Beberapa saat Empu Gandring menunggu, tetapi Kebo Sindet masih berdiri saja disamping mayat adiknya. Sebenarnya orang itu pun sedang dilanda oleh keragu-raguan. Ia mencoba memperhitungkan setiap kemungkinan yang dapat terjadi. Tetapi ia tidak melihat manfaat apa pun apabila ia harus berkelahi melawan Empu Gandring. Hasil setinggi-tinginya yang dapat dicapainya adalah mati sampyuh seperti adiknya itu. Dan ia masih belum ingin mati. Ia masih ingin berbuat sesuatu atas Mahisa Agni yang sedang dilarikan oleh Kuda Sempana. Apalagi kemudian Kebo Sindet itu lamat-lamat mendengar derap kuda dikejauhan. Tanpa dikehendakinya diangkatnya wajahnya memandang langit, seolah-olah derap kaki-kaki kuda itu menyelusuri warna-warna merah yang telah memancar di langit.
“Anak setan itu datang lagi” gumamnya.
Empu Gandring pun mendengar derap kaki-kaki kuda itu. Dan ia pun menyangka bahwa yang datang itu pasti Ken Arok.
“Empu Gandring” berkata Kebo Sindet kemudian, “kalau kau mendengar juga derap kaki-kaki kuda itu, maka anak iblis itulah yang pasti akan datang. Sayang, aku tidak punya waktu untuk menyambutnya. Tetapi meskipun demikian, sampaikan kepadanya, bahwa aku kagum melihat ketahanan tubuhnya yang luar biasa. Kalau anak itu akan tetap hidup, maka ia benar-benar akan menjadi hantu yang menakutkan bagi seluruh Tumapel. Tidak saja Tumapel, tetapi seluruh Kerajaan Kediri akan mengaguminya”.
Empu Gandring tidak menyahut. Ia pun sebenarnya menjadi sangat kagum melihat ketahanan tubuh Ken Arok, yang tanpa kekuatan ilmu apa pun mampu menyelamatkan diri dari sentuhan aji Bajang.
“Sekarang aku pergi Empu” berkata Kebo Sindet, “tidak ada gunanya aku melayanimu kali ini. Besok pada saatnya aku akan menjumpaimu atau Empu Sada itu, untuk membuat perhitungan dan menuntut hutangmu yang kali ini belum kau lunasi”.
Empu Gandring masih juga berdiam diri. Namun dibiarkannya ketika Kebo Sindet itu mengangkat mayat adiknya dan menyangkutkannya di punggung kuda. Kuda itu adalah kuda milik Empu Sada.
“Selamat tinggal Empu” desis Kebo Sindet sambil meloncat ke atas punggung kuda. Sesaat kemudian kuda itu pun meloncat meninggalkan Empu Gandring yang masih berdiri tegak seperti patung.
Sejenak Empu Gandring dilanda oleh keragu-raguan. Apakah ia akan mengejar Kebo Sindet, atau ia mempunyai kepentingm dengan Empu Sada. Empu Gandring itu tidak tahu benar, kemana sebenarnya Mahisa Agni dibawa. Tetapi menilik bahwa yang membawa itu adalah Kuda Sempana, murid Empu Sada, maka ia akan dapat menanyakannya kepada orang yang sedang pingsan itu. Karena itu maka niatnya untuk mengejar Kebo Sindet diurungkannya. Empu Gandring mengharap bahwa ia akan mendapat banyak keterangan dari Empu Sada tentang Mahisa Agni.
Maka Empu Gandring itu pun kembali berlutut di samping Empu Sada. Dicobanya untuk mengendorkan segenap urat nadinya. Menggerakkan tangannya, dan memijit-mijit dadanya perlahan-lahan. Karena Empu Gandring tahu, bahwa dada itu sebenarnya telah terluka di dalam. Tetapi agaknya luka Empu Sada benar-benar parah. Meskipun denyut nadinya serta detak jantungnya masih terasa, tetapi tubuhnya tampak terlampau lemah, dan matanya yang terpejam sama sekali tidak bergetar.
“Mudah-mudahan aku berhasil” desis Empu Gandring, “aku harus mendapat keterangan tentang Mahisa Agni”.
Kemudian oleh Empu Gandring diambilnya sebulir obat reramuan dedaunan yang akan dapat memberikan kesegaran kepada orang yang sedang mengalami luka di dalam semacam Empu Sada. Tetapi karena keadaan Empu Sada maka Empu Gandring agak menjadi bingung, bagaimana memasukkan obat itu supaya dapat di telan oleh Empu Sada.
“Tak ada jalan lain” desisnya, lalu dimasukkan saja obat itu ke dalam mulut Empu Sada, dengan harapan bahwa obat itu akan huncur dan meskipun sedikit-sedikit dan sangat perlahan-lahan, maka larutan obat itu akan tertelan juga.
Ternyata usaha itu berhasil betapapun lambannya. Sementara itu suara derap kuda dikejauhan menjadi semakin dekat. Ketika kuda itu berhenti tepat di belakang Empu Gandring, maka Empu Sada telah mulai bergerak-gerak. Sehingga Empu Gandring itu pun kemudian meletakkannya di tanah, dan perlahan-lahan ia berdiri.
“Siapa Empu?” bertanya orang berkuda yang tidak lain adalah Ken Arok, sambil meloncat turun.
“Empu Sada”.
“Empu Sada?” Ken Arok menjadi agak terkejut.
Orang itu sama sekali tidak tampak di Panawijen. Yang dilihatnya hanyalah dua orang yang buas dan liar, yang disebut bernama Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Sambil menunjuk kepada bekas-bekas pertempuran Empu Gandring berkata,
“disini baru saja terjadi sebuah permainan yang membingungkan”.
“Kenapa Empu?”
“Wong Sarimpat telah terbunuh”.
“Empu berhasil membunuhnya?”
Empu Gandring menggelengkan kepalanya, “Tidak, bukan aku”.
“Siapa yang telah melakukannya?”
”Orang ini” sahut Empu Gandring sambil menunjuk ke arah Empu Sada.
“Empu Sada itu? Bagaimana hal itu dapat terjadi Empu?”
“Itulah yang membingungkan. Ketika aku sampai di sini, Empu Sada sedang bertempur melawan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat berdua. Aku pun kemudian memihak kepada Empu Sada untuk kemudian memperkecil dan mempersempit persoalan. Ternyata Empu Sada dan Wong Sarimpat telah berbenturan”.
“Dimana Wong Sarimpat dan Kebo Sindet sekarang?”
“Mayat Wong Sarimpat telah dibawa oleh kakaknya, sedang Mahisa Agni dibawa oleh Kuda Sempana”.
“Hem” Ken Arok menggeram, “kemana kira-kira Kuda Sempana melarikan diri?”
“Mungkin aku dapat bertanya kepadanya”.
Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Perlahan-lahan ia mendekati Empu Sada yang ternyata telah mulai bergerak-gerak pula.
“Apakah Empu memberinya obat?”
“Ya”.
“Biarlah ia mati pula seperti Wong Sarimpat”.
“Aku memerlukan keterangannya Ngger. Keterangan tentang Mahisa Agni. Mungkin ia akan bersedia memberitahukan kepadaku dalam keadaannya itu. Kalau tak ada harapan lagi baginya, maka aku rasa ia akan melapangkan dadanya, tanpa menyimpan rahasia lagi pada saat-saat menjelang kematiannya”.
Ken Arok tidak menjawab. Tetapi kerut merut diwajahnya menyatakan kebenciannya kepada orang yang sedang terbaring diam itu. Empu Gandring pun kemudian mendekati Empu Sada itu dan berjongkok lagi disampingnya. Dilihatnya Empu Sada itu membukakan matanya dan berdesis,
“Siapakah kau?”
“Aku Empu Gandring”.
“Hem” desah orang itu, “ada kesegaran merayapi urat-urat darahku. Apakah kau memberi aku semacam obat yang dapat memberi aku kesegaran?”
“Ya”.
“Terima kasih”.
“Empu” berkata Empu Gandring kemudian, “aku ingin keteranganmu tentang Mahisa Agni. Dimanakah ia dilarikan oleh muridmu?”
“Oh” Empu Sada memejamkan matanya. Dikumpulkannya segenap ingatan yang ada padanya. Persoalan-persoalan yang sedang dihadapi pada saat-saat terakhir. “Aku juga memerlukan anak itu” desisnya.
“Empu” berkata Empu Gandring, “kau sekarang berada dalam keadaan parah. Jangan mencoba mempertahankan anak muda itu. Apakah kau masih juga bernafsu untuk membunuhnya atau untuk keperluan apapun yang dapat memberi kepuasan kepada muridmu yang gila itu?”
Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Tetapi tiba-tiba ia mengerutkan keningnya ketika ia mendengar Ken Arok berkata, “Hidup matimu berada ditangan Empu Gandring, Empu”.
Empu Sada yang lemah itu mencoba memandang wajah orang yang berkata kepadanya tentang hidup matinya. Tatapan matanya masih agak kabur dan cahaya yang kemerah-merahan masih belum mampu untuk memecahkan kesuraman pagi.
“Siapakah kau?” bertanya Empu Sada dengan suara lirih.
Yang menjawab adalah Empu Gandring, “seorang Pelayan Dalam dari Istana Tumapel. Namanya Ken Arok”.
“Oh” Empu Sada mencoba menggeliat, tetapi badannya masih terlampau lemah, “Angger Ken Arok. Bukankah kau kawan sepekerjaan dengan Kuda Sempana sewaktu muridku itu masih berada di Istana Tumapel?”
“Ya” sahut Ken Arok singkat.
“Kenapa pula kau disini Agger? Apakah kau mendapat tugas untuk mencari Kuda Sempana?”
“Ya” sahut Ken Arok sekenanya.
“Sayang” desah Empu Sada, “aku sudah tidak dapat berbuat apa-apa lagi terhadap anak itu”.
Empu Gandring mengerutkan keuingnya. Tetapi orang itu tidak segera dapat mengambil kesimpulan dari kata-kata Empu Sada, sehingga ia bertanya,
“Apa maksudmu Empu. Apakah karena keadaanmu yang parah itu ataukah karena hal-hal yang lain maka kau tidak lagi mampu berbuat apa-apa lagi atas muridmu?”
Empu Sada tidak segera menjawab. Dicobanya untuk mengatur jalan pernafasannya, supaya luka di dalamnya tidak terasa sedemikian sakitnya. Empu Gandring yang menyadari keadaan Empu Sada tidak mendesaknya. Ia tahu betul, bahwa penderitaan Empu Sada benar-benar parah. Tetapi, agaknya Ken Arok tidak begitu sabar menunggunya, sehingga ia mendesaknya,
“Empu Sada. Kau jangan mengingkari tanggung jawab atas muridmu. Sekarang dimana Mahisa Agni itu dilarikan?”
Sekali lagi Empu Sada mencoba menggeliat. Tetapi sekali lagi ia menyeringai menahan sakit didadanya. Meskipun demikian ia berusaha menjawab, “Aku juga akan berusaha mendapatkan Mahisa Agni apabila aku berhasil memenangkan perjuangan ini. Perjuangan melawan luka di dalam diriku”.
“Jangan berkeras hati Empu” sahut Ken Arok. Namun sebelum Ken Arok melanjutkan kata-katanya, maka terasa Empu Gandring menggamitnya, sehingga karena itu maka Ken Arok pun terdiam.
“Empu Sada” berkata Empu Gandring dengan nada seorang yang telah dibekali oleh berbagai macam pengalaman yang mengendap, “apakah kau masih juga memerlukan Mahisa Agni?”
Empu Sada mencoba menganggukkan kepalanya perlahan-lahan, “Ya” desisnya, “aku tidak dapat membiarkannya berada di tangan orang lain”.
“Empu Sada” bertanya Empu Gandring kemudian, “apakah kau berselisih pendapat dengan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat tentang tawananmu itu?”
“Ya” sahut Empu Sada perlahan-lahan.
“Dan karena itu kau bertempur melawan mereka?”
“Ya”.
“Sekarang Empu, bagaimanakah pendapatmu kalau aku juga memerlukan Mahisa Agni. Bukankah kau tahu bahwa ia adalah kemanakanku”. “Ya, aku tahu Empu. Dan aku pun ingin pula berusaha mendapatkan kembali Mahisa Agni itu dari tangan Kebo Sindet”.
“Ah” Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Dalam sekali, “kau masih terlalu bernafsu. Keadaanmu tidak akan memungkinkan lagi untuk berbuat sesuatu”.
“Tetapi Mahisa Agni itu harus di rebut dari tangan Kebo Sindet”.
“Empu” berkata Empu Gandring, “bukankah yang membawa Mahisa Agni itu Kuda Sempana? Kenapa kau harus bersusah payah merebutnya dari tangan Kebo Sindet?”
“Aku tidak lagi dapat menguasai muridku. Mahisa Agni itu dilarikan oleh Kuda Sempana untuk kepentingan Kebo Sindet”.
Ken Arok menjadi tidak bersabar lagi mendengar jawaban Empu Sada. Tetapi ia tidak berani mendahului Empu Gandring yang tampaknya masih cukup sabar. Katanya,
“Jangan begitu Empu. Aku tahu bahwa Kuda Sempana adalah muridmu. Aku tahu bahwa kau dan Kuda Sempana telah berusaha mati-matian untuk menangkap Mahisa Agni. Bahkan kemudian kalian telah minta bantuan kepada Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Bukan itu saja, ceritera tentang usahamu untuk menculik adik Mahisa Agni itu pun telah pernah aku dengar. Beruntunglah bahwa pada saat itu Panji Bojong Santi melihat apa yang sedang terjadi”.
Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Kenangan itu ternyata menusuk jantungnya jauh lebih parah dari pada sakit di dadanya. Ternyata bahwa jalan kembali yang akan dicarinya itu tidak selicin yang disangkanya. Teringatlah ia akan kata-kata Kuda Sempana, bahwa dunia yang jernih telah tertutup baginya. Dan kini, terasa, betapa jauh jalan yang harus ditempuhnya untuk dapat kembali ke dalam dunia yang bersih itu. Karena Empu Sada tidak segera menjawab, maka Empu Gandring berkata pula dengan tembung orang tua,
“Empu, dalam keadaan seperti ini seharusnya Empu tidak lagi menambah beban yang akan dapat membuat jalanmu semakin gelap”.
Alangkah pedihnya kata-kata itu. Justru pada saat ia mencari jalan yang terang. Sesaat kemudian maka dengan mengumpulkan segenap kekuatan dan keteguhan hatinya Empu Sada berkata,
“Empu Gandring. Aku sependapat dengan kau, bahwa dalam keadaan ini seharusnya aku tidak perlu menambah jalanku menjadi semakin gelap. Justru karena itulah maka keadaanku menjadi demikian jeleknya. Bukan salahmu kalau kau tidak dapat mempercayai lagi kata-kataku. Dan bukan salahmu pula bahwa kau tetap berpendapat, bahwa Kuda Sempana adalah muridku yang selama ini aku manjakan. Tetapi persoalan yang sebenarnya mungkin tidak akan kau mengerti”.
Empu Sada berhenti sejenak. Dicobanya sekali lagi menggerakkan bagian-bagian dari tubuhnya. Meskipun betapa rasa sakit menyengat-nyengat dadanya, namun ia telah berhasil menggeliat sedikit. Tetapi sejenak kemudian terdengar orang tua itu mengeluh pendek.
“Jangan bergerak terlampau banyak” cegah Empu Gandring. Bagaimanapun juga ia seakan-akan dapat merasakan, betapa sakitnya penderitaan Empu Sada saat itu.
Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Dicobanya untuk meraba sorot mata Empu Gandring. Perasaan apakah yang kira-kira terpancar dari padanya. Tetapi Empu Sada tidak segera dapat mengetahuinya. Namun sementara itu cahaya kemerah-merahan di langit menjadi semakin lama semakin terang. Ujung Gunung Kawi tampak seperti segumpal bara raksasa yang menyala memanasi langit. Semakin lama cahaya kemerah-merahan itu menjadi semburat kuning. Semakin terang, semakin terang. Dan matahari pun kemudian mulai menampakkan dirinya dibalik dedaunan di arah Timur.
“Lukamu parah Empu.” berkata Empu Gandring, “tetapi maaf. Aku memerlukan Mahisa Agni. Aku terpaksa bertanya kepadamu. Karena itu, supaya aku tidak mengganggumu, katakan ke mana Kuda Sempana itu pergi?”
“Sudah aku katakan Empu” jawab Empu Sada, “aku tidak lagi dapat menguasai muridku. Dan aku mengerti bahwa kau tidak akan mudah mempercayai kata-kataku. Apalagi kalau aku katakan, bahwa aku pun sedang berusaha untuk membebaskan Mahisa Agni dari tangan Kebo Sindet, Wong Sarimpat dan Kuda Sempana bukan karena aku masih di bakar nafsu untuk menguasai anak muda itu dengan maksud yang jahat”.
Empu Gandring mengerutkan keningnya. Ketika ia berpaling dilihatnya wajah Ken Arok berkerut-merut. Tetapi sebelum Ken Arok mengucapkan sesuatu, Empu Gandring telah mendahuluinya,
“Hem. Kau agaknya ingin mempersulit dirimu sendiri. Aku dapat menolongmu, menyerahkan kau kepada seseorang di jalan yang akan aku lalui, supaya kau dirawatnya. Dan aku untuk seterusnya tidak akan mengganggumu apabila kau segera mengatakan di mana Mahisa Agni. Bukankah kau akan segera bebas dari pertanyaan-pertanyaanku yang barangkali sama sekali tidak menyenangkanmu ini?”
Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar, bahwa amat sulitlah baginya untuk menjelaskan keadaan yang sebenarnya. Keadaan telah menjadi kalut, dan banyak hal terjadi bersimpang-siur. Dengan demikian maka pedih luka di dada Empu Sada itu rasa-rasanya menjadi bertambah pedih. Ternyata ia telah kehilangan jalan untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Namun sekali lagi disadarinya, bahwa bukan salah Empu Gandring apabila orang itu sudah tidak lagi sanggup mempercayainya.
Perkelahian yang terjadi antara dirinya melawan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat itu bagi Empu Gandring tidak lebih dari perkelahian para perampok yang berselisih dalam pembagian hasil rampokannya. Karena Empu Sada tidak segera menjawab, maka Empu Gandring pun kemudian mendesaknya,
“Bagaimana Empu? Aku ingin semuanya cepat selesai. Kalau mungkin segalanya dapat selesai dengan baik. Membatasi sekecil-kecilnya segala macam luapan dendam dan kebencian. Kalau kau bersedia menolongku Empu, maka untuk seterusnya kita tidak akan mengalami kesulitan, sebab kita tidak menaburkan benih-benih dendam yang dapat tumbuh dan berbuah kelak dengan lebatnya. Setiap persoalan yang sekecil-kecilnya akan dapat menjadi pupuk yang baik bagi pertumbuhan dan perkembangan dendam itu. Bagi kita Empu, bagi orang tua-tua, seandainya hati kita akan hangus sekalipun di bakar oleh dendam dan kebencian, maka akibatnya tidak akan terlampau lama, sebab umur-umur kita pun tidak akan terlampau lama pula. Tetapi apabila anak-anak kita, murid-murid kita telah di bakar pula oleh dendam dan kebencian, maka akibatnya akan sangat panjang dan jauh.”
Ketika Empu Gandring berhenti sejenak, maka terdengar Empu Sada menarik nafas. Dalam sekali, seakan-akan akan dilepaskannya segala macam perasaan yang menyumbat dadanya. Tetapi ia tidak mengucapkan kata-kata.
“Bagaimana Empu? Apakah Empu bersedia menolong aku?” desis Empu Gandring.
Empu Sada telah hampir menjadi putus asa karenanya. Meskipun demikian dicobanya untuk menjawab sejujurnya, “Empu Gandring. Aku tidak dapat berkata lain, bahwa sepengetahuanku, Mahisa Agni itu pasti di bawa ke Kemundungan oleh Kuda Sempana”.
“Oh” Empu Gandring menyeka peluh yang membasahi keningnya. Ketika ia melihat Ken Arok bergeser maju, maka anak muda yang hampir kehilangan kesabaran itu digamitnya., “Tunggulah Ngger” berkata Empu Gandring.
Empu Sada kini sekali lagi mencoba memandangi wajah Ken Arok. Wajah seorang anak muda yang tampan dan berwibawa. Seorang anak muda yang memancarkan keteguhan dan kemampuan yang melampaui anak-anak sebayanya.
Empu Gandring kemudian bergeser maju sambil berkata, “Empu kenapa kau masih saja berusaha mengingkari muridmu?”
“Empu Gandring” akhimya Empu Sada berkata dengan nada yang dalam dan mata yang suram, “maafkan aku Empu. Aku tidak tahu, apa lagi yang harus aku katakan. Itulah yang aku ketahui. Kalau kau sayang akan kemenakanmu, kau sebaiknya segera menyusulnya ke Kemendungan. Tetapi sekali lagi aku katakan, bahwa aku sadar. Kau tidak akan mudah mempercayai aku”.
“Empu Sada” berkata Empu Gandring, “sebenarnya tanpa kau beritahu pun aku akan dapat mencarinya, meski pun aku memerlukan waktu lebih panjang. Tetapi dengan demikian aku berangkat dengan kemarahan di dalam dadaku. Kalau aku bertemu dengan muridmu, maka kemarahan itu akan seperti minyak yang tersentuh api. Mungkin aku akan kehilangan pengamalan diri dan mungkin aku akan berbuat sesuatu yang tidak kau inginkan atas muridmu itu. Tetapi kalau aku berangkat dengan hati sejuk, maka akibatnya pun pasti akan berbeda”.
Hati Empu Sada serasa di sentuh dengan tajam sembilu. Sekali lagi ia berdesah dan menarik nafas dalam-dalam. Tetapi orang tua itu hampir-hampir menjadi berputus asa. Ia tidak melihat kemungkinan lagi untuk mendapatkan kepercayaan dari Empu Gandring.
Dan Empu Gandring itu berkata pula, “Pertimbangkan Empu, supaya aku tetap dalam kesadaran, bahwa tidak sehurusnya aku menanam benih dendam di hati orang lain. Tetapi kau pun harus membantuku”.
“Oh” Empu Sada mengeluh, “hukuman ini terlampau berat bagiku. Barangkali lebih haik apabila aku mati karena dadaku hancur oleh tangan Wong Sarimpat”.
“Tidak Empu, sebenarnya kau dapat menghindari hukuman ini. Kau dapat melepaskan dirimu dari perasaan bersalah yang selalu mengejarmu. Tetapi agaknya kau tidak bersedia. Agaknya kau akan membawa rahasia itu sampai saat terakhir. Namun rahasia itu akan menyumbat jalanmu Empu. Dan kau akan menderita disaat-saat terakhir. Bukan saja penderitaan badaniah tetapi juga rohaniah.”
“Hem” Empu Sada berdesah, “semoga Yang Maha Agung melihat isi dadaku. Di saat-saat aku mencoba mengurangi beban perasaanku, maka aku dihadapkan pada keadaan seperti ini. Tetapi Empu Gandring, aku sudah rela. Aku sudah ikhlas, apa saja yang akan terjadi atas diriku. Aku ikhlas menerima segala hinaan, ketidak percayaan dan kecurigaan ini. Aku telah pasrah diri dalam segala keadaan kepada Sumber hidupku. Perasaan adalah kelengkapan dari sentuhan lahiriah. Kalau aku kini mengalami penderitaan badani dan siksaan parasaan, maka itu pun aku ikhlaskan pula. Karena aku percaya, bahwa ada yang melihat keadaanku dan hakekat dari pendirianku, batinku. Dan inilah yang tidak kau ketahui dan kau lihat Empu Gandring. Sebab tangkapan pandanganmu sangat terbatas pada tangkapan pandangan lahir semata-mata”.
Empu Gandring terdiam sejenak. Ia adalah seorang yang telah menelan pengalaman tiada taranya di sepanjang perjalanan hidupnya. Tetapi ia masih mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar kata-kata Empu Sada itu. Bahkan ia menjadi heran, bahwa Empu Sada, yang selama hidupnya berada dalam kesesatan itu mampu menyimpan pendirian yang demikian dan bahwa pendirian itu demikian teguhnya terpancang dihatinya. Empu Gandring bukanlah seorang yang hanya melihat dengan mata kepalanya saja. Empu Gandring adalah seorang yang selalu menjajagi setiap persoalan sampai sedalam-dalamnya ia mampu menyelaminya. Namun, kali ini Empu Sada berkata kepadanya, bahwa tangkapan pandangan matanya hanya terbatas pada tangkapan pandangan lahir semata-mata.
Itulah sebabnya maka Empu Gandring mencoba sekali lagi melihat apa yang telah terjadi. Namun ia tidak menemukan sesuatu yang baru pada dirinya maupun pada peristiwa yang dihadapinya. Persoalan itu adalah persoalan yang tampak jelas. Persoalan yang kasat mata dari setiap bagiannya. Maka untuk sejenak mereka seakan-akan terbungkam. Empu Gandring masih berjongkok di samping Empu Sada sambil mencoba merenungkan kata-kata orang yang sedang terluka itu. Bahkan Ken Arok yang masih muda itu pun termenung pula.
Tetapi Empu Gandring masih saja diliputi oleh keragu-raguan. Ia melihat suatu pertentangan yang sulit untuk dimengerti. Menurut penglihatan dan perhitungannya, maka Empu Sada telah dengan sengaja menyembunyikan Mahisa Agni. Dengan sengaja menyuruh Kuda Sempana melarikan Mahisa Agni. Tetapi menilik sikap, pembicaraan dan ketenangan Empu Sada, bahkan sikap pasrahnya, maka seakan-akan ia harus mempercayai setiap ucapan orang tua itu.
Demikianlah maka ketiga orang itu hanyut dalam arus angan-angan masing-masing. Sementara itu cahaya matahari telah jatuh ke atas tubuh-tubuh mereka, ke atas pategalan yang kering dan ke atas daun-daun liar yang kekuning-kuningan. Lamat-lamat terdengar burung-burung liar mengeluh karena sarang-sarang mereka pun serasa menjadi gersang. Daun-daun yang melindunginya, satu-satu berguguran di tanah karena sentuhan angin yang betapa lembutnya.
Tiba-tiba kesepian itu dipecahkan oleh suara Empu Sada yang menghentak, “He, Empu Gandring, apakah Mahisa Agni itu benar kemanakanmu?”
Empu Gandring memandangi wajah Empu Sada dengan curiga, “Apakah kau tidak percaya?”
“Bukan Empu. Bukan maksudku untuk tidak percaya. Tetapi justru karena aku ingin mendapat kepercayaanmu. Aku ingin kata-kataku yang telah aku ucapkan itu dapat kau mengerti dan kau percaya, supaya kau tidak terlambat mendapatkan Mahisa Agni. Kalau aku nanti mampu berdiri dan berjalan, aku pun segera akan menyusulnya, sampai ke ujung dunia sekalipun”.
Empu Gandring mengerutkan keningnya. Namun keragu-raguannya masih mencengkam dadanya.
“Aku tahu, bahwa kau masih tetap ragu-ragu Empu” berkata Empu Sada, “dan aku pun tahu, hanya orang-orang yang belum mengenal masa lampau Empu Sada sajalah yang segera dapat menpercayai kata-kataku. Tetapi seperti yang aku katakan, bahwa kadang-kadang yang terjadi bukanlah sekedar yang tampak. Ada sesuatu yang terjadi di dalam hatiku, sehingga aku telah berbuat sesuatu yang tidak dimengerti oleh orang lain seperti orang lain itu tidak mengerti dan tidak melihat apa yang telah terjadi di dalam hatiku itu. Sebab yang terjadi itu tidak dapat sekedar di lihat dengan mala wadag”.
Empu Gandring tidak menyahut, dan dibiarkan Empu Sada berkata lebih lanjut, “Empu Gandring. Kalau Mahisa Agni itu kemanakanmu, apakah kau mengenal seorang perempuan yang bernama Jun Rumanti?”
Dada Empu Gandring berdesir mendengar pertanyaan itu. Namun bahkan sejenak ia terdiam membeku. Pertanyaan Empu Sada itu sama sekali tidak diduga-duganya dan yang semakin mengherankannya, darimana Empu Sada pernah mendengar nama Jun Rumanti? Karena Empu Gandring tidak segera menjawab, maka Empu Sada bertanya pula,
“Bagaimana Empu. Apakah kau mengenalnya?”
Perlahan-lahan penuh kebimbangan Empu Gandring menganggukkan kepalanya. Dengan nada datar ia menjawab, “Ya Empu, aku mengenalnya”.
“Jawabmu hambar Empu. Aku ingin mengetahui sebenarnya, apakah kau mengenal nama itu?”
Debar di dada Empu Gandring terasa semakin cepat. Tetapi ia pun kemudian ingin mengetahui, apakah maksud Empu Sada dengan menyebut nama itu. Karena itu maka jawabnya,
“Baiklah aku menjawab dengan mantap Empu. Jun Rumanti adalah adikku. Ibu Mahisa Agni. Kau puas? Tetapi sekarang akulah yang bertanya, darimana kau mengenal nama itu dan dari mana kau mendengarnya. Apapula maksudmu dengan menyebut nama itu?”
“Nama itu mempunyai suatu kesan tersendiri di dalam hatiku Empu. Aku mengenal Jun Rumanti dahulu sebagai seorang gadis. Tetapi aku tidak pernah mendengar dari padanya, sadar atau tidak sadar bahwa ia mempunyai seorang saudara laki-laki yang bernama Empu Gandring dari Lulumbang”.
“Kapan kau mengenal Jun Rumanti?” bertanya Empu Gandring.
“Sebelum ia kawin dan mempunyai seorang anak yang ternyata bernama Mahisa Agni”.
“Anak setan itu datang lagi” gumamnya.
Empu Gandring pun mendengar derap kaki-kaki kuda itu. Dan ia pun menyangka bahwa yang datang itu pasti Ken Arok.
“Empu Gandring” berkata Kebo Sindet kemudian, “kalau kau mendengar juga derap kaki-kaki kuda itu, maka anak iblis itulah yang pasti akan datang. Sayang, aku tidak punya waktu untuk menyambutnya. Tetapi meskipun demikian, sampaikan kepadanya, bahwa aku kagum melihat ketahanan tubuhnya yang luar biasa. Kalau anak itu akan tetap hidup, maka ia benar-benar akan menjadi hantu yang menakutkan bagi seluruh Tumapel. Tidak saja Tumapel, tetapi seluruh Kerajaan Kediri akan mengaguminya”.
Empu Gandring tidak menyahut. Ia pun sebenarnya menjadi sangat kagum melihat ketahanan tubuh Ken Arok, yang tanpa kekuatan ilmu apa pun mampu menyelamatkan diri dari sentuhan aji Bajang.
“Sekarang aku pergi Empu” berkata Kebo Sindet, “tidak ada gunanya aku melayanimu kali ini. Besok pada saatnya aku akan menjumpaimu atau Empu Sada itu, untuk membuat perhitungan dan menuntut hutangmu yang kali ini belum kau lunasi”.
Empu Gandring masih juga berdiam diri. Namun dibiarkannya ketika Kebo Sindet itu mengangkat mayat adiknya dan menyangkutkannya di punggung kuda. Kuda itu adalah kuda milik Empu Sada.
“Selamat tinggal Empu” desis Kebo Sindet sambil meloncat ke atas punggung kuda. Sesaat kemudian kuda itu pun meloncat meninggalkan Empu Gandring yang masih berdiri tegak seperti patung.
Sejenak Empu Gandring dilanda oleh keragu-raguan. Apakah ia akan mengejar Kebo Sindet, atau ia mempunyai kepentingm dengan Empu Sada. Empu Gandring itu tidak tahu benar, kemana sebenarnya Mahisa Agni dibawa. Tetapi menilik bahwa yang membawa itu adalah Kuda Sempana, murid Empu Sada, maka ia akan dapat menanyakannya kepada orang yang sedang pingsan itu. Karena itu maka niatnya untuk mengejar Kebo Sindet diurungkannya. Empu Gandring mengharap bahwa ia akan mendapat banyak keterangan dari Empu Sada tentang Mahisa Agni.
Maka Empu Gandring itu pun kembali berlutut di samping Empu Sada. Dicobanya untuk mengendorkan segenap urat nadinya. Menggerakkan tangannya, dan memijit-mijit dadanya perlahan-lahan. Karena Empu Gandring tahu, bahwa dada itu sebenarnya telah terluka di dalam. Tetapi agaknya luka Empu Sada benar-benar parah. Meskipun denyut nadinya serta detak jantungnya masih terasa, tetapi tubuhnya tampak terlampau lemah, dan matanya yang terpejam sama sekali tidak bergetar.
“Mudah-mudahan aku berhasil” desis Empu Gandring, “aku harus mendapat keterangan tentang Mahisa Agni”.
Kemudian oleh Empu Gandring diambilnya sebulir obat reramuan dedaunan yang akan dapat memberikan kesegaran kepada orang yang sedang mengalami luka di dalam semacam Empu Sada. Tetapi karena keadaan Empu Sada maka Empu Gandring agak menjadi bingung, bagaimana memasukkan obat itu supaya dapat di telan oleh Empu Sada.
“Tak ada jalan lain” desisnya, lalu dimasukkan saja obat itu ke dalam mulut Empu Sada, dengan harapan bahwa obat itu akan huncur dan meskipun sedikit-sedikit dan sangat perlahan-lahan, maka larutan obat itu akan tertelan juga.
Ternyata usaha itu berhasil betapapun lambannya. Sementara itu suara derap kuda dikejauhan menjadi semakin dekat. Ketika kuda itu berhenti tepat di belakang Empu Gandring, maka Empu Sada telah mulai bergerak-gerak. Sehingga Empu Gandring itu pun kemudian meletakkannya di tanah, dan perlahan-lahan ia berdiri.
“Siapa Empu?” bertanya orang berkuda yang tidak lain adalah Ken Arok, sambil meloncat turun.
“Empu Sada”.
“Empu Sada?” Ken Arok menjadi agak terkejut.
Orang itu sama sekali tidak tampak di Panawijen. Yang dilihatnya hanyalah dua orang yang buas dan liar, yang disebut bernama Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Sambil menunjuk kepada bekas-bekas pertempuran Empu Gandring berkata,
“disini baru saja terjadi sebuah permainan yang membingungkan”.
“Kenapa Empu?”
“Wong Sarimpat telah terbunuh”.
“Empu berhasil membunuhnya?”
Empu Gandring menggelengkan kepalanya, “Tidak, bukan aku”.
“Siapa yang telah melakukannya?”
”Orang ini” sahut Empu Gandring sambil menunjuk ke arah Empu Sada.
“Empu Sada itu? Bagaimana hal itu dapat terjadi Empu?”
“Itulah yang membingungkan. Ketika aku sampai di sini, Empu Sada sedang bertempur melawan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat berdua. Aku pun kemudian memihak kepada Empu Sada untuk kemudian memperkecil dan mempersempit persoalan. Ternyata Empu Sada dan Wong Sarimpat telah berbenturan”.
“Dimana Wong Sarimpat dan Kebo Sindet sekarang?”
“Mayat Wong Sarimpat telah dibawa oleh kakaknya, sedang Mahisa Agni dibawa oleh Kuda Sempana”.
“Hem” Ken Arok menggeram, “kemana kira-kira Kuda Sempana melarikan diri?”
“Mungkin aku dapat bertanya kepadanya”.
Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Perlahan-lahan ia mendekati Empu Sada yang ternyata telah mulai bergerak-gerak pula.
“Apakah Empu memberinya obat?”
“Ya”.
“Biarlah ia mati pula seperti Wong Sarimpat”.
“Aku memerlukan keterangannya Ngger. Keterangan tentang Mahisa Agni. Mungkin ia akan bersedia memberitahukan kepadaku dalam keadaannya itu. Kalau tak ada harapan lagi baginya, maka aku rasa ia akan melapangkan dadanya, tanpa menyimpan rahasia lagi pada saat-saat menjelang kematiannya”.
Ken Arok tidak menjawab. Tetapi kerut merut diwajahnya menyatakan kebenciannya kepada orang yang sedang terbaring diam itu. Empu Gandring pun kemudian mendekati Empu Sada itu dan berjongkok lagi disampingnya. Dilihatnya Empu Sada itu membukakan matanya dan berdesis,
“Siapakah kau?”
“Aku Empu Gandring”.
“Hem” desah orang itu, “ada kesegaran merayapi urat-urat darahku. Apakah kau memberi aku semacam obat yang dapat memberi aku kesegaran?”
“Ya”.
“Terima kasih”.
“Empu” berkata Empu Gandring kemudian, “aku ingin keteranganmu tentang Mahisa Agni. Dimanakah ia dilarikan oleh muridmu?”
“Oh” Empu Sada memejamkan matanya. Dikumpulkannya segenap ingatan yang ada padanya. Persoalan-persoalan yang sedang dihadapi pada saat-saat terakhir. “Aku juga memerlukan anak itu” desisnya.
“Empu” berkata Empu Gandring, “kau sekarang berada dalam keadaan parah. Jangan mencoba mempertahankan anak muda itu. Apakah kau masih juga bernafsu untuk membunuhnya atau untuk keperluan apapun yang dapat memberi kepuasan kepada muridmu yang gila itu?”
Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Tetapi tiba-tiba ia mengerutkan keningnya ketika ia mendengar Ken Arok berkata, “Hidup matimu berada ditangan Empu Gandring, Empu”.
Empu Sada yang lemah itu mencoba memandang wajah orang yang berkata kepadanya tentang hidup matinya. Tatapan matanya masih agak kabur dan cahaya yang kemerah-merahan masih belum mampu untuk memecahkan kesuraman pagi.
“Siapakah kau?” bertanya Empu Sada dengan suara lirih.
Yang menjawab adalah Empu Gandring, “seorang Pelayan Dalam dari Istana Tumapel. Namanya Ken Arok”.
“Oh” Empu Sada mencoba menggeliat, tetapi badannya masih terlampau lemah, “Angger Ken Arok. Bukankah kau kawan sepekerjaan dengan Kuda Sempana sewaktu muridku itu masih berada di Istana Tumapel?”
“Ya” sahut Ken Arok singkat.
“Kenapa pula kau disini Agger? Apakah kau mendapat tugas untuk mencari Kuda Sempana?”
“Ya” sahut Ken Arok sekenanya.
“Sayang” desah Empu Sada, “aku sudah tidak dapat berbuat apa-apa lagi terhadap anak itu”.
Empu Gandring mengerutkan keuingnya. Tetapi orang itu tidak segera dapat mengambil kesimpulan dari kata-kata Empu Sada, sehingga ia bertanya,
“Apa maksudmu Empu. Apakah karena keadaanmu yang parah itu ataukah karena hal-hal yang lain maka kau tidak lagi mampu berbuat apa-apa lagi atas muridmu?”
Empu Sada tidak segera menjawab. Dicobanya untuk mengatur jalan pernafasannya, supaya luka di dalamnya tidak terasa sedemikian sakitnya. Empu Gandring yang menyadari keadaan Empu Sada tidak mendesaknya. Ia tahu betul, bahwa penderitaan Empu Sada benar-benar parah. Tetapi, agaknya Ken Arok tidak begitu sabar menunggunya, sehingga ia mendesaknya,
“Empu Sada. Kau jangan mengingkari tanggung jawab atas muridmu. Sekarang dimana Mahisa Agni itu dilarikan?”
Sekali lagi Empu Sada mencoba menggeliat. Tetapi sekali lagi ia menyeringai menahan sakit didadanya. Meskipun demikian ia berusaha menjawab, “Aku juga akan berusaha mendapatkan Mahisa Agni apabila aku berhasil memenangkan perjuangan ini. Perjuangan melawan luka di dalam diriku”.
“Jangan berkeras hati Empu” sahut Ken Arok. Namun sebelum Ken Arok melanjutkan kata-katanya, maka terasa Empu Gandring menggamitnya, sehingga karena itu maka Ken Arok pun terdiam.
“Empu Sada” berkata Empu Gandring dengan nada seorang yang telah dibekali oleh berbagai macam pengalaman yang mengendap, “apakah kau masih juga memerlukan Mahisa Agni?”
Empu Sada mencoba menganggukkan kepalanya perlahan-lahan, “Ya” desisnya, “aku tidak dapat membiarkannya berada di tangan orang lain”.
“Empu Sada” bertanya Empu Gandring kemudian, “apakah kau berselisih pendapat dengan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat tentang tawananmu itu?”
“Ya” sahut Empu Sada perlahan-lahan.
“Dan karena itu kau bertempur melawan mereka?”
“Ya”.
“Sekarang Empu, bagaimanakah pendapatmu kalau aku juga memerlukan Mahisa Agni. Bukankah kau tahu bahwa ia adalah kemanakanku”. “Ya, aku tahu Empu. Dan aku pun ingin pula berusaha mendapatkan kembali Mahisa Agni itu dari tangan Kebo Sindet”.
“Ah” Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Dalam sekali, “kau masih terlalu bernafsu. Keadaanmu tidak akan memungkinkan lagi untuk berbuat sesuatu”.
“Tetapi Mahisa Agni itu harus di rebut dari tangan Kebo Sindet”.
“Empu” berkata Empu Gandring, “bukankah yang membawa Mahisa Agni itu Kuda Sempana? Kenapa kau harus bersusah payah merebutnya dari tangan Kebo Sindet?”
“Aku tidak lagi dapat menguasai muridku. Mahisa Agni itu dilarikan oleh Kuda Sempana untuk kepentingan Kebo Sindet”.
Ken Arok menjadi tidak bersabar lagi mendengar jawaban Empu Sada. Tetapi ia tidak berani mendahului Empu Gandring yang tampaknya masih cukup sabar. Katanya,
“Jangan begitu Empu. Aku tahu bahwa Kuda Sempana adalah muridmu. Aku tahu bahwa kau dan Kuda Sempana telah berusaha mati-matian untuk menangkap Mahisa Agni. Bahkan kemudian kalian telah minta bantuan kepada Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Bukan itu saja, ceritera tentang usahamu untuk menculik adik Mahisa Agni itu pun telah pernah aku dengar. Beruntunglah bahwa pada saat itu Panji Bojong Santi melihat apa yang sedang terjadi”.
Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Kenangan itu ternyata menusuk jantungnya jauh lebih parah dari pada sakit di dadanya. Ternyata bahwa jalan kembali yang akan dicarinya itu tidak selicin yang disangkanya. Teringatlah ia akan kata-kata Kuda Sempana, bahwa dunia yang jernih telah tertutup baginya. Dan kini, terasa, betapa jauh jalan yang harus ditempuhnya untuk dapat kembali ke dalam dunia yang bersih itu. Karena Empu Sada tidak segera menjawab, maka Empu Gandring berkata pula dengan tembung orang tua,
“Empu, dalam keadaan seperti ini seharusnya Empu tidak lagi menambah beban yang akan dapat membuat jalanmu semakin gelap”.
Alangkah pedihnya kata-kata itu. Justru pada saat ia mencari jalan yang terang. Sesaat kemudian maka dengan mengumpulkan segenap kekuatan dan keteguhan hatinya Empu Sada berkata,
“Empu Gandring. Aku sependapat dengan kau, bahwa dalam keadaan ini seharusnya aku tidak perlu menambah jalanku menjadi semakin gelap. Justru karena itulah maka keadaanku menjadi demikian jeleknya. Bukan salahmu kalau kau tidak dapat mempercayai lagi kata-kataku. Dan bukan salahmu pula bahwa kau tetap berpendapat, bahwa Kuda Sempana adalah muridku yang selama ini aku manjakan. Tetapi persoalan yang sebenarnya mungkin tidak akan kau mengerti”.
Empu Sada berhenti sejenak. Dicobanya sekali lagi menggerakkan bagian-bagian dari tubuhnya. Meskipun betapa rasa sakit menyengat-nyengat dadanya, namun ia telah berhasil menggeliat sedikit. Tetapi sejenak kemudian terdengar orang tua itu mengeluh pendek.
“Jangan bergerak terlampau banyak” cegah Empu Gandring. Bagaimanapun juga ia seakan-akan dapat merasakan, betapa sakitnya penderitaan Empu Sada saat itu.
Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Dicobanya untuk meraba sorot mata Empu Gandring. Perasaan apakah yang kira-kira terpancar dari padanya. Tetapi Empu Sada tidak segera dapat mengetahuinya. Namun sementara itu cahaya kemerah-merahan di langit menjadi semakin lama semakin terang. Ujung Gunung Kawi tampak seperti segumpal bara raksasa yang menyala memanasi langit. Semakin lama cahaya kemerah-merahan itu menjadi semburat kuning. Semakin terang, semakin terang. Dan matahari pun kemudian mulai menampakkan dirinya dibalik dedaunan di arah Timur.
“Lukamu parah Empu.” berkata Empu Gandring, “tetapi maaf. Aku memerlukan Mahisa Agni. Aku terpaksa bertanya kepadamu. Karena itu, supaya aku tidak mengganggumu, katakan ke mana Kuda Sempana itu pergi?”
“Sudah aku katakan Empu” jawab Empu Sada, “aku tidak lagi dapat menguasai muridku. Dan aku mengerti bahwa kau tidak akan mudah mempercayai kata-kataku. Apalagi kalau aku katakan, bahwa aku pun sedang berusaha untuk membebaskan Mahisa Agni dari tangan Kebo Sindet, Wong Sarimpat dan Kuda Sempana bukan karena aku masih di bakar nafsu untuk menguasai anak muda itu dengan maksud yang jahat”.
Empu Gandring mengerutkan keningnya. Ketika ia berpaling dilihatnya wajah Ken Arok berkerut-merut. Tetapi sebelum Ken Arok mengucapkan sesuatu, Empu Gandring telah mendahuluinya,
“Hem. Kau agaknya ingin mempersulit dirimu sendiri. Aku dapat menolongmu, menyerahkan kau kepada seseorang di jalan yang akan aku lalui, supaya kau dirawatnya. Dan aku untuk seterusnya tidak akan mengganggumu apabila kau segera mengatakan di mana Mahisa Agni. Bukankah kau akan segera bebas dari pertanyaan-pertanyaanku yang barangkali sama sekali tidak menyenangkanmu ini?”
Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar, bahwa amat sulitlah baginya untuk menjelaskan keadaan yang sebenarnya. Keadaan telah menjadi kalut, dan banyak hal terjadi bersimpang-siur. Dengan demikian maka pedih luka di dada Empu Sada itu rasa-rasanya menjadi bertambah pedih. Ternyata ia telah kehilangan jalan untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Namun sekali lagi disadarinya, bahwa bukan salah Empu Gandring apabila orang itu sudah tidak lagi sanggup mempercayainya.
Perkelahian yang terjadi antara dirinya melawan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat itu bagi Empu Gandring tidak lebih dari perkelahian para perampok yang berselisih dalam pembagian hasil rampokannya. Karena Empu Sada tidak segera menjawab, maka Empu Gandring pun kemudian mendesaknya,
“Bagaimana Empu? Aku ingin semuanya cepat selesai. Kalau mungkin segalanya dapat selesai dengan baik. Membatasi sekecil-kecilnya segala macam luapan dendam dan kebencian. Kalau kau bersedia menolongku Empu, maka untuk seterusnya kita tidak akan mengalami kesulitan, sebab kita tidak menaburkan benih-benih dendam yang dapat tumbuh dan berbuah kelak dengan lebatnya. Setiap persoalan yang sekecil-kecilnya akan dapat menjadi pupuk yang baik bagi pertumbuhan dan perkembangan dendam itu. Bagi kita Empu, bagi orang tua-tua, seandainya hati kita akan hangus sekalipun di bakar oleh dendam dan kebencian, maka akibatnya tidak akan terlampau lama, sebab umur-umur kita pun tidak akan terlampau lama pula. Tetapi apabila anak-anak kita, murid-murid kita telah di bakar pula oleh dendam dan kebencian, maka akibatnya akan sangat panjang dan jauh.”
Ketika Empu Gandring berhenti sejenak, maka terdengar Empu Sada menarik nafas. Dalam sekali, seakan-akan akan dilepaskannya segala macam perasaan yang menyumbat dadanya. Tetapi ia tidak mengucapkan kata-kata.
“Bagaimana Empu? Apakah Empu bersedia menolong aku?” desis Empu Gandring.
Empu Sada telah hampir menjadi putus asa karenanya. Meskipun demikian dicobanya untuk menjawab sejujurnya, “Empu Gandring. Aku tidak dapat berkata lain, bahwa sepengetahuanku, Mahisa Agni itu pasti di bawa ke Kemundungan oleh Kuda Sempana”.
“Oh” Empu Gandring menyeka peluh yang membasahi keningnya. Ketika ia melihat Ken Arok bergeser maju, maka anak muda yang hampir kehilangan kesabaran itu digamitnya., “Tunggulah Ngger” berkata Empu Gandring.
Empu Sada kini sekali lagi mencoba memandangi wajah Ken Arok. Wajah seorang anak muda yang tampan dan berwibawa. Seorang anak muda yang memancarkan keteguhan dan kemampuan yang melampaui anak-anak sebayanya.
Empu Gandring kemudian bergeser maju sambil berkata, “Empu kenapa kau masih saja berusaha mengingkari muridmu?”
“Empu Gandring” akhimya Empu Sada berkata dengan nada yang dalam dan mata yang suram, “maafkan aku Empu. Aku tidak tahu, apa lagi yang harus aku katakan. Itulah yang aku ketahui. Kalau kau sayang akan kemenakanmu, kau sebaiknya segera menyusulnya ke Kemendungan. Tetapi sekali lagi aku katakan, bahwa aku sadar. Kau tidak akan mudah mempercayai aku”.
“Empu Sada” berkata Empu Gandring, “sebenarnya tanpa kau beritahu pun aku akan dapat mencarinya, meski pun aku memerlukan waktu lebih panjang. Tetapi dengan demikian aku berangkat dengan kemarahan di dalam dadaku. Kalau aku bertemu dengan muridmu, maka kemarahan itu akan seperti minyak yang tersentuh api. Mungkin aku akan kehilangan pengamalan diri dan mungkin aku akan berbuat sesuatu yang tidak kau inginkan atas muridmu itu. Tetapi kalau aku berangkat dengan hati sejuk, maka akibatnya pun pasti akan berbeda”.
Hati Empu Sada serasa di sentuh dengan tajam sembilu. Sekali lagi ia berdesah dan menarik nafas dalam-dalam. Tetapi orang tua itu hampir-hampir menjadi berputus asa. Ia tidak melihat kemungkinan lagi untuk mendapatkan kepercayaan dari Empu Gandring.
Dan Empu Gandring itu berkata pula, “Pertimbangkan Empu, supaya aku tetap dalam kesadaran, bahwa tidak sehurusnya aku menanam benih dendam di hati orang lain. Tetapi kau pun harus membantuku”.
“Oh” Empu Sada mengeluh, “hukuman ini terlampau berat bagiku. Barangkali lebih haik apabila aku mati karena dadaku hancur oleh tangan Wong Sarimpat”.
“Tidak Empu, sebenarnya kau dapat menghindari hukuman ini. Kau dapat melepaskan dirimu dari perasaan bersalah yang selalu mengejarmu. Tetapi agaknya kau tidak bersedia. Agaknya kau akan membawa rahasia itu sampai saat terakhir. Namun rahasia itu akan menyumbat jalanmu Empu. Dan kau akan menderita disaat-saat terakhir. Bukan saja penderitaan badaniah tetapi juga rohaniah.”
“Hem” Empu Sada berdesah, “semoga Yang Maha Agung melihat isi dadaku. Di saat-saat aku mencoba mengurangi beban perasaanku, maka aku dihadapkan pada keadaan seperti ini. Tetapi Empu Gandring, aku sudah rela. Aku sudah ikhlas, apa saja yang akan terjadi atas diriku. Aku ikhlas menerima segala hinaan, ketidak percayaan dan kecurigaan ini. Aku telah pasrah diri dalam segala keadaan kepada Sumber hidupku. Perasaan adalah kelengkapan dari sentuhan lahiriah. Kalau aku kini mengalami penderitaan badani dan siksaan parasaan, maka itu pun aku ikhlaskan pula. Karena aku percaya, bahwa ada yang melihat keadaanku dan hakekat dari pendirianku, batinku. Dan inilah yang tidak kau ketahui dan kau lihat Empu Gandring. Sebab tangkapan pandanganmu sangat terbatas pada tangkapan pandangan lahir semata-mata”.
Empu Gandring terdiam sejenak. Ia adalah seorang yang telah menelan pengalaman tiada taranya di sepanjang perjalanan hidupnya. Tetapi ia masih mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar kata-kata Empu Sada itu. Bahkan ia menjadi heran, bahwa Empu Sada, yang selama hidupnya berada dalam kesesatan itu mampu menyimpan pendirian yang demikian dan bahwa pendirian itu demikian teguhnya terpancang dihatinya. Empu Gandring bukanlah seorang yang hanya melihat dengan mata kepalanya saja. Empu Gandring adalah seorang yang selalu menjajagi setiap persoalan sampai sedalam-dalamnya ia mampu menyelaminya. Namun, kali ini Empu Sada berkata kepadanya, bahwa tangkapan pandangan matanya hanya terbatas pada tangkapan pandangan lahir semata-mata.
Itulah sebabnya maka Empu Gandring mencoba sekali lagi melihat apa yang telah terjadi. Namun ia tidak menemukan sesuatu yang baru pada dirinya maupun pada peristiwa yang dihadapinya. Persoalan itu adalah persoalan yang tampak jelas. Persoalan yang kasat mata dari setiap bagiannya. Maka untuk sejenak mereka seakan-akan terbungkam. Empu Gandring masih berjongkok di samping Empu Sada sambil mencoba merenungkan kata-kata orang yang sedang terluka itu. Bahkan Ken Arok yang masih muda itu pun termenung pula.
Tetapi Empu Gandring masih saja diliputi oleh keragu-raguan. Ia melihat suatu pertentangan yang sulit untuk dimengerti. Menurut penglihatan dan perhitungannya, maka Empu Sada telah dengan sengaja menyembunyikan Mahisa Agni. Dengan sengaja menyuruh Kuda Sempana melarikan Mahisa Agni. Tetapi menilik sikap, pembicaraan dan ketenangan Empu Sada, bahkan sikap pasrahnya, maka seakan-akan ia harus mempercayai setiap ucapan orang tua itu.
Demikianlah maka ketiga orang itu hanyut dalam arus angan-angan masing-masing. Sementara itu cahaya matahari telah jatuh ke atas tubuh-tubuh mereka, ke atas pategalan yang kering dan ke atas daun-daun liar yang kekuning-kuningan. Lamat-lamat terdengar burung-burung liar mengeluh karena sarang-sarang mereka pun serasa menjadi gersang. Daun-daun yang melindunginya, satu-satu berguguran di tanah karena sentuhan angin yang betapa lembutnya.
Tiba-tiba kesepian itu dipecahkan oleh suara Empu Sada yang menghentak, “He, Empu Gandring, apakah Mahisa Agni itu benar kemanakanmu?”
Empu Gandring memandangi wajah Empu Sada dengan curiga, “Apakah kau tidak percaya?”
“Bukan Empu. Bukan maksudku untuk tidak percaya. Tetapi justru karena aku ingin mendapat kepercayaanmu. Aku ingin kata-kataku yang telah aku ucapkan itu dapat kau mengerti dan kau percaya, supaya kau tidak terlambat mendapatkan Mahisa Agni. Kalau aku nanti mampu berdiri dan berjalan, aku pun segera akan menyusulnya, sampai ke ujung dunia sekalipun”.
Empu Gandring mengerutkan keningnya. Namun keragu-raguannya masih mencengkam dadanya.
“Aku tahu, bahwa kau masih tetap ragu-ragu Empu” berkata Empu Sada, “dan aku pun tahu, hanya orang-orang yang belum mengenal masa lampau Empu Sada sajalah yang segera dapat menpercayai kata-kataku. Tetapi seperti yang aku katakan, bahwa kadang-kadang yang terjadi bukanlah sekedar yang tampak. Ada sesuatu yang terjadi di dalam hatiku, sehingga aku telah berbuat sesuatu yang tidak dimengerti oleh orang lain seperti orang lain itu tidak mengerti dan tidak melihat apa yang telah terjadi di dalam hatiku itu. Sebab yang terjadi itu tidak dapat sekedar di lihat dengan mala wadag”.
Empu Gandring tidak menyahut, dan dibiarkan Empu Sada berkata lebih lanjut, “Empu Gandring. Kalau Mahisa Agni itu kemanakanmu, apakah kau mengenal seorang perempuan yang bernama Jun Rumanti?”
Dada Empu Gandring berdesir mendengar pertanyaan itu. Namun bahkan sejenak ia terdiam membeku. Pertanyaan Empu Sada itu sama sekali tidak diduga-duganya dan yang semakin mengherankannya, darimana Empu Sada pernah mendengar nama Jun Rumanti? Karena Empu Gandring tidak segera menjawab, maka Empu Sada bertanya pula,
“Bagaimana Empu. Apakah kau mengenalnya?”
Perlahan-lahan penuh kebimbangan Empu Gandring menganggukkan kepalanya. Dengan nada datar ia menjawab, “Ya Empu, aku mengenalnya”.
“Jawabmu hambar Empu. Aku ingin mengetahui sebenarnya, apakah kau mengenal nama itu?”
Debar di dada Empu Gandring terasa semakin cepat. Tetapi ia pun kemudian ingin mengetahui, apakah maksud Empu Sada dengan menyebut nama itu. Karena itu maka jawabnya,
“Baiklah aku menjawab dengan mantap Empu. Jun Rumanti adalah adikku. Ibu Mahisa Agni. Kau puas? Tetapi sekarang akulah yang bertanya, darimana kau mengenal nama itu dan dari mana kau mendengarnya. Apapula maksudmu dengan menyebut nama itu?”
“Nama itu mempunyai suatu kesan tersendiri di dalam hatiku Empu. Aku mengenal Jun Rumanti dahulu sebagai seorang gadis. Tetapi aku tidak pernah mendengar dari padanya, sadar atau tidak sadar bahwa ia mempunyai seorang saudara laki-laki yang bernama Empu Gandring dari Lulumbang”.
“Kapan kau mengenal Jun Rumanti?” bertanya Empu Gandring.
“Sebelum ia kawin dan mempunyai seorang anak yang ternyata bernama Mahisa Agni”.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar