling memandangi tubuh adiknya yang terbujur membeku di tanah. Tiba-tiba ia berteriak,

“Empu Gandring. Lihat. Adikku kini telah mati. Apakah kau tidak juga memberikan Empu Sada itu”.

Empu Gandring tidak segera menjawab. Ia mencoba memandangi tubuh Wong Sarimpat. Tetapi dari tempatnya berdiri, ia sama sekali tidak dapat melihat apakah Wong Sarimpat itu telah mati atau belum.

Namun sebenarnya Wong Sarimpat telah melepaskan nafasnya yang terakhir. Darah yang terlampau banyak mengalir dari lukanya, serta bekas tangan Empu Sada yang melepaskan aji Kala Bama telah merusakkan dadanya pula, sehingga karena kehabisan darah, maka daya tahan iblis dari Kemundungan itu menjadi jauh susut. Akhirnya ia tidak dapat mempertahankan hidupnya lagi. Matilah ia di samping kaki kakaknya yang berdiri tegak bagaikan patung. Namun dada orang itu bergelora sedahsyat lautan yang sedang dilanda taufan.

“Bagaimana Empu?” desak Kebo Sindet.

Alangkah marahnya Kebo Sindet ketika ia melihat Empu Gandring menggeleng sambil berkata, “Jangan Sindet. Akulah yang akan mengurus orang ini. Sembuh atau tidak sembuh”.

“Setan alas” teriak .Kebo Sindet, “aku telah kehilangan adikku yang selama ini telah hidup bersamaku bertahun-tahun. Kematiannya pasti aku bela dengan mengorbankan nyawa pula. Kalau kau tidak mau menyerahkan Empu Sada, maka kaulah yang harus aku bunuh untuk mengawani adikku dalam perjalanannya kealam langgeng. Kaulah yang harus menanggung segala dosa dan kesalahan yang pernah diperbuat oleh adikku, karena kau akan menjadi budaknya di sepanjang perjalanannya itu”.

“He?” Empu Gandring mengerutkan keningnya, “jadi kau dapat juga mengucapkan kata-kata dosa dan kesalahan?”

“Persetan” Kebo Sindet menjadi semakin marah, “setidak-tidaknya Empu, marilah kita mati bersama-sama, seperti Wong Sarimpat sampyuh mati bersama lawannya”.

“Kalau memang itu yang kau kehendaki Kebo Sindet, aku tidak akan selak. Adalah menjadi kewajibanku untuk menanggulangi setiap tantangan serupa itu”.

Kebo Sindet terdiam sejenak. Tetapi ia masih saja menggeram mengerikan. Bahkan kemudian terdengar giginya gemeretak seperti orang kedinginan terendam di dalam air. Tampaklah sikapnya menjadi semakin buas dan liar.

Tetapi Empu Gandring pun telah bersiap sepenuhnya. Setiap saat iblis itu menerkamnya, maka ia pun akan melawan dengan segenap kemampuan, bahkan seandainya Kebo Sindet itu sekaligus melepaskan aji Bajangnya. Namun sudah tentu kalau Empu Gandring tidak ingin melakukan benturan yang bodoh seperti yang terjadi atas Empu Sada dan Wong Sarimpat, yang kepalanya sedang terbakar oleh nafsu yang menyala-nyala, sehingga mereka telah melupakan segala perhitungan yang mungkin dapat mereka lakukan.




OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar