MENU

Ads

Jumat, 13 Maret 2026

Pelangi di Langit Singasari 137

Wajah orang itu pun segera berubah. Selangkah ia mundur. Tanpa dikehendakinya sendiri wajahnya pun kemudian beredar ke halaman rumah-rumah di sekitarnya. Sekilas ia melihat beberapa orang tetangganya menyaksikan keributan itu. Beberapa orang laki-laki kurus dengan pakaian yang kumal berdiri dengan gemetar, sedang beberapa anak muda yang berwajah pucat menyaksikannya dengan berdebar-debar.

Orang yang bertubuh kekar itu adalah orang yang ditakuti di padepokan itu. Orang itu seakan-akan menjadi wakil dari Kebo Sindet dan Wong Sarimpat untuk melakukan semacam pungutan dan sebagainya. Meskipun orang itulah yang pertama-tama menentang sikap Kebo Sindet, dan bahkan hanya orang itulah yang berani melawannya, tetapi ia tidak berdaya menghadapi iblis yang bernama Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Bahkan dengan licik maka Kebo Sindet dan Wong Sarimpat telah memaksanya untuk melakukan pekerjaan untuk mereka, pekerjaan yang justru bertentangan dengan keinginannya sendiri.

Tetapi selagi ia masih ingin hidup, maka ia tidak akan dapat ingkar. Ia harus melakukan pemerasan dan pemaksaan terhadap kawan-kawan sedesanya. Namun dalam saat-saat yang memungkinkan ia masih juga merasa bahwa lingkungannya itu harus mendapat perlindungan. Tetapi apa yang dilakukannya sama sekali tidak berarti. Sehingga untuk seterusnya orang itu harus melakukan pekerjaan yang bertentangan dengan suara batinya. Tetapi hatinya itu tidak cukup kuat untuk mempertahankan suaranya, sehingga ia masih mementingkan hidupnya daripada membela pendiriannya.

Menghadapi Empu Gandring orang itu menjadi ragu-ragu. Ia ingin mengusir orang yang bernama Empu Gandring untuk menghindarkan diri dari pertengkaran atau perkelahian. Sebab adalah menjadi kewajibannya untuk membunuh orang-orang yang pantas dicurigai. Kalau ia tidak berhasil, maka nasib orang itu pun tidak akan menjadi lebih baik. Setiap kali ada orang yang berkeras kepala, dan ia menjumpai kesulitan untuk mengusirnya maka orang itu pasti akan mati dengan cara yang menyedihkan. Sebab setiap kali Kebo Sindet atau Wong Sarimpat pasti akan bertindak sendiri atas orang itu.

Beberapa puluh kali ia menyaksikan bagaimana Kebo Sindet atau Wong Sarimpat atau kedua-duanya melakukan hal serupa itu. Bahkan orang yang tersesat, masuk ke padesan ini untuk bertanya, akhirnya orang itu tidak lagi dapat keluar dari desa ini. Hanya orang-orang yang bernasib baik, yang kebetulan segera menjadi takut kepada orang Kemundungan yang kekar itu dan lari tanpa dilihat oleh Kebo Sindet dan Wong Sarimpat lah yang masih dapat meninggalkan padesan ini dengan tubuhnya.

Tetapi kini orang Kemundungan yang kekar itu tidak berhasil menakut-nakuti Empu Gandring. Bahkan orang tua itu kini berdiri bertolak pinggang dan menantangnya. Orang yang bertubuh kekar itu tiba-tiba menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar sepenuhnya, dengan siapa ia berhadapan. Setelah beberapa lama ia berbicara serta melihat sikap dan mendengar kata-kata Empu Gandring, maka orang Kemundungan dapat menduga, bahwa orang ini bukan orang kebanyakan.

“Bagaimana Ki Sanak?” tiba-tiba Empu Gandring bertanya, “Apakah kau bersedia memberi aku beberapa penjelasan mengenai Kebo Sindet?”

Orang yang bertubuh kekar itu menjadi semakin ragu-ragu. Sekali lagi ia memandangi orang-orang di sekelilingnya. Tetapi ia masih tetap diam. Empu Gandring melihat sikap orang itu. Sikap yang bagi Empu Gandring cukup memberi petunjuk, bahwa orang itu akan dapat memberikan beberapa isyarat kepada kawan-kawannya.

“Hem” Empu Gandring bergumam, “apa yang akan kau lakukan?” Orang itu tidak menjawab, tetapi ia mundur selangkah. “Ki Sanak.” berkata Empu Gandring kemudian, “aku dapat mengerti hampir sebagian besar dari apa yang sering terjadi disini“ sejenak Empu Gandring berhenti.

Ditatapnya wajah orang yang bertubuh kekar itu. Pengalaman yang mengendap di dalam dada Empu Gandring ternyata mampu menangkap apa yang sebenarnya sedang dihadapi. Katanya seterusnya,

“Bukankah kau akan memberikan isyarat bahwa ada seseorang yang tak dapat kau kuasai? Adi, ternyata kau tidak dapat bersikap dalam pendirianmu sendiri. Kau masih terombang-ambing di dalam arus angin pusaran. Kau harus tunduk kemana angin bertiup, supaya kau tidak roboh karenanya. Tetapi bahwa kau telah berusaha untuk berbuat baik itu pantas sekali dihargai. Tetapi belum lagi sesilir bawang kau sudah berpikir untuk memberikan tanda atau isyarat kepada Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Kau tahu akibat dari isyaratmu atas orang yang kau anggap tidak dapat kau kuasai itu. Tetapi hal itu kau lakukan juga karena kau takut dirimu sendiri akan mendapat akibat yang tidak menyenangkan”.

Orang yang bertubuh kekar itu masih berdiri di tempatnya. Kini wajahnya menjadi semakin tegang. Hatinya menjadi semakin bimbang dan bahkan menjadi bingung.

“Tetapi kalau kau berkeras untuk melakukannya, memberi isyarat itu, maka aku tidak akan berkeberatan. Semalam suntuk aku menunggunya, tetapi ia tidak kunjung datang. Kalau mendengar isyaratmu ia akan datang kemari, maka aku akan sangat berterima-kasih kepadamu”.

Hati orang itu menjadi semakin berdebar-debar. Agaknya orang tua ini memang orang tua yang mempunyai beberapa kelebihan. Tetapi meskipun demikian orang itu tidak segera berbuat sesuatu. Dipandanginya saja Empu Gandring itu dengan berbagai perasaan yang aneh di dalam dirinya.

“Kenapa kau masih saja berdiam diri? Ayo, berikan isyarat itu. Mungkin seseorang akan memanggilnya atau dengan tanda lain, kentongan misalnya”.

Orang itu menjadi semakin bingung. Belum pernah ia berhadapan dengan seorang yang dengan beraninya menghadapi Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Hanya orang-orang yang belum mengenalnya sajalah yang berani mencoba melawannya, justru karena orang-orang itu tidak tahu, siapakah Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Tetapi orang ini sudah mengenalnya, bahkan menunggunya semalam suntuk.

“Ayo, apalagi yang kau tunggu?”

Tiba-tiba orang itu menggelengkan kepalanya, katanya, “Tidak. Aku tidak akan memberikan isyarat apapun”.

“Kenapa?”

“Kau mempunyai kesan yang lain bagiku. Ternyata kau sama sekali tidak takut terhadap Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Mungkin kau adalah seorang yang pilih tanding seperti Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Tetapi mungkin kau juga belum mengetahui sepenuhnya tentang orang itu”.



“Aku sudah mengenalnya dengan baik. Aku sudah bertempur melawannya dan ia melarikan diri”.

Meskipun orang itu sudah menduga bahwa Empu Gandring termasuk seorang yang pilih tanding, tetapi ketika ia mendengar bahwa Kebo Sindet melarikan dirinya, maka dadanya berdesir.

“Apakah kau tidak percaya?”

Orang itu tidak menjawab. Tetapi apabila benar demikian, maka orang ini adalah orang yang aneh. Ia telah menampar wajah orang itu tanpa berbuat sesuatu. Kenapa ia bersikap demikian? Apabila hal itu terjadi atas Kebo Sindet dan Wong Sarimpat, maka akibatnya sudah dapat dibayangkan. Alangkah malangnya nasib orang yang demikian. Tetapi meskipun demikian kecemasannya masih juga mencengkam hatinya. Apakah orang ini sengaja membiarkannya dahulu sebelum ia berbuat sesuatu. Memberinya waktu untuk merasakan betapa sakitnya perasaan takut yang menusuk-nusuk jantung?.

Orang itu terkejut ketika Empu Gandring membentaknya, “He, kenapa kau diam saja? Ayo, berbuatlah sesuatu. Memberi isyarat kepada Kebo Sindet, memanggilnya atau kalau kau merasa dirimu sanggup, lawanlah aku. Bukankah menjadi kewajibanmu untuk berbuat demikian?”

Tetapi karena bukan kebiasaan Empu Gandring menakut-nakuti orang, maka kata-katanya pun berloncatan seolah-olah tidak tersusun dengan baik. Namun justru karena itu, kesan yang timbul di dalam hati orang itu menjadi semakin mencemaskannya. Sekali lagi orang itu menggeleng, jawabnya,

“Tidak. Aku tidak akan memberinya isyarat apapun”.

“Oh, jadi kau sendiri akan melawan aku berkelahi?”

“Juga tidak” orang itu menggeleng lagi.

“Lalu apa yang akan kau lakukan? Bukankah kau sudah mulai menampar mukaku. Dan bukankah kau sudah mengancam aku supaya aku tidak bertanya-tanya lagi?”

Dada orang itu berdesir. Ternyata orang tua itu mulai mengungkit-ungkit kelancangannya.

“Aku tidak akan berbuat sesuatu” berkata orang itu.

Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam mendengar jawabannya. Maka katanya, “Baiklah, kalau kau tidak ingin berbuat sesuatu, maka aku pun tidak akan berbuat sesuatu pula atasmu. Tetapi aku minta kau mengatakan kepadaku, apakah Kebo Sindet mempunyai tempat yang lain selain gubugnya itu?”

Orang itu pun terdiam. Sekali lagi ia memandangi berkeliling. Dilihatnya laki-laki kurus, anak-anak muda yang pucat, perempuan-perempuan dikejauhan, masih memandanginya dengan penuh pertanyaan.

“Hem” Empu Gandring bergumam, “aku tahu, kau takut kepada Kebo Sindet, tetapi apakah kau tidak takut kepadaku? Kalau aku mau, aku pun dapat berbuat seperti Kebo Sindet. Menangkapi kau dan orang-orang Kemundungan, membunuh dengan cara yang sering dilakukan oleh Kebo Sindet. Bukankah Kebo Sindet sering membunuh korbannya dengan perlahan-lahan. Mengikatnya di sarang semut atau memanggangnya di atas api yang tidak cukup panas untuk mematikannya atau merebus dalam air hangat-hangat? Nah, manakah yang kau kehendaki?”

Bulu-bulu orang itu meremang. Tiba-tiba ia telah kehilangan kegarangannya. Belum lagi ia mencoba melawan, tetapi ia sudah terpengaruh oleh kata-kata Empu Gandring. Meskipun demikian, orang itu masih tetap ragu-ragu. Apakah benar Empu Gandring mampu berbuat seperti Kobo Sindet? Antara percaya dan tidak, maka orang itu berdiri kebingungan.

Empu Gandring dapat melihat keragu-raguan itu. Karena itu maka ia harus menguasainya. Menghilangkan keragu-raguan itu tanpa menyakitinya. Karena itu, maka tiba-tiba orang tua itu melangkah mundur sambil berkata,

“He orang Kemundungan. Aku ingin kau berkata tentang Kebo Sindet. Aku tahu kau takut kepadanya, tetapi aku pun mampu berbuat seperti orang itu. Terserah kepadamu, siapakah yang akan kau takuti kemudian. Tetapi aku peringatkan, apabila kau telah melihat apa yang aku lakukan, dan kau tidak juga mau berkata tentang Kebo Sindet, maka kau akan mengalami nasib yang menyedihkan”.

Suara Empu Gandring itu menderu di telinga orang yang bertubuh kekar itu seperti suara guntur yang meledak di langit. Mengejutkan, menakutkan dan mencemaskan. Tetapi sebelum ia sempat berbuat sesuatu, ia melihat Empu Gandring meloncat seperti bilalang. Tanpa mereka lihat dengan mata, keris Empu Gandring yang besar itu pun telah berada di dalam genggamannya.

“Ayo, katakan” katanya, “apa yang dapat dilakukan oleh Kebo Sindet? Membelah batu itu, merobohkan pohon nyiur dengan goloknya atau apa?”

Orang Kemundungan itu justru terbungkam. Tetapi tiba-tiba biji matanya serasa meloncat dari pelupuknya ketika ia melihat keris Empu Gandring berputar seperti baling-baling, sehingga Empu Gandring sendiri seakan-akan hilang ditelan oleh pusaran kerisnya. Belum lagi debar jantungnya mereda, maka orang itu sekali lagi dikejutkan oleh suara berderak. Tiba-tiba ia melihat tiga batang pohon tal roboh bersamaan, disusul oleh sebatang pohon siwalan yang sedang berbuah lebat.

Kini orang itu seakan-akan membeku karenanya. Bukan saja orang itu, tetapi orang-orang lain yang melihat pun menjadi ngeri. Mereka pernah melihat Kebo Sindet membuat pengeram-eram. Dan mereka pun menjadi ngeri. Tetapi kali ini mereka pun dicengkam oleh perasaan yang serupa. Sejenak kemudian orang Kemundungan yang bertubuh tinggi kekar itu melihat Empu Gandring telah berdiri dihadapannya. Kerisnya sudah tidak berada di dalam genggamannya lagi. Yang dilihatnya adalah tangkai keris itu mencuat di belakang pundaknya.

“Apalagi yang dapat dilakukan oleh Kebo Sindet?” bertanya Empu Gandring.

Dengan gemetar orang itu menjawab, “Tuan, aku mohon maaf atas kelancanganku tuan. Barangkali tuan sangat marah kepadaku karenanya”.

“Ya, aku sangat marah” sahut Empu Gandring, tetapi nada suaranya tidak meyakinkan, “aku ingin membunuhmu, mencincangmu atau menghukum picis karena kau sudah menampar mukaku”.

“Ampun tuan. Bunuhlah aku, tetapi jangan dengan cara itu”.

“Sekehendakkulah. Tetapi kalau kau ingin bebas dari penderitaan, maka katakan saja kepadaku, di mana Kebo Sindet sering berada selain di dalam rumahnya itu?”

“Tak ada gunanya tuan. Kalau tuan tidak membunuh aku, maka orang itulah yang akan membunuh aku. Bahkan mungkin dengan cara yang lebih mengerikan. Karena itu, tolonglah tuan, bunuhlah aku dengan cara yang agak baik, supaya aku tidak mengalami penderitaan”.

Empu Ganring terkejut mendengar permintaan orang itu. Orang itu merasa bahwa dirinya pasti akan mati. Kalau tidak dibunuh oleh Empu Gandring maka Kebo Sindet lah yang akan membunuhnya. Sehingga dengan demikian, maka orang itu telah benar-benar menjadi putus asa. Kehadirannya di Padukuhan Kemundungan ternyata telah membawa bencana bagi orang itu. Orang yang sebenarnya baik hati, tetapi karena tekanan keadaan, akhirnya menjadi seorang yang kasar dan tampak bengis. Tetapi Empu Gandring tidak ingin membiarkannya ditelan keputusasaan, sehingga timbulah keinginannya untuk menolong orang itu, melepaskannya dari ketakutan.

Empu Gandring itu pun kemudian bertanya, “Ki Sanak, kenapa kau merasa bahwa kau harus mati? Kenapa kau tidak berbuat sesuatu supaya kau dapat terlepas karenanya?”

“Tak ada gunanya. Kalau aku berbicara tentang Kebo Sindet maka aku pasti akan dibunuhnya. Kalau aku tidak mau berbicara maka tuan akan membunuh aku. Bukankah sudah jelas? Aku tidak dapat melawan tuan seperti aku tidak akan mampu melawan Kebo Sindet. Apakah yang dapat aku lakukan?”

Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam, katanya, “Nah, kalau demikian, kalau kau sudah pasti bahwa kau akan mati, kenapa kau masih juga takut kepada Kebo Sindet? Dan bukankah Kebo Sindet sekarang tidak ada di rumah ini sehingga ia tidak akan tahu apa yang kau lakukan?”

“Kebo Sindet tahu segala-galanya. Seperti hantu ia tiba-tiba saja muncul di segala tempat bersama adiknya Wong Sarimpat, atau salah seorang dari mereka”.

“Omong kosong. Mereka adalah orang-orang biasa, Wong Sarimpat ternyata dapat mati terbunuh seperti kebanyakan orang”.

“He” wajah orang itu menegang, “Wong Sarimpat terbunuh?”

“Ya” sahut Empu Gandring, “kami berkelahi berpasangan. Aku berada sepihak dengan Empu Sada melawan kedua iblis. Ternyata Wong Sarimpat terbunuh oleh lawannya dan Kebo Sindet menghindari perkelahian”. Orang yang bertubuh kekar itu terdiam sejenak. Tetapi matanya memancarkan keragu-raguan. Sehingga, Empu Gandring berkata, “Jangan ragu-ragu. Wong Sarimpat benar-benar telah terbunuh. Ia sudah mati. Aku melihat sendiri mayatnya yang membeku akibat sentuhan Aji Kala Bama”. Orang yang bertubuh kekar itu masih saja berdiri mematung. Dan Empu Gandring berkata terus, “Dengan demikian, maka kekuasaannya di padukuhan ini pun pasti akan goyah”.

“Tetapi” tiba-tiba orang itu berkata, “Kebo Sindet itu pun mampu melakukannya seorang diri. Membunuh aku dengan caranya”.

“Kau sudah merasa bahwa kau pasti akan mati. Apa lagi yang kau takuti. Nah, sekarang sebaiknya kau katakan kepadaku apa yang kau ketahui tentang Kebo Sindet itu”. Sekali lagi orang itu terbungkam. Dan Empu Gandring berkata seterusnya, “Berkatalah tentang iblis itu. Bukankah kau lebih senang mati oleh tanganku dari pada oleh iblis itu? Kalau kau harus mati juga, maka kau sudah berbuat sesuatu yang baik bagiku, bagi orang lain dan bagi banyak orang”. Orang itu masih tetap berdiam diri.

“Apalagi Kebo Sindet tidak berada di tempat ini. Ia tidak akan tahu apa yang kau katakan kepadaku. Atau, dapatkah kau memilih? Mati atau pergi bersamaku ke tempat lain . Apakah yang sebenarnya mengikatmu di Kemundungan?”

Orang itu menggeleng lemah, “Tak ada tempat untuk bersembunyi di kolong langit ini”.

“Bodoh. Itu terlampau berlebih-lebihan, menganggap Kebo Sindet seakan-akan seorang yang mampu berbuat apa saja, mengetahui apa saja. Tidak. Ia seorang biasa yang mengenal takut dan cemas. Ternyata ia bersembunyi. Nah, apa katamu?”

Orang yang bertubuh kekar itu memandang Empu Gandring dengan tajamnya. Tetapi kata-kata Empu Gandring yang terakhir itu telah menyentuh hatinya. Memang, selama ini ia takut bukan buatan kepada Kebo Sindet dan Wong Sarimpat, sehingga seolah-olah kedua orang itu bukan manusia biasa lagi. Tetapi menurut orang yang berdiri dihadapannya, dan bernama Empu Gandring itu, ternyata Wong Sarimpat dapat juga terbunuh dan Kebo Sindet mengenal juga takut dan cemas.

“Bagaimana?” bertanya Empu Gandring, “aku ingin mendengar serba sedikit tentang Kebo Sindet. Sesudah itu, kalau kau takut tinggal di sini, pergilah ke Lulumbang, pedukuhan tempat tinggalku. Kau dapat hidup di sana sebagai seorang petani yang wajar. Kau akan dapat menjadi seorang yang baik, yang berbuat tanpa bertentangan dengan panggilan hatimu. Menakut-nakuti orang, bahkan menyakiti”.

Tiba-tiba orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya, katanya, “Apakah mungkin begitu tuan?”

“Kenapa tidak?”

“Alangkah menyenangkan apabila itu bukan sekedar impian saja”.

“Kenapa impian?”

“Tuan akan segera membunuh aku setelah aku berkata apa yang aku ketahui tentang Kebo Sindet”.

“Itu bukan kebiasaanku Ki Sanak” sahut Empu Gandring.

Sekali lagi orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Hidup sebagai seorang petani yang wajar adalah hidup yang diimpikannya selama ini. Tetapi ia merasa bahwa hidup yang demikian itu tidak akan pernah dihayatinya selama Kebo Sindet masih hidup di Kemundungan. Sebab ia terpaksa melakukan hal-hal di luar kemauannya sendiri.

“Apakah kau bersedia?” bertanya Empu Gandring.

Agaknya orang itu masih ragu-ragu. Tetapi akhirnya ia mengangguk, “Marilah, masuklah ke rumah. Barangkali aku dapat memenuhi keinginan tuan meskipun hanya beberapa hal yang mungkin tak berarti bagi tuan”.

Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Agaknya ia berhasil memaksa orang itu untuk berbicara dengan caranya. Meskipun nada suara orang itu masih dipenuhi oleh kebimbangan, namun dengan beberapa penjelasan nanti ia akan dapat meyakinkan, bahwa Kebo Sindet kini tidak akan muncul segera di padukuhan ini. Empu Gandring pun kemudian mengikuti orang itu masuk ke dalam rumah yang agak lebih baik dari rumah-rumah di sekitarnya, meskipun rumah itu sendiri adalah rumah gubug yang terlampau sederhana.

Mereka pun kemudian duduk di atas sehelai tikar pandan yang dianyam kasar, yang terbentang di atas sebuah bale-bale bambu. Sejenak Empu Gandring memperhatikan isi rumah itu. Tidak jauh berbeda dengan gubug Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Rumah ini hampir tidak berisi perabot lain yang lajim di dalam rumah tangga yang wajar. Tetapi Empu Gandring menyadari, bahwa keadaan yang sulitlah yang menyebabkan orang-orang di padukuhan ini tidak sempat mengisi rumahnya dengan beberapa macam alat rumah tangga yang diperlukan.

Di dalam rumah itu Empu Gandring melihat beberapa alat-alat pertanian yang sudah usang tersangkut di dinding. Agaknya mereka pun tidak sempat membuat atau. membeli alat-alat semacam itu.

“Inilah seluruh milikku” desah orang bertubuh kekar itu.

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia bertanya, “Siapakah namamu Ki Sanak?”

Orang itu menarik nafas. Jawabnya, “Namaku Tambi”.

“Tambi” Empu Gandring mengulangi,

“Ya. Aku hidup sendiri di rumah ini. Isteri dan seorang anakku mati Ketakutan. Mereka tidak tahan hidup seperti yang dialaminya. Beberapa tahun mereka bertahan. Tetapi akhirnya perempuan itu tidak kuat lagi. Anaknya masih kecil itu pun mati pula beberapa bulan kemudian”.

Empu Gandring mengerutkan keningnya. Alangkah pahit hidup orang yang bernama Tambi ini. Namun kenapa ia masih saja bertahan tinggal di padukuhan ini?. Tetapi Empu Gandring tidak segera bertanya. Dibiarkannya saja Tambi itu berbicara terus,

“Tuan” berkata orang itu, “aku sendiri selama ini harus melakukan pekerjaan yang tidak aku ingini. Setiap kali aku harus bertengkar dengan diri sendiri. Dan setiap kali aku terdorong dalam suatu tindakan yang sama sekali tidak menyenangkan bagiku dan bagi keluargaku semasa isteriku masih hidup. Hal-hal yang demikian itulah yang mempercepat kematian isteriku”.

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia terkejut ketika ia mendengar Tambi itu berkata, “Ketahuilah tuan, bahwa isteriku masih mempunyai hubungan keluarga dengan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat”.

“Apakah isterimu itu masih bersaudara dengan keduanya?”

“Isteriku adalah saudara sepupunya. Dan kedua saudara sepupu yang menurut aliran darah lebih muda itu, telah membuatnya terlampau susah”.

“Apakah isterimu tidak pernah mencoba menasehatinya?” bertanya Empu Gandring.

“Tak ada orang yang berani menasehatinya” jawab orang itu, yang tiba saja menjadi gelisah. Dipandanginya sekeliling ruangan itu dan dicobanya untuk mendengarkan setiap desir di sekitarnya.

“Kebo Sindet tidak akan segera datang kemari” berkata Empu Gandring, “apalagi kalau diketahuinya aku berada di sini”.

Tambi mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi kegelisahannya masih terbayang di wajah serta sikapnya.

“Aku sekarang sudah tidak beranak dan beristeri. Seharusnya aku sudah tidak takut lagi”.

“Memang kau tidak perlu takut, apalagi kalau kau sudah bersedia untuk mati. Tetapi kau harus berusaha untuk tidak perlu mengalaminya segera. Bermohonlah kepada Yang Maha Agung. Namun kau pun harus berbuat. Kau dapat meninggalkan padukuhan ini”. Tambi mengangguk-anggukkan kepalanya. “Nah, aku hanya ingin tahu, di mana Kebo Sindet itu bersembunyi?”

“Tak seorang pun tahu pasti” jawab Tambi.

Mendengar jawaban itu Empu Gandring menjadi kecewa. Hanya itulah yang diharapkannya. Tetapi ia merasakan kejujuran jawaban orang yang bernama Tambi itu.

“Tetapi” berkata Tambi kemudian. “Ia masih saja dikuasai oleh kebimbangan, “ia sering pergi ke seberang hutan yang berrawa-rawa itu”.

Empu Gandring mengerutkan keningnya. Katanya, “Yang kau maksud hutan di sebelah bukit gundul itu?”

Tambi mengangguk, “Ya. Hutan itu tumbuh di tanah yang berawa-rawa. Tanah yang sulit sekali untuk dilalui. Orang-orang Kemundungan pun tidak berani menyeberangi rawa-rawa itu, selain Kebo Sindet dan Wong Sarimpat”.

“Apakah ada jalan lain kecuali daerah yang berlumpur itu?”

Tambi menggeleng, “Tidak ada. Tempat itu dikelilingi oleh rawa-rawa dari mana pun kita mendatanginya”.

“Hem” Empu Gandring menggeram, “setan itu benar-benar licin”.

“Selebihnya aku tidak tahu apa-apa, kecuali pada masa kecilnya”.

“Kau mengenalnya sejak kanak-kanak?”

“Anak itu anak Kemundungan sejak lahir” jawab Tambi, “seperti aku dan isteriku juga anak Kemundungan sejak lahir. Tetapi kedua anak itu lama sekali meninggalkan kampung halaman. Ketika mereka kembali, mereka telah menjadi iblis.”

Kata-kata itu seakan-akan terloncat tanpa disadari. Namun sesudah itu, wajah Tambi menjadi pucat. Sekali lagi ditebarkannya pandangan matanya berkeliling, seolah-olah Kebo Sindet bersembunyi diantara dinding-dinding bambu yang berlubang-lubang. Empu Gandring melihat kegelisahan yang masih saja mencengkam perasaan Tambi. Orang yang kekar itu masih saja merasa dirinya selalu dibayangi oleh Kebo Sindet dan Wong Sarimpat, sehingga ia sama sekali tidak dapat melepaskan diri dari ketakutan dan kecemasan.

Sehingga Empu Gandring terpaksa memperingatkan lagi, “Ki Sanak, jangan takut. Percayalah bahwa Kebo Sindet saat ini tidak berada di Kemundungan. Kalau ia berada di sini, maka aku kira aku tidak akan kemari, bertanya kepadamu tentang setan alasan itu”.

Tambi mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Seharusnya aku sudah tidak boleh takut lagi. Hidupku seolah-olah sudah tidak berarti sepeninggal isteri dan satu-satunya anakku. Tetapi kadang-kadang aku masih merasa ngeri untuk mengalami dengan cara yang tidak wajar. Aku tidak akan ingkar seandainya aku akan dipenggal leherku atau ditusuk langsung kepusat jantung. Tetapi aku merasa takut apabila aku melihat cara-cara yang sering dipergunakan oleh kedua kakak beradik itu”.

Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Teringatlah ia bahwa kemenakannya, Mahisa Agni kini berada ditangan iblis itu. Tetapi menurut ceritera Empu Sada maka ada kemungkinan bahwa Mahisa Agni tidak akan dibunuh segera oleh Kebo Sindet karena nafsu orang itu untuk mendapatkan tebusan dari Ken Dedes, bakal permaisuri Tunggul Ametung yang sangat mencintai kakaknya itu.

“Mudah-mudahan aku akan mendapat kesempatan” desis Empu Gandring di dalam hatinya.

Sementara itu Tambi masih berbicara selanjutnya, “Apalagi Kebo Sindet kini telah kehilangan adiknya, maka ia pasti akan menjadi lebih gila lagi”.

“Tetapi jangan takut. Ia tidak ada disini”.

Tambi mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian ”Mungkin tuan benar. Orang itu tidak berada disini”.

“Percayalah. Karena itu katakan apa yang ingin kau katakan kepadaku tentang Kebo Sindet”.

“Tetapi barangkali tidak akan dapat memberi tuan petunjuk seperti yang tuan harapkan” jawab Tambi, “Yang aku ketahui justru keadaan Kebo Sindet pada masa kanak-kanaknya. Ia adalah seorang anak laki-laki dari keluarga yang sangat miskin di padukuan ini. Apalagi sejak kelahiran adiknya Wong Sarimpat, maka keadaan keluarganya menjadi semakin sulit”.

“Daerah ini daerah yang tandus” sela Empu Ganding.

“Sejak aku kanak-kanak” sahut orang itu.

“Kenapa orang-orang di sini kerasan tinggal di padukuhan yang tandus ini? Kenapa mereka tidak mencari tempat tinggal yang lebih baik?”

“Tanah ini adalah tanah peninggalan nenek-moyang. Di sini kami dilahirkan. Dan di sini pula kami ingin dikuburkan”.




OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar